0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan3 halaman

Untitled Document

Artikel oleh Dr. John Miksic membahas kompleksitas simbolisme Borobudur, yang meskipun tidak memenuhi kriteria mandala secara teknis, berfungsi sebagai jaringan simbol yang kaya makna dan mencerminkan kekuasaan politik serta spiritual. Miksic menunjukkan bahwa Borobudur menggabungkan berbagai sistem simbolis, termasuk Gunung Meru dan stupa, serta memiliki koneksi dengan tradisi Buddhisme global. Kesimpulannya, Borobudur adalah mahakarya arsitektur yang melampaui pandangan tradisional, mencerminkan pencarian manusia akan hakikat realitas dan kebijaksanaan tertinggi.

Diunggah oleh

tangguh.ht
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan3 halaman

Untitled Document

Artikel oleh Dr. John Miksic membahas kompleksitas simbolisme Borobudur, yang meskipun tidak memenuhi kriteria mandala secara teknis, berfungsi sebagai jaringan simbol yang kaya makna dan mencerminkan kekuasaan politik serta spiritual. Miksic menunjukkan bahwa Borobudur menggabungkan berbagai sistem simbolis, termasuk Gunung Meru dan stupa, serta memiliki koneksi dengan tradisi Buddhisme global. Kesimpulannya, Borobudur adalah mahakarya arsitektur yang melampaui pandangan tradisional, mencerminkan pencarian manusia akan hakikat realitas dan kebijaksanaan tertinggi.

Diunggah oleh

tangguh.ht
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Tangguh Haidarais Cahyogeni

NPM : 2406489070
Tugas : Review Artikel Was Bodobudur a Mandala?

Artikel karya Dr. John Miksic ini membahas perdebatan apakah Borobudur dirancang
sebagai sebuah mandala. Meskipun beberapa ahli menolak ide ini karena Borobudur tidak
memenuhi kriteria teknis mandala yang kaku—seperti ketiadaan gambar dewa penjuru mata
angin—Miksic berpendapat bahwa kemiripan desainnya bukanlah kebetulan semata. Ia
mengusulkan bahwa Borobudur jauh lebih kompleks daripada sekadar satu diagram religius.
Bangunan ini merupakan perpaduan berbagai sistem simbolis: sebagai Gunung Meru yang
sakral, stupa yang melambangkan kematian dan kelahiran kembali, serta jalur ziarah menuju
pencerahan. Melalui perbandingan dengan tradisi Buddhisme di Tibet dan teks esoteris,
Miksic menyimpulkan bahwa Borobudur adalah jaringan simbol yang kaya makna, berfungsi
sebagai cerita naratif yang megah sekaligus manifestasi kekuasaan politik dan spiritual.
Bagian tengah dokumen ini mendalami kompleksitas simbolisme Borobudur yang melampaui
sekadar struktur fisik statis, dengan menekankan bahwa monumen ini dirancang untuk
berfungsi dalam berbagai dimensi spiritual sekaligus. Penulis menyoroti pergeseran
pandangan akademis yang mulai meragukan teori tradisional tiga alam—Kamadhatu,
Rupadhatu, dan Arupadhatu—meskipun teori tersebut masih memiliki pengikut. Sebagai
gantinya, Borobudur dipandang sebagai representasi multidimensi: sebuah gunung suci yang
melambangkan sepuluh tahapan pencerahan Bodhisattva, sebuah stupa yang melambangkan
siklus kematian dan kelahiran kembali, serta instrumen politik untuk melegitimasi kekuasaan
Dinasti Sailendra. Fokus khusus diberikan pada teras melingkar di bagian atas yang dianggap
sebagai bagian paling teka-teki, di mana keberadaan 72 stupa berlubang dikaitkan dengan
angka simbolis dalam mandala Vajradhatu serta konsep Dharmadhatu. Penafsiran ini
diperkaya dengan analisis Hiram Woodward yang menyatakan bahwa lubang-lubang pada
stupa tersebut mungkin mencerminkan bentuk pernapasan para praktisi Buddhis dalam
meditasi, yang menunjukkan bahwa setiap detail arsitektural Borobudur memiliki makna
esoteris yang sangat dalam.

Selanjutnya, teks ini mengeksplorasi koneksi intelektual global yang membuktikan


posisi Jawa sebagai pusat pencerahan Buddhisme pada abad ke-8 dan ke-9. Melalui
perbandingan dengan biara Samye di Tibet yang dibangun sebagai mandala Gunung Meru,
penulis menunjukkan adanya kesamaan visi kosmis antara arsitek Jawa dan tradisi
trans-nasional lainnya. Dokumentasi sejarah mengenai tokoh-tokoh seperti Atisha—guru
besar India yang belajar di Sumatra sebelum membawa ajaran tersebut ke Tibet—serta
Bianhong, master Vajrayana asal Jawa yang menuntut ilmu di Tiongkok, memperkuat bukti
bahwa Jawa terhubung erat dengan jaringan spiritual internasional. Pengaruh teks
Tattvasamgraha juga sangat menonjol, di mana tata letak Buddha di Borobudur dianggap
merepresentasikan pertemuan lima Tathagata di puncak Gunung Meru. Penulis
menyimpulkan bahwa penggunaan relief naratif seperti kisah Sudhana dan Jataka di
Borobudur bukan sekadar hiasan atau ikon diam, melainkan sebuah "cerita" yang dinamis
untuk membimbing manusia dalam pencarian jati diri dan hakikat realitas, menjadikannya
sebuah mahakarya yang menggabungkan kecanggihan seni lokal dengan kedalaman filsafat
esoteris global.

Kesimpulan dari artikel ini menegaskan bahwa Borobudur bukanlah sekadar


bangunan keagamaan tunggal yang kaku, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang
merangkum jaringan simbolisme yang sangat kompleks dan multidimensi. Meskipun secara
teknis Borobudur tidak memenuhi kriteria sempit sebuah mandala karena ketiadaan citra
dewa tertentu dan pusatnya yang berupa stupa kosong, sulit untuk membantah bahwa konsep
mandala memainkan peran fundamental dalam rancangan denah dasarnya. Dr. John Miksic
berargumen bahwa para perancang Borobudur melampaui replikasi diagram tunggal dengan
menggabungkan setidaknya tiga sistem simbolis utama: sebagai gunung suci (Gunung Meru)
yang melambangkan tahapan pencerahan, sebagai stupa yang merepresentasikan kematian
dan kelahiran kembali, serta sebagai monumen politik untuk melegitimasi kekuasaan Dinasti
Sailendra. Penggunaan relief naratif yang luas menunjukkan bahwa Borobudur berfungsi
sebagai "cerita" yang hidup untuk mengajar para peziarah, berbeda dengan pandangan yang
menganggapnya sekadar ikon statis. Selain itu, kaitan sejarah dengan tokoh-tokoh besar
seperti Atisha dan Bianhong membuktikan bahwa Jawa pada masa itu merupakan pusat
intelektual Buddhisme dunia yang memiliki hubungan erat dengan tradisi esoteris di Tibet,
India, dan Tiongkok. Melalui analisis angka pada stupa dan pengaruh teks seperti
Tattvasamgraha, terlihat bahwa setiap detail fisik mencerminkan upaya untuk
memanifestasikan tempat suci di mana para Buddha berkumpul di puncak dunia. Pada
akhirnya, kecanggihan arsitek Jawa terlihat dari kemampuan mereka menciptakan monumen
yang memiliki banyak lapisan makna intelektual dan spiritual tanpa harus terikat sepenuhnya
pada model impor, menjadikan Borobudur sebagai simbol universal dari pencarian manusia
akan hakikat realitas dan kebijaksanaan tertinggi.

Anda mungkin juga menyukai