1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberhasilan peserta didik dalam belajar diukur dalam tiga hal yakni
kompetensi kognitif, kompetensi afektif, dan kompetensi psikomotoriknya.
Dengan kata lain, hasil belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari
pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan
psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan
menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Dengan ini pula
berarti bahwa, kondisi ketiga faktor tersebut akan berubah menjadi lebih baik
setelah proses pembelajaran selesai. Jika tidak terdapat perubahan dalam
belajar tersebut maka dapat dikatakan bahwa peserta didik tidak belajar.
Kondisi ini tentunya sama dalam mata pelajaran IPA pada peserta
didik Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pembelajaran IPA dimaksudkan
untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik sehingga
mampu menguasai konsep, sikap, dan keterampilan dalam IPA. IPA menjadi
penting untuk dipelajari karena sebagai salah satu dasar dari perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat terjadi saat ini. Penguasaan
IPA yang baik dari peserta didik akan menjadikan bekal baginya untuk bisa
mengembangkan ilmunya.
Salah satu hal yang mudah untuk mengukur kemampuan IPA peserta
didik adalah dengan melihat hasil belajar secara kognitifnya. Pengetahuan
yang baik dari peserta didik akan tercermin dari hasil belajarnya yang baik.
1
2
Namun demikian, kondisi yang terjadi pada peserta didik SMP Al Irsyad Al
Islamiyyah Jakarta belum menunjukkan pengetahuan dan kemampuan yang
baik dalam belajar IPA. Hal ini didasarkan atas perolehan hasil belajar peserta
didik yang sebagian kecil masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal
(KKM) yang dibuat guru. Sebagai contoh, di kelas VIII B dan VIII C dari
hasil Ujian Akhir Semester, 35% peseta didik masih memiliki nilai di bawah
KKM.
Untuk menjawab persoalan tersebut, karena hal ini berkaitan dengan
proses belajar maka tidak akan terlepas dari input siswa, transformasi yang
berkesudahan dengan outputnya. Selain itu tentunya kondisi rendahnya hasil
belajar IPA berkaitan juga dengan faktor internal dan eksternal siswa. Faktor
internal merupakan faktor yang datang dari dalam diri siswa, sedangkan faktor
eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa.
Jika melihat kondisi di kelas dan refleksi guru terhadap proses
pembelajaran, peserta didik cenderung tidak tertarik dalam belajar. Sebagian
kecil siswa terlihat mendengarkan guru tapi tidak fokus terhadap materi
pembelajaran. Semacam ada keterpaksaan dalam belajar. Kondisi inilah
kemudian yang memungkinkan hasil belajar IPA tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan. Berdasarkan hal ersebut, untuk mencapai tujuan dan hasil
belajar yang baik tersebut tentunya terdapat langkah-langkah yang harus
diambil guru melalui strategi pengajaran.
Strategi pengajaran merupakan suatu garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dengan kata
lain, strategi pengajaran merupakan pola-pola umum kegiatan guru-siswa
3
dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi sebagai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian maka strategi
merupakan rentetan atau alur yang dibuat guru sebagai upaya dalam
melakukan pembelajaran kepada siswa untuk mencapai kompetensi yang
diharapkan.
Dalam menerapkan strategi pengajaran ini, guru merupakan kunci
utama dalam keberhasilan siswa dalam belajar. Dengan melihat posisi guru
tersebut maka permasalahan yang kemudian muncul adalah guru akan selalu
dikambinghitamkan jika tuntutan berupa hasil belajar yang diperoleh tidak
sesuai dengan yang diharapkan. Guru merupakan orang pertama yang paling
bersalah jika hal demikian terjadi. Dengan kondisi tersebut, hal ini tentunya
merupakan tantangan sekaligus tanggungjawab yang cukup berat bagi
pekerjaan guru. Tentunya, dengan kesadaran yang penuh, hal ini harus
disikapi dengan meningkatkan kompetensi guru untuk menjawab tantangan ke
depan.
Dengan demikian dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Alam, guru harus
melakukan metode yang tepat dalam mengajar. Tidak monoton dengan
menggunakan satu metode saja yang berakibat pada kejenuhan dan
berkurangnya motivasi siswa dalam belajar. Apalagi jika melihat kondisi yang
sudah terlanjur tertanam dalam masyarakat bahwa Ilmu Pengetahuan Alam
adalah pelajaran yang susah dan ruwet. Hendaknya metode dalam mengajar
yang digunakan dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam mengarah kepada
pemberian pengalaman belajar. Karena dengan demikian peserta didik tidak
hanya disuguhi konsep-konsep yang abstrak akan tetapi konsep yang abstrak
4
itu pada dasarnya ada dengan pengalaman yang telah mereka lakukan selama
proses belajar mengajar. Dengan demikian peserta didik akan tahu dan merasa
perlu tahu akan apa yang dipelajarinya.
Untuk mengubah kondisi tersebut maka pemilihan metode
pembelajaran perlu diperhatikan dengan baik oleh seorang guru. Salah satu
metode belajar tersebut adalah metode problem solving. Metode problem
solving adalah metode pemecahan masalah adalah penyajian bahan ajar oleh
guru dengan merangsang peserta didik berpikir secara sistematis dengan
menghadapkan peserta didik kepada beberapa masalah yang harus dipecahkan.
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar
metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam
problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai
dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Dengan metode pemecahan masalah, peserta didik akan menerapkan
pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang
diperlukan. Dengan metode ini pula, peserta didik dapat mengintegrasikan
pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam
konteks yang relevan. Metode pemecahan masalah juga dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritik, menumbuhkan inisatif peserta didik dalam
bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan
interpersonal dalam bekerja kelompok.
Berdasarkan pengertian di atas jelas kiranya bahwa metode problem
solving merupakan metode dimana guru mengajak siswa untuk berpikir secara
kritis guna memecahkan suatu masalah yang ada. Metode ini tentunya akan
5
dapat merangsang siswa untuk berpikir secara kritis sehingga siswa dapat
memecahkan masalahnya sendiri yang kemudian guru akan meluruskan
konsep yang sesungguhnya. Dengan demikian maka ada integrasi antara guru
dan siswa untuk memahami sesuatu. Oleh karena itu, maka harus diuji
seberapa besar kemampuan metode belajar dapat mempengaruhi hasil belajar,
dalam hal ini metode problem solving dengan kelebihan-kelebihannya. Setelah
diuji maka akan terlihat secara lebih jelas, apakah metode ini cocok digunakan
atau tidak. Pada akhirnya, dengan melihat semua faktor yang ada dengan
kelebihan dan kekurangan dari pendekatan problem solving, maka tugas akhir
ini diberi judul ”Pengaruh Metode Problem Solving terhadap Hasil Belajar
Ilmu Pengetahuan Alam”.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, timbul
pertanyaan-pertanyaan yag teridentifikasi antara lain:
1. Apakah tujuan hakiki dari proses pembelajaran yang dilakukan guru dan
peserta didik di sekolah?
2. Apakah urgensi peserta didik diberikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam di sekolah?
3. Bagaimanakah kondisi rata-rata hasil belajar IPA selama ini di sekolah?
4. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPA peserta didik?
5. Apakah peran penting dari sebuah metode pembelajaran terhadap
keberhasilan belajar peserta didik?
6
6. Apakah yang harus dilakukan guru agar bahan pelajaran dapat
tersampaikan dengan tuntas kepada siswa dengan hasil yang baik?
7. Metode apakah yang cocok digunakan dalam proses pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam siswa?
8. Bagaimanakah rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik
yang diberikan metode pengajaran konvensional di kelas VIII SMP Al
Irsyad Al Islamiyyah Jakarta?
9. Bagaimanakah rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik
kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang diberikan metode
pengajaran problem solving?
10. Adakah pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Alam peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah
Jakarta?
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah maka dari beberapa identifikasi
masalah di atas, dipilih salah satu masalah yaitu untuk melihat adakah
pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan
Alam. Adapun yang menjadi responden/sampel dalam penelitian ini adalah
siswa kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta. Data hasil belajar
diambil dari tes ulangan harian setelah siswa diberikan metode pmbelajaran pada
tahun ajaran 2016/2017. Materi pokok bahasan dalam pemberian perlakuan
adalah materi pokok bahasan getaran dan gelombang.
7
D. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas,
maka diajukan rumusan masalah yang akan dicari jawabannya sebagai berikut.
1. Bagaimanakah kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam
peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang
diberikan metode pengajaran konvensional?
2. Bagaimanakah kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam
peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang
diberikan metode pengajaran problem solving?
3. Adakah pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Alam peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah
Jakarta?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini diarahkan pada terjadinya suatu deskripsi
dari hasil penelitian mengenai pengaruh problem solving terhadap hasil belajar
Ilmu Pengetahuan Alam dan disesuaikan dengan rumusan masalah di atas
yaitu:
1. Untuk mengetahui kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam
peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang
diberikan metode pengajaran konvensional.
2. Untuk mengetahui kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam
peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang
diberikan metode pengajaran problem solving.
8
3. Untuk mengetahui pengaruh pendekatan problem solving terhadap hasil
belajar Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik iswa kelas VIII SMP Al
Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi:
1. Siswa, yaitu dengan metode problem solving siswa dapat memaknai
pengajaran sains, meningkatkan hasil belajar dan lebih menyukai pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam sekaligus.
2. Guru, yaitu memberikan informasi bagi guru tentang hubungan metode
problem solving dengan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang
kemudian dapat ditentukan langkah-langkah lebih lanjut agar sedapat mungkin
untuk mengaplikasikan pendekatan problem solving dalam pembelajaran.
3. Sekolah, yaitu sebagai bahan pertimbangan untuk diterapkannya metode
problem solving untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam
siswa.
9
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Landasan Teori
1. Hakikat Hasil Belajar IPA
a. Pengertian Belajar
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memanusiakan
manusia. Dalam prosesnya, belajar merupakan sarana untuk menggapai
pendidikan yang dimaksud. Oleh karenaya,belajar merupakan usaha yang
dilakukan secara sadar untuk mengubah tingkah laku bagi si pembelajar.
Singkatnya, belajar merupakan usaha yang dilakukan agar manusia
bertambah pengetahuan, keterampilan, dan bertambah baik perilakunya.
Dalam kondisi ini, seseorang dikatakan belajar jika tingkah laku sebagai
akibat dari belajar bersifat menetap dalam tingkah lakunya.
Slameto (2003: 2) mengatakan bahwa: ”Belajar ialah suatu
proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Berdasarkan
pendapat di atas terlihat bahwa sesungguhnya manusia mempunyai
perilaku awal sebelum belajar, dan manusia belajar untuk mengubah
perilaku awal tersebut dengan yang baru, yang lebih baik dari segi
pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya.
Perubahan tingkah laku tersebut tentunya tidak hanya diperoleh
dari pengalamannya sendiri tetapi juga dari interaksi dengan
9
10
lingkungannya. Perubahan tingkah laku yang baru ini diperoleh dari hasil
pengalaman seseorang saat berinteraksi dengan lingkungannya.
Tentunya, pengalaman belajar tidak hanya diperoleh di instutusi
pendidikan (pendidikan formal), akan tetapi juga dalam lingkungan
keluarga (pendidikan informal) dan juga masyarakat (pendidikan non
formal). Oleh karena itu, ketiga lingkungan ini akan sangat
mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan yang baik
dan kondusif serta mendukung terjadinya proses belajar mengajar, maka
dengan sendirinya akan menghasilkan hasil belajar yang baik, demikian
sebaliknya.
Sementara itu, menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono
(2002:10) mengatakan bahwa:
”Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Setelah belajar
orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari stimulus yang berasal
dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh
pembelajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses
kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati
pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru”.
Belajar dipahami merupakan kegiatan yang kompleks dimana
aspek-aspek yang menjadi tujuannya berupa perubahan tingkah laku.
Tingkah laku merupakan serangkaian sikap dan perbuatan dari seseorang.
Menjadi kompleks karena indikator-indikator keberhasilan dalam belajar
sangat banyak dan beragam. Demikian pula dengan alat ukurnya,
sehingga kondisi inilah yang menjadikan belajar bisa dipandang dari
berbagai segi. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar jika sikap
dan perbuatannya mengalami perubahan. Seperti yang telah dikemukakan
11
Gagne di atas bahwa perubahan tingkah laku tersebut adalah berupa
perubahan keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Artinya, orang
yang belajar adalah orang yang telah berhasil mengubah tingkah lakunya
yaitu dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu dan orang
yang berhasil mengubah sikap dan nilainya untuk dapat bergaul dalam
masyarakat.
Seperti telah dibahas sebelumnya, belajar mempunyai pengertian
yang luas dan kompleks. Belajar pada hakikatnya adalah kegiatan yang
menghasilkan perubahan tingkah laku dan biasanya dilakukan secara
sadar oleh seseorang. Perubahan tingkah laku ini disebabkan karena
manusia berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan lingkungannya.
Apabila karena interaksi ini seseorang mengalami perubahan tingkah
laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya maupun sikapnya,
maka dikatakan ia telah mengalami suatu proses belajar. Jadi pada
dasarnya, orang yang telah belajar tidak sama keadaanya dengan sebelum
ia melakukan perbuatan belajar itu.
Sementara itu, konteks belajar di sekolah yang menjadi
subyeknya adalah siswa. Siswa merupakan obyek yang akan dibantu
perubahan tingkah lakunya agar menjadi manusia dengan keterampilan
yang baik, mempunyai pengetahuan yang luas, dan memiliki sikap dan
nilai yang luhur. Siswa adalah subyek yang terlibat dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami
tindak mengajar dan merespons dengan tindak belajar. Pada umumnya
siswa belum menyadari pentingnya belajar. Berkat informasi guru
12
tentang sasaran belajar, maka siswa mengetahui apa arti bahan belajar
baginya.
Sama halnya dengan pendapat di atas, definisi mengenai belajar
menurut Syaiful Sagala (2009:166) yang mengutip pendapat Suharsimi
Arikunto mengatakan bahwa:
”Belajar diartikan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya
usaha untuk melakukan perubahan terhadap diri manusia, dengan
maksud memperoleh perubahan dalam dirinya baik berupa
pengetahuan, keterampilan, ataupun sikap”.
Pandangan tersebut menggarisbawahi selajar merupakan sebuah
proses usaha. Usaha yang dilakukan tersebut adalah berupa usaha untuk
mengubah tingkah laku berupa pengetahuan, keterampilan ataupun sikap.
Dengan demikian, belajar akan terjadi jika manusia mau berusaha untuk
mengubah tingkah lakunya. Dan belajar tidak akan terjadi jika manusia
tidak melakukan usaha untuk perubahan tingkah laku tersebut. Adapun
usaha yang dilakukan adalah dengan maksud memperoleh perubahan
dalam dirinya berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan kata
lain, seseorang yang telah belajar adalah seseorang yang telah berhasil
mengubah pengetahuan, sikap dan juga keterampilannya. Jika hal ini
tidak terjadi maka seseorang tersebut dikatakan tidak belajar.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang agar terjadi
perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut
diperoleh melalui pengalaman, latihan yang relatif menetap. Jadi apa
yang dipelajari seseorang merupakan peningkatan pemahaman atau
13
pengetahuan yang secara teknis dilakukan oleh otak baik melalui
kegiatan berfikir atau pun secara spontan tetapi hal itu masih terdapat
dalam batasan kesadaran dalam arti tidak dalam kondisi sakit atau dalam
pengaruh suatu obat tertentu serta bukan dalam kondisi kehilangan
kesadaran yang menyangkut penyakit kejiwaan seseorang.
b. Hasil Belajar
Hasil merupakan buah yang diperoleh dari suatu aktivitas. Hasil
secara harfiah juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang hendak
dicapai. Hasil merupakan buah apa yang telah dilakukan atau diperbuat.
Hasil merupakan perolehan dari suatu proses. Jika dikaitkan dengan
belajar, hasil belajar merupakan segala sesuatu yang diperoleh dari proses
belajar. Karena belajar merupakan suatu usaha untuk mengubah tingkah
laku, maka hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku
tersebut.
Nana Sudjana (2009:22) mengatakan bahwa, ”.....hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya”. Dari pendapat tersebut jelas kiranya bahwa hasil
belajar merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki siswa setelah
mengalami proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan seperangkat
kompetensi yang telah dikuasai oleh siswa setelah diberi pelajaran.
Sementara itu, Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa, “hasil
belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang.
Maka hasil belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh
seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar”. Dengan melihat
14
definisi belajar sebagai usaha untuk merubah tingkah laku, maka dengan
melihat pendapat dari Winkel mengenai definisi hasil belajar, hasil
belajar merupakan bukti keberhasilan siswa setelah melaksanakan usaha
belajar yang dilakoninya.
Dalam kaitannya dengan hasil belajar yang mencakup tiga aspek
perubahan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap, Nana Sudjana
(2009:22-23) menyebutkan bahwa:
”Klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom secara garis besar
dibagi menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif
berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan
internalisasi. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah
psikomotorik yakni, gerakan reflkes, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketpatan, gerakan
keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif”.
Dari kutipan di atas, terlihat bagaimana kompleksnya belajar dan
hasil belajar sebagai usaha untuk mengubah tingkah laku manusia.
Ranah-ranah tersebut merupakan kajian yang luas, yang tidak mudah
untuk dilakukan. Ketiganya merupakan obyek penilaian hasil belajar.
Hasil belajar dalam kecakapan kognitif mempunyai hirarki/ bertingkat-
tingkat yaitu: informasi non verbal, informasi fakta dan pengetahuan
verbal, konsep dan prinsip, pemecahan masalah dan kreativitas. Informasi
non verbal/dipelajari dengan cara penginderaan terhadap obyek-obyek
dan peristiwa-peristiwa secara langsung. Informasi fakta dan
pengetahuan verbal dipelajari dengan cara mendengarkan orang lain dan
15
melalui cara membaca. Semua itu penting untuk memperoleh konsep-
konsep. Selanjutnya, konsep-konsep itu penting di dalam pemecahan
masalah kreativitas.
Bidang afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek
yakni: penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan
internalisasi. Sedangkan bidang psikomotorik berkenaan dengan hasil
belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek yakni,
gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual,
keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan
gerakan ekspresif dan interpretatif.
Senada apa yang diungkapkan Nana, Winkel (1996:51)
mengatakan bahwa:
”.......penggolongan ini sepadan dengan penggolongan atas tiga
bidang belajar kognitif, belajar sensorik motorik, dan belajar
dinamik-afektif, sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. Semua
perubahan di bidang-bidang itu merupakan suatu hasil belajar dan
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah
lakunya”.
Hasil belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran
terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan
psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan
menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi hasil
belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang
dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang
menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode
tertentu. Hasil belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta
16
didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah
mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan
instrumen tes yang relevan.
Dengan demikian jika yang dimaksud adalah hasil belajar IPA
maka hasil belajar IPA adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman dan juga kemampuan
berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol. Hasil
belajar Ilmu Pengetahuan Alam akan tampak terlihat dari kemampuan
berifikir Ilmu Pengetahuan Alam dalam diri siswa yang bermuara pada
kemampuan menggunakan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai bahasa dan alat
dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
Untuk mengetahui hasil belajar, selain latihan, ulangan harian,
ujian tengah semester juga diadakah ujian akhir pada tiap semester. Ujian
akhir semseter adalah ujian yang diadakan tiap akhir semester. Dari sini
akan terlihat bagaimana hasil belajar dan perkembangan siswa selama
enam bulan. Ujian akhir semester menyangkut materi pelajaran yang
telah diajarkan selama enam bulan sehingga pendalaman materi yang
diadakan juga berguna untuk mereview pelajaran-pelajaran yang telah
lalu.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajar berupa kemampuan dari segi kognitif,
afektif dan psikomotoriknya. Perubahan sebagai hasil dari belajar adalah
perubahan menuju arah yang positif, bukan sebaliknya.
17
c. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tauhu (kuriositas) manusia.
Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang dan rasa ingin tahu
manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Demikian pula rasa ingin tahu
manusia terhadap alam. Manusia mempunyai rasa ingin tahu terhadap
rahasia alam dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan
pengalaman, tetapi sering tidak dapat menjawab masalah dan tidak
memuaskan. Hal inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan alam.
Ilmu Pengetahuan Alam atau lebih dikenal dengan singkatan IPA
berasal dari bahasa latin “scientia’ dan dalam bahasa Inggris “science”
atau di Indonesia lebih dikenal dengan sains. Seperti yang telah
dikemukakan sebelumnya bahwa, IPA lahir dari rasa ingin tahu manusia
yang begitu tinggi terhadap sesuatu termasuk dalam hal ini adalah
mengenai alam semesta. Gejala-gejala alam yang terjadi menimbulkan
penasaran, apa dan mengapa hal tersebut terjadi. Pertanyaan-pertanyaan
kritis kemudian muncul dan manusia mulai mencari tahu apa dan
mengapa serta bagaimana hal tersebut terjadi. Setelah itu kemudian
manusia mencoba bereksperimen untuk mencari tahu jawaban dari
fenomena-fenomena alam tersebut.
Maskoeri Jasin (2006:1) mengatakan bahwa, “ilmu alamiah
merupakan ilmu yang mengkaji gejala-gejala dalam alam semesta,
termasuk bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip”. Dalam
18
pendapat tersebut ilmu alamiah yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan
alam (IPA).
Ilmu pengetahuan alam mempelajari alam dengan menggunakan
metode-metode sains ([Link] Selanjutnya menurut
Kuslan Stone yang dikutip Agus S dalam situs yang sama menyebutkan
bahwa, “sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk
mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan
produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan”.
Sementara itu Suyoso yang dikutip Izzatin Kamala dalam
[Link] mengatakan bahwa:
“Sains merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang
bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh
melalui metode tertentu yang teratur, sistematis, berobyek,
bermetode dan berlaku secara universal”.
Dalam situs yang sama Abdullah mengtakan:
“IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun
dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan
observasi dan demikian seterusnya kait mengait antara cara yang
satu dengan cara yang lain”.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan
kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik
untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek
19
pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan
sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai
hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia.
Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga
perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan
minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu penge-
tahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang
mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat
rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu
pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting.
Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkem-
bangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia
dan negara-negara maju. Pendidikan IPA telah berkembang di Negara-
negara maju dan telah terbukti dengan adanya penemuan-penemuan baru
yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di Indonesia sendiri belum
mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia belum
mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur
kemajuan bangsa. Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata plajaran
20
IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat
kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini
terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan
sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah
yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum,
guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.
Oleh sebab itu untuk memperbaiki pendidikan IPA di SMP
diperlukan pembenahan kurikulum dan pengajaran yang tepat dalam
pendidikan IPA. Masalah ini juga yang mendasasri adanya kurikulum
yang di sempurnakan (KYD) yang saat ini sedang di kembangkan di
sekolah-sekolah, yaitu KTSP. Dalam makalah ini penulis akan
menyajikan tentang pengertian pendidikan IPA dan perkembangannya
sehingga menyebabkan adanya perubahan kurikulum yang
disempurnakan. Diharapkan setelah adanya penyempurnaan kurikulum
maka pendidikan IPA dapat diajarkan sesuai dengan konsepnya serta
dapat dikembangka dala dunia tekologi. Pendidikan IPA terpadu yang
diterapkan di SMP dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang
mampu berpikir logis, kreatif dan kritis dalam menanggapi isu teknologi
di masyarakat.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA
merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh
dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode
ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat
umum sehingga akan terus disempurnakan.
21
d. Materi Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang
1) Getaran
Pengertian getaran menurut Marthen Kanginan (2004:97)
adalah: Gerakan bolak–balik secara berkala melalui titik seimbangnya.
Untuk memudahkan pemahaman tentang getaran digunakan ayunan
sederhana.
Perhatikan bahwa gerak ayunan sederhana dari a – b – a – c – a
disebut satu getaran. sedangkan gerak ayunan dari a – b – a disebut
setengah getaran.
Ada 3 besaran dasar dalam getaran yaitu periode, frekuensi
dan amplitudo.
1) Yang dimaksud dengan periode adalah : selang waktu yang
diperlukan untuk menempuh satu getaran. Periode tidak
bergantung pada amplitudo.
2) Sedangkan frekuensi adalah : banyaknya getaran yang terjadi
dalam waktu satu sekon.
3) Amplitudo adalah simpangan terjauh dari titik keseimbangan yang
dilakukan oleh beban ayunan.
22
Adapun hubungan antara periode dan frekuensi adalah
1 1
T atau f
f T
dengan T = periode. satuan sekon (s)
f = Frekuensi. satuan hertz ( Hz)
2) Gelombang.
Pengertian gelombang adalah suatu usikan yang merambat.
yang membawa getaran dan gelombang dari satu tempat ke tempat
lainnya (Marthen Kanginan. 2004:105). Menurut sifat perambatannya,
gelombang dibagi menjadi 2, yaitu gelombang mekanik dan
gelombang elektromagnetik. Gelombang mekanik adalah gelombang
yang hanya terjadi bila ada medium. Sedangkan gelombang
elektromagnetik adalah gelombang yang dapat melalui ruang hampa
(Ike Novianti, 2004: 18).
Sementara itu, menurut bentuk perambatannya gelombang
dibagi menjadi 2 pula, yaitu :
Gelombang Transversal yaitu gelombang yang arah getarannya
tegak lurus arah rambatannya.
23
Keterangan :
b–c–d–e–f = satu gelombang
a–b–c = bukit gelombang
c–d–e = lembah gelombang
b – b’ = amplitudo gelombang
b = puncak gelombang
d = dasar gelombang
Gelombang longitudinal yaitu gelombang yang arah getarannya
sejajar arah rambatannya.
Keterangan
λ = panjang gelombang terdiri dari satu rapatan dan satu renggangan
cepat rambat gelombang
keterangan :
v = cepat rambat gelombang (m/s)
λ = panjang gelombang ( m )
T = periode gelombang ( s )
f = frekuensi gelombang ( Hz )
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa getaran adalah gerakan
bolak-balik melalui titik kesetimbangan secara teratrur. Dari proses
24
bergetarnya suatu benda akan menimbulkan gelombang. Atau dengan
kata lain gelombang adalah getaran yang merambat. Materi getaran
dan gelombang diberikan dengan maksud siswa dapat
mendeskripsikan konsep getaran dan gelombang dalam kehidupan
sehari-hari.
e. Hasil Belajar IPA
Berdasarkan pengertian-pengertian yang ada mengenai belajar,
hasil belajar, dan pengertian IPA maka dalam sub pokok bahasan ini
dapat disimpulkan pengertian dari hasil belajar IPA. Sebagaimana kita
ketahui bahwa hasil belajar merupakan kemempuan siswa setelah
mengalami proses belajar. Pertanyaannya adalah bagaimana cara
mengukur hasil belajar tersebut.
Terhadap pertanyaan ini kita kembali pada unsur – unsur yang
terdapat dalam proses belajar mengajar itu. Ada empat unsur utama
proses belajar mengajar yakni tujuan, metode, bahan, serta penilaian.
Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai
tujuan pengajaran sedangkan hasil belajar adalah kemampuan –
kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya.
Hortwad Kingsley membagi tiga macam hasil belajar yaitu:
ketrampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita
– cita. Masing –masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan
yang telah ditetapkan oleh kurikulum, sedangkan gagne membagi lima
kategori hasil belajar yakni: informasi verbal, ketrampilan yang
25
intelektual, strategi kognitif, sikap dan ketrampilan motorik.
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk
mengukur sejauh mana tujuan yang telah tercapai. karena itu didalam
menyusun evaluasi hendaknya memperhatikan secara seksama
rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan harus dapat
mengukur sejauh mana proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Agar evaluasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat
sebagai mana diharapkan, maka evaluasi harus dilakukan berdasarkan
prinsip-prinsip yang tepat. (Arikunto2007:24) “mengemukakan bahwa
ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan tringulasi atau
hubungan erat tiga komponen yaitu Tujuan, Kegiatan Belajar
Mengajar, dan Evaluasi”.
Mengingat pentingnya penilaian dalam mmenentukan kwalitas
pendidikan maka untuk merencanakan dan melaksanakan penilaian
hendaknya memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur penilaian.
Prinsip penilaian yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:
1. Dalam menilai hasil belajar hendaknya dirancang sedemikian rupa
sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat
penilaian, dan interpretasi hasil penilaian.
2. Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari
proses belajar mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan
pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya
berkesinambungan.
3. Agar diperoleh hasil belajar yang obyektif dalam pemgertian
26
mengambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana
adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan
sifatnya konfrehensip.
4. Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya,
data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi
siswa, oleh karena itu perlu dicatat secara teratur dalam catatan
khusus mengenai kemajuan siswa
Untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa
diperlukan suatu evaluasi setelah selesai mengajarkan satu pokok
bahasan atau sub pokok bahasan dalam kegiatan proses belajar
mengajar. Alat yang digunakan untuk melihat hasil belajar siswa dapat
menggunakan beberapa cara yaitu tes lisan tes tertulis dan tugas-tugas.
Berdasarkan beberapa definisi tentang belajar, IPA, dan hasil belajar
di atas maka dapat di simpulkan bahwa hasil belajar IPA adalah
perubahaan siswa yang didapat dengan jalan berlatih dalam
mempelajari konsep IPA sehingga terjadi perubahaan tingkah laku
yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik di mana
diperlukan yang berhubungan dengan IPA dalam kehidupan sehari –
hari.
Dengan demikian yang dimaksud dengan hasil belajar IPA
dalam penelitian ini adalah seperangkat kemampuan siswa setelah
melalui proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan getaran dan
gelombang berupa kemampuan kognitif untuk memecahkan masalah
IPA melalui proses evaluasi.
27
2. Hakikat Metode Problem Solving
a. Metode Problem Solving
Metode atau strategi pembelajaran adalah cara atau teknik yang
digunakan guru dalam mengajar. Di dalam proses belajar mengajar, guru
harus memiliki strategi yang baik agar peserta didik dapat belajar secara
efektif dan efisien dan mengena pada tujuan yang hendak dicapai. Metode
yang digunakan untuk memotivasi peserta didik agar mampu
menggunakan pengetahuannya dalam memecahkan masalah yang
dihadapi atau pun untuk menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan
metode yang digunakan untuk tujuan agar peserta didik mampu berpikir
dan mengemukakan pendapatnya sendiri di dalam menghadapi segala
persoalan.
Darwyan Syah (2009:11) mendefinisikan strategi sebagai, “suatu
garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran
yang telah ditentukan”. Lebih lanjut Darwyan Syah menyebutkan bahwa,
jika dikaitkan dengan pembelajaran maka yang disebut sebagai strategi
merupakan pola-pola umum kegiatan guru-siswa dalam kegiatan
pembelajaran untuk mencapai kompetensi sebagai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan.
Dengan demikian maka strategi merupakan rentetan atau alur yang
dibuat guru sebagai upaya dalam melakukan pembelajaran kepada siswa
untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Hal serupa senada dengan
apa yang diungkapkan Djamarah (2006:5) yang mengatakan bahwa,
“strategi belajar mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru anak
28
didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan
yang telah digariskan”.
Dalam pelaksanaannya, strategi belajar dijabarkan ke dalam
bentuk model-model, pendekatan, metode dan alat bantu pengajaran.
Berdasarkan hal tersebut maka strategi merupakan pendefinisian secara
umum tentang tata cara mengajar, sedangkan teknis pelaksanaannya
adalah berupa metode, pendekatan dan alat bantu pengajaran. Selanjutnya
yang akan dibahas dalam hal ini adalah metode belajar problem solving
dalam pembelajaran IPA.
Dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Alam, guru harus melakukan
pendekatan yang tepat dalam mengajar. Pembelajaran yang dilakukan
tidak monoton dengan menggunakan satu pendekatan saja yang berakibat
pada kejenuhan dan berkurangnya motivasi siswa dalam belajar. Apalagi
jika melihat kondisi yang sudah terlanjur tertanam dalam masyarakat
bahwa Ilmu Pengetahuan Alam adalah pelajaran yang susah dan ruwet.
Sebaiknya pendekatan dalam mengajar yang digunakan dalam belajar
Ilmu Pengetahuan Alam mengarah kepada pemberian pengalaman belajar.
Karena dengan demikian siswa tidak hanya disuguhi konsep-konsep yang
abstrak akan tetapi konsep yang real/nyata. Konsep yang nyata inilah pada
dasarnya ada dengan pengalaman yang telah mereka lakukan selama
proses belajar mengajar. Dengan demikian siswa akan tahu dan merasa
perlu tahu akan apa yang dipelajarinya.
Pada umumnya, pembelajaran yang digunakan sampai saat ini
adalah pembelajaran yang hanya tertuju pada pencapaian materi. Sehingga
29
guru berusaha untuk mengajar hanya dengan mempertimbangkan semua
bahan materi kepada siswa supaya sampai pada batas semester. Tidak lagi
mempedulikan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan dan
kompetensi yang harus diperoleh siswa. Jika hal tersebut terus dibiarkan,
maka pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tidak akan menghasilkan
siswa-siswa yang kompeten yang peka terhadap perubahan-perubahan
teknologi. Jika ditinjau dari guru, hal ini juga merupakan hal yang
dilematis. Tidak semua siswa mempunyai kemampuan yang sama dan
daya serap yang sama. Oleh karena itulah sekali lagi guru dituntut untuk
dapat mampu mengembangkan pendekatan yang baik dan benar dalam
mengajar.
Untuk mengubah kondisi tersebut maka pemilihan metode
pembelajaran perlu diperhatikan dengan baik oleh seorang guru. Dalam
pembelajaran di kelas, guru diharapkan lebih menekankan pada pemberian
pengalaman untuk bekerja ilmiah. Dalam melakukan kerja ilmiah selalu
dikembangkan pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui
penggunaan dan mengembangkan keterampilan proses yang meliputi
kemampuan mengamati, mengukur dengan teliti, menggolongkan,
mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis dan merencanakan
percobaan.
Salah satu metode belajar yang harus dikuasi guru terutama dalam
menerapkan Kurikulum 2013 adalah metode belajar problem solving.
Sadirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan
menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
30
disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Model dan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem
Solving) digunakan dalam pembelajaran yang membutuhkan jawaban atau
pemecahan masalah. Sebagai metode pembelajaran, metode pembelajaran
berbasis masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada siswa.
Dengan metode ini, para siswa belajar memecahkan suatu masalah
menurut prosedur kerja ilmiah.
Metode pembelajaran berbasis masalah atau metode pembelajaran
berbasis masalah (Problem Solving) ini sering dinamakan atau disebut
juga dengan eksperimen method, reflective thinking method, atau
scientific method (Sadirman, dkk., 1991 : 146). Sementara itu, Darwyan
Syah (2009:159) menyebutkan, ”metode pemecahan masalah adalah
penyajian bahan ajar oleh guru dengan merangsang anak berpikir secara
sistematis dengan menghadapkan siswa kepada beberapa masalah yang
harus dipecahkan”. Djamarah (2006:91) menambahkan:
”Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan
hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu
metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat
menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan
mencari data sampai kepada menarik kesimpulan”.
Berdasarkan pengertian di atas jelas kiranya bahwa pendekatan
problem solving merupakan pendekatan dimana guru mengajak siswa
untuk berpikir secara kritis guna memecahkan suatu masalah yang ada.
Pendekatan ini tentunya akan dapat merangsang siswa untuk berpikir
secara kritis sehingga siswa dapat memecahkan masalahnya sendiri yang
kemudian guru akan meluruskan konsep yang sesungguhnya. Dengan
31
demikian maka ada integrasi antara guru dan siswa untuk memahami
sesuatu.
Selanjutnya Djamarah (2006:92) menyebutkan langkah-langkah
dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan problem
solving sebagai berikut:
1) Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus
tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
2) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut.
3) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh,
pada langkah kedua di atas.
4) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini
siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin
bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok.
5) Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan
terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.
Secara lebih spesifik, langkah-langkah pembelajaran berbasis
masalah dapat dilihat dalam tabel beikut.
Tabel 2.1. Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah
Tahap Deskripsi
Tahap 1 Guru menyajikan masalah nyata kepada peserta
Orientasi terhadap didik.
masalah
Tahap 2 Guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami
Organisasi belajarmasalah nyata yang telah disajikan, yaitu
mengidentifikasi apa yang mereka ketahui, apa
yang perlu mereka ketahui, dan apa yang perlu
dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Peserta
didik berbagi peran/tugas untuk menyelesaikan
masalah tersebut.
Tahap 3 Guru membimbing peserta didik melakukan
Penyelidikan pengumpulan data/informasi (pengetahuan,
individual maupun konsep, teori) melalui berbagai macam cara untuk
kelompok menemukan berbagai alternatif penyelesaian
masalah.
32
Tahap Deskripsi
Tahap 4 Guru membimbing peserta didik untuk
Pengembangan dan menentukan penyelesaian masalah yang paling
penyajian hasil tepat dari berbagai alternatif pemecahan masalah
penyelesaian yang peserta didik temukan. Peserta didik
masalah menyusun laporan hasil penyelesaian masalah,
misalnya dalam bentuk gagasan, model, bagan,
atau Power Point slides.
Tahap 5 Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan
Analisis dan evaluasi refleksi atau evaluasi terhadap proses penyelesaian
proses penyelesaian masalah yang dilakukan.
masalah
Selanjutnya, pendekatan problem solving juga memiliki beberapa
sisi positif dan sisi negatif. Darwyan Syah (2009:160) menyebutkan sisi
positif tersebut sebagai berikut:
1) memungkinkan relevansi antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
2) Membiasakan siswa terampil menghadapi dan memecahkan masalah.
3) Merangsang proses berpikir kreatif dan menyeluruh.
Sementara itu, sisi negatif dari pendekatan problem solving adalah
sebagai berikut:
1) Sulit menentukan tingkat masalah yang disesuaikan dengan tingkat
pemahaman dan perkembangan siswa.
2) Memakan waktu yang lama dan menyita waktu yang diperlukan untuk
jam pelajaran lain.
3) Sulit mengubah pola belajar siswa dari menjadikan guru sebagai
sumber belajar utama kepada belajar dengan berpikir yang
membutuhkan lebih banyak lagi sumber belajar.
Berdasarkan langkah-langkah yang harus diambil dan dengan
mempertimbangkan kelebihan serta kelemahan dari pendekatan problem
solving ini maka hal tersebut merupakan tantangan bagi guru untuk
melakukan pendekatan ini dengan baik untuk mengetahui hasil belajar
siswa. Berdasarkan hal tersebut pulalah, penulis ingin mengetahui
33
efektivitas siswa yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan
problem solving terhadap hasil belajar IPA siswa.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan
problem solving adalah proses pembelajaran dengan melakukan penyajian
bahan ajar oleh guru dengan merangsang anak berpikir secara sistematis
dengan menghadapkan siswa kepada beberapa masalah yang harus
dipecahkan.
b. Metode Konvensional
Sebagai kontrol untuk menguji efektivitas pengajaran dengan
menggunakan pendekatan problem solving dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan pendekatan konvensional dalam pembelajaran yang
selanjutnya membandingkan kedua pendekatan tersebut. Pendekatan
pembelajaran konvensional yang dimaksud di sini adalah proses
pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Dikatakan
konvensional karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang pertama
kali muncul dalam berbagai pendekatan pembelajaran yang ada sekarang
ini.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Syaiful Bahri
Djamarah (2006:97) yang mengatakan bahwa metode ceramah sebagai,
”...metode yang boleh dikatakan tradisional, karena sejak dulu metode ini
telah digunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak
didik dalam proses belajar mengajar”. Selanjurnya Syaiful Bahri
Djamarah (2006:97) mendefinisikan metode ceramah sebagai, ”cara
penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau
34
penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa”. Sependapat dengan
Syaiful, Darwyan Syah (2009:140) mendefinisikan metode ceramah
sebagai, ”....penuturan bahan pelajaran secara lisan”.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menggunakan pendekatan
ini menurut Darwyan Syah (2009:141-142) adalah sebagai berikut:
1) Tahap persiapan, pada tahap in guru harus menciptakan kondisi dan
mental siswa agar mendukung seta menerima digunakannya
pendekatan ini.
2) Tahap penyajian, yaitu tahap dimana guru menyapaikan bahan
pelajaran dengan berceramah.
3) Tahap mencari hubungan dan membandingkan, yaitu membimbing,
mengarahkan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk
menghubungkan serta membandingkan bahan ceramah yang telah
diterimanya.
4) Tahap membuat generalisasi dan kesimpulan. Pada tahap ini siswa
diberi kesempatan untuk membuat catatan-catatan penting.
5) Tahap evalusi, yaitu tahap dimana guru melakukan penilaian terhadap
pemehaman siswa.
Sementara itu mengenai kelamahan dan kekurangan metode ini
menurut Syaiful Bahri Djamarah (2006:97) dijabarkan berikut ini.
Kelebihan: 1) guru mudah menguasai kelas, 2) mudah mengorganisasikan
tempat duduk, 3) dapat diikuti jumlah siswa yang besar, 4) mudah
mempersiapkan dan melaksanakannya, 5) guru mudah menerangkan
pelajaran denfan baik. Sementara itu kelemahan pendekatan ini adalah: 1)
mudah menjadi verbalisme, 2) yang visual menjadi rugi, 3) bila digunakan
terlalu lama, membosankan, 4) menyebebkan siswa menjadi pasif.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pendekatan konvensional adalah cara penyajian belajar dengan penuturan
atau penjelasan lisan secara langsung kepada siswa.
35
B. Kerangka Berpikir
Tujuan pembelajaran adalah menjadikan peserta didik berubah tingkah
lakunya baik dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan yang
terjadi merupakan bagian dari proses belajar ke arah yang kebih baik. Oleh
karenanya, guru sebagai orang yang bertanggungjawab dalam mengolah
perubahan perilaku tersebut memerlukan berbagai metode untuk mendapatkan
hasil yang maksimal.
Metode pengajaran merupakan seragkaian cara yang dapat digunakan
oleh guru dalam melakukan proses belajar mengajar. Tentunya, setiap metode
pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Artinya,
metode sebaik apa pun belum tentu cocok diterapkan pada suatu kelompok
pembelajar yang kondisinya tidak sesuai dengan keinginan dari metode
pembelajaran yang dimaksud. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang
digunakan oleh guru harus bervariatif sehingga guru dapat menganalisis dan
menggunakan metode mana yang paling tepat digunakan.
Di antara banyak metode, metode pembelajaran yang memungkinkan
untuk memberikan peserta didik memperoleh pengetahuan dasar, belajar
secara aktif, mandiri dan peserta didik yang mampu berpikir kritis dan
mengembangkan inisiatif adalah metode pembelajaran problem solving atau
metode pemecahan masalah. Metode problem solving adalah cara penyajian
bahan pelajaran dengan menjadikan maslaah sebagai titik tolak pembahasan
untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecaha atau
jawabannya oleh siswa (Sadirman dkk, 1991:146).
36
Metode problem solving merupakan metode pembelajaran yang lebih
memfokuskan kegiatan yang berpusat pada siswa. Langkah-langkah yang
digunakan dalam pembelajaran ini adalah menempatkan siswa sebagai subjek
bukan sebagai objek belajar. Siswa secara aktif dilibatkan untuk mengajukan
atau merumuskan permasalahan. Sementara guru lebih bertindak sebagai
fasilitator yang membantu siswa jika ada kesulitan. Sehingga hasil yang
diperoleh lebih berbekas dalam pikiran siswa, selanjutnya dapat diperoleh
hasil belajar yang tinggi.
Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pendekatan yang baik untuk diterapkan dalam melakukan
pengajaran IPA di sekolah. Selanjutnya, dengan melihat kelamahan dan
kelebihan yang ada, maka diduga hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa
yang diajar dengan metode problem solving lebih tinggi dibandingkan dengan
yang diajar secara konvensional.
C. Rumusan Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan
di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut:
“Terdapat pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Alam peserta didik kelas VIII SMp AL Irsyad Al Islamiyyah
Jakarta pada tahun ajaran 2016-2017”.
37
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta
yang beralamat di Jl. Mindi No. 29-35, Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja,
Kotamadya Jakarta Utara. Sementara itu NSS//NIS/NPSN sekolah adalah
20201603165/200120/20106458 dengan nomor telepon sekolah 021-
43933542. SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta memiliki masing-masing
4 romobongan belajar dengan jumlah guru tetap yayasan sebanyak 23
orang. Saat ini SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta dikepalai oleh Bapak
Drs. Haryanto.
2. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian adalah dimulai dari bulan Oktober
2016 sampai dengan Januari 2017 dengan perincian sebagai berikut:
Tabel 3.1. Waktu Penelitian
No Jadwal Kegiatan Oktober November Desember Januari
1. Observasi
lingkungan √
penelitian
2. Penyusunan √
program penelitian
3. Pelaksanaan √
penelitian
4. Post tes √
5. Pengolahan data √
6. Ujian √
37
38
Dengan tahapan persiapan penelitian yaitu menentukan
permasalahan apakah ada pengaruh pendekatan problem solving terhadap
hasil belajar IPA pokok bahasan getaran dan gelombang pada siswa kelas
VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode true eksperimental
dengan bentuk Postes-Only Control Design (Sugiono, 2003:85)
R x Q2
R Q4
Q2 = hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan metode problem solving.
Q4 = hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan metode konvensional
Dengan metode ini peniliti dapat mengontrol semua variabel luar yang
mempengaruhi jalannya eskperimen. Dengan demikian, validitas internal
dapat menjadi tinggi. Ciri utama metode ini adalah sampel yang digunakan
untuk eksperimen diambil secara random dari populasi tertentu.
Dalam penelitian ini bentuk didesain yang digunakan adalah desain
Postes-Only Control Design. Pada desain ini terdapat dua kelompok yang
masing-masing dipilih secara modern (R). Kelompok pertama diberi perlakuan
(X) dan kelompok yang lain tidak. Pengaruh adanya perlakuan adalah (Q 1 :
Q2). Prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Melakukan survai kepustakaan yang relevan dengan masalah yang diteliti.
2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
39
3. Merumuskan hipotesis berdasarkan atas penelahaan kepustakaan.
4. Mengidentifikasi pengertian dasar-dasar dan variabel utama.
5. Menyusun rencana eksperimen.
6. Melaksanakan eksperimen.
7. Mengatur data kasar untuk mempermudah analisa.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi Target
Populasi adalah suatu wilayah generasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Populasi
target dalam penelitian ini adalah seluruh SMP Al Irsyad Al Islamiyyah
Jakarta yang berjumlah 358 peserta didik.
2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau dalam penelitian adalah peserta didik kelas VIII
SMP Al Irsyad Al Ismaliyyah pada tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak
empat kelas paralel yang berjumlah 125 orang peserta didik.
3. Sampel dan Teknik Sampling
Sampel adalah sebagian populasi yang diselidiki dari keseluruhan
populasi penelitian. Sampel yang baik yaitu sampel yang memiliki
populasi atau yang refresentatif artinya yang menggambarkan keadaan
populasi atau menceminkan populasi secara maksimal.
Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMP Al
Irsyad Al Islamiyyah Jakarta pada tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak
40
dua kelas paralel yang berjumlah 60 orang peserta didik. Teknik yang
digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik
intact group. Menurut Sudjana (1989:167) menyatakan bahwa teknik
intact group adalah teknik pengambilan sampel dilakukan apa adanya.
Sampel yang diambil pada teknik intact group adalah seluruh peserta didik
di dalam kelas yang terpilih sebagai kelas sampel untuk penelitian yaitu
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Beberapa alasan peneliti
menggunakan teknik intact group karena keadaan populasi penelitian
merupakan rombongan belajar yang sudah tersusun dalam kelas dengan
jadwal belajar yang sudah terprogram.
Dalam penelitian ini diambil dua kelas dimana satu kelas digunakan
sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya digunakan sebagai
kelas kontrol dengan masing-masing kelas berjulah 30 orang peserta didik
sebagai sampel. Setelah diundi kelas VIII B sebagai kelas eksperimen
sebanyak 30 peserta didik dan VIII C sebagai kelas kontrol dengan 30
orang peserta didik.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Variabel Penelitian
a. Variabel Bebas : Siswa yang diajar dengan metode problem solving dan
siswa yang diajar dengan metode konvensional.
b. Variabel Terikat : Hasil belajar IPA pokok bahasan getaran dan
gelombang.
41
2. Sumber Data
Data diambil dari tes belajar yang dilaksanakan setelah proses pembelaja-
ran selesai. Tes diberikan kepada peserta didik yang menjadi kelompok
sampel.
3. Teknik Pengumpulan/ Mendapatkan Data
a. Teknik dokumentasi: peneliti mendokumentasikan karakteristik peserta
didik dan cara belajar serta hasil belajar peserta didik.
b. Teknik Tes: peneliti memberikan tes uji coba dan juga tes hasil belajar
untuk mendapatkan rata-rata hasil belajar IPA peserta didik yang diajar
dengan metode problem solving dan peserta didik yang diajar dengan
metode konvensional.
E. Instrumen Penelitian
1. Definisi Konseptual
Hasil belajar IPA adalah tingkat kemampuan siswa dalam menguasai
materi pelajaran IPA pada pokok bahasan getaran dan gelombang
(memahami dan dapat menjelaskan serta menyelesaikan soal-soal yang
berkaitan dengan getaran dan gelombang dan menerapkan materi dalam
kehidupan sehari-hari).
2. Definisi Operasional
Hasil belajar IPA adalah skor tentang kemampuan siswa dalam
menguasai materi pelajaran IPA pada pokok bahasan getaran dan
gelombang (memahami dan dapat menjelaskan serta menyelesaikan soal-
soal yang berkaitan dengan getaran dan gelombang dan menerapkan materi
42
dalam kehidupan sehari-hari) yang diperoleh melalui tes tertulis dalam
bentuk pilihan ganda sebanyak 30 soal dengan empat option dimana jumlah
maksimum 30 dan nilai maksimum 100.
3. Kisi-kisi Instrumen
Kisi-kisi yang akan dijadikan instrumen dalam penelitian ini adalah
berupa materi pokok bahasan gerak lurus yang terangkum dalam tabel
berikut:
Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Pokok Sub Pokok Kompetensi Jumlah No Soal Bent
uk
Bahasan Bahasan Yang diajukan
Soal
Getaran Getaran - Siswa dapat mende- 3 1,2,3 PG
finiskan getaran
Dan - Siswa dapat mende- 5 4,5,6,7,8
finisikan periode,
Gelomba frekuensi dan amp-
ng litudo
- Siswa dapat meng- 3 9,10,11
gunakan rumus hubu-
ngan antara frekusni,
periode dan ampli-
tudo.
- Siswa dapat meng-
erjakan soal-soal me- 6 12,13,14
ng-gunakan rumus
tersebut 15,16,17
Gelombang - Siswa dapat mende- 3 18,19,20 PG
finiskan gelombang
- Siswa dapat membe- 4 21,22,
dakan gelombang
berdasarkan sifat dan 23,24
arah rambatnya
- Siswa dapat meng- 6 25,26,27
hitung cepat rambat
gelombang 28,29,30
43
4. Pengujian Instrumen
Karena instrument yang dibuat oleh peneliti hanya instrument untuk
mengukur hasil belajar IPA saja, maka uji instrument yang dilakukan
pada penelitian ini hanya untuk instrument tersebut. Pengujian
instrument ini dilakukan pada anggota populasi yang sama tetapi yang
bukan termasuk anggota sampel dimana pada penelitian ini uji coba
dilakukan pada 30 siswa. Jika ada butir soal yang belum valid maka
direvisi dan diujicobakan lagi sampai diperoleh butir pertanyaan yang
valid.
a. Tingkat Kesukaran (p) Butir Soal
Selain pengujian terhadap validitas butir dan perhitungan
reliabilitas. peneliti juga menentukan tingkat kesukaran butir soal. Indeks
tingkat kesukaran atau Proportional Correct dinotasikan dengan p.
Rumusnya (Safari: 2004:23) adalah:
JB
p
N
dimana: JB = jumlah peserta tes yang menjawab benar
N = jumlah peserta tes
Indeks kesukaran butir merupkan proporsi responden yang
menjawab benar suatu butir dengan seluruh peserta tes. Indeks kesu-
karan butir berkisar antara 0 sampai dengan 1. artinya jika p = 0 berarti
tak seorang pun responden dapat menjawab benar butir tersebut.
sebaliknya jka p = 1. maka semua responden dapat menjawab butir
dengan benar. Kriteria tingkat kesukaran yang digunakan pada ana-
44
lisa ini adalah: jika p > 0.70 kategori soal mudah. 0.30 <p< 0.70 kate-
gori soal sedang dan p < 0.30 kategori soal sukar (Nana Sudjana. 1991:46).
Tabel 3.3. Hasil Analisis Tingkat Kesukaran Butir
No B JS B/JS Keterangan No B JS B/JS Keterangan
1 18 30 0,60 sedang 16 15 30 0,50 sedang
2 17 30 0,57 sedang 17 19 30 0,63 sedang
3 19 30 0,63 sedang 18 20 30 0,67 sedang
4 18 30 0,60 sedang 19 20 30 0,67 sedang
5 15 30 0,50 sedang 20 19 30 0,63 sedang
6 17 30 0,57 sedang 21 18 30 0,60 sedang
7 19 30 0,63 sedang 22 13 30 0,43 sedang
8 19 30 0,63 sedang 23 18 30 0,60 sedang
9 17 30 0,57 sedang 24 19 30 0,63 sedang
10 19 30 0,63 sedang 25 16 30 0,53 sedang
11 17 30 0,57 sedang 26 18 30 0,60 sedang
12 17 30 0,57 sedang 27 17 30 0,57 sedang
13 15 30 0,50 sedang 28 19 30 0,63 sedang
14 16 30 0,53 sedang 29 18 30 0,60 sedang
15 15 30 0,50 sedang 30 15 30 0,50 sedang
2) Pengujian Validitas (Kesahihan) Butir Soal
Kesahihan atau validitas butir soal untuk soal berbentuk
pilihan ganda diuji dengan menggunakan koefisien biserial (Safari.
2004: 71) dengan rumus:
2
X
2
X
n
Xi Xt Pi
2
rbis ( i ) dengan St
St Qi n
dimana:
r bis ( i ) Koefisien korelasi biserial antara skor butir soal nomor i
dengan skor total.
45
Xi = Rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir soal
nomor i.
Xt = Rata-rata skor total semua responden.
St = Standar deviasi skor total semua responden.
Pi = Proporsi jawaban benar untuk butir soal nomor i.
Qi = Proporsi jawaban salah untuk butir soal nomor i.
Nilai r bis yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya dikonsul-
tasikan dengan r kritis . Pada penelitian ini pengujian validitas butir
soal ini dilakukan pada 30 orang responden. Soal dikatakan valid jika
nilai rbis > 0,3. Adapun data hasil uji coba adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4. Hasil Analisis Validitas Soal
nilai nilai
No rbis r kritis kriteria No rbis r kritis kriteria
1 0.67 0.3 Valid 16 0.31 0.3 valid
2 0.6 0.3 Valid 17 0.06 0.3 tidak valid
3 0.41 0.3 Valid 18 0.07 0.3 tidak valid
4 0.43 0.3 Valid 19 0.5 0.3 valid
5 0.36 0.3 Valid 20 0.41 0.3 valid
6 0.41 0.3 Valid 21 0.49 0.3 valid
7 0.04 0.3 tidak valid 22 0.48 0.3 valid
8 0.46 0.3 valid 23 0 0.3 tidak valid
9 0.42 0.3 valid 24 0.49 0.3 valid
10 0.1 0.3 tidak valid 25 0.53 0.3 valid
11 0.16 0.3 tidak valid 26 0.67 0.3 valid
12 0.34 0.3 valid 27 0.6 0.3 valid
13 0.06 0.3 tidak valid 28 0.41 0.3 valid
14 0.7 0.3 valid 29 0.43 0.3 valid
15 0.34 0.3 valid 30 0.36 0.3 valid
46
Dengan demikian soal yang dijadikan instrumen penelitian adalah 23
soal dimana soal no, 7,10,11,13,17,18,23 dinyatakan tidak valid dan
berarti tidak dapat dijadikan instrumen penelitian.
3) Pengujian Reliabilitas (Keterhandalan) Perangkat Soal
Keterhandalan (reliabilitas) perangkat soal untuk soal pilihan
ganda diuji dengan menggunakan Kuder Richarsson 20 (Safari,
2004: 54), dengan rumus:
r KR
k
1
PiQi
k 1
2
St
dimana : r KR = Koefisien reliabilitas tes
k = Banyaknya butir
St2 = Varians skor total
Pi = Proporsi jawaban benar untuk butir i
Qi = Proporsi jawaban salah untuk butir i
PiQi = Varians skor butir
Berikut hasil perhitungan reliabilitas instrument tes hasil belajar IPA:
k = 23 PiQi 5 , 55 St = 5,13
r KD
k
1
PiQi
23
1
5 , 55
k 1 23 1
2 2
St ( 5 ,13 )
23 5 , 55
1
22 26 , 31
1 , 045 ( 0 , 79 ) 0 , 82
Angka reliabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya
dikonsultasikan dengan r kritis dimana instrumen dikatakan reliabel jika
47
koefisien reliabilitas lebih dari 0,7 Dengan demikian dari hasil perhitungan
dikatakan bahwa data tergolong reliabel karena > 0,7.
F. Teknik Analisa Data
1. Teknis Deskripsi Data
Dalam analisis deskriptif akan dilakukan teknik penyajian data dalam
bentuk tabel disitribusi frekuensi, grafik/diagram batang untuk masing-
masing variabel. Selain itu juga masing-masing variabel akan diolah dan
dianalisis ukuran pemusatan dan letak seperti mean, modus, dan median
serta ukuran simpangan seperti jangkauan, variansi, simpangan baku,
kemencengan dan kurtosis.
Adapun langkah-langkah pembuatan tabel distribusi frekuensi dan
penyajian grafik poligon serta histogram dilakukan dengan langkah-
langkah berikut:
a. Menentukan rentang (R), yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.
b. Menentukan banyak kelas (k) dengan aturan Struges, yaitu
K = 1 + 3,3 log n, n = banyaknya data
Re n tan g
c. Menentukan panjang kelas interval (P), yaitu P
Banyakkela s
d. Menentukan ujung bawah interval kelas pertama, yaitu < data terkecil.
e. Membuat tabel distribusi frekuensi secara lengkap, dengan jalan
menentukan ujung bawah (UB) dan ujung atas (UA) setiap interval
kelas menghitung banyaknya (frekwensi) data untuk masing-masing
kelas interval.
48
f. Menggambar grafik histogram, dengan terlebih dahulu menentukan tepi
bawah (TB) dan tepi atas (TA) untuk masing-masing kelas interval,
yaitu TB = UB – ½ satuan data, dan TA = UA + ½ satuan data.
g. Menggambarkan grafik poligon frekwensi, dengan terlebih dulu
menentukan nilai tengah (Yi) masing-masing kelas interval, yaitu Yi =
½ (UA-UB).
Sedangkan ukuran pusat, letak dan simpangan diantaanya dapat
ditentukan dengan rumus-rumus berikut:
a. Menentukan Mean/rata-rata (Y), dengan rumus:
Y
Y . fi
i
b. Menentukan Modus (Mo), dengan rumus:
b1
Mo b p dimana :
b1 b 2
Mo = Modus
b = batas bawah kelas modus, ialah kelas interval dengan frekuensi
terbanyak
p = panjang kelas
b1 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat
sebelumnya
b2 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat
sesudahnya
c. Menentukan Median (Me), dengan rumus:
49
1
n F
Me = b + p 2 dimana :
f
Me = Median
n = banyaknya data
F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median
f = Frekuensi kelas median
b = batas bawah kelas median
p = panjang kelas median
d. Variansi (SD) dan Simpangan Baku, dengan rumus:
2
Yi . fi
k 2 k
Yi . fi
SD dan Simpangan Baku (S) = SD
i 1 n i 1 n
2. Teknik Pengujian Persyaratan Data
Sebelum melakukan analisis data, maka dilakukan pengujian
persyaratan data, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas
dimaksudkan untuk mengetahui kenormalan kurva distribusi frekuensi,
sedangkan uji homogenitas dimaksudkan untuk memastikan bahwa data
penelitian diperoleh dari sampel-sampel yang homogen dan juga untuk
memperkuat asumsi bahwa semua hal yang mempengaruhi hasil belajar
siswa kecuali hal yang diteliti adalah sama.
a. Teknik Pengujian Normalitas
Untuk Uji Normalitas pada penelitian ini digunakan metode
Liliefors, dengan ketentuan jika nilai Lhitung < Ltabel maka data berasal
dari populasi normal. Nilai Ltabel diperoleh dari uji Liliefors (Sudjana,
50
1996:467). pada penelitian ini digunakan taraf nyata 5% dan jumlah
responden 30 orang, maka nilai Ltabel adalah 0,161. Sedangkan Lhitung
adalah harga terbesar dari │F(zi) – S(zi)│, dimana zi dihitung dengan
xi x
rumus angka normal baku: zi ; xi adalah data ke-i; x adalah
s
rata-rata; dan s adalah simpangan baku. Nilai F(zi) adalah luas daerah di
bawah normal untuk z yang lebih kecil dari zi. Sedangkan nilai S(zi)
adalah banyaknya angka z yang lebih kecil atau sama dengan z i dibagi
oleh banyaknya data (n).
b. Teknik Pengujian Homogenitas
Langkah-langkah :
a. Hitung varians kelompok sampel pertama s .
2
1
b. Hitung varians kelompok sampel kedua s .
2
2
c. Tentukan nilai F h itu n g :
2
s1
F h itu n g 2
, jika s1 s 2
2 2
atau
s2
2
s2
F h itu n g 2
, jika s 2 s1
2 2
.
s1
d. Tentukan Fta b el F , d k ,dk2
F , n 1, n 2 1
dari tabel distribusi F.
1 1
e. Jika F h itu n g F ta b e l , maka kedua kelompok sampel homogen, dan
jika F h itu n g F ta b e l , maka kedua kelompok sampel tidak homogen.
f. Bentuk hipotesis statistik yang akan diuji adalah
: 1 2
2 2
H 0
(Kedua kelompok sampel homogen).
51
H 1 : 1 2
2 2
(Kedua kelompok sampel tidak homogen) .
G. Hipotesa Penelitian dan Teknik Pengujian Hipotesis
Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:
H0 : μ1 = μ2
H0 : μ1 > μ2
Dimana:
μ1: Rata-rata hasil belajar IPA dengan menggunakan metode pembelajaran
problem solving.
μ2: Rata-rata hasil belajar IPA dengan mengunakan metode ceramah
konvensional.
Hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan rumus Fisher (Sudjana,
1996: 242) sebagai berikut:
X x X y
t
S
1
1 dengan dk = ( NA + NB – 2 ) dimana :
nx ny
X x = rata – rata hasil belajar kelompok A yang menggunakan metode
problem solving.
X y = rata – rata hasil belajar kelompok B yang menggunakan metode
ceramah konvensional.
S = Simpangan baku gabungan
dk = derajat kebebasan
NA = banyaknya data kelompok A
NB = banyaknya data kelompok B
52
Nilai t yang diperoleh dari rumus di atas disebut thitung. Kesimpulan atas
pengujian hipotesis digunakan kriteria pengujian dengan derajat kebebasan
(NA + NB – 2 ) dan taraf signifikan sebesar 5% sebagai berikut.
Terima H0 apabila thitung < t ttabel dan
Tolak H0 apabila atau thitung > ttabel
53
BAB IV
ANALISA HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
1. Hasil Belajar Kelompok Kontrol (Siswa dengan Metode Konvensional)
Dari jawaban 30 siswa yang dijadikan sampel kelompok siswa yang
diajar dengan pendekatan konvensional diperoleh nilai terendah 44 dan
tertinggi 76. Untuk menyusun data tersebut dalam tabel distribusi frekuensi,
maka digunakan aturan Sturgess sehingga diperoleh banyaknya kelas,
rentangan kelas dan panjang kelas yaitu:
a. Banyak kelas : k = 1 + 3,3 Log n
k = 1 + 3,3 Log 30
k = 1 + 3,3 (1,47)
k = 1 + 4,87
k = 5,87 6
b. Rentangan Kelas : 76 – 44 = 32
j 32
c. Panjang Kelas : p 5 , 33 6
k 6
Dari data hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan menggunakan
pendekatan konvensional yang telah dikumpulkan didapat harga rata-rata
sebesar 59,06 dan simpangan baku sebesar 7,97. Untuk lebih jelas dapat
dilihat dalam tabel yang disajikan berikut ini:
53
54
Tabel 4.1. Hasil Belajar IPA Siswa dengan Metode Konvensional
No Y Y2 No Y Y2
1 64 4096 16 68 4624
2 48 2304 17 56 3136
3 68 4624 18 56 3136
4 64 4096 19 44 1936
5 60 3600 20 60 3600
6 48 2304 21 60 3600
7 56 3136 22 64 4096
8 52 2704 23 60 3600
9 64 4096 24 60 3600
10 52 2704 25 60 3600
11 56 3136 26 76 5776
12 52 2704 27 60 3600
13 56 3136 28 60 3600
14 72 5184 29 48 2304
15 52 2704 30 76 5776
JUMLAH 1772 106512
Dari data di atas dapat dianalisis rata-rata, varians dan simpangan baku
sebagai berikut:
a. Rata-rata ( Y i )
Y
Yi
i
n
1772
30
59 , 06
b. Varians Sampel
Y
2
n Y1
2
i
SY
2
n ( n 1)
55
30 (106512 ) (1772 )
2
30 ( 30 1 )
3195360 3139984
870
55376
870
63 , 65
c. Simpangan Baku (S Y )
SY 63 , 65
= 7,97
Dari tabel 4.1. maka data yang tersaji dapat dianalisis dengan
menggunakan distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA dengan Metode
Konvensional
Interval Batas Nilai Frekuensi Frekuensi Frekuensi
No Kelas Nyata Tengah Absolut Kumulatif Persentatif
1 44-49 49,5 46,5 4 4 13,33
2 50-55 55,5 52,5 4 8 13,33
3 56-61 61,5 58,5 13 21 43,33
4 62-67 67,5 64,5 4 25 13,33
5 68-73 73,5 70,5 3 28 10,00
6 74-79 79,5 76,5 2 30 6,67
a. Modus
d1
Mo = b p Keterangan:
d1 d 2
Mo = Modus
b = Batas bawah kelas modus, yaitu interval terbanyak
p = Panjang kelas
d1 = Frekuensi kelas modus dikurangi kelas interval sebelumnya.
56
d2 = Frekuensi kelas modus dikuragi kelas interval setelahnya.
Dari tabel di atas didapat b = 55,5; p = 6; d1 = 13-4 = 9; dan d2= 13
- 4 = 9, sehingga:
9
Mo 55 , 5 6
9 9
9
55 , 5 6
18
= 55,5 + 3
= 58,5
b. Median
1
n F
2
Me b p
f
keterangan:
Me = Median
b = Batas bawah kelas median
p = panjang kelas
n = banyak data
F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
dari tabel distribusi di atas didapat: b = 55,5; p = 6; n = 30; F = 12; f =
13, sehingga:
1
30 12
Me 55 , 5 6 2
13
57
15 12
55 , 5 6
13
= 55,5 + 1,38
= 56,88
Frekuensi absolut
14
13
12
11
10
0 interval
43,5 49,5 55,5 61,5 67,5 73,5 79,5
Gambar 4.1. Histogram Hasil Belajar IPA Siswa dengan Metode
Konvensional
58
2. Hasil Belajar IPA dengan Metode Problem Solving
Dari jawaban 30 siswa yang dijadikan sampel kelompok dengan
pendekatan problem solving diperoleh nilai terendah 60 dan tertinggi 84.
Untuk menyusun data tersebut dalam tabel distribusi frekuensi, maka
digunakan aturan Sturgess sehingga diperoleh banyaknya kelas, rentangan
kelas dan panjang kelas yaitu:
a. Banyak kelas : k = 1 + 3,3 Log n
k = 1 + 3,3 Log 30
k = 1 + 3,3 (1,47)
k = 1 + 4,87
k = 5,87 6
b. Rentangan Kelas : 84 – 60 = 24
j 24
c. Panjang Kelas : p
k 6
=4
Dari data hasil belajar IPA siswa dengan metode problem solving
yang telah dikumpulkan didapat harga rata-rata sebesar 70,4 dan simpangan
baku sebesar 7,25. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel yang
disajikan berikut ini:
59
Tabel 4.3. Hasil Belajar IPA dengan Metode Problem Solving
No X X No X X
1 72 5184 16 72 5184
2 64 4096 17 68 4624
3 64 4096 18 60 3600
4 64 4096 19 68 4624
5 84 7056 20 60 3600
6 80 6400 21 72 5184
7 84 7056 22 72 5184
8 84 7056 23 68 4624
9 76 5776 24 80 6400
10 64 4096 25 68 4624
11 68 4624 26 72 5184
12 60 3600 27 76 5776
13 68 4624 28 60 3600
14 64 4096 29 72 5184
15 72 5184 30 76 5776
JUMLAH 2112 150208
Dari data di atas dapat dianalisis rata-rata, varians dan simpangan baku
sebagai berikut:
a. Rata-rata ( X i )
X
X i
i
n
2112
30
70 , 4
b. Varians Sampel ( S X2 )
2
n X
2
1
X i
2
S X
n ( n 1)
60
30 (150208 ) ( 2112 )
2
30 ( 30 1 )
4506240 4460544
870
45696
870
52 , 52
c. Simpangan Baku (S X
)
S X
52 , 52
= 7,25
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA dengan Metode
Problem Solving
Interval Batas Nilai Frekuensi Frekuensi Frekuensi
No Kelas Nyata Tengah Absolut Kumulatif Persentatif
1 60-63 63,5 61,5 4 4 13,33
2 64-67 67,5 65,5 5 9 16,67
3 68-71 71,5 69,5 6 15 20,00
4 72-75 75,5 73,5 7 22 23,33
5 76-79 79,5 77,5 3 25 10,00
6 80-84 84,5 81,5 5 30 16,67
d. Modus
d1
Mo = b p
d1 d 2
Keterangan:
Mo = Modus
b = Batas bawah kelas modus, yaitu interval terbanyak
p = Panjang kelas
d1 = Frekuensi kelas modus dikurangi kelas interval sebelumnya.
d2 = Frekuensi kelas modus dikuragi kelas interval setelahnya.
61
Dari tabel di atas didapat b = 71,5; p = 4; d1 = 7-6 = 1; dan d2= 7 - 3
= 4, sehingga:
1
Mo 71 , 5 4
1 4
1
71 , 5 4
5
= 71,5 + 0,8
= 72,3
e. Median
1
n F
2
Me b p
f
keterangan:
Me = Median
b = Batas bawah kelas median
p = panjang kelas
n = banyak data
F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
dari tabel distribusi di atas didapat: b = 65,5; p = 4; n = 30; F = 9; f = 6,
sehingga:
1
30 9
2
Me 65 , 5 4
6
62
15 9
65 , 5 4
6
= 65,5 + 4
= 69,5
Frekuensi absolut
14
13
12
11
10
0 interval
59,5 63,5 67,5 71,5 75,5 79,5 84,5
Gambar 4.1. Histogram Hasil Belajar IPA dengan Metode Problem
Solving
63
B. Pengujian Persyaratan Analisis Data
1. Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan terhadap data nilai siswa siswa dengan
metode problem solving dan siswa dengan metode konvensional dilakukan
dengan menggunakan uji Lieliefors. Hal ini untuk mengetahui apakah
kelompok sample berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak
sehingga kelompok sample cukup representatif bagi penelitian. Ada pun
pengujian normalitas untuk kelompok sampel adalah sebagai berikut.
a. Uji Liliefors Kelompok Kontrol (Siswa Dengan Metode
Konvensional)
1) Hipotesis
Ho : Populasi berdistribusi normal
H1 : Populasi berdistribusi tidak normal
2) Analisis Data
Berdasarkan nilai hasil tes mengenai siswa siswa dengan metode
konvensional disusun tabel analisis uji Lieliefors untuk menentukan Lo
yang memuat Zi, F(Zi) dan S(Zi) sebagaimana tampak pada tabel
dengan rumus masing-masing sebagai berikut:
Yi Y i
Zi = ; dengan = Y = 59,06 dan SY = 7,97
SY
F(Zi) = Ztabel untuk Zi negative, Ztabel untuk Zi positif
Banyaknya Z 1 , Z 2 , Z 3 , ...Z n
yang Z i
S(Zi) =
n
64
Tabel 4.5. Analisis Uji Liliefors Kelompok Kontrol (Siswa
Dengan Metode Konvensional)
Nilai IF(Zi)-
No Xi f fkum< Zi Tabel F(Zi) S(Zi) S(Zi)I
1 44 1 1 -1,88959 0,4699 0,0301 0,033 0,003
2 48 3 4 -1,3877 0,4162 0,0838 0,133 0,050
3 52 4 8 -0,88582 0,3106 0,1894 0,267 0,077
4 56 5 13 -0,38394 0,148 0,352 0,433 0,081
5 60 8 21 0,117942 0,0438 0,5438 0,700 0,156
6 64 4 25 0,619824 0,2291 0,7291 0,833 0,104
7 68 2 26 1,121706 0,3686 0,8686 0,867 0,002
8 72 1 27 1,623588 0,4474 0,9474 0,900 0,0474
9 76 2 30 2,125471 0,438 0,938 1,000 0,062
3) Menentukan Lo
Dari tabel analisis di atas diperoleh:
L0 F (Z i ) S (Z i ) maksimum = 0,156
4) Menentukan Ltabel
Dari tabel nilai kritis L pada uji Lieliefors untuk n = 30 dan
=0,05 diperoleh: L tabel L 0 , 05 ( 30 ) 0 ,161
5) Kriteria Pengujian
Tolak Ho jika Lo < L tabel
6) Kesimpulan
Karena nilai Lo = 0,156 dan L tabel L 0 , 05 ( 30 ) 0 ,161 yang
menunjukkan bahwa Lo < L tabel maka Ho diterima pada =0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel kelompok
kontrol (siswa siswa dengan metode konvensional) berasal dari
populasi berdistribusi normal.
65
b. Uji Normalitas Nilai Hasil Tes Belajar Kelompok Eksperimen (Siswa
Dengan Metode Problem Solving )
1) Hipotesis
Ho : Populasi berdistribusi normal
H1 : Populasi berdistribusi tidak normal
2) Analisis Data
Berdasarkan nilai hasil belajar IPA disusun tabel analisis uji
Lieliefors untuk menentukan Lo yang memuat Zi, F(Zi) dan S(Zi)
sebagaimana tampak pada tabel dengan rumus masing-masing
sebagai berikut:
X i
X i
Zi = ;
S X
dengan = X = 70,4 dan S X
= 7,24
F(Zi) = Ztabel untuk Zi negative
Ztabel untuk Zi positif
Banyaknya Z 1 , Z 2 , Z 3 , ...Z n
yang Z i
S(Zi) =
n
3) Menentukan Lo
Dari tabel analisis di atas diperoleh:
L0 F (Z i ) S (Z i ) maksimum = 0,146
4) Menentukan Ltabel
Dari tabel nilai kritis L pada uji Lieliefors untuk n = 30 dan =0,05
diperoleh:
66
L tabel L 0 , 05 ( 30 ) 0 ,161
5) Kriteria Pengujian
Tolak Ho jika Lo > L tabel
6) Kesimpulan
Karena nilai Lo = 0,146 dan L tabel L 0 , 05 ( 30 ) 0 ,161 yang menunjuk-
kan bahwa Lo < L tabel maka Ho diterima pada = 0,05. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa sampel dari kelompok
eksperimen (siswa dengan metode problem solving ) berasal dari
populasi berdistribusi normal.
Tabel 4.6. Analisis Uji Liliefors Hasil Belajar Kelompok Eks-
Perimen (Siswa Dengan Metode Problem Solving )
Nilai IF(Zi)-
No Xi f fkum< Zi Tabel F(Zi) S(Zi) S(Zi)I
1 60 4 4 -1,43646 0,4236 0,0764 0,133 0,057
2 64 5 9 -0,88398 0,3106 0,1894 0,300 0,111
3 68 6 15 -0,33149 0,1293 0,3707 0,500 0,129
4 72 7 22 0,220994 0,0871 0,5871 0,733 0,146
5 76 3 25 0,773481 0,2794 0,7794 0,833 0,054
6 80 2 27 1,325967 0,4066 0,9066 0,900 0,007
7 84 3 30 1,878453 0,4693 0,9693 1,000 0,031
2. Uji Homogenitas
Untuk menguji kesamaan varians (uji homogenitas) dilakukan
terhadap data kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk
mengetahui homogenitas varians kelompok sampel. Dalam penelitian
pengujian dilakukan dengan menggunakan uji F. Langkah-langkah :
a. Bentuk hipotesis statistik yang akan diuji adalah
67
: 1 2
2 2
H 0
(Kedua kelompok sampel homogen).
H 1 : 1 2
2 2
(Kedua kelompok sampel tidak homogen) .
b. Hitung varians kelompok sampel pertama s = 63,53
2
1
c. Hitung varians kelompok sampel kedua s = 52,42
2
2
d. Tentukan nilai F h itu n g :
d. Tentukan Fta b el F , d k ,dk2
F , n 1, n 2 1
=1,85
1 1
Berdasarkan hasil perhitungan, F h itu n g F ta b e l (1,21<1,85), maka kedua
kelompok sampel homogen.
D. Pengujian Hipotesis Penelitian
Pengujian hipotesis penelitian menggunakan uji-t dimana thitung > ttabel,,
Hasil analisis data t = 22,24 sedangkan (0,05)(28) = 1,70. Dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar IPA siswa dengan metode problem solving berpengaruh
positif dibandingkan dengan hasil belajar siswa siswa dengan pendekatan
konvensional.
Hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan rumus Fisher (Sudjana,
1996: 242) sebagai berikut:
X x X y
t
1 1
S
nx ny
Pengujian Hipotesis Penelitian
68
1. Hipotesis
H0 : μx = μy
H1 : μx μy
Keterangan :
μx : Rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μy : Rata-rata hasil belajar kelompok kontrol
2. Menentuan harga thitung
Pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus :
X x X y
t
1 1
S
nx ny
( n x 1) S x ( n y 1) S y
2 2
( 30 1 ) 52 , 42 ( 30 1 ) 63 , 53
S2=
nx ny 2 30 30 2
1520 ,11 1842 ,11
S2 =
58
= 57,97
S = 7,61
Maka :
70 , 4 59 , 06
t
1 1
7 , 61
30 30
11 , 34
7 , 61 ( 0 , 067 )
22 , 24
Untuk α = 0,05 dan dk = 28 didapat dari tabel harga ttabel = 1,70 sedangkan
thitung = 22,24. Jadi thitung > ttabel, Hal ini berarti tolak H0, terima H1, Sehingga
69
dapat ditarik kesimpulan, hasil belajar IPA siswa dengan metode problem
solving berpengaruh positif dibandingkan dengan siswa siswa dengan
pendekatan konvensional.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Di antara banyak metode, metode pembelajaran yang memungkinkan
untuk memberikan peserta didik memperoleh pengetahuan dasar, belajar
secara aktif, mandiri dan peserta didik yang mampu berpikir kritis dan
mengembangkan inisiatif adalah metode pembelajaran problem solving atau
metode pemecahan masalah. Metode problem solving adalah cara penyajian
bahan pelajaran dengan menjadikan maslaah sebagai titik tolak pembahasan
untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecaha atau
jawabannya oleh siswa (Sadirman dkk, 1991:146).
Metode problem solving merupakan metode pembelajaran yang lebih
memfokuskan kegiatan yang berpusat pada siswa. Langkah-langkah yang
digunakan dalam pembelajaran ini adalah menempatkan siswa sebagai subjek
bukan sebagai objek belajar. Siswa secara aktif dilibatkan untuk mengajukan
atau merumuskan permasalahan. Sementara guru lebih bertindak sebagai
fasilitator yang membantu siswa jika ada kesulitan. Sehingga hasil yang
diperoleh lebih berbekas dalam pikiran siswa, selanjutnya dapat diperoleh
hasil belajar yang tinggi.
Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan penerapan metode problem solving dalam pembelajaran terhadap
hasil belajar IPA di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta. Kondisi rata-rata
70
hasil belajar IPA yang diajar dengan menggunakan metode konvensional
menunjukkan angka yang kurang baik yakni 59,06. Nilai rata-rata tersebut
tentunya masih jauh di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang
ditetapkan di sekolah untuk mata pelajaran IPA sebesar 70,00. Sementara itu,
nilai rata-rata hasil belajar IPA yang diajar dengan menggunakan metode
problem solving menunjukkan hasil sebaliknya. Nilai rata-rata peserta didik
sebesar 70,4 sudah berada di atas KKM meskipun tidak signifikan.
Setidaknya, dengan metode pembelajaran problem solving terjadi peningkatan
hasil belajar yang lebih baik.
Selanjutnya, jika ditinjau dari pengujian hipotesis penelitian
membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pengajaran dengan
menggunakan metode problem solving terhadap hasil belajar IPA peserta
didik. Dari hasil uji-t diperoleh angka sebesar 22,24 yang jauh lebih besar dari
nilai ttabel sebesar 1,70 yang membuktikan bahwa pengaruhnya cukup
signifikan. Selisih antara hasil belajar antara yang diajar dengan metode
konvensional dan problem solving cukup lebar yakni sebesar 11,34 poin.
Hasil ini membuktikan bahwa metode problem solving cocok
digunakan pada peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.
Pembelajaran problem solving dikelompokan dalam 4 jenis model
pembelajaran yang wajib dikuasai guru. Pengertian model pembelajaran
problem solving disini diartikan sebagai pembelajaran yang menggunakan
masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka
(open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan
keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan
71
sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh
pengetahuan baru. Pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran
konvensional yang jarang menggunakan masalah nyata atau menggunakan
masalah nyata hanya di tahap akhir pembelajaran sebagai penerapan dari
pengetahuan yang telah dipelajari. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan
atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar.
72
BAB V
PENUTUP
Interpretasi dapat dibahas berdasarkan hasil pengujian dan hipotesis. Hasil
pembahasan dapat dijadikan bahan referensi. Dasar perumusan kesimpulan,
implikasi serta saran-saran bagi penelitian lain atau penelitian lanjutan.
Interpretasi dari pembahsan tersebut adalah:
A. Simpulan
Penelitian ini mecoba menguji pengaruh metode pembelajaran problem
solving terhadap hasil belajar IPA peserta didik pada siswa kelas VIII SMP Al
Irsyad Al Islamiyyah Jakarta. Berdasarkan penafsiran dan pengujian hipotesis
maka hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Kondisi rata-rata hasil belajar IPA peserta didik yang diajar dengan
metode konvensional kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta
tergolong kurang baik. Hal ini dibuktikan oleh nilai rata-rata= 59,06;
simpangan baku sebesar 7,97; median dan modus masing-masing sebesar
56,88 dan 58,5.
2. Kondisi rata-rata hasil belajar IPA peserta didik yang diajar dengan
metode problem solving kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta
tergolong baik. Hal ini dibuktikan oleh nilai rata-rata= 70,40; simpangan
baku sebesar 7,25; median dan modus masing-masing sebesar 69,5 dan
72,3.
72
73
3. Terdapat pengaruh yang signifikan metode problem solving terhadap hasil
belajar IPA pada siswa kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.
Hal ini dibuktikan dengan oleh t hitung 22 , 24 . lebih besar dari ttabel = 1,7.
B. Implikasi
Hasil penelitian ini dapat memberikan implikasi terhadap proses belajar
mengajar, yaitu metode pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat
penting dalam proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Oleh
karena itu jenis metode yang tepat dalam pembelajaran akan membangkitkan
semangat peserta didik dalam belajar dan pada akhirnya menghasilkan
pembelajaran yang bermakna serta hasil belajar yang baik. Salah satu metode
pembelajaran yang patut untuk dipertimbangkan penggunaannya adalah
metode problem solving, dimana dari hasil penelitian yang telah dilakukan
telah berhasil menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan dibandingkan
dengan metode konvensional.
C. Saran
Diamati dari hasil penelitian maka saran yang bisa penulis ajukan yaitu,
setiap tenaga guru mampu melakukan berbagai pendekatan yang efektif dan
efisien dalam proses pembelajaran di kelas. Seperti telah dijelaskan di atas
bahwa pendekatan dalam belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting
dalam kesuksesan belajar peserta didik. Metode problem solving atau metode
yang lain yang bervariatif akan menjadikan peserta didik tidak merasa jenuh
dalam belajar.
74
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2007. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pebelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyati&Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
D. Sudjana. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production.
Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Ibnu Hadjar. 1995. Metodologi Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: Grafindo.
Jasin, Maskoeri. 2006. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kanginan, Marthen. 2004. Fisika SMP. Jakarta: Erlangga.
Novianti, Ike. 2006. Buku Panduan Primagama. Jogjakarta: Primagama.
Purwanto, Ngalim. 2003. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Sadirman, N. Dkk. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta
Sadirman, N, dkk. 1991. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sagala, Syaiful. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.
Bandung: Alfabeta.
Santoso, Soegeng. 2000. Permasalahan Pendidikan dan Cara Pemecahannya.
Safari. 2004. Penulisan Butir Soal Berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi.
Depdiknas, Jakarta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar Cet. 14.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
Winkel, WS. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.
74
75
Syah, Darwyan dkk. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Diadit Media.
................ Pengertian Sains untuk Sekolah Menengah Pertama.
([Link]
................. Ilmu Pengetahuan Alam. [Link]
Kamala. Izzatin. Pengertian Pendidikan IPA dan Perkembangannya. [Link]
[Link]. 17 Juli 2008.