0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

LP Asma

Dokumen ini adalah laporan tentang asma, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, patofisiologi, komplikasi, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan asma. Asma adalah penyakit kronis yang menyebabkan obstruksi jalan napas dan dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan. Penatalaksanaan meliputi pendekatan non-farmakologi dan farmakologi, serta pengkajian dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

Irna Haryati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

LP Asma

Dokumen ini adalah laporan tentang asma, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, patofisiologi, komplikasi, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan asma. Asma adalah penyakit kronis yang menyebabkan obstruksi jalan napas dan dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan. Penatalaksanaan meliputi pendekatan non-farmakologi dan farmakologi, serta pengkajian dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

Irna Haryati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

AN.D DENGAN MASALAH ASMA


DI RUANG POLI ANAIK
RSUD NGUDI WALUYO WLINGI

OLEH
AULIA FIKIH NUR AL IZZAH
2310024

PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN FAKULTAS


KESEHATAN UNIVERSITAS KEPANJEN
2026
[Link] Asma
1. Definisi Penyakit
Asma adalah penyakit obstruksi jalan napas dan penyakit kronis yang
menyebabkan saluran udara bronkial di paru-paru yang ditandai oleh penyempitan
jalan nafas. Penyempitan jalan nafas yang akan mengakibatkan pasien mengalami
batuk, mengi dan sulit bernapas. Asma merupakan penyakit yang sering kita jumpai di
lingkungan sekitar. Asma sediri sampai hari ini masih menjadi masalah kesehatan di
seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan peradangan saluran napas yang persisten.
Belum diketahui secara pasti apa penyebab dari penyakit ini apakah faktor genetik
atau lingkungan, namun faktor terbesar terjadinya asma biasanya terjadi karena polusi
udara.
Menurut (Satria dan Sahurdi, 2020) pada asma, trakea dan bronkus bereaksi
hiperaktif terhadap stimulant. Asma menyebabkan dipsnea, batuk, dan mengi. Pada
penderita asma, menyebabkan jari, kuku, dan ibir biru karena kekurangan oksigen
dalam darah (sianosis), wajah pucat, lemah, rongga dada terbatas saat menghirup, dan
mobilitas terbatas. Serangan jangka panjang menghasilkan apnea, yang dapat berakibat
fatal.
2. Etiologi Asma
Asma bukanlah penyakit menular. Asma tidak bisa ditularkan melalui orang lain .
asma tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada berbagai jenis asma. Pada
beberapa jenis asma, beberapa anggota keluarga mungkin menderita asma, tetapi
ini tidak terlihat pada beberepa jenis asma lainnya (Global Intitative Asthma,
2021).
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presitipasi timbulnya
serangan asma.
a. Faktor predisposisi
Genetik,dimana yang diturunkan adalah bakat alergennya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.
Karena ada bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma
bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen, dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
- Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
Contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
- Ingestan, yang masuk melalui mukut
Contoh: makanan dan obat-obatan
- Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
Contoh: perhiasan, logam dan jam tangan.
Banyak faktor yang berbeda telah dikaitkan dengan peningkatan
risiko asma, meskipun seringkali sulit untuk menemukan satu penyebab
langsung. Asma lebih mungkin terjadi jika anggota keluarga lain juga
menderita asma terutama kerabat terdekat, seperti orang tua atau saudara
kandung. Asma lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki kondisi alergi
lain, seperti eksim dan rinitis (hay fever). Peristiwa diawal kehidupan
mempengaruhi perkembangan paru-paru dan dapat meningkatkan risiko asma.
Ini termasuk berat badan lahir rendah , prematuritas, paparan asap tembakau
dan sumber polusi udara lainnya, serta infeksi irus pernapasan. Paparan
terhadap alergen dan iritasi lingkungan juga dianggap meningkatkan risiko
asma, termasuk polusi udara dalam dan luar ruangan, tungau debu rumah,
jamur,dan paparan bahan kimia, asap, atau debu di tempat kerja. Anak-anak
dan orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko
asma yang lebih besar (WHO, 2020).
[Link] Klinis
Manifestasi klinis asma adalah gejala-gejala yang muncul pada penderita asma seperti
sesak napas, batuk, mengi, dan nyeri pada dada.
Gejala umum asma ditandai dengan :
a. Sesak napas
b. Sesak atau dada terasa terikat
c. Batuk-batuk, terutama pada malam hari
d. Mengi (muncul suara siulan saat bernafas)
e. Badan lemas dan lesu
f. Sering menghela nafas
4. Klasifikasi
Berat ringannya asma ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain gambaran klinik
sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam hari) tidak ada suatu
pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan berat ringannya suatu penyakit. Dengan
adanya pemeriksaan klinis dapat menentukan klasifikasi menurut berat ringannya
asma yang sangat penting dalam penatalaksanaannya. Berdasarkan penyebabnya,
asma dapat di klasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
a. Ekstrinsik (alergi)
Ditandai dengan adanya reaksi alergi yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus
yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotik
dan aspirik) dan jamur spora. Asma ekstrinsik sering terkait dengan adanya suatu
predisposisi genetik terhadap alergi.
b. Intrinsik (non alergi)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang
tidak spsifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan
oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini lebih
menjadi berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang
menjadi bronkhitis kronis dan emfisema
c. Asma gabungan, bentuk asma yang paling umum, asma ini mempunyai
karakteristuk dari bentuk alergi dan non alergi.

5. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersennsitivitas
bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Asma merupakan inflamasi kronik
dlam saluran napas dengan berbagai sel dan elemen seluler yang berperan. Inflamasi
kronik dihubungkan dengan hiperesponsif saluran napas yang mengakibatkan
episode berulang mengi, dada sesak, napas pendek dan batuk, khususnya saat malam
atau dini hari. Gejala asma bervariasi, multifaktor dan secara potensial berhubungan
dengan inflamasi bronkus.
Menurut Afgani & Hendriani, (2020) pada reaksi alergi saluran napas, antibodi
IgE berkaitan dengan alrgen dan menyebabkan degranulasi sel mast. Degranulasi ini
melepaskan histamin. Histamin mempersempit otot polos bronkus. Respon histamin
yang berlebiha dapat menyebabkan kejang asma. Histamin merangsang
pembentuukan mukus dan meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga terjadi
kongesti dan pembengkakan pada ruang antara paru-paru . orang dengan asma
mungkin memiliki respons IgE yang hipersensitif terhadap alergen dan mungkin
lebih rentan terhadap degranulasi sel mast. Setiap kali respon inflamasi hipersensitif,
hasil akhirnya adalah bronkospasme, pembentukan mukus, edema, dan obstruksi
jalan napas.
Gejala asma umumnya dimulai sejak masa kanak-kanak dan berhubungan
denngan sentitasi terhadap alergen yang terinhalasi. Kepekaan individu terhadap
alergen dapat memicu asma alergik. Alergen dapat berupa debu, spora jamur, serbuk
sari yang dihirup, bulu halus binatang, serat kain, bahan kimia atau yang lebih jaarng
adalah makanan seperti coklat dan usu sapi. Selain itu, faktor nonspesifik juga dapat
mencetuskan asma diantaranya latihan fisik, flu biasa dan emosi. Pajanan alergen
tersebut memicu reaksi inflamasi secara terus menerus dan menyebabkan
bronkokonstriksi, edema dan hipersekresi saluran napas dengan hasil akhir berupa
obstruksi saluran napas bawah.
6. Pathway Asma
7. Komplikasi Asma
Komplikasi asma adalah :
a. Pneumotoraks
Pneumotoraks adalah kondisi penting yang terjadi ketika udara memasuki rongga
pleura dan tekanan di dalam pleura naik ke tekanan atmosfer.
b. Atelektasis
Atelektasis adalah penyakit paru-paru tanpa udara dan dapat disebabkan oleh
berbagai faktor.
c. Gagal nafas
Gagal nafas adalah suatu kondisi dimana paru-paru tidak dapat berfungsi untuk
pertukaran oksigen dan karbondioksida.
d. Bronkitis
Bronkitis adalah penyakit infeksi yang terjadi pada bronkus.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Spirometri, pengukuran fungsi paru
b. Pemeriksaan laboratorium meliputi analisa gas darah, sputum, sel eosinofil,
pemeriksaan darah rutin dan kimia.
c. Pemeriksaan radiologi
d. Pemeriksaan fisik

9. Penatalaksanaan Asma
Penatalaksanaan non farmakologi
a. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu di bantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada
lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus,
termasuk intake cairan yang cukup bagi klien.
b. Meningkatkan saturasi oksigen
Keluarga klien dapat membantu meningkatkan saturasi oksigen dalam darah saat
serangan asma muncul dengan menggunakan posisi semi fowler.
c. Fisioterapi
Dapat digunakan untuk membantu mengelola gejala asma, meningkatkan fungsi
paru-paru, dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.
d. Pendidikan kesehatan
Tujuan dari konsultasi ini adalah untuk membantu klien meperluas pengetahuan
tentang asma, secara sadar menghindari pemicu, minum ot dengan benar dan
berkonsultasi dengan tim kesehatan.
10. Penatalaksanaan farmakologi
a. Agonis beta
Aerosol bekerja sangat cepat 3-4 semprotan, dengan interval 10 menit antara
semprotan pertama dan kedua. Obat ini mengandung mataproterenol.
b. Metil Xantin
Metil xatin adalah aminofilin dan teofilin, dan obat ini diberikan bila golongan
beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan , untuk orang dewasa
berikan 125-200 mg 4 kali sehari. Jika agonis betamerespon dengan baik terhadap
metil xatin , ortikosteroid harus diberikan. Aerosol bentuk steroid (dipropinate
beclomethasone) dengan dosis 800 empat kali sehari. Steroid jangka panjang
memiliki efek samping, sehinga efek samping steroid jangka panjang harus di
pantau dengan cermat.
c. Ketoifen efeknya sama dengan dosis harian 2x1 mg chromolin. Efeknya dapat
diberikan seara oral.

[Link] Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a Identitas
Kaji identitas pasien dengan meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, suku
bangsa, gama, bahasa, tanggal MRS, Novregistrasi.
b Keluhan utama
Umumnya hal-hal yang dikeluhkan saat ini dan alasan meminta pertolomgan
seperti nyeri pada aea jalan lahir, masih sulit melakukan aktifitas dan latihan
c Riwayat kesehatan saat ini
Menceritakan keadaan pasien saat dilakukan pengkajian
d Riwayat kesehatan masa lalu
Umur manarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi,
siklus haid, haid pertama haid terakhir, perkiraan tanggal partus, riwayat
kehamilan, persalinan, nifas yang lalu.
e Riwayat alergi
Mengkaji apakahpasien mempunyai riwayat alergi obat, makanan, minuman, dan
lain-lain.
f Riwayat penyakit keturunan
Dikaji apakah anggota dalam keluarga klien ada yang menderita penyakit
keturunan secara genetik, menular, kelainan kongenital atau gangguan kejiwaan
yang pernah diderita oleh keluarga.
g Riwayat menstruasi
Umur menarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi,
siklus haid, haid pertama haid terakhir.
h Riwayat kehamilan
Jumlah kehamilan, riwayat persalinan (normal, caesar), usia kehamilan, masalah
kesehatan yang pernah dialami selama kehamilan.
i Pemeriksaan fisik
1) Kepala
Rambut : pendek, panjang, rontok atau tidak, tipis, rapuh.
Wajah : edema atau tidak, simetris
Mata : konjungtiva pucat atau merah, sklera warna putih, pandangan
kabur atau tidak.
Hidung : warna, mancung, nyeri tekan atau tidak.
Mulut : mukosa bibir lembab atau kering. Tidak ada karies.
Telinga : simetris, tidak ada edema
2) Pemeriksaan leher
Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
3) Pemeriksaan thoraks
Inspeksi : mengamati bentuk, ukuran, warna kulit, dan pergerakan dada
Palpasi : meraba area dada untuk merasakan adanya nyeri, benolan atau
kelainan.
Perkusi : mengetuk area dada untuk mersakan adanya suara yang
dihasilkan.
4) Pemeriksaan ekstremitas
Pemeriksaan lengan, kaki, tangan an tungkai.
5) Pemeriksaan genetelia
Menilai kondisi organ reproduksi
6) Pemeriksaan integumen
Pemeriksaan fisik yag dilakukan untuk menilai kondisi kulit, rambut dan
kuku.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penelitian klinis mengenai respons klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual aupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang
berkaitan dengan kesehatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
a Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d hipersekresi jalan napas d.d mengeluh
batuk

3. Intervensi Keperawatan
SDKI SLKI SIKI
Bersiha Jalan Napas Bersihan jalan napas Manajemen Nyeri
Tidak efektif b.d (L.01001) (I.08238)
hipersekresi jalan
napas d.d mengeluh Setelah dilakukan Observasi:
batuk asuhan keperawatan 1 x 1 Monitor frekuensi,
24 jam diharapkan jalan irama, kealaman
napas meningkat dengan upaya napas
kriteria hasil: 2 Monitor pola apas
1 Batuk efektf ( seperyi bradipnea,
meningkst takipnea,
2 Gelisah menurun hiperventilasi,
3 Pola napas membaik kussmaul)
3 Monitor adanya
sumbatan jalan
napas
4 Palpasi kesimetrisan
ekspansi paru
5 Auskultasi bunyi
napas

Terapeutik:
1 Atur interval
pemantauan
respirasi sesuai
kondisi pasien
SDKI SLKI SIKI

Edukasi:
1 Jelaskan tujuan dan
prosedur
pemantauan

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah
disusun pada tahap perencanaan. Implementasi merupakan tahap proses keprawatan
dimana perawat memberikan intervensi keperawatan langsung dan tidak lanngsung
terhadap pasien. Intervensi keperawatan hyang sudah direncanakan berdasarkan standar
Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dilaksanaan pada tahap implementasi
keperawatan.

5. Evaluasi
Perumusan evaluasi formatif meliputi 4 komponen yang dikenal dengan istilah SOAP :
a S (Subjektif) : data berupa keluhan klien. Keluhan yang setelah dilakukan
intervensi kperawatan, mungkin berkurang, hilang atau masiih sama seperti
sebelumnya.
b O (Objektif) : data hasil pemeriksaan. Hasil pemeiksaan berguna seagai data
pendukung dari keluhan pasien.
c A (Assement/analisis data) : pembannding data dengan teori. Menentukan
apakah terdapat kecocokan antara data dengan teori sehingga dapat disimpulkan
apakah masalah sudh dapat diatasi.
d P (Planning) : merupakan sebuah perencanaan. Menentukan kembali
perencanaan selanjutnya, apakah perlu dipertahankan, atau diunah sesuai dengan
kebutuhan pasien.

Anda mungkin juga menyukai