PROPOSAL ROLEPLAY RONDE
PRAKTIK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN
DIRUANG BENANG KELAMBU RSUD PROVINSI NUSA
TENGGARA BARAT
Disusun Oleh :
KELOMPOK 5
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT
INSTITUT KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
MATARAM
2025/2026
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan pelaksanaan model praktek keperawatan dengan metode
keperawatan primer, merupakan salah satu metode pemberian pelayanan
keperawatan yang sedang dimantapkan. Dalam pelaksanaan model praktek
keperawatan ini uraian tugas pada masing-masing peran dalam memberi
asuhan keperawatan terurai dengan jelas. Dengan adanya penerapan MAKP di
harapkan dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan, dengan salah satu
indikatornya adalah tingkat kepuasan pasien yang terpenuhi. Pemenuhan
tingkat kepuasan pasien ini dapat kita mulai dengan adanya upaya untuk
mengggali kebutuhan pasien terhadap asuhan keperawatan. Suatu metode yang
dipilih untuk menggali secara mendalam tentang kebutuhan pasien terhadap
perawatan adalah ronde keperawatan.
Ronde keperawatan akan memberikan media bagi perawat ruangan untuk
membahas lebih dalam tentang kebutuhan pasien karena melibatkan pasien dan
seluruh tim keperawatan yang ada mulai dari PA sampai konsultan perawatan.
Ronde keperawatan juga merupakan suatu proses belajar bagi perawat, dengan
harapan dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor.
Kepekaan dan cara berfikir kritis perawat akan tumbuh dan terlatih melalui
suatu transfer pengetahuan dan pengapilikasian konsep teori secara langsung
pada kenyataan.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
a. Menyelesaikan masalah pasien melalui pendekatan berpikir kritis
dan diskusi
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Menumbuhkan cara berpikir kritis dan sistematis.
b. Meningkatkan kemampuan validasi data pasien.
c. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan
d. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien.
e. Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan.
f. Meningkatkan kemampuan justifikasi.
g. Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Perawat
a. Dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan afektif dan
psikomotor perawat.
b. Menjalin kerjasama tim .
c. Menciptakan komunitas keperawatan profesional.
1.3.2 Bagi Pasien
a. Membantu menyelesaikan masalah pasien sehingga mempercepat
masa penyembuhan.
b. Memberikan perawatan secara profesional dan efektif kepada
pasien.
c. Memenuhi kebutuhan pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ronde Keperawatan
Ronde Keperawatan merupakan suatu sarana bagi perawat baik perawat
primer maupun perawat associate untuk membahas masalah keperawatan
dengan melibatkan klien dan seluruh tim keperawatan termasuk konsultan
keperawatan. Ronde keperawatan juga merupakan suatu proses belajar bagi
perawat dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotor. Kepekaan dan cara berpikir kritis perawat akan tumbuh dan
terlatih melalui suatu transfer pengetahuan dan pengaplikasian konsep teori
secara langsung pada kasus nyata (Nursalam, 2014).
Peningkatan mutu asuhan keperawatan sesuai dengan tuntutan
masyarakat dan perkembangan iptek maka perlu pengembangan dan
pelaksanaan suatu model asuhan keperawatan profesional yang efektif dan
efisien (Nursalam, 2014).
Metode keperawatan primer merupakan salah satu metode pemberian
pelayanan keperawatan di mana salah satu kegiatannya adalah ronde
keperawatan, yaitu suatu metode untuk menggali dan membahas secara
mendalam masalah keperawatan yang terjadi pada pasien dan kebutuhan pasien
akan keperawatan yang dilakukan oleh perawat primer/associate, konselor,
kepala ruangan, dan seluruh tim keperawatan dengan melibatkan pasien secara
langsung sebagai fokus kegiatan (Nursalam, 2014).
2.2 Karakteristik
a. Klien dilibatkan secara langsung
b. Klien merupakan fokus kegiatan
c. Perawat aosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama
d. Kosuler memfasilitasi kreatifitas
e. Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet, perawat
primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.
2.3 Kriteria Pasien
Pasien yang dipilih untuk dilakukan ronde keperawatan adalah pasien
yang memiliki kriteria sbb:
a. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah
dilakukan tindakan keperawatan.
b. Pasien dengan kasus baru atau langka.
2.4 Metode
a. Diskusi
2.5 Alat Bantu
a. Sarana diskusi: buku, pulpen.
b. Status/dokumentasi keperawatan pasien
c. Materi yang disampaikan secara lisan
2.6 Langkah – Langkah Kegiatan Ronde
Keterangan:
a. Pra-ronde
1) Menentukan kasus dan topic (masalah yang tidak teratasi dan masalah
yang langka)
2) Menentukan tim ronde kep
3) Mencari sumber dan literature
4) Membuat proposal
5) Mempersiapkan klien: informed consent dan pengkajian
6) Diskusi: apa diagnose keperawatan, apa yang mendukung, bagaimana
intervensi yang sudah dilakukan selama perawatan
b. Pelaksanaan Ronde
1) Penjelasan tentang klien oleh Perawat Pelaksana dif okuskan pada
masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan dan atau / telah
dilaksanakan serta memilih prioritas yang perlu didiskusikan
2) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah klien
3) Meningkatkan kemempuan memodifikasi rencana asuhan keperawatan
4) Meningkatkan kemempuan justifikasi
5) Meningkatkan kemempuan menilai hasil kerja
2.7 Peran – Peran Anggota Tim
a. Peran Kerua Tim dan Anggota Tim
1) Menjelaskan keadaan dan data demografi klien.
2) Menjelaskan masalah keperawata utama.
3) Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan.
4) Menjelaskan tindakan selanjutnya.
5) Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.
b. Peran Ketua Tim Lain dan/Konselor
1) Memberikan justifikasi
2) Memberikan reinforcement.
3) Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional.
4) Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional.
5) Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional.
2.8 Kriteria Evaluasi
a. Struktur
1) syaratan administratif (informed consent, alat, dan lainnya)
2) Tim ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan ronde keperawatan
3) Persiapan dilakukan sebelumnya.
b. Proses
1) Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran yang
telah ditentukan.
c. Hasil
1) Pasien merasa puas dengan hasil pelayanan
2) Masalah pasien dapat teratasi
3) Perawat dapat:
a) Menumbuhkan cara berpikir yang kritis
b) Meningkatkan cara berpikir yang sistematis
c) Meningkatkan kemampuan validitas data pasien
d) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan
e) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien
f) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan
g) Meningkatkan kemampuan justifikasi
h) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.
BAB III
PROPOSAL KASUS
3.1 Pendahuluan
Pelayanan keperawatan pada klien secara profesional dapat membantu klien
dalam mengatasi masalah keperawatan yang dihadapi klien. Salah satu bentuk
pelayanan keperawatan yang profesional tersebut dengan memperhatikan seluruh
keluhan yang dirasakan klien kemudian mendiskusikannya dengan tim
keperawatan untuk merencanakan pemecahan masalahnya.
Pelayanan keperawatan yang perlu dikembangkan untuk mencapai hal
tersebut adalah dengan ronde keperawatan. Dimana ronde keperawatan merupakan
sarana bagi perawat baik perawat primer maupun perawat assosiate untuk
membahas masalah keperawatan yang terjadi pada klien yang melibatkan klien dan
seluruh tim keperawatan termasuk konsultan keperawatan. Salah satu tujuan dari
kegiatan ronde keperawatan adalah meningkatkan kepuasan klien terhadap
pelayanan keperawatan.
3.2 Tujuan
Tujuan Umum:
Setelah dilakukan ronde keperawatan masalah keperawatan yang
dialami klien dapat diatasi.
Tujuan Khusus:
Setelah dilaksanakan ronde keperawatan, perawat mampu:
1. Berfikir kritis dan sistimatis dalam pemecahan masalah keperawatan
klien
2. Memberikan tindakan yang berorientasi pada masalah keperawatan
klien
3. Menilai hasil kerja
4. Melaksanakan asuhan keperawatan secara menyeluruh.
3.3 Pelaksanaan
Pelaksanaan ronde keperwatan pada saat ada konflik atau masalah dalam
asuhan keperawatan klien.
Hari / tanggal: Selasa, 11 Febuari 2026
Tempat: Ruang Benang Kelambu RSUD Provinsi NTB
3.4 Metode
1. Diskusi
2. Demonstrasi
3.5 Materi
1. Pengertian ronde keperawatan
2. Karakteristik
3. Langkah-langkah kegiatan ronde keperawatan
4. Peran masing-masing perawat (terlampir)
5. Materi tentang penyakit
3.6 Pesereta
1. Kepala Ruangan
2. Pembimbing akademik dan klinik
3. Mahasiswa
3.7 Alat Bantu
1. Ruang perawatan sebagai sarana diskusi
2. Status klien
3. Alat bantu demonstrasi
4. Media
3.8 Evaluasi
1. Persiapan ronde keperawatan
2. Pelaksanaan ronde keperawatan
3. Peran masing-masing tim dalam pelaksanaan ronde keperawatan
BAB III
PROPOSAL KASUS
Pengkajian dimulai tanggal : Senin, 9 Februari 2026
Pengkajian berakhir tanggal : Rabu, 11 Februari 2026
1. Pengkajian
1.1 Identitas Klien
Nama Klien : Tn. K
Umur : 70
Jenis Kelamin : Laki laki
Agama : Islam
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan : S2
Pekerjaan : Pensiunan Bensos
Alamat : Ampenan
1.2 Status Kesehatan
a. Keluhan Utama :
Sesak
b. Riwayat Penyakit Sebelumnya :
pasien tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya
c. Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengatakan tidak ada riwayat penyakit keluarga
d. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari
terakhir. Pasien merupakan rujukan dari RS Bhayangkara tgl 24
januari 2026 dengan diagnosis obstruksi dispneu ec susp malignansi
tiroid. Pasien juga mengeluhkan adanya benjolan di leher sejak
kurang lebih 40 tahun yang lalu. Awalnya benjolan berukuran kecil
sebesar kelereng dan membesar secara perlahan hingga saat ini.
Pasien mengeluhkan sulit menelan dan suara serak. Pasien
tidak mengeluhkan batuk, nyeri pada leher, berdebar-debar, keringat
berlebih, muntah, maupun demam. Pasien mengeluhkan mual. BAB
dan BAK dalam batas normal. Riwayat penyakit serupa dalam
keluarga disangkal.
Pada saat pengkajian hari Senin, 9 Februari 2026 pasien
mengeluhkan masih merasakan sesak napas. Pasien mengatakan
dahak terasa banyak di tenggorokan dan dada, namun sulit untuk
dikeluarkan saat batuk. Pasien tampak batuk tidak efektif dan
terlihat kesulitan bernapas.
1.3 Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Aktivitas dan Latihan
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan sebelum sakit ia sangat aktif
dan tidak bisa diam. Pasien biasa melakukan aktivitas sehari-hari
seperti membersihkan rumah, berkebun, dan berbagai pekerjaan
rumah tangga lainnya tanpa merasa cepat lelah.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan saat ini aktivitasnya sangat
terbatas karena kondisi kesehatannya,
Masalah Keperawatan : Tidak ada
b. Pola Istirahat dan Tidur
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan sering begadang karena
banyak teman yang mengajaknya bertemu, sehingga biasanya
tidur sekitar pukul 12–1 malam.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan pola tidurnya tergantung pada
kondisi fisiknya. Jika sesaknya berkurang dan kondisi membaik,
pasien dapat tidur lebih cepat.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
c. Pola Nutrisi
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan makan sebanyak 3 kali sehari
atau lebih dengan porsi normal.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan masih makan 3 kali sehari,
namun porsi makan berkurang dibandingkan sebelum sakit.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
d. Pola Cairan
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan minum seperti biasa, kurang
lebih 6–8 gelas per hari tanpa ada keluhan.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan asupan cairan tetap diminum,
namun terkadang berkurang karena nafsu minum menurun dan
kondisi tubuh yang lemah.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
e. Pola Eliminasi
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan biasanya BAB 1 kali sehari
dengan konsistensi normal.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan selama dirawat kurang lebih
3 minggu, pasien hanya BAB sebanyak 3 kali. Untuk BAK,
pasien mengatakan 4–5 kali sehari.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
f. Pola Koping
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan biasanya menghadapi
masalah dengan berbicara kepada keluarga atau istrinya dan
berusaha tetap tenang.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan saat ini lebih sering merasa
khawatir terhadap kondisi kesehatannya, namun tetap berusaha
menerima keadaan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
g. Pola Konsep Diri
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan merasa dirinya sehat, kuat,
dan mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan merasa kondisi tubuhnya
melemah dan ketergantungannya meningkat, sehingga
terkadang merasa sedih dengan perubahan tersebut.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
h. Personal Hygiene
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan mandi beberapa kali dalam
sehari, bahkan sering mandi malam karena merasa tidak nyaman
jika belum mandi.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan saat ini hanya bisa
dibersihkan dengan cara dilap karena kondisi tubuh yang tidak
memungkinkan untuk mandi seperti biasa.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
i. Pola Psikologis
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan kondisi emosional stabil dan
jarang merasa cemas.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan terkadang merasa cemas dan
khawatir terhadap penyakitnya, terutama saat keluhan sesak
muncul.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
j. Pola Peran dan Hubungan
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan mampu menjalankan
perannya dalam keluarga dan lingkungan sosial dengan baik
serta aktif berinteraksi dengan teman-temannya.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan perannya dalam keluarga
menjadi terbatas dan interaksi sosial berkurang karena kondisi
kesehatan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
k. Pola Kognitif
- Sebelum sakit: Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan
dalam berpikir, mengingat, maupun berkomunikasi.
- Sesudah sakit: Pasien mengatakan masih mampu berpikir dan
berkomunikasi dengan baik, namun terkadang sulit
berkonsentrasi saat kondisi tubuh lemah.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
l. Pola Nilai dan Kepercayaan
- Sebelum sakit: Pasien beragama Islam dan menjalankan ibadah
sesuai kemampuannya.
- Sesudah sakit: Pasien mengetahui bahwa pembengkakan yang
ada di leher sebelah kanan, namun menyatakan tidak bersedia
dilakukan tindakan pembedahan saat ini karena tidak merasakan
keluhan atau gangguan dari tumor tersebut. Pasien berpendapat
bahwa selama tidak ada gejala yang dirasakan, tindakan operasi
belum diperlukan. Keputusan tersebut diambil berdasarkan
pertimbangan pribadi pasien.
Masalah Keperawatan : Defisit Pengetahuan
1.4 Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Tanda-Tanda Vital
Tensi (TD) : 135/80 mmHg
Nadi : 78 x/menit
Pernafasan : 26 x/menit
Suhu : 36,5 C
TB : 160 cm
BB : 42 kg
c. Tingkat Kesadaran : Compos Mentis
Motorik : 6
Verbal : 5
Eye : 4
d. Pemeriksaan Tubuh
- Pemeriksaan Kepala Dan Rambut
Bentuk Kepala : Bentuk kepala normosefal, tidak terdapat
benjolan maupun deformitas. Rambut tampak bersih dan
terdistribusi merata.
- Pemeriksaan Mata
Kelengkapan : Kedua mata lengkap dan tidak ada kelainan
anatomis.
Kesimetrisan : Mata simetris kanan dan kiri.
Konjungtiva : Konjungtiva tampak merah muda, tidak
anemis.
Sklera : Sklera tampak putih, tidak ikterik
Pupil : Pupil isokor, refleks cahaya positif (+/+).
- Pemeriksaan Hidung
Hidung: Bentuk hidung simetris, tidak terdapat sekret
keluar dari hidung.
Cuping hidung: Tidak tampak pernapasan cuping hidung.
- Pemeriksaan Telinga
Bentuk: Bentuk telinga simetris kanan dan kiri, tidak
terdapat lesi.
Lubang telinga: Lubang telinga bersih, tidak terdapat
serumen berlebih.
Ketajaman pendengaran: Pendengaran baik, pasien
mampu merespon percakapan dengan jelas.
- Pemeriksaan Mulut
Keadaan bibir: Bibir tampak agak kering, tidak sianosis.
Kemampuan menelan: Pasien mampu menelan dengan
baik, namun terkadang disertai batuk karena banyak dahak.
- Pemeriksaan Kulit
Kehangatan: Kulit teraba hangat.
Warna: Warna kulit sawo matang, tidak tampak sianosis.
Tekstur: Tekstur kulit cukup lembab.
Turgor: Turgor kulit baik, kembali cepat <2 detik.
- Pemeriksaan Dada
Paru – paru:
Inspeksi:
Tampak pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri.
Frekuensi napas meningkat (26x/menit). Pasien tampak batuk
namun batuk tidak efektif dan sekret tidak dapat dikeluarkan
secara maksimal. Tidak tampak retraksi otot bantu napas.
Palpasi:
Ekspansi dada kanan dan kiri teraba simetris. Tidak terdapat
nyeri tekan pada dinding dada.
Perkusi:
Terdapat bunyi redup (dullness) pada area paru yang mengalami
konsolidasi akibat pneumonia.
Auskultasi:
Terdengar suara napas tambahan berupa ronki basah pada
beberapa lapang paru, menunjukkan adanya penumpukan sekret
di jalan napas. Suara napas vesikuler melemah pada area yang
terdampak.
Masalah Keperawatan : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
- Pemeriksaan Jantung
Inspeksi: Tidak tampak ictus cordis yang menonjol.
Palpasi: Ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikula
sinistra.
Perkusi: Batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi: Bunyi jantung S1 dan S2 terdengar reguler,
tidak terdengar murmur.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
- Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi: Abdomen tampak datar, tidak terdapat distensi.
Palpasi: Abdomen teraba lunak, tidak terdapat nyeri tekan,
tidak teraba massa.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
- Pemeriksaan Genetalia
Pemeriksaan genetalia tidak dilakukan.
- Ekstremitas
Ekstremitas atas dan bawah tampak simetris, tidak
terdapat edema. Terpasang infus pada ekstremitas atas sebelah
kiri, tidak tampak tanda-tanda flebitis seperti kemerahan atau
pembengkakan.
2. Data Penunjang
3. Analisa Data
NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM
11. DS (Data Subjektif): Proses inflamasi Bersihan jalan
pada paru napas tidak
• Pasien efektif.
mengatakan
merasa sesak.
• Pasien Peningkatan
mengatakan produksi sekret
dahak terasa
banyak tetapi
sulit
dikeluarkan.
DO (Data Objektif): Sekret menumpuk
di jalan napas
• Frekuensi napas:
26x/menit
• Tampak
pergerakan Batuk tidak efektif
dinding dada
simetris kanan
dan kiri.
• Terdengar ronki Obstruksi jalan
basah pada saat napas parsial.
di auskultasi.
• Terdapat
penumpukan
sekret di jalan Bersihan jalan
napas. napas tidak efektif.
• Pasien tampak
batuk namun
batuk tidak
efektif dan
sekret tidak
dapat
dikeluarkan
secara
maksimal.
• Tidak tampak
retraksi otot
bantu napas.
22. DS (Data Subjektif) Kurangnya Defisit
informasi yang di Pengetahuan
• Pasien mengatakan terima pasien
terdapat
pembengkakan di
leher sebelah kanan
namun tidak Kurangnya
merasakan nyeri pemahaman tentang
atau keluhan kondisinya
lainnya.
• Pasien menyatakan
tidak bersedia
dilakukan tindakan Tidak mengetahui
pembedahan karena risiko
merasa kondisinya perkembangan dan
tidak mengganggu. kemungkinan
komplikasi
• Pasien
mengatakan,
“Selama tidak sakit Persepsi bahwa
atau tidak ada kondisi tidak
keluhan, saya rasa berbahaya karena
tidak perlu tidak ada gejala
operasi.”
Menolak tindakan
Data Objektif (DO) medis yang
dianjurkan
• Tampak
pembengkakan
pada leher sebelah
kanan. Defisit
• Pasien menolak Pengetahuan
tindakan medis
yang dianjurkan.
• Pasien belum
menunjukkan
pemahaman
mengenai risiko
atau kemungkinan
komplikasi dari
kondisi yang
dialami.
4. Intervensi
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
Bersihan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Pola Nafas
Jalan Nafas keperawatan 24 jam oksigenasi dan Observasi
Tidak Efektif atau karbondiaoksida pada membran
alveolus -kapiler normal dengan - Monitor Pola nafas
Kriteria Hasil: - Monitor pola nafas
tambahan
1. Produksi sputum menurun
- Monitor sputum
2. Frekuensi napas membaik
(jumlah,warna,aroma)
3. Pola nafas membaik
Terapeutik
- Pertahankan
kepatenan jalan nafas
- Posisikan semi
fowler/fowler
- Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
- Lakukan penghisapan
lendir <15detik
- Berikan oksigen jika
perlu
Edukssi
- Aniurkan asupan
cairan 2000ml/hari
jika tidak
kontraindikasi
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran
metabolik, jika perlu
Defisit Setelah dilakukan intervensi Edukasi Kesehatan
Pengetahuan keperawatan selama 3 x 24 jam, (I.12383)
maka status tingkat pengetahuan
meningkat, dengan kriteria hasil:
Observasi
1. Persepsi yang keliru terhadap
masalah menurun - Identifikasi kesiapan
dan kemampuan
menerima informasi
- Identifikasi faktor-
faktor yang dapat
meningkatkan dan
menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih
dan sehat
Terapeutik
- Sediakan materi dan
media Pendidikan
Kesehatan
- Jadwalkan
Pendidikan
Kesehatan sesuai
kesepakatan
- Berikan kesempatan
untuk bertanya
Edukasi
- Jelaskan faktor risiko
yang dapat
mempengaruhi
Kesehatan
- Ajarkan perilaku
hidup bersih dan sehat
- Ajarkan strategi yang
dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat
BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Ronde keperawatan merupakan suatu sarana bagi perawat baik perawat
primer maupun perawat associate untuk membahas masalah keperawatan dengan
melibatkan klien dan seluruh tim keperawatan termasuk konsultan keperawatan.
Ronde keperawatan juga merupakan suatu proses belajar bagi perawat dengan
harapan dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor.
Kepekaan dan cara berpikir kritis perawat akan tumbuh dan terlatih melalui suatu
transfer pengetahuan dan pengaplikasian konsep teori secara langsung pada kasus
nyata.
Karakteristik dari ronde adalah:
1. Klien dilibatkan secara langsung
2. Klien merupakan fokus kegiatan
3. Perawat aosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi
bersama
4. Kosuler memfasilitasi kreatifitas
5. Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet,
perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi
masalah.
Tujuan dari ronde keperawatan:
1. Menumbuhkan cara berpikir secara kritis.
2. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal
dari masalah klien.
3. Meningkatkan validitas data klien.
4. Menilai kemampuan justifikasi.
B. Saran
Diharapkan ronde keperawatan ini bisa dipakai dengan baik di rumah sakit
sehingga antara perawat primer dan klien bisa mengerti dan dapat saling
berkonsultasi akan bagaimana kondisi klien, dan disini perawat bias mengasah
kemampuan kognitif,afektif dan psikomotornya. Sehingga perawat dapat langsung
menerapkan kemampuannya kedalam kasus yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Nursalam, M. Nurs. (Hons). 2002. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam
Praktik Keperawatan Professional. Jakarta: Salemba Medika 2014.
Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Professional Ed. 4. Jakarta: Salemba Medika