GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)
SD SWASTA MUHAMMADIYAH 32 MEDAN
A. PENGERTIAN
Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan
mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui
berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/
atau berbicara. GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara
menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran
yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
B. LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional
2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Perubahan PP
Nomor 57 Tahun 2021 Tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Nomor 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum Pada Pendidikan Anak Usia
Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah
4. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015
tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
5. Surat Keputusan Kepala UPT SDN/SDS……………………….. No.
…………….………. Tanggal …………………..…… tentang Tim Gerakan
Literasi Sekolah di Lingkungan UPT SDN/SDS Muhammadiyah 32
Medan
C. TUJUAN
Tujuan Umum :
untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui
pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan
Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Tujuan khusus :
1. menumbuh kembangkan budaya literasi di sekolah;
2. meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat;
3. menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan
ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan;
4. menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam
buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
D. HASIL YANG DIHARAPKAN
6. GLS di UPT SD Negeri / SD Swasta Muhammadiyah 32 Medan
diharapkan akan menciptakan ekosistem pendidikan di SD yang literat.
Ekosistem pendidikan yang literat adalah lingkungan yang
menyenangkan dan ramah peserta didik, sehingga menumbuhkan
semangat warganya dalam belajar; semua warganya menunjukkan
empati, peduli, dan menghargai sesama; menumbuhkan semangat
ingin tahu dan cinta pengetahuan; memampukan warganya cakap
berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya;
dan mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah dan lingkungan
eksternal SD.
E. PELAKSANAAN
Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah UPT SD Negeri / SD Swasta
Muhammadiyah 32 Medan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Membaca buku cerita/ teks pada bukun pelajaran selama 15 menit
sebelum pelajaran dimulai one day one riding. Kegiatan membaca
yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring (read
aloud) dan membaca dalam hati (sustained silent reading/SSR).
2. Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit
membaca.
3. Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan
menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata
pelajaran.
4. Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana
dan prasarana sekolah, seperti pojok baca di kelas, pengadaan poster-
poster, dan penggunaan smart tv untuk menumbuhkan minat baca
warga sekolah, sarana prasarana ini dapat diperkaya dengan bahan
kaya teks (print-rich material).
5. Memilih buku bacaan yang baik .
7. GLS di UPT SD Negeri / SD Swasta Muhammadiyah 32 Medan
dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan
sekolah. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas fisik sekolah
(ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga
sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen
masyarakat lain), dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi
publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang
relevan). Untuk memastikan keberlangsungannya dalam jangka
panjang, GLS UPT SD Negeri / SD Swasta Muhammadiyah 32 Medan
dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap pembiasaan,
pengembangan, dan pembelajaran.
Pembiasaan Pengembangan Pembelajaran
Langkah-langkah
Langkah-langkah
kegiatan: Langkah-langkah
kegiatan:
a. Membaca 15 menit kegiatan
a. Membaca terpandu
sebelum pelajaran a. Menyediakan
b. Membaca bersama
dimulai pembelajaran
c. Aneka karya
b. Menata sarana dan terpandu berbasis
kreativitas seperti
lingkungan kaya literasi
Workbook, Skill
literasi b. Menata kelas
Sheets (Triarama,Easy
c. Menciptakan berbasis literasi
slit book,One sheet book,
lingkungan c. Melaksanakan literasi
Flip flop book)
kaya teks terpadu sesuai
d. Mari berdiskusi
d. Memilih buku bacaan dengan tema dan
tentang buku
di SD mata pelajaran
e. Pelibatan publik
Tabel Peta Pengembangan Literasi Sekolah dalam Skema 3 Tahap,
Catatan : Tiga tahapan dalam bagan pelaksanaan literasi ini dilaksanakan
terus-menerus secara berkelanjutan.
Adapun prinsip-prinsip kegiatan membaca antara lain :
Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan apasaja, boleh buku
teks pelajaran dan boleh buku diluar teks pelajaran.
Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta
didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa
dari rumah.
Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak
diikuti oleh tugas-tugas menghafalkan cerita, menulis sinopsis, dan
lain-lain.
Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat
diikuti dengan diskusi informal tentang buku yang dibaca/ dibacakan,
atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan
apabila waktu memungkinkan. Tanggapan dalam diskusi dan kegiatan
lanjutan ini tidak dinilai/dievaluasi.
Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini
berlangsung dalam suasana yang santai dan [Link]
menyapa peserta didik dan bercerita sebelum membacakan buku dan
meminta mereka untuk membaca buku.
Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap
pembiasaan antara lain :
1. Membaca buku cerita/teks di buku pelajaran selama 15 menit sebelum
pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah
membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam
hati (sustained silent reading/SSR).
2. Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit
membaca.
3. Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana
pojok baca di tiap kelas, lingkungan kaya poster dan smart tv untuk
menumbuhkan minat baca warga sekolah, sarana prasarana ini sudah
diperkaya dengan bahan kaya teks (print-rich material).
4. Memilih buku bacaan yang baik .
Sarana literasi mencakup pojok baca kelas yang berfungsi sebagai area
memilih bahan bacaan dan area tempat membaca di UPT SD Negeri / SD
Swasta Muhammadiyah 32 Medan. Pengembangan dan penataan pojok baca
menjadi bagian penting dari pelaksanaan gerakan literasi UPT SD Negeri / SD
Swasta Muhammadiyah 32 Medan dan pengelolaan pengetahuan yang
berbasis pada bacaan. Pojok baca yang dikelola dengan baik mampu
meningkatkan minat baca warga SD dan menjadikan mereka pembelajar
sepanjang hayat. Pojok baca UPT SD Negeri / SD Swasta Muhammadiyah 32
Medan sangat berperan dalam mengkoordinasi pengelolaan area baca, dan
prasarana literasi lain di UPT SD Negeri / SD Swasta Muhammadiyah 32
Medan.
Fungsi pojok baca UPT SD Negeri / SD Swasta Muhammadiyah 32 Medan
adalah sebagai pusat pengelolaan pengetahuan dan sumber belajar yang
dikelola oleh wali kelas.
Pojok Baca Kelas adalah sebuah pojok di kelas yang dilengkapi dengan
koleksi buku bacaan dan karya peserta didik yang ditata secara menarik
untuk menumbuhkan minat baca peserta didik. Pojok Baca Kelas berperan
sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan SD, yaitu mendekatkan buku
kepada peserta didik. Pojok Baca Kelas dikelola oleh guru, peserta didik, dan
orang tua
Untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah, ruang kelas
perlu diperkaya dengan bahan-bahan kaya teks. bahan kaya teks
diantaranya adalah:
1. karya-karya peserta didik berupa tulisan, gambar, atau grafik;
2. poster-poster yang terkait pelajaran, poster buku, poster kampanye
membaca, dan poster kampanye lain yang bertujuan menumbuhkan
cinta pengetahuan.
3. label nama-nama peserta didik /setiap benda di ruang kelas; mainan
alfabet
4. jadwal harian, pembagian kelompok tugas kelas;
5. smart tv yang mendukung kegiatan literasi
6. buku dan sumber informasi lain (koran, majalah, buletin);
7. perangkat berkarya dan menulis seperti alat tulis, alat warna, alat
gambar, kertas gambar, kertas bekas, busa, kertas prakarya, surat,
kertas surat, amplop, koran bekas, kertas sampul, dll;
One Day One Writing. Siswa untuk dapat bercerita ia butuh banyak
pengalam baik dengan cara membaca, mendengar, melihat, maupun
mengalami. Tetapi untuk dapat menulis musti dilengkapi dengan inovasi,
imajinasi dan kreatifitas.
Saat dicoba pada orang-orang sekeliling kita tentang kalimat apa yang biasa
ditulis di awal cerita, maka data yang paling banyak kita peroleh diantaranya
adalah kalimat pada suatu hari, mulai dari anak-anak, remaja, bahkan
diantara wali murid pun menyampaikan hal yang sama, ini menjadi
perhatian tersendiri akan arti pentingnyakreatifitas, inovasi dan
imaginasiyang musti diajrkan, diingatkan dan dikembangkan dalam sebuah
kegiatan pembiasaan agar menulis menjadi baik bagi siswa kita.
One Day One Writing merupakan kegiatan siswa, yang diprogramkan
sekolah yang didampingi guru dan dilaksanakan siswa setiap hari di sekolah,
siswa yang tida kreatif/inovatif/imajinatif cenderung menggunakan kalimat
yang sama, contoh dalam hal judul di hari Senin siswa menulis cerita yang
berjudul Pergi ke Rumah Nenek, esoknya hari selasa judulnya Pergi ke
Rumah Kakek, hari Rabu judulnya Pergi Ke Desa.
Penggunaan kalimat di awal cerita hari senin sampai Jumat diawali oleh
kalimat Pada suatu hari bahkan terjadi di mayoritas siswa dalam kelas,
tentunya ini tidak akan pernah terulang karena selalu diingatkan dan
dibimbing oleh Bapak/Ibu Guru. Kelas kecil menulis pantun, puisi, sajak,
maupun puisi dan kelas besar menulis cerita
Tiap anak dalam 1 hari menciptakan 1 cerita, dalam 1 minggu
menghasilkan 5 cerita, dalam 1 bulan mamput menengumpulkan 20 cerita,
dan tiap 1 siswa dalam 10 bulan akan mencetak satu buku dengan 200 judul
certa, judul dan isi berbeda-beda, bila dalam 1 kelas terdapat 40 siswa dan
bila satu sekolah terdapat 2 rombongan belajar di tiap kelasnya, maka tiap
tahun sekolah dapat mencetak buku sebanyak 480 judul.
Kegiatan One Day One Writing muaranya adalah tumbuhnya Sikap
religius, jujur, toleransi, disiplin, kerjakeras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu,
semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan,
peduli sosial, dan tanggungjawab akan terbentuk.
PPK-Ku Hari Sabtu. Suatu hal baik yang tidak dibiasakan akan kalah
dengan sesuatu hal buruk yang senantiasa dibiasakan (Umar bin Khattab),
terlalu sering kita lihat karakter seseorang tampak dari kebiasaan, oleh
karenanya pembiasaan berkarakter musti terus dibiasakan meski di hari
Sabtu atau hari libur bagi yang pelaksana 5 hari sekolah.
PPK-ku di hari Sabtu adalah upaya membiasakan perilaku berkarakter
siswa yang tidak hanya di sekolah namun saat di luar sekolah, di rumah, dan
di masyarakat pun tetap membiasakan hal yang baik dalam setiap
perilakunya.
Pola kegiatan PPK-ku di hari Sabtu UPT SD Negeri / SD Swasta
……………………………… adalah berupa tugas mingguan bagi seluruh siswa
untuk Menulis/nemarasikan kegigatan di hari Sabtu sejak bangun tidur
hingga tidur lagi dalam selembar kertas folio bergaris untuk seluruh siswa,
yang dikumpulkan di hari Senin Pagi pada guru kelas.
Bagi siswa yang aktivitas/kegiatannya positif, akan terbaca dari tulisan
yang ada, begitupun sebaliknya, hal baik yang terus musti diingatkan pada
siswa adalah tidak diperbolehkan mencatat hal yang tak dilakukan, karena
yang demikian akan terus menambah dosa atas perilaku yang bertentangan
dengan nilai-nilai karakter.
Manfaat yang dirasakan dari kegiatan PPK-ku di hari Sabtu adalah:
1. tertibnya kegiatan siswa yang senantiasa diisi dengan kegiatan-
kegiatan positif meski hari libur dan tanpa ada yang mengawasi
2. etika dan estetika bersikap maupun bertindak oleh siswa dalam
lingkungan keluarga maupun masyarakat yang senantiasa terbiasa
tanpa harus diingatkan
3. berkembangnya kerangka berfikir dan berinovasi siswa yang tampak
dalam menulis/menarasikan kegiatan PPK-ku di hari Sabtu
4. menghasilkan karya/tulisan yang kontinu
5. Terbentuknya nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerjakeras, kreatif,
mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta
tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai,
gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab
F. KESIMPULAN
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara
menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi
pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan
publik. Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan
membaca.
Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk
mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuha
n intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap
pengetahuan dan mengeksplorasi dunia
yang bermanfaat bagi kehidupannya.
Membaca memberikan pengaruh budaya yang amat kuat terhadap
perkembangan literasi peserta didik. Keberhasilan Program ini
sangat tergantung darikomitmen seluruh warga besar sekolah dan pihak
terkait secara kolaboratif.
G. DOKUMENTASI KEGIATAN
- Lampirkan SK Anti Perundungan
- Lampirkan foto-foto kegiatan literasi siswa
- Lampirkan foto-foto sarana prasarana pendukung GLS