BAB I
1.1 Latar Belakang
Perkembangan aktivitas ekonomi global yang pesat telah mendorong
pertumbuhan sektor transportasi dan logistik, terutama transportasi laut yang memainkan
peran penting dalam mendukung arus perdagangan internasional. Dalam hal ini,
pelabuhan menjadi infrastruktur strategis yang memfasilitasi pergerakan barang dari satu
wilayah ke wilayah lainnya. Salah satu kegiatan utama yang berlangsung di pelabuhan
adalah proses bongkar muat di area dermaga, yang memiliki pengaruh langsung terhadap
kelancaran sistem distribusi barang.
Namun demikian, kegiatan bongkar muat tidak terlepas dari berbagai tantangan,
terutama dalam aspek keselamatan kerja. Aktivitas ini melibatkan berbagai jenis barang,
alat berat, kendaraan operasional, serta tenaga kerja dalam satu area kerja yang relatif
terbatas, sehingga potensi terjadinya kecelakaan kerja sangat tinggi. Risiko tersebut dapat
timbul akibat banyak faktor, seperti kelalaian tenaga kerja, tidak tersedianya prosedur
kerja yang aman, serta tidak adanya sistem pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja
yang memadai dan berkelanjutan (Safitri, D., 2019).
Di Indonesia, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi salah satu isu
penting dalam dunia kerja, khususnya di lingkungan kerja yang memiliki tingkat risiko
tinggi seperti pelabuhan, hal ini sebagian besar disebabkan oleh lemahnya penerapan
standar operasional prosedur (SOP), kurangnya pelatihan keselamatan bagi pekerja, serta
pengawasan yang belum optimal terhadap pelaksanaan sistem K3 (Setiawan., 2022).
Dalam konteks pelabuhan, efisiensi kerja sering kali menjadi prioritas utama,
sehingga pekerja didorong untuk menyelesaikan tugas dengan cepat. Akibatnya, aspek
keselamatan kadang diabaikan. Penggunaan alat berat seperti crane, forklift, dan truk
dalam ruang gerak yang sempit dan padat memperbesar risiko kecelakaan (Irma
Octaviani., 2020). Oleh karena itu, penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja (SMK3) yang sistematis sangat diperlukan untuk menciptakan kondisi
kerja yang aman dan produktif.
SMK3 merupakan pendekatan yang mengintegrasikan aspek keselamatan dan
kesehatan ke dalam seluruh aktivitas operasional perusahaan. Tujuannya adalah untuk
mengidentifikasi potensi bahaya sejak dini, mengendalikan risiko yang mungkin timbul,
memberikan pelatihan kepada tenaga kerja, serta melakukan evaluasi dan audit secara
berkala. Pemerintah Indonesia telah mengatur kewajiban penerapan SMK3 melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, yang menekankan pentingnya
implementasi sistem ini pada perusahaan yang memiliki jumlah tenaga kerja tertentu atau
potensi bahaya tinggi (Setiawan., 2022).
Sebagai kawasan kerja yang kompleks dan berisiko, pelabuhan terutama area
dermaga tempat berlangsungnya kegiatan bongkar muat harus menjadi perhatian utama
dalam pelaksanaan SMK3. Lingkungan kerja di dermaga menjadi lokasi di mana risiko
kecelakaan sangat tinggi karena tingginya aktivitas fisik dan interaksi langsung antara
manusia dan peralatan berat. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian yang lebih
mendalam mengenai bagaimana sistem manajemen K3 diterapkan dalam kegiatan
bongkar muat tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini diberi judul,
"Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dalam
Kegiatan Bongkar Muat di Dermaga".
1.2 Ruang Lingkup Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis
menetapkan pembatasan ruang lingkup permasalahan untuk memudahkan penyusun
dan pembahasan serta menjaga konsisten pada tema pembahasan. Batasan ruang
lingkup yang diambil dalam penelitian ini difokuskan untuk mengimplementasikan
sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dalam kegiatan bongkar muat di
Dermaga X. Penelitian ini juga terbatas pada objek penelitian yaitu Dermaga X.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang tertulis diatas dan ruang lingkup masalah oleh
penulis dalam keadaan mengenai pengimplementasian sistem keselamatan dan
Kesehatan kerja di Dermaga X, maka penulis buat rumusan permasalahan yang
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan sistem manajemen keselamatan dan Kesehatan kerja
(SMK3) dalam kegiatan bongkar muat di Dermaga X?
2. Apa saja kendala yang dihadapi oleh PBM dalam mengimplementasikan SMK3
selama kegiatan bongkar muat di Dermaga X?
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Dari latar belakang serta perumusan masalah maka tujuan penelitian ini
dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan SMK3 dalam kegiatan bongkar muat
di Dermaga X.
2. Untuk mengetahui pengimplementasian SMK3 yang efektif selama kegiatan
bongkar muat di Dermaga X.
1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritik
a. Memberikan masukkan dan pengalaman bagi pembaca dalam
mengembangkan wawasan dalam bidang sistem manajemen keselamatan
dan Kesehatan kerja dalam kegiatan bongkar muat.
b. Masyarakat dapat menggunakan penelitian sebagai reverensi dalam
pembahasan pengimplementasian sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja di masa yang akan datang.
2. Manfaat secara praktis
a. Memberikan masukan dalam pengimplementasian sistem manajemen
keselamatan dan Kesehatan kerja yang memiliki sifat yang penting untuk
di ketahui.
b. Masyarakat dan crew kapal serta PBM dapat menggunakan hasil
penelitian ini sebagai perbandingan dan kajian mengenai implementasi
sistem manajemen keselamatan dan Kesehatan kerja yang efektif dalam
proses bongkar muat khususnya di dermaga.