BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi
Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak,
jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kelahiran melalui promosi,
perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk
mewujudkan keluarga yang berkualitas17. Menurut Prawiroharjo, 2005
mengatakan bahwa Keluarga Berencana berperan dalam mengurangi
resiko kematian ibu pada waktu melahirkan yang disebabkan karena
terlalu sering melahirkan dan jarak antara kelahiran yang terlalu pendek.
Kebijakan keluarga berencana dilaksanakan untuk membantu calon atau
pasangan suami istri dalam mengambil keputusan dan mewujudkan hak
reproduksi secara bertanggung jawab tentang usia ideal perkawinan, usia
ideal untuk melahirkan, jumlah anak, jarak ideal kelahiran anak dan
penyuluhan kesehatan reproduksi untuk mewujudkan keluarga
berkualitas3. KB Pasca Salin adalah penggunaan suatu metode kontrasepsi
sesudah melahirkan sampai 6 minggu/42 hari melahirkan.7
Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra
berarti “melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang
mengakibatkan kehamilan. Maksud dari konsepsi adalah
11
12
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya
pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan
maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi
adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya
memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan.
Kontrasepsi adalah usaha - usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan,
usaha itu dapat bersifat sementara dan ada yang bersifat permanen.6
a. Tujuan Kontrasepsi
Tujuan kontrasepsi yang dimaksudkan untuk mencegah pembuahan
dan kehamilan18:
1. Membantu pengaturan atau perencanaan pembentukan keluarga
dengan cara penundaan, penjarangan, dan penghentian kesuburan.
2. Membantu pembinaan dan peningkatan taraf kesehatan keluarga.
3. Membantu pembinaan dan peningkatan taraf kesejahteraan
keluarga, sosial ekonomi, edukasi dan emosional.
4. Membantu dalam tingkat tingkat nasional pengendalian laju
pertumbuhan penduduk supaya seimbang dengan pertumbuhan
produksi.
Metode kontrasepsi dapat digunakan oleh pasangan usia subur secara
rasional berdasarkan fase-fase kebutuhan seperti19 :
a. Fase Menunda Kehamilan
Masa menunda kehamilan pertama sebaiknya dilakukan oleh
pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 [Link] usia
13
di bawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya menunda untuk
mempunyai anak dengan berbagai [Link] kontrasepsi yang
diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang
tinggi. Hal ini penting karena pada masa ini pasangan belum
mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi yang
cocok dan yang disarankan adalah pil KB, kondom, AKDR/IUD.
b. Fase Mengatur/Menjarangkan Kehamilan
Periode usia istri antara 20 - 30 tahun merupakan periode usia
paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan
jarak antara kelahiran adalah 2 – 4 tahun. Kriteria kontrasepsi yang
diperlukan yaitu efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi karena
pasangan masih mengharapkan punya anak lagi. Kontrasepsi dapat
dipakai 3-4 tahun sesuai jarak kelahiran yang direncanakan. Fase
ini sebaiknya memilih kontrasepsi dengan urutan : IUD, implant,
suntikan, pil dan kondom.
c. Fase Mengakhiri Kesuburan
Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih
dari 30 tahun tidak hamil. Kondisi keluarga seperti ini dapat
menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi,
karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya
kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Di samping itu
jika pasangan akseptor tidak mengharapkan untuk mempunyai
14
anak lagi, kontrasepsi yang cocok dan disarankan adalah metode
kontap, AKDR, implan, suntik KB dan pil KB.
d. Mencegah Kehamilan pada waktu yang tidak sesuai dan kehamilan
yang tidak diharapkan, dengan cara mencegah “4 Terlalu” yang
berhubungan dengan kehamilan yaitu :
1. Terlalu muda (kurang dari 20 tahun)
2. Terlalu tua (lebih dari 35 tahun)
3. Terlalu dekat (jarak kehamilan kurang dari 2 tahun)
4. Terlalu banyak (lebih dari 3 anak).
b. Jenis Kontrasepsi
Metode KB pasca persalinan dibagi dalam dua jenis, yaitu non
hormonal dan hormonal20. Non hormonal terdiri dari Metode Amenore
Laktasi (MAL), kondom, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan
kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi). Sedangkan kontrasepi
hormonal terdiri dari yang berisi progestin berupa pil, injeksi dan
implan serta hormonal kombinasi berupa pil dan injeksi.
1. Kontrasepsi Non Hormonal
Adalah kontrasepsi yang tidak mengandung hormone, baik
estrogen maupun progesterone.
Jenis-jenis kontrasepsi non hormonal meliputi:
a) Metode Amenore Laktasi (MAL)
15
MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu
Ibu (ASI) tanpa tambahan makanan ataupun minuman apapun yang
lainnya 21.
b) Kondom
Kondom merupakan selubung/ sarung karet sebagai salah satu
metode kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan dan atau
penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama. Kondom
adalah alat kontrasepsi yang dipakai oleh pria.
c) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim dengan
menyepit kedua saluran yang menghasilkan indung telur sehingga
tidak terjadi pembuahan, terdiri dari bahan plastik polietilena,ada
yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak, berbentuk spiral
(Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380A atau ML Cu 250)
yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh
dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih. Untuk AKDR
jenis spiral ( Lippes Loop) saat ini sudah tidak digunakan dalam
pelayanan Keluarga Berencana.
d) Kontrasepsi Mantap
Terdiri dari tubektomi ( Metode Operasi Wanita/MOW) dan
vasektomi ( Metode Operasi Pria/MOP). MOW dilakukan dengan
cara mengikat dan memotong atau memasang cincin pada saluran
telur ( tuba falopi) sehingga sperma tidak bisa bertemu dengan
16
ovum. Sedangkan MOP dilakukan dengan cara mengoklusi vasa
deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses
fertilisasi (penyatuan ovum ) tidak terjadi.
2. Kontrasepsi Hormonal
a) Pil
Adalah salah satu jenis kontrasepsi oral hormonal yang diminum
secara rutin setiap hari untuk mencegah kehamilan.22 Hormon
yang terkandung dalam pil KB adalah estrogen dan progesteron.
Pil KB berisi zat yang berguna untuk mencegah lepasnya sel
telur dari indung telur wanita. Pil KB ada dua jenis yaitu pil
Kombinasi dan pil Progestin.
1) Pil Kombinasi
Jenis pil KB ini mengandung hormon estrogen dan
progesteron.
2) Pil Progestin
Jenis pil KB ini sangat cocok digunakan bagi wanita yang
menyusui atau wanita yang mempunyai alergi terhadap
hormon estrogen. Pil KB ini mengandung hormon
Progestin.
b) Suntik KB
Suntik KB merupakan metode KB yang paling banyak
digunakan di Indonesia. Suntik KB bekerja dengan cara
menghambat terjadinya ovulasi.
17
Jenis suntikan KB ada dua yaitu:
1) Suntik Progestin
Suntikan ini mengandung hormon Depo
Medroxyprogesterone Acetat ( hormon progestin) 150 mg.
Diberikan setiap 3 bulan. Untuk suntikan pertama diberikan
7 hari pertama dalam periode haid atau 6 minggu setelah
melahirkan. Suntik Progestin ini diberikan setiap 3 bulan
atau 12 minggu.
2) Suntik Kombinasi
Suntikan KB ini mengandung kombinasi hormon
Medroxypro-gesterone Asetat( hormon progestin) dan
Estradiol Cypionate (hormon estrogen). Komposisi dan
cara kerja suntikan kombinasi ini mirip dengan pil KB
kombinasi. Suntikan pertama diberikan dalam 7 hari
pertama periode haid atau 6 minggu setelah melahirkan
apabila ibu tidak menyusui bayinya. Suntik kombinasi ini
diberikan sebulan sekali atau setiap 12 minggu.
c) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit ( Implan/ KB Susuk)
Alat Kontrasepsi Bawah Kulit adalah metode kontrasepsi
dengan memasukkan enam kapsul kecil yang terbuat dari silikon
berisi hormon levonogestrel yang ditanam dibawah kulit. Alat
Kontrasepsi Bawah Kulit aatau lebih sering disebut Implan
secara tetap melepaskan hormon dalam jumlah kecil kedalam
18
darah. Hormon tersebut bekerja dengan cara menghambat
terjadinya ovulasi. Alat Kotrasepsi Bawah Kulit (Implan)
mempunyai keefektifan selama 3-7 tahun tergantung dari
jenisnya.
2. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kontrasepsi
Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan metode
kontrasepsi oleh PUS terdiri dari dukungan suami, pengetahuan,
pendidikan Dibawah ini ada beberapa faktor-faktor yang berhubungan
dengan pemilihan metode kontrasepsi oleh Wanita Usia Subur, antara lain:
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses
sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya
perilaku terbuka atau open behavior 23.
Cara Mengukur Pengetahuan:
Cara untuk mengetahui secara kualitas tingkat pengetahuan yang
dimiliki oleh seseorang dapat menjadi 3 tingkatan yaitu 24 :
1) Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76-100 %
2) Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56-75%
3) Tingkat pengetahuan buruk bila skor atau nilai <56 %
19
b. Umur
Umur merupakan suatu indeks perkembangan seseorang. Umur
individu terhitung mulai saat dilahirkan , semakin cukup umur, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir
dan bekerja. Pada umur 20 tahun seseorang telah memiliki kemampuan
mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada
situasi baru, misalnya mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari,
penalaran analogis dan berfikir kreatif. Umur diatas 20 tahun
merupakan masa menjarangkan kehamilan atau mencegah kehamilan
sehingga pilihan mereka lebih cenderung memilih memakai
kontrasepsi.
Sekitar awal atau pertengahan umur 30 tahun, kebanyakan orang
mudah mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cukup
baik sehingga menjadi stabil, tenang secara emosional. Umur akan
mempengaruhi seseorang dalam menentukan pemakaian alat
kontrasepsi karena biasanya ibu dengan usia muda (baru pertama kali
menggunakan alat kontrasepsi) akan cenderung memilih alat
kontrasepsi yang kebanyakan orang pakai 25.
1) Umur <20 tahun
a) Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral
b) Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena
pasangan muda memiliki frekuensi bersenggama tinggi
sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi
20
c) Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang
dianjurkan.
d) Umur dibawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak
dulu.
2) Umur 20-30 tahun
a) Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan
melahirkan.
b) Segera setelah anak pertama, dianjurkan untuk memakai
AKDR sebagai pilihan utama. Pilihan kedua adalah
implant atau pil.
3) Umur > 30 tahun
a) Pilihan utama menggunakan AKDR atau implant. Kondom
biasanya merupakan pilihan kedua.
b) Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara
operasi (sterilisasi) dapat dipakai dan relatif lebih baik
dibandingkan dengan AKDR, kondom, maupun pil dalam
arti mencegah.
c. Pendidikan
Merupakan sarana utama dan suksesnya tujuan pelaksanaan
keluarga berencana. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan
informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat
meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup, wanita berpendidikan
21
tinggi berkeinginan memiliki sedikit anak dibandingkan dengan yang
berpendidikan rendah.26
Menurut Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 8 menyatakan bahwa27:
1) Pendidikan Dasar (SD-SMP)
2) Pendidikan Menengah (SMA)
3) Pendidikan Tinggi
d. Paritas
Anak adalah harapan atau cita-cita dari sebuah perkawinan. Berapa
jumlah yang diinginkan, tergantung dari keluarga itu sendiri. Apakah
satu, dua, tiga dan seterusnya. Dengan demikian keputusan untuk
memiliki sejumlah anak adalah sebuah pilihan, yang mana pilihan
tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai yang dianggap sebagai satu
harapan atas setiap keinginan yang dipilih oleh orang tua.
Banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang
perempuan. Jumlah paritas merupakan salah satu komponen dari status
paritas yang sering dituliskan dengan notasi G-P-Ab, dimana G
menyatakan jumlah kehamilan (gestasi), P menyatakan jumlah paritas,
dan Ab menyatakan jumlah abortus Sosial Ekonomi28.
e. Pekerjaan
Merupakan suatu rangkaian pada pentingnya suatu aktifitas, waktu, dan
tenaga yang dihabiskan, serta imbalan yang diperoleh .9
22
f. Sosial Ekonomi
Pendapatan memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan seseorang dalam
memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pendapatan seseorang tidak dapat
diukur sepenuhnya dari pekerjaan .17
g. Dukungan Suami
Komunikasi verbal dan non-verbal, saran, bantuan yang diberikan oleh
suami terhadap ibu dalam lingkungan sosialnya.
h. Dukungan tenaga Kesehatan
Kenyamanan fisik dan psikologis, perhatian, penghargaan, maupun
bantuan dalam bentuk lainnya yang diterima individu dari tenaga
kesehatan30.
Dari penelitian yang dilakukan Sugiyarningsih di Puskesmas
Tebing pada tahun 2017 didapatkan hasil ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan perilaku ibu nifas dalam kepesertaan KB pasca
salin, dengan nilai p value = 0,002 < 0,0513.
Marwan Abbas dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor
pendidikan, penghasilan, paritas dan riwayat konseling berhubungan
signifikan dengan kepesertaan KB pasca salin (p<0,05). Persentase
kepesertaan KB signifikan lebih tinggi pada subyek yang berpendidikan
tinggi dibandingkan yang berpendidikan rendah 14.
23
3. Teori Perilaku
a. Pengertian
Dari seorang ahli psikologis merumuskan bahwa terjadinya perilaku ini
melalui proses adanya rangsangan (stimulus) terhadap organisme, dan
kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skiner ini disebut
(32
teori ”S-O-R” atau Stimulus Organisme Respons ). Perilaku kesehatan
adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan dan minuman, serta lingkungan.
b. Domain Perilaku Kesehatan
Benyamin Bloom membagi perilaku ke dalam tiga domain, yaitu 32 :
1) Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses
sensoris khususnya mata dan telinga terhadap obyek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya perilaku terbuka (over behavior).
Didalam Notoadmojo tingkatan pengetahuan didalam domain
kognitif mencakup 6 tingkatan 33, yaitu:
a) Tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Tahu
artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu materi
yang telah dipelajari sebelumnya.
24
b) Memahami, artinya kemampuan untuk menjelaskan dan
menginterpretasikan dengan benar tentang obyek yang
diketahui.
c) Penerapan, artinya kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang nyata atau
dapat menggunakan hukum-hukum, rumus dan metode dalam
situasi nyata.
d) Analisis, artinya kemampuan untuk menguraikan objek
kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, tetapi masih didalam
suatu struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain.
e) Sintesis, yaitu suatu kemampuan untuk menghubungkan
bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru
atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang sudah ada.
f) Evaluasi, yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu objek.
2) Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek tertentu. Sikap belum
merupakan tindakan atau aktivitas tetapi merupakan faktor yang
mempengaruhi tindakan atau perilaku10. Manifestasi sikap itu tidak
dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap merupakan kesiapan
25
untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek.
Dengan demikian, sikap belum merupakan tindakan atau
aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek34.
Sikap terdiri dari empat (4) tingkatan yakni:
a) Menerima ( receiving)
Menerima diartikan bahwa orang ( subyek ) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan ( obyek)
b) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi
sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan
atau mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas dari
pekerjaan itu benar atau salah, orang itu menerima ide tersebut.
c) Menghargai (valuing)
Pada tahap ini subyek akan mengajak untuk mengerjakan atau
mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah.
d) Bertanggung jawab ( responsible)
Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling
tinggi14.
26
Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang,
yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen
konatif34.
a) Komponen kognitif
Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu
pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan
stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat
disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut
masalah isu atau problem yang kontroversial.
b) Komponen afektif
Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.
Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam
sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling
bertahan terhadap pengaruh-pengaruh, yang mungkin adalah
mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan
dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
c) Komponen Konaktif
Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai
dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Berisi tendensi
atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap
sesuatu dengan cara-cara tertentu. Berkaitan dengan obyek
yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa
27
sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi
perilaku.
Ciri-ciri sikap 35adalah sebagai berikut:
a) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya.
Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti
lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.
b) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan
sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan dan
syarat tertentu yang mempermudah sikap pada ornag itu.
c) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan
tertentu terhadap suatu obyek dengan kata lain,sikap itu terbentuk,
dipelajari atau berubah senantiasa berkanaan dengan suatu obyek
tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
d) Obyek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga
merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
e) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sikap
alamiah yang membedakan sikap dan pengetahuan yang dimiliki
orang.
Faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap
antara lain adalah sebagai berikut ini36 :
28
a) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat agar
dapat menjadi dasar pembentukan sikap. Sikap akan lebih mudah
terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi
yang melibatkan faktor emosional.
b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Seseorang atau individu pada umumnya cenderung memiliki sikap
yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap
penting. Hal ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan
berkeinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang
dianggap penting.
c) Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh
sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan mewarnai sikap
masyarakat karena kebudayaanlah yang memberi corak
pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya
d) Media Massa
Pemberitaan surat kabar dan radio maupun media komunikasi
lainnya yang seharusnya faktual disampaikan secara obyektif
cenderung di pengaruhi oleh sikap penulisnya sehingga
berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
29
e) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran lembaga pendidikan dan lembaga agama
sangat menentukan sistem kepercayaan sehingga konsep tersebut
mempengaruhi sikap.
f) Faktor Emosional
Bentuk sikap kadang kala merupakan pernyataan yang didasari
emosi berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego34.
Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui kontak
sosial terus menerus antara individu dengan individu lain.
Dalam hubungan ini, faktor-faktor yang menyebabkan perubahan
sikap adalah sebagai berikut :
a) Faktor intern,yaitu faktor yang terdapat dalam diri individu
seperti selektifitas. Selektifitas diperlukan karena rangsangan luar
(lingkungan) tidak semuanya bisa diserap oleh individu. Karena
itu seseorang harus memilih rangsangan mana yang tidak ingin “
diperdalam”. Pemilihan ini biasanya dipengaruhi motif dan
kecenderungan dalam diri seseorang.
b) Faktor ekstern, yaitu faktor yang terdapat diluar diri individu.
Faktor ini antara lain sifat obyek yang dijadikan sasaran sikap,
kewibawaan orang yang mengemukakan sikap,sifat orang atau
kelompok yang mendukung sikap, media komunikasi yang
30
digunakan untuk menyampaikan sikap, situasi pada saat sikap
tersebut dibentuk.
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap
seseorang. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang
mengatakan sesuatu mengenai obyek sikap yang akan diungkap.
Pernyataan sikap mungkin berisi hal-hal yang positif mengenai obyek
sikap, yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada obyek
sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favorable.
Sedangkan pernyataan sikap yang mungkin berisi hal-hal negatif
mengenai obyek sikap yang bersifat tidak mendukung atau kontra
terhadap obyek sikap.
Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidak
favorabel. Skala sikap diusahakan agar terdiri atas pernyataan
favorabel dan tidak favorabel dalam jumlah yang seimbang. Dengan
demikian, pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak
semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak
mendukung sama sekali obyek sikap34. Pengukuran sikap dapat
dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat
ditanyakan bagaimana pendapat/ pernyataan responden terhadap
obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan
hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden melalui
kuisioner35.
31
Salah satu skala sikap yang digunakan adalah skala likert. Skala
Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Fenomena
sosial dalam penelitian ini telah ditetapkan secara spesifik oleh
peneliti, yang selanjutnya disebut variabel penelitian.. Jawaban setiap
item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi
dari sangat positif sampai sangat negatif. Instrumen penelitian yang
menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk cheklist ataupun
pilihan ganda37.
Dalam skala likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan baik
pernyataan positif maupun negatif, dinilai dengan Sangat Setuju (SS),
Setuju (S), Ragu-Ragu (RR), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju
(STS) yang digambarkan dalam tabel berikut:
Tabel 6. Tabel Penilaian Skala Likert
Pernyataan positif Nilai Pernyataan negatif Nilai
Sangat setuju 5 Sangat setuju 1
Setuju 4 Setuju 2
Ragu-Ragu 3 Ragu-Ragu 3
Tidak setuju 2 Tidak setuju 4
Sangat tidak setuju 1 Sangat tidak setuju 5
Cara menginterpretasi berdasarkan persentasi adalah sebagai berikut :
a. Angka 0-20% : sangat tidak setuju ( sangat tidak mendukung)
b. Angka 21-40%: Tidak setuju (tidak mendukung)
c. Angka 41-60%: Ragu-ragu
d. Angka 61-80%: setuju (mendukung)
32
e. Angka 81-100%: sangat setuju (sangat mendukung)38
3) Praktik atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan
(overt behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan
nyata diperlukan fakor pendukung atau suatu kondisi yang
memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor
fasilitas, juga diperlukan faktor pendukung (support) dari pihak
lain, misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua dan lain-
lain.
4. Faktor yang mempengaruhi perilaku kepesertaan Keluarga Berencana
Menurut Lawrence Green, faktor perilaku khususnya perilaku
kesehatan dipengaruhi oleh 3 yaitu:
a) Predisposing Factor, yaitu faktor-faktor yang memberikan dasar
perilaku secara rasional atau motivasi antara lain pengetahuan,
karakteristik tertentu dalam kaitannya dengan partisipasi dalam
keluarga berencana. Karakteristik tertentu seperti umur,
pendidikan,paritas, pekerjaan, status sosial ekonomi. Faktor lainnya
yaitu dukungan suami dan dukungan tenaga kesehatan juga
[Link]-faktor ini terutama yang positif mempermudah
terwujudnya perilaku, maka sering disebut faktor pemudah.
b) Enabling Factors, yaitu faktor-faktor yang mendahului perilaku
memungkinkan sebuah motivasi untuk direalisasikan. Yang termasuk
dalam faktor ini adalah:
33
1) Ketersediaan sumber daya kesehatan (sarana kesehatan, rumah
sakit, dan tenaga).
2) Keterjangkauan sumber daya, dapat dijangkau baik secara fisik
ataupun dapat dibayar masyarakat, misalnya jarak sarana kesehatan
dengan tempat tinggal, jalan baik, ada angkutan dan upah jasa
dapat dijangkau masyarakat.
3) Ketrampilan tenaga kesehatan.
c) Reinforcing Factor, yaitu faktor-faktor yang memberikan pengaruh
keberkelanjutan terhadap perilaku dan berkontribusi terhadap
penanggulangan perilaku tersebut. Untuk berperilaku sehat, masyarakat
kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta
dukungan fasilitas kesehatan saja, melainkan diperlukan perilaku
contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas,
lebih-lebih para petugas kesehatan. Termasuk didalamnya informasi
tentang kontrasepsi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
B. Kerangka Teori
Penelitian ini mengacu pada teori Lawrence Green yang mengemukakan
bahwa perilaku manusia dipengaruhi tiga faktor utama yaitu faktor
predisposisi, faktor pendukung dan faktor penguat. Faktor predisposisi
(predisposing factor) meliputi:pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan
faktor sosio- demografi. Faktor pemungkin ( enabling factor) meliputi:
ketersediaan sumber daya kesehatan, keterjangkauan sumber daya
kesehatan, dan lain-lain. Faktor penguat ( reinforcing factor) meliputi:
34
sikap dan perilaku petugas kesehatan, keluarga, teman, tokoh masyarakat
mendorong atau melemahkan perilaku kesehatan.
Gambar 1. Teori Lowrence Green
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah model perilaku
Green. Dalam penelitian ini tidak semua variabel perilaku Green akan
diteliti. Variabel independen dan dependen dalam penelitian ini merupakan
faktor predisposisi yaitu pengetahuan dan sikap. Variabel independen
adalah pengetahuan tentang kontrasepsi. Sedangkan variabel dependennya
adalah sikap keikutsertaan KB pasca salin. Variabel yang lain yang
mempengaruhi sikap keikutsertaan KB pasca salin meliputi
umur,pendidikan,pekerjaan, lingkungan,sosial budaya,dukungan suami
dan dukungan tenaga kesehatan.
35
Variabel independen Variabel dependen
Pengetahuan ibu hamil tentang sikap keikutsertaan KB
kontrasepsi pasca salin
Variabel Perancu/ Confounding
a) Umur
b) Pendidikan
c) Paritas
d) Pekerjaan
e) Dukungan Suami
Gambar 2. Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Ada hubungan pengetahuan ibu hamil tentang kontrasepsi dengan sikap
keikutsertaan KB pasca salin di Puskesmas Grabag. Ibu hamil dengan
pengetahuan tentang kontrasepsi baik akan mempunyai sikap mendukung
KB pasca salin di Puskesmas Grabag.