SCREENING
Cholifa : Bd0160123
Elis Triani : Bd0110123
Vina Nursavina : Bd0030123
Ririn : Bd0100123
PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN
FAKULTAS KEBIDANAN
AKADEMI ISMA HUSADA CIREBON
1. Pengertian
screening kesehatan adalah sejumlah tes kesehatan yang dokter gunakan untuk
memeriksa penyakit dan kondisi kesehatan sebelum muncul tanda atau gejala
apapun.
Pemeriksaan ini membantu menemukan masalah kesehatan sejak dini, sehingga
masalah tersebut lebih mudah untuk diobati.
Ada banyak jenis screening kesehatan. Menjalani pemeriksaan yang
direkomendasikan sesuai usia, jenis kelamin dan riwayat kesehatan kamu adalah
salah satu hal terpenting untuk menjaga kesehatan kamu.
Skrining ini dapat dilakukan pada masyarakat usia produktif, yaitu usia 30 tahun
ke atas hingga usia lanjut. Lansia merupakan inidividu yang rentan mengalami
penyakit tidak menular disebabkan semakin meningkatnya umur, maka fungsi
fisiologis akan terus menurun akibat dari proses penuaan. Di Indonesia, penyakit
yang sering terjadi pada lansia misalnya hipertensi, artritis, stroke, penyakit paru
obstruktif kronis (PPOK), dan diabetes melitus (Riskesdas 2018). Akses
pelayanan kesehatan yang terbatas dan minimnya pengetahuan akan kesehatan
juga menjadi faktor risiko tingginya PTM pada lansia.
Skrining merupakan pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang
yang sehat dari orang yang mempunyai keadaan patologis yang tidak terdiagnosis
atau mempunyai resiko tinggi. Skrining merupakan proses yang dimaksudkan
untuk mengidentifikasi penyakit – penyakit yang tidak diketahui/tidak terdeteksi
dengan menggunakan berbagai test/uji yang dapat diterapkan secara tepat dalam
sebuah skala yang besar. Menurut Rochjati (2008), skrining merupakan
pengenalan dini secara proaktif untuk menemukan adanya masalah atau !aktor
resiko. Sehingga skrining dapat dikatakan sebagai usaha untuk mengidentifikasi
penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes
atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan
orang yang terlihat sehat atau benar-benar sehat tapi sesungguhnya menderita
kelainan Skrining merupakan salah satu cara yang digunakan dalam epidemiologi
untuk mengetahui prevalensi suatu penyakit yang tidak dapat didiagnosis atau
keadaan ketika angka kesakitan tinggi pada suatu kelompok individu atau
masyarakat yang beresiko tinggi serta pada keadaan yang kritis dan serius yang
memerlukan penanganan segera. Namun demikian, masih harus dilengkapi
dengan pemeriksaan lain untuk menentukan diagnosis definitif. Berbeda dengan
diagnosis, yang merupakan suatu tindakan untuk menganalisis suatu
permasalahan, mengidentifikasi penyebabnya secara tepat untuk tujuan
pengambilan keputusan dan hasil. Keputusan tersebut dilaporkan dalam bentuk
deskriptif. Skrining bukanlah diagnosis, sehinggga hasil yang diperoleh betul-
betul hanya didasarkan pada hasil pemeriksaan tes skrining tertentu, sehingga
kepastian diagnosis klinis dilakukan kemudian secara terpisah, jika hasil dari
skrining tersebut menunjukkan hasil yang positif.
2. Tujuan
Penelitian uji diagnostik dan skrining mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk
menilai validitas dan reliabilitas suatu test dalam mendeteksi kemungkinan adanya
suatu penyakit secara lebih dini (deteksi dini).Validitas meliputi sensitifitas dan
spesifisitas. Sensitifitas adalah kemampuan suatu test untuk menyatakan positif
pada orang-orang yang sakit, sedangkan spesifisitas adalah kemampuan suatu test
untuk menyatakan negatif orang-orang yang tidak sakit. Reliabilitas meliputi
penilaian terhadap bias interobserver dan bias intraobserver. Bias interobserver
adalah perbedaan hasil ukur antar observer, sebaliknya bias intra observer adalah
perbedaan hasil ukur oleh observer yang sama pada waktu yang berbeda pada
subjek yang sama. Uji reliabilitas dalam penulisan ini disampaikan pada bagian
akhir, walaupun demikian sebaiknya dilakukan pada awal studi sebelum uji
diagnosis dilaksanakan. Selain validitas dan reliabilitas juga akan dipelajari
tentang efikasi suatu test jika nanti diterapkan pada suatu populasi. Efikasi
meliputi nilai prediktif test positif (NPP) dan nilai prediktif test negatif (NPN).
Skrining mempunyai tujuan, diantaranya:
Menemukan orang yang terdeteksi menderita suatu penyakit sedini mungkin
untuk memperbaiki prognosis, karena pengobatan dilakukan sebelum penyakit
memepunyai manifestasi klinis sehingga dapat dengan segera memperoleh
pengobatan, memungkinkan intervensi lebih awal dengan harapan untuk
mengurangi angka kematian dan penderitaan dari penyakit
Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat
Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini
mungkin
Mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas kesehatan tentang sifat
penyakit dan untuk selalu waspada melakukan pengamatan terhadap gejala dini
Mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi klinis dan peneliti
Beberapa manfaat tes krining di masyarakat antara lain
Biaya yang dikeluaran relative murah serta dilaksanakan dengan efektif
Tes skrining dapat lebih cepat memperoleh keterangan tentang sifat dan situasi
penyakit dalam masyarakat untuk usaha penanggulangan penyakit yang akan
timbuk
Skrining juga dapat mendeteksi kondisi medis pada tahap awal sebelum gejala
ditemukan sehingga pengobatan lebih efektif ketika penyakit tersebut sudah
terdeteksi keberadaannya.
3. Cara melakukan screening
Pada sekelompok individu yang tampak sehat, dilakukan pemeriksaan (tes) dan
hasil tes dapat positif atau negative. Individu dengan hasil tes yang negatif pada
suatu saat dapat dilakukan tes ulang, sedangkan pada individu dengan hasil tes
yang positif dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan bila
hasilnya positif maka pengobatan secara intensif, sedangkan pada individu dengan
hasil tes yang negatif, dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai semua penderita
terjaring. Tes skrining pada umumnya dilakukan secara masal pada suatu
kelompok populasi tertentu yang menjadi sasaran skrining. Namun demikian bila
suatu pen yakit diperkirakan mempunyai sifat risiko tinggi pada kelompok
populasi tertentu, maka tes ini dapat pula dilakukan secara selektif (misalnya
khusus pada wanita dewasa) maupun secara random yang sarannya ditujukan
terutama kepada m e r e k a d e n
Uji skrining terdiri dari 2 tahap, yaitu
Tahap pertama melakukan pemeriksaan terhadap sekelompok penduduk yang
dianggap mempunyai risiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil tes negatif,
maka dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
Bila hasil tes positif, maka dilakukan pemeriksaan tahap kedua, yaitu
pemeriksaan diagnostik. Apabila hasil tes positif maka dianggap sakit dan
mendapatkan pengobatan, tetapi bila hasil tesnya negatif, maka dianggap tidak
sakit dan tidak memerlukan pengobatan. Bagi hasil pemeriksaan negatif,
dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik. Hal ini berarti bahwa proses
skrining merupakan pemeriksaan pada tahap awal.
4. Tes diagnostic
Untuk banyak orang, skrining secara naluriah tampaknya seperti hal yang tepat
untuk dilakukan, karena menangkap sesuatu yang sebelumnya tampaknya lebih
baik. Namun, tidak ada tes skrining yang sempurna. Akan selalu ada masalah
dengan hasil yang salah dan masalah lain yang tercantum diatas. Sebelum
program skrining diimplementasikan, itu idealnya harus melihat untuk
memastikan bahwa menempatkan di tempat akan melakukan lebih baik daripada
bahaya. Penelitian terbaik untuk menilai apakah tes skrining akan meningkatkan
kesehatan populasi adalah ketat uji coba terkontrol secara acak. Ketika
mempelajari program skrining menggunakan kasus kontrol atau lebih umum,
penelitian kohort, berbagai faktor dapat menyebabkan tes skrining untuk tampil
lebih berhasil daripada yang sebenarnya. Sejumlah bias yang berbeda, yang
melekat dalam metode penelitian, hasil akan miring.
Skrining pasti bisa meningkatkan hasil, tetapi ini harus dikonfirmasi dengan
analisis statistik yang tepat, bukan perbandingan sederhana angka.
a. Bias lead time Bias lead time menyebabkan kelangsungan hidup lebih lama
dirasakan dengan skrining, bahkan jika perjalanan penyakit tidak diubah. Tujuan
dari skrining adalah untuk mendiagnosa penyakit lebih awal dari itu membuatnya
tanpa penyaringan. Tanpa skrining penyakit ini dapat ditemukan kemudian, ketika
gejala muncul. Bahkan jika dalam kedua kasus seseorang akan mati pada saat
yang sama, karena kita didiagnosis penyakit ini sebelumnya dengan skrining
waktu kelangsungan hidup sejak diagnosis yang lebih lama dengan skrining,
tetapi masa hidup belum diperpanjang, dan akan ditambahkan kecemasan sebagai
pasien harus hidup dengan pengetahuan tentang penyakit lebih lama. Melihat
statistik waktu kelangsungan hidup sejak diagnosis, pemeriksaan akan
menunjukkan peningkatan (keuntungan ini disebut lead time). Jika kita tidak
berpikir tentang apa yang waktu kelangsungan hidup sebenarnya berarti dalam
konteks ini, kita mungkin atribut kesuksesan untuk tes skrining yang tidak hanya
diagnosa sebelumnya; membandingkan statistik kematian karena penyakit pada
populasi disaring dan diskrining memberikan informasi lebih bermakna.
b. Seleksi Bias Tidak semua orang akan ikut serta dalam program skrining.
Ada banyak faktor yang berbeda antara mereka yang bersedia untuk diuji dan
mereka yang [Link] orang dengan risiko tinggi penyakit lebih mungkin untuk
diputar, misalnya bagi perempuan dengan riwayat keluarga kanker payudara lebih
mungkin dibandingkan perempuan lain untuk bergabung dengan program
mamografi, kemudian tes skrining akan terlihat lebih buruk daripada yang
sebenarnya: hasil negatif antara populasi disaring akan lebih tinggi daripada untuk
sampel acak. Bias seleksi juga dapat membuat ujian terlihat lebih baik daripada
yang sebenarnya. Jika tes lebih tersedia untuk orang muda dan sehat (misalnya
jika orang harus melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan diperiksa) maka
lebih sedikit orang di populasi skrining akan memiliki hasil negatif daripada untuk
sampel acak, dan tes akan tampaknya membuat perbedaan positif.
Overdiagnosis Skrining dapat mengidentifikasi kelainan yang tidak akan
menyebabkan masalah dalam hidup seseorang. Contoh dari ini adalah skrining
kanker prostat;. Telah dikatakan bahwa "lebih banyak pria meninggal dengan
kanker prostat”. Studi otopsi menunjukkan bahwa proporsi yang tinggi dari orang
tua yang telah meninggal karena sebab lain yang ditemukan memiliki memiliki
kanker prostat. Selain masalah dengan pengobatan yang tidak perlu (pengobatan
kanker prostat ini tidak berarti tanpa risiko), overdiagnosis membuat penelitian
terlihat baik dalam memilah kelainan, meskipun mereka kadang-kadang
berbahaya. Overdiagnosis terjadi ketika semua orang dengan kelainan berbahaya
dihitung sebagai "kehidupan diselamatkan" oleh skrining, bukan sebagai "orang
sehat tidak perlu dirugikan oleh overdiagnosis". Menghindari bias cara terbaik
untuk meminimalkan bias adalah dengan menggunakan uji coba terkontrol secara
acak. Ini harus sangat besar, dan sangat ketat dalam hal prosedur penelitian. Studi
tersebut memakan waktu yang lama dan mahal.
5. Peralatan yang digunakan
Kriteria Menilai, Suatu Alat Ukur Suatu alat (test) scereening yang baik adalah
yang mempunyai tingkat validitas dan reabilitas yang tinggi yaitu mendekati
100%. Validitas merupakan petunjuk tentang kemampuan suatu alat ukur (test)
dapat mengukur secara benar dan tepat apa yang akan diukur. Sedangkan
reliabilitas menggambarkan tentang keterandalan atau konsistensi suatu alat ukur.
Contoh ‘Screening’ Beserta Alat Yang Digunakan
1. Mammografi dan Termografi; Untuk mendeteksi Ca Mammae. Kadangkala
dokterdokter juga menganjurkan penggunaan dari screening magnetic resonance
imaging (MRI) pada wanita-wanita lebih muda dengan jaringan payudara yang
padat. Mammografi adalah pemeriksaan radiologi khusus menggunakan sinar- X
dosis rendah untuk mendeteksi kelainan pada payudara seperti benjolan yang
dapat dirasakan
2. Pap smear; Pap smear merupakan kepanjangan dari Papanicolau test. Tes ini
ditemukan oleh Georgios Papanikolaou. Tes ini merupakan tes yang digunakan
untuk melakukan skrening terhadap adanya proses keganasan (kanker) pada
daerah leher rahim (servik). Peralatan yang digunakan yaitu; spatula/sikat halus,
spekulum, kaca benda, dan mikroskop. Pemeriksaan pap smear dilakukan untuk
mendeteksi perubahan– perubahan prakanker yang mungkin terjadi pada serviks.
Uji ini bisa dilakukan pada semua wanita yang berusia antara 20- 64 tahun. Tes
pap smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat
adanya perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia)
sebagai tanda awal keganasan serviks atau prakanker. Pap smear merupakan
metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa
di bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah serta telah
di pakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi
pada sel leher rahim
3. VCT untuk HIV/AIDS ; Salah satu pintu masuk untuk mendeteksi infeksi HIV
adalah melalui kegiatan konseling dan tes HIV. Kegiatan ini terbukti sangatlah
bernilai tinggi dalam pelayanan kesehatan dan dukungan yang dibutuhkan dan
memungkinkan intervensi yang aman dan efektif terutama dalam pencegahan
penularan dari ibu ke anak. Konseling dan tes HIV tersedia dalam berbagai situasi
dengan menggunakan pendekatan sukarela (VCT= Voluntary Counseling Test).
Sasaran kegiatan VCT adalah masyarakat yang ingin mengetahui status
HIV/AIDS dan mencegah penularan, masyarakat yang berperilaku risiko tinggi
seperti sering berganti pasangan dan pengguna narkoba jarum suntik. Kegiatan
VCT didahului oleh konseling pra tes dan diakhiri konseling pasca tes
4. Sphygmomanometer dan Stetoscope; Untuk mendeteksi hipertensi. Risiko
hipertensi (tekanan darah tinggi) meningkat seiring bertambahnya usia, berat
badan dan gaya hidup. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan komplikasi yang
cukup parah tanpa ada gejala sebelumnya. Tekanan darah tinggi juga dapat
memicu timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal
ginjal. Tekanan darah normal adalah kurang dari 120/80. Tekanan darah cukup
tinggi adalah 140/90 atau lebih. Dan tekanan darah di antara kedua nilai tersebut
disebut prehipertensi. Seberapa sering tekanan darah harus diperiksa tergantung
pada seberapa tinggi nilainya dan apa faktor-faktor risiko lainnya yang dimiliki.
5. Photometer; Merupakan alat untuk memeriksa kadar gula darah melalui tes
darah. Mulamula darah diambil menggunakan alat khusus yang ditusukkan ke jari.
Darah yang menetes keluar diletakkan pada suatu strip khusus. Strip tersebut
mengandung zat kimia tertentu yang dapat bereaksi dengan zat gula yang terdapat
dalam darah. Setelah beberapa lama, strip tersebut akan mengering dan
menunjukkan warna tertentu. Warna yang dihasilkan dibandingkan dengan deret
(skala) warna yang dapat menunjukkan kadar glukosa dalam darah tersebut. Tes
ini dilakukan sesudah puasa (minimal selama 10 jam) dan 2 jam sesudah makan.
6. Plano Test; Untuk mendeteksi kehamilan (memeriksa kadar HCG dalam darah)
7. EKG (Elektrokardiogram); Untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner.
8. Pita Ukur LILA; Untuk mendeteksi apakah seorang ibu hamil menderita
kekurangan gizi atau tidak dan apakah nantinya akan melahirkan bayi berat lahir
rendah (BBLR) atau tidak.
9. X-ray, pemeriksaan sputum BTA; Untuk mendeteksi penyakit TBC
[Link] fisik Head to Toe; Untuk mendeteksi adanya keadaan abnormal
pada ibu hamil.
[Link] toucher; Yang dilakukan oleh dokter untuk mendeteksi adanya „cancer
prostat‟. Tes skrining mampu mendeteksi kanker ini sebelum gejala-gejalanya
semakin berkembang, sehingga pengobatan/ treatmennya menjadi lebih efektif.
Pria dengan resiko tinggi terhadap kanker prostat adalah pria usia 40 tahunan.
[Link] Developmental Disorders Screening Test PDDST – II; PDDST-II
adalah salah satu alat skrening yang telah dikembangkan oleh Siegel B. dari
Pervasive Developmental Disorders Clinic and Laboratory, Amerika Serikat sejak
tahun 1997. Perangkat ini banyak digunakan di berbagai pusat terapi gangguan
perilaku di dunia. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang cukup baik
sebagai alat bantu diagnosis atau skrening Autis.
[Link] (Checklist Autism in Toddlers, di atas usia 18 bulan); Terdapat
beberapa perangkat diagnosis untuk skreening (uji tapis) pada penyandang autism
sejak usia 18 bulan sering dipakai di adalah CHAT (Checklist Autism in
Toddlers).
[Link] Gram dan Typanogram; Untuk mendeteksi adanya kelainan atau
gangguan pendengaran
[Link] (Magnetic Resonance Imaging) dan CAT Scans (Computer Assited Axial
Tomography); Sangat menolong untuk mendiagnosis kelainan struktur otak,
karena dapat melihat struktur otak secara lebih detail.
[Link] dan Tonometer; Pemeriksaan syaraf optik dengan alat
optalmoskop, pemeriksaan tekanan mata dengan tonometer, jika perlu
pemeriksaan lapang pandangan. Penyakit mata ini akan merusak saraf optik dan
dapat menyebabkan kebutaan.
Hilangnya penglihatan timbul bahkan sebelum orang tersebut menyadari gejala-
gejalanya. Tes skrining glukoma mencari tekanan tinggi abnormal di dalam mata,
untuk mencegahnya sebelum terjadi kerusakan pada saraf optik Tes skrining
glukoma berdasarkan umur dan faktor resiko lainnya dilakukan setiap 2-4 tahun
untuk umur kurang dari 40 tahun, untuk usia 40-45 tahun dilakukan skrining tiap
1-3 tahun, usia 55-64 tahun skrining tiap 1-2 tahun, dan untuk usia 65 tahun ke
atas setiap 6-12 bulan.
[Link] (skrining) premarital; Amat penting dilakukan guna mengetahui
“status” kesehatan yang sebenarnya dari pasangan yang akan menikah. Tujuan
dilakukannya pemeriksaan premarital untuk mendeteksi dan mengobati jika ada
penyakit yang belum terdeteksi sebelumnya, mencegah penularan penyakit yang
dapat mempengaruhi seperti siflis, rubella, kelainan hemoglobin, hepatitis B dan
HIV/AIDS. Skrining mendeteksi dan mencegah timbulnya penyakit yang
diturunkan (genetik) seperti penyakit thalassemia, sickle cell anemia (anemia set
sabit), dan penyakit Tay-Sachs. Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan
sebelum menikah antara lain hematologi rutin, golongan darah dan rhesus, profil
TORCH, hepatitis B, dan VDRL/RPR
6. Cara menyimpulkan
1. Hasil skrining pasien demam tifoid menggunakan formulir skrining
2. Hasil assessment meliputi antropometri, biokimia, klinis/fisik dan dietary
history.
3. Hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada pasien dilakukan selama 3
hari pengamatan mengalami peningkatan atau penurunan
7. Intervensi teapeutik
komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi Terapeutik,
yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat
melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi
proses penyembuhan pasien.
Maka komunikasi terapeutik ini juga termasuk dalam komunikasi
interpersonal yaitu dengan titik tolak saling memberi sebuah pengertian antara
seorang perawat dengan seorang pasien. Persoalan paling dasar dari komunikasi
terapeutik ini yaitu adanya saling membutuhkan antar pasien dengan perawat,
sehingga hal ini dapat dikategorikan dalam komunikasi pribadi antar perawat
dengan pasien, peran perawat disini yaitu membantu dalam sebuah upaya
penyembuhan dan pasien disini menerima bantuan dari perawat.
Komunikasi terapeutik dapat digambarkan melalui situasi yang apabila
dalam sebuah komunikasi, perawat mampu mendapatkan gambaran yang jelas
tentang kondisi pasien yang dirawat, seperti keluhan yang dirasakan dan lain
sebagainya. Dari hal inilah perawat akan mendapat gambaran yang berguna untuk
menentukan tindakan apa yang akan dilakukan pada pasien, dengan tujuan agar
tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai atau tepat sasaran sehingga dapat
membantu mempercepat proses kesembuhan pasien.
Saat menjalani proses komunikasi terapeutik, seorang perawat melakukan
kegiatan dari mulai pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menentukan
rencana tindakan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan yang telah
direncanakan sampai dengan evaluasi yang semuanya itu bisa dicapai dengan
maksimal apabila terjadi proses komunikasi yang efektif dan intensif pada pasien.
Melalui penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa bagaimana
cara perawat memberikan informasi kesehatan kepada pasiennya, dapat menjadi
salah satu faktor yang mendukung ataupun motivasi bagi kesembuhan pasien.
Pasien yang awalnya cemas terhadap penyakitnya, menjadi paham tentang
penyakit yang dialami bahkan menerima kondisinya. Sehingga pasien akan lebih
menerima tindakan yang harus diberikan untuk kesembuhan.
Ilmu komunikasi yang baik seperti ini juga sangat bisa diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, tidak hanya perawat kepada pasien. Dapat juga diterapkan
kepada keluarga terhadap pasien, bagaimana keluarga memberi dukungan kepada
pasien juga perlu dikomunikasikan dengan baik. Hal ini dilakukan agar pasien
yang menolak perawatan padal membutuhkannya dapat menerima lebih baik dan
mau menjalankan pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA
[Link] & U. Yafuz. 2011. “Expert system based on neuro-fuzzyrules for
diagnosisbreast cancer”. Expert system with Application, 38 (5), pp.
5719-5726.
Budiarto dan Anggraeni. 2003. Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta : EGC
Bustan, M.N.2006 . Pengantar Epidemiologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Chandra,
Budiman. 2009. Ilmu Pencegahan Kedokteran Komunitas. Jakarta : EGC Morton,
Richard. 2009. Panduan Studi Epidemiologi dan Biostatistik. Jakarta:
EGC. Noor,
Nur Nasry. 2008. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
R a j a b , W a h yu d i n . 2 0 0 9 .Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa
[Link]: Penerbit Buku Kedokteran EGC Sarwani,
Dwi. 2007. Dasar Epidemiologi. Purwokerto: UNSOED PRESS.
Sukardi, 2009. Metodologi penelitian pendidikan: kompetensi dan praktiknya
Sulistiani,
Karlina dkk. 2012. Pelaksanaan Kegiatan Skrinning/Deteksi Aktif Kasus PTM
yang Dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor. Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah.
Verani MS. (2000) "Exercise Perfusion Testing in The Diagnosis of Coronary
HeartDisease". http//[Link]. 8: 3
Leon Gordis, Epidemiology, Fifth Edition, Elsevier Saunders, 2014,Canada.
Raymond S Greenberg, Stephen R Daniels, W. Dana Flanders, John William Eley
and John R. Boring, Medical Epidemiology, Third Edition, Lange
Medical Book, 2001, New York.
Bland, J. M., and D. G. Altman. 1986. Statistical methods for assessingagreement
between two methods of clinical measurement. Lancet I:307-310.
M. Sopiyudin Dahlan, Penelitian Diagnostik: Dasar-dasar Teoritis dan Aplikasi
dengan Program SPSS dan Stata, Salemba Medika, 2009, Jakarta.