b) Penulangan Pada Balok Perencanaan pada penulangan balok perlu diperhatikan jumlah
tulangan tarik, tekan maupun jarak sengkang, selain itu penentuan dimensi balok juga perlu
diperhatikan. Contoh penulangan pada balok dapat dilihat pada Gambar 2.3 Gambar 2.3.
Penulangan Pada Balok Sumber : Dokumentasi Pribadi As : tulangan tarik (As = ρ . b . d) As’:
tulangan tekan d : tinggi efektif penampang d’ : jarak sengkang d' = c + s φ + φ 2 p dimana : c :
selimut beton (c = 20 mm, untuk balok yang tidak langsung berhubungan dengan
cuaca/tanah). (untuk balok yang berhubungan langsung dengan cuaca dan kondisi tanah c =
40 mm, untuk tulangan φ16). φs : diameter tulangan sengkang φp : diameter tulangan pokok
c) Perhitungan Tinggi Efektif Pada Balok d = h – ( p + Øsengkang + 1/2 Ø tulangan utama) d’ = p
+ Øsengkang + 1/2 Ø tulangan utama dimana: b = lebar balok (mm) 39 h = tinggi balok (mm) d
= tinggi efektif balok (mm) p = tebal selimut beton (mm) Ø = diameter tulangan (mm) d) Syarat
Pembatasan Tulangan Syarat rasio tulangan : ρmin ≤ ρ ≤ ρmax Perhitungan ρ max dan ρ min :
ρmin = ρ a. max = 1,4 fy ρb 0,75ρ, Perhitungan Momen = 𝑀 𝑀1= 𝐴𝐴𝑑𝑑2 * fy * (d – d’) � �
𝑀1 = Mn -𝑀𝑀2 0,85.β,85. b. Perhitungan ρ1 (rasio pembesian) : � � 𝑀1 Ø .𝑏𝑏 . 𝑑𝑑² = 𝜌𝜌
.𝑓𝑓𝑦𝑦 (1−0,588 𝜌𝜌 𝑓𝑓𝑦𝑦 𝑓𝑓𝑑𝑑 c fy x 600 600 + ) As1 = ρ * b * d Perhitungan Tulangan Utama :
As = As1 + As2 As’max = ρ’ . b . d c. Mencari Tulangan Tumpuan - Mencari jumlah tulangan
yang dipasang As 1 . 2 → dipasang " n" tulangan dengan φ fy sebesar 4 π . φ d. Mencari
Tulangan Lapangan - " A". Mencari jumlah tulangan Pada balok dipasang tulangan rangkap,
dengan perbandingan luas tulangan tekan (As’) dan luas tulangan tarik (As) As δ = = 0,5 →
jumlah tulangan tekan (As' ) = 0,[Link] 40 As' - Jumlah tulangan yang dipasang As 1 . 2 → 4 π . φ
dipasang " n" tulangan dengan φ sebesar " A". Gambar [Link] Tulangan Pokok Balok
Sumber : Dokumentasi Pribadi e. Perhtungan Tulangan Geser (Sengkang) Gambar [Link]
Momen dan Bidang Lintang Akibat Gaya Geser Sumber : Dokumentasi Pribadi 41 42 - Gaya
geser - Tegangan geser beton yang diijinkan sesuai mutu beton (fc’) ∅Vc = ∅ . 1/6 . �𝑓𝑓𝑑𝑑 .
bw . d MPa → Jika tegangan geser yang terjadi akibat beban (vu) lebih besar dari tegangan
geser yang diijinkan (φvc) vu >φvc, maka perlu dipasang tulangan geser/sengkang pada balok.
Jika tegangan geser yang terjadi akibat beban (vu) lebih kecil dari tegangan geser yang diijinkan
(φvc) vu φvsmaksdimensi balok rencana perlu diperbesar - Gaya geser yang dapat dipikul
oleh beton. Gambar [Link] Gaya Geser Sumber : Dokumentasi Pribadi KN .u . 21 Vu → = l
q Vu Vu y 1/2 L φVc (KN) φVc (KN) dipikul oleh beton dipakai tulangan MPa c u s → − = v v v φ
φ KN d . b . c Vc → = vφ 43 Keterangan : Gaya geser pada balok, sebagian dipikul oleh kuat
geser beton (Vc) dan sisanya dipikul dipikul oleh tulangan geser (sengkang). - Penentuan
Tulangan Geser Pada Balok Tulangan geser pada balok perlu dipasang sepanjang “y” dari
tumpuan. Resultante gaya yang bekerja di sepanjang “y” Rv = (Vu – Vc) . y KN Tulangan
geser: Dimana : φ adalah faktor reduksi kekuatan untuk perhitungan geser (φ= 0,75) Tulangan
geser dipasang pada 2 sisi penampang balok Tulangan geser minimum : jika Av > Avmin pada
balok dipasang tulangan geser (Av). - Jumlah Tulangan Geser 2 min mm y . 3 y . b Av → = f 2
mm y . Rv Av → = f φ Vu (KN) y φVc (KN) Rx Vc . L 21 y) L 21( . Vu Vu Vc L 21 y L 21 = − ⇒ = − cm
n 100 s kang geser/seng ngan Jarak tula mm y Av 2 1 balok pada meter per geser tulangan mm
y Av balok p
- per meter n Cek kemampuan
beton menahan torsi Tc φ = f ' c . Pcp x 12 Acp 2 = Jika,Tu < Tc, tidak perlu tulangan puntir Tu ≥
Tc, perlu tulangan puntir - - Cek Pengaruh Momen Puntir (Tu) Kategori komponen struktur
non-prategang: Tc φ = f ' c . Pcp x 12 Acp 2 (pengaruh puntir dapat diabaikan) Acp=luas yang
dibatasi oleh keliling luar penampang beton mm2 Pcp = keliling luar penampang beton mm
Menghitung Properti Penampang Keterangan: x1 =jarak antar pusat tulangan sengkang dalam
arah sumbu x (mm) y1 = jarak antar pusat tulangan sengkang dalam arah sumbu y (mm) Aoh =
luas daerah yang dibatasi oleh garis pusat tulangan sengkang terluar (mm2) Ao = 0,85×Aoh =
dalam satuan (mm2) d - =jarak dari serat tekan terluar beton ke pusat tulangan tarik (mm) Ph
=keliling dari garis pusat tulangan sengkang torsi terluar (mm) Cek Penampang Balok Kategori
penampang solid: 44 (Penampang Memenuhi) Dimana : - Menentukan Tu Tn = φ
DimanaØ:0,75 s A t = n . A . f T 2 o θ yv . cot Torsi Transversal Ө : 450 (Berdasarkan SNI Beton
Bertulang ([Link])) - (dalam satuan mm2⁄mmuntuk 1 kaki dari sengkang) Menghitung
Tulangan Torsi Longitudinal Syarat : Dengan ketentuan Tulangan Longitudinal tambahan untuk
menahanpuntir harus di distribusikan disekeliling parameter sengkang tertutupdengan spasi
tidak melebihi 300mm, dengan posisi berada di dalamsengkang (SNI Beton Bertulang 2847-
2002) 2.6.4 Perencanaan Kolom Kolom adalah suatu elemen tekan dan merupakan struktur
utama dari bangunan yang berfungsi untuk memikul beban vertikal yang diterimanya. Pada
umumnya kolom tidak mengalami lentur secara langsung. 45 Kolom dibagi menjadi 2 jenis
sesuai dengan Gambar 2.7 Gambar 2.7. Jenis Kolom Beton Bertulang Sumber : Dokumentasi
Pribadi Berdasarkan Tata caraperhitungan struktur beton untukbangunan gedung, kuat tekan
rencana darikomponen struktur tekan tidak boleh diambil lebih besar dari ketentuan berikut:
Untuk komponen struktur non-prategang dengan tulanganspiral atau komponen struktural
tekan komposit. ФPn (max) = 0,85 Ф [0,85 x f’c (Ag - As) + fy x As] Untuk komponen struktur
non-prategang dengan tulangan pengikat. ФPn (max) = 0,80 Ф [0,85 x f’c (Ag - As) + fy x As]
Kolom panjang ataulangsing merupakan salah satuelemen yang perlu diperhatikan. Proses
perhitungannya didasarioleh konsep perbesaran momen. Momen dihitung dengan
analisisrangka biasa dan dikalikan oleh faktor perbesaran momen yangberfungsi sebagai beban
tekuk kritis pada [Link] yang berpengaruh dalam perencanaan kolombeton
bertulang panjang adalah : Panjang bebas (Lu) dari sebuah elementekan harusdiambil sama
dengan jarak bersih antara pelat lantai,balok, atau komponen lain yang mampu
memberikantahanan lateral dalam arah yang ditinjau. Bila terdapatkepala kolom atau
perbesaran balok, maka panjang beban harus diukur terhadap posisi terbawah dari kepala
kolomatau perbesaran balok dalam bidang yang ditinjau. Panjang efektif (Le) adalah jarak
antara momen-momennol dalam kolom. Prosedur perhitungan yang digunakanuntuk
menentukan panjang efektif dapat menggunakankurva [Link] menggunakan kurva
alinyemen dalam kolom,faktor Ψ dihitung pada setiap ujung kolom. 46 Selain itu, nilai k untuk
portal bergoyang juga dapat dihitung melalui persamaan: Dengan ѱ m merupakan rata-rata ѱ
A dan ѱ B Untuk pembahasan kolom ini, perlu dibedakan antara portal tidakbergoyang dan
portal bergoyang. Suatu struktur dapat dianggaprangkaportal bergoyang jika nilai indeks
stabilitas (Q) > 0,05. dimana : Pu = Beban Vertikal Vu = Gaya geser lantai total pada tingkat
yang ditinjau Δo = Simpangan relatif antar tingkat orde pertama Lc = Panjang efektif elemen
kolom yang tertekan Properti yang digunakan untuk menghitung pembesaran momenyang
nantinya akan dikalikan dengan momen kolom, diantaranyaadalah : Modulus elastisitas
ditentukan dari rumus berikut: Ec = 𝑊𝑊𝑑𝑑1,5 0,043 �𝑓𝑓 `𝑑𝑑 (MPa) Untuk wc antara 1500
dan 2500 kg/m3 atau 4700�𝑓𝑓 `𝑑𝑑 untuk beban normal. Momen inersia dengan Ig =
momen inersia penampang bruto terhadap sumbu pusat dengan mengabaikan penulangan :
Dalam portal bergoyang untuk setiap kombinasipembebanan perlu menentukan beban mana
yang menyebabkangoyangan cukup berarti (kemungkinan beban lateral) dan mana yang tidak.
Momen ujung terfaktor yang menyebabkangoyangan dinamakan M1s dan M2s, dan keduanya
harusdiperbesar karena pengaruh PΔ.Momen ujung lain yang tidak menyebabkan
goyangcukup berarti adalah M1ns dan M2ns. Momen ini ditentukan dari analisis orde pertama
dan tidak perlu [Link] momen δsMs dapat ditentukan dengan rumusberikut :
47 dimana: Pu = beban vertikal dalam lantai yang ditinjau Pc = beban tekuk Euler untuk semua
kolom penahan goyangan dalam lantai tersebut, dicari dengan rumus: Pc = ( π2 E I ) / k.Lu2
Sehingga momen desain yang digunakan harus dihitung dengan rumus : � � 𝑀1= 𝑀𝑀1ns +
δs 𝑀𝑀1s � � 𝑀2 = 𝑀𝑀2ns + δs 𝑀𝑀2s Terkadang titik momen maksimum dalam kolom
langsing dengan beban aksial tinggi akan berada di ujung–ujungnya, sehingga momen
maksimum akan terjadi pada suatutitik di antara ujung kolom dan akan melampaui momen
ujungmaksimum lebih dari 5%. Hal ini terjadi bila : 35 Lu > r Pu f ` c . Ag untuk kasus ini, momen
desain ditentukan dengan rumus berikut: Mc = δns (𝑴𝑴𝟎𝟎ns + δs𝑴𝑴𝟎𝟎s) Selain itu, portal
bergoyang mungkin saja menjadi tidak stabil akibat adanya beban gravitasi, sehingga harus
dilakukan kontrol terhadap ketidakstabilan beban gravitasi. Portal menjadi tidak stabil akibat
gravitasi apabila δs > 2,5 sehingga portal harus [Link] kolom menerima beban
lentur dan bebanaksial, menurut SNI 03-1728-2002untukperencanaan kolom yang menerima
beban lentur dan bebanaksial ditetapkan koefisien reduksi bahan 0,65 sedangkanpembagian
tulangan pada kolom (penampang segiempat) dapat dilakukan dengan: Tulangan dipasang
simetris pada dua sisi kolom (twofaces) Tulangan dipasang pada empat sisi kolom (four
faces) Pada perencanaan gedung perkantoran ini digunakanperencanaan kolom
denganmenggunakan tulangan pada empatsisi kolom (four faces). Perhitungan gaya-gaya
dalam berupa momen, gayageser, gaya normal maupun torsi pada kolom. Dari hasil output
gaya-gaya dalam tersebut kemudian digunakan untuk menghitung kebutuhantulangan pada
kolom. 48 Penulangan dalam kolom juga merupakan salah satufaktor yang ikut membantu
komponen beton dalam mendukungbeban yang diterima. Penulangan pada kolom dibagi
menjaditiga jenis, diantaranya adalah : a) Tulangan Utama Kolom Tulangan utama (longitudinal
reinforcing) merupakantulangan yang ikut mendukung beban akibat lentur (bending).Pada
setiap penampang dari suatu komponen struktur luas,tulangan utama tidak boleh kurang dari :
As min = √𝐟𝐟𝐜𝐜 𝟎 𝟎𝐟𝐟𝐪𝐪 𝐛 𝐛 𝐝𝐝Nu = gaya aksial yang terjadi (N) Agr = luas penampang kolom
(mm2) Jika : (Vn – Vc) < Ø Vc , maka tidak perlu tulangan geser Vu ≥ Ø Vc , maka perlu tulangan
geser Jika tidak dibutuhkan tulangan geser, maka digunakantulangan geser minimum (Av)
permeter. Luas tulangan geser minimum untuk komponen struktur non prategang dihitung
dengan : Av min =75�f′c .b.s 1200fyPengertian tegangan kontak ini akan sangat berguna
terutama didalam penentuan faktor keamanan (S.F / Safety Factor). Secara umum faktor
keamanan didefinisikan sebagai berikut : kontak S.F = kapasitas beban = kapasitas daya
tegangan dukung Hubungan antara keduanya dinyatakan dalam bentuk faktor keamanan
dimana : • S.F = 1, artinya tegangan kontak sama dengan kapasitas daya dukung (bearing
capacity). • S.F > 1, artinya tegangan kontak lebih dari mobilisasi kapasitas daya dukung. Lapis
tanah dapat menerima beban. • S.F < 1, artinya tegangan kontak lebih besar dari mobilisasi
kapasitas daya dukung. Lapis tanah tidak dapat menerima beban. 54 2.7.3 Perencanaan Pile
Cap Pile cappengikat antara pondasi dan kolom. Fungsi dari pile cap adalah untuk menyalurkan
beban dari beban yang kemudian di teruskan ke tiang pancang. Analisis mengenai desain pile
cap sendiri sebagai berikut : a) Perhitungan tulangan lentur pile cap : β’ = Ip – Ik φMn =
φAsFy(𝑑𝑑 − 𝛼𝛼 2 q’ = 2000 Ag Mu = 2�Pu 4 �s −0,5 q β2 α = 𝐴𝐴𝑑𝑑𝐴𝐴𝑦𝑦 0,85 𝑥𝑥 𝑓𝑓′𝑑𝑑 𝑥𝑥
𝑏𝑏 ) b) Kontrol kuat geser beton pile cap di ambil nilai terkecil dari =i : Vc =(1+ 2 𝛽𝛽𝑑𝑑 Vc = (
∝𝑑𝑑 𝑑𝑑 𝑀 𝑀𝑏𝑏 Vc = 1 3 ) √𝐴𝐴′𝑑𝑑 𝑥𝑥 𝑏𝑏𝑏𝑏 𝑥𝑥 𝑑𝑑 6 + 2 ) √𝐴𝐴′𝑑𝑑 𝑥𝑥 𝑏𝑏𝑏𝑏 𝑥𝑥 𝑑𝑑 12 Ketentuan
: ∝s √𝐴𝐴′𝑑𝑑 𝑥𝑥 𝑏𝑏𝑏𝑏 𝑥𝑥 𝑑𝑑 = 40 untuk kolom dalam ∝s = 30 untuk kolom tepi = 20 untuk
kolom sudut ∝s 2.7.4 Perencanaan Pondasi (Tiang Pancang) βc = 𝑎𝑎𝑘𝑘 𝐵𝐵𝑘𝑘 bo = 4β Pondasi
merupakan struktur terakhir dari semua elemen struktur yang berada diatasnya. Beban yang di
terima pondasi akan di teruskan ke lapisan di bawahnya dan sekeliling pondasi tersebut. Untuk
mengetahui jenis pondasi yang akan di gunakan terlebih dahulu harus di ketahui keadaan,
susunan, dan sifat - sifat tanah serta daya dukungnya yang diperoleh dari hasil tes. Pondasi
sendiri mempunyai fungsi untuk menahan beban dan sebagai penyalur beban yang bekerja
diatasnya dengan kestabilan daya dukung tanah. Kapasitas daya dukung tanah ini dapat
dianalisis berdasarkan hasil sondir. Perencanaan tiang pancang meliputi hal – hal sebagai
berikut : 55 a) Daya dukung tiang pancang tunggal a. Berdasarkan kekuatan bahan pancang
Ptiang Dimana : = σb x Ab σb = Tegangan tekan beton yang di ijinkan Ab = Luas permukaan
tiang pancang b. Berdasarkan hasil sondir Kapasitas tiang (Qa11) berdasarkan hasil uji sondir di
hitung menggunakan motede Bagemann sebagai berikut : Qa11 = 𝒒𝒒𝒄𝒄 𝒙𝒙 𝑨𝑨𝑨𝑨 𝟖 𝟖 Dimana
: + 𝑱𝑱𝑱𝑱𝑷𝑷 𝒙𝒙 𝑶𝑶 𝟓 𝟓 Ab = luas ujung bawah tanah O = luas selimut tiang Qc = tahanan ujung
kerucut statis JHP = Jumlah hambatan pelekat b) Beban Ijin Tiang Pancang Efisiensi tiang
menurut Converse Lebarre : Eff = 1- 𝜙𝜙 90 Dimana : n ( (𝑛𝑛−1)𝑥𝑥 𝑚𝑚+(𝑚𝑚−1)𝑥𝑥 𝑛𝑛 𝑚 𝑚 𝑥𝑥
𝑛𝑛 = jumlah baris tiang pancang m ϕ = jumlah tiang dalam satu baris ) = arc tg diameter tiang /
jarak tiang Beban ijin tiang pancang ditentukan dengan persamaan berikut : Pijin = Eff x Qa11
c) Beban Maksimum Tiang Pancang Beban maksimum yang terjadi pada suatu tiang pancang
ditentukan dari persamaaan berikut : Pmaks =𝑷𝑷𝑷𝑷 𝒏𝒏 ± 𝑴𝑴𝒙𝒙.𝒀𝒀 𝜮 𝜮𝒀𝒀² ± 𝑴𝑴𝑴𝑴.𝑿𝑿
𝜮 𝜮𝒙𝒙² < Pijin 56 d) Pemindahan Tiang Pancang Pada saat pemindahan tiang pancang perlu
diperhatikan letak titik berat tiang pancang itu sendiri, hal ini dikarenakan pada saat
pengangkatan tiang pancang mengalami momen serta supaya seimbang dalam pengangkatan.
Pengangkatan tiang pancang dapat dilihat pada Gambar 2.10