0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan17 halaman

MAKALAH Problem Solving Learning

Makalah ini membahas Model Pembelajaran Problem Solving Learning yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah siswa di tingkat SMP, khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Model ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar dengan mengidentifikasi dan menganalisis masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Penerapan model ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan sosial di masa depan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan17 halaman

MAKALAH Problem Solving Learning

Makalah ini membahas Model Pembelajaran Problem Solving Learning yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah siswa di tingkat SMP, khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Model ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar dengan mengidentifikasi dan menganalisis masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Penerapan model ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan sosial di masa depan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

"Model Pembelajaran Problem Solving Learning”

(Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran)

Dosen Pengampu : Anita Lisdiana, [Link]

Disusun Oleh :
Kelompok 5
Fajar Shodiq Ibrahim 2301072004
Yohan Andreansyah 2301070036

JURUSAN TADRIS IPS


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSTAS ISLAM NEGERI JURAI SIWO LAMPUNG
TAHUN 2026/2027
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT. Yang atas rahmat nya dan karunia nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun tema dari makalah ini
adalah “Model Pembelajaran Problem Solving Learning”.
Kepada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen
mata kuliah Strategi Pembelajaran yang telah membimbing kami dan memberikan tugas
kepada kami. Kami juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak pihak yang turut
membantu dalam pembuatan makalah ini.
Kami jauh dari kata sempurna dan ini merupakan langkah yang baik dari studi sesungguhnya.
Oleh karna itu, keterbatasan waktu dan kemampuan kami, maka kritik dan saran senantiasa
kami harapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami lebih khusus nya dan kepada
orang lain.

Metro, 21 Ferbuari 2026

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Problem Solving Learning ............................................................................... 4
B. Landasan Teori Problem Solving Learning ................................................... 5
C. Sintak Pembelajran Problem Solving Learning .............................................. 7
D. Kelebihan & Kekurangan Model Pembelajaran Problem Solving Learning8
E. Penerapan Dalam Pembelajran IPS SMP ..................................................... 9

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................................... 12
B. Saran .............................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi muda
yang cerdas, terampil, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Pada
jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), peserta didik berada pada tahap
perkembangan berpikir yang mulai mampu memahami hubungan sebab-akibat,
menganalisis suatu peristiwa, serta mengemukakan pendapat berdasarkan alasan yang
logis. Oleh karena itu, proses pembelajaran di SMP harus dirancang sedemikian rupa agar
tidak hanya menekankan pada penguasaan materi, tetapi juga melatih kemampuan
berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah yang akan berguna dalam
kehidupan sehari-hari. 1

Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP, siswa mempelajari


berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, seperti interaksi sosial, kegiatan ekonomi,
perubahan sosial budaya, konflik sosial, kemiskinan, pengangguran, serta permasalahan
lingkungan. Materi IPS pada dasarnya sangat dekat dengan kehidupan nyata siswa. 2
Namun, dalam praktiknya pembelajaran IPS masih sering dilakukan dengan metode
ceramah yang berpusat pada guru. Guru menjelaskan materi, siswa mencatat, kemudian
mengerjakan soal latihan. Proses pembelajaran seperti ini cenderung membuat siswa pasif
dan lebih fokus pada menghafal materi untuk kepentingan ulangan dari pada memahami
makna dari materi tersebut. Akibatnya, siswa kurang terlatih untuk menganalisis
permasalahan sosial yang sebenarnya terjadi di lingkungan sekitarnya.

Padahal, salah satu tujuan utama pembelajaran IPS adalah membentuk siswa menjadi
warga negara yang memiliki kepedulian sosial, mampu berpikir kritis, serta dapat
mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi berbagai persoalan di masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang dapat melibatkan
siswa secara aktif dalam proses belajar serta memberikan kesempatan kepada mereka
untuk berpikir, berdiskusi, dan menemukan solusi terhadap suatu masalah. Salah satu
model pembelajaran yang dapat digunakan adalah Model Pembelajaran Problem Solving
Learning.

Model Pembelajaran Problem Solving Learning merupakan model pembelajaran yang


menempatkan masalah sebagai titik awal kegiatan belajar. Dalam model ini, guru
menyajikan suatu permasalahan yang berkaitan dengan materi IPS dan kehidupan nyata
siswa. Selanjutnya, siswa diajak untuk mengidentifikasi masalah, mencari informasi yang
relevan, menganalisis penyebab dan dampaknya, serta merumuskan solusi yang tepat.
Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya memahami konsep secara teori, tetapi juga
mampu mengaitkannya dengan kondisi nyata di masyarakat.

1
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
2
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.

1
Penerapan model Problem Solving Learning dalam pembelajaran IPS SMP sangat
relevan karena sebagian besar materi IPS berkaitan dengan masalah sosial yang nyata.
Misalnya, pada materi kemiskinan dan pengangguran, siswa dapat diajak menganalisis
faktor penyebab terjadinya kemiskinan di lingkungan sekitar serta mencari alternatif
solusi yang dapat dilakukan. Pada materi interaksi sosial dan konflik sosial, siswa dapat
mendiskusikan penyebab terjadinya konflik antar teman dan cara penyelesaiannya secara
damai. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa belajar dari
masalah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka. 3

Selain itu, model ini juga dapat melatih berbagai keterampilan penting abad ke-21,
seperti kemampuan berpikir kritis, bekerja sama dalam kelompok, berkomunikasi dengan
baik, serta mengemukakan pendapat secara logis dan bertanggung jawab. 4 Siswa tidak
hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi individu yang aktif mencari dan
mengolah informasi. Hal ini tentu sangat penting untuk mempersiapkan mereka menjadi
warga negara yang mampu menghadapi tantangan sosial di masa depan.

Namun demikian, penerapan model Problem Solving Learning memerlukan


perencanaan yang matang dari guru. Guru harus mampu memilih masalah yang sesuai
dengan tingkat pemahaman siswa SMP, mengelola waktu pembelajaran dengan baik,
serta membimbing diskusi agar tetap terarah pada tujuan pembelajaran. Jika dirancang
dan dilaksanakan dengan tepat, model ini dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil
belajar IPS secara signifikan.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS SMP


memerlukan model pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir
kritis dan keterampilan pemecahan masalah siswa. Model Pembelajaran Problem Solving
Learning merupakan salah satu alternatif yang tepat karena dapat mengaitkan materi IPS
dengan permasalahan nyata di masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji lebih
lanjut mengenai konsep, langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan, serta penerapan
model ini dalam pembelajaran IPS SMP agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara
optimal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Problem Solving Learning?
2. Apa landasan teori Problem Solving Learning
3. Bagaimana sintaks atau langkah-langkah pembelajaran Problem Solving?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan model pembelajran Problem Solving Learning?
5. Bagaimana penerapannya dalam pembelajaran IPS SMP?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Problem Solving Learning
2. Untuk mengetahui landasan teori Problem Solving Learning
3. Untuk mengetahui sintaks atau langkah-langkah pembelajaran Problem Solving

3
Sapriya. (2017). Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
4
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson.

2
4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Problem Solving
Learning
5. Untuk mengetahui penerapannya dalam pembelajar

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Problem Solving Learning


1. Pengertian Problem Solving Learning
Problem Solving Learning merupakan model pembelajaran yang menempatkan
masalah sebagai titik awal dalam proses pembelajaran. Dalam model ini, siswa
tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi secara aktif terlibat dalam proses
berpikir untuk menemukan solusi atas permasalahan yang diberikan.
Pembelajaran tidak berorientasi pada hasil akhir semata, melainkan pada proses
berpikir yang dilalui siswa.5

Hakikat dari Problem Solving Learning adalah bahwa belajar terjadi ketika siswa
menghadapi situasi bermasalah yang menantang struktur pengetahuannya.
Masalah tersebut mendorong siswa untuk berpikir, bertanya, mencari informasi,
menganalisis, dan akhirnya menemukan solusi. Dengan demikian, belajar
dipandang sebagai proses aktif dan konstruktif.

John Dewey menyatakan bahwa proses berpikir reflektif dimulai ketika seseorang
menghadapi kesulitan atau masalah. Masalah tersebut memunculkan rasa ingin
tahu dan mendorong individu untuk melakukan penyelidikan. Dalam konteks
pembelajaran, guru menciptakan situasi bermasalah agar siswa terdorong untuk
berpikir secara mendalam.
2. Konsep Dasar Problem Solving Learning
Secara konseptual, Problem Solving Learning berlandaskan pada beberapa
gagasan utama:
a. Masalah sebagai Stimulus Belajar
Masalah berfungsi sebagai pemicu aktivitas berpikir. Masalah yang diberikan
harus:
 Nyata dan kontekstual
 Relevan dengan kehidupan siswa
 Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa SMP
 Tidak memiliki satu jawaban tunggal
Dalam pembelajaran IPS SMP, contoh masalah yang dapat digunakan antara
lain meningkatnya angka pengangguran, konflik antarwarga, atau dampak
globalisasi terhadap budaya lokal.
b. Proses Berpikir Ilmiah
Problem Solving Learning mengikuti pola berpikir ilmiah yang sistematis,
yaitu:
 Mengidentifikasi masalah

5
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.

4
 Merumuskan masalah
 Mengumpulkan data
 Menganalisis data
 Menarik kesimpulan
 Mengevaluasi solusi
Proses ini melatih siswa berpikir logis dan rasional.
c. Peran Guru dan Siswa
Dalam Problem Solving Learning:
 Guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan motivator.
 Siswa berperan sebagai subjek aktif yang mencari dan membangun
pengetahuan.
Guru tidak memberikan jawaban secara langsung, tetapi mengarahkan siswa
melalui pertanyaan pemantik dan diskusi.
3. Tahapan Problem Solving Menurut Para Ahli
1. Menurut John Dewey
Dewey mengemukakan lima langkah berpikir reflektif:
 Mengidentifikasi masalah
 Merumuskan hipotesis
 Mengumpulkan data
 Menguji hipotesis
 Menarik kesimpulan
2. Menurut George Polya
Polya (1973) mengemukakan empat tahap utama:
 Memahami masalah
 Merencanakan penyelesaian
 Melaksanakan rencana
 Melakukan pengecekan kembali
Tahapan ini sering digunakan sebagai dasar implementasi Problem
Solving dalam pembelajaran.
4. Tujuan Teoritis Problem Solving Learning
Secara teoritis, tujuan model ini adalah:
 Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
 Mengembangkan kemampuan analisis sebab-akibat
 Melatih pengambilan keputusan
 Mengembangkan kreativitas
 Meningkatkan kemandirian belajar
Dalam IPS SMP, tujuan ini sangat penting karena siswa perlu memahami
dinamika sosial yang komplek.

[Link]

B. Landasan Teori Problem Solving Learning

5
Model Problem Solving Learning memiliki landasan kuat dalam berbagai teori
pendidikan dan psikologi belajar.6
1. Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan
begitu saja dari guru ke siswa, tetapi harus dibangun sendiri oleh siswa melalui
pengalaman.
a. Jean Piaget (Teori Perkembangan Kognitif)
Menurut Piaget, perkembangan kognitif terjadi melalui proses asimilasi dan
akomodasi. Ketika siswa menghadapi masalah baru, mereka mencoba
menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki (asimilasi). Jika
informasi baru tidak sesuai, maka terjadi penyesuaian struktur kognitif
(akomodasi).

Dalam Problem Solving Learning, siswa membangun sendiri pemahaman


mereka melalui proses analisis masalah.
b. Lev Vygotsky
Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran
melalui konsep Zone of Proximal Development (ZPD).7 Dalam diskusi
kelompok, siswa yang lebih mampu dapat membantu temannya sehingga
terjadi perkembangan kognitif bersama.
Model Problem Solving sangat sesuai dengan teori ini karena melibatkan kerja
sama dan diskusi.

2. Teori Belajar Bermakna (David Ausubel)


Ausubel menyatakan bahwa pembelajaran akan bermakna jika informasi baru
dikaitkan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. 8 Dalam Problem
Solving Learning, masalah yang diberikan biasanya berkaitan dengan kehidupan
nyata siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tidak sekadar
hafalan.

3. Teori Belajar Humanistik


Teori humanistik menekankan pentingnya pengembangan potensi diri dan
aktualisasi diri siswa.9 Problem Solving Learning memberi ruang bagi siswa
untuk:
 Mengemukakan pendapat
 Mengembangkan kreativitas
 Bertanggung jawab atas keputusan
Hal ini membantu membentuk kepercayaan diri dan sikap mandiri.

6
Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. New York: Basic Books.
7
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge: Harvard University Press.
8
Ausubel, D. P. (1968). Educational Psychology: A Cognitive View. New York: Holt, Rinehart and
Winston.
9
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.

6
4. Teori Berpikir Kritis
Problem Solving Learning sangat berkaitan dengan teori berpikir kritis. 10 Berpikir
kritis melibatkan kemampuan untuk:
 Menganalisis informasi
 Mengevaluasi argumen
 Mengidentifikasi sebab-akibat
 Menarik kesimpulan berdasarkan bukti
Dalam pembelajaran IPS, kemampuan ini sangat penting karena siswa sering
dihadapkan pada isu-isu sosial yang kompleks.

5. Teori Pembelajaran Sosial


Teori pembelajaran sosial menekankan bahwa belajar terjadi melalui interaksi dan
pengamatan terhadap orang lain. Dalam Problem Solving Learning, siswa belajar
dari diskusi kelompok, bertukar ide, dan saling memberikan masukan.

C. Sintak Pembelajran Problem Solving Learning

Fase Aktivitas
Guru Siswa
1. Klarifikasi Guru memberikan Siswa memperhatikan
masalah penjelasan kepada siswa penjelasan guru mengenai
tentang masalah yang masalah. yang diberikan
akan diajukan. dan memahami tentang
penyelesaian masalah
seperti apa yang
diharapkan.
2. Pengungkapan Guru menjadi fasilitator Pada tahap ini diharapkan
pendapat bagi siswa dan moderator setiap siswa dibebaskan
saat siswa me untuk mengungkapkan
ngungkapkan pendapatnya pendapat tentang berbagai
mengenai berbagai macam bagaimana cara
macam bagaimana menyelesaikan masalah.
menyelesaikar masalah. Suatu solusi masalah yang
efektif, apabila berhasil
menemukan sumber dan
akar dari masalah itu
3. Evaluasi dan Membagi siswa dalam Siswa duduk di kelompok
pemilihan beberapa kelompok untuk yang telah dibagi dan
men diskusikan pendapat- mendiskusikan pendapat-
pendapat atau cara-cara pendapat atau cara-cara
yang cocok untuk yang cocok untuk

10
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson.

7
masalah-masalah tersebut masalah-masalah yang
diberikan.
4. Implementasi Guru membimbing - Kelompok atau individu
kelompok dalam harus mampu me
penentuan. cara mana nentukan cara mana yang
yang akan diambil dalam akan diambil untuk
penyelesaian masalah. menyelesaikan masalah
tersebut, kemudian
menerapkannya. sampai
mene mukan penye
lesaian dari masalah
tersebut

Pada sintaks model Problem Solving, siswa akan mengklarifikasi masalah dengan
memperhatikan penjelasan guru dan memahami cara penyelesaian masalah yang
diharapkan. Dibawa ke Setelah itu siswa akan mengungkapkan pendapatnya tentang
kemungkinan dan solusi penyelesaian masalah untuk kelompoknya masing-masing.
Baru setelah itu akan ditentukan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.

D. Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Solving Learning


Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut:
1. Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.
2. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
3. Berpikir dan bertindak kreatif.
4. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
5. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
6. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
7. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi dengan tepat.
8. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan
kehidupan,khususnya dunia kerja.
9. Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi.
10. Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.
11. Mendidik siswa percaya diri sendiri. 11
Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut:
1. Memerlukan cukup banyak waktu.
2. Melibatkan lebih banyak orang.
3. Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah.
4. Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang.
5. Tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif.12

11
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson.
12
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.

8
E. Penerapan Dalam Pembelajaran IPS SMP
1. Kegiatan Pendahuluan
Guru:

a) Membuka pembelajaran dengan apersepsi.

b) Menyampaikan tujuan pembelajaran.

c) Mengaitkan materi dengan kondisi nyata di sekitar siswa.

Contoh:
Guru bertanya:
“Apakah di sekitar tempat tinggal kalian pernah terjadi pengangguran atau
kemiskinan? Apa dampaknya bagi masyarakat?”

2. Penyajian Masalah
Guru menyajikan kasus nyata, misalnya melalui berita atau video tentang
meningkatnya pengangguran di suatu daerah.

Contoh masalah:
“Di sebuah kota kecil, banyak lulusan SMP dan SMA yang tidak melanjutkan
pendidikan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Akibatnya, angka
pengangguran meningkat dan berdampak pada meningkatnya kriminalitas.”

3. Identifikasi dan Perumusan Masalah


Siswa dibagi dalam kelompok kecil (4–5 orang).
Setiap kelompok diminta untuk:

a) Mengidentifikasi inti masalah

b) Merumuskan pertanyaan seperti:

 Apa penyebab pengangguran?

 Apa dampaknya bagi masyarakat?

 Bagaimana cara mengatasinya?

Guru membimbing agar rumusan masalah jelas dan fokus.

4. Pengumpulan Informasi

9
Siswa mencari informasi dari:

a) Buku teks IPS

b) Internet

c) Artikel berita

d) Data statistik sederhana

Mereka mencatat penyebab, dampak, dan contoh kasus lain yang serupa.

5. Analisis dan Diskusi


Siswa menganalisis:

a) Faktor penyebab (pendidikan rendah, kurang lapangan kerja, dll.)

b) Dampak sosial (kemiskinan, kriminalitas, konflik sosial)

c) Hubungan sebab-akibat

Pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan pemantik seperti:


“Apakah pendidikan rendah selalu menyebabkan pengangguran? Mengapa?”

6. Perumusan Solusi
Setiap kelompok menyusun beberapa solusi, misalnya:

a) Pelatihan keterampilan kerja

b) Program pendidikan vokasi

c) Pengembangan UMKM

d) Kerja sama pemerintah dan masyarakat

Kemudian kelompok memilih solusi yang paling realistis dan dapat diterapkan.

7. Presentasi dan Refleksi


Kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
Kelompok lain memberikan tanggapan.
Guru memberikan penguatan dan menyimpulkan pembelajaran.

Refleksi dilakukan dengan pertanyaan:


“Apa yang kalian pelajari hari ini?”

10
“Bagaimana jika masalah ini terjadi di lingkungan kalian?”13

13
Huda, M. (2017). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Model pembelajaran Problem Solving Learning merupakan pendekatan pembelajaran
yang menempatkan masalah sebagai titik awal dalam proses belajar. Dalam model ini,
siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi secara aktif terlibat dalam
proses berpikir untuk menemukan solusi atas permasalahan yang diberikan.
Pembelajaran berfokus pada proses berpikir yang sistematis, logis, dan reflektif
sehingga mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif
siswa.

Secara konseptual, Problem Solving Learning berlandaskan pada gagasan bahwa


masalah berfungsi sebagai stimulus belajar, proses pembelajaran mengikuti pola
berpikir ilmiah, serta terjadi perubahan peran guru dan siswa. Guru bertindak sebagai
fasilitator dan pembimbing, sedangkan siswa menjadi subjek aktif yang membangun
pengetahuannya sendiri. Tahapan model ini didukung oleh pemikiran para ahli seperti
John Dewey dengan konsep berpikir reflektif dan George Polya dengan empat
langkah pemecahan masalah yang sistematis.

Landasan teoretis Problem Solving Learning diperkuat oleh teori konstruktivisme


(Piaget dan Vygotsky), teori belajar bermakna (Ausubel), teori humanistik, teori
berpikir kritis, serta teori pembelajaran sosial. Keseluruhan teori tersebut menegaskan
bahwa pembelajaran akan efektif apabila siswa terlibat aktif, berinteraksi, serta
mengaitkan materi dengan pengalaman nyata.

Sintaks pembelajaran Problem Solving meliputi klarifikasi masalah, pengungkapan


pendapat, evaluasi dan pemilihan solusi, serta implementasi. Tahapan ini membantu
siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi serta kemampuan
mengambil keputusan secara rasional. Meskipun memiliki banyak kelebihan seperti
melatih berpikir sistematis, meningkatkan kreativitas, dan membuat pembelajaran
lebih relevan dengan kehidupan nyata, model ini juga memiliki kelemahan, seperti
membutuhkan waktu yang cukup lama, perencanaan yang matang, dan keterlibatan
aktif seluruh siswa.

Dalam pembelajaran IPS SMP, penerapan Problem Solving Learning sangat relevan
karena materi IPS banyak berkaitan dengan permasalahan sosial nyata seperti
pengangguran, kemiskinan, konflik sosial, dan dampak globalisasi. Melalui model ini,
siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menganalisis
sebab-akibat, merumuskan solusi, serta mengembangkan sikap tanggung jawab sosial.

12
B. Saran
Berdasarkan pembahasan mengenai model pembelajaran Problem Solving Learning
dalam pembelajaran IPS SMP, disarankan agar guru lebih kreatif dan inovatif dalam
merancang masalah yang kontekstual serta relevan dengan kehidupan nyata siswa
sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu menumbuhkan
kepedulian sosial. Guru juga perlu melakukan perencanaan yang matang, mulai dari
penyusunan tujuan, pemilihan materi, penyediaan sumber belajar, hingga penilaian,
agar penerapan model ini dapat berjalan efektif meskipun membutuhkan waktu yang
cukup panjang. Selain itu, pihak sekolah diharapkan memberikan dukungan fasilitas
yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran, sementara siswa diharapkan
lebih aktif, bertanggung jawab, dan berani mengemukakan pendapat dalam diskusi
kelompok. Dengan kerja sama yang baik antara guru, siswa, dan sekolah, penerapan
Problem Solving Learning dalam pembelajaran IPS SMP diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kesiapan siswa dalam
menghadapi berbagai permasalahan sosial di kehidupan nyata.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ausubel, D. P. (1968). Educational Psychology: A Cognitive View. New York: Holt, Rinehart and
Winston.
Huda, M. (2017). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. New York: Basic Books.
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.
Sanjaya, W. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.
Sapriya. (2017). Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson.
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson.
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge: Harvard University Press.

14

Anda mungkin juga menyukai