0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan32 halaman

LP PKKMB R. Rengasdengklok - Rika

Dokumen ini membahas tentang Diabetes Melitus (DM), termasuk pengertian, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan, dan patofisiologi. DM adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kelainan sekresi atau kerja insulin. Penatalaksanaan meliputi edukasi, terapi nutrisi, aktivitas fisik, dan farmakologi untuk mengontrol penyakit dan mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

Khoerudin Ganteng
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan32 halaman

LP PKKMB R. Rengasdengklok - Rika

Dokumen ini membahas tentang Diabetes Melitus (DM), termasuk pengertian, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan, dan patofisiologi. DM adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kelainan sekresi atau kerja insulin. Penatalaksanaan meliputi edukasi, terapi nutrisi, aktivitas fisik, dan farmakologi untuk mengontrol penyakit dan mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

Khoerudin Ganteng
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

DIAGNOSA
DIABETES MELITUS DI RUANG RENGASDENGKLOK RSUD
KARAWANG

Disusun Oleh :

RIKA RAHMI RAHAYU


4112714901250088

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS HORIZON INDONESIA
Jl. Pangkal Perjuangan, KM 1 By Pass Karawang
2025/2026
A. Pengertian
American Diabetes Association (2016) menyatakan
bahwa Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik
ditandai dengan hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes
Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang
mengatur gula darah) atau ketika tubuh tidak dapat secara
aktif menggunakan insulin yang dihasilkan (World Health
Organization, 2016. Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan
kronis yang terjadi ketika adanya peningkatan kadar glukosa
darah karena tubuh yang tidak dapat mengunakan insulin
secara efektif atau tidak menghasilkan cukup hormon insulin
(International Diabetes Federation, 2017).

B. Etiologi
Menurut Padila (2012), etiologi diabetes melitus adalah :
1. Diabetes Tipe 1
a. Faktor genetik
Pasien diabetes sendiri tidak mewarisi diabetes tipe 1
dengan sendirinya, tetapi mewarisi suatu predisposisi
atau kerentanan genetik dari diabetes tipe 1, dan
kerentanan genetik ini ada pada individu dengan
antigen tipe HLA.
b. Faktor-fakror imunologi
Terdapat reaksi autoimun yang merupakan reaksi
abnormal di mana antibodi secara langsung terarah
pada jaringan manusia normal dengan bereaksi
terhadap jaringan yang dianggap sebagai benda asing
yaitu autoantibodi terhadap sel pulau Langerhans dan
insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Toksin atau virus tertentu yang dapat memicu proses
autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

2. Diabetes Tipe 2
Mekanisme pasti yang menyebabkan resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum
jelas. Faktor genetik berperan dalam perkembangan
resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga

C. Manifestasi klinis
Menurut Febrinasari et al (2020), manifestasi klinis diabetes melitus
adalah:
1. Poliuria (sering kencing)
2. Polidipsia (sering merasa haus)
3. Polifagia (sering merasa lapar)
4. Penurunan berat badan yang tidak
diketahui penyebabnya. Selain hal-hal
tersebut, gejala lain adalah:
1. Mengeluh lemah dan kurang energi
2. Kesemutan di tangan atau kaki
3. Mudah terkena infeksi bakteri atau jamur
4. Gatal
5. Mata kabur
6. Penyembuhan luka yang lama.

Manifestasi klinis diabetes melitus menurut (Riyadi, 2011) adalah :


1. Tipe IDDM seperti :
a. Poliuria, polipagia, polidipsia, BB menurun, lemah,
dan somnolen berlangsung beberapa hari atau minggu.
b. Ketoasidosis dan dapat meninggal jika tidak segera ditangani.
c. Biasanya memerlukan terapi insulin untuk mengontrol
karbohidrat.
2. Tipe NIIDM seperti :
a. Jarang menunjukkan gejala klinis
b. Diagnosis didasarkan pada tes darah laboratorium dan
tes toleransi glukosa.
c. Hiperglikemia berat, poliuria, poliuria, kelemahan dan kelesuan.
d. Jarang menderita ketoasidosis.

D. Komplikasi
Komplikasi diabetes melitus sangat mungkin terjadi
dan bisa menyerang seluruh organ tubuh. Apabila kadar gula
darah tidak dikendalikan maka akan terjadi komplikasi baik
jangka pendek (akut) maupun jangka panjang (kronis).
Menurut Febrinasari et al (2020) komplikasi diabetes melitus ada 2
(dua) yaitu
1. Komplikasi diabetes melitus akut
Komplikasi diabetes akut dapat disebabkan oleh dua hal,
yaitu naik turunnya kadar gula darah secara drastis.
Keadaan ini membutuhkan perhatian medis segera,
karena jika terlambat dapat menyebabkan hilangnya
kesadaran, kejang dan kematian. Terdapat 3 macam
komplikasi diabetes melitus akut:
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kondisi dimana
turunnya kadar gula darah secara drastis akibat
terlalu banyak insulin dalam tubuh, terlalu banyak
mengonsumsi obat penurun gula darah, atau
terlambat makan. Gejala berupa penglihatan kabur,
detak jantung cepat, sakit kepala, gemetar,
berkeringat dingin dan pusing. Kadar gula darah
yang terlalu rendah dapat menyebabkan pingsan,
kejang, bahkan koma.
b. Ketosiadosis diabetik (KAD)
Ketosiadosis diabetik merupakan keadaan
darurat medis yang disebabkan oleh kadar gula darah
yang tinggi. Ini merupakan komplikasi penyakit
diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat
menggunakan gula atau glukosa sebagai sumber
bahan bakar, sehingga tubuh mengolah lemak dan
menghasilkan keton sebagai sumber energi.

Jika tidak segera mencari pertolongan medis, kondisi


ini dapat menyebabkan penumpukan asam yang
berbahaya di dalam darah, sehingga dapat
menyebabkan dehidrasi, koma, sesak napas, bahkan
kematian.
c. Hyperosmolar hyperglycemic state (HHS)
Situasi ini juga merupakan salah satu situasi
darurat, dan tingkat situasi ini juga merupakan salah
satu situasi darurat dimana angka kematian mencapai
20%. Terjadinya HHS disebabkan oleh peningkatan
mortalitas sebesar 20%. HHS terjadi karena lonjakan
kadar glukosa darah yang sangat tinggi selama
periode waktu tertentu. Gejala HHS ditandai dengan
rasa haus, kejang, kelemahan dan gangguan
kesadaran yang menyebabkan koma. Selain itu,
penyakit diabetes yang tidak terkontrol juga dapat
menyebabkan komplikasi serius lainnya yaitu
hiperglikemia non ketosis dan sindrom
hiperglikemia. Komplikasi akut diabetes adalah
kondisi medis serius yang memerlukan perawatan
dan pemantauan oleh dokter di rumah sakit.
2. Komplikasi diabetes melitus kronis
Seringkali komplikasi jangka panjang secara
bertahap terjadi saat diabetes tidak terkontrol dengan
baik. Tinggi kadar gula darah yang tidak terkontrol dari
waktu ke waktu akan menyebabkan kerusakan serius
pada semua organ tubuh Beberapa komplikasi jangka
panjang pada penyakit diabetes melitus menurut
Febrinasari et al., 2020 yaitu:
a. Gangguan pada mata (retinopati diabetik)
Tingginya kadar gula darah bisa membahayakan
pembuluh darah di retina yang berpotensial
menyebabkan kebutaan. Kerusakan pembuluh darah
di mata juga meningkatkan risiko gangguan
penglihatan, seperti katarak dan glaukoma. Deteksi
dini dan pengobatan retinopati dapat dicegah atau
ditunda secepat mungkin kebutaan. Dorong penderita
diabetes menjalani pemeriksaan mata secara teratur.

b. Kerusakan ginjal (nefropati diabetik)


Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM disebut
dengan nefropati diabetik. Situasi ini bisa
menyebabkan gagal ginjal dan bahkan bisa
mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan
baik. Saat terjadi gagal ginjal, pasien harus
melakukan dialisis rutin atau transplantasi ginjal.
Dikatakan bahwa diabetes adalah silent killer, karena
biasanya tidak menimbulkan gejala khas pada tahap
awal. Namun, pada stadium lanjut, gejala seperti
anemia, kelelahan, pembengkakan pada kaki, dan
gangguan elektrolit dapat terjadi. Diagnosis dini,
kontrol gula darah dan tekanan darah, manajemen
pengobatan pada tahap awal kerusakan ginjal, dan
membatasi asupan protein adalah cara yang bisa
dilakukan dalam menghambat perkembangan
diabetes yang menyebabkan gagal ginjal.
c. Kerusakan saraf (neuropati diabetik)
Diabetes juga dapat merusak pembuluh darah dan
saraf, terutama saraf di kaki. Kondisi ini disebut
neuropati diabetes, ini karena saraf mengalami
kerusakan baik secara langsung akibat tingginya gula
darah, maupun karena penurunan aliran darah
menuju saraf. Rusaknya saraf dapat menyebabkan
gangguan sensorik dengan gelaja berupa mati rasa,
kesemutan, dan nyeri. Kerusakan saraf juga bisa
mempengaruhi saluran pencernaan (gastroparesis).
Gejalanya berupa mual, muntah dan cepat merasa
kenyang saat makan. Pada pria, komplikasi diabetes
bisa menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi.
Komplikasi ini dapat dicegah dan penundaan hanya
bila diabetes terdeteksi sejak dini agar kadar gula
darah bisa terkontrol melalui pola makan dan gaya
hidup sehat dan minum obat yang sesuai
rekomendasi dokter.
d. Masalah kaki dan kulit
Komplikasi yang juga sangat umum adalah masalah
kulit dan luka pada kaki yang sulit sembuh. Ini
karena kerusakan pembuluh darah dan saraf serta
aliran darah kaki yang sangat terbatas. Gula darah
yang tinggi bisa

mempermudah bakteri dan jamur berkembang biak.


Selain itu, akibat diabetes, kemampuan tubuh untuk
menyembuhkan dirinya sendiri juga berkurang. Jika
tidak dirawat dengan baik, kaki penderita diabetes
berisiko mengalami cedera dan infeksi, yang dapat
menyebabkan gangren dan ulkus diabetes. Perawatan
luka di kaki penderita diabetes adalah dengan
memberi antibiotik, perawatan luka yang baik,
hingga dapat diamputasi jika jaringan rusak ini sudah
parah.
e. Penyakit kardiovaskular
Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan
rusaknya pembuluh darah sehingga seluruh sirkulasi
darah tersumbat termasuk jantung. Komplikasi yang
menyerang jantung dan pembuluh darah yaitu
penyakit jantung, stroke, serangan jantung dan
penyempitan arteri (aterosklerosis).

E. Penatalaksanaan
Menurut Putra, I. W. A., & Berawi (2015)
penatalaksanaan diabetes melitus dikenal dengan 4 pilar
penting dalam mengontrol perjalanan penyakit dan
komplikasi. Empat pilar tersebut adalah:
1. Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pahami perjalanan
penyakitnya, pentingnya pengendalian penyakit,
komplikasi dan resikonya, pentingnya intervensi obat dan
pemantauan glukosa darah, bagaimana menangani
hipoglikemia, kebutuhan latihan fisik teratur, dan metode
menggunakan fasilitas kesehatan. Mendidik pasien
bertujuan agar pasien bisa mengontrol gula darah dan
kurangi komplikasi serta meningkatkan keterampilan
perawatan diri sendirian. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi
pada saat gaya hidup dan perilaku terbentuk kuat. Petugas
kesehatan mendampingi pasien dan memberikan
pendidikan dalam upaya meningkatkan motivasi dan
perubahan perilaku.

Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dengan


memberikan edukasi antara lain: Penderita diabetes bisa
hidup lebih lama dalam kebahagiaan karena kualitas
hidup sudah menjadi kebutuhan seseorang, membantu
penderita diabetes bisa merawat diri sendiri sehingga
kemungkinan komplikasi dapat dikurangi, kselain itu
jumlah hari sakit bisa ditekan, meningkatkan
perkembangan penderita diabetes, sehingga bisa
berfungsi normal dan manfaatkan sebaik-baiknya.
2. Terapi nutrisi
Perencanaan makan yang bagus merupakan bagian
penting dari manajemen diabetes yang komprehensif.
Diet keseimbangan akan mengurangi beban kerja insulin
dengan meniadakan pekerjaan insulin dalam mengubah
gula menjadi glikogen. Keberhasilan terapi ini melibatkan
dokter, perawat, ahli gizi, pasien itu sendiri dan
keluarganya. Intervensi nutrisi bertujuan untuk
menurunkan berat badan dan memperbaiki gula darah dan
lipid darah pada pasien diabetes yang kegemukan dan
menderita morbiditas. Penderita diabetes dan kegemukan
akan memiliki resiko yang lebih tinggi daripada mereka
yang hanya kegemukan.
3. Aktifitas fisik
Kegiatan fisik setiap hari latihan fisik teratur (3-4
kali seminggu sekitar 30 menit), adalah salah satu pilar
pengelolaan DMT2. Aktivitas sehari-hari seperti berjalan
kaki ke pasar, naik turun tangga, dan berkebun tetap
harus dilakukan untuk menjaga kesehatan, menurunkan
berat badan, dan memperbaiki sensitivitas insulin.
Latihan fisik dianjurkan yaitu berupa senam aerobik
seperti jalan kaki, bersepeda, jogging, dan berenang,
sebaiknya latihan fisik disesuaikan dengan umur dan
status kesegaran. Bagi mereka yang relatif sehat, dapat
meningkatkan intensitas latihan fisik, dan mereka yang
mengalami komplikasi diabetes dapat dikurangi.
4. Farmakologi
Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan
diet dan latihan fisik (gaya hidup sehat). Pengobatan
termasuk dari obat-obatan oral dan suntikan.

Obat hipoglikemik oral berdasarkan cara kerjanya, OHO


dibagi menjadi 5 golongan: Memicu sekresi insulin
sulfonylurea dan glinid, peningkatan metformin insulin
dan thiazolidinone, penghambat glukoneogenesis,
penghambat penyerapan glukosa: penghambat
glukosidase, penghambat [Link]-IV inhibitor
pertumbuhan dan status gizi, usia, stres akut dan latihan
fisik untuk mencapai dan mempertahankan berat badan
yang ideal. Total kalori yang dibutuhkan dihitung
berdasarkan berat tubuh ideal dikalikan dengan
kebutuhan kalori dasar (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki
dan 25 Kkal/kg BB untuk wanita). Lalu tambahkan kalori
yang dibutuhkan untuk aktivitas (10-30% atlet dan
pekerja berat bisa lebih banyak lagi, sesuai dengan kalori
yang dikeluarkan). Makanan berkalori berisi tiga
makanan utama pagi (20%), sore (30%) dan malam
(25%) dan 2-3 porsi (makanan
ringan 10-15%).

F. Patofisiologi dan pathway


Pada diabetes tipe 2 tedapat dua masalah utama yang
berhubungan dengan insulin yaitu: resistensi dan gangguan
sekresi insulin. Kedua masalah inilah yang menyebabkan
GLUT dalam darah aktif (Brunner & Suddarth, 2015).
Glukose Transporter (GLUT) yang merupakan senyawa asam
amino yang terdapat di dalam berbagai sel yang berperan
dalam proses metabolisme glukosa. Insulin mempunyai tugas
yang sangat penting pada berbagai proses metabolisme dalam
tubuh terutama pada metabolisme karbohidrat. Hormon ini
sangat berperan dalam proses utilisasi glukosa oleh hampir
seluruh jaringan tubuh, terutama pada otot, lemak dan hepar.
Pada jaringan perifer seperti jaringan otot dan lemak, insulin
berikatan dengan sejenis reseptor (insulin receptor substrate)
yang terdapat pada membrane sel tersebut. Ikatan antara
insulin dan reseptor akan menghasilkan semacam sinyal yang
berguna bagi proses metabolisme glukosa di dalam sel otot
dan lemak, meskipun mekanisme kerja yang sesungguhnya
belum begitu jelas. Setelah berikatan, transduksinya berperan
dalam meningkatkan kuantitas GLUT-4 (Manaf A, 2010).

Proses sintesis dan transaksi GLUT-4 inilah yang


bekerja memasukkan glukosa dari ekstra ke intrasel untuk
selanjutnya mengalami metabolisme. Untuk menghasilkan
suatu proses metabolisme glukosa normal, selain diperlukan
mekanisme serta dinamika sekresi yang normal, dibutuhkan
pula aksi insulin yang berlangsung normal. Rendahnya
sensitivitas atau tingginya resistensi jaringan tubuh terhadap
insulin merupakan salah satu faktor etiologi terjadinya
diabetes, khususnya diabetes melitus tipe 2 (Manaf A, 2010).
Diabetes melitus tipe 2 terjadi karena sebetulnya
insulin tersedia, tetapi tidak bekerja dengan baik dimana
insulin yang ada tidak mampu memasukkan glukosa dari
peredaran darah untuk ke dalam sel-sel tubuh yang
memerlukannya sehingga glukosa dalam darah tetap tinggi
yang menyebabkan terjadinya hiperglikemia (Soegondo,
2010). Hiperglikemia terjadi bukan hanya disebabkan oleh
gangguan sekresi insulin (defisiensi insulin), tapi pada saat
bersamaan juga terjadi rendahnya respons jaringan tubuh
terhadap insulin (resistensi insulin). Defisiensi dan resistensi
insulin ini akan memicu sekresi hormon glukagon dan
epinefrin. Glukagon hanya bekerja di hati. Glukagon mula-
mula meningkatkan glikogenolisis yaitu pemecahan glikogen
menjadi glukosa dan kemudian meningkatkan
glukoneogenesis yaitu pembentukan karbohidrat oleh protein
dan beberapa zat lainnya oleh hati. Epinefrin selain
meningkatkan glikogenolisis dan glukoneogenesis di hati juga
menyebabkan lipolisis di jaringan lemak serta glikogenolisis
dan proteolisis di otot. Gliserol, hasil lipolisis, serta asam
amino (alanin dan aspartat) merupakan bahan baku
glukoneogenesis hati.
Faktor atau pengaruh lingkungan seperti gaya hidup
atau obesitas akan mempercepat progresivitas perjalanan
penyakit. Gangguan metabolisme glukosa akan berlanjut pada
gangguan metabolisme lemak dan protein serta proses
kerusakan berbagai jaringan tubuh (Manaf A, 2010).
Pathway

Diabetes melitus Diabetes melitus Diabetes melitus


tipe 1
Ge Obesitas, gaya
hidup tidak sehat, Pengeluaran hormone
estrogen, progesterone
Kerusakan sel beta Retensi dan hormone

Hiperglike Resiko
ketidakstabilan
Menyerang
kulit dan infeksi
jaringan subkutan
Menyerang
secara sistemik
Mekanisme radang

Akselerasi Edem Kurang Luka


deakselerasi a informasi tentang terkontamina
saraf jaringan penyakit dan si
Ny
eri System
Nyeri tekan Mikroorganisme imun
otot menginfeksi dermis berespons
d dgn
an subkutis
Proses fagositosis Reaksi Ag-

Nyeri Eritem
a lokal

Kerusakan L

T Gan
rauma gguan
integrit

Resiko

Sumber : Fatimah
(2015).
G. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
1) Identitas
Di identitas klien meliputi nama, usia, jenis kelamin,
agama, status perkawinan, tanggal MRS, dan
diagnosa medis.
2) Keluhan utama
Pada pasien dengan diabetes melitus biasanya akan
merasakan badannya lemas dan mudah mengantuk
terkadang juga muncul keluhan berat badan turun
dan mudah merasakan haus. Pada pasien diabetes
dengan ulkus diabetic biasanya muncul luka yang
tidak kunjung sembuh.
3) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya hipertensi dan penyakit jantung. Gejala
yang muncul pada pasien DM tidak terdeteksi,
pengobatan yang di jalani berupa kontrol rutin ke
dokter maupun instansi kesehatan terdekat
4) Riwayat kesehatan dahulu
Dalam hal ini yang perlu dikaji yaitu tentang
penyakit apa saja yang pernah diderita. Apakah
pasien pernah mengalami penyakit yang sama
sebelumnya seperti penyakit payudara jinak,
hyperplasia tipikal.
5) Riwayat penyakit keluarga
Muncul akibat adanya keturunan dari keluarga yang
menderita penyakit DM.
6) Pola sehari-hari
1) Persepsi, persepsi pasien ini biasanya akan
mengarah pada pemikiran negative terhadap
dirinya yang cenderung tidak patuh berobat dan
perawatan.
2) Nutrisi, akibat produksi insulin tidak adekuat
atau adanya kurang insulin maka kadar gula
darah tidak bisa dipertahankan sehingga
menyebabkan keluhan sering BAK, banyak
makan, banyak minum, BB menurun dan mudah
lelah. Keadaan tersebut dapat

menyebabkan terjadinya gangguan nutrisi dan


metabolisme yang mempengaruhi status
kesehatan.
3) Eliminasi, adanya hiperglikemia menyebabkan
terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan
pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran
glukosa pada urine (glukosuria). Pada eliminasi
alvi relatif tidak ada gangguan.
4) Tidur/istirahat, Istirahat kurang efektif adanya
poliuri, nyeri pada kaki diabetik, sehingga klien
mengalami kesulitan tidur.
5) Aktivitas dan latihan kelemahan, susah
berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat
dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu
melakukan aktivitas dan bahkan sampai terjadi
koma. Adanya luka gangren dan kelemahan otot-
otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita
tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari
secara maksimal, penderita mudah mengalami
kelelahan.
6) Kognitif persepsi, pasien dengan gangren
cenderung mengalami neuropati/mati rasa pada
luka sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri.
Pengecapan mengalami penurunan, gangguan
penglihatan.
7) Persepsi dan konsep diri, adanya perubahan
fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan
penderita mengalami gangguan pada gambaran
diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan
pengobatan menyebabkan pasien mengalami
kecemasan dan gangguan peran pada keluarga
(self esteem).
8) Peran hubungan, luka gangren yang susah
sembuh dan berbau menjadikan penderita kurang
percaya diri dan menghindar dari keramaian.
9) Seksualitas, menyebabkan gangguan kualitas
ereksi, gangguan potensi seks, adanya
peradangan pada daerah vagina, serta orgasme
menurun dan terjadi impoten pada pria risiko
lebih tinggi terkena kanker prostat berhubungan
dengan nefropati.

10) Koping toleransi, waktu perawatan yang lama,


perjalanan penyakit kronik, tidak berdaya karena
ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis
yang negatif seperti marah, cemas,mudah
tersinggung, dapat mengakibatkan penderita
kurang mampu menggunakan mekanisme
koping yang konstruktif/adaptif.
11) Nilai kepercayaan Perubahan status kesehatan,
turunnya fungsi tubuh dan luka pada kaki tidak
menghambat penderita dalam melakukan ibadah
tetapi mempengaruhi pola ibadahnya
7) Pemeriksaan fisik (Head to Toe)
1) Status kesehatan umum, meliputi keadaan
penderita yang sering muncul adalah kelemahan
fisik.
2) Tingkat kesadaran : normal, letargi, stupor,
koma (tergantung kadar gula yang dimiliki dan
kondisi fisiologis untuk melakukan kompensasi
kelebihan kadar gula dalam darah).
3) Tanda-tanda vital
a) Tekanan darah (TD): biasanya mengalami
hipertensi dan juga ada yang mengalami
hipotensi.
b) Nadi (N): biasanya pasien DM mengalami
takikardi saat beristirahat maupun
beraktivitas.
c) Pernapasan (RR) : biasanya pasien mengalami
takipnea
d) Suhu (S): biasanya suhu tubuh pasien
mengalami peeningkatan jika terindikasi
adanya infeksi.
e) Berat badan: pasien DM biasanya akan
mengalami penuruan BB secara signifikan
pada pasien yang tidak mendapatkan terapi
dan terjadi peningkatan BB jika pengobatan
pasien rutin serta pola makan yang
terkontrol.
4) Kepala dan leher
a) Wajah, inspeksi lihat apakah kulit kepala
dan wajah terdapat lesi, edema atau tidak.
Pada rambut terlihat kotor, kusam dan
kering. Lihat apakah wajah simetris atau
tidak. Palpasi raba dan

tentukan ada benjolan atau tidak di kepala,


tekstur kulit kasar/halus, ada nyeri tekan
atau tidak dan raba juga apakah rambut
halus/kasar maupun adanya kerontokan.
b) Mata, inspeksi lihat bentuk mata simetris,
ada lesi dikelopak mata, amati reaksi pupil
terhadap cahaya isokor/anisokor dan amati
sklera ikterus/tidak. Palpasi raba apakah ada
tekanan intra okuler, kaji apakah ada nyeri
tekan pada mata.
c) Hidung, inspeksi lihat apakah hidung
simetris/tidak, terdapat secret, lesi, adanya
polip, adanya pernafasan cuping hidung,
kaji adanya nyeri tekan pada sinus.
d) Telinga, inspeksi cek apakah telinga
simetris, lesi, serumen/tidak. Palpasi adanya
nyeri tekan pada telinga, apakah telinga
kadang-kadang berdenging, dan tes
ketajaman pendengaran dengan garputala
atau bisikan.
e) Mulut, inspeksi mengamati bibir apakah ada
kelainan kongenital (bibir sumbing),
mukosa bibir pucat kering, jika dalam
kondisi dehidrasi akibat diuresis osmosis
dan kurang bersih, gusi mudah terjadi
pendarahan. Palpasi Apakah ada nyeri tekan
pada daerah sekitar mulut.
f) Leher, inspeksi mengamati adanya bekas
luka, kesimetrisan, ataupun massa yang
abnormal. Palpasi Mengkaji adakah
pembesaran vena jugularis, kelenjar getah
bening dan kelenjar tiroid.
5) Thorax dan paru-paru
Inspeksi bentuk dada simetris atau asimetris,
irama pernapasan, nyeri dada, kaji kedalaman
dan juga suara nafas atau adanya kelainan suara
nafas, tambahan atau adanya penggunaan otot
bantu pernapasan. Palpasi lihat adnya nyeri
tekan atau adanya massa. Perkusi rasakan suara
paru sonor atau hipersonor. Auskultasi,
dengarkan suara paru vesikuler atau
bronkovesikuler.

Gejala: merasa kekurangan oksigen, batuk


dengan atau tanpa sputum purulent (tergantung
adanya infeksi atau tidak).
Tanda: frekuensi pernapasan meningkat dan batuk.
6) Abdomen
Inspeksi, amati kesimetrisan perut, bentuk,
warna dan ada tidaknya lesi. Auskultasi
dengarkan peristaltic usus selama satu menit
(normalnya 5-35 x/menit). Perkusi Suara perut
biasanya timpani (normal). Palpasi Tidak ada
distensi abdomen, dan tidak terdapat nyeri tekan
pada area abdomen.
7) Integument
Kulit biasanya kulit kering atau bersisik, tampak
warna kehitaman disekitar luka karena adanya
gangren, daerah yang sering terpapar yaitu
ekstremitas bagian bawah. Turgor menurun
karena adanya dehidrasi, kuku sianosis, kuku
biasanya berwarna pucat, rambut sering terjadi
kerontokan karena nutrisi yang kurang.
8) Sirkulasi, gejalanya adanya riwayat hipertensi,
klaudikasi, kebas, dan kesemutan pada
ektremitas, ulkus pada kaki dan penyembuhan
lama. Tandanya adanya takikardia, perubahan
tekanan darah postural, hipertensi, disritmia.
9) Genetalia, adanya perubahan pada proses
berkemih, atau poliuria, nokturia, rasanyeri
seperti terbakar pada bagian organ genetalia,
kesulitan berkemih (infeksi).
10) Neurosensori, terjadi pusing, pening, sakit
kepala, kesemutan, kebas pada otot. Tandanya
disorientasi seperti mengantuk, letargi,
stupor/koma (tahap lanjut).

2. Diagnosis keperawatan
a) Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d hiperglikemia ( Resistensi
insulin) (D.0027)
b) Perfusi perifer tidak efektif b.d hiperglikemia (D.0009)
c) Defisit nutrisi b.d peningkatan kebutuhan metabolisme (D.0019)
d) Risiko hipovolemia d.d kehilangan cairan secara aktif (D.0034)
e) Intoleransi aktivitas d.d kelemahan (D.0056)

3. Intervensi
No Diagnosa Keprawatan Tujuan & Kriteria Intervensi
Hasil
Ketidakstabilan Kadar Setelah dilakukan Manajemen
1
Glukosa Darah (D.0027) Tindakan keperawatan hiperglikemia
Berhubungan dengan: selama ......... jam, (I.03115)
Hiperglikemia ketidakstabilan kadar Observasi
● Disfungsi pangkreas glukosa darah ● Identifikasi
meningkat diberi kode
● Resistensi insulin kemungkinan
(L.03029), dengan
penyebab
● Gangguan toleransi kriteria hasil : hiperglikemia
glukosa darah ● Koordinasi (.....)
● Identifikasi
● Gangguan glukosa ● Kesadaran (.....) situasi yang
darah puasa ● Pusing (.....) menyebabkan
kebutuhan
Hipoglikemia ● Lelah/ lesu (.....) insulin
● Penggunaan insulin meningkat
● Keluhan lapar
atau obat glikemik (.....) ● Monitor kadar
oral
● Gemetar (.....) glukosa darah,
● Hiperinsulinemia jika perlu
(mis. Insulinoma) ● Berkeringat
● Monitor tanda
● Endokrinopati (mis. (.....)
dan gjala
Kerusakan adrenal ● Mulut kering hiperglikemia
atau pituitari) (.....)
Disfungsi hati ● Rasa haus (.....) ● Monitor intake
● Disfungsi ginjal dan output
● Perilaku aneh
kronis cairan
(.....)
● Efek agen ● Monitor keton
● Kesulitan bicara
farmakologis urine, kadar
(.....)
● Tindakan analisa gas
● Kadar glukosa darah,
pembedahan
dalam darah elektrolit,
neoplasma
(.....) takaran darah
● Gangguan metabolik ortostatik dan
● Kadar glukosa
bawaan (mis. frekuensi nadi
dalam urine
Gangguan
(.....) Terapeutik
penyimpanan
lisosomal, ● Palpitasi (.....) ● Berikan
galaktosemia, ● Perilaku (.....) asupan cairan
gangguan oral
penyimpanan ● Jumlah urine
● Konsultasi
glikogen) (.....)
dengan mdis
Dibuktikan dengan: jika tanda dan
● Mengantuk gejala
hiperglikemia
● Pusing tetap ada atau
● Lelah atau lesu memburuk
● Fasilitasi
● Gangguan
ambulasi jika
koordinasi
ada hipotensi
● Kadar glukosa ortostatik
dalam darah atau
urine rendah Edukasi
● Anjurkan
● Kadar gluosa dalam
darah atau urin menghindari
tinggi olahraga saat
kadar glukosa
● Palpitasi
darah lebih
● Mengeluh lapar dari 250
mg/dL
● Mulut kering
● Anjurkan
● Haus meningkat monitor kadar
● Gemetar glukosa darah
secara mandiri
● Kesadaran menurun
● Anjurkan
● Perilaku aneh kepatuhan
● Sulit bicara terhadap diet
dan olahraga
● Berkeringat
● Ajarkan
● Jumlah urine indikasi dan
pentingnya
meningkat
pengujian
keton urine,
jika perlu
● Ajarkan
pengelolaan
diabetes
Kolaborasi
● kolaborasi
pemberian
insulin, jika
perlu
● kolaborasi
pemberian
cairan IV, jika
perlu
● Kolaborasi
pemberian
kalium, jika
perlu
Perfusi Perifer Tidak Setelah dilakukan Intervensi Utama :
2
Efektif (D.0009) intervensi selama Perawatan sirkulasi
………… maka (I.02079)
Berhubungan dengan : Perfusi Perifer Observasi
● Hiperglikemia Meningkat L.02011 ● Periksa sirkulasi
dengan kriteria hasil :
● Penurunan konsentrasi perifer ([Link]
hemoglobin perifer, edema,
pengisian kapiler,
● Peningkatan tekanan ● Denyut nadi perifer warna, suhu,
darah meningkat ankle-brachial
● Kekurangan volume ● Penyembuhan luka indeks)
cairan meningkat ● Identifikasi factor
● Penurunan aliran arteri ● Sensasi meningkat risiko gangguan
dan/vena sirkulasi
● Warna kulit pucat ([Link],
● Kurang terpapar menurun perokok, orang
informasi tentang factor ● Edema perifer tua, hipertensi dan
pemberat (mis. kadar kolestrol
menurun
Merokok, gaya hidup tinggi)
monoton, trauma ● Nyeri ekstremitas
● Monitor panas,
obesitas, asupan garam, menurun
imobilitas) kemerahan, nyeri
● Parastesia menurun
atau bengkak pada
● Kurang terapapar ekstremitas
● Kelemahan otot
informasi tentang proses menurun
penyakit (mis. Diabetes ● Kram otot menurun Terapeutik
melitus, hiperlipidemia) ● Hindari
● Bruit femoralis
● Kurang aktivitas fisik pemasangan infus
menurun
atau pengambilan
● Nekrosis menurun darah di area
Dibuktikan dengan : keterbatasan
● Pengisian kapiler
● Pengisian kapiler >3 perfusi
membaik
detik ● Hindari
● Akral membaik
● Nadi perifer menurun pengukuran
atau tidak teraba ● Turgor kulit tekanan darah pada
● Akral teraba dingin
membaik ekstremitas dengan
● Tekanan darah keterbatasan
● Warna kulit pucat perfusi
sistolik membaik
● Turgor kulit menurun ● Hindari penekanan
● Tekanan darah
● Edema diastolik membaik dan pemasangan
tourniquet pada
● Penyembuhan luka ● Tekanan arteri rata- area yang cedera
lambat rata membaik ● Lakukan
● Indeks ankle-brachial ● Indeks ankle- pencegahan infeksi
<0,90 brachial membaik ● Lakukan
● Bruit femoral perawatan kaki
dan kuku
● Lakukan hidrasi

Edukasi
● Anjurkan berhenti
merokok
● Anjurkan
berolahraga rutin
● Anjurkan
mengecek air
mandi untuk
menghindari kulit
terbakar
● Anjurkan
menggunakan obat
penurun tekanan
darah,
antikoagulan, dan
penurun kolestrol
jika perlu.
● Anjurkan minum
obat penurun
tekanan darah
secara teratur
● Anjurkan
menghindari
penggunaan obat
penyekat beta
● Anjurkan
melakukan
perawatan kulit
yang tepat (mis.
Melembabkan
kulit kering pada
kaki)
● Anjurkan program
rehabilitasi
vaskuler
● Anjurkan program
diet untuk
memperbaiki
sirkulasi (mis.
Rendah lemak
jenuh, minyak
ikan omega 3)
● Informasikan
tanda dan gejala
darurat yang harus
dilaporkan (mis.
Rasa sakit yang
tidak hilang saat
istirahat, luka
tidak sembuh,
hilangnya rasa)
Defisit Nutrisi (D. 0019) Setelah dilakukan Manajemen nutrisi
3
Kategori: Fisiologis Tindakan keperawatan (I.03119)
Subkategori: Nutrisi dan selama ……… jam, Observasi
Cairan Status Nutrisi ● Identifikasi status
Berhubungan dengan : (L.03030) membaik
nutrisi
● Ketidakmampuan
dengan kriteria hasil :
● Identifikasi alergi
menelan makanan ● Porsi makanan yang
dan intoleransi
● Ketidakmampuan
dihabiskan
makanan
meningkat
mencerna makanan ● Identifikasi
● Kekuatan otot
● Ketidakmampuan pengunyah makanan yang
meningkat disukai
mengabsorbsi nutrien
● Kekuatan otot ● Identifikasi
● Peningkatan kebutuhan
menelan meningkat kebutuhan kalori
metabolisme
● Verbalisasi dan jenis nutrien
● Faktor ekonomi (mis:
keinginan untuk ● Identifikasi
finansial tidak
meningkatkan perlunya
mencukupi)
nutrisi meningkat penggunaan
● Faktor psikologis (mis: selang nasogastrik
● Pengetahuan
stres, keengganan untuk ● Monitor asupan
tentang pilihan
makan)
makanan yang sehat makanan
meningkat ● Monitor berat
Dibuktikan dengan :
● Pengetahuan badan
● Berat badan menurun
tentang pilihan ● Monitor hasil
minimal 10%
minuman yang
dibawah rentang ideal. pemeriksaan
sehat meningkat
laboratorium
● Pengetahuan
tentang standar Terapeutik
asupan nutrisi yang ● Lakukan oral
tepat meningkat hygiene sebelum
● Penyiapan dan makan, jika perlu
penyimpanan ● Fasilitasi
makanan yang menentukan
aman meningkat pedoman diet
● Penyiapan dan (mis. piramida
penyimpanan makanan)
minuman yang ● Sajikan makanan
aman meningkat secara menarik
● Sikap terhadap dan suhu yang
makanan/minuman sesuai
sesuai dengan ● Berikan makanan
tujuan kesehatan tinggi serat untuk
meningkat mencegah
● Perasaan cepat koristipasi
kenyang menurun ● Berikan makanan
● Nyeri abdomen tinggi kalori dan
menurun tinggi protein
● Berikan suplemen
● Sariawan menurun
makanan, jika
● Rambut rontok perlu
menurun ● Hentikan
● Diare menurun pemberian makan
melalui selang
● Berat badan nasogatrik jika
asupan oral dapat
membaik
ditoleransi
● Indeks Massa
Tubuh (IMT) Edukasi
membaik ● Anjurkan posisi
● Frekuensi makan duduk, jika
membaik mampu
● Ajarkan diet yang
● Bising usus
membaik diprogramkan
● Tebal lipatan Kolaborasi
kulit trisep membai ● Kolaborasi
k pemberian
medikasi sebelum
makan (mis.
pereda nyeri,
antiemetik), jika
perlu
● Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan
jumlah kalori dan
jenis nutrien yang
dibutuhkan, jika p
erlu
Risiko Hipovolemia Setelah dilakukan Manajemen
4
(D.0034) Tindakan keperawatan hipovolemia
Ditandai dengan : selama ……… Status (I.03116)
● kehilangan cairan cairan membaik
(L.03028), dengan Observasi
secara aktif
kriteria hasil : ● Periksa tanda
● Gangguan absorbsi
● Kekuatan nadi dan gejala
cairan
meningkat hipovolemia
● Usia lanjut (mis: frekuensi
● Output urin
● Kelebihan berat nadi
meningkat
meningkat,
badan ● Membran nadi teraba
● Status mukosa lembab lemah, tekanan
hipermetabolik meningkat darah
● Kegagalan ● Ortopnea menurun,
mekanisme regulasi tekanan nadi
menurun
menyempit,
● Evaporasi ● Dispnea turgor kulit
● Kekurangan intake menurun menurun,
cairan ● Paroxysmal membran
● Efek agen nocturnal mukosa
dyspnea (PND) kering, volume
farmakologis
menurun urin menurun,
● Edema anasarka hematokrit
meningkat,
menurun
haus, lemah)
● Edema perifer
● Monitor intake
menurun
dan output
● Frekuensi nadi cairan
membaik
● Tekanan darah Terapeutik
membaik
● Turgor kulit
membaik ● Hitung
● Jugular venous kebutuhan
cairan
pressure
membaik ● Berikan posisi
● Hemoglobin modified
Trendelenburg
membaik
● Berikan
● Hematokrit
asupan cairan
membaik
oral

Edukasi

● Anjurkan
memperbanya
k asupan
cairan oral
● Anjurkan
menghindari
perubahan
posisi
mendadak

Kolaborasi

● Kolaborasi
pemberian
cairan IV
isotonis (mis:
NaCL, RL)
● Kolaborasi
pemberian
cairan IV
hipotonis (mis:
glukosa 2,5%,
NaCl 0,4%)
● Kolaborasi
pemberian
cairan koloid
(albumin,
plasmanate)
● Kolaborasi
pemberian
produk darah
Intoleransi Aktivitas Setelah dilakukan Manajemen Energi
5
(D.0056) Intervensi Keperawatan (I.05178)
Berhubungan dengan : selama …x 24 jam,
maka Toleransi Observasi
● Ketidak seimbangan Aktivitas (L.05047)
meningkat. Dengan ● Identifikasi
antara suplai dan
kriteria hasil:
kebutuhan oksigen gangguan
● Tirah baring fungsi tubuh
● Frekuensi nadi yang
● Kelemahan meningkat mengakibatka
● Imobilitas ● Saturasi oksigen n kelelahan
meningkat ● Monitor pola
● Gaya hidup
● Kemudahan dan jam tidur
monoton
dalam
melakukan
Terapeutik
Dibuktikan dengan : aktivitas sehari-
hari meningkat
● Sediakan
● Mengeluh lelah ● Kecepatan
lingkungan
● Frekuensi jantung berjalan
nyaman dan
meningkat
meningkat >20% rendah
dari kondisi ● Jarak berjalan stimulus (mis.
istirahat meningkat Cahaya, suara,
● Dispnea saat/setelah ● Kekuatan tubuh kunjungan)
aktivitas bagian atas ● Lakukan
● Merasa tidak meningkat rentang gerak
nyaman setelah ● Kekuatan tubuh pasif dan atau
beraktivitas bagian bawah aktif
meningkat ● Berikan
● Merasa lemah
● Toleransi dalam aktifitas
● Tekanan darah distraksi yang
menaiki tangga
berubah >20% dari meningkat menenangkan
kondisi istirahat ● Keluhan lelah ● Fasilitasi
● Gambaran EKG menurun duduk di sisi
menunjukan aritmia ● Dispnea saat tempat tidur,
saat/setelah aktivitas jika tidak
aktivitas
● Gambaran EKG dapat
menurun
berpindah atau
menunjukan isekmia ● Dispnea setelah berjalan
● Sianosis aktivitas
menurun
● Sianosis Edukasi
menurun
● Warna kulit ● Anjurkan tirah
membaik baring
● Anjurkan
● Tekanan darah
membaik melakukan
aktivitas
● Frekuesi nafas secara
membaik bertahap
● EKG isekmia ● Anjurkan
membaik menghubungi
perawat jika
tanda gejala
kelelahan tidak
berkurang
● Ajarkan
strategi koping
untuk
mengurangi
kelelahan

Kolaborasi
● Kolaborasi
dengan ahli
gizi tentang
cara
meningkatkan
asupan
makanan
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. (2016). Definition of Diabetes


Melllitus.
[Link]. diakses tanggal 10 November 2020
Febrinasari, R. P., Maret, U. S., Sholikah, T. A., Maret, U. S., Pakha, D.
N., Maret, U. S., Putra, S. E., & Maret, U. S. (2020). Buku
saku diabetes melitus untuk awam. November. diakses
tanggal 20 November 2020
IDF. (2020. Prevalensi of Diabetes Mellitus.
[Link] [Link]. diakses
tanggal 20 November 2020
Putra, I. W. A., & Berawi, K. (2015). Empat Pilar Penatalaksanaan
Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
Majority, 4(9), 8–12.
[Link]
view/1401. diakses tanggal 20 November 2020
WHO. (2020). Definition of Diabetes Mellitus and Prevalence of
Diabetes Mellitus. diakses pada tanggal 20 Januari 2021 di
[Link] topics/diabetes

Anda mungkin juga menyukai