0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas kemampuan pemahaman matematis yang meliputi kemampuan menjelaskan, menafsirkan, dan menerapkan konsep matematika, serta pentingnya pemahaman ini dalam pembelajaran matematika. Selain itu, dijelaskan tentang model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran secara kolaboratif. Tipe pembelajaran kooperatif scramble juga diperkenalkan sebagai metode yang menggabungkan permainan dan kerja sama untuk meningkatkan konsentrasi dan kecepatan berpikir siswa.

Diunggah oleh

Master Motivator
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas kemampuan pemahaman matematis yang meliputi kemampuan menjelaskan, menafsirkan, dan menerapkan konsep matematika, serta pentingnya pemahaman ini dalam pembelajaran matematika. Selain itu, dijelaskan tentang model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran secara kolaboratif. Tipe pembelajaran kooperatif scramble juga diperkenalkan sebagai metode yang menggabungkan permainan dan kerja sama untuk meningkatkan konsentrasi dan kecepatan berpikir siswa.

Diunggah oleh

Master Motivator
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Pemahaman Matematis

Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami suatu objek atau

subjek pembelajaran. Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta,

melainkan berkaitan dengan kemampuan menjelaskan, menerangkan,

menafsirkan, atau kemampuan menangkap makna atau arti konsep.

Kemampuan dalam bidang pemahaman ini dapat berupa kemampuan

menerjemahkan, menafsirkan, atau kemampuan ekstrapolasi. Kemampuan

menerjemah, yaitu kesanggupan untuk menjelaskan makna yang terkandng

dalam sesuatu. Kemampuan menafsirkan dapat berupa kemampuan melanjut

atau memprediksi sesuatu berdasarkan fakta atau pola yang sudah ada. Dan

kemampuan ektrapolasi, yaitu kemampuan untuk melihat dibalik hal-hal yang

tersirat atau tersurat (Susetyo, 2015).

Pemahaman adalah kedalaman kognitif dan efektif yang dimiliki oleh

individu. Abidin mengemukakan bahwa pemahaman merupakan kemampuan

menerangkan dan menginterpretasikan sesuatu. Pemahaman bukan sekedar

mengetahui atau sebatas mengingat kembali pengalaman dan mengemukakan

ulang apa yang telah dipelajari. Pemahaman lebih dari sekedar mengetahui atau

mengingat fakta-fakta yang terpisah-pisah tetapi pemahaman melibatkan

proses mental yang dinamis sehingga benar-benar tercapai belajar bermakna.

9
Dengan kata lain siswa memahami dengan benar materi pelajaran yang

diterimanya, misalnya ia mampu menyusun kalimat yang berbeda dengan

kandungan makna sama, mampu menerjemahkan atau menginterpretasikan ,

mengeksplorasi, melakukan apliksi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dalam

tingkatan ini individu mengetahi cara menggunakan idenya dalam

berkomunikasi, tidak hanya sekedar mengetahui suatu informasi tetapi juga

mengetahui keobjektifan dan makna yang terkandung dari informasi tersebut

(Heris Hendriana, 2017).

Pemahaman matematis diterjemahkan dari istilah mathematical

understanding merupakan kemampuan matematis yang sangat penting dan

harus dimiliki siswa dalam belajar matematika. Rasional pentingnya pemilikan

kemampuan pemahaman matematis diantaranya adalah kemamuan tersebut

tercantum dalam tujuan pembelajaran matematika Kurikulum Matematika SM

(KTSP 2006 dan Kurikulum 2013) dan dalam NCTM. Pernyataan tersebut juga

sesuai dengan pendapat Hudoyo yang menyatakan: “Tujuan mengajar

matematika adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta

didik”. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa

kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan dipahami

sepenuhnya oleh siswa.

Pentingnya pemilikan pemahaman oleh siswa juga dikemukakan oleh

Santrock bahwa pemahaman konsep adalah aspek kunci dari pembelajaran.

Demikian pula, pemahaman matematis merupakan landasan yang penting

untuk berpikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan matematika maupun

10
masalah kehidupan nyata. Selain itu, kemampuan pemahaman matematis

sangat mendukung pada pengembangan kemampuan matematis lainnya, yaitu

komunikasi, pemecahan masalah, penalaran, koneksi, representasi, berpikir

kritis dan berpikir kreatif matematis serta kemampuan matematis lainnya.

Pendapat serupa dikemukakan Wiharno bahwa kemampuan matematis

merupakan suatu kekuatan yang harus diperhatikan selama proses

pembelajaran matematika, terutama untuk memperoleh pengetahuan

matematika yang bermakna.

Beberapa pakar mengemukakan jenis dan tingkat pemahaman

matematis sebagai berikut. Skemp menyatakan bahwa terdapat dua jenis

kemampuan pemahaman yaitu: a) pemahaman instrumental yang artinya hafal

sesuatu secara tepisah atau dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan

rutin/sederhana, megerjakan sesuatau secara algoritmik. Pada pemahaman ini

siswa hanya menghafal rumus dan mengikuti urutan pengerjaan dan algoritma

saja; dan b) Pemahaman relasional yang berarti dapat melakukan perhitungan

secara bermakna pada permasalahan-permasalahan yang lebih luas, termuat

skema atau struktur yang dapat digunakan pada penyelesaian yang memuat

masalah yang lebih luas, dapat mengaitkan suatu konsep/prinsip lainnya dan

sifat pemakaiannya lebih bermakna.

Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman yaitu: a) pemahaman

komputasional yang setara dengan pemahaman instrumental dari Skemp yaitu

dapat menerapkan konsep atau rumus pada perhitungan rutin/sederhana, atau

mengerjakan sesuatau secara algoritmik saja; b) Pemahaman fungsional yang

11
serupa dengan pemahaman relasional dari Skemp, yaitu dapat mengaitkan

suatu konsep dengan konsep lainnya secara benar dan menyadari proses yang

dilakukan.

Ruseffendi mengemukakan terdapat tiga macam pemahaman sebagai

berikut: a) Pengubahan (translation) yaitu mengubah satu persamaan menjadi

suatu grafik, mengubah soal bentuk kata-kata atau menyatakan suatu situasi

menjadi bentuk simbol atau sebaliknya; b) Interpretasi (interpretation) yaitu

menggunakan konsep-konsep yang tepat dalam menyelesaikan soal,

mengartikan suatu kesamaan, dan c) Ekstrapolasi (extrapolation), yaitu

menerapkan konsep-konsep dalam perhitungan matematis, dan memperkirakan

kecenderungan suatu diagram.

Depdiknas merinci kemampuan pemahaman sebagai berikut: a)

Menyatakan ulang sebuah konsep; b) Mengklasifikasikan objek-objek menurut

sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya; c) Memberi contoh dan bukan

contoh dari konsep; d) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi

matematis; e) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; f)

Menggunakan, memanfaatkan, dan memililih prosedur atau operasi tertentu; g)

Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan matematis.

Indikator pemahaman matematis adalah sebagai berikut :

a) Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan.

b) Mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh.

c) Menggunakan model dan simbol-simbol untuk merepresentasikan

suatu konsep.

12
d) Mengubah suatu bentuk representatif ke bentuk representasi

lainnya

e) Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep

f) Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat

yang menentukan suatu konsep.

g) Membandingkan dan membedakan konsep.

h) Mengidentifikasi keterkaitan antara konsep yang dipelajari(Heris

Hendriana, 2017)

Berdasarkan urian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan

pemahaman matematis merupakantingkat kemampuan yang mengarharapkan

seseorang mampu memahami suatu kompetensi dasar dalam belajar

matematika yang meliputi: kemampuan menyerap suatu materi, mengingat

rumus dan konsep matematika serta menerepkannya dalam kasus sederhana

atau kasus serupa, memperkirakan kebenaran suatu pernyataan, dan

menerapkan rumus atau teorema dalam penyelesaian masalah.

B. Model pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar

yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

Slavin mengemukakan bahwa cooperative learning atau

pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa

belajar dan bekerja secara kolaboratif dalam suatu kelompok kecil yang

13
terdiri atas 4-5 orang siswa dengan struktur kelompok heterogen.

Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan prestasi akademis,

keterampilan sosial, dan menanamkan toleransi dan penerimaan terhadap

keanekaragaman individu(Slavin R.E, 2009).

Pembelajaran kooperatif berarti bekerjasama untuk mencapai tujuan

bersama. Dalam suasana kooperatif, setiap anggota sama-sama berusaha

mencapai hasil yang nantinya bisa dirasakan oleh semua anggota kelompok.

Dalam konteks pengajaran, pembelajaran kooperatif seringkali didefinisikan

sebagai pembentukan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari siswa-

siswa yang dituntut untuk bekerja sama dan saling meningkatkan

pembelajarannya dan pembelajaran siswa-siswa lain(Huda, 2011).

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan

menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai

enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis

kelamin, ras atau suku berbeda. Sistem penilaian dilakukan terhadap

kelompok, tiap kelompok akan mendapat penghargaan yang berbeda

tergantung hasil belajar masing-masing kelompok (Salamah, 2018)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan sisa dala

kelompok-kelompok kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari

siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki

dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan

bekerjasama mempelajari materi pelajaran agar semua anggota maksimal.

14
2. Unsur-unsur Dasar dalam Pembelajaran Kooperatif

Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut (Isjoni, 2009):

a. Para siswa harus memiliki presepsi bahwa mereka “tenggelam atau

berenang bersama”.

b. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain

dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri

dalam mempelajari materi yang dihadapai;

c. Para siswa harus berpendapat bahwa mereka semua memiliki

tujuan yang sama;

d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab diantara

anggota kelompok;

e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan

ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok;

f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh

keterampilan bekerja sama selama belajar;

g. Setiap siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara

individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model

pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah

sebagai berikut:

1) Positive interpendence (saling ketergantungan positif)

Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada

dua pertanggung jawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan

15
yang ditugaskan dalam kelompok. Kedua, menjamin semua

anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang

ditugaskan tersebut.

2) Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)

Pertanggung jawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran

terhadap keberhasilan kelompok. Tujuan pembelajaran kooperatif

adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang

kuat. Tanggung jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin

semua anggota yang diperkuat oleh keinginan untuk belajar

bersama. Artinya, setelah mengikuti kelompok belajar bersama,

anggota kelompok harus dapat menyelesikan tugas yang sama.

3) Face to face promotiveinteraction (interaksi promotif)

Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling

ketergantungan positif. Ciri-cirinya adalah saling membantu secara

efektif dan efisien, saling memberikan informasi dan sarana yang

diperlukan, memproses informasi bersama secara lebih efektif dan

efisien, saling mengingatkan, saling membantu dalam merumuskan

dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan

wawasan terhadap masalah yang dihadapi, saling percaya, saling

memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.

4) Interpersonal skill (komunikasi antar anggota)

Untuk mengkoordinasi kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan

adalah siswa harus saling mengenal dan mempercayai, mampu

16
berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, saling menerima

dan saling mendukung, serta mampu menyelesaikan konflik secara

konstruksi.

5) Group processing (pemrosesan kelompok)

Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan

kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan

kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Siapa diantara

anggota kelompok yang sangat membantu dan yang tidak

membantu. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan

efektifitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan

kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok. Ada dua tingkat

pemrosesan yaitu kelompok kecil dan kelas secara keseluruhan.

3. Aspek-aspek Pembelajaran Kooperatif

Beberapa aspek pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

a. Tujuan

Semua siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil

(sering kali beragam/ability grouping/heterogenous group) dan

diminta untuk: 1) mempelajari materi tertentu dan 2) saling

memastikan semua anggota kelompok juga mempelajari materi

tersebut.

b. Level kooperatif

Kerja sama dapat diterapkan dalam kelas (dengan cara

memastikan semua siswa di ruang kelas benar-benar mempelajari

17
materi yang ditugaskan) dan level sekolah (dengan cara

memastikan bahwa semua siswa disekolah benar-benar mengalami

kemajuan secara akademik).

c. Pola interaksi

Setiap siswa saling mendorong kesuksesan antar satu sama lain.

Siswa mempelajari materi pembelajaran bersama siswa lain, saling

menjelaskan cara menyelesaikan tugas pembelajaran, saling

menyimak penjelasan masing-masing, saling mendorong untuk

bekerja keras, dan saling memberi bantuan akademik jika ada yang

membutuhkan. Pola interaksi ini muncul di dalam dan diantara

kelompok-kelompok kooperatif.

d. Evaluasi

Sistem evaluasi didasarkan pada kriteria tertentu. Penekanannya

biasanya terletak pada pembelajaran dan kemajuan akademik setiap

siswa, bisa pula difokuskan pada setiap kelompok, semua siswa,

ataupun sekolah.

Pembelajaran kooperatif dirancang tujuannya untuk melibatkan

pelajar secara aktif dalam proses pembelajaran melanjutkan perbincangan

dengan teman-teman dalam kelompk kecil. Ia memerlukan siswa bertukar

pendapat, memberi tanya jawab serta mewujudkan serta membina proses

penyelesaian kepada suatu masalah. kajian eksperimental dan deskriptif

yang dijalankan mendukung pendapat yang mengatakan pembelajaran

kooperatif dapat memberikan hasil yang positif kepada siswa(Isjoni, 2009).

18
C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble

1. Pengetian

Scramble merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif

dengan soal yang disajikan dalam bentuk kartu dan bisa juga disebut dengan

sebuah permainan. Model pembelajaran scramble adalah model

pembelajaran yang menggunakan penekanan pada latihan dan menggunakan

kartu soal dan kartu jawaban yang dikerjakan secara berkelompok. Setiap

anggota kelompok harus berpartisipasi agar dapat mencocokan setiap kartu

soal dan kartu jawaban sebelum waktu yang ditetapkan selesai(Mardiah,

2017)

Scramble merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang

dapat meningkatkan konsentrasi dan kecepatan berpikir peserta didik.

Model ini mengharuskan peserta didik untuk menggabungkan otak kiri dan

otak kanan. Mereka tidak hanya diminta untuk menjawab soal, tetapi juga

mereka dengan cepat menjawab soal yang sudah tersedia namun masih

dalam kondisi acak(Miftahul Huda, 2014).

Scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk

menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahanyang ada dengan

cara membagikan lembar soal yang lembar jawaban yang disertai dengan

alternatif jawaban yang tersedia(Shoimin, 2014).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

kooperatif tipe scramble adalah sebuah model yang menggunakan

19
penekanan latihan soal berupa permainan pencocokan kartu soal dan kartu

jawaban yang dikerjakan secara kelompok. Dalam model pembelajaran ini,

perlu adanya kerja sama antar anggota kelompok untuk saling membantu

teman sekelompok dapat berpikir kritis sehingga dapat lebih mudah mencari

penyelesaian soal.

2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipeScramble

langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe scrambleada

beberapa tahap antara lain(Burhanudin, 2017):

1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik.

2. Menyajikan informasi.

3. Mengorganisasikan peserta didik kedalam kelompok-kelompok belajar,

selanjutnya memberikan kartu soal dan kartu jawaban kepada kelompok.

4. Mengerjakan kartu soal secara berkelompok.

5. Memberi penghargaan.

6. Evaluasi.

Langkah-langkah pembelajarannya adalah:

a. Persiapan

Pada tahap ini guru menyiapkan bahan dan media yang akan digunakan

dalam pembelajaran. Media yang digunakan berupa kartu soal dan kartu

jawaban yang telah diacak sedemikian rupa. Guru menyiapkan kartu-

kartu sebanyak kelompok yang telah dibagi. Guru mengatur hal-hal

yang mendukung proses belajar mengajar misalnya mengatur tempat

20
duduk sesuai kelompok yang telah dibagi atau memeriksa kesiapan

siswa belajar dan sebagainya.

b. Kegiatan inti

Kegiatan dalam tahap ini adalah setiap kelompok melakukan diskusi

untuk mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang

cocok. sebelumnya jawaban diacak sedemikian rupa. Guru melakukan

diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengar pertanggung

jawaban dari setiap kelompok kecil atas hasil kerja yang telah disepakati

dalam masing-masing kelompok kemudian membandingkan dengan

mengkaji jawaban yang tepat dan logis.

c. Tindak lanjut

Kegiatan tindak lanjut tergantung dari hasil belajar siswa. Contoh

kegiatan tindak lanjut antara lain:

 Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dengan

bahan yang berbeda.

 Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli, jika terdapat

susunan yang tidak memperlihatkan kelogisan.

 Membetulkan kesalahan-kesalahan yang mungkin ditemukan

dalam teks latihan.

Sejalan dengan itu, terdapat juga fase-fase pembelajaran kooperatif tipe

scramble yang dijelaskan sebagai berikut:

21
Tabel 2.1

Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble

Fase Tingkah Laku Guru Langkah-langkah


Scramble
Fase 1 Guru menyampaikan semua Guru menyampaikan
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin tujuan pembelajaran
tujuan dan dicapai pada pembelajaran yang akan dicapai dan
memotivasi tersebut dan memotivasi memberikan motivasi
siswa siswa belajar kepada siswa tentang
perlunya mempelajari
materi ini
Fase 2 Guru menyajikan informasi Guru menyampaikan
Menyajikan kepada siswa dengan jalan materi
informasi demonstrasi atau lewat bahan
bacaan

Fase 3 Memberikan penjelasan Mengorganisir siswa


Mengorganisas kepada siswa tentang tata kedalam kelompok
ikan kelompok cara pembentukan kelompok belajar
belajar belajar dan membentuk
kelompok melakukan transisi
yang efisien
Fase 4 Guru membimbing kelompok Guru membagikan kartu
Membimbing belajar saat mereka soal dan kartu jawaban
kelompok mengerjakan tugas mereka kepada masing-masing
bekerja dan kelompok sebagai pilihan
belajar jawaban soal-soal pada
kartu soal
Fase 5 Guru mengevaluasi hasil Masing-masing
Evaluasi belajar tentang materi yang kelompok mengerjakan
telah dipelajari atau masing- kartu soal dan mencari
masing kelompok kartu jawaban untuk
mempresentasikan hasil setiap soal pada kartu
kerjanya soal serta dengan
mengevaluasi hasil kerja
Fase 6 Guru mencari cara-cara untuk Guru memberikan point
Memberikan mengahargai baik upaya bagi siswa yang
penghargaan maupun hasil belajar individu menjawab benar dan bagi

22
dan kelompok siswa yang menjawab
salah guru memberi
motivasi agar tidak putus
asa
(Gustrisnasih, 2017)

3. Kelebihan dan Kekurangan dalam Penerapan Scramble

Model pembelajaran koopertaif tipe scramble memiliki kelebihan dan

kekurangan. Adapun kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe

scramble diantaranya(Shoimin, 2014):

a. Setiap anggota bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan

dalam kelompoknya.

b. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk saling belajar

sambil bermain.

c. Selain membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan tertentu,

model scramble juga dapat memupuk rasa solidaritas dalam kelompok.

d. Materi yang diberikan melalui salah satu model permainan biasanya

mengesankan dan sulit dilupakan.

e. Sifat kompetitif dalam model ini dapat mendorong siswa berlomba-

lomba untuk maju.

Sedangkan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe scramble

adalah:

a. Model pembelajaran kooperatif tipe scramble ini biasanya menimbulkan

suara gaduh.

23
b. Terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang

panjang sehingga guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang telah

ditentukan.

c. Memungkinkan siswa untuk mencotek jawaban teman yang lain.

D. Hipotesis penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

“Ada pengaruh yang signifikan pada model pembelajaran kooperatif tipe

scramble terhadap kemampuan pemahaman matematis dalam pembelajaran

matematika pada siswa SMP N 6 Kupang Tengah kelas VII tahun ajaran

2019/2020”.

24

Anda mungkin juga menyukai