0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Dongeng Rakyat

Dokumen ini membahas pentingnya membacakan cerita rakyat Indonesia kepada anak-anak untuk mengenalkan budaya dan nilai moral. Beberapa cerita rakyat yang disorot termasuk Danau Toba, Malin Kundang, Sangkuriang, dan Keong Mas, yang masing-masing mengandung pesan moral yang mendalam. Cerita-cerita ini juga mencerminkan kekayaan warisan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Dongeng Rakyat

Dokumen ini membahas pentingnya membacakan cerita rakyat Indonesia kepada anak-anak untuk mengenalkan budaya dan nilai moral. Beberapa cerita rakyat yang disorot termasuk Danau Toba, Malin Kundang, Sangkuriang, dan Keong Mas, yang masing-masing mengandung pesan moral yang mendalam. Cerita-cerita ini juga mencerminkan kekayaan warisan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Membacakan beragam cerita rakyat khas Indonesia kepada Si Kecil sejak dini

merupakan langkah bagus untuk mengenalkan budaya dan warisan dari berbagai
wilayah di Indonesia lho, Bunda. Tak hanya itu, selain menambah perbendaharaan
kosa kata mereka, cerita rakyat dari berbagai wilayah ini juga mengandung banyak
pesan moral yang menyesuaikan adat istiadat setempat.

Bunda dapat mengajarkan nilai-nilai kebaikan melalui cerita dongeng rakyat tersebut
kepada Si Kecil. Hampir setiap wilayah di Indonesia memiliki cerita rakyat yang
secara turun temurun diceritakan. Nah apa saja cerita rakyat terbaik dan menarik
dari berbagai daerah di Indonesia?

Simak kumpulan cerita rakyat dari daerah-daerah di Indonesia berikut ini ya, Bunda.

1. Cerita rakyat Indonesia, Danau Toba dari


Sumatera Utara
Cerita rakyat terkenal asal Sumatera Utara berikut dikutip dari buku Dongeng
Nusantara, penerbit Bestari (2009).

Pada zaman dahulu, di sebuah desa di Sumatera Utara hiduplah seorang petani
bernama Toba. Ia bekerja sebagai petani dan menangkap ikan. Setiap sorea
selesai menggarap ladang, ia menuju sungai dekat rumahnya. Namun hari itu amal
sial, seharian ia duduk di tepi sungai, tak seekor pun ikan mau menyantap umpan
kailnya.

Toba sangat kesal dan mulai putus asa. Akhirnya ia memutuskan pulang. Anehnya,
baru saja akan bangkit, tiba-tiba kailnya ditarik ke dasar sungai. Karena tarikannya
terasa berat, ia yakin akan menangkap ikan besar. Benar saja, setelah ia angkat,
seekor ikan mas sebesar paha manusia menggelepar-gelepar di hadapannya.
Betapa senangnya Toba. Segera dibawanya ikan tersebut pulang.

Baca Juga :20 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik

Sesampainya di rumah, sebuah keajaiban terjadi. Ketika ia hendak memotong ikan


itu, tiba-tiba ikan tersebut dapat berbicara. “Tolong jangan bunuh aku. Nanti aku
akan membantu kehidupanmu.”

Toba terheran-heran. “Tapi aku lapar. Aku butuh lauk untuk makan hari ini.” Kata
Toba.
“Nanti akan ku sediakan makanan untukmu. Lepaskanlah aku.” Jawab ikan itu
mengiba. Toba yang kasihan padanya akhirnya melepaskan kembali ikan tersebut
ke sungai.

Ajiab. Setibanya di rumah, terhidang makanan lengkap di meja. Bahkan di dapur ada
seorang wanita cantik jelita yang sedang memasak.

“Terima kasih kau telah menolongku. Aku adalah wanita jelmaan ikan itu. Sekarang
aku mengabdi kepadamu.” Ujarnya. Wanita tersebut ternyata merupakan seorang
putri yang dikutuk menjadi ikan.

Beberapa waktu kemudian, Toba ingin sekali menikahi wanita cantik itu. Wanita itu
setuju namun ia mengajukan sebuah syarat.

“Jangan sekali-sekali kau mengatakan asal-usulku dari mana, sekalipun kepada


anak kita nanti. Bila kau langgar maka akan terjadi sebuah bencana.” Toba
menyanggupi hal tersebut.

Tidak lama, mereka kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama
Samosir. Mereka hidup bahagia. Tetapi karena Samosir hidup dimanja, ia tumbuh
menjadi anak yang malas. Bahkan tingkahnya cenderung nakal.

Suatu hari, ibunya menyuruh Samosir untuk mengantarkan nasi untuk ayahnya.
Karena dipaksa, kali ini Samosir mau melaksanakannya. Namun di tengah jalan, ia
merasa lapar dan memakan makanan tersebut.

Di sisi lain, Toba yang merasa lapar tak sabar menanti-nanti. Berkali-kali ia
menengok ke ujung jalan, dan ketika Samosir datang ia hanya menyerahkan nasi
sisa. Betapa marahnya Toba, “Anak kurang ajar. Berani benar kau memberi ayahmu
nasi sisa! Dasar anak keturunan ikan!”

Lalu dipukulnya Samosir hingga ia menangis. Samosir kemudian segera pulang dan
menemui ibunya dan mengadukan apa yang terjadi.

Ibunya terperanjat. Tiba-tiba petir menyambar langit. Seketika angkasa menggelap.


Cepat-cepat wanita itu menyuruh Samosir naik ke bukit paling tinggi.

“Cepatlah Nak! Selamatkan dirimu!” teriaknya. Samosir segera berlari menuju bukit.
Lalu turunlah hujan amat lebatnya. Wanita itu segera terjun ke dalam sungai dan
kembali berubah menjadi ikan.

Sungai mendadak bergolak. Toba ketakutan, dan teringatlah ia pada janjinya yang
sudah ia langgar. Tapi sudah terlambat, air sungai terus meluap dan
menenggelamkan seluruh desa. Lama-kelamaan genangan air itu membentuk
sebuah danau bernama Danau Toba. Sedangkan pulau di tengah-tengahnya
dinamakan Pulau Samosir.
2. Dongeng Malin Kundang yang berasal dari
Sumatera Barat
Dongeng rakyat nusantara yang terkenal berjudul Malin Kundang berikut dikutip dari
buku Cerita Rakyat Nusantara 34 Provinsi oleh Penerbit Ruang Kata Imprint Kawan
Pustaka (2017).

Alkisah di wilayah pesisir pantai wilayah Sumatera, hiduplah Ibu Rubayah dan
anaknya bernama Malin Kundang. Suami Ibu Rubayah sudah lama meninggalkan
mereka dan tak pernah kembali sejak itu.

Malin Kundang dan ibunya hidup sederhana berbekal berjualan kue di pasar untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kelak jika sudah besar aku ingin merantau. Aku harus mengubah nasib!” kata Malin
Kundang suatu hari.

Ketika menginjak remaja, sebuah kapal besar merapat di pantai. Malin terkagum-
kagum memandangnya. Hari itu juga ia pamit pada ibunya untuk ikut dalam kapal
itu.

Ibu Rubayah semula melarangnya. “Ini kesempatan baik bagi saya, Ibu!” ujar Malin
Kundang. “Belum tentu setahun sekali ada kapal besar singgah di sini.” Lanjutnya.

Akhirnya dengan berat hati, Ibu Rubayah mengizinkannya. Air matanya berlinang
saat mengantarkan Malin Kundang menaiki kapal itu. Tak lupa ia membekali tiga
bungkus nasi untuk bekal di perjalanan.

Ketika kapal berangkat, Ibu Rubayah hanya bisa melambaikan tangannya sambil
menangis hingga kapal itu menghilang di kejauhan.

Bertahun-tahun berlalu dengan cepatnya. Setiap hari Ibu Rubayah memandang ke


laut berharap anaknya pulang. Tapi tak ada kapal besar merapat ke pantai.

Kabar Malin Kundang pun tak jelas, Ibu Rubayah pun semakin tua.

Tapi dengan setia, ia tetap datang ke pantai setiap hari menantikan anaknya pulang.

Hingga suatu hari tersiar kabar dari seorang nakhoda kapal bahwa Malin Kundang
telah kaya raya dan menikah dengan gadis cantik putri seorang bangsawan. Betapa
bahagianya hati Ibu Rubayah mendengar hal tersebut.

Kemudian tak lama setelah itu, sebuah kapal besar dan mewah merapat di pantai.
Orang-orang ramai menyambut, itulah kapal Malin Kundang.

Di anjungan kapal, Malin Kundang menggandeng tangan wanita cantik berpakaian


gemerlapan.
Ibu Rubayah menguak keramaian dan berusaha menemui anaknya. “Malin, anakku!”
serunya.

Namun Malin Kundang tak menggubrisnya, istrinya bahkan meludah melihat Ibu
Rubayah. “Cuih! Perempuan buruk inikah ibumu? Mengapa kau bohong padaku?
Bukankah kau dulu berkata bahwa ibumu bangsawan sederajat dengan kami?”

Betapa malunya Malin Kundang mendengar perkataan istrinya itu. Apalagi setelah
melihat pakaian Ibu Rubayah yang dekil dan compang-camping.

Untuk menutupi rasa malunya, ia berkata “Bukan, dia bukan ibukku!” lalu diusirnya
Ibu Rubayah dengan kasar.

“Hei, perempuan dekil! Enyah kau dariku! Ibuku tidak melarat sepertimu!” bahkan
Malin Kundang sampai menendang ibunya.

Setelah itu, Malin Kundang memerintahkan anak buahnya agar kembali berlayar.
Betapa sedih hati Ibu Rubayah. Ia menangis sambil meratap, “Ya tuhan, kalau dia
memang anakku, aku mohon keadilan-Mu!”

Tak lama kemudian, tiba-tiba turunlah hujan badai amat dahsyatnya. Kapal Malin
Kundang disambar petir dan pecah dihantam gelombang besar.

Pecahan kapalnya menyebar ke tepi. Setelah terang, tampak sebongkah batu


menyerupai manusia terdampar di pinggir pantai. Itulah tubuh Malin Kundang yang
dikutuk menjadi batu.

. Cerita Rakyat Indonesia Sangkuriang yang berasal


dari Jawa Barat
Cerita Rakyat asal Jawa Barat berikut berjudul Sangkuriang dikutip
dari Sangkuriang Seri Cerita Rakyat Nusantara, penerbit JP Books (2012).

Setelah tinggal di istana bertahun-tahun, Dayang Sumbi memutuskan hidup menjadi


pertapa di tengah hutan. Ia ditemani anjing bernama Tumang.

Tumang adalah pangeran dari Kayangan yang dikutuk menjadi anjing. Untuk
mengisi waktu luang, Putri Kerajaan Parahyangan berwajah cantik itu menenun kain.
Ketika sedang asyik menenun, tiba-tiba alat pintal benangnya terjatuh. Karena malas
mengambil, Dayang Sumbi berkata, “Siapa yang mau mengambilkan alat pintalku,
jika ia perempuan akan kujadikan adikku. Jika ia laki-laki, kujadikan suamiku!”

Si Tumang mendengar perkataan Dayang Sumbi. Segera diambilkannya alat pintal


itu. Betapa terkejutnya Dayang Sumbi setelah mengetahui yang menyerahkan alat
itu adalah anjingnya. Tapi ia tidak dapat mengelak dari janjinya hingga mau tidak
mau menikah dengan Si Tumang.
Setelah mendapat tawaran untuk menikah, Tumang dapat berubah wujud menjadi
manusia. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak lelaki berwajah tampan
dan diberi nama Sangkuriang.

Suatu hari Dayang Sumbi ingin sekali makan hati rusa. disuruhnya Sangkuriang
mencarikannya. Ditemani Si Tumang, Sangkuriang berburu ke hutan. Seharian ia
berjalan, tak juga menemukan rusa. Karena putus asa dipanahnya Si Tumang dan
diambilnya hatinya.

Ia tidak tahu kalau anjing itu ayahnya. Sampai di rumah diserahkannya hati itu pada
ibunya. Dayang Sumbi langsung memasak dan memakannya. Setelah itu ia
bertanya, di mana Tumang? Sangkuriang menjelaskan bahwa yang dimakan ibunya
itu adalah hati Si Tumang. Betapa marahnya Dayang Sumbi. Ia memukul kepala
Sangkuriang hingga terluka.

Dengan perasaan sedih Sangkuriang pergi meninggalkan ibunya. Bertahun-tahun ia


mengembara berusaha melupakan kemarahan ibunya dengan menimba berbagai
ilmu kesaktian.

Hingga suatu hari bertemulah ia dengan wanita cantik di tepi telaga. Wanita itu tidak
lain ibunya sendiri yang oleh dewa dikaruniai wajah awet muda. Mereka sama-sama
jatuh cinta dan ingin menikah.

Tapi ketika memeriksa kepala Sangkuriang, betapa terkejutnya Dayang Sumbi. Ia


mengenali bekas luka itu. “Kau adalah anakku, dan aku ibumu. Tak mungkin kita
menikah.” Kata Dayang Sumbi. Sangkuriang tak percaya. Ia tetap ingin mengawini
wanita itu karena terlanjut jatuh cinta.

Untuk membatalkan niat Sangkuriang, Dayang Sumbi meminta syarat. Ia mau


dinikahi asal Sangkuriang mampu membuatkan telaga besar dan perahu di atas
bukit dalam waktu semalam.

Lewat kesaktiannya dan dibantu ribuan jin, Sangkuriang memenuhi permintaan itu.
Dayang Sumbi pun semalaman berdoa kepada dewa agar membatalkan niat
Sangkuriang.

Doanya dikabulkan, matahari terbit lebih cepat dari biasanya hingga menggagalkan
pekerjaan Sangkuriang. Karena tidak berhasil menikahi Dayang Sumbi, dengan
kesal Sangkuriang menendang perahu buatannya. Perahu itu terbalik dan menutup
telaga yang belum selesai lalu berubah menjadi gunung besar yang kini dikenal
sebagai Tangkuban Perahu.
Cerita
Nusantara Keong Mas/ Foto: HaiBunda/ Mia Kurnia Sari

4. Cerita Keong Mas Singkat, dongeng legenda Jawa


Timur
Cerita rakyat pendek berjudul Keong Mas berikut dikutip dari buku Dongeng Mini
Nusantara Keong Mas, penerbit Bhuana Ilmu Populer (2013).

Dahulu kala di Kerajaan Daha, ada dua putri bernama Galuh Ajeng dan Candra
Kirana. Galuh Ajeng iri pada Candra Kirana yang bertunangan dengan Pangeran Inu
Kertapati.

Disuruhnya nenek sihir jahat untuk mengutuk saudaranya menjadi keong mas.

Suatu hari, seorang nenek tua mencari ikan di sungai. Bukannya ikan yang
ditangkap, justru seekor keong mas yang didapat. Keong mas itu lantas dibawa
pulang dan dipelihara dengan aman.

Esok harinya si nenek mencari ikan lagi. Nasib baik belum datang, si nenek pulang
ke rumah dalam keadaan lapar. Namun alangkah terkejutnya ia, ketika melihat
banyak makanan telah terjadi di meja makan.

Berkali-kali keajaiban ini terjadi. Hingga suatu si nenek berpura-pura pergi, lalu ia
kembali dan mengintip. Ternyata, keong mas yang didapatkan itu berubah wujud
menjadi seorang putri yang cantik.

Di sisi lain, Pangeran Inu Kertapati bingung karena tunangannya telah hilang. Ia
lantas menyamar menjadi seorang rakyat jelat untuk mencari Putri Candra Kirana.
Kakek Sakti kemudian memberitahu sang pangeran bahwa sang putri berada di
Desa Dadapan.

Pangeran Inu Kertapati akhirnya berhasil menemukan sang pujaan hati. Begitu
mereka bertemu, kekuatan sihir pun hilang. Pangeran lantas memboyong Putri
Candra Kirani ke istana dan mereka hidup bahagia selamanya.

Anda mungkin juga menyukai