Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
PEMBUATAN JAMU TRADISIONAL UNTUK MENJAGA
DAYA TAHAN TUBUH
Liana
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas
Pendidikan Mandalika, Jalan Pemuda Nomor 59A, Mataram, Nusa Tenggara Barat
83125, Indonesia
Email: [Link]@[Link]
Submit: 04-04-2025; Revised: 18-04-2025; Accepted: 21-04-2025; Published: 30-04-2025
ABSTRAK: Kesehatan dan daya tahan tubuh merupakan aspek penting dalam menjaga kualitas
hidup, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat.
Salah satu cara alami yang telah digunakan secara turun-temurun di Indonesia adalah dengan
mengonsumsi jamu tradisional. Kegiatan ini dilaksanakan di RT. 06, Lingkungan Punia Jamaq,
Kelurahan Punia, Kota Mataram, dengan tujuan untuk memperkenalkan serta meningkatkan
pemahaman masyarakat mengenai manfaat dan cara pembuatan jamu tradisional sebagai alternatif
untuk menjaga daya tahan tubuh. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, demonstrasi langsung
pembuatan jamu, dan praktek oleh peserta menggunakan bahan-bahan alami seperti jahe, kunyit,
temulawak, dan serai. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi serta
peningkatan pengetahuan tentang khasiat dan cara pembuatan jamu. Kegiatan ini diharapkan dapat
mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pengobatan tradisional sebagai bagian dari upaya
menjaga kesehatan secara mandiri dan berkelanjutan.
Kata Kunci: Daya Tahan Tubuh, Jamu Tradisional, Pembuatan.
ABSTRACT: Health and endurance are important aspects in maintaining quality of life,
especially amidst increasing public awareness of the importance of a healthy lifestyle. One natural
way that has been used for generations in Indonesia is by consuming traditional herbal medicine.
This activity was carried out in RT. 06, Punia Jamaq Environment, Punia Village, Mataram City,
with the aim of introducing and increasing public understanding of the benefits and how to make
traditional herbal medicine as an alternative to maintain endurance. The activity methods include
counseling, direct demonstrations of making herbal medicine, and practice by participants using
natural ingredients such as ginger, turmeric, temulawak, and lemongrass. The results of this
activity showed high enthusiasm from participants and increased knowledge about the benefits
and how to make herbal medicine. This activity is expected to encourage people to utilize
traditional medicine as part of efforts to maintain health independently and sustainably.
Keywords: Endurance, Traditional Herbal Medicine, Making.
How to Cite: Liana, L. (2025). Pembuatan Jamu Tradisional untuk Menjaga Daya Tahan Tubuh.
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 66-73.
[Link]
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative
Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati,
terutama dalam hal tanaman obat. Kekayaan ini telah dimanfaatkan secara turun-
temurun oleh masyarakat Indonesia dalam bentuk ramuan tradisional yang dikenal
sebagai jamu. Jamu merupakan warisan budaya bangsa yang telah digunakan
Uniform Resource Locator: [Link] 66
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
selama ratusan tahun untuk menjaga kesehatan, mengobati penyakit, dan
meningkatkan vitalitas tubuh (Nurlillah, 2024). Seiring berkembangnya zaman,
minat terhadap pengobatan alami kembali meningkat, khususnya dalam konteks
kesehatan preventif (Raharjo, 2022; Raslina et al., 2018). Hal ini menjadikan jamu
sebagai alternatif populer di tengah masyarakat modern yang mulai sadar akan
pentingnya menjaga kesehatan dengan cara alami dan minim efek samping.
Daya tahan tubuh merupakan faktor penting dalam menjaga kondisi
kesehatan secara menyeluruh (Irwan, 2017). Sistem imun yang kuat mampu
melindungi tubuh dari berbagai penyakit, termasuk infeksi virus dan bakteri
(Hidayat & Syahputra, 2020). Pola hidup sehat yang mencakup konsumsi
makanan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat cukup sangat penting dalam
mendukung sistem kekebalan tubuh (Mulyana et al., 2024). Namun, dalam
kondisi tertentu, tubuh memerlukan asupan tambahan berupa imunostimulan
alami yang dapat diperoleh dari berbagai tanaman herbal. Jamu tradisional yang
berbahan dasar empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak, dan serai telah
terbukti secara empiris membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
Selama pandemi COVID-19, minat masyarakat terhadap jamu meningkat
secara signifikan. Banyak orang kembali mengandalkan ramuan tradisional
sebagai suplemen alami untuk menjaga kebugaran dan mencegah infeksi.
Fenomena ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap
efektivitas jamu, tetapi juga membuka peluang untuk lebih mengembangkan dan
mempopulerkan jamu sebagai produk kesehatan berbasis kearifan lokal
(Ramadhan et al., 2022). Meski demikian, pemanfaatan jamu tradisional masih
menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya standarisasi, pengetahuan
ilmiah yang terbatas, serta persepsi masyarakat modern yang masih meragukan
efektivitasnya.
Pembuatan jamu tradisional perlu dikaji secara ilmiah agar dapat diterima
lebih luas oleh masyarakat, termasuk generasi muda yang cenderung lebih
memilih produk berbasis farmasi modern. Pengkajian ini menurut Firdaus et al.
(2024) meliputi identifikasi bahan baku, proses pembuatan yang higienis,
efektivitas ramuan terhadap sistem imun, serta aspek keamanan konsumsi.
Pendekatan ilmiah terhadap jamu tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan
masyarakat, tetapi juga dapat memperkuat posisi jamu sebagai bagian dari sistem
kesehatan nasional. Oleh karena itu, pengembangan dan penelitian tentang jamu
tradisional menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan
masyarakat secara menyeluruh.
Pemberdayaan masyarakat dalam pembuatan jamu tradisional menjadi
aspek penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya ini. Banyak keluarga
di pedesaan masih mempertahankan praktek pembuatan jamu secara turun-
temurun, namun minim dukungan dari segi teknologi dan pemasaran. Melalui
pelatihan dan penyuluhan, masyarakat dapat diberdayakan untuk membuat jamu
secara higienis dan berkualitas, yang tidak hanya berguna untuk kebutuhan
pribadi, tetapi juga berpotensi menjadi produk ekonomi (Astuti & Utsman, 2021).
Pemberdayaan ini dapat mendorong pelestarian kearifan lokal bidang kesehatan.
Dengan demikian, kegiatan pembuatan jamu tradisional memiliki nilai strategis
tidak hanya dalam konteks kesehatan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi lokal.
Uniform Resource Locator: [Link] 67
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
Secara ilmiah, penelitian Siregar et al. (2022) telah menunjukkan bahwa
bahan-bahan utama dalam jamu memiliki kandungan fitokimia seperti
antioksidan, antiinflamasi, dan imunostimulan. Jahe, misalnya, mengandung
gingerol yang diketahui dapat meningkatkan respons imun tubuh. Kunyit
mengandung kurkumin yang berperan sebagai antioksidan kuat. Temulawak
diketahui memiliki efek hepatoprotektif dan antiinflamasi yang bermanfaat dalam
menjaga kesehatan hati dan sistem imun. Kandungan bioaktif ini memperkuat
argumentasi bahwa jamu tradisional memiliki dasar ilmiah dalam meningkatkan
daya tahan tubuh.
Walaupun telah banyak dilakukan penelitian terhadap kandungan bahan
jamu, masih terdapat celah dalam penerapan dan standarisasi proses
pembuatannya. Banyak masyarakat yang membuat jamu berdasarkan tradisi
keluarga tanpa takaran atau prosedur higienis yang terstandarisasi. Hal ini dapat
memengaruhi kualitas dan efektivitas jamu, serta menimbulkan risiko kesehatan
bila tidak dilakukan dengan benar (Abidin, 2019). Oleh karena itu, kegiatan
pembuatan jamu tradisional dengan pendekatan ilmiah dan pelatihan teknis sangat
diperlukan untuk meningkatkan kualitas serta daya guna dari produk tersebut.
Selain aspek kesehatan, jamu juga memiliki nilai sosial dan budaya yang
tinggi. Minum jamu bukan sekadar konsumsi produk herbal, tetapi juga bagian
dari ritual dan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaan
jamu dalam budaya Jawa, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari peran dukun jamu
dan pasar tradisional. Sayangnya, budaya ini mulai tergerus oleh modernisasi dan
globalisasi (Andriati & Wahjudi, 2016). Oleh karena itu, revitalisasi jamu melalui
kegiatan edukasi dan pelatihan sangat penting untuk melestarikan nilai-nilai
budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
preventif.
Kegiatan pembuatan jamu tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh
juga sejalan dengan semangat pembangunan kesehatan berkelanjutan. Dengan
memanfaatkan sumber daya lokal, seperti tanaman herbal yang tumbuh di
pekarangan atau hutan desa, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan
terhadap produk impor dan bahan kimia sintetis. Hal ini memberikan kontribusi
terhadap ketahanan pangan dan kesehatan lokal, serta menciptakan ekosistem
kesehatan yang mandiri dan ramah lingkungan. Ratna et al. (2024)
mengemukakan bahwa jamu bukan hanya solusi kesehatan alami, tetapi juga
bagian dari gerakan hidup sehat berbasis kearifan lokal. Dengan
mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, kegiatan ini bertujuan untuk
memperkenalkan kembali pentingnya jamu tradisional sebagai bagian dari upaya
menjaga daya tahan tubuh, sekaligus memberdayakan masyarakat dalam
pembuatannya secara tepat, higienis, dan berkelanjutan.
METODE
Upaya peningkatan kesehatan masyarakat RT. 06, Lingkungan Punia
Jamaq, Kelurahan Punia, Kota Mataram melalui pembuatan jamu tradisional
merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal.
Jamu tradisional, yang berasal dari bahan-bahan alami seperti kunyit, jahe,
temulawak, dan daun sirih, memiliki khasiat yang telah terbukti secara turun-
Uniform Resource Locator: [Link] 68
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
temurun dalam menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh. Adapun alat dan
bahan yang digunakan antara lain: pisau, cobek, baskom, kompor, panci, gelas,
sendok, madu, kunyit, jahe, temulawak, jeruk nipis, gula pasir, gula merah, dan
garam.
Dalam proses pembuatan jamu tradisional dilakukan dengan menumbuk
bahan ramuan yang telah dibersihkan kulitnya. Setelah bahan-bahan dihaluskan
kemudian dicampurkan dengan air yang telah direbus ke dalam panci secukupnya
untuk memudahkan penyarian maupun pemerasan sambil diaduk selama ± 30
menit, dan selanjutnya masukkan jamu ke dalam gelas dan ditambahkan jeruk
nipis dan madu kemudian jamu dibagikan ke masyarakat.
Setelah jamu selesai dibagikan, masyarakat dapat langsung
mengonsumsinya dalam keadaan hangat untuk mendapatkan khasiat maksimal
dari bahan-bahan alami yang digunakan. Dalam proses pembuatan jamu,
kebersihan alat dan bahan sangat dijaga agar jamu yang dihasilkan tetap higienis
dan aman dikonsumsi. Kegiatan ini juga menjadi sarana pelestarian budaya serta
mempererat hubungan antarwarga, karena dilakukan secara gotong royong dengan
semangat kebersamaan.
HASIL DAN DISKUSI
Kegiatan pembuatan jamu tradisional yang dilaksanakan di RT. 06,
Lingkungan Punia Jamaq, Kelurahan Punia, Kota Mataram berhasil dilaksanakan
dengan antusiasme tinggi dari masyarakat setempat. Sebanyak 35 warga, terdiri
dari ibu rumah tangga, pemuda, dan lansia, turut serta dalam kegiatan ini. Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan kembali penggunaan jamu tradisional
sebagai alternatif alami dalam menjaga daya tahan tubuh. Dalam kegiatan ini,
warga diajarkan cara membuat berbagai jenis jamu seperti jamu kunyit asam,
beras kencur, temulawak, dan jahe merah, yang diketahui memiliki banyak
manfaat kesehatan.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai manfaat jamu
tradisional. Narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Mataram menjelaskan bahwa
bahan-bahan seperti kunyit, jahe, dan temulawak mengandung senyawa aktif
seperti kurkumin dan gingerol yang berperan sebagai antioksidan dan
antiinflamasi. Edukasi ini penting untuk membangun kesadaran masyarakat
mengenai manfaat konsumsi bahan alami, sekaligus mengurangi ketergantungan
terhadap obat-obatan kimia. Peserta sangat aktif dalam sesi tanya jawab,
menunjukkan bahwa mereka memiliki ketertarikan yang besar terhadap
pengobatan herbal.
Proses pembuatan jamu dilakukan secara langsung di lokasi kegiatan
dengan peralatan sederhana. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil,
masing-masing mencoba meracik satu jenis jamu. Aktivitas ini tidak hanya
memperkuat keterampilan masyarakat dalam membuat jamu, tetapi juga
meningkatkan interaksi sosial antarwarga. Beberapa peserta bahkan berbagi resep
jamu keluarga yang sudah turun-temurun digunakan. Hal ini menunjukkan adanya
nilai kearifan lokal yang masih melekat kuat di masyarakat dan perlu dilestarikan.
Setelah proses pembuatan selesai, seluruh peserta diberi kesempatan untuk
mencicipi hasil jamu buatan masing-masing kelompok. Respon yang diberikan
Uniform Resource Locator: [Link] 69
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
cukup positif; sebagian besar menyukai rasa jamu yang segar dan alami. Sebagian
besar peserta mengaku baru pertama kali membuat jamu sendiri dan merasa
tertarik untuk melanjutkan praktek ini di rumah. Bahkan, beberapa ibu rumah
tangga menyampaikan rencana untuk membuat jamu secara rutin untuk
keluarganya sebagai bentuk perawatan kesehatan preventif.
Gambar 1. Hasil Jamu Siap Konsumsi.
Kegiatan ini juga menghasilkan output tambahan berupa booklet resep
jamu sederhana yang dibagikan kepada seluruh peserta. Booklet ini berisi
informasi manfaat bahan, cara pembuatan, hingga tips penyimpanan jamu agar
tetap segar. Hal ini bertujuan agar peserta dapat mengulangi proses pembuatan
jamu di rumah dengan panduan yang jelas. Diharapkan, dari kegiatan ini akan
muncul inisiatif warga untuk menjadikan pembuatan jamu sebagai usaha rumahan
yang bernilai ekonomi sekaligus berdampak positif bagi kesehatan lingkungan
sekitar.
Gambar 2. Booklet Resep Jamu.
Hasil kegiatan Kusumo et al. (2020) mengemukakan bahwa tanaman yang
dapat dikonsumsi dan dibuat menjadi jamu untuk immune booster antara lain
adalah temulawak, kunyit, dan jahe. Penyuluhan ini dilakukan agar masyarakat
umum lebih memahami manfaat jamu dan dengan membuat serta
menyebarluaskan video tutorial pembuatan jamu diharapkan masyarakat dapat
Uniform Resource Locator: [Link] 70
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
mempraktekkannya di rumah untuk mencegah penularan virus. Pemanfaatan
tanaman herbal seperti temulawak, kunyit, dan jahe sebagai bahan dasar jamu juga
mendorong pelestarian budaya tradisional Indonesia yang kaya akan pengetahuan
pengobatan alami. Kandungan aktif seperti kurkumin dalam kunyit, gingerol
dalam jahe, dan xanthorrhizol dalam temulawak telah terbukti memiliki sifat
antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator yang dapat membantu
meningkatkan daya tahan tubuh secara alami.
Kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Azizuddin (2021) menjelaskan
bahwa kunyit mempunyai beberapa manfaat yang sangat baik untuk tubuh.
Beberapa manfaatnya yaitu mampu meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati
radang, mengurangi rasa mual, mengatasi perut yang kembung, mengurangi nyeri
saat haid, obat alergi, menangkal bakteri jahat, penawar racun, mengobati maag,
menstabilkan kadar gula darah, meredakan peradangan usus, melawan infeksi,
membantu menurunkan berat badan, merawat hati, dan masih banyak manfaat
lainnya. Selain manfaat-manfaat yang telah disebutkan, kunyit juga dikenal
memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, terutama kurkumin, yang membantu
melawan radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas merupakan penyebab utama
penuaan dini dan berbagai penyakit degeneratif. Konsumsi kunyit secara rutin
dalam jumlah yang tepat dapat membantu menjaga kesehatan kulit,
memperlambat proses penuaan, serta menjaga kesehatan otak dan fungsi kognitif.
Kegiatan ini membawa dampak positif yang nyata bagi warga RT. 06
Lingkungan Punia Jamaq. Selain menambah pengetahuan dan keterampilan,
kegiatan ini juga mempererat solidaritas warga serta menumbuhkan kesadaran
akan pentingnya menjaga kesehatan dengan cara alami dan tradisional. Ke depan,
perlu ada tindak lanjut berupa pelatihan lanjutan atau pembentukan kelompok
usaha kecil berbasis jamu tradisional agar manfaat dari kegiatan ini tidak berhenti
pada satu kali pertemuan saja. Kegiatan semacam ini sangat relevan dengan
semangat hidup sehat dan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatannya
secara berkelanjutan.
SIMPULAN
Kegiatan pembuatan jamu tradisional di RT. 06, Lingkungan Punia Jamaq
berjalan dengan lancar dan mendapatkan sambutan yang sangat positif dari warga.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengetahuan baru mengenai manfaat
berbagai jenis tanaman herbal lokal, seperti kunyit, jahe, dan temulawak, yang
terbukti dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh secara alami. Selain
pengetahuan, peserta juga mendapatkan keterampilan praktis dalam meracik dan
membuat jamu sendiri di rumah, menggunakan peralatan sederhana yang mudah
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Partisipasi aktif masyarakat, baik dalam
sesi sosialisasi maupun praktek langsung, menunjukkan bahwa ada minat dan
kesadaran yang tumbuh terhadap pentingnya menjaga kesehatan secara alami.
Nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang selama ini mulai terlupakan kembali
dihidupkan melalui kegiatan ini, terbukti dengan adanya peserta yang turut
berbagi resep jamu turun-temurun dari keluarga mereka. Dengan demikian,
kegiatan ini bukan hanya ajang pelestarian, tetapi juga penguatan identitas budaya
di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Uniform Resource Locator: [Link] 71
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
SARAN
Kegiatan serupa sebaiknya dilaksanakan secara berkala, tidak hanya satu
kali, agar pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam meracik jamu terus
berkembang. Pelatihan lanjutan bisa mencakup topik yang lebih spesifik seperti
teknik fermentasi jamu, pengemasan yang higienis, atau bahkan cara membuat
jamu instan dalam bentuk serbuk.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh
pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada
masyarakat ini. Apresiasi juga diberikan kepada masyarakat setempat atas kerja
sama, partisipasi aktif, serta keterbukaan yang memungkinkan kegiatan ini
berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan.
REFERENSI
Abidin, Z. (2019). Keperawatan Komplementer “Terapi Komplementer Solusi
Cerdas Optimalkan Kesehatan”. Jember: Universitas Jember.
Andriati, A., & Wahjudi, R. M. T. (2016). Tingkat Penerimaan Penggunaan Jamu
sebagai Alternatif Penggunaan Obat Modern pada Masyarakat Ekonomi
Rendah-Menengah dan Atas. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 29(3),
133-145. [Link]
Astuti, E. D., & Utsman, U. (2021). Pemberdayaan Masyarakat Melalui
Pembuatan Jamu Tradisional dalam Meningkatkan Kesejahteraan di
Kampung Jamu Nguter Kabupaten Sukoharjo. Lifelong Education Journal,
1(1), 35-42. [Link]
Azizuddin, I. (2021). Jamu Tradisional Peningkat Imunitas di Masa Pandemi.
Journal of Research on Community Engagement (JRCE), 2(2), 38-42.
[Link]
Firdaus, Z., Kusmayadi, C. T., & Setiawan, D. (2024). Pelatihan Pembuatan Jamu
Tradisional dengan Teknik Infused sebagai Upaya Peningkatan Branding
pada Millenial. Jurnal Masyarakat Madani Indonesia, 3(4), 438-446.
[Link]
Hidayat, S., & Syahputra, A. A. (2020). Perancangan Multimedia Interaktif
Sistem Imun Tubuh pada Manusia. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni
dan Budaya, 2(03), 144-149. [Link]
Irwan, I. (2017). Epidemiologi Penyakit Menular. Bantul: CV. Absolute Media.
Kusumo, A. R., Wiyoga, F. Y., Perdana, H. P., Khairunnisa, I., Suhandi, R. I., &
Prastika, S. S. (2020). Jamu Tradisional Indonesia: Tingkatkan Imunitas
Tubuh Secara Alami Selama Pandemi. Jurnal Layanan Masyarakat
(Journal of Public Service), 4(2), 465-471.
[Link]
Mulyana, A., Lestari, D., Pratiwi, D., Rohmah, N. M., Tri, N., Agustina, N. N. A.,
& Hefty, S. (2024). Menumbuhkan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini Melalui
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Jurnal Bintang Pendidikan
Indonesia (JUBPI), 2(2), 321-333.
[Link]
Uniform Resource Locator: [Link] 72
Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
E-ISSN 2808-2559; P-ISSN 2808-3628
Volume 5, Issue 2, April 2025; Page, 66-73
Email: nurasjournal@[Link]
Nurlillah, R. (2024). Studi Etnobotani Jamu Tradisional Masyarakat di Kecamatan
Metro Barat sebagai Sumber Belajar Biologi SMA/MA. Skripsi. Institut
Agama Islam Negeri Metro.
Raharjo, H. (2022). Suplemen dan Obat Herbal: Sejarah serta Gambaran
Pemanfaatannya dalam Tindakan Preventif dan Kuratif pada Pandemi
COVID-19 di Indonesia (Telaah Naratif). Media Bina Ilmiah, 16(12),
7897-7916. [Link]
Ramadhan, D. R., Nahdliyyati, D., Salsabillah, T. A., Pramesti, A. A. S. D.,
Salsabila, F., Ramadanti, F., Putri, M. A. E., Jayalalitha, D. M., Nugrahesi,
R., Setiawan, R., Hidayati, D. N., Dewi, G. D. P. K., Ayudya, J. R.,
Syayidah, E. E., & Puspitasari, H. P. (2022). Pengetahuan Masyarakat
terhadap Penggunaan Jamu untuk Meningkatkan Imunitas Penderita
COVID-19 yang Pernah Menjalani Isolasi Mandiri. Jurnal Farmasi
Komunitas, 9(2), 194-199. [Link]
Raslina, H., Dharmawibawa, I. D., & Safnowandi, S. (2018). Diversity of
Medicinal Plants in National Park of Rinjani Mountain in Order to
Arrange Practical Handout of Phanerogamae Systematics. Bioscientist:
Jurnal Ilmiah Biologi, 4(1), 1-6.
[Link]
Ratna, S. R., Handayani, D., Suroyo, S., Anggaeni, B., & Chasanah, I. N. (2024).
WhatsApp sebagai Media Literasi Penyebaran Pengetahuan Jamu
Tradisional di Masa Pandemi. Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal,
3(2), 347-363. [Link]
Siregar, P. N. B., Pedha, K. I. T., Resmianto, K. F. W., Chandra, N., Maharani, V.
N., & Riswanto, F. D. O. (2022). Review: Kandungan Kimia Jahe Merah
(Zingiber officinale var. Rubrum) dan Pembuktian In Silico sebagai
Inhibitor SARS-CoV-2. Jurnal Pharmascience, 9(2), 185-200.
[Link]
Uniform Resource Locator: [Link] 73