PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN
MURABAHAH PADA KSU BMT AN – NUR
MUHAMMADIYAH CIMANGGU
CILACAP
SKRIPSI
TOTO HARYANTO
NIM. 08.2.017
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
CILACAP
2014
i
PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN
MURABAHAH PADA KSU BMT AN – NUR
MUHAMMADIYAH CIMANGGU
CILACAP
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Pada Program Studi Akuntansi
TOTO HARYANTO
NIM. 08.2.017
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
CILACAP
2014
ii
PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN
MURABAHAH PADA KSU BMT AN – NUR
MUHAMMADIYAH CIMANGGU
CILACAP
SKRIPSI
Oleh :
TOTO HARYANTO
NIM. 08.2.017
Telah diseminarkan dalam konsorsium di depan tim penguji
Pada tanggal : 30 Oktober 2014
1. Mustabihatun Umriyah, [Link], [Link], …..……………………………..
Pembimbing I
2. Hj. Sutarti, S.E, [Link],Ak ..………………………………..
Pembimbing II
3. Muslim Fikri, S.E, [Link] …………………………………..
Penelaah
Cilacap, Oktober 2014
PROGRAM STUDI AKUNTANSI STRATA 1
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH CILACAP
Ketua, Ketua,
STIE Muhammadiyah Cilacap Program Studi Akuntansi
Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, M.H Tri Nurindahyanti, S,E, [Link],Ak
NBM. 255763 NIP. 19750523 200501 2 001
iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Toto Haryanto
NIM : 08.2.017
Program Studi : Akuntansi
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil
karya saya, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain
yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil
plagiasi, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku atas perbuatan tersebut.
Cilacap, Oktober 2014
Yang membuat pernyataan,
Toto Haryanto
NIM. 08.2.017
iv
MOTTO
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali
mereka sendiri yang mngubah keadaan jiwanya’
( Qs. Ar Ra’d 13 : 11 )
sabda Nabi Muhammad SAW: "Sebaik-baik di antara kamu adalah yang
paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap
keluargaku."
“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada
pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak
dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka”
(HR. Muslim)
“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan Hari Esok harus lebih baik
dari hari ini”
“Orang yang mengetahui keseimbangan hidup Akan mengenal
KEBAHAGIAAN, Siapa yang menempuh jalan kesederhanan
maka ia dapat meraih KEMENANGAN, dan siapa yang mengikuti JALAN
YANG MUDAH Niscaya dia akan MERAIH KEBERUNTUNGAN”
“Tiga kunci kesuksesan yaitu man jadda wa jadda (Siapa yang
bersungguh-sungguh akan berhasil, man shobaro zarifo (Siapa yang
bersabar akan beruntung), man saro darbi ala washola (Siapa yang
berjalan di jalur-Nya akan sampai )”. Al Hadist.
“Banyak kegagalan hidup ini dikarenakan orang-orang tidak
Menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka
Menyerah (Thomas Alva Edison)
v
PERSEMBAHAN
Tanpa mengurangi rasa syukurku kepada Alloh SWT, Skripsi ini
Kupersembahkan untuk :
Perempuan yang terayu dan terkuat yang mengajarkanku tentang Cinta,
kasih sayang dan manis pahitnya kehidupan, yang Do’a dan peluhnya
membalut tiap jengkal nafasku, dan perempuan itu kupanggil IBU ….
Istriku Tersayang : Rohimatun Hasanah (atun)….
“Yang selalu mewarnai hari-hariku, yang selalu ada dalam hatiku, yang
selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya, dan selalu
memberikan dorongan baik moril maupun materil ….”
Sahabat – sahabatku yang selalu ada di sekitarku, baik teman kantor, main
teman seperjuangan dan teman kuliah, terima kasih untuk semua keikhlasan
kalian dalam perjuangan ini.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas
rahmat dan karunianya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
yang berjudul “Penerapan Akuntansi Pembiayaan Murabahah pada KSU
BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap”. Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh Muhammad SAW,
keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakan
dan mengikuti sunnah-sunnahnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak mungkin
terselesaikan tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu melalui pengantar ini penulis secara khusus mengucapkan rasa
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. H. Syamsulhadi Irsyad, M.H Ketua STIE Muhammadiyah Cilacap.
2. Ibu Tri Nurindahyanti Yulian, [Link], [Link], Ak Ketua Prodi Akuntansi STIE
Muhammadiyah Cilacap.
3. Ibu Mustabihatun Umriyah, S.E, [Link] selaku dosen Pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan dengan penuh perhatian dan
bijaksana dalam penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Hj. Sutarti, S.E, [Link] selaku dosen Pembimbing II yang telah dengan
kesabaran melakukan koreksi dan memberikan bimbingan dalam penyusunan
skripsi ini.
vii
5. Bapak dan Ibuku tercinta, yang selalu mendo’akan, memberikan semangat
dan mendukung penulis dengan penuh kasih sayang. Semoga ini bisa menjadi
persembahan yang terbaik bagi keluarga.
6. Istriku tercinta, Rohimatun Hasanah, terima kasih atas do’a, pemikiran,
motivasi dan saran yang telah diberikan, cintamu hiasi jiwaku dan restumu
hiasi kehidupanku.
7. Anakku, Zahra Almaira Rahmani yang lucu dan manis, terima kasih sayang
untuk senyuman manisnya.
8. Kakak-kakaku, Koharudin dan Cahyono, terima kasih motivasi dan
dukungannya.
9. Sahabat-sahabatku seperjuangan, terima kasih atas perjuangan dan do’anya
dalam keikhlasannya.
10. Teman-teman seangkatan S1 Akuntansi 2008, terima kasih atas kebersamaan,
do’a, semangat, bantuan, saran dan kritik dalam penulisan skripsi. Semoga
Allah SWT membalas semua kebaikan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Cilacap, Oktober 2014
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................ iv
HALAMAN MOTTO ................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... vi
KATA PENGANTAR ................................................................................. vii
DAFTAR ISI ............................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiv
RINGKASAN ............................................................................................... xv
SUMMARY ................................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang ......................................................................... 1
B Rumusan Masalah ..................................................................... 5
C Tujuan Penelitian ....................................................................... 6
D Manfaat Penelitian ................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A Tinjauan Pustaka ....................................................................... 8
ix
.1. Pengertian dan Konsep Akuntansi ......................................... 8
2. Pengertian dan Konsep Akuntansi Syariah ........................... 15
3. Biaya .................................................................................... 19
4. Pembiayaan Murabahah ....................................................... 21
5. Pengakuan dan Pengukuran ................................................. 30
6. Pembiayaan Murabahah dalam Persepsi Fatwa DSN ............ 42
B Penelitian Terdahulu ................................................................. 46
C Kerangka Pemikiran .................................................................. 48
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 50
B Jenis Penelitian .......................................................................... 50
C Jenis dan Sumber Data ............................................................... 50
D Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 51
E Populasi, Sampel dan Sampling ................................................. 54
F Variabel dan Definisi Operasional ............................................. 54
G Teknik Analisis Data ................................................................. 56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A Hasil Peneiltian ......................................................................... 58
1. Sejarah Pendirian KSU BMT An Nur Muhammadiyah ....... 58
2. Visi Misi KSU BMT An Nur Muhammadiyah .................... 59
3. Struktur Organisasi ............................................................ 60
4. Kepengurusan KSU BMT An Nur Muhammadiyah ........... 76
x
5. Sususnan Kepengurusan, Pengawas, Manajer dan Karyawan 77
6. Permodalan, Operasional dan Sarana Kantor ..................... 78
7. Produk dan Layanan KSU BMT An Nur Muhammadiyah .. 80
B Pembahasan .............................................................................. 81
1. Penerapan Akuntansi Pembiayaan Murabahah .................... 81
2. Ilustrasi Penerapan Pembiayaan Murabahah ...................... 83
2. Perhitungan Pembiyaan Murabahah ................................... 85
4. Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah ........... 86
a) Pengakuan Pembiayaan Murabahah ................................ 86
b) Pengukuran Pembiayaan Murabahah .............................. 88
4. Metode Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah ...... 90
5. Penyajian dan Pengungkapan pembiayaan Murabahah ........ 90
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A Kesimpulan ................................................................................. 93
B Saran ........................................................................................... 94
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 95
LAMPIRAN-LAMPIRAN ........................................................................... 97
xi
DAFTAR TABEL
1. Variabel dan Operasional ................................................................... 55
2. Daftar angsuran pembiayaan murabahah ..................................... ......... 101
3. Laporan Neraca KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ......... 102
4. Laporan Keuangan KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ... . 103
xii
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka pemikiran penerapan pembiayaan murabahah di KSU BMT An
Nur Muhammadiyah Cimanggu ............................................................ 49
2. Struktur Organisasi KSU BMT An Nur Muhammadiyah .................... 61
3. Pembiayaan murabahah dengan pesanan ..................................... ......... 83
4. Pembiayaan murabahah bil wakalah ........................................... ......... 84
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Ikrar nasabah dalam pembiayaan murabahah ...................................... 97
2. Daftar angsuran (perhitungan) pembiayaan murabahah ............. .......... 101
3. Neraca KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu .......... ............. 102
4. Laporan Keuangan KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu .... 103
5. Formulir pendaftaran anggota pembiayaan ................................. ........... 105
6. Survei pembiayaan terhadap calon mitra .................................... .......... 106
7. Kuesioner penelitian .............................................................................. 107
xiv
RINGKASAN
Penelitian ini dengan judul ”Penerapan akuntansi pembiayaan murabahah
pada KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu”. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui penerapan akuntansi dalam pengakuan dan pengukuran
pembiayaan murabahah dan menganalisanya pada KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu sesuai dengan standar yang berlaku. Data analisis
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif, dimana
data-data yang berhasil dikumpulkan, diolah dan kemudian dianalisis, yang
merupakan sebuah cara atau langkah untuk mengolah data untuk memecahkan
masalah penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan,
bahwa KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ; (1) menerapkan akuntansi
pembiayaan murabahah yang operasionalnya sesuai dengan ketentuan yang
berlaku yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang
akuntansi murabahah. Dalam pelaksanaanya pembiayaan murabahah, melakukan
pembiayaan dengan akad murabahah pesanan dan pembiayaan dengan
menggunakan akad wakalah, (2) Pengakuan dan pengukuran pembiayaan
murabahah KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu sudah sesuai dengan
ketentuan PSAK dan 102. Namun ada yang kurang terletak pada transaksi dan
pengakuan pembiayaan murabahahnya lebih mendominasi pada sisi akuntansi
sebagai penjual. Metode pengakuan dan pengukuran pembiayaan murabahah
menggunakan basis akrual yaitu pendapatan atau biaya pada koperasi syariah
diakui dan dicatat di depan meskipun belum mengeluarkan atau menerima uang
(Cash). (3) Pengukuran pembiayaan murabahah diukur dengan historical cost atau
sebesar nilai wajar yang terealisasi yang diangsur oleh nasabah pada saat pesanan
yang bersifat mengikat, untuk pesanan murabahah yang bersifat tidak mengikat
diukur dengan nilai setara kas dan sudah memakai sistem khusus koperasi
berbasis syariah yang memudahkan dalam operasional dan penyusunan laporan
keuangan.
Berdasarkan penelitian ini, maka disarankan kepada KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu hendaknya ; (1) Untuk mengadakan evaluasi intern di
dalam penerapan PSAK No.102 yang mencakup pengakuan dan pengukuran,
(2) Seharusnya perlakuan transaksi pembiayaan murabahah dapat disesuaikan
dengan penamaan rekening yang sesuai dengan yang terdapat pada PSAK No 102,
(3) dalam pelaporan keuangan seharusnya menerapkan pelaporan keuangan yang
sesuai dengan PSAK No.101, (4) Untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan
lebih banyak literatur yang membahas tentang akuntansi syariah terutama dalam
bidang perkoperasian.
xv
SUMMARY
This study entitled " Application of murabaha financing accounting at
KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ". The purpose of this study is to
investigate the application of accounting in the recognition and measurement of
murabaha financing and analyze the KSU BMT An Nur Muhammadiyah
Cimanggu in accordance with applicable standards . The data analysis used in this
study using qualitative analysis , in which data are collected, processed and
analyzed, which is a means or step for data processing to solve research problems.
Based on the results of research conducted can be concluded, that the
KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ; (1) applying the accounting
murabaha financing operations in accordance with the applicable provisions of the
Statements of Financial Accounting Standards ( PSAK ) No. 102 on accounting
murabaha . In the implementation of financing murabahah contract with the orders
and finance by using wakalah, (2) Recognition and measurement of murabaha
financing KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu is in conformity with
the provisions of PSAK 102. However , and there is a lack lies in financing
transactions and recognition murabahah more dominating on the accounting side
as a seller. Recognition and measurement methods murabahah financing an
accrual basis income or expense in the coQoperative sharia recognized and
recorded in front though has not issued or received money (Cash ). (3)
Measurement of murabahah financing is measured by historical cost or at fair
value realized that repaid by the customer at time of order which is binding, to
order murabahah which are not binding measured by the value of cash equivalents
and had to wear a special system of sharia -based cooperative that facilitates the
operations and the preparation of financial statements .
Based on this study, it is suggested to KSU BMT An Nur
Muhammadiyah should Cimanggu ; (1) To conduct an internal evaluation in the
implementation of PSAK 102 that includes the recognition and measurement, (2)
Should the treatment of murabaha financing transaction may be adjusted to
conform with the naming of accounts contained in PSAK No. 102, ( 3 ) the
financial reporting should apply the financial reporting in accordance with PSAK
No.101, (4) for further research in order to use more accounting literature that
discusses the sharia, especially in the field of cooperatives.
xvi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini lembaga keuangan berbasis syariah berkembang dalam
skala besar dengan menawarkan produk-produknya yang beraneka ragam
dengan istilah-istilah berbahasa Arab. Banyak masyarakat yang masih
bingung dengan istilah-istilah tersebut dan masih ragu apakah benar semua
produk tersebut adalah benar-benar jauh dari pelanggaran syariat ataukah
hanya rekayasa semata.
Indonesia, pada tahun 1997 terjadi krisis moneter yang membuat
bank-bank konvensional saat itu mengalami kondisi yang tidak stabil, yang
berakibat pada liquidasi, kecuali perbankan yang menggunakan prinsip
syariah. Hal ini disebabkan oleh bank syariah tidak dibebani oleh nasabah
membayar bunga simpanannya, melainkan bank syariah hanya membayar
bagi hasil yang jumlahnya sesuai dengan tingkat keuntungan yang diperoleh
dalam sistem pengelolaan perbankan syariah.
Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, telah
lama mendambakan kehadiran sistem lembaga keuangan yang sesuai
tuntunan kebutuhan tidak sebatas finansial namun juga tuntunan
moralitasnya. Bagi kaum muslimin, kehadiran lembaga keuangan berbasis
syariah adalah dapat memenuhi kebutuhannya, namun bagi masyarakat lain
adalah sebagai sebuah alternatif lembaga jasa keuangan. Untuk mengayomi
kebutuhan warga masyarakat islam dimaksud, pihak pemerintah
2
mengusahakan berdiri suatu sistem perbankan yang sesuai syariah dalam
suatu peraturan perundang-undangan, yaitu Undang-Undang No. 7 Tahun
1992 tentang perbankan.
Untuk saat ini perbankan syariah di dunia mengacu pada Statement of
Financial Accounting (SFA) yang dikeluarkan oleh Financial Accounting
Standards Board (FASB). Lembaga ini adalah bagian dari Accounting and
Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI).
Sedangkan di Indonesia, pedoman akuntansi perbankan syariah, khususnya
akuntansi Murabahah harus mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan
Syariah (2007), yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
Nomor 102 tentang Akuntansi Murabahah. Selanjutnya pedoman ini
dijelaskan dengan adanya Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
(PAPSI) 2003 yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai standar
pengukurannya. Pedoman ini berisi semua hal terkait akuntansi perbankan
syariah. Salah satu diantaranya adalah panduan akuntansi produk-produk
perbankan syariah. Auditing Organization for Islamic Financial Institutions
(AAOIFI).
Koperasi syariah merupakan salah satu lembaga koperasi yang
beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai syariah memiliki tiga
azas yang melandasi praktek cara kerjanya, yaitu: azas kepercayaan, azas bagi
hasil, dan azas kekeluargaan. Konsep koperasi syariah dengan ketiga azas
tersebut adalah bagian integral dari keseluruhan sistem nilai (value system)
dalam Islam, sehingga memiliki potensi yang sangat besar untuk
mengembangkan rasa tanggung jawab sosial, keadilan sosial dan stabilitas
3
nasional yang merupakan syarat mutlak berseminya komitmen koperasi yang
mendukung program-program restrukturisasi bidang ekonomi.
Menurut Nurhayati dan Rahmaniyah (2008: 15) tujuan berdirinya
koperasi syariah adalah guna meningkatkan kualitas usaha ekonomi bagi
kesejahteraan anggota, yang meningkatkan ekonomi umat sebagai bagian dari
pembangunan ekonomi kerakyatan serta sudah seharusnya memanfaatkan dan
memperdayakan koperasi syariah sebagai lembaga yang menghimpun
masyarakat ekonomi lemah dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga
pemerintahan daerah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan lembaga
perbankan syariah, yang sedang berkembang saat ini di Indonesia dalam
sebuah bentuk kemitraan berupa pembinaan manajerial koperasi, bantuan
pengembangan perangkat dan sistem keuangan mikro, serta kerja sama
pendanaan dan pembiayaan. Semakin terbukanya peluang bagi
pengembangan koperasi syariah di Indonesia harus didukung oleh penerapan
konsep pembiayaan dan praktek akuntansi yang lebih mantap dalam kegiatan
operasional koperasi syariah.
Menurut Warsono (2011: 47) salah satu transaksi pembiayaan yang
kemungkinan besar diterapkan di masa kejayaan Islam adalah murabahah
(penjualan kembali dengan laba). Esensi transaksi murabahah adalah pembeli
dan penjual menetapkan harga kesepakatan berdasarkan harga perolehan
bersih (net cost) barang yang diperjual belikan ditambah dengan margin yang
disepakati. Koperasi melalui pembiayaan murabahah mulai
mempertimbangkan eksistensinya sebagai pihak perantara antara anggota
yang membutuhkan barang dan para supplier di luar koperasi yang memiliki
4
ataupun menghasilkan produk tersebut. Selanjutnya koperasi akan membeli
produk barang secara tunai dan menjualnya kembali kepada anggota yang
membutuhkannya dengan dasar beban yang ditangguhkan. Pembiayaan
murabahah membutuhkan kerangka akuntansi yang menyeluruh yang dapat
menghasilkan pengukuran akuntansi yang tepat dan sesuai sehingga dapat
mengkomunikasikan informasi akuntansi secara tepat waktu dengan kualitas
yang dapat diandalkan serta mengurangi adanya perbedaan perlakuan
akuntansi antara koperasi syariah yang satu dengan yang lain. Karena hal
tersebut akan berdampak dalam hal keadilan untuk menentukan laba bagi
para pembeli.
Menurut Warsono (2011: 59) salah satu masalah penting yang
dihadapi oleh koperasi syariah untuk pembiayaan murabahah adalah
pembagian laba bagi pembeli dan dari hasil beberapa laporan keuangan
koperasi syariah mengenai pengakuan dan pengukuran koperasi-koperasi
syariah mengakui bahwa pengakuan pendapatan dan biaya dalam
pembiayaan murabahah menggunakan basis akrual (accrual basis) yaitu
pendapatan atau biaya pada koperasi syariah di akui dan dicatat di depan
meskipun belum mengeluarkan atau menerima uang (cash). Situasi tersebut
memperlihatkan bahwa koperasi syariah ternyata sepenuhnya memakai satu
standart yang baku sebagai acuan dalam operasionalnya. Kebutuhan akan
penetapan dasar metode pengakuan dan pengukuran akuntansi, khususnya
untuk pembiayaan murabahah menjadi sangat penting dan harus disesuaikan
dengan ketentuan-ketentuan syariah.
5
Jika Baitul Maal wat Tamwil (BMT) memiliki sumber daya manusia
yang baik dan modal kerja yang cukup kita bisa lebih berharap kepada BMT
dengan kondisi seperti ini. Namun BMT dengan kondisi seperti ini pun tidak
selamanya terbebas dari masalah. BMT tumbuh menjadi lembaga keuangan
yang terus berkembang menjadi besar. Namun suatu saat BMT ini tersadar
ketika proses audit dilakukan. Ternyata angka-angka pada neraca tidak
memiliki data pendukung yang memadai. Terjadi banyak selisih data, yang
pada akhirnya menimbulkan biaya baru. BMT ini pun kesulitan melakukan
evaluasi terhadap kinerja keuangan, kinerja marketing dan resiko yang sedang
dihadapinya.
Banyak BMT besar yang runtuh karena hal ini. Akar masalah dari hal
tersebut adalah tidak adanya atau tidak dijalankannya akuntansi pembiayaan
murabahah sebagaimana mestinya yang seharusnya berpedoman pada
Pernyataan Standar Akuntansi keuangan (PSAK) Nomor 59 (102) tentang
perbankan syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah (PAPSI) 2003
yaitu panduan akuntansi produk-produk perbankan syariah. Untuk itu penulis
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penerapan akuntansi
pembiayaan murabahah ini, maka penulis melakukan penelitian dengan judul
“Penerapan Akuntansi Pembiayaan Murabahah pada KSU BMT An
Nur Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
6
1. Apakah penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT
An – Nur Muhammadiyah Cimanggu telah sesuai dengan standar yang
berlaku?
2. Bagaimana penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT
An Nur Muhammadiyah Cimanggu ?
3. Bagaimana penerapan pengakuan dan pengukuran akuntansi pembiayaan
murabahah di KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah :
1. Untuk mengetahui penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada
KSU BMT An Nur Muhammadiyah sesuai dengan standar yang berlaku.
2. Untuk menganalisis penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada
KSU BMT An – Nur Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap.
3. Untuk mengetahui penerapan akuntansi syariah dalam pengakuan dan
pengukuran pembiayaan murabahah pada KSU BMT An-Nur
Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu
pengetahuan dan menjadi referensi serta bahan untuk menambah
wawasan bagi pihak yang berkepentingan.
7
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan
pengetahuan tentang aplikasi pembiayaan murabahah terkait proses
dan penerapan akuntansinya serta membandingkan teori-teori yang
diperoleh selama kuliah dengan kenyataan yang dihadapi dilapangan.
Di samping itu, penelitian ini ditujukan untuk memenuhi salah satu
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi.
b. Bagi pihak perusahaan KSU BMT An – Nur Muhammadiyah
Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan
perbandingan atas produk yang telah dikeluarkan dan dijalankan
selama ini.
c. Bagi pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan diskusi
dan wacana informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan
d. Bagi STIE Muhammadiyah Cilacap
Dapat menambah pembendaharaan karya ilmiah Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Cilacap yang selanjutnya
digunakan sebagai bahan penelitian lebih lanjut.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian dan Konsep Akuntansi
a. Pengertian Akuntansi
Dalam dunia usaha, ilmu akuntansi memegang peranan yang sangat
penting dalam menjalankan operasi perusahaan tersebut, apabila ilmu
akuntansi pada perusahaan diterapkan dengan baik, maka perusahaan
dapat lebih profesional dan bijaksana dalam pengambilan keputusan agar
keputusan yang diambil benar-benar menunjang keberhasilan usaha.
Menurut Sugiarto dan Suwardjono (2006: 4) akuntansi dapat
didefinisikan dari dua segi yaitu: Pertama dari segi ilmu akuntansi yang
berarti keseluruhan pengetahuan yang bersangkutan dengan fungsi
menghasilkan informasi keuangan suatu unit organisasi kepada pihak yang
berkepentingan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. Kedua dari
segi proses atau kegiatannya akuntansi dapat diartikan sebagai kegiatan
pencatatan, penyortiran, penggolongan, pengikhtisaran, peringkasan dan
penyajian transaksi keuangan suatu unit organisasi dengan cara tertentu
(Sugiarto, 2006:4).
Pengertian akuntansi menurut Accounting Principle Board (APB)
Statement no. 4 dalam Sofyan Syafri Harahap sebagai berikut : Akuntansi
adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi
kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi
9
yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan
ekonomi sebagai dasar memilih diantara beberapa alternatif (Harahap,
2005:4).
Dari definisi di atas akuntansi mengandung dua hal :
1) Akuntansi memberikan jasa, maksudnya kita harus memanfaatkan
sumber-sumber yang ada dengan bijaksana sehingga kita dapat
memaksimalkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, semakin baik
sistem akuntansi yang mengukur dan melaporkan biaya penggunaan
sumber daya tersebut, maka akan semakin baik juga keputusan yang
di ambil untuk mengalokasikannya.
2) Akuntansi menyediakan informasi kauangan yang bersifat kuantitatif
yang di gunakan dalam kaitannya dengan evaluasi kualitatif dalam
membuat perhitungan. Sehingga informasi masa lalu yang disediakan
akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi masa
mendatang.
Pada umumnya tujuan akuntansi adalah menyajikan informasi
ekonomi dari satu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Sedangkan hasil dari proses akuntansi yang berbentuk
laporan keuangan yang diharapkan dapat membantu bagi pemakai
informasi keuangan.
b. Konsep Dasar Akuntansi
Dalam penerapan akuntansi ada hal-hal yang perlu diperhatikan
mengenai konsep-konsep dasar akuntansi, yaitu sebagai berikut (Sugiarto
dan Suwardjono, 2006: 54) :
10
1) Kesatuan usaha (business entity).
Konsep kesatuan usaha yaitu sebagai berikut: konsep yang
mengatakan bahwa dari akuntansi unit usaha atau perusahaan harus
dianggap sebagai orang atau badan atau organisasi yang berdiri sendiri,
bertindak atas namanya sendiri, dan terpisah dari pemilik.
2) Dasar-Dasar Pencatatan
Terdapat dua macam dasar pencatatan dalam akuntansi yang
dipakai dalam mencatat transaksi yaitu:
a) Dasar kas, yaitu suatu dasar akuntansi yang mengakui pendapatan
dan melaporkannya pada saat kas diterima, serta mengakui biaya
atau beban dan mengurangkannya dari pendapatan pada saat
pengeluaran kas untuk membayar biaya atau beban tersebut
dilakukan dalam suatu periode tertentu.
b) Dasar akrual, yaitu mencatat setiap transaksi yang terjadi tanpa
memperhatikan kas yang sudah diterima atau belum.
3) Konsep Periode Waktu
Yaitu suatu konsep yang menyatakan bahwa akuntansi
menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan
menilai kemajuan perusahaan.
4) Unit Moneter
Unit moneter digunakan sebagai alat pengukur suatu objek atau
aktivitas perusahaan dan menganggap bahwa nilai uang adalah stabil
dari waktu ke waktu.
11
5) Transaksi
Yaitu kejadian atau peristiwa didalam perusahaan yang dapat
menyebabkan perubahan pada jumlah harta, hutang dan modal.
6) Kelangsungan Usaha (Going Concern)
Asumsi akuntansi bahwa perusahaan akan berjalan terus sampai
pada masa yang tidak dapat ditetapkan atau cukup lama untuk
melaksanakan rencananya.
7) Konsep Penandingan (Matching Concept)
Menurut C. Rollin Niswonger, Carl S. Warren, James M. Reeve,
Philip E. Fess, Matching Concept, didefinisikan sebagai berikut :
Konsep akuntansi yang mendukung pelaporan pendapatan dan beban
terkait pada periode yang sama.
c. Penggunaan Akuntansi
Penggunaan akuntansi adalah sebagai berikut
([Link]) :
1) Kegunaan Akuntansi bagi Manajemen
a) Memberikan suatu kriteria tertulis tentang transaksi finansial
perusahaan.
b) Memberikan laporan finasial secara periodik untuk meringkas hasil
perasi dan kondisi keuangan perusahaan.
c) Memberikan laporan secara periodik untuk meringkas dan membantu
pengawasan biaya produksi.
d) Memberikan data finansial untuk pengambilan keputusan baik secara
riil maupun proyeksi.
12
e) Dapat digunakan untuk pemeriksaan intern dengan memberikan data
financial yang dapat dipercaya.
f) Memberikan data untuk menentukan pajak pendapatan, pajak
kekayaan, dan laporan lain yang diperlukan pemerintah.
2) Kegunaan Akuntansi bagi Investor dan Kreditur.
Bagi Investor laporan keuangan berguna untuk mengetahui
sampai seberapa jauh perkembangan perusahaan beserta kondisi
keuangannya. Dengan mempelajari laporan keuangan periodik tersebut,
investor dapat menghindari adanya kemungkinan keliru dalam
investasinya.
Bagi kreditur laporan keuangan berguna untuk mencari
pinjaman, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh
kemampuan keuangan perusahaan sehingga dalam jangka waktu
tertentu dapat mengembalikan pinjamannya, dan dapat membayar
bunga secara rutin.
3) Kegunaan Akuntansi bagi Pemerintah
Bagi Pemerintah akuntansi berguna untuk menentukan pajak
suatu perusahaan. Akuntansi Pemerintah adalah instansi-instansi
pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
d. Macam-Macam Akuntansi
Macam-macam akuntansi ( [Link]/2012/11/[Link]):
1) Akuntansi Keuangan (Financial Accounting)
Akuntansi keuangan biasanya menyajikan suatu informasi
keuangan yang diperlukan dalam pengambilan keputusan bagi
13
pimpinan suatu organisasi atau perusahaan, owner, kreditur,
pemerintah, dan masyarakat.
2) Akuntansi Manajemen (Management Accounting)
Akuntansi manajemen menggunakan data historis ataupun suatu
data taksiran yang membantu manajemen dalam operasi sehari-hari
serta perencanaan mendatang. Tujuan utama dari akuntansi
manajemen adalah memberikan informasi pengambilan keputusan
yang relevan kepada pihak intern perusahaan.
3) Akuntansi Biaya (Cost Accounting)
Akuntansi biaya lebih menekankan pada pengendalian maupun
penetapan biaya, terutama yang berhubungan dengan biaya produksi.
Selanjutnya akuntansi biaya membantu perusahaan dalam
perencanaan dan pengawasan biaya pada aktivitas perusahaan.
4) Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting)
Akuntansi anggaran merupakan kombinasi kegiatan
perencanaan dengan pengendalian pengoperasian dimasa depan.
Akuntansi anggaran memberikan suatu rencana pengoperasian
keuangan untuk suatu periode tertentu, melalui pencatatan dan
meringkas data pelaksanaan dari pengoperasian tersebut. Selain itu,
akuntansi anggaran menganalisa data perbandingan dari operasi
sebenarnya dengan rencana yang telah ditetapkan.
5) Akuntansi Pajak (Tax Accounting)
Akuntansi Perpajakan meliputi penyusunan surat pemberitahuan
pajak (SPT), dan mempertimbangkan konsekuensi perpajakan dari
14
transaksi usaha yang direncanakan atau mencari alternative
pelaksanaan terbaik.
6) Akuntansi Pemerintah (Governmental Accounting)
Akuntansi pemerintah termasuk pada akuntansi lembaga-
lembaga nonprofit atau institusional accounting, mengkhususkan pada
masalah pencatatan pelaporan transaksi dari unit-unit pemerintah dan
organisasi nonprofit lainnya.
7) Akuntansi Sosial (Social Accounting)
Pada sekarang ini semakin meningkatnya permintaan terhadap
jasa profesi untuk mengukur biaya hidup dan manfaat sosial, yang
sebelumnya tidak dapat diukur. Akuntansi social menyangkut masalah
penggunaan dana-dana kesejahteraan sosial dalam masyarakat.
8) Akuntansi Internasional (International Accounting)
Akuntansi Internasional berhubungan dengan perdagangan
internasional dari perusahaan-perusahaan multinasional. Biasanya
berhubungan dengan bea cukai, bidang hukum, perpajakan dari tiap-
tiap Negara.
9) Akuntansi Pendidikan (Educational Accounting)
Akuntansi pendidikan menyangkut pendidikan akuntansi.
Seperti mengajar, penelitian, pemeriksaan akuntansi, serta lainnya
yang berhubungan dengan pendidikan akuntansi.
10) Akuntansi Syari‟ah (Syari’ah Accounting)
Merupakan Proses akuntansi atas transaksi-transaksi yang sesuai
dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
15
11) Auditing
Auditing menyangkut suatu pemeriksaan pada catatan-catatan
akuntansi secara bebas. Pemeriksaan akuntansi adalah jasa yang biasa
diberikan oleh akuntan publik. Biasanya akuntan mengadakan
pemeriksaan terhadap catatan-catatan yang mendukung laporan
keuangan suatu organisasi atau perusahaan.
12) Sistem Akuntansi (Accounting System)
Sistem akuntansi merupakan bidang khusus yang menangani
perencanaan dan penerapan prosedur untuk mengumpulkan dan
melaporkan data keuangan. Seorang akuntan system harus
merencanakan suatu sestem yang memiliki unsure memeriksa dan
mencocokan (checks and balances) untuk dapat menjaga harta
perusahaan, dan mempunyai arus informasi yang efisien dan
bermanfaat bagi manajemen. Ia juga memahami penggunaan dan
kegunaan dari jenis-jenis alat pemrosesan data (data processing
equipment).
2. Pengertian dan Konsep Akuntansi Syariah
a. Pengertian Akuntansi Syariah
Akuntansi syariah adalah perhitungan periodik antara biaya dan
hasil. Konsep ini merupakan inti dari teori akuntansi dan merupakan ukuran
yang dijadikan sebagai rujukan dalam mempelajari akuntansi (Harahap,
1990: 13).
16
Akuntansi syariah menurut Accounting Principel Board (APB)
(dalam Muhammad, 2005: 10) adalah suatu kegiatan jasa yang
memberikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang,
mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
pengambilan keputusan ekonomi, yang digunakan dalam memilih diantara
beberapa alternatif.
Akuntansi syariah adalah refleksi dari sebuah realitas yang
idealnya dibangun berdasarkan nilai-nilai dan etika (Gaffikin dan
Triyuwono dalam Hidayat, 1996: 09). Menurut Karim (dalam Hidayat,
1990: 03) mendefinisikan akuntansi syariah merupakan bidang baru
dalam studi akuntansi yang dikembangkan berlandaskan nilai-nilai, etika
dan syariah Islam, oleh karenanya dikenal juga sebagai akuntansi Islam
(Islamic accounting).
Akuntansi syariah adalah suatu proses, metode, dan teknik
pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran transaksi, dan kejadian-kejadian
yang bersifat keuangan dalam bentuk satuan uang, guna
mengidentifikasikan, mengukur, dan menyampaikan informasi suatu
entitas ekonomi yang pengelolaan usahanya berlandaskan syariah, untuk
dapat digunakan sebagai bahan mengambil keputusan-keputusan ekonomi
dan memilih alternatif-alternatif tindakan bagi para pemakainya (Hammed,
2003: 11).
Akuntansi syariah digunakan sebagai instrumen pendukung
penerapan nilai-nilai Islami dalam ranah akuntansi, fungsi utamanya
adalah sebagai alat manajemen yang menyediakan informasi kepada pihak
17
internal dan eksternal organisasi. Menurut Tinius dan Rabinowitz (dalam
Warsono, 2011: 12) akuntansi merupakan penerapan aplikasi aljabar yang
berasal dari arab yang diperkenalkan di Eropa pada abad ke 13.
Dengan demikian akuntansi syariah merupakan sistem yang
mengolah transaksi menjadi informasi keuangan yang dilakukan
berdasarkan hukum Islam dan mengolah secara syariah terhadap transaksi-
transaksi yang dijalankan sesuai syariah yang berdasarkan hukun Islam
yaitu Al-Quran dan Al-sunnah.
b. Tujuan Akuntansi Syariah
Secara umum tujuan akuntansi syariah adalah memberikan
informasi secara lengkap untuk mengetahui nilai dan kegiatan ekonomi
yang bertentangan dan yang diperbolehkan oleh syariah, meningkatkan
kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan
usaha, serta menentukan hak dan kewajiban pihak-pihak yang
berkepentingan terkait dalam suatu entitas ekonomi syariah berlandaskan
pada konsep kejujuran, keadilan, kebajikan, dan kepatuhan terhadap nilai-
nilai dan etika bisnis Islami. Akuntansi syariah diperlukan oleh masyarakat
Islam sebagai instrument pendukung yang menerapkan praktik ekonomi
Islam dalam tata kehidupan sosial ekonominya (Muhammad Yusuf : 2005,
Akuntansi Perbankan Syari’ah,hal 10)
c. Perbandingan Akuntansi Syariah Dan Akuntansi Konvensional
Adapun antara akuntansi syariah dan akuntansi konvensional
terdapat tiga pilar dalam pengembangan akuntansinya yaitu sebagai
berikut :
18
1. Pilar matematika
Dalam akuntansi konvensional sejauh ini masih menggunakan
persamaan yaitu: Aset = utang + ekuitas/Aset = utang + ekuitas +
pendapatan – biaya. Sedangkan di akuntansi syariah Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia menambahkan satu element
dipersamaan akuntansi yaitu dana syirkah temporer, jadi persamaan
akuntansi syariah yang berlaku saat ini adalah = Aset + biaya = Utang +
ekuitas + dana syirkah temporer + pendapatan.
2. Pilar prinsip dasar
Salah satu prinsip yang bertentangan adalah terkait dengan
prinsip nilai waktu (time value money) yang direfleksikan dengan
pemberlakukan bunga(interest). Prinsip ini memunculkan risiko
pengaplikasian riba yang dilarang dalam agama Islam. Sedangkan
dalam akuntansi syariah mendasarkan diri sepenuhya pada sumber
hukum syariah yaitu Al-Quran dan Al-Sunnah .
3) Pilar rancang bangun
Dalam praktik akuntansi konvensional cenderung
menyerdehanakan hal-hal yang dianggap tidak penting dan hasilnya
akuntansi konvensional dipertimbangkan semakin menurun
kontribusinya di dunia nyata. Sedangkan agama Islam menuntut profesi
akuntansi melakukan pencatatan dengan sebenar-benarnya sehingga
akuntansi syariah dikembangkan secara optimal sesuai dengan realita.
Adapun rancang bangun yang berlaku di akuntansi syariah sejauh ini
19
masih cenderung mengikuti pola rancang bangun akuntansi
konvensional.
3. Biaya
a. Pengertian Pembiayaan
Pembiayaan sering digunakan untuk menunjukkan aktivitas
koperasi syariah karena berhubungan dengan rencana memperoleh
pendapatan. Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992, yang dimaksud dengan
pembiayaan adalah: penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu berdasarkan tujuan atau kesepakatan pinjam
meminjam antara koperasi dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu
ditambah dengan sejumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil.
Menurut PP No. 9 tahun 1995, tentang pelaksanaan simpan pinjam
oleh koperasi pengertian pinjaman adalah: penyediaan uang atau tagihan
yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan tujuan atau
kesepakatan pinjam meminjam antara koperasi dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka
waktu tertentu dengan disertai pembayaran sejumlah imbalan.
b. Produk Pembiayaan
Salah satu produk BMT yang dapat menambah pendapatan adalah
jasa pembiayaan yang menggunakan sistem jual beli dan bagi
hasil/markup. Adapun salah satu produk pembiayaan dalam BMT
adalah sebagai berikut :
20
1) Produk pembiayaan mudharabah
Mudharabah merupakan pembiayaan untuk memperoleh
keuntungan bagi hasil yaitu pembiayaan BMT untuk proyek/investasi
usaha anggota, dimana dana sepenuhnya dari BMT dengan prinsip
bagi hasil keuntungan atas dasar kesepakatan perjanjian tertulis.
Anggota sebagai pengelola dana bertanggung jawab penuh atas
manajemen proyek/investasi usaha tersebut, serta bertanggung jawab
atas kerugian yang diakibatkan kelalaian yang dilakukan dengan
sengaja oleh anggota (kerugian yang bukan konsekuensi bisnis).
Apabila terjadi kerugian karena konsekuensi bisnis/kelalaian yang
tidak sengaja, maka BMT ikut menanggung kerugian tersebut sesuai
dengan kesepakatan (negosiasi) BMT dan anggota.
2) Produk pembiayaan murabahah
Murabahah yaitu perjanjian jual-beli antara BMT dengan
anggota. BMT membeli barang yang diperlukan anggota kemudian
menjualnya kepada anggota yang bersangkutan sebesar harga
perolehan ditambah dengan keuntungan atau margin yang disepakati
antara BMT dan anggota. Murabahah, dalam konotasi Islam pada
dasarnya berarti penjualan. Satu hal yang membedakannya dengan
cara penjualan yang lain adalah bahwa penjual dalam murabahah
secara jelas memberi tahu kepada pembeli berapa nilai pokok barang
tersebut dan berapa besar keuntungan pada nilai tersebut. Keuntungan
tersebut bisa berupa lump sum atau berdasarkan markup/persentase.
21
3) Produk pembiayaan musyarakah
Musyarakah merupakan pembiayaan dengan kerja sama untuk
memperoleh keuntungan bagi hasil. Pembiayaan BMT untuk proyek/
investasi usaha anggota, dimana BMT dan anggota sama-sama
menyediakan dana guna membiayai suatu proyek/investasi usaha
anggota. Manajemen dikelola bersama, bagi hasil keuntungan dan
resiko kerugian ditanggung bersama atas dasar kesepakatan
(negosiasi) kedua belah pihak (BMT dan anggota).
4. Pembiayaan Murabahah
a. Pengertian Pembiayaan Murabahah
Pengertian murabahah menurut PSAK No. 102 adalah menjual
barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah keuntungan
yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan
barang tersebut kepada pembeli. Menurut Warsono (2011: 48) adalah
akad jual beli barang dengan menyatakan harga asal dan keuntungan
(margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli dimana pembayaran
dapat dilakukan secara tunai atau tangguh (kredit). Menurut Nurhayati
dan Rahmaniyah (2008: 41) murabahah adalah akad jual beli barang
pada harga asal (harga perolehan) dengan tambahan keuntungan
(margin) yang disepakati oleh kedua belah pihak (penjual dan pembeli).
Murabahah adalah jual beli barang pada harga pokok
perolehan barang dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara
pihak penjual dengan pihak pembeli barang (Muhammad, 2008: 157).
22
Pada jual beli murabahah penjual harus mengungkapkan harga
perolehan barang dan kemudian terjadi negosiasi keuntungan yang
akhirnya disepakati kedua belah pihak.
b. Sistem Pembiayaan Murabahah
Pembiayaan adalah salah satu produk KSU BMT yang
merupakan kegiatan atau penanaman modal kepada anggota dengan
jangka waktu tertentu dengan margin atau bagi hasil yang ditentukan di
depan sesuai akad/perjanjian. Prosedur agar calon anggota atau anggota
dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari KSU BMT adalah
meliputi :
1) Jika belum menjadi anggota, maka calon anggota tersebut harus
diregistrasi sebagai anggota baru. Jika sudah menjadi anggota maka
langsung dilakukan prosedur selanjutnya.
2) Jika anggota tersebut belum memiliki rekening simpanan reguler,
maka harus dilakukan terlebih dahulu prosedur pembuatan rekening
simpanan reguler untuk anggota tersebut. Untuk mendapatkan
pembiayaan dari koperasi, anggota harus sudah memiliki rekening
simpanan reguler.
3) Setelah mendaftar menjadi anggota, dapat langsung dilakukan
pembukaan rekening pembiayaan baru. Pada hari itu juga pencairan
pembiayaan dapat dilakukan kepada anggota baik
secara cash maupun ditransfer ke rekening simpanan regulernya.
23
c. Jenis Pembiayaan Murabahah
Jenis pembiayaan murabahah dibedakan menjadi dua, yaitu
sebagai berikut :
1. Murabahah tanpa pesanan
Murabahah tanpa pesanan adalah pembeli bertransaksi
langsung dengan penjual yang telah memiliki persediaan barang
yang akan dijual.
2. Murabahah berdasarkan pesanan
Murabahah berdasarkan pesanan BMT akan melakukan
transaksi murabahah atau jual beli apabila ada nasabah yang
memesan, sehingga penyediaan barang baru dilakukan jika ada
pesanan. Pengadaan barang sangat tergantung atau terkait langsung
dengan pesanan atau pembelian barang tersebut. murabahah jenis
ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
a. Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat tidak mengikat
Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat tidak mengikat
adalah penjual melakukan pembelian barang berdasarkan
pesanan pembeli tetapi kedua belah pihak berhak untuk
membatalkan transaksi murabahah tersebut tanpa harus dikenai
sansi atau denda.
b. Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat mengikat
Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat mengikat adalah
penjual melakukan pembelian barang berdasarkam pesanan
24
yang mana pembeli tidak dapat membatalkan transaksi
murabahah tersebut.
d. Landasan Hukum Pembiayaan Murabahah
Menurut Warsono (2011: 54) pembiayaan murabahah dalam
Islam disebutkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist adalah sebagai berikut :
1. Ayat al-Quran dalam surat an-Nisa’ ayat 29 yaitu: “Hai orang yang
beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
cara yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan sukarela di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh
dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu”.
2. Ayat al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 275 yaitu: “Dan Allah
telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.
3. Dalam Hadist riwayat Ibnu Majah dan Shuhaib bahwa Rasulullah
SAW bersabda, tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan yaitu
jual-beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur
gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.
4. Hadist riwayat muslim yaitu orang yang melepaskan seorang muslim
dari kesulitannya didunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di
hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong hambanya selama ia
(suka) menolong saudaranya
5. Hadist riwayat jamaah yaitu penundaan (pembayaran) yang
dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kedzaliman.
25
e. Karakteristik Pembiayaan Murabahah
Adapun karakteristik pembiayaan murabahah adalah sebagai
berikut:
1. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa
pesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan, penjual melakukan
pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli.
2. Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak
mengikat pembeli untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam
murabahah pesanan mengikat pembeli tidak dapat membatalkan
pesanannya. Apabila aset murabahah yang telah
dibeli oleh penjual, dalam murabahah pesanan mengikat mengalami
penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli, maka
penurunan nilai tersebut menjadi beban penjual dan penjual akan
mengurangi nilai akad.
3. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh,
pembayaran tangguh adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada
saat barang diserahkan kepada pembeli tetapi pembayaran dilakukan
dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu tertentu.
4. Akad murabahah memperkenankan penawaran harga yang
berbeda untuk cara pembayaran yang berbeda sebelum akad
murabahah dilakukan. Namun jika akad tersebut telah disepakati
maka hanya ada satu harga dalam satu harga (harga dalam akad)
yang digunakan.
26
5. Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual,
sedangkan biaya perolehan harus diberitahukan. Jika penjual
mendapatkan diskon sebelum akad murabahah maka potogan itu
merupakan hak pembeli, sedangkan diskon yang diterima setelah
akad murabahah disepakati maka sesuai dengan yang diatur dalam
akad, dan jika tidak diatur dalam akad maka potongan tersebut
adalah hak penjual.
6. Diskon yang terkait dengan pembelian barang, antara lain, meliputi:
a) Diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian barang
b) Diskon biaya asuransi dari perusahaan asuransi dalam rangka
pembelian barang
c) Komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan
pembelian barang.
7. Diskon atas pembelian barang yang diterima setelah akad murabahah
disepakati diperlakukan sesuai dengan kesepakatan dalam akad
tersebut. Jika tidak diatur dalam akad, maka diskon tersebut menjadi
hak penjual.
8. Penjual dapat meminta pembeli menyediakan agunan atas piutang
murabahah, antara lain, dalam bentuk barang yang telah dibeli dari
penjual dan/atau aset lainnya.
9. Penjual dapat meminta uang muka kepada pembeli sebagai bukti
komitmen pembelian sebelum akad disepakati. Uang muka menjadi
bagian pelunasan piutang murabahah, jika akad
murabahah disepakati. Jika akad murabahah batal, maka uang muka
27
dikembalikan kepada pembeli setelah dikurangi kerugian rill yang
ditanggung oleh penjual. Jika uang muka itu lebih kecil dari
kerugian, maka penjual dapat meminta tambahan dari pembeli.
10. Jika pembeli tidak dapat menyelesaikan piutang murabahah sesuai
dengan yang diperjanjikan, maka penjual dapat mengenakan denda
kecuali jika dapat dibuktikan bahwa pembeli tidak atau belum
mampu melunasi disebabkan oleh force majeur. Denda tersebut
didasarkan pada pendekatan (ta’zir) yaitu untuk membuat pembeli
lebih disiplin terhadap kewajibannya. Besarnya denda sesuai dengan
yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari denda
diperuntukkan sebagai dana kebajikan.
11. Penjual boleh memberikan potongan pada saat pelunasan piutang
murabahah jika pembeli :
a) Melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu.
b) Melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang
telah disepakati.
12. Penjual boleh memberikan potongan dari total piutang
murabahah yang belum dilunasi jika pembeli :
a) Melakukan pembayaran cicilan tepat waktu
b) Mengalami penurunan kemampuan pembayaran
f. Rukun, Syarat dan Akad Pembiayaan Pembiayaan Murabahah
Adapun rukun, syarat dan akad dari pembiayaan murabahah
adalah sebagai berikut :
1. Rukun murabahah yaitu :
28
a. Pihak yang berakad meliputi penjual (bai’) dan pembeli
(mustari).
b. Objek yang diakadkan meliputi barang yang diperjual belikan
dan harga.
c. Akad/sighat meliputi serah (ijab) dan terima (kabul)
2. Syarat murabahah
a. Pihak yang berakad yaitu: Sebagai keabsahan suatu perjanjian
(akad) para pihak harus cakap hukum dan sukarela dan tidak
dibawa tekanan (terpaksa/dipaksa).
b. Objek yang diperjual belikan yaitu :
Barang yang diperjual belikan tidak termasuk barang yang
dilarang (haram) dan memberi manfaat serta tidak
menyembunyikan adanya cacat barang.
c. Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad.
d. Sesuai spesifikasinya antara yang diserahkan penjual dari yang
diterima pembeli.
e. Penyerahan dari penjual dan pembeli dapat dilakukan.
3. Akad/sighat
a. Harus jelas secara spesifik (siapa) para pihak yang berakad
b. Antara ijab kabul harus selaras dan transparan dalam spesifikasi
barang (penjelasan fisik barang) maupun harga yang disepakati
(memberitahu biaya modal kepada pembeli)
c. Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan
keabsahan transaksi pada kejadian yang akan datang
29
g. Perhitungan Margin/Keuntungan Pembiayaan Murabahah
Menurut Warsono (2011: 55) besarnya margin keuntungan atau
margin pendapatan yang diterima penjual pada dasarnya merupakan hasil
kesepakatan antara penjual dengan dan pembeli. Penjual tidak boleh
menuntut margin keuntungan yang berlebihan, dan pembeli dilarang
menganiaya penjual dengan menyetujui margin keuntungan yang terlalu
sedikit. Keuntugan dari pembiayaan murabahah dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor dibawah ini :
1. Jumlah pembiayaan
2. Jangka waktu pembiayaan
3. Sistem pengembalian murabahah dengan mengangsur dapat
berbeda dengan murabahah bayar tangguh.
4. Jumlah biaya yang muncul akibat pembiayaan tersebut.
5. Tingkat persaingan harga dipasar, baik dengan lembaga keuangan
sejenis maupun konvensional.
6. Karena sifatnya jual beli, maka standar keuntungannya tidak terbatas.
h. Penentuan Harga Kesepakatan Pembiayaan Murabahah
Dilihat dari sisi penjual harga kesepakatan adalah sebesar harga
jual barang murabahah, sedangkan bagi pembeli, harga kesepakatan
adalah sebesar biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang
murabahah tersebut (Warsono 2011: 52). Secara obyektif, harga
kesepakatan terdiri dari dua komponen, yaitu harga perolehan bersih dan
margin keuntungan, yang dimaksud dengan harga perolehan bersih
adalah herga perolehan barang dikurangi diskon pembelian yang
30
diperoleh penjual ketika membeli barang dari pemasok. Harga
kesepakatan dapat dituliskan secara matematik sebagai berikut:
1. Harga kesepakatan = Harga perolehan bersih + margin keuntungan
2. Harga kesepakatan = (Harga perolehan - diskon pembelian) + margin
keuntungan
i. Harga Perolehan Pembiayaan Murabahah
Biaya perolehan pembiayaan murabahah adalah jumlah kas atau
setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh suatu aset sampai dengan
aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau
digunakan. Adapun jenis pengeluaran untuk pemerolehan/pengadaan
barang lazimnya dapat dikelompok menjadi dua jenis, yaitu sebagai
berikut :
1. Pengeluaran langsung yaitu berbagai pengeluaran yang terjadinya
dapat diidentifikasikan baik sifat maupun nilai moneternya secara
mudah dan jelas dengan kegiatan pengadaan barang murabahah
yang dimaksud.
2. Pengeluaran tidak langsung yaitu berbagai pengeluaran yang
keterjadiannya sulit diidentifikasikan sifat dan/atau nilai
moneternya dengan kegiatan pengadaan barang murabahah yang di
maksud.
5. Pengakuan dan Pengukuran
a. Pengertian Pengakuan dan Pengukuran
Suatu unsur diakui secara formal apabila unsur tersebut sudah
memenuhi salah satu definisi elemen laporan keuangan. Berarti
31
pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-
kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya kedalam
neraca atau laporan laba rugi. Pengakuan sebagai pencatatan suatu item
dalam akuntansi dan laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban,
pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian harus dapat diakui dan
diukur agar dapat menyajikan informasi yang relevan. Menurut
Muhammad (2008: 09) dikatakan bahwa pengakuan merupakan proses
pembentukan pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria
pengakuan dalam neraca atau laporan laba rugi. Sedangkan pengukuran
adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan
setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan keuangan.
Pengakuan memerlukan suatu konsep agar dapat menentukan kapan dan
bagaimana unsur dalam akuntansi dapat diakui dalam laporan
keuangan.
Konsep pengakuan akuntansi mendefinisikan prinsip dasar yang
menentukan penentuan waktu pendapatan, biaya, pengakuan untung
dan rugi didalam laporan keuangan, aset dan kewajiban. Adapun
konsep pengakuan dan pengukuran akuntansi antara lain :
1) Konsep matching, untung/rugi selama jangka waktu tertentu harus
ditentukan dengan mencocokkan pendapatan dan keuntungan dengan
biaya-biaya dan kerugian yang berhubungan dengan periode atau
jangka waktu tersebut.
32
2) Sifat pengukuran mengacu kepada sifat-sifat aset dan kewajiban
yang harus diukur untuk tujuan akuntansi keuangan. Sifat-sifat yang
harus diukur yakni:
a) Nilai setara kas yang diharapkan atau diperkirakan yang
diperoleh.
b) Relevansi aset, kewajiban dan investasi terbatas pada akhir
periode akuntansi.
c) Kemampuan aset, kewajiban dan investasi terbatas untuk
direvaluasi.
d) Sifat pengukuran alternatif tetapi nilai setara kas.
Kedua konsep tersebut merupakan dasar bagaimana suatu unsur
dalam laporan keuangan harus diakui dan diukur. Suatu pengakuan ada
kaitannya dengan pengukuran suatu unsur dalam akuntansi misalnya
saja pada tanggal perolehan aktiva, ada beberapa biaya dan nilai yang
memiliki nilai yang kurang lebih sama. Terdapat lima atribut
pengukuran yang saat ini banyak digunakan dalam praktek,
diantaranya:
1) Biaya historis yang merupakan harga setara kas untuk barang atau
jasa pada tanggal perolehan.
2) Biaya pengganti saat ini yang merupakan harga setara kas yang
bisa ditukarkan pada saat ini untuk membeli atau menggantikan
barang atau jasa yang sejenis.
33
3) Nilai pasar saat ini yang merupakan harga kas yang setara dengan
harga yang bisa didapatkan dengan menjual aktiva dalam kondisi
penjualan biasa.
4) Nilai realisasi bersih yang merupakan sejumlah kas yang
diharapkan akan diterima dari konversi aktiva dalam aktivitas
bisnis normal.
5) Nilai sekarang atau nilai yang didiskontokan yang merupakan
jumlah arus masuk kas bersih dimasa yang akan datang atau arus
keluar yang didiskontokan kenilai sekarang pada tingkat bunga
yang sesuai.
Dasar pengukuran yang umum digunakan entitas syariah
dalam penyusunan laporan keuangan adalah biaya historis, seperti
yang dijelaskan dalam PSAK No. 102 bahwa pembiayaan bagi hasil
yakni murabahah dalam bentuk kas diukur sejumlah uang yang
diberikan bank pada saat pembayaran, dan begitu juga pembiayaan
musyarakah diakui pada saat pembayaran tunai.
b. Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan
Setiap laporan laba rugi dimulai dengan total pendapatan, karena
itu diperlukan suatu pengakuan dan pengukuran pendapatan, karena ada
pendapatan yang dapat direalisasi dan ada pendapatan yang masih
dalam proses. Agar dapat dilaporkan pada laporan keuangan, maka
diperlukan suatu pengakuan dan pengukuran pendapatan. Ada dua
macam pengakuan pendapatan yang umum dikenal, yang pertama yakni
pengakuan dengan metode accrual basic yakni pendapat yang dicatat
34
atau diakui pada saat pendapatan dihasilkan tanpa memperhatikan
kapan pendapatan itu diterima, yang kedua yakni pengakuan dengan
metode cash basic yaitu pendapatan yang dicatat atau diakui pada saat
diterima dan beban diakui pada saat dibayar.
Dalam kaitannya dengan hal pengakuan pendapatan Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) menjelaskan bahwa pendapatan diakui bila
besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir
keperusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan andal, pendapatan
diakui bila:
a. sudah atau dapat direalisir (realized or realizable),
b. proses untuk memperoleh pendapatan sudah selesai (earned).
c. Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah
1) Akuntansi Untuk Penjual
Akuntansi transaksi murabahah dari sudut penjual yaitu sebagai
berikut :
a) Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan
sebesar biaya perolehan.
b) Pengukuran aset murabahah setelah perolehan adalah sebagai
berikut :
1) Jika murabahah pesanan mengikat Dinilai sebesar biaya
perolehan dan jika terjadi penurunan nilai aset karena usang,
rusak atau kondisi lainnya sebelum diserahkan ke nasabah,
penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan
mengurangi nilai asset
35
2) Jika murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak
mengikat dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih
yang dapat direalisasi, mana yang lebih rendah dan jika nilai
bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya
perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
c) Potongan pembelian aset murabahah diakui sebagai berikut:
1) Jika terjadi sebelum akad murabahah maka sebagai pengurang
biaya perolehan aset murabahah
2) Jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang
disepakati maka bagian yang menjadi hak nasabah yaitu
dikembalikan kepada nasabah dan jika nasabah masih berada
dalam proses penyelesaian kewajiban atau kewajiban kepada
nasabah jika nasabah telah menyelesaikan kewajiban
3) Jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang
menjadi bagian hak lembaga keuangan syariah diakui sebagai
tambahan keuntungan murabahah
4) Jika terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan
dalam akad diakui sebagai pendapatan operasi lain.
d) Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian potongan
pembelian akan tereliminasi pada saat:
1) Dilakukan pembayaran kepada pembeli sebesar jumlah
potongan setelah dikurangi dengan biaya pengembalian
2) Dipindahkan sebagai dana kebajikan jika pembeli sudah tidak
dapat dijangkau oleh penjual.
36
e) Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar
biaya perolehan aset murabahah ditambah keuntungan yang
disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan, piutang
murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu
saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang.
f) Keuntungan murabahah diakui :
1) Pada saat terjadinya akad murabahah jika dilakukan secara
tunai atau secara tangguh sepanjang masa angsuran
murabahah tidak melebihi satu periode laporan keuangan
2) Selama periode akad secara proporsional, jika akad
melampaui satu periode laporan keuangan.
g) Jika menerapkan pengakuan keuntungan secara proporsional,
maka jumlah keuntungan yang diakui dalam setiap periode
ditentukan dengan mengalikan persentase keuntungan terhadap
jumlah piutang yang jatuh tempo pada periode yang
bersangkutan. Persentase keuntungan dihitung dengan
perbandingan antara margin dan biaya perolehan aset murabahah.
Alokasi keuntungan dengan menggunakan metode didasarkan
pada konsep nilai waktu dari uang (time value of money) tidak
diperkenankan karena tidak diakomodasikan dalam kerangka
dasar.
h) Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada
pembeli yang melunasi tepat waktu atau lebih cepat dari waktu
37
yang disepakati diakui dengan menggunakan salah satu metode
berikut:
1) Jika diberikan pada saat penyelesaian maka penjual
mengurangi piutang murabahah dan keuntungan murabahah
2) Jika diberikan setelah penyelesaian maka penjual terlebih
dahulu menerima pelunasan piutang murabahah dari
pembeli, kemudian penjual membayar potongan pelunasan
kepada pembeli dengan mengurangi keuntungan
murabahah.
i) Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut:
1) Jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat
waktu diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah
2) Jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran
pembeli diakui sebagai beban.
j) Denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan
kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang diterima
diakui sebagai bagian dana kebajikan.
k) Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
1) Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar
jumlah yang diterima
2) Pada saat barang jadi dibeli oleh pembeli maka uang muka
diakui sebagai pembayaran piutang
38
3) Jika barang batal dibeli oleh pembeli maka uang muka
dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan dengan
biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual.
2) Akuntansi Pembeli Akhir
Akuntansi transaksi murabahah dari sudut pandang pembeli
akhir antara lain sebagai berikut:
a) Hutang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui
sebagai hutang murabahah sebesar harga beli yang disepakati
(jumlah yang wajib dibayarkan).
b) Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar
biaya perolehan murabahah tunai. Selisih antara harga beli yang
disepakati dengan biaya perolehan tunai diakui sebagai beban
murabahah tangguhan.
c) Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional
dengan porsi hutang murabahah.
d) Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah,
potongan pelunasan dan potongan hutang murabahah sebagai
pengurang beban murabahah tangguhan.
e) Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan
kewajiban sesuai dengan akad diakui sebagai kerugian.
f) Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang
diakui sebagai kerugian.
39
d. Penyajian Pembiayaan Murabahah
Piutang murabahah disajikan pada akhir periode
akuntansi adalah sebagai berikut :
a) Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi
penyisihan kerugian piutang.
b) Margin murabahah ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan
(contra account) piutang murabahah.
e. Pengungkapan Pembiayaan Murabahah
Lembaga keuangan syariah mengungkapkan hal-hal yang terkait
dengan transaksi murabahah, tetapi tidak terbatas pada:
a) Harga perolehan aset murabahah.
b) Janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan
sebagai kewajiban atau bukan.
c) Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang
penyajian laporan keuangan syariah.
f. Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Murabahah
Adapun perlakuan akuntansi pembiayaan murabahah adalah
sebagai berikut :
a) Pengakuan dan pengukuran urbun (uang muka).
1) Urbun diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah
yang diterima BMT pada saat diterima.
2) Jika transaksi murabahah dilaksanakan, maka urbun diakui
sebagai pembayaran piutang (bagian angsuran pembelian)
40
3) Jika transaksi murabahah tidak dilaksanakan, maka urbun diakui
dikembalikan kepada nasabah setelah dikurangi dengan biaya-
biaya yang telah dikeluarkan BMT.
b) Pengakuan piutang
Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar
nilai perolehan ditambah keuntungan yang disepakati.
c) Pengakuan keuntungan
Keuntungan murabahah, diakui :
1) Pada periode terjadinya, apabila akad berakhir pada periode
laporan keuangan yang sama.
2) Selain periode akad secara proposioanal, apabila akad melampaui
satu periode laporan keuangan.
d) Pengakuan potongan (muqasah) pelunasan dini diakui dengan
menggunakan salah satu metode :
1) Pada saat penyelesaian, kospin jasa syariah mengurangi piutang
murabahah dan keuntungan murabahah
2) Setelah penyelesaian, kospin jasa syariah terlebih dahulu
menerima pelunasan murabahah dari nasabah, kemudian
koperasi BMT An Nur Muhammadiyah membayar muqasah
kepada nasabah dengan mengurangi keuntungan murabahah.
e) Pengakuan denda.
Denda diakui sebagai dana kebajikan pada saat diterima
f) Pada akhir periode, piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih
yang dapat direalisasikan.
41
g) pada akhir periode, margin murabahah tangguhan disajikan sebagai
pos lawan piutang murabahah
g. Metode Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah
Pengakuan pendapatan dan biaya pada pembiayaan murabahah
menggunakan basis akrual yaitu pendapatan atau biaya pada koperasi
syariah diakui dan dicatat di depan meskipun belum mengeluarkan atau
menerima uang (cash) (Warsono, 2011: 59). Berbagai transaksi
pendapatan dan biaya pada dasarnya dilakukan ketika transaksi tersebut
terjadi/terbentuk dan terealisasi/ dapat direalisasikan bukan ketika
penerimaan atau pengeluaran kas terjadi dan penerapan berbasis kas
juga digunakan terutama untuk transaksi murabahah yang dilakukan
secara tangguh yang berjanka panjang, yaitu lebih dari satu periode
akuntansi sebagaimana terdapat di PSAK No. 102.
Dasar akrual yaitu dasar dimana pengaruh transaksi dan
peristiwa lain diakui pada saat kejadian (bukan pada saat kas atau setara
kas diterima atau dibayar (Wiyono, 2005: 79).
Asumsi dasar konsep koperasi syariah sama dengan asumsi dasar
konsep akuntansi keuangan secara umum yaitu accrual basic. Dengan
dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat
kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar)
dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam
laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan
yang disusun atas dasar accrual memberikan informasi kepada pemakai
tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan
42
pembayaran kas, tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan
serta sumber daya yang mempresentasikan kas yang akan diterima di
masa depan.
Menurut Warsono (2011: 59) penerapan berbasis kas juga
digunakan terutama untuk transaksi murabahah yang dilakukan secara
tangguh yang berjangka panjang, yaitu lebih dari satu periode akuntansi
sebagaimana terdapat di PSAK No.102. Sedangkan prinsip bagi hasil
menggunakan sistem accrual basic maupun cash basic dalam
administrasi keuangan, dilihat dari segi kemaslahatan, dalam pencatatan
sebaiknya digunakan sistem cash basic akan tetapi dalam distribusi
hasil usaha hendaknya ditentukan atas dasar penerimaan yang benar-
benar terjadi (cash basic), dan penetapan sistemnya harus dipilih dan
disepakati dalam akad. Menurut prakteknya, peneliti dapat menilai
bahwa pengakuan secara accrual basicdilakukan pada saat entitas
syariah melakukan tutup buku bulanan, hanya pendapatan atas
penyaluran dan aktiva yang mempergunakan prinsip jual beli karena
prinsip jual beli ini telah diketahui porsi pokok dan porsi
keuntungan/margin sedangkan untuk penyaluran dana prinsip bagi hasil
biasanya baru diketahui setelah tutup buku.
6. Pembiayaan Murabahah dalam Persepsi Fatwa DSN
Fatwa Dewan Syariah Nasional Tentang Murabahah Nomor 04 DSN-
MUI/IV/2000. Dewan Syariah Nasional (DSN)
Menimbang :
43
a) Bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari
bank berdasarkan pada prinsip jual beli.
b) Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan
meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan, bank syariah perlu
memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya, yaitu menjual
suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan
pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba.
c) Bahwa oleh karna itu, DSN memandang perlu menetapkan fatwa
tentang murabahah untuk dijadikan pedoman oleh bank syariah.
Mengingat :
1) Firman Allah QS. An-Nisa‟ (4): 29:
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di
antara kamu”.
2) firman Allah QS. Al-Ma‟idah (5) : 1
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu..”.
3) Hadis Nabi SAW :
44
Dari Abu sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,
“sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”(HR. Al-
baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh ibnu Hibban).
4) ijma‟. Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara
murabahah (Ibnu Rusyd, Bidayah al-mujtahid, juz 2, hlm. 161; lihat
pula al-kasani, bada‟i as-sana‟i, juz 5, hlm. 220-222).
Memutuskan :
Menetapkan : FATWA TENTANG MURABAHAH
Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam bank Syariah
1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
2. Barang yang diperjual belikan tidak diharamkan oleh syariah islam.
3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang
telah disepakati kualifikasinya.
4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank
sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan
pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan)
dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam
kaitan ini bank harus memberi tahu secara jujur harga pokok barang
kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada
jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
45
8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad
tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan
nasabah.
9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli
barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan
setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.
Kedua : Ketentuan murabahah kepada nasabah :
1. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu
barang atau aset kepada bank.
2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih
dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan
nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai perjanjian yang telah
disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat;
kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk
membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal
pemesanan.
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil
bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung
oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada
nasabah.
46
7. Jika uang muka memakai kontrak „urbun sebagai alternatif dari uang
muka, maka ;
a. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia
tinggal membayar sisa harga.
b. Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank
maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat
pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi,
nasabah wajib melunasi kekurangannya.
B. Penelitian Terdahulu
Lia Anisatul Muniroh (2012) melakukan penelitian yang
berjudul Pembiayaan Murabahah di KJKS Bahtera Pekalongan. Dari hasil
penelitiannya disebutkan bahwa pada dasarnya pembiayaan murabahah di
BMT Bahtera tersebut menggunakan sistem wakalah yaitu praktiknya dalam
pembelian barang murabahah, pihak BMT Bahtera hanya mewakilkan kepada
nasabah untuk mencari dan membeli sendiri barang yang dibutuhkan tersebut,
sehingga memudahkan nasabah dalam mencari dan membeli benda/barang
yang dibutuhkan nasabah untuk perkembangan usahanya. Dalam hal ini
sistem pembayaran tersebut dilakukan secara angsuran ataupun secara
langsung/jatuh tempo (murabahah angsuran dan murabahah jatuh tempo).
Jumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh nasabah kepada BMT Bahtera
ialah jumlah harga barang dan mark-up (keuntungan yang telah disepakati).
Suwandi (2013) melakukan penelitian yang berjudul Penerapan
Akuntansi Pembiayaan Murabahah pada BMT Surya Barokah Palembang.
47
Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa BMT Surya Barokah Palembang,
menerapkan pembiayaan murabahah dengan memberikan pembiayaan berupa
sejumlah uang sesuai dengan pembiayaan yang dibutuhkan kepada nasabah,
hal ini disebut dengan akad wakalah, yaitu adanya pemberian kuasa atas dana
dan nama BMT kepada nasabah untuk melakukan pembelian barang sendiri
sesuai spesifikasi yang diinginkan kepada pihak supplier setelah memperoleh
pembiayaan dari pihak BMT. Namun, BMT Surya Barokah Palembang
terkadang melakukan pembiayaan murabahah pesanan yang bersifat
mengikat.
BMT Surya Barokah Palembang hanya akan melakukan
pembelian barang apabila telah dipastikan ada nasabah yang akan membeli
kembali barang tersebut secara akad murabahah. Dalam menjalankan
pembiayaan murabahah, BMT Surya Barokah Palembang menjual barang
dengan menegaskan harga perolehan barang kepada nasabah secara jujur dan
nasabah membayar dengan harga lebih sebagai keuntungan (margin) bagi
bank selaku penjual sesuai dengan kesepakatan antara pihak BMT Surya
Barokah Palembang dan nasabah.
Pembayaran kewajiban dilakukan oleh nasabah secara
tangguhan atau cicilan. Apabila ada keterlambatan pembayaran yang
dilakukan nasabah, maka pihak BMT Surya Barokah akan mencari tahu
alasan keterlambatan ataupun penangguhan pembayaran dan membicarakan
solusi terbaik kepada nasabah, BMT Surya Barokah tidak mengenakan denda
atas keterlambatan tersebut, sekalipun ada, denda hanya sebagai gertakan
kepada nasabah yang pembayarannya bermasalah.
48
Wahyudi Priandono (2012) melakukan penelitian yang berjudul
Analisis Penerapan PSAK N0. 102 Atas Pembiayaan Murabahah pada BMT
(Studi kasus pada BMT Sidogiri cabang Wirolegi, KJKS BMT Bina Tanjung
dan Koperasi Jasa keuangan syariah Nur Indah Abadi). Hasil penelitiaannya
menyebutkan Di KJKS Nur Indah Abadi penerapan PSAK telah dilakukan
dengan baik meskipun beberapa hal masih belum sesuai diantaranya
penerapan aset serta persepsi tentang akad murabahah dengan nasabah.
C. Kerangka Pemikiran
Peran umum BMT yang dilakukan adalah melakukan
pembinaan dan pendanaan yang berdasarkan sistem syariah. Peran ini
menegaskan arti penting prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan ekonomi
masyarakat. Sebagai lembaga keuangan syariah yang bersentuhan langsung
dengan kehidupan masyarakat kecil yang serba cukup ilmu pengetahuan
ataupun materi, maka BMT mempunyai tugas penting dalam mengambil misi
keislaman dalam segala aspek kehidupan masyarakat.
Di kota Cilacap khususnya, keberadaan Baitul Maal wat Tamwil
(BMT) sudah cukup berkembang, salah satunya KSU BMT An – Nur
Muhammadiyah yang beralamat di Jl. Raya Cimanggu No. 498 Kec.
Cimanggu - Cilacap. BMT ini melayani para pedagang kecil yang ingin
menambah modal usahanya. Siapapun boleh menjadi anggota BMT tersebut
apabila memenuhi persyaratan dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Proses pembiayaan di BMT tidak semulus yang dibayangkan, karena tidak
semua nasabah memiliki karakter bisnis yang sama satu dengan yang lain.
49
Pembiayaan adalah salah satu produk syariah merupakan
kegiatan jual-beli atau penanaman modal kepada anggota dengan jangka
waktu tertentu dengan margin atau bagi hasil yang ditentukan didepan sesuai
akad/perjanjian. Adapun produk pembiayaan adalah pembiayaan ijarah,
pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah dan pembiayaan
musyarakah.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti akan meneliti tentang
penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu. Kerangka pemikiran tersebut dapat disajikan
dalam bagan sebagai berikut :
PSAK No. 102
PAPSI Tahun 2003
Pengakuan Akuntansi
Penerapan KSU BMT
Pembiayaan An Nur Muhammadiyah
Pengukuran Akuntansi Murabahah Cimanggu
Penyajian Akuntansi
(Laporan Keuangan)
Gambar 1. Kerangka pemikiran penerapan pembiayaan murabahah KSU BMT
An-Nur Muhammadiyah Cimanggu
50
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah KSU BMT An Nur Muhammadiyah
Cimanggu Kabupaten Cilacap di Jalan Raya Cimanggu No. 498 Kecamatan
Cimanggu. Alasan peneliti memilih obyek ini karena KSU BMT An - Nur
Muhammadiyah Cimanggu merupakan salah satu koperasi syariah yang
semakin menampakkan perkembangan usahanya dari tahun ke tahun.
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2014 sampai dengan
September 2014.
B. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian yang
bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud
untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau
kejadian.
C. Jenis Dan Sumber Data
1. Jenis Data
Adapun data yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini
adalah data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang menekankan pada
makna, penalaran, defenisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu),
51
lebih banyak tentang hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-
hari.
2. Sumber Data
Dalam melaksanakan penelitian ini data yang diperoleh bersumber
dari data sekunder. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang
diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara
(diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa
bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data
dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan atau
merupakan data yang diperoleh dari perusahaan yang berupa data tertulis,
yaitu data mengenai gambaran umum perusahaan dan dokumen-dokumen
yang digunakan perusahaan
D. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan
dengan beberapa cara sebagai berikut:
1. Pengamatan/observasi
Adalah metode pengumpulan data dimana penelitian mencatat
informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian.
2. Dokumentasi
Menurut Arikunto (2006:158) metode dokumentasi yaitu peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,
peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya. Dokumen yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah sejarah koperasi, struktur
52
organisasi, kumpulan data dan dokumen-dokumen serta catatan-catatan
yang terdapat di perusahaan dalam bentuk bukti-bukti transaksi, jurnal-
jurnal dan laporan keuangan.
3. wawancara/Interview
Wawancara/interview adalah menanyakan serentetan pertanyaan
yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dalam
mengkorek keterangan lebih lanjut. Teknik ini digunakan untuk
memperoleh data atau informasi tentang aplikasi dalam pembiayaan
murabahah, pengakuan dan pengukurannya, maka penulis melakukan
kegiatan wawancara dengan pihak Manager Marketing, Akunting/Divisi
Pembukuan dan Divisi Pembiayaan yang ada di Kantor KSU BMT
Muhammadiyah Cimanggu tersebut.
4. Responden/Informan
Adapun responden/informan yang dijadikan narasumber dalam
penelitian ini antara lain :
a) Manajer
Nama Narasumber : Supar Ahmad, Ama
Alasannya karena mengetahui mengenai perusahaan mulai dari
sejarah sampai dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam
perusahaan tersebut.
b) Divisi Pembukuan/Accounting
Nama Narasumber : Ro‟ati, Amd
Alasannya karena mengetahui tentang pembukuan, pelaporan
keuangan dan cara penyajian laporan dari awal sampai akhir.
53
c) Divisi Pembukuan
Nama Narasumber : Arum Dwi, [Link]
Alasannya karena mengetahui tentang penerapan pembiayaan-
pembiayaan yang diterapkan di BMT, diantaranya penerapan
pembiayaan murabahah.
5. Pedoman Wawancara
a) Manajer
1) Sejarah pendirian
2) Perkembangan
3) Struktur organisasi
4) Produk dan layanan
5) Syarat-syarat mengajukan menjadi Anggota/Nasabah
b) Divisi Pembukuan/Accounting
1) Visi dan misi
2) Modal awal pendirian
3) Sarana dan prasarana
4) Penerapan akuntansi pembiayaan murabahah
5) Pengakuan pembiayaan murabahah
6) Penyajian dan pengungkapan pembiayaan murabahah
c) Divisi Pembiayaan
1) Syarat-syarat pengajuan pembiayaan murabahah
2) Proses penerapan pembiayaan murabahah
3) Perhitungan pembiayaan murabahah
4) Pengukuran pembiayaan murabahah
54
E. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2009:117) adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini yang menjadi
populasi adalah akuntansi pembiayaan murabahah yang diterapkan pada
KSU BMT An - Nur Muhammadiyah Cimanggu dari sejak berdirinya
yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2014.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
populasi tersebut Sugiyono (2009:118). Sampel yang diambil adalah
akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu sejak berdirinya tahun 2007 sampai dengan
2014.
3. Sampling
Menurut Sugiyono (2006:56), Teknik sampling adalah merupakan
teknik pengambilan sampel. Penelitian ini menggunakan Sampling
Jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel.
F. Variabel dan Definisi Operasional
Variabel adalah sekumpulan data yang nilainya berubah-ubah dan
sering digunakan dalam proses merancang sebuah program. Operasional
55
variabel adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara
mengukur suatu variabel (Zainuddin, Widyantoro, 2001:54).
Dalam penulisan penelitian ini, defenisi operasionalnya akan dikemukakan
sebagai berikut :
1. Pembiayaan murabahah adalah akad jual beli barang dengan
menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati
oleh penjual dan pembeli, murabahah dapat dilakukan berdasarkan
pesanan atau tanpa pesanan di KSU BMT An Nur Muhammadiyah.
2. Pengakuan merupakan proses pembentukan pos yang memenuhi
definisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca atau laporan laba
rugi.
3. Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan
memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan
keuangan.
Tabel 1. Variabel dan Operasional
Sumber : PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syari‟ah Indonesia),
2003, Bank Indonesia: Jakarta
No Variabel Definisi Indikator
1. Pembiayaan Pembiayaan Murabahah - - Murabahah
Murabahah adalah Perjanjian jual beli - dengan pesanan
antara bank dan nasabah - Murabahah tanpa
dimana Bank Syariah membeli pesanan
barang yang diperlukan oleh
nasabah dan kemudian
menjualnya kepada nasabah
yang bersangkutan sebesar
harga perolehan ditambah
dengan margin / keuntungan
yang telah disepakati.
(Muhammad, 2005:22)
56
2. Pengakuan Pengakuan adalah proses - - neraca
pembentukan pos yang - -laporan laba rugi
memenuhi definisi unsur serta
kriteria pengakuan.
3. Pengukuran Pengukuran adalah proses - - neraca
penetapan jumlah uang untuk - -laporan laba rugi
mengakui dan memasukkan
setiap unsur laporan keuangan
4. PSAK No. PSAK : Pernyataan Standar - -Pengakuan dan
102 Akuntansi Keuangan. - Pengukuran
PAPSI PAPSI : Pedoman Akuntansi - -Penyajian
Perbankan Syari‟ah - -Jurnal
Indonesia.(2003) - -Pengungkapan
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan menurut “ Sugiyono (2006:14)
analisis data terdiri dari :
1. Metode Kualitatif yaitu menekankan pada makna, penalaran, defenisi
suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak tentang hal-
hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang
kualitatif lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan
hasil akhir, oleh karena itu urutan dapat berubah-ubah tergantung pada
kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian
biasanya bersifat praktis.
2. Metode Kuantitatif yaitu mementingkan adanya variabel-variabel sebagai
obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefinisikan dalam
bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reabilitas dan validitas
merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan
pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menggunakan kualitas
hasil penelitian. Analisa kuantitatif menggunakan data yang bersifat
57
kuantitatif/angka-angka statistic dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk
variabel-variabel dan operasionalisasinya dengan skala ukurn tertentu.
Analisa data yang digunakan adalah analisis kualitatif.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis
kualitatif, dimana data-data yang berhasil dikumpulkan, diolah dan
kemudian dianalisis, yang merupakan sebuah cara atau langkah untuk
mengolah data untuk memecahkan masalah penelitian. Langkah-langkah
yang dilakukan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a) Mengumpulkan data yang telah diperoleh dari KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu, yaitu data mengenai pembiayaan
murabahah.
b) Melakukan wawancara dengan petugas KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu yang berkaitan dengan pembiayaan
murabahah.
c) Mengolah data-data yang diperoleh yaitu mengenai penerapan
akuntansi murabahah khususnya pengakuan dan pengukuran
pembiayaan murabahah
d) Menganalisis pengakuan dan pengukuran pembiayaan murabahah pada
KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu.
e) Mengambil kesimpulan dari hasil analisis tersebut.