0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Ini Rina Cerpen

Dokumen ini adalah kisah Rina, seorang wanita berusia 29 tahun, yang menuliskan kembali kenangan masa kecilnya sebagai 'anak preman' di Jakarta pada tahun 2003. Ia mengenang persahabatan dan petualangan bersama teman-temannya, serta momen-momen berharga yang membentuknya. Rina juga merefleksikan sikapnya terhadap seorang teman baru, Tina, dan menyadari pentingnya penerimaan dalam persahabatan.

Diunggah oleh

tristanboedie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Ini Rina Cerpen

Dokumen ini adalah kisah Rina, seorang wanita berusia 29 tahun, yang menuliskan kembali kenangan masa kecilnya sebagai 'anak preman' di Jakarta pada tahun 2003. Ia mengenang persahabatan dan petualangan bersama teman-temannya, serta momen-momen berharga yang membentuknya. Rina juga merefleksikan sikapnya terhadap seorang teman baru, Tina, dan menyadari pentingnya penerimaan dalam persahabatan.

Diunggah oleh

tristanboedie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ini Rina

2024, Jakarta

Rina menatap buku diary berwarna biru tua di hadapannya. Tangan


kanannya memegang pena yang sudah lama tergeletak di laci meja kerja,
sementara tangan kirinya membuka lembaran pertama diary yang baru itu. Ia
menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kenangan masa kecilnya. Hari
ini, di usianya yang menginjak 29 tahun, ia memutuskan untuk menuliskan
kembali kisah hidupnya sebagai seorang "anak preman" di tahun 2003.

2003, Jakarta

Mentari pagi menyembul malu-malu di balik gedung-gedung kota Jakarta.


Di sebuah sekolah dasar, SD Negeri 1 Jakarta, suasana riuh oleh suara anak-anak
yang berlarian. Di tengah lapangan, berdiri seorang anak perempuan dengan
rambut kuncir kuda yang sedikit acak-acakan. Itulah Rina, si “kepala geng” yang
memimpin circle pertemanannya.

"Eh, Lena, cepetan! Kita mau main lompat tali nih!" seru Rina dengan
nada tegas, namun wajahnya tetap menyiratkan tawa.

Lena, yang lebih muda setahun dari Rina, berlari tergopoh-gopoh


menghampiri mereka. Ia membawa tali yang panjangnya hampir tiga meter,
hasil pinjaman dari penjaga sekolah.

"Lena lambat banget, kayak kura-kura!" goda Rina, membuat yang lain
tertawa.

Di sisi lain, Rena, kakak Lena, memukul ringan kepala adiknya. "Cepetan
dong, jangan bikin Rina marah. Nanti dia ngamuk lagi," katanya, setengah
bercanda.

Mereka adalah geng kecil yang terdiri dari Rina, Kia, Vio, Ranti, Rena, dan
Lena. Rina selalu menjadi pemimpin yang tanpa komando dipatuhi semua
anggotanya. Sifatnya yang tegas dan sedikit "barbar" membuat anak-anak lain
segan. Tapi di balik gayanya yang seperti preman kecil, Rina sebenarnya punya
hati yang lembut dan selalu melindungi teman-temannya.

2024, Jakarta

Rina tersenyum kecil sambil menulis, "Rina si preman kecil," di bagian


atas halaman. Ia mengingat betapa seringnya ia bertindak seperti bos, tapi
bukan karena ingin berkuasa. Itu hanya caranya menunjukkan rasa sayang pada
teman-temannya.

2003, Jakarta
"Rina, ayo ke kantin! Aku mau beli ciki," kata Kia sambil menarik tangan
Rina.

Namun Rina hanya menggeleng. "Enggak. Hari ini kita makan bekal aja.
Uang jajan simpan buat minggu depan. Siapa tahu nanti kita butuh buat main di
warnet."

Kia cemberut, tetapi ia menurut. Rina memang seperti itu. Ia sering kali
mengambil keputusan untuk kelompoknya, dan biasanya keputusan itu benar.

Saat jam istirahat, mereka duduk melingkar di bawah pohon rindang dekat
lapangan. Bekal masing-masing dikeluarkan. Vio membawa roti cokelat, Ranti
dengan nasi goreng, dan Rina... seperti biasa, membawa tahu isi buatan ibunya.

"Kamu nggak bosan ya makan tahu isi terus, Rin?" tanya Ranti sambil
mengunyah.

"Enggak dong! Tahu isi ini spesial, ada cabenya juga," jawab Rina dengan
penuh semangat. Semua tertawa melihat cara makannya yang lahap.

2024, Jakarta

Tangan Rina berhenti menulis sejenak. Ia tertawa pelan saat mengingat


dirinya yang dulu selalu membawa bekal tahu isi. "Tahu isi favorit Mama,"
gumamnya pelan.

Kenangan itu masih sangat segar dalam ingatannya. Kala itu, hidupnya
sederhana, namun penuh warna. Persahabatan dengan lima temannya adalah
bagian terindah dari masa kecilnya. 2003, Jakarta

Ada satu kegiatan yang selalu mereka lakukan setiap minggu sore:
bermain petak umpet di halaman sekolah yang kebetulan dekat dengan rumah
mereka.

"Aku hitung sampai sepuluh, kalian sembunyi!" seru Rina, memimpin permainan
seperti biasa.

Semua langsung berlarian mencari tempat persembunyian terbaik. Lena dan


Rena bersembunyi di balik semak-semak, sementara Kia dan Vio mencoba
masuk ke dalam ruang kelas yang pintunya setengah terbuka. Ranti, di sisi lain,
malah bersembunyi di belakang mobil guru yang diparkir di halaman.

Selesai menghitung, Rina membuka matanya. "Aku pasti nemuin kalian semua,
nggak ada yang bisa ngumpet dari aku!" teriaknya penuh percaya diri.

Benar saja, satu per satu temannya ditemukan. Rina memang terkenal jago
dalam permainan ini. Tapi saat ia akhirnya menemukan Lena yang paling
terakhir, ia malah tertawa terbahak-bahak.

"Lena, kamu ngapain tiduran di situ? Kayak lagi piknik aja," katanya sambil
mengusap perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.
"Ya biar nggak kelihatan," jawab Lena polos, membuat yang lain ikut tertawa.

2024, Jakarta

Mata Rina berkaca-kaca saat menuliskan momen itu. Ia merindukan masa-


masa ketika semuanya terasa begitu sederhana.

2003, Jakarta

Di akhir tahun ajaran, Rina dan teman-temannya memutuskan untuk


membuat "markas rahasia." Mereka menggunakan ruangan kosong di samping
aula sekolah yang jarang dipakai. Di sana, mereka menyimpan koleksi buku
gambar, komik, dan beberapa mainan kecil.

"Mulai sekarang, tempat ini cuma untuk kita berenam. Jangan kasih tahu
anak lain, ya," kata Rina dengan nada penuh wibawa.

Semua mengangguk sepakat. Bagi mereka, ruangan itu adalah tempat


paling istimewa. Di sana, mereka bisa bercanda, menggambar, atau sekadar
bercerita tentang mimpi-mimpi mereka.

2024, Jakarta

Rina menutup bukunya dengan hati-hati. Ia baru saja menuliskan


kenangan terakhir tentang "markas rahasia" itu. Kini, ia tinggal menambahkan
sebuah catatan di bagian akhir.

"Masa kecilku mungkin penuh kekacauan kecil, tawa, dan kenakalan khas
anak-anak. Tapi itulah yang membuatnya begitu berharga. Aku beruntung
memiliki teman-teman seperti Kia, Vio, Ranti, Rena, dan Lena. Meski kami semua
sudah menjalani jalan hidup masing-masing, kenangan itu akan selalu hidup
dalam hati dan diary ini. Terima kasih, masa kecil. Terima kasih, teman-teman."

Ia tersenyum puas sambil menatap hasil tulisannya. Kenangan yang dulu


terasa biasa saja, kini menjadi harta yang tak ternilai. Rina menutup buku diary-
nya dan meletakkannya di meja, berharap suatu hari ia bisa membacanya
kembali dan merasa bahagia seperti sekarang.

...
Esok harinya Rena berangkat ke kampusnya dan kebetulan di kampusnya
sedang melaksanakan studi simulasi mengajar, Rina mengambil jurusan
pendidikan pada saat itu makanya ia mendapatkan studi simulasi mengajar. Ia
mendapatkan bagian di SD Negeri 1 Jakarta, “Wah, kebetulan banget. Udah
lama aku ga kesana,” senyum tipis di wajahnya.

Hari simulasi pun tiba, saat ia mulai mengajar di salah satu kelas ada
murid yang celetuk, “Kakak, dulunya kakak sekolah disini ya?” Polos tanya murid
tersebut.

“Iya, Rhaka”
“Wih, keren dong.”

“Haha, udah ih kerjain dulu tugasnya.” Rina sembari tertawa.

Beberapa jam setelah itu, ia telah selesai dengan tugas studi simulasi nya,
ia ingin melihat sekitar sekolah itu yang sangat memiliki banyak kenangan
baginya. 4C, ia melewati kelas itu dan tanpa sengaja menemukan buku yang ada
di rak depan kelas itu, “Tina, Si Bocah” ia teringat sesuatu.

2003, Jakarta

Hari itu, langit Jakarta cerah seperti biasa. Di SD Negeri 1 Jakarta, bel
tanda istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak berhamburan keluar kelas,
membawa bekal, atau sekadar mengobrol. Di lapangan, Rina dan gengnya—Kia,
Vio, Ranti, Rena, dan Lena—sudah bersiap bermain tos-tosan, salah satu
permainan favorit mereka.

Di sudut lapangan, seorang anak baru bernama Tina memperhatikan


dengan penuh rasa ingin tahu. Tina baru saja pindah ke sekolah itu dan belum
memiliki banyak teman. Ia memberanikan diri mendekat ke kelompok Rina.

"Hai, kalian lagi main apa?" tanya Tina dengan nada ceria namun agak
gugup.

Rina meliriknya sekilas. "Main tos-tosan. Kamu tahu caranya?"

Tina mengangguk cepat. "Aku jago main ini di sekolah lama. Aku bisa
ikut?"

Rina mengangkat alis, sejenak berpikir. "Oke, tapi aturan kita harus kamu
ikuti. Kalau kalah, nggak boleh marah. Deal?"

"Deal!" jawab Tina tanpa ragu.

Permainan pun dimulai. Rina melawan Tina di ronde pertama. Permainan


berjalan cepat, dengan masing-masing mencoba saling mengalahkan. Namun,
Tina, yang bersikeras tak mau kalah, bermain dengan sangat agresif. Setiap kali
Rina menang, Tina protes.

"Tunggu, itu nggak adil! Aku tadi nggak siap!" serunya sambil memukul
tangannya sendiri dengan kesal.

Rina melipat tangan di dada, menatap Tina dengan alis terangkat. "Kamu
bilang nggak boleh marah kalau kalah, kan? Ini cuma permainan."

"Tapi tadi aku salah posisi! Ulangin lagi, dong!" desak Tina.

Anak-anak lain saling berpandangan. Vio menahan tawa, sementara Ranti


berbisik pelan, "Dia ini serius banget, ya? Baru main udah ribut."

Rina memutuskan untuk memberikan Tina kesempatan lain. "Oke, kita


ulang. Tapi ini yang terakhir, ya. Kalau kalah lagi, kamu harus terima."
Mereka kembali bermain. Tapi ketika Rina lagi-lagi menang, Tina
memprotes lebih keras.

"Nggak mungkin! Kamu curang!" teriak Tina dengan wajah merah padam.

Kia, yang dari tadi diam, akhirnya ikut angkat bicara. "Tina, ini cuma
permainan, kok. Kamu nggak usah ribut gitu."

Namun, Tina tetap bersikeras. Ia terus mengeluh hingga suasana menjadi


canggung. Rina, yang awalnya berusaha sabar, akhirnya kehilangan kesabaran.

"Udah, Tina. Kalau nggak mau kalah, mending nggak usah main sama
kita," ucap Rina tegas.

Tina terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia merasa malu sekaligus marah.


Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan pergi ke sudut lapangan, duduk
sendirian.

Kia, Vio, Ranti, Rena, dan Lena mulai tertawa kecil. "Dia lucu banget, deh.
Baru main aja udah drama," kata Ranti.

"Makanya, kalau main tos-tosan itu harus santai. Jangan ngotot kayak
gitu," tambah Vio.

Rina hanya mengangkat bahu. "Biarin aja. Kalau dia mau gabung lagi,
harus belajar terima kekalahan."

Mereka pun melanjutkan permainan dengan asyik, tertawa dan bercanda


seperti biasa. Tanpa Tina, suasana kembali ceria. Namun, sesekali Rina melirik
ke arah Tina yang duduk sendirian. Ia merasa sedikit bersalah, tapi gengsinya
terlalu besar untuk mengajak Tina kembali.

2024, Jakarta

Rina berhenti menulis sejenak, menatap kata-kata yang baru saja ia


tuliskan di diary-nya. Ia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.

"Aku ingat, saat itu aku terlalu keras pada Tina. Mungkin karena aku
merasa dia mencoba merebut posisi ‘pemimpin’ di kelompok kami. Tapi
sekarang, aku sadar, dia cuma ingin diterima dan punya teman. Anak kecil
memang sering bertindak tanpa berpikir panjang. Kalau saja aku bisa bertemu
Tina lagi, aku ingin meminta maaf padanya."

Rina menutup diary-nya untuk hari itu. Meski kenangan tentang Tina
terasa sedikit pahit, ia tahu bahwa pengalaman itu adalah bagian dari perjalanan
masa kecilnya yang penuh warna.

Tamat.

Anda mungkin juga menyukai