0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Program BK

Dokumen ini membahas program bimbingan dan konseling di MTs Rumawati, yang bertujuan untuk membantu siswa dalam mengatasi berbagai permasalahan dan mengembangkan potensi mereka di era globalisasi. Program ini mencakup berbagai layanan seperti bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir, serta menekankan pentingnya peran konselor dalam mendukung perkembangan siswa. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan prinsip, fungsi, dan jenis layanan yang ditawarkan dalam bimbingan dan konseling.

Diunggah oleh

Usep Kartono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Program BK

Dokumen ini membahas program bimbingan dan konseling di MTs Rumawati, yang bertujuan untuk membantu siswa dalam mengatasi berbagai permasalahan dan mengembangkan potensi mereka di era globalisasi. Program ini mencakup berbagai layanan seperti bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir, serta menekankan pentingnya peran konselor dalam mendukung perkembangan siswa. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan prinsip, fungsi, dan jenis layanan yang ditawarkan dalam bimbingan dan konseling.

Diunggah oleh

Usep Kartono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM

BIMBINGAN DAN KONSELING


MTs RUMNAWATI

1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Orang bilang sekarang ini disebut zaman globalisasi dalam arti segala sesuatu bersifat
mendunia terutama yang menyangkut informasi dan transformasi. Dengan duduk di
rumah kita dapat melihat kejadian-kejadian di berbagai belahan dunia misalnya : bom
yang meledak di Amerika, perang yang terjadi di Irak, demo buruh yang terjadi di China,
bahkan sekarang kita dapat daftar kerja melalui internet bukan hanya mencari Informasi
Pekerjaan. Demikian juga kita dapat ke Amerika dengan hanya beberapa jam sehingga
seperti pergi ke belakang rumah saja, orang pergi haji yang dulu harus ditempuh dengan
beberapa bulan perjalanan, sekarang hanya ditempuh dengan beberapa jam. Karena
sebab-sebab di atas maka banyak sekali terjadi perubahan-perubahan diantaranya :
1. Terjadi kemerosotan moral ditandai dengan hilangnya karakter yang telah dibangun
berabad-abad seperti keramahan, tenggang rasa, kesopanan, rendah hati, suikap suka
menolong, solidaritas social dan sebagainya yang merupakan jati diri Bangsa.
Sekarang Bangsa Indonesia sedang mengalmi krisis moral, misalnya : banyaknya
tindakan asusila, kekerasan, pembunuhan, perjudian, pornografi, meningkatnya kasus
kenakalan remaja, jumlah pecandu narkoba, pemerkosaan, minum-minuman keras,
pelanggaran tata tertib , serta menjalarnya penyakit sosial lainnya. Menurut pengamat
sosial hal tersebut di atas sebagian bersumber dari kesalahan Lembaga Pendidikan
Nasional yang belum optimal dalam membentuk kepribadian/karakter peserta didik
Lembaga Pendidikan dinilai memberikan terlalau besar untuk transmisi pengetahuan
dan melupakan pengembangan sikap, nilai dan perilaku dalam pembelajaran sikap
juga tidak menjadi komponen penting dalam proses evaluasi pendidikan. Beberapa
mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan, nilai selama ini hanya mengukur
kemampuan kognitif peserta didik.
2. Terjadi perubahan dalam dunia pekerjaan. Banyak pekerjaan yang jadi tidak ada
seperti jasa penumbuk padi, jasa mesin tik, dll, timbul banyak jenis pekerjaan baru,
seperti operator telepon, jasa tol, operator komputer, dll. Yang tentunya sangat
memerlukan keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki oleh seseorang, terutama
pelajar SMP/MTs. Sehingga diharapkan melalui pendidikan SMP/MTs para
lulusannya dapat memiliki keterampilan tertentu sesuai dengan bakat dan minat yang
dimiliki oleh setiap siswa.
Dari pernyataan di atas maka dibutuhkan guru pembimbing (konselor, guru, dan atau
tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya) yang dapat
membantu tercapainya tugas perkembangan siswa SMP/MTs, dan dapat menghadapi
tantangan kehidupan .
2
B. Dasar Pemikiran

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang System Pendidikan Nasional , Pasal 1


butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, Pasal 3 bahwa
pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan Pasal
4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
Pasal s.d Pasal 18 tentang standar isi Pendidikan Dasar dan Menengah.
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat tentang Pengembangan
Diri peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan Pendidikan.
4. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Tahun 2004 yang memberi arah pengembangan profesi konseling
di sekolah dan di luar sekolah.
5. Permendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 27/2008 tentang Standar Kwalifikasi
Akademi dan Kompetensi Konselor
7. Permen PAN & RB 16 / 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya.

C. Pengertian Bimbingan dan Konseling


Bimbingan sebagai salah satu komponen yang terintegral dari keseluruhan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah, bimbingan sangat diperlukan keberadaannya
dalam mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan. Peran bimbingan juga dipertegas
dalam PP No. 28 tahun 1990 mengenai pendidikan menengah yang menegaskan bahwa
“Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka menentukan
pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depannya”.
Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan
bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal,
dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier,
melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang
berlaku. Dalam proses pendidikan, peserta didik sebagai subjek pendidikan tidak terlepas
dari berbagai permasalahan, diantaranya: [Link] belajar, seperti motivasi belajar
3
kurang, prestasi belajar rendah, ketika menghadapi ujian, kesulitan dalam pengaturan
belajar, dan sebagainya, [Link] keluarga, seperti masalah keluarga yang tidak
harmonis, keluarga retak, orang tua yang terlalu menuntut, menekan, otoriter, dan
sebagainya, [Link] sosial pribadi, seperti konflik dengan sesama siswa maupun
konflik dengan diri sendiri, penolakan diri, rendah diri dan sebagainya, [Link] karier,
seperti penjurusan bidang studi, pekerjaan yang diminati, dan sebagainya.
Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan
maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang
pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan social, kemampuan belajar, dan
perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan
norma-norma yang berlaku.
1. Paradigma, Visi, dan Misi Bimbingan dan Konseling
a. Paradigma Bimbingan dan Konseling
Paradigma bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan Psiko-
pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan bimbingan dan konseling
berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi
yang dikemas dalam kaji- terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya
lingkungan peserta didik.
b. Visi Bimbingan dan Konseling
Visi pelayanan bimbingan dan konseling adalah terwujudnya kehidupan
kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam
pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik
berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.
c. Misi Bimbingan dan Konseling
1) Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui
pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa
depan.
2) Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan
kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah, keluarga dan
masyarakat.
3) Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta
didik mengacu pada kehidupan sehari-hari.

2. Bidang Pelayanan Bimbingan dan Konseling


a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan

4
kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian
dan kebutuhan dirinya secara realistic.
b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami dan menilai sserta mengembangkan kemampuan
hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga,
dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti
pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
d. Pengembangkan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik
dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan
karir.
e. Akhlaq mulia, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mampu
bersikap, bertindak, dan berlaku mulia terhadap siapapun dan dimanapun berada.

3. Fungsi Bimbingan dan Konseling


a. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau
menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat
perkembangan dirinya.
b. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan
lingkungannya.
c. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengfatasi masalah
yang dialaminya.
d. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik
memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif
yang dimilikinya.
e. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas
hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.

4. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling


a. Prinsip-prinsip konseling berkenaan dengan sasaran layanan, permasalahan yang
dialami peserta didikm, program pelayanan, serta tujuan dan pelaksanaan
pelayanan.
b. Asas-asas konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan,
kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan,
keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri handayani.

5
5. Kode Etik Guru Bimbingan dan Konseling
1. Menjaga asas kerahasiaan, karena konselor langsung atau tidak langsung
mengemukakan hal-hal berkaitan dengan diri peserta didik yang tidak boleh atau
layak diketahui orang lain.
2. Memberikan label kepada peserta didik, baik perorangan maupun kelompok
dengan cara apapun yang berkonotasi negaif terhadap peserta didik yang
bersangkutan.
3. Bertindak laksana polisi sekolah yang memata-matai ataupun mencarai-cari
kesalahan peserta didik, seperti bertindak sebagai piket keamanan, perazia,
pencari pencuri. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang
terjaring dalam kegiatan kepolisian sekolah yang dilakukan olehpihak lain untuk
mendapatkan pelayanan bimbingan dan konseling.
4. Membuat ataupun menyetujui dibuatnya surat perjanjian dengan peserta didik
yang berkonotasi atau berakhir pada saksi ataupun hukuman tertentu. Dalam hal
ini konselor dapat menerima peserta didik yang telah membuat perjanjian dengan
pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan bimbingan dan konseling agar terhindar
dari sangsi ataupun hukuman sebagaimana dinyatakan dalam surat perjanjian.
5. Kondisi tempat ataupun ruang kerja konselor dapat menggangu kesuakrelaan,
ketenagaan, dan terjaminnya kerahasiaan peserta didik yang dating kepada
konselor untuk mendapatkan pelayanan bmbingan dan konseling.

6. Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling


a. Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik mamahami lingkungan
baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari,
untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memeperlancar peran peserta
didik di lingkungan yang baru.
b. Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami
berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
c. Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik
memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok
belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra
kurikuler.

6
d. Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai
konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalm
kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
e. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam
pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar,
karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu
melalui dinamika kelompok.
f. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam
mengentaskan masalah pribadinya.
g. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam
pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
h. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam
memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam
menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
i. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan
dan memperbaiki hubungan antarmereka.
Konselor dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling
memperhatikan tugas perkembangan peserta didik. Tugas perkembangan siswa SMP
sebagai berikut :
a. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
b. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap
perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang
sehat
c. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam perannya sebagai
pria dan wanita.
d. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam
kehidupan yang lebih luas.
e. Mengenal kemampuan, bakat dan minat serta arah kecenderungan karir dan
apresiasi seni.
f. Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengikuti dan melanjutkan
pelajaran dan atau mempersiapkan atau berperan dalam kehidupan di masyarakat.
g. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara
emosional, social dan ekonomi.
h. Mengenal system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi,
anggota masyarakat dan warga negara.

7
6. Kegiatan Pendukung
a. Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta
didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun
non-tes.
b. Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan
pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan,
sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.
c. Konferensi Kasus, yaitu kegiatan mambahas permasalahan peserta didik dalam
pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data,
kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang
bersifat terbatas dan tertutup.
d. Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen
bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua
dan atau keluarganya.
e. Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang
dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial,
kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
f. Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah
peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.

7. Format Kegiatan
a. Individual, yaitu format kegiatan konseling yang melayani peserta didik secara
perorangan.
b. Kelompok, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik
melalui suasana dinamika kelompok.
c. Klasikal, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik
dalam satu kelas.
d. Lapangan, yaitu format kegiatan konseling yang melayani seorang atau sejumlah
peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
e. Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan konseling yang melayani kepentingan
peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan
kemudahan.

8. Program Pelayanan
a. Jenis Program
1) Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.

8
2) Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
3) Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
4) Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
5) Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada
hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari
program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan
kegiatan pendukung (SATKUNG) konseling.
b. Penyusunan Program
1) Program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik
(need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.
2) Substansi program pelayanan konseling meliputi keempat bidang, jenis
layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan
volume/beban tugas konselor.

D. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Tujuan Bimbingan Konseling:
1. Pencapaian tugas-tugas perkembangan.
2. Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimiliki siswa, agar siswa dapat
berkembang optimal sesuai bakat dan minatnya.
3. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan masa
datang.
4. Terpenuhinya tugas-tugas perkembangan dalam setiap tahap perkembangannya.
5. Menyesuaikan diri dengan lingkungan, masyarakat, dan sekolah.
6. Mengatasi hambatan dan kesulitan

E. Komponen Program
1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi seluruh peserta
didik melalui kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara
sistematis, dalam rangka membantu peserta didik mengembangkan potensi dirinya
secara optimal
Layanan ini bertujuan untuk membantu semua peserta didik agar memperoleh
perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh
ketrampilan dasar hidupnya. Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya

9
membantu peserta didik agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan
lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, social budaya dan agama); (2) mampu
mengembangkan ketrampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau
seperangkat tingkah laku tepat (memadai) bagi penyesuaian dirinya dengan
lingkungannya; (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya,
dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam mencapai tujuan hidupnya.
2. Layanan Responsip
Layanan responsip merupakan “ layanan bantuan bagi para peserta didik yang
memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera.
Layanan ini bertujuan untuk membantu peserta didik dalam memenuhi kebutuhannya
yang dirasakan pada saat ini , atau para paserta didik yang dipandang mengalami
hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas [Link] dari kegagalan
itu berupa ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri atau perilaku bermasalah , atau
malasuai (maladjustment).
3. Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual dapat diartikan sebagai layanan bantuan
kepada semua peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan
masa depannya, berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan dirinya.
Layanan ini bertujuan membantu peserta didik membuat dan mengiplementasikan
rencana-rencana pendidikan, karir dan social pribadinya.. Layanan ini bertujuan untuk
membimbing seluruh peserta didik agar (a) memiliki untuk merumuskan tujuan,
prencanaan, atau pengelolaan terhadap pengembangan dirinya, baik menyangkut
aspek pribadi, social, belajar, maupun karir (b)dapat belajar memantau dan
memahami perkembangan dirinya, dan (c) dapat melakukan kegiatan atau tindakan
berdasarkan pemahamannya atau tujuan yang telah dirumuskan secara proaktif.
4. Dukungan sistem
Ketiga layanan di atas , merupakan pemberian layanan kepada para siswa
secara langsung. Sedangkan dukungan system merupakan layanan yang secara tidak
langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran
perkembangan siswa. Dukungan system adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang
bertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan pelaksanaan BK secara
menyeluruh melalui pengembangan professional, hubungan masyarakat dan staf,
konsultasi dengan guru, staf ahli, masyarakat yang lebih luas, manajemen program ,
penelitian dan pengembangan.
Layanan ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam rangka
memperlancar penyelenggaraan layanan di atas. Sedangkan bagi personal pendidikan
lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah.

10
F. Stategi
1. Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan pelayanan konseling mengacu pada program tahunan
yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan, serta mingguan.
Perencanaan kegiatan pelayanan konseling harian yang merupakan jabaran dari
program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-
masing memuat :
a. Sasaran layanan/kegiatan pendukung
b. Substansi layanan/kegiatan pendukung
c. Jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan
d. Pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat
e. Waktu dan tempat
Rencana kegiatan pelayanan konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam
kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik yang menjadi
tanggung jawab konselor. Satu kali kegiatan layanan atau pendukung konseling
berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. Volume keseluruhan kegiatan
pelayanan konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib
konselor di sekolah/madrasah.
2. Pelaksanaan Kegiatan
Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor
berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan bimbingan konseling yang bersifat rutin,
insidental dan keteladanan. Program pelayanan konseling yang direncanakan dalam
bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi,
jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.
Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Konseling
Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah:
Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk
menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan
konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan
di dalam kelas. Volume kegiaatn tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas
per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. Kegiatan tidak tatap muka dengan
peserta diidk untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi
kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih
tangan kasus.
Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah:

11
Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan
layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling
kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar
kelas. Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam
pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran taatp muka dalam kelas.
Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah
maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan
dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.
Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program
(LAPELPROG). Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan
konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor
dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah.
Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan
sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan
kesinambungan program antarkelas dan antarkelas dan antarjenjang kelas, dan
mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran
mata pelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan
dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/madrasah.

G. Rencana Penilaian dan Tidak Lanjut

1. Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui:


a. Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan
kegiatan pendukung konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang
dilayani.
b. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu
minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan
pendukung konseling diselnggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan
terhadap peserta didik.
c. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu
(satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan
kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh
dampak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap peserta didik.
2. Penilaian Perilaku untuk laporan di buku raport
Penilaian perilaku adalah rangkuman catatan konselor tentang perilaku
peserta didik yang menonjol, baik perilaku positif maupun negatif, meliputi :
kerajinan, kedisiplinan, kesantunan, kerapian, kebersihan, keaktifan dan tanggung

12
jawab. Metode penilaian adalah pengamatan yang dilakukan oleh guru-guru terkait
dengan kegiatan sehari-hari peserta didik, baik dalam kegiatan belajar-mengajar atau
pengembangan diri, dikoordinir oleh konselor. Penilaian prilaku bersifat kualitatif dan
deskriptif, ditujukan untuk pengembangan, bukan untuk menentukan kenaikan kelas
atau kelulusan. Catatan pengamatan konselor dari guru-guru terkait tentang peserta
didik dirangkum, kemudian dideskripsikan dengan ”bahasa konseling”, tujuannya
untuk memotivasi peserta didik agar menjadi lebih dan atau lebih berkembang. (lihat
contoh lampiran).
3. Tindak Lanjut
Jika setelah dilakukan layanan dasar ada siswa yang mengalami kesulitan baik
Masalah, pribadi, social, belajar atau karir maka akan dilakukan layanan responsive
seperti konseling individu, konseling kelompok, atau ditambah dengan layanan
pendukung seperti kunjungan rumah, referral dsb jika diperlukan.

H. Pelaksana Kegiatan/ Personil

1. Pelaksana kegiatan pelayanan konseling adalah konselor sekolah/madrasah.


Konselor pelaksana kegiatan pelayanan konseling di seolah/madrasah wajib:
a. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional
konseling.
b. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak
terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/madrasah, sejawat pendidik, dan
orang tua.
c. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali
dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan
sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.
d. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan
pelayanan profesional konseling.
e. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan.
f. Beban tugas wajib konselor ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya
di sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
2. Pelaksana pelayanan konseling
Pada satu SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dapat diangkat
sejumlah konselor dengan rasio seorang konselor untuk 150 orang peserta didik.

F. Sarana dan Biaya

1. Ruang Bimbingan dan Konseling yang di dalamnya terdiri dari :

13
a. Ruang tamu dengan kursi tamunya
b. Ruang konseling pribadi dengan dua kursi
c. Ruang bimbingan dan konseling kelompok dengan kursi 8-15 buah
d. Meja konselor
e. Lemari (data, menyimpan buku kepustakaan dll).
f. Cermin, timbangan dll

2. Pembiayaan Kegiatan Bimbingan yang dipergunakan untuk :


a. Kunjungan rumah
b. Administrasi Bimbingan dan konseling
c. Pertemuan dengan wali kelas
d. Musyawarah guru pembimbing

PENUTUP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini diharapkan dapat dilaksanakan dengan


sebaik-baiknya sehingga kegiatan belajar mengajar di SMP/MTs menjadi lebih
menyenangkan, menantang, mencerdaskan dan sesuai dengan keadaan daerah dan kebutuhan
peserta didik setempat.
Disaming itu, sementara para guru menerapkan KTSP ini, mereka diharapkan dapat
melakukan evaluasi secara informal terhadap dokumen KTSP maupun pelaksanaannya.
Evaluasi tersebut diharapkan paling sedikit dapat menjawab pertanyaan berikut :
[Link] tujuan Bimbingan dan konseling yang tertulis dalam KTSP ini cukup dan dapat
dicapai ?
[Link] kemampuan (pemahaman,ketrampilan dan sikap serta perilaku) yang tertulis cukup
Lengkap untuk merespon keadaan dan kebutuhan peserta didik ?
[Link] metode yang digunakan cukup efektif dalam mencapai tujuan yang diharapkan ?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut, yang mungkin dikumpulkan secara bertahapdari
waktu ke waktuoleh guru Pembimbing sebagai pengembang sekaligus pelaksana KTSP,
didokumentasikan dengan baik sehingga menjadi masukan berharga bagi penyempurnaan
KTSP di kemudian hari.
Selain itu berbagai hasil perkembangan siswa dapat menjadi bahan evaluasi guna mengetahui
sejauh mana visi yang telah dirumuskan dapat dicapai atau didekati guna menyusun dan
melaksanakan kegiatan tindak lanjut.
Akhirnya kesungguhan, komitmen, kerja keras , kerja sama para guru,Kepala sekolah dan
warga sekolah secara keseluruhan merupakan kunci utama bagi perwujudan dari apa yang
telah direncanakan.

14
TEAM PENGEMBANG KTSP BIMBINGAN KONSELING
SUB RAYON O4 SALAMAN
TAHUN 2011
KABUPATEN MAGELANG

No Nama Jabatan Unit Kerja


1 Drs. Budi Asnawi, [Link],[Link] Nara Sumber/Pengawas Dikdispora Kab. Magelang
2 Sumarni,[Link] Nara Sumber / Anggota SMP N I Borobudur
3 Siti Asiyaningsih,[Link] Nara Sumber / Anggota MTs N Borobudur
4 Samidi,[Link] Ketua SMP Candirejo
5 Drs. Maksum Wakil Ketua SMP N 3 Salaman
6 Muhammad Arf.P,[Link].I Sekretaris I SMP IT Ar-Rochman Salaman
7 Partini,[Link] Sekretaris II SMP N I Salaman
8 Hesti Peni K,[Link] Bendahara I SMP N 3 Salaman
9 Isma Winarti,[Link] Bendahara II SMP Muh Salaman
10 Drs. Zainul Musholin Anggota SMP N 1 Salaman
11 Sri Winarti,[Link] Anggota SMP N 1 Salaman
12 Dewi Kelah Sworo,[Link] Anggota SMP N 2 Salaman
13 Dra. Siti Jandaroh Anggota SMP N 2 Salaman
14 Sayoga,[Link] Anggota SMP N 2 Salaman
15 Jumali,[Link] Anggota SMP N 3 Salaman
16 Rindu Iswanto,[Link] Anggota SMP 1953 Salaman
17 M Ainur Rofiq,[Link].I Anggota SMP Muh Sambak
18 Indra Deviyanti, Anggota SMP Muh Kaliabu
19 Yuni Satimah Anggota SMP Sultan Agung Salaman
20 Nur Solikhin Anggota MTs P Diponegoro Salaman
21 Dra. Ekowati Esti P Anggota SMP N 1 Borobudur
22 Damardi, [Link] Anggota SMP N 1 Borobudur
23 Wakiyono,[Link] Anggota SMP N 2 Borobudur
24 Suramin,[Link] Anggota SMP N 2 Borobudur
25 Wahyu Widyawati,[Link] Anggota SMP N 2 Borobudur
26 Pudjiyono,[Link] Anggota SMP Muh Borobudur
27 Uswatun Chasanah,[Link] Anggota SMP Muh Borobudur
28 Musriyani,[Link] Anggota SMP Maarif Borobudur
29 Bekti Nurhayati,[Link] Anggota SMP Candirejo Borobudur
30 Graha S Anggota MTs N Borobudur
31 Muhammad Yusuf,[Link] Anggota MTs Ma,arif Bigaran Borobudur

15
32 Titik Lestari, [Link] Anggota SMP Islam Sudirman
33 Imsoimah, [Link] Anggota MTs An Nawawi

Salaman,.......................

Ketua Sekretaris

Samidi,[Link] Muhammad Arf.P,[Link].I

16
REFERENSI DAFTAR PUSTAKA

[Link]-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang System Pendidikan Nasional


[Link] Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
4. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Tahun 2004
5. Permendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
[Link] Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 27/2008 tentang Standar
Kwalifikasi Akademi dan Kompetensi Konselor
7. Permen PAN & RB 16 / 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya.

17

Anda mungkin juga menyukai