0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan73 halaman

Index

Penelitian ini membahas penerapan akuntansi pembiayaan murabahah di KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu, dengan fokus pada pengakuan dan pengukuran sesuai PSAK No. 102. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan akuntansi murabahah sudah sesuai dengan ketentuan, meskipun terdapat dominasi pada sisi akuntansi sebagai penjual. Metode pengakuan dan pengukuran menggunakan basis akrual dan historical cost.

Diunggah oleh

LiterNasi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan73 halaman

Index

Penelitian ini membahas penerapan akuntansi pembiayaan murabahah di KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu, dengan fokus pada pengakuan dan pengukuran sesuai PSAK No. 102. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan akuntansi murabahah sudah sesuai dengan ketentuan, meskipun terdapat dominasi pada sisi akuntansi sebagai penjual. Metode pengakuan dan pengukuran menggunakan basis akrual dan historical cost.

Diunggah oleh

LiterNasi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN

MURABAHAH PADA KSU BMT AN – NUR


MUHAMMADIYAH CIMANGGU
CILACAP

SKRIPSI

TOTO HARYANTO
NIM. 08.2.017

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
CILACAP
2014

i
PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN
MURABAHAH PADA KSU BMT AN – NUR
MUHAMMADIYAH CIMANGGU
CILACAP

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana


Pada Program Studi Akuntansi

TOTO HARYANTO
NIM. 08.2.017

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
CILACAP
2014

ii
PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN
MURABAHAH PADA KSU BMT AN – NUR
MUHAMMADIYAH CIMANGGU
CILACAP

SKRIPSI
Oleh :
TOTO HARYANTO
NIM. 08.2.017

Telah diseminarkan dalam konsorsium di depan tim penguji


Pada tanggal : 30 Oktober 2014

1. Mustabihatun Umriyah, [Link], [Link], …..……………………………..


Pembimbing I

2. Hj. Sutarti, S.E, [Link],Ak ..………………………………..


Pembimbing II

3. Muslim Fikri, S.E, [Link] …………………………………..


Penelaah

Cilacap, Oktober 2014

PROGRAM STUDI AKUNTANSI STRATA 1


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH CILACAP

Ketua, Ketua,
STIE Muhammadiyah Cilacap Program Studi Akuntansi

Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, M.H Tri Nurindahyanti, S,E, [Link],Ak


NBM. 255763 NIP. 19750523 200501 2 001

iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Toto Haryanto
NIM : 08.2.017
Program Studi : Akuntansi

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil


karya saya, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain
yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil
plagiasi, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku atas perbuatan tersebut.

Cilacap, Oktober 2014

Yang membuat pernyataan,

Toto Haryanto
NIM. 08.2.017

iv
MOTTO

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali


mereka sendiri yang mngubah keadaan jiwanya’
( Qs. Ar Ra’d 13 : 11 )
sabda Nabi Muhammad SAW: "Sebaik-baik di antara kamu adalah yang
paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap
keluargaku."
“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada
pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak
dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka”
(HR. Muslim)
“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan Hari Esok harus lebih baik
dari hari ini”
“Orang yang mengetahui keseimbangan hidup Akan mengenal
KEBAHAGIAAN, Siapa yang menempuh jalan kesederhanan
maka ia dapat meraih KEMENANGAN, dan siapa yang mengikuti JALAN
YANG MUDAH Niscaya dia akan MERAIH KEBERUNTUNGAN”
“Tiga kunci kesuksesan yaitu man jadda wa jadda (Siapa yang
bersungguh-sungguh akan berhasil, man shobaro zarifo (Siapa yang
bersabar akan beruntung), man saro darbi ala washola (Siapa yang
berjalan di jalur-Nya akan sampai )”. Al Hadist.
“Banyak kegagalan hidup ini dikarenakan orang-orang tidak
Menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka
Menyerah (Thomas Alva Edison)

v
PERSEMBAHAN

Tanpa mengurangi rasa syukurku kepada Alloh SWT, Skripsi ini


Kupersembahkan untuk :

Perempuan yang terayu dan terkuat yang mengajarkanku tentang Cinta,


kasih sayang dan manis pahitnya kehidupan, yang Do’a dan peluhnya
membalut tiap jengkal nafasku, dan perempuan itu kupanggil IBU ….

Istriku Tersayang : Rohimatun Hasanah (atun)….


“Yang selalu mewarnai hari-hariku, yang selalu ada dalam hatiku, yang
selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya, dan selalu
memberikan dorongan baik moril maupun materil ….”

Sahabat – sahabatku yang selalu ada di sekitarku, baik teman kantor, main
teman seperjuangan dan teman kuliah, terima kasih untuk semua keikhlasan
kalian dalam perjuangan ini.

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas

rahmat dan karunianya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

yang berjudul “Penerapan Akuntansi Pembiayaan Murabahah pada KSU

BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap”. Sholawat

serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh Muhammad SAW,

keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakan

dan mengikuti sunnah-sunnahnya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak mungkin

terselesaikan tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu melalui pengantar ini penulis secara khusus mengucapkan rasa

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. H. Syamsulhadi Irsyad, M.H Ketua STIE Muhammadiyah Cilacap.

2. Ibu Tri Nurindahyanti Yulian, [Link], [Link], Ak Ketua Prodi Akuntansi STIE

Muhammadiyah Cilacap.

3. Ibu Mustabihatun Umriyah, S.E, [Link] selaku dosen Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan dengan penuh perhatian dan

bijaksana dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Hj. Sutarti, S.E, [Link] selaku dosen Pembimbing II yang telah dengan

kesabaran melakukan koreksi dan memberikan bimbingan dalam penyusunan

skripsi ini.

vii
5. Bapak dan Ibuku tercinta, yang selalu mendo’akan, memberikan semangat

dan mendukung penulis dengan penuh kasih sayang. Semoga ini bisa menjadi

persembahan yang terbaik bagi keluarga.

6. Istriku tercinta, Rohimatun Hasanah, terima kasih atas do’a, pemikiran,

motivasi dan saran yang telah diberikan, cintamu hiasi jiwaku dan restumu

hiasi kehidupanku.

7. Anakku, Zahra Almaira Rahmani yang lucu dan manis, terima kasih sayang

untuk senyuman manisnya.

8. Kakak-kakaku, Koharudin dan Cahyono, terima kasih motivasi dan

dukungannya.

9. Sahabat-sahabatku seperjuangan, terima kasih atas perjuangan dan do’anya

dalam keikhlasannya.

10. Teman-teman seangkatan S1 Akuntansi 2008, terima kasih atas kebersamaan,

do’a, semangat, bantuan, saran dan kritik dalam penulisan skripsi. Semoga

Allah SWT membalas semua kebaikan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun sangat

penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap

semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Cilacap, Oktober 2014

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii

PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................ iv

HALAMAN MOTTO ................................................................................... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... vi

KATA PENGANTAR ................................................................................. vii

DAFTAR ISI ............................................................................................... ix

DAFTAR TABEL ........................................................................................ xii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiv

RINGKASAN ............................................................................................... xv

SUMMARY ................................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN

A Latar Belakang ......................................................................... 1

B Rumusan Masalah ..................................................................... 5

C Tujuan Penelitian ....................................................................... 6

D Manfaat Penelitian ................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A Tinjauan Pustaka ....................................................................... 8

ix
.1. Pengertian dan Konsep Akuntansi ......................................... 8

2. Pengertian dan Konsep Akuntansi Syariah ........................... 15

3. Biaya .................................................................................... 19

4. Pembiayaan Murabahah ....................................................... 21

5. Pengakuan dan Pengukuran ................................................. 30

6. Pembiayaan Murabahah dalam Persepsi Fatwa DSN ............ 42

B Penelitian Terdahulu ................................................................. 46

C Kerangka Pemikiran .................................................................. 48

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 50

B Jenis Penelitian .......................................................................... 50

C Jenis dan Sumber Data ............................................................... 50

D Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 51

E Populasi, Sampel dan Sampling ................................................. 54

F Variabel dan Definisi Operasional ............................................. 54

G Teknik Analisis Data ................................................................. 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A Hasil Peneiltian ......................................................................... 58

1. Sejarah Pendirian KSU BMT An Nur Muhammadiyah ....... 58

2. Visi Misi KSU BMT An Nur Muhammadiyah .................... 59

3. Struktur Organisasi ............................................................ 60

4. Kepengurusan KSU BMT An Nur Muhammadiyah ........... 76

x
5. Sususnan Kepengurusan, Pengawas, Manajer dan Karyawan 77

6. Permodalan, Operasional dan Sarana Kantor ..................... 78

7. Produk dan Layanan KSU BMT An Nur Muhammadiyah .. 80

B Pembahasan .............................................................................. 81

1. Penerapan Akuntansi Pembiayaan Murabahah .................... 81

2. Ilustrasi Penerapan Pembiayaan Murabahah ...................... 83

2. Perhitungan Pembiyaan Murabahah ................................... 85

4. Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah ........... 86

a) Pengakuan Pembiayaan Murabahah ................................ 86

b) Pengukuran Pembiayaan Murabahah .............................. 88

4. Metode Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah ...... 90

5. Penyajian dan Pengungkapan pembiayaan Murabahah ........ 90

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A Kesimpulan ................................................................................. 93

B Saran ........................................................................................... 94

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 95

LAMPIRAN-LAMPIRAN ........................................................................... 97

xi
DAFTAR TABEL

1. Variabel dan Operasional ................................................................... 55

2. Daftar angsuran pembiayaan murabahah ..................................... ......... 101

3. Laporan Neraca KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ......... 102

4. Laporan Keuangan KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ... . 103

xii
DAFTAR GAMBAR

1. Kerangka pemikiran penerapan pembiayaan murabahah di KSU BMT An

Nur Muhammadiyah Cimanggu ............................................................ 49

2. Struktur Organisasi KSU BMT An Nur Muhammadiyah .................... 61

3. Pembiayaan murabahah dengan pesanan ..................................... ......... 83

4. Pembiayaan murabahah bil wakalah ........................................... ......... 84

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Ikrar nasabah dalam pembiayaan murabahah ...................................... 97

2. Daftar angsuran (perhitungan) pembiayaan murabahah ............. .......... 101

3. Neraca KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu .......... ............. 102

4. Laporan Keuangan KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu .... 103

5. Formulir pendaftaran anggota pembiayaan ................................. ........... 105

6. Survei pembiayaan terhadap calon mitra .................................... .......... 106

7. Kuesioner penelitian .............................................................................. 107

xiv
RINGKASAN

Penelitian ini dengan judul ”Penerapan akuntansi pembiayaan murabahah


pada KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu”. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui penerapan akuntansi dalam pengakuan dan pengukuran
pembiayaan murabahah dan menganalisanya pada KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu sesuai dengan standar yang berlaku. Data analisis
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif, dimana
data-data yang berhasil dikumpulkan, diolah dan kemudian dianalisis, yang
merupakan sebuah cara atau langkah untuk mengolah data untuk memecahkan
masalah penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan,
bahwa KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ; (1) menerapkan akuntansi
pembiayaan murabahah yang operasionalnya sesuai dengan ketentuan yang
berlaku yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang
akuntansi murabahah. Dalam pelaksanaanya pembiayaan murabahah, melakukan
pembiayaan dengan akad murabahah pesanan dan pembiayaan dengan
menggunakan akad wakalah, (2) Pengakuan dan pengukuran pembiayaan
murabahah KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu sudah sesuai dengan
ketentuan PSAK dan 102. Namun ada yang kurang terletak pada transaksi dan
pengakuan pembiayaan murabahahnya lebih mendominasi pada sisi akuntansi
sebagai penjual. Metode pengakuan dan pengukuran pembiayaan murabahah
menggunakan basis akrual yaitu pendapatan atau biaya pada koperasi syariah
diakui dan dicatat di depan meskipun belum mengeluarkan atau menerima uang
(Cash). (3) Pengukuran pembiayaan murabahah diukur dengan historical cost atau
sebesar nilai wajar yang terealisasi yang diangsur oleh nasabah pada saat pesanan
yang bersifat mengikat, untuk pesanan murabahah yang bersifat tidak mengikat
diukur dengan nilai setara kas dan sudah memakai sistem khusus koperasi
berbasis syariah yang memudahkan dalam operasional dan penyusunan laporan
keuangan.
Berdasarkan penelitian ini, maka disarankan kepada KSU BMT An Nur
Muhammadiyah Cimanggu hendaknya ; (1) Untuk mengadakan evaluasi intern di
dalam penerapan PSAK No.102 yang mencakup pengakuan dan pengukuran,
(2) Seharusnya perlakuan transaksi pembiayaan murabahah dapat disesuaikan
dengan penamaan rekening yang sesuai dengan yang terdapat pada PSAK No 102,
(3) dalam pelaporan keuangan seharusnya menerapkan pelaporan keuangan yang
sesuai dengan PSAK No.101, (4) Untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan
lebih banyak literatur yang membahas tentang akuntansi syariah terutama dalam
bidang perkoperasian.

xv
SUMMARY

This study entitled " Application of murabaha financing accounting at


KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ". The purpose of this study is to
investigate the application of accounting in the recognition and measurement of
murabaha financing and analyze the KSU BMT An Nur Muhammadiyah
Cimanggu in accordance with applicable standards . The data analysis used in this
study using qualitative analysis , in which data are collected, processed and
analyzed, which is a means or step for data processing to solve research problems.
Based on the results of research conducted can be concluded, that the
KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ; (1) applying the accounting
murabaha financing operations in accordance with the applicable provisions of the
Statements of Financial Accounting Standards ( PSAK ) No. 102 on accounting
murabaha . In the implementation of financing murabahah contract with the orders
and finance by using wakalah, (2) Recognition and measurement of murabaha
financing KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu is in conformity with
the provisions of PSAK 102. However , and there is a lack lies in financing
transactions and recognition murabahah more dominating on the accounting side
as a seller. Recognition and measurement methods murabahah financing an
accrual basis income or expense in the coQoperative sharia recognized and
recorded in front though has not issued or received money (Cash ). (3)
Measurement of murabahah financing is measured by historical cost or at fair
value realized that repaid by the customer at time of order which is binding, to
order murabahah which are not binding measured by the value of cash equivalents
and had to wear a special system of sharia -based cooperative that facilitates the
operations and the preparation of financial statements .
Based on this study, it is suggested to KSU BMT An Nur
Muhammadiyah should Cimanggu ; (1) To conduct an internal evaluation in the
implementation of PSAK 102 that includes the recognition and measurement, (2)
Should the treatment of murabaha financing transaction may be adjusted to
conform with the naming of accounts contained in PSAK No. 102, ( 3 ) the
financial reporting should apply the financial reporting in accordance with PSAK
No.101, (4) for further research in order to use more accounting literature that
discusses the sharia, especially in the field of cooperatives.

xvi
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini lembaga keuangan berbasis syariah berkembang dalam

skala besar dengan menawarkan produk-produknya yang beraneka ragam

dengan istilah-istilah berbahasa Arab. Banyak masyarakat yang masih

bingung dengan istilah-istilah tersebut dan masih ragu apakah benar semua

produk tersebut adalah benar-benar jauh dari pelanggaran syariat ataukah

hanya rekayasa semata.

Indonesia, pada tahun 1997 terjadi krisis moneter yang membuat

bank-bank konvensional saat itu mengalami kondisi yang tidak stabil, yang

berakibat pada liquidasi, kecuali perbankan yang menggunakan prinsip

syariah. Hal ini disebabkan oleh bank syariah tidak dibebani oleh nasabah

membayar bunga simpanannya, melainkan bank syariah hanya membayar

bagi hasil yang jumlahnya sesuai dengan tingkat keuntungan yang diperoleh

dalam sistem pengelolaan perbankan syariah.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, telah

lama mendambakan kehadiran sistem lembaga keuangan yang sesuai

tuntunan kebutuhan tidak sebatas finansial namun juga tuntunan

moralitasnya. Bagi kaum muslimin, kehadiran lembaga keuangan berbasis

syariah adalah dapat memenuhi kebutuhannya, namun bagi masyarakat lain

adalah sebagai sebuah alternatif lembaga jasa keuangan. Untuk mengayomi

kebutuhan warga masyarakat islam dimaksud, pihak pemerintah


2

mengusahakan berdiri suatu sistem perbankan yang sesuai syariah dalam

suatu peraturan perundang-undangan, yaitu Undang-Undang No. 7 Tahun

1992 tentang perbankan.

Untuk saat ini perbankan syariah di dunia mengacu pada Statement of

Financial Accounting (SFA) yang dikeluarkan oleh Financial Accounting

Standards Board (FASB). Lembaga ini adalah bagian dari Accounting and

Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI).

Sedangkan di Indonesia, pedoman akuntansi perbankan syariah, khususnya

akuntansi Murabahah harus mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan

Syariah (2007), yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

Nomor 102 tentang Akuntansi Murabahah. Selanjutnya pedoman ini

dijelaskan dengan adanya Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia

(PAPSI) 2003 yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai standar

pengukurannya. Pedoman ini berisi semua hal terkait akuntansi perbankan

syariah. Salah satu diantaranya adalah panduan akuntansi produk-produk

perbankan syariah. Auditing Organization for Islamic Financial Institutions

(AAOIFI).

Koperasi syariah merupakan salah satu lembaga koperasi yang

beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai syariah memiliki tiga

azas yang melandasi praktek cara kerjanya, yaitu: azas kepercayaan, azas bagi

hasil, dan azas kekeluargaan. Konsep koperasi syariah dengan ketiga azas

tersebut adalah bagian integral dari keseluruhan sistem nilai (value system)

dalam Islam, sehingga memiliki potensi yang sangat besar untuk

mengembangkan rasa tanggung jawab sosial, keadilan sosial dan stabilitas


3

nasional yang merupakan syarat mutlak berseminya komitmen koperasi yang

mendukung program-program restrukturisasi bidang ekonomi.

Menurut Nurhayati dan Rahmaniyah (2008: 15) tujuan berdirinya

koperasi syariah adalah guna meningkatkan kualitas usaha ekonomi bagi

kesejahteraan anggota, yang meningkatkan ekonomi umat sebagai bagian dari

pembangunan ekonomi kerakyatan serta sudah seharusnya memanfaatkan dan

memperdayakan koperasi syariah sebagai lembaga yang menghimpun

masyarakat ekonomi lemah dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga

pemerintahan daerah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan lembaga

perbankan syariah, yang sedang berkembang saat ini di Indonesia dalam

sebuah bentuk kemitraan berupa pembinaan manajerial koperasi, bantuan

pengembangan perangkat dan sistem keuangan mikro, serta kerja sama

pendanaan dan pembiayaan. Semakin terbukanya peluang bagi

pengembangan koperasi syariah di Indonesia harus didukung oleh penerapan

konsep pembiayaan dan praktek akuntansi yang lebih mantap dalam kegiatan

operasional koperasi syariah.

Menurut Warsono (2011: 47) salah satu transaksi pembiayaan yang

kemungkinan besar diterapkan di masa kejayaan Islam adalah murabahah

(penjualan kembali dengan laba). Esensi transaksi murabahah adalah pembeli

dan penjual menetapkan harga kesepakatan berdasarkan harga perolehan

bersih (net cost) barang yang diperjual belikan ditambah dengan margin yang

disepakati. Koperasi melalui pembiayaan murabahah mulai

mempertimbangkan eksistensinya sebagai pihak perantara antara anggota

yang membutuhkan barang dan para supplier di luar koperasi yang memiliki
4

ataupun menghasilkan produk tersebut. Selanjutnya koperasi akan membeli

produk barang secara tunai dan menjualnya kembali kepada anggota yang

membutuhkannya dengan dasar beban yang ditangguhkan. Pembiayaan

murabahah membutuhkan kerangka akuntansi yang menyeluruh yang dapat

menghasilkan pengukuran akuntansi yang tepat dan sesuai sehingga dapat

mengkomunikasikan informasi akuntansi secara tepat waktu dengan kualitas

yang dapat diandalkan serta mengurangi adanya perbedaan perlakuan

akuntansi antara koperasi syariah yang satu dengan yang lain. Karena hal

tersebut akan berdampak dalam hal keadilan untuk menentukan laba bagi

para pembeli.

Menurut Warsono (2011: 59) salah satu masalah penting yang

dihadapi oleh koperasi syariah untuk pembiayaan murabahah adalah

pembagian laba bagi pembeli dan dari hasil beberapa laporan keuangan

koperasi syariah mengenai pengakuan dan pengukuran koperasi-koperasi

syariah mengakui bahwa pengakuan pendapatan dan biaya dalam

pembiayaan murabahah menggunakan basis akrual (accrual basis) yaitu

pendapatan atau biaya pada koperasi syariah di akui dan dicatat di depan

meskipun belum mengeluarkan atau menerima uang (cash). Situasi tersebut

memperlihatkan bahwa koperasi syariah ternyata sepenuhnya memakai satu

standart yang baku sebagai acuan dalam operasionalnya. Kebutuhan akan

penetapan dasar metode pengakuan dan pengukuran akuntansi, khususnya

untuk pembiayaan murabahah menjadi sangat penting dan harus disesuaikan

dengan ketentuan-ketentuan syariah.


5

Jika Baitul Maal wat Tamwil (BMT) memiliki sumber daya manusia

yang baik dan modal kerja yang cukup kita bisa lebih berharap kepada BMT

dengan kondisi seperti ini. Namun BMT dengan kondisi seperti ini pun tidak

selamanya terbebas dari masalah. BMT tumbuh menjadi lembaga keuangan

yang terus berkembang menjadi besar. Namun suatu saat BMT ini tersadar

ketika proses audit dilakukan. Ternyata angka-angka pada neraca tidak

memiliki data pendukung yang memadai. Terjadi banyak selisih data, yang

pada akhirnya menimbulkan biaya baru. BMT ini pun kesulitan melakukan

evaluasi terhadap kinerja keuangan, kinerja marketing dan resiko yang sedang

dihadapinya.

Banyak BMT besar yang runtuh karena hal ini. Akar masalah dari hal

tersebut adalah tidak adanya atau tidak dijalankannya akuntansi pembiayaan

murabahah sebagaimana mestinya yang seharusnya berpedoman pada

Pernyataan Standar Akuntansi keuangan (PSAK) Nomor 59 (102) tentang

perbankan syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah (PAPSI) 2003

yaitu panduan akuntansi produk-produk perbankan syariah. Untuk itu penulis

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penerapan akuntansi

pembiayaan murabahah ini, maka penulis melakukan penelitian dengan judul

“Penerapan Akuntansi Pembiayaan Murabahah pada KSU BMT An

Nur Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, penulis merumuskan masalah

sebagai berikut :
6

1. Apakah penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT

An – Nur Muhammadiyah Cimanggu telah sesuai dengan standar yang

berlaku?

2. Bagaimana penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT

An Nur Muhammadiyah Cimanggu ?

3. Bagaimana penerapan pengakuan dan pengukuran akuntansi pembiayaan

murabahah di KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah :

1. Untuk mengetahui penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada

KSU BMT An Nur Muhammadiyah sesuai dengan standar yang berlaku.

2. Untuk menganalisis penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada

KSU BMT An – Nur Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap.

3. Untuk mengetahui penerapan akuntansi syariah dalam pengakuan dan

pengukuran pembiayaan murabahah pada KSU BMT An-Nur

Muhammadiyah Cimanggu Kabupaten Cilacap.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu

pengetahuan dan menjadi referensi serta bahan untuk menambah

wawasan bagi pihak yang berkepentingan.


7

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan

pengetahuan tentang aplikasi pembiayaan murabahah terkait proses

dan penerapan akuntansinya serta membandingkan teori-teori yang

diperoleh selama kuliah dengan kenyataan yang dihadapi dilapangan.

Di samping itu, penelitian ini ditujukan untuk memenuhi salah satu

syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi.

b. Bagi pihak perusahaan KSU BMT An – Nur Muhammadiyah

Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan

perbandingan atas produk yang telah dikeluarkan dan dijalankan

selama ini.

c. Bagi pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan diskusi

dan wacana informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan

d. Bagi STIE Muhammadiyah Cilacap

Dapat menambah pembendaharaan karya ilmiah Sekolah Tinggi

Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Cilacap yang selanjutnya

digunakan sebagai bahan penelitian lebih lanjut.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian dan Konsep Akuntansi

a. Pengertian Akuntansi

Dalam dunia usaha, ilmu akuntansi memegang peranan yang sangat

penting dalam menjalankan operasi perusahaan tersebut, apabila ilmu

akuntansi pada perusahaan diterapkan dengan baik, maka perusahaan

dapat lebih profesional dan bijaksana dalam pengambilan keputusan agar

keputusan yang diambil benar-benar menunjang keberhasilan usaha.

Menurut Sugiarto dan Suwardjono (2006: 4) akuntansi dapat

didefinisikan dari dua segi yaitu: Pertama dari segi ilmu akuntansi yang

berarti keseluruhan pengetahuan yang bersangkutan dengan fungsi

menghasilkan informasi keuangan suatu unit organisasi kepada pihak yang

berkepentingan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. Kedua dari

segi proses atau kegiatannya akuntansi dapat diartikan sebagai kegiatan

pencatatan, penyortiran, penggolongan, pengikhtisaran, peringkasan dan

penyajian transaksi keuangan suatu unit organisasi dengan cara tertentu

(Sugiarto, 2006:4).

Pengertian akuntansi menurut Accounting Principle Board (APB)

Statement no. 4 dalam Sofyan Syafri Harahap sebagai berikut : Akuntansi

adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi

kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi


9

yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan

ekonomi sebagai dasar memilih diantara beberapa alternatif (Harahap,

2005:4).

Dari definisi di atas akuntansi mengandung dua hal :

1) Akuntansi memberikan jasa, maksudnya kita harus memanfaatkan

sumber-sumber yang ada dengan bijaksana sehingga kita dapat

memaksimalkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, semakin baik

sistem akuntansi yang mengukur dan melaporkan biaya penggunaan

sumber daya tersebut, maka akan semakin baik juga keputusan yang

di ambil untuk mengalokasikannya.

2) Akuntansi menyediakan informasi kauangan yang bersifat kuantitatif

yang di gunakan dalam kaitannya dengan evaluasi kualitatif dalam

membuat perhitungan. Sehingga informasi masa lalu yang disediakan

akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi masa

mendatang.

Pada umumnya tujuan akuntansi adalah menyajikan informasi

ekonomi dari satu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang

berkepentingan. Sedangkan hasil dari proses akuntansi yang berbentuk

laporan keuangan yang diharapkan dapat membantu bagi pemakai

informasi keuangan.

b. Konsep Dasar Akuntansi

Dalam penerapan akuntansi ada hal-hal yang perlu diperhatikan

mengenai konsep-konsep dasar akuntansi, yaitu sebagai berikut (Sugiarto

dan Suwardjono, 2006: 54) :


10

1) Kesatuan usaha (business entity).

Konsep kesatuan usaha yaitu sebagai berikut: konsep yang

mengatakan bahwa dari akuntansi unit usaha atau perusahaan harus

dianggap sebagai orang atau badan atau organisasi yang berdiri sendiri,

bertindak atas namanya sendiri, dan terpisah dari pemilik.

2) Dasar-Dasar Pencatatan

Terdapat dua macam dasar pencatatan dalam akuntansi yang

dipakai dalam mencatat transaksi yaitu:

a) Dasar kas, yaitu suatu dasar akuntansi yang mengakui pendapatan

dan melaporkannya pada saat kas diterima, serta mengakui biaya

atau beban dan mengurangkannya dari pendapatan pada saat

pengeluaran kas untuk membayar biaya atau beban tersebut

dilakukan dalam suatu periode tertentu.

b) Dasar akrual, yaitu mencatat setiap transaksi yang terjadi tanpa

memperhatikan kas yang sudah diterima atau belum.

3) Konsep Periode Waktu

Yaitu suatu konsep yang menyatakan bahwa akuntansi

menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan

menilai kemajuan perusahaan.

4) Unit Moneter

Unit moneter digunakan sebagai alat pengukur suatu objek atau

aktivitas perusahaan dan menganggap bahwa nilai uang adalah stabil

dari waktu ke waktu.


11

5) Transaksi

Yaitu kejadian atau peristiwa didalam perusahaan yang dapat

menyebabkan perubahan pada jumlah harta, hutang dan modal.

6) Kelangsungan Usaha (Going Concern)

Asumsi akuntansi bahwa perusahaan akan berjalan terus sampai

pada masa yang tidak dapat ditetapkan atau cukup lama untuk

melaksanakan rencananya.

7) Konsep Penandingan (Matching Concept)

Menurut C. Rollin Niswonger, Carl S. Warren, James M. Reeve,

Philip E. Fess, Matching Concept, didefinisikan sebagai berikut :

Konsep akuntansi yang mendukung pelaporan pendapatan dan beban

terkait pada periode yang sama.

c. Penggunaan Akuntansi

Penggunaan akuntansi adalah sebagai berikut

([Link]) :

1) Kegunaan Akuntansi bagi Manajemen

a) Memberikan suatu kriteria tertulis tentang transaksi finansial

perusahaan.

b) Memberikan laporan finasial secara periodik untuk meringkas hasil

perasi dan kondisi keuangan perusahaan.

c) Memberikan laporan secara periodik untuk meringkas dan membantu

pengawasan biaya produksi.

d) Memberikan data finansial untuk pengambilan keputusan baik secara

riil maupun proyeksi.


12

e) Dapat digunakan untuk pemeriksaan intern dengan memberikan data

financial yang dapat dipercaya.

f) Memberikan data untuk menentukan pajak pendapatan, pajak

kekayaan, dan laporan lain yang diperlukan pemerintah.

2) Kegunaan Akuntansi bagi Investor dan Kreditur.

Bagi Investor laporan keuangan berguna untuk mengetahui

sampai seberapa jauh perkembangan perusahaan beserta kondisi

keuangannya. Dengan mempelajari laporan keuangan periodik tersebut,

investor dapat menghindari adanya kemungkinan keliru dalam

investasinya.

Bagi kreditur laporan keuangan berguna untuk mencari

pinjaman, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh

kemampuan keuangan perusahaan sehingga dalam jangka waktu

tertentu dapat mengembalikan pinjamannya, dan dapat membayar

bunga secara rutin.

3) Kegunaan Akuntansi bagi Pemerintah

Bagi Pemerintah akuntansi berguna untuk menentukan pajak

suatu perusahaan. Akuntansi Pemerintah adalah instansi-instansi

pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

d. Macam-Macam Akuntansi

Macam-macam akuntansi ( [Link]/2012/11/[Link]):

1) Akuntansi Keuangan (Financial Accounting)

Akuntansi keuangan biasanya menyajikan suatu informasi

keuangan yang diperlukan dalam pengambilan keputusan bagi


13

pimpinan suatu organisasi atau perusahaan, owner, kreditur,

pemerintah, dan masyarakat.

2) Akuntansi Manajemen (Management Accounting)

Akuntansi manajemen menggunakan data historis ataupun suatu

data taksiran yang membantu manajemen dalam operasi sehari-hari

serta perencanaan mendatang. Tujuan utama dari akuntansi

manajemen adalah memberikan informasi pengambilan keputusan

yang relevan kepada pihak intern perusahaan.

3) Akuntansi Biaya (Cost Accounting)

Akuntansi biaya lebih menekankan pada pengendalian maupun

penetapan biaya, terutama yang berhubungan dengan biaya produksi.

Selanjutnya akuntansi biaya membantu perusahaan dalam

perencanaan dan pengawasan biaya pada aktivitas perusahaan.

4) Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting)

Akuntansi anggaran merupakan kombinasi kegiatan

perencanaan dengan pengendalian pengoperasian dimasa depan.

Akuntansi anggaran memberikan suatu rencana pengoperasian

keuangan untuk suatu periode tertentu, melalui pencatatan dan

meringkas data pelaksanaan dari pengoperasian tersebut. Selain itu,

akuntansi anggaran menganalisa data perbandingan dari operasi

sebenarnya dengan rencana yang telah ditetapkan.

5) Akuntansi Pajak (Tax Accounting)

Akuntansi Perpajakan meliputi penyusunan surat pemberitahuan

pajak (SPT), dan mempertimbangkan konsekuensi perpajakan dari


14

transaksi usaha yang direncanakan atau mencari alternative

pelaksanaan terbaik.

6) Akuntansi Pemerintah (Governmental Accounting)

Akuntansi pemerintah termasuk pada akuntansi lembaga-

lembaga nonprofit atau institusional accounting, mengkhususkan pada

masalah pencatatan pelaporan transaksi dari unit-unit pemerintah dan

organisasi nonprofit lainnya.

7) Akuntansi Sosial (Social Accounting)

Pada sekarang ini semakin meningkatnya permintaan terhadap

jasa profesi untuk mengukur biaya hidup dan manfaat sosial, yang

sebelumnya tidak dapat diukur. Akuntansi social menyangkut masalah

penggunaan dana-dana kesejahteraan sosial dalam masyarakat.

8) Akuntansi Internasional (International Accounting)

Akuntansi Internasional berhubungan dengan perdagangan

internasional dari perusahaan-perusahaan multinasional. Biasanya

berhubungan dengan bea cukai, bidang hukum, perpajakan dari tiap-

tiap Negara.

9) Akuntansi Pendidikan (Educational Accounting)

Akuntansi pendidikan menyangkut pendidikan akuntansi.

Seperti mengajar, penelitian, pemeriksaan akuntansi, serta lainnya

yang berhubungan dengan pendidikan akuntansi.

10) Akuntansi Syari‟ah (Syari’ah Accounting)

Merupakan Proses akuntansi atas transaksi-transaksi yang sesuai

dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.


15

11) Auditing

Auditing menyangkut suatu pemeriksaan pada catatan-catatan

akuntansi secara bebas. Pemeriksaan akuntansi adalah jasa yang biasa

diberikan oleh akuntan publik. Biasanya akuntan mengadakan

pemeriksaan terhadap catatan-catatan yang mendukung laporan

keuangan suatu organisasi atau perusahaan.

12) Sistem Akuntansi (Accounting System)

Sistem akuntansi merupakan bidang khusus yang menangani

perencanaan dan penerapan prosedur untuk mengumpulkan dan

melaporkan data keuangan. Seorang akuntan system harus

merencanakan suatu sestem yang memiliki unsure memeriksa dan

mencocokan (checks and balances) untuk dapat menjaga harta

perusahaan, dan mempunyai arus informasi yang efisien dan

bermanfaat bagi manajemen. Ia juga memahami penggunaan dan

kegunaan dari jenis-jenis alat pemrosesan data (data processing

equipment).

2. Pengertian dan Konsep Akuntansi Syariah

a. Pengertian Akuntansi Syariah

Akuntansi syariah adalah perhitungan periodik antara biaya dan

hasil. Konsep ini merupakan inti dari teori akuntansi dan merupakan ukuran

yang dijadikan sebagai rujukan dalam mempelajari akuntansi (Harahap,

1990: 13).
16

Akuntansi syariah menurut Accounting Principel Board (APB)

(dalam Muhammad, 2005: 10) adalah suatu kegiatan jasa yang

memberikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang,

mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam

pengambilan keputusan ekonomi, yang digunakan dalam memilih diantara

beberapa alternatif.

Akuntansi syariah adalah refleksi dari sebuah realitas yang

idealnya dibangun berdasarkan nilai-nilai dan etika (Gaffikin dan

Triyuwono dalam Hidayat, 1996: 09). Menurut Karim (dalam Hidayat,

1990: 03) mendefinisikan akuntansi syariah merupakan bidang baru

dalam studi akuntansi yang dikembangkan berlandaskan nilai-nilai, etika

dan syariah Islam, oleh karenanya dikenal juga sebagai akuntansi Islam

(Islamic accounting).

Akuntansi syariah adalah suatu proses, metode, dan teknik

pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran transaksi, dan kejadian-kejadian

yang bersifat keuangan dalam bentuk satuan uang, guna

mengidentifikasikan, mengukur, dan menyampaikan informasi suatu

entitas ekonomi yang pengelolaan usahanya berlandaskan syariah, untuk

dapat digunakan sebagai bahan mengambil keputusan-keputusan ekonomi

dan memilih alternatif-alternatif tindakan bagi para pemakainya (Hammed,

2003: 11).

Akuntansi syariah digunakan sebagai instrumen pendukung

penerapan nilai-nilai Islami dalam ranah akuntansi, fungsi utamanya

adalah sebagai alat manajemen yang menyediakan informasi kepada pihak


17

internal dan eksternal organisasi. Menurut Tinius dan Rabinowitz (dalam

Warsono, 2011: 12) akuntansi merupakan penerapan aplikasi aljabar yang

berasal dari arab yang diperkenalkan di Eropa pada abad ke 13.

Dengan demikian akuntansi syariah merupakan sistem yang

mengolah transaksi menjadi informasi keuangan yang dilakukan

berdasarkan hukum Islam dan mengolah secara syariah terhadap transaksi-

transaksi yang dijalankan sesuai syariah yang berdasarkan hukun Islam

yaitu Al-Quran dan Al-sunnah.

b. Tujuan Akuntansi Syariah

Secara umum tujuan akuntansi syariah adalah memberikan

informasi secara lengkap untuk mengetahui nilai dan kegiatan ekonomi

yang bertentangan dan yang diperbolehkan oleh syariah, meningkatkan

kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan

usaha, serta menentukan hak dan kewajiban pihak-pihak yang

berkepentingan terkait dalam suatu entitas ekonomi syariah berlandaskan

pada konsep kejujuran, keadilan, kebajikan, dan kepatuhan terhadap nilai-

nilai dan etika bisnis Islami. Akuntansi syariah diperlukan oleh masyarakat

Islam sebagai instrument pendukung yang menerapkan praktik ekonomi

Islam dalam tata kehidupan sosial ekonominya (Muhammad Yusuf : 2005,

Akuntansi Perbankan Syari’ah,hal 10)

c. Perbandingan Akuntansi Syariah Dan Akuntansi Konvensional

Adapun antara akuntansi syariah dan akuntansi konvensional

terdapat tiga pilar dalam pengembangan akuntansinya yaitu sebagai

berikut :
18

1. Pilar matematika

Dalam akuntansi konvensional sejauh ini masih menggunakan

persamaan yaitu: Aset = utang + ekuitas/Aset = utang + ekuitas +

pendapatan – biaya. Sedangkan di akuntansi syariah Dewan Standar

Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia menambahkan satu element

dipersamaan akuntansi yaitu dana syirkah temporer, jadi persamaan

akuntansi syariah yang berlaku saat ini adalah = Aset + biaya = Utang +

ekuitas + dana syirkah temporer + pendapatan.

2. Pilar prinsip dasar

Salah satu prinsip yang bertentangan adalah terkait dengan

prinsip nilai waktu (time value money) yang direfleksikan dengan

pemberlakukan bunga(interest). Prinsip ini memunculkan risiko

pengaplikasian riba yang dilarang dalam agama Islam. Sedangkan

dalam akuntansi syariah mendasarkan diri sepenuhya pada sumber

hukum syariah yaitu Al-Quran dan Al-Sunnah .

3) Pilar rancang bangun

Dalam praktik akuntansi konvensional cenderung

menyerdehanakan hal-hal yang dianggap tidak penting dan hasilnya

akuntansi konvensional dipertimbangkan semakin menurun

kontribusinya di dunia nyata. Sedangkan agama Islam menuntut profesi

akuntansi melakukan pencatatan dengan sebenar-benarnya sehingga

akuntansi syariah dikembangkan secara optimal sesuai dengan realita.

Adapun rancang bangun yang berlaku di akuntansi syariah sejauh ini


19

masih cenderung mengikuti pola rancang bangun akuntansi

konvensional.

3. Biaya

a. Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan sering digunakan untuk menunjukkan aktivitas

koperasi syariah karena berhubungan dengan rencana memperoleh

pendapatan. Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992, yang dimaksud dengan

pembiayaan adalah: penyediaan uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan dengan itu berdasarkan tujuan atau kesepakatan pinjam

meminjam antara koperasi dengan pihak lain yang mewajibkan pihak

peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu

ditambah dengan sejumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil.

Menurut PP No. 9 tahun 1995, tentang pelaksanaan simpan pinjam

oleh koperasi pengertian pinjaman adalah: penyediaan uang atau tagihan

yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan tujuan atau

kesepakatan pinjam meminjam antara koperasi dengan pihak lain yang

mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka

waktu tertentu dengan disertai pembayaran sejumlah imbalan.

b. Produk Pembiayaan

Salah satu produk BMT yang dapat menambah pendapatan adalah

jasa pembiayaan yang menggunakan sistem jual beli dan bagi

hasil/markup. Adapun salah satu produk pembiayaan dalam BMT

adalah sebagai berikut :


20

1) Produk pembiayaan mudharabah

Mudharabah merupakan pembiayaan untuk memperoleh

keuntungan bagi hasil yaitu pembiayaan BMT untuk proyek/investasi

usaha anggota, dimana dana sepenuhnya dari BMT dengan prinsip

bagi hasil keuntungan atas dasar kesepakatan perjanjian tertulis.

Anggota sebagai pengelola dana bertanggung jawab penuh atas

manajemen proyek/investasi usaha tersebut, serta bertanggung jawab

atas kerugian yang diakibatkan kelalaian yang dilakukan dengan

sengaja oleh anggota (kerugian yang bukan konsekuensi bisnis).

Apabila terjadi kerugian karena konsekuensi bisnis/kelalaian yang

tidak sengaja, maka BMT ikut menanggung kerugian tersebut sesuai

dengan kesepakatan (negosiasi) BMT dan anggota.

2) Produk pembiayaan murabahah

Murabahah yaitu perjanjian jual-beli antara BMT dengan

anggota. BMT membeli barang yang diperlukan anggota kemudian

menjualnya kepada anggota yang bersangkutan sebesar harga

perolehan ditambah dengan keuntungan atau margin yang disepakati

antara BMT dan anggota. Murabahah, dalam konotasi Islam pada

dasarnya berarti penjualan. Satu hal yang membedakannya dengan

cara penjualan yang lain adalah bahwa penjual dalam murabahah

secara jelas memberi tahu kepada pembeli berapa nilai pokok barang

tersebut dan berapa besar keuntungan pada nilai tersebut. Keuntungan

tersebut bisa berupa lump sum atau berdasarkan markup/persentase.


21

3) Produk pembiayaan musyarakah

Musyarakah merupakan pembiayaan dengan kerja sama untuk

memperoleh keuntungan bagi hasil. Pembiayaan BMT untuk proyek/

investasi usaha anggota, dimana BMT dan anggota sama-sama

menyediakan dana guna membiayai suatu proyek/investasi usaha

anggota. Manajemen dikelola bersama, bagi hasil keuntungan dan

resiko kerugian ditanggung bersama atas dasar kesepakatan

(negosiasi) kedua belah pihak (BMT dan anggota).

4. Pembiayaan Murabahah

a. Pengertian Pembiayaan Murabahah

Pengertian murabahah menurut PSAK No. 102 adalah menjual

barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah keuntungan

yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan

barang tersebut kepada pembeli. Menurut Warsono (2011: 48) adalah

akad jual beli barang dengan menyatakan harga asal dan keuntungan

(margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli dimana pembayaran

dapat dilakukan secara tunai atau tangguh (kredit). Menurut Nurhayati

dan Rahmaniyah (2008: 41) murabahah adalah akad jual beli barang

pada harga asal (harga perolehan) dengan tambahan keuntungan

(margin) yang disepakati oleh kedua belah pihak (penjual dan pembeli).

Murabahah adalah jual beli barang pada harga pokok

perolehan barang dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara

pihak penjual dengan pihak pembeli barang (Muhammad, 2008: 157).


22

Pada jual beli murabahah penjual harus mengungkapkan harga

perolehan barang dan kemudian terjadi negosiasi keuntungan yang

akhirnya disepakati kedua belah pihak.

b. Sistem Pembiayaan Murabahah

Pembiayaan adalah salah satu produk KSU BMT yang

merupakan kegiatan atau penanaman modal kepada anggota dengan

jangka waktu tertentu dengan margin atau bagi hasil yang ditentukan di

depan sesuai akad/perjanjian. Prosedur agar calon anggota atau anggota

dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari KSU BMT adalah

meliputi :

1) Jika belum menjadi anggota, maka calon anggota tersebut harus

diregistrasi sebagai anggota baru. Jika sudah menjadi anggota maka

langsung dilakukan prosedur selanjutnya.

2) Jika anggota tersebut belum memiliki rekening simpanan reguler,

maka harus dilakukan terlebih dahulu prosedur pembuatan rekening

simpanan reguler untuk anggota tersebut. Untuk mendapatkan

pembiayaan dari koperasi, anggota harus sudah memiliki rekening

simpanan reguler.

3) Setelah mendaftar menjadi anggota, dapat langsung dilakukan

pembukaan rekening pembiayaan baru. Pada hari itu juga pencairan

pembiayaan dapat dilakukan kepada anggota baik

secara cash maupun ditransfer ke rekening simpanan regulernya.


23

c. Jenis Pembiayaan Murabahah

Jenis pembiayaan murabahah dibedakan menjadi dua, yaitu

sebagai berikut :

1. Murabahah tanpa pesanan

Murabahah tanpa pesanan adalah pembeli bertransaksi

langsung dengan penjual yang telah memiliki persediaan barang

yang akan dijual.

2. Murabahah berdasarkan pesanan

Murabahah berdasarkan pesanan BMT akan melakukan

transaksi murabahah atau jual beli apabila ada nasabah yang

memesan, sehingga penyediaan barang baru dilakukan jika ada

pesanan. Pengadaan barang sangat tergantung atau terkait langsung

dengan pesanan atau pembelian barang tersebut. murabahah jenis

ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:

a. Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat tidak mengikat

Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat tidak mengikat

adalah penjual melakukan pembelian barang berdasarkan

pesanan pembeli tetapi kedua belah pihak berhak untuk

membatalkan transaksi murabahah tersebut tanpa harus dikenai

sansi atau denda.

b. Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat mengikat

Murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat mengikat adalah

penjual melakukan pembelian barang berdasarkam pesanan


24

yang mana pembeli tidak dapat membatalkan transaksi

murabahah tersebut.

d. Landasan Hukum Pembiayaan Murabahah

Menurut Warsono (2011: 54) pembiayaan murabahah dalam

Islam disebutkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist adalah sebagai berikut :

1. Ayat al-Quran dalam surat an-Nisa’ ayat 29 yaitu: “Hai orang yang

beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan

cara yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku

dengan sukarela di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh

dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu”.

2. Ayat al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 275 yaitu: “Dan Allah

telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.

3. Dalam Hadist riwayat Ibnu Majah dan Shuhaib bahwa Rasulullah

SAW bersabda, tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan yaitu

jual-beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur

gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.

4. Hadist riwayat muslim yaitu orang yang melepaskan seorang muslim

dari kesulitannya didunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di

hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong hambanya selama ia

(suka) menolong saudaranya

5. Hadist riwayat jamaah yaitu penundaan (pembayaran) yang

dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kedzaliman.


25

e. Karakteristik Pembiayaan Murabahah

Adapun karakteristik pembiayaan murabahah adalah sebagai

berikut:

1. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa

pesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan, penjual melakukan

pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli.

2. Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak

mengikat pembeli untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam

murabahah pesanan mengikat pembeli tidak dapat membatalkan

pesanannya. Apabila aset murabahah yang telah

dibeli oleh penjual, dalam murabahah pesanan mengikat mengalami

penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli, maka

penurunan nilai tersebut menjadi beban penjual dan penjual akan

mengurangi nilai akad.

3. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh,

pembayaran tangguh adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada

saat barang diserahkan kepada pembeli tetapi pembayaran dilakukan

dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu tertentu.

4. Akad murabahah memperkenankan penawaran harga yang

berbeda untuk cara pembayaran yang berbeda sebelum akad

murabahah dilakukan. Namun jika akad tersebut telah disepakati

maka hanya ada satu harga dalam satu harga (harga dalam akad)

yang digunakan.
26

5. Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual,

sedangkan biaya perolehan harus diberitahukan. Jika penjual

mendapatkan diskon sebelum akad murabahah maka potogan itu

merupakan hak pembeli, sedangkan diskon yang diterima setelah

akad murabahah disepakati maka sesuai dengan yang diatur dalam

akad, dan jika tidak diatur dalam akad maka potongan tersebut

adalah hak penjual.

6. Diskon yang terkait dengan pembelian barang, antara lain, meliputi:

a) Diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian barang

b) Diskon biaya asuransi dari perusahaan asuransi dalam rangka

pembelian barang

c) Komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan

pembelian barang.

7. Diskon atas pembelian barang yang diterima setelah akad murabahah

disepakati diperlakukan sesuai dengan kesepakatan dalam akad

tersebut. Jika tidak diatur dalam akad, maka diskon tersebut menjadi

hak penjual.

8. Penjual dapat meminta pembeli menyediakan agunan atas piutang

murabahah, antara lain, dalam bentuk barang yang telah dibeli dari

penjual dan/atau aset lainnya.

9. Penjual dapat meminta uang muka kepada pembeli sebagai bukti

komitmen pembelian sebelum akad disepakati. Uang muka menjadi

bagian pelunasan piutang murabahah, jika akad

murabahah disepakati. Jika akad murabahah batal, maka uang muka


27

dikembalikan kepada pembeli setelah dikurangi kerugian rill yang

ditanggung oleh penjual. Jika uang muka itu lebih kecil dari

kerugian, maka penjual dapat meminta tambahan dari pembeli.

10. Jika pembeli tidak dapat menyelesaikan piutang murabahah sesuai

dengan yang diperjanjikan, maka penjual dapat mengenakan denda

kecuali jika dapat dibuktikan bahwa pembeli tidak atau belum

mampu melunasi disebabkan oleh force majeur. Denda tersebut

didasarkan pada pendekatan (ta’zir) yaitu untuk membuat pembeli

lebih disiplin terhadap kewajibannya. Besarnya denda sesuai dengan

yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari denda

diperuntukkan sebagai dana kebajikan.

11. Penjual boleh memberikan potongan pada saat pelunasan piutang

murabahah jika pembeli :

a) Melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu.

b) Melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang

telah disepakati.

12. Penjual boleh memberikan potongan dari total piutang

murabahah yang belum dilunasi jika pembeli :

a) Melakukan pembayaran cicilan tepat waktu

b) Mengalami penurunan kemampuan pembayaran

f. Rukun, Syarat dan Akad Pembiayaan Pembiayaan Murabahah

Adapun rukun, syarat dan akad dari pembiayaan murabahah

adalah sebagai berikut :

1. Rukun murabahah yaitu :


28

a. Pihak yang berakad meliputi penjual (bai’) dan pembeli

(mustari).

b. Objek yang diakadkan meliputi barang yang diperjual belikan

dan harga.

c. Akad/sighat meliputi serah (ijab) dan terima (kabul)

2. Syarat murabahah

a. Pihak yang berakad yaitu: Sebagai keabsahan suatu perjanjian

(akad) para pihak harus cakap hukum dan sukarela dan tidak

dibawa tekanan (terpaksa/dipaksa).

b. Objek yang diperjual belikan yaitu :

Barang yang diperjual belikan tidak termasuk barang yang

dilarang (haram) dan memberi manfaat serta tidak

menyembunyikan adanya cacat barang.

c. Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad.

d. Sesuai spesifikasinya antara yang diserahkan penjual dari yang

diterima pembeli.

e. Penyerahan dari penjual dan pembeli dapat dilakukan.

3. Akad/sighat

a. Harus jelas secara spesifik (siapa) para pihak yang berakad

b. Antara ijab kabul harus selaras dan transparan dalam spesifikasi

barang (penjelasan fisik barang) maupun harga yang disepakati

(memberitahu biaya modal kepada pembeli)

c. Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan

keabsahan transaksi pada kejadian yang akan datang


29

g. Perhitungan Margin/Keuntungan Pembiayaan Murabahah

Menurut Warsono (2011: 55) besarnya margin keuntungan atau

margin pendapatan yang diterima penjual pada dasarnya merupakan hasil

kesepakatan antara penjual dengan dan pembeli. Penjual tidak boleh

menuntut margin keuntungan yang berlebihan, dan pembeli dilarang

menganiaya penjual dengan menyetujui margin keuntungan yang terlalu

sedikit. Keuntugan dari pembiayaan murabahah dapat dipengaruhi oleh

beberapa faktor dibawah ini :

1. Jumlah pembiayaan

2. Jangka waktu pembiayaan

3. Sistem pengembalian murabahah dengan mengangsur dapat

berbeda dengan murabahah bayar tangguh.

4. Jumlah biaya yang muncul akibat pembiayaan tersebut.

5. Tingkat persaingan harga dipasar, baik dengan lembaga keuangan

sejenis maupun konvensional.

6. Karena sifatnya jual beli, maka standar keuntungannya tidak terbatas.

h. Penentuan Harga Kesepakatan Pembiayaan Murabahah

Dilihat dari sisi penjual harga kesepakatan adalah sebesar harga

jual barang murabahah, sedangkan bagi pembeli, harga kesepakatan

adalah sebesar biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang

murabahah tersebut (Warsono 2011: 52). Secara obyektif, harga

kesepakatan terdiri dari dua komponen, yaitu harga perolehan bersih dan

margin keuntungan, yang dimaksud dengan harga perolehan bersih

adalah herga perolehan barang dikurangi diskon pembelian yang


30

diperoleh penjual ketika membeli barang dari pemasok. Harga

kesepakatan dapat dituliskan secara matematik sebagai berikut:

1. Harga kesepakatan = Harga perolehan bersih + margin keuntungan

2. Harga kesepakatan = (Harga perolehan - diskon pembelian) + margin

keuntungan

i. Harga Perolehan Pembiayaan Murabahah

Biaya perolehan pembiayaan murabahah adalah jumlah kas atau

setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh suatu aset sampai dengan

aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau

digunakan. Adapun jenis pengeluaran untuk pemerolehan/pengadaan

barang lazimnya dapat dikelompok menjadi dua jenis, yaitu sebagai

berikut :

1. Pengeluaran langsung yaitu berbagai pengeluaran yang terjadinya

dapat diidentifikasikan baik sifat maupun nilai moneternya secara

mudah dan jelas dengan kegiatan pengadaan barang murabahah

yang dimaksud.

2. Pengeluaran tidak langsung yaitu berbagai pengeluaran yang

keterjadiannya sulit diidentifikasikan sifat dan/atau nilai

moneternya dengan kegiatan pengadaan barang murabahah yang di

maksud.

5. Pengakuan dan Pengukuran

a. Pengertian Pengakuan dan Pengukuran

Suatu unsur diakui secara formal apabila unsur tersebut sudah

memenuhi salah satu definisi elemen laporan keuangan. Berarti


31

pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-

kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya kedalam

neraca atau laporan laba rugi. Pengakuan sebagai pencatatan suatu item

dalam akuntansi dan laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban,

pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian harus dapat diakui dan

diukur agar dapat menyajikan informasi yang relevan. Menurut

Muhammad (2008: 09) dikatakan bahwa pengakuan merupakan proses

pembentukan pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria

pengakuan dalam neraca atau laporan laba rugi. Sedangkan pengukuran

adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan

setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan keuangan.

Pengakuan memerlukan suatu konsep agar dapat menentukan kapan dan

bagaimana unsur dalam akuntansi dapat diakui dalam laporan

keuangan.

Konsep pengakuan akuntansi mendefinisikan prinsip dasar yang

menentukan penentuan waktu pendapatan, biaya, pengakuan untung

dan rugi didalam laporan keuangan, aset dan kewajiban. Adapun

konsep pengakuan dan pengukuran akuntansi antara lain :

1) Konsep matching, untung/rugi selama jangka waktu tertentu harus

ditentukan dengan mencocokkan pendapatan dan keuntungan dengan

biaya-biaya dan kerugian yang berhubungan dengan periode atau

jangka waktu tersebut.


32

2) Sifat pengukuran mengacu kepada sifat-sifat aset dan kewajiban

yang harus diukur untuk tujuan akuntansi keuangan. Sifat-sifat yang

harus diukur yakni:

a) Nilai setara kas yang diharapkan atau diperkirakan yang

diperoleh.

b) Relevansi aset, kewajiban dan investasi terbatas pada akhir

periode akuntansi.

c) Kemampuan aset, kewajiban dan investasi terbatas untuk

direvaluasi.

d) Sifat pengukuran alternatif tetapi nilai setara kas.

Kedua konsep tersebut merupakan dasar bagaimana suatu unsur

dalam laporan keuangan harus diakui dan diukur. Suatu pengakuan ada

kaitannya dengan pengukuran suatu unsur dalam akuntansi misalnya

saja pada tanggal perolehan aktiva, ada beberapa biaya dan nilai yang

memiliki nilai yang kurang lebih sama. Terdapat lima atribut

pengukuran yang saat ini banyak digunakan dalam praktek,

diantaranya:

1) Biaya historis yang merupakan harga setara kas untuk barang atau

jasa pada tanggal perolehan.

2) Biaya pengganti saat ini yang merupakan harga setara kas yang

bisa ditukarkan pada saat ini untuk membeli atau menggantikan

barang atau jasa yang sejenis.


33

3) Nilai pasar saat ini yang merupakan harga kas yang setara dengan

harga yang bisa didapatkan dengan menjual aktiva dalam kondisi

penjualan biasa.

4) Nilai realisasi bersih yang merupakan sejumlah kas yang

diharapkan akan diterima dari konversi aktiva dalam aktivitas

bisnis normal.

5) Nilai sekarang atau nilai yang didiskontokan yang merupakan

jumlah arus masuk kas bersih dimasa yang akan datang atau arus

keluar yang didiskontokan kenilai sekarang pada tingkat bunga

yang sesuai.

Dasar pengukuran yang umum digunakan entitas syariah

dalam penyusunan laporan keuangan adalah biaya historis, seperti

yang dijelaskan dalam PSAK No. 102 bahwa pembiayaan bagi hasil

yakni murabahah dalam bentuk kas diukur sejumlah uang yang

diberikan bank pada saat pembayaran, dan begitu juga pembiayaan

musyarakah diakui pada saat pembayaran tunai.

b. Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan

Setiap laporan laba rugi dimulai dengan total pendapatan, karena

itu diperlukan suatu pengakuan dan pengukuran pendapatan, karena ada

pendapatan yang dapat direalisasi dan ada pendapatan yang masih

dalam proses. Agar dapat dilaporkan pada laporan keuangan, maka

diperlukan suatu pengakuan dan pengukuran pendapatan. Ada dua

macam pengakuan pendapatan yang umum dikenal, yang pertama yakni

pengakuan dengan metode accrual basic yakni pendapat yang dicatat


34

atau diakui pada saat pendapatan dihasilkan tanpa memperhatikan

kapan pendapatan itu diterima, yang kedua yakni pengakuan dengan

metode cash basic yaitu pendapatan yang dicatat atau diakui pada saat

diterima dan beban diakui pada saat dibayar.

Dalam kaitannya dengan hal pengakuan pendapatan Ikatan

Akuntan Indonesia (IAI) menjelaskan bahwa pendapatan diakui bila

besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir

keperusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan andal, pendapatan

diakui bila:

a. sudah atau dapat direalisir (realized or realizable),

b. proses untuk memperoleh pendapatan sudah selesai (earned).

c. Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah

1) Akuntansi Untuk Penjual

Akuntansi transaksi murabahah dari sudut penjual yaitu sebagai

berikut :

a) Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan

sebesar biaya perolehan.

b) Pengukuran aset murabahah setelah perolehan adalah sebagai

berikut :

1) Jika murabahah pesanan mengikat Dinilai sebesar biaya

perolehan dan jika terjadi penurunan nilai aset karena usang,

rusak atau kondisi lainnya sebelum diserahkan ke nasabah,

penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan

mengurangi nilai asset


35

2) Jika murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak

mengikat dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih

yang dapat direalisasi, mana yang lebih rendah dan jika nilai

bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya

perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.

c) Potongan pembelian aset murabahah diakui sebagai berikut:

1) Jika terjadi sebelum akad murabahah maka sebagai pengurang

biaya perolehan aset murabahah

2) Jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang

disepakati maka bagian yang menjadi hak nasabah yaitu

dikembalikan kepada nasabah dan jika nasabah masih berada

dalam proses penyelesaian kewajiban atau kewajiban kepada

nasabah jika nasabah telah menyelesaikan kewajiban

3) Jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang

menjadi bagian hak lembaga keuangan syariah diakui sebagai

tambahan keuntungan murabahah

4) Jika terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan

dalam akad diakui sebagai pendapatan operasi lain.

d) Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian potongan

pembelian akan tereliminasi pada saat:

1) Dilakukan pembayaran kepada pembeli sebesar jumlah

potongan setelah dikurangi dengan biaya pengembalian

2) Dipindahkan sebagai dana kebajikan jika pembeli sudah tidak

dapat dijangkau oleh penjual.


36

e) Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar

biaya perolehan aset murabahah ditambah keuntungan yang

disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan, piutang

murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu

saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang.

f) Keuntungan murabahah diakui :

1) Pada saat terjadinya akad murabahah jika dilakukan secara

tunai atau secara tangguh sepanjang masa angsuran

murabahah tidak melebihi satu periode laporan keuangan

2) Selama periode akad secara proporsional, jika akad

melampaui satu periode laporan keuangan.

g) Jika menerapkan pengakuan keuntungan secara proporsional,

maka jumlah keuntungan yang diakui dalam setiap periode

ditentukan dengan mengalikan persentase keuntungan terhadap

jumlah piutang yang jatuh tempo pada periode yang

bersangkutan. Persentase keuntungan dihitung dengan

perbandingan antara margin dan biaya perolehan aset murabahah.

Alokasi keuntungan dengan menggunakan metode didasarkan

pada konsep nilai waktu dari uang (time value of money) tidak

diperkenankan karena tidak diakomodasikan dalam kerangka

dasar.

h) Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada

pembeli yang melunasi tepat waktu atau lebih cepat dari waktu
37

yang disepakati diakui dengan menggunakan salah satu metode

berikut:

1) Jika diberikan pada saat penyelesaian maka penjual

mengurangi piutang murabahah dan keuntungan murabahah

2) Jika diberikan setelah penyelesaian maka penjual terlebih

dahulu menerima pelunasan piutang murabahah dari

pembeli, kemudian penjual membayar potongan pelunasan

kepada pembeli dengan mengurangi keuntungan

murabahah.

i) Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut:

1) Jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat

waktu diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah

2) Jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran

pembeli diakui sebagai beban.

j) Denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan

kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang diterima

diakui sebagai bagian dana kebajikan.

k) Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:

1) Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar

jumlah yang diterima

2) Pada saat barang jadi dibeli oleh pembeli maka uang muka

diakui sebagai pembayaran piutang


38

3) Jika barang batal dibeli oleh pembeli maka uang muka

dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan dengan

biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual.

2) Akuntansi Pembeli Akhir

Akuntansi transaksi murabahah dari sudut pandang pembeli

akhir antara lain sebagai berikut:

a) Hutang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui

sebagai hutang murabahah sebesar harga beli yang disepakati

(jumlah yang wajib dibayarkan).

b) Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar

biaya perolehan murabahah tunai. Selisih antara harga beli yang

disepakati dengan biaya perolehan tunai diakui sebagai beban

murabahah tangguhan.

c) Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional

dengan porsi hutang murabahah.

d) Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah,

potongan pelunasan dan potongan hutang murabahah sebagai

pengurang beban murabahah tangguhan.

e) Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan

kewajiban sesuai dengan akad diakui sebagai kerugian.

f) Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang

diakui sebagai kerugian.


39

d. Penyajian Pembiayaan Murabahah

Piutang murabahah disajikan pada akhir periode

akuntansi adalah sebagai berikut :

a) Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat

direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi

penyisihan kerugian piutang.

b) Margin murabahah ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan

(contra account) piutang murabahah.

e. Pengungkapan Pembiayaan Murabahah

Lembaga keuangan syariah mengungkapkan hal-hal yang terkait

dengan transaksi murabahah, tetapi tidak terbatas pada:

a) Harga perolehan aset murabahah.

b) Janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan

sebagai kewajiban atau bukan.

c) Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang

penyajian laporan keuangan syariah.

f. Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Murabahah

Adapun perlakuan akuntansi pembiayaan murabahah adalah

sebagai berikut :

a) Pengakuan dan pengukuran urbun (uang muka).

1) Urbun diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah

yang diterima BMT pada saat diterima.

2) Jika transaksi murabahah dilaksanakan, maka urbun diakui

sebagai pembayaran piutang (bagian angsuran pembelian)


40

3) Jika transaksi murabahah tidak dilaksanakan, maka urbun diakui

dikembalikan kepada nasabah setelah dikurangi dengan biaya-

biaya yang telah dikeluarkan BMT.

b) Pengakuan piutang

Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar

nilai perolehan ditambah keuntungan yang disepakati.

c) Pengakuan keuntungan

Keuntungan murabahah, diakui :

1) Pada periode terjadinya, apabila akad berakhir pada periode

laporan keuangan yang sama.

2) Selain periode akad secara proposioanal, apabila akad melampaui

satu periode laporan keuangan.

d) Pengakuan potongan (muqasah) pelunasan dini diakui dengan

menggunakan salah satu metode :

1) Pada saat penyelesaian, kospin jasa syariah mengurangi piutang

murabahah dan keuntungan murabahah

2) Setelah penyelesaian, kospin jasa syariah terlebih dahulu

menerima pelunasan murabahah dari nasabah, kemudian

koperasi BMT An Nur Muhammadiyah membayar muqasah

kepada nasabah dengan mengurangi keuntungan murabahah.

e) Pengakuan denda.

Denda diakui sebagai dana kebajikan pada saat diterima

f) Pada akhir periode, piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih

yang dapat direalisasikan.


41

g) pada akhir periode, margin murabahah tangguhan disajikan sebagai

pos lawan piutang murabahah

g. Metode Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah

Pengakuan pendapatan dan biaya pada pembiayaan murabahah

menggunakan basis akrual yaitu pendapatan atau biaya pada koperasi

syariah diakui dan dicatat di depan meskipun belum mengeluarkan atau

menerima uang (cash) (Warsono, 2011: 59). Berbagai transaksi

pendapatan dan biaya pada dasarnya dilakukan ketika transaksi tersebut

terjadi/terbentuk dan terealisasi/ dapat direalisasikan bukan ketika

penerimaan atau pengeluaran kas terjadi dan penerapan berbasis kas

juga digunakan terutama untuk transaksi murabahah yang dilakukan

secara tangguh yang berjanka panjang, yaitu lebih dari satu periode

akuntansi sebagaimana terdapat di PSAK No. 102.

Dasar akrual yaitu dasar dimana pengaruh transaksi dan

peristiwa lain diakui pada saat kejadian (bukan pada saat kas atau setara

kas diterima atau dibayar (Wiyono, 2005: 79).

Asumsi dasar konsep koperasi syariah sama dengan asumsi dasar

konsep akuntansi keuangan secara umum yaitu accrual basic. Dengan

dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat

kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar)

dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam

laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan

yang disusun atas dasar accrual memberikan informasi kepada pemakai

tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan


42

pembayaran kas, tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan

serta sumber daya yang mempresentasikan kas yang akan diterima di

masa depan.

Menurut Warsono (2011: 59) penerapan berbasis kas juga

digunakan terutama untuk transaksi murabahah yang dilakukan secara

tangguh yang berjangka panjang, yaitu lebih dari satu periode akuntansi

sebagaimana terdapat di PSAK No.102. Sedangkan prinsip bagi hasil

menggunakan sistem accrual basic maupun cash basic dalam

administrasi keuangan, dilihat dari segi kemaslahatan, dalam pencatatan

sebaiknya digunakan sistem cash basic akan tetapi dalam distribusi

hasil usaha hendaknya ditentukan atas dasar penerimaan yang benar-

benar terjadi (cash basic), dan penetapan sistemnya harus dipilih dan

disepakati dalam akad. Menurut prakteknya, peneliti dapat menilai

bahwa pengakuan secara accrual basicdilakukan pada saat entitas

syariah melakukan tutup buku bulanan, hanya pendapatan atas

penyaluran dan aktiva yang mempergunakan prinsip jual beli karena

prinsip jual beli ini telah diketahui porsi pokok dan porsi

keuntungan/margin sedangkan untuk penyaluran dana prinsip bagi hasil

biasanya baru diketahui setelah tutup buku.

6. Pembiayaan Murabahah dalam Persepsi Fatwa DSN

Fatwa Dewan Syariah Nasional Tentang Murabahah Nomor 04 DSN-

MUI/IV/2000. Dewan Syariah Nasional (DSN)

Menimbang :
43

a) Bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari

bank berdasarkan pada prinsip jual beli.

b) Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan

meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan, bank syariah perlu

memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya, yaitu menjual

suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan

pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba.

c) Bahwa oleh karna itu, DSN memandang perlu menetapkan fatwa

tentang murabahah untuk dijadikan pedoman oleh bank syariah.

Mengingat :

1) Firman Allah QS. An-Nisa‟ (4): 29:

  


  
   
   

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling

memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali

dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di

antara kamu”.

2) firman Allah QS. Al-Ma‟idah (5) : 1

  


   
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu..”.

3) Hadis Nabi SAW :


44

Dari Abu sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,

“sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”(HR. Al-

baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh ibnu Hibban).

4) ijma‟. Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara

murabahah (Ibnu Rusyd, Bidayah al-mujtahid, juz 2, hlm. 161; lihat

pula al-kasani, bada‟i as-sana‟i, juz 5, hlm. 220-222).

Memutuskan :

Menetapkan : FATWA TENTANG MURABAHAH

Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam bank Syariah

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.

2. Barang yang diperjual belikan tidak diharamkan oleh syariah islam.

3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang

telah disepakati kualifikasinya.

4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank

sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.

5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan

pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan)

dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam

kaitan ini bank harus memberi tahu secara jujur harga pokok barang

kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.

7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada

jangka waktu tertentu yang telah disepakati.


45

8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad

tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan

nasabah.

9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli

barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan

setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

Kedua : Ketentuan murabahah kepada nasabah :

1. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu

barang atau aset kepada bank.

2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih

dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.

3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan

nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai perjanjian yang telah

disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat;

kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.

4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk

membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal

pemesanan.

5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil

bank harus dibayar dari uang muka tersebut.

6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung

oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada

nasabah.
46

7. Jika uang muka memakai kontrak „urbun sebagai alternatif dari uang

muka, maka ;

a. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia

tinggal membayar sisa harga.

b. Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank

maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat

pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi,

nasabah wajib melunasi kekurangannya.

B. Penelitian Terdahulu

Lia Anisatul Muniroh (2012) melakukan penelitian yang

berjudul Pembiayaan Murabahah di KJKS Bahtera Pekalongan. Dari hasil

penelitiannya disebutkan bahwa pada dasarnya pembiayaan murabahah di

BMT Bahtera tersebut menggunakan sistem wakalah yaitu praktiknya dalam

pembelian barang murabahah, pihak BMT Bahtera hanya mewakilkan kepada

nasabah untuk mencari dan membeli sendiri barang yang dibutuhkan tersebut,

sehingga memudahkan nasabah dalam mencari dan membeli benda/barang

yang dibutuhkan nasabah untuk perkembangan usahanya. Dalam hal ini

sistem pembayaran tersebut dilakukan secara angsuran ataupun secara

langsung/jatuh tempo (murabahah angsuran dan murabahah jatuh tempo).

Jumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh nasabah kepada BMT Bahtera

ialah jumlah harga barang dan mark-up (keuntungan yang telah disepakati).

Suwandi (2013) melakukan penelitian yang berjudul Penerapan

Akuntansi Pembiayaan Murabahah pada BMT Surya Barokah Palembang.


47

Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa BMT Surya Barokah Palembang,

menerapkan pembiayaan murabahah dengan memberikan pembiayaan berupa

sejumlah uang sesuai dengan pembiayaan yang dibutuhkan kepada nasabah,

hal ini disebut dengan akad wakalah, yaitu adanya pemberian kuasa atas dana

dan nama BMT kepada nasabah untuk melakukan pembelian barang sendiri

sesuai spesifikasi yang diinginkan kepada pihak supplier setelah memperoleh

pembiayaan dari pihak BMT. Namun, BMT Surya Barokah Palembang

terkadang melakukan pembiayaan murabahah pesanan yang bersifat

mengikat.

BMT Surya Barokah Palembang hanya akan melakukan

pembelian barang apabila telah dipastikan ada nasabah yang akan membeli

kembali barang tersebut secara akad murabahah. Dalam menjalankan

pembiayaan murabahah, BMT Surya Barokah Palembang menjual barang

dengan menegaskan harga perolehan barang kepada nasabah secara jujur dan

nasabah membayar dengan harga lebih sebagai keuntungan (margin) bagi

bank selaku penjual sesuai dengan kesepakatan antara pihak BMT Surya

Barokah Palembang dan nasabah.

Pembayaran kewajiban dilakukan oleh nasabah secara

tangguhan atau cicilan. Apabila ada keterlambatan pembayaran yang

dilakukan nasabah, maka pihak BMT Surya Barokah akan mencari tahu

alasan keterlambatan ataupun penangguhan pembayaran dan membicarakan

solusi terbaik kepada nasabah, BMT Surya Barokah tidak mengenakan denda

atas keterlambatan tersebut, sekalipun ada, denda hanya sebagai gertakan

kepada nasabah yang pembayarannya bermasalah.


48

Wahyudi Priandono (2012) melakukan penelitian yang berjudul

Analisis Penerapan PSAK N0. 102 Atas Pembiayaan Murabahah pada BMT

(Studi kasus pada BMT Sidogiri cabang Wirolegi, KJKS BMT Bina Tanjung

dan Koperasi Jasa keuangan syariah Nur Indah Abadi). Hasil penelitiaannya

menyebutkan Di KJKS Nur Indah Abadi penerapan PSAK telah dilakukan

dengan baik meskipun beberapa hal masih belum sesuai diantaranya

penerapan aset serta persepsi tentang akad murabahah dengan nasabah.

C. Kerangka Pemikiran

Peran umum BMT yang dilakukan adalah melakukan

pembinaan dan pendanaan yang berdasarkan sistem syariah. Peran ini

menegaskan arti penting prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan ekonomi

masyarakat. Sebagai lembaga keuangan syariah yang bersentuhan langsung

dengan kehidupan masyarakat kecil yang serba cukup ilmu pengetahuan

ataupun materi, maka BMT mempunyai tugas penting dalam mengambil misi

keislaman dalam segala aspek kehidupan masyarakat.

Di kota Cilacap khususnya, keberadaan Baitul Maal wat Tamwil

(BMT) sudah cukup berkembang, salah satunya KSU BMT An – Nur

Muhammadiyah yang beralamat di Jl. Raya Cimanggu No. 498 Kec.

Cimanggu - Cilacap. BMT ini melayani para pedagang kecil yang ingin

menambah modal usahanya. Siapapun boleh menjadi anggota BMT tersebut

apabila memenuhi persyaratan dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.

Proses pembiayaan di BMT tidak semulus yang dibayangkan, karena tidak

semua nasabah memiliki karakter bisnis yang sama satu dengan yang lain.
49

Pembiayaan adalah salah satu produk syariah merupakan

kegiatan jual-beli atau penanaman modal kepada anggota dengan jangka

waktu tertentu dengan margin atau bagi hasil yang ditentukan didepan sesuai

akad/perjanjian. Adapun produk pembiayaan adalah pembiayaan ijarah,

pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah dan pembiayaan

musyarakah.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti akan meneliti tentang

penerapan akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT An Nur

Muhammadiyah Cimanggu. Kerangka pemikiran tersebut dapat disajikan

dalam bagan sebagai berikut :

PSAK No. 102


PAPSI Tahun 2003

Pengakuan Akuntansi

Penerapan KSU BMT


Pembiayaan An Nur Muhammadiyah
Pengukuran Akuntansi Murabahah Cimanggu

Penyajian Akuntansi
(Laporan Keuangan)

Gambar 1. Kerangka pemikiran penerapan pembiayaan murabahah KSU BMT

An-Nur Muhammadiyah Cimanggu


50

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah KSU BMT An Nur Muhammadiyah

Cimanggu Kabupaten Cilacap di Jalan Raya Cimanggu No. 498 Kecamatan

Cimanggu. Alasan peneliti memilih obyek ini karena KSU BMT An - Nur

Muhammadiyah Cimanggu merupakan salah satu koperasi syariah yang

semakin menampakkan perkembangan usahanya dari tahun ke tahun.

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2014 sampai dengan

September 2014.

B. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian yang

bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud

untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau

kejadian.

C. Jenis Dan Sumber Data

1. Jenis Data

Adapun data yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini

adalah data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang menekankan pada

makna, penalaran, defenisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu),


51

lebih banyak tentang hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-

hari.

2. Sumber Data

Dalam melaksanakan penelitian ini data yang diperoleh bersumber

dari data sekunder. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang

diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara

(diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa

bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data

dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan atau

merupakan data yang diperoleh dari perusahaan yang berupa data tertulis,

yaitu data mengenai gambaran umum perusahaan dan dokumen-dokumen

yang digunakan perusahaan

D. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan

dengan beberapa cara sebagai berikut:

1. Pengamatan/observasi

Adalah metode pengumpulan data dimana penelitian mencatat

informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian.

2. Dokumentasi

Menurut Arikunto (2006:158) metode dokumentasi yaitu peneliti

menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,

peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya. Dokumen yang

dimaksud dalam penelitian ini adalah sejarah koperasi, struktur


52

organisasi, kumpulan data dan dokumen-dokumen serta catatan-catatan

yang terdapat di perusahaan dalam bentuk bukti-bukti transaksi, jurnal-

jurnal dan laporan keuangan.

3. wawancara/Interview

Wawancara/interview adalah menanyakan serentetan pertanyaan

yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dalam

mengkorek keterangan lebih lanjut. Teknik ini digunakan untuk

memperoleh data atau informasi tentang aplikasi dalam pembiayaan

murabahah, pengakuan dan pengukurannya, maka penulis melakukan

kegiatan wawancara dengan pihak Manager Marketing, Akunting/Divisi

Pembukuan dan Divisi Pembiayaan yang ada di Kantor KSU BMT

Muhammadiyah Cimanggu tersebut.

4. Responden/Informan

Adapun responden/informan yang dijadikan narasumber dalam

penelitian ini antara lain :

a) Manajer

Nama Narasumber : Supar Ahmad, Ama

Alasannya karena mengetahui mengenai perusahaan mulai dari

sejarah sampai dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam

perusahaan tersebut.

b) Divisi Pembukuan/Accounting

Nama Narasumber : Ro‟ati, Amd

Alasannya karena mengetahui tentang pembukuan, pelaporan

keuangan dan cara penyajian laporan dari awal sampai akhir.


53

c) Divisi Pembukuan

Nama Narasumber : Arum Dwi, [Link]

Alasannya karena mengetahui tentang penerapan pembiayaan-

pembiayaan yang diterapkan di BMT, diantaranya penerapan

pembiayaan murabahah.

5. Pedoman Wawancara

a) Manajer

1) Sejarah pendirian

2) Perkembangan

3) Struktur organisasi

4) Produk dan layanan

5) Syarat-syarat mengajukan menjadi Anggota/Nasabah

b) Divisi Pembukuan/Accounting

1) Visi dan misi

2) Modal awal pendirian

3) Sarana dan prasarana

4) Penerapan akuntansi pembiayaan murabahah

5) Pengakuan pembiayaan murabahah

6) Penyajian dan pengungkapan pembiayaan murabahah

c) Divisi Pembiayaan

1) Syarat-syarat pengajuan pembiayaan murabahah

2) Proses penerapan pembiayaan murabahah

3) Perhitungan pembiayaan murabahah

4) Pengukuran pembiayaan murabahah


54

E. Populasi, Sampel dan Sampling

1. Populasi

Populasi menurut Sugiyono (2009:117) adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan

kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini yang menjadi

populasi adalah akuntansi pembiayaan murabahah yang diterapkan pada

KSU BMT An - Nur Muhammadiyah Cimanggu dari sejak berdirinya

yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2014.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

populasi tersebut Sugiyono (2009:118). Sampel yang diambil adalah

akuntansi pembiayaan murabahah pada KSU BMT An Nur

Muhammadiyah Cimanggu sejak berdirinya tahun 2007 sampai dengan

2014.

3. Sampling

Menurut Sugiyono (2006:56), Teknik sampling adalah merupakan

teknik pengambilan sampel. Penelitian ini menggunakan Sampling

Jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi

digunakan sebagai sampel.

F. Variabel dan Definisi Operasional

Variabel adalah sekumpulan data yang nilainya berubah-ubah dan

sering digunakan dalam proses merancang sebuah program. Operasional


55

variabel adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara

mengukur suatu variabel (Zainuddin, Widyantoro, 2001:54).

Dalam penulisan penelitian ini, defenisi operasionalnya akan dikemukakan

sebagai berikut :

1. Pembiayaan murabahah adalah akad jual beli barang dengan

menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati

oleh penjual dan pembeli, murabahah dapat dilakukan berdasarkan

pesanan atau tanpa pesanan di KSU BMT An Nur Muhammadiyah.

2. Pengakuan merupakan proses pembentukan pos yang memenuhi

definisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca atau laporan laba

rugi.

3. Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan

memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan

keuangan.

Tabel 1. Variabel dan Operasional


Sumber : PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syari‟ah Indonesia),
2003, Bank Indonesia: Jakarta
No Variabel Definisi Indikator
1. Pembiayaan Pembiayaan Murabahah - - Murabahah
Murabahah adalah Perjanjian jual beli - dengan pesanan
antara bank dan nasabah - Murabahah tanpa
dimana Bank Syariah membeli pesanan
barang yang diperlukan oleh
nasabah dan kemudian
menjualnya kepada nasabah
yang bersangkutan sebesar
harga perolehan ditambah
dengan margin / keuntungan
yang telah disepakati.
(Muhammad, 2005:22)
56

2. Pengakuan Pengakuan adalah proses - - neraca


pembentukan pos yang - -laporan laba rugi
memenuhi definisi unsur serta
kriteria pengakuan.
3. Pengukuran Pengukuran adalah proses - - neraca
penetapan jumlah uang untuk - -laporan laba rugi
mengakui dan memasukkan
setiap unsur laporan keuangan
4. PSAK No. PSAK : Pernyataan Standar - -Pengakuan dan
102 Akuntansi Keuangan. - Pengukuran
PAPSI PAPSI : Pedoman Akuntansi - -Penyajian
Perbankan Syari‟ah - -Jurnal
Indonesia.(2003) - -Pengungkapan

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan menurut “ Sugiyono (2006:14)

analisis data terdiri dari :

1. Metode Kualitatif yaitu menekankan pada makna, penalaran, defenisi

suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak tentang hal-

hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang

kualitatif lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan

hasil akhir, oleh karena itu urutan dapat berubah-ubah tergantung pada

kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian

biasanya bersifat praktis.

2. Metode Kuantitatif yaitu mementingkan adanya variabel-variabel sebagai

obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefinisikan dalam

bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reabilitas dan validitas

merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan

pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menggunakan kualitas

hasil penelitian. Analisa kuantitatif menggunakan data yang bersifat


57

kuantitatif/angka-angka statistic dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk

variabel-variabel dan operasionalisasinya dengan skala ukurn tertentu.

Analisa data yang digunakan adalah analisis kualitatif.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis

kualitatif, dimana data-data yang berhasil dikumpulkan, diolah dan

kemudian dianalisis, yang merupakan sebuah cara atau langkah untuk

mengolah data untuk memecahkan masalah penelitian. Langkah-langkah

yang dilakukan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

a) Mengumpulkan data yang telah diperoleh dari KSU BMT An Nur

Muhammadiyah Cimanggu, yaitu data mengenai pembiayaan

murabahah.

b) Melakukan wawancara dengan petugas KSU BMT An Nur

Muhammadiyah Cimanggu yang berkaitan dengan pembiayaan

murabahah.

c) Mengolah data-data yang diperoleh yaitu mengenai penerapan

akuntansi murabahah khususnya pengakuan dan pengukuran

pembiayaan murabahah

d) Menganalisis pengakuan dan pengukuran pembiayaan murabahah pada

KSU BMT An Nur Muhammadiyah Cimanggu.

e) Mengambil kesimpulan dari hasil analisis tersebut.

Anda mungkin juga menyukai