0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Dengan Mineral Trioxide Aggregate: Apeksifikasi Pada Gigi Insisivus Kanan Maksila

Dokumen ini membahas penggunaan Mineral Trioxide Aggregate (MTA) untuk apeksifikasi gigi insisivus kanan maksila pada pasien berusia 18 tahun yang mengalami trauma. MTA terbukti efektif dalam menutup apikal terbuka pada gigi non vital dan mempercepat proses penyembuhan, memungkinkan restorasi akhir dilakukan lebih cepat. Hasil perawatan menunjukkan bahwa penggunaan MTA dapat meningkatkan prognosis gigi yang mengalami fraktur dan diskolorasi akibat trauma.

Diunggah oleh

faizal winaris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Dengan Mineral Trioxide Aggregate: Apeksifikasi Pada Gigi Insisivus Kanan Maksila

Dokumen ini membahas penggunaan Mineral Trioxide Aggregate (MTA) untuk apeksifikasi gigi insisivus kanan maksila pada pasien berusia 18 tahun yang mengalami trauma. MTA terbukti efektif dalam menutup apikal terbuka pada gigi non vital dan mempercepat proses penyembuhan, memungkinkan restorasi akhir dilakukan lebih cepat. Hasil perawatan menunjukkan bahwa penggunaan MTA dapat meningkatkan prognosis gigi yang mengalami fraktur dan diskolorasi akibat trauma.

Diunggah oleh

faizal winaris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Maj Ked Gi.

Desember 2013; 20(2): 170-177

Apeksifikasi pada Gigi Insisivus Kanan Maksila


dengan Mineral Trioxide Aggregate
Ni Kadek Eka Widiadnyani* dan Ema Mulyawati.**
*Program Studi Konservasi Gigi, PPDGS, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada
** Bagian Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada
*Jl. Denta No.1 Sekip Utara, Yogyakarta, e-mail: [Link]@[Link]

ABSTRAK
Trauma pada gigi permanen imatur non vital dengan apikal terbuka sering terjadi dan melibatkan kurang lebih 30% populasi
anak. Mineral trioxide aggregate (MTA) adalah bahan pilihan terbaik yang dipakai sebagai bahan apeksifikasi untuk
pembentukan apikal barrier dan penyembuhan pada gigi imatur. Tujuan laporan kasus adalah untuk melaporkan keberhasilan
penutupan apikal dengan menggunakan MTA pada gigi permanen insisivus non vital dengan apikal terbuka yang diakibatkan
trauma. Pasien perempuan 18 tahun dengan keluhan gigi depan atas kanan patah dan berubah warna. Kejadian trauma sejak
6 tahun yang lalu karena jatuh dari sepeda. Pemeriksaan klinis, gigi non vital dengan fraktur Ellis klas IV disertai apikal terbuka
dan diskolorasi oleh karena trauma. Periapikal radiografis menunjukkan apikal masih terbuka dengan saluran akar yang besar
serta terdapat radiolusensi periapikal. Apeksifikasi dilakukan dengan MTA dilanjutkandengan pemasangan pasak pita fiber,
pembuatan inti dan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal. Simpulan hasil perawatan menunjukkan bahwa apeksifikasi
dengan MTA dapat mempersingkat waktu kunjungan dengan pembentukan barier apikal yang merangsang penyembuhan dan
dapat langsung dilanjutkan dengan restorasi akhir.
Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 170-177.

Kata kunci : Fraktur gigi, Imatur, Apeksifikasi, MTA, Apikal terbuka.

ABSTRACT: Apexification With Mineral Trioxide Aggregate In Right Maxillary Incisor. Traumatic injury in non-vital immature
permanent teeth with open apex is common, and it comprises approximately 30% of the pediatric population. Mineral trioxide
aggregate (MTA) is the best material to be used as an ingredient for apexification procedure for apical calcific barrier formation
and healing. The aim of the present case study is to overview the successful closure of root apex in pulpless permanent incisors
with wide open apices as a consequence of trauma using MTA. The examination was conducted to an 18 year-old female patient
who complained about her broken and discolored right upper front teeth. The traumatic injury of her teeth had happened since 6
years ago after she fell from bike. On clinical examination, she suffered from non-vital teeth with fracture Ellis class IV, apex open
and discoloration accompanied by trauma. Periapical radiographic evaluation showed that root formation with wide open apices
with root canal was large and indicated a periapical radiolucency. Therefore, apexification with MTA was performed followed by
ribbon fiber-reinforced, core making and restoration of full crown porcelain fusion metal. From the treatment, it can be concluded
that the time visit for apexification treatment using MTA is shortened, and MTA can heal and stimulate apical barrier formation
immediately after final restoration.
Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 170-177.

Keywords: Dental Fracture, Immature, Apexification, MTA, Open apex

PENDAHULUAN Perawatan gigi imature non vital merupakan


Trauma pada gigi immatur muda sangat sering tantangan bagi dokter gigi untuk merawat dan
terjadi hingga mencapai 30% dari populasi anak– mempertahankan gigi tetap dalam lengkungnya.
anak.1 Trauma gigi immatur dengan apikal terbuka Apeksifikasi adalah cara untuk menginduksi
dapat menyebabkan inflamasi pada pulpa maupun perkembangan apikal akar gigi imatur non vital,
nekrosis pulpa.1 Pembentukan akar yang tidak dengan pembentukan osteosementum atau
sempurna dengan belum menutupnya apikal dapat jaringan menyerupai tulang lainnya yang bertujuan
menyebabkan saluran akar menjadi lebar dengan menginduksi penutupan sepertiga apikal saluran
dinding yang tipis sehingga gigi mudah rapuh.2,3 akar atau pembentukan suatu “apical calcific barrier”

170
Ni Kadek E.W., dkk.: Apeksifikasi pada Gigi ...

pada apikal sehingga pengisian saluran akar dapat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada,
dilakukan dengan normal.4 Calcific barrier bertujuan atas rujukan dari bagian orthodontia dan ingin
untuk mencegah ekstrusi semen dan guta perca ke merawat gigi depannya yang patah serta berubah
arah periapikal pada saat dilakukan obturasi. warna. Gigi tersebut patah karena jatuh dari sepeda
Bahan yang sering digunakan untuk apeksifikasi 6 tahun yang lalu. Pada usia 15 tahun gigi tersebut
adalah Calcium hydroxide (Ca(OH)2). Kalsium pernah ditumpat kemudian mengalami sakit dan
hidroksida adalah bahan apeksifikasi konvensional sekarang gigi tidak dalam keadaan sakit. Pasien saat
dengan prosedur apeksifikasi jangka panjang untuk ini mengeluhkan rasa tidak nyaman dan kurang
pembentukan apical calcific barrier.5 Kelemahan percaya diri dengan kondisi tersebut serta ingin segera
dalam proses apeksifikasi menggunakan kalsium merawat gigi tersebut (Gambar 1). Pemeriksaan
hidroksida dibutuh-kan waktu beberapa kali obyektif didapatkan gigi insisivus sentralis kanan
kunjungan untuk membentuk apical calcific barrier, (11) terdapat fraktur mahkota duapertiga insisal
terkadang mencapai 5 sampai 54 bulan serta banyak yang melibatkan email, dentin dengan pulpa yang
mendapatkan paparan radiasi dari radolusensi nampak sudah terbuka Tes perkusi, palpasi dan
periapikal. Penggantian pasta kalsium hidroksida vitalitas negatif. Pada pemeriksaan radiografis
dapat dilakukan setiap 3 bulan.7 Selain hal tersebut, nampak saluran akar dengan apikal yang terbuka
dapat terjadinya kerentanan terhadap fraktur akar dengan kamar pulpa yang besar serta terdapat
dan mahkota selama waktu perawatan oleh karena radiolusensi periapikal (Gambar 2). Diagnosis adalah
struktur jaringan keras gigi yang mudah rapuh gigi 11 non vital dengan fraktur Ellis klas IV dengan
dengan dinding saluran akar yang tipis.6,7 Hal ini apikal terbuka dan diskolorasi oleh karena trauma
yang menjadikan mineral trioxide aggregate (MTA) disertai lesi periapikal. Rencana perawatan terdiri
, dkk. : Apeksifikasi Pada pilihan
sebagai bahan Gigi Insisivus...
alternatif yang tepat dengandari perawatan apeksifikasi dengan MTA dilanjutkan
kelebihan sifat yang dimilikinya yaitu sebagai apical dengan pemasangan pasak pita fiber, pembuatan inti
plug untuk mengisi ujung apikal tanpa menunggu dan mahkota selubung penuh porselin fusi metal.
formasi apical calcific barrier.8 Dengan kondisi Prognosis kasus ini baik.
tersebut dapat memungkinkan segera dilakukan
yaitu sebagai restorasi
apical pluguntuk untuk
mencegah mengisi
terjadinya fraktur pada
tanpa menunggu formasiBubuk
gigi imature. apicalMTA calcific
terdiri dari partikel
Dengan kondisi
hidrofilik tersebut
yang halus dan dapatmengeras bila ada
akan
kan segera cairan.
dilakukan
9
restorasi
Bersifat basa kuatuntukdengan pH awal 10,2
terjadinya fraktur pada gigi imature.3 - 4 jam setelah
dan akan menjadi 12,5 dalam
pencampuran.
terdiri dari partikel hidrofilikKekuatan
9,10
yang halus MTA terhadap tekanan
akan cairan. 10
meningkat Bersifat
sampai 21basa hari dalam lingkungan
engeras bila ada
lembab. 10
MTA
n pH awal 10,2 dan akan menjadi 12,5 dapat menciptakan suasana anti
bakteri, anti jamur dalam lingkungan
10,11 Gambar
alkali dan 1. FotoGambarklinis gigi 11 klinis gigi 11
1. Foto
- 4 jam setelah pencampuran.
MTA terhadapmempunyai
tekanan akan kemampuan untuk membentuk
meningkat Pada kunjungan pertama dilakukan pembuatan
hidroksiapatit diatas permukaan
lembab. MTAserta menciptakan Informed Consent. Saat pera-watan, dilakukan isolasi
11
hari dalam lingkungan 11,12
biologic seal. Penggunaan MTA untuk apeksifikasi
iptakan suasana anti bakteri, anti jamur daerah kerja dengan pemasangan isolator karet dan
dapat terprediksi hasilnya dan mempersingkat waktu
gkungan alkali dan mempunyai saliva ejector. Selanjutnya kamar pulpa diirigasi
perawatan dengan hasil yang lebih memuaskan.13,14
n untuk membentuk hidroksiapatit diatas dengan NaOCl 2,5% untuk membuang semua
serta menciptakan Tujuanbiologic ini 12,13
artikel seal. adalah memaparkan
debris dan jaringan nekrotik. Dilanjutkan dengan
n MTA untuk apeksifikasi gigi imatur dengan
apeksifikasi dapatmenggunakan MTA eksplorasi saluran akar dengan menggunakan K-file
hasilnya dan padamempersingkat
gigi permanen insisivus non vital dengan apikal
waktu #25 dengan panjang estimasi yang dihitung dari
dengan hasil yang lebih memuaskan. oleh trauma.
yang terbuka yang disebabkan 14,15
foto radiografis. Selanjutnya dilakukan pengukuran
an laporan kasus ini memaparkan panjang kerja dengan apex locator (Profex ® II,
gigi imatur dengan menggunakan MTA
STUDI KASUS Densply) didapat panjang kerja 20 mm yang sudah
permanen insisivus non vital dengan
Pasien perempuan, usia 18 tahun datang ke dikurangi 1 mm dari apikal, kemudian panjang kerja
terbuka yang Bagian
disebabkan oleh trauma.
Konservasi RSGM Gigi dan Mulut Pendidikan dikonfirmasi dengan foto radiografis (Gambar 3).

KASUS Gambar 2. Radiografis gigi 11


171
en perempuan, usia 18 tahun datang ke Pada kunjungan pertama dilakukan
onservasi RSGM Gigi dan Mulut pembuatan Informed Consent. Saat perawatan,
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas dilakukan isolasi daerah kerja dengan pemasangan
mbar 2. Radiografis akuadesgigi(Gambar
11 dimasukkan ke dalam
5). Kapas lembab yang telah saluran akar
dibasahi
kemudian
akuades kavitas dimasukkan ditutup
ke dalamdengan salurantumpatan
akar
Pada kunjungansementara. pertama Saliva
kemudian dilakukan
kavitas ditutup
ejector dengankaret
dan isolator tumpatan
dilepas.
Maj Ked Gi. Desember 2013; 20(2): 170-177
mbuatan
Gambar 1. Informed Consent.
Foto klinis gigi Pasien
11 Saat
sementara. perawatan,
Saliva ejector
diinstruksikan dancontrol
untuk isolator lagi
karet keesokan
dilepas.
akukan isolasi daerah kerjaPasien dengandiinstruksikan
pemasanganuntuk control lagi keesokan
harinya.
lator karet dan saliva ejector. Selanjutnya kamar
harinya.
pa diirigasi dengan NaOCl 2,5% untuk
mbuang semua debris dan jaringan nekrotik.
anjutkan dengan eksplorasi saluran akar dengan
nggunakan K-file #25 dengan panjang estimasi
ng dihitung dari foto radiografis. Selanjutnya
akukan pengukuran panjang kerja dengan apex
ator (Profex ® II, Densply) didapat panjang kerja
mm yang sudah dikurangi 1 mm dari apikal,
mudian panjang kerja dikonfirmasi dengan foto
iografis (Gambar 3). Radiografis gigi 11
Gambar 2.
Gambar 2. Radiografis gigi 11 Gambar 4. AplikasiGambar
MTA4. Aplikasi MTA
Gambar 4. Aplikasi MTA
Pada kunjungan pertama dilakukan
pembuatan Informed Consent. Saat perawatan,
dilakukan isolasi daerah kerja dengan pemasangan
solator karet dan saliva ejector. Selanjutnya kamar
pulpa diirigasi dengan NaOCl 2,5% untuk
membuang semua debris dan jaringan nekrotik.
Dilanjutkan dengan eksplorasi saluran akar dengan
menggunakan K-file #25 dengan panjang estimasi
yang dihitung dari foto radiografis. Selanjutnya
dilakukan pengukuran panjang kerja dengan apex
ocator (Profex ® II, Densply) didapat panjang kerja
20 mm yang sudah dikurangi 1 mm dari apikal,
kemudian panjang kerja dikonfirmasi dengan foto
radiografis (Gambar 3). 3. Radiografis
Gambar panjang
Gambar 5. Radiografis aplikasiaplikasi
MTA
Gambar 3. Radiografis panjang kerja gigi 11
kerja gigi 11 Gambar 5. Radiografis MTA

Preparasi biomekanik dilakukan meng-gunakan


Preparasi
headstrome file #80 dan Gambar
file#140 dengan5.
biomekanik Pada kontrol Kontrolberikutnya
gerakan Radiografis
dilakukan aplikasi
1 minggu kemudian tidak
MTAada keluhan
hasil pemeriksaan
subjektif dan objektif tidak ada keluhan pada gigi
nggunakan headstrome
sirkumferensial subyektif
file
dan disertai irigasi #80 akar
saluran [Link]#140
[Link]
Selanjutnya Perawatan dilanjutkan
kerja diisolasi dengan
menggunakan larutan NaOCLdengan dilakukan isolasi daerah kerjaejectordengan
ngan gerakan sirkumferensial
2 ml kemudian setelah selesai preparasi
dan
2,5% sebanyak
Pada disertai
salurankontrol
irigasi
pemasangan
berikutnya
isolator karet
tidak
dan saliva
ada keluhan
uran akar menggunakan pemasanga
larutan NaOCL saliva
kemudian ejector
2,5%tumpatan dan cotton
sementara roll.
dibuang. Ca(OH)Tumpatan
subyektif dan dibersihkan
[Link] saluranPerawatan dilanjutkan
2
akar, dilakukan irigasi ulang dengan NaOCL 2,5% akar dengan bantuan K-file
banyak 2sebanyak
ml kemudian
2 ml, EDTA cair 17% sementara
setelah
dan digenangidan
terakhirselesai kapas
preparasi diambil
dengan dari
NaOCLkavitas kemudian
dengan
dengan klorhexidine diglukonat dilakukan
2% selanjutnya
#140
isolasi daerah kerja dengan
lalu diirigasi 2,5% sebanyak
uran akar, dilakukan irigasi ulang dengan 2 NaOCL
ml dan terakhir dengan larutan salin. Saluran
pemasanga
saluran akar dikerigkan dengan
% sebanyak
saliva
paper point steril. akar ejector dan paper
dikeringkan dengan cotton [Link]
point steril. Tumpatan
Sterilisasi 2saluran
ml, akar
EDTA dengancair 17%
pasta dandipersiapkan
kalsium terakhir
sementara dan kapas
hidroksida ditambah larutan salin kemudian kavitas diambil dari kavitas kemudian
pada wadah stainless steel. Serbuk MTA
dan larutan salin dicampur dan diaduk kemudian
Gambarditutup
3. Radiografis
semetara dengan panjang
tumpatankerja gigi 11
sementara. dimasukkan ke dalam saluran akar menggunakan
Saliva ejector dilepas dan diinstruksikan pasien untuk MAP (Micro apical placement) sepanjang 5 mm ke
datang seminggu kemudian.
Preparasi biomekanik dilakukan
68
menggunakan headstrome file #80 dan file#140
172
dengan gerakan sirkumferensial dan disertai irigasi
saluran akar menggunakan larutan NaOCL 2,5%
sebanyak 2 ml kemudian setelah selesai preparasi
saluran akar, dilakukan irigasi ulang dengan NaOCL
hi kemudian ditekan ke dinding saluran akar di
ar sekelilingnya menggunakan fingger plugger sampai
an pita fiber tersebut berkontak dengan MTA (sesuai
Ni Kadek E.W., dkk.: Apeksifikasi pada Gigi ...
s. panjang pasak). Kelebihan bahan semen resin
an dapat dipakai untuk pembuatan inti. Dilakukan
aktivasi
apikal dan dipadatkandengan sinaryang selama
dengan fingger plugger ke dalam saluran 40akardetik. Bahan
sesuai panjang saluran pasak
sudah dipasangkan stopper. (Gambar 4). Selanjutnya menggunakan lentulo yang sudah dipasangkan
semen
dilakukan resin
pengambilan (Core
gambar build-
radiografis setelah up FR)
stoper. Pita yang
fiber yangdapat dipakai
sudah dipersiapkan dijepit
untuk
aplikasi MTA dalampembuatan
saluran akar untukinti
pengisian MTA (Gambar 5). Kapas lembab yang
diaplikasikan
konfirmasi pada bagian tengahnyakembali sampai
menggunakan
khusus dimasukkan ke dalam saluran akar secara
penjepit

telahkavitas
dibasahi akuadestertutup
dimasukkan kebahan
dalam saluransemen resin
perlahan lahan lalu
kemudian dilakukan
ditekan ke dinding saluran

aktivasi dengan sinar selama


akar kemudian kavitas ditutup dengan tumpatan
sementara. Saliva ejector dan isolator karet dilepas.
20 detik. Selanjutnya
akar di sekelilingnya menggunakan fingger plugger
sampai pita fiber tersebut berkontak dengan MTA
dilakukan
Pasien diinstruksikan untuk konfirmasi
control lagi keesokanradiografis
(sesuai panjang pasak). hasil aplikasi
Kelebihan bahan semen

pembuatan pasak pita [Link]


harinya. dapat dipakai untuk pembuatan inti. Dilakukan
aktivasi dengan sinar selama 40 detik. Bahan semen
Pada kontrol berikutnya tidak ada keluhan
Preparasi
subyektif dan obyektif. dilanjutkan
Perawatan dilanjutkan dengan untuk
resin (Core pembuatan
build- up FR) yang dapat dipakai intiuntuk

(Gambar
dilakukan isolasi daerah6).kerjaPenentuan
dengan pemasanga warna gigi A3 (Vitalumin
pembuatan inti diaplikasikan kembali sampai
tertutup bahan semen resin lalu dilakukan aktivasi
kavitas
saliva ejector dan cotton roll. Tumpatan sementara
danvacum) (Gambar
kapas diambil dari kavitas kemudian dilakukan 7) dengandilanjutkan dengan
sinar selama 20 detik. Selanjutnya dilakukan
konfirmasi radiografis hasil aplikasi pembuatan
pemasangan gingival retraction
pemasangan pasak berupa pita fiber (Construct, Kerr)
yaitu dengan dengan memasukkan pita fiber yang pasak pitacord
fiber. selama 3 menit
sudahmasuk
diaplikasikan keflowabledalam sulkus Preparasi
composite sehingga gingival. dilanjutkanSelanjutnya
untuk pembuatan inti

dilakukan pencetakan rahang


menjadi fiber reinforced composite ke dalam saluran
akar yang panjangnya telah diukur dua kali panjang
atas dengan teknik
(Gambar 6). Penentuan warna gigi A3 (Vitalumin
vacum) (Gambar 7) dilanjutkan dengan pemasangan
double
saluran impression
pasak. Sebelumnya menggunakan
pada gigi disebelahnya gingival retraction cord bahanselama 3 cetak
menit masuk

rubber (Exaflek, GC) danke


dipasangkan TBA kemudian saluran akar dan kavitas
diaplikasikan etsa dengan asam fosfat 37% selama
rahang bawah dengan
dalam sulkus gingival. Selanjutnya dilakukan
pencetakan rahang atas dengan teknik double
bahan
15 detik selanjutnyacetak
dibilas. Saluranhidrocolloid
akar kemudian irreversible.
impression menggunakan bahan Mahkota
cetak rubber

sementara (Refotek, LC) cetak


dikeringkan dengan paper point steril dengan
hembusan udara tidak langsung. Bahan bonding
dibuat untuk melindungi
(Exaflek, GC) dan rahang bawah dengan bahan
hidrocolloid irreversible. Mahkota sementara
gigiV 1.1
generasi dan kedipasang
diaplikasikan dalam saluran ke akar dalam
(Refotek, inti gigiuntuk
LC) dibuat 1.1melindungi
(Gambar gigi 1.1 dan
menggunakan microbrush kemudian didiamkan 20 dipasang ke dalam inti gigi 1.1 (Gambar 8). Cetakan
detik8). Cetakan
lalu dihembuskan yang
udara tidak sudah
langsung secara dicor/diisi
yang sudah dicor/diisi dengan
dengan gips stonegips dikirim
stone
perlahan. Kelebihandikirim
bahan bonding ke tekniker
diambil dengan gigi gigiuntuk
ke tekniker untuk dibuatkandibuatkan
mahkota porselin
paper point steril. Saluran akar kemudian diaktivasi fusi metal. Pasien diinstruksikan untuk datang satu
mahkota
dengan sinar selama 20 porselin
detik. Semen fusi metal.
resin (Core mingguPasien
kemudian. diinstruksikan
untuk datang satu minggu kemudian.
build- it FR) yang sudah diaduk diaplikasikan tipis

an
an
an
an
an Gambar 6. Hasil akhir preparasi inti

69173
idiadnyani, dkk. : Apeksifikasi Pada Gigi Insisivus...

yani, dkk. :Maj


Apeksifikasi Pada2013;
Ked Gi. Desember Gigi20(2):
Insisivus...
170-177

ambar 6. Hasil akhir preparasi Gambar


inti 7. Penentuan warna gigi

r 6. Hasil akhir preparasi inti

Gambar 9. Insersi PFM pada gig

ambar 7. Penentuan warna


Gambar 7. Penentuan gigiGambar
warna gigi 8. Gambar
Mahkota
Gambar 9. sementara
Insersi
8. Mahkota PFM
sementara padapada
pada gigi1111
gigi 11 gigi

7. Penentuan warna gigi Pasien kembali satu minggu kemudian.


Daerah kerja diisolasi dengan pemasangan saliva
ejektor dan cotton roll kemudian mahkota
sementara dilepas. Gigi 1.1 dibersihkan dengan
brush dan akuades steril kemudian dikeringkan.
Pengepasan mahkota jaket PFM dengan diperiksa
ambar 8. Mahkota sementara pada kerapatan gigi 11 tepi restorasi dengan tepi preparasi
8. Mahkota sementara pada gigi 11 dudukan, warna, bentuk anatomi dan oklusi.
Pasien kembali satu minggu Setelah pengepasan, Gambar
kemudian. [Link] dibersihkan
Radiografis gigi 11
aerah
asien kerja
kembali diisolasi
satu dengan
Gambar 9. Insersi PFM pada gigi Gambar
minggu
Gambar 9. pemasangan
dengan
kemudian.
Insersi PFM pada gigi saliva
alkohol
11
11 70% kemudian
Gambar 10.
10. Radiografis gigi 11 dikeringkan
Radiografis gigi 11 dan
kerja diisolasi dengan
ektor dan cotton roll kemudian pemasangan saliva
diulasi tipis mahkota silane agent (Metal primer,3M ESPE)
PEMBAHASAN
dan cotton roll kemudian
mentara dilepas. Gigi 1.1 dibersihkan mahkota dengan PEMBAHASAN
ra dilepas. Gigi dan didiamkan sampai kering. Inti pada gigi 1.1
ush dan akuadesPasien1.1 dibersihkan
steril
kembali satu kemudian dengan
minggu kemudian. dikeringkan.
Daerah shyringe dan disemprotkan udara tidak langsung.
an akuades steril kemudian dibersihkan
dikeringkan. kembali dengan Pada kasus akuades traumasteril ketika g
engepasankerja mahkota jaket pemasangan
diisolasi dengan PFM dengan diperiksa
saliva ejektor Pada generasi
Bahan bonding kasus Vtrauma ketika
diulasi tipis gigi belum
ke seluruh terjadi
san mahkota jaket PFM dengan kemudian
diperiksa dikeringkan. pembentukan
Sementasi akar
mahkota yang sempurna
jaket
rapatan tepicotton
dan restorasi dengan
roll kemudian mahkota tepisementara
preparasi pembentukan akar yang sempurna
permukaan inti menggunakan microbrush maka dan gigi akan
n tepi restorasi dengan tepi preparasi PFMbrush dilakukan mengalami inflamasi pulpa dan b
dukan, warna,
dilepas. Gigibentuk anatomi
1.1 dibersihkan dengan dan dan didiamkan dengan
mengalami
oklusi. selama 10 detiksemen
inflamasi pulpa dan
kemudian resin
bahkanyang
semprotkan nekrosis.
, warna, bentuk anatomi dan oklusi. Kondisi Kondisi
inilangsung
akan ini akan mengakibatkan
mengakibatkan pembentukan pe
akar
etelah pengepasan, mahkota
akuades steril kemudian
pengepasan, mahkota PFM dibersihkan
sebelumnya
PFM
dikeringkan. dibersihkan
Pengepasan seluruh
udara tidak permukaan
terhenti.
dan diaktivasi inti diaplikasikan
sinar
Proses pembentukan
selama
terhentinya akar pem
terhenti. Proses terhentinya
ngan
alkoholalkohol
mahkota 70%
70% jaket PFM
kemudian kemudian
dengan diperiksa
dikeringkan etsa dandengan
dikeringkan
kerapatan tepi dan 20asam
akan
detik. Semenfosfat 37%
resin yang
akan mengakibatkan
mengakibatkan
sudahselama
saluran
diaduk sesuai 15 detik
saluran lebar
akar menjadi aka
ulasi tipisrestorasi
pis silane silanedengan
agent agent
(Metal tepi (Metal
primer,3M kemudian
preparasi primer,3M
dudukan,
ESPE) warna, dibilas
ESPE) aturan dengan air
pabrik diaplikasikan
dengan dinding dengan dari ke three
yang dinding way
dalam permukaan
tipis danyang shyringe
apikaltipisakardan api
terbuka
n didiamkan bentuk sampai
anatomi
kering. dan oklusi.
padaSetelah
kering. Inti pengepasan, tepi restorasi dan mahkota jaket PFM diinsersikan
amkan sampai Inti danpada
gigi gigi 1.1
1.1disemprotkan sehinggaudara akan tidak
sangat langsung.
rentan terjadinya
sehingga akan sangat rentan terjad Bahan
fraktur akar
an kembali
bersihkan mahkotadengan
kembaliPFM dibersihkanakuades
dengan dengan steril
alkohol 70%
akuades ke dalam inti kemudian mahkota jaket ditahan
steril
nmudian
dikeringkan.
kemudian Sementasi
dikeringkan dan mahkota
bonding
jaket
diulasi tipis silane agent
generasi
ataupun V ataupun
[Link] tipis keakar
mahkota.
pada posisinya (Gambar 9). Kelebihan semen yang
seluruh
pada gigia
Perawatan
dikeringkan. Sementasipermukaan mahkota jaket immatur dengan
inti menggunakan immatur apikaldengan terbuka
microbrush akan mengalami
apikal dan a
terbuka
ilakukan dengan
(Metal primer,3Msemen
FM dilakukan dengan semen resin yang ESPE) resin yang
dan didiamkan sampai mengalir keluar dibagian servikal
kesulitan dalam prosedur perawatan endodontik labial, palatinal
nya seluruh permukaan
kering. Inti pada gigi 1.1intidibersihkandidiamkan
kembali dengan selama
diaplikasikan dan proksimal kesulitan
10instrumentasi
detik
diambil kemudian
menggunakan dalam prosedur
semprotkan
ekskavator perawa
dan biomekanik
belumnya seluruh permukaan inti diaplikasikan terutama saluran akar
ngan asam fosfatsteril
akuades 37% selama
kemudian 15udara
detik
dikeringkan. tidak
Sementasi langsung
yang standar
sonde. Mahkota dan terutama
diaktivasi
dan
PFM instrumentasi
mendapatkan
selanjutnya sinardengan
diaktivasi selama
apikal
saluran
stop20 untuk
a
sa dengan
n dibilas dengan asam fosfat 37% selama 15 detik yang standar dan mendapatkan a
mahkota air dariPFM
jaket threedilakukan
way shyringe
detik.
dengan semenSemen resin yang
sinar dari arahaplikasi
prosedur sudah
labial,palatal dan proksimal
bahan diaduk masing-
pengisian. sesuai
Apeksifikasi
mudian
emprotkanresindibilas
udara dengan air dari three way shyringe prosedur aplikasi bahan pengisi
yang tidak langsung.
seluruh Bahan masing selama 20
merupakan detik. Pengecekan
perawatan awal artikulasi dan
yangpermukaan
harus dilakukan
ngenerasi
disemprotkan V diulasi
sebelumnya
udara tidak
tipis asam aturan
permukaan inti
langsung.
ke fosfat
seluruh pabrik
Bahan diaplikasikan ke dalam
diaplikasikan etsa dengan 37% selama tujuan merupakan
oklusi dengan artikulating
dengan untukpaper perawatan
dan dilanjutkanawal yang
mendapatkan apical calcific
nding
Gambar
an inti generasi
[Link]
menggunakan
15 detik
V diulasi
Radiografis
microbrush tepi
tipis
dibilas dengan airgigi
dan restorasi
ke
dari three
seluruh
11way barrier dan
dengan mahkota
pengambilan
sebelum dengan jaket
foto PFM
radiografis
tujuanFaktor
restorasi. hasildiinsersikan
insersi
untukyang mendapatka
terpenting
rmukaan
n selama 10 intidetikmenggunakan
kemudian semprotkan ke dalam intidan
microbrush kemudian
PFM.
dalam
(Gambar 10). mahkota jaket
barrier sebelum restorasi. Faktor
pembentukan barrier ditahan
adalah pada
debridemen
ak langsung
diamkan dan diaktivasi
selama 10 detik sinar selama
kemudian posisinya20semprotkan (Gambar
sistem saluran 9). Kelebihan
akar pembentukan
yang baik semendan barrier yangada
menciptakan
dalam
PEMBAHASAN
emen resin
ara tidak 174 yang sudah diaduk
langsung dan diaktivasimengalir sesuai
sinar selama keluar20 mahkota
seal dibagian yang
sistem baik.
servikal
saluranlabial, akar palatinal
yang baik d
pabrik diaplikasikan
tik. Semen resin yang sudahdanke dalam permukaan diaduk sesuai Apeksifikasi konvensional dengan bahan
orasi dan mahkota jaket PFM diinsersikanproksimal diambilseal
kalsium hidroksida
menggunakan
mahkota yang baik.
banyak
ekskavator
mengalami kendala
uran pabrik diaplikasikan ke dalam permukaan Apeksifikasi konvensional
m inti kemudianPada kasus
mahkota jakettrauma
ditahan
pi restorasi dan mahkota jaket PFM diinsersikan
dan ketika
pada [Link] belum
Mahkota
sehingga terjadi
PFM
berbagai selanjutnya
bahan telah diusulkandiaktivasi sebagai
Ni Kadek E.W., dkk.: Apeksifikasi pada Gigi ...

PEMBAHASAN intracanal selama 7 hari dengan kalsium hidroksida


sangat efektif membunuh mikroorganisme saluran
Pada kasus trauma ketika gigi belum terjadi
akar.22 Apeksifikasi dengan bahan MTA dapat
pembentukan akar yang sempurna maka gigi akan
merangsang pembentukan calcific barrier dan
mengalami inflamasi pulpa dan bahkan nekrosis.
penyembuhan apikal sehingga terbentuknya
Kondisi ini akan mengakibatkan pembentukan akar
kerapatan apikal serta memungkinkan penem-patan
terhenti. Proses terhentinya pembentukan akar
akan mengakibatkan saluran akar menjadi lebar restorasi dalam saluran akar dapat segera dilakukan
dengan dinding yang tipis dan apikal akar terbuka dengan minimal aplikasi MTA 24 jam sehingga dapat
sehingga akan sangat rentan terjadinya fraktur mencegah terjadinya fraktur pada gigi imatur.24
akar ataupun mahkota. Perawatan akar pada gigi Pada kasus ini pasien mengalami trauma pada
immatur dengan apikal terbuka akan mengalami gigi depan atas kanan saat usianya yang sangat
kesulitan dalam prosedur perawatan endodontik muda kurang lebih 12 tahun dengan pemeriksaan
terutama instrumentasi saluran akar biomekanik radiografis terlihat apikal yang belum menutup
yang standar dan mendapatkan apikal stop untuk sempurna dengan saluran akar besar dan dinding
prosedur aplikasi bahan pengisian. Apeksifikasi saluran akar yang tipis sehingga menyulitkan untuk
merupakan perawatan awal yang harus dilakukan dilakukan perawatan endodontik terutama dalam
dengan tujuan untuk mendapatkan apical calcific pengisian agar tidak berlebihan. Dengan hal ini
barrier sebelum restorasi. Faktor yang terpenting maka, apeksifikasi dengan menggunakan bahan
dalam pembentukan barrier adalah debridemen MTA sebagai apical plug untuk mengisi ujung apikal
sistem saluran akar yang baik dan menciptakan seal dan menginduksi pembentukan apical calcific barrier
mahkota yang baik. serta penyembuhan, Kerapatan apikal dan proses
Apeksifikasi konvensional dengan bahan pengisian saluran akar dapat dilakukan dengan
kalsium hidroksida banyak mengalami kendala mudah tanpa menunggu pembentukan apical calcific
sehingga berbagai bahan telah diusulkan sebagai barrier terlebih dahulu sehingga restorasi dapat
alternatif. Pada tahun 1999 Torabinejad dan segera di selesaikan. Hal ini dapat mengurangi resiko
Chivian merekomendasikan penggunaan MTA yang fraktur akar dan mahkota antar kunjungan dengan
bertindak sebagai apical plug yang akan menginduksi saluran akar yang tipis. Pada kasus ini dilakukan
pembentukan apical calcific barrier dan proses penempatan pasak pita fiber kedalam saluran akar
penyembuhan sehingga proses pengisian saluran akar untuk memperkuat dinding saluran akar tanpa
dapat lebih cepat dilakukan tanpa menunggu apical mengurangi dinding saluran akar yang sudah tipis.
calcific barrier.15 MTA merupakan bahan berbentuk Dilanjutkan dengan pembuatan inti dan pembuatan
serbuk aggregate yang mengandung mineral oksida.16 restorasi mahkota porselin fusi metal. Pembuatan
Apeksifikasi menggunakan MTA dapat dilakukan restorasi akhir segera dilakukan untuk mencegah
dua kali kunjungan sampai dibuatkan restorasi akhir fraktur. Prosedur pembuatan inti tanpa mengubah
sehingga mencegah fraktur dan dapat memberikan inklinasi lengkung gigi mengingat setelah perawatan
keuntungan dalam mengurangi jumlah paparan apeksifikasi pasien akan melakukan perawatan
radigrafis serta meningkatkan kooperatif dari pasien. orthodontik.
Penggunaan MTA untuk apeksifikasi memiliki Berdasarkan pembahasan diatas dapat
beberapa kelebihan yaitu: dapat mempersingkat disimpulkan bahwa, apeksifikasi merupakan
periode waktu kunjungan perawatan dengan prosedur yang biasa digunakan untuk gigi permanen
hanya satu kali kunjungan,17 biokompatibel,18 muda yang mengalami trauma dengan kondisi
dapat menginduksi pembentukan jaringan gigi immatur non vital dan apikal yang belum
keras 19,20
dan membentuk apical plug yang baik.21 menutup sempurna. Kalsium hidroksida merupakan
Prosedur apeksifikasi diawali dengan debridemen material konfensional yang dapat dipakai sebagai
kemomekanis dan aplikasi medikamen intrakanal. bahan pembentukan apical calcific barrier tetapi
Sjögren dkk menyatakan bahwa, medikamen memerlukan waktu kunjungan yang panjang dan

175
Maj Ked Gi. Desember 2013; 20(2): 170-177

rumit. MTA merupakan alternatif pilihan terbaik 8. Torabinejad M, Hong CU, MC Donald F, PIH Ford
untuk proses apeksifikasi yang bertindak sebagai TR, Physical and chemical properties of a new root
apical plug dan penyembuhan tanpa menunggu – end filling material. J Endod. 1995; 21: 349 – 53.
pembentukan apical calcific barrier sehingga 9. Camilleri J, Montesin FE, Brady K, Sweeney R,
mempersingkat waktu kunjungan pasien dengan Curtis RV, Pitt Ford TR. The constitution of mineral
langsung dilakukan pengisian saluran akar dan trioxide aggregate. Den Mater. 2005; 21: 731 – 8.
dibuatkan restorasi akhir untuk mencegah fraktur 10. Duarte MAH, de Oliveria Demarchi ACC, Yamashita
serta mengurangi paparan radiasi antar kunjungan. JC, Kuga MC, de Campos Fraga S. pH and calcium
ion release of two root – end filling materials. Oral
KESIMPULAN Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod.
2003; 95: 345-7.
Apeksifikasi dengan MTA dapat mem-
11. Fridland M, Rasado R. MTA solubility a long term
persingkat waktu kunjungan dengan pem-bentukan
study. J Endod. 2005; 31: 376-9.
barier apikal yang merangsang penyembuhan dan
dapat langsung dilanjut-kan dengan restorasi akhir. 12. Maroto M, Barberia E, Planells P,Vera V. Treatment
of a non-vital immature incisor with mineral trioxide
aggregate (MTA). Dent Traumatol. 2003; 19 :165-9.
DAFTAR PUSTAKA
13. El-Meligy AO, Avery DR. Comparison of
1. Rafter M. Apexification : a review. Dent Traumatol. apexification with mineral trioxide aggregate and
2005; 21: 1-8. calsium hydroxide. Pediatric Dentistry. 2006; 28 :
2. Navageni NB, Umashankara KV, Radhika NB, 248-53.
Manjunath S. Successful closure of the root apex in 14. Shabahang S, Torabinejad M. Treatment of teeth
non vital permanent incisors with wide open apices with open apices using mineral trioxide aggregate.
using single calcium hydroxide dressing–Report of 2 Pract. Periodontics Aesthet Dent. 2000; 12: 315-20.
cases. J Clin Exp Dent. 2010; 2(1): 26-9. 15. Tittle K, Farley J, Linkhart T, Torabinejed M. Apical
3. Viddyasagar M, Choudhari S, Raurale A, Dahapute closure induction using bone growth factors and
S. Apexification and apexogenesis – a case report. mineral trioxide aggregate. JOE. 1996; 22:198.
IJCD. 2010;1(3): 52-4. 16. Steinig Th, Regan JD, Gutmann JL. The use and

4. Grossman LI, Oliet S, Del Rio CE. Ilmu endodontic predictable placement of mineral trioxide anggregate
in one –visit apexification case. Aus Endod J. 2003;
dalam praktek (Endodontice Practice). Alih bahasa
29: 34-42.
Abyono R. Penyunting Suryo S. Edisi ke 11. Jakarta:
EGC; 1995. H. 121 – 125. 17. Keiser K. Johnnson CC, Tipton DA. Cytotoxicity of
mineral trioxide aggregate using human periodontal
5. Frank AL. Theray for the divergent pulpless tooth by
ligament fibroblasts. J endod. 2000; 26:288-91.
continued apical formation. J AM Dent Assoc. 1966;
18. Apaydin E, Shabahang S dan Torabinejed M. Hard-
72: 87-93.
tissue healing after application of fresh or set MTA as
6. Saunders WP, Saunders EM. Coronal leakage as
root-end filling material. J Endod. 2004; 30: 21-4.
a cause of failure in root canal therapy: a review.
19. Shabahang S, Torabinejad M, Boyne PP, Abedi
Endod Dent Traumatol. 1994; 10: 105-8.
HR, McMillan PA. Comparative study of root –
7. Simon S, Rilliard F, Berdal A, Machtou P. The use of
end induction using osteogenic protein-1, calcium
mineral trioxide aggregate in one – visit apexification
hydroxide and mineral trioxide aggregate in dogs. J
treatment: a prospective study. Int Endod J. 2007;
endod.1999; 25: 1-5.
40: 186-97.

176
Ni Kadek E.W., dkk.: Apeksifikasi pada Gigi ...

20. Al-Hzalmik, Naghshbandi J, Oglesby S, Simon JH 22. Lawley GR, Schindler WG, Walker WA, Kolodrubetz
dan Rotstein I. Human saliva penetration of root D. Evaluation of ultrasonically placed mta and
canals obturated with two types of mineral trioxide fracture resistance with intra canal composite in a
aggregate cement. J Endod. 2005 ;31:453-6. model of apexification. J Endod. 2004; 30: 167-72.
21. Sjogren U, Figdor D, Spangberg L, Sundqvist G. The
antimicrobial effect of calcium hydroxide as a short –
term intracanal dressing. Int endod J. 1991;24: 119-25.

177

Anda mungkin juga menyukai