0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan94 halaman

Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki Di Sman 02 Muaro Jambi

Skripsi ini membahas hubungan antara tingkat stres dan perilaku merokok pada remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 81 responden dan alat ukur berupa kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) serta kuesioner perilaku merokok. Tujuan penelitian adalah untuk memahami bagaimana stres mempengaruhi kebiasaan merokok di kalangan remaja.

Diunggah oleh

ekasuryani67
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan94 halaman

Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki Di Sman 02 Muaro Jambi

Skripsi ini membahas hubungan antara tingkat stres dan perilaku merokok pada remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 81 responden dan alat ukur berupa kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) serta kuesioner perilaku merokok. Tujuan penelitian adalah untuk memahami bagaimana stres mempengaruhi kebiasaan merokok di kalangan remaja.

Diunggah oleh

ekasuryani67
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN PERILAKU MEROKOK

PADA REMAJA LAKI-LAKI DI SMAN 02 MUARO JAMBI

SKRIPSI

Disusun Oleh:
Mila Huswatun Hasannah
G1B121011

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2026
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN PERILAKU MEROKOK
PADA REMAJA LAKI-LAKI DI SMAN 02 MUARO JAMBI

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagaian persyaratan mencapai gelar Sarjana


Keperawatan pada Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Disusun Oleh :
Mila Huswatun Hasannah
G1B121011

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2026

i
PERSETUJUAN SIDANG SKRIPSI

HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA


REMAJA LAKI-LAKI DI SMAN 02 MUARO JAMBI

Disusun Oleh:
Mila Huswatun Hasannah
G1B121011

Telah disetujui Dosen Pembimbing Skripsi


Pada tanggal Desember 2025

Pembimbing Substansi Pembimbing Metodologi

Kamariyah, [Link]., Ners., [Link]. NS. Luri Mekeama, [Link]., [Link].


NIP. 198211102010122004 NIP. 198304022023212025

ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Mila Huswatun Hasannah

NIM : G1B121011
Program Studi : Program Studi Keperawatan FKIK Unja
Judul Skripsi. : Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada
Remaja Laki-Laki Di SMAN 02 Muaro Jambi

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tugas Skripsi yang saya tulis ini benar-
benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau
pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
Apabila kemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Skripsi ini adalah hasil
jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Jambi, desember 2025
Yang Membuat Pernyataan,

Mila Huswatun Hasannah


NIM. G1B121011

iii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Segala puji dan syukur peneliti panjatkan


kepada Allah Subhanahu wata’ala atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti
dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Hubungan Tingkat Stres Dengan
Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki Di SMAN 02 Muaro Jambi”. Dalam
penyusunan skripsi ini, peneliti mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan.
Selanjutnya melalui tulisan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Helmi S.H., M.H, selaku Rektor Universitas Jambi beserta
jajarannya.
2. Bapak Dr. dr. Humaryanto, [Link]., [Link], selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi beserta jajarannya.
3. Ibu Ns. Nurhusna [Link], [Link]., selaku Ketua Jurusan Program Studi
Keperawatan Universitas Jambi beserta jajarannya.
4. Ibu Ns. Riska Amalya Nasution, [Link]., [Link]., selaku Ketua Program Studi
Keperawatan Universitas Jambi beserta jajarannya,
5. Ibu Ns. Kamaryah, [Link]., [Link]., selaku pembimbing substansi yang telah
mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi yang telah membimbingan
dengan sabar, memberikan masukan dan berkenan meluangkan waktu selama
proses penyusunan proposal,
6. Ibu Ns. Luri Mekeama, [Link]., [Link]. selaku pembimbing metologi yang
telah membekali penyusunan skripsi yang telah membimbingan dengan sabar,
memberikan masukan dan berkenan meluangkan waktu selama proses
penyusunan proposal,
7. Seluruh dosen Program Studi Keperawatan Universitas Jambi yang telah
membekali penyusunan skripsi yang telah membimbingan dengan sabar,
memberikan masukan dan berkenan meluangkan waktu selama proses
penyusunan Skripsi.
8. Terimakasih kepada orang tua terhebat saya yaitu ayah saya Jaka Malela dan
ibu saya Maisarah, S.E. yang selama ini selalu memberi support system,
menstransfer energi-energi posistif, memberikan segala masukan untuk

iv
penulis, hingga dengan sabar mendengar semua keluh kesah penulis sampai
pada titik yang kalian nanti-nantikan ini,
9. Kepada teman-teman seperjuangan mahasiswa keperawatan Universitas Jambi
Angkatan 2021 yang telah memberikan motivasi dan mendo’akan peneliti
untuk menyelesaikan Skripsi ini, serta perjuangan bersama selama empat tahun
ini.
10. Pihak-pihak yang telah membantu selama proses proposal ini, yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
Peneliti menyadari bahwa di dalam penelitian ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karna itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai
pihak sangat diharapkan oleh peneliti.
Jambi, januari 2026

penulis

v
DAFTAR ISI

PERSETUJUAN SIDANG SKRIPSI ..................................................................... ii


SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ............................................... iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xii
ABSTRACT ........................................................................................................... xiii
ABSTRAK ........................................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah .......................................................................................... 4
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 5
1.3.1 Tujuan umum.......................................................................................... 5
1.3.2 Tujuan khusus ......................................................................................... 5
1.4 Manfaat .......................................................................................................... 5
1.4.1 Institusi Pendidikan ................................................................................ 5
1.4.2 Puskesmas............................................................................................... 6
1.4.3 Profesi perawat ....................................................................................... 6
1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya .................................................................... 6
BAB II TINJUAN PUSTAKA ............................................................................ 7
2.1 Konsep Stres .................................................................................................. 7
2.1.1 Definisi stres ........................................................................................... 7
2.1.2 Tingkat stres ........................................................................................... 8
2.1.3 Gejala Stres ............................................................................................. 9
2.1.4 Faktor penyebab stres ............................................................................. 9
2.1.5 Dampak stres ........................................................................................ 12
2.1.6 Alat Ukur Tingkat stres ........................................................................ 12
2.2 Konsep perilaku ........................................................................................... 14

vi
2.2.1 Definisi ................................................................................................. 14
2.2.2 Karakteristik Perilaku ........................................................................... 14
2.2.3 Fungsi Perilaku ..................................................................................... 14
2.2.4 Komponen Perilaku .............................................................................. 15
2.2.5 Hal-hal Pembentuk Perilaku dan Merubah Perilaku ............................ 15
2.3 Konsep Rokok ............................................................................................. 16
2.3.1 Definisi Rokok...................................................................................... 16
2.3.2 Kandungan Dalam Rokok .................................................................... 16
2.4 Perilaku Merokok ........................................................................................ 17
2.4.1 Konsep Perilaku .................................................................................... 17
2.4.2 Konsep Merokok .................................................................................. 18
2.4.3 Faktor-Faktor Perilaku Merokok .......................................................... 18
2.4.4 Jenis Perokok ........................................................................................ 21
2.4.5 Tahapan Merokok ................................................................................. 21
2.4.6 Tipe Perilaku Merokok ......................................................................... 21
2.4.7 Dampak Merokok ................................................................................. 22
2.5 Konsep Remaja ............................................................................................ 23
2.5.1 Defenisi Remaja ................................................................................... 23
2.5.2 Ciri-Ciri Remaja ................................................................................... 24
2.5.3 Karakteristik Perkembangan Remaja ................................................... 25
2.5.4 Tugas Perkembangan Remaja .............................................................. 27
2.6 Kerangka Teori ............................................................................................ 29
2.7 Kerangka Konsep......................................................................................... 30
2.8 Hipotesis Penelitian ..................................................................................... 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 31
3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian .................................................................. 31
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian ..................................................................... 31
3.3 Subjek Penelitian ......................................................................................... 31
3.3.1 Populasi ................................................................................................ 31
3.3.2 Sampel .................................................................................................. 32
3.3.3 Kriteria Inklusi Dan Ekslusi ................................................................. 33

vii
3.3.4 Cara Pengambilan Sampel .................................................................... 34
3.4 Definisi Operasional Variabel ..................................................................... 34
3.5 Instrumen Penelitian .................................................................................... 35
3.6 Uji Validitas Dan Uji Reabilitas .................................................................. 36
3.6.1 Uji Validitas.......................................................................................... 36
3.6.2 Uji Realibilitas ...................................................................................... 36
3.7 Pengumpulan Data ....................................................................................... 37
3.7.1 Data Primer ........................................................................................... 37
3.7.2 Data Sekunder ...................................................................................... 37
3.7.3 Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 37
3.8 Pengolahan Data Dan Analisis Data ............................................................ 38
3.8.1 Pengolahan Data ................................................................................... 38
3.8.2 Analisa Data ......................................................................................... 40
3.9 Etika Penelitian ............................................................................................ 41
3.10 Alur Penelitian ...................................................................................... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 43
4.1 Hasil Penelitian ............................................................................................ 43
4.1.1 Analisa Univariat .................................................................................. 43
4.1.2 Analisa Bivariat .................................................................................... 44
4.2 Pembahasan ................................................................................................. 45
4.2.1 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Usia........................ 45
4.2.2 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Kelas ........ 45
4.2.3 Gambaran Tingkat Stres Pada Remaja Laki-Laki di SMAN 02 Muaro
jambi 46
4.2.4 Gambaran Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki di SMAN 02
Muaro jambi ................................................................................................... 46
4.2.5 Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-
Laki Di SMAN 02 Muaro Jambi ................................................................... 47
4.3 Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 48
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 51
5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 51
5.2 Saran ............................................................................................................ 52

viii
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 53
LAMPIRAN ......................................................................................................... 59

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Data Siswa Laki-Laki Kelas 11 Dan 12 Di Sman 02 Muaro Jambi……..24
Tabel 3.2 Data Total Siswa Laki-Laki Di Sman 02 Muaro Jambi…………………26
Tabel 3.3 Definisi Operasional…………………………………………………...27
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Pss-10…………………………………………….28
Tabel 3.5 Indikator Kuesioner Pss-10…………………………………………….29
Tabel 3.6 Indikator Kuesioner Perilaku Merokok………………………………...29
Tabel 3.7 Analisa Univariat……………………………………………………….33
Tabel 3.8 Analisa Bivariat………………………………………………………...34
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Data Demografi Responden Remaja Laki-Laki
(N=81)………………………………………………………………...36
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Pada Remaja Laki-Laki……………36
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki………36
Tabel 4.4 Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-
Laki Di Sman 02 Muaro Jambi………………………………………..37

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori……………………………………...……………….29


Gambar 2.2 Kerangka Konsep……………………………………………...…….30
Gambar 3.1 Alur Penelitian………………………………………………………35

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Permohonan Izin Survey Data Awal Penelitian …………………….43


Lampiran 2 Surat Persetujuan Etik Penelitian …………………...………………44
Lampiran 3 Surat Izin Penelitian………………………………………………...55
Lampiran 4 Surat Keterangan Penelitian………………………………………...56
Lampiran 5 Inform Consent……………………………………………………...57
Lampiran 6 Lembar Kuesioner Penelitian……………………………………….58
Lampiran 7 Hasil Uji Validitas Dan Reabilitas…………………………………..60
Lampiran 8 Data Demografi……………………………………………………..61
Lampiran 9 Data Tingkat Stres…………………………………………………..62
Lampiran 10 Data Perilaku Merokok……………………………………………62
Lampiran 11 Hasil Uji Normalitas……………………………………………….63
Lampiran 12 Nilai Tingkat Stres Dan Perilaku Merokok………………………..64
Lampiran 13 Hasil Univariat…………………………………………………….65
Lampiran 14 Hasil Bivariat………………………………………………………66
Lampiran 15 Dokumentasi Penelitian……………………………………………67

xii
ABSTRACT

Background: Stress is a psychological condition commonly experienced by adolescents due to


various demands, including academic, social, and environmental factors. One coping behavior that
often emerges among male adolescents is smoking. Smoking is frequently perceived as having a
calming effect, despite its negative impact on health. This study aimed to determine the relationship
between stress levels and smoking behavior among male adolescents at SMAN 02 Muaro Jambi.

Methods: This study employed a cross-sectional design. The sample consisted of 81 respondents
selected using a total sampling technique. The instruments used were the Perceived Stress Scale
(PSS-10) questionnaire and a smoking behavior questionnaire. Data were analyzed using univariate
and bivariate analyses with a correlation statistical test.

Results: The results showed that most respondents experienced moderate stress levels and had
moderate smoking behavior. Bivariate analysis indicated a significance value of p = 0.001 (p <
0.05) with a correlation coefficient of r = 0.553, demonstrating a strong relationship between stress
levels and smoking behavior among male adolescents at SMAN 02 Muaro Jambi.

Conclusion: The study indicates that there is a significant relationship between stress levels and
smoking behavior among male adolescents. Therefore, preventive efforts and interventions are
needed in the form of health education, stress management, and strengthening the role of schools
and healthcare professionals in reducing smoking behavior among adolescents.

Keywords: male adolescents, smoking behavior, stress level.

xiii
ABSTRAK

Latar Belakang: Stres merupakan kondisi psikologis yang sering dialami remaja akibat berbagai
tuntutan, baik akademik, sosial, maupun lingkungan. Salah satu perilaku yang kerap muncul sebagai
bentuk koping terhadap stres pada remaja laki-laki adalah perilaku merokok. Merokok sering
dianggap mampu memberikan efek menenangkan, meskipun berdampak negatif terhadap kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan perilaku merokok
pada remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi.

Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 81
responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah
kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) dan kuesioner perilaku merokok. Analisis data dilakukan
secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik korelasi.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami tingkat stres
sedang dan memiliki perilaku merokok kategori sedang. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai
signifikansi p = 0,001 (p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi r = 0,553, yang menunjukkan adanya
hubungan yang kuat antara tingkat stres dengan perilaku merokok pada remaja laki-laki di SMAN
02 Muaro Jambi.

Kesimpulan: Penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres
dengan perilaku merokok pada remaja laki-laki. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan
intervensi berupa edukasi kesehatan, manajemen stres, serta penguatan peran sekolah dan tenaga
kesehatan dalam menekan perilaku merokok pada remaja.

Kata Kunci: Perilaku Merokok, Remaja Laki-Laki, Tingkat Stres.

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Stres reaksi tubuh dan emosi yang terjadi sebagai respon dari suatu kejadian
(stressor). Distress buruk merupakan stres yang direspon jelek oleh persepsi tubuh.
Biasanya kinerja buruk ini akan menjadi stressor dan menjadi siklus. Stres
merupakan tekanan, ketegangan, atau gangguan yang tidak menyenangkan yang
berasal dari faktor eksternal maupun internal. Stres adalah kondisi yang muncul
akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya, di mana seseorang
menafsirkan tuntutan yang berasal dari sistem biologis, psikologis, dan psikososial
mereka. Bagaimana stres yang mempengaruhi fisik dan psikososial seperti
kecemasan, depresi yang dapat menurunkan kekebalan pada tubuh mengakibatkan
sakit kepala, kehilangan energi, dan tekanan darah tinggi bahkan bisa terkena sakit
jantung1.
Dari data yang dihimpun Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek),
sebanyak 55% masyarakat Indonesia mengalami stres, dengan rincian 0,8% dalam
kategori stres sangat berat dan 34,5% dalam kategori stres ringan2. Stres memiliki
3 tingkatan, yakni stres ringan, stres sedang dan stres berat. Contoh dari stres ringan
sendiri berupa lupa, telat, terjebak keadaan macet atau merasa dituduh dan
sebagainya. Stres sedang biasanya terjadi akibat sakit otot, kesulitan untuk
konsentrasi serta kurang tidur. Sedangkan stres berat biasanya lebih sering terjadi
akibat konflik yang mengakibatan detak jantung meningkat, sesak nafas, gemetar,
cemas, dan bingung3.
Stres dapat mempengaruhi setiap gender dan kalangan, tak terkecuali pada
remaja apalagi pada laki-laki. Keluarga, ekonomi dan tempat tinggal bahkan
akademik adalah sebagian besar faktor remaja mengalami stres, biasanya di
akibatkan oleh tuntutan, konflik dan sebagainya. Respon tubuh pada remaja
terhadap stres pada bagian otak yang mengatur respons terhadap stres tersebut
belum berkembang sepenuhnya, dan ini yang mengakibatkan remaja mengalami
stres lebih cepat dibandingkan orang dewasa4. Dunia remaja sering disebut sebagai

1
2

dunia yang tidak stabil. Dalam masa yang tidak stabil itu, remaja sering tidak
menyadari apa yang sebenarnya mereka lakukan. Remaja, selalu penuh dengan rasa
ingin tahu, penuh dengan pencarian. Karena itu, remaja sering memiliki variasi
gaya, mode, dan juga pengalaman identifikasi sesuai dengan karakter atau sosok
yang mereka idolakan. Dunia remaja bukanlah dunia yang tenang dan selalu dapat
diatasi secara pribadi. Pada masa remaja, stres juga sangat rentan terjadi5. Contoh
ketika seorang remaja lupa mengerjakan pr, terlalu larut dalam bermain game
mengakibatan kurangnya tidur dan telat kesekolah sehingga dimarahi oleh guru dan
orang tua3.
Maka dari itu remaja yang belum matang dari segi psikologi dan masih
mencari arah untuk menetukan Keputusan, difase inilah mereka terkadang
mengambil jalan instan atau ikut-ikutan serta hasutan dari teman sebaya, salah
satunya adalah merokok. Banyak remaja yang sudah mengenal rokok dan akan
memilih rokok sebagai bentuk pelarian dari stres yang sedang mereka alami,
dikarenakan dari mereka mengakui secara tidak langsung efek yang menenangkan
dari merokok. Tingkat stres dengan perilaku merokok memiliki hubungan yang
signifikan6. Peneliti menemukan indikasi yang menguatkan untuk merokok yaitu
apabila sedang dalam kondisi stres salah satunya adalah stres akademik. Faktor
biologisnya, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan tempat tinggal
merupakan beberapa penyebab stres pada remaja. Meskipun sebagian besar orang
menyadari dampak negatif dari merokok, namun jumlah perokok terus meningkat,
dan usia perokok cenderung semakin muda. Merokok adalah salah satu strategi
manajemen stres yang kurang efektif, tetapi tetap banyak diminati7.
Merokok adalah perilaku individu yang melibatkan pembakaran produk
tembakau, seperti Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica, atau tanaman lain maupun
versi sintetisnya, yang kemudian dihisap atau dihirup. Asap yang dihasilkan
mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa tambahan zat lainnya8. Merokok
masih menjadi masalah Kesehatan dikalangan remaja. Keinginan remaja untuk
mencoba merokok menyebabkan masalah kesehatan. Badan Pusat Statistik Provinsi
Jambi 2021 melaporkan, bahwa prensentase merokok pada penduduk berusia ≥15
tahun di Provinsi Jambi mencapai 27,47%9.

2
3

Perilaku merokok adalah tindakan seseorang membakar dan menghirup asap


dari bahan yang dapat dihisap10. Kemenkes RI 2021 mendefenisikan perilaku
merokok sebagai kebiasaan atau aktivitas mengonsusmi produk tembakau, baik
rokok konvensional maupun rokok elektronik. Kemenkes mencatat perilaku ini tak
sekedar hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan seperti teman
sebaya, dan keluarga11. Dikutip dari laporan WHO 2021 melaporkan bahwa
penggunaan tembakau di seluruh dunia menurun, tetapi masih ada sekitar 940 juta
pria pada tahun 2019, sekitar 17% populasi didunia adalah perokok12.
Fakta bahwa anak-anak usia sekolah di Indonesia sering merokok dapat
terlihat pada siswa SMA, karena pada usia ini terjadi transisi dari masa kanak-kanak
ke dewasa. Masa remaja merupakan fase yang amat menentukan di mana mereka
mengalami berbagai perkembangan baik dari segi psikologis maupun fisik.
Kebingungan dan tekanan emosi yang disebabkan oleh perubahan kejiwaan
menyebabkan mereka menyimpang dari aturan sosial pada masyarakat8. Dari data
survey SKI 2023 dilakukan Kemenkes melaporkan perokok Indonesia yang aktif
terus meningkat, perkiraan jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta
orang, atau sekitar 7,4% dari total populasi, dengan kelompok anak-anak 18 tahun
kebawah menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah perokok. Berdasarkan
data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019, prevalensi perokok di kalangan
anak sekolah usia 13-15 tahun meningkat dari 18,3% pada 2016 menjadi 19,2%
pada 2019. Sementara itu, data SKI 2023 mengungkapkan bahwa kelompok usia
15-19 tahun merupakan kelompok perokok terbanyak, mencapai 56,5%13.
Remaja merokok dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk interaksi
kelompok sebaya , interaksi keluarga, dan Iklan rokok yang mengarah pada perilaku
merokok, teman satu sekolah juga menjadi salah satu faktor bahwa rokok
digunakan untuk meningkatkan status sosial anak laki-laki dan merupakan faktor
utama yang mendorong remaja untuk merokok diantaranya teman-teman mereka
agar menjadi lebih percaya diri, lebih dewasa, dan lebih kaya dari rekan mereka
alias butuh pengakuan14. Penyebab remaja mulai merokok yakni timbulnya
kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan dirinya sendiri 15.

3
4

Berdasarkan Studi pendahuluan di SMAN 02 Muaro Jambi yang melibatkan


104 siswa laki-laki menunjukkan alasan mengapa remaja merokok. Menurut hasil
penelitian, rasa ingin tahu menjadi faktor dominan yang mendorong 32,69% siswa
untuk mencoba merokok. Faktor stres juga sangat pengaruh signifikan, sebanyak
28,85% siswa menjawab merokok adalah cara untuk mengatasi stres, mereka
memulai merokok akibat stres yang di alami atau bentuk pelarian. Selain itu,
13,46% siswa merokok karena pengaruh teman sebaya, sedangkan 15,38% hanya
merokok untuk kesenangan atau hiburan semata. Data ini menunjukkan bahwa
faktor internal adalah rasa ingin tahu dan stres. Selain itu faktor eksternal akibat
pengaruh lingkungan sosial, berperan signifikan dalam menentukan perilaku
merokok remaja. Hasil temuan ini menunjukkan pentingnya upaya untuk
menghindari dan mengurangi merokok di kalangan pelajar SMA, pendidikan
kesehatan, manajemen stres, dan penguatan ketahanan diri remaja diperlukan.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu yang signifikan dalam proses
pemecahan masalah merokok pada kalangan remaja, khususnya di sekolah
menengah atas khususnya SMAN 02 Muaro Jambi dan sekolah menengah atas
lainnya. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor pendorong
perilaku merokok pada siswa, diharapkan pihak sekolah dapat merancang dan
mengimplementasikan program intervensi yang lebih efektif dan terarah. Selain itu,
temuan ini juga diharapkan dapat memberikan dorongan terciptanya lingkungan
sekolah yang lebih supportif dan bebas rokok, serta meningkatkan kesadaran remaja
tentang pentingnya peran mereka dalam mencegah perilaku merokok yang dimulai
dari diri sendiri. Pada akhirnya penelitian ini sangat diharapakan dapat
berkontribusi pada penurunan angka perokok remaja, peningkatan Kesehatan dan
kualitas hidup siswa, serta terciptanya generasi muda yang lebih sehat dan
produktif.

1.2 Rumusan masalah


Dengan mempertimbangkan latar belakang, perumusan permasalahan yang
di dapatkan yaitu, “Apakah ada Hubungan Antara Tingkat Stres Dan Perilaku
Merokok Pada Remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi?”.

4
5

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara tingkat stres dan perilaku merokok pada remaja
laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi.
1.3.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui gambaran demografi remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi.
2. Mengetahui gambaran tingkat stres yang dialami oleh remaja laki-laki di
SMAN 02 Muaro Jambi.
3. Mengetahui gambaran tentang perilaku merokok pada remaja laki-laki di
SMAN 02 Muaro Jambi.
4. Mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan perilaku merokok pada
remaja laki-laki SMAN 02 Muaro Jambi.

1.4 Manfaat
1.4.1 Institusi Pendidikan
1. Sekolah menengah atas (SMA)
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan sebagai
bahan evaluasi untuk merancang program pencegahan dan pengendalian
perilaku merokok pada siswa, terutama dalam konteks pengelolaan stres. Hasil
dari penelitian ini juga bisa pihak sekolah gunakan untuk menciptakan
lingkungan sekolah yang lebih mendukung kesehatan siswa.
2. Perguruan tinggi
Penelitian ini dapat digunakan mahasiswa perguruan tinggi untuk referensi
akademik pada pengembangan ilmu keperawatan jiwa, terlebih khusus terkait
dengan perilaku remaja. Perguruan tinggi bisa menjadikan penelitian ini
menjadi contoh untuk mendukung penelitian yang relavan dengan masalah
kesehatan Masyarakat.

5
6

1.4.2 Puskesmas
Temuan dari penelitian ini dapat membantu tenaga kesehatan membuat
program promosi kesehatan yang berkaitan dengan pengelolaan stres dan
pencegahan merokok, khususnya bagi remaja yang bekerja di tempat kerja mereka.
Selain itu, data penelitian ini dapat menjadi dasar untuk kebijakan kesehatan remaja
di komunitas.
1.4.3 Profesi perawat
Penelitian ini meningkatkan pemahaman perawat tentang hubungan antara
stres dan perilaku kesehatan remaja, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam
memberikan edukasi kesehatan dan intervensi keperawatan berbasis bukti. Perawat
juga dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam membantu remaja mengelola
stres sehingga mereka dapat menghindari perilaku berisiko seperti merokok.
1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
sebagai referensi untuk peneliti berikutnya, menampilkan fenomena-
fenomena terbaru sehingga temuan penelitian relevan dan data selalu akurat untuk
memvalidasi dan mendukung penelitian.

6
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Stres
2.1.1 Definisi stres
Stress adalah suatu kondisi yang dialami oleh manusia pada saat
menghadapi sebuah ketidaksesuaian antara kemampuan untuk menangani tuntutan
demi tuntutan yang diterima tepatnya hal-hal yang menyulitkan individu.
Kehidupan manusia di era modern menjamin bahwa setiap orang akan mengalami
stres 16. Stres adalah hal yang biasa bagi semua orang didefinisikan pada ilmu
psikologi sebagai perasaan gelisah dan tekanan mental, tingkat stres yang rendah
mungkin dipandang sebagai hal yang baik itu bahkan mungkin sehat. Dianggap
penting untuk motivasi, perubahan, dan reaksi terhadap lingkungan sekitar, ketika
tingkat stres meningkat, itu dapat menyebabkan masalah sosial, biologis, dan
psikologis serta mengancam kehidupan seseorang. Stres dapat disebabkan dari
faktor ekternal atau internal yaitu lingkungan luar, atau disebabkan oleh perspektif
individu17.
Selain itu, stres adalah respons terhadap ketidakseimbangan antara tekanan
yang diterima seseorang dan kemampuannya dalam mengatasinya. Stres dapat
berkisar dari tingkat ringan hingga berat, dengan dampak yang beragam, mulai dari
gangguan fisik hingga permasalahan psikologis yang serius18. Stress adalah reaksi
terhadap lingkungan yang dapat melindungi kita dan stress juga merupakan sistem
pertahanan yang membuat kita tetap hidup, suatu keadaan tidak nyaman yang terasa
seperti terlampaui. Di antara empat sesi yang termasuk dalam manajemen stres
adalah pengenalan stres dan efeknya, meredakan diri jika tertekan, berpikir positif
saat menghadapi masalah, dan mengatasi stres secara spiritual19.
Stres merupakan gangguan mental dan emosional yang timbul akibat faktor
eksternal, seperti tekanan di lingkungan kerja, tugas yang belum terselesaikan, dan
sebagainya. Selain itu, stres juga dapat didefinisikan sebagai stres adalah kondisi
ketegangan yang berdampak signifikan pada emosi, pola pikir, dan keadaan
seseorang. Individu yang mengalami stres cenderung mudah marah atau bersikap
agresif, serta mungkin merasa gelisah atau tidak nyaman20. Beberapa sumber stres

7
8

bagi remaja termasuk masalah pribadi, masalah keluarga, masalah di sekolah, dan
masalah sosial21.
2.1.2 Tingkat stres
Tingkat stres pada individu dibagi menjadi beberapa bagian22, yaitu:
1. Stres ringan
Stres ringan atau dasar biasanya bentuk stres yang terjadi akibat hal hal yang
tidak merusak fisik, seperti disalahkan, lupa, kemacetan, ketiduran, atau sesuatu
terkait urusan aktivitas rutin sehari-hari disebabkan oleh berbagai bentuk
ketegangan individu, emosional, keluarga maupun sosial,
2. Stres sedang
Stres sedang atau akut ini bentuk stres yang biasanya dapat terjadi selama
beberapa jam bahkan hingga beberapa hari, penyebab stres ini sendiri bisa jadi
dari penyakit-penyakit tertentu, seperti gangguan pencernaan, ganguan pola
tidur dan sebagainya. Stres ringan ini berdampak mengganggu kualitas hidup
baik fisik maupun psikologis dan perlu diatasi lebih.
3. Stres berat
Stres berat dapat berlangsung secara berkepanjangan, disebabkan oleh berbagai
macam hal yang terjadi akibat detak jantung cepat, sesak nafas, cemas, bingung,
takut dan sebagainya. Dampak dari stres berat dapat mengganggu kesehatan,
seperti naiknya nya tekanan darah bahkan bisa hingga sakit jantung, maka dari
itu memerlukan penanganan yang profesional. Stres berat ini di bagi menjadi 2
jenis yakni stres kumulatif dan stres insiden kritis. Kumulatif adalah bentuk
respon Tingkat stres tinggi yang berkelanjutan dan sudah kronis di akibatkan
oleh stres yang menumpuk. Jenis stres insiden kritis adalah peristiwa duluar
rentang normal/ tiba-tiba atau tidak terduga, mengakibatkan berbagai hal tidak
terkontrol dapat melibatkan persepsi ancaman pada kehidupan yang dapat
mencakup kehilangan fisik atau emosional, stres jenis ini di temukan pada
fenomema insiden termasuk bunuh diri dan bencana alam.

8
9

2.1.3 Gejala Stres


Stres tak hanya pengalaman emosional, tetapi juga dapat memiliki dampak
pada tubuh kita, gejala fisik maupun emosional. Dari kedua kondisi ini sangat
bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat23.
1. Gejala fisik
Umumnya gejala fisik dari stres adalah ketegangan otot, Ketika seseorang
mengalami kondisi tertekan atau cemas, otot-otot cinderung akan tegang,
terutama pada leher, bahu, dan punggung. Bahkan tanpa melakukan aktifitas
yang berat, hal ini dapat menimbulkan rasa tidak menyenangkan yang di
timbulkan akibat rasa kaku dan nyeri yang hadir. Selain itu, sistem pencernaan
juga dapat terganggu akibat stres, banyak laporan gejala seperti mual, sakit perut,
bahkan muntah ketika seseorang mengalami stres yang tinggi. Ini karena stres
telah mempengaruhi produksi asam lambung dan pergerakan usus hingga pada
giliran nya dapat memicu gejala-gejala tersebut.
2. Gejala emosional
Ketika tubuh dan pikiran bereaksi terhadap tekanan dan ketidakpastian yang
dialami, gejala umum pada emosional yang diakibatkan oleh stres biasanya
perasaan gelisah atau tegang. Perasaan sedih atau putus asa juga bisa muncul
ketika seseorang merasa tak mampu mengatasi tekanan yang di hadapinya.
Selain itu stres dapat memnganggu suasana hati (mood) seseorang secara
keseluruhan. Seseorang akan sangat mudah merasa tersinggung, marah, atau
mudah tersentuh oleh hal-hal kecil, ini yang membuat seseorang menjadi kurang
sabaran atau toleran terhadap orang lain, dan pada gilirannya dapat
memperburuk interpersonal.
2.1.4 Faktor penyebab stres
Beberapa faktor penyebab stres, yaitu:
1. Faktor lingkungan
Ada keterhubungan antara proses sosial-emosional dan faktor stres lingkungan.
Di mana proses sosial-emosional mencakup perubahan perasaan, kepribadian,
hubungan dengan orang lain, dan lingkungan sosial. Dalam situasi di mana
proses ini berkembang dengan baik, anak-anak dapat menyadari, membedakan,

9
10

mengontrol, dan mengekspresikan diri mereka dengan cara yang tepat dan
akurat. Anak dapat masuk, membangun, dan mempertahankan hubungan di
lingkungan mereka24. Dalam masa remaja, terjadi perubahan sosial dan
akademis yang mengharuskan remaja memiliki peran dan tanggung jawab yang
tidak sama dengan yang mereka alami sebelumnya. Ini terutama berlaku ketika
remaja memilih untuk masuk ke lingkungan sekolah baru, seperti tingkat SMP
dan tingkat SMA, di mana banyak perubahan sosial dan manajemen waktu yang
baru juga dilakukan25. Lingkungan memainkan peran penting dalam siklus
kehidupan manusia, seperti yang dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-
Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, yang menyatakan bahwa "Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan,
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”26. Segala sesuatu yang ada
di sekitar manusia atau makhluk hidup yang memiliki hubungan timbal balik dan
kompleks satu sama lain dan berfungsi secara alami tanpa campur tangan
manusia yang berlebihan, disebut lingkungan hidup, atau sering disebut
lingkungan27.
Macam-macam lingkungan:
a. Lingkungan Sosial
Tempat di mana lingkungan sosial adalah tempat di mana orang berinteraksi
dan melakukan sesuatu bersama-sama. Melihat interaksi sosial sebagai
hubungan antara sikap atau tingkah laku seseorang dengan orang lain dan
antara mereka sendiri. Dalam lingkungan sosial termasuk semua individu,
kelompok, organisasi, dan sistem yang berhubungan dengan seseorang.
Secara umum, lingkungan sosial adalah tempat di mana individu berinteraksi
dengan orang lain selama waktu kapanpun 28.
b. Lingkungan Sekolah
Lingkungan pendidikan merupakan salah satu dari berbagai faktor yang
berpengaruh bagi pendidikan dan merupakan tempat di mana proses
pendidikan berlangsung. Oleh karena itu, lingkungan sekolah merupakan

10
11

bagian integral dari institusi pendidikan formal yang berperan dalam


membentuk sikap siswa serta mengembangkan potensi mereka. Sebuah
lingkungan sekolah yang ideal harus menciptakan suasana yang nyaman bagi
siswa dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk menampilkan
kemampuan terbaiknya29.
2. Faktor psikologis dan emosional
Tempat tinggal, lingkungan sekolah, hubungan sosial, status ekonomi keluarga,
kebiasaan, dan peristiwa tidak direncanakan adalah beberapa sumber stres
psikososial30. Ketika remaja mengalami perubahan hormon, fisik, psikologis,
dan sosial selama masa remaja, yang sering menyebabkan pergolakan emosi.
akibatnya, remaja tidak memiliki kemampuan untuk mengelola emosi mereka,
sehingga mereka berisiko mengalami stress. Kecerdasan emosional kemampuan
seseorang untuk mengelola emosi mereka adalah cara untuk mengurangi stres.
Remaja tidak akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi mereka
karena efek perubahan emosi yang tidak stabil. Remaja selalu mengalami badai
dan stres karena kondisi ini. Perubahan hormonal terjadi selama masa remaja,
dan perubahan emosi ini akan berhenti seiring bertambahnya usia. Jika remaja
mampu mengendalikan emosi mereka, menunggu untuk mengungkapkannya,
mengungkapkannya dengan cara yang lebih masuk akal, kritis sebelum reaksi,
dan stabil, mereka dianggap matang secara emosional31.
3. Faktor sosial dan ekonomi
Kesehatan yang buruk dikaitkan dengan status sosial ekonomi
rendah,pengetahuan yang kurang, dan diet yang buruk. Status sosial ekonomi
(SSE) adalah salah satu penyebab stres, dan fakta bahwa banyak orang yang
bermukim di wilayah pedesaan dengan SSE rendah mengindikasikan bahwa
Indonesia tergolong negara berpenghasilan menengah ke bawah32.
Menurut beberapa teori,stress adalah reaksi seseorang rangsangan atau elemen
di luar dirinya yang menyebabkan tekanan dan masalah fisik serta mental.
Dengan kata lain, stress adalah tekanan ketegangan yang dialami seseorang
karna ketidaksesuian antara lingkungan dan ekonomi,yang menyebabkan reaksi

11
12

yang menganggu fisik dan mental. Oleh karena itu, perlunya dukungan yang
jelas untuk mengetahui Tingkat sosial dan ekonomi33.
4. Faktor biologis dan Kesehatan.
Banyak hal yang dapat menyebabkan stres pada remaja, seperti tuntutan sekolah
atau akademik, stres akibat biologi seperti perubahan hormon, fisik, dan
psikologis, stres sosial, keluarga, dan teman. Kecerdasan emosional dan
kemampuan remaja untuk mengelola stres dipengaruhi oleh faktor biologis
seperti perubahan hormon dan kondisi kesehatan. Sakit atau ketidaknyamanan
fisik dapat membuat individu lebih rentan mengalami stres34.
5. Faktor kehidupan modern dan tekonologi
Di era modern ini, banyak orang yang selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang
baru untuk meningkatkan kualitas gaya hidup mereka. Namun, harus diakui
bahwa perilaku seperti itu dapat mengancam kesehatan mental, karena ketika
seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, seseorang itu akan
merasa cemas, gelisah, dan selalu mencari cara untuk mendapatkankannya.
Bahkan di dunia pendidikan saat ini, metode pembelajaran sering mengikuti
perkembangan IPTEK, sehingga banyak sistem pendidikan bergantung pada
penggunaan teknologi35. Kegiatan yang sebelumnya tidak efisien dapat
dilakukan dengan lebih mudah di era teknologi saat ini. Kemajuan teknologi,
meskipun sangat mudah, dapat berbahaya jika tidak digunakan dengan benar36.
2.1.5 Dampak stres
Stres memengaruhi reaksi fisik, mental, dan perilaku. Nyeri dada, diare,
sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, insomnia, kelelahan, serta detak jantung
yang cepat merupakan beberapa reaksi fisiologis yang dapat muncul. Selain itu,
seseorang juga mungkin mengalami ketegangan, kemarahan, mudah tersinggung,
gangguan ingatan, depresi, kurang motivasi, kesulitan menyelesaikan tugas yang
telah dimulai, serta respons berlebihan terhadap hal-hal sepele37.
2.1.6 Alat Ukur Tingkat stres
Ada beberapa macam kuesioner yang sudah tervalidasi untuk mengukur
Tingkat stres, diantranya yaitu perceived stress scale (PSS), depression,anxiety qnd
stess scale (DASS) dan medical student stressor questionnaire (MSSQ).

12
13

1. Depression,Anxiety Qnd Stess Scale (DASS)


Kuesioner DASS dibuat untuk mengukur tiga dimensi psikologis utama yaitu
depresi, kecemasan, dan stres. Ini membantu kita memahami lebih baik masalah
emosional responden, terutama dalam hal kesehatan mental. Alat ini sangat
membantu dalam mendeteksi masalah kesehatan mental pada tahap awal,
terutama pada remaja yang mungkin belum menunjukkan gejala yang signifikan
untuk memungkinkan intervensi lebih lanjut. DASS-42 merupakan skala atau
kuesioner laporan diri yang terdiri dari 42 item yang dirancang untuk menilai
tingkat emosi negatif akibat stres, depresi, dan kecemasan. Dalam konteks klinis,
DASS bertujuan untuk memperjelas gangguan emosional. Sebagai bagian dari
penilaian klinis yang lebih luas, DASS berperan dalam mengukur intensitas
gejala utama depresi, kecemasan, dan stres. Pengukuran DASS telah terbukti
memiliki konsistensi internal yang tinggi serta mampu mendeteksi perubahan
yang signifikan dalam berbagai kondisi. Oleh karena itu, skala ini dapat
digunakan oleh peneliti dan pihak lain yang ingin menilai kondisi saat ini atau
perubahan kondisi dari waktu ke waktu38.
2. Perceived Stress Scale (PSS)
Ada tiga varian PSS, PSS-14, PSS-10, dan PSS-4, semuanya telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia. Setiap varian PSS memiliki kuisioner dengan jumlah
pertanyaan tertentu dengan pilihan jawaban seperti “pernah”, "hampir tidak
pernah", atau "tidak pernah". Skor individu pada PSS dapat berkisar dari 0
hingga 40. Untuk setiap pertanyaan, harus memilih dari alternatif berikut:
0=tidak pernah, 1=hampir tidak pernah, 2=kadang-kadang, 3=cukup sering,
4=sangat sering. Hasil uji validitas instrument tingkat stres, dikatakan valid
karna r hasil > dari r tabel, sedangkan untuk uji reliabilitas mendapatkan nilai
cronbach’s alpha 0,951 oleh karna itu instrument tersebut dikatakan reliabel38.
3. Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ).
Sebuah survei stres mahasiswa kedokteran (MSSQ) yang divalidasi dapat
digunakan untuk mengetahui tingkat stres yang dialami mahasiswa kedokteran.
Ada 6 jenis stresor yang dievaluasi dalam survei ini. Stresor terkait pendidikan
(ARS) berkaitan dengan masalah akademik yang dihadapi siswa stresor

13
14

intrapersonal dan interpersonal (IRS) yang berkaitan dengan konflik di dalam


diri sendiri dan antara orang; stresor terkait pengajaran dan pembelajaran
(TLRS) yang berkaitan dengan situasi yang terkait dengan pembelajaran dan
pengajaran; dan stresor terkait sosial (SRS) yang berkaitan dengan aktivitas
sosial yang melibatkan masyarakat.39.

2.2 Konsep perilaku


2.2.1 Definisi
Perilaku merupakan ekspresi perasaan individu yang mengindikasikan
kesukaan atau ketidaksukaan terhadap suatu objek. Hal ini mencerminkan
kesadaran seseorang yang menentukan tindakan nyata atau potensial dalam konteks
interaksi sosial40.
2.2.2 Karakteristik Perilaku
Karakteristik khusus Perilaku dibagi menjadi lima yaitu40:
1. Perilaku bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan terbentuk dan dipelajari
sepanjang perjalanan hidup manusia dalam interaksinya dengan objek tertentu.
2. Karena sifatnya yang tidak diwariskan, Perilaku bersifat dinamis dan dapat
berubah jika terdapat kondisi yang mendukung perubahan tersebut.
3. Perilaku tidak berdiri sendiri, namun selalu terkait dengan sesuatu dan dapat
terbentuk, dipelajari, atau dimodifikasi sesuai konteks.
4. Objek Perilaku tidak terbatas pada satu hal spesifik, melainkan dapat mencakup
serangkaian objek yang serupa.
5. Perilaku umumnya dipengaruhi oleh motivasi dan emosi, yang
membedakannya dari kemampuan dan pengetahuan.
2.2.3 Fungsi Perilaku
Mengelompokkan 4 (empat) fungsi perilaku, yaitu40:
1. Fungsi Utilitarian
Berkaitan dengan prinsip imbalan dan hukuman, di mana konsumen
mengevaluasi kepuasan atau kekecewaan terhadap suatu produk.
2. Fungsi Ekspresi Nilai

14
15

Persepsi konsumen terhadap merek didasarkan pada kemampuannya


mengekspresikan nilai-nilai personal.
3. Fungsi Mempertahankan Ego
Perilaku yang dikembangkan bertujuan melindungi individu dari masalah
eksternal dan tekanan internal.
4. Fungsi Pengetahuan
Membantu mengorganisir informasi dan mengurangi kebingungan dalam
memilah informasi yang relevan.
2.2.4 Komponen Perilaku
Perilaku terdiri dari tiga komponen utama, yaitu40:
1. Komponen Kognitif: Pengetahuan dan persepsi yang diperoleh melalui
pengalaman dan informasi, membentuk keyakinan tentang karakteristik objek.
2. Komponen Afektif, Berkaitan dengan emosi dan perasaan terhadap objek,
menunjukkan tingkat kesukaan atau ketidaksukaan.
3. Komponen Konatif, Kemungkinan atau kecenderungan melakukan tindakan
spesifik terkait objek perilaku, sering diekspresikan sebagai niat perilaku.
2.2.5 Hal-hal Pembentuk Perilaku dan Merubah Perilaku
Enam faktor yang memengaruhi pembentukan perilaku, yaitu40:
1. Pengalaman pribadi
Perilaku terbentuk dari stimulus dan reaksi personal, terutama yang melibatkan
kondisi emosional.
2. Pengaruh Orang Penting
Individu cenderung menyesuaikan sikap dengan orang-orang yang dianggap
signifikan dalam hidupnya.
3. Pengaruh Kebudayaan
Lingkungan budaya secara fundamental membentuk pola pikir dan perilaku.
4. Media Massa
Berperan penting dalam membentuk pemikiran dan keyakinan melalui pesan
yang disampaikan.

15
16

5. Lembaga Pendidikan dan Agama


Memberikan fondasi konseptual dan moral yang membentuk sistem
kepercayaan.
6. Faktor Emosional
Pengalaman pribadi dan kondisi lingkungan seseorang tidak selalu
memengaruhi sikap mereka. Kadang sikap didasarkan pada emosi sebagai
mekanisme pelepasan frustrasi atau pengalihan perhatian.

2.3 Konsep Rokok


2.3.1 Definisi Rokok
Rokok Karena nikotin, zat adiktif rokok, memberi nikotin ke otak dalam 7
detik setelah menghirupnya41. Rokok merupakan silinder kertas berisi cacahan daun
tembakau dengan panjang antara 70 hingga 120 mm dan diameter sekitar 10 mm.
Produk ini mengandung sekitar 300 zat kimia dan menjadi salah satu komoditas
yang diperdagangkan secara global.
Tar, nikotin, benzovrin, metal-kloride, aseton, amonia, dan karbon
monoksida merupakan kandungan utama sebagai bahan dasar rokok. Selain itu, satu
batang rokok mengandung sekitar 4.000 senyawa kimia beracun yang berbahaya
bagi tubuh, dengan 43 di antaranya bersifat karsinogenik. Zat utama dalam rokok
termasuk nikotin, yang berbahaya dan menyebabkan kecanduan, serta karbon
dioksida, yang dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah. Begitu pula rokok
dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan kanker42.
2.3.2 Kandungan Dalam Rokok
Menurut Faisol yang dikutip dalam jurnal Novi43 rokok sangat berbahaya
bagi kelangsungan hidup manusia. Rokok mengandung banyak zat berbahaya, ada
lebih dari 250 jenis zat beracun dan 70 henis zat kasinogik ditemukan dalam
sebatang rokok. Kandungan rokok yang berbahaya termasuk tembakau, bahan baku
utama rokok. Adapun kandungan rokok yang bersifat merusak diantaranya:
1. Nikotin
Nikotin merupakan zat adiktif yang berasal dari tembakau, yang tidak hanya
menyebabkan ketagihan dan kecanduan, tetapi juga memengaruhi sistem saraf

16
17

otak dengan memicu berbagai reaksi biokimia, termasuk memberikan efek


menenangkan dan menyenangkan.
2. Tar
Sebanyak 4.000 bahan kimia termasuk dalam tar. Tar, zat kimia yang berasal
dari asap rokok.
3. Karbon
Karbon monoksida adalah gas tanpa rasa dan bau. Jika terhirup dan masuk ke
dalam aliran darah,
4. Hidrogen sianida
Hidrogen sianida adalah zat racun lainnya yang terkandung dalam rokok, yang
pernah digunakan untuk menghukum mati para tahanan di beberapa negara.
5. Benzena
Benzena merupakan hasil dari pembakaran rokok.
6. Kadmium
Kadmium, logam yang sangat beracun dan radioaktif, diserap ke paru-paru orang
yang merokok sekitar 40% hingga 60%.
7. Formaldehida
Formaldehida merupakan salah satu zat yang dihasilkan dari pembakaran rokok.
8. Ammonia
Amonia adalah gas tidak berwarna dengan bau tajam dan bersifat beracun. Zat
ini digunakan untuk meningkatkan efek candu nikotin.
9. Arsenik
Partisida yang digunakan kedalam budi daya tembakau adalah sumber arsenik
yang ditemukan dalam rokok.

2.4 Perilaku Merokok


2.4.1 Konsep Perilaku
1. Definisi Perilaku
Sikap atau perilaku adalah pendapat atau perasaan seseorang bagaimana Anda
melihat dan merasa tentang seseorang atau sesuatu, serta cara anda bertindak
terhadap mereka, dikenal sebagai perspektif44. Teori perilaku individu harus

17
18

dipelajari karena karakter pada dasarnya adalah sifat perilaku dan psikologis
yang konsisten, yang membuat perbedaan orang dari orang lain45.
2. Faktor perilaku
Ada 3 faktor-faktor perilaku yaitu45:
a. Proses penurunan sifat atau sifat tertentu yang ada pada orang tua atau
keturunan dekat seseorang disebut faktor pembawaan. Sifat bawaan ini sulit
untuk diubah menjadi kebiasaan atau dibawa dari sifat orang tuanya.
b. Faktor Motivasi, yang merupakan keinginan untuk melakukan sesuatu dan
menentukan kemampuan bertindak untuk memenuhi kebutuhan individu,
adalah faktor internal yang mempengaruhi perilaku individu dalam
organisasi.
c. Unsur-unsur eksternal, kondisi lingkungan. Ahli empirisme berpendapat
bahwa perkembangan seseorang sepenuhnya ditentukan oleh
lingkungannya, pendidikan adalah salah satu contohnya. Selain itu, mereka
berpendapat bahwa kondisi atau komponen lingkungan ini berdampak pada
perkembangan manusia.
2.4.2 Konsep Merokok
Merokok berarti menghirup zat-zat berbahaya bagi tubuh. Beberapa
penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kebiasaan merokok banyak dilakukan
pada masa remaja46. Merokok berarti menghirup zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.
Kebiasaan ini memiliki banyak dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan
tidak hanya merugikan perokok, tetapi juga membahayakan orang-orang di
sekitarnya47.
2.4.3 Faktor-Faktor Perilaku Merokok
Beberapa faktor amat mempengaruhi untuk seseorang mulai merokok yaitu
faktor teman dilingkungan tempat ia berada, selain itu, faktor pengaruh kepribadian,
faktor pengaruh iklan serta pengaruh orang tua48. Perilaku merokok terutama pada
remaja dipengaruhi oleh orang tua yang permisif dan lingkungan teman sebaya.
Remaja menganggap lingkungan teman sebaya sangat penting. Remaja sering
berbuat apa saja untuk diterima oleh kelompoknya karena mereka ingin diterima.
Selain itu kepuasan psikologis pada remaja juga menjadi pengaruh perilaku

18
19

terutama pada remaja untuk merokok49. Berikut faktor perilaku merokok pada
remaja,
1. Faktor stres
Resiko terkena depresi dapat meningkat jika seseorang mengalami stres
berlebihan atau tidak terkontrol. Perokok mengatakan bahwa mereka merokok
karena stres, mungkin dikarenakan mereka tahu bahwa merokok membantu
mengatasi dampak stres serta menghasilkan manfaat psikologis seperti tingkat
50
mood yang lebih baik . Kecanduan nikotin terjadi akibat aktivasi reseptor
kolinergik di daerah tegmental ventral otak, yang kemudian memicu pelepasan
dopamin di nucleus accumbens, yang membuat perokok merokok lebih banyak
karena rasa nyaman dan ketergantungan. Beberapa orang merokok ringan
untuk menghilangkan stres dalam situasi stres, seperti setelah menikmati kopi
atau makanan. Untuk menyenangkan perasaannya dengan itu seseorang akan
termotivasi merokok ketika sedang stres51.
2. Faktor lingkungan
Salah satu faktor yang menyebabkan remaja merokok salah satu nya adalah
lingkungan. Lingkungan adalah tempat anak bersosialisasi yang akan
mempengaruhi pembentukan karakter dan kebiasaan anak, di samping
lingkungan keluarga yang harus bebas dari kebiasaan buruk merokok
lingkungan Pendidikan dan pertemanan juga harus terbebas dari kebiasaan
merokok. yang terpenting adalah bagaimana cara agar menjaga lingkungan
sosial dan juga pergaulan dari anak agar tidak terpengaruh buruk akan perilaku
remaja merokok tersebut52.
3. Faktor individu
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan para
remaja mulai merokok selama peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
remaja, yang banyak menimbulkan masalah dalam penyesuaian diri dan
lingkungan sosial. Sikap dipengaruhi oleh berbagai kesulitan dalam
penyesuaian diri, yang menunjukkan identitasnya yang belum stabil.
Keinginan untuk diakui sebagai orang dewasa seringkali diikuti dengan meniru
kebiasaan orang dewasa tanpa berpikir matang. Berbagai keputusan yang

19
20

dibuat oleh remaja, bagaimanapun sangat penting, dengan dampak langsung


pada sikap dan perilaku mereka serta dampak jangka panjang. Dunia pergaulan
remaja yang menganggap merokok sebagai cara untuk bertahan hidup
membuat mereka tidak peduli dengan berbagai konsekuensi negatif yang
disebabkannya.53.
4. Faktor biologis
Dikutip dari jurnal Suryani et al54, Rokok mengandung nikotin, yang menekan
kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok
memerlukan tingkat nikotin yang lebih tinggi untuk menjadi lebih puas dan
tergantung.
5. Faktor iklan dan media
Hasil penelitian Nuradela et al55 iklan rokok yang mudah diakses adalah salah
satu dari alasan mengapa remaja merokok. Iklan rokok di televisi menunjukkan
bahwa ada korelasi signifikan antara perilaku merokok siswa dan iklan rokok.
Dengan kata lain, melihat iklan rokok di televisi meningkatkan motivasi
seseorang untuk merokok.
Motivasi adalah dorongan internal atau eksternal untuk seseorang memlakukan
sesuatu sebagai bentuk mencapai tujuan, atau memenuhi kebutuhan, seperti
merokok. Di kutip dari penelitian Suryawati dan Gani56 menyebutkan faktor
merokok ada 2 yaitu faktor internal dan ekstenal.
1. Internal ini faktor persepsi tentang rokok yang katanya memeperbaiki suasana
hati pada saat mengalami tekanan hingga stres, merokok yang dapat membuat
mereka melampiaskan nya lewat hembusan asap karena memiliki sensasi
tersendiri memeperbaiki suasana hati. Selain itu, kurangnya baiknya
pengetahuan tentang rokok yang beranggapan tidak semua kandungan rokok itu
berbahaya, serta rasa ingin tau dan peanasaran dengan rasa rokok.
2. Faktor eksternal ini sendiri yaitu fakor teman sebaya yan terpicu Ketika
berkumpul Bersama, kemudian faktor kerja atau beraktivitas dengan alasan
dapat menghilangkan ngantuk, terakhir faktor keluarga yang tidak melarang
mereka untuk merokok.

20
21

2.4.4 Jenis Perokok


Ada tiga jenis perokok. Kelompok pertama yaitu former smoker, kelompok
yang disebut sebagai perokok aktif terdiri dari mereka yang telah merokok lebih
dari seratus batang rokok selama hidupnya tetapi telah berhenti merokok.
Kelompok kedua yaitu kelompok non smokers yang berarti mereka sama sekali
tidak pernah merokok dalam hidupnya. Dan kelompok ketiga current smokers
(perokok aktif), yang berarti mereka pernah merokok 100 batang rokok sepanjang
hidupnya dan sekarang masih merokok 57.
Ada 2 jenis perokok yakni perokok aktif yang menghisap asap rokok
langsung dan perokok pasif yakni orang yang terpapar langsung asap atau merokok
tetapi menghisap asap rokok dari hembusan perokok aktif58. Intensitas merokok
sering dikategorikan berdasarkan jumlah batang rokok yang dihisap per hari:
merokok ringan (1–10 batang rokok per hari), merokok sedang (11–20 batang rokok
per hari), dan merokok berat (21 batang rokok atau lebih per hari). Kategori-
kategori ini dikaitkan dengan berbagai tingkat risiko kesehatan, termasuk
peningkatan kemungkinan ketergantungan nikotin dan penyakit kronis seperti
kanker dan penyakit kardiovaskular59.
2.4.5 Tahapan Merokok
Sebelum seseorang menjadi perokok aktif, ia akan mengalami 4 tahapan
terlebih dahulu. Tahapan menjadi perokok aktif terdiri dari empat fase Pertama
preparatory, di mana seseorang memperoleh gambaran tentang perilaku merokok
dan mulai memiliki niat untuk mengikutinya, Kedua initiation, yaitu tahap di mana
seseorang memutuskan apakah akan merokok atau tidak. Ketiga becoming a
smoker, ketika seseorang mulai merokok secara rutin setiap hari. Keempat
maintaining of smoking, saat merokok telah menjadi bagian dari kebiasaan atau
gaya hidupnya. Berdasarkan pandangan ini, seseorang dapat menjadi perokok aktif
melalui proses bertahap yang dipengaruhi oleh keinginan pribadi60.
2.4.6 Tipe Perilaku Merokok
Satu-satunya produk berbahaya yang efek negatifnya dapat dirasakan secara
langsung oleh orang-orang di sekitar penikmatnya adalah rokok. Ada dua tipe
perilaku merokok yaitu perokok aktif dan perokok pasif61. Perokok yang aktif dapat

21
22

didefinisikan sebagai orang yang sering menghisap rokok, bahkan jika itu hanya
satu batang setiap hari. Mereka juga dapat menjadi perokok aktif jika mereka hanya
mencoba menghisap rokok dengan cara yang tidak biasa, atau jika mereka hanya
mencoba menghisap rokok dengan cara yang tidak memasukkan asap ke paru-paru.
Orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok orang lain atau orang yang
berada dalam ruangan tertutup dengan orang yang merokok dikenal sebagai
perokok pasif.
2.4.7 Dampak Merokok
Merokok mengurangi kesehatan hampir semua organ tubuh manusia dan
menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari kanker hingga gangguan janin.
Perilaku merokok dapat menyebabkan setidaknya tiga puluh penyakit pada tubuh
manusia, yang pasti akan mengurangi stamina dan produktivitas. Berikout dampak
merokok berdasarkan kandungan rokok:
1. Salah satu kandungan berbahaya dalam rokok adalah nikotin, yaitu zat adiktif
yang dapat mempengaruhi sistem saraf, meningkatkan detak jantung, serta
menaikkan tekanan darah. Selain itu, nikotin juga berdampak buruk pada proses
reproduksi, berat badan janin, dan perkembangan otak anak. Paparan nikotin
dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah,
seperti penyempitan atau pengentalan darah62.
2. Tar adalah partikel karbon padat atau solid yang memiliki sifat karsinogenik.
dan enam puluh dari mereka berpotensi menyebabkan kanker mulut, paru-paru,
dan penyakit jantung 43.
3. Karbon monoksida, gas ini akan lebih mudah berikatan dengan sel darah merah
dibandingkan dengan oksigen, sehingga dapat mengurangi kadar oksigen dalam
tubuh. Dalam jangka pendek, Anda akan mengalami kelelahan, kelelahan, dan
pusing 43.
4. Hydrogen sianida, senyawa ini menyebabkan melemahnya paru-paru dan
menyebabkan sakit kepala, kelelahan. dan mual 43.
5. Benzena, paparan benzena dalam jangka panjang dapat menyebabkan
penurunan jumlah sel darah merah serta merusak sumsum tulang. Selain itu,
benzena juga dapat merusak sel darah putih dalam tubuh 43.

22
23

6. Kadmium tinggi dapat menyebabkan masalah gangguan sensorik, muntah,


diare, kejang, kram otot, gagal ginjal, serta peningkatan risiko kanker 43.
7. Formaldehida, zat ini dapat menyebabkan iritasi ringan pada mata, hidung, dan
tenggorokan, namun dalam jangka panjang berisiko memicu kanker nasofaring.
8. Amonia, paparan amonia dalam jangka pendek dapat menyebabkan sesak
napas, iritasi mata, dan sakit tenggorokan, sementara dalam jangka panjang
dapat meningkatkan risiko kanker tenggorokan dan pneumonia 43.
9. Paparan arsenik dalam kadar tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya
kanker kulit, kanker paru-paru, kanker saluran kemih, kanker ginjal, dan kanker
hati 43.

2.5 Konsep Remaja


2.5.1 Defenisi Remaja
Masa remaja merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa
yang memiliki tantangan tersendiri. Pada fase ini, remaja dianggap lebih matang
dibandingkan sebelumnya, tetapi di sisi lain masih belum sepenuhnya mampu
bertanggung jawab. Berdasarkan teori perkembangan psikososial, masa remaja juga
dikenal sebagai periode pencarian identitas diri, di mana individu berusaha
menemukan jati diri, tujuan hidup, serta mengeksplorasi berbagai peran. Kondisi
ini menyebabkan remaja cenderung mengidentifikasi diri dengan teman sebaya,
karena mereka merasa tindakan mereka akan diterima dan diakui sebagai bagian
dari eksistensinya. Pengaruh teman sebaya pada masa ini sangat besar, baik dalam
membentuk perilaku positif maupun negatif. Selain itu, remaja juga mengalami
masa pubertas, yang ditandai dengan kematangan fisik yang cepat, termasuk
perubahan tubuh dan hormon, terutama selama awal masa remaja63.
Remaja adalah orang-orang yang baru saja berkembang dan belajar dampak
dari Keputusan yang mereka ambil. Mereka harus siap menghadapi masalah dan
perubahan dalam hidup mereka dan harus siap menghadapi segalanya. Masa remaja
bertepatan dengan jenjang sekolah menengah, yang merupakan fase menarik karena
keunikannya serta peran pentingnya dalam pembentukan kehidupan dewasa64.
Remaja sendiri terbagi dalam 3 bagian berikut64:

23
24

1. Remaja awal (11-14)


Pada fase ini, Seseorang mulai meninggalkan tugasnya sebagai seorang yang
dikenal sebagai anak-anak dan berusaha menjadi orang yang mandiri. Pada tahap
ini, utamanya berkonsentrasi dalam proses menerima bentuk dan kondisi fisik,
remaja juga berupaya membangun kesesuaian yang kuat dengan teman sebaya.
2. Remaja tengah (14-17)
Kapasitas kognitif baru muncul di tahap ini, remaja sangat membutuhkan
kehadiran teman, meskipun mereka mulai menjadi lebih mandiri. Teman sebaya
tetap memiliki peran penting dalam kehidupan mereka. Pada tahap ini, remaja
mulai mencapai kematangan perilaku, belajar mengendalikan keinginan, serta
mulai membuat penilaian awal mengenai tujuan karier mereka. Selain itu,
penerimaan dari lawan jenis juga menjadi aspek yang semakin berarti bagi
individu.
3. Remaja akhir (17-21)
Masa ini disebut fase yang mana tahap terakhir dari remaja. Ini biasanya disebut
transisi menuju dewasa, di mana orang mulai mengalami perubahan besar secara
fisik, emosional, dan sosial.
2.5.2 Ciri-Ciri Remaja
Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja, yang sekaligus
menjadi tahap perkembangan remaja 65 :
1. Pada masa remaja awal, terjadi peningkatan emosional yang cepat, yang dikenal
sebagai storm & stress. Lonjakan emosi ini dipengaruhi oleh perubahan fisik,
terutama hormon, yang terjadi selama masa remaja. Dari perspektif sosial,
perubahan emosional ini menandakan bahwa remaja berada dalam fase baru
yang berbeda dari tahap sebelumnya. Mereka menghadapi berbagai tuntutan dan
tekanan, seperti harapan untuk meninggalkan perilaku kekanak-kanakan serta
belajar menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab.
2. Kematangan seksual terjadi bersamaan dengan perubahan fisik yang cepat.
Perubahan-perubahan ini terkadang membuat remaja merasa ragu terhadap diri
sendiri dan kemampuannya. Pertumbuhan fisik yang pesat memengaruhi konsep
diri remaja, baik dari aspek internal, seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan

24
25

pernapasan, maupun dari aspek eksternal, seperti tinggi badan, berat badan, dan
proporsi tubuh.
3. Selama masa remaja, minat dan ketertarikan mengalami perubahan, di mana hal-
hal yang menarik di masa anak-anak mulai tergantikan oleh hal-hak yang lebih
menarik ketika lebih dewasa. Perubahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya
tanggung jawab yang harus diemban, sehingga remaja diharapkan dapat lebih
fokus pada hal-hal yang lebih penting. Selain itu, hubungan sosial mereka juga
berkembang. Remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan teman sebaya dari
jenis kelamin yang sama, tetapi juga mulai membangun hubungan dengan lawan
jenis serta orang [Link] kelamin yang sama, tapi juga dengan lawan
jenisnya, serta orang dewasa.
4. Seiring bertambahnya usia, remaja mengalami perubahan dalam nilai-nilai yang
mereka anggap penting. Hal-hal yang dulu dianggap berarti di masa kanak-
kanak mungkin tidak lagi menjadi prioritas. Seiring dengan perkembangan
pemikiran dan tanggung jawab yang lebih besar, remaja mulai menilai ulang apa
yang benar-benar penting bagi mereka dalam kehidupan, menyesuaikan nilai-
nilai tersebut dengan kedewasaan dan pengalaman yang mereka peroleh.
5. Dalam menghadapi perubahan, kebanyakan remaja merasa ambivalen atau labil
dengan pola pikirannya sendiri. Mereka ada yang menginginkan kebebasan,
tetapi mereka juga takut akan tanggung jawab yang terkait dengan kebebasan.
Selain mengalami perubahan dalam nilai-nilai yang dianggap penting, remaja
juga sering kali meragukan kemampuan mereka dalam memikul tanggung jawab
yang semakin besar. Proses transisi menuju kedewasaan ini membuat mereka
menghadapi tantangan baru, yang terkadang menimbulkan rasa tidak percaya
diri atau ketidakpastian dalam menjalankan peran dan kewajiban yang
diharapkan dari mereka.
2.5.3 Karakteristik Perkembangan Remaja
Karakteristik perkembangan remaja dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
1. Perkembangan fisik remaja
Perubahan bentuk tubuh adalah tanda perkembangan fisik pra remaja. Perubahan
bentuk tubuh termasuk bertambahnya berat badan dan tinggi badan, antara lain.

25
26

Selain itu, perubahan ini menunjukkan gigi permanen, tanda pubertas seperti
kulit berminyak dan berjerawat, kecepatan, kelincahan, dan keseimbangan yang
lebih baik. Hal ini tidak akan membuat remaja dalam masalah diakarenakan ini
adalah proses alami yang tidak dapat dicegah dan ditunda, dikarenakan setiap
makhluk hidup akan ada tahapan-tahapannya. Hal ini tidak perlu ditakuti ketika
mengalami perubahan bentuk tubuh diakrenakan terjadi secara alami bagi orang
yang sehat 66.
2. Perkembangan seksual pada remaja
Anak-anak praremaja mulai menyadari bagaimana perubahan seksual
memengaruhi diri mereka. Hal ini ditandai dengan tumbuhnya rambut di area
kemaluan, dimulainya menstruasi pada perempuan, serta perkembangan
payudara. Perubahan fisik ini sering kali membuat mereka merasa canggung atau
malu, terutama saat harus berganti pakaian di depan teman sebaya.
3. Perkembangan psikososial remaja
Perkembangan yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dengan orang lain disebut
perkembangan psikososial. Perkembangan ini mencakup perubahan yang terjadi
sebelum dan sesudah individu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam
konteks ini, perkembangan psikososial dapat digambarkan sebagai proses
pembelajaran seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kebiasaan serta aturan
yang berlaku di sekitarnya67, ada sebanyak 8 tahapan perkembangan psikososial
di mana individu berinteraksi satu sama lain. Teori ini menganggap bahwa
manusia akan mengalami delapan perubahan lingkungan sepanjang hidup
mereka. Tujuan dari teori ini adalah untuk mensinkronkan perkembangan
individu dengan harapan sosial. Erikson68 mengatakan bahwa krisis adalah
masalah yang menghadang tahapan-tahapan perkembangan. Di masa remaja,
mereka mengalami fase perkembangan psikososial di mana identitas (identitas)
dibandingkan dengan kebingungan identitas (identitas). Dalam konteks ini,
identitas (identitas) konsep diri yang koheren adalah gambaran yang terintegrasi
tentang diri sendiri, yang mencakup tujuan, nilai, dan keyakinan yang kuat.
Konsep ini membantu seseorang memahami siapa dirinya, apa yang dianggap
penting, serta arah yang ingin dicapai dalam hidup 69.

26
27

Pada tahapan periodisasi, masa remaja memiliki fokus yang berbeda-beda.


Masa remaja awal merupakan tahap transisi dari anak-anak menuju pubertas, di
mana mereka mulai ingin bertindak seperti orang dewasa. Namun, pada
kenyataannya, mereka belum sepenuhnya siap untuk menghadapi tanggung
jawab dan peran kedewasaan. Perubahan fisik yang mereka alami saat mereka
mencapai kematangan seksual yang sebenarnya adalah pusat perkembangan
remaja awal ini 67.
2.5.4 Tugas Perkembangan Remaja
Salah satu tugas utama remaja adalah mengatasi krisis serta kebingungan
identitas, membentuk identitas yang unik, berinteraksi dengan lingkungan untuk
memperoleh pengakuan, serta menjalin hubungan yang bermakna dengan orang
lain69. Tugas perkembangan remaja adalah bagaimana mereka berperilaku dan
bersikap terhadap lingkungan mereka. Anak harus belajar menyesuaikan diri
dengan lingkungannya dan menghadapi tantangan hidup karena perubahan fisik dan
psikologis yang terjadi padanya70.
Secara garis besar biososial pada dasarnya orang-orang dewasa amat
mengkehendaki para remaja sudah mampu melatih diri untuk mengembangkan
pola-pola perilaku yang aseptebel misalnya berpikiran rasional dan realistis, emosi
yang stabil, perbuatan-perbuatan yang tertib menurut moral dan tatanan yang baik.
Sekolah merupakan lembaga formal yang mendidik anak-anak supaya mampu
mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan cita-cita pendidikan bangsa dan
kebudayaannya. Disamping itu organisasi-organisasi nya adalah kepemudaan,
kepramukaan, dan palang merah remaja adalah arena pendidikan sosialisi
praremaja. Mengenai tugas perkembangan remaja hakikat tugas di implikasikan
dalam tugas-tugas perkembangan yang bersangkutan. Adapun nama-nama tugas
perkembangan yang mencakup dalam masa remaja adalah sebagi berikut 71:
1. Mencapai hubungan pergaulan sosial baru yang lebih matang dalam playgroup
dan oran-orang dewasa lainnya dalam Masyarakat.
2. Mencapai status dan peranan sosiokultural sebagai Wanita atau pria dalam
Masyarakat.
3. Pemeliharaan dan penggunaan energi fisik dan Rohani secara efektif.

27
28

4. Mencapai kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
dengan menghilangkan sifat ambivalent, yaitu di satu pihak masih bergantung
pada orang tua, di lain pihak mau berdiri sendiri, tetapi belum mampu berusaha
sendiri.
5. Memperoleh jaminan kebebasana ekonomi dengan cita-cita jabatan dan karier
yang sesuai dengan bakat dan keahliannya.
6. Mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi dengan spesialisasi menurut
bakat dan minatnya.
7. Mempersiapkan diri untu menjadi warga negara yang baik.
8. Memilah rencana dan penyelenggaraan hidup berkeluarga sesuai dengan
filsafat hidup bangsanya.
9. Memiloh calon suami atau istri secara tepat dan serasi satu sama lain
10. Menyumbangkan darma baktinya dalam memajukan, menemukan bentuk
kebudayaan baru untuk umat manusia.

28
29

2.6 Kerangka Teori

Stres Berperilaku

Faktor penyebab stres Hal hal pembentukan perilaku


1. Lingkungan
1. Pengalaman
2. Emosional
3. Ekonomi dan sosial 2. Pengaruh

Perilaku Merokok
Tingkat stres
1. Stres ringan
2. Stres sedang
3. Stres berat

Dampak stres
1. Reaksi psikologis
2. Reaksi fisik

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber: (Purnama Simangunsong DKK24., Hastuti,R.Y DKK31, Made Mahaguan
Putra32), (Buku Manajemen Stres Kerja22), (Buku Dasar Kreperawatan Jiwa
Pengantar dan Teori37), (Laoli, J DKK40).

29
30

2.7 Kerangka Konsep


Adapun kerangka konsep dalam penelitian “Hubungan Tingkat Stres Dan
Motivasi Merokok Pada Remaja Akibat Lingkungan Di SMAN 02 Muaro Jambi”
adalah sebagai berikut:

Tingkat stress Perilaku Merokok

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


Keterangan:
: Variabel Independent
: Variabel Dependent

2.8 Hipotesis Penelitian


H0 = Tidak ada hubungan yang signifikan antara 30ingkat stres dengan
perilaku merokok pada remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi
H1 = Terdapat hubungan yang signifikan antara 30ingkat stres dengan
perilaku merokok pada remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi.

30
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini menggunakan desain penelitian berbasis kuesioner, dengan data
yang dikumpulkan melalui kuesioner cetak. Pada tahap ini, data yang diperoleh dari
kuesioner dan wawancara akan diproses agar relevan dalam menjawab
permasalahan penelitian serta menguji hipotesis atau pertanyaan penelitian. Tahap
selanjutnya dalam pemrosesan data kuantitatif mencakup pengolahan data awal dan
akhir. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa tanggapan yang dikumpulkan
memiliki kualitas tinggi, lengkap, jelas, ringkas, serta mudah dipahami72.

3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di SMAN2 Muaro Jambi pada Oktober 2025 atau
Tahun ajaran 2025.

3.3 Subjek Penelitian


3.3.1 Populasi
Penelitian menentukan populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini
31ingka siswa laki-laki kelas 11 dan 12 di SMAN 02 Muaro Jambi tahun ajaran
2024/2025. Dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 279 orang.

Tabel 3. 1 Data siswa laki-laki kelas 11 dan 12 di SMAN 2 Muaro Jambi

Kelas Laki-laki
11 IPA F1 A 17
11 IPA F1 B 16
11 IPA F1 C 21
11 FASE 2A 17
11 FASE 2B 17
11 FASE 2C 16
11 IPS F3 A 13
11 IPS F3 B 12
11 IPS F3 C 18
12 IPA F1 A 15
12 IPA F1 B 17
12 FASE 2A 16
12 FASE 2B 18

31
32

Kelas Laki-laki
12 FASE 2C 16
12 FASE 2D 14
12 FASE 2E 14
12 IPS F3 A 11
12 IPS F3 B 11

3.3.2 Sampel

Sampel adalah kelompok kecil dari objek yang dipilih dari populasi yang
lebih besar. Mereka akan menjadi perwakilan untuk menjadi informasi yang dapat
menggambarkan kondisi keseluruhan populasi penelitian. Penghitungan sampel
pada penelitian ini yang ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin

Keterangan :
n : Sampel yang diinginkan
N :Jumlah populasi
e : Presisi/ Tingkat penyimpangan yang diinginkan/ margin error (10%)
Perhitungan:
n= 279
1 + 279 (0,1)2
n= 279
3,79
n = 73,6 = 74 siswa
dengan antisipasi drop out 10%:
n = 74 + (74 × 0,1)
n =74 + 7,4
n = 81,4 ≈ 81 siswa
Jumlah sampel yang diperoleh dengan 32ingkat32 adalah sebanyak 74 siswa.
Kemudian untuk antisipasi jika ada data drop out maka ditambahkan sebanyak
10% dari juamlah responden dan dijumlahkan dengan total sebanyak 81
responden.

32
33

Tabel 3.2 Data total siswa laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi


Kelas Laki-Laki Jumlah sampel yang dibutuhkan
17
11 IPA F1 A 17 𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,9~5
279
16
11 IPA F1 B 16 𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,6~5
279
11 IPA F1 C 21 21
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 6~6
279
11 FASE 2A 17 17
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,9~5
279
11 FASE 2B 17 17
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,9~5
279
11 FASE 2C 16 16
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,6~5
279
11 IPS F3 A 13 13
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 3,7~4
279
11 IPS F3 B 12 12
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 3,4~3
279
11 IPA F3 C 18 18
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 5,2~5
279
12 IPA F1 A 15 15
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,3~4
279
12 IPA F1 B 17 17
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,9~5
279
12 FASE 2A 16 16
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,6~5
279
12 FASE 2B 18 18
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 5,2~5
279
12 FASE 2C 16 16
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4,6~5
279
12 FASE 2D 14 14
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4~4
279
12 FASE 2E 14 14
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 4~4
279
12 IPS F3 A 11 11
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 3,1~3
279
12 IPS F3 B 11 11
𝑛𝑖 = 𝑋 81 = 3,1~3
279
jumlah 279 81

3.3.3 Kriteria Inklusi Dan Ekslusi

1. Kriteria Inklusi
a. Siswa laki-laki SMAN 02 Muaro Jambi pada tahun ajaran saat Penelitian
berlangsung.
b. Siswa perokok
c. Siswa yang bersedia menjadi responden.
d. Siswa yang sehat jasmani dan Rohani

33
34

2. Kriteria Ekslusi
a. Siswa yang memiliki kondisi kesehatan yang dapat mengganggu proses
penelitian.
b. Siswa yang sedang sakit sehingga tidak bisa menjalani aktifitas sekolah
secara luring pada saat pengumpulan data secara luring.
c. Siswa yang mengundurkan diri pada saat proses pengumpulan data.
3.3.4 Cara Pengambilan Sampel
Penelitian ini menggunakan Teknik pengambilan sampel purposive
sampling, dengan pendekatan khususnya simple random sampling. Simple random
sampling adalah metode probability sampling di mana setiap anggota populasi
memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel, terutama jika populasi
diasumsikan homogen berdasarkan suatu karakteristik tertentu. Pengambilan
sampel dilakukan dengan pertimbangan tertentu, sehingga setiap subjek memiliki
peluang yang sama untuk menjadi sampel penelitian, termasuk dalam metode
cluster sampling.
3.4 Definisi Operasional Variabel
Tabel 3.3 Definisi Operasional
Variabel Definisi operasional Cara ukur Alat ukur Skala ukur Hasil ukur
Karakteristik responden
Usia Rentang usia Mengisi Kuesioner Ordinal Usia di
responden saat kuesioner demografi kelompokkan
penelitian dilakukan menjadi:
1. 16 tahun
2. 17 tahun
3. 18 tahun
Tingkat Kelas Tingkat kelas Mengisi Kuesioner Nominal kelas
merujuk pada kuesioner demografi dikelompokkan
jenjang atau level menjadi:
pendidikan yang 1. Kelas 11
digunakan untuk 2. Kelas 12
mengelompokkan
peserta didik
berdasarkan usia,
kemampuan, dan
materi pembelajaran
yang sesuai

Variabel independent

34
35

Variabel Definisi operasional Cara ukur Alat ukur Skala ukur Hasil ukur
Tingkat stres Mengukur kondisi Mengisi Kuesioner Ordinal Hasil
psikologis siswa kuesioner PSS-10 dikelompokkan
terhadap kuesioner menjadi:
tentang kecemasan 1. Ringan: 0-
yang di alami dan 13
memilih rokok 2. Sedang :14-
sebagai alat 26
pelampiasan. 3. Berat:27-
4038.
Variabel dependent
Perilaku Mengukur skala Mengisi Kuesioner Ordinal Hasil
merokok rokok pada kuesioner dikelompokkan
responden ringan, menjadi:
sedang, berat. 1. Ringan:1-10
batang
2. Sedang:11-
20 batang
3. Berat :> 21
batang 57 .

3.5 Instrumen Penelitian


3.5.1 Kuesioner PSS-10
Kuesioner PSS-10 merupakan kuesioner yang dibuat oleh Cohen dkk pada
tahun 1983 untuk mengevaluasi seberapa tidak terkendali, dan tertekan seseorang
merasakan kehidupannya. PSS-10 terdiri dari 10 item yang diukur menggunakan
skala likert 5 poin, dengan total skor antara 0 hingga 40, di mana skor yang lebih
tinggi menunjukkan tingkat stres yang lebih tinggi. Kuesioner ini valid untuk
menilai stres secara keseluruhan dan dapat diterapkan pada remaja (usia 12 tahun
ke atas) dan orang dewasa, termasuk dalam bidang klinis serta penelitian guna
memantau tingkat stres dari waktu ke waktu.
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner PSS 10
Item Soal
No Indikator Positif Negatif Total

1. Perasaan individu - 1 1
2. Kondisi terhadap situasi, emosi atau reaksi 7 2,3,9 4
3. Ketidak mampuan menangani masalah 4,5,8 6,10 5
Total 10

35
36

Tabel 3.5 Indikator Kuesioner PSS-10


Kategori Skor

Stres Ringan 0-13


Stres Sedang 14-26
Stres Berat 27-40

3.5.2 Kuesioner Perilaku merokok


Kuesioner ini terdiri dari 2 soal terbuka untuk mengukur perilaku merokok
pada siswa, yaitu mengkaji intensitas merokok merokok pada responden penelitian
yang akan memilih sendiri berapa banyak batang rokok yang mereka habiskan
dalam sehari.

Tabel 3.6 Indikator Kuesioner Perilaku Merokok


Kategori Skor

Perokok Ringan 1-10 batang


Perokok Sedang 11-20 batang
Perokok Berat >21 batang

3.6 Uji Validitas Dan Uji Reabilitas


3.6.1 Uji Validitas
Validitas mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur apa
yang seharusnya diukur. Sementara itu, validitas dalam penelitian menunjukkan
seberapa tepat dan akurat alat penelitian dalam mengukur data yang diteliti. Uji
validitas menunjukkan kemampuan alat ukur yang digunakan untuk mengukur
objek73. Suatu instrumen dianggap valid jika nilai r hitung lebih besar dari r tabel,
yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya dilakukan oleh Intan Tri Wahyuni
(2023) dengan r hitung 0,3120 dan dinyatakan valid.
3.6.2 Uji Realibilitas
Uji realibilitas merupakan kemampuan alat ukur dalam memberikan hasil
yang konsisten pada berbagai kali pengukuran. Pada penelitian dasar, nilai
Cronbach's Alpha yang disarankan pada penelitian ini adalah 0,775. Kuesioner PSS-
10 dan Kuesioner perilaku merokok dari penelitian sebelumnya didapatkan nilai
Cronbach's Alpha sebesar 0,951 dan 0,724 lebih dari batas minimal 0,7 sehingga
kuesioner dinyatakan reliabel.

36
37

3.7 Pengumpulan Data


3.7.1 Data Primer
Data primer merupakan data untuk peneliti dapatkan secara langsung
dengan menggumpulkan data melalui responden dengan memberikan lembaran
kuesioner, dan kuesioner ini terdiri dari beberapa pertanyaan yang terstruktur
tentang perilaku dan motivasi merokok pada siswa laki-laki di SMA N 2 Muaro
Jambi.

3.7.2 Data Sekunder


Data sekunder pada penelitian ini adalah data yang peneliti dapatkan berupa
data pelengkap dari SMA N 2 Muaro Jambi.
3.7.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian kuantitatif ini mengumpulkan data melalui observasi,
wawancara, penyebaran kuesioner, dan dokumentasi. Adapaun langka-langka
pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1. Peneliti mengajukan surat permohonan izin pengumpulan data awal pada
bagian akademik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
dengan tujuan kepada SMA N 2 Muaro Jambi.
2. Setelah mendapatkan izin, peneliti bertemu dengan guru di SMAN 2 Muaro
Jambi untuk melakukan wawancara dan bertemu dengan siswa laki-laki kelas
11 untuk mendapatkan data awal.
3. Peneliti meminta izin penelitian kepada bagian tata usaha SMA N 2 Muaro
Jambi
4. Peneliti meminta persetujuan untuk penelitian dari kepala sekolah SMA N 2
Muaro Jambi
5. Setelah mendapat izin, peneliti melihat data banyak siswa laki-laki kelas 11
yang berada di SMA N 2 Muaro Jambi
6. Peneliti melakukan informed consent pada siswa yang bersedia untuk menjadi
responden.

37
38

7. Selanjutnya peneliti memberikan kuesioner tingkat stres dan perilaku merokok


pada siswa laki-laki kelas 11. Setelah itu,
8. Peneliti menerima Kembali lembaran kuesioner yang telah dijawab oleh
responden dan melakukan Analisa.

3.8 Pengolahan Data Dan Analisis Data


3.8.1 Pengolahan Data
Pengolahan data adalah serangkaian prosedur sistematis yang bertujuan
mengubah data mntah menjadi informasi yang siap dianalisis. Proses ini mencakup
berbagai langkah, seperti pengeditan data, transformasi data (coding), dan
penyajian data, sehingga diperoleh data yang lengkap untuk setiap objek dan
variabel yang diteliti76.
1. Editing
Tahap pertama dalam proses ini adalah editing, yang melibatkan pemeriksaan
dan perbaikan data mentah. Pada tahap ini, peneliti melakukan pengecekan
terhadap kelengkapan informasi, mengoreksi kemungkinan kesalahan, serta
mengeliminasi data yang tidak layak untuk dianalisis. Proses ini bertujuan untuk
memastikan bahwa data yang digunakan valid, akurat, dan sesuai dengan
kebutuhan penelitian.
2. Coding
Tahap ini merupakan proses pemberian kode tertentu pada setiap data, yang
disebut coding. Proses ini bertujuan untuk mengelompokkan data berdasarkan
kategori tertentu agar lebih mudah diorganisir, diproses, dan dianalisis dalam
penelitian untuk memudahkan identifikasi dan kategorisasi. Untuk memberikan
identitas data, kode, yang terdiri dari huruf atau angka, dapat memiliki makna
sebagai skor data kuantitatif.
Pemberian kode yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Usia
1) Kode 1: 16 tahun
2) Kode 2: 17 tahun
3) Kode 3: 18 tahun

38
39

b. Tingkat kelas
1) Kode 1: Kelas 11
2) Kode 2: Kelas 12
c. Kategori Tingkat Stres
1) Kode 1: Ringan
2) Kode 2: Sedang
3) Kode 3: Berat
d. Kategori Perilaku Merokok
1) Kode 1: Ringan
2) Kode 2: Sedang
3) Kode 3: Berat
3. Processing/ Entry
Proses entry atau processing dilakukan dengan memasukkan data yang telah
dikodekan ke dalam software penelitian.
4. Cleaning
Tahap cleaning atau pembersihan data merupakan proses kritis untuk
memastikan konsistensi dan kualitas data. Pada tahap ini, peneliti melakukan
verifikasi menyeluruh terhadap data, memeriksa kemungkinan adanya data di
luar rentang yang logis, nilai ekstrem, atau data yang tidak terdefinisi dengan
baik. Merupakan proses memverifikasi apakah ada kesalahan dalam data yang
telah dimasukkan. Saat kita memasukkan data ke komputer, kesalahan ini
mungkin terjadi.
5. Tabulating
Tahap terakhir adalah tabulasi, di mana seluruh data ditempatkan dalam bentuk
tabel untuk memudahkan proses analisis. Tabel ini berfungsi meringkas seluruh
informasi yang akan dianalisis, memberikan gambaran komprehensif tentang
data penelitian.

39
40

3.8.2 Analisa Data


1. Analisis Univariat
Analisis univariat merupakan statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan
atau menggambarkan variabel bebas (Tingkat stres) dan variable terikat
(perilaku merokok) serta karakteristik umur dan Tingkat kelas dalam bentuk
distribusi frekuensi77.

Tabel 3.7 Analisa Univariat


Variabel Jenis Data Deskriptif
Demografi
Usia Kategorik Proporsi
Tingkat Kelas Kategorik Proporsi
Variabel Independen
Tingkat Stres Kategorik Proporsi
Variabel Dependen
Perilaku Merokok Kategorik Proporsi

2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah metode analisis yang digunakan untuk menghitung
koefisien korelasi guna mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua
variabel. Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
hubungan tingkat stres dengan perilaku merokok pada remaja laki-laki. Setelah
dilakukan uji normalitas menggunakan uji Kolmogrov Smirnov didapatkan nilai
signifikansi sebesar <0,001 pada kedua variable. Berdasarkan ketentuan uji
normalitas dimana nilai signifikansi >0,05 maka data dikatakan berdistribusi
normal, maka dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat stres dan perilaku
merokok pada penelitian ini berdistribusi tidak normal. Pengolahan analisa data
bivariat menggunakan uji statistik yaitu uji Spearman78. Ketentuan uji
Spearman, jika nilai signifikansi <0,05 maka dinyatakan memiliki hubungan
atau berkorelasi. Sebaliknya jika nilai signifikansi >0,05 maka dinyatakan tidak
memiliki hubungan atau tidak berkorelasi.

40
41

Tabel 3.8 Analisa Bivariat


Variabel independen Variable dependen Uji statistik
Tingkat stres Perilaku merokok spearman

3.9 Etika Penelitian


Penelitian ini telah mendapatkan izin dari pihak SMAN 2 Muaro Jambi dan
telah disetujui oleh komite etik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi dengan nomor surat 2136/UN21.8/PT.01.04/2025. Adapun etika
penelitian antara lain:
1. Persetujuan (Informed consent) dalam setiap penelitian yang melibatkan
manusia harus mengikuti aturan etika penelitian. informed consent memberikan
pemahaman kepada subjek penelitian tentang tujuan dan maksud penelitian
sebelum keterlibatan mereka.
2. Menjaga Rahasia (Confidentiality/Privacy) peneliti tidak mencantumkan nama
responden dan hanya akan menuliskan kode pada formulir pengumpulan data
dan hasil penelitian. Semua informasi yang dikumpulkan akan dijamin
kerahasiaannya.
3. Manfaat (Beneficence) penelitian yang dilakukan dapat memberikan dampak
baik serta manfaat yang sebesar-besarnya dan mengurangi kerugian atau risiko
4. Tidak Membahayakan Responden (Non-Maleficence) peneliti harus
memastikan bahwa penelitian yang dilakukan tidak menimbulkan bahaya atau
risiko bagi responden bagi responden.
5. Keadilan (Justice) peneliti harus bersikap adil dengan cara tidak membedakan
responden dalam hal melakukan intervensi dengan manfaat yang sama pada
setiap responden.

41
42

3.10 Alur Penelitian

Mengajukan topik masalah dan judul proposal

Memasukkan surat izin pengambilan data awal ke bagian akademiki FKIK

Pengambilan data awal di SMA N 2 Muaro Jambi

Prosedur izin penelitian di SMA N 2 Muaro Jambi

Menyusun proposal

Seminar proposal

Peneliti mengajukan surat izin penelitian ke SMA N 2 Muaro Jambi

Melakukan penelitian dengan menyebarkan kuesioner pada responden

Mengumpulkan Kembali lembara kuesioner yang telah dijawab oleh


responden

Peneliti melakukan analisa

Seminar hasil

Gambar 3.1 Alur penelitian

42
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Analisa Univariat
Berdasarkan hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi karakteristik,
variabel independent (Tingkat Stres) dan variabel dependent (Perilaku Merokok)
serta mengidentifikasi sebagai berikut:

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Data Demografi Responden Remaja


Laki-laki (n=81)
Karakteristik F %
Usia
16 tahun 30 37%
17 tahun 37 45,7%
18 tahun 14 17,3%
Tingkat Kelas
Kelas 11 40 49,4%
Kelas 12 41 50,6%
Berdasarkan tabel 4.1, distribusi karakteristik responden menunjukkan
bahwa mayoritas responden berusia 17 tahun sebanyak 37 siswa (45,7%) dan yang
paling sedikit pada responden berusia 18 tahun sebanyak 14 siswa (17,3),
sedangkan dilihat dari tingkat kelas, proporsi responden hampir seimbang, dengan
41 siswa kelas 12 (50,6%) dan 40 siswa kelas 11 (49,4%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Pada Remaja Laki-laki


Karakteristik F %
Tingkat Stres
Ringan 19 23,5%
Sedang 58 71,6%
Berat 4 4,9%
Total 81 100%
Berdasarkan tabel 4.2, tingkat stres pada remaja laki-laki didominasi oleh
kategori stres sedang, yaitu sebanyak 58 siswa (71,6%) dengan kategori stres berat
paling sedikit sebanyak 4 siswa (4,9%).

43
44

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-laki


Karakteristik F %
Perilaku Merokok
Ringan 30 37%
Sedang 39 48,1%
Berat 12 14,8%
Total 81 100%
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa perilaku merokok remaja laki-laki paling
banyak berada pada kategori sedang, yaitu 39 siswa (48,1%) dan yang paling sedikit
berada pada kategori berat sebanyak 12 siswa (14,8%).
4.1.2 Analisa Bivariat
Analisa bivariat dengan menguji hipotensi penelitian ujntuk melihat apakah
terdapat hubungan antara tingkat stres dan perilaku merokok pada remaja di SMAN
02 Muaro Jambi dengan menggunakan uji korelasi spearman. Berdasarkan uji
kolerasi antara variabel independen (Tingkat Stres) terhadap variabel dependen
(Perilaku Merokok), maka didapatkan tabel sebagai berikut:

Table 4.4 Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada


Remaja Laki-Laki Di Sman 02 Muaro Jambi
Tingkat Perilaku Merokok Total
Stress r P- value

Ringan Sedang Berat

f % f % f % f %

Ringan 15 78,9% 4 21,1% 0 0,0% 19 100%


0,553 <0,001
Sedang 15 25,9% 35 60,3% 8 23,8% 58 100%

Berat 0 0,0% 0 0,0% 4 100% 4 100%

Total 81 100%

Berdasarkan tabel 4.4, tingkat stres dan perilaku merokok masing-masing


dibagi ke dalam tiga kategori yaitu ringan, sedang, dan berat. Pada kelompok stres
ringan, terdapat perilaku merokok ringan sebanyak 15 responden (18,52%) dan
sedang 4 responden (4,94%), tanpa perilaku merokok berat. Pada kelompok stres
sedang, perilaku merokok ringan ditemukan pada 15 responden (18,52%), sedang
pada 35 responden (43,2%), dan berat pada 8 responden (9,88%). Sementara itu,

44
45

pada kelompok stres berat hanya terdapat perilaku merokok berat sebanyak 4
responden (4,94%).
Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi 0,001 < 0,05, sehingga terdapat
hubungan antara variabel independen dan dependen. Nilai koefisien korelasi (r)
sebesar 0,553 dengan hubungan keduanya pada rentang 0,51–0,75, yang
menunjukkan hubungan kuat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan antara tingkat stres dan perilaku merokok pada remaja SMAN 02 Muaro
Jambi.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 17
tahun (45,7%), Komposisi ini menggambarkan bahwa responden berada pada tahap
remaja menengah, yaitu masa ketika individu mulai mengalami tuntutan akademik,
sosial, dan emosional yang makin kompleks.
Pada usia ini, remaja berada pada fase penyesuaian identitas sekaligus
terhadap lingkungan sekitar. Tekanan akademik di sekolah, hubungan pertemanan,
serta perubahan psikologis sering kali memicu munculnya stres. Dengan demikian,
kondisi usia responden dalam penelitian ini sesuai dengan teori perkembangan yang
menyebutkan bahwa remaja menengah memiliki risiko lebih tinggi mengalami stres
dan berisiko perilaku merokok 64.
4.2.2 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Kelas
Pada penelitian ini jumlah siswa kelas 11 dan 12 hampir seimbang, yaitu
kelas 11 sebanyak (49,4%) dan kelas 12 sebanyak (50,6%). Komposisi ini
menunjukkan bahwa kedua kelompok berada dalam periode pendidikan menengah
atas yang sama-sama memiliki tekanan akademik dan sosial yang cukup tinggi.
Siswa kelas 11 mulai beradaptasi dengan peningkatan beban pelajaran,
sedangkan siswa kelas 12 menghadapi persiapan kelulusan dan pemilihan jenjang
pendidikan berikutnya. Menurut Wiradi & Purnamasari4 (2021), tekanan akademik
seperti target nilai, tuntutan guru, dan persiapan ujian merupakan pemicu stres
terbesar pada remaja sekolah menengah. Kondisi ini menjelaskan mengapa kedua

45
46

tingkat kelas sama-sama menunjukkan tingkat stres yang bermakna dalam


penelitian ini.

4.2.3 Gambaran Tingkat Stres Pada Remaja Laki-Laki di SMAN 02 Muaro


jambi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada
kategori stres sedang, yaitu sebanyak 58 siswa (71,6%), Temuan ini menunjukkan
bahwa mayoritas remaja berada dalam kondisi stres yang cukup bermakna sehingga
dapat memengaruhi keseharian mereka.
Hal ini didukung oleh penelitian Sari14 Masa remaja merupakan fase yang
penuh tuntutan, baik dari segi akademik, perkembangan identitas diri, maupun
hubungan sosial. Perubahan hormonal dan psikologis yang belum stabil membuat
remaja lebih rentan mengalami stres dibandingkan usia dewasa. Remaja cenderung
mengalami stres sedang akibat tekanan akademik, lingkungan sosial, serta
kurangnya keterampilan manajemen stres, dan sejalan dengan teori Morgan5(2014)
stres yang menyatakan bahwa remaja adalah kelompok yang paling rentan
mengalami tekanan emosional akibat tuntutan perkembangan, perubahan hormon,
dan dinamika hubungan sosial.
4.2.4 Gambaran Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki di SMAN 02
Muaro jambi
Dari hasil penelitian Perilaku merokok siswa didominasi oleh kategori
sedang (48,1%) dengan rata-rata jenis rokok filter. Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar remaja tidak hanya mencoba merokok, tetapi sudah melakukannya
secara cukup rutin.
Hal ini sejalan dengan penelitian Iceu Amira & H6 (2020), remaja cenderung
mulai merokok karena rasa ingin tahu, tekanan teman sebaya, serta sebagai bentuk
cara mereka mengatasi stres. Rokok seringkali dipandang sebagai media untuk
mendapatkan penerimaan sosial, mengurangi kecemasan, atau menenangkan diri
sementara, meskipun efeknya hanya bersifat jangka pendek. Hasil ini juga
didukung dengan penelitian Andreani et al7 (2020) yang menemukan bahwa remaja

46
47

laki-laki dengan tingkat stres tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk
merokok sebagai bentuk coping mekanisme.

4.2.5 Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja


Laki-Laki Di SMAN 02 Muaro Jambi
Berdasarkan hasil penelitian, analisis bivariat menggunakan uji korelasi
spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat
stres dan perilaku merokok pada remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi,
dengan nilai p=0,001 (<0,05) dan koefisien korelasi r=0,553. Nilai korelasi ini
termasuk dalam kategori hubungan kuat, sehingga semakin tinggi tingkat stres yang
dialami remaja, semakin tinggi pula tingkat perilaku merokok yang muncul, atau
secara deskriptif pola hubungan ini terlihat jelas pada distribusi data. Remaja
dengan stres ringan mayoritas memiliki perilaku merokok ringan, sementara remaja
dengan stres sedang lebih banyak menunjukkan perilaku merokok sedang. Bahkan,
seluruh responden dengan stres berat berada pada kategori perokok berat. Pola ini
memperlihatkan bahwa perilaku merokok meningkat sejalan dengan meningkatnya
tingkat stres yang dialami.
Dari perspektif psikologis, temuan ini sangat relevan dengan konsep bahwa
stres dapat mendorong individu mencari cara cepat untuk meredakan ketegangan.
Nikotin dalam rokok memiliki efek menstimulasi pelepasan dopamin yang
memberikan sensasi relaksasi sementara. Remaja yang mengalami stres cenderung
memilih rokok sebagai bentuk coping maladaptif, yaitu strategi pelarian jangka
pendek yang memberikan rasa lega sesaat, namun berdampak negatif dalam jangka
panjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Haryono1 (2017), yang menjelaskan bahwa
stres dapat memicu perilaku yang tidak sehat sebagai bentuk respons tubuh terhadap
tekanan emosional.
Diperkuat pula oleh hasil penelitian Iceu Amira & H6 (2020) menunjukkan
adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan kebiasaan merokok pada
remaja laki-laki, di mana remaja dengan stres tinggi lebih berisiko menjadi perokok
aktif. Penelitian Andreani et al7. (2020) juga menemukan bahwa remaja dengan
stres tinggi cenderung menggunakan rokok sebagai cara untuk mengatasi

47
48

ketegangan emosional, terutama ketika mereka tidak memiliki keterampilan


manajemen stres yang memadai.
Dengan demikian, hasil penelitian ini bukan hanya mempertegas hubungan
antara stres dan perilaku merokok, tetapi juga menggambarkan bahwa rokok
dijadikan sebagai sarana pelarian oleh remaja untuk mengatasi rasa tertekan. Hal
ini menunjukkan perlunya intervensi sekolah dan tenaga kesehatan untuk
memberikan edukasi tentang manajemen stres yang sehat, serta menciptakan
lingkungan yang mendukung perilaku hidup tanpa rokok. Upaya preventif seperti
konseling, penguatan karakter, dan program sekolah sehat dapat membantu
mengurangi ketergantungan remaja terhadap rokok, khususnya pada mereka yang
mengalami tingkat stres tinggi.

4.3 Analisis Kuesioner

4.3.1 Kuesioner Tingkat Stres


Instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10) digunakan untuk menilai tingkat
stres yang dirasakan responden selama satu bulan terakhir, dengan menilai
persepsi individu terhadap situasi hidup yang dianggap tidak terkontrol, tidak
terduga, dan menekan. Penggunaan PSS-10 dalam penelitian ini tepat karena
bersifat umum, mudah dipahami oleh remaja, serta telah banyak digunakan
dalam penelitian kesehatan mental remaja 38.
Item PSS-10 yang berkaitan dengan kesulitan mengendalikan masalah,
perasaan tertekan, dan menghadapi situasi tidak terduga cenderung memperoleh
skor tinggi. Hal ini sesuai dengan tahap perkembangan remaja yang masih
dalam proses pembentukan jati diri dan belum memiliki strategi koping yang
optimal, sehingga lebih peka terhadap tekanan akademik, relasi teman sebaya,
dan tuntutan lingkungan. Penelitian ini mendukung teori bahwa remaja
merupakan kelompok rentan terhadap stres akibat perubahan biologis,
psikologis, dan sosial yang berlangsung bersamaan, serta berisiko
menggunakan koping yang kurang adaptif apabila stres tidak dikelola dengan
baik. pada kuesioner tingkat stres dapat ditemukan pada responden yang
memperoleh skor sangat tinggi atau sangat rendah dibandingkan mayoritas

48
49

responden, Perbedaan skor yang sangat mencolok ini menunjukkan adanya


variasi kemampuan individu dalam menghadapi stres, meskipun berada pada
lingkungan sekolah yang sama
Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden berada pada kategori
stres sedang, yang menunjukkan bahwa remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro
Jambi mengalami tekanan psikologis yang cukup signifikan namun belum
tergolong stres berat. Tingkat stres ini mencerminkan adanya ketegangan,
kesulitan mengelola emosi, serta perasaan tertekan akibat tuntutan akademik,
sosial, dan lingkungan.
4.3.2 Kuesioner Perilaku Merokok

Kuesioner perilaku merokok digunakan untuk menilai tingkat dan pola


perilaku merokok pada responden berdasarkan batang yang dihisap akan
meliputi frekuensi merokok, situasi saat merokok, didukung oleh Adams, J
(2020)59. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden berada pada
kategori perilaku merokok sedang, yang menunjukkan bahwa perilaku merokok
sudah menjadi kebiasaan, meskipun belum pada tingkat ketergantungan berat.
Item kuesioner menunjukkan bahwa perilaku merokok sering muncul saat
responden merasa tertekan, cemas, atau menghadapi masalah, sehingga rokok
berfungsi sebagai mekanisme koping emosional, bukan sekadar coba-coba.
Efek relaksasi sementara dari nikotin mendorong remaja mengulangi perilaku
ini ketika mengalami stres. Selain faktor psikologis, pengaruh teman sebaya dan
kemudahan akses rokok turut memperkuat kebiasaan merokok, yang pada
remaja laki-laki sering dikaitkan dengan pencarian identitas diri, peningkatan
kepercayaan diri, dan penerimaan sosial.
Hasil ini sejalan dengan teori perilaku yang menyatakan bahwa perilaku
merokok pada remaja terbentuk melalui interaksi antara faktor individu,
lingkungan sosial, dan kondisi emosional. Apabila perilaku ini tidak dicegah
sejak dini, maka berpotensi berkembang menjadi kebiasaan jangka panjang
yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Penelitian ini selaras dengan teori
perilaku yang menjelaskan bahwa kebiasaan merokok pada remaja terbentuk
dari interaksi faktor individu, lingkungan sosial, dan kondisi emosional. Tanpa

49
50

upaya pencegahan sejak dini, perilaku ini berisiko berkembang menjadi


kebiasaan jangka panjang yang berdampak negatif bagi kesehatan.

4.3.3 Keterkaitan Hasil Kuesioner Tingkat Stres Dan Perilaku Merokok

Hasil analisis kuesioner menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara


tingkat stres dan perilaku merokok, di mana remaja dengan stres sedang hingga
tinggi cenderung merokok lebih sering. Temuan ini sejalan dengan analisis
bivariat yang mengindikasikan hubungan yang kuat antara kedua variabel
tersebut. Stres yang tidak dikelola secara efektif mendorong remaja mencari
cara instan untuk meredakan tekanan emosional, salah satunya melalui
merokok. Oleh karena itu, perilaku merokok pada remaja tidak hanya
merupakan persoalan kebiasaan, tetapi juga mencerminkan adanya
permasalahan psikologis yang mendasari.

4.4 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan. Pertama, desain cross sectional hanya


menggambarkan hubungan tingkat stres dan perilaku merokok pada satu waktu,
sehingga tidak dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat. Kedua, penggunaan
kuesioner self-report bergantung pada kejujuran responden, sehingga berpotensi
menimbulkan bias informasi, khususnya pada perilaku merokok akibat faktor sosial
atau stigma.

50
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik sebagai berikut:
[Link] Berdasarkan hasil analisis demografi responden pada remaja laki-laki di
SMAN 02 Muaro Jambi terhadap 81 siswa yang melibat kan remaja usia 16-
18 tahun diperoleh sebagian besar responden berusia 17 tahun(45,7%) berada
pada kategori dominan dibandingan kelompok usia 16 dan 18. Ditinjau dari
Tingkat kelas kelas yang berasal dari kelas 11 dan 12 menunjukkan hasil yang
hamper seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berada
pada tahap Pendidikan menengah sedang menghadapi tuntutan akademik dan
perkembangan psikososial serupa. Secara keseluruhan, distribusi demografi
responden pada penelitian telah mewakili remaja laki-laki.
[Link] Tingkat stres remaja laki-laki di SMAN 02 Muaro Jambi didominasi oleh
kategori stres sedang. Dari 81 responden, 58 siswa (71,6%) mengalami stres
sedang, 19 siswa (23,5%) stres ringan, dan 4 siswa(4,9%) stres berat. Mayoritas
remaja menghadapi tekanan emosional tinggi dari tuntutan akademik,
hubungan sosial, dan perkembangan usia, sesuai dengan teori perkembangan
remaja yang menganggap fase ini rawan stres.
[Link] Perilaku merokok remaja laki-laki didominasi oleh kategori sedang.
Distribusi menunjukkan bahwa 48,1% adalah perokok sedang, 37% perokok
ringan, dan 14,8% perokok berat. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian
besar remaja merokok secara cukup rutin. Perilaku ini telah melekat di
kalangan remaja, sering kali sebagai bentuk penyesuaian sosial, mekanisme
koping stres, atau pengaruh lingkungan sebaya.
[Link] Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan perilaku merokok pada
remaja di SMAN 02 Muaro Jambi dengan nilai p-valeu <0,001 dengan
koefesien korelasi r=0,553.

51
52

5.2 Saran
Saran dari penelitian ini yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi Sekolah
Melaksanakan program edukasi tentang manajemen stres dan bahaya merokok
secara rutin, serta memperkuat layanan konseling sekolah.
2. Bagi Tenaga Kesehatan/Puskesmas
Memberikan penyuluhan tentang pengelolaan stres dan pencegahan merokok
pada remaja serta membuat program promosi kesehatan terkait.
3. Bagi Orang Tua
Meningkatkan komunikasi, dukungan emosional, dan pengawasan terhadap
anak untuk mencegah penggunaan rokok sebagai pelarian stres.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Menambahkan variabel seperti dukungan sosial, kondisi psikologis, atau faktor
keluarga untuk memperluas kajian terkait perilaku merokok.

52
53

DAFTAR PUSTAKA

1. Haryono, M. Hello Stress! Kenali Dan Atasi Stresmu. (Pt Elex Media
Komputindo, Jakarta, 2017).
2. Kementrian Kesehatan Indonesia. Pengertian Kesehatan Mental. Borneo
Student Research Vol. 3 (2018).
3. Permana, A. A. Et Al. Analisis Perbedaan Tingkat Stres Akademik
Mahasiswa Baru Universitas X Di Tangerang. Jurnal Psikologi: Issn: 2088-
0634 (Print), 2715-6206 (Online) Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi
Universitas Yudharta Pasuruan 11, 357–373 (2024).
4. Wiradi, D. & Purnamasari, A. Teknik Self Instruction Untuk Menurunkan
Stres Pada Remaja Di Wilayah Puskesmas Gondomanan. Psyche 165
Journal 284–289 (2021) Doi:10.35134/Jpsy165.V14i3.48.
5. Morgan, N. Panduan Mengatasi Stres Bagi Remaja. (Gemilang, Jakarta,
2014).
6. Iceu Amira D.A., Dan H. Tingkat Stres Dengan Perilaku Merokok Pada
Remaja Laki – Laki. Media Informasi
Https://[Link]/10.37160/Bmi.V14i1.166 14, 41–45 (2018).
7. Andreani, P. R., Muliawati, N. K. & Yanti, N. L. G. P. Hubungan Tingkat
Stres Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki Di Sma Saraswati
1 Denpasar. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi 9, 212 (2020).
8. Prima, S. Et Al. Jurnal Kesehatan Attribution-Noncommercial-Sharealike 4.0
International. Http://[Link]/ (2019).
9. Badan Pusat Statistik. Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang
Merokok Tembakau Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi (Persen).
(2021).
10. Pratiwi, D. & Karya Bunda Husada, A. Determinan Perilaku Merokok Pada
Remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan Karya Bunda Husada Vol. 8 (2022).
11. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Tahunan:
Pengendalian Tembakau Di Indonesia. (2021).
12. Who. Global Report On Trends In Prevalence Of Tobacco Use 2000–2030.
(2021).
13. Kemenkes. Perokok Aktif Di Indonesia Tembus 70 Juta Orang, Mayoritas
Anak Muda. (2024).
14. Sari, A., Kesehatan, P., Padang, K. & Korespondensi, A. Perilaku Merokok
Di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Atas Di Kota Padang Smoking
Behavior Among High School Students In Padang City. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Masyarakat Vol. 11 (2019).

53
54

15. Almaidah, F. Et Al. Survei Faktor Penyebab Perokok Remaja


Mempertahankan Perilaku Merokok. Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 8
(2021).
16. Seto, S. B., Wondo, M. T. S. & Mei, M. F. Hubungan Motivasi Terhadap
Tingkat Stress Mahasiswa Dalam Menulis Tugas Akhir (Skripsi). Jurnal
Basicedu 4, 733–739 (2020).
17. Eka Lestari, P. & Ameliati, S. Studi Literatur : Hubungan Tingkat Stres
Dengan Motivasi Mahasiswa Dalam Menyusun Skripsi. Indonesia Jurnal
Perawat Vol. 6 (2021).
18. Alimardani, F. , & Y. A. Hubungan Antara Kecemasan Dan Stres Dengan
Kesejahteraan Psikologis Pada Individu Dewasa Muda. Jurnal Psikologi
Terapan 8, 123–135 (2020).
19. Maulidiyah, N. Perilaku Organisasi (M. T. R., Ed.). Global Eksekutif
Teknologi (2022).
20. Siemin Ciamas, E., Friska Siahaan, R. B. & Vincent, W. Seminar Nasional
Teknologi Komputer & Sains (Sainteks) Analisis Stress Kerja Pada Pt.
Gunung Permata Valasindo Medan. Seminar Nasional Teknologi Komputer
& Sains (Sainteks) Isbn: 978-602-52720-1-1 Sainteks 2019 75–78 (2019).
21. Freska, N. W. Bullying Dan Kesehatan Mental Remaja (Hernowo, B., Ed.).
In Bantul: Cv. Mitra Edukasi Negeri (2023).
22. Saleh, L. M., Russeng, S. S. & Tadjuddin, I. Manajemen Stres Kerja (Sebuah
Kajian Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dari Aspek Psikologis Pada Atc).
(Deepublish, Yogyakarta, 2020).
23. Adnan, H. A. Kiat Mengelola Stres Dan Kecemasan. (Cv. Garuda Mas
Sejahtera, Surabaya, 2024).
24. Purnama Simangunsong, D., Sihaloho, L., Sitanggang, R. & Simanjuntak, R.
Memahami Perkembangan Remaja Peka Terhadap Kesehatan Mental. Jurnal
Agama, Sosial, Dan Budaya 3, (2024).
25. Maszura, L. & Nafis, W. Meningkatkan Ketahanan Psikologis Remaja
Dalam Menghadapi Stress Akademis Di Mtss Madinatuddiniyah Jabal Nur.
Jurnal Pengabdian Kolaborasi Dan Inovasi Ipteks Vol. 2 (2024).
26. Sompotan, D. D. & Sinaga, J. Pencegahan Pencemaran Lingkungan. 1, 6–16
(2022).
27. Alfan Nugroho, M. Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup: Upaya
Penanaman Kesadaran Lingkungan. 1, 93–108 (2022).
28. Kenale Sada, Y. M. V. Pengaruh Literasi Keuangan, Gaya Hidup Dan
Lingkungan Sosial Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa. Jurnal Literasi
Akuntansi 2, 86–99 (2022).

54
55

29. Wahid, F. S., Setiyoko, D. T., Riono, S. B. & Saputra, A. A. Pengaruh


Lingkungan Keluarga Dan Lingkungan Sekolah Terhadap Prestasi Belajar
Siswa. Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia 5, 555 (2020).
30. Intan, N. Et Al. Gambaran Stres Psikososial Dan Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhinya Pada Remaja. Jkep 6, (2021).
31. Hastuti, R. Y., Nur Baiti, E. & Klaten, S. M. Hubungan Kecerdasan
Emosional Dengan Tingkat Stress Pada Remaja Relationship Of Emotional
Intelligence With Youth Stress Levels. Viii, 84–92 (2019).
32. Made Mahaguan Putra, I. K. N. D. P. A. W. B. A. W. J. T. A.
Admin,+5.+7.+Aris+Mu. Jurnal Ilmiah Keperawatan 7, (2019).
33. Harahap, M. & Putra, A. Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Terhadap Stres
Guru Di Sma Negeri 1 Kampar Kiri Hilir. Jurnal Al-Thariqah 2, (2017).
34. Hastuti, R. Y., Nur Baiti, E. & Klaten, S. M. Hubungan Kecerdasan
Emosional Dengan Tingkat Stress Pada Remaja Relationship Of Emotional
Intelligence With Youth Stress Levels.
35. Proyek, A. Et Al. Perkembangan Mutu Gaya Hidup Pada Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia Dalam Perkembangan Iptek.
36. Bagus Danandinatha Adhyaksa, I. & Debora Valentina, T. Faktor-Faktor
Yang Memengaruhi Internet Gaming Disorder Pada Remaja Di Era
Teknologi Modern: Literature Review. Humanitas Vol. 7 (2023).
37. Nasir, A. M. A. Dasar – Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar Dan Teori.
Salemba Medika (2011).
38. Samosir, F. J. & Psi, S. Kesehatan Mental Pada Usia Dewasa Dan Lansia
(Gambaran Hasil Skrining Kesehatan Mental Dengan Kuesioner Dass-42).
(2021).
39. Afif Januar Ginata, Ratna Dewi Indi Astuti & Julia Hartati. Tingkat Stres
Berdasarkan Jenis Stresor Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Tahap Akademik
Fakultas Kedokteran Unisba. Jurnal Riset Kedokteran 25–30 (2023)
Doi:10.29313/[Link].1915.
40. Laoli, J., Lase, D. & Waruwu, S. Analisis Hubungan Sikap Pribadi Dan
Harmonisasi Kerja Pada Kantor Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa Kota
Gunungsitoli. Jurnal Ilmiah Simantek 6, (2022).
41. Zulaikhah, V. , W. K. & J. E. Evaluasi Hasil Edukasi Masyarakat Tentang
Bahaya Kandungan Dalam Rokok. Indones. J. Nat. Sci. Educ 4, 510–515
(2021).
42. Ambarwati, A. , S. U. M. & U. A. K. Media Leaflet, Video Dan Pengetahuan
Siswa Sd Tentang Bahaya Merokok (Studi Pada Siswa Sdn 78 Sabrang Lor
Mojosongo Surakarta). Kemas J. Kesehat. Masy. 10, 713 (2014).

55
56

43. Kadek, N. I., Antari, N., Kesehatan, F., Studi, P. & Keperawatan, S.
Hubungan Perilaku Merokok Dengan Gangguan Pola Tidur (Insomnia) Pada
Putra Remaja Di Sma Negri Denpasar. (2020).
44. Swarjana, I. K. Education, Research, Nursing, Services Of Allied Healt
Personnel. (Andi, Yogyakarta, 2022).
45. Keislaman Dan Ilmu Pendidikan, J., Rodiah, S., Samsul Arifin, B. & Sunan
Gunung Djati Bandung, U. Islamika Perilaku Individu Dalam Organisasi
Pendidikan. Januari 4, 108–118 (2022).
46. Gule, Y. Edukasi Bahaya Merokok Dalam Perspektif Kristen. 3, 637–643
(2022).
47. Gobel, S. Et Al. Bahaya Merokok Pada Remaja. Bahaya Merokok Pada
Remaja Jurnal Abdimas Vol. 7 (2020).
48. Afifah, N. Studi Identifikasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Merokok Remaja. (2022).
49. Komalasari, D. & Fadilla Helmi, A. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku
Merokok Pada Remaja.
50. Kesehatan Masyarakat, J. Et Al. Hubungan Antara Tingkat Stres
Dengankeceinderungan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki. Jurnal
Kesehatan Masyarakat 8, (2024).
51. Artawan, I. M. Dan C. U. N. Hubungan Antara Tingkat Stres Dengan
Perilaku Univeristas Nusa Cendana. 128–134 (2021).
52. Ariasti, D. & Ningsi, E. D. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Lingkungan
Sosial Dengan Perilaku Merokok. Jurnal Ilmu Kesehatan 8, (2020).
53. Almaidah, F. Et Al. Survei Faktor Penyebab Perokok Remaja
Mempertahankan Perilaku Merokok. Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 8
(2021).
54. Suryani, [Link], I., Soleh, M. & Kelana, H. Model Penyebaran Perilaku
Merokok Berdasarkan Faktor Biologis Dan Lingkungan Provinsi Riau.
Jurnal Sains Matematika Dan Statistika 7, (2021).
55. Nuradela, N., Kurniawan, A., Ratih, S. P., Wardani, H. E. & Gayatri, R. W.
Hubungan Iklan Rokok Dengan Perilaku Merokok Siswa Sma/Sederajat Di
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Sport Science And Health 5, 674–685
(2023).
56. Suryawati, I. & Gani, A. Analisis Faktor Penyebab Perilaku Merokok. Jurnal
Keperawatan Silampari 6, 497–505 (2022).
57. Wahyuni Dyah Parmasari, K. & Willianti, E. Penerbit: Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Muslim Indonesia Hubungan Jenis Perokok Dengan
Kejadian Smoker’s Melanosis Pada Laki-Laki Suku Jawa Di Sidoarjo.
Sinnun Maxillofacial Journal 05, (2023).

56
57

58. Halid, M. Analisis Kuantitas Trombosit Terhadap Perokok Aktif Dan


Perokok Pasif Pada Mahasiswa Politeknik Medica Farma Husada Mataram
Analysis Of Platelocyte Quantity On Active Smokers And Passive Smokers
In Students Medica Farma Husada Mataram Polytechnic. Jpp) Jurnal
Kesehatan Poltekkes Palembang 17, (2022).
59. Adams, J. Smoking Cessation: A Report Of The Surgeon General. (2020).
60. Purwanto, A., Taftazani, B. M. & Hidayat, E. N. Metode Hipnoterapi Untuk
Penanganan Klien Dengan Kebiasaan Merokok. Share : Social Work Journal
11, 89 (2022).
61. Lukito, Penny. K. Et Al. Bahaya Merokok Bagi Kesehatan. (Badan Pom,
Jakarta, 2019).
62. Penggunaan, P. Et Al. Menangkal Dermatitis Publikasi Bahaya Rokok
Elektronik Racun Berbalut Teknologi. Vol. 16 (Pedoman Penggunaan Bahan
Tambahan Pangan Pada Pangan Industri Rumah Tangga Dan Pangan Siap
Saji Sebagai Pangan Jajanan Anak Sekolah, 2015).
63. Handayani, S. Et Al. Buku Dinamika Remaja. (Ikatan Psikologi
Perkembangan Indonesia (Ippi-Himpsi), Jakarta, 2020).
64. Ajhuri, K. F. Psikologi Perkembangan Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Penebar Media Pustaka. (2019).
65. Jahja, Y. Psikologi Perkembangan. (Kencana, Rawamangun-Jakarta, 2015).
66. Ni Putu Sumarmi. Psikologi Aerkembangangan Anak ([Link] Media).
(2022).
67. Rusuli, I. Psikososial Remaja: Sebuah Sintesa Teori Erick Erikson Dengan
Konsep Islam. Jurnal As-Salam 6, (2022).
68. Utomo, S. T. , & I. L. Kenakalan Remaja Dan Psikososial. Dakwatuna:
Jurnal Dakwah Dan Komunikasi Islam 5, 1–22 (2019).
69. Sobh, Z. M. Identity Among Adolescent Arab-Americans In Dearborn,
Michigan: An Eriksonian Perspective. University Of Michigan-Dearborn
(2020).
70. Latifah, Rika Vira Zwagery, Esty Aryani Safithry & Ngalimun. Konsep
Dasar Pengembangan Kreativitas Anak Dan Remaja Serta Pengukurannya
Dalam Psikologi Perkembangan. Educurio Journal 1, 426–439 (2023).
71. Fudyartanta, K. Psikologi Perkembangan . (Pustaka Pelajar , Yogyakarta,
2016).
72. Ramadhan, D. T. , A. R. D. & I. I. Uji Kelayakan Desain Kuesioner Budaya
Keselamatan Ecast (European Commercial Aviantion Safety Team). Matrik
J. Manaj. Dan Tek. Ind. Produksi 21, 101–11o (2021).
73. Sanaky, M. M., Saleh, L. Moh. & Titaley, H. D. Analisis Faktor-Faktor
Penyebab Keterlambatan Pada Proyek Pembangunan Gedung Asrama.
Henriette D. Titaley 11, (2021).

57
58

74. Miysell K, W. J. Persepsi Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan


Universitas Diponogoro Pada Peluang Kerja Information Profesional. .
Jurnal Ilmu Perpustakaan 9, (2020).
75. Kesehatan, F., Studi, P. & Keperawatan, S. Hubungan Antara Tingkat
Kecemasan Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Di Sman 1 Semarapura
Ni Kadek. (2022).
76. Siregar Ia. Analisis Dan Interpretasi Data Kuantitatif [Homepage On The
Internet]. Available From: Http://[Link]/[Link]/Alacrity
(2021).
77. Norfai. Buku Ajar Analisa Data Penelitian. (Ikapi No,237/Jti/2019, Jawa
Timur, 2021).
78. Andy Hermawan & Aji Saputra. Analisis Pengaruh Variabel Nilai Tiu, Twk,
Dan Tkp Terhadap Kelulusan Skd Pada Tes Cpns Menggunakan Analisa
Bivariat Sederhana. Mars : Jurnal Teknik Mesin, Industri, Elektro Dan Ilmu
Komputer 2, 46–58 (2024).

58
59

LAMPIRAN

59
60

Lampiran 3 Permohonan Izin Survey Data Awal Penelitian

60
61

Lampiran 2 Surat Persetujuan Etik Penelitian

61
62

Lampiran 3 Surat Izin Penelitian

62
63

Lampiran 4 Surat Keterangan Penelitian

63
64

Lampiran 5 Inform Consent

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN


(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Setelah saya mendapatkan keterangan secukupnya serta mengetahui tujuan dari
penelitian yang dijelaskan oleh peneliti dengan judul “Hubungan Tingkat Stres
Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki Di SMAN 2 Muaro Jambi”.
Menyatakan bersedia menjadi responden, dengan cacatan apabila suatu waktu saya
dirugilan dalam bentuk apapun saya berhak untuk membatalkan persetujuan ini.
Jambi, 2025
Responden

______________________________

64
65

Lampiran 6 lembar kuesioner Penelitian


No. Responden :
LEMBAR KUESIONER
Hubungan tingkat stres dengan Perilaku Merokok Pada Remaja laki-laki di
SMAN 2 Muaro jambi

Tanggal Pengisian :
Petunjuk :
1. Pada kuesioner data umum , berikan tanda (X) pada pilihan yang tersedia sesuai
dengan pilihan saudara, dan isi bagian kosong sesuai dengan keadaan saudara.
2. Pada kuesioner data khusus, berikan tanda (√) pada kotak jawaban yang tersedia
sesuai dengan jawaban saudara.

A. Data Umum
1. Usia ________ tahun
2. Kelas _______

B. Perceived Stress Scale (PSS)


Keterangan:
0 : Tidak Pernah
1 : Hampir Tidak Pernah
2 : Kadang-Kadang
3 : Hampir Sering
4 : Cukup Sering/ terlalu sering
Petunjuk pengisian:
1. Bacalah pernyataan berikut dengan baik
2. Anda sebagai responden diperbolehkan untuk bertanya pada peneliti jika
ada pertanyaan yang tidak dimengerti
3. Isi identitas terlebih dahulu
4. Berikan tanda centang (√) pada jawaban yang sesuai menurut anda.

65
66

No pertanyaan 0 1 2 3 4

1. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda marah


karena sesuatu yang tidak terduga?
2. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda tidak
mampu mengontrol hal-hal penting dalam kehidupan
anda?
3. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda merasa
gelisah dan tertekan?
4. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda merasa
yakin terhadap kemampuan diri untuk mengatasi
masalah pribadi?
5. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda merasa
segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan harapan
anda?
6. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda merasa
tidak mampu menyelesaikan hal-hal yang harus
dikerjakan?
7. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda mampu
mengontrol rassa mudah tersinggung dalam
kehidupan anda?
8. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda merasa
lebih mampu mengatasi maslah jika dibandingkan
dengan orang lain
9. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda marah
karena adanya masalah yang tidak dapat anda
kendalikan
10. Pada sebulan terakhir, seberapa sering anda
merasakan kesulitan yang menumpuk sehingga anda
tidak mampu mengatasinya

C. Perilaku Merokok
1. Berapa banyak anda menghabiskan rokok perhari
A. 1 batang – 10 batang
B. 11 batang- 20 batang
C. >21 batang
2. Apa jenis rokok anda?
A. Rokok filter
B. Rokok kretek
C. Vape/ pod
D. Jenis lainnya

66
67

Lampiran 7 Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas

Hasil uji validitas Tingkat stress

67
68

Lampiran 8 Data Demografi

Data Demografi R37 17 11


Kode Responden Usia Kelas R38 16 11
R1 16 11 R39 16 11
R2 16 11 R40 17 11
R3 16 11 R41 18 12
R4 16 11 R42 16 12
R5 16 11 R43 17 12
R6 17 11 R44 17 12
R7 16 11 R45 17 12
R8 18 11 R46 17 12
R9 17 11 R47 18 12
R10 16 11 R48 17 12
R11 17 11 R49 17 12
R12 17 11 R50 17 12
R13 16 11 R51 17 12
R14 16 11 R52 18 12
R15 16 11 R53 18 12
R16 16 11 R54 18 12
R17 16 11 R55 17 12
R18 17 11 R56 16 12
R19 16 11 R57 17 12
R20 17 11 R58 17 12
R21 17 11 R59 18 12
R22 16 11 R60 18 12
R23 16 11 R61 17 12
R24 17 11 R62 17 12
R25 16 11 R63 17 12
R26 16 11 R64 18 12
R27 16 11 R65 18 12
R28 17 11 R66 17 12
R29 16 11 R67 17 12
R30 17 11 R68 17 12
R31 16 11 R69 16 12
R32 16 11 R70 17 12
R33 16 11 R71 18 12
R34 16 11 R72 17 12
R35 16 11 R73 17 12
R36 16 11 R74 18 12

68
R75 18 12
R76 17 12
R77 17 12
R78 17 12
R79 17 12
R80 18 12
R81 17 12

51
Lampiran 9 Data Tingkat Stres (PSS-10)

P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 TOTAL KETERANGAN


0 2 2 3 3 3 1 2 2 2 20 sedang
2 2 1 3 4 4 1 3 4 1 25 sedang
3 2 2 3 2 2 2 2 4 2 24 sedang
1 1 0 4 1 1 0 3 1 0 12 ringan
2 2 1 3 4 1 4 3 4 2 26 sedang
2 2 1 3 4 1 4 3 4 2 26 sedang
2 2 1 3 2 1 2 2 3 3 21 sedang
2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 4 ringan
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 ringan
2 1 1 1 2 0 2 2 0 2 13 ringan
1 1 2 2 1 2 4 1 3 2 19 sedang
1 2 1 3 3 2 1 0 1 1 15 sedang
2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 16 sedang
1 2 1 3 4 0 0 4 0 0 15 sedang
2 1 2 2 3 2 2 2 1 1 18 sedang
4 4 3 4 1 3 4 4 4 2 33 berat
3 3 2 2 0 1 3 2 3 3 22 sedang
0 0 0 4 3 0 4 4 0 0 15 sedang
2 0 0 4 1 0 4 4 0 0 15 sedang
2 0 0 1 0 3 0 4 0 3 13 ringan
2 1 1 2 3 2 0 0 1 2 14 sedang
3 1 2 1 2 1 2 1 1 1 15 sedang

64
65

2 1 2 3 2 1 3 1 2 1 18 sedang
2 1 2 3 3 2 2 3 3 2 23 sedang
2 0 2 3 2 0 2 0 1 2 14 sedang
0 1 3 3 3 1 4 2 0 1 18 sedang
2 1 1 3 2 1 3 1 2 1 17 sedang
2 3 2 0 3 2 3 2 3 1 21 sedang
2 0 0 3 2 0 0 0 0 0 7 ringan
2 1 0 4 3 1 3 3 2 1 20 sedang
2 1 3 0 2 3 0 3 4 4 22 sedang
2 1 3 1 3 2 3 1 2 4 22 sedang
0 0 0 0 2 2 2 2 2 2 12 ringan
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 ringan
1 4 4 1 2 1 2 4 2 3 24 sedang
2 2 3 2 1 3 4 2 1 2 22 sedang
2 2 3 2 1 3 4 2 1 2 22 sedang
2 1 3 3 2 0 2 2 1 2 18 sedang
1 2 0 1 2 1 1 2 1 2 13 ringan
4 0 4 4 2 0 0 4 0 4 22 sedang
2 1 1 1 0 1 0 0 2 1 9 ringan
1 0 0 1 2 0 2 1 1 3 11 ringan
1 2 2 3 0 1 2 2 3 2 18 sedang
0 2 0 0 0 0 0 1 0 0 3 ringan
1 1 1 2 2 2 4 3 3 2 21 sedang
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 ringan
2 1 1 3 1 1 2 2 2 1 16 sedang
1 1 1 2 2 2 4 3 3 2 21 sedang

65
66

2 3 2 1 4 2 2 2 2 0 20 sedang
0 0 0 0 2 1 1 3 2 1 10 ringan
2 3 2 4 2 2 2 2 2 1 22 sedang
0 0 0 0 1 2 4 3 2 2 14 sedang
0 0 0 3 1 0 3 2 0 0 9 ringan
4 4 4 3 2 3 4 4 3 2 33 berat
1 2 0 4 1 0 3 2 1 2 16 sedang
2 2 0 4 2 2 3 2 2 2 21 sedang
2 2 3 3 0 2 2 3 2 2 21 sedang
0 0 1 0 2 2 0 2 2 0 9 ringan
0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 5 ringan
2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 23 sedang
2 1 1 0 1 3 0 2 2 2 14 sedang
0 0 0 2 2 2 0 2 0 2 10 ringan
3 3 2 1 4 3 2 2 3 2 25 sedang
3 3 2 2 2 3 4 3 3 3 28 berat
1 1 1 3 2 1 2 3 2 2 18 sedang
1 2 1 4 2 2 3 1 1 3 20 sedang
0 2 2 4 2 4 4 4 2 1 25 sedang
3 3 2 1 2 3 2 2 3 2 23 sedang
3 1 3 2 1 1 2 2 0 2 17 sedang
2 2 4 4 0 2 4 4 2 4 28 berat
4 0 3 3 3 1 2 2 4 2 24 sedang
0 1 1 3 3 1 2 3 0 1 15 sedang
0 0 3 4 2 2 4 2 0 0 17 sedang
1 1 0 3 2 1 4 2 1 2 17 sedang

66
67

1 2 4 0 0 1 0 1 4 3 16 sedang
2 1 1 3 3 2 3 3 2 1 21 sedang
3 0 1 2 1 0 0 2 0 0 9 ringan
2 1 2 1 1 3 2 1 1 1 15 sedang
0 2 1 3 2 1 3 4 0 2 18 sedang
2 4 3 2 2 2 2 3 4 0 24 sedang
2 1 2 3 2 1 3 2 2 1 19 sedang

67
68

Lampiran 10 Data Perilaku Merokok

Q1 sedang sedang
ringan ringan berat
ringan sedang ringan
ringan sedang ringan
ringan sedang ringan
berat ringan sedang
berat ringan ringan
ringan sedang sedang
ringan sedang berat
sedang sedang sedang
ringan sedang sedang
ringan sedang sedang
ringan sedang sedang
sedang ringan sedang
sedang ringan berat
ringan ringan berat
berat sedang sedang
sedang berat sedang
sedang sedang sedang
ringan sedang sedang
ringan ringan berat
sedang ringan ringan
sedang ringan sedang
sedang ringan sedang
sedang ringan berat
sedang ringan berat
sedang berat
sedang ringan

68
69

Lampiran 11 Hasil Uji Normalitas

Hasil uji nomrmalitas tingkat stres dan perilaku merokok

Lampiran 12 Nilai Tingkat Stres Dan Perilaku Merokok

Tingkat Stres Perilaku Merokok

69
70

lampiran 13 Hasil Univariat

karakteristik distribusi frekuensi responden tingkat stres dengan perilaku merokok


remaja laki-laki

Usia

Tingkat Kelas

Tingkat Stres

Perilaku Merokok

Lampiran 14 Hasil Bivariat

70
71

Hasil Analisa bivariat menggunakan uji spearman

Hasil tabulasi silang hubungan tingkat stres dengan perilaku merokok

71
72

Lampiran 15 Dokumentasi Peneltian

72
73

73

Anda mungkin juga menyukai