BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengetahuan
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses
sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan
merupakan domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open
behavior (Donsu, 2017).
Pengetahuan atau knowledge adalah hasil penginderaan manusia atau hasil
tahu seseorang terhadap suatu objek melalui pancaindra yang dimilikinya. Panca
indra manusia guna penginderaan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan untuk menghasilkan
pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap
objek. Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indra pendengaran
dan indra penglihatan (Notoatmodjo, [Link], 2018).
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat erat
hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka akan semakin
luas pengetahuannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah tidak mutlak
berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh
dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non
formal. Pengetahuan akan suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif
8
9
dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang. Semakin
banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap
semakin positif terhadap objek tertentu (Notoatmojo, [Link], 2018).
2.1.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo pada tahun 2018 pengetahuan seseorang terhadap
suatu objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda. Secara garis besar
dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan, yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang
telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu disisni merupakan
tingkatan yang paling rendah. Kata kerja yang digunakan untuk mengukur
orang yang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu dapat menyebutkan,
menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (Comprehention)
Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut,
dan juga tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahuinya. Orang
yang telah memahami objek dan materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menarik kesimpulan, meramalkan terhadap suatu objek
yang dipelajari.
10
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut
pada situasi atau kondisi yang lain. Aplikasi juga diartikan aplikasi atau
penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, rencana program dalam situasi
yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang dalam menjabarkan atau memisahkan,
lalu kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen dalam suatu
objek atau masalah yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang
telah sampai pada tingkatan ini adalah jika orang tersebut dapat membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, membuat bagan (diagram) terhadap
pengetahuan objek tersebut.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam merangkum atau
meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan
yang sudah dimilikinya. Dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi yang sudah ada sebelumnya.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek tertentu. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
11
2.1.3 Proses Perilaku Tahu
Menurut Rogers yang dikutip oleh Notoatmodjo 2017 mengungkapkan
proses adopsi perilaku yakni sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru di
dalam diri orang tersebut terjadi beberapa proses, diantaranya:
1. Awareness ataupun kesadaran yakni apda tahap ini individu sudah menyadari
ada stimulus atau rangsangan yang datang padanya.
2. Interest atau merasa tertarik yakni individu mulai tertarik pada stimulus
tersebut.
3. Evaluation atau menimbang-nimbang dimana individu akan
mempertimbangkan baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Inilah
yang menyebabkan sikap individu menjadi lebih baik.
4. Trial atau percobaanyaitu dimana individu mulai mencoba perilaku baru .
5. Adaption atau pengangkatan yaitu individu telah memiliki perilaku baru
sesuai dengan penegtahuan,, sikap dan kesadarannya terhadap stimulus.
2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (dalam [Link] dan Dewi, 2018) faktor-faktor
yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut :
1. Faktor Internal
a. Pendidikan
12
Pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju impian atau cita-cita tertentu yang menentukan
manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan agar tercapai keselamatan dan
kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi berupa hal-hal
yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut
YB Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo, pendidikan dapat mempengaruhi
seseorang termasuk juga perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi
untuk sikap berpesan serta dalam pembangunan pada umumnya makin tinggi
pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi.
b. Pekerjaan
Menurut Thomas yang kutip oleh Nursalam, pekerjaan adalah suatu keburukan
yang harus dilakukan demi menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya.
Pekerjaan tidak diartikan sebagai sumber kesenangan, akan tetapi merupakan cara
mencari nafkah yang membosankan, berulang, dan memiliki banyak tantangan.
Sedangkan bekerja merupakan kagiatan yang menyita waktu.
c. Umur
Menurut Elisabeth BH yang dikutip dari Nursalam, usia adalah umur individu
yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut
Huclok semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat
seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi
kedewasaannya.
13
d. Faktor Lingkungan
Lingkungan ialah seluruh kondisi yang ada sekitar manusia dan pengaruhnya
dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku individu atau kelompok.
e. Sosial Budaya
Sistem sosial budaya pada masyarakat dapat memberikan pengaruh dari sikap
dalam menerima informasi
2.1.5 Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Nursalam (2016) pengetahuan seseorang dapat diinterpretasikan
dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :
1. Pengetahuan Baik : 76 % - 100 %
2. Pengetahuan Cukup : 56 % - 75 %
3. Pengetahuan Kurang : < 56 %
2.2 Menyusui dan ASI
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan air susu kepada bayi dari buah
dada untuk memenuhi kecukupan nutrisi bayi (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan air
susu ibu (ASI) yang berasal dari payudara ibu. Menyusui adalah gold standard
14
untuk nutrisi dan pertumbuhan bayi (American Acadeny of pediatrics / AAP,
Toto, 2021). Menurut penelitian AAP dan Association of Women, bayi menysu
memiliki tingkat stress yang lebih rendah terhadap makanan dan lebih mudah
dalam mencerna makanan sehingga menghindarkaan kejadian penyakit infeksi
dan penyakit kronik. Selain itu, menyusui menurunkan risiko kematian bayi dan
meningkatkan perkembangan saraf jika dibandingkan dengan pemberian makanan
formula pada bayi.
2.2.1 Definisi ASI dan ASI Eksklusif
Air susu ibu (ASI) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar
payudara wanita melalui proses laktasi (Suharyono, dkk, 2021). ASI adalah jenis
makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologi
sosial, maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormone unsur kekebalan
tubuh, pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup
hampir 200 unsur zat makanan (Hubertin, Toto, dkk, 2021).
ASI adalah makanan terbaik bagi bayi yang berusia 0-6 bulan. Hal ini
didukung oleh pernyataan organisasi kesehatan dunia, World Health Organization
(WHO) yang menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama
kehidupan bayi adalah yang terbaik (WHO, Toto, dkk, 2021).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lainnya pada bayi berumur 0-6 bulan. Bayi hanya diberi ASI tanpa
makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat, vitamin, mineral,
dan ASI yang diperah. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya bahwa ASI
15
ekslusif cukup untuk empat bulan saja menjadi tidak berlaku (AAP, Toto, dkk,
2021).
2.2.2 Manfaat Pemberian ASI Eksklusif
A. Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi adalah :
1. Menurunkan riwayat penyakit bayi
United Nations Childern Funds (UNICEF) menyatakan bahwa pemberian
ASI eksklusif pada bayi menghindarkan dari kematian bayi yang
disebabkan oleh penyakit anak seperti diare dan peunomonia serta
mempercepat penyembuhan selama sakit.
2. Meningkatkan imunitas
ASI memiliki komponen-komponen yang mampu mempengaruhi
mikroflora usus bayi. Keaadaan ini menyebabkan kolonisasi bakteri baik
meningkat dan kolonisasi bakteri jahat terhambat.
3. Menurunkan resiko alergi
Faktor-faktor resiko terjadinya alergi adalah adanya paparan terhadap
mikroba, lamanya pemberian ASI, pengenalan terlalu dini terhadap
makanan padaat, pembatasan makanan mengandung allergen pada ibu
hamil dan bayi, pre- dan probiotik, suplemen, vitamin, makanan organik,
dan gaya hidup.
4. Menrunkan resiko obesitas
16
Obesitas adalah keadaan patologis berupa penimbunana lemak yang
berlebihan di dalam tubuh. Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu
penyakit salah gizi akibat konsumsi makanan yang jauh melebihi
kebutuhannya. Obesitas pada anak menyebabkan banyak masalah jika
bearlanjut sampai dewasa (Soetjiningsih, Toto, Nur, 2021)
5. Meningkatkan tumbuh kembang bayi
Penelitian yang dilakukan oleh Widodo et al menunjukan, pemberian ASI
ekslusif dapat memberikan efek positif terhadap pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Pertumbuhan serta perkembangan bayi dan balita
sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk
energy dan zat gizi lainnya yang terkandung dalam ASI. (Siregar, Toto,
dan Nur, 2021).
6. Meningkatkan kognitif bayi
ASI mengandung zat-zat nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan dan
perkembangan otak. Lemak yang terdapat dalam ASI adalah makanan
terbaik bagi otak bayi. Lemak di dalam ASI merupakan komponen ASI
yang dapat berubah-ubah kadarnya. Kadar lemak dalam ASI bervariasi
sesuai kebutuhan bayi yang sedang tumbuh. (Toto Sudargo, Nur Aini,
2021).
7. Memberikan kasih sayang
Menyusui menciptakan ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Menyusui
juga berperan penting dalam perkembangan emosional dan spiritual anak.
Penelitian menyatakan bahwa terdapat perbedaan pada emosional anak
17
yang mengonsumsi ASI eksklusif dengan yang tidak mengonsumsi ASI
eksklusif. Pada penelitian tersebut disebutkan bahwa anak yang tidak
mengonsumsi ASI eksklusif cenderung memiliki masalah mental
emosional. Selain itu, mental dan emosional anak juga dipengaruhi oleh
pengetahuan ibu, tingkat pendidikan ibu, dan sikap ibu. (Seryani, Toto,
dkk, 2021).
B. Manfaat ASI Eksklusif untuk Ibu
1. Menurunkan risiko kanker payudara
Sebuah review dari studi di 30 negara menyatakan bahwa risiko kanker
payudara dapat berkurang 4,3% setiap 12 bulan menyusui. Menurut WHO,
diperkirakan bahwa pemberian ASI dapat mencegah 20.000 kematian ibu
akibat kanker payudara setiap tahunnya. Salah satu pemicu kanker
payudara adalah kurangnya pemberian ASI eksklusif untuk bayi.
2. Mencegah beberapa jenis penyakit
Berbagai studi menunjukkan bahwa menyusui dapat mencegah beberapa
penyakit bagi sang ibu, yaitu diabetes tipe II, rheumatoid arthritis,
penyakit jantung, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
3. Metode kontrasepsi alami
Durasi yang lama dalam menyusui juga dikenal membawa dampak bagi
kesehatan serta kesejahteraan sang ibu, yaitu menunda kembalinya periode
menstruasi yang dapat membantu memperpanjang waktu antara
kehamilan. Ini adalah metode kontrasepsi alami yang dikenal sebagai
Metode Amenore Laktasi (MAL).
18
4. Mengurangi depresi pasca melahirkan
Menurut Kemenkes, kondisi kesehatan dan mental ibu akan jauh lebih
stabil ketika masa menyusui. Tak hanya itu, menyusui juga dapat bisa
mengatasi trauma secara perlahan bagi sang ibu yang mengalami baby
blues syndrome terlebih jika belum terbiasa memberikan ASI eksklusif
kepada bayinya.
5. Mempercepat pemulihan pasca melahirkan
Hal ini dikarenakan hormon oksitosin yang dikeluarkan selama masa
menyusui. Hormon ini mengembalikan rahim ke ukuran normal dengan
cepat, serta dapat mengurangi perdarahan pasca melahirkan.
6. Menyejahterakan ekonomi keluarga
Menyusui dikenal sebagai investasi untuk kelangsungan hidup sang anak.
Hal ini dikarenakan menyusui sangat terkait dengan kecerdasan anak yang
berhubungan dengan IQ tinggi dan berdampak pada pencapaian akademik
yang baik di masa depan, serta kesehatan sang anak yang akan terhindar
dari berbagai penyakit di kemudian hari. Berdasarkan Kemenkes, sebuah
studi menunjukkan bahwa tidak menyusui berhubungan dengan kerugian
ekonomi sekitar 302 miliar dollar atau kurang lebih 0,49% dari Pendapatan
Nasional Bruto setiap tahunnya karena meningkatnya risiko kematian ibu
dan balita.
2.2.3 Cara Menyusui yang Benar
Menurut Astuti (2018), langkah-langkah yang benar meliputi:
19
a. Cuci tangan, tangan dicuci dengan air bersih dan sabun, kemudian
dikeringkan. Dalam bulan pertama kehidupan, bayi sangat rentan karena
penyakit infeksi salah satu penularannya adalah tangan.
b. Langkah sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan
pada puting susu dan areola. Cara ini mempunyai manfaat sebagai
disinfektan dan menjaga kelembapan putting susu.
c. Memegang bayi.
1) Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara
2) Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lekung
siku ibu, dan bokong bayi terletak pada lengan. Kepala bayi tidak
boleh tertengadah dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
3) Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu, dan satu lagi di
depan.
4) Perut bayi menempel badan ibu dan kepala bayi menghadap payudara.
5) Teling dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
6) Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
d. Menyangga payudara Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari
yang lain menompang di bawah, jangan menekan putting susu atau
areolanya saja.
e. Perlekatan yang benar :
1) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rotting reflex) dengan
cara menyentuh pipi dengan puting susu, menyentuh sisi mulut.
20
2) Setelah mulut bayi terbuka lebar, dengan cepat kepala bayi didekatkan
ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi.
3) Sebagian besar areola diusahakan dapat masuk ke dalam mulut bayi,
sehingga putting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan
menekan ASI keluar dari tempat penampungan di bawah areola.
4) Setelah bayi mulai menghisap. Payudara tidak perlu dipegang atau
disangga lagi.
f. Melepas Isapan Bayi
Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau
dagu bayi ditekan ke bawah. Menyusui berikutnya dari payudara yang
terakhir dikosongkan. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit
kemudian dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan
kering dengan sendirinya.
g. Menyedawakan Bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara Dari lubang
supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah menyusu. Cara
menyendawakan bayi yaitu dengan berikut: 1) Bayi digendong tegak
dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggungnya ditepuk
perlahan. 2) Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian
punggungnya ditepuk perlahan.
2.2.4 Hambatan Dalam Pemberian ASI
1. Karakteristik Ibu
21
Karakteristik ibu dipengaruhi beberapa faktor seperti, tingkat pendidikan
ibu, usia ibu, paritas, dan metode kelahiran bayi.
2. Sosial Budaya
Yang mempengaruhi hubungan sosial budaya ibu terhadap hambatan
pemberian ASI adalah peningkatan kesibukan ibu, persepsi ibu terhadap
menyusui, dan pengetahuan ibu,
3. Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang mempengaruhi terhadap hambatan pemmberiam
ASI adalah takut kehilangan daya Tarik terhadap diri ibu dan tekannan batin.
4. Faktor Fisik Ibu
Alasan yang sering membuat ibu berhendi menyusui adalah kerna ibu
sakit, baik sebentar maupun lama.
5. Status Gizi Ibu
Hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara status gizi
dengan pemberian ASI eksklusif mewajibkan ibu untuk selalu mengontrol
status gizi nya selama hamil.
6. Asupan Makan Ibu
Asupan ibu saat hamil memliki dampak untuk kelancaran kehamilan.
Asupan saat hamil mempengaruhi penambahan berat badan yang juga
mempengaruhi komplikasi kehamilan, serta performa ASI. Asupan yang
22
mempengaruhi penyimpanan lemak pada tubuh ibu yang berfungsi saat
produksi ASI pada masa menyusui (Butte, King, dkk, 2021).
7. Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Dukungan keluarga cukup berpengaruh pada keberhasilan praktik
pemberian ASI eksklusif. Menurut Hedianti (2017), dukungan anggota
keluarga dapat membantu dalam kesuksesan pemberian ASI eksklusif terutama
dukungan suami dan keluarga. Selain dari keluarga, dukungan dari aspek-aspek
lain seperti yang tercantum dalam Pasal 29 Peraturan Pemerintah (PP)
Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif,
bahwa tenaga kesehatan berperan dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
2.2.5 Penanganan Peningkatan Produksi ASI
Penatalaksanaan melakukan pendekatan terapeutik, menilai adanya tanda-
tanda demam dan infeksi, HE pemberian ASI eksklusif, melakukan rangsangan
menyusui atau dapat memerah payudara dengan tangan atau pompa payudara, lalu
beritahu cara menyimpan ASI, memberitahu ibu pola penyusuan ASI untuk bayi
pada ibu bekerja, meningkatkan frekuensi menyusui secara on demand atau tanpa
di jadwal sesuai kebutuhan bayi, memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup,
makanan yang bergizi dan cukup cairan, memastikan ibu menyusui dengan baik
dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui, memberikan motivasi
pada ibu bahwa ibu mampu memproduksi ASI yang cukup, melakukan pijat
oksitosin, menganjurkan ibu kontrol bila ada keluhan lagi (Alvina, 2021).
23
2.3 Konsep Pijat Oksitosin
2.3.1 Definisi Pijat Oksitosin
Pijat oksitosin menupakan teknik pemijatan sepanjang tulang belakang
(vertebrae) sampai tulang costae (tulang rusuk) kelima-keenam, serta usaha
merangsang hormon prolaktin dan oksitosin untuk meningkatkan produksi ASI
(Ibrahim, Suciawati, dkk, 2021).
Pijat merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidak lancaran
produksi ASI. Pijatan atau rangsangan pada tulang belakang akan merelaksasikan
ketegangan, dan menghilangkan stress sehingga dapat merangsang pengeluaran
hormone oksitosin dan akan membantu pengeluaran air susu ibu, dibantu dengan
isapan bayi pada puting susu saat segera setelah bayi lahir dengan keaadan bayi
normal (Endah, Tutik, 2020).
Pijat oksitosin dilakukan untung merangsang refleks oksitosin atau refleks
let down dan bisa dilakukan dengan bantuan keluarga terlebih suami. Pijar
oksitosin secara signifikan dapat mempengaruhi sistem saraf perifer,
meningkatkan rangsangan dan konduksi impuls saraf, melemahkan dan
menghentikan rasa sakit serta meningkkatkan aliran darah ke jaringan dan organ
serta membuat otot menjadi fleksibel sehingga merasa nyaman dan rileks (Sestu,
Yuni, 2022).
24
2.3.2 Manfaat Pijat Oksitosin
Manfaat pijat oksitosin menurut Bobak (dalam Tutik, 2020), antara lain :
1. Membantu ibu secara psikologis memberikan ketenangan dan tidak stress.
2. Membangkitkan rasa percaya diri.
3. Membantu ibu agar mempunyai pikiran dan perasaan baik tentang
bayinya.
4. Meningkatkan produksi ASI
5. Memperlancar ASI
6. Melepas lelah
7. Ekonomis
8. Praktis
Pijat oksitosin akan lebih efektif apabila dipadukan dengan perawatan
payudara (breast care) pada ibu menyusui dibandingkan hanya dilakukan pijat
oksitosin saja. Dilakukan dengan tujuan untuk memperlancar produksi ASI dan
dapat dilakukan selama hamil sampai menyusui.
2.3.3 Tujuan Pijat Oksitosin
Tujuan diberikannya pemberian pijat oksitosin pada ibu menyusui adalah :
1. Merelaksasi ketegangan.
25
2. Menghilangkan stress sehingga dapat merangsang pengeluaran hormon
oksitosin.
3. Membantu pengeluaran ASI.
2.3.4 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pijat Oksitosin
Ibu harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
pijat oksitosin yaitu mendengarkan suara bayi yang dapat memicu aliran yang
memperlihatkan bagaimana produksi susu dapat dipengaruhi secara psikologis
dan kondisi lingkungan saat menyusui, rasa percaya diri sehingga tidak muncul
presepsi tentang ketidak cukupan suplai ASi, mendekatkan diri dengan bayi,
berelaksasi, dukungan suami dan keluarga, minum-minuman hangat yang
menenangkan dan tidak dianjurkan untuk minum kopi, menghangatkan payudara,
merangsang puting susu dengan menarik dan memutar puting secara perlahan
mengguanakan jari-jari ibu.
2.3.5 Tata Cara Pijat Oksitosin
A. Persiapan Alat
1. Baby Oil / minyak kelapa.
2. Handuk besar 2
3. Gelas tempat ASI
4. Baskom
5. Waslap
6. Air Hangat
26
B. Persiapan Pasien
1. Memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada pasien.
2. Berikan penjelasan kepada pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan.
3. Jelaskan kemungkinan hasil yang akan diperoleh dari pijat oksitosin.
4. Jaga privasi klien.
C. Tata Laksana Pijat Oksitosin
Fase Orientasi
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3. Menanyakan kesiapan dan kontrak waktu
Fase Kerja
1. Mencuci tangan
2. Meminta ibu untuk melelpaskan pakaian bagian atas
3. Memposisikan ibu duduk di kursi dan membungkuk dengan memeluk
bantal atau dapat menopang diatas lengan pada meja
4. Memasang handuk diatas pangkuan ibu, biarkan payudara bebas tanpa
bra
5. Melumuri telapak tangan dengan minyak atau baby oil
6. Memijat sepanjang kedua sisi tulang belakang ibu dengan
menggunakan dua kepalan tangan dan ibu jari menunjuk ke arah depan
7. Menekan kedua ibu jari pada kedua sisi tulang belakang dengan
memebentuk gerakan memutar kecil
27
8. Pada saat bersamaan, pijat kedua sisi tulang belakang kearah bawah
leher dari leher kearah tulang belikat selama 2-3 menit
9. Mengulangi pemijatan hingga 3 kali
10. Memebersihkan punggung ibu dengan washlap air hangat
11. Merapikan pasien dan alat.
Fase Terminasi
1. Evaluasi respon pasien
2. Mencuci tangan
3. Dokumentas
2.4 Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep
atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian. Pembuatan kerangka konsep
mengacu pada masalah-masalah yang akan diteliti atau berhubungan dengan
penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat, 2017).
Kerangka konsep penelitian merupakan suatu cara yang digunakan untuk
menjelaskan hubungan atau kaitan antara variabel yang akan diteliti
(Notoatmodjo, 2018).
Bagan 2.4.1 Kerangka Konsep
Input Proses Output
Pengetahuan Ibu 1. Manfaat Pijat Baik : 76 % - 100 %
Menyusui yang Oksitosin
Memiliki Bayi Usia 2. Tujuan Pijat Cukup : 56 % - 75 %
0-12 Bulan di UPT Oksitosin
Puskesmas Puter 3. Faktor yang Kurang : < 56
Jalan Puter Nomor 03 mempengaruhi
Desa Sadang Serang %
keberhasilan
Kecamatan Coblong pijat oksitosin
Kota Bandung Tahun 4. Persiapan Alat
28
2.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional
berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga peneliti dapat melakukan
pengukuran yang tepat terhadap suatu fenomena yang ada.
Definisi operasional yaitu pemberian atau penetapan makna bagi suatu
variabel dengan spesifikasi kegiatan atau pelaksanaan atau operasi yang
dibutuhkan untuk mengukur, mengkategorisasi, atau memanipulasi variabel.
Definisi operasional mengatakan pada pembaca laporan penelitian apa yang
diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau pengujian hipotesis (Sutama, 2016).
Tabel 2.5.1 Definisi Operasional
Variable Definisi Skala
Sub Variable Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
Pengetahuan Suatu hasil dari Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
rasa keingintahuan
melalui proses Cukup:56% -75 %
sensoris, terutama
pada mata dan
telinga terhadap Kurang : < 56 %
objek tertentu.
Pengetahuan
merupakan domain
yang penting
dalam
29
terbentuknya
perilaku terbuka
atau open
behavior.
Ibu Ibu yang Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
Menyusui memberikan air
susu kepada bayi Cukup:56% -75 %
dari buah dada
untuk memenuhi
kecukupan nutrisi Kurang : < 56 %
bayi. Menyusui
adalah proses
pemberian susu
kepada bayi atau
anak kecil dengan
air susu ibu (ASI)
yang berasal dari
payudara ibu.
Pijat Teknik pemijatan Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
Oksitosin sepanjang tulang
belakang Cukup:56% -75 %
(vertebrae) sampai
tulang costae
(tulang rusuk) Kurang : < 56 %
kelima-keenam,
serta usaha
merangsang
hormon prolaktin
dan oksitosin.
Manfaat Untuk membantu Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
ibu secara
psikologis Cukup:56% -75 %
memberikan
ketenangan dan
Kurang : < 56 %
tidak stress,
membangkitkan
rasa percaya diri,
30
membantu ibu agar
mempunyai
pikiran dan
perasaan baik
tentang bayinya,
meningkatkan
produksi ASI, dan
memperlancar
ASI.
Tujuan Untuk merelaksasi Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
ketegangan,
menghilangkan Cukup:56% -75 %
stress sehingga
dapat merangsang
Kurang : < 56 %
pengeluaran
hormon oksitosin,
dan membantu
pengeluaran ASI.
Faktor yang Mendengarkan kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
mempengaruhi suara bayi yang
keberhasilan dapat memicu Cukup:56% -75 %
aliran produksi
susu, rasa percaya
Kurang : < 56 %
diri, mendekatkan
diri dengan bayi,
berelaksasi,
dukungan suami
dan keluarga,
minum-minuman
hangat,
menghangatkan
payudara,
merangsang puting
susu.
Persiapan Alat Alat yang harus Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
dipersiapkan,
yakni Baby Oil / Cukup:56% -75 %
minyak kelapa,
handuk besar 2
31
buah, gelas tempat Kurang : < 56 %
ASI, baskom,
waslap, dan air
Hangat.
Tata Cara Pijat 1. Memposisikan Kuesioner Baik: 60% - 100% Ordinal
Oksitosin ibu duduk di
kursi dan Cukup:56% -75 %
membungkuk
dengan
Kurang : < 56 %
memeluk bantal
atau dapat
menopang diatas
lengan pada
meja
2. Memasang
handuk diatas
pangkuan ibu,
biarkan
payudara bebas
tanpa bra
3. Melumuri
telapak tangan
dengan minyak
atau baby oil
4. Memijat
sepanjang kedua
sisi tulang
belakang ibu
dengan
menggunakan
dua kepalan
tangan dan ibu
jari menunjuk ke
arah depan
5. Menekan kedua
ibu jari pada
kedua sisi tulang
belakang dengan
memebentuk
gerakan
32
memutar kecil
6. Pada saat
bersamaan, pijat
kedua sisi tulang
belakang kearah
bawah leher dari
leher kearah
tulang belikat
selama 3-5
menit
7. Mengulangi
pemijatan
hingga 3 kali
8. Membersihkan
punggung ibu
dengan washlap
air hangat
9. Merapikan
pasien dan alat.