0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

LP RBD

Dokumen ini membahas tentang risiko bunuh diri, termasuk pengertian, klasifikasi, karakteristik, faktor predisposisi, dan presipitasi yang dapat memicu perilaku tersebut. Selain itu, dijelaskan juga tentang terapi yang dapat dilakukan, seperti penggunaan obat-obatan dan tindakan keperawatan untuk mengurangi risiko bunuh diri. Laporan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang isu kesehatan mental ini dalam konteks keperawatan jiwa.

Diunggah oleh

Narmi Pjt
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

LP RBD

Dokumen ini membahas tentang risiko bunuh diri, termasuk pengertian, klasifikasi, karakteristik, faktor predisposisi, dan presipitasi yang dapat memicu perilaku tersebut. Selain itu, dijelaskan juga tentang terapi yang dapat dilakukan, seperti penggunaan obat-obatan dan tindakan keperawatan untuk mengurangi risiko bunuh diri. Laporan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang isu kesehatan mental ini dalam konteks keperawatan jiwa.

Diunggah oleh

Narmi Pjt
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO BUNUH DIRI

Mata Kuliah
Keperawatan Jiwa

Disusun oleh :
Siti Murdalifah
012342079

PROGRAM STUDI PROFESI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS BINAWAN
JAKARTA
2024
LAPORAN PENDAHULUAN
RBD

Pengertian
Resiko bunuh diri merupakan perilaku individu melukai diri baik secara langsung dan
disengaja dengan tujuan untuk mengakhiri hidup (Nyumirah, et. al., 2023)

Rentang Respon
Menurut Nyumirah, et. al. (2023) mengemukakan rentang harapan-putus harapan
merupakan rentang adaptif-maladaptif:

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Peningkatan Pertumbuhan Destruktif diri Pencideraan Bunuh diri


Diri Peningkatan tak langsung diri
Beresiko

Keterangan Rentang Respon:


Perilaku destruktif
Peningkatan Diri Beresiko Destruktif Pencideraan diri Bunuh diri
diri tak langsung
Seseorang dapat Seseorang memiliki Seseorang telah Seseorang Seseorang
meningkatkan kecenderungan atau beresiko mengambil sikap melakukan telah
proteksi atau mengalami perilaku destruktif yang kurang tepat percobaan melakukan
pertahan diri atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi bunuh diri atau kegiatan
secara wajar terhadap situasi yang seharusnya yang pencederaan diri bunuh diri
terhadap dapat mempertahankan diri, membutuhkan akibat hilangnya sampai
situasional yang seperti seseorang merasa patah dirinya untuk harapan dengan
membutuhkan semangat bekerja ketika dirinya mempertahankan terhadapsituasi nyawanya
pertahan diri. dianggap tidak loyal terhadap diri. yang ada. hilang.
pimpinan padahal sudah
melakukan pekerjaan secara
optimal.

Klasifikasi/Jenis/Tipe
1. Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang untuk
bunuh diri.
2. Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
3. Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam diri
seseorang seperti putus cinta atau putus harapan (Yosep, 2019).

Karakteristik/Tanda dan Gejala


Pengkajian mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik
dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri perasaan gagal dan
tidak berguna, alam perasaan depresi, agitasi dan gelisah, insomnia yang menetap,
penurunan BB, berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial.
Adapun petunjuk psikiatrik anatara lain: upaya bunuh diri sebelumnya, kelainan
afektif, alkoholisme dan penyalahgunaan obat, kelaianan tindakan dan depresi mental
pada remaja, dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia. Sedangkan riwayat
psikososial: baru berpisah, bercerai/ kehilangan, hidup sendiri, tidak bekerja,
perubahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami, faktor-faktor kepribadian: implisit,
agresif, rasa bermusuhan, kegiatan kognitif dan negatif, keputusasaan, harga diri
rendah, batasan/ gangguan kepribadian antisosial (Hans, 2022).

Faktor Predisposisi
Stuart (2019) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang perilaku
resiko bunuh diri meliputi:
1. Diagnosis psikiatri, tiga gangguan jiwa yang membuat klien berisiko untuk bunuh
diri yaitu gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian, tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan
resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial, baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian,
kehilangan yang dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor
penting yang berhubungan dengan bunuh diri.

Faktor Presipitasi
Stuart (2019) menjelaskan bahwa pencetus dapat berupa kejadian yang memalukan,
seperti masalah interpersonal, dipermalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan,
atau ancaman pengurungan. Selain itu, mengetahui seseorang yang mencoba atau
melakukan bunuh diri atau terpengaruh media untuk bunuh diri, juga membuat
individu semakin rentan untukmelakukan perilaku bunuh diri.

Pohon masalah/Clinical Pathway

(Stuart & Sundeen, 2006, dalam Riza & Herdiana, 2019)

Terapi
Menurut Videbeck (2018), obat-obat yang biasanya digunakan pada klien
resiko bunuh diri adalah SSRI (Selective Serotonine Reuptake Inhibitor) (fluoksetin
20 mg/hari per oral), venlafaksin (75- 225 mg/hari per oral), nefazodon (300-600
mg/hari per oral), trazodon (200-300 mg/hari per oral), dan bupropion (200-300
mg/hari per oral). Obat-obat tersebut sering dipilih karena tidak berisiko letal akibat
overdosis.
Mekanisme kerja obat tersebut akan bereaksi dengan sistem neurotransmiter
monoamin di otak khususnya norapenefrin dan serotonin. Kedua neurotransmiter ini
dilepas di seluruh otak dan membantu mengatur keinginan, kewaspadaan, perhataian,
mood, proses sensori, dan nafsu makan.

Tindakan Keperawatan
1. SP I
- Mengidentifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri : isyarat, ancaman,
percobaan (jika percobaan segera rujuk)
- Mengidentifkasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya (lingkungan
aman untuk pasien)
- Memberikan latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri : buat
daftar aspek positif diri sendiri, latihan berpikir aspek positif yang dimiliki
- Memasukkan pada jadual latihan berpikir positif 5 kali per hari
2. SP II
- Mengevaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri, beri pujian. Kaji ulang
risiko bunuh diri
- Melatih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri : buat daftar aspek
positif keluarga dan lingkungan, latih berpikir aspek positif keluarga dan
lingkungan
- Memasukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan
3. SP III
- Mengevaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri, keluarga dan lingkungan serta
kegiatan yang dipilih. Beri pujian. Kaji risiko bunuh diri
- Mendiskusikan harapan dan masa depan
- Mendiskusikan cara mencapai harapan dan masa depan
- Melatih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap (setahap
demi setahap)
- Memasukkan pada jadwal latihan berpikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan dan tahapan kegiatan yang dipilih
4. SP IV
- Mengevaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri, keluarga dan lingkungan serta
kegiatan yang dipilih. Beri pujian
- Melatih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan
- Memasukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan, serta kegiatan yang dipilih untuk persiapan masa depan
5. SP Evaluasi
- Mengevaluasi kegiatan latihan peningkatan positif diri, keluarga dan lingkungan.
Beri pujian
- Mengevaluasi tahap kegiatan mencapai harapan masa depan
- Melatih kegiatan harian
- Menilai kemampuan diri yang telah mandiri
- Menilai apakah risiko bunuh diri teratasi
DAFTAR PUSTAKA

Nyumirah, S., Napolion, K., Harun, B., Tobing, D. L., Pinilih, S. S., Rokhman, A.,
Sholikhah, S., Sulisetyawati, D., Alviana, F., Mariani. (2023). Mental Health
Nursing (Keperawatan Kesehatan Jiwa). Rizmedia Pustaka Indonesia retrieved
from
[Link]
ERAWATAN_KESEHA/jSPbEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=0

Stuart, G.W. (2019). Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta:EGC

Riza, M., & Herdiana, I. (2019). Resiliensi pada narapidana laki-laki di lapas klas 1
Medaeng. Jurnal Psikologi Kepribadian Dan Sosial, 1(3), 142–147.

Hans, H. W. (2022). Hubungan Tingkat Stress Dengan Resiko Bunuh Diri


Narapidana Di Rutan Trenggalek (Doctoral Dissertation, Stikes Hang Tuah
Surabaya).

Anda mungkin juga menyukai