0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan25 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang Keluarga Berencana (KB) dan alat kontrasepsi, menjelaskan tujuan dan jenis kontrasepsi yang dapat digunakan oleh pasangan usia subur. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi, seperti pengetahuan, umur, pendidikan, paritas, pekerjaan, sosial ekonomi, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan juga diuraikan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku ibu nifas dalam kepesertaan KB pasca salin.

Diunggah oleh

cindy.histavone1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan25 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang Keluarga Berencana (KB) dan alat kontrasepsi, menjelaskan tujuan dan jenis kontrasepsi yang dapat digunakan oleh pasangan usia subur. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi, seperti pengetahuan, umur, pendidikan, paritas, pekerjaan, sosial ekonomi, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan juga diuraikan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku ibu nifas dalam kepesertaan KB pasca salin.

Diunggah oleh

cindy.histavone1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak,

jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kelahiran melalui promosi,

perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk

mewujudkan keluarga yang berkualitas17. Menurut Prawiroharjo, 2005

mengatakan bahwa Keluarga Berencana berperan dalam mengurangi

resiko kematian ibu pada waktu melahirkan yang disebabkan karena

terlalu sering melahirkan dan jarak antara kelahiran yang terlalu pendek.

Kebijakan keluarga berencana dilaksanakan untuk membantu calon atau

pasangan suami istri dalam mengambil keputusan dan mewujudkan hak

reproduksi secara bertanggung jawab tentang usia ideal perkawinan, usia

ideal untuk melahirkan, jumlah anak, jarak ideal kelahiran anak dan

penyuluhan kesehatan reproduksi untuk mewujudkan keluarga

berkualitas3. KB Pasca Salin adalah penggunaan suatu metode kontrasepsi

sesudah melahirkan sampai 6 minggu/42 hari melahirkan.7

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra

berarti “melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah

pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang

mengakibatkan kehamilan. Maksud dari konsepsi adalah

11
12

menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya

pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan

maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi

adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya

memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan.

Kontrasepsi adalah usaha - usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan,

usaha itu dapat bersifat sementara dan ada yang bersifat permanen.6

a. Tujuan Kontrasepsi

Tujuan kontrasepsi yang dimaksudkan untuk mencegah pembuahan

dan kehamilan18:

1. Membantu pengaturan atau perencanaan pembentukan keluarga

dengan cara penundaan, penjarangan, dan penghentian kesuburan.

2. Membantu pembinaan dan peningkatan taraf kesehatan keluarga.

3. Membantu pembinaan dan peningkatan taraf kesejahteraan

keluarga, sosial ekonomi, edukasi dan emosional.

4. Membantu dalam tingkat tingkat nasional pengendalian laju

pertumbuhan penduduk supaya seimbang dengan pertumbuhan

produksi.

Metode kontrasepsi dapat digunakan oleh pasangan usia subur secara

rasional berdasarkan fase-fase kebutuhan seperti19 :

a. Fase Menunda Kehamilan

Masa menunda kehamilan pertama sebaiknya dilakukan oleh

pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 [Link] usia


13

di bawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya menunda untuk

mempunyai anak dengan berbagai [Link] kontrasepsi yang

diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang

tinggi. Hal ini penting karena pada masa ini pasangan belum

mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi yang

cocok dan yang disarankan adalah pil KB, kondom, AKDR/IUD.

b. Fase Mengatur/Menjarangkan Kehamilan

Periode usia istri antara 20 - 30 tahun merupakan periode usia

paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan

jarak antara kelahiran adalah 2 – 4 tahun. Kriteria kontrasepsi yang

diperlukan yaitu efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi karena

pasangan masih mengharapkan punya anak lagi. Kontrasepsi dapat

dipakai 3-4 tahun sesuai jarak kelahiran yang direncanakan. Fase

ini sebaiknya memilih kontrasepsi dengan urutan : IUD, implant,

suntikan, pil dan kondom.

c. Fase Mengakhiri Kesuburan

Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih

dari 30 tahun tidak hamil. Kondisi keluarga seperti ini dapat

menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi,

karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya

kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Di samping itu

jika pasangan akseptor tidak mengharapkan untuk mempunyai


14

anak lagi, kontrasepsi yang cocok dan disarankan adalah metode

kontap, AKDR, implan, suntik KB dan pil KB.

d. Mencegah Kehamilan pada waktu yang tidak sesuai dan kehamilan

yang tidak diharapkan, dengan cara mencegah “4 Terlalu” yang

berhubungan dengan kehamilan yaitu :

1. Terlalu muda (kurang dari 20 tahun)

2. Terlalu tua (lebih dari 35 tahun)

3. Terlalu dekat (jarak kehamilan kurang dari 2 tahun)

4. Terlalu banyak (lebih dari 3 anak).

b. Jenis Kontrasepsi

Metode KB pasca persalinan dibagi dalam dua jenis, yaitu non

hormonal dan hormonal20. Non hormonal terdiri dari Metode Amenore

Laktasi (MAL), kondom, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan

kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi). Sedangkan kontrasepi

hormonal terdiri dari yang berisi progestin berupa pil, injeksi dan

implan serta hormonal kombinasi berupa pil dan injeksi.

1. Kontrasepsi Non Hormonal

Adalah kontrasepsi yang tidak mengandung hormone, baik

estrogen maupun progesterone.

Jenis-jenis kontrasepsi non hormonal meliputi:

a) Metode Amenore Laktasi (MAL)


15

MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu

Ibu (ASI) tanpa tambahan makanan ataupun minuman apapun yang

lainnya 21.

b) Kondom

Kondom merupakan selubung/ sarung karet sebagai salah satu

metode kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan dan atau

penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama. Kondom

adalah alat kontrasepsi yang dipakai oleh pria.

c) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

AKDR adalah alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim dengan

menyepit kedua saluran yang menghasilkan indung telur sehingga

tidak terjadi pembuahan, terdiri dari bahan plastik polietilena,ada

yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak, berbentuk spiral

(Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380A atau ML Cu 250)

yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh

dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih. Untuk AKDR

jenis spiral ( Lippes Loop) saat ini sudah tidak digunakan dalam

pelayanan Keluarga Berencana.

d) Kontrasepsi Mantap

Terdiri dari tubektomi ( Metode Operasi Wanita/MOW) dan

vasektomi ( Metode Operasi Pria/MOP). MOW dilakukan dengan

cara mengikat dan memotong atau memasang cincin pada saluran

telur ( tuba falopi) sehingga sperma tidak bisa bertemu dengan


16

ovum. Sedangkan MOP dilakukan dengan cara mengoklusi vasa

deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses

fertilisasi (penyatuan ovum ) tidak terjadi.

2. Kontrasepsi Hormonal

a) Pil

Adalah salah satu jenis kontrasepsi oral hormonal yang diminum

secara rutin setiap hari untuk mencegah kehamilan.22 Hormon

yang terkandung dalam pil KB adalah estrogen dan progesteron.

Pil KB berisi zat yang berguna untuk mencegah lepasnya sel

telur dari indung telur wanita. Pil KB ada dua jenis yaitu pil

Kombinasi dan pil Progestin.

1) Pil Kombinasi

Jenis pil KB ini mengandung hormon estrogen dan

progesteron.

2) Pil Progestin

Jenis pil KB ini sangat cocok digunakan bagi wanita yang

menyusui atau wanita yang mempunyai alergi terhadap

hormon estrogen. Pil KB ini mengandung hormon

Progestin.

b) Suntik KB

Suntik KB merupakan metode KB yang paling banyak

digunakan di Indonesia. Suntik KB bekerja dengan cara

menghambat terjadinya ovulasi.


17

Jenis suntikan KB ada dua yaitu:

1) Suntik Progestin

Suntikan ini mengandung hormon Depo

Medroxyprogesterone Acetat ( hormon progestin) 150 mg.

Diberikan setiap 3 bulan. Untuk suntikan pertama diberikan

7 hari pertama dalam periode haid atau 6 minggu setelah

melahirkan. Suntik Progestin ini diberikan setiap 3 bulan

atau 12 minggu.

2) Suntik Kombinasi

Suntikan KB ini mengandung kombinasi hormon

Medroxypro-gesterone Asetat( hormon progestin) dan

Estradiol Cypionate (hormon estrogen). Komposisi dan

cara kerja suntikan kombinasi ini mirip dengan pil KB

kombinasi. Suntikan pertama diberikan dalam 7 hari

pertama periode haid atau 6 minggu setelah melahirkan

apabila ibu tidak menyusui bayinya. Suntik kombinasi ini

diberikan sebulan sekali atau setiap 12 minggu.

c) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit ( Implan/ KB Susuk)

Alat Kontrasepsi Bawah Kulit adalah metode kontrasepsi

dengan memasukkan enam kapsul kecil yang terbuat dari silikon

berisi hormon levonogestrel yang ditanam dibawah kulit. Alat

Kontrasepsi Bawah Kulit aatau lebih sering disebut Implan

secara tetap melepaskan hormon dalam jumlah kecil kedalam


18

darah. Hormon tersebut bekerja dengan cara menghambat

terjadinya ovulasi. Alat Kotrasepsi Bawah Kulit (Implan)

mempunyai keefektifan selama 3-7 tahun tergantung dari

jenisnya.

2. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kontrasepsi

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan metode

kontrasepsi oleh PUS terdiri dari dukungan suami, pengetahuan,

pendidikan Dibawah ini ada beberapa faktor-faktor yang berhubungan

dengan pemilihan metode kontrasepsi oleh Wanita Usia Subur, antara lain:

a. Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses

sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu.

Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya

perilaku terbuka atau open behavior 23.

Cara Mengukur Pengetahuan:

Cara untuk mengetahui secara kualitas tingkat pengetahuan yang

dimiliki oleh seseorang dapat menjadi 3 tingkatan yaitu 24 :

1) Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76-100 %

2) Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56-75%

3) Tingkat pengetahuan buruk bila skor atau nilai <56 %


19

b. Umur

Umur merupakan suatu indeks perkembangan seseorang. Umur

individu terhitung mulai saat dilahirkan , semakin cukup umur, tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir

dan bekerja. Pada umur 20 tahun seseorang telah memiliki kemampuan

mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada

situasi baru, misalnya mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari,

penalaran analogis dan berfikir kreatif. Umur diatas 20 tahun

merupakan masa menjarangkan kehamilan atau mencegah kehamilan

sehingga pilihan mereka lebih cenderung memilih memakai

kontrasepsi.

Sekitar awal atau pertengahan umur 30 tahun, kebanyakan orang

mudah mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cukup

baik sehingga menjadi stabil, tenang secara emosional. Umur akan

mempengaruhi seseorang dalam menentukan pemakaian alat

kontrasepsi karena biasanya ibu dengan usia muda (baru pertama kali

menggunakan alat kontrasepsi) akan cenderung memilih alat

kontrasepsi yang kebanyakan orang pakai 25.

1) Umur <20 tahun

a) Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral

b) Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena

pasangan muda memiliki frekuensi bersenggama tinggi

sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi


20

c) Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang

dianjurkan.

d) Umur dibawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak

dulu.

2) Umur 20-30 tahun

a) Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan

melahirkan.

b) Segera setelah anak pertama, dianjurkan untuk memakai

AKDR sebagai pilihan utama. Pilihan kedua adalah

implant atau pil.

3) Umur > 30 tahun

a) Pilihan utama menggunakan AKDR atau implant. Kondom

biasanya merupakan pilihan kedua.

b) Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara

operasi (sterilisasi) dapat dipakai dan relatif lebih baik

dibandingkan dengan AKDR, kondom, maupun pil dalam

arti mencegah.

c. Pendidikan

Merupakan sarana utama dan suksesnya tujuan pelaksanaan

keluarga berencana. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan

informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat

meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup, wanita berpendidikan


21

tinggi berkeinginan memiliki sedikit anak dibandingkan dengan yang

berpendidikan rendah.26

Menurut Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan

Nasional Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 8 menyatakan bahwa27:

1) Pendidikan Dasar (SD-SMP)

2) Pendidikan Menengah (SMA)

3) Pendidikan Tinggi

d. Paritas

Anak adalah harapan atau cita-cita dari sebuah perkawinan. Berapa

jumlah yang diinginkan, tergantung dari keluarga itu sendiri. Apakah

satu, dua, tiga dan seterusnya. Dengan demikian keputusan untuk

memiliki sejumlah anak adalah sebuah pilihan, yang mana pilihan

tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai yang dianggap sebagai satu

harapan atas setiap keinginan yang dipilih oleh orang tua.

Banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang

perempuan. Jumlah paritas merupakan salah satu komponen dari status

paritas yang sering dituliskan dengan notasi G-P-Ab, dimana G

menyatakan jumlah kehamilan (gestasi), P menyatakan jumlah paritas,

dan Ab menyatakan jumlah abortus Sosial Ekonomi28.

e. Pekerjaan

Merupakan suatu rangkaian pada pentingnya suatu aktifitas, waktu, dan

tenaga yang dihabiskan, serta imbalan yang diperoleh .9


22

f. Sosial Ekonomi

Pendapatan memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan seseorang dalam

memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pendapatan seseorang tidak dapat

diukur sepenuhnya dari pekerjaan .17

g. Dukungan Suami

Komunikasi verbal dan non-verbal, saran, bantuan yang diberikan oleh

suami terhadap ibu dalam lingkungan sosialnya.

h. Dukungan tenaga Kesehatan

Kenyamanan fisik dan psikologis, perhatian, penghargaan, maupun

bantuan dalam bentuk lainnya yang diterima individu dari tenaga

kesehatan30.

Dari penelitian yang dilakukan Sugiyarningsih di Puskesmas

Tebing pada tahun 2017 didapatkan hasil ada hubungan yang signifikan

antara pengetahuan dengan perilaku ibu nifas dalam kepesertaan KB pasca

salin, dengan nilai p value = 0,002 < 0,0513.

Marwan Abbas dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor

pendidikan, penghasilan, paritas dan riwayat konseling berhubungan

signifikan dengan kepesertaan KB pasca salin (p<0,05). Persentase

kepesertaan KB signifikan lebih tinggi pada subyek yang berpendidikan

tinggi dibandingkan yang berpendidikan rendah 14.


23

3. Teori Perilaku

a. Pengertian

Dari seorang ahli psikologis merumuskan bahwa terjadinya perilaku ini

melalui proses adanya rangsangan (stimulus) terhadap organisme, dan

kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skiner ini disebut


(32
teori ”S-O-R” atau Stimulus Organisme Respons ). Perilaku kesehatan

adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek

yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,

makanan dan minuman, serta lingkungan.

b. Domain Perilaku Kesehatan

Benyamin Bloom membagi perilaku ke dalam tiga domain, yaitu 32 :

1) Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses

sensoris khususnya mata dan telinga terhadap obyek tertentu.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya perilaku terbuka (over behavior).

Didalam Notoadmojo tingkatan pengetahuan didalam domain

kognitif mencakup 6 tingkatan 33, yaitu:

a) Tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Tahu

artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu materi

yang telah dipelajari sebelumnya.


24

b) Memahami, artinya kemampuan untuk menjelaskan dan

menginterpretasikan dengan benar tentang obyek yang

diketahui.

c) Penerapan, artinya kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang nyata atau

dapat menggunakan hukum-hukum, rumus dan metode dalam

situasi nyata.

d) Analisis, artinya kemampuan untuk menguraikan objek

kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, tetapi masih didalam

suatu struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain.

e) Sintesis, yaitu suatu kemampuan untuk menghubungkan

bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru

atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang sudah ada.

f) Evaluasi, yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu objek.

2) Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang tertutup dari

seseorang terhadap suatu stimulus atau objek tertentu. Sikap belum

merupakan tindakan atau aktivitas tetapi merupakan faktor yang

mempengaruhi tindakan atau perilaku10. Manifestasi sikap itu tidak

dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih

dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap merupakan kesiapan


25

untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu

penghayatan terhadap objek.

Dengan demikian, sikap belum merupakan tindakan atau

aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di

lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek34.

Sikap terdiri dari empat (4) tingkatan yakni:

a) Menerima ( receiving)

Menerima diartikan bahwa orang ( subyek ) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan ( obyek)

b) Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi

sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan

atau mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas dari

pekerjaan itu benar atau salah, orang itu menerima ide tersebut.

c) Menghargai (valuing)

Pada tahap ini subyek akan mengajak untuk mengerjakan atau

mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah.

d) Bertanggung jawab ( responsible)

Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling

tinggi14.
26

Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang,

yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen

konatif34.

a) Komponen kognitif

Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu

pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan

stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat

disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut

masalah isu atau problem yang kontroversial.

b) Komponen afektif

Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.

Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam

sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling

bertahan terhadap pengaruh-pengaruh, yang mungkin adalah

mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan

dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

c) Komponen Konaktif

Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai

dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Berisi tendensi

atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap

sesuatu dengan cara-cara tertentu. Berkaitan dengan obyek

yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa


27

sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi

perilaku.

Ciri-ciri sikap 35adalah sebagai berikut:

a) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya.

Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti

lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.

b) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan

sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan dan

syarat tertentu yang mempermudah sikap pada ornag itu.

c) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan

tertentu terhadap suatu obyek dengan kata lain,sikap itu terbentuk,

dipelajari atau berubah senantiasa berkanaan dengan suatu obyek

tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

d) Obyek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga

merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.

e) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sikap

alamiah yang membedakan sikap dan pengetahuan yang dimiliki

orang.

Faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap

antara lain adalah sebagai berikut ini36 :


28

a) Pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat agar

dapat menjadi dasar pembentukan sikap. Sikap akan lebih mudah

terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi

yang melibatkan faktor emosional.

b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Seseorang atau individu pada umumnya cenderung memiliki sikap

yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap

penting. Hal ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan

berkeinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang

dianggap penting.

c) Pengaruh Kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh

sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan mewarnai sikap

masyarakat karena kebudayaanlah yang memberi corak

pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya

d) Media Massa

Pemberitaan surat kabar dan radio maupun media komunikasi

lainnya yang seharusnya faktual disampaikan secara obyektif

cenderung di pengaruhi oleh sikap penulisnya sehingga

berpengaruh terhadap sikap konsumennya.


29

e) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Konsep moral dan ajaran lembaga pendidikan dan lembaga agama

sangat menentukan sistem kepercayaan sehingga konsep tersebut

mempengaruhi sikap.

f) Faktor Emosional

Bentuk sikap kadang kala merupakan pernyataan yang didasari

emosi berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego34.

Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui kontak

sosial terus menerus antara individu dengan individu lain.

Dalam hubungan ini, faktor-faktor yang menyebabkan perubahan

sikap adalah sebagai berikut :

a) Faktor intern,yaitu faktor yang terdapat dalam diri individu

seperti selektifitas. Selektifitas diperlukan karena rangsangan luar

(lingkungan) tidak semuanya bisa diserap oleh individu. Karena

itu seseorang harus memilih rangsangan mana yang tidak ingin “

diperdalam”. Pemilihan ini biasanya dipengaruhi motif dan

kecenderungan dalam diri seseorang.

b) Faktor ekstern, yaitu faktor yang terdapat diluar diri individu.

Faktor ini antara lain sifat obyek yang dijadikan sasaran sikap,

kewibawaan orang yang mengemukakan sikap,sifat orang atau

kelompok yang mendukung sikap, media komunikasi yang


30

digunakan untuk menyampaikan sikap, situasi pada saat sikap

tersebut dibentuk.

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap

seseorang. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang

mengatakan sesuatu mengenai obyek sikap yang akan diungkap.

Pernyataan sikap mungkin berisi hal-hal yang positif mengenai obyek

sikap, yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada obyek

sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favorable.

Sedangkan pernyataan sikap yang mungkin berisi hal-hal negatif

mengenai obyek sikap yang bersifat tidak mendukung atau kontra

terhadap obyek sikap.

Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidak

favorabel. Skala sikap diusahakan agar terdiri atas pernyataan

favorabel dan tidak favorabel dalam jumlah yang seimbang. Dengan

demikian, pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak

semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak

mendukung sama sekali obyek sikap34. Pengukuran sikap dapat

dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat

ditanyakan bagaimana pendapat/ pernyataan responden terhadap

obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan

hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden melalui

kuisioner35.
31

Salah satu skala sikap yang digunakan adalah skala likert. Skala

Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Fenomena

sosial dalam penelitian ini telah ditetapkan secara spesifik oleh

peneliti, yang selanjutnya disebut variabel penelitian.. Jawaban setiap

item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi

dari sangat positif sampai sangat negatif. Instrumen penelitian yang

menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk cheklist ataupun

pilihan ganda37.

Dalam skala likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan baik

pernyataan positif maupun negatif, dinilai dengan Sangat Setuju (SS),

Setuju (S), Ragu-Ragu (RR), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju

(STS) yang digambarkan dalam tabel berikut:

Tabel 6. Tabel Penilaian Skala Likert

Pernyataan positif Nilai Pernyataan negatif Nilai

Sangat setuju 5 Sangat setuju 1


Setuju 4 Setuju 2
Ragu-Ragu 3 Ragu-Ragu 3
Tidak setuju 2 Tidak setuju 4
Sangat tidak setuju 1 Sangat tidak setuju 5

Cara menginterpretasi berdasarkan persentasi adalah sebagai berikut :

a. Angka 0-20% : sangat tidak setuju ( sangat tidak mendukung)

b. Angka 21-40%: Tidak setuju (tidak mendukung)

c. Angka 41-60%: Ragu-ragu

d. Angka 61-80%: setuju (mendukung)


32

e. Angka 81-100%: sangat setuju (sangat mendukung)38

3) Praktik atau tindakan (practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan

(overt behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan

nyata diperlukan fakor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor

fasilitas, juga diperlukan faktor pendukung (support) dari pihak

lain, misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua dan lain-

lain.

4. Faktor yang mempengaruhi perilaku kepesertaan Keluarga Berencana

Menurut Lawrence Green, faktor perilaku khususnya perilaku

kesehatan dipengaruhi oleh 3 yaitu:

a) Predisposing Factor, yaitu faktor-faktor yang memberikan dasar

perilaku secara rasional atau motivasi antara lain pengetahuan,

karakteristik tertentu dalam kaitannya dengan partisipasi dalam

keluarga berencana. Karakteristik tertentu seperti umur,

pendidikan,paritas, pekerjaan, status sosial ekonomi. Faktor lainnya

yaitu dukungan suami dan dukungan tenaga kesehatan juga

[Link]-faktor ini terutama yang positif mempermudah

terwujudnya perilaku, maka sering disebut faktor pemudah.

b) Enabling Factors, yaitu faktor-faktor yang mendahului perilaku

memungkinkan sebuah motivasi untuk direalisasikan. Yang termasuk

dalam faktor ini adalah:


33

1) Ketersediaan sumber daya kesehatan (sarana kesehatan, rumah

sakit, dan tenaga).

2) Keterjangkauan sumber daya, dapat dijangkau baik secara fisik

ataupun dapat dibayar masyarakat, misalnya jarak sarana kesehatan

dengan tempat tinggal, jalan baik, ada angkutan dan upah jasa

dapat dijangkau masyarakat.

3) Ketrampilan tenaga kesehatan.

c) Reinforcing Factor, yaitu faktor-faktor yang memberikan pengaruh

keberkelanjutan terhadap perilaku dan berkontribusi terhadap

penanggulangan perilaku tersebut. Untuk berperilaku sehat, masyarakat

kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta

dukungan fasilitas kesehatan saja, melainkan diperlukan perilaku

contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas,

lebih-lebih para petugas kesehatan. Termasuk didalamnya informasi

tentang kontrasepsi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

B. Kerangka Teori

Penelitian ini mengacu pada teori Lawrence Green yang mengemukakan

bahwa perilaku manusia dipengaruhi tiga faktor utama yaitu faktor

predisposisi, faktor pendukung dan faktor penguat. Faktor predisposisi

(predisposing factor) meliputi:pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan

faktor sosio- demografi. Faktor pemungkin ( enabling factor) meliputi:

ketersediaan sumber daya kesehatan, keterjangkauan sumber daya

kesehatan, dan lain-lain. Faktor penguat ( reinforcing factor) meliputi:


34

sikap dan perilaku petugas kesehatan, keluarga, teman, tokoh masyarakat

mendorong atau melemahkan perilaku kesehatan.

Gambar 1. Teori Lowrence Green

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah model perilaku

Green. Dalam penelitian ini tidak semua variabel perilaku Green akan

diteliti. Variabel independen dan dependen dalam penelitian ini merupakan

faktor predisposisi yaitu pengetahuan dan sikap. Variabel independen

adalah pengetahuan tentang kontrasepsi. Sedangkan variabel dependennya

adalah sikap keikutsertaan KB pasca salin. Variabel yang lain yang

mempengaruhi sikap keikutsertaan KB pasca salin meliputi

umur,pendidikan,pekerjaan, lingkungan,sosial budaya,dukungan suami

dan dukungan tenaga kesehatan.


35

Variabel independen Variabel dependen

Pengetahuan ibu hamil tentang sikap keikutsertaan KB


kontrasepsi pasca salin

Variabel Perancu/ Confounding


a) Umur
b) Pendidikan
c) Paritas
d) Pekerjaan
e) Dukungan Suami

Gambar 2. Kerangka Konsep

D. Hipotesis

Ada hubungan pengetahuan ibu hamil tentang kontrasepsi dengan sikap

keikutsertaan KB pasca salin di Puskesmas Grabag. Ibu hamil dengan

pengetahuan tentang kontrasepsi baik akan mempunyai sikap mendukung

KB pasca salin di Puskesmas Grabag.

Anda mungkin juga menyukai