PENGARUH ROA, CAR, NPF, DPK, BOPO DAN
PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP MARKET SHARE
ASET PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
SKRIPSI
Oleh:
Nama : Bunga Suci Hatty
Nurani
Nomor Mahasiswa : 21313061
Program Studi : Ekonomi
Pembangunan
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA
YOGYAKARTA
2025
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan penuh rasa syukur saya ucapkan kepada Allah SWT
yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta
Ridho-Nya dengan segala tuntunan-Nya penulis dapat menyusun
tugas akhir berupa skripsi ini dengan jalan yang cukup
dimudahkan, serta terdapat banyak hikmah yang dapat penulis
ambil untuk menjadi wadah agar selalu beriman dan bertaqwa
kepada Allah SWT. Tak lupa salawat serta salam penulis
haturkan kepada nabi agung Muhammad SAW yang senantiasa
berjuang untuk seluruh umat muslim untuk bisa hidup di dunia
dengan penuh rahmat Allah ini. Serta ungkapan terima kasih
yang mendalam dan sepenuh hati kepada keluarga dan teman
dekat yang selalu memberi dukungan dan doa. Dan yang
terakhir kepada penulis sendiri yang telah kuat berjuang
meskipun banyak rintangan, namun penulis tetap mampu
berjuang menyelesaikan tugas akhir ini dengan penuh
pengorbanan air mata dan waktu yang cukup lama. Terima kasih
banyak telah berjuang sampai saat ini.
v
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum [Link]
Pada kesempatan yang penuh dengan rasa syukur ini, penulis
dengan senantiasa panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia
dan hidayah-Nya yang terus mengalir hingga saat ini sehingga
adanya penelitian ini dengan judul “Pengaruh ROA, CAR, NPF,
DPK, BOPO Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Market Share
Aset Perbankan Syariah Di Indonesia” dapat terselesaikan
hingga proses akhir.
Dengan proses panjang penyusunan skripsi ini, penulis
sadari masih sangat dan amat penuh dengan kekurangan dan
keterbatasan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, dalam waktu
penyusunan skripsi ini, penulis telah mendapatkan banyak
bantuan, arahan serta bimbingan dari banyak pihak yang
memiliki andil maupun peran penting dalam penyelesaian
penulisan ini. Dengan segenap rasa hormat, penulis ucapkan
terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memiliki kontribusi
dalam proses penyusunan skripsi ini:
1. Bapak Achmad Tohirin, Drs., MA., Ph.D, sebagai dosen
pembimbing skripsi yang dengan rasa sabar yang besar,
ketelitian, serta saran dan arahan yang baik yang bijaksana
telah membimbing dan menuntun penulis dalam setiap
proses penyusunan skripsi
2. Kepada Bapak/Ibu…
3. Ayah dan Mamah penulis, yang selalu memberikan dukungan
sepenuh hati dan doa yang melimpah setiap waktu. Kepada
ayahku terima kasih banyak telah kuat dalam melawan sakit
kanker paru hingga saat ini demi menyaksikan putri
pertamanya mendapakan gelar sarjana. Kepada mamah
v
terkasih, terima kasih yang sangat amat banyak telah
menjadi ibu yang paling kuat dan sabar dalam mendukung
penulis selaku putri pertama, terima kasih telah menjadi
tulang punggung keluarga setelah ayah sakit. Terima kasih
telah menjadi sumber kekuatan dan motivasi penulis untuk
berada dititik ini.
4. Seluruh staff dan dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII
yang telah memberikan ilmu dan wawasan, serta dukungan
lainnya berupa kemudahan administrative selama proses
perkuliahan hingga penyusunan tugas akhir skripsi.
5. Kepada kedua adik tercinta penulis, sahabat penulis Viantika,
Disna, Nafi’, Alifah, Zulfa, Devi, Zahwa dan yang lainnya,
yang dalam masa-masa pendidikan hingga saat ini menjadi
motivator dan penyemangat penulis, serta menjadi sumber
tawa dan dukungan penulis diwaktu penyusunan skripsi ini.
Demikian kata pengantar penulis sampaikan. Dengan harapan
besar semoga penelitian skripsi ini dapat memberikan manfaaat
dan motivasi serta referensi, yang dapat berguna bagi semua
pihak.
v
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................
1.3 Tujuan Penelitian........................................................................
1.4 Manfaat Penelitian......................................................................
1.5 Sistematika Penulisan.................................................................
BAB II LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA................
2.1 Landasan Teori..........................................................................
2.1.1 Market Share.....................................................................10
2.1.2 Return On Asset (ROA)......................................................10
2.1.3 Capital Adequacy Ratio (CAR)..........................................11
2.1.4 Non Performing Financing (NPF).....................................11
2.1.5 Dana Pihak Ketiga (DPK)...................................................12
2.1.6 Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)........13
2.1.7 Pertumbuhan Ekonomi......................................................14
2.2 Kajian Pustaka..........................................................................
2.3 Hipotesis Penelitian..................................................................
2.3.1 Pengaruh ROA terhadap Market Share............................16
2.3.2 Pengaruh CAR terhadap Market Share.............................17
2.3.3 Pengaruh NPF terhadap Market Share.............................18
2.3.4 Pengaruh DPK terhadap Market Share.............................18
2.3.5 Pengaruh BOPO terhadap Market Share..........................19
2.3.6 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Market Share
......................................................................................................20
2.4 Kerangka Pemikiran..................................................................
v
BAB III METODE PENELITIAN..................................................
3.1 Jenis dan Cara Pengumpulan Data...........................................
3.2 Populasi dan Sampel.................................................................
3.2.1 Populasi.............................................................................22
3.2.2 Sampel...............................................................................22
3.3 Definisi Variabel Operasional...................................................
3.3.1 Variabel Dependen............................................................23
3.3.2 Variabel Independen.........................................................24
3.4 Metode Analisis.........................................................................
3.4.1 Uji Statistik Deskriptif.......................................................26
3.4.2 Pendekatan Model Regresi................................................26
3.4.3 Penentuan Model Regresi.................................................27
3.4.4 Model Regresi Data Panel.................................................29
3.4.5 Pengujian Hipotesis...........................................................29
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................
v
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bank syariah tidak hanya menawarkan alternatif yang sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah dalam bertransaksi, tetapi juga
berperan penting dalam memperluas akses keuangan, terutama
bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya kurang terlayani
oleh sistem perbankan konvensional (Tuzzuhro dkk., 2023) .
Selain itu, keberadaan bank syariah turut mendukung stabilitas
ekonomi nasional melalui penerapan prinsip keadilan,
transparansi, dan penghindaran riba dalam pengelolaan
keuangan. Kontribusi ini menjadi sangat relevan dalam
memperkuat inklusi keuangan di Indonesia, di mana masih
banyak masyarakat yang belum terintegrasi sepenuhnya ke
dalam sistem perbankan formal (M. Ali dkk., 2023) .
Market share merupakan indikator penting dalam menilai
kinerja bank syariah. Market share yang tinggi menunjukkan
bahwa bank mampu menarik lebih banyak nasabah dan
mengelola asetnya dengan baik. Dalam persaingan yang
semakin ketat antara bank syariah dan bank konvensional,
pemahaman terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi market
share menjadi krusial. Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa Return on Assets (ROA), Capital Adequacy Ratio (CAR),
Dana Pihak Ketiga (DPK), dan Non-Performing Financing (NPF)
adalah variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap
market share perbankan syariah di Indonesia
(Rachmawati, 2023)
; (Eliana dkk., 2021) . Oleh karena itu, penting bagi bank
syariah untuk menganalisis dan memahami variabel-variabel ini
agar dapat bersaing secara efektif di pasar.
2
Return on Assets (ROA) adalah salah satu indikator kinerja
keuangan yang penting bagi perusahaan, terutama dalam sektor
perbankan. ROA mengukur seberapa efisien perusahaan dalam
menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba. Rasio ini
dihitung dengan membagi laba bersih dengan total aset.
Semakin tinggi nilai ROA, semakin baik kinerja perusahaan
dalam memanfaatkan aset yang dimiliki untuk menghasilkan
keuntungan. ROA menjadi penting karena memberikan
gambaran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola
sumber daya yang ada. Dalam konteks perbankan, ROA juga
mencerminkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari
aset yang dimiliki, termasuk pinjaman dan investasi. Menurut
Brigham dan Ehrhardt (2016), ROA yang tinggi menunjukkan
bahwa bank mampu mengelola risiko dan menghasilkan
pendapatan yang stabil.
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang
menunjukkan seberapa besar modal yang dimiliki bank
dibandingkan dengan total aset yang dimiliki. CAR dihitung
dengan membagi modal bank dengan total aset tertimbang
menurut risiko. Rasio ini penting untuk menilai kesehatan
finansial bank dan kemampuannya untuk menghadapi risiko
yang mungkin terjadi. Regulator perbankan, seperti Bank
Indonesia, menetapkan standar minimum CAR untuk
memastikan bahwa bank memiliki cukup modal untuk menutupi
potensi kerugian. CAR yang tinggi menunjukkan bahwa bank
memiliki buffer modal yang cukup untuk menghadapi risiko
kredit dan operasional. CAR yang memadai adalah kunci untuk
menjaga stabilitas sistem keuangan.
Non-Performing Financing (NPF) adalah rasio yang
mengukur proporsi pembiayaan yang tidak dapat dilunasi oleh
3
debitur. NPF yang tinggi menunjukkan risiko kredit yang lebih
besar dan dapat mempengaruhi profitabilitas bank. NPF
dihitung dengan membagi total pembiayaan bermasalah dengan
total pembiayaan yang diberikan. NPF yang rendah
menunjukkan bahwa bank memiliki kualitas aset yang baik dan
mampu mengelola risiko kredit dengan efektif. Sebaliknya, NPF
yang tinggi dapat mengindikasikan masalah dalam manajemen
risiko dan dapat mempengaruhi kinerja keuangan bank secara
keseluruhan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2020),
pengelolaan NPF yang baik sangat penting untuk menjaga
kesehatan bank dan kepercayaan nasabah.
Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah total dana yang dihimpun
oleh bank dari masyarakat. DPK merupakan sumber utama
pembiayaan bagi bank dan berpengaruh terhadap likuiditas
serta kemampuan bank dalam memberikan kredit. DPK terdiri
dari simpanan masyarakat, seperti tabungan, deposito, dan giro.
Peningkatan DPK menunjukkan bahwa bank berhasil menarik
minat masyarakat untuk menyimpan uangnya, yang pada
gilirannya dapat digunakan untuk memberikan kredit kepada
debitur. DPK yang tinggi mencerminkan kepercayaan
masyarakat terhadap bank dan stabilitas sistem keuangan.
Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) adalah
salah satu indikator yang krusial dalam menilai efisiensi serta
kinerja sebuah bank. Rasio ini diperoleh dengan
membandingkan total biaya operasional dengan total
pendapatan operasional yang dihasilkan. Nilai BOPO yang lebih
rendah menunjukan bahwa bank lebih efisien dalam mengelola
biaya operasionalnya. Hal ini mengindikasi bahwa bank mampu
menghasilkan pendapatan yang lebih besar dengan biaya yang
lebih sedikit. Disamping itu, BOPO juga berpengaruh besar
4
terhadap profitabilitas bank. Bank yang memiliki nilai BOPO
rendah biasanya memiliki margin keuntungan yang lebih tinggi,
karena bank dapat mengontrol biaya dengan tetap
menghasilkan pendapatan yang optimal.
Pertumbuhan ekonomi adalah hal yang penting untuk
meningkatkan kesejahteraan sebuah bangsa (Irawan dkk, 2002).
Perkembangan sektor keuangan suatu negara akan sangat
memengaruhi pertumbuhan ekonominya. Perekonomian
Indonesia digerakkan sebagian besar oleh sektor jasa keuangan.
Ini dapat dilihat dari fungsinya sebagai lembaga intermediasi
dan tempat investasi masyarakat. Dalam hal ini dapat dikatakan
pertumbuhan ekonomi yang baik akan meningkatkan pangsa
pasar pada perbankan. Pertumbuhan ekonomi yang positif
memberikan dampak positif sebagai dasar bagi perusahaan
dalam melakukan pengembangan dan memperluas pangsa pasar
perusahaan. Di sisi lain, keputusan yang diambil oleh individu
maupun kelompok dalam hal konsumsi dan interaksi di pasar
tidak dapat dipisahkan dari informasi mengenai kondisi
perekonomian suatu negara yang tercermin melalui tingkat
pertumbuhan ekonominya.
Pemilihan variabel-variabel dalam penelitian ini didasarkan
pada teori dan penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya
hubungan signifikan antara kinerja keuangan dan market share
perbankan syariah. Penelitian oleh Saputra (2014)
mengungkapkan bahwa Return on Assets (ROA) dan Capital
Adequacy Ratio (CAR) memiliki pengaruh positif yang signifikan
terhadap market share perbankan syariah, yang berarti bahwa
semakin tinggi ROA dan CAR, semakin besar pangsa pasar yang
dapat diraih oleh bank syariah. Sebaliknya, Non-Performing
Financing (NPF) menunjukkan pengaruh negatif terhadap
5
market share, yang menunjukkan bahwa tingginya NPF dapat
mengurangi kepercayaan nasabah dan berdampak buruk pada
pangsa pasar bank syariah (Eliana dkk, 2021) . Dibanding itu
pemilihan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
dan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam penelitian ini didasarkan
pada teori yang menunjukan bahwa DPK berperan penting
dalam meningkatkan likuiditas bank, sedangkan BOPO
mencerminkan efisiensi operasional. Penelitian oleh Rizky
(2020) menunjukan bahwa DPK berpengaruh positif terhadap
kinerja keuangan bank syariah, sementara BOPO berpengaruh
negatif.
Penelitian lebih lanjut oleh Rachmawati (2023) juga
mendukung temuan ini dengan menunjukkan bahwa ROA dan
NPF berpengaruh positif dan signifikan terhadap market share,
menegaskan pentingnya efisiensi dalam pengelolaan aset dan
kualitas pembiayaan dalam meningkatkan daya saing bank
syariah. Pada penggunaan variable dana pihak ketiga (DPK) juga
memiliki pengaruh signifikan pada market share yang ada pada
perbankan syariah. Volume Dana Pihak Ketiga (DPK) dapat
berfungsi sebagai indikator tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap bank tertentu. Semakin besar volume DPK, semakin
tinggi tingkat kepercayaan masyarakat kepada bank tersebut.
Sebaliknya, jika volume DPK mengalami penurunan, hal ini
menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap bank
tersebut juga menurun (Wijayani, 2017) .
Beberapa penelitian sebelumnya mengenai pertumbuhan
ekonomi telah menganalisis dampak sektor keuangan syariah
terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut Sunaryo dkk (2022),
pasar modal syariah serta perbankan syariah memiliki pengaruh
positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka
6
panjang, meskipun dampaknya belum terasa secara signifikan
dalam jangka pendek. Dalam Penelitian yang dikaji oleh
Mustai’n dkk (2018), dijelaskan bahwa variabel-variabel
makroekonomi seperti suku bunga, pertumbuhan PDB, dan
tingkat inflasi memiliki dampak signifikan terhadap kinerja
perbankan, yang dinilai melalui tingkat keuntungan serta
tingkat risiko yang ditimbulkan. Selain itu, instrumen keuangan
yang diterbitkan oleh Bank Indonesia juga memengaruhi sejauh
mana fungsi bank dapat beroperasi secara efektif.
Dengan menganalisis pengaruh variabel-variabel ini,
diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang
berarti terhadap pemahaman yang lebih baik mengenai
dinamika pasar perbankan syariah di Indonesia, serta
membantu bank syariah dalam merumuskan strategi yang
efektif untuk meningkatkan pangsa pasar mereka. Sehingga,
hubungan antar variabel dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa ROA dan CAR berkontribusi positif terhadap market
share, di mana kinerja keuangan yang efisien dan modal yang
memadai meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank
syariah. Sebaliknya, NPF memiliki pengaruh negatif karena
tingginya pembiayaan bermasalah dapat menurunkan
kepercayaan nasabah, yang berdampak buruk pada pangsa
pasar. Selain itu, DPK berperan sebagai indikator kepercayaan
masyarakat, di mana peningkatan volume DPK menunjukkan
kepercayaan yang lebih tinggi terhadap bank, yang mendukung
peningkatan market share. Sedangkan BOPO memiliki pengaruh
negatif, semakin tinggi nilai BOPO, maka semakin rendah nilai
profitabilitas sebuah bank. Hal ini menunjukan bahwa efisiensi
dalam pengelolaan biaya operasioanl sangat penting untuk
7
meningkatkan kinerja keuangan dan daya saing market share
suatu bank.
Tabel 1.2 Data Rasio Keuangan Bank Umum Syariah
DPK
Tahu ROA( CAR( NPF( BOPO( MS (%)
(Triliu
n %) %) %) %)
n)
2021 1.55 25.71 2.59 365.4 84.33 6.74
2022 2.00 26.28 2.35 429.0 77.28 7.09
2023 1.86 25.41 2.04 684.5 78.97 7.44
2024 2.04 25.30 2.11 753.6 76.34 11.45
Sumber : Otoritas Jasa Keuangan (Data diolah)
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Return on
Assets (ROA) pada tahun 2021 tercatat sebesar 1,55%, yang
dapat dikatakan menunjukan pemulihan akibat tekanan ekonomi
yang ditimbulkan dari adanya pandemi COVID-19. Pada tahun
2022, ROA mengalami peningkatan yang cukup signifikan
menjadi 2.00%. Memasuki tahun 2023, ROA mulai menunjukkan
adanya penurunan menjadi 1,86% hal ini dipengaruhi oleh
adanya peningkatan beban operasional yang berakibat pada
ROA meskipun tidak cukup besar. Pada akhir tahun 2024, ROA
berhasil meningkat cukup signifikan hingga mencapai 2,04%,
mencerminkan perbaikan kinerja keuangan yang konsisten.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Capital Adequacy
Ratio (CAR) juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2021
CAR justru meningkat menjadi 25,71%, mencerminkan
ketahanan modal. Bank mengindikasikan tingkat permodalan
yang kuat, meskipun sektor keuangan menghadapi tekanan di
tahun 2020. Peningkatan ini berlanjut pada tahun 2022 dengan
CAR sebesar 26,28%, dan terjadi penurunan pada tahun 2023
8
menjadi 25,41%. Pada tahun 2024 kembali terjadi penurunan
CAR yang mencapai jumlah 25,30%,
Dari sisi kualitas aset, Non-Performing Financing (NPF)
menunjukkan pola fluktuatif. Pada tahun 2021, NPF berada pada
tingkat 2,59%, masih dalam kategori sehat meskipun dalam
dampak pandemi 2020. NPF menjadi 3,22% pada tahun 2022,
angka tersebut menunjukan semakin kecil NPF semakin baik
pula kesehatan rasio pembiayaan pada bank. Seiring dengan
upaya pemulihan ekonomi nasional, NPF menurun menjadi
2,04% pada tahun 2023 sehingga menunjukan sisi positif. Di
tahun 2024 di mana NPF meningkat menjadi 2,11%,
menunjukkan perubahan dalam manajemen risiko kredit
meskipun tidak terlalu signifikan.
Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) turut
menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
sektor perbankan. Pada tahun 2021, DPK tumbuh sebesar 365,4
Triliun rupiah dibandingkan tahun sebelumnya akibat pandemi
COVID-19. Pada tahun 2022 DPK meningkat secara signifikan
menjadi sebesar 429,0 Triliun rupiah. Pertumbuhan ini berlanjut
pada tahun 2023 dengan kenaikan menjadi 684,5 Triliun rupiah,
seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi. Meskipun laju
pertumbuhan cukup cepat pada tahun 2023, DPK tetap
menunjukkan pertumbuhan yang stabil hingga tahun 2024
sebesar 753,6 Triliun rupiah, mencerminkan kepercayaan
masyarakat yang tetap tinggi terhadap industri perbankan.
Pertumbuhan BOPO juga mencerminkan efisiensi dan
kinerja perbankan syariah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021
BOPO tercatat sebesar 84,33%, yang menunjukan bahwa bank-
bank syariah masih menghadapi tantangan dalam mengelola
biaya operasional. Dengan seiring berbagai inisiatif untuk
9
meningkatkan pendapatan dan efisiensi, BOPO mengalami
penurunan menjadi 77,28% ditahun 2022, meskipun di tengah
tantangan yang ditimbulkan setelah pandemi COVID-19. Di
tahun 2023 , dengan pemulihan ekonomi yang mulai terlihat,
BOPO mengalami kenaikan persen menjadi 78,97%, hal ini
masih mencerminkan kinerja yang stabil dan adaptasi yang baik
terhadap kondisi pasar. Hingga tahun berikutnya 2024 BOPO
memiliki perubahan yang cukup signifikan dengan tercatat pada
angka 76,34% yang menunjukan bahwa proyeksi untuk tahun
2024 BOPO terus membaik hingga tahun berikutnya,
mencerminkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan komitmen
industri perbankan syariah untuk memberikan layanan yang
lebih baik kepada nasabah.
Dalam konteks ini, terdapat gap penelitian yang perlu diisi,
yaitu kurangnya penelitian yang mengkaji secara komprehensif
pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap market share
perbankan syariah dalam kurun waktu yang lebih baru.
Sebagian besar penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada
data historis atau hanya mencakup periode tertentu tanpa
mempertimbangkan dinamika terkini dalam industri perbankan
syariah. Hal ini menjadi relevan mengingat perkembangan pesat
yang dialami oleh perbankan syariah di Indonesia dalam
beberapa tahun terakhir, didorong oleh inovasi produk, adopsi
teknologi digital, serta kebijakan pemerintah yang mendukung
pertumbuhan sektor ini (Setiawan, 2017) . Selain itu, tantangan
yang dihadapi oleh bank syariah, seperti persaingan dengan
bank konvensional, fluktuasi kepercayaan nasabah terhadap
stabilitas sistem keuangan syariah, serta dampak pandemi
COVID-19 terhadap sektor keuangan, menjadikan kajian ini
semakin penting untuk dilakukan. Dengan memperbarui data
10
dan analisis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
gambaran yang lebih relevan dan mendalam mengenai faktor-
faktor yang memengaruhi market share total aset perbankan
syariah, serta memberikan kontribusi signifikan bagi
pengembangan strategi operasional dan kebijakan sektor
keuangan syariah di Indonesia (Kusumaningrum dkk., 2021) .
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan pada latar belakang,
terdapat kompleksitas hubungan antara variabel-variabel ini
untuk melakukan analisis yang mendalam. Oleh karena itu,
rumusan masalah yang akan diteliti pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1 Apakah Return on Assets (ROA) berpengaruh signifikan
terhadap market share perbankan syariah di Indonesia?
2 Apakah Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh
signifikan terhadap market share perbankan syariah di
Indonesia?
3 Apakah Non-Performing Financing (NPF) berpengaruh
signifikan terhadap market share perbankan syariah di
Indonesia?
4 Apakah Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh signifikan
terhadap market share perbankan syariah di Indonesia?
5 Apakah Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional
(BOPO) berpengaruh signifikan terhadap market share
perbankan syariah di Indonesia?
6 Apakah Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh signifikan
terhadap market share perbankan syariah di Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
11
1. Untuk menganalisis pengaruh ROA terhadap market share
bank syariah di Indonesia.
2. Untuk menganalisis pengaruh CAR terhadap market share
bank syariah di Indonesia.
3. Untuk menganalisis pengaruh NPF terhadap market share
bank syariah di Indonesia.
4. Untuk menganalisis pengaruh DPK terhadap market share
bank syariah di Indonesia.
5. Untuk menganalisis pengaruh BOPO terhadap market share
bank syariah di Indonesia.
6. Untuk menganalisis pengaruh Pertumbuhan Ekonomi
terhadap market share bank syariah di Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Harapan dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi setiap bidang
yang memiliki kepentingan beragam :
1. Bagi Peneliti : Penelitian ini dapat memberikan kontribusi
signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya dalam bidang yang diteliti. Temuan yang
dihasilkan dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut.
Melalui proses penelitian, peneliti dapat meningkatkan
keterampilan metodologis dan analitis, yang sangat penting
untuk karir akademis dan profesional mereka.
2. Bagi Akademisi : Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
sumber referensi bagi akademisi dalam mengembangkan
kurikulum atau materi ajar di institusi pendidikan. Penelitian
ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat akademis
bagi pengembangan ilmu ekonomi dan perbankan syariah,
serta manfaat praktis bagi manajemen bank syariah dalam
merumuskan strategi untuk meningkatkan market share.
1.5 Sistematika Penulisan
12
Penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I memberikan
pembahasan pendahuluan yang mencakup latar belakang
masalah, tujuan, manfaat penelitian, serta sistematika
penulisan. Bab II menjelaskan penguraian landasan teori yang
menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi market share
perbankan syariah berdasarkan ROA, CAR, NPF, DPK, BOPO
dan Pertumbuhan ekonomi. Bab III menjelaskan metode
penelitian yang digunakan, termasuk jenis dan cara
pengumpulan data, definisi variabel, populasi dan sampel, serta
metode analisis. Bab IV menyajikan hasil penelitian dan
pembahasan yang didapatkan dari hasil analisis data
menggunakan metode yang telah ditetapkan. Bab V berisi
kesimpulan sebagai hasil akhir dari jawaban atas rumusan
masalah serta memberikan saran dan penutup dari keseluruhan
penelitian yang tertera.
13
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Untuk mendukung analisis pada penelitian ini, berikut
merupakan penyajian landasan teori yang relevan dengan
penelitian ini:
2.1.1 Market Share
Dalam industri, market share adalah proporsi total penjualan
atau aset yang dikuasai oleh suatu perusahaan terhadap total
penjualan atau aset di pasar tersebut. Market share dalam
konteks perbankan syariah menunjukkan bagaimana posisi bank
dalam hubungannya dengan bank-bank lain, baik syariah
maupun konvensional. Peningkatan market share menandakan
bahwa bank telah berhasil menarik lebih banyak nasabah dan
meningkatkan kepercayaan masyarakat. “Pangsa pasar yang
tinggi dapat menjadi indikator keberhasilan dalam memenuhi
kebutuhan nasabah,” Penuturan Iqbal (2015). Inovasi produk,
14
kualitas layanan, dan kinerja keuangan adalah beberapa faktor
yang mempengaruhi pangsa pasar. Pangsa pasar yang besar
biasanya diasosiasikan dengan bank-bank syariah yang lebih
stabil dan kompetitif.
Selain itu, market share yang besar dapat membuat bank
lebih menarik bagi investor. Memiliki pangsa pasar yang cukup
besar di sektor perbankan syariah dapat membantu bank dalam
menciptakan lebih banyak barang dan jasa yang inovatif. Oleh
karena itu, sangat penting untuk meneliti bagaimana faktor-
faktor seperti ROA, CAR, NPF, dan DPK mempengaruhi pangsa
pasar bank syariah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki korelasi antara market share dan kinerja keuangan
dalam kerangka kerja perbankan syariah di Indonesia.
2.1.2 Return On Asset (ROA)
Rasio Return On Asset (ROA) merupakan kemampuan bank
untuk menghasilkan dana dari semua asetnya. ROA yang tinggi
menunjukkan bahwa bank dapat secara efektif mengelola
asetnya untuk menghasilkan keuntungan. ROA adalah metrik
penting untuk mengevaluasi efektivitas operasional dan
keberhasilan keuangan bank dalam konteks perbankan syariah.
“Bank syariah dengan ROA yang tinggi cenderung lebih menarik
bagi nasabah, yang dapat berkontribusi pada peningkatan
pangsa pasar,” kata Lasrin dkk. (2021). Kapasitas bank untuk
mengendalikan risiko dan memanfaatkan peluang pasar juga
ditunjukkan oleh ROA. Bank dengan tingkat pengembalian aset
(ROA) yang tinggi menunjukkan kemampuan mereka untuk
meningkatkan laba dengan menggunakan aset lancar mereka.
Hal ini dapat menarik lebih banyak simpanan dan meningkatkan
kepercayaan konsumen. Selain itu, ROA yang tinggi dapat
15
membantu investor memahami seberapa baik kinerja bank. Oleh
karena itu, mengendalikan ROA sangat penting untuk
memahami bagaimana ROA mempengaruhi market share bank-
bank syariah di Indonesia. Kontribusi ROA terhadap market
share dalam konteks perbankan syariah akan dikaji dalam
penelitian ini.
2.1.3 Capital Adequacy Ratio (CAR)
Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal bank
adalah pengukuran rasio modal relatif terhadap risiko. CAR
yang tinggi menunjukkan bahwa bank memiliki penyangga
modal yang cukup untuk menahan kerugian, sehingga
meningkatkan kepercayaan nasabah. CAR juga memastikan
bahwa bank mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) dalam perbankan syariah. “Bank dengan
CAR yang baik cenderung lebih stabil dan mampu bersaing di
pasar, yang dapat berdampak positif terhadap pangsa pasar,”
Mauli Desil (n.d.) CAR yang tinggi dapat menarik lebih banyak
konsumen dan investor, sehingga membantu meningkatkan aset
bank.
Selain itu, CAR yang baik mengindikasikan pengendalian
risiko yang efisien di dalam bank. Menjaga kepercayaan
nasabah dan membangun loyalitas mereka bergantung pada hal
ini. Bank syariah dengan CAR yang tinggi dapat lebih agresif
dalam menyalurkan pembiayaan, sehingga menghasilkan lebih
banyak pendapatan. Oleh karena itu, sangat penting untuk
menyelidiki korelasi antara pangsa pasar dan CAR dalam
konteks perbankan syariah. Market share bank syariah di
Indonesia akan dikaji dalam makalah ini dalam kaitannya
dengan CAR.
16
2.1.4 Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah
adalah metrik penting untuk mengevaluasi kelayakan keuangan
bank, terutama dalam konteks perbankan syariah. Situasi
keuangan bank dapat sangat dipengaruhi oleh penilaian NPF
terhadap persentase pendanaan yang tidak dapat dibayar
kembali oleh debitur. Dalam perbankan syariah, di mana
keterbukaan dan keadilan sangat dijunjung tinggi, NPF yang
tinggi dapat menurunkan kepercayaan nasabah. Nasabah
seringkali memilih bank dengan reputasi yang kuat dan risiko
yang kecil, sehingga kepercayaan ini sangat penting.
Mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar bank syariah
dengan demikian bergantung pada administrasi NPF yang
efisien. Studi mengungkapkan bahwa bank dengan NPF rendah
lebih menarik bagi konsumen, sehingga meningkatkan market
share mereka. Selain itu, bank dapat mengalami penurunan
pendapatan karena NPF yang tinggi. Hal ini dikarenakan bank
harus menyisihkan dana khusus untuk kredit bermasalah, yang
dapat berdampak pada ROA dan ROE.
Demi menjaga sektor perbankan syariah tetap sehat,
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberlakukan peraturan yang
ketat dan memonitor dana bermasalah (NPF). “NPF yang tinggi
tidak hanya mencerminkan peningkatan risiko kredit, tetapi
juga dapat mengurangi daya tarik bank syariah di mata
nasabah,” menurut penelitian Hidayat dan Rahman (2021). Oleh
karena itu, lembaga keuangan syariah harus mencari cara untuk
menurunkan NPF, seperti lebih teliti dalam mengevaluasi
pinjaman dan berkomunikasi lebih baik dengan nasabah yang
berutang. Selain itu, peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dapat
membantu bank untuk mengatasi masalah NPF karena lebih
17
banyak dana yang dihimpun membuat bank lebih mudah
beradaptasi dalam menangani risiko. Karena NPF yang tinggi
dapat menghambat ekspansi bank, maka sangat penting untuk
menyeimbangkan antara pertumbuhan aset dan manajemen
risiko. Dengan demikian, manajemen NPF yang efektif tidak
hanya memperbaiki kondisi bank tetapi juga membantu
meningkatkan pangsa perbankan syariah di Indonesia.
2.1.5 Dana Pihak Ketiga (DPK)
Salah satu sumber dana utama bagi bank termasuk bank syariah
adalah Dana Pihak Ketiga (DPK). Dana pihak ketiga adalah
semua uang masyarakat yang dihimpun oleh bank, baik dalam
bentuk giro, deposito, maupun tabungan. Dalam kerangka kerja
perbankan syariah, DPK cukup krusial karena merupakan modal
dasar untuk pembiayaan konsumen. Kemampuan bank untuk
meminjamkan uang tumbuh seiring dengan jumlah DPK yang
diterimanya, yang berarti bank tersebut memiliki peluang yang
lebih baik untuk meningkatkan pangsa pasarnya. Studi
mengungkapkan bahwa bank-bank Islam yang memiliki jumlah
simpanan yang besar biasanya memiliki daya saing yang lebih
tinggi di pasar. Hal ini dikarenakan bank dapat menyediakan
barang dan jasa yang lebih bervariasi kepada nasabahnya.
Selain itu, yang mencerminkan kepercayaan masyarakat
terhadap bank syariah-komponen penting dalam menarik lebih
banyak nasabah-adalah jumlah simpanan yang tinggi.
Penelitian oleh Rahman (2021) menunjukkan bahwa
“tingkat simpanan yang tinggi memberikan fleksibilitas dalam
mengelola pembiayaan, sehingga membantu pertumbuhan
pangsa pasar bank syariah.” Oleh karena itu, bank syariah tidak
dapat meningkatkan pangsa pasar mereka tanpa administrasi
18
simpanan yang efisien. Lembaga-lembaga keuangan syariah
juga perlu memperbaiki iklan mereka jika mereka ingin
mengumpulkan lebih banyak uang dari masyarakat umum.
Dalam situasi ini, konsumen mungkin tertarik pada inovasi
barang dan jasa yang mengikuti pedoman syariah.
Dengan itu harus ada pertimbangan keselarasan antara
pengendalian risiko dan ekspansi deposito karena manajemen
yang tidak memadai dapat menyebabkan masalah likuiditas.
Untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan, bank-bank
syariah harus selalu memeriksa dan menilai kebijakan
penanganan simpanan mereka. Lebih jauh lagi, DPK berfungsi
sebagai indikator kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-
lembaga syariah, yang secara signifikan mempengaruhi pangsa
pasar, selain sebagai sumber pendanaan.
2.1.6 Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional)
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa
efisiensi suatu bank dalam mengelola pendapatanya untuk
memenuhi kebutuhan operasional bank. Diteliti lebih lanjut,
pengendalian yang efektif dapat berdampak positif pada
peningkatan kinerja usaha. Oleh karena itu, jika bank syariah
mampu mengelola biaya operasional dengan baik, diperkirakan
pangsa pasar bank syariah akan mengalami peningkatan.
Hal ini disebabkan oleh pengendalian yang mencakup
berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan
perusahan. Penilaian BOPO dilakukan berdasarkan kriteria
peringkat, dimana peringkat 1 menunjukan keriteria terbaik,
yitu ketika nilai BOPO berada di bawah atau sama dengan 83%.
BOPO akan dikategorikan peringkat 2 jika nilainya berada di
19
antara 83% hingga 85%. Kriteria peringkat 3 diberikan jika
BOPO berkisar di antara 85% hingga 87%. Kriteria peringkat 4
berlaku untuk BOPO yang berada diantara 87% hingga 89%.
Sedangkan peringkat terakhir, yang merupakan peringkat
terendah, diberikan jika BOPO melebihi 89%.
2.1.7 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi memiliki peran dalam meningkatkan
market share total aset perbankan syariah. Menurut Arwendi
(2024), pertumbuhan ekonomi yang positif meningkatkan daya
beli masyarakat dan aktivitas ekonomi, sehingga mendorong
peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran
pembiayaan oleh bank syariah. Kondisi ini secara langsung
memperbesar total aset bank syariah dan memperkuat pangsa
pasar mereka di industri perbankan nasional. Dengan demikian,
pertumbuhan ekonomi menjadi pendorong utama ekspansi aset
dan penguatan posisi bank syariah di pasar.
Selain itu, Rokhman (2024) menekankan bahwa
pertumbuhan ekonomi yang stabil juga meningkatkan
kepercayaan nasabah terhadap perbankan syariah, yang
tercermin dari peningkatan non-performing financing (NPF)
yang terkendali dan profitabilitas yang membaik. Faktor-faktor
tersebut berkontribusi pada peningkatan market share karena
bank syariah mampu menawarkan produk yang kompetitif dan
sesuai dengan prinsip syariah, sehingga menarik lebih banyak
nasabah dan memperluas basis asetnya.
Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia
(2023) mencatat bahwa inovasi ini menjadi strategi penting
dalam memperbesar total aset dan pangsa pasar perbankan
syariah. Dengan pengembangan produk yang relevan dan
20
layanan yang kompetitif, bank syariah mampu memperkuat
posisinya sebagai pilar utama dalam sistem keuangan nasional
yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pertumbuhan
ekonomi tidak hanya meningkatkan kapasitas keuangan bank
syariah, tetapi juga memperkuat daya saing dan market share
secara keseluruhan.
2.2 Kajian Pustaka
Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pangsa
pasar telah banyak dilakukan. Pada penelitian
Saputra (2014)
yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi pangsa pasar perbankan syariah dengan
menggunakan analisis regresi yang menunjukan hasil bahwa
ROA, CAR, FDR memiliki pengaruh positif signifikan terhadap
market share. Sedangkan NPF berpengaruh negatif signifikan
terhadap market share.
Selanjutnya pada penelitian Rahman (2016) menggunakan
metode analisa kuantitatif model VAR, dengan sampel Bank
Syariah di bulan Januari 2010 hingga Desember 2015. Variabel
bebas dari penelitian iini yaitu NPF, BOPO, CAR dan SBIS ,
sedangkan variabel terikat ini berupa Market Share Bank
Syariah. Mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek atau
pada awal penelitian, BOPO memiliki pengaruh yang paling
signifikan. Sementara itu dalam jangka panjang atau pada akhir
pengamatan, NPF menunjukan pengaruh yang paling besar
terhadap market share bank syariah, dengan kontribusi sebesar
29,02%. Variabel SBI memberikan pengaruh besar 15,68%,
sedangkan CAR berkontribusi terhadap market share bank
syariah sebesar 2,97% pada akhir periode penelitian.
Nurdin (2018) meneliti pengaruh faktor-faktor kinerja
keuangan dan aspek teknologi terhadap market share
21
perbankan syariah dengan variabel bebas BOPO, ROA, NPF,
Electronic Banking dan variabel terikat Market Share. Metode
yang digunakan di penelitian ini adalah analisa kuantitatif
dengan analisis linier berganda. Hasil dari penelitian ini
menunjukan bahwa variabel electronic banking secara individu
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap market share.
Namun, variabel biaya operasional pendapatan operasional
(BOPO), ROA, NPF dan electronic banking secara bersamaan
tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap pangsa
pasar.
Pengaruh kinerja keuangan terhadap market share
perbankan syariah di Indonesia dengan menggunakan laporan
keuangan triwulanan dari 8 Bank Umum Syariah yang
memenuhi syarat selama periode 2019-2021, dengan total 96
titik data. Metode yang digunakan yaitu metode regresi data
panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR berpengaruh
positif terhadap market share, sedangkan NPF dan DPK
berpengaruh negatif. Hasil penelitian tersebut di kaji oleh
Delvia Melina dkk (2022) . Pada penelitian yang dilakukan oleh
Sari dan Aisyah (2022) menggunakan laporan keuangan
tahunan 8 Bank Umum Syariah periode 2014 hingga 2020
dengan menggunakan ROA sebagai variabel mediasi. Ditemukan
hasil bahwa Dana Pihak Ketiga dan Return On Asset memiliki
pengaruh terhadap market share baik secara simultan maupun
secara parsial.
Pada penelitian ini merupakan tindak lanjut dari penelitian
sebelumnya oleh Astuti (2023) mengenai analisis faktor apa saja
yang mempengaruhi market share pada bank syariah. Pada
penelitian tersebut pendekatan yang digunakan yaitu
pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi data
22
panel. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa ROA dan DPK
berpengaruh posisif dan signifikan terhadap market share
perbankan syariah. CAR dan NPF tidak berpengaruh terhadap
market share perbankan syariah. Namun secara simultan ROA,
CAR, NPF dan DPK memiliki pengaruh terhadap market share.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Arwendi (2024) dan
penelitian oleh Rokhman (2024) yang menggunakan metode
regresi data panel untuk menguji dampak petumbuhan ekonomi
terhadap total aset dan market share perbankan syariah,
dengan hasil menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi yang
stabil dan positif meningkatkan total aset. Hasil penelitian ini
juga menegaskan bahwa selain faktor ekonomi makro, faktor
interna seperti NPF dan menajemen risiko turut mempengaruhi
market share perbankan syariah. Secara keseluruhan,
pertumbuhan ekonomi menjadi variabel kunci yang mendorong
ekspansi aset dan penguatan posisi perbankan syariah.
Penelitian yang telah dipaparkan diatas memiliki
persamaan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu
mengenai market share sebagai tema utama. Dan terdapat
beberapa perbedaan yang akan dilakukan peneliti yaitu terletak
pada tahun yang akan diperbarui dan pada variabel independen
yang digunakan. Maka dari itu peneliti ingin mengkaji penelitian
tentang “Pengaruh Return On Asset (ROA), Capital Adequacy
Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Dana Pihak
Ketiga (DPK), Biaya Operasional Pendapatan Operasional
(BOPO), dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Market Share
Total Aset Perbankan Syariah Indonesia”
2.3 Hipotesis Penelitian
23
Berdasarkan teori dan penelitian yang telah di paparkan
sebelumnya, disebutkan rumusan hipotesis dalam penelitian ini
sebagai berikut :
2.3.1 Pengaruh ROA terhadap Market Share
Return On Asset (ROA) yang tinggi menunjukkan bahwa bank
mampu mengelola asetnya secara efektif, yang menunjukkan
kinerja keuangan yang kuat. indikator kinerja ROA penting
untuk mengevaluasi efisiensi lembaga syariah dalam
menghasilkan keuntungan dari total asetnya. Kepercayaan
nasabah merupakan hal yang paling penting dalam sektor
perbankan syariah, dan bank-bank yang memiliki tingkat
pengembalian aset (ROA) yang tinggi akan lebih menarik bagi
nasabah. Hal ini berpotensi meningkatkan kepercayaan dan
loyalitas nasabah, yang pada gilirannya mendorong peningkatan
market share.
Rahman (2021) telah melakukan penelitian yang
menunjukkan bahwa “ROA yang tinggi meningkatkan pangsa
pasar bank syariah dengan mencerminkan efisiensi operasional
dan kapasitas bank untuk menghasilkan laba.” Oleh karena itu,
bank syariah harus memprioritaskan peningkatan ROA dengan
menerapkan strategi investasi yang tepat dan manajemen aset
yang optimal. Selain itu, posisi pasar yang kompetitif dari
sebuah bank dapat diperkuat oleh reputasi yang baik yang
merupakan konsekuensi dari ROA yang tinggi. Oleh karena itu,
daya saing dan pertumbuhan market share bank syariah juga
dipengaruhi oleh manajemen ROA yang efektif, selain
profitabilitas. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah:
H 1: ROA berpengaruh secara signifikan positif terhadap
Market Share perbankan syariah.
24
2.3.2 Pengaruh CAR terhadap Market Share
Bank yang memiliki CAR yang kuat akan lebih stabil dan dapat
menarik lebih banyak konsumen, sehingga dapat meningkatkan
pangsa pasarnya. Penelitian yang dilakukan oleh Ali dkk. (2022)
menunjukkan bahwa “CAR yang tinggi berpengaruh positif
terhadap pangsa pasar bank syariah, karena memberikan rasa
aman kepada nasabah bahwa bank memiliki cadangan modal
yang memadai.” Oleh karena itu, sangat penting bagi lembaga-
lembaga syariah untuk menjaga tingkat CAR yang optimal untuk
meningkatkan daya tarik pasar mereka. Selain itu, CAR yang
kuat sangat penting untuk pengembangan jangka panjang
organisasi, karena dapat menumbuhkan kepercayaan investor
dan pemangku kepentingan. Bank-bank syariah dapat
meningkatkan daya saing mereka di pasar dan memperkuat
posisi mereka melalui manajemen modal yang efektif. Hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H 2: CAR berpengaruh secara signifikan positif terhadap
Market Share perbankan syariah.
2.3.3 Pengaruh NPF terhadap Market Share
Pembiayaan bermasalah atau yang biasa disebut dengan NPF
adalah rasio yang mengukur persentase pembiayaan yang tidak
dapat dilunasi oleh debitur. Tingkat NPF yang tinggi di
perbankan syariah dapat menjadi indikator risiko kredit yang
tinggi dan dapat berdampak pada reputasi bank. Bank dengan
NPF yang minim akan lebih diminati oleh nasabah karena
mengindikasikan bahwa bank tersebut memiliki manajemen
risiko yang efektif. Sari dan Putri (2020) melakukan penelitian
yang menunjukkan bahwa “NPF yang rendah berpengaruh
positif terhadap pangsa pasar bank syariah, karena
mencerminkan kesehatan keuangan dan kemampuan
25
manajemen risiko bank.” Oleh karena itu, sangat penting untuk
menerapkan administrasi NPF yang efektif untuk memperluas
pangsa pasar. Untuk mempertahankan NPF yang rendah, bank
syariah harus menerapkan strategi mitigasi risiko yang efektif
dan melakukan analisis kredit yang menyeluruh. Oleh karena
itu, administrasi NPF yang efektif tidak hanya meningkatkan
kesehatan bank secara keseluruhan, tetapi juga berkontribusi
pada perluasan pangsa pasar di pasar yang kompetitif. Hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H 3: NPF berpengaruh secara signifikan negatif terhadap
Market Share perbankan syariah.
2.3.4 Pengaruh DPK terhadap Market Share
Dana Pihak Ketiga yang besar lebih kompetitif di pasar. Hal ini
merupakan hasil dari kemampuan bank untuk menyediakan
produk dan layanan yang lebih luas kepada nasabahnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah juga tercermin
dari tingginya jumlah simpanan yang merupakan faktor penting
dalam menarik tambahan konsumen. “Tingkat simpanan yang
tinggi berkontribusi positif terhadap perkembangan pangsa
pasar bank syariah, karena memberikan fleksibilitas dalam
pengelolaan pembiayaan,” menurut penelitian yang dilakukan
oleh Ali dan Rahman (2021).” Oleh karena itu, bank syariah
harus memastikan bahwa simpanan mereka dikelola secara
efektif untuk memperluas pangsa pasar mereka. Selain itu,
lembaga keuangan syariah harus menetapkan strategi
pemasaran yang sesuai untuk menarik dana tambahan dari
masyarakat. DPK juga berfungsi sebagai indikator kepercayaan
masyarakat terhadap institusi syariah yang secara signifikan
mempengaruhi pangsa pasar, selain sebagai sumber pendanaan.
26
Salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan dan pertumbuhan
yang berkelanjutan dalam industri perbankan syariah yang
semakin kompetitif adalah dengan penerapan manajemen DPK
yang efektif. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah:
H 4 : DPK berpengaruh secara signifikan positif terhadap
Market Share perbankan syariah.
2.3.5 Pengaruh BOPO terhadap Market Share
Rasio Keuangan yang berfungsi untuk menilai efisiensi bank
dalam mengelola biaya operasional dibandingkan dengan
pendapatan yang dihasilkan yaitu BOPO. Menurut Harun (2016),
BOPO dihitung dengan menjumlahkan total beban bunga dan
biaya operasional, sedangkan pendapatan operasional diperoleh
dari penjumlahan total pendapatan bunga dan pendapatan
operasional lainnya. Jika diteliti lebih dalam, pengendalian dapat
berdampak pada peningkatan kinerja usaha. Oleh karena itu,
jika bank syariah mampu mengendalikan biaya operasionalnya,
diperkirakan pangsa pasar bank syariah akan meningkat. Hal ini
disebabkan oleh pengendalian yang mengatur berbagai aspek
yang berkaitan dengan peningkatan perusahaan.
Dengan demikian, BOPO memiliki pengaruh negatif terhadap
pangsa pasar. Penurunan BOPO menunjukan sisi positif dari
operasional bank tersebut, dan sebaliknya apabila BOPO terjadi
peningkatan maka hal tersebut menandakan adanya
ketidakefisienan dalam operasinal bank. Hal tersebut berakibat
pada bank yang kemungkinan akan terjadi peningkatan
terhadap nisbah, margin, atau bagi hasil untuk meningkatkan
pendapatan, yang dapat menimbulkan risiko yang berpotensi
mengurangi pangsa pasar bank syariah. Semakin tinggi rasio
27
BOPO suatu bank, semakin rendah efisiensi bank tersebut.
Karena beban operasional yang dikeluarkan tidak sebanding
dengan pendapatan operasional yang diperoleh. Kondisi ini
mencerminkan kinerja bank yang kurang baik, yang dapat
berdampak negatif pada profitabilitas. Dengan demikian,
hipotesi yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H 5: BOPO berpengaruh secara signifikan negatif terhadap
Market Share perbankan syariah.
2.3.6 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Market
Share
Salah satu faktor makro ekonomi yang diyakini memiliki
pengaruh signifikan terhadap perkembangan perbankan
syariah, termasuk dalam memperbesar market share total aset
yaitu pertumbuhan ekonomi. Ketika pertumbuhan ekonomi
suatu negara meningkat, aktivitas ekonomi dan pendapatan pun
mengalami peningkatan. Kondisi ini mendorong masyarakat
untuk lebih banyak melakukan transaksi keuangan, menabung,
dan mencari alternatif pembiayaan yang sesuai dengan prinsip
syariah. Sebagai konsekuensinya, perbankan syariah akan
mengalami peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga serta
penyaluran pembiayaan, yang secara langsung berdampak pada
aset bank.
Dengan demikian, dapat diajukan hipotesis bahwa
pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap market share total aset. Semakin tinggi tingkat
pertumbuhan ekonomi, semakin besar pula pangsa pasar yang
dapat dikuasai oleh perbankan syariah melalui total asetnya.
Dan juga sebaliknya, apabila pertumbuhan ekonomi stagnan
atau menurun, maka potensi ekspansi aset dan pangsa pasar
28
perbankan syariah juga akan terbatas. Oleh karena itu,
memahami hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan market
share total aset perbankan syariah menjadi penting untuk
merumuskan strategi pengembangan sektor keuangan syariah
yang efektif dan berkelanjutan.
H 6: Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh secara signifikan
positif terhadap Market Share perbankan syariah.
2.4 Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertujuan guna untuk menganalisis pengaruh
variabel independen sebagai variabel X yang terdiri dari ROA,
CAR, NPF, DPK, BOPO, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap
variabel dependen yaitu Market Share Total Aset. Gambar
berikut merupakan kerangka pemikiran yang akan dilakukan
guna melakukan penelitian :
ROA (X ¿ ¿1)¿
CAR (X ¿ ¿ 2)¿
NPF (X ¿ ¿3)¿
Market Share
(Y )
DPK (X ¿ ¿ 4)¿
BOPO (X ¿ ¿5)¿
PE (X ¿ ¿ 6)¿
Gambar 2. 1. Kerangka Pemikiran
29
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, penelitian ini
didasarkan pada analisis data numerik. Metode ini berusaha
menyajikan fakta secara objektif dengan menggunakan angka-
angka-seperti persentase, rasio keuangan, tingkat
pengangguran, atau penanda lainnya. Jenis data yang digunakan
adalah data panel, yaitu gabungan antara data time series dan
cross section. Data ini bersifat sekunder, diperoleh dari
dokumen atau sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
Periode penelitian ini mencakup data yang diekstrak dari
laporan keuangan 8 (delapan) bank syariah di Indonesia untuk
periode 2017-2024 digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan
30
data ini karena merepresentasikan dinamika ekonomi yang
berbeda. Data yang digunakan berupa laporan keuangan
triwulan bank syariah, yang telah dipublikasikan.
3.2 Populasi dan Sampel
Penentuan populasi dan sampel merupakan langkah penting
untuk memperoleh data yang akurat dan representatif. Populasi
mencakup keseluruhan subjek atau objek yang memiliki
karakteristik tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Namun,
karena keterbatasan diambilah sebagian dari populasi tersebut
yang disebut sampel, yang diharapkan dapat mewakili
karakteristik populasi secara keseluruhan.
3.2.1 Populasi
Penelitian ini menggunakan populasi Bank Umum Syariah (BUS)
di Indonesia periode 2017–2024. Berdasarkan data dari Otoritas
Jasa Keuangan (OJK), jumlah Bank Umum Syariah yang
terdaftar sebanyak 14 bank. Pemilihan populasi ini didasarkan
pada pertimbangan bahwa bank umum syariah memiliki laporan
keuangan yang lengkap, terperinci, dan konsisten. Sehingga
data yang diperoleh dapat mendukung keakuratan dan
kelengkapan analisis penelitian.
3.2.2 Sampel
Proses pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui
dua tahapan. Tahap pertama menggunakan teknik purposive
sampling, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan
karakteristik tertentu dari populasi. Berikut kriteria yang
digunakan untuk menentukan sampel penelitian ini:
1. Bank Umum Syariah (BUS) yang terdaftar di Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) selama periode 2017-2024.
31
2. Bank yang mempublikasi laporan keuangan secara lengkap
dan konsisten setiap tahun
3. Bank yang telah beroperasi setidaknya sejak tahun 2017 atau
lebih dari lima tahun untuk memastikan kelengkapan data.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dari total 14 Bank
Umum Syariah (BUS) yang terdaftar, terdapat 8 bank yang
memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini.
Tabel 3. 1. Sampel Bank Umum Syariah
No. Bank Umum Syariah
1. Bank Syariah Bukopin
2. Bank Victoria Syariah
3. Bank BTPN
4. Bank Mega Syariah
5. BCA Syariah
6. Bank Muamalat
7. Bank Syariah Indonesia
8. Bank Aceh Syariah
Sumber: Data sampel diolah
3.3 Definisi Variabel Operasional
Variabel operasional menjelaskan bagaimana setiap variabel
dalam penelitian diukur dan diterapkan secara konkret, terdapat
variabel dependen dan variabel independen yang digunakan
dalam penelitian ini sebagai berikut.
3.3.1 Variabel Dependen
Dalam sebuah penelitian, variabel dependen adalah variabel
yang nilainya bergantung pada variabel lain. Dalam kerangka
32
penelitian, variabel ini biasanya dilihat sebagai hasil atau efek
dari variabel independen. Dalam penelitian tentang bagaimana
waktu belajar mempengaruhi hasil ujian, misalnya, nilai ujian
adalah variabel terikat yang dipengaruhi oleh waktu belajar.
Sugiyono (2017) mengatakan “variabel terikat adalah variabel
yang menjadi fokus penelitian dan diukur untuk melihat
pengaruh dari variabel bebas.
Total Aset Bank Syariah
Market Share= x 100 %
Total Aset BUS dan UUS
ROA merupakan rasio keuangan yang mengukur kemampuan
bank dalam mengelola total asset produktifnya untuk
menghasilkan laba bersih. Menurut Rohmiati dkk (2019)
3.3.2 Variabel Independen
1. ROA
Return On Asset (ROA) adalah rasio keuangan yang mengukur
seberapa efektif perusahaan menggunakan asetnya untuk
menghasilkan laba. Dalam penelitian, ROA berfungsi sebagai
variabel independen dan memungkinkan seseorang untuk
memeriksa bagaimana keberhasilan pengelolaan keuangan
perbankan mempengaruhi faktor-faktor lainnya, seperti nilai
atau ekspansi. Besarnya tingkat keuntungan yang diperoleh
suatu bank yaitu dipengaruhi oleh besarnya rasio ROA. Berikut
merupakan rumus dalam mengukur rasio ROA :
Laba Bersih
ROA= x 100 %
Total Aset
2. CAR
Menurut Mardiasmo (2018), “CAR merupakan ukuran yang
penting untuk menilai kemampuan bank dalam menghadapi
risiko dan menjaga stabilitas keuangan.” Secara penelitian, CAR
sebagai variabel independen dapat digunakan untuk menguji
33
bagaimana kecukupan modal mempengaruhi kinerja bank atau
stabilitas keuangan. Untuk menghitung rasio CAR dapat
diformulasikan dengan :
Modal Bank
CAR= x 100 %
Total Aset Tertimbang Menurut Risiko
3. NPF
Harahap (2019) menyatakan bahwa “NPF merupakan indikator
penting yang menunjukkan seberapa besar risiko pembiayaan
yang dihadapi oleh bank syariah, dan dapat mempengaruhi
profitabilitas dan stabilitas keuangan.” NPF pada variabel
independen penelitian ini berfungsi untuk menganalisis
pengaruh kualitas pembiayaan terhadap kinerja keuangan bank
dalam perkembangan market share total aset. Dalam hal ini
maka bank harus mengupayakan semaksimal mungkin untuk
mengurangi risiko kegagalan para nasabah dalam
mengembalikan pinjaman kepada bank. Guna mengukur rasio
NPF, maka dapat diformulasikan dengan rumus :
Pembiayaan Bermasalah
NPF= x 100
Total Pembiayaan
4. DPK
Kasmir (2014) mengatakan bahwa Dana Pihak Ketiga
merupakan dana yang diperoleh bank dari masyarakat yang
terdiri dari deman deposit (simpanan giro), saving deposit
(simpanan tabungan), time deposit (simpanan deposito). Sumber
pendanaan utama bagi bank yang memungkinkan untuk
memberikan kredit dan melakukan investasi adalah DPK.
Penelitian yang menggunakan DPK sebagai variabel independen
dapat meneliti bagaimana likuiditas bank mempengaruhi kinerja
34
keuangan atau perkembangan aset. Untuk mengukur rasio DPK,
maka rumus yang digunakan sebagai berikut:
DPK =Giro+Tabungan+ Deposito
5. BOPO
BOPO menggambarkkan rasio antara beban operasional bank
yang digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari dengan
pendapatan operasional yang diperoleh sebagai sumber
pembiayaan aktivitas tersebut. Efisiensi bank dalam mengelola
biaya operasionalnya berperan penting dalam meningkatkan
peluang untuk meraih keuntungan yang maksimal. Semakin
kecil nilai persen yang ada pada BOPO, maka semakin
meningkat tingkat efisiensi bank dalam melaksanakan kegiatan
operasionalnya. Untuk mengukur rasio BOPO, maka rumus yang
digunakan sebagai berikut:
BOPO= ( Pendapatan Operasional )
Biaya Operasional
× 100
6. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan bagian faktor pendorong
utama yang mempengaruhi market share total aset. Sebagai
variabel independen, pertumbuhan ekonomi mengacu pada
peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa suatu negara
dalam jangka waktu terentu, biasanya diukur melalui
pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
PDB=
( PDB t −1 )
PDBt −PDB t−1
×100
3.4 Metode Analisis
Pada penelitian ini memiliki beberapa metode analisis yang akan
digunakan. Metode yang digunakan yaitu regresi data panel
yang merupakan kombinasi data time series dan cross section.
35
Pengaplikasian olah data menggunakan perangkat lunak Eviews
13 Beberapa metode tersebut diuraikan sebagai berikut :
3.4.1 Uji Statistik Deskriptif
Uji statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran
umum mengenai karakteristik data dalam penelitian. Analisis ini
mencakup nilai maksimum, minimum, rata-rata (mean), dan
standar deviasi dari masing-masing variabel yang digunakan
seperti CAR, ROA, NPF, DPK, BOPO, dan Pertumbuhan ekonomi
pada perbankan syariah.
3.4.2 Pendekatan Model Regresi
Pendekatan model regresi pada penelitian ini menggunakan
regresi data panel yang merupakan data yang mengandung
informasi tentang banyak individu (cross-section) yang diamati
pada beberapa titik waktu (time series), dan analisis regresi
data panel memungkinkan peneliti untuk mengatasi masalah
heterogenitas dan meningkatkan efisiensi estimasi, demikian
menurut Gujarati dan Porter (2009). Pada regresi data panel
terdapat 3 estimasi yaitu :
1. Uji Common Effect Model
Common Effect Model diasumsikan bahwa semua individu
memiliki intersep yang sama, dan perbedaan dalam variabel
dependen hanya disebabkan oleh variasi dalam variabel
independen. Kata Wooldridge (2010). Variabel independen yang
digunakan dalam model ini bertanggung jawab atas semua
variasi dalam data, karena tidak memperhitungkan efek individu
atau efek spesifik waktu. CEM sering digunakan sebagai model
dasar untuk analisis pendahuluan sebelum penerapan model
yang lebih rumit, seperti Fixed Effect Model (FEM) atau
Random Effect Model (REM).
36
2. Uji Fixed Effect Model
Dalam analisis regresi data panel, Fixed Effect Model (FEM)
adalah metode yang digunakan untuk memperhitungkan
variabel tidak teramati yang dapat mempengaruhi variabel
dependen. Dalam model ini, intersep berbeda untuk setiap
individu atau entitas dalam sampel, sehingga memungkinkan
peneliti untuk mengidentifikasi efek spesifik individu. FEM
sangat bermanfaat ketika peneliti menduga ada karakteristik
yang tidak teramati yang berpotensi mempengaruhi hasil. Model
ini mengurangi potensi bias yang mungkin timbul dari variabel-
variabel yang tidak terukur ini.
3. Uji Random Effect Model
Random Effect Model (REM) adalah metode analisis regresi data
panel yang mengandalkan asumsi bahwa variabel independen
dalam model tidak berkorelasi dengan perbedaan antar individu.
Dalam paradigma ini, intersep dianggap sebagai variabel acak
yang dapat berfluktuasi di antara individu, sehingga
memungkinkan peneliti untuk menangkap variasi yang tidak
teramati di antara berbagai entitas. REM sering digunakan oleh
para peneliti yang berpendapat bahwa karakteristik yang tidak
teramati tidak mempengaruhi variabel independen. Akibatnya,
model ini mampu menghasilkan estimasi yang lebih efisien
daripada Fixed Effect Model (FEM). Terdapat asumsi bahwa
efek individu tidak berkorelasi dengan variabel independen dan
bersifat acak, yang memungkinkan pemanfaatan informasi dari
seluruh data panel untuk meningkatkan efektivitas estimasi,
seperti yang dinyatakan oleh Wooldridge (2010).
3.4.3 Penentuan Model Regresi
37
Untuk memilih antara Common Effect, Fixed Effect, maupun
Random Effect maka perlu adanya penentuan model regresi
berdasarkan hasil uji Chow dan uji Hausman.
1. Uji Chow Test
Dalam konteks analisis data panel, uji Chow adalah metode
statistik yang digunakan untuk memastikan apakah ada
perbedaan substansial antara dua model regresi yang berbeda.
Uji ini sering digunakan untuk menentukan apakah Fixed Effect
Model (FEM) atau Common Effect Model (CEM) yang lebih
cocok untuk analisis. Hipotesis yang dirumuskan dalam Uji
Chow adalah sebagai berikut:
H0 : Common Effect Model lebih tepat ( [Link]-
section F > 0,1)
H1 : Fixed Effect Model lebih tepat ([Link] section F
< 0,1)
Dapat diamati dari hipotesis tersebut, apabila probabilitas F
memiliki nilai lebih besar daripada taraf signifikan α 10% maka
gagal menolak H 0. Maksud dari hal tersebut bahwa Common
Effect Model adalah model yang tepat untuk digunakan atau
dapat disebut lebih baik. Dan sebaliknya apabila probabilitas F
memiliki nilai lebih kecil daripada taraf signifikan α 10% maka
menolak H 0. Dengan artian Fixed Effect Model lebih tepat
digunakan sebagai model.
2. Uji Hausman
Dalam analisis data panel, uji Hausman adalah teknik statistik
yang digunakan untuk memastikan model estimasi yang lebih
sesuai antara model fixed effect dan random effect. Uji ini
membantu peneliti dalam menentukan apakah variabel laten
dalam model efek acak berkorelasi dengan variabel
38
independen yang digunakan dalam model. Model efek tetap
lebih cocok digunakan jika terdapat korelasi.
H0 : Random Effect Model lebih tepat ( [Link]-
section F > 0,1)
H1 : Fixed Effect Model lebih tepat ( [Link]-section
F > 0,1)
Dapat diamati dari hipotesis tersebut, apabila Chi-Square
memiliki nilai lebih besar daripada taraf signifikan α 10% maka
gagal menolak H 0. Maksud dari hal tersebut bahwa Common
Effect Model adalah model yang tepat untuk digunakan atau
dapat disebut lebih baik. Dan sebaliknya apabila Chi-Square
memiliki nilai lebih kecil daripada taraf signifikan α 10% maka
menolak H 0. Dengan artian Fixed Effect Model lebih tepat
digunakan sebagai model.
3.4.4 Model Regresi Data Panel
Y ¿=¿β + β
0 1 X1¿ + β2 X 2¿ +β 3 X 3¿ + β4 X 4¿ +β 5 X 5¿ + β6 X 6¿ +e¿ ¿
Y = Market Share
β0 = Koefisien Intersep
β (1 … 2) = Koefisen variabel independent
X 1¿ = Return On Asset
X 2¿ = Capital Adequacy Ratio
X 3¿ = Non Performing Financing
X 4¿ = Dana Pihak Ketiga
X 5¿ = Beban Operasional terhadap Pendapatan
Opersional
X 6¿ = Pertumbuhan Ekonomi
3.4.5 Pengujian Hipotesis
39
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah
masing-masing variabel independen, yaitu CAR, ROA, NPF, DPK,
BOPO dan Pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap variabel dependen, yaitu market share total
aset perbankan syariah. Pengujian ini mencakup koefisien
determinasi (R²), uji parsial (uji t) untuk melihat pengaruh
masing-masing variabel secara individu, dan uji simultan (uji F)
untuk mengukur pengaruh variabel-variabel tersebut secara
bersama-sama terhadap market share. Hasil dari pengujian ini
akan menjadi dasar dalam menarik kesimpulan mengenai
hubungan statistik antara variabel-variabel yang diteliti.
1. Uji F (Simultan)
H 0 : β 1=β 2=β 3=β 4=β 5=0
H 1 : β 1 ≠ β 2 ≠ β3 ≠ β 4 ≠ β 5 ≠ 0
Uji statistik F merupakan uji yang digunakan untuk mengukur
kemampuan dari seluruh variabel independen secara simultan
untukbk mengetahui seberapa besar variabel independen
mempengaruhi variabel dependen. Apabila variabel independen
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen jika
nilai probabilitas F lebih besar dari 10% α =0 , 1. Dalam hal ini,
kita tidak dapat menolak H₀. Dan sebaliknya, H₀ ditolak jika nilai
probabilitas F lebih kecil dari 10%, yang mengindikasikan
bahwa variabel independen berpengaruh sec ara signifikan
terhadap variabel dependen.
4. Uji T (Parsial)
H o : β ( 1 , 2 , … ,n )=0
H 1 : β ( 1 ,2 , … , n ) ≠ 0
40
Uji persamaan regresi dengan uji statistik t adalah teknik yang
digunakan untuk mengevaluasi signifikansi koefisien regresi
dalam model regresi linier. Tujuan dari uji ini adalah untuk
memastikan apakah variabel dependen (respon) dalam model
regresi dipengaruhi secara signifikan oleh variabel independen
(prediktor). Terjadinya gagal menolak H 0 yaitu apabila suatu
nilai signifikan t lebih dari α =0 , 1, yang berarti variabel
indepeden tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen. Dan sebaliknya apabila signifikan t kurang dari 10%
atau α =0 , 1, maka terjadilah H 0 ditolak, dengan artian bahwa
variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap
variabel dependen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Data Penelitian
41
Deskripsi data penelitian digunakan untuk menunjukan data
variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Dalam
penelitian ini terdapat dua jenis variabel yang digunakan yaitu
variabel independen dan variabel dependen. Variabel
independen yang digunakan pada penelitian ini adalah ROA,
CAR, NPF, DPK, BOPO dan Pertumbuhan ekonomi. Sedangkan
pada variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu Market Share. Data sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini terdapat 8 Bank Umum Syariah (BUS) yang ada di
Indonesia. Bank tersebut merupakan Bank Aceh Syariah, Bank
Victoria Syariah, Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah
Bukopin, Bank BTPN syariah, Bank Mega Syariah, Bank Central
Asia Syariah, Bank Syariah Indonesia. Data pada penelitian ini
diambil dari laporan yang dipublikasikan oleh OJK secara
triwulan pada periode 2017 hingga 2024. Berikut merupakan
hasil uji statistik dengan aplikasi E-views 13:
Tabel 4.1. Statistik Deskriptif Variabel
ROA CAR NPF DPK BOPO PE MS
Mean 2989388 5.64
2.21 28.01 2.83 3 85.076 4.14
Median 6872811 1.94
1.12 23.02 2.07 . 87.46 5.02
Maximum 3.27E+0 48.38
13.58 89.47 10.92 8 180.25 7.07
Minimum 811921. 0.19
-7.13 10.16 0.25 0 42.09 -5.32
Std. Dev. 6376584 9.96
3.43 12.85 2.09 3 14.35 2.64
Jarque-Bera 255.8 220.4 490.5 991.5
4 3 74.22 1436.67 524.87 8 2
Probability 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
42
Observation 240 240 240 240 240 240 240
s
Sumber: Data diolah
4.2. Hasil Regresi Data Panel
4.2.1. Uji Chow (F-statistik)
Uji Chow merupakan uji yang umumnya digunakan untuk
menentukan model yang paling sesuai antara Fixed Effect
Model dan Common Effect Model dngan menggunkan nilai
probabilitas Cross-F. Hipotesis yang di ajukan dalam Uji Chow
adalah sebagai berikut :
H0 : Common Effect Model lebih tepat ( [Link]-
section F > 0,1)
H1 : Fixed Effect Model lebih tepat ([Link] section F
< 0,1)
Berikutnya dengan melihat besarnya angka probabilitas
Cross-F untuk penentuan model terbaik. Apabila nilai
probabilitas lebih dari alfa 10% (Prob. Cross-F>10%), maka
hasilnya menerima H 0 atau gagal menolak H 0, bahwa Common
Effect Model adalah model yang tepat untuk digunakan. Dan
sebaliknya apabila nilai probabilitas memiliki nilai kurang dari
alfa 10% (Prob. Cross-F<10%), naka hasilnya menolak H 0 atau
menerima H 1, bahwa Fixed Effect Model yang lebih baik
digunakan atau lebih tepat. Jika model FEM terpilih sebagai
model terbaik, maka perlu langkah perhitungan selanjutnya
yaitu dengan Uji Hausman, Namun jika CEM yang terpilih
menjadi model terbaik maka hasil dari pengujian dapat langsung
digunakan. Berikut merupakan tabel hasil dari uji Chow :
43
Tabel 4.2. Hasil Regresi Uji Chow
Effect Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 53.485007 (7,226) 0.0000
Cross-section Chi-
square 234.492686 7 0.0000
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 4.2 hasil dari regresi Uji Chow,
terdapat nilai probabilitas Cross-section F sebesar 0.0000 lebih
kecil dari α 10 % ¿0.0000 < 10%), dapat diartikan bahwa menolak
H 0 atau menerima H 1. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa Fixed Effect Model merupakan model yang lebih baik
dari Common Effect Model.
4.2.2. Uji Hausman
Sejalan dengan teori yang telah dipaparkan, apabila dalam uji
Chow model terbaik yang terpilih adalah Fixed Effect Model,
maka terdapat pengujian selanjutnya dengan menggunakan Uji
Hausman. Dalam pengujian sebelumnya yaitu Uji Chow didapat
hasil bahwa model terbaik jatuh pada Fixed Effect Model.
Langkah yang diambil selanjutnya adalah pengujian dengan Uji
Hausman. Pengujian ini dilakukan guna mendapatkan model
terbaik hasil dari 2 model berikutnya yaitu Fixed Effect Model
dan Random Effect Model. Hipotesis yang di ajukan dalam Uji
Hausman adalah sebagai berikut :
H0 : Random Effect Model lebih tepat ( [Link]-
section F > 0,1)
H1 : Fixed Effect Model lebih tepat ( [Link]-section
F > 0,1)
44
Penentuan model terbaik pada uji ini dapat dilihat
besarnya nilai probabilitas Cross-F. Apabila nilai probabilitas
lebih dari alfa 10% (Prob. Cross-F>10%), maka hasilnya
menerima H 0 atau gagal menolak H 0, bahwa Random Effect
Model adalah model yang tepat untuk digunakan. Dan
sebaliknya apabila nilai probabilitas memiliki nilai kurang dari
alfa 10% (Prob. Cross-F<10%), naka hasilnya menolak H 0 atau
menerima H 1, bahwa Fixed Effect Model yang lebih baik
digunakan atau lebih tepat. Berikut merupakan tabel hasil
pengujian pada Uji Hausman :
Tabel 4.3 Hasil Regresi Uji Hausman
Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section
random 364.106278 6 0.0000
Sumber: Data diolah
Berdasakan hasil dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa
nilai probabilitas Cross-section random diperoleh sebesar
0.0000. Nilai probabilitas tersebut memiliki hasil lebih kecil dari
α 10 % ¿0.0000 < 10%). Hasil tersebut menunjukan bahwa
hipotesis satu yang terpilih, yang artinya menolak H 0 atau
menerima H 1. Kesimpulan dari pengujian Uji Hausman bahwa
Fixed Effect Model merupakan model terbaik dari Random
Effect Model.
4.2.3. Hasil Regresi Fixed Effect Model
Hasil regresi Fixed Effect Model merupakan hasil dari uji yang
telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan Uji Chow dan Uji
45
Hausman yang telah dilakukan pada pengujian sebelumnya
maka didapat model terbaik yaitu Fixed Effect Model. Dapat
ditaarik kesimpulan dari hasil perhitungan sebelumnya bahwa
model yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Fixed
Effect Model. Berikut merupakan hasil dari regresi data panel
Fixed Effect Model menggunakan Eviews-13 :
Tabel 4.4: Hasil Regresi Fixed Effect Model
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 3.254696 1.073836 3.030905 0.0027
ROA 0.176030 0.076268 2.308052 0.0219
CAR -0.016899 0.009109 -1.855243 0.0649
NPF 0.026883 0.061362 0.438099 0.6617
DPK 2.22E-08 8.33E-09 2.666692 0.0082
BOPO 0.019460 0.009531 2.041702 0.0423
PE 0.017789 0.029143 0.610402 0.5422
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.987292 Mean dependent var 5.640792
Adjusted R-
squared 0.986561 S.D. dependent var 9.968845
S.E. of
regression 1.155659 Akaike info criterion 3.183781
Sum squared
resid 301.8337 Schwarz criterion 3.386818
Log likelihood -368.0537 Hannan-Quinn criter. 3.265590
F-statistic 1350.612 Durbin-Watson stat 0.761944
Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber: Data diolah
46
Model Regresi Data Panel Fixed Effect:
Y ¿=¿3.254696+ 0.176030 ROA −0.016899 CAR + 0.026883 NPF +2.22E-08 DPK +0.019460 BOPO +0.017789 PE + e ¿
¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿
4.2.4. Analisis Estimasi dengan Intersep Pembeda Cross
Effect
Pada penelitian ini menggunakan data dari 8 Bank Umum
Syariah. Perhitungan dilakukan dengan menggabungkan
konstanta dari persamaan hasil estimasi dengan koefisien cross
effect. Setiap persamaan untuk bank syariah dianggap sebagai
model estimasi berdasarkan data time series. Berikut
merupakan hasil dari estimasi koefisien Cross Effect :
Tabel 4.5: Hasil Estimasi Koefisien Cross Effect
Fixed Effect
Koefisien
(Cross Section Effect)
Bank Aceh Syariah -1.017953
Bank Victoria Syariah -4.386740
Bank Muamalat Indonesia 3.973743
Bank Syariah Bukopin -4.017469
Bank BTPN Syariah -3.227630
Bank Mega Syariah -3.254633
BCA Syariah -3.229291
Bank Syariah Indonesia 30.31994
Sumber: Data diolah
Data dari hasil perhitungan pada Tabel 4.5 tersebut
dipaparkan nilai koefisien guna menentukan persamaan fixed
Effect dengan menggunakan pertimbangan pengaruh dari cross
effect, yang pada tabel sebelumnya yaitu Tabel 4.4 belum
dipaparkan. Dari hasil diatas menunjukan hasil 8 persamaan
47
estimasi dengan konstanta yang berbeda. Koefisien dengan nilai
terbesar menunjukan bahwa variabel independen memiliki
pengaruh besar terhadap variabel dependen, dan sebaliknya.
Dari hasil diatas menujukan bahwa Bank Syariah Indonesia
memiliki nilai koefisien yang paling besar, dan Bank Victoria
Syariah memiliki nilai koefisien terendah.
4.2.5. Analisis Estimasi dengan Intersep Pembeda Period
Effect
Penelitian ini menggunakan data kuartal 1 tahun 2017 hingga
data kuartal 4 tahun 2024. Pada perhitungan ini adalah
penentuan persamaan fixed effect dengan menggunakan
pertimbangan pengaruh dari period effect, yang belum
terpaparkan pada perhitungan sebelumnya yaitu Tabel 4.4.
Berikut merupakan hasil estimasi dengan pertimbangan period
effect:
Tabel 4.6: Hasil Estimasi Koefisien Period Effect
Fixed Effects Koefisien
(Period Effect)
2017 - Triwulan 1 2.116399
2017 - Triwulan 2 2.740338
2017 - Triwulan 3 2.033160
2017 - Triwulan 4 1.947310
2018 - Triwulan 1 1.580856
2018 - Triwulan 2 1.650302
2018 - Triwulan 3 1.938166
2018 - Triwulan 4 0.916495
2019 - Triwulan 1
0.607711
48
2019 - Triwulan 2 0.933066
2019 - Triwulan 3 1.695776
2019 - Triwulan 4 0.128651
2020 - Triwulan 1 -1.554482
2020 - Triwulan 2 -8.366483
2020 - Triwulan 3 -7.025755
2020 - Triwulan 4 -6.351829
2021 - Triwulan 1 -2.990028
2021 - Triwulan 2 2.862947
2021 - Triwulan 3 -0.493789
2021 - Triwulan 4 0.542804
2022 - Triwulan 1 0.654114
2022 - Triwulan 2 0.953030
2022 - Triwulan 3 1.194134
2022 - Triwulan 4 0.387073
2023 - Triwulan 1 0.403537
2023 - Triwulan 2 0.581142
2023 - Triwulan 3 0.396234
2023 - Triwulan 4 0.475215
2024 - Triwulan 1 0.376820
2024 - Triwulan 2 0.336076
49
2024 - Triwulan 3 0.135530
2024 - Triwulan 4 -0.088762
Sumber: Eviews 13 (data diolah)
Berdasarkan tabel 4.6 diperoleh hasil perhitungan ini
menghasilkan 32 persamaan estimasi dengan nilai koefisien
yang berbeda. Nilai koefisien yang paling besar akan
menunjukan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel
independen akan memiliki pengaruh yang besar terhadap
variabel dependen dan sebaliknya. Nilai koefisien terendah
terjadi pada periode tahun 2020 triwulan ke-2. Dan untuk nilai
koefisien terbesar ada pada periode tahun 2021 triwulan ke-2.
4.3. Uji Hipotesis
4.3.1. Uji-t (Uji Parsial)
Uji-t merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui
hubungan masing-masing variabel independen terhadap
variabel dependen. Hasil dari pengujian ini untuk menunjukan
hubungan antara variabel dependen dengan variabel
independen signifikan atau tidak signifikan. Di lain itu, Uji-t juga
dapat digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh antara
masing-masing variabel independen terhadap variabel
dependen. Hipotesis yang akan digunakan dalam pengujian
sebagai berikut:
H 0 : β (1,2,…n) = 0 : masing-masing variabel independen tidak
berpengaruh terhadap variabel dependen
H 1 : β (1,2,…n) = 0 : masing-masing variabel independen
berpengaruh terhadap variabel
dependen
50
a) Pengaruh ROA terhadap Market Share
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan nilai
probabilitas sebesar 0.0219, yang berarti memiliki nilai lebih
kecil dari nilai α =10 % . H 0 menyatakan tidak memiliki pengaruh
variabel ROA terhadap Market Share, H 1 menyatakan adanya
pengaruh variabel ROA terhadap Market Share. Dari hasil data
yang telah diolah sebelumnya didapati bahwa, menolak H 0 dan
menerima H 1. Dengan hal ini disimpulkan bahwa variabel ROA
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap market share. Nilai
koefisien regresi pada X 1 memiliki hubungan yang positif
0.176030 untuk variabel ROA, dengan makna setiap
peningkatan 1% pada ROA akan menyebabkan peningkatan
Market Share secara proporsional sebesar 0.176030 satuan.
b) Pengaruh CAR terhadap Market Share
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan nilai
probabilitas sebesar 0.0649, yang berarti memiliki nilai lebih
kecil dari nilai α =10 % . H 0 menyatakan tidak memiliki pengaruh
variabel CAR terhadap Market Share, H 1 menyatakan adanya
pengaruh variabel CAR terhadap Market Share. Dari hasil data
yang telah diolah sebelumnya didapati bahwa, menolak H 0 dan
menerima H 1. Dengan hal ini disimpulkan bahwa variabel CAR
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap market share. Nilai
koefisien regresi pada X 2 memiliki hubungan yang positif
0.176030 untuk variabel ROA, dengan makna setiap
peningkatan 1% pada ROA akan menyebabkan peningkatan
Market Share secara proporsional sebesar 0.176030 satuan.
c) Pengaruh NPF terhadap Market Share
51
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan nilai
probabilitas sebesar 0.6617, yang berarti memiliki nilai lebih
besar dari nilai α =10 % . H 0 menyatakan tidak memiliki pengaruh
variabel NPF terhadap Market Share, H 1 menyatakan adanya
pengaruh variabel NPF terhadap Market Share. Dari hasil data
yang telah diolah sebelumnya didapati bahwa, menerima H 0 dan
menolak H 1. Dengan hal ini disimpulkan bahwa variabel NPF
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap market
share.
d) Pengaruh DPK terhadap Market Share
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan nilai
probabilitas sebesar 0.0082, yang berarti memiliki nilai lebih
kecil dari nilai α =10 % . H 0 menyatakan tidak memiliki pengaruh
variabel DPK terhadap Market Share, H 1 menyatakan adanya
pengaruh variabel DPK terhadap Market Share. Dari hasil data
yang telah diolah sebelumnya didapati bahwa, menolak H 0 dan
menerima H 1. Dengan hal ini disimpulkan bahwa variabel DPK
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap market share.
e) Pengaruh BOPO terhadap Market Share
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan nilai
probabilitas sebesar 0.0423, yang berarti memiliki nilai lebih
kecil dari nilai α =10 % . H 0 menyatakan tidak memiliki pengaruh
variabel BOPO terhadap Market Share, H 1 menyatakan adanya
pengaruh variabel BOPO terhadap Market Share. Dari hasil
data yang telah diolah sebelumnya didapati bahwa, menolak H 0
dan menerima H 1. Dengan hal ini disimpulkan bahwa variabel
BOPO memiliki pengaruh yang signifikan terhadap market
share.
52
f) Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Market
Share
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan nilai
probabilitas sebesar 0.5422, yang berarti memiliki nilai lebih
besar dari nilai α =10 % . H 0 menyatakan tidak memiliki pengaruh
variabel pertumbuhan ekonomi terhadap Market Share, H 1
menyatakan adanya pengaruh variabel pertumbuhan ekonomi
terhadap Market Share. Dari hasil data yang telah diolah
sebelumnya didapati bahwa, menerima H 0 dan menolak H 1.
Dengan hal ini disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan
ekonomi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
market share.
4.3.2. Uji-F
Uji-F digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui apakah
seluruh variabel independen memiliki pengaruh secara
bersama-sama atau tidak terhadap variabel dependen. Hipotesis
yang akan digunakan dalam pengujian sebagai berikut:
H0 : Seluruh variabel independen secara bersama-sama
tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen
H1 : Seluruh variabel independen secara bersama-sama
memiliki pengaruh terhadap variabel dependen
Berdasarkan pada Tabel 4.4 diperoleh hasil perhitungan, nilai F-
statistic didapat sebesar 1350.612. Dan nilai dari probabilitas
yang dihasilkan sebesar 0.000000 lebih kecil dari nilai α =10 %
(0.00 < α =10 % ), dengan itu penentuan hipotesis yang digunakan
pada hasil diatas adalah menolak H 0 dan menerima H 1.
Kesimpulannya bahwa seluruh variabel independen pada
penelitiam ini secara serentak memiliki pengaruh terhadap
variabel dependen.
53
4.4. Analisis Hubungan Variabel Independen Terhadap
Variabel Dependen
4.4.1 Pengaruh ROA terhadap Market Share
Berdasarkan perhitungan data pada metode Fixed Effect Model
di Tabel 4.4, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa ROA
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Market
Share, artinya setiap peningkatan 1% pada ROA akan
menyebabkan peningkatan Market Share secara proporsional.
Bank dengan ROA tinggi menunjukkan pengelolaan aset yang
efisien, yang memungkinkan alokasi sumber daya lebih baik
untuk pemasaran, R&D, dan ekspansi, sehingga meningkatkan
daya saing dan pangsa pasar.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Astuti
(2023), mengenai analisis faktor yang mempengaruhi market
share pada bank syariah. Pada penelitian tersebut menunjukan
bahwa ROA dan DPK berpengaruh positif dan signifikan
terhadap market share pada perbankan syariah di Indonesia.
Sejalan dengan hasil penelitian ini terdapat penelitian lain yang
mendukung mengenai pengaruh ROA terhadap market share,
yaitu penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2018) pada
perbankan syariah di Indonesia menemukan bahwa faktor
profitabilitas (termasuk indikator ROA) berkontribusi positif
terhadap market share aset, meskipun variabel utama seperti
Dana Pihak Ketiga (DPK) lebih dominan. ROA secara tidak
langsung mendukung melalui peningkatan efisiensi, dengan
koefisien regresi positif dan signifikansi pada level 5%. Secara
singkatnya, ketika ROA memiliki nilai bagus maka bank akan
lebih untung dari asetnya dan secara tidak langsung pangsa
pasar akan lebih besar.
54
4.4.2 Pengaruh CAR terhadap Market Share
Berdasarkan perhitungan data pada metode Fixed Effect Model
di Tabel 4.4, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa CAR
menunjukan pengaruh negatif yang signifikan secara statistik
terhadap Market Share. Meskipun tidak sejalan dengan
hipotesis yang diajukan, interpretasi ini menunjukan adanya
indikasi bahwa setiap peningkatan 1% pada CAR akan
menurunkan market share total aset sebesar 0.0169. Hasil ini
mencerminkan hubungan terbalik antara kecukupan modal bank
dan pangsa pasar asetnya, dimana bank dengan CAR yang lebih
tinggi cenderung mengadopsi pendekatan yang lebih
konservatif, sehingga membatasi ekspansi aset untuk mematuhi
regulasi ketat seperti yang diberlakukan oleh Otoritas Jasa
Keuangan (OJK).
Pengaruh negatif CAR terhadap market share total aset ini
sejalan dengan temuan penelitian empiris di Indonesia, di mana
peningkatan CAR sering kali menghambat pertumbuhan aset
bank akibat keterbatasan dalam penyaluran kredit. Lestari
(2023) dalam studinya menemukan bahwa CAR memiliki
koefisien negatif signifikan terhadap pertumbuhan aset bank
umum syariah di Indonesia periode 2017-2021, dengan p-value
di bawah 0,10, yang disebabkan oleh alokasi modal berlebih
yang mengurangi fleksibilitas operasional bank. Menurut
Hidayat dkk (2019), CAR yang tinggi menekan kinerja pasar
bank di Indonesia, termasuk penurunan pangsa aset, karena
bank lebih memprioritaskan cadangan modal daripada ekspansi
kompetitif. Implikasi dari hasil ini dalam konteks perbankan
Indonesia adalah bahwa regulasi CAR yang ketat pasca-krisis
keuangan global dapat memperlemah daya saing bank
menengah dan kecil, sehingga market share mereka terkikis
55
oleh bank besar yang lebih efisien dalam mengelola modal.
Rekomendasi kebijakan yang dapat diambil adalah bagi OJK
untuk menerapkan pendekatan CAR yang lebih adaptif
berdasarkan profil risiko bank, guna mendorong keseimbangan
antara stabilitas keuangan dan pertumbuhan market share di
sektor perbankan nasional.
4.4.3 Pengaruh NPF terhadap Market Share
Berdasarkan perhitungan data pada metode Fixed Effect Model
di Tabel 4.4, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa NPF
memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Market
Share. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat
kecenderungan positif namun hubungan tersebut tidak dianggap
bermakna secara empiris. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat
kredit bermasalah tidak secara signifikan memengaruhi pangsa
pasar aset bank, yang mungkin disebabkan oleh faktor mitigasi
risiko lain dalam operasional perbankan Indonesia.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh
Sari dkk (2020) dalam studinya terhadap bank umum di
Indonesia periode 2015-2019 menemukan bahwa NPF memiliki
koefisien positif tetapi tidak signifikan terhadap market share
aset, yang dijelaskan oleh kemampuan bank dalam mengelola
risiko kredit melalui restrukturisasi pinjaman. Pada penelitian
Rahman (2021) menganalisis data perbankan syariah Indonesia
tahun 2017-2020 dan menyimpulkan bahwa NPF tidak
berpengaruh signifikan terhadap pangsa pasar aset, meskipun
koefisiennya positif, karena faktor eksternal seperti
pertumbuhan ekonomi lebih dominan. Implikasi dari hasil ini
adalah bahwa NPF yang rendah atau stabil tidak selalu menjadi
penghalang utama bagi ekspansi aset, terutama di tengah
56
pemulihan pasca-pandemi COVID-19, di mana bank lebih fokus
pada likuiditas daripada kualitas kredit semata.
4.4.4 Pengaruh DPK terhadap Market Share
Berdasarkan perhitungan data pada metode Fixed Effect Model
di Tabel 4.4, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa DPK
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Market
Share. Interpretasi ini mengindikasikan bahwa setiap
peningkatan pada DPK akan menaikan market share.
Signifikansi statistik yang kuat ini mencerminkan peran DPK
sebgai sumber dana utama yang mendukung ekspansi aset
diperbankan syariah, dimana mobilisasi dana nasabah menjadi
fondasi prinsip profit and loss sharing sesuai DSN-MUI.
Pengaruh positif dan signifikan DPK terhadap market
share total aset ini sejalan dengan temuan penelitian empiris di
sektor perbankan syariah Indonesia, di mana peningkatan DPK
sering kali menjadi pendorong utama pertumbuhan aset melalui
penyaluran pembiayaan berbasis syariah. Sejalan dengan
penelitian Astuti (2023) mengenai analisis faktor apa saja yang
mempengaruhi market share pada bank syariah. Terdapat
penelitian lain yang sejalan dengan ini yaitu penelitian dari
Fitriani (2023) menganalisis data perbankan syariah Indonesia
dan menyimpulkan bahwa DPK berpengaruh positif signifikan
terhadap pangsa pasar aset, karena peningkatan dana pihak
ketiga memungkinkan diversifikasi pembiayaan murabahah dan
musyarakah tanpa bergantung pada modal sendiri. Implikasi
dari hasil ini dalam konteks perbankan syariah Indonesia adalah
bahwa strategi pemasaran dana nasabah yang efektif dapat
memperkuat posisi pasar, terutama di tengah kompetisi dengan
perbankan konvensional pasca-implementasi Program Bank
Syariah Indonesia (BSI) pada 2021.
57
4.4.5 Pengaruh BOPO terhadap Market Share
Berdasarkan perhitungan data pada metode Fixed Effect Model
di Tabel 4.4, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa BOPO
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Market
Share. Meskipun bertentangan dengan hipotesis yang diajukan
bahwa BOPO berpengaruh signifikan negatif terhadap market
share. Interpretasi ini menunjukan bahwa setiap peningkatan
BOPO akan menaikan market share. Hasil positif ini, yang
kontras dengan ekspektasi hipotesis berdasarkan asumsi
inefisiensi BOPO, mencerminkan bahwa peningkatan biaya
operasionaldi perbankan syariah mungkin menandakan investasi
strategis dalam infrastruktur dan layanan, seperti pengembngan
produk berbasis syariah, yang pada gilirannya mendukung
ekspansi aset.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pramudita
(2022) menganalisis data perbankan syariah Indonesia tahun
2018-2021 dan menyimpulkan bahwa BOPO berpengaruh positif
signifikan terhadap pangsa pasar aset, karena biaya operasional
yang lebih besar memungkinkan diversifikasi pembiayaan
syariah seperti mudharabah, terutama pasca-merger Bank
Syariah Indonesia (BSI). Investasi operasional yang lebih
intensif dianggap sebagai sumber daya strategis untuk
mencapai keunggulan kompetitif dan pertumbuhan aset,
meskipun bertolak belakang dengan hipotesis agency theory
yang menekankan inefisiensi biaya.
4.4.6 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Market
Share
Berdasarkan perhitungan data pada metode Fixed Effect Model
di Tabel 4.4, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa
pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif dan tidak
58
signifikan secara statistik terhadap Market Share. Meskipun
terdapat kecenderungan positif, namun hasil
ketidaksignifikanan ini yang bertentangan dengan kekuatan
hipotesis, mencerminkan bahwa faktor makroekonomi seperti
pertumbuhan PDB mungkin tidak secara langsung memengaruhi
ekspansi aset perbankan syariah di Indonesia, terutama
ditengah dominasi faktor internal dan regulasi syariah.
Pertumbuhan ekonomi sering kali tidak menjadi prediktor
utama pangsa pasar aset akibat ketahanan internal bank syariah
terhadap fluktuasi makro. Penelitian serupa dari Ismail (2023)
menganalisis data perbankan syariah Indonesia tahun 2019-
2022 dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi
berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pangsa pasar
aset, karena faktor seperti pandemi COVID-19 dan merger Bank
Syariah Indonesia (BSI) lebih dominan dalam menentukan
dinamika aset.
BAB V
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini, diperoleh beberapa kesimpulan yang
beragam, sebagai berikut :
1. ROA berpengaruh secara positif signifikan terhadap Market
Share aset pada perbankan syariah.
59
2. CAR berpengaruh secara negatif signifikan terhadap Market
Share aset pada perbankan syariah.
3. NPF berpengaruh secara positif tidak signifikan terhadap
Market Share aset pada perbankan syariah.
4. DPK berpengaruh secara positif signifikan terhadap Market
Share aset pada perbankan syariah.
5. BOPO berpengaruh secara positif signifikan terhadap Market
Share aset pada perbankan syariah.
6. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara positif tidak
signifikan terhadap Market Share aset pada perbankan
syariah.
5.2. Implikasi
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad Wahid. “Analisis Structure-Conduct-
Performance Industri Perbankan Syariah di Indonesia
Tahun 2011-2015”. Skripsi. Universitas Diponegoro
Semarang, 2016.
Agista, P. S. (2021). Analisis pengaruh NPF, DPK, ROA, dan FDR
terhadap market share Bank Syariah Mandiri Periode 2014-
2019 (Doctoral dissertation, IAIN Purwokerto).
Almunawwaroh, M., & Marliana, R. (2018). Pengaruh CAR,
NPF, dan FDR terhadap Profitabilitas Bank Syariah di
Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah, Vol 2, No
1
Amijaya, R. N. F., & Alaika, R. (2023). Financial Risk Matter For
Financial
PerformanceIn Sharia Banks? JIET (Jurnal Ilmu Ekonomi Te
rapan), 8(1),24[Link]
60
Arwendi, R. (2024). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap
Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal
Ekonomi Syariah.
Asmoro, W. P. (2018). Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Market Share Bank Syariah Di Indonesia
(Bachelor's thesis, Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Astuti, R. P. (2023). Pengaruh Return On Asset, Capital
Adequacy Ratio, Dana Pihak Ketiga dan Non-Performing
Financing Terhadap Market Share Perbankan
Syariah. Jurnal Ekonomi
9(3), [Link]://[Link]/10.29040/jiei.v9i3.10176
Azmy. (2018a). Analisis pengaruh rasio kinerja keuangan
terhadap profitabilitas bank pembiayaan rakyat syariah di
indonesia. Jurnal Akuntansi, 22(1), 119–137.
Edo, D. S. R., & Wiagustini, N. L. P. (2014a). Pengaruh dana
pihak ketiga, non performing loan, dan capital adequacy
ratio terhadap loan to deposit ratio dan return on assets
pada sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia. E-Jurnal
Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana, 3(11), 650–673.
Eliana, E., Zarman, N., Ismuadi, I., Astuti, I. N., & Ayumiati, A.
(2021). Determinan Market Share Perbankan Syariah di
Indonesia. Esensi: Jurnal Bisnis Dan Manajemen, 10(2),
199–204. [Link]
Fitriyani, Nurdin. Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Kinerja
Keuangan dan Aspek Teknologi terhadap Market Share
Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2011-2017.
Prosiding Manajemen, Manajemen, Gelombang 2, Tahun
Akademik 2017-2018. Gujarati, D. N. (2008). The McGraw-
Hill Series Economics.
Fitriani, R. (2023). Pengaruh DPK dan faktor internal terhadap
market share aset perbankan syariah di Indonesia periode
2018-2022. Jurnal Ekonomi Syariah dan Bisnis, 9(1), 56-74.
Harun, U. (2016). Pengaruh rasio-rasio keuangan CAR, LDR,
NIM, BOPO, NPL terhadap ROA. Jurnal Riset Bisnis Dan
Manajemen, 4(1), 67–82.
61
Hendra, S. T., & Hartomo, D. D. (2017). Pengaruh Konsentrasi
dan Pangsa Pasar terhadap Pengambilan Resiko Bank.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol 17, No 2
Hidayat, R. (2019). Analisis Faktor Internal yang
Mempengaruhi Market Share Perbankan Syariah: Peran
CAR dan Profitabilitas. Jurnal Ekonomi Islam, 5(1), 78-92.
Irawan & Suparmoko, M. (2002). Ekonomika Pembangunan.
Yogyakarta: BPFE.
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).
(2023). Perkembangan Total Aset Keuangan Syariah
Indonesia. Jakarta.
Kristianingsih, K., Ziljiani, R. S., Purwihartuti, K., Karnawat, H.,
& Setiawan. (2022). Analisis Determinan Tingkat
Pertumbuhan Total Aset Perbankan Syariah di Indonesia
menggunakan Error Correction Model. Jurnal Ekuitas, 3(4),
868-874.
Kusumaningrum, K. D., Farida, F., & Purwantini, A. H. (2021).
Pengaruh Inflasi, Produk Domestik Bruto, BI Rate, Nisbah
Bagi Hasil, dan Harga Emas Terhadap Pertumbuhan Dana
Pihak Ketiga Pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
Borobudur Accounting Review, 1(2), 223–240.
Lestari, D. (2023). Pengaruh faktor internal terhadap
pertumbuhan aset bank umum syariah di Indonesia periode
2017-2021. Jurnal Manajemen dan Keuangan, 12(1), 34-50.
Ludiman, Imbuh & Kurniawati M. (2020). Analisis Determinan
Market Share Perbankan Syariah di Indonesia (Studi
Empiris pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah
yang Terdaftar di OJK Periode Maret 2017 sampai
September 2019). Journal of Economic, Management,
Accounting and Technology Vol 3, No. 2
M. Ali, Devi Rahmawati, Bella Hermanika Putri, Muhammad
Avisena Mosani, & Anzu Elvia Zahara. (2023). Systematic
Literature Review (SLR): Kontribusi Perbankan Syariah
Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional. E-Bisnis : Jurnal
Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 16(2), 274–280.
[Link]
62
Mauli Desil, I. (n.d.). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pening
katan Market Share Bank Umum Syariah (Bus) Di
Indonesia.
Muarif, A. D., & Wakhrodi, W. (2024). Minat Masyarakat Muslim
terhadap Jasa Bank Syariah Perspektif Bank Syariah dan
Perilaku Masyarakat. JIOSE: Journal of Indonesian Sharia
Economics, 3(2), 109-12
Mustai’n dan Fakhrunnas. 2018. Ketahanan Bank Umum
Syariah di Indonesia Terhadap Fluktuasi Makroekonomi
dalam Negeri dan Suku Bunga Dana Federal Reserve.
Journal of Applied Islamic Economics and Finance Vol. 1,
No. 2, February 2021, pp. 349 – 361 ©Jurusan Akuntansi
Politeknik Negeri Bandung.
Nugroho, A., & Pratiwi, D. (2021). Analisis determinan market
share aset bank syariah di Indonesia: Peran DPK dan
pembiayaan. Jurnal Manajemen Keuangan Syariah, 7(3),
145-162.
Otoritas Jasa Keuangan. (2021). Statistik Perbankan Nasional.
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.
Pramudita, R. (2022). Pengaruh BOPO terhadap kinerja pasar
bank syariah di Indonesia periode 2018-2021. Jurnal
Manajemen Syariah, 8(2), 89-107.
Pratiwi, A., & Susanto, Y. (2020). Pengaruh CAR, ROA, dan NPL
terhadap Market Share Bank Umum di Indonesia. Jurnal
Manajemen dan Keuangan, 9(2), 145-158. Diakses dari
[Link] (atau
sumber serupa dari repository universitas).
Pravasanti, Y. A. (2018). Pengaruh NPF dan FDR terhadap CAR
dan Dampaknya terhadap ROA pada Perbankan Syariah di
Indonesia. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol 4, No. 3
Purboastuti, N., Anwar, N., & Suryahani, I. (2015). Pengaruh
Indikator Utama
Perbankan Terhadap Pangsa Pasar Perbankan Syariah. Jejak
, 8(1).
63
Rahman, F. (2021). Analisis faktor risiko kredit terhadap kinerja
pasar bank syariah di Indonesia: Periode 2017-2020. Jurnal
Ekonomi Syariah Indonesia, 11(2), 78-95.
Rachmawati, T. (2023). Pengaruh Struktur Pasar Terhadap
Tingkat Efisiensi Perbankan Syariah. Journal of Islamic
Banking and Economics, 2(1), 51–
[Link]://[Link]/10.15408/thd.v2i1.23940
Rokhman, F. (2024). Kepercayaan Nasabah dan Kinerja
Perbankan Syariah dalam Kondisi Ekonomi Stabil. Jurnal
Keuangan Islam.
Ryad, Ahmad Muhammad & Yupi Y. (2017). Pengaruh Dana
Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy ratio (CAR), Non
Performing Financing (NPF) Terhadap Pembiayaan. Jurnal
Riset dan keuangan Vol 5 No. 3
Santoso, A., & Afrizal. (2024). Pengaruh Makroekonomi Dan
Kinerja Keuangan Terhadap Pangsa Pasar Bank Umum
Syariah Di Indonesia. Taraadin, 4(2),55–76.
[Link]
Saputra, B. (2014). Faktor-Faktor Keuangan Yang
Mempengaruhi Market Share Perbankan Syariah Di
Indonesia. Akuntabilitas, VII(2), 123–131.
Saputra, D., Slamet, & Lidyah, R. (2022). Pengaruh Market
Share Perbankan Syariah dan Pertumbuhan Ekonomi
Terhadap Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka di
Indonesia. Taraadin, 3(1), 1-15.
[Link]
Sari, I., & Aisyah, E. N. (2022). Pengaruh FDR, PSR, Zakat
Performance Ratio, dan Dana Pihak Ketiga Terhadap
Market Share Dengan ROA Sebagai Variabel
Mediasi. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 8(3), 2765.
Sari, R. P., & Wijaya, S. (2020). Determinasi market share aset
bank umum di Indonesia: Peran NPF dan efisiensi
operasional. Jurnal Manajemen Bisnis, 15(3), 210-228.
Setiawan, Adi. 2009. Analisis Pengaruh Faktor Makro Ekonomi,
Pangsa Pasar, dan Karakteristik Bank Terhadap
64
Profitabilitas Bank Syariah (Studi Pada Bank Syariah
Periode 2005-2008). Tesis. Semarang: Program Pasca
sarjana Magister Manajemen Universitas Diponegoro.
Setiawan, A. (2017). Analisis Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank
Terhadap Return on
Asset. Jurnal Analisa Akuntansi Dan Perpajakan, 1(2),130.152.
Siregar, E. S. (2018). Analisis Pengaruh Faktor Internal dan
Eksternal Perbankan Syariah terhadap Market Share Aset
Perbankan Syariah di Indonesia. Zhafir: Journal of Islamic
Economics, Finance, and Banking, 2(1), 39-52.
Sunaryo, H., & Kasri, R. A. (2022). Hubungan industri keuangan
syariah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia (2017–2020).
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 22(2), 120–135.
Susanto, A. (2022). Analisis pengaruh CAR terhadap market share
perbankan di Indonesia: Studi kasus periode 2018-2021. Jurnal
Ekonomi dan Bisnis Islam, 8(2), 112-128.
Syafrida, I., & Aminah, I. (2016). Faktor Perlambatan Pertumbuhan
Bank Syariah Di Indonesia Dan Upaya Penanganannya. Ekonomi
& Bisnis, 14(1), 7–20. [Link]
Tuzzuhro, F., Rozaini, N., & Yusuf, M. (2023). Perkembangan
Perbankan Syariah Di Indonesia. Jurnal Pendidikan Ekonomi
Akuntansi, 11 No 2(23), 78–87.
Wijayani, D. R. (2017). Kepercayaan Masyarakat Menabung pada
Bank Umum Syariah.
Muqtasid: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, 8(1).[Link]
[Link]/10.18326/muqtasid.v8i1.1-17
Widya Sari, L. (2023). Pengaruh Total Aset, Dana Pihak Ketiga (DPK)
Yetti, F., & Priyatno, P. D. (2021). Pengaruh NPF, CAR, dan FDR
terhadap profitabilitas bank umum syariah. El-Iqtishod: Jurnal
Ekonomi Syariah, 5(2), 19–46.