LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN JIWA DENGAN
TINDAKAN ECT ANESTESI DI RUANG ELEKTROMEDIS RS. RADJIMAN
WEDIODININGRAT LAWANG
Disusun Untuk Memnuhi Tugas Praktik Profesi Ners
Departemen Keperawatan Jiwa
Oleh:
Maulidin Insan Madani 7424070
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ‘ULUM JOMBANG
2025
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN JIWA
DENGAN TINDAKAN ECT ANESTESI DI RUANG ELEKTROMEDIS RS.
RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Lawang, 20 Desember 2025
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
( ) ( )
Mengetahui,
Kepala Ruang Elektromedis
( )
LAPORAN PENDAHULUAN
1. Definisi
Electro Convulsive Theraphy (ECT) yang dikenal electro shock adalah suatu
terapi yang menggunakan terapi psikiatrik yang menggunakan energi shock listrik
dalam usaha pengobatannya. Biasannya ECT ditujukan untuk terapi pasien
gangguan jiwa yang tidak berespon pada obat psikatrik pada dosis terapinya, antara
2-3 kali seminggu. Merupakan suatu tindakan terapi yang tujuannya adalah
membangkitkan kejang, baik kejang tonik maupun kejang klonik. Dengan mengaliri
arus listrik melalui elektroda (konvulsator) yang ditempatkan di pelipis.
2. Tujuan ECT
a. Mengembalikan fungsi mental pada klien
b. Meningkatkan ADL klien secara periodik
3. Jenis – jenis ECT
a. Konvensional
ECT konvensional ini menyebabkan timbulnya kejang pada pasien
sehinggatampak tidak manusiawi. Terapi ini dilakukan tanpa menggunakan obat
- obatan anastesi seperti pada ETC Premedikasi.
b. ECT Pre medis
Terapi ini lebih manusiawi dari pada ETC konvesional, karena terapi ini lebih di
berikan obat-obatan anastesi yang bisa menekan timbulnya kejanhg yang terjadi
pada pasien.
4. Indikasi
Menurut martin santa dan dilson doupe 1997 dan stuart dan sunden 1998,
indikasi dilakukan ECT ini diantara lain :
a. Depresi berat
b. Pada pasien dengan gangguan edpresi tepatnya mayor depresion sangat tepat
dilakukan tindalkan ECT.
c. Psikosa Mania, ECT lebih efektif untuk mania yang aktif karena terlihat
efektifitasnya sama dengan pemberian lithium.
d. Skizofrenia
ECT sangat tepat pada skizofrenia aktif dan katatonik.
e. Indikasi lain repursi, gangguan delmum, gangguan konversi.
f. Gangguan laporan yaitu pasien sudah lama tidak berespon lagi terhadap obat.
g. Pasien yang pernah mencoba bunuh diri akut, yang sudah lama tidak
menerima pengobatan.
h. Jika efek samping ECT yang merekomendasikan lebih mudah dan poada efek
terapi pengobatan seperti lansia dengan blok jantung dan kehamilan
5. Kontraindikasi
a. Cardiovaskuler (aritmia, infark miokard)
b. Sistem saraf pusat (CVA, parkinson, tumor intracranial)
c. Respiratory ( asma, TB)
d. Kehamilan
e. Pasien dengan hipertensi berat.
6. Efek samping
a. Nyeri kepala
b. Mukosa bleeding
c. Cedera gigi, lidah, gusi
d. Nyeri otot, dislokasi otot
e. Aspirasi
f. Apnea
g. Kehilangan memori sesaat saja
h. Kematian kurang dari 0,002%
7. Tipe ECT
ECT Convensional ECT With Anesthesia
Tanpa anastesi Dengan anestesi
Reaksi kejang yang kuat Reaksi kejang yang lemah
Komplikasi > risiko < Komplikasi < risiko >
Biaya operasional lebih murah Biaya konvensional lebih
mahal
Jumlah tenaga medis lebih banyak Jumlah tenaga medis lebih
(1 psikiater, 5-7 perawat sedikit (1 psikiater,1 anestesi, 1
perawat anestesi, 1 perawat
ECT
Alat ECT, pada umumnya dapat Alat ECT, menggunakan
digunakan untuk stimulus kelistrikan MECTA (Modified ECT with
pada otak saja anesthesia) itu dapat
menimbulkan 3 fungsi yaitu
stimulus kelistrikan / ECT,
ECG monitoring, EEG
monitoring
8. Faktor kegagalan ECT
a. Ketika pasien tidak muncul kejang
b. Penempatan elektroda yang salah
c. 4 faktor penyebab utama yaitu :
Operator atau tenaga medis yang bertugas
Alat / Device
Persiapan ECT
Pasien
9. Fase ECT With Anesthesia
a. Fase Laten
b. Fase Tonik
c. Fase Klonik
10. Peran Perawat
Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapkan alat dan
mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan
dilakukan.
11. Persiapan Alat
Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah sebagai
berikut:
a. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer).
b. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain.
c. Kain kasa.
d. Cairan Nacl secukupnya
e. Spuit disposibel.
f. Obat SA injeksi 1 ampul.
g. Tensimeter.
h. Stetoskop.
i. Slim suiger.
j. Set konvulsator.
12. Persiapan Klien
a. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang
akan dilakukan.
b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya
kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT.
c. Siapkan surat persetujuan.
d. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT.
e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin
dipakai klien
f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi
g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT
h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-hipnotik, dan
antikonvulsan harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan
beberapa hari sebelumnya karena berisiko organik.
i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg setengah jam sebelum
ECT. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal dan
menurunkan sekresi gastrointestinal.
13. Prosedur Tindakan ECT
1) Serah terima pasien rawat inap ke perawat ECT: serah terima dokumentasi
keperawatan pasien dan persiapan pasien
2) BHSP antara perawat ECT dan pasien rawat inap
3) Cek vital sign
4) Pemasangan infus di ruang ECT
5) Infeksi pre medikasi (injeksi ranitidine dan metoclorpramid masing – masing 1
ampul)
6) Pasang monitoring pasien
7) Inkesi anestesi (Fenatyl, Antracurium, dan Propofol)
8) Pemasangan LMA Ventilator
9) Pemasangan Elektroda (ECG, EEG, dan ECT)
10) Pemasangan Bit Block
11) Fiksasi rahang pasien
12) ECT Treatment (Sign In Sign Out Time Out)
13) Evaluasi
- Keberhasilan ECT
- Durasi Kejang
- Vital sign
- Side effect
- Kesadaran pasien
- Napas spontan ekstubasi oksigen masker 6 lpm
- Pindah recovery room
- Aldrete Score
14) Serah terima pasien perawat ECT ke perawat rawat inap