0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan75 halaman

Contoh Post-Test Only Group Design

Dokumen ini membahas pentingnya pengukuran hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPA di SMP, dengan fokus pada pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi rata-rata hasil belajar IPA siswa yang menggunakan metode konvensional dibandingkan dengan metode problem solving. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan hasil belajar IPA.

Diunggah oleh

Krisyanti Sianturi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan75 halaman

Contoh Post-Test Only Group Design

Dokumen ini membahas pentingnya pengukuran hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPA di SMP, dengan fokus pada pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi rata-rata hasil belajar IPA siswa yang menggunakan metode konvensional dibandingkan dengan metode problem solving. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi siswa, guru, dan sekolah dalam meningkatkan hasil belajar IPA.

Diunggah oleh

Krisyanti Sianturi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan peserta didik dalam belajar diukur dalam tiga hal yakni

kompetensi kognitif, kompetensi afektif, dan kompetensi psikomotoriknya.

Dengan kata lain, hasil belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari

pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan

psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan

menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Dengan ini pula

berarti bahwa, kondisi ketiga faktor tersebut akan berubah menjadi lebih baik

setelah proses pembelajaran selesai. Jika tidak terdapat perubahan dalam

belajar tersebut maka dapat dikatakan bahwa peserta didik tidak belajar.

Kondisi ini tentunya sama dalam mata pelajaran IPA pada peserta

didik Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pembelajaran IPA dimaksudkan

untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik sehingga

mampu menguasai konsep, sikap, dan keterampilan dalam IPA. IPA menjadi

penting untuk dipelajari karena sebagai salah satu dasar dari perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat terjadi saat ini. Penguasaan

IPA yang baik dari peserta didik akan menjadikan bekal baginya untuk bisa

mengembangkan ilmunya.

Salah satu hal yang mudah untuk mengukur kemampuan IPA peserta

didik adalah dengan melihat hasil belajar secara kognitifnya. Pengetahuan

yang baik dari peserta didik akan tercermin dari hasil belajarnya yang baik.

1
2

Namun demikian, kondisi yang terjadi pada peserta didik SMP Al Irsyad Al

Islamiyyah Jakarta belum menunjukkan pengetahuan dan kemampuan yang

baik dalam belajar IPA. Hal ini didasarkan atas perolehan hasil belajar peserta

didik yang sebagian kecil masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal

(KKM) yang dibuat guru. Sebagai contoh, di kelas VIII B dan VIII C dari

hasil Ujian Akhir Semester, 35% peseta didik masih memiliki nilai di bawah

KKM.

Untuk menjawab persoalan tersebut, karena hal ini berkaitan dengan

proses belajar maka tidak akan terlepas dari input siswa, transformasi yang

berkesudahan dengan outputnya. Selain itu tentunya kondisi rendahnya hasil

belajar IPA berkaitan juga dengan faktor internal dan eksternal siswa. Faktor

internal merupakan faktor yang datang dari dalam diri siswa, sedangkan faktor

eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa.

Jika melihat kondisi di kelas dan refleksi guru terhadap proses

pembelajaran, peserta didik cenderung tidak tertarik dalam belajar. Sebagian

kecil siswa terlihat mendengarkan guru tapi tidak fokus terhadap materi

pembelajaran. Semacam ada keterpaksaan dalam belajar. Kondisi inilah

kemudian yang memungkinkan hasil belajar IPA tidak sesuai dengan apa

yang diharapkan. Berdasarkan hal ersebut, untuk mencapai tujuan dan hasil

belajar yang baik tersebut tentunya terdapat langkah-langkah yang harus

diambil guru melalui strategi pengajaran.

Strategi pengajaran merupakan suatu garis-garis besar haluan untuk

bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dengan kata

lain, strategi pengajaran merupakan pola-pola umum kegiatan guru-siswa


3

dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi sebagai tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian maka strategi

merupakan rentetan atau alur yang dibuat guru sebagai upaya dalam

melakukan pembelajaran kepada siswa untuk mencapai kompetensi yang

diharapkan.

Dalam menerapkan strategi pengajaran ini, guru merupakan kunci

utama dalam keberhasilan siswa dalam belajar. Dengan melihat posisi guru

tersebut maka permasalahan yang kemudian muncul adalah guru akan selalu

dikambinghitamkan jika tuntutan berupa hasil belajar yang diperoleh tidak

sesuai dengan yang diharapkan. Guru merupakan orang pertama yang paling

bersalah jika hal demikian terjadi. Dengan kondisi tersebut, hal ini tentunya

merupakan tantangan sekaligus tanggungjawab yang cukup berat bagi

pekerjaan guru. Tentunya, dengan kesadaran yang penuh, hal ini harus

disikapi dengan meningkatkan kompetensi guru untuk menjawab tantangan ke

depan.

Dengan demikian dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Alam, guru harus

melakukan metode yang tepat dalam mengajar. Tidak monoton dengan

menggunakan satu metode saja yang berakibat pada kejenuhan dan

berkurangnya motivasi siswa dalam belajar. Apalagi jika melihat kondisi yang

sudah terlanjur tertanam dalam masyarakat bahwa Ilmu Pengetahuan Alam

adalah pelajaran yang susah dan ruwet. Hendaknya metode dalam mengajar

yang digunakan dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam mengarah kepada

pemberian pengalaman belajar. Karena dengan demikian peserta didik tidak

hanya disuguhi konsep-konsep yang abstrak akan tetapi konsep yang abstrak
4

itu pada dasarnya ada dengan pengalaman yang telah mereka lakukan selama

proses belajar mengajar. Dengan demikian peserta didik akan tahu dan merasa

perlu tahu akan apa yang dipelajarinya.

Untuk mengubah kondisi tersebut maka pemilihan metode

pembelajaran perlu diperhatikan dengan baik oleh seorang guru. Salah satu

metode belajar tersebut adalah metode problem solving. Metode problem

solving adalah metode pemecahan masalah adalah penyajian bahan ajar oleh

guru dengan merangsang peserta didik berpikir secara sistematis dengan

menghadapkan peserta didik kepada beberapa masalah yang harus dipecahkan.

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar

metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam

problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai

dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

Dengan metode pemecahan masalah, peserta didik akan menerapkan

pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang

diperlukan. Dengan metode ini pula, peserta didik dapat mengintegrasikan

pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam

konteks yang relevan. Metode pemecahan masalah juga dapat meningkatkan

kemampuan berpikir kritik, menumbuhkan inisatif peserta didik dalam

bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan

interpersonal dalam bekerja kelompok.

Berdasarkan pengertian di atas jelas kiranya bahwa metode problem

solving merupakan metode dimana guru mengajak siswa untuk berpikir secara

kritis guna memecahkan suatu masalah yang ada. Metode ini tentunya akan
5

dapat merangsang siswa untuk berpikir secara kritis sehingga siswa dapat

memecahkan masalahnya sendiri yang kemudian guru akan meluruskan

konsep yang sesungguhnya. Dengan demikian maka ada integrasi antara guru

dan siswa untuk memahami sesuatu. Oleh karena itu, maka harus diuji

seberapa besar kemampuan metode belajar dapat mempengaruhi hasil belajar,

dalam hal ini metode problem solving dengan kelebihan-kelebihannya. Setelah

diuji maka akan terlihat secara lebih jelas, apakah metode ini cocok digunakan

atau tidak. Pada akhirnya, dengan melihat semua faktor yang ada dengan

kelebihan dan kekurangan dari pendekatan problem solving, maka tugas akhir

ini diberi judul ”Pengaruh Metode Problem Solving terhadap Hasil Belajar

Ilmu Pengetahuan Alam”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, timbul

pertanyaan-pertanyaan yag teridentifikasi antara lain:

1. Apakah tujuan hakiki dari proses pembelajaran yang dilakukan guru dan

peserta didik di sekolah?

2. Apakah urgensi peserta didik diberikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan

Alam di sekolah?

3. Bagaimanakah kondisi rata-rata hasil belajar IPA selama ini di sekolah?

4. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPA peserta didik?

5. Apakah peran penting dari sebuah metode pembelajaran terhadap

keberhasilan belajar peserta didik?


6

6. Apakah yang harus dilakukan guru agar bahan pelajaran dapat

tersampaikan dengan tuntas kepada siswa dengan hasil yang baik?

7. Metode apakah yang cocok digunakan dalam proses pembelajaran Ilmu

Pengetahuan Alam siswa?

8. Bagaimanakah rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik

yang diberikan metode pengajaran konvensional di kelas VIII SMP Al

Irsyad Al Islamiyyah Jakarta?

9. Bagaimanakah rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik

kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang diberikan metode

pengajaran problem solving?

10. Adakah pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu

Pengetahuan Alam peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah

Jakarta?

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah maka dari beberapa identifikasi

masalah di atas, dipilih salah satu masalah yaitu untuk melihat adakah

pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan

Alam. Adapun yang menjadi responden/sampel dalam penelitian ini adalah

siswa kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta. Data hasil belajar

diambil dari tes ulangan harian setelah siswa diberikan metode pmbelajaran pada

tahun ajaran 2016/2017. Materi pokok bahasan dalam pemberian perlakuan

adalah materi pokok bahasan getaran dan gelombang.


7

D. Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas,

maka diajukan rumusan masalah yang akan dicari jawabannya sebagai berikut.

1. Bagaimanakah kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam

peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang

diberikan metode pengajaran konvensional?

2. Bagaimanakah kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam

peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang

diberikan metode pengajaran problem solving?

3. Adakah pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu

Pengetahuan Alam peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah

Jakarta?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini diarahkan pada terjadinya suatu deskripsi

dari hasil penelitian mengenai pengaruh problem solving terhadap hasil belajar

Ilmu Pengetahuan Alam dan disesuaikan dengan rumusan masalah di atas

yaitu:

1. Untuk mengetahui kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam

peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang

diberikan metode pengajaran konvensional.

2. Untuk mengetahui kondisi rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam

peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta yang

diberikan metode pengajaran problem solving.


8

3. Untuk mengetahui pengaruh pendekatan problem solving terhadap hasil

belajar Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik iswa kelas VIII SMP Al

Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi:

1. Siswa, yaitu dengan metode problem solving siswa dapat memaknai

pengajaran sains, meningkatkan hasil belajar dan lebih menyukai pelajaran

Ilmu Pengetahuan Alam sekaligus.

2. Guru, yaitu memberikan informasi bagi guru tentang hubungan metode

problem solving dengan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang

kemudian dapat ditentukan langkah-langkah lebih lanjut agar sedapat mungkin

untuk mengaplikasikan pendekatan problem solving dalam pembelajaran.

3. Sekolah, yaitu sebagai bahan pertimbangan untuk diterapkannya metode

problem solving untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam

siswa.
9

BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Landasan Teori

1. Hakikat Hasil Belajar IPA

a. Pengertian Belajar

Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memanusiakan

manusia. Dalam prosesnya, belajar merupakan sarana untuk menggapai

pendidikan yang dimaksud. Oleh karenaya,belajar merupakan usaha yang

dilakukan secara sadar untuk mengubah tingkah laku bagi si pembelajar.

Singkatnya, belajar merupakan usaha yang dilakukan agar manusia

bertambah pengetahuan, keterampilan, dan bertambah baik perilakunya.

Dalam kondisi ini, seseorang dikatakan belajar jika tingkah laku sebagai

akibat dari belajar bersifat menetap dalam tingkah lakunya.

Slameto (2003: 2) mengatakan bahwa: ”Belajar ialah suatu

proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu

perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Berdasarkan

pendapat di atas terlihat bahwa sesungguhnya manusia mempunyai

perilaku awal sebelum belajar, dan manusia belajar untuk mengubah

perilaku awal tersebut dengan yang baru, yang lebih baik dari segi

pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya.

Perubahan tingkah laku tersebut tentunya tidak hanya diperoleh

dari pengalamannya sendiri tetapi juga dari interaksi dengan

9
10

lingkungannya. Perubahan tingkah laku yang baru ini diperoleh dari hasil

pengalaman seseorang saat berinteraksi dengan lingkungannya.

Tentunya, pengalaman belajar tidak hanya diperoleh di instutusi

pendidikan (pendidikan formal), akan tetapi juga dalam lingkungan

keluarga (pendidikan informal) dan juga masyarakat (pendidikan non

formal). Oleh karena itu, ketiga lingkungan ini akan sangat

mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan yang baik

dan kondusif serta mendukung terjadinya proses belajar mengajar, maka

dengan sendirinya akan menghasilkan hasil belajar yang baik, demikian

sebaliknya.

Sementara itu, menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono

(2002:10) mengatakan bahwa:

”Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Setelah belajar


orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari stimulus yang berasal
dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh
pembelajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses
kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati
pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru”.

Belajar dipahami merupakan kegiatan yang kompleks dimana

aspek-aspek yang menjadi tujuannya berupa perubahan tingkah laku.

Tingkah laku merupakan serangkaian sikap dan perbuatan dari seseorang.

Menjadi kompleks karena indikator-indikator keberhasilan dalam belajar

sangat banyak dan beragam. Demikian pula dengan alat ukurnya,

sehingga kondisi inilah yang menjadikan belajar bisa dipandang dari

berbagai segi. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar jika sikap

dan perbuatannya mengalami perubahan. Seperti yang telah dikemukakan


11

Gagne di atas bahwa perubahan tingkah laku tersebut adalah berupa

perubahan keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Artinya, orang

yang belajar adalah orang yang telah berhasil mengubah tingkah lakunya

yaitu dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu dan orang

yang berhasil mengubah sikap dan nilainya untuk dapat bergaul dalam

masyarakat.

Seperti telah dibahas sebelumnya, belajar mempunyai pengertian

yang luas dan kompleks. Belajar pada hakikatnya adalah kegiatan yang

menghasilkan perubahan tingkah laku dan biasanya dilakukan secara

sadar oleh seseorang. Perubahan tingkah laku ini disebabkan karena

manusia berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan lingkungannya.

Apabila karena interaksi ini seseorang mengalami perubahan tingkah

laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya maupun sikapnya,

maka dikatakan ia telah mengalami suatu proses belajar. Jadi pada

dasarnya, orang yang telah belajar tidak sama keadaanya dengan sebelum

ia melakukan perbuatan belajar itu.

Sementara itu, konteks belajar di sekolah yang menjadi

subyeknya adalah siswa. Siswa merupakan obyek yang akan dibantu

perubahan tingkah lakunya agar menjadi manusia dengan keterampilan

yang baik, mempunyai pengetahuan yang luas, dan memiliki sikap dan

nilai yang luhur. Siswa adalah subyek yang terlibat dalam kegiatan

belajar mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami

tindak mengajar dan merespons dengan tindak belajar. Pada umumnya

siswa belum menyadari pentingnya belajar. Berkat informasi guru


12

tentang sasaran belajar, maka siswa mengetahui apa arti bahan belajar

baginya.

Sama halnya dengan pendapat di atas, definisi mengenai belajar

menurut Syaiful Sagala (2009:166) yang mengutip pendapat Suharsimi

Arikunto mengatakan bahwa:

”Belajar diartikan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya


usaha untuk melakukan perubahan terhadap diri manusia, dengan
maksud memperoleh perubahan dalam dirinya baik berupa
pengetahuan, keterampilan, ataupun sikap”.

Pandangan tersebut menggarisbawahi selajar merupakan sebuah

proses usaha. Usaha yang dilakukan tersebut adalah berupa usaha untuk

mengubah tingkah laku berupa pengetahuan, keterampilan ataupun sikap.

Dengan demikian, belajar akan terjadi jika manusia mau berusaha untuk

mengubah tingkah lakunya. Dan belajar tidak akan terjadi jika manusia

tidak melakukan usaha untuk perubahan tingkah laku tersebut. Adapun

usaha yang dilakukan adalah dengan maksud memperoleh perubahan

dalam dirinya berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan kata

lain, seseorang yang telah belajar adalah seseorang yang telah berhasil

mengubah pengetahuan, sikap dan juga keterampilannya. Jika hal ini

tidak terjadi maka seseorang tersebut dikatakan tidak belajar.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang agar terjadi

perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut

diperoleh melalui pengalaman, latihan yang relatif menetap. Jadi apa

yang dipelajari seseorang merupakan peningkatan pemahaman atau


13

pengetahuan yang secara teknis dilakukan oleh otak baik melalui

kegiatan berfikir atau pun secara spontan tetapi hal itu masih terdapat

dalam batasan kesadaran dalam arti tidak dalam kondisi sakit atau dalam

pengaruh suatu obat tertentu serta bukan dalam kondisi kehilangan

kesadaran yang menyangkut penyakit kejiwaan seseorang.

b. Hasil Belajar

Hasil merupakan buah yang diperoleh dari suatu aktivitas. Hasil

secara harfiah juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang hendak

dicapai. Hasil merupakan buah apa yang telah dilakukan atau diperbuat.

Hasil merupakan perolehan dari suatu proses. Jika dikaitkan dengan

belajar, hasil belajar merupakan segala sesuatu yang diperoleh dari proses

belajar. Karena belajar merupakan suatu usaha untuk mengubah tingkah

laku, maka hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku

tersebut.

Nana Sudjana (2009:22) mengatakan bahwa, ”.....hasil belajar

adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima

pengalaman belajarnya”. Dari pendapat tersebut jelas kiranya bahwa hasil

belajar merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki siswa setelah

mengalami proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan seperangkat

kompetensi yang telah dikuasai oleh siswa setelah diberi pelajaran.

Sementara itu, Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa, “hasil

belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang.

Maka hasil belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh

seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar”. Dengan melihat


14

definisi belajar sebagai usaha untuk merubah tingkah laku, maka dengan

melihat pendapat dari Winkel mengenai definisi hasil belajar, hasil

belajar merupakan bukti keberhasilan siswa setelah melaksanakan usaha

belajar yang dilakoninya.

Dalam kaitannya dengan hasil belajar yang mencakup tiga aspek

perubahan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap, Nana Sudjana

(2009:22-23) menyebutkan bahwa:

”Klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom secara garis besar


dibagi menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif
berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan
internalisasi. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah
psikomotorik yakni, gerakan reflkes, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketpatan, gerakan
keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif”.

Dari kutipan di atas, terlihat bagaimana kompleksnya belajar dan

hasil belajar sebagai usaha untuk mengubah tingkah laku manusia.

Ranah-ranah tersebut merupakan kajian yang luas, yang tidak mudah

untuk dilakukan. Ketiganya merupakan obyek penilaian hasil belajar.

Hasil belajar dalam kecakapan kognitif mempunyai hirarki/ bertingkat-

tingkat yaitu: informasi non verbal, informasi fakta dan pengetahuan

verbal, konsep dan prinsip, pemecahan masalah dan kreativitas. Informasi

non verbal/dipelajari dengan cara penginderaan terhadap obyek-obyek

dan peristiwa-peristiwa secara langsung. Informasi fakta dan

pengetahuan verbal dipelajari dengan cara mendengarkan orang lain dan


15

melalui cara membaca. Semua itu penting untuk memperoleh konsep-

konsep. Selanjutnya, konsep-konsep itu penting di dalam pemecahan

masalah kreativitas.

Bidang afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek

yakni: penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan

internalisasi. Sedangkan bidang psikomotorik berkenaan dengan hasil

belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek yakni,

gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual,

keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan

gerakan ekspresif dan interpretatif.

Senada apa yang diungkapkan Nana, Winkel (1996:51)

mengatakan bahwa:

”.......penggolongan ini sepadan dengan penggolongan atas tiga


bidang belajar kognitif, belajar sensorik motorik, dan belajar
dinamik-afektif, sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. Semua
perubahan di bidang-bidang itu merupakan suatu hasil belajar dan
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah
lakunya”.

Hasil belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran

terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan

psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan

menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi hasil

belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang

dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang

menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode

tertentu. Hasil belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta


16

didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah

mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan

instrumen tes yang relevan.

Dengan demikian jika yang dimaksud adalah hasil belajar IPA

maka hasil belajar IPA adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki

siswa setelah ia menerima pengalaman dan juga kemampuan

berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol. Hasil

belajar Ilmu Pengetahuan Alam akan tampak terlihat dari kemampuan

berifikir Ilmu Pengetahuan Alam dalam diri siswa yang bermuara pada

kemampuan menggunakan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai bahasa dan alat

dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.

Untuk mengetahui hasil belajar, selain latihan, ulangan harian,

ujian tengah semester juga diadakah ujian akhir pada tiap semester. Ujian

akhir semseter adalah ujian yang diadakan tiap akhir semester. Dari sini

akan terlihat bagaimana hasil belajar dan perkembangan siswa selama

enam bulan. Ujian akhir semester menyangkut materi pelajaran yang

telah diajarkan selama enam bulan sehingga pendalaman materi yang

diadakan juga berguna untuk mereview pelajaran-pelajaran yang telah

lalu.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki siswa setelah

menerima pengalaman belajar berupa kemampuan dari segi kognitif,

afektif dan psikomotoriknya. Perubahan sebagai hasil dari belajar adalah

perubahan menuju arah yang positif, bukan sebaliknya.


17

c. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tauhu (kuriositas) manusia.

Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang dan rasa ingin tahu

manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Demikian pula rasa ingin tahu

manusia terhadap alam. Manusia mempunyai rasa ingin tahu terhadap

rahasia alam dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan

pengalaman, tetapi sering tidak dapat menjawab masalah dan tidak

memuaskan. Hal inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan alam.

Ilmu Pengetahuan Alam atau lebih dikenal dengan singkatan IPA

berasal dari bahasa latin “scientia’ dan dalam bahasa Inggris “science”

atau di Indonesia lebih dikenal dengan sains. Seperti yang telah

dikemukakan sebelumnya bahwa, IPA lahir dari rasa ingin tahu manusia

yang begitu tinggi terhadap sesuatu termasuk dalam hal ini adalah

mengenai alam semesta. Gejala-gejala alam yang terjadi menimbulkan

penasaran, apa dan mengapa hal tersebut terjadi. Pertanyaan-pertanyaan

kritis kemudian muncul dan manusia mulai mencari tahu apa dan

mengapa serta bagaimana hal tersebut terjadi. Setelah itu kemudian

manusia mencoba bereksperimen untuk mencari tahu jawaban dari

fenomena-fenomena alam tersebut.

Maskoeri Jasin (2006:1) mengatakan bahwa, “ilmu alamiah

merupakan ilmu yang mengkaji gejala-gejala dalam alam semesta,

termasuk bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip”. Dalam


18

pendapat tersebut ilmu alamiah yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan

alam (IPA).

Ilmu pengetahuan alam mempelajari alam dengan menggunakan

metode-metode sains ([Link] Selanjutnya menurut

Kuslan Stone yang dikutip Agus S dalam situs yang sama menyebutkan

bahwa, “sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk

mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan

produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan”.

Sementara itu Suyoso yang dikutip Izzatin Kamala dalam

[Link] mengatakan bahwa:

“Sains merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang


bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh
melalui metode tertentu yang teratur, sistematis, berobyek,
bermetode dan berlaku secara universal”.

Dalam situs yang sama Abdullah mengtakan:

“IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun


dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan
observasi dan demikian seterusnya kait mengait antara cara yang
satu dengan cara yang lain”.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu

tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan

kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau

prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik

untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek


19

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan

sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian

pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar

menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.

IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai

hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia.

Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga

perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan

minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu penge-

tahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang

mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat

rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu

pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari.

Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting.

Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkem-

bangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia

dan negara-negara maju. Pendidikan IPA telah berkembang di Negara-

negara maju dan telah terbukti dengan adanya penemuan-penemuan baru

yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di Indonesia sendiri belum

mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia belum

mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu

pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur

kemajuan bangsa. Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata plajaran


20

IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat

kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini

terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan

sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah

yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum,

guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.

Oleh sebab itu untuk memperbaiki pendidikan IPA di SMP

diperlukan pembenahan kurikulum dan pengajaran yang tepat dalam

pendidikan IPA. Masalah ini juga yang mendasasri adanya kurikulum

yang di sempurnakan (KYD) yang saat ini sedang di kembangkan di

sekolah-sekolah, yaitu KTSP. Dalam makalah ini penulis akan

menyajikan tentang pengertian pendidikan IPA dan perkembangannya

sehingga menyebabkan adanya perubahan kurikulum yang

disempurnakan. Diharapkan setelah adanya penyempurnaan kurikulum

maka pendidikan IPA dapat diajarkan sesuai dengan konsepnya serta

dapat dikembangka dala dunia tekologi. Pendidikan IPA terpadu yang

diterapkan di SMP dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang

mampu berpikir logis, kreatif dan kritis dalam menanggapi isu teknologi

di masyarakat.

Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA

merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh

dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode

ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat

umum sehingga akan terus disempurnakan.


21

d. Materi Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang

1) Getaran

Pengertian getaran menurut Marthen Kanginan (2004:97)

adalah: Gerakan bolak–balik secara berkala melalui titik seimbangnya.

Untuk memudahkan pemahaman tentang getaran digunakan ayunan

sederhana.

Perhatikan bahwa gerak ayunan sederhana dari a – b – a – c – a

disebut satu getaran. sedangkan gerak ayunan dari a – b – a disebut

setengah getaran.

Ada 3 besaran dasar dalam getaran yaitu periode, frekuensi

dan amplitudo.

1) Yang dimaksud dengan periode adalah : selang waktu yang

diperlukan untuk menempuh satu getaran. Periode tidak

bergantung pada amplitudo.

2) Sedangkan frekuensi adalah : banyaknya getaran yang terjadi

dalam waktu satu sekon.

3) Amplitudo adalah simpangan terjauh dari titik keseimbangan yang

dilakukan oleh beban ayunan.


22

Adapun hubungan antara periode dan frekuensi adalah

1 1
T  atau f 
f T

dengan T = periode. satuan sekon (s)


f = Frekuensi. satuan hertz ( Hz)

2) Gelombang.

Pengertian gelombang adalah suatu usikan yang merambat.

yang membawa getaran dan gelombang dari satu tempat ke tempat

lainnya (Marthen Kanginan. 2004:105). Menurut sifat perambatannya,

gelombang dibagi menjadi 2, yaitu gelombang mekanik dan

gelombang elektromagnetik. Gelombang mekanik adalah gelombang

yang hanya terjadi bila ada medium. Sedangkan gelombang

elektromagnetik adalah gelombang yang dapat melalui ruang hampa

(Ike Novianti, 2004: 18).

Sementara itu, menurut bentuk perambatannya gelombang

dibagi menjadi 2 pula, yaitu :

 Gelombang Transversal yaitu gelombang yang arah getarannya

tegak lurus arah rambatannya.


23

Keterangan :

b–c–d–e–f = satu gelombang

a–b–c = bukit gelombang

c–d–e = lembah gelombang

b – b’ = amplitudo gelombang

b = puncak gelombang

d = dasar gelombang

 Gelombang longitudinal yaitu gelombang yang arah getarannya

sejajar arah rambatannya.

Keterangan

λ = panjang gelombang terdiri dari satu rapatan dan satu renggangan

cepat rambat gelombang

keterangan :

v = cepat rambat gelombang (m/s)

λ = panjang gelombang ( m )

T = periode gelombang ( s )

f = frekuensi gelombang ( Hz )

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa getaran adalah gerakan

bolak-balik melalui titik kesetimbangan secara teratrur. Dari proses


24

bergetarnya suatu benda akan menimbulkan gelombang. Atau dengan

kata lain gelombang adalah getaran yang merambat. Materi getaran

dan gelombang diberikan dengan maksud siswa dapat

mendeskripsikan konsep getaran dan gelombang dalam kehidupan

sehari-hari.

e. Hasil Belajar IPA

Berdasarkan pengertian-pengertian yang ada mengenai belajar,

hasil belajar, dan pengertian IPA maka dalam sub pokok bahasan ini

dapat disimpulkan pengertian dari hasil belajar IPA. Sebagaimana kita

ketahui bahwa hasil belajar merupakan kemempuan siswa setelah

mengalami proses belajar. Pertanyaannya adalah bagaimana cara

mengukur hasil belajar tersebut.

Terhadap pertanyaan ini kita kembali pada unsur – unsur yang

terdapat dalam proses belajar mengajar itu. Ada empat unsur utama

proses belajar mengajar yakni tujuan, metode, bahan, serta penilaian.

Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai

tujuan pengajaran sedangkan hasil belajar adalah kemampuan –

kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman

belajarnya.

Hortwad Kingsley membagi tiga macam hasil belajar yaitu:

ketrampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita

– cita. Masing –masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan

yang telah ditetapkan oleh kurikulum, sedangkan gagne membagi lima

kategori hasil belajar yakni: informasi verbal, ketrampilan yang


25

intelektual, strategi kognitif, sikap dan ketrampilan motorik.

Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk

mengukur sejauh mana tujuan yang telah tercapai. karena itu didalam

menyusun evaluasi hendaknya memperhatikan secara seksama

rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan harus dapat

mengukur sejauh mana proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Agar evaluasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat

sebagai mana diharapkan, maka evaluasi harus dilakukan berdasarkan

prinsip-prinsip yang tepat. (Arikunto2007:24) “mengemukakan bahwa

ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan tringulasi atau

hubungan erat tiga komponen yaitu Tujuan, Kegiatan Belajar

Mengajar, dan Evaluasi”.

Mengingat pentingnya penilaian dalam mmenentukan kwalitas

pendidikan maka untuk merencanakan dan melaksanakan penilaian

hendaknya memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur penilaian.

Prinsip penilaian yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:

1. Dalam menilai hasil belajar hendaknya dirancang sedemikian rupa

sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat

penilaian, dan interpretasi hasil penilaian.

2. Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari

proses belajar mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan

pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya

berkesinambungan.

3. Agar diperoleh hasil belajar yang obyektif dalam pemgertian


26

mengambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana

adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan

sifatnya konfrehensip.

4. Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya,

data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi

siswa, oleh karena itu perlu dicatat secara teratur dalam catatan

khusus mengenai kemajuan siswa

Untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa

diperlukan suatu evaluasi setelah selesai mengajarkan satu pokok

bahasan atau sub pokok bahasan dalam kegiatan proses belajar

mengajar. Alat yang digunakan untuk melihat hasil belajar siswa dapat

menggunakan beberapa cara yaitu tes lisan tes tertulis dan tugas-tugas.

Berdasarkan beberapa definisi tentang belajar, IPA, dan hasil belajar

di atas maka dapat di simpulkan bahwa hasil belajar IPA adalah

perubahaan siswa yang didapat dengan jalan berlatih dalam

mempelajari konsep IPA sehingga terjadi perubahaan tingkah laku

yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik di mana

diperlukan yang berhubungan dengan IPA dalam kehidupan sehari –

hari.

Dengan demikian yang dimaksud dengan hasil belajar IPA

dalam penelitian ini adalah seperangkat kemampuan siswa setelah

melalui proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan getaran dan

gelombang berupa kemampuan kognitif untuk memecahkan masalah

IPA melalui proses evaluasi.


27

2. Hakikat Metode Problem Solving

a. Metode Problem Solving

Metode atau strategi pembelajaran adalah cara atau teknik yang

digunakan guru dalam mengajar. Di dalam proses belajar mengajar, guru

harus memiliki strategi yang baik agar peserta didik dapat belajar secara

efektif dan efisien dan mengena pada tujuan yang hendak dicapai. Metode

yang digunakan untuk memotivasi peserta didik agar mampu

menggunakan pengetahuannya dalam memecahkan masalah yang

dihadapi atau pun untuk menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan

metode yang digunakan untuk tujuan agar peserta didik mampu berpikir

dan mengemukakan pendapatnya sendiri di dalam menghadapi segala

persoalan.

Darwyan Syah (2009:11) mendefinisikan strategi sebagai, “suatu

garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran

yang telah ditentukan”. Lebih lanjut Darwyan Syah menyebutkan bahwa,

jika dikaitkan dengan pembelajaran maka yang disebut sebagai strategi

merupakan pola-pola umum kegiatan guru-siswa dalam kegiatan

pembelajaran untuk mencapai kompetensi sebagai tujuan pembelajaran

yang telah ditetapkan.

Dengan demikian maka strategi merupakan rentetan atau alur yang

dibuat guru sebagai upaya dalam melakukan pembelajaran kepada siswa

untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Hal serupa senada dengan

apa yang diungkapkan Djamarah (2006:5) yang mengatakan bahwa,

“strategi belajar mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru anak


28

didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan

yang telah digariskan”.

Dalam pelaksanaannya, strategi belajar dijabarkan ke dalam

bentuk model-model, pendekatan, metode dan alat bantu pengajaran.

Berdasarkan hal tersebut maka strategi merupakan pendefinisian secara

umum tentang tata cara mengajar, sedangkan teknis pelaksanaannya

adalah berupa metode, pendekatan dan alat bantu pengajaran. Selanjutnya

yang akan dibahas dalam hal ini adalah metode belajar problem solving

dalam pembelajaran IPA.

Dalam mengajar Ilmu Pengetahuan Alam, guru harus melakukan

pendekatan yang tepat dalam mengajar. Pembelajaran yang dilakukan

tidak monoton dengan menggunakan satu pendekatan saja yang berakibat

pada kejenuhan dan berkurangnya motivasi siswa dalam belajar. Apalagi

jika melihat kondisi yang sudah terlanjur tertanam dalam masyarakat

bahwa Ilmu Pengetahuan Alam adalah pelajaran yang susah dan ruwet.

Sebaiknya pendekatan dalam mengajar yang digunakan dalam belajar

Ilmu Pengetahuan Alam mengarah kepada pemberian pengalaman belajar.

Karena dengan demikian siswa tidak hanya disuguhi konsep-konsep yang

abstrak akan tetapi konsep yang real/nyata. Konsep yang nyata inilah pada

dasarnya ada dengan pengalaman yang telah mereka lakukan selama

proses belajar mengajar. Dengan demikian siswa akan tahu dan merasa

perlu tahu akan apa yang dipelajarinya.

Pada umumnya, pembelajaran yang digunakan sampai saat ini

adalah pembelajaran yang hanya tertuju pada pencapaian materi. Sehingga


29

guru berusaha untuk mengajar hanya dengan mempertimbangkan semua

bahan materi kepada siswa supaya sampai pada batas semester. Tidak lagi

mempedulikan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan dan

kompetensi yang harus diperoleh siswa. Jika hal tersebut terus dibiarkan,

maka pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tidak akan menghasilkan

siswa-siswa yang kompeten yang peka terhadap perubahan-perubahan

teknologi. Jika ditinjau dari guru, hal ini juga merupakan hal yang

dilematis. Tidak semua siswa mempunyai kemampuan yang sama dan

daya serap yang sama. Oleh karena itulah sekali lagi guru dituntut untuk

dapat mampu mengembangkan pendekatan yang baik dan benar dalam

mengajar.

Untuk mengubah kondisi tersebut maka pemilihan metode

pembelajaran perlu diperhatikan dengan baik oleh seorang guru. Dalam

pembelajaran di kelas, guru diharapkan lebih menekankan pada pemberian

pengalaman untuk bekerja ilmiah. Dalam melakukan kerja ilmiah selalu

dikembangkan pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui

penggunaan dan mengembangkan keterampilan proses yang meliputi

kemampuan mengamati, mengukur dengan teliti, menggolongkan,

mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis dan merencanakan

percobaan.

Salah satu metode belajar yang harus dikuasi guru terutama dalam

menerapkan Kurikulum 2013 adalah metode belajar problem solving.

Sadirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan

menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan


30

disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.

Model dan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem

Solving) digunakan dalam pembelajaran yang membutuhkan jawaban atau

pemecahan masalah. Sebagai metode pembelajaran, metode pembelajaran

berbasis masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada siswa.

Dengan metode ini, para siswa belajar memecahkan suatu masalah

menurut prosedur kerja ilmiah.

Metode pembelajaran berbasis masalah atau metode pembelajaran

berbasis masalah (Problem Solving) ini sering dinamakan atau disebut

juga dengan eksperimen method, reflective thinking method, atau

scientific method (Sadirman, dkk., 1991 : 146). Sementara itu, Darwyan

Syah (2009:159) menyebutkan, ”metode pemecahan masalah adalah

penyajian bahan ajar oleh guru dengan merangsang anak berpikir secara

sistematis dengan menghadapkan siswa kepada beberapa masalah yang

harus dipecahkan”. Djamarah (2006:91) menambahkan:

”Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan


hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu
metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat
menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan
mencari data sampai kepada menarik kesimpulan”.

Berdasarkan pengertian di atas jelas kiranya bahwa pendekatan

problem solving merupakan pendekatan dimana guru mengajak siswa

untuk berpikir secara kritis guna memecahkan suatu masalah yang ada.

Pendekatan ini tentunya akan dapat merangsang siswa untuk berpikir

secara kritis sehingga siswa dapat memecahkan masalahnya sendiri yang

kemudian guru akan meluruskan konsep yang sesungguhnya. Dengan


31

demikian maka ada integrasi antara guru dan siswa untuk memahami

sesuatu.

Selanjutnya Djamarah (2006:92) menyebutkan langkah-langkah

dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan problem

solving sebagai berikut:

1) Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus


tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
2) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut.
3) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh,
pada langkah kedua di atas.
4) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini
siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin
bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok.
5) Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan
terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.

Secara lebih spesifik, langkah-langkah pembelajaran berbasis

masalah dapat dilihat dalam tabel beikut.

Tabel 2.1. Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap Deskripsi
Tahap 1 Guru menyajikan masalah nyata kepada peserta
Orientasi terhadap didik.
masalah
Tahap 2 Guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami
Organisasi belajarmasalah nyata yang telah disajikan, yaitu
mengidentifikasi apa yang mereka ketahui, apa
yang perlu mereka ketahui, dan apa yang perlu
dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Peserta
didik berbagi peran/tugas untuk menyelesaikan
masalah tersebut.
Tahap 3 Guru membimbing peserta didik melakukan
Penyelidikan pengumpulan data/informasi (pengetahuan,
individual maupun konsep, teori) melalui berbagai macam cara untuk
kelompok menemukan berbagai alternatif penyelesaian
masalah.
32

Tahap Deskripsi
Tahap 4 Guru membimbing peserta didik untuk
Pengembangan dan menentukan penyelesaian masalah yang paling
penyajian hasil tepat dari berbagai alternatif pemecahan masalah
penyelesaian yang peserta didik temukan. Peserta didik
masalah menyusun laporan hasil penyelesaian masalah,
misalnya dalam bentuk gagasan, model, bagan,
atau Power Point slides.
Tahap 5 Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan
Analisis dan evaluasi refleksi atau evaluasi terhadap proses penyelesaian
proses penyelesaian masalah yang dilakukan.
masalah
Selanjutnya, pendekatan problem solving juga memiliki beberapa

sisi positif dan sisi negatif. Darwyan Syah (2009:160) menyebutkan sisi

positif tersebut sebagai berikut:

1) memungkinkan relevansi antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

2) Membiasakan siswa terampil menghadapi dan memecahkan masalah.

3) Merangsang proses berpikir kreatif dan menyeluruh.

Sementara itu, sisi negatif dari pendekatan problem solving adalah

sebagai berikut:

1) Sulit menentukan tingkat masalah yang disesuaikan dengan tingkat


pemahaman dan perkembangan siswa.
2) Memakan waktu yang lama dan menyita waktu yang diperlukan untuk
jam pelajaran lain.
3) Sulit mengubah pola belajar siswa dari menjadikan guru sebagai
sumber belajar utama kepada belajar dengan berpikir yang
membutuhkan lebih banyak lagi sumber belajar.

Berdasarkan langkah-langkah yang harus diambil dan dengan

mempertimbangkan kelebihan serta kelemahan dari pendekatan problem

solving ini maka hal tersebut merupakan tantangan bagi guru untuk

melakukan pendekatan ini dengan baik untuk mengetahui hasil belajar

siswa. Berdasarkan hal tersebut pulalah, penulis ingin mengetahui


33

efektivitas siswa yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan

problem solving terhadap hasil belajar IPA siswa.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan

problem solving adalah proses pembelajaran dengan melakukan penyajian

bahan ajar oleh guru dengan merangsang anak berpikir secara sistematis

dengan menghadapkan siswa kepada beberapa masalah yang harus

dipecahkan.

b. Metode Konvensional

Sebagai kontrol untuk menguji efektivitas pengajaran dengan

menggunakan pendekatan problem solving dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan pendekatan konvensional dalam pembelajaran yang

selanjutnya membandingkan kedua pendekatan tersebut. Pendekatan

pembelajaran konvensional yang dimaksud di sini adalah proses

pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Dikatakan

konvensional karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang pertama

kali muncul dalam berbagai pendekatan pembelajaran yang ada sekarang

ini.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Syaiful Bahri

Djamarah (2006:97) yang mengatakan bahwa metode ceramah sebagai,

”...metode yang boleh dikatakan tradisional, karena sejak dulu metode ini

telah digunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak

didik dalam proses belajar mengajar”. Selanjurnya Syaiful Bahri

Djamarah (2006:97) mendefinisikan metode ceramah sebagai, ”cara

penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau


34

penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa”. Sependapat dengan

Syaiful, Darwyan Syah (2009:140) mendefinisikan metode ceramah

sebagai, ”....penuturan bahan pelajaran secara lisan”.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menggunakan pendekatan

ini menurut Darwyan Syah (2009:141-142) adalah sebagai berikut:

1) Tahap persiapan, pada tahap in guru harus menciptakan kondisi dan


mental siswa agar mendukung seta menerima digunakannya
pendekatan ini.
2) Tahap penyajian, yaitu tahap dimana guru menyapaikan bahan
pelajaran dengan berceramah.
3) Tahap mencari hubungan dan membandingkan, yaitu membimbing,
mengarahkan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk
menghubungkan serta membandingkan bahan ceramah yang telah
diterimanya.
4) Tahap membuat generalisasi dan kesimpulan. Pada tahap ini siswa
diberi kesempatan untuk membuat catatan-catatan penting.
5) Tahap evalusi, yaitu tahap dimana guru melakukan penilaian terhadap
pemehaman siswa.

Sementara itu mengenai kelamahan dan kekurangan metode ini

menurut Syaiful Bahri Djamarah (2006:97) dijabarkan berikut ini.

Kelebihan: 1) guru mudah menguasai kelas, 2) mudah mengorganisasikan

tempat duduk, 3) dapat diikuti jumlah siswa yang besar, 4) mudah

mempersiapkan dan melaksanakannya, 5) guru mudah menerangkan

pelajaran denfan baik. Sementara itu kelemahan pendekatan ini adalah: 1)

mudah menjadi verbalisme, 2) yang visual menjadi rugi, 3) bila digunakan

terlalu lama, membosankan, 4) menyebebkan siswa menjadi pasif.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa

pendekatan konvensional adalah cara penyajian belajar dengan penuturan

atau penjelasan lisan secara langsung kepada siswa.


35

B. Kerangka Berpikir

Tujuan pembelajaran adalah menjadikan peserta didik berubah tingkah

lakunya baik dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan yang

terjadi merupakan bagian dari proses belajar ke arah yang kebih baik. Oleh

karenanya, guru sebagai orang yang bertanggungjawab dalam mengolah

perubahan perilaku tersebut memerlukan berbagai metode untuk mendapatkan

hasil yang maksimal.

Metode pengajaran merupakan seragkaian cara yang dapat digunakan

oleh guru dalam melakukan proses belajar mengajar. Tentunya, setiap metode

pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Artinya,

metode sebaik apa pun belum tentu cocok diterapkan pada suatu kelompok

pembelajar yang kondisinya tidak sesuai dengan keinginan dari metode

pembelajaran yang dimaksud. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang

digunakan oleh guru harus bervariatif sehingga guru dapat menganalisis dan

menggunakan metode mana yang paling tepat digunakan.

Di antara banyak metode, metode pembelajaran yang memungkinkan

untuk memberikan peserta didik memperoleh pengetahuan dasar, belajar

secara aktif, mandiri dan peserta didik yang mampu berpikir kritis dan

mengembangkan inisiatif adalah metode pembelajaran problem solving atau

metode pemecahan masalah. Metode problem solving adalah cara penyajian

bahan pelajaran dengan menjadikan maslaah sebagai titik tolak pembahasan

untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecaha atau

jawabannya oleh siswa (Sadirman dkk, 1991:146).


36

Metode problem solving merupakan metode pembelajaran yang lebih

memfokuskan kegiatan yang berpusat pada siswa. Langkah-langkah yang

digunakan dalam pembelajaran ini adalah menempatkan siswa sebagai subjek

bukan sebagai objek belajar. Siswa secara aktif dilibatkan untuk mengajukan

atau merumuskan permasalahan. Sementara guru lebih bertindak sebagai

fasilitator yang membantu siswa jika ada kesulitan. Sehingga hasil yang

diperoleh lebih berbekas dalam pikiran siswa, selanjutnya dapat diperoleh

hasil belajar yang tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui pendekatan yang baik untuk diterapkan dalam melakukan

pengajaran IPA di sekolah. Selanjutnya, dengan melihat kelamahan dan

kelebihan yang ada, maka diduga hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa

yang diajar dengan metode problem solving lebih tinggi dibandingkan dengan

yang diajar secara konvensional.

C. Rumusan Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan

di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut:

“Terdapat pengaruh metode problem solving terhadap hasil belajar Ilmu

Pengetahuan Alam peserta didik kelas VIII SMp AL Irsyad Al Islamiyyah

Jakarta pada tahun ajaran 2016-2017”.


37

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta

yang beralamat di Jl. Mindi No. 29-35, Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja,

Kotamadya Jakarta Utara. Sementara itu NSS//NIS/NPSN sekolah adalah

20201603165/200120/20106458 dengan nomor telepon sekolah 021-

43933542. SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta memiliki masing-masing

4 romobongan belajar dengan jumlah guru tetap yayasan sebanyak 23

orang. Saat ini SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta dikepalai oleh Bapak

Drs. Haryanto.

2. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian adalah dimulai dari bulan Oktober

2016 sampai dengan Januari 2017 dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 3.1. Waktu Penelitian

No Jadwal Kegiatan Oktober November Desember Januari


1. Observasi
lingkungan √
penelitian
2. Penyusunan √
program penelitian
3. Pelaksanaan √
penelitian
4. Post tes √
5. Pengolahan data √
6. Ujian √

37
38

Dengan tahapan persiapan penelitian yaitu menentukan

permasalahan apakah ada pengaruh pendekatan problem solving terhadap

hasil belajar IPA pokok bahasan getaran dan gelombang pada siswa kelas

VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode true eksperimental

dengan bentuk Postes-Only Control Design (Sugiono, 2003:85)

R x Q2

R Q4

Q2 = hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan metode problem solving.

Q4 = hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan metode konvensional

Dengan metode ini peniliti dapat mengontrol semua variabel luar yang

mempengaruhi jalannya eskperimen. Dengan demikian, validitas internal

dapat menjadi tinggi. Ciri utama metode ini adalah sampel yang digunakan

untuk eksperimen diambil secara random dari populasi tertentu.

Dalam penelitian ini bentuk didesain yang digunakan adalah desain

Postes-Only Control Design. Pada desain ini terdapat dua kelompok yang

masing-masing dipilih secara modern (R). Kelompok pertama diberi perlakuan

(X) dan kelompok yang lain tidak. Pengaruh adanya perlakuan adalah (Q 1 :

Q2). Prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Melakukan survai kepustakaan yang relevan dengan masalah yang diteliti.

2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.


39

3. Merumuskan hipotesis berdasarkan atas penelahaan kepustakaan.

4. Mengidentifikasi pengertian dasar-dasar dan variabel utama.

5. Menyusun rencana eksperimen.

6. Melaksanakan eksperimen.

7. Mengatur data kasar untuk mempermudah analisa.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Target

Populasi adalah suatu wilayah generasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Populasi

target dalam penelitian ini adalah seluruh SMP Al Irsyad Al Islamiyyah

Jakarta yang berjumlah 358 peserta didik.

2. Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau dalam penelitian adalah peserta didik kelas VIII

SMP Al Irsyad Al Ismaliyyah pada tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak

empat kelas paralel yang berjumlah 125 orang peserta didik.

3. Sampel dan Teknik Sampling

Sampel adalah sebagian populasi yang diselidiki dari keseluruhan

populasi penelitian. Sampel yang baik yaitu sampel yang memiliki

populasi atau yang refresentatif artinya yang menggambarkan keadaan

populasi atau menceminkan populasi secara maksimal.

Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMP Al

Irsyad Al Islamiyyah Jakarta pada tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak


40

dua kelas paralel yang berjumlah 60 orang peserta didik. Teknik yang

digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik

intact group. Menurut Sudjana (1989:167) menyatakan bahwa teknik

intact group adalah teknik pengambilan sampel dilakukan apa adanya.

Sampel yang diambil pada teknik intact group adalah seluruh peserta didik

di dalam kelas yang terpilih sebagai kelas sampel untuk penelitian yaitu

kelas eksperimen dan kelas kontrol. Beberapa alasan peneliti

menggunakan teknik intact group karena keadaan populasi penelitian

merupakan rombongan belajar yang sudah tersusun dalam kelas dengan

jadwal belajar yang sudah terprogram.

Dalam penelitian ini diambil dua kelas dimana satu kelas digunakan

sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya digunakan sebagai

kelas kontrol dengan masing-masing kelas berjulah 30 orang peserta didik

sebagai sampel. Setelah diundi kelas VIII B sebagai kelas eksperimen

sebanyak 30 peserta didik dan VIII C sebagai kelas kontrol dengan 30

orang peserta didik.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Variabel Penelitian

a. Variabel Bebas : Siswa yang diajar dengan metode problem solving dan

siswa yang diajar dengan metode konvensional.

b. Variabel Terikat : Hasil belajar IPA pokok bahasan getaran dan

gelombang.
41

2. Sumber Data

Data diambil dari tes belajar yang dilaksanakan setelah proses pembelaja-

ran selesai. Tes diberikan kepada peserta didik yang menjadi kelompok

sampel.

3. Teknik Pengumpulan/ Mendapatkan Data

a. Teknik dokumentasi: peneliti mendokumentasikan karakteristik peserta

didik dan cara belajar serta hasil belajar peserta didik.

b. Teknik Tes: peneliti memberikan tes uji coba dan juga tes hasil belajar

untuk mendapatkan rata-rata hasil belajar IPA peserta didik yang diajar

dengan metode problem solving dan peserta didik yang diajar dengan

metode konvensional.

E. Instrumen Penelitian

1. Definisi Konseptual

Hasil belajar IPA adalah tingkat kemampuan siswa dalam menguasai

materi pelajaran IPA pada pokok bahasan getaran dan gelombang

(memahami dan dapat menjelaskan serta menyelesaikan soal-soal yang

berkaitan dengan getaran dan gelombang dan menerapkan materi dalam

kehidupan sehari-hari).

2. Definisi Operasional

Hasil belajar IPA adalah skor tentang kemampuan siswa dalam

menguasai materi pelajaran IPA pada pokok bahasan getaran dan

gelombang (memahami dan dapat menjelaskan serta menyelesaikan soal-

soal yang berkaitan dengan getaran dan gelombang dan menerapkan materi
42

dalam kehidupan sehari-hari) yang diperoleh melalui tes tertulis dalam

bentuk pilihan ganda sebanyak 30 soal dengan empat option dimana jumlah

maksimum 30 dan nilai maksimum 100.

3. Kisi-kisi Instrumen

Kisi-kisi yang akan dijadikan instrumen dalam penelitian ini adalah

berupa materi pokok bahasan gerak lurus yang terangkum dalam tabel

berikut:

Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Pokok Sub Pokok Kompetensi Jumlah No Soal Bent


uk
Bahasan Bahasan Yang diajukan
Soal
Getaran Getaran - Siswa dapat mende- 3 1,2,3 PG
finiskan getaran
Dan - Siswa dapat mende- 5 4,5,6,7,8
finisikan periode,
Gelomba frekuensi dan amp-
ng litudo
- Siswa dapat meng- 3 9,10,11
gunakan rumus hubu-
ngan antara frekusni,
periode dan ampli-
tudo.
- Siswa dapat meng-
erjakan soal-soal me- 6 12,13,14
ng-gunakan rumus
tersebut 15,16,17
Gelombang - Siswa dapat mende- 3 18,19,20 PG
finiskan gelombang
- Siswa dapat membe- 4 21,22,
dakan gelombang
berdasarkan sifat dan 23,24
arah rambatnya
- Siswa dapat meng- 6 25,26,27
hitung cepat rambat
gelombang 28,29,30
43

4. Pengujian Instrumen

Karena instrument yang dibuat oleh peneliti hanya instrument untuk

mengukur hasil belajar IPA saja, maka uji instrument yang dilakukan

pada penelitian ini hanya untuk instrument tersebut. Pengujian

instrument ini dilakukan pada anggota populasi yang sama tetapi yang

bukan termasuk anggota sampel dimana pada penelitian ini uji coba

dilakukan pada 30 siswa. Jika ada butir soal yang belum valid maka

direvisi dan diujicobakan lagi sampai diperoleh butir pertanyaan yang

valid.

a. Tingkat Kesukaran (p) Butir Soal

Selain pengujian terhadap validitas butir dan perhitungan

reliabilitas. peneliti juga menentukan tingkat kesukaran butir soal. Indeks

tingkat kesukaran atau Proportional Correct dinotasikan dengan p.

Rumusnya (Safari: 2004:23) adalah:

JB
p 
N

dimana: JB = jumlah peserta tes yang menjawab benar

N = jumlah peserta tes

Indeks kesukaran butir merupkan proporsi responden yang

menjawab benar suatu butir dengan seluruh peserta tes. Indeks kesu-

karan butir berkisar antara 0 sampai dengan 1. artinya jika p = 0 berarti

tak seorang pun responden dapat menjawab benar butir tersebut.

sebaliknya jka p = 1. maka semua responden dapat menjawab butir

dengan benar. Kriteria tingkat kesukaran yang digunakan pada ana-


44

lisa ini adalah: jika p > 0.70 kategori soal mudah. 0.30 <p< 0.70 kate-

gori soal sedang dan p < 0.30 kategori soal sukar (Nana Sudjana. 1991:46).

Tabel 3.3. Hasil Analisis Tingkat Kesukaran Butir

No B JS B/JS Keterangan No B JS B/JS Keterangan


1 18 30 0,60 sedang 16 15 30 0,50 sedang
2 17 30 0,57 sedang 17 19 30 0,63 sedang
3 19 30 0,63 sedang 18 20 30 0,67 sedang
4 18 30 0,60 sedang 19 20 30 0,67 sedang
5 15 30 0,50 sedang 20 19 30 0,63 sedang
6 17 30 0,57 sedang 21 18 30 0,60 sedang
7 19 30 0,63 sedang 22 13 30 0,43 sedang
8 19 30 0,63 sedang 23 18 30 0,60 sedang
9 17 30 0,57 sedang 24 19 30 0,63 sedang
10 19 30 0,63 sedang 25 16 30 0,53 sedang
11 17 30 0,57 sedang 26 18 30 0,60 sedang
12 17 30 0,57 sedang 27 17 30 0,57 sedang
13 15 30 0,50 sedang 28 19 30 0,63 sedang
14 16 30 0,53 sedang 29 18 30 0,60 sedang
15 15 30 0,50 sedang 30 15 30 0,50 sedang

2) Pengujian Validitas (Kesahihan) Butir Soal

Kesahihan atau validitas butir soal untuk soal berbentuk

pilihan ganda diuji dengan menggunakan koefisien biserial (Safari.

2004: 71) dengan rumus:

2

 
 X 


2
X
 n 
 Xi  Xt  Pi 

2
rbis ( i )    dengan St
 St  Qi n

dimana:

r bis ( i )  Koefisien korelasi biserial antara skor butir soal nomor i

dengan skor total.


45

Xi = Rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir soal

nomor i.

Xt = Rata-rata skor total semua responden.

St = Standar deviasi skor total semua responden.

Pi = Proporsi jawaban benar untuk butir soal nomor i.

Qi = Proporsi jawaban salah untuk butir soal nomor i.

Nilai r bis yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya dikonsul-

tasikan dengan r kritis . Pada penelitian ini pengujian validitas butir

soal ini dilakukan pada 30 orang responden. Soal dikatakan valid jika

nilai rbis > 0,3. Adapun data hasil uji coba adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4. Hasil Analisis Validitas Soal

nilai nilai
No rbis r kritis kriteria No rbis r kritis kriteria
1 0.67 0.3 Valid 16 0.31 0.3 valid
2 0.6 0.3 Valid 17 0.06 0.3 tidak valid
3 0.41 0.3 Valid 18 0.07 0.3 tidak valid
4 0.43 0.3 Valid 19 0.5 0.3 valid
5 0.36 0.3 Valid 20 0.41 0.3 valid
6 0.41 0.3 Valid 21 0.49 0.3 valid
7 0.04 0.3 tidak valid 22 0.48 0.3 valid
8 0.46 0.3 valid 23 0 0.3 tidak valid
9 0.42 0.3 valid 24 0.49 0.3 valid
10 0.1 0.3 tidak valid 25 0.53 0.3 valid
11 0.16 0.3 tidak valid 26 0.67 0.3 valid
12 0.34 0.3 valid 27 0.6 0.3 valid
13 0.06 0.3 tidak valid 28 0.41 0.3 valid
14 0.7 0.3 valid 29 0.43 0.3 valid
15 0.34 0.3 valid 30 0.36 0.3 valid
46

Dengan demikian soal yang dijadikan instrumen penelitian adalah 23

soal dimana soal no, 7,10,11,13,17,18,23 dinyatakan tidak valid dan

berarti tidak dapat dijadikan instrumen penelitian.

3) Pengujian Reliabilitas (Keterhandalan) Perangkat Soal

Keterhandalan (reliabilitas) perangkat soal untuk soal pilihan

ganda diuji dengan menggunakan Kuder Richarsson 20 (Safari,

2004: 54), dengan rumus:

r KR 
k 
1 
 PiQi 

k  1  
2
St 

dimana : r KR = Koefisien reliabilitas tes

k = Banyaknya butir

St2 = Varians skor total

Pi = Proporsi jawaban benar untuk butir i

Qi = Proporsi jawaban salah untuk butir i

PiQi = Varians skor butir

Berikut hasil perhitungan reliabilitas instrument tes hasil belajar IPA:

k = 23  PiQi  5 , 55 St = 5,13

r KD 
k 
1 
 PiQi 
 
23 
1 
5 , 55 

 
k  1   23  1 
2 2
St  ( 5 ,13 ) 

23  5 , 55 
 1  
22  26 , 31 

 1 , 045 ( 0 , 79 )  0 , 82

Angka reliabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya

dikonsultasikan dengan r kritis dimana instrumen dikatakan reliabel jika


47

koefisien reliabilitas lebih dari 0,7 Dengan demikian dari hasil perhitungan

dikatakan bahwa data tergolong reliabel karena > 0,7.

F. Teknik Analisa Data

1. Teknis Deskripsi Data

Dalam analisis deskriptif akan dilakukan teknik penyajian data dalam

bentuk tabel disitribusi frekuensi, grafik/diagram batang untuk masing-

masing variabel. Selain itu juga masing-masing variabel akan diolah dan

dianalisis ukuran pemusatan dan letak seperti mean, modus, dan median

serta ukuran simpangan seperti jangkauan, variansi, simpangan baku,

kemencengan dan kurtosis.

Adapun langkah-langkah pembuatan tabel distribusi frekuensi dan

penyajian grafik poligon serta histogram dilakukan dengan langkah-

langkah berikut:

a. Menentukan rentang (R), yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.

b. Menentukan banyak kelas (k) dengan aturan Struges, yaitu

K = 1 + 3,3 log n, n = banyaknya data

Re n tan g
c. Menentukan panjang kelas interval (P), yaitu P 
Banyakkela s

d. Menentukan ujung bawah interval kelas pertama, yaitu < data terkecil.

e. Membuat tabel distribusi frekuensi secara lengkap, dengan jalan

menentukan ujung bawah (UB) dan ujung atas (UA) setiap interval

kelas menghitung banyaknya (frekwensi) data untuk masing-masing

kelas interval.
48

f. Menggambar grafik histogram, dengan terlebih dahulu menentukan tepi

bawah (TB) dan tepi atas (TA) untuk masing-masing kelas interval,

yaitu TB = UB – ½ satuan data, dan TA = UA + ½ satuan data.

g. Menggambarkan grafik poligon frekwensi, dengan terlebih dulu

menentukan nilai tengah (Yi) masing-masing kelas interval, yaitu Yi =

½ (UA-UB).

Sedangkan ukuran pusat, letak dan simpangan diantaanya dapat

ditentukan dengan rumus-rumus berikut:

a. Menentukan Mean/rata-rata (Y), dengan rumus:

Y 
 Y . fi
i

b. Menentukan Modus (Mo), dengan rumus:

 b1 
Mo  b  p   dimana :
 
 b1  b 2 

Mo = Modus

b = batas bawah kelas modus, ialah kelas interval dengan frekuensi

terbanyak

p = panjang kelas

b1 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat

sebelumnya

b2 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat

sesudahnya

c. Menentukan Median (Me), dengan rumus:


49

 1 
 n  F 
Me = b + p  2  dimana :
 f 
 
 

Me = Median

n = banyaknya data

F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median

f = Frekuensi kelas median

b = batas bawah kelas median

p = panjang kelas median

d. Variansi (SD) dan Simpangan Baku, dengan rumus:

2
 Yi . fi 
k 2 k
Yi . fi
SD      dan Simpangan Baku (S) = SD
i 1 n  i 1 n 

2. Teknik Pengujian Persyaratan Data

Sebelum melakukan analisis data, maka dilakukan pengujian

persyaratan data, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas

dimaksudkan untuk mengetahui kenormalan kurva distribusi frekuensi,

sedangkan uji homogenitas dimaksudkan untuk memastikan bahwa data

penelitian diperoleh dari sampel-sampel yang homogen dan juga untuk

memperkuat asumsi bahwa semua hal yang mempengaruhi hasil belajar

siswa kecuali hal yang diteliti adalah sama.

a. Teknik Pengujian Normalitas

Untuk Uji Normalitas pada penelitian ini digunakan metode

Liliefors, dengan ketentuan jika nilai Lhitung < Ltabel maka data berasal

dari populasi normal. Nilai Ltabel diperoleh dari uji Liliefors (Sudjana,
50

1996:467). pada penelitian ini digunakan taraf nyata 5% dan jumlah

responden 30 orang, maka nilai Ltabel adalah 0,161. Sedangkan Lhitung

adalah harga terbesar dari │F(zi) – S(zi)│, dimana zi dihitung dengan

xi  x
rumus angka normal baku: zi  ; xi adalah data ke-i; x adalah
s

rata-rata; dan s adalah simpangan baku. Nilai F(zi) adalah luas daerah di

bawah normal untuk z yang lebih kecil dari zi. Sedangkan nilai S(zi)

adalah banyaknya angka z yang lebih kecil atau sama dengan z i dibagi

oleh banyaknya data (n).

b. Teknik Pengujian Homogenitas

Langkah-langkah :

a. Hitung varians kelompok sampel pertama s .


2
1

b. Hitung varians kelompok sampel kedua s .


2
2

c. Tentukan nilai F h itu n g :

2
s1
 F h itu n g  2
, jika s1  s 2
2 2
atau
s2

2
s2
 F h itu n g  2
, jika s 2  s1
2 2
.
s1

d. Tentukan Fta b el  F  , d k ,dk2 


 F  , n  1, n 2  1 
dari tabel distribusi F.
1 1

e. Jika F h itu n g  F ta b e l , maka kedua kelompok sampel homogen, dan

jika F h itu n g  F ta b e l , maka kedua kelompok sampel tidak homogen.

f. Bentuk hipotesis statistik yang akan diuji adalah

: 1   2
2 2
H 0
(Kedua kelompok sampel homogen).
51

H 1 : 1   2
2 2
(Kedua kelompok sampel tidak homogen) .

G. Hipotesa Penelitian dan Teknik Pengujian Hipotesis

Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:

H0 : μ1 = μ2

H0 : μ1 > μ2

Dimana:

μ1: Rata-rata hasil belajar IPA dengan menggunakan metode pembelajaran

problem solving.

μ2: Rata-rata hasil belajar IPA dengan mengunakan metode ceramah

konvensional.

Hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan rumus Fisher (Sudjana,

1996: 242) sebagai berikut:

X x X y
t 

S
1

1 dengan dk = ( NA + NB – 2 ) dimana :
nx ny

X x = rata – rata hasil belajar kelompok A yang menggunakan metode

problem solving.

X y = rata – rata hasil belajar kelompok B yang menggunakan metode

ceramah konvensional.

S = Simpangan baku gabungan

dk = derajat kebebasan

NA = banyaknya data kelompok A

NB = banyaknya data kelompok B


52

Nilai t yang diperoleh dari rumus di atas disebut thitung. Kesimpulan atas

pengujian hipotesis digunakan kriteria pengujian dengan derajat kebebasan

(NA + NB – 2 ) dan taraf signifikan sebesar 5% sebagai berikut.

Terima H0 apabila thitung < t ttabel dan

Tolak H0 apabila atau thitung > ttabel


53

BAB IV

ANALISA HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

1. Hasil Belajar Kelompok Kontrol (Siswa dengan Metode Konvensional)

Dari jawaban 30 siswa yang dijadikan sampel kelompok siswa yang

diajar dengan pendekatan konvensional diperoleh nilai terendah 44 dan

tertinggi 76. Untuk menyusun data tersebut dalam tabel distribusi frekuensi,

maka digunakan aturan Sturgess sehingga diperoleh banyaknya kelas,

rentangan kelas dan panjang kelas yaitu:

a. Banyak kelas : k = 1 + 3,3 Log n

k = 1 + 3,3 Log 30

k = 1 + 3,3 (1,47)

k = 1 + 4,87

k = 5,87  6

b. Rentangan Kelas : 76 – 44 = 32

j 32
c. Panjang Kelas : p    5 , 33  6
k 6

Dari data hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan menggunakan

pendekatan konvensional yang telah dikumpulkan didapat harga rata-rata

sebesar 59,06 dan simpangan baku sebesar 7,97. Untuk lebih jelas dapat

dilihat dalam tabel yang disajikan berikut ini:

53
54

Tabel 4.1. Hasil Belajar IPA Siswa dengan Metode Konvensional

No Y Y2 No Y Y2
1 64 4096 16 68 4624
2 48 2304 17 56 3136
3 68 4624 18 56 3136
4 64 4096 19 44 1936
5 60 3600 20 60 3600
6 48 2304 21 60 3600
7 56 3136 22 64 4096
8 52 2704 23 60 3600
9 64 4096 24 60 3600
10 52 2704 25 60 3600
11 56 3136 26 76 5776
12 52 2704 27 60 3600
13 56 3136 28 60 3600
14 72 5184 29 48 2304
15 52 2704 30 76 5776
JUMLAH 1772 106512

Dari data di atas dapat dianalisis rata-rata, varians dan simpangan baku
sebagai berikut:

a. Rata-rata ( Y i )

Y


 Yi
i
n

1772

30
 59 , 06

b. Varians Sampel

 Y 
2
n  Y1 
2
i
SY 
2

n ( n  1)
55

30 (106512 )  (1772 )
2


30 ( 30  1 )
3195360  3139984

870
55376

870
 63 , 65

c. Simpangan Baku (S Y )

SY  63 , 65

= 7,97

Dari tabel 4.1. maka data yang tersaji dapat dianalisis dengan
menggunakan distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA dengan Metode


Konvensional

Interval Batas Nilai Frekuensi Frekuensi Frekuensi


No Kelas Nyata Tengah Absolut Kumulatif Persentatif
1 44-49 49,5 46,5 4 4 13,33
2 50-55 55,5 52,5 4 8 13,33
3 56-61 61,5 58,5 13 21 43,33
4 62-67 67,5 64,5 4 25 13,33
5 68-73 73,5 70,5 3 28 10,00
6 74-79 79,5 76,5 2 30 6,67

a. Modus

 d1 
Mo = b  p  Keterangan:
 
 d1  d 2 

Mo = Modus

b = Batas bawah kelas modus, yaitu interval terbanyak

p = Panjang kelas

d1 = Frekuensi kelas modus dikurangi kelas interval sebelumnya.


56

d2 = Frekuensi kelas modus dikuragi kelas interval setelahnya.

Dari tabel di atas didapat b = 55,5; p = 6; d1 = 13-4 = 9; dan d2= 13

- 4 = 9, sehingga:

 9 
Mo  55 , 5  6  
9 9

 9 
 55 , 5  6  
 18 

= 55,5 + 3

= 58,5

b. Median

 1 
 n  F 
2
Me  b  p  
 f 
 
 

keterangan:

Me = Median

b = Batas bawah kelas median

p = panjang kelas

n = banyak data

F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median

f = frekuensi kelas median

dari tabel distribusi di atas didapat: b = 55,5; p = 6; n = 30; F = 12; f =

13, sehingga:

 1 
 30  12 
Me  55 , 5  6  2 
 13 
 
 
57

 15  12 
 55 , 5  6  
 13 

= 55,5 + 1,38

= 56,88

Frekuensi absolut

14

13

12

11

10

0 interval
43,5 49,5 55,5 61,5 67,5 73,5 79,5

Gambar 4.1. Histogram Hasil Belajar IPA Siswa dengan Metode

Konvensional
58

2. Hasil Belajar IPA dengan Metode Problem Solving

Dari jawaban 30 siswa yang dijadikan sampel kelompok dengan

pendekatan problem solving diperoleh nilai terendah 60 dan tertinggi 84.

Untuk menyusun data tersebut dalam tabel distribusi frekuensi, maka

digunakan aturan Sturgess sehingga diperoleh banyaknya kelas, rentangan

kelas dan panjang kelas yaitu:

a. Banyak kelas : k = 1 + 3,3 Log n

k = 1 + 3,3 Log 30

k = 1 + 3,3 (1,47)

k = 1 + 4,87

k = 5,87  6

b. Rentangan Kelas : 84 – 60 = 24

j 24
c. Panjang Kelas : p  
k 6

=4

Dari data hasil belajar IPA siswa dengan metode problem solving

yang telah dikumpulkan didapat harga rata-rata sebesar 70,4 dan simpangan

baku sebesar 7,25. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel yang

disajikan berikut ini:


59

Tabel 4.3. Hasil Belajar IPA dengan Metode Problem Solving

No X X No X X
1 72 5184 16 72 5184
2 64 4096 17 68 4624
3 64 4096 18 60 3600
4 64 4096 19 68 4624
5 84 7056 20 60 3600
6 80 6400 21 72 5184
7 84 7056 22 72 5184
8 84 7056 23 68 4624
9 76 5776 24 80 6400
10 64 4096 25 68 4624
11 68 4624 26 72 5184
12 60 3600 27 76 5776
13 68 4624 28 60 3600
14 64 4096 29 72 5184
15 72 5184 30 76 5776
JUMLAH 2112 150208

Dari data di atas dapat dianalisis rata-rata, varians dan simpangan baku
sebagai berikut:

a. Rata-rata ( X i )

X 
 X i
i
n

2112

30
 70 , 4

b. Varians Sampel ( S X2 )

 
2
n X 
2
1
X i

2
S X
n ( n  1)
60

30 (150208 )  ( 2112 )
2


30 ( 30  1 )
4506240  4460544

870
45696

870
 52 , 52

c. Simpangan Baku (S X
)

S X
 52 , 52

= 7,25

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA dengan Metode


Problem Solving

Interval Batas Nilai Frekuensi Frekuensi Frekuensi


No Kelas Nyata Tengah Absolut Kumulatif Persentatif
1 60-63 63,5 61,5 4 4 13,33
2 64-67 67,5 65,5 5 9 16,67
3 68-71 71,5 69,5 6 15 20,00
4 72-75 75,5 73,5 7 22 23,33
5 76-79 79,5 77,5 3 25 10,00
6 80-84 84,5 81,5 5 30 16,67

d. Modus

 d1 
Mo = b  p 
 
 d1  d 2 

Keterangan:

Mo = Modus

b = Batas bawah kelas modus, yaitu interval terbanyak

p = Panjang kelas

d1 = Frekuensi kelas modus dikurangi kelas interval sebelumnya.

d2 = Frekuensi kelas modus dikuragi kelas interval setelahnya.


61

Dari tabel di atas didapat b = 71,5; p = 4; d1 = 7-6 = 1; dan d2= 7 - 3

= 4, sehingga:

 1 
Mo  71 , 5  4  
1 4 

1
 71 , 5  4  
5

= 71,5 + 0,8

= 72,3

e. Median

 1 
 n  F 
2
Me  b  p  
 f 
 
 

keterangan:

Me = Median

b = Batas bawah kelas median

p = panjang kelas

n = banyak data

F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median

f = frekuensi kelas median

dari tabel distribusi di atas didapat: b = 65,5; p = 4; n = 30; F = 9; f = 6,

sehingga:

 1 
 30  9 
2
Me  65 , 5  4  
 6 
 
 
62

 15  9 
 65 , 5  4  
 6 

= 65,5 + 4

= 69,5

Frekuensi absolut

14

13

12

11

10

0 interval
59,5 63,5 67,5 71,5 75,5 79,5 84,5

Gambar 4.1. Histogram Hasil Belajar IPA dengan Metode Problem

Solving
63

B. Pengujian Persyaratan Analisis Data

1. Uji Normalitas

Pengujian normalitas dilakukan terhadap data nilai siswa siswa dengan

metode problem solving dan siswa dengan metode konvensional dilakukan

dengan menggunakan uji Lieliefors. Hal ini untuk mengetahui apakah

kelompok sample berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak

sehingga kelompok sample cukup representatif bagi penelitian. Ada pun

pengujian normalitas untuk kelompok sampel adalah sebagai berikut.

a. Uji Liliefors Kelompok Kontrol (Siswa Dengan Metode

Konvensional)

1) Hipotesis

Ho : Populasi berdistribusi normal

H1 : Populasi berdistribusi tidak normal

2) Analisis Data

Berdasarkan nilai hasil tes mengenai siswa siswa dengan metode

konvensional disusun tabel analisis uji Lieliefors untuk menentukan Lo

yang memuat Zi, F(Zi) dan S(Zi) sebagaimana tampak pada tabel

dengan rumus masing-masing sebagai berikut:

Yi  Y i

Zi = ; dengan = Y = 59,06 dan SY = 7,97


SY

F(Zi) = Ztabel untuk Zi negative, Ztabel untuk Zi positif

Banyaknya Z 1 , Z 2 , Z 3 , ...Z n
yang  Z i
S(Zi) =
n
64

Tabel 4.5. Analisis Uji Liliefors Kelompok Kontrol (Siswa

Dengan Metode Konvensional)

Nilai IF(Zi)-
No Xi f fkum< Zi Tabel F(Zi) S(Zi) S(Zi)I
1 44 1 1 -1,88959 0,4699 0,0301 0,033 0,003
2 48 3 4 -1,3877 0,4162 0,0838 0,133 0,050
3 52 4 8 -0,88582 0,3106 0,1894 0,267 0,077
4 56 5 13 -0,38394 0,148 0,352 0,433 0,081
5 60 8 21 0,117942 0,0438 0,5438 0,700 0,156
6 64 4 25 0,619824 0,2291 0,7291 0,833 0,104
7 68 2 26 1,121706 0,3686 0,8686 0,867 0,002
8 72 1 27 1,623588 0,4474 0,9474 0,900 0,0474
9 76 2 30 2,125471 0,438 0,938 1,000 0,062

3) Menentukan Lo

Dari tabel analisis di atas diperoleh:

L0  F (Z i )  S (Z i ) maksimum = 0,156

4) Menentukan Ltabel

Dari tabel nilai kritis L pada uji Lieliefors untuk n = 30 dan

 =0,05 diperoleh: L tabel  L 0 , 05 ( 30 )  0 ,161

5) Kriteria Pengujian

Tolak Ho jika Lo < L tabel

6) Kesimpulan

Karena nilai Lo = 0,156 dan L tabel  L 0 , 05 ( 30 )  0 ,161 yang

menunjukkan bahwa Lo < L tabel maka Ho diterima pada  =0,05.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel kelompok

kontrol (siswa siswa dengan metode konvensional) berasal dari

populasi berdistribusi normal.


65

b. Uji Normalitas Nilai Hasil Tes Belajar Kelompok Eksperimen (Siswa

Dengan Metode Problem Solving )

1) Hipotesis

Ho : Populasi berdistribusi normal

H1 : Populasi berdistribusi tidak normal

2) Analisis Data

Berdasarkan nilai hasil belajar IPA disusun tabel analisis uji

Lieliefors untuk menentukan Lo yang memuat Zi, F(Zi) dan S(Zi)

sebagaimana tampak pada tabel dengan rumus masing-masing

sebagai berikut:

X i
 X i
Zi = ;
S X

dengan = X = 70,4 dan S X


= 7,24

F(Zi) = Ztabel untuk Zi negative

Ztabel untuk Zi positif

Banyaknya Z 1 , Z 2 , Z 3 , ...Z n
yang  Z i
S(Zi) =
n

3) Menentukan Lo

Dari tabel analisis di atas diperoleh:

L0  F (Z i )  S (Z i ) maksimum = 0,146

4) Menentukan Ltabel

Dari tabel nilai kritis L pada uji Lieliefors untuk n = 30 dan  =0,05

diperoleh:
66

L tabel  L 0 , 05 ( 30 )  0 ,161

5) Kriteria Pengujian

Tolak Ho jika Lo > L tabel

6) Kesimpulan

Karena nilai Lo = 0,146 dan L tabel  L 0 , 05 ( 30 )  0 ,161 yang menunjuk-

kan bahwa Lo < L tabel maka Ho diterima pada  = 0,05. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa sampel dari kelompok

eksperimen (siswa dengan metode problem solving ) berasal dari

populasi berdistribusi normal.

Tabel 4.6. Analisis Uji Liliefors Hasil Belajar Kelompok Eks-


Perimen (Siswa Dengan Metode Problem Solving )
Nilai IF(Zi)-
No Xi f fkum< Zi Tabel F(Zi) S(Zi) S(Zi)I
1 60 4 4 -1,43646 0,4236 0,0764 0,133 0,057
2 64 5 9 -0,88398 0,3106 0,1894 0,300 0,111
3 68 6 15 -0,33149 0,1293 0,3707 0,500 0,129
4 72 7 22 0,220994 0,0871 0,5871 0,733 0,146
5 76 3 25 0,773481 0,2794 0,7794 0,833 0,054
6 80 2 27 1,325967 0,4066 0,9066 0,900 0,007
7 84 3 30 1,878453 0,4693 0,9693 1,000 0,031

2. Uji Homogenitas

Untuk menguji kesamaan varians (uji homogenitas) dilakukan

terhadap data kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk

mengetahui homogenitas varians kelompok sampel. Dalam penelitian

pengujian dilakukan dengan menggunakan uji F. Langkah-langkah :

a. Bentuk hipotesis statistik yang akan diuji adalah


67

: 1   2
2 2
H 0
(Kedua kelompok sampel homogen).

H 1 : 1   2
2 2
(Kedua kelompok sampel tidak homogen) .

b. Hitung varians kelompok sampel pertama  s  = 63,53


2
1

c. Hitung varians kelompok sampel kedua  s  = 52,42


2
2

d. Tentukan nilai F h itu n g :

d. Tentukan Fta b el  F  , d k ,dk2 


 F  , n  1, n 2  1 
=1,85
1 1

Berdasarkan hasil perhitungan, F h itu n g  F ta b e l (1,21<1,85), maka kedua

kelompok sampel homogen.

D. Pengujian Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis penelitian menggunakan uji-t dimana thitung > ttabel,,

Hasil analisis data t = 22,24 sedangkan (0,05)(28) = 1,70. Dapat disimpulkan

bahwa hasil belajar IPA siswa dengan metode problem solving berpengaruh

positif dibandingkan dengan hasil belajar siswa siswa dengan pendekatan

konvensional.

Hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan rumus Fisher (Sudjana,

1996: 242) sebagai berikut:

X x  X y
t 
1 1
S 
nx ny

Pengujian Hipotesis Penelitian


68

1. Hipotesis

H0 : μx = μy

H1 : μx  μy

Keterangan :

μx : Rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen

μy : Rata-rata hasil belajar kelompok kontrol

2. Menentuan harga thitung

Pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus :

X x  X y
t 
1 1
S 
nx ny

( n x  1) S x  ( n y  1) S y
2 2
( 30  1 ) 52 , 42  ( 30  1 ) 63 , 53
S2= 
nx  ny  2 30  30  2

1520 ,11  1842 ,11


S2 =
58

= 57,97

S = 7,61

Maka :

70 , 4  59 , 06
t 
1 1
7 , 61 
30 30
11 , 34

7 , 61 ( 0 , 067 )
 22 , 24

Untuk α = 0,05 dan dk = 28 didapat dari tabel harga ttabel = 1,70 sedangkan

thitung = 22,24. Jadi thitung > ttabel, Hal ini berarti tolak H0, terima H1, Sehingga
69

dapat ditarik kesimpulan, hasil belajar IPA siswa dengan metode problem

solving berpengaruh positif dibandingkan dengan siswa siswa dengan

pendekatan konvensional.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Di antara banyak metode, metode pembelajaran yang memungkinkan

untuk memberikan peserta didik memperoleh pengetahuan dasar, belajar

secara aktif, mandiri dan peserta didik yang mampu berpikir kritis dan

mengembangkan inisiatif adalah metode pembelajaran problem solving atau

metode pemecahan masalah. Metode problem solving adalah cara penyajian

bahan pelajaran dengan menjadikan maslaah sebagai titik tolak pembahasan

untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecaha atau

jawabannya oleh siswa (Sadirman dkk, 1991:146).

Metode problem solving merupakan metode pembelajaran yang lebih

memfokuskan kegiatan yang berpusat pada siswa. Langkah-langkah yang

digunakan dalam pembelajaran ini adalah menempatkan siswa sebagai subjek

bukan sebagai objek belajar. Siswa secara aktif dilibatkan untuk mengajukan

atau merumuskan permasalahan. Sementara guru lebih bertindak sebagai

fasilitator yang membantu siswa jika ada kesulitan. Sehingga hasil yang

diperoleh lebih berbekas dalam pikiran siswa, selanjutnya dapat diperoleh

hasil belajar yang tinggi.

Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang

signifikan penerapan metode problem solving dalam pembelajaran terhadap

hasil belajar IPA di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta. Kondisi rata-rata


70

hasil belajar IPA yang diajar dengan menggunakan metode konvensional

menunjukkan angka yang kurang baik yakni 59,06. Nilai rata-rata tersebut

tentunya masih jauh di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang

ditetapkan di sekolah untuk mata pelajaran IPA sebesar 70,00. Sementara itu,

nilai rata-rata hasil belajar IPA yang diajar dengan menggunakan metode

problem solving menunjukkan hasil sebaliknya. Nilai rata-rata peserta didik

sebesar 70,4 sudah berada di atas KKM meskipun tidak signifikan.

Setidaknya, dengan metode pembelajaran problem solving terjadi peningkatan

hasil belajar yang lebih baik.

Selanjutnya, jika ditinjau dari pengujian hipotesis penelitian

membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pengajaran dengan

menggunakan metode problem solving terhadap hasil belajar IPA peserta

didik. Dari hasil uji-t diperoleh angka sebesar 22,24 yang jauh lebih besar dari

nilai ttabel sebesar 1,70 yang membuktikan bahwa pengaruhnya cukup

signifikan. Selisih antara hasil belajar antara yang diajar dengan metode

konvensional dan problem solving cukup lebar yakni sebesar 11,34 poin.

Hasil ini membuktikan bahwa metode problem solving cocok

digunakan pada peserta didik kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.

Pembelajaran problem solving dikelompokan dalam 4 jenis model

pembelajaran yang wajib dikuasai guru. Pengertian model pembelajaran

problem solving disini diartikan sebagai pembelajaran yang menggunakan

masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka

(open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan

keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan


71

sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh

pengetahuan baru. Pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran

konvensional yang jarang menggunakan masalah nyata atau menggunakan

masalah nyata hanya di tahap akhir pembelajaran sebagai penerapan dari

pengetahuan yang telah dipelajari. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan

atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar.


72

BAB V

PENUTUP

Interpretasi dapat dibahas berdasarkan hasil pengujian dan hipotesis. Hasil

pembahasan dapat dijadikan bahan referensi. Dasar perumusan kesimpulan,

implikasi serta saran-saran bagi penelitian lain atau penelitian lanjutan.

Interpretasi dari pembahsan tersebut adalah:

A. Simpulan

Penelitian ini mecoba menguji pengaruh metode pembelajaran problem

solving terhadap hasil belajar IPA peserta didik pada siswa kelas VIII SMP Al

Irsyad Al Islamiyyah Jakarta. Berdasarkan penafsiran dan pengujian hipotesis

maka hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Kondisi rata-rata hasil belajar IPA peserta didik yang diajar dengan

metode konvensional kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta

tergolong kurang baik. Hal ini dibuktikan oleh nilai rata-rata= 59,06;

simpangan baku sebesar 7,97; median dan modus masing-masing sebesar

56,88 dan 58,5.

2. Kondisi rata-rata hasil belajar IPA peserta didik yang diajar dengan

metode problem solving kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta

tergolong baik. Hal ini dibuktikan oleh nilai rata-rata= 70,40; simpangan

baku sebesar 7,25; median dan modus masing-masing sebesar 69,5 dan

72,3.

72
73

3. Terdapat pengaruh yang signifikan metode problem solving terhadap hasil

belajar IPA pada siswa kelas VIII SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta.

Hal ini dibuktikan dengan oleh t hitung  22 , 24 . lebih besar dari ttabel = 1,7.

B. Implikasi

Hasil penelitian ini dapat memberikan implikasi terhadap proses belajar

mengajar, yaitu metode pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat

penting dalam proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Oleh

karena itu jenis metode yang tepat dalam pembelajaran akan membangkitkan

semangat peserta didik dalam belajar dan pada akhirnya menghasilkan

pembelajaran yang bermakna serta hasil belajar yang baik. Salah satu metode

pembelajaran yang patut untuk dipertimbangkan penggunaannya adalah

metode problem solving, dimana dari hasil penelitian yang telah dilakukan

telah berhasil menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan dibandingkan

dengan metode konvensional.

C. Saran

Diamati dari hasil penelitian maka saran yang bisa penulis ajukan yaitu,

setiap tenaga guru mampu melakukan berbagai pendekatan yang efektif dan

efisien dalam proses pembelajaran di kelas. Seperti telah dijelaskan di atas

bahwa pendekatan dalam belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting

dalam kesuksesan belajar peserta didik. Metode problem solving atau metode

yang lain yang bervariatif akan menjadikan peserta didik tidak merasa jenuh

dalam belajar.
74

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2007. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pebelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati&Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

D. Sudjana. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production.

Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.

Ibnu Hadjar. 1995. Metodologi Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: Grafindo.

Jasin, Maskoeri. 2006. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kanginan, Marthen. 2004. Fisika SMP. Jakarta: Erlangga.

Novianti, Ike. 2006. Buku Panduan Primagama. Jogjakarta: Primagama.

Purwanto, Ngalim. 2003. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.

Sadirman, N. Dkk. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta

Sadirman, N, dkk. 1991. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sagala, Syaiful. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.


Bandung: Alfabeta.

Santoso, Soegeng. 2000. Permasalahan Pendidikan dan Cara Pemecahannya.

Safari. 2004. Penulisan Butir Soal Berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi.


Depdiknas, Jakarta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar Cet. 14.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

Winkel, WS. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

74
75

Syah, Darwyan dkk. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Diadit Media.

................ Pengertian Sains untuk Sekolah Menengah Pertama.

([Link]

................. Ilmu Pengetahuan Alam. [Link]

Kamala. Izzatin. Pengertian Pendidikan IPA dan Perkembangannya. [Link]


[Link]. 17 Juli 2008.

Anda mungkin juga menyukai