BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kemampuan Pemahaman Matematis
Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami suatu objek atau
subjek pembelajaran. Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta,
melainkan berkaitan dengan kemampuan menjelaskan, menerangkan,
menafsirkan, atau kemampuan menangkap makna atau arti konsep.
Kemampuan dalam bidang pemahaman ini dapat berupa kemampuan
menerjemahkan, menafsirkan, atau kemampuan ekstrapolasi. Kemampuan
menerjemah, yaitu kesanggupan untuk menjelaskan makna yang terkandng
dalam sesuatu. Kemampuan menafsirkan dapat berupa kemampuan melanjut
atau memprediksi sesuatu berdasarkan fakta atau pola yang sudah ada. Dan
kemampuan ektrapolasi, yaitu kemampuan untuk melihat dibalik hal-hal yang
tersirat atau tersurat (Susetyo, 2015).
Pemahaman adalah kedalaman kognitif dan efektif yang dimiliki oleh
individu. Abidin mengemukakan bahwa pemahaman merupakan kemampuan
menerangkan dan menginterpretasikan sesuatu. Pemahaman bukan sekedar
mengetahui atau sebatas mengingat kembali pengalaman dan mengemukakan
ulang apa yang telah dipelajari. Pemahaman lebih dari sekedar mengetahui atau
mengingat fakta-fakta yang terpisah-pisah tetapi pemahaman melibatkan
proses mental yang dinamis sehingga benar-benar tercapai belajar bermakna.
9
Dengan kata lain siswa memahami dengan benar materi pelajaran yang
diterimanya, misalnya ia mampu menyusun kalimat yang berbeda dengan
kandungan makna sama, mampu menerjemahkan atau menginterpretasikan ,
mengeksplorasi, melakukan apliksi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dalam
tingkatan ini individu mengetahi cara menggunakan idenya dalam
berkomunikasi, tidak hanya sekedar mengetahui suatu informasi tetapi juga
mengetahui keobjektifan dan makna yang terkandung dari informasi tersebut
(Heris Hendriana, 2017).
Pemahaman matematis diterjemahkan dari istilah mathematical
understanding merupakan kemampuan matematis yang sangat penting dan
harus dimiliki siswa dalam belajar matematika. Rasional pentingnya pemilikan
kemampuan pemahaman matematis diantaranya adalah kemamuan tersebut
tercantum dalam tujuan pembelajaran matematika Kurikulum Matematika SM
(KTSP 2006 dan Kurikulum 2013) dan dalam NCTM. Pernyataan tersebut juga
sesuai dengan pendapat Hudoyo yang menyatakan: “Tujuan mengajar
matematika adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta
didik”. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa
kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan dipahami
sepenuhnya oleh siswa.
Pentingnya pemilikan pemahaman oleh siswa juga dikemukakan oleh
Santrock bahwa pemahaman konsep adalah aspek kunci dari pembelajaran.
Demikian pula, pemahaman matematis merupakan landasan yang penting
untuk berpikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan matematika maupun
10
masalah kehidupan nyata. Selain itu, kemampuan pemahaman matematis
sangat mendukung pada pengembangan kemampuan matematis lainnya, yaitu
komunikasi, pemecahan masalah, penalaran, koneksi, representasi, berpikir
kritis dan berpikir kreatif matematis serta kemampuan matematis lainnya.
Pendapat serupa dikemukakan Wiharno bahwa kemampuan matematis
merupakan suatu kekuatan yang harus diperhatikan selama proses
pembelajaran matematika, terutama untuk memperoleh pengetahuan
matematika yang bermakna.
Beberapa pakar mengemukakan jenis dan tingkat pemahaman
matematis sebagai berikut. Skemp menyatakan bahwa terdapat dua jenis
kemampuan pemahaman yaitu: a) pemahaman instrumental yang artinya hafal
sesuatu secara tepisah atau dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan
rutin/sederhana, megerjakan sesuatau secara algoritmik. Pada pemahaman ini
siswa hanya menghafal rumus dan mengikuti urutan pengerjaan dan algoritma
saja; dan b) Pemahaman relasional yang berarti dapat melakukan perhitungan
secara bermakna pada permasalahan-permasalahan yang lebih luas, termuat
skema atau struktur yang dapat digunakan pada penyelesaian yang memuat
masalah yang lebih luas, dapat mengaitkan suatu konsep/prinsip lainnya dan
sifat pemakaiannya lebih bermakna.
Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman yaitu: a) pemahaman
komputasional yang setara dengan pemahaman instrumental dari Skemp yaitu
dapat menerapkan konsep atau rumus pada perhitungan rutin/sederhana, atau
mengerjakan sesuatau secara algoritmik saja; b) Pemahaman fungsional yang
11
serupa dengan pemahaman relasional dari Skemp, yaitu dapat mengaitkan
suatu konsep dengan konsep lainnya secara benar dan menyadari proses yang
dilakukan.
Ruseffendi mengemukakan terdapat tiga macam pemahaman sebagai
berikut: a) Pengubahan (translation) yaitu mengubah satu persamaan menjadi
suatu grafik, mengubah soal bentuk kata-kata atau menyatakan suatu situasi
menjadi bentuk simbol atau sebaliknya; b) Interpretasi (interpretation) yaitu
menggunakan konsep-konsep yang tepat dalam menyelesaikan soal,
mengartikan suatu kesamaan, dan c) Ekstrapolasi (extrapolation), yaitu
menerapkan konsep-konsep dalam perhitungan matematis, dan memperkirakan
kecenderungan suatu diagram.
Depdiknas merinci kemampuan pemahaman sebagai berikut: a)
Menyatakan ulang sebuah konsep; b) Mengklasifikasikan objek-objek menurut
sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya; c) Memberi contoh dan bukan
contoh dari konsep; d) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis; e) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; f)
Menggunakan, memanfaatkan, dan memililih prosedur atau operasi tertentu; g)
Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan matematis.
Indikator pemahaman matematis adalah sebagai berikut :
a) Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan.
b) Mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh.
c) Menggunakan model dan simbol-simbol untuk merepresentasikan
suatu konsep.
12
d) Mengubah suatu bentuk representatif ke bentuk representasi
lainnya
e) Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep
f) Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat
yang menentukan suatu konsep.
g) Membandingkan dan membedakan konsep.
h) Mengidentifikasi keterkaitan antara konsep yang dipelajari(Heris
Hendriana, 2017)
Berdasarkan urian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan
pemahaman matematis merupakantingkat kemampuan yang mengarharapkan
seseorang mampu memahami suatu kompetensi dasar dalam belajar
matematika yang meliputi: kemampuan menyerap suatu materi, mengingat
rumus dan konsep matematika serta menerepkannya dalam kasus sederhana
atau kasus serupa, memperkirakan kebenaran suatu pernyataan, dan
menerapkan rumus atau teorema dalam penyelesaian masalah.
B. Model pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian
Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar
yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Slavin mengemukakan bahwa cooperative learning atau
pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa
belajar dan bekerja secara kolaboratif dalam suatu kelompok kecil yang
13
terdiri atas 4-5 orang siswa dengan struktur kelompok heterogen.
Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan prestasi akademis,
keterampilan sosial, dan menanamkan toleransi dan penerimaan terhadap
keanekaragaman individu(Slavin R.E, 2009).
Pembelajaran kooperatif berarti bekerjasama untuk mencapai tujuan
bersama. Dalam suasana kooperatif, setiap anggota sama-sama berusaha
mencapai hasil yang nantinya bisa dirasakan oleh semua anggota kelompok.
Dalam konteks pengajaran, pembelajaran kooperatif seringkali didefinisikan
sebagai pembentukan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari siswa-
siswa yang dituntut untuk bekerja sama dan saling meningkatkan
pembelajarannya dan pembelajaran siswa-siswa lain(Huda, 2011).
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai
enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras atau suku berbeda. Sistem penilaian dilakukan terhadap
kelompok, tiap kelompok akan mendapat penghargaan yang berbeda
tergantung hasil belajar masing-masing kelompok (Salamah, 2018)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan sisa dala
kelompok-kelompok kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari
siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki
dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan
bekerjasama mempelajari materi pelajaran agar semua anggota maksimal.
14
2. Unsur-unsur Dasar dalam Pembelajaran Kooperatif
Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut (Isjoni, 2009):
a. Para siswa harus memiliki presepsi bahwa mereka “tenggelam atau
berenang bersama”.
b. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain
dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri
dalam mempelajari materi yang dihadapai;
c. Para siswa harus berpendapat bahwa mereka semua memiliki
tujuan yang sama;
d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab diantara
anggota kelompok;
e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan
ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok;
f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh
keterampilan bekerja sama selama belajar;
g. Setiap siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model
pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Positive interpendence (saling ketergantungan positif)
Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada
dua pertanggung jawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan
15
yang ditugaskan dalam kelompok. Kedua, menjamin semua
anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang
ditugaskan tersebut.
2) Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)
Pertanggung jawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran
terhadap keberhasilan kelompok. Tujuan pembelajaran kooperatif
adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang
kuat. Tanggung jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin
semua anggota yang diperkuat oleh keinginan untuk belajar
bersama. Artinya, setelah mengikuti kelompok belajar bersama,
anggota kelompok harus dapat menyelesikan tugas yang sama.
3) Face to face promotiveinteraction (interaksi promotif)
Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling
ketergantungan positif. Ciri-cirinya adalah saling membantu secara
efektif dan efisien, saling memberikan informasi dan sarana yang
diperlukan, memproses informasi bersama secara lebih efektif dan
efisien, saling mengingatkan, saling membantu dalam merumuskan
dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan
wawasan terhadap masalah yang dihadapi, saling percaya, saling
memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.
4) Interpersonal skill (komunikasi antar anggota)
Untuk mengkoordinasi kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan
adalah siswa harus saling mengenal dan mempercayai, mampu
16
berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, saling menerima
dan saling mendukung, serta mampu menyelesaikan konflik secara
konstruksi.
5) Group processing (pemrosesan kelompok)
Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan
kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan
kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Siapa diantara
anggota kelompok yang sangat membantu dan yang tidak
membantu. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan
efektifitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan
kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok. Ada dua tingkat
pemrosesan yaitu kelompok kecil dan kelas secara keseluruhan.
3. Aspek-aspek Pembelajaran Kooperatif
Beberapa aspek pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Tujuan
Semua siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil
(sering kali beragam/ability grouping/heterogenous group) dan
diminta untuk: 1) mempelajari materi tertentu dan 2) saling
memastikan semua anggota kelompok juga mempelajari materi
tersebut.
b. Level kooperatif
Kerja sama dapat diterapkan dalam kelas (dengan cara
memastikan semua siswa di ruang kelas benar-benar mempelajari
17
materi yang ditugaskan) dan level sekolah (dengan cara
memastikan bahwa semua siswa disekolah benar-benar mengalami
kemajuan secara akademik).
c. Pola interaksi
Setiap siswa saling mendorong kesuksesan antar satu sama lain.
Siswa mempelajari materi pembelajaran bersama siswa lain, saling
menjelaskan cara menyelesaikan tugas pembelajaran, saling
menyimak penjelasan masing-masing, saling mendorong untuk
bekerja keras, dan saling memberi bantuan akademik jika ada yang
membutuhkan. Pola interaksi ini muncul di dalam dan diantara
kelompok-kelompok kooperatif.
d. Evaluasi
Sistem evaluasi didasarkan pada kriteria tertentu. Penekanannya
biasanya terletak pada pembelajaran dan kemajuan akademik setiap
siswa, bisa pula difokuskan pada setiap kelompok, semua siswa,
ataupun sekolah.
Pembelajaran kooperatif dirancang tujuannya untuk melibatkan
pelajar secara aktif dalam proses pembelajaran melanjutkan perbincangan
dengan teman-teman dalam kelompk kecil. Ia memerlukan siswa bertukar
pendapat, memberi tanya jawab serta mewujudkan serta membina proses
penyelesaian kepada suatu masalah. kajian eksperimental dan deskriptif
yang dijalankan mendukung pendapat yang mengatakan pembelajaran
kooperatif dapat memberikan hasil yang positif kepada siswa(Isjoni, 2009).
18
C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble
1. Pengetian
Scramble merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif
dengan soal yang disajikan dalam bentuk kartu dan bisa juga disebut dengan
sebuah permainan. Model pembelajaran scramble adalah model
pembelajaran yang menggunakan penekanan pada latihan dan menggunakan
kartu soal dan kartu jawaban yang dikerjakan secara berkelompok. Setiap
anggota kelompok harus berpartisipasi agar dapat mencocokan setiap kartu
soal dan kartu jawaban sebelum waktu yang ditetapkan selesai(Mardiah,
2017)
Scramble merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang
dapat meningkatkan konsentrasi dan kecepatan berpikir peserta didik.
Model ini mengharuskan peserta didik untuk menggabungkan otak kiri dan
otak kanan. Mereka tidak hanya diminta untuk menjawab soal, tetapi juga
mereka dengan cepat menjawab soal yang sudah tersedia namun masih
dalam kondisi acak(Miftahul Huda, 2014).
Scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk
menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahanyang ada dengan
cara membagikan lembar soal yang lembar jawaban yang disertai dengan
alternatif jawaban yang tersedia(Shoimin, 2014).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif tipe scramble adalah sebuah model yang menggunakan
19
penekanan latihan soal berupa permainan pencocokan kartu soal dan kartu
jawaban yang dikerjakan secara kelompok. Dalam model pembelajaran ini,
perlu adanya kerja sama antar anggota kelompok untuk saling membantu
teman sekelompok dapat berpikir kritis sehingga dapat lebih mudah mencari
penyelesaian soal.
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipeScramble
langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe scrambleada
beberapa tahap antara lain(Burhanudin, 2017):
1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik.
2. Menyajikan informasi.
3. Mengorganisasikan peserta didik kedalam kelompok-kelompok belajar,
selanjutnya memberikan kartu soal dan kartu jawaban kepada kelompok.
4. Mengerjakan kartu soal secara berkelompok.
5. Memberi penghargaan.
6. Evaluasi.
Langkah-langkah pembelajarannya adalah:
a. Persiapan
Pada tahap ini guru menyiapkan bahan dan media yang akan digunakan
dalam pembelajaran. Media yang digunakan berupa kartu soal dan kartu
jawaban yang telah diacak sedemikian rupa. Guru menyiapkan kartu-
kartu sebanyak kelompok yang telah dibagi. Guru mengatur hal-hal
yang mendukung proses belajar mengajar misalnya mengatur tempat
20
duduk sesuai kelompok yang telah dibagi atau memeriksa kesiapan
siswa belajar dan sebagainya.
b. Kegiatan inti
Kegiatan dalam tahap ini adalah setiap kelompok melakukan diskusi
untuk mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang
cocok. sebelumnya jawaban diacak sedemikian rupa. Guru melakukan
diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengar pertanggung
jawaban dari setiap kelompok kecil atas hasil kerja yang telah disepakati
dalam masing-masing kelompok kemudian membandingkan dengan
mengkaji jawaban yang tepat dan logis.
c. Tindak lanjut
Kegiatan tindak lanjut tergantung dari hasil belajar siswa. Contoh
kegiatan tindak lanjut antara lain:
Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dengan
bahan yang berbeda.
Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli, jika terdapat
susunan yang tidak memperlihatkan kelogisan.
Membetulkan kesalahan-kesalahan yang mungkin ditemukan
dalam teks latihan.
Sejalan dengan itu, terdapat juga fase-fase pembelajaran kooperatif tipe
scramble yang dijelaskan sebagai berikut:
21
Tabel 2.1
Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble
Fase Tingkah Laku Guru Langkah-langkah
Scramble
Fase 1 Guru menyampaikan semua Guru menyampaikan
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin tujuan pembelajaran
tujuan dan dicapai pada pembelajaran yang akan dicapai dan
memotivasi tersebut dan memotivasi memberikan motivasi
siswa siswa belajar kepada siswa tentang
perlunya mempelajari
materi ini
Fase 2 Guru menyajikan informasi Guru menyampaikan
Menyajikan kepada siswa dengan jalan materi
informasi demonstrasi atau lewat bahan
bacaan
Fase 3 Memberikan penjelasan Mengorganisir siswa
Mengorganisas kepada siswa tentang tata kedalam kelompok
ikan kelompok cara pembentukan kelompok belajar
belajar belajar dan membentuk
kelompok melakukan transisi
yang efisien
Fase 4 Guru membimbing kelompok Guru membagikan kartu
Membimbing belajar saat mereka soal dan kartu jawaban
kelompok mengerjakan tugas mereka kepada masing-masing
bekerja dan kelompok sebagai pilihan
belajar jawaban soal-soal pada
kartu soal
Fase 5 Guru mengevaluasi hasil Masing-masing
Evaluasi belajar tentang materi yang kelompok mengerjakan
telah dipelajari atau masing- kartu soal dan mencari
masing kelompok kartu jawaban untuk
mempresentasikan hasil setiap soal pada kartu
kerjanya soal serta dengan
mengevaluasi hasil kerja
Fase 6 Guru mencari cara-cara untuk Guru memberikan point
Memberikan mengahargai baik upaya bagi siswa yang
penghargaan maupun hasil belajar individu menjawab benar dan bagi
22
dan kelompok siswa yang menjawab
salah guru memberi
motivasi agar tidak putus
asa
(Gustrisnasih, 2017)
3. Kelebihan dan Kekurangan dalam Penerapan Scramble
Model pembelajaran koopertaif tipe scramble memiliki kelebihan dan
kekurangan. Adapun kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe
scramble diantaranya(Shoimin, 2014):
a. Setiap anggota bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan
dalam kelompoknya.
b. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk saling belajar
sambil bermain.
c. Selain membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan tertentu,
model scramble juga dapat memupuk rasa solidaritas dalam kelompok.
d. Materi yang diberikan melalui salah satu model permainan biasanya
mengesankan dan sulit dilupakan.
e. Sifat kompetitif dalam model ini dapat mendorong siswa berlomba-
lomba untuk maju.
Sedangkan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe scramble
adalah:
a. Model pembelajaran kooperatif tipe scramble ini biasanya menimbulkan
suara gaduh.
23
b. Terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang
panjang sehingga guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang telah
ditentukan.
c. Memungkinkan siswa untuk mencotek jawaban teman yang lain.
D. Hipotesis penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
“Ada pengaruh yang signifikan pada model pembelajaran kooperatif tipe
scramble terhadap kemampuan pemahaman matematis dalam pembelajaran
matematika pada siswa SMP N 6 Kupang Tengah kelas VII tahun ajaran
2019/2020”.
24