0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan15 halaman

QRA Question

Dokumen ini menjelaskan prosedur dan tanggung jawab terkait Well Control Bridging Document (WCBD) dan Well Control Assurance System (WCAS) di rig site. Terdapat penjelasan mengenai pentingnya sertifikasi, monitoring sumur, serta prosedur shut in dan well control drill. Selain itu, dokumen ini juga mencakup peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim dalam operasi well control.

Diunggah oleh

arifin ubaid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan15 halaman

QRA Question

Dokumen ini menjelaskan prosedur dan tanggung jawab terkait Well Control Bridging Document (WCBD) dan Well Control Assurance System (WCAS) di rig site. Terdapat penjelasan mengenai pentingnya sertifikasi, monitoring sumur, serta prosedur shut in dan well control drill. Selain itu, dokumen ini juga mencakup peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim dalam operasi well control.

Diunggah oleh

arifin ubaid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

QRA QUESTION

1. Apakah binder WCBD tersedia di rig site ? jelaskan


Binder WCBD harus tersedia 2 binder di rig site
- Binder pertama di rig office yang berisi data komplit WCBD (sertifikat personal IADC, data WCE, RSP
dan R&R)
- Binder kedua di Rice crew yang berisi Table konflik, RSP, R&R

2. Apa itu WCBD…?


Well Control Bridging Document adalah Suatu document kesepakatan antara PHR dengan BP tentang
Well Control.

3. Sebutkan tiga focus WCAS (Well Control Asurance System) !


a. Personal : orangnya/crew memiliki kemampuan untuk melakukan aktifitas Well control
b. S O P : ada SOP yang bisa digunakan untuk melakukan aktifitas wellcontrol
c. Equipment : peralatan yang teruji dan siap digunakan untuk aktifitas wellcontrol

4. Apa itu Bridging Dokument Well control…? (WSR, Tool pusher dan Driller)
Suatu document yang menjembatani kebijakan antara PHR dan BP terkait Wellcontrol

5. Apa isi dari bridging document ?


A. Kebijakan well control
 Sertifikat well control
Driller, Tool pusher dan Rig supt harus memiliki sertifikat IADC
 Shut in metode
Hard shut in
 Kill well metode
Driller method (drilling) dan Bullhead (workover)
 Operator choke
Tool pusher (WSR hanya memberi arahan)
B. Peran dan Tanggungjawab (R&R)

6. Apakah Bridging document di share atau tidak Ketika melakukan de brief setelah drill ?Seharusnya
bridging document dibacakan Ketika melakukan de brief drill

7. Bagaimana SOP certification tracking ?


Tool pusher dan rig supt melakukan control sertifikat setiap on schedule, jika ada sertifikat yang
akan expire minimal sebelum 3 bulan harus sudah dilaporkan, dan terus di follow up sampai ada
jadwal sertifikasi.

8. Pastikan evident Rig induction yang telah dilakukan kepada driller, toll pusher dan rig supt.

9. Apakah driller daily checklist dilakukan oleh driller yang masuk siang dan malam ?

Tolong pastikan evidentnya.


10. Tool pusher dan driller harus memahami isi dari driller checklist.

11. Tool pusher dan driller harus memahami fluida atau oli accumulator cukup untuk melakukan 2x
penutupan annular dan Ram BOP (atau 8” dari lobang intip 0li accumulator).

12. Pastikan evident dari sosialisasi dan implementasi SOP well safe ada di rig site.

13. Pastikan evident dari test BOP terdokumentasi dengan baik.

14. Driller dan tool pusher harus mengetahui dan memahami apa apa saja informasi well control yang
ada di driller console :

a. Pre record kill sheet


Adalah data awal sebuah sumur sebelum mengalami kick yang diantaranya berisi, nama dan
nomor lokasi, MISICP, data sumur, data pompa
b. BOP space out (BOP diagram)
Adalah data BOP yang berisi ketinggian BOP (annular, ram drilling spool) terhadap rig floor yang
berguna saat melakukan space out, agar tool joint tidak berada didalam BOP stack
c. Shut in procedure
Metode penutupan sumur (dipakai Hard shut in)
d. Shear matrix
Suatu table dari pabrik ram BOP yang digunakan untuk mengetahui kemampuan ram dalam
melakukan pemotongan terhadap jenis pipa, yang dipengaruhi pressure dari dalam sumur
e. Degraded well control equipment
Suatu table yang berisi data hasil dari drawdown test accumulator (closing time) yang berguna
untuk menentukan apakah ada penurunan performa pada Accumulator dan BOP yang
digunakan
f. Last Test BOP
Peringatan, Kapan dilakukan full test BOP terakhir (tgl/bln/thn) dan kapan seharusnya
dilakukan full test Kembali

15. Pastikan FOSV & IBOP berada dalam posisinya sesuai dengan operasi, kondisinya (terbuka/tertutup)
ada kunci FOSV beserta xrosover yang sesuai dengan tubular yang digunakan.

16. Apa proses dari well control drill


PLAN : drill yang direncanakan oleh wsr dan tool pusher
BRIEF : diskusi yang dilakukan oleh tool pusher dan WSR untuk melakukan drill
EXECUTE : pelaksanaan drill
De Brief : evaluasi setelah melakukan drill

17. Sebutkan R&R (peran dan tanggung jawab)


 Rig supt
- Memberikan dukungan kepada tool pusher dan memelihara hubungan dengan company D&C
superintendent selama operasi well control
 Rig Manager
- Bertanggung jawab untuk tindakan tool pusher , driller dan crew terkait
- Memiliki hak dan tanggung jawab untuk menutup sumur setiap saat dalam well control event
tanpa persetujuan WSR (sebagai alternatif jika tool pusher dan driller tidak bisa melakukan shut
in selama well kick.
- Selama situasi well control, rig manager akan berkomunikasi langsung dengan WSR
- Rig Manager akan memberikan instruksi ke tool pusher dan driller dan juga memberikan
panduan kepada seluruh crew didalam well control event
- Selama striping operasi, Rig manager akan bertanggung jawab untuk mengatur tekanan
annular dari accumulator unit.
 Tool Pusher
- Bertanggung jawab untuk mengawasi crew
- Menerima komunikasi mengenai rencana kedepan dari rig manager dan DSM, berkomunikasi
dan mengawasi crew dalam melakukan tugas
- Toolpusher bertanggung jawab sebagai operator choke
- Memiliki hak dan tanggung jawab untuk menutup sumur setiap saat ddalam well control event
tanpa persetujuan WSR
- Memimpin proses well control drill dan BOP test
- Memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan semua informasi mengenai wel control event.
 Driller
- Bertanggung jawab untuk mengawasi crew di rig floor/wpf
- Bertanggung jawab untuk mengisi pre record kill sheet dan trip sheet
- Memiliki tanggung jawab untuk melakukan hole monitoring kapanpun bila diperlukan
- Memiliki hak dan tanggung jawab untuk shut in well dari remote control BOP di driller console,
setiap saat didalam well control event tanpa menunggu persetujuan WSR
- Menerima komunikasi mengenai rencana kedepan dari Rig Manager dan toll pusher,
berkomunikasi dan mengawasi crew dalam melakukan tugas.
- Khusus untuk operasi well control, driller akan bertanggung jawab untuk mengoperasikan
pompa kecuali ditentukan dalam PJSM
 Derrickman
- Menerima bimbingan dan arahan dari driller atau tool pusher
- Bertanggungjawab untuk memantau tingkat cairan di dalam tanki dan mempersiapkan kill mud
weight dibantu oleh mud boy
 Floorman
- Menerima bimbingan dan arahan dari driller atau tool pusher
- Bertanggung jawab untuk stab in FOSV ke string dan menutup FOSV selama shut in well
operation.
- Bertanggung jawab untuk stab in IBOP selama striping operation
- Jika kick berupa steam, floorman melanjutkan ke daerah evakuasi dan menunggu instruksi lebih
lanjut dari driller atau tool pusher.
- Sebutkan RSP workover dan wel servise rig
1. Hole monitoring prosedur
2. Shut in procedure
3. Kill wel procedure
4. Striping prosedur
5. Non shearable prosedur (jika rig menggunakan blind shear)
6. Spesial Operation procedure
7. BOP test procedure
8. Well control drill procedure
Drilling ;
9. Conection Trend Analisis Prosedure
10. Mud Gas separator Prosedure

18. Jelaskan procedure memonitor sumur Ketika drilling, milling dan circulating
1. Driller atau orang yang didelegasikan harus mengetahui perubahan dari laju aliran (flow rate)
meningkat secara signifikan yang terdapat di flow line. Jika terjadi positif kick, driller harus
membunyikan klason dan melakukan shut in procedure (Mengacu ke SOP shut in). Kemudian
menginformasikan ke tool pusher dan WSR.
2. Driller atau orang yang didelegasikan harus memonitor penambahan volume (pit gain) di tanki
aktif jika terjadi positif kick, driller harus melakukan shut in procedure (mengacu ke SOP shut
in) kemudian menginformasikan ke tool pusher dan WSR
3. Driller atau orang yang didelegasikan harus melakukan flow check sebelum melakukan koneksi
pipa dan pompa dalam keadaan mati, jika ada aliran dari dalam sumur maka harus melakukan
shut in procedure (mengacu ke SOP shut in ) kemudian menginformasikan ke tool pusher dan
WSR.
4. Memonitor cutting sebagai tanda peringatan awal untuk pekerjaan deepening.( Kalau rig
memiliki shale shaker)
- Bentuk, ukuran dan jumlah cutting
- Perubahan pada temperature sebelum memasang sambungan pipa baru
5. Komunikasi antara driller dan derrickman sebelum dan selama pengisian completion fluid atau
selama operasi yang dapat memberikan pengaruh pada volume tanki
- Derrickman harus memberi tahu driller/tool pusher/WSR jika terjadi perubahan yang signifikan
pada volume tanki seperti saat pengisian air dengan menggunakan vacuum atau killing line.
 Tiga positif kick indicator
1. Rate flow line -> Laju aliran bertambah di flow line
2. Ada aliran Ketika pompa mati
3. Pit gain -> Bertambahnya volume lumpur di tanki
 Posible kick indicator
1. Drilling break (Perubahan ROP, Perubahan pressure, RPM, Torque, P/U, S/O weight
2. Perubahana cutting di shale shaker
- Bentuk, ukuran dan jumlah cutting
- Perubahan pada properties lumpur
- Perubahan pada temperature sebelum memasang sambungan pipa baru

19. Jelaskan procedure memonitor sumur saat pekerjaan tripping !


1. Sebelum operasi triping, driller harus memastikan FOSV, Kunci FOSV dan x-over tersedia di WPF
sesuai dengan string yang digunakan. (FOSV dalam kondisi terbuka)
2. Sebelum memulai operasi triping driller harus melakukan pengisian sumur
3. Driller melakukan flow check sebelum memulai triping
 Jika sumur static driller dapat memulai triping in/out
- Lakukan pengisian sumur setiap 10 stand dan record datanya di trip log
- Dikarenakan rig servis tidak memiliki trip tank, maka kita akan mengkompensasi displacement
volume kedalam stroke pompa.
- Jika actual stroke pemompaan kurang dari teoritical stroke yang dibutuhkan maka matikan
pompa dan lakukan flow check, jika ada aliran dari dalam sumur driller/tool pusher harus
menutup (shut in) sumur dengan annular. Laporkan hal ini ke WSR untuk Langkah lebih lanjut.
- Data trip log disimpan selama 3 bulan di rig site
- Lakukan flow check sebelum melepas atau memasang koneksi pipa.
 Jika sumur mengalami loss circulation jika memungkinkan driller menghitung loss rate
kemudian laporkan kepada WSR untuk tindakan lebih lanjut.
- Lakukan pengisian sumur secara terus menerus sesuai yang dibutuhkan sumur selama operasi
triping
- Lakukan pengecekan terhadap temperature string dan apabila ada peningkatan temperature
naikkan kecepatan pemompaan
- Jika maksimal kecepatan pemompaan telah tercapai, discusikan dengan WSR untuk Langkah
lebih lanjut
 Driller berhak melakukan flow check atau observasi setiap saat tanpa persetujuan dari WSR
4. Jika sumur flow, driller harus melakukan shut in (mengacu ke SOP shut in)

20. Jelaskan procedure memonitor sumur pada saat pekerjaan wire line..!
1. Sebelum memulai loging, driller harus melakukan pengisian sumur
2. Driller melakukan flow check sebelum memulai logging
 Jika sumur static, driller atau orang yang ditunjuk pada saat PJM akan memonitor aliran di tanki
 Jika sumur mengalami loss circulation, driller memonitor loss rate, kemudian laporkan kepada
WSR untuk Tindakan lebih lanjut
 Lakukan pengisian sumur setiap saat sesuai yang dibutuhkan sumur selama operasi logging
3. Pada saat TOH wire line tool, driller harus menjaga sumur dalam kondisi penuh setiap saat
4. Jika ada aliran, driller/tool pusher harus shut in sumur (lihat SOP shut in)

21. Jelaskan procedure memonitor sumur saat pekerjaan tidak ada pipa didalam sumur !
1. Jika tidak ada string didalam sumur maka tool pusher harus menutup blind/shear ram
2. Tool pusher membuka gate valve no.2 pada choke line untuk memonitor SICP
3. Tool pusher atau orang yang didelegasikan akan memonitor SICP setiap 5 menit atau sesuai
arahan dari WSR. Catat hasil monitor ini ke dalam out of hole monitoring sheet
4. Jika ada kenaikan pada SICP, tool pusher harus melaporkan hal ini ke WSR untuk dilakukan
Tindakan lebih lanjut
5. Data out of hole monitoring sheet ini disimpan selama 3 bulan di rig site
6. Sebelum membuka blind/shear ram tool pusher harus memastikan SICP = 0 dan membuka
valve dichoke manifold untuk mengalirkan fluida melalui panic line jika terdapat tekanan
terkurung.

22. Jelaskan procedure shut in sumur saat drilling, milling dan sirkulasi
1. Jika ada indicator kick yang positif maka driller harus membunyikan alarm, kemudian lakukan
3S proses penutupan sumur saat drilling (space out, shut off pump, shut in well)
2. Driller menyesuaikan ketinggian string (space out) untuk mencegah tool joint berada di dalam
BOP (mengacu ke BOP space out)
3. Driller mematikan pompa
4. Tool pusher menutup anular BOP dari accumulator unit. Jika tool pusher tidak memungkinkan
maka driller dapat menutup anular.
 Tool pusher dan driller memiliki hak dan tanggung jawab untuk menutup sumur tanpa
persetujuan WSR
 Tool pusher harus memastikan tidak ada kebocoran di anular dan besar tekanan yang diberikan
kepada annular BOP sudah sesuai
5. Tool pusher membuka valve #2 dan memonitor SICP di choke manifold lalu melaporkan nilai
SICP yang stabil ke WSR.

23. Sebutkan 3S saat drilling :


1. Space out (angkat tool joint diatas BOP) dimana tool joint tidak berada antara annular dan RAM
2. Shut down (Matikan pompa)
3. Shut in (tutup sumur dengan annular)

24. Sebutkan 3S saat triping :


1. Stab in (pasang FOSV dan tutup FOSV)
2. Space out ( angkat tool joint diatas BOP) dimana tool joint tidak berada antara annular dan
RAM
3. Shut in (tutup sumur dengan annular)

25. Jelaskan prosedur shut in saat pekerjaan triping !

 Shut in for triping

1. Sebelum melakukan triping driller harus memastikan FOSV + x-over yang sesuai dengan string
dan kunci FOSV yang sesuai bearda di WPF (FOSV dalam keadaan terbuka
2. Sebelum triping driller harus melakukan flow check, tripping dapat dilanjutkan jika tidak ada
aliran dari dalam sumur
3. Jika ada indicator kick yang positif maka driller harus membunyikan alarm kemudian lakukan 3S
proses penutupan sumur saat triping (stab in FOSV, Space out, Shut in well)
4. Floorman #1 mengangkat dengan air/hyd winch dan memasang FOSV dalam keadaan terbuka
5. Floorman #2 mengambil kunci FOSV dan menutup FOSV
6. Driller melakukan space out string, pastikan tidak ada tool joint pada BOP area (mengacu ke
BOP space out diagram)
7. Tool pusher menutup annular BOP dari accumulator unit. Jika tool pusher tidak memungkinkan
maka driller dapat menutup annular
8. Tool pusher membuka valve #2 dan memonitor SICP di choke manifold, kemudian melaporkan
nilai SICP yang stabil ke WSR

 Kondisi khusus untuk HO DSF area (steam kick)

Lakukan Langkah berikut apabila tidak memungkinkan memasang FOSV karena terjadinya steam
kick berbahaya (air panas, H2S dll)

1. Jika ada indicator kick yang positif (steam kick maka driller harus membunyikan alarm
2. Semua crew di rig floor harus menuju muster point
3. Driller menyesuaikan ketinggian string (space out) untuk mencegah tool joint berada didalam
BOP
4. Tool pusher menutup annular BOP dari accumulator unit, jika tool pusher tidak memungkinkan
maka driller dapat menutup annular
5. Driller melakukan pemompaan dengan kecepatan maximum (min 5 bpm) dan melakukan
pengecekan di tanki (melalui choke manifold). Pada saat situasi sudah memungkinkan untuk
memasang Kembali FOSV maka floorman harus memasang FOSV + x-over yang sesuai ke string
dan menutup valvenya

Note : jika memungkinkan panic line dapat dibuka selama pemasangan FOSV untuk mendivert
aliran

 Kondisi khusus untuk sumur dengan ESP (kalau untuk di SLO) disesuaikan dengan rig tempat
bekerja.

1. Sebelum melakukan triping driller harus memastikan FOSV + x-over yang sesuai dengan
string dan kunci FOSV yang sesuai, cable cutter dan binding cable berada di rig floor
2. Jika ada indicator kick yang positif maka driller harus membunyikan alarm
3. Floorman #1 mengangkat dengan air/hyd winch dan memasang FOSV dalam keadaan
terbuka
4. Floorman #2 mengambil kunci FOSV dan menutup FOSV
5. Driller mengangkat string setinggi +/- 15 ft
6. ESP crew akan mengikat cable minimal dengan 3 pcs cable clamp pada string dan pada
floor area untuk menjaga cable tidak jatuh dari shock absorber Ketika dipotong
7. ESP crew melakukan pemotongan cable diatas cable clamp
8. Driller memasukkan string ke sumur dan memastikan tidak ada cable atau tool joint
didalam BOP (space out)
9. Tool pusher Tool pusher menutup annular BOP dari accumulator unit. Jika tool pusher tidak
memungkinkan maka driller dapat menutup annular
10. Tool pusher membuka valve #2 dan memonitor SICP di choke manifold, kemudian
melaporkan nilai SICP yang stabil ke WSR

26. Jelaskan procedure shut in Ketika operasi wire line

1. Sebelum melakukan pekerjaan wire line, pada saat PJM pastikan cable cutter tersedia di truck unit
2. Jika ada indicator kick yang positif maka driller harus membunyikan alarm
3. Wire line operator harus meningkatkan pack-off pressure pada lubricator
4. Jika memungkinkan maka cabut wire line keluar dari sumur dan tool pusher atau driller akan
menutup blind/shear ram (sesuai spesifikasi BOP)
5. Jika tidak memungkinkan mengeluarkan wire line maka atas persetujuan WSR :
 Tool pusher menutup annular BOP
 Wire line operator mengendurkan wire line sampai pada posisi aman untuk dipotong, matikan
sumber listrik, lalu operator memotong dengan wire line cutter dan pastikan wire line terjatuh
 Tool pusher menutup blind/shear ram untuk mengamankan sumur
6. Tool pusher membuka valve #2 dan memonitor SICP di choke manifold, kemudian melaporkan nilai
SICP yang stabil ke WSR
27. Jelaskan shut in Ketika run out of hole / tidak ada pipa didalam sumur
1. Jika tidak ada string didalam sumur maka tool pusher harus menutup blind/shear ram
2. Tool pusher harus membuka manual gate valve nomor #2 pada choke line untuk memonitor
tekanan casing di choke manifold
3. Tool pusher menginformasikan situasi well control ke WSR termasuk nilai SICP yang stabil, fluida
yang keluar dari sumur, kedalaman top of perforation, string di dalam sumur, waktu terjadi kick, pit
gain (jika memungkinkan)

28. Jelaskan procedure shut in saat foaming job..!

1. Driller membunyikan alarm sebagai tanda terjadinya kick


2. Driller melakukan space out
3. Driller memberitahukan kepada operator foaming untuk shut ddown, matikan pompa foaming dan
mud pump
4. Driller atau tool pusher melakukan shut in penutupan annular BOP
5. Tool pusher memonitor tekanan dari dalam sumur
6. Toll pusher menginformasikan mengenai hal ini ke WSR

Jika terjadi kick saat disconnect / make up tubular, lakukan procedure shut in sebagai berikut :

1. Driller membunyikan alarm sebagai tanda terjadinya kick


2. Floorman memasang FOSV
3. Driller melakukan space out
4. Driller atau tool pusher melakukan shut in penutupan annular BOP
5. Tool pusher memonitor tekanan dari dalam sumur
6. Tool pusher menginformasikan mengenai hal ini ke WSR

29. Jelaskan ap aitu striping..!


Striping adalah dimana kondisi kick telah terdeteksi dan pipa tidak berada didasar lobang. Maka kita
lakukan run pipa kedasar sumur dalam kondisi sumur bertekanan (TD/top interval). Dengan metode
volumetric. Striping dilakukan setelah sumur dilakukan shut in.

30. Striping dilakukan Ketika kondisi pipa bagaimana ?


Striping dilakukan pada kondisi pipe heavy
Pipe heavy adalah : kondisi dimana tekanan yang diberikan oleh berat rangkaian pipa (tubing string)
lebih besar dari pada tekanan sumur dan tekanan buoyancy yang menolak pipa dari dalam well bore.
Kondisi pipe heavy terjadi dimana traveling block bisa dengan mudah menurunkan rangkaian pipa
kedalam sumur.
Pipe light adalah : dimana saat menurunkan rangkaian pipa, traveling block dan elevator akan melorot
karena rangkaian pipa tidak bisa lagi turun kedalam sumur yang disebabkan tekanan yang diberikan
oleh berat string lebih kecil dari pada tekanan sumur dan tekanan buoyancy pipa.

31. Jelaskan procedure triping dengan volumetrix !

1. Pastikan sumur sudah tertutup dan aman (proses 3S untuk shut in sudah dilakukan)
2. Floorman #1 memasang IBOP diatas FOSV yang telah tertutup, buka valve FOSV secara perlahan
dan pastikan IBOP menahan pressure
 Driller memastikan bahwa torsi make up yang sesuai telah digunakan Ketika memasang IBOP
 Tool pusher sebagai operator choke harus mengatur tekanan annular untuk operasi striping
dengan arahan dari WSR
 Tool pusher harus memastikan arah aliran dari choke manifold dan katup yang diperlukan
3. Floorman harus membuat stand pertama dan memulai striping kedalam sumur melalui annular
BOP
 Driller akan memantau sumur di flow line untuk memastikan tidak ada tambahan fluida karena
kebocoran berlebihan di annular
 Tool pusher akan menentukan kecepatan striping sesuai arahan dari WSR. Kecepatan striping
yang dianjurkan adalah 20 ft/mnt
 Rig supt harus memastikan fungsi dari annular dan menjaga tekanan tutup yang tepat
 Rig supt harus menurunkan pressure annular serendah mungkin atau sehingga ada kebocoran
kecil pada annular yang memungkinkan tool joint melewatinya
 Floorman sebaiknya melumasi string dengan pelumas untuk setiap string yang dimasukkan
guna mengurangi keausan karet annular.
 Tool pusher sebagai operator choke harus menutup choke saat melakukan penyambungan pipa
dan mengatur bukaan choke saat memulai Kembali proses striping
4. Lanjutkan striping kedalam sumur dengan kecepatan tertentu sampai tekanan casing naik ke safety
factor yang diinginkan (SF) + kenaikan pressure yang dihitung (PI) + HP penetrasi
 HP penetrasi : (h “gas sesudah”-h “gas sebelum”) x 0.052 x (MW lumpur – Berat gas)
 Asumsi : berat gas = 1,9 ppg
 Apabila tidak sempat untuk menghitung HP penetrasi, asumsikan HP penetrasi sama dengan
100 psi
5. Lanjutkan striping kedalam lobang dengan kecepatan tertentu sambal menjaga tekanan casing
konstan dengan membuang fluida melalui choke. Ukur volume fluida yang dibuang sebenarnya
dalam tanki terukur kapasitasnya.
 Hitung penambahan volume antara total mud yang dibuang dan total displacement pipa
tertutup dengan cara mengurangi antara total mud yang dibuang dan total displacement pipa
tertutup.
 Tool pusher sebagai operator choke menerima arahan dan perintah dari WSR
 Rig supt harus memastikan fungsi dari annular dan menjaga tekanan tutup yang tepat pada
accumulator
6. Ketika perbedaan antara volume lumpur yang keluar dan displacement pipa dengan ujung tertutup
sama dengan mud increament (MI) naikkan tekanan casing sebesar PI
 Tool pusher berkoordinasi dengan derrickman untuk memantau volume lumpur yang dibuang
7. Ulangi Langkah 5 & 6 sampai TD, hentikan operasi striping dan tutup choke
8. Lanjutkan ke procedure well kill sesuai arahan dari WSR

32. Apa yang dimaksud dengan procedure non shearable ?


Non shearable adalah dimana kondisi pipa yang berada di dalam sumur tidak dapat dipotong.
Seperti ;
- Wash over pipe
- Non spiral DC
- HWDP
- Screen liner
- Spiral DC
- Stabilizer

33. Jelaskan procedure drop/penjatuhan string ?


1. Driller harus menurunkan work string sampai elevator bisa diraih, dengan memakai prosedur
striping.
2. Apabila memungkinkan, floorman harus membuka elevator dengan menggunakan tag line / hand
off tool. Jangan menyentuh elevator langsung.
Apabila tidak memungkinkan, hentikan prosedur drop. Amati sumur sampai Langkah nomor 2
memungkinkan.
3. Tool pusher harus membuka annular BOP untuk menjatuhkan work string setelah tidak ada pekerja
di atas rig floor
4. Tool pusher menutup blind/shear ram
5. Tool pusher membuka manual gate valve di choke line untuk memonitor SICP
6. Lanjutkan ke procedure well kill sesuai arahan WSR

34. Apa yang dimaksud dengan special operation procedure ? dan sebutkan salah satu contohnya !
Special operation adalah pekerjaan dimana kondisi sumur dalam kondisi satu barrier (barrier HP/
hydrostatic pressure yaitu fluida)
Contohnya : saat N/D x-mast tree, Run screen liner, run mesh rite dll

35. Apa yang dimaksud dengan routine operation ?


Routin operation adalah pekerjaan dimana kondisi sumur dalam kondisi lebih dari satu barrier
contohnya : lumpur + mecanikal barrier (BOP,FOSV,IBOP dll)

36. Sebutkan 3 klasifikasi barrier !


1. Primary barrier / hydrostatic pressure yaitu fluida (air,lumpur,brain)
2. Secondary barrier / Mechanical barrier yaitu BOP equipment, FOSV, IBOP dan Packer
3. Tertiary barrier / cement

37. Jelaskan prosedur mematikan sumur dengan bullhead !


1. Sebelum memulai pekerjaan mematikan sumur, tool pusher harus memeriksa ulang semua
perlatan yang akan digunakan selama pekerjaan mematikan sumur
 Driller harus memastikan jalur aliran choke manifold sesuai dengan bagan choke manifold line
up bullhead killing method, yakni pemompaan melewati killing line (annulus)
 Derrickman harus menyambung jalur ke pompa lumpur yang akan digunakan dalam pekerjaan
mematikan sumur
 Driller berkoordinasi dengan derrickman mengenai jalur hisap pompa dan berat lumpur
2. Tool pusher mencatat SITP dan SICP
 Driller menyetel stroke counter di driller console menjadi nol (jika ada)
3. Driller melanjutkan memantau sumur
 Orang yang ditunjuk terus memantau dan mencatat tekanan tutup sumur sesuai arahan WSR
 Orang yang ditunjuk menyampaikan pressure yang tertera kepada tool puser dan WSR
4. Setelah kill sheet disiapkan oleh WSR, driller menghidupkan pompa dengan perlahan (1-2 BPM)
Setelah mencapai tes injeksi, driller akan mencatat tekanan injeksi dalam kill sheet.
5. Driller memastikan selama pemompaan tekanan pompa tidak melebihi batas tekanan maksimum
(yaitu tekanan rekah formasi, tekanan pecah tubing, tekanan colaps tubing, tekanan pecah casing,
rating tekanan surface equipment) ambil nilai terendah.
6. Tool pusher harus memantau dan mencatat tekanan tubing dan tekanan casing
7. Driller harus memperlambat laju pompasaat kill fluid sudah dekat dengan pormasi ( berdasarkan
dari volume yang telah di pompa)
8. Driller harus mematikan pompa saat volume yang di pompakan mencukupi dan menutup sumur
9. Tool pusher memantau dan mencatat SITP dan SICP. Nilai tekanan harusnya nol. Apabila ada
pressure terpantau , WSR harus memastikan antara pressure tersebut adalah tekanan terkurung
atau influx kondisi under balance
10. Tekanan terkurung bisa di periksa dengan cara membuang sedikit pluida dari choke dan pastikan
bahwa SITP atau SICP telah berkurang dan setabil. Apabila tidak seperti kondisi tersebut , itu adalah
kick. Maka ulamgi Langkah 2 sampai 9
11. Apabila ada tekanan terkurung tool pusher dapat membuang tekanan tersebut secara bertahab
Kill well menggunakan metode reverse circulation
1. Sebelum memulai pekerjaan mematikan sumur , tool pusher harus memeriksa ulang semua
peralatan yang akan di gunakan selama pekerjaan mematikan sumur
 Saat sumur sudah di tutup dan di dapatkan nilai SICP yang stabil maka floorman menutup valve
no 2
 Lalu memnyambungkan choke line dengan FOSV yang di atas string, dimana posisi FOSV dalam
keadaan tertutup
 Lakukan pressure test terhadap line yang menghubungkan antara string dan choke manifold
mengunakan high pressre test MASP + 500 psi ( hold selama 5 menit)
 Driller harus memastikan jalur aliran choke manifold sesuai dengan bagan “choke manifold line
up reverse circulation method”
 Derrickman harus menyambung jalur pompa limpur ke killing line (annulus) yang akan di
gunakan dalam pekerjaan mematikan sumur.
 Driller berkoordinasi dengan derrickman mengenai jalur hisap pompa dan berat lumpur.
2. Tool pusher harus mencatat SITP dan SICP
 Tool pusher harus memeriksa dan memantau SITP dan SICP
 Driller menyetel ulang penghitung stroke di meja driller menjadi nol (jika ada)
3. Driller melanjutkan memantau sumur sementara WSR mempersiapkan kill sheet dengan SITP\
SICP yang telah tercatat.
 Orang yang di tunjuk terus memantau dan mencatat dengan tekanan tutup sumur minimal
setiap 5 menit kecuali ada arahan lain dari WSR
 Orang yang ditunjuk menyampaikan tekanan yang tertera kepada tool pusher dan WSR setiap
10 menit
4. Setelah kill sheet disiapkan, driller menghidupkan pompa dan memompa perlahan sesuai
arahan WSR.
 Tool pusher akan mengatur choke untuk menjaga casing pressure konstan pada SICP awal +
safety factor (~50 psi) selama memulai pemompaan.
 Derrick man harus memantau aliran balik di tangki dan memastikan ketinggian fluida yang
tepat tetap dijaga untuk sirkulasi dan tidak terjadi loss.
5. Selama reverse circulation , driller harus memastiksn tekanan pompa tidak melebihi batas
tekanan maksimum ( yaitu tekanan rekah formasi, tekanan pecah tubing , tekanan collapse
tubing, tekanan pecah casing,rating tekanan surface equipment) dan memantau volume fluida
yang pompakan.
6. Apabila influk mencapai permukaan tool pusher melanjutkan mengatur tekanan casing constan
dan harus mengingatkan operator chock agar waspada apabila influx akan mencapai
permukaan .
7. Setelah volume yang ditentukan telah tercapai dan aliran balik serupa dengan aliran masuk
driller harus mematikan pompa dengan cara menurunkan takanan sirkulasi secara bertahap
menuju nol. Tool pusher memantau SITP dan SICP.
8. Tekanan terkurung bisa diperiksa dengan cara membuang fluida dari chock dan pastikan bahwa
SITP dan SICP telah berkurang dan apabila tidak seperti itu hal tersebut adalah kick maka ulang
Langkah 2-7
9. Apabila ada tekanan terkurung tool pusher dapat membuang tekanan tesebut secara bertahap.

38. Jelaskan apa yang dimaksud well control drill dan jenis drill yang ada di rig workover ?
Well control drill adalah Latihan yang dilakukan untuk melatih seluruh crew dalam situasi wel control.
Jenis drill di workover :
- Hole monitoring drill
- Shut in drill
- Well kill drill
- Choke drill
- Special operation drill
 Latihan ini harus dilakukan satu minggu sekali untuk setiap crew, dengan Latihan yang sesuai
dengan operasi yang sedang berlangsung atau yang akan dating.
 Keseluruhan drill dapat dilakukan dengan cara simulasi ataupun table top/walktrough. Namun
sangat dianjurkan drill dilakukan dengan cara simulasi (kecuali striping drill)
 Pemilihan drill agar dapat dilakukan variative atau bergantian, agar seluruh crew dapat
mengerti dan memahami untuk detiap kondisi well control yang akan terjadi.

39. Jelaskan pada saat bulhead berapa maximum dan minimum press untuk pemompaan kill fluid ?
Untuk maksimum press didapat dari data di bawah ini :
1. Rating pressure surface equipment (line stand pipe, BOP ataupun hose yang dilewati aliran pompa)
2. Rating well head (kapasitas pressure wellhead)
3. Rating casing (casing burst/casing pecah) data dari well program
4. Rating fracture formation (Leak of Test) data dari well program
5. Rating tubing (tubing burst/tubing collaps)

Jadi untuk nilai maksimum pressure adalah nilai terendah dari rating pressure diatas.

Untuk nilai minimum press diambil dari nilai SICP.

40. Kapan dilakukan drawdown test accumulator ?


Dilakukan 1 tahun sekali saat yearly maintenance.

41. Kapan kita melakukan BOP pressure test ?


1. Setiap setelah N/U BOP (seal test BOP)
2. Setiap 21 hari (full test BOP)
3. Setiap setelah dilakukan perbaikan/pergantian part BOP

42. Bearapa nilai low dan high pressure untuk annular dan ram BOP ?
Low pressure 250 – 350 psi
High pressure 500 + MASP atau sesuai well program

43. Jelaskan procedure test BOP !

BOP test procedure di dtump test (untuk yang menggunakan Blind shear ram)
1. Pasangkan BOP stack (drilling spool + blind shear ram + annular) di stump test yang ada di skid BOP
2. Sambungkan hose dari BOP test pump (c/w chart record) ke port di stump test skid
3. Isi accumulator pressure
4. Lakukan fungtion test blind shear ram
5. Lakukan test # 1 tekanan terhadap blind shear ram, valve #1, valve #2
 Test tekanan terdiri dari test tekanan rendah (250-350 psi) dan ikuti dengan test tekanan tinggi
(500 + MASP) hold 5 menit
 Bleed off tekanan secara perlahan setelah test tekanan selesai
6. Buka blind shear ram, masukkan pup joint yang dilengkapi FOSV dan IBOP kedalam annular.
Catatan : FOSV dalam posisi tertutup dan IBOP terbuka
7. Lakukan fungtion test annular kemudian tutup annular
8. Lakukan test # 2 tekanan terhadap annular, FOSV, valve #1, valve#2.
 Test tekanan terdiri dari test tekanan rendah (250-350 psi) dan ikuti dengan test tekanan tinggi
(500+MASP) hold 5 menit
 Bleed off tekanan secara perlahan setelah test tekanan selesai
9. Tutup IBOP dan buka FOSV
10. Lakukan test # 3 tekanan terhadap annular, IBOP, valve#1,valve#2
 Test tekanan terdiri dari test tekanan rendah (250-350 psi) dan ikuti dengan test tekanan tinggi
(500+MASP) hold 5 menit
 Bleed off tekanan secara perlahan setelah test tekanan selesai

Choke manifold off line test :

1. Pasngkan BOP test pump ke choke manifold


2. Lakukan test tekanan terhadap valve #4,valve #7, valve #8 dan valve #9
 Test tekanan terdiri dari test tekanan rendah (250-350 psi) kemudian ikuti dengan test tekanan
tinggi 500+MASP hold 5 mnt

44. Jelaskan bagaimana cara melakukan accumulator drawdown test ?


1. Posisikan 4-way valve pada posisi netral
2. Tutup bleeder valve dari accumulator bank dan hidupkan pompa pembangkit tekanan (pompa
angin dan pompa listrik). Keseluruhan system harus sudah terisi dan mencapai 3000 psi dalam
waktu max 15 menit. Record pressure accumulator (3000 psi), pressure manifold (1500 psi) dan
pressure annular (1000 psi)
3. Kemudian buka kran bleeder dari accumulator bank dan alirkan dari botol accumulator ke tanki
pengumpul, perhatikan pressure accumulator. Perubahan yang cepat pada tekanan accumulator
menunjukkan tekanan nitrogen (pre charge) terendah dari botol accumulator. Apabila tekanan di
bawah 1000 psi maka perlu pengisian ulang nitrogen.
4. Bleed tekanan sampai 0 psi dan tutup bleeder valve dari accumulator bank kemudian hidupkan
pompa angin. Dan pompa listrik pada posisi OFF. Keseluruhan system harus sudah teerisi dan
mencapai 3000 psi dalam waktu maximum 30 menit.
5. Bleed tekanan sampai 0 psi dan tutup bleeder valve dari accumulator bank dan hidupkan pompa
listrik. Pompa angin dalam posisi OFF. Keseluruhan system harus sudah terisi dan mencapai 3000
psi dalam waktu maximum 30 menit.
6. Matikan pompa angin, buka secara perlahan bleeder valve dan catat pada tekanan berapa pompa
listik mulai bekerja dan berhenti bekerja. (Rekomendasi PHR pompa listrik bekerja pada 2700 psi
dan berhenti pada 3000 psi)

45. Jelaskan cara melakukan degraded BOP test !

 Catat tekanan accumulator awal, tekanan manifold, dan tekanan annular. Regulator Manifold
dan annular di set pada operating pressure yang direkomendasikan manufaktur untuk BOP
stack.
 Tutup semua preventers (Gunakan pipa untuk penutupan annular)
 Ukur dan catat waktu penutupan untuk setiap preventer akhir accumulator, manifold dan
annular. ( Penghitungan waktu di stop watch dimulai saat handle mulai digerakkan dan
berakhir ketika pressure sudah kembali ke posisi awal )
 Test accumulator berhasil, jika setiap element BOP dapat tertutup dalam waktu kurang dari 30
detik. Selain itu, pada akhir test harus ada setidaknya :1,200 psi accumulator pressure tersisa
didalam 3,000 psi accumulator.
 Waktu penutupan untuk annular preventers 18-3/4" atau lebih besar tidak boleh melebihi 45
detik.
 Amati tekanan yang tersisa setidaknya 5 menit untuk mendeteksi kemungkinan RAM piston
seal mengalami kebocoran.
 Buka kembali BOP.
 Gunakan lampiran 8.8 untuk me-record Drawdown Test.

46. Jelaskan mengenai degraded tracking system !


Sebuah table yang berisikan data data hasil dari drawdown test accumulator dan pengetesan degraded
BOP yang akan memperlihatkan adanya penurunan performa atau tidak terhadap BOP yang digunakan.

47. Apa yang dimaksud dengan BOP space out diagram !


Adalah sebuah gambar BOP yang berisikan data dimensi BOP dan jarak terhadap substructure yang
berfungsi untuk memastikan tool joint tidak berada didalam BOP saat melakukan space out.

48. Sebutkan jenis BOP yang tersedia di rig site !


BOP clas 3 (annular, blind ram dan pipe ram)

49. Kapan pre record kill sheet harus diperbaharui !


- Sebelum memompakan kill fluid yang baru
- Sebelum melakukan kill well
- Saat sumur baru yang kita masuki untuk mengambil data
- Setiap perubahan bit.

50. Bagian choke manifold yang mana yang hanya dilakukan fuction test saja ? (tanpa press test)
Manual choke dan hydraulic choke

51. Ketika apa/bagaimana kondisi pressure disebut ;


- Over balance
HP > Formation pressure
- Kick / Under balance
HP < Formation pressure
- Formasi pecah
HP > Frcture pressure

52. Tuliskan rumus hydrostatic pressure


HP= 0.052 x Mud weight (ppg) x TVD (ft)

53. Tuliskan rumus kill mud weight


KMW = SITP (psi) : 0.052 : TVD + OMW

54. Kapan driller daily check list di isi dan jelaskan apa saja yang diisi !
Driller daily check list diisi sebelum memulai pekerjaan (harus diisi dengan tulisan tangan)
- Accumulator data
- FOSV + xover
- IBOP + xover
- BOP
- Choke mmanifold
- dll

55. Data apa saja yang dicatat setelah melakukan shut in ?


SICP-SITP, pit gain, waktu.

56. Kapan air pump dan electric pump accumulator hidup dan mati..?
- Air pump hidup di 2600 psi dan mati di 2900 psi
- Electric pump hidup di 2700 psi dan mati di 3000 psi

57. Sebutkan nilai formation pressure, fracture pressure didapat dari :


- Formation pressure didapat dari data coring
- Fracture formation pressure didapat dari data LOT (Leak of Test)

58. Sebutkan safety valave beserta jumlahnya yang harus tersedia di rig floor !
FOSV (full opening safety valve) = 2 ea
IBOP (inside BOP) = 1 ea

Anda mungkin juga menyukai