BAB II
KAJIAN TEORI
A. Strategi Pembelajaran
1. Pengertian Strategi
Pada awalnya strategi berarti kegiatan memimpin militer dalam
menjalankan tugas-tugasnya di lapangan. Karena istilah strategi (strategy)
berasal dari kata benda dan kata kerja dalam bahasa Yunani yaitu
“strategos”. Sebagai kata benda, strategos merupakan gabungan kata
“stratos” yang berarti militer dan “Ago” yang berarti merencanakan. 1
Konsep strategi yang semula diterapkan dalam kemiliteran dan dunia
politik, kemudia di terapkan pula dalam bidang manajemen, dunia usaha,
pengadilan, dan juga Pendidikan. Abin Syamsuddin Makmun berpendapat
bahwa strategi adalah suatu garis-garis besar Haluan untuk bertindak
dalam usaha mencapai tujuan atau sasaran yang sudah ditentukan. 2
Sedangkan menurut Michael J. Lawson, seorang pakar psikologi
Austarlia mengartikan strategi sebagai proses mental yang berbentuk
tatanan langkah yang mengupayakan ranah cipta untuk tujuan tertentu. 3
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia strategi adalah
1
H.D. Sudjana S, Strategi Pembelajaran, (Bandung: Falah Production, 2000), h.5
2
Abind Syamsudin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2001), h.220
3
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2002), h.214
rencana yang cermat untuk mencapai sasaran tertentu4 Dalam pengertian
ini strategi merupakan suatu seni, yaitu seni membawa pasukan kedalam
medan tempur dalam posisi yang palig menguntungkan. Selain daripada
itu makna strategi juga bisa dikatakan sebagai usaha rencana tentang tata
cara pendayagunaan dan penguraian potensi dan sarana yang ada untuk
meningkatkan efektifitas dan efisienisi5 dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa strategi merupakan suatu seni atau cara efektif dan
efisien dalam memanfaatkan sumber daya untuk mencapai sebuah tujuan
secara maksimal.
2. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah aktivitas manusiawi yang berlangsung sejak
awal hidup manusia. Kata pembelajaran merupakan penyederhanaan dari
dua kata yaitu belajar dan mengajar. Adapun hakikat dari sebuah
pembelajaran adalah membelajarkan peserta didik menggunakan asas
Pendidikan merupakan penentu utama keberhasilan Pendidikan. Konsep
pembelajaran menurut corey adalah suatu proses dimana lingkungan
seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta
dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau
menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan
subset khusus dari Pendidikan. 6
4
Diknas, Kamus Bahasa Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h.377
5
Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kreditur, (Jakarta: Bumi Aksara,
1991), h.90
6
Ibid, h.71
Menurut Oemar Hamalik mendefinisikan mengajar sebagai
proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan pada siswa. Dalam
pengertian yang lain, juga dijelaskan bahwa suatu aktifitas professional
yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi dan menyangkut
pengambilan keputusan.
Menururt Hasibuan menyebutkan bahwa konsep mengajar dalam
proses perkembangannya masih dianggap sebagai suatu kegiatan
menyampaikan atau penyerahan pengetahuan. Pandangan semacam ini
masih umum digunakan dikalangan mengajar. Hasil penelitian dan
pendapat para ahli sekarang ini lebih menyempurnakan konsep tradisional
diatas.
Atau dengan gaya lain, mengajar adalah menciptakan system
lingkungan yang memungkinkan terjadi proses belajar. Sistem lingkungan
ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni
tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan
siswa yang memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu,
jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar
yang tersedia. 7
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomr 20 tahun
2003 tentang system Pendidikan Nasional, bahwa pembelajaran adalah
proses interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar yang
7
Ibid, h.7
berlangsung dalam suatu lingkungan belajar.8 Secara Nasional,
pembelajaran dipandang sebagai suatu proses interaksi yang melibatkan
komponene-komponen utama, yaitu peserta didik, pendidik, dan sumber
belajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar, maka yang
dikatakan dengan proses pembelajaran adalah suatu system yang
melibatkan satu kesatuan komponen yang saling berkaitan dan saling
berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharpkan secara optimal
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Proses pembelajaran ditandai dengan adanya interaksi edukatif
yang terjadi, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan, interaksi ini terjadi
dari pihak pendidik (guru) dan kegiatan belajar secara pedagogis pada diri
peserta didik, berproses secara sistematis melalui tahap rancangan,
pelaksanaan dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan
berproses melalui tahapan-tahapan tertentu. Dalam pembelajaran,
pendidik menfasilitasi peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Dengan adanya interaksi tersebut maka akan menghasilkan proses
pembelajaran yang efektif sebagaimana yang telah dihapkan. 9
3. Pengertian Strategi Pembelajaran
Kata strategi berasal dari Bahasa latin, yaitu ‘strategia’ yang
berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Secara umum
8
Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, h.6
9
Muh. Sain Hanafy, Jurnal Pendidikan: Konsep Belajar dan Pembelajaran, Lentera
Pendidikan, Vol. 17 No. 1 Juni 2014:66-79, h.74
strategi adalah alat, rencana atau metode yang digunakan untuk
menyelesaikan materi pada lingkungan pembelajaran, strategi berkaitan
dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan
pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola
kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan dengan guru secara
konsektual, sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah,
lingkungan sekitar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Strategi pembelajaran terdiri dari metode, teknik, dan prosedur yang akan
menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul mencapai tujuan
pembelajaran.
Menurut Miarso, Strategi pembelajaran adalah pendekatan
menyeluruh pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa
pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum
pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori
belajar tertentu. Seels dan Richey menyatakan bahwa strategi
pembelajaran merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa dan
kegiatan dalam pembelajaran, yang terdiri dari metode-metode, teknik-
teknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta didik
mencapai tujuan.10
Perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dan peserta
didik dalam proses belajar mengajar itu terdiri dari bermacam-macam
10
Wahyudin Nur Nasution, Strategi Pembelajaran, (Medan: Perdana Publishing, 2017),
h.3
bentuk. untuk keseluruhan bentuk itulah yang dimaksud dengan pola dan
urutan perbuatan antara guru dan peserta didik. Seorang guru yang akan
melakukan sebuah kegiatan pembelajaran maka harus memiliki strategi
terlebih dahulu. Sedangkan menurut W. Gulo strategi pembelajaran
meliputi rencana, metode perangkat kegiatan yang direncanakan untuk
mencapai tujuan tertentu.11
Menurut Pupuh Fathurrohman “Strategi pembelajaran diartikan
sebagai pola-pola umum kegiatan guru, peserta didik dalam perwujudan
kegiatan belajar dan mengajar untuk mencapai tujuan yang telah
digariskan.”12
Menurut Martinis Yamin, “Strategi pembelajaran adalah
berkenaan dengan pendekatan pembelajaran sebagai suatu cara yang
sistematis dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada pembelajaran
untuk mencapai tujuan pembelajaran.” 13
Menurut Wina Sanjaya, “Strategi pembelajaran merupakan
rencana Tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan
pemanfaatan sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang
disusun untuk mencapai tujuan tertentu.”14
11
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, 2012, h.5
12
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, strategi Belajar Mengajar Melalui
Peranan Konsep Umum dan Islami (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011), cet. Ke-5, h.3
13
Martinis Yamin, Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik, (Jakarta: Referensi,
2012), h.69
14
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2013), cet. Ke-10, h.126
Berdasarkan baberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan
bahwa strategi pembelajaran adalah tahapan atau cara pembelajaran yang
terencana secara detail agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan
mampu mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
4. Komponen-komponen Pembelajaran
Agar strategi pembelajaran terarah pada tujuan maka guru harus
memperhatikan komponen-komponen dalam pembelajaran, diantaranya:
tujuan pengajaran, guru, peserta didik, materi pembelajaran, metode
pengajaran, factor administrasi dan finansial. 15
Menurut Mukhtar dan Martinis Yamin komponen tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Tujuan Pengajaran
Tujuan pengajaran merupakan acuan yang dipertimbangkan
untuk memilih strategi pembelajaran. Dalam penyesunan strategi
pembelajaran, berbagai perubahan yang ingin dicapai harus ditetapkan
secara spesifik, terencana dan harus terarah, atau perilaku hasil belajar
yang diharapkan bisa terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik
setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.
b. Guru
Masing-masing guru berbeda dalam pengalaman, pengetahuan,
kemampuan menyajikan pelajaran, gaya mengajar, pandangan hidup,
maupun wawasannya. Perbedaan ini mengakibatkan adanya perbedaan
15
Ibid, h.8
dalam pemilihan strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
c. Peserta Didik
Dalam proses pembelajaran, peserta didik mempunyai latar
belakang yang berbeda-beda. Seperti lingkungan sosial, lingkungan
budaya, gaya belajar, keadaan ekonomi, dan tingkat kecerdasan. Hal ini
merupakan factor penting dalam menentukan strategi pembelajarn yang
akan digunakan dalam pembelajaran
d. Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran dapat dibedakan menjadi materi formal
dan materi informal. Materi formal adalah isis pelajaran yang terdapat
dalam buku teks (paket) disekolah, sedangkan materi informal adalah
bahan-bahan pelajaran dari lingkungan sekolah. Bahan-bahan yang
bersifat informal ini dibutuhkan agar pembelajaran bersifat relevan dan
aktual.
e. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan factor penting untuk
mendukung kegiatan belajar mengajar. Seseorang guru harus
menetapkan dan merencanakan metode pengajaran yang akan
digunakan agar bisa tercapai pembelajaran yang efektif.
f. Media Pembelajaran
Media merupakan sarana Pendidikan yang tersedia dan sangat
berpengaruh terhadap pemilihan strategi belajar mengajar. Meskipun
keberhasilan proses pembelajaran tidak bergantung kepada
kecanggihan media yang digunakan tetapi efektifitas dan efisiensi
waktu pembelajaran sangat terpengaruh oleh pemanfaatan media
pembelajaran.
g. Faktor administrasi dan finansial
Keadaan kelas, lingkungan sekolah, jadwal pelajaran,
merupakan hal-hal yang tidak dapat diabaikan dalam pemilihan strategi
pembelajaran. 16
Sedangkan menurut Abuddin Nata, komponen strategi
pembelajaran yaitu:
a. Penetapan perubahan yang diharapkan
Dalam penyusunan strategi pembelajaran, berbagai
perubahan yang ingin dicapai harus diciptakan secara spesifik,
terencana dan terarah.
b. Penetapan pendekatan
Penetapan strategi pembelajaran selalu berkaitan dengan
pemilihan cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling
tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Metode dan pendekatan
apapun yang digunakan harus berprinsip yaitu mampu mendorong
dan menggerakan minat peserta didik dalam belajar.
16
Mukhtar dan Martinis Yamin, Metode Pembelajaran yang Berhasil, (Jakarta: Sasamma
Mitra Suksesa, 2002), h.26
c. Penetapan metode
Metode pengajaran merupakan factor penting untuk
mendukung kegiatan belajar mengajar. Seorang guru harus
menetapkan dan merencanakan metode pengajaran dengan baik agar
tercapai pembelajaran yang efektif.
d. Penetapan norma keberhasilan
Penetapan norma keberhasilan sebagai acuan guru yang
digunakan dalam penilaian hasil pembelajaran dan penugasan,
karena kesuksesan kegiatan pembelajaran dapat ditentukan melalui
proses evaluasi. 17
B. Baca Tulis Al-Qur’an
1. Pengertian Baca Tulis Al-Qur’an
Pengertian baca tulis, baca adalah kata benda dari kata kerja
“membaca” yakni melihat tulisan dan mengerti atau melisankan apa yang
tertulis itu dan tulis adalah membuat huruf (angka dan sebagainya dengan
menggunakan pena seperti pensi, pulpen, spidol, kapur dan sebagainya.
Sedangkan membaca adalah salah satu cara terbaik untuk mengisi otak dan
jiwa, seseorang yang banyak membaca akan lebih luas pengetahuannya dan
akan mempermudah seseorang untuk tampil berbicara didepan, intelektual
17
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,
2011) cet. Ke-2, h.210-215
seseorang tidak akan tumbuh sempurnah tanpa membaca bahan bacaan yang
cukup.18
Membaca ialah keterampilan yang sangat kompleks, dan seperti
semua keterampilan lain, membaca dapat ditingkatkan dengan ketetapannya
dan kecepatannya dalam latihan. 19 Melalui aktifitas membaca, seseorang
dapat mengenal suatu objek, ide prosedur konsep, devinisi nama, peristiwa,
rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktifitas
membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi,
seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu atau kejadian
tertentu. Keuntungan membaca adalah mencari serta memperoleh
informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. 20
Adapun pengertian dari Al-Qur’an adalah kalam Allah swt yang
merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi
Muhammad SAW yang ditulis dimushaf dan diriwayatkan kepada
mutawatir dan membacanya adalah ibdah. Mempelajari AL-Qur’an berarti
belajar cara membunyikan huruf-hurufnya dan juga cara menulisnya.
Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan awal bagi seseorang ingin belajar
membaca Al-Qur’an dan menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an
pada tingkatan selanjutnya. Pada tingkatan lanjutan seseorang bisa
18
Byrhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Perekembangan Kurikulum Sekolah Sebuah
Pengantar Teoritas dan Pelaksanaannya (Yogyakarta BEFC 2011), h.63
19
Rita L Aktinson dan Richard C. Aktinson, Pengantar Psikologi, Edisi Ke-8, Jilid 1,
(Penerbit Erlangga Jakarta 2003), h.228
20
Hari Guntur Tarigan, Membaca Meruapakan Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung
Angkasa, 1979), cet, ke-1 h.9
mempelajari ulumul Qur’an dan tafsir Al-Qur’an. Tetapai untuk menuju
ketingkatan ini seseorang harus benar-benar menempuh tingkatan awal
yaitu membaca dan menulis Al-Qur’an. 21
2. Tujuan Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an
Tujuan pengajaran baca tulis Al-Qur’an tidak jauh berbeda dengan
tujuan Pendidikan Al-Qur’an. Tujuan dalam Pendidikan Al-Qur’an itu
sendiri diantaranya:
a. Mengkaji dan membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar, sekaligus
memahami kata-kata dan kandungan makna-maknanya, serta
menyempurnakan cara membaca Al-Qur’an yang benar
b. Memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang makna ayat-ayat
Al-Qur’an dan bagaimana cara merenungkannya dengan baik.
c. Menjelaskan kepada peserta didik tentang hukum-hukum yang ada di
dalam Al-Qur’an, seperti petunjuk-petunjuk dan pengarahan-pengarahan
yang mengarah pada kemaslahatan seorang muslim.
d. Menjelaskan kepada peserta didik tentang hukum-hukum yang ada di
dalam Al-Qur’an dan memberi kesempatan kepada mereka untuk
menyimpulkan suatu hukum dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dengan
caranya sendiri.
e. Agar seorang peserta didik berperilaku dengan mengedepankan etika-
etika Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pijakan dalam bertata krama
dalam kehidupan sehari-hari. Menetapkan akidah Islam di dalam hati
peserta didik, sehingga mereka selalu mensucikan dirinya dan mengikuti
perintah-perintah Allah.
f. Agar seorang peserta didik beriman dan penuh keteguhan terhadap segala
hal yang ada di dalam Al-Qur’an. Di samping dari segi nalar, mereka
juga akan merasa puas terhadap kandungan makna-maknanya, setelah
mengetahui kebenaran bukti-bukti yang dibawanya.
g. Menjadikan peserta didik senang membaca Al-Qur’an dan memahami
nilai-nilai keagamaan yang dikandungnya.
h. Mengkaitkan hukum-hukum dan petunjuk Al-Qur’an dengan realitas
kehidupan seorang muslim, sehingga seorang peserta didik mampu
mencari jalan keluar dari segala persoalan yang dihadapinya. 22
21
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani Pres 2005), h.270
22
Asy-Syikh Fuhaim Musthafa, Manhaj Pendidikan Peserta Didik Muslim, (Jakarta:
Mustaqim), 2014 h.138
3. Manfaat Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an
Baca tulis Al-Qur’an merupakan bagian dari mata pelajaran agama
Islam di sekolah yang perlu diajarkan dengan tujuan agar anak dapat
membaca dan menulis Al-Qur’an dengan benar dan lancar.
Adapun manfaat Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an, sebagai
berikut:
a. Sebagai pengantar yaitu mengantarkan peserta didik untuk dapat
mempelajari Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam
b. Sebagai pengajaran yaitu menyampaikan pengetahuan membaca dan
menulis Al-Qur’an pada peserta didik sehingga mempunyai keterampilan
dalam membaca, menulis rangkaian dan menguasai huruf-huruf Al-
Qur’an.
c. Sebagai pengetahuan yaitu bagian dari data pelajaran Pendidikan agama
Islam yang dikembangkan dan dikemas secara khusus sehingga akan
menunjang keberhasilan peserta didik.
4. unsur-unsur dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an
Mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an adalah mata pelajaran yang
diberikan kepada peserta didik. Tujuannya untuk memahami bacaan dan
cara menulis Al-Qur’an yang baik dan benar sebagai sumber ajaran agama
Islam, serta mengamalkan isi kandungannya sebagai petunjuk dalam
kehidupan sehari-hari. Bentuk huruf Al-Qur’an dapat ditulis bermacam-
macam bentuk tulisan, yang dalam Bahasa arab khat (tulisan). Tulisan itu
disebut dengan tulisan indah atau kaligrafi. Setiap bentuk tulisan
mempunyai ciri tersendiri sehingga dapat dibedakan antara satu dengan
yang lainnya. Menulis dan membaca adalah kegiatan yang saling
berhubung.23 Salah satu materi yang disampaikan oleh guru dalam
pembelajaran baca tulis Al-Qur’an yaitu huruf hijaiyah. Huruf hijaiyah
adalah huruf-huruf yang dipakai dalam Bahasa arab. Jumlah huruf hijaiyah
ada 28 buah. Huruf hijaiyah ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri sedangkan
bentuk huruf hijaiyah berbeda-beda namun beberapa huruf hijaiyah
berbentuk sama yang membedakan adalah titiknya. Huruf hiyaiyah bertitik
satu, dua, atau tiga. Tempat titik pun juga berbeda biasanya ada diatas
dibawah atau didalam. 24
Sedangkan cakupan materi yang diajarkan dalam pembelajaran
Baca Tulis Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
a. Membaca huruf Al-Qur’an
b. Menulis huruf Al-Qur’an
c. Merangkai huruf Al-Qur’an
d. Menguraikan huruf Al-Qur’an
e. Tanda baca Al-Qur’an
f. Tajwid25
23
Djalakuddin, Metode Tunjuk Silang Belajar Membaca Al-Qur’an, (Jakarta Pusat:
Kalam Mulia, 2004), h.34
24
Arina Manasikana, Baca Tulis Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007), h.2
25
Abdul Hakim, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: ciputat
Press, 2002), h.7
2. Materi dalam Baca Tulis Al-Qur’an
Untuk memberikan hasil yang baik dalam pendidikan, maka
pemilihan materi pelajaran sebagai bahan ajar merupakan faktor penentu
dalam mencapai keberhasilan pembelajaran terhadap peserta didik.
Adapun materi dalam pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an sebagai
berikut:
a. Ilmu Tajwid
Tajwid berasal dari kata jawwada yang berarti memperindah
sesuatu atau membuat sesuatu menjadi lebih baik. Sedangkan menurut
istilah, ilmu tajwid adalah ilmu yang membahas tata cara membaca Al-
Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid yang
berbeda.
b. Tahfiz atau hafalan
Materi ini meliputi hafalan surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan,
doa sehari-hari. Dengan adanya materi ini diharapkan peserta didik dapat
mengamalkan dalam kegiatan sehari-hari.
c. Menulis huruf Al-Qur’an
Membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang saling
berkaitan maka dari itu menulis Al-Qur’an menjadi materi yang sangat
penting dalam pembelajaran ini. Untuk menulis Al-Qur’an peserta didik
perlu diperkenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah terlebih dahulu lalu
peserta didik diajarkan tentang cara penulisan sehingga peserta didik
mampu menulis huruf tersebut.26
C. Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an
Kemampuan berasal dari kata mampu, menurut Poerwardamita arti
mampu adalah “kesanggupan, kecukupan, kekuatan”.27 Dengan demikian
dapat diambil dari pengertian bahwa kemampuan yang dimaksud adalah suatu
kesanggupan yang dimilki oleh siswa setelah diajarkan membaca dan menulis
Al-Qur’an.
1. Pengertian membaca Al-Qur’an
Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengarahkan
sejumlah tindakan.28 Menurut Mulyono Abdurrahman yang mengutip
pendapat lemer, mengatakan bahwa kemampuan membaca adalah
merupakan dasar untuk menguasai bidang studi, jika peserta didik
permulaan sekolah tidak memiliki kemampuan membaca, maka peserta
akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi
tersebut oleh karena itu peserta didik harus belajar membaca agar dapat
membaca yang baik dan benar untuk belajar. 29
26
Achmad Luthfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis, (Jakarta: Departemen Agama,
2009), h.86
27
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990), h.552
28
Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1988), h.4
29
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1999), h.200
Untuk definisi Al-Qur’an menurut Amin Syukur, Al- Qur’an adalah
nama bagi firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang ditulis dalam mushaf (lembaran) untuk dijadikan pedoman hidup
bagi kehidupan manuisa yang apabila dibaca mendapatkan amal atau pahala
(dianggap ibadah).30
2. Pengertian Menulis Al-Qur’an
Menulis dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah membuat
huruf (angka dan sebagainya) dengan alat tulis (pena), menulis adalah suatu
aktivitas kompleks, yang mencakup gerakan lengan, tangan, jari, dan secara
terintegrasi.31 Jadi kemampuan menulis Al-Qur’an adalah keterampilan
menuliskan huruf-huruf hijiyah dalam Al-Qur’an sesuai dengan kaidah
penulisan yang benar.
3. Materi mengenal huruf Al-Qur’an
Materi mengenal huruf Al-Qur’an adalah materi yang dikenalkan
dengan siswa untuk dapat membaca Al-Qur’an, siswa dikenalkan terlebih
dahulu dengan huruf-huruf hijaiyah, yaitu:
ضصشسزرذدخحجثتبا
يىوهنملكقفغعظط
30
Amir Syukur, Pengantar Studi Islam, (Semarang: Bima Sejati, 2003), h.50
31
Ibid, h.224
Setelah siswa mengenal huruf hijaiyah diatas, selanjutnya
diajarkan cara membaca huruf sesuai dengan makhorijul huruf. Maksud dari
makhorijul huruf adalah tempat atau letak darimana huruf-huruf di
keluarkan. 32
Ada lima tempat keluarnya huruf, yaitu:
a. Jauf (rongga), yaitu huruf Alif ( ) آ, Wawu ( ) ٯ, dan Ya’ ( ) ۑ
b. Halq (tenggorokan, yaitu huruf: Hamzah ( ) ء, Haa’ ( ) ھ, Ain ( ) ع,
dan kha’( ) خ
c. Lisan (lidah), yaitu huruf: Qof ( ) ق, Syin ( ) ش, Ya‟( ) ي, Nun ( ) ن,
Ra‟ ( ) ر, Ta‟( ) ت, Shad ( ) ص, Tsa‟ ( ) ث, Kaf ( ) ق, Dhad ( ) ض, Tha‟
() ط, za ( ) ظ, dzal ( ) ذ, Jim ( ) ج, Lam ( ) ل, Dal ( ) د, dan Dzo’ ( ) ظ,
d. Syafatain (dua bibir), yaitu huruf: Fa‟ ( ) ف, Wawu ( ) و, Ba’ ( ) ب,
Mim ( ) م
e. Khoisyum (pangkal hidung), yaitu huruf: Nun sukun/tanwin bila
bertemu dengan huruf ikhfa‟, idghom bigunnah dan mim yang
diidghomka
4. Materi membaca Al-Qur’an
Materi membaca Al-Qur’an adalah materi lanjutan dari menghafal
huruf Al-Qur’an permulaan. Materi membaca Al-Qur’an terbagi atas
beberapa tingkatan kemahiran, yaitu sebagai berikut:
a. Kemahiran membaca tingkat dasar yaitu kemampuan membaca Al-
Qur’an secara sederhana (belum terikat dengan tajwid dan lagu).
Kemahiran tingkat dasar inipun terbagi menjadi tingkat awal, adalah:
32
Acep Lim Abdurrohman, Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap, CV Penerbit Di Ponogoro
(Bandung:2003), h.17
membaca huruf hijaiyah dan rangkaian kata dan kalimat, kemahiran
kemampuan tingkat campuran adalah mampu membaca tingkat dasar
sederhana.
b. Kemahiran membaca tingkat menengah yaitu mampu membaca dengan
lancar dan tepat sesuai dengan ketentuan ilmu tajwid.
c. Kemahiran membaca tingkat maju yaitu mampu membaca dengan benar
dengan lagu yang benar dan baik.
d. Kemahiran membaca tingkat akhir yaitu mampu membaca Al-Qur’an
dalam berbagai bacaan (qira’at).33
D. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan strategi pembelajaran baca tulis
Al-Qur’an
1. Faktor Guru
Latar belakang guru dengan guru lainnya sangat berbeda dengan
pengalaman pendidikan yang pernah diikuti selama jangka waktu tertentu.
Perbedaan latar belakang ini dikarenakan jenis dan perjejangan dalam
Pendidikan yang berbeda, sehingga akan mempengaruhi kegiatan guru
dalam merencanakan, melaksanakan dan mengavaluasi pembelajaran baca
tulis Al-Qur’an.
Sedangkan pengalaman mengajar bagi seorang guru merupakan
sesuatu yang sangat berharga yang didapat dari bertahun-tahun mengajar.
Dan dari pengalaman ini seorang guru dapat mengetahui lebih mandalam
bagaimana cara mengajar yang baik dan mudah untuk dicerna atau dipahami
oleh siswa. Oleh karena itu, pengalaman dalam mengajar adalah salah satu
faktor yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam memberikan
pengajaran mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an.
33
Andi Sopandi Dkk, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 2010), h.1
2. Faktor Minat Siswa
Siswa adalah sasaran utama dalam proses pembelajaran, maka minat
yang tunjukkan siswa terhadap salah satu mata pelajaran menjadi hal yang
penting dalam menentukan hasil belajar siswa tersebut. Faktor minat
mempunyai pengaruh untuk mencapai prestasi dalam belajar siswa, karena
itu setiap siswa yang ingin mengetahui cara baca tulis Al-Qur’an dengan
baik dan benar, maka siswa harus menanamkan minat yang kuat serta
perasaan yang senang dalam dirinya agar mempelajaran tersebut mudah
dipahami. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Akhmad
D. Marimba adalah “Keinginan dengan sesuatu itu pada umumnya disertai
dengan perasaan senang akan sesuatu.”34
Dari uraian diatas sangat jelas bahwa minat merupakan faktor yang
mempengaruhi dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an karena tanpa
minat siswa proses pembelajaran baca tulis Al-Qur’an akan tidak aktif
sehingga siswa hanya diam dalam kelas dan hanya tidak memberikan respon
dan umpan balik.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana itu meliputi: Buku baca tulis Al-Qur’an, media
pembelajaran, alat-alat pelajaran, Al-Qur’an atau perlengkapan sekolah dan
sebagainya. Jadi sarana dan prasarana mempunyai adil besar dalam
mempengaruhi terhadap pembelajaran baca tulis Al-Qur’an yang diberikan
34
Akhmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. AL-
Ma’arif, 1974), h.45
guru kepada siswa, karena siswa tidak akan menyerap pembelajaran baca
tulis Al-Qur’an dengan baik dan benar tanpa sarana dan prasarana sebagai
penunjang guru dan siswa dalam melaksanakan sebuah pembelajaran baca
tulis Al-Qur’an yang maksimal.
4. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pembelajaran baca tulis Al-
Qur’an adalah lingkungan belajar siswa di sekolah. Lingkungan belajar
yang baik ikut mendukung prestasi hasil belajar siswa. Adapun lingkungan
yang baik adalah:
a. Lingkungan belajar yang tenang, artinya guru dan siswa dapat menjaga
suasana belajar yang tenang terhindar dari suara-suara yang berisik yang
menganggu mempelajaran sehingga guru dan siswa tidak fokus dalam
belajar.
b. Tempat belajar mengajar yang bersih dan nyaman sehingga guru dan
siswa merasa betah dan senang belajar mengajar dan siswa dapat dengan
serius dan santai ketika belajar.
c. Adanya hubungan yang harmonis antara guru dan siswa dalam belajar
sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan.
Novak dan Gowin yang dikutip oleh M. Ali, mengistilahkan
lingkungan fisik tempat belajar dengan istilah “Millieu”, yang berarti
konteks terjadinya pengalaman belajar. Lingkungan ini meliputi: keadaan
ruang, tata letak ruang, dan berbagai fisik yang ada di sekitar kelas atau
sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Lingkungan ini pun
menjadi salah satu factor yang mempengaruhi. 35
Jadi, lingkungan belajar siswa seperti yang dikatakan oleh Novak
dan Gowin adalah suatu hal yang penting dan tidak boleh diacuhkan begitu
saja karena akan memperlambat proses belajar siswa tanpa didukung oleh
lingkungan yang tidak seimbang dan tidak memadai.
35
M. Ali, Guru dan Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1992), h.6