0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Proposal

Dokumen ini membahas efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Fikih di MTs Darul Falah Kota Batam. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa akibat metode pembelajaran konvensional yang dominan, yang tidak mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dan berpikir analitis. Diharapkan, penerapan PBL dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, serta mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan zaman dengan pendekatan yang ilmiah dan logis.

Diunggah oleh

Zulkifli Busra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Proposal

Dokumen ini membahas efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Fikih di MTs Darul Falah Kota Batam. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa akibat metode pembelajaran konvensional yang dominan, yang tidak mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dan berpikir analitis. Diharapkan, penerapan PBL dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, serta mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan zaman dengan pendekatan yang ilmiah dan logis.

Diunggah oleh

Zulkifli Busra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

(PBL) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA


MATA PELAJARAN FIKIH DI MTS DARUL FALAH KOTA BATAM
Disusun untuk memenuhi tugas Ulangan Tengah Semester (UTS)

Dosen pengampu:
Sabrun Jamil, [Link]

Disusun oleh :

Nailul Muna Salsabila Masrum


NIM: [Link].028

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN KEPULAUAN RIAU
1447 H / 2025 M
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa


Ta’ala, atas rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan
proposal penelitian ini dengan judul “Efektivitas Model Pembelajaran Problem
Based Learning (Pbl) Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Pada Mata Pelajaran Fikih Di Mts Darul Falah Kota Batam”.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad ‫ﷺ‬,
beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqomah
meneladani sunnah-sunnahnya.
Proposal penelitian ini disusun sebagai salah satu prasyarat dalam
memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan serta sebagai
langkah awal dan pijakan dalam menyusun skripsi di Program Studi Pendidikan
Agama Islam (PAI).
Penelitian ini berangkat dari keprihatinan penulis terhadap tantangan
pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta didik tidak hanya sekadar
menghafal, tetapi mampu berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menghadapi
persoalan, termasuk dalam konteks memahami hukum-hukum Islam pada mata
pelajaran Fikih.
Dalam proses penyusunannya, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
proposal ini tidak akan terwujud tanpa bimbingan, dukungan, dan motivasi dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:
1. Bapak/Ibu Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Kepulauan Riau, beserta
seluruh jajaran dosen Program Studi PAI yang telah memberikan ilmu dan
bimbingan.
2. Bapak/Ibu Dosen Pembimbing 1 dan 2 selaku pembimbing akademik dan
pembimbing proposal yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga
untuk memberikan arahan, saran, dan koreksi dengan penuh kesabaran.
3. Pimpinan serta segenap staf Mts Darul Falah yang telah memberikan izin
dan dukungan untuk rencana pelaksanaan penelitian ini.

i
4. Kedua orang tua dan keluarga tercinta yang senantiasa memberikan doa,
dukungan moral, dan material tanpa henti.
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan kontribusi dalam penyusunan proposal ini.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat
penulis harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian ini ke depannya.
Semoga penelitian ini nantinya dapat memberikan manfaat, kontribusi pemikiran,
dan tambahan khazanah keilmuan bagi perkembangan Pendidikan Agama Islam,
khususnya dalam pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran di pondok pesantren.
Billahi taufiq wal hidayah.

Penulis
Batam, 20 November 2025

Nailul Muna Salsabila Masrum

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang...................................................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................................................. 5
C. Batasan Penelitian ................................................................................................................ 7
D. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 9
E. Tujuan Penelitian ................................................................................................................ 10
F. Manfaat Penelitian .............................................................................................................. 10
G. Definisi Operasional Variabel ............................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia pendidikan abad ke-21 dihadapkan pada tantangan yang


kompleks seiring dengan pesatnya perkembangan era revolusi industri 4.0
dan masyarakat 5.0. Tantangan ini menuntut lahirnya sumber daya manusia
yang tidak hanya unggul dalam aspek kognitif, tetapi juga memiliki
kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), di mana
kemampuan berpikir kritis (critical thinking) menempati posisi yang sentral.
Kemampuan ini menjadi fondasi bagi generasi muda untuk menghadapi
disrupsi informasi, memecahkan masalah yang kompleks, dan beradaptasi
dengan perubahan yang terjadi sangat cepat. Dalam konteks global,
pendidikan diarahkan untuk mencetak individu yang mampu menganalisis,
mengevaluasi, dan mencipta, bukan sekadar mengingat dan memahami.
Merespons tantangan global tersebut, Kurikulum Merdeka di
Indonesia menekankan pembentukan Profil Pelajar Pancasila, 1 yang salah
satu pilarnya adalah bernalar kritis. Kemampuan bernalar kritis diartikan
sebagai kemampuan untuk memproses informasi baik kualitatif maupun
kuantitatif, membangun keterkaitan antar berbagai informasi, menganalisis
informasi, serta merefleksikan dan mengevaluasi pemikiran sendiri. Ini
menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjadikan kemampuan berpikir
kritis sebagai outcome yang penting dalam sistem pendidikan nasional,
termasuk di dalamnya pendidikan madrasah.2
Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan kesenjangan
yang lebar antara harapan kurikulum dan praktik pembelajaran yang terjadi,
khususnya pada mata pelajaran yang dianggap tradisional dan sarat dengan
muatan hafalan, seperti Fikih. Fikih sebagai ilmu tentang hukum-hukum
Islam yang bersifat praktis, sejatinya adalah disiplin ilmu yang sangat kaya
1
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Panduan
Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (Jakarta: Kemendikbudristek, 2022), hal.
15.
2
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2015),
hal. 180.

1
dengan masalah (masāil), dalil, dan perdebatan metodologis (ushul fiqh).
Idealnya, pembelajaran Fikih tidak hanya bertujuan agar siswa tahu hukum
(ta'abbudī), tetapi juga mampu memahami alasan di baliknya (ta'aqqulī) dan
menerapkannya dalam konteks kekinian.
Sayangnya, observasi awal dan wawancara dengan beberapa guru di
MTs Darul Falah Kota Batam mengungkapkan bahwa pembelajaran Fikih
masih didominasi oleh pendekatan konvensional yang berpusat pada guru
(teacher-centered). Metode ceramah, disertai dengan tekanan untuk
menghafal matan dan rumusan hukum, masih menjadi andalan utama.
Pendekatan ini, meskipun efisien dalam mentransfer informasi, dinilai kurang
efektif dalam merangsang daya nalar dan mengasah kemampuan berpikir
kritis siswa. Akibatnya, siswa seringkali hanya menjadi penerima pasif
pengetahuan yang siap pakai.
Gejala rendahnya kemampuan berpikir kritis ini terlihat dari beberapa
indikator. Siswa kesulitan ketika dihadapkan pada kasus fikih kontemporer
yang tidak secara eksplisit dibahas dalam buku teks, seperti masalah transaksi
digital, hukum investasi kripto, atau masalah bioetika. Mereka cenderung
mencari jawaban instan dan enggan untuk melakukan penyelidikan mandiri
terhadap dalil-dalil yang relevan. Dalam diskusi, siswa juga kurang terampil
dalam membangun argumen yang logis dan mendasarkan pendapatnya pada
evidence (dalil) yang kuat, serta kesulitan dalam mengevaluasi pendapat yang
berbeda.3
Kondisi ini diperparah oleh minimnya eksposur siswa terhadap
model-model pembelajaran inovatif yang mendorong keterlibatan aktif dan
proses inquiri. Pembelajaran cenderung satu arah, dengan guru sebagai satu-
satunya sumber pengetahuan yang otoritatif. Ruang untuk bertanya,
mempertanyakan, dan berdebat secara sehat sangat terbatas. Padahal,
karakteristik generasi Z yang merupakan digital native menuntut
pembelajaran yang lebih interaktif, visual, dan menantang.
Kesenjangan antara teori dan praktik dalam pembelajaran Fikih ini
menjadi masalah yang mendesak untuk diatasi. Di satu sisi, kurikulum dan

3
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Panduan
Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (Jakarta: Kemendikbudristek, 2022), hal.
15.

2
tuntutan zaman menuntut lahirnya siswa yang kritis dan analitis. Di sisi lain,
metode pembelajaran yang diterapkan justru tidak mendukung terwujudnya
outcome tersebut. Hal ini berpotensi menghasilkan lulusan yang fasih dalam
teori hukum Islam tetapi gagap ketika harus menerapkannya dalam realitas
sosial yang dinamis dan penuh dengan problematika baru.
Berangkat dari permasalahan tersebut, diperlukan sebuah intervensi
pembelajaran yang dapat menjembatani kesenjangan ini. Salah satu model
pembelajaran yang dianggap potensial untuk mengatasi masalah ini
adalah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). PBL adalah
sebuah pendekatan pedagogis yang menggunakan masalah dunia nyata yang
autentik dan tidak terstruktur dengan baik (ill-structured problems) sebagai
titik awal untuk belajar.
Filosofi inti dari PBL adalah bahwa pembelajaran yang bermakna
terjadi ketika siswa secara aktif berkonstruksi pengetahuannya melalui proses
penyelidikan dan pemecahan masalah. Dalam konteks Fikih, masalah autentik
dapat berupa dilema etika, kasus muamalah kontemporer, atau perbedaan
pendapat (khilafiyyah) di kalangan ulama. Dengan dihadapkan pada masalah
ini, siswa didorong untuk mengidentifikasi apa yang mereka ketahui dan apa
yang perlu mereka ketahui, lalu mencari dan menganalisis sumber-sumber
hukum yang relevan (Al-Qur'an, Hadits, pendapat ulama) untuk membangun
argumentasi dan solusi.4
Secara teoretis, PBL sangat selaras dengan teori belajar
Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif
oleh siswa, bukan diterima secara pasif. Model ini juga didukung oleh teori
Berpikir Kritis dari Ennis dan Facione, yang menekankan pada kemampuan
seperti analisis, evaluasi, inferensi, dan pengambilan keputusan. Proses dalam
PBL secara langsung melatih kemampuan-kemampuan tersebut.
Penerapan PBL dalam pembelajaran Fikih diyakini dapat
mentransformasi pengalaman belajar siswa dari yang bersifat pasif dan
menerima menjadi aktif dan mencipta. Siswa tidak lagi melihat Fikih sebagai
kumpulan aturan yang kaku, tetapi sebagai sebuah disiplin ilmu yang hidup,
dinamis, dan relevan untuk memecahkan masalah kehidupan. Proses ini pada

4
John Dewey, Experience and Education (New York: Kappa Delta Pi, 1938), hal. 55.

3
gilirannya dihipotesiskan dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan
berpikir kritis mereka.
Penelitian ini layak dan perlu dilakukan karena beberapa alasan.
Pertama, penelitian tentang efektivitas PBL dalam konteks pembelajaran
Fikih di madrasah, khususnya di Kota Batam, masih relatif terbatas.
Kebanyakan penelitian sejenis lebih banyak dilakukan pada mata pelajaran
sains atau matematika. Kedua, MTs Darul Falah Kota Batam merupakan
representasi dari madrasah yang sedang berbenah menuju pendidikan modern,
sehingga sangat terbuka terhadap inovasi pembelajaran.
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti
empiris dan peta jalan (roadmap) yang jelas bagi guru-guru Fikih di madrasah
untuk menerapkan PBL. Dengan adanya data yang konkret tentang
efektivitasnya, diharapkan dapat memicu motivasi dan memberikan
keyakinan bagi para guru untuk beralih dari metode konvensional menuju
metode yang lebih memberdayakan potensi berpikir siswa.5
Selain itu, penelitian ini juga memiliki signifikansi yang strategis bagi
pengembangan pendidikan Islam secara umum. Dengan membekali siswa
kemampuan berpikir kritis melalui pembelajaran Fikih, kita sedang
mempersiapkan generasi muslim yang tidak hanya taat beribadah secara ritual
tetapi juga mampu menghadapi tantangan zaman dengan pendekatan yang
ilmiah, logis, dan berlandaskan dalil yang sahih. Ini adalah upaya untuk
mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang hadir dengan solusi,
bukan dengan doktrin yang kaku.
Berdasarkan uraian panjang lebar di atas, peneliti merasa terdorong
dan tertantang untuk secara sistematis dan ilmiah mengkaji efektivitas Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Fikih. Oleh karena itu,
penelitian dengan judul “Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Mata
Pelajaran Fikih di MTs Darul Falah Kota Batam” ini diajukan untuk diteliti.

5
Howard S. Barrows, “Problem-Based Learning in Medicine and Beyond: A Brief
Overview,” New Directions for Teaching and Learning 1996, no. 68 (Winter 1996): hal. 5.

4
B. Identifikasi Masalah

Fenomena utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah


rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa MTs Darul Falah Kota Batam
pada mata pelajaran Fikih. Kemampuan ini merupakan kompetensi esensial di
abad ke-21 namun belum tumbuh optimal. Rendahnya kemampuan ini terlihat
dari ketidakmampuan siswa dalam menganalisis akar permasalahan dari
sebuah kasus fikih, kesulitan dalam menghubungkan berbagai konsep yang
terpisah, serta lemahnya kemampuan dalam mengevaluasi validitas sebuah
argumen atau pendapat ulama yang disampaikan.
Akar permasalahan dari rendahnya kemampuan berpikir kritis ini
diduga kuat bersumber dari paradigma dan metode pembelajaran yang masih
konvensional. Pembelajaran Fikih di kelas masih didominasi oleh
pendekatan teacher-centered, di mana guru menjadi satu-satunya sumber
pengetahuan (the only sage on the stage). Interaksi di dalam kelas cenderung
satu arah, dari guru kepada siswa, dengan sedikit sekali ruang bagi siswa
untuk bertanya, mempertanyakan, apalagi berdebat secara sehat untuk
mengasah logika dan argumentasi mereka.
Metode ceramah yang mendominasi proses pembelajaran ini
seringkali diiringi dengan tekanan untuk menghafal definisi, dalil, dan
rumusan hukum secara verbalistik. Penilaian hasil belajar pun lebih banyak
diarahkan pada aspek ingatan (recall) dan pemahaman dasar (basic
comprehension), dan jarang menyentuh aspek analisis, evaluasi, dan kreasi
sesuai taksonomi Bloom. Akibatnya, siswa terbiasa dengan pola pikir yang
mencari satu jawaban "benar" yang sudah ditentukan, daripada membangun
pemahaman dan kesimpulan mereka sendiri melalui proses bernalar.
Pembelajaran Fikih juga cenderung terisolasi dari konteks kehidupan
nyata siswa. Materi diajarkan sebagai body of knowledge yang abstrak dan
terpisah dari realitas sosial, ekonomi, dan teknologi yang dihadapi siswa
sehari-hari. Siswa kesulitan melihat relevansi materi Fikih dengan
problematika aktual, seperti bagaimana hukum jual beli online, investasi
syariah, atau menyikapi perbedaan pendapat di media sosial. Keterpisahan ini
membuat pembelajaran terasa tidak bermakna dan tidak memicu

5
keingintahuan intelektual untuk berpikir lebih kritis.
Di sisi lain, terdapat keterbatasan dalam hal variasi dan inovasi model
pembelajaran yang dikuasai dan diterapkan oleh guru. Banyak guru yang
masih nyaman dengan metode lama karena sudah terbiasa dan dianggap lebih
mudah dalam persiapan dan pelaksanaannya. Minimnya pelatihan dan
pendampingan tentang model-model pembelajaran inovatif seperti PBL
menjadi faktor penghambat utama bagi guru untuk keluar dari zona nyaman
dan mencoba pendekatan yang lebih menantang namun berpotensi lebih
efektif.
Keterbatasan infrastruktur pendukung, seperti akses internet yang
lambat atau jumlah perangkat teknologi yang terbatas, kadang menjadi alasan
untuk tidak mencoba model pembelajaran yang melibatkan teknologi.
Namun, esensi dari PBL sebenarnya tidak selalu bergantung pada teknologi
canggih, melainkan pada perancangan masalah yang baik dan kemampuan
guru memfasilitasi proses inquiri. Persepsi yang keliru tentang kompleksitas
PBL ini seringkali membuat guru enggan untuk mencobanya.
Dari sisi siswa, rendahnya kemampuan berpikir kritis juga
dipengaruhi oleh kebiasaan belajar yang pasif dan ketergantungan yang tinggi
pada guru. Budaya menunggu informasi dari guru (bukannya aktif mencari
pengetahuan), telah mengakar. Mindset ini diperkuat oleh sistem
pembelajaran yang selama ini tidak memberikan ruang bagi mereka untuk
mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab atas proses belajarnya
sendiri.
Terdapat kesenjangan antara harapan kurikulum, yang menekankan
keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, dengan evaluasi pembelajaran
yang dilakukan. Soal-soal ujian seringkali masih berkutat pada level kognitif
rendah (C1-C3), sehingga tidak "memaksa" guru untuk mengajarkan dan
melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi (C4-C6) kepada siswanya.
Ketidakselarasan antara tujuan kurikulum dan instrumen penilaian ini
memperparah masalah.6
Permasalahan ini semakin kompleks dengan karakteristik materi Fikih

6
T. Nurrita, “Pengembangan Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa,” Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Quran, Hadist, Syari'ah dan Tarbiyah 3, no. 1 (Maret 2018): hal. 174.

6
itu sendiri yang sarat dengan nuansa, perbedaan pendapat (ikhtilaf), dan
memerlukan pemahaman kontekstual. Tanpa kemampuan berpikir kritis,
siswa akan cenderung bersikap hitam-putih dalam menyikapi perbedaan
pendapat, atau justru menjadi bingung dan skeptis. Pembelajaran yang hanya
menyajikan satu pendapat tanpa melatih siswa menganalisis alasan di balik
perbedaan tersebut justru dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis
mereka.
Berdasarkan identifikasi mendalam terhadap berbagai lapisan
permasalahan di atas, maka fokus penelitian ini adalah menguji apakah Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat menjadi solusi intervensi
yang efektif untuk memecahkan masalah rendahnya kemampuan berpikir
kritis siswa, sekaligus mengatasi akar permasalahan berupa metode
pembelajaran yang monoton, tidak kontekstual, dan tidak memberdayakan
potensi nalar siswa.7

C. Batasan Penelitian

Agar penelitian ini lebih fokus, terarah, dan dapat diukur secara
komprehensif, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada hal-hal berikut:
1. Variabel Penelitian:
a. Variabel Bebas (Independent Variable) dalam penelitian ini
adalah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Penerapan PBL dibatasi pada penggunaan sintaks atau tahapan
standar (orientasi masalah, organisasi belajar, penyelidikan mandiri,
pengembangan solusi, dan evaluasi) yang diterapkan secara penuh
dalam proses pembelajaran.
b. Variabel Terikat (Dependent Variable) dalam penelitian ini
adalah Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Aspek kemampuan
berpikir kritis yang diukur dibatasi pada lima indikator inti: (1)
Merumuskan Masalah, (2) Menganalisis Argumen/Dalil, (3)
Mengevaluasi Bukti, (4) Membuat Inferensi/Kesimpulan, dan (5)
Memecahkan Masalah.

7
Howard S. Barrows, “Problem-Based Learning in Medicine and Beyond: A Brief
Overview,” New Directions for Teaching and Learning 1996, no. 68 (Winter 1996): hal. 5.

7
2. Subjek Penelitian:
a. Penelitian ini akan dilaksanakan pada siswa kelas VIII MTs Darul
Falah Kota Batam pada Semester Genap Tahun Ajaran 2023/2024.
Pemilihan kelas VIII didasarkan pada pertimbangan kematangan
kognitif siswa yang sudah memadai untuk menerima tantangan
berpikir kritis dan kesesuaian materi Fikih yang diajarkan.
3. Lokasi dan Waktu Penelitian:
a. Penelitian terbatas dilaksanakan di MTs Darul Falah Kota Batam.
Penelitian tidak membandingkan dengan madrasah lain, sehingga
temuan penelitian ini bersifat kontekstual untuk kondisi MTs Darul
Falah.
4. Materi Pembelajaran:
a. Penerapan Model PBL dibatasi pada materi Fikih Bab "Zakat".
Pemilihan materi Zakat dikarenakan materinya yang kaya dengan
masalah kontekstual dan kontemporer (misal: zakat profesi, zakat
saham, penghitungan nisab digital), sangat relevan dengan
karakteristik PBL yang berbasis masalah autentik, dan memiliki
cakupan dalil serta argumen ulama yang dapat dikaji secara kritis
oleh siswa.
5. Aspek Kemampuan Berpikir Kritis yang Diukur:
a. Meskipun kemampuan berpikir kritis memiliki cakupan yang luas,
penelitian ini secara spesifik membatasi pengukurannya pada aspek
kognitif yang terukur melalui kinerja siswa dalam tes tertulis dan
observasi diskusi. Aspek afektif seperti disposisi berpikir kritis
(curiosity, open-mindedness) tidak menjadi fokus utama pengukuran
dalam penelitian ini.8
6. Implementasi Model PBL:
a. Penelitian ini membatasi desain PBL yang digunakan adalah model
baku (standard PBL model) dan tidak membandingkannya dengan
varian PBL lainnya (seperti PjBL atau Case-Based Learning).
Perbandingan yang dilakukan adalah antara kelas yang
menggunakan PBL dengan kelas yang menggunakan pembelajaran

8
T. Nurrita, “Pengembangan Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa,” Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Quran, Hadist, Syari'ah dan Tarbiyah 3, no. 1 (Maret 2018): hal. 174.
8
konvensional (ceramah dan tanya jawab) yang selama ini
diterapkan.9
7. Instrumen dan Metode Pengumpulan Data:
a. Data kuantitatif untuk kemampuan berpikir kritis dibatasi untuk
diukur menggunakan soal tes esai berbasis kasus yang disusun
peneliti berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Data kualitatif
untuk mendukung respon siswa dan keterlaksanaan PBL dibatasi
pada lembar observasi dan angket respon siswa. Wawancara
mungkin dilakukan tetapi hanya sebagai pendalaman data yang
terbatas.
8. Jangka Waktu Penelitian:
a. Intervensi penerapan Model PBL dibatasi untuk dilaksanakan
dalam satu siklus pembelajaran lengkap untuk materi Zakat,
yang diperkirakan berlangsung selama 4-6 pertemuan. Efektivitas
diukur berdasarkan perubahan yang terjadi dalam jangka waktu
tersebut.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah


diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana deskripsi penerapan sintaks Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) pada materi Zakat di kelas VIII MTs Darul
Falah Kota Batam?
2. Seberapa signifikan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa
antara kelas yang menggunakan Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) dan kelas yang menggunakan pembelajaran
konvensional pada mata pelajaran Fikih di MTs Darul Falah Kota
Batam?
3. Bagaimana respon dan keterlibatan (student engagement) siswa selama
mengikuti proses pembelajaran Fikih dengan menggunakan Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)?

9
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hal. 45.
9
E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan secara komprehensif keterlaksanaan sintaks
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Zakat
di kelas VIII MTs Darul Falah Kota Batam.
2. Untuk menganalisis signifikansi peningkatan kemampuan berpikir kritis
siswa antara kelas yang menggunakan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) dan kelas yang menggunakan pembelajaran
konvensional pada mata pelajaran Fikih di MTs Darul Falah Kota
Batam.
3. Untuk mengetahui dan menginterpretasikan respon serta tingkat
keterlibatan (student engagement) siswa selama mengikuti proses
pembelajaran Fikih dengan menggunakan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL).

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris
yang signifikan bagi pengembangan ilmu Pendidikan Agama Islam,
khususnya dalam bidang metodologi pembelajaran. Temuan penelitian
ini dapat menjadi bukti pengujian yang memperkuat validitas teori
Konstruktivisme dan teori Berpikir Kritis ketika diterapkan dalam
konteks pembelajaran Fikih di lingkungan madrasah Indonesia.
Hasilnya dapat menjawab apakah prinsip-prinsip PBL yang berasal dari
dunia pendidikan kedokteran dan sains tetap efektif dan dapat diadaptasi
untuk mata pelajaran yang sarat nilai dan norma.10

Selain itu, penelitian ini berpotensi mengisi celah literatur


(research gap) mengenai integrasi model pembelajaran inovatif dalam
ekosistem pendidikan Islam yang seringkali dianggap konservatif.
Dengan demikian, penelitian ini dapat membentuk kerangka teoritis
10
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi (Jakarta:
Rineka Cipta, 2019), hal. 203.

10
baru atau memodifikasi model PBL yang sudah ada sehingga lebih
kontekstual dengan karakteristik pembelajaran agama, menuju
terciptanya sebuah model hybrid yang memadukan kekuatan tradisi
pesantren dengan inovasi pedagogis modern.

2. Manfaat Praktis

Bagi Guru dan Tenaga Pendidik, penelitian ini menyajikan


sebuah model alternatif yang terbukti secara empiris dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Guru dapat
mengadopsi dan mengadaptasi langkah-langkah PBL dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mereka, sehingga meningkatkan
variasi mengajar dan kompetensi profesional. Dampaknya, tercipta
suasana belajar Fikih yang lebih dinamis, interaktif, dan menantang,
yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pembelajaran secara
keseluruhan.

Bagi Siswa, penerapan PBL diharapkan dapat secara langsung


mengatasi masalah rendahnya minat dan kemampuan berpikir kritis.
Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena terkait dengan masalah
nyata, mendorong rasa ingin tahu, dan melatih kemandirian belajar.
Bagi Madrasah dan Pimpinan, hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan kebijakan, seperti
menyelenggarakan pelatihan guru berfokus pada HOTS dan model
inovatif, serta mendorong budaya penelitian tindakan kelas (classroom
action research) untuk perbaikan pembelajaran berkelanjutan.

11
G. Definisi Operasional Variabel

1. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) (Variabel


Bebas/X)
a. Definisi Operasional: Suatu pendekatan pembelajaran inovatif yang
menggunakan masalah kontekstual dan autentik dari dunia nyata
(dalam hal ini terkait materi Fikih Bab Zakat) sebagai pemicu dan
fondasi bagi proses belajar siswa. Model ini dilaksanakan melalui
sintaks/tahapan sistematis: (1) Orientasi siswa pada masalah; (2)
Mengorganisasikan siswa untuk belajar; (3) Membimbing
penyelidikan individu maupun kelompok; (4) Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya; (5) Menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah.
b. Indikator: (a) Kualitas masalah autentik yang diberikan; (b)
Keterlaksanaan setiap tahapan sintaks PBL di kelas; (c) Peran guru
sebagai fasilitator yang efektif; (d) Aktivitas siswa dalam diskusi,
penyelidikan, dan presentasi.
c. Alat Ukur: Lembar Observasi Keterlaksanaan PBL, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Pedoman Wawancara dengan
Guru.

2. Kemampuan Berpikir Kritis (Variabel Terikat/Y)

a. Definisi Operasional: Kemampuan kognitif tingkat tinggi siswa


dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi terkait
masalah fikih untuk merumuskan kesimpulan dan solusi yang logis
dan berdasar. Kemampuan ini diukur melalui lima indikator inti: (1)
Kemampuan merumuskan masalah inti (problem identification); (2)
Kemampuan menganalisis argumen dan dalil (analyzing arguments);
(3) Kemampuan mengevaluasi bukti dan sumber (evaluating
evidence); (4) Kemampuan membuat inferensi dan kesimpulan
(making inferences); (5) Kemampuan memecahkan masalah
(problem solving).
b. Indikator: Skor yang diperoleh siswa berdasarkan lima indikator di

12
atas.
c. Alat Ukur: Tes Esai Berbasis Kasus (Problem) yang disusun
berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis, Lembar Observasi
Aktivitas Diskusi, dan Rubrik Penilaian (Scoring Rubric) yang
terperinci.

13
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2019. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik,


Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Barrows, Howard S. 1996. "Problem-Based Learning in Medicine and


Beyond: A Brief Overview." New Directions for Teaching and
Learning 1996, no. 68 (Winter): 3-12.

Dewey, John. 1938. Experience and Education. New York: Kappa Delta Pi.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik


Indonesia. 2022. Panduan Pengembangan Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.

Nurrita, T. 2018. "Pengembangan Media Pembelajaran untuk Meningkatkan


Hasil Belajar Siswa." Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Quran, Hadist,
Syari'ah dan Tarbiyah 3, no. 1 (Maret): 171-190.

Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slameto. 2015. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

14

Anda mungkin juga menyukai