0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan22 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas konsep strategi pembelajaran, yang berasal dari istilah militer dan diterapkan dalam pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Pembelajaran didefinisikan sebagai proses interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam lingkungan belajar, yang melibatkan berbagai komponen seperti tujuan, materi, dan metode. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pentingnya membaca dan menulis Al-Qur'an sebagai bagian dari pembelajaran yang lebih luas.

Diunggah oleh

sherli.oktavia55
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan22 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas konsep strategi pembelajaran, yang berasal dari istilah militer dan diterapkan dalam pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Pembelajaran didefinisikan sebagai proses interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam lingkungan belajar, yang melibatkan berbagai komponen seperti tujuan, materi, dan metode. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pentingnya membaca dan menulis Al-Qur'an sebagai bagian dari pembelajaran yang lebih luas.

Diunggah oleh

sherli.oktavia55
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Strategi Pembelajaran

1. Pengertian Strategi

Pada awalnya strategi berarti kegiatan memimpin militer dalam

menjalankan tugas-tugasnya di lapangan. Karena istilah strategi (strategy)

berasal dari kata benda dan kata kerja dalam bahasa Yunani yaitu

“strategos”. Sebagai kata benda, strategos merupakan gabungan kata

“stratos” yang berarti militer dan “Ago” yang berarti merencanakan. 1

Konsep strategi yang semula diterapkan dalam kemiliteran dan dunia

politik, kemudia di terapkan pula dalam bidang manajemen, dunia usaha,

pengadilan, dan juga Pendidikan. Abin Syamsuddin Makmun berpendapat

bahwa strategi adalah suatu garis-garis besar Haluan untuk bertindak

dalam usaha mencapai tujuan atau sasaran yang sudah ditentukan. 2

Sedangkan menurut Michael J. Lawson, seorang pakar psikologi

Austarlia mengartikan strategi sebagai proses mental yang berbentuk

tatanan langkah yang mengupayakan ranah cipta untuk tujuan tertentu. 3

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia strategi adalah

1
H.D. Sudjana S, Strategi Pembelajaran, (Bandung: Falah Production, 2000), h.5
2
Abind Syamsudin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2001), h.220
3
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2002), h.214
rencana yang cermat untuk mencapai sasaran tertentu4 Dalam pengertian

ini strategi merupakan suatu seni, yaitu seni membawa pasukan kedalam

medan tempur dalam posisi yang palig menguntungkan. Selain daripada

itu makna strategi juga bisa dikatakan sebagai usaha rencana tentang tata

cara pendayagunaan dan penguraian potensi dan sarana yang ada untuk

meningkatkan efektifitas dan efisienisi5 dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa strategi merupakan suatu seni atau cara efektif dan

efisien dalam memanfaatkan sumber daya untuk mencapai sebuah tujuan

secara maksimal.

2. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah aktivitas manusiawi yang berlangsung sejak

awal hidup manusia. Kata pembelajaran merupakan penyederhanaan dari

dua kata yaitu belajar dan mengajar. Adapun hakikat dari sebuah

pembelajaran adalah membelajarkan peserta didik menggunakan asas

Pendidikan merupakan penentu utama keberhasilan Pendidikan. Konsep

pembelajaran menurut corey adalah suatu proses dimana lingkungan

seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta

dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau

menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan

subset khusus dari Pendidikan. 6

4
Diknas, Kamus Bahasa Besar Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h.377
5
Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kreditur, (Jakarta: Bumi Aksara,
1991), h.90
6
Ibid, h.71
Menurut Oemar Hamalik mendefinisikan mengajar sebagai

proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan pada siswa. Dalam

pengertian yang lain, juga dijelaskan bahwa suatu aktifitas professional

yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi dan menyangkut

pengambilan keputusan.

Menururt Hasibuan menyebutkan bahwa konsep mengajar dalam

proses perkembangannya masih dianggap sebagai suatu kegiatan

menyampaikan atau penyerahan pengetahuan. Pandangan semacam ini

masih umum digunakan dikalangan mengajar. Hasil penelitian dan

pendapat para ahli sekarang ini lebih menyempurnakan konsep tradisional

diatas.

Atau dengan gaya lain, mengajar adalah menciptakan system

lingkungan yang memungkinkan terjadi proses belajar. Sistem lingkungan

ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni

tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan

siswa yang memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu,

jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar

yang tersedia. 7

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomr 20 tahun

2003 tentang system Pendidikan Nasional, bahwa pembelajaran adalah

proses interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar yang

7
Ibid, h.7
berlangsung dalam suatu lingkungan belajar.8 Secara Nasional,

pembelajaran dipandang sebagai suatu proses interaksi yang melibatkan

komponene-komponen utama, yaitu peserta didik, pendidik, dan sumber

belajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar, maka yang

dikatakan dengan proses pembelajaran adalah suatu system yang

melibatkan satu kesatuan komponen yang saling berkaitan dan saling

berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharpkan secara optimal

sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Proses pembelajaran ditandai dengan adanya interaksi edukatif

yang terjadi, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan, interaksi ini terjadi

dari pihak pendidik (guru) dan kegiatan belajar secara pedagogis pada diri

peserta didik, berproses secara sistematis melalui tahap rancangan,

pelaksanaan dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan

berproses melalui tahapan-tahapan tertentu. Dalam pembelajaran,

pendidik menfasilitasi peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Dengan adanya interaksi tersebut maka akan menghasilkan proses

pembelajaran yang efektif sebagaimana yang telah dihapkan. 9

3. Pengertian Strategi Pembelajaran

Kata strategi berasal dari Bahasa latin, yaitu ‘strategia’ yang

berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Secara umum

8
Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, h.6

9
Muh. Sain Hanafy, Jurnal Pendidikan: Konsep Belajar dan Pembelajaran, Lentera
Pendidikan, Vol. 17 No. 1 Juni 2014:66-79, h.74
strategi adalah alat, rencana atau metode yang digunakan untuk

menyelesaikan materi pada lingkungan pembelajaran, strategi berkaitan

dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan

pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola

kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan dengan guru secara

konsektual, sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah,

lingkungan sekitar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

Strategi pembelajaran terdiri dari metode, teknik, dan prosedur yang akan

menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul mencapai tujuan

pembelajaran.

Menurut Miarso, Strategi pembelajaran adalah pendekatan

menyeluruh pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa

pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum

pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori

belajar tertentu. Seels dan Richey menyatakan bahwa strategi

pembelajaran merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa dan

kegiatan dalam pembelajaran, yang terdiri dari metode-metode, teknik-

teknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta didik

mencapai tujuan.10

Perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dan peserta

didik dalam proses belajar mengajar itu terdiri dari bermacam-macam

10
Wahyudin Nur Nasution, Strategi Pembelajaran, (Medan: Perdana Publishing, 2017),
h.3
bentuk. untuk keseluruhan bentuk itulah yang dimaksud dengan pola dan

urutan perbuatan antara guru dan peserta didik. Seorang guru yang akan

melakukan sebuah kegiatan pembelajaran maka harus memiliki strategi

terlebih dahulu. Sedangkan menurut W. Gulo strategi pembelajaran

meliputi rencana, metode perangkat kegiatan yang direncanakan untuk

mencapai tujuan tertentu.11

Menurut Pupuh Fathurrohman “Strategi pembelajaran diartikan

sebagai pola-pola umum kegiatan guru, peserta didik dalam perwujudan

kegiatan belajar dan mengajar untuk mencapai tujuan yang telah

digariskan.”12

Menurut Martinis Yamin, “Strategi pembelajaran adalah

berkenaan dengan pendekatan pembelajaran sebagai suatu cara yang

sistematis dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada pembelajaran

untuk mencapai tujuan pembelajaran.” 13

Menurut Wina Sanjaya, “Strategi pembelajaran merupakan

rencana Tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan

pemanfaatan sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang

disusun untuk mencapai tujuan tertentu.”14

11
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, 2012, h.5
12
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, strategi Belajar Mengajar Melalui
Peranan Konsep Umum dan Islami (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011), cet. Ke-5, h.3
13
Martinis Yamin, Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik, (Jakarta: Referensi,
2012), h.69
14
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2013), cet. Ke-10, h.126
Berdasarkan baberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan

bahwa strategi pembelajaran adalah tahapan atau cara pembelajaran yang

terencana secara detail agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan

mampu mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

4. Komponen-komponen Pembelajaran

Agar strategi pembelajaran terarah pada tujuan maka guru harus

memperhatikan komponen-komponen dalam pembelajaran, diantaranya:

tujuan pengajaran, guru, peserta didik, materi pembelajaran, metode

pengajaran, factor administrasi dan finansial. 15

Menurut Mukhtar dan Martinis Yamin komponen tersebut dapat

diuraikan sebagai berikut:

a. Tujuan Pengajaran

Tujuan pengajaran merupakan acuan yang dipertimbangkan

untuk memilih strategi pembelajaran. Dalam penyesunan strategi

pembelajaran, berbagai perubahan yang ingin dicapai harus ditetapkan

secara spesifik, terencana dan harus terarah, atau perilaku hasil belajar

yang diharapkan bisa terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik

setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.

b. Guru

Masing-masing guru berbeda dalam pengalaman, pengetahuan,

kemampuan menyajikan pelajaran, gaya mengajar, pandangan hidup,

maupun wawasannya. Perbedaan ini mengakibatkan adanya perbedaan

15
Ibid, h.8
dalam pemilihan strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses

pembelajaran.

c. Peserta Didik

Dalam proses pembelajaran, peserta didik mempunyai latar

belakang yang berbeda-beda. Seperti lingkungan sosial, lingkungan

budaya, gaya belajar, keadaan ekonomi, dan tingkat kecerdasan. Hal ini

merupakan factor penting dalam menentukan strategi pembelajarn yang

akan digunakan dalam pembelajaran

d. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran dapat dibedakan menjadi materi formal

dan materi informal. Materi formal adalah isis pelajaran yang terdapat

dalam buku teks (paket) disekolah, sedangkan materi informal adalah

bahan-bahan pelajaran dari lingkungan sekolah. Bahan-bahan yang

bersifat informal ini dibutuhkan agar pembelajaran bersifat relevan dan

aktual.

e. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran merupakan factor penting untuk

mendukung kegiatan belajar mengajar. Seseorang guru harus

menetapkan dan merencanakan metode pengajaran yang akan

digunakan agar bisa tercapai pembelajaran yang efektif.

f. Media Pembelajaran

Media merupakan sarana Pendidikan yang tersedia dan sangat

berpengaruh terhadap pemilihan strategi belajar mengajar. Meskipun


keberhasilan proses pembelajaran tidak bergantung kepada

kecanggihan media yang digunakan tetapi efektifitas dan efisiensi

waktu pembelajaran sangat terpengaruh oleh pemanfaatan media

pembelajaran.

g. Faktor administrasi dan finansial

Keadaan kelas, lingkungan sekolah, jadwal pelajaran,

merupakan hal-hal yang tidak dapat diabaikan dalam pemilihan strategi

pembelajaran. 16

Sedangkan menurut Abuddin Nata, komponen strategi

pembelajaran yaitu:

a. Penetapan perubahan yang diharapkan

Dalam penyusunan strategi pembelajaran, berbagai

perubahan yang ingin dicapai harus diciptakan secara spesifik,

terencana dan terarah.

b. Penetapan pendekatan

Penetapan strategi pembelajaran selalu berkaitan dengan

pemilihan cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling

tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Metode dan pendekatan

apapun yang digunakan harus berprinsip yaitu mampu mendorong

dan menggerakan minat peserta didik dalam belajar.

16
Mukhtar dan Martinis Yamin, Metode Pembelajaran yang Berhasil, (Jakarta: Sasamma
Mitra Suksesa, 2002), h.26
c. Penetapan metode

Metode pengajaran merupakan factor penting untuk

mendukung kegiatan belajar mengajar. Seorang guru harus

menetapkan dan merencanakan metode pengajaran dengan baik agar

tercapai pembelajaran yang efektif.

d. Penetapan norma keberhasilan

Penetapan norma keberhasilan sebagai acuan guru yang

digunakan dalam penilaian hasil pembelajaran dan penugasan,

karena kesuksesan kegiatan pembelajaran dapat ditentukan melalui

proses evaluasi. 17

B. Baca Tulis Al-Qur’an

1. Pengertian Baca Tulis Al-Qur’an

Pengertian baca tulis, baca adalah kata benda dari kata kerja

“membaca” yakni melihat tulisan dan mengerti atau melisankan apa yang

tertulis itu dan tulis adalah membuat huruf (angka dan sebagainya dengan

menggunakan pena seperti pensi, pulpen, spidol, kapur dan sebagainya.

Sedangkan membaca adalah salah satu cara terbaik untuk mengisi otak dan

jiwa, seseorang yang banyak membaca akan lebih luas pengetahuannya dan

akan mempermudah seseorang untuk tampil berbicara didepan, intelektual

17
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,
2011) cet. Ke-2, h.210-215
seseorang tidak akan tumbuh sempurnah tanpa membaca bahan bacaan yang

cukup.18

Membaca ialah keterampilan yang sangat kompleks, dan seperti

semua keterampilan lain, membaca dapat ditingkatkan dengan ketetapannya

dan kecepatannya dalam latihan. 19 Melalui aktifitas membaca, seseorang

dapat mengenal suatu objek, ide prosedur konsep, devinisi nama, peristiwa,

rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktifitas

membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi,

seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu atau kejadian

tertentu. Keuntungan membaca adalah mencari serta memperoleh

informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. 20

Adapun pengertian dari Al-Qur’an adalah kalam Allah swt yang

merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi

Muhammad SAW yang ditulis dimushaf dan diriwayatkan kepada

mutawatir dan membacanya adalah ibdah. Mempelajari AL-Qur’an berarti

belajar cara membunyikan huruf-hurufnya dan juga cara menulisnya.

Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan awal bagi seseorang ingin belajar

membaca Al-Qur’an dan menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an

pada tingkatan selanjutnya. Pada tingkatan lanjutan seseorang bisa

18
Byrhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Perekembangan Kurikulum Sekolah Sebuah
Pengantar Teoritas dan Pelaksanaannya (Yogyakarta BEFC 2011), h.63
19
Rita L Aktinson dan Richard C. Aktinson, Pengantar Psikologi, Edisi Ke-8, Jilid 1,
(Penerbit Erlangga Jakarta 2003), h.228
20
Hari Guntur Tarigan, Membaca Meruapakan Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung
Angkasa, 1979), cet, ke-1 h.9
mempelajari ulumul Qur’an dan tafsir Al-Qur’an. Tetapai untuk menuju

ketingkatan ini seseorang harus benar-benar menempuh tingkatan awal

yaitu membaca dan menulis Al-Qur’an. 21

2. Tujuan Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an

Tujuan pengajaran baca tulis Al-Qur’an tidak jauh berbeda dengan

tujuan Pendidikan Al-Qur’an. Tujuan dalam Pendidikan Al-Qur’an itu

sendiri diantaranya:

a. Mengkaji dan membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar, sekaligus


memahami kata-kata dan kandungan makna-maknanya, serta
menyempurnakan cara membaca Al-Qur’an yang benar
b. Memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang makna ayat-ayat
Al-Qur’an dan bagaimana cara merenungkannya dengan baik.
c. Menjelaskan kepada peserta didik tentang hukum-hukum yang ada di
dalam Al-Qur’an, seperti petunjuk-petunjuk dan pengarahan-pengarahan
yang mengarah pada kemaslahatan seorang muslim.
d. Menjelaskan kepada peserta didik tentang hukum-hukum yang ada di
dalam Al-Qur’an dan memberi kesempatan kepada mereka untuk
menyimpulkan suatu hukum dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dengan
caranya sendiri.
e. Agar seorang peserta didik berperilaku dengan mengedepankan etika-
etika Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pijakan dalam bertata krama
dalam kehidupan sehari-hari. Menetapkan akidah Islam di dalam hati
peserta didik, sehingga mereka selalu mensucikan dirinya dan mengikuti
perintah-perintah Allah.
f. Agar seorang peserta didik beriman dan penuh keteguhan terhadap segala
hal yang ada di dalam Al-Qur’an. Di samping dari segi nalar, mereka
juga akan merasa puas terhadap kandungan makna-maknanya, setelah
mengetahui kebenaran bukti-bukti yang dibawanya.
g. Menjadikan peserta didik senang membaca Al-Qur’an dan memahami
nilai-nilai keagamaan yang dikandungnya.
h. Mengkaitkan hukum-hukum dan petunjuk Al-Qur’an dengan realitas
kehidupan seorang muslim, sehingga seorang peserta didik mampu
mencari jalan keluar dari segala persoalan yang dihadapinya. 22

21
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani Pres 2005), h.270
22
Asy-Syikh Fuhaim Musthafa, Manhaj Pendidikan Peserta Didik Muslim, (Jakarta:
Mustaqim), 2014 h.138
3. Manfaat Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an

Baca tulis Al-Qur’an merupakan bagian dari mata pelajaran agama

Islam di sekolah yang perlu diajarkan dengan tujuan agar anak dapat

membaca dan menulis Al-Qur’an dengan benar dan lancar.

Adapun manfaat Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an, sebagai

berikut:

a. Sebagai pengantar yaitu mengantarkan peserta didik untuk dapat

mempelajari Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam

b. Sebagai pengajaran yaitu menyampaikan pengetahuan membaca dan

menulis Al-Qur’an pada peserta didik sehingga mempunyai keterampilan

dalam membaca, menulis rangkaian dan menguasai huruf-huruf Al-

Qur’an.

c. Sebagai pengetahuan yaitu bagian dari data pelajaran Pendidikan agama

Islam yang dikembangkan dan dikemas secara khusus sehingga akan

menunjang keberhasilan peserta didik.

4. unsur-unsur dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an

Mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an adalah mata pelajaran yang

diberikan kepada peserta didik. Tujuannya untuk memahami bacaan dan

cara menulis Al-Qur’an yang baik dan benar sebagai sumber ajaran agama

Islam, serta mengamalkan isi kandungannya sebagai petunjuk dalam

kehidupan sehari-hari. Bentuk huruf Al-Qur’an dapat ditulis bermacam-

macam bentuk tulisan, yang dalam Bahasa arab khat (tulisan). Tulisan itu

disebut dengan tulisan indah atau kaligrafi. Setiap bentuk tulisan


mempunyai ciri tersendiri sehingga dapat dibedakan antara satu dengan

yang lainnya. Menulis dan membaca adalah kegiatan yang saling

berhubung.23 Salah satu materi yang disampaikan oleh guru dalam

pembelajaran baca tulis Al-Qur’an yaitu huruf hijaiyah. Huruf hijaiyah

adalah huruf-huruf yang dipakai dalam Bahasa arab. Jumlah huruf hijaiyah

ada 28 buah. Huruf hijaiyah ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri sedangkan

bentuk huruf hijaiyah berbeda-beda namun beberapa huruf hijaiyah

berbentuk sama yang membedakan adalah titiknya. Huruf hiyaiyah bertitik

satu, dua, atau tiga. Tempat titik pun juga berbeda biasanya ada diatas

dibawah atau didalam. 24

Sedangkan cakupan materi yang diajarkan dalam pembelajaran

Baca Tulis Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

a. Membaca huruf Al-Qur’an

b. Menulis huruf Al-Qur’an

c. Merangkai huruf Al-Qur’an

d. Menguraikan huruf Al-Qur’an

e. Tanda baca Al-Qur’an

f. Tajwid25

23
Djalakuddin, Metode Tunjuk Silang Belajar Membaca Al-Qur’an, (Jakarta Pusat:
Kalam Mulia, 2004), h.34
24
Arina Manasikana, Baca Tulis Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007), h.2
25
Abdul Hakim, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: ciputat
Press, 2002), h.7
2. Materi dalam Baca Tulis Al-Qur’an

Untuk memberikan hasil yang baik dalam pendidikan, maka

pemilihan materi pelajaran sebagai bahan ajar merupakan faktor penentu

dalam mencapai keberhasilan pembelajaran terhadap peserta didik.

Adapun materi dalam pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an sebagai

berikut:

a. Ilmu Tajwid

Tajwid berasal dari kata jawwada yang berarti memperindah

sesuatu atau membuat sesuatu menjadi lebih baik. Sedangkan menurut

istilah, ilmu tajwid adalah ilmu yang membahas tata cara membaca Al-

Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid yang

berbeda.

b. Tahfiz atau hafalan

Materi ini meliputi hafalan surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan,

doa sehari-hari. Dengan adanya materi ini diharapkan peserta didik dapat

mengamalkan dalam kegiatan sehari-hari.

c. Menulis huruf Al-Qur’an

Membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang saling

berkaitan maka dari itu menulis Al-Qur’an menjadi materi yang sangat

penting dalam pembelajaran ini. Untuk menulis Al-Qur’an peserta didik

perlu diperkenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah terlebih dahulu lalu


peserta didik diajarkan tentang cara penulisan sehingga peserta didik

mampu menulis huruf tersebut.26

C. Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an

Kemampuan berasal dari kata mampu, menurut Poerwardamita arti

mampu adalah “kesanggupan, kecukupan, kekuatan”.27 Dengan demikian

dapat diambil dari pengertian bahwa kemampuan yang dimaksud adalah suatu

kesanggupan yang dimilki oleh siswa setelah diajarkan membaca dan menulis

Al-Qur’an.

1. Pengertian membaca Al-Qur’an

Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengarahkan

sejumlah tindakan.28 Menurut Mulyono Abdurrahman yang mengutip

pendapat lemer, mengatakan bahwa kemampuan membaca adalah

merupakan dasar untuk menguasai bidang studi, jika peserta didik

permulaan sekolah tidak memiliki kemampuan membaca, maka peserta

akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi

tersebut oleh karena itu peserta didik harus belajar membaca agar dapat

membaca yang baik dan benar untuk belajar. 29

26
Achmad Luthfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis, (Jakarta: Departemen Agama,
2009), h.86
27
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990), h.552
28
Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1988), h.4
29
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1999), h.200
Untuk definisi Al-Qur’an menurut Amin Syukur, Al- Qur’an adalah

nama bagi firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

SAW yang ditulis dalam mushaf (lembaran) untuk dijadikan pedoman hidup

bagi kehidupan manuisa yang apabila dibaca mendapatkan amal atau pahala

(dianggap ibadah).30

2. Pengertian Menulis Al-Qur’an

Menulis dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah membuat

huruf (angka dan sebagainya) dengan alat tulis (pena), menulis adalah suatu

aktivitas kompleks, yang mencakup gerakan lengan, tangan, jari, dan secara

terintegrasi.31 Jadi kemampuan menulis Al-Qur’an adalah keterampilan

menuliskan huruf-huruf hijiyah dalam Al-Qur’an sesuai dengan kaidah

penulisan yang benar.

3. Materi mengenal huruf Al-Qur’an

Materi mengenal huruf Al-Qur’an adalah materi yang dikenalkan

dengan siswa untuk dapat membaca Al-Qur’an, siswa dikenalkan terlebih

dahulu dengan huruf-huruf hijaiyah, yaitu:

‫ضصشسزرذدخحجثتبا‬

‫يىوهنملكقفغعظط‬

30
Amir Syukur, Pengantar Studi Islam, (Semarang: Bima Sejati, 2003), h.50
31
Ibid, h.224
Setelah siswa mengenal huruf hijaiyah diatas, selanjutnya

diajarkan cara membaca huruf sesuai dengan makhorijul huruf. Maksud dari

makhorijul huruf adalah tempat atau letak darimana huruf-huruf di

keluarkan. 32

Ada lima tempat keluarnya huruf, yaitu:

a. Jauf (rongga), yaitu huruf Alif ( ‫) آ‬, Wawu ( ‫) ٯ‬, dan Ya’ ( ‫) ۑ‬

b. Halq (tenggorokan, yaitu huruf: Hamzah ( ‫) ء‬, Haa’ ( ‫) ھ‬, Ain ( ‫) ع‬,

dan kha’( ‫) خ‬

c. Lisan (lidah), yaitu huruf: Qof ( ‫) ق‬, Syin ( ‫) ش‬, Ya‟( ‫) ي‬, Nun ( ‫) ن‬,

Ra‟ ( ‫) ر‬, Ta‟( ‫) ت‬, Shad ( ‫) ص‬, Tsa‟ ( ‫) ث‬, Kaf ( ‫) ق‬, Dhad ( ‫) ض‬, Tha‟

(‫) ط‬, za ( ‫) ظ‬, dzal ( ‫) ذ‬, Jim ( ‫) ج‬, Lam ( ‫) ل‬, Dal ( ‫) د‬, dan Dzo’ ( ‫) ظ‬,

d. Syafatain (dua bibir), yaitu huruf: Fa‟ ( ‫) ف‬, Wawu ( ‫) و‬, Ba’ ( ‫) ب‬,

Mim ( ‫) م‬

e. Khoisyum (pangkal hidung), yaitu huruf: Nun sukun/tanwin bila

bertemu dengan huruf ikhfa‟, idghom bigunnah dan mim yang

diidghomka

4. Materi membaca Al-Qur’an

Materi membaca Al-Qur’an adalah materi lanjutan dari menghafal

huruf Al-Qur’an permulaan. Materi membaca Al-Qur’an terbagi atas

beberapa tingkatan kemahiran, yaitu sebagai berikut:

a. Kemahiran membaca tingkat dasar yaitu kemampuan membaca Al-


Qur’an secara sederhana (belum terikat dengan tajwid dan lagu).
Kemahiran tingkat dasar inipun terbagi menjadi tingkat awal, adalah:

32
Acep Lim Abdurrohman, Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap, CV Penerbit Di Ponogoro
(Bandung:2003), h.17
membaca huruf hijaiyah dan rangkaian kata dan kalimat, kemahiran
kemampuan tingkat campuran adalah mampu membaca tingkat dasar
sederhana.
b. Kemahiran membaca tingkat menengah yaitu mampu membaca dengan
lancar dan tepat sesuai dengan ketentuan ilmu tajwid.
c. Kemahiran membaca tingkat maju yaitu mampu membaca dengan benar
dengan lagu yang benar dan baik.
d. Kemahiran membaca tingkat akhir yaitu mampu membaca Al-Qur’an
dalam berbagai bacaan (qira’at).33

D. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan strategi pembelajaran baca tulis

Al-Qur’an

1. Faktor Guru

Latar belakang guru dengan guru lainnya sangat berbeda dengan

pengalaman pendidikan yang pernah diikuti selama jangka waktu tertentu.

Perbedaan latar belakang ini dikarenakan jenis dan perjejangan dalam

Pendidikan yang berbeda, sehingga akan mempengaruhi kegiatan guru

dalam merencanakan, melaksanakan dan mengavaluasi pembelajaran baca

tulis Al-Qur’an.

Sedangkan pengalaman mengajar bagi seorang guru merupakan

sesuatu yang sangat berharga yang didapat dari bertahun-tahun mengajar.

Dan dari pengalaman ini seorang guru dapat mengetahui lebih mandalam

bagaimana cara mengajar yang baik dan mudah untuk dicerna atau dipahami

oleh siswa. Oleh karena itu, pengalaman dalam mengajar adalah salah satu

faktor yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam memberikan

pengajaran mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an.

33
Andi Sopandi Dkk, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 2010), h.1
2. Faktor Minat Siswa

Siswa adalah sasaran utama dalam proses pembelajaran, maka minat

yang tunjukkan siswa terhadap salah satu mata pelajaran menjadi hal yang

penting dalam menentukan hasil belajar siswa tersebut. Faktor minat

mempunyai pengaruh untuk mencapai prestasi dalam belajar siswa, karena

itu setiap siswa yang ingin mengetahui cara baca tulis Al-Qur’an dengan

baik dan benar, maka siswa harus menanamkan minat yang kuat serta

perasaan yang senang dalam dirinya agar mempelajaran tersebut mudah

dipahami. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Akhmad

D. Marimba adalah “Keinginan dengan sesuatu itu pada umumnya disertai

dengan perasaan senang akan sesuatu.”34

Dari uraian diatas sangat jelas bahwa minat merupakan faktor yang

mempengaruhi dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an karena tanpa

minat siswa proses pembelajaran baca tulis Al-Qur’an akan tidak aktif

sehingga siswa hanya diam dalam kelas dan hanya tidak memberikan respon

dan umpan balik.

3. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana itu meliputi: Buku baca tulis Al-Qur’an, media

pembelajaran, alat-alat pelajaran, Al-Qur’an atau perlengkapan sekolah dan

sebagainya. Jadi sarana dan prasarana mempunyai adil besar dalam

mempengaruhi terhadap pembelajaran baca tulis Al-Qur’an yang diberikan

34
Akhmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. AL-
Ma’arif, 1974), h.45
guru kepada siswa, karena siswa tidak akan menyerap pembelajaran baca

tulis Al-Qur’an dengan baik dan benar tanpa sarana dan prasarana sebagai

penunjang guru dan siswa dalam melaksanakan sebuah pembelajaran baca

tulis Al-Qur’an yang maksimal.

4. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi pembelajaran baca tulis Al-

Qur’an adalah lingkungan belajar siswa di sekolah. Lingkungan belajar

yang baik ikut mendukung prestasi hasil belajar siswa. Adapun lingkungan

yang baik adalah:

a. Lingkungan belajar yang tenang, artinya guru dan siswa dapat menjaga

suasana belajar yang tenang terhindar dari suara-suara yang berisik yang

menganggu mempelajaran sehingga guru dan siswa tidak fokus dalam

belajar.

b. Tempat belajar mengajar yang bersih dan nyaman sehingga guru dan

siswa merasa betah dan senang belajar mengajar dan siswa dapat dengan

serius dan santai ketika belajar.

c. Adanya hubungan yang harmonis antara guru dan siswa dalam belajar

sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan.

Novak dan Gowin yang dikutip oleh M. Ali, mengistilahkan

lingkungan fisik tempat belajar dengan istilah “Millieu”, yang berarti

konteks terjadinya pengalaman belajar. Lingkungan ini meliputi: keadaan

ruang, tata letak ruang, dan berbagai fisik yang ada di sekitar kelas atau
sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Lingkungan ini pun

menjadi salah satu factor yang mempengaruhi. 35

Jadi, lingkungan belajar siswa seperti yang dikatakan oleh Novak

dan Gowin adalah suatu hal yang penting dan tidak boleh diacuhkan begitu

saja karena akan memperlambat proses belajar siswa tanpa didukung oleh

lingkungan yang tidak seimbang dan tidak memadai.

35
M. Ali, Guru dan Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1992), h.6

Anda mungkin juga menyukai