PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Matematika
Oleh
Mawar Idah Shonia
34201700015
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2021
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Pendidikan Matematika
Oleh
Mawar Idah Shonia
34201700015
Menyetujui untuk diajukan pada ujian sidang skripsi
Pembimbing I Pembimbing II
Mochamad Abdul Basir, [Link]. Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D.
NIK. 211312009 NIK. 211312003
Mengetahui,
Ketua Program Studi,
Mochamad Abdul Basir, [Link].
NIK. 211312009
ii
LEMBAR PENGESAHAN
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER
Disusun dan Dipersiapkan Oleh
Mawar Idah Shonia
34201700015
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 13 Desember 2021
Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima sebagai persyaratan untuk
mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika
SUSUNAN DEWAN PENGUJI
Ketua Penguji : Nila Ubaidah, [Link]. ( )
NIK. 211313017
Penguji 1 : Dr. Hevy Risqi Maharani, [Link]. ( )
NIK. 211313016
Penguji 2 : Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D. ( )
NIK. 211312003
Penguji 3 : Mochamad Abdul Basir, [Link]. ( )
NIK. 211312009
Semarang, 13 Desember 2021
Universitas Islam Sultan Agung
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dekan,
[Link], [Link]., [Link]
NIK. 211312011
iii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Mawar Idah Shonia
NIM : 34201700015
Program Studi : Pendidikan Matematika
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Menyusun skripsi dengan judul :
Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem
Kognitif Marzano pada Program Linier SMA
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini adalah hasil karya tulis saya
sendiri dan bukan dibuatkan orang lain atau jiplakan atau modifikasi karya orang
lain.
Bila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi termasuk
pencabutan gelar kesarjanaan yang sudah saya peroleh.
Semarang, 13 Desember 2021
Yang membuat pernyataan,
Mawar Idah Shonia
NIM 34201700015
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“Menghafal adalah cara yang susah payah untuk mengumpulkan informasi.
Tetapi dalam proses itu, sesungguhnya kita tidak dilatih menggunakan informasi
itu untuk memecahkan masalah.” (Goenawan Mohamad)
“Hidup yang baik adalah ketika diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu
pengetahuan.” (Bertrand Russel)
Tidak harus bisa bernyanyi untuk menjadi seorang penyanyi, jadilah seperti
aljabar yang selalu mempelajari simbol-simbol untuk mencapai suatu titik
maksimum diri sendiri tanpa meniru orang lain untuk terlihat keren.
Sesungguhnya kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan tetapi kebahagiaanlah
kunci dari kesuksesan. (Penulis)
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung.
v
SARI
Mawar Idah Shonia. 2021. Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar
Berdasarkan Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano Materi Program Linier,
Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Islam Sultan Agung. Pembimbing I: Mochamad Abdul
Basir, [Link].,[Link]., Pembimbing II : Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D.
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yang menduduki posisi 10
terbawah dalam PISA menjadi salah satu latar belakang peneliti membuat
pengembangan ini. Selain itu, kurangnya inovasi guru matematika untuk
menunjukan kreativiatas membuat soal-soal matematika khususnya pada penalaran
aljabar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengembangan
instrumen tes dengan hasil pengembangan yang valid dan reliabel.
Jenis penelitian ini berupa pengembangan menggunakan metode Plomp.
Penelitian pengembangan Plomp terdiri dari lima fase yaitu investigasi awal,
desain, realisasi/konstruksi, tes revisi dan evaluasi, dan implementasi. Akan tetapi,
peneliti hanya melakukan empat fase saja karena kondisi pandemi covid-19 yang
memuncak untuk dilakukan pertemuan skala besar. Instrumen tes yang
dikembangkan akan dilakukan uji validasi oleh ahli, uji validitas soal dan uji
reliabilitas. Subjek uji coba terbatas dilakukan di SMAN 7 Semarang dengan
jumlah 9 siswa kelas XI.
Hasil penelitian pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan
sistem kognitif pada taksonomi Marzano materi program linier telah melalui proses
pengembangan dengan empat fase yaitu investigasi awal, desain,
realisasi/konstruksi dan tes evaluasi revisi. Melalui keempat proses tersebut
instrumen tes yang dikembangkan peneliti berupa satu soal uraian dengan tiga sub
soal memenuhi kriteria valid dan reliabel untuk digunakan ke skala besar.
Kata Kunci : Pengembangan, Instrumen Tes, Penalaran Aljabar, Sistem Kognitif
Marzano, Program Linier
vi
ABSTRACT
Mawar Idah Shonia. 2021. Development of Algebraic Reasoning Test Instrumens
Based on Marzano's Cognitive System in the Linear Program of High School
Students, Thesis. Mathematics Education Study Program. Faculty of Teacher
Training and Education, Universitas Islam Sultan Agung. Supervisor I: Mochamad
Abdul Basir, [Link]., [Link]., Supervisor II: Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D.
The low quality of education in Indonesia, which occupies the bottom 10
positions in PISA, is one of the reasons why researchers made this development. In
addition, the lack of innovation of mathematics teachers to show creativity in
making math problems, especially in algebraic reasoning. The purpose of this study
was to determine the process of developing a test instrument with valid and reliable
development results.
This type of research is a development using the Plomp method. The Plomp
development research consists of five phases, namely initial investigation, design,
realization/construction, revision and evaluation tests, and implementation.
However, the researchers only carried out four phases due to the peaking Covid-
19 pandemic conditions for large-scale meetings to be held. The test instrument
developed will be validated by experts, test the validity of the questions and test
reliability. The subject of a limited trial was conducted at SMAN 7 Semarang with
a total of 9 students in class XI.
The results of the research on developing an algebraic reasoning test
instrument based on the cognitive system on Marzano's taxonomy of linear
programming material has gone through a development process with four phases,
namely initial investigation, design, realization/construction and revision
evaluation test. Through these four processes, the test instrument developed by the
researcher was in the form of a description question with three sub-questions that
met the valid and reliable criteria for use on a large scale.
Keywords: Development, Test Instruments, Algebraic Reasoning, Marzano
Cognitive System, Linear Program
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya,
sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengembangan
Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano pada
Program Linier Siswa SMA”.
Sholawat dan salam tidak lupa kita lantunkan kepada teladan seluruh umat
Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang membawa umatnya dari zaman
kebodohan sampai zaman yang penuh dengan ilmu saat ini.
Selama penelitian dan penulisan skripsi ini banyak sekali hambatan yang
penulis alami, namun berkat bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai
pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih tak
terhingga dari peneliti kepada seluruh pihak yang telah membantu selesainya
penelitian ini:
1. Drs. Bedjo Santoso, MT., Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Sultan
Agung Semarang.
2. Dr. Turahmat, [Link] selaku Dekan FKIP Universitas Islam Sultan
Agung Semarang.
3. Mochamad Abdul Basir, [Link] selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Matematika FKIP Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
4. Mochamad Abdul Basir, [Link] dan Dyana Wijayanti, Ph.D selaku dosen
pembimbing I dan dosen pembimbing II yang telah bersedia
memberikan pengarahan, waktu dan pikirannya untuk membimbing
saya selama proses penulisan skripsi.
5. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Matematika yang telah
memberikan ilmu serta dukungannya kepada penulis selama menempuh
pendidikan di FKIP Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
6. Seluruh staf jurusan pendidikan matematika yang telah membantu
kelancaran penulis dalam pelaksanaan penelitian.
7. Soleh Amin, [Link]., [Link] selaku Kepala Sekolah SMAN 7 Semarang
yang telah berkenan memberikan izin untuk melaksanakan penelitian.
8. Phaksi Nirwana,[Link].,Gr selaku guru matematika SMAN 7 Semarang
viii
yang telah membantu selama proses penelitian.
9. Kedua orang tua penulis, Bapak Abu Sujak dan Ibu Mukini yang telah
mendoakan, mendukung serta memberikan nasehat untuk penulis dalam
menyelesaiakan studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas
Islam Sultan Agung Semarang.
10. Seluruh teman-teman seperjuangan jurusan pendidikan matematika
angkatan 2017 yang bersedia memberikan masukan kepada penulis,
tetap jaga silaturahmi dan kebahagiaan selalu menyertai kita semua.
11. Semua pihak yang telah membantu dan mendoakan penulis sehingga
terselesainya skripsi ini.
Tulisan (Skripsi) yang sederhana ini dan pastinya masih ada
kekurangan dalam penulisan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi
pembaca dan memotivasi bagi seluruh pendidik untuk mengembangkan
kreativitasnya untuk meningkatkan mutu belajar siswa.
Semarang, 13 Desember 2021
Penulis
ix
DAFTAR ISI
JUDUL…………………………………………………………………………….i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii
PERNYATAAN KEASLIAN ................................................................................ iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...........................................................................v
SARI....................................................................................................................... vi
ABSTRACT .......................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii
DAFTAR ISI ............................................................................................................x
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 8
1.5 Batasan Masalah ....................................................................................... 9
1.6 Spesifikasi Produk .................................................................................... 9
x
BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................10
2.1 Pengembangan Plomp ............................................................................ 10
2.2 Kemampuan Penalaran Aljabar .............................................................. 13
2.3 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano .................................................... 17
2.4 Hubungan Penalaran Aljabar dengan Taksonomi Marzano ................... 27
2.5 Program Linier ....................................................................................... 29
2.6 Penelitian yang Relevan ......................................................................... 30
2.7 Instrumen Tes ......................................................................................... 31
2.8 Kerangka Berpikir .................................................................................. 34
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................36
3.1 Jenis dan Desain Penelitian .................................................................... 36
3.2 Daerah dan Subjek Penelitian................................................................. 36
3.3 Rancangan Penelitian ............................................................................. 37
3.4 Metode Pengumpulan Data .................................................................... 44
3.5 Analisis Data .......................................................................................... 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................49
4.1 Hasil Penelitian....................................................................................... 49
4.2 Pembahasan ............................................................................................ 64
BAB V PENUTUP................................................................................................77
5.1 Simpulan ................................................................................................. 77
xi
5.2 Saran ....................................................................................................... 77
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................79
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano ................................................... 22
Tabel 2.2 Penarikan Kembali Pengetahuan .......................................................... 24
Tabel 2.3 Proses Kognitif Pemahaman ................................................................. 25
Tabel 2.4 Proses Kognitif Analisis........................................................................ 26
Tabel 2.5 Proses Kognitif Pemanfaatan Pengetahuan........................................... 27
Tabel 2.6 Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Program Linier ................... 29
Tabel 2.7 Penelitian yang Relevan ........................................................................ 30
Tabel 3.1 Karakteristik Soal Penalaran Aljabar Sistem Kognitif Analisis .......... 38
Tabel 3.2 Nama-nama Validator dari Para Ahli.................................................... 40
Tabel 3.3 Lembar Validasi oleh Para Ahli ............................................................ 40
Tabel 3.4 Interpretasi Validasi Soal oleh Para Ahli .............................................. 46
Tabel 3.5 Interpretasi Validitas oleh Siswa .......................................................... 46
Tabel 3.6 Interpretasi Reliabilitas ......................................................................... 48
Tabel 4.1 Kisi- kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar ........... 53
Tabel 4.2 Kunci Jawaban ...................................................................................... 54
Tabel 4.3 Pedoman Penilaian dengan Metode Rubrik Holistik ............................ 57
Tabel 4.4 Hasil Validasi Instrumen Tes oleh Para Ahli ........................................ 59
Tabel 4.5 Hasil Uji Validasi Soal oleh Para Ahli ................................................. 61
Tabel 4.6 Uraian Revisi Instrumen Tes ................................................................ 61
Tabel 4.7 Hasil Perolehan Uji Validitas oleh Para Siswa ..................................... 62
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas oleh Para Siswa .................................................. 63
Tabel 4.9 Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano .......................................... 75
xiii
Tabel 4.10 Kesimpulan Indikator Penalaran Aljabar…………………………….75
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Umum Pengembangan Plomp ............................................... 11
Gambar 2.2 Model perilaku pada Taksonomi Marzano........................................ 21
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................. 35
Gambar 3.1 Rancangan Penelitian Pengembangan Plomp ................................... 43
Gambar 4.1 Kemampuan Pencarian Pola oleh Subjek A1 .................................... 71
Gambar 4.2 Hasil Jawaban oleh Subjek A8 .......................................................... 72
Gambar 4.3 Hasil Jawaban terhadap Pengenalan Pola ........................................ 73
Gambar 4.4 Hasil Pekerjaan oleh Subjek A1 pada Fase Generalisasi .................. 74
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Kisi – kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar ....... 84
Lampiran 2. Lembar Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem ....... 86
Lampiran 3. Kunci Jawaban Instrumen Tes Penalaran Aljabar ............................ 87
Lampiran 4. Pedoman Penilaian ........................................................................... 93
Lampiran 5. Lembar Validasi Soal oleh Validator 1 ............................................ 94
Lampiran 6. Lembar Validasi Soal oleh Validator 2 ............................................ 96
Lampiran 7. Lembar Validasi Soal oleh Validator 3 ............................................ 98
Lampiran 8. Hasil Jawaban Siswa ...................................................................... 100
Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian Bersama Guru Matematika...................... 105
Lampiran 10. Bukti Penelitian Melalui WA Grup .............................................. 106
Lampiran 11. Surat Balasan dari SMAN 7 Semarang ........................................ 107
Lampiran 12. Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ..... 108
Lampiran 13. Hasil Penilain Siswa ..................................................................... 109
Lampiran 14. Hasil Uji Validitas oleh Siswa ...................................................... 110
Lampiran 15. Hasil Uji Reliabilitas .................................................................... 111
Lampiran 16. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 1 ................................. 112
Lampiran 17. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 2 ................................. 117
Lampiran 18. Soal Pemecahan Aljabar Materi Program Linier .......................... 119
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dalam dunia
pendidikan saat ini sangat pesat di berbagai bidang, terutama bidang
informasi. Semua informasi tentang perkembangan pendidikan dapat kita
ketahui dengan cepat melalui media informasi. Dengan begitu, siswa dituntut
untuk aktif mengikuti perkembangan zaman sekarang ini. Sejalan dengan
kurikulum pendidikan Indonesia yaitu kurikulum 2013, dimana proses
pembelajaran melibatkan keaktifan siswa dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan. Matematika merupakan salah satu ilmu penting untuk
mengukur kemajuan suatu bangsa. Untuk melihat kualitas pendidikan di
dunia dapat dilihat melalui pengukuran Programme for International Student
Assessment (PISA) dengan tiga aspek pengukuran yaitu matematika, sains,
dan literasi. Pada tahun 2018, Indonesia menduduki posisi 10 besar terbawah
dari 79 negara di dunia dengan perolehan nilai matematika 379 poin.
Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan
Dasar dan Menengah tertuang deskripsi kompetensi keterampilan diantaranya
adalah siswa harus mampu menunjukan keterampilan menalar, mengolah dan
menyaji secara komunikatif dalam ranah konkret dan abstrak. Sesuai dengan
tujuan tersebut, terdapat lima standar kemampuan yang harus dimiliki siswa
yaitu kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penalaran, kemampuan
komunikasi, kemampuan koneksi, dan kemampuan representasi (NCTM
1
2
2000). Penalaran menjadi salah satu dari sekian banyaknya kemampuan yang
harus dimiliki dan dikuasai oleh siswa ketika mempelajari matematika
(Nuraini et al., 2016). Dalam ilmu matematika, penalaran bersifat deduktif ,
khusus ke umum melalui sebuah simbol-simbol aksiomatis.
Kemampuan penalaran menjadi suatu pola berpikir yang
menyandarkan diri masuk dalam teori perkembangan kognitif (Surajiyo,
2008). Menurut Istinaro & Setianingsih (2019) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa aljabar adalah ilmu yang digunakan untuk menganalisis
hubungan antar kuantitas dan menyelesaikan persamaan melalui angka dan
simbol-simbol. Hyman (2006) mencatat bahwa aljabar dipandang sebagai
dasar untuk semua aspek matematika dan sains. Aljabar juga merupakan pintu
masuk dalam belajar matematika lebih lanjut (Kriegler, 2008). Hal tersebut
dibuktikan ketika Sekolah Menengah Atas dikenalkan kembali dengan
konsep aljabar yang lebih kompleks pada kelas XI.
Penalaran aljabar merupakan suatu proses dimana siswa melakukan
kegiatan menemukan pola dari suatu permasalahan matematika atau
kontekstual, membuat relasi antar kuantitas dan menyusun generalisasinya
melalui representasi dan manipulasi simbolik secara formal (Ratu & Halim,
2016). Kemampuan penalaran aljabar harus dimiliki setiap siswa untuk
mengungkapkan pemikiran permasalahan matematika secara khusus melalui
simbol-simbol. Kaput (2008) mengungkapkan bahwa kemampuan penalaran
aljabar merupakan proses menggeneralisasi ide matematika dari suatu hal
yang khusus melalui pemberian argumen dan dinyatakan secara formal,
3
seperti aljabar dimana siswa dipertemukan dengan pola dan simbol.
Kemampuan penalaran aljabar menjadi aspek penting yang harus dimiliki
siswa agar dapat mengungkapkan pemikiran secara khusus melalui simbol.
Selain itu, kemampuan penalaran aljabar menjadi hal yang harus dimiliki
siswa dalam mempelajari materi tentang aljabar. Rudin & Budiarto (2019)
berpendapat bahwa proses penalaran aljabar dapat mendorong siswa untuk
memahami materi aljabar tanpa menggunakan rumus secara spesifik maupun
prosedural. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan siswa
dalam menemukan pola dalam pembelajaran matematika disebut penalaran
aljabar.
Herbert dan Brown (2000) menyatakan tiga indikator penalaran aljabar
yaitu pattern seeking (pencarian pola), pattern recognition (pengenalan pola),
dan generalization (generalisasi pola). Menurut Twohill (2013)
mengemukakan tingkatan pelevelan penalaran aljabar menjadi lima level
perkembangan yaitu level 0 (pre-formal pattern), level 1 (informal pattern),
level 2 (formal pattern), level 3 (generalization), level 4 (abstract
generalization). Menurut Godino et al (2015) level penalaran aljabar menjadi
dua level tingkatan yaitu Primary Education (level 0 sampai 3) untuk
pendidikan dasar dan Secondary Education (level 4 sampai 6) untuk
pendidikan menengah. Berdasarkan beberapa indikator penalaran aljabar
maupun tingkatan pelevelan, peneliti menggunakan indikator penalaran
aljabar menurut Herbert dan Brown yang terdiri dari 3 indikator antara lain,
(1) pencarian pola, (2) pengenalan pola, (3) generalisasi.
4
Sistem kognitif sangat diperlukan untuk membantu siswa untuk
membuat generalisasi, berkomunikasi ataupun menggunakan konsep
matematika secara runtut untuk meningkatkan penalaran aljabar siswa. Hal
tersebut selaras dengan pendapat. Windsor (2009) bahwa “Algebraic thinking
promotes a particular way of interpreting the world, it employes and develops
a …. numeric answer or objective fact”. Untuk mempermudah proses
pemahaman kemampuan penalaran aljabar, peneliti mengkolaborasikan
dengan sistem kognitif taksonomi Marzano. Pada tingkatan kognitif
taksonomi Marzano berbeda dengan taksonomi Bloom. Perbedaan tersebut
terletak pada ranah kognitif, taksonomi Bloom hanya sebatas penilaian
terhadap kognitif individual siswa. Namun berbeda dengan Marzano,
taksonomi ini terdiri dari sistem kognitif, sistem metakognitif dan domain
pengetahuan. Taksonomi Marzano pada setiap sistemnya saling berhubungan
sama lain. Penelitian yang dilakukan Basir menyatakan bahwa Taksonomi
Marzano bergerak dari cara yang sederhana ke proses yang lebih komplit baik
informasi ataupun prosedur-prosedurnya (Basir, 2017). Faragher & Huijser
(2014) menjelaskan bahwa Taksonomi Marzano dapat digunakan untuk
menyelidiki urutan kemampuan penalaran dengan menganalisis tulisan siswa.
Penelitian yang dilakukan peneliti mengacu pada sistem kognitif Marzano
yang terdiri dari 4 komponen antara lain, penarikan kembali pengetahuan,
pemahaman, analisis, dan penggunaan pengetahuan.
Bentuk tes uraian atau essay dapat mengetahui berbagai kemampuan
siswa khususnya penalaran. Soal uraian membuat peneliti untuk
5
mempermudah analisa terhadap kemampuan yang diinginkan. Soal
matematika yang berbentuk uraian tersebut membuat siswa menuliskan
beberapa informasi yang harus dituliskan. Salah satu materi yang dengan
jenis soal latihan ataupun evaluasi berbentuk tes uraian dan di dalamnya
terdapat proses menganalisis simbol dan pola-pola yaitu Program Linier.
Materi tersebut terdapat penggunaan simbol-simbol atau pola-pola tertentu
seperti pemisalan 𝑥, 𝑦, 𝑧. Kurikulum 2013, memposisikan program linier
sebagai mata pelajaran matematika wajib yang akan diperoleh siswa jenjang
SMA kelas XI pada semester ganjil. Model pengerjaan soal evaluasi ataupun
latihan, siswa biasanya mudah memecahkan permasalahan soal tersebut
apabila dihadapkan dengan soal bersifat praktis. Sehingga, ketika bertemu
dengan sesuatu hal yang belum terbiasa dilakukan, siswa akan mengalami
beberapa kendala. Seperti soal yang bersifat kontekstual atau soal cerita yang
terdiri dari lebih dari tiga kalimat. Sesuai pada soal-soal latihan maupun
evaluasi pada materi program linier yang tertuang pada buku ajar yang
digunakan pendidik, pastinya bentuk soal tersebut berupa soal kontekstual.
Berdasarkan hal tersebut, aljabar menjadi sangat penting dalam
memecahkan suatu masalah matematika. Tetapi siswa masih mengalami
kesulitan dalam penyelesaian soal aljabar tersebut. Maka, dibutuhkan
kemampuan penalaran yang baik agar dapat menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan aljabar. Pada umumnya soal yang dibuat oleh guru kurang
memperhatikan tingkatan kemampuan penalaran aljabar. Tes kemampuan
ataupun tes evaluasi yang diberikan guru pada saat pembelajaran hanya
6
mengacu pada soal-soal yang sudah tercantum dalam buku paket atapun buku
sekolah elektronik dan soal tersebut bersifat prosedural dan sistematis. Sesuai
dengan pendapat Pamungkas & Afriansyah (2017) bahwa pembelajaran
matematika lebih banyak menggunakan kegiatan hafalan, siswa lebih terbiasa
mengerjakan soal-soal yang sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru.
Hal tersebut, tidak sebanding dengan tuntutan zaman bahwa seorang guru
juga harus berinovasi untuk menyusun instrumen tes sendiri khususnya
instrumen tes penalaran aljabar.
Proses pengembangan yang dilakukan peneliti adalah pengembangan
plomp dengan lima fase (investigasi awal, desain, konstruksi, evaluasi, dan
implementasi) (Plomp,1997). Pengembangan model Plomp dinilai luwes dan
fleksibel dalam mengembangkan suatu instrumen tes dikarenakan pada setiap
langkah kegiatan penelitian menyesuaikan karakteristik peneliti.
Pengembangan Plomp umumnya digunakan peneliti untuk mengembangkan
instrumen tes maupun evaluasi. Sejalan dengan penelitian Basir (2017)
tentang pengembangan instrumen tes dengan menggunakan model plomp.
Dan juga penelitian tesis yang dilakukan Irawati tentang pengembangan tes
kemampuan penalaran proporsional menggunakan model pengembangan
plomp yang sudah dimodifikasi oleh Hobri (Irawati, 2016). Hal tersebut
menjadi daya tarik peneliti untuk menggunakan pengembangan model
Plomp.
Penelitian ini memilih subjek yaitu siswa SMAN 7 Semarang pada
kelas XI. Kelas XI dipilih karena telah mendapatkan materi program linier
7
pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021. Hasil belajar siswa terhadap
materi program linier masuk dalam kriteria baik. Hal itu, dijawab oleh
penelitian sebelumnya bahwa 6 siswa SMAN 7 Semarang dapat mengerjakan
soal penalaran aljabar materi program linier yang dikembangkan berdasarkan
taksonomi marzano (Shonia, 2021). Siswa terbukti dapat menyelesaikan soal
yang diberikan dan hasil jawabannya menunjukan adanya kemampuan
pemecahan masalah soal terhadap materi aljabar. Penelitian ini berbeda
konsep dengan peneliti terdahulu, kali ini pengembangan instrumen tes
penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano yang didalamnya
terdiri dari satu soal uraian dengan komponen analysis. Berdasarkan uraian
tersebut, pendidik berperan penting dalam mengembangkan kreativitas,
inovasi pikiran, dan mutu pembelajaran terkhusus pada materi program linier
dengan mengembangkan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem
kognitif Marzano yang valid dan reliabel. Suatu instrumen tes dikatakan baik
apabila memenuhi dua hal yaitu, validitas (ketepatan) dan reliabilitas
(konsistensi/ketetapan) (Sudjana, 2009). Adanya instrumen tes tersebut dapat
dijadikan alat atau media pengukuran ataupun penilaian guru terhadap siswa.
Latar belakang tersebut mendorong peneliti untuk mengembangkan
instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi
Marzano materi program linier.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merumuskan beberapa
pertanyaan pada penelitian ini antara lain:
8
1. Bagaimana proses pengembangan instrumen tes penalaran aljabar
siswa SMA berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi Marzano
materi program linier?
2. Bagaimana hasil pengembangan instrumen tes penalaran aljabar siswa
SMA berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano pada materi
program linier yang valid dan reliabel?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengetahui proses pengembangan instrumen tes penalaran
aljabar siswa SMA berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano
pada materi program linier.
2. Untuk mengetahui hasil pengembangan instrumen tes penalaran aljabar
siswa SMA berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano pada
materi program linier yang valid dan reliabel.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat penelitian ini antara lain:
1. Bagi peneliti, sebagai bekal untuk mendalami dunia pendidikan serta
mengembangkan pengetahuan yang telah didapat dan menambah
pengalaman untuk menjadi pendidik di masa mendatang.
2. Bagi siswa, sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran
aljabar siswa terhadap materi matematika.
3. Bagi guru, sebagai instrumen untuk mengukur ataupun mengetahui
kemampuan penalaran aljabar siswa pada materi program linier.
9
4. Bagi sekolah, pengembangan instrumen tes ini dapat dijadikan
alternatif evaluasi pembelajaran matematika.
1.5 Batasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan pada penelitian ini maka
diperlukannya batasan masalah. Adapun batasan masalah sebagai berikut:
1. Pengembangan instrumen tes penalaran aljabar dengan indikator
penalaran aljabar menurut Herbert & Brown (2000) yang terdiri dari
tiga fase yaitu fase pencarian pola, fase pengenalan pola, dan fase
generalisasi.
2. Penelitian ini berupa soal uraian sebanyak satu butir yang mengacu
pada tingkatan sistem kognitif taksonomi Marzano analisis (analysis).
3. Materi matematika pada penelitian ini adalah program linier yang
disesuaikan dengan Kurikulum 2013 revisi pada kelas XI semester
gasal.
4. Uji coba penelitian ini dilakukan pada siswa SMAN 7 Semarang secara
daring melalui WA Grup.
1.6 Spesifikasi Produk
Spesifikasi produk yang dikembangkan peneliti adalah instrumen tes
penalaran aljabar mengacu pada indikator aljabar Herbert dan Brown berupa
satu soal uraian mengenai program linier dengan mengambil satu kompetensi
dasar yang soalnya mengacu pada sistem kognitif taksonomi Marzano tingkat
analisis.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengembangan Plomp
Sugiyono (2011) berpendapat bahwa metode penelitian dan
pengembangan merupakan metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan suatu produk tertentu. Selain itu, penelitian dan pengembangan
adalah suatu proses atau langkah untuk mengembangkan suatu produk baru,
atau menyempurnakan produk sebelumnya, dan dapat dipertanggung
jawabkan (Sujadi, 2003). Berdasarkan pendapat Sujadi, pengembangan yang
dilakukan peneliti termasuk kategori penelitian pengembangan dengan
menyempurnakan produk sebelumnya. Produk sebelumnya merupakan
instrumen tes yang hanya terdiri dari 3 butir soal dan belum mengacu ke
proses kognitif Marzano secara khusus. Desain penelitian yang biasanya
digunakan mahasiswa S1, S2 ataupun S3 ketika penelitian mengembangkan
suatu produk adalah pengembangan Plomp (Rochmad, 2012).
Plomp (1997) mengemukakan bahwa “we characterized educational
design in short as method within which one is working in systematic way
towards the solving of a make problem”. Kategori desain pendidikan sebagai
metode dimana seseorang bekerja sistematis menuju penyelesaian masalah.
Model Plomp dinilai lebih fleksibel dibandingkan model pengembangan
lainnya dikarenakan setiap tahapannya memuat kegiatan pengembangan yang
dapat disesuaikan dengan karakteristik dari peneliti. Tidak hanya fleksibel,
Rochmad (2012) dalam penelitiannya, mengemukakan bahwa model Plomp
10
11
dipandang lebih luwes dibandingkan model Four-D karena setiap langkah
penelitian dapat menyesuaikan pemikiran peneliti. Model umum untuk
menyelesaikan masalah pendidikan yang dikemukakan oleh Plomp (1997)
diberi nama Model Plomp, terlihat pada gambar 2.1 berikut:
I
m Investigasi Awal
p
l
e Desain
m
e
n Realisasi/Konstruksi
t
a
s Tes, Evaluasi, dan Revisi
i
Implementasi
Gambar 0.1 Model Umum Pengembangan Plomp
Berdasarkan gambar 2.1, menjelaskan bahwa penelitian pengembangan
model Plomp diuraikan menjadi lima fase antara lain: (a) Fase investigasi
awal, (b) Fase desain, (c) Fase realisasi/konstruksi, (d) Fase tes, evaluasi dan
revisi, (e) Fase Implementasi. Berikut penjelasan dari masing-masing fase:
a. Fase Investigasi Awal
Pada fase investigasi awal terdapat unsur penting yaitu pertemuan,
analisis informasi, definisi masalah, dan perencanaan kelanjutan penelitian.
Selaras dengan Plomp dan van de Wolde (1992), “in this investigation
important elements are the gathering and analysis of information, the
definition of the problem and the planning of the possible continuation of the
12
project.” Proses terpenting pada fase ini terletak pada pendefinisian masalah,
diperlukan investigasi agar tidak adanya kesenjangan antara apa yang terjadi
dan keadaan yang diinginkan.
b. Fase Desain
Fase desain dimulai setelah melakukan definisi masalah pada fase
sebelumnya. Fase ini bertujuan untuk mendesain pengembangan yang
dikemukakan untuk memecahkan masalah. Plomp (1997) berpendapat bahwa
fase desain memiliki karakteristik yaitu membandingkan dan mengevaluasi
dari berbagai sumber, kemudian menghasilkan desain terbaik sebagai solusi
pemecahan masalah.
c. Fase Realisasi/Konstruksi
Setelah rancangan desain pengembangan dibuat, fase realisasi
merupakan kegiatan merealisasikan produk kepada ahli untuk dinilai. Plomp
(1997) mengemukakan pendapat bahwa “in fact, the design is a written out
or worked out plan which forms the departure point for the phase in which
the solution is being realized or made. This is often entail construction or
production activities such us curriculum development or the production of
audio-visual material.” Fase ini diakhiri dengan kegiatan konstruksi atau
produksi.
d. Fase Tes, Evaluasi dan Revisi
Setelah produk yang dikembangkan direalisasikan maka Langkah
selanjutnya adalah harus diuji coba dan dievaluasi bersama. Evaluasi menjadi
kegiatan penting karena menjadi penentuan suatu masalah telah terpecahkan
13
atau belum. Proses tes dilakukan uji coba pada kelompok berskala kecil.
Dengan begitu, proses peninjauan pada fase sebelumnya perlu dilakukan
hingga pemecahan masalah tercapai. Peninjauan kembali fase-fase
sebelumnya biasa disebut siklus balik. Siklus balik dapat dilakukan berulang
kali sampai masalah terpecahkan.
e. Fase Implementasi
Setelah semua fase dilakukan, didapatkan suatu produk pengembangan
yang valid dan reliabel, maka produk dapat diimplementasikan pada situasi
berskala besar dan wilayah yang lebih luas. Implementasi bisa dilakukan oleh
peneliti selanjutnya kepada testee di berbagai wilayah.
2.2 Kemampuan Penalaran Aljabar
Depdiknas (2008), penalaran adalah salah satu cara atau kemampuan
berpikir logis dalam mengembangkan pikiran dari fakta dan prinsip.
Penalaran merupakan aktivitas berpikir untuk menghasilkan pernyataan baru
berdasarkan beberapa pernyataan yang diketahui, ataupun dianggap benar,
biasanya disebut dengan aktivitas berpikir untuk menarik sebuah kesimpulan
(Hadi, 2016). Sejalan dengan pendapat Agustin (2016) bahwa penalaran
adalah sebuah kegiatan berpikir secara khusus, dimana terjadi penarikan
kesimpulan dari pernyataan sebelumnya ataupun premis yang diketahui.
Penalaran secara umum dibagi menjadi dua macam yaitu penalaran induktif
dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah proses bernalar untuk
mendapatkan suatu keputusan, prinsip ataupun sikap berdasarkan
pengamatan dari hal khusus. Sedangkan, penalaran deduktif adalah proses
14
penalaran berdasarkan prinsip, hukum, atau teori secara umum untuk ditarik
kesimpulan pada suatu hal yang khusus (Sumarto, 2006).
Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak. Aljabar merupakan
cara berpikir, proses keterampilan, dan kumpulan konsep yang siswa hadapi
untuk melakukan pemodelan matematika, melakukan generalisasi, dan
menganalisis situasi matematika (NCTM, 2008). Aljabar menjadi ilmu logika
yang dinyatakan dengan simbol-simbol dan memungkinkan mendeskripsikan
serta menganalisis hubungan kuantitas (Dobrynina dan Tsankova, 2005).
Menurut peneliti, aljabar merupakan salah satu dari beberapa ilmu
matematika yang membawa siswa untuk menyelesaikan permasalahan
matematika yang berhubungan dengan simbol dengan cara melakukan
pemodelan, ataupun analisis situasi.
Penalaran menjadi suatu kemampuan yang penting bagi siswa untuk
mempelajari materi aljabar. Sependapat dengan Rudin & Budiarto (2019)
bahwa kemampuan matematika penting dikuasai dalam mempelajari dan
memahami aljabar adalah penalaran aljabar. Blanton & Kaput (2011)
mengemukakan algebraic reasoning is a process in which students generalize
mathematical ideas from a set of particular instance, establish those
generalization through the discourse of argumentation and express them in
increasingly formal and age-appropriate ways. Diartikan bahwa penalaran
aljabar merupakan suatu proses dimana siswa menggeneralisasi ide-ide
matematika dari sekumpulan contoh kasus, membuat generalisasi melalui
argumentasi dan mengekspresikannya secara formal bergantung pada level
15
usia. Kemampuan penalaran aljabar merupakan salah satu gerbang
pendidikan (Cai & Knuth, 2005). Menurut Sadikin & Herutomo (2018) pada
penelitiannya mengemukakan bahwa kemampuan penalaran aljabar
membantu siswa dalam mempelajari materi tentang aljabar. Aljabar
merupakan salah satu cabang matematika yang diperlukan dalam
pembelajaran matematika. Begitu pentingnya penalaran sehingga tertuang
pada Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang standar isi berbunyi
keterampilan yang dicapai siswa yaitu keterampilan menalar, mengolah, dan
menyaji secara: efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif,
komunikatif, dan solutif (Kemendikbud, 2016). Tujuan pembelajaran pada
Kurikulum 2013 juga menjelaskan pentingnya penalaran sehingga siswa
diharapkan memiliki kemampuan untuk menggunakan penalaran pada pola
dan sifat serta melakukan manipulasi matematika secara generalisasi
(Kemendikbud, 2016). Penalaran aljabar merupakan proses berpikir dengan
menggunakan berbagai macam representasi untuk menyelesaikan situasi
kuantitatif dengan cara relasional menggunakan simbol.
Kristen Herbert dan Rebecca Brown (2000) menjelaskan kerangka
berpikir aljabar dalam pemecahan suatu masalah atau situasi sebagai berikut:
“algebraic thinking is using mathematical symbols and tools to analyze
different situations by: (1) extracting information from a situation, (2)
representing that information mathematically in words, diagrams, tables,
graphs, and equations, and (3) interpreting and applying mathematical
findings such as solving for unknown, testing conjectures, and identifying
16
functional relationships to the same situations and the new related situation.”
Dapat disimpulkan bahwa indikator penalaran aljabar menurut Herbert dibagi
menjadi 3 fase, yaitu fase pencarian pola, fase pengenalan pola, dan fase
generalisasi. Menurut Karp & Walle (2013) berpikir aljabar atau bernalar
secara aljabar melibatkan pembentukan generalisasi pengalaman dengan
angka dan perhitungan, memformalkan ide-ide dengan penggunaan sistem,
serta mengeksplorasi pola dan fungsi. Lew (2004) menyatakan bahwa aljabar
adalah salah satu topik matematika yang erat dengan penggunaan simbol dan
bilangan-bilangan untuk menyatakan persamaan, menganalisa relasi
fungsional, dan menentukan struktur sistem representasi.
Penalaran aljabar merupakan salah satu jenis penalaran yang digunakan
dalam menyelesaikan masalah aljabar (Windsor, 2010). Sehingga
penyelesaian dari masalah aljabar dapat mengembangkan cara bernalar
aljabar siswa. Sejalan dengan (Ontario Ministry of Education, 2013),
“Algebraic reasoning is important because it pushes student understanding
of mathematics beyond the result of specific calculations and the procedural
application formula”. (Andriani, 2015) menyatakan bahwa penalaran aljabar
membuat siswa melakukan kegiatan untuk menemukan pola khusus dari
permasalahan kontekstual dalam matematika, kemudian membuat hubungan
dan menyusun generalisasi melalui simbol-simbol. Berdasarkan pendapat
tersebut, penalaran aljabar mendorong pemahaman siswa terhadap
matematika dengan perhitungan dan rumus aplikasi secara runtut. Ake
(2013), level penalaran aljabar dibagi menjadi empat level dengan tiga
17
kriteria yaitu, (a) bentuk umum diperoleh dari hasil proses generalisasi, (b)
adanya Langkah untuk melakukan generalisasi, (c) transformasi bentuk
umum terhadap variabel diperoleh dari proses generalisasi. Godino et al
(2015), membagi tingkatan penalaran aljabar dibagi menjadi dua level yaitu
Primary Education (level 0 sampai 3) untuk pendidikan dasar dan Secondary
Education (level 4 sampai 6) untuk pendidikan menengah.
Berdasarkan beberapa penjelasan indikator penalaran aljabar tersebut,
peneliti mengembangkan instrumen tes yang mengacu terhadap Herbert &
Brown (2000) mengenai indikator penalaran aljabar yang terdiri dari tiga fase
yaitu fase pencarian pola, fase pengenalan pola dan fase generalisasi. Pada
fase pencarian pola, siswa dapat memodelkan permasalahan yang disajikan
untuk mencari sebuah pola. Fase pengenalan pola, siswa mencoba kasus
tambahan dari permasalahan yang berbeda dimana pemecahan kasus
tambahan berfungsi sebagai cara untuk memperbaiki pemahaman mereka
tentang pola. Sementara, fase generalisasi merupakan fase dimana siswa
mengembangkan persamaan umum untuk mencari permasalahan lain dengan
membuat aturan umum dari pola yang sudah diketahui dengan menggunakan
simbol, kata-kata, diagram ataupun persamaan yang berhubungan dengan
permasalahan pada soal.
2.3 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano
Taksonomi merupakan kaidah dan prinsip yang meliputi
pengklasifikasian objek. Taksonomi sangat penting untuk mengklasifikasikan
tujuan pembelajaran. Hartanto (2006), mengatakan tujuan pembelajaran
18
secara khusus penting dalam proses pembelajaran. Sekarang ini, terdapat
berbagai macam taksonomi dalam tujuan pembelajaran salah satunya yaitu
taksonomi Marzano. Sebelum adanya taksonomi Marzano, adapun taksonomi
Bloom yang sudah meluas di dunia pendidikan. Taksonomi Bloom
dikemukakan oleh Benjamin Samuel Bloom pada tahun 1956.
Sejarah taksonomi Bloom berawal dari serangkaian diskusi antara
Bloom dengan rekan-rekannya dalam suatu Konferensi Asosiasi Psikologi
Amerika (KAPA). Pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan
Krathwohl mengenalkan kerangka konsep berpikir yang dinamakan
Taxonomy Bloom dalam suatu buku “Taxonomy of Educational Objective,
The Classification of Educational Goals, Handbook 1: Cognitive Domains”
(Utari, 2016). Taksonomi Bloom terdiri 3 domain, yaitu (1) kognitif, yang
menghasilkan domain penguasaan pengetahuan; (2) afektif, yang
menghasilkan domain sikap dan (3) psikomotorik, yang menghasilkan
keterampilan fisik (Bloom, 1956). Dalam bukunya, Bloom membagi domain
kognitif menjadi enam level yaitu knowledge (pengetahuan), comprehension
(pemahaman), application (penerapan), analysis (analisis), synthesis
(sintesis), dan evaluation (evaluasi). Taksonomi Bloom merupakan struktur
hierarki yang mengidentifikasi keterampilan mulai dari tingkat rendah hingga
tinggi. Hamdani menuliskan pada penelitiannya bahwa Taksonomi Bloom
menjadi satu-satunya taksonomi yang digunakan karena dipandang lebih
unggul dibandingkan taksonomi yang lainnya. Dibalik keunggulannya
terdapat kelemahan yang dipertegas oleh Sugrue bahwa tingkatan dalam
19
struktur hierarki pada taksonomi Bloom tidak didukung oleh penelitian
tentang pembelajaran apapun (Ontario Ministry of Education, 2013). Bloom
lebih fokus pada ranah pembelajaran behaviorisme yang mengacu pada hasil
belajar yang telah ditetapkan oleh pendidik tanpa memperhatikan
pembelajaran social. Sedangkan, teori belajar lainnya seperti konstruktivisme
menekankan pembelajaran social. Selaras dengan pendapat Booker bahwa
taksonomi Bloom tidak mendukung teori belajar social karena sangat
berfokus pada pengembangan individu belajar (Ontario Ministry of
Education, 2013).
Pada tahun 1994, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi
aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan
kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut dipublikasikan pada tahun 2001
dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini, Anderson
merumuskan dua dimensi. Anderson berpendapat bahwa pembelajaran
dijalankan dalam dua dimensi yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi
pengetahuan (Wilson, 2016). Namun, hanya ranah kognitif saja yang direvisi,
yaitu: (1) perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk
setiap level taksonomi, (2) perubahan terjadi pada semua level, namun masih
sama urutan tingkatan level. Berdasarkan taksonomi Bloom versi Krathwohl
pada ranah kognitif terdiri enam level atau yang biasa kita kenal dengan
istilah C1 sampai dengan C6: remembering (mengingat), understanding
(memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis, mengurai),
evaluating (menilai), creating (mencipta) (Utari, 2016). Dimensi baru pada
20
taksonomi Anderson yaitu domain pengetahuan dengan empat kategori:
factual, konseptual, prosedural dan metakognitif.
Dalam revisi tersebut, terlihat bahwa Anderson masih terikat dengan
taksonomi Bloom dengan beberapa kekurangan yaitu Anderson masih
menggunakan tingkat kesukaran untuk mengetahui perbedaan tingkatan
antara level kognitif dari taksonomi. Wulandari (2014), mengungkapkan
bahwa aktivitas evaluasi diasumsikan lebih sulit daripada aktivitas yang
melibatkan sintesis yang diasumsikan lebih sulit daripada aktivitas yang
melibatkan analisis. Selain itu, kekurangan yang signifikan adalah Anderson
memasukan metakognisi sebagai bagian dari domain pengetahuan, padahal
proses metakognisi terjadi diluar ranah domain pengetahuan sebagaimana
proses ini mendahului pengolahan berbagai jenis. Robert Marzano (2001),
menstruktur dan mengonsep kembali hirarki Bloom.
Pada tahun 2007, Robert J. Marzano adalah seorang peneliti pendidikan
terkemuka dari Colorado, Amerika Serikat. Marzano telah mengembangkan
taksonomi baru yang ditulis dalam bukunya “The New Taxonomy of
Educational Objectives” atau bisa kita kenal dengan taksonomi Marzano
(Ardiani, 2013). Marzano bersama rekannya John Kendall, mengemukakan
suatu taksonomi baru yang berhubungan dengan teori pemikiran manusia
(human thought). Taksonomi ini dikembangkan untuk menjawab
keterbatasan-keterbatasan dari taksonomi Bloom dan revisinya yang telah
digunakan secara meluas di dunia pendidikan. Marzano membawa taksonomi
Bloom dalam abad ke-21 dengan model dan konsep baru yang
21
menggabungkan ranah kognitif dan penelitian terbaru bagaimana kita belajar
(Educational, 2013).
Taksonomi Bloom mengembangkan dasar pemikiran atau proses
akademik. Sedangkan, taksonomi Marzano menggabungkan dasar-dasar
Bloom dari tingkat berpikir pada proses kognitif dan metakognitif,
sebagaimana konsep-konsep tersebut berhubungan dengan manfaat, motivasi
serta emosi sebagai pendukung. Taksonomi Marzano terdiri dari tiga sistem
dan domain pengetahuan. Ketiga sistem yaitu sistem diri (Self System), sistem
metakognitif (metacognitive system), sistem kognitif (cognitive system), dan
domain pengetahuan. Taksonomi dua dimensi oleh Marzano tampak lebih
radikal (ekstrim) dalam pendekatannya daripada revisi taksonomi Bloom oleh
Anderson. Proses mental pada taksonomi Marzano melakukan control lebih
besar atas operasi proses lainnya. Adapun model perilaku pada taksonomi
Marzano dilihat pada gambar 2.2 sebagai berikut (Wulandari, 2014):
Melibatkan sistem diri Tugas Baru
Melanjutkan perilaku saat
Ya ini
Tidak
Sistem metakognitif
menetapkan tujuan dan
strategi
Sistem kognitif
memproses informasi
yang relevan
Pengetahuan
Gambar 2.0 Model Perilaku
Gambar pada Taksonomi
2.2 Model Marzano
perilaku pada Taksonomi Marzano
22
Dari gambar 2.2 dijelaskan jika siswa berhadapan pada suatu pilihan
dengan tugas yang baru, sistem diri memutuskan apakah melanjutkan
kebiasaan yang dijalankan saat ini atau masuk dalam aktivitas baru, sistem
metakognitif mengatur berbagai tujuan dan menjaga tingkat pencapaian
tujuan-tujuan tersebut, sistem kognitif memproses seluruh informasi yang
dibutuhkan, dan domain pengetahuan menyediakan isinya. Untuk lebih
memahami model dari taksonomi Marzano, Teach Program Assessing
memberikan contoh hubungan interaksi ketiga sistem (sistem diri,
metakognitif, dan kognitif) dan domain pengetahuan dari segi siswa dalam
suatu kelas pembelajaran matematika:
Mawar, seorang anak kelas 2 sedang berpikir tentang makanan yang akan
dibeli nantinya Ketika jam istirahat, sewaktu gurunya memulai pelajaran
matematika. Sistem diri Mawar memutuskan untuk berhenti berpikir
tentang pesta tersebut dan mulai terlibat dalam pelajaran, sementara
sistem metakognisi-nya menyuruhnya untuk memperhatikan dan
mengajukan pertanyaan sehingga dia dapat mengerjakan tugas, dan
sistem kognitifnya menyediakannya beragam pemikiran strategis yang
dibutuhkan untuk mengingat pelajaran yang diberikan guru. Pengetahuan
matematika tentang berbagai konsep dan prosedur membuatnya dapat
menyelesaikan soal-soal dengan baik. Dengan demikian, setiap
komponen pada taksonomi Marzano sangat berkontribusi pada
keberhasilan Mawar dalam mempelajari matematika dan berbagai
pelajarannya lainnya.
Adapun tiga sistem (diri, kognitif, metakognitif) dan satu domain
pengetahuan pada Taksonomi Marzano yang dijelaskan pada tabel 2.1
berikut:
Tabel 2.1 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano
Domain
Sistem Diri Sistem Metakognitif Sistem Kognitif
Pengetahuan
Keyakinan Penentuan berbagai Penarikan kembali Informasi
tentang tujuan belajar pengetahuan
pentingnya
pengetahuan
23
Keyakinan Pemantauan dari Pemahaman Prosedural Mental
tentang eksekusi pengetahuan
keefektivan
Emosi yang Pemantauan Analisis Prosedur Fisik
berhubungan kejelasan
dengan
pengetahuan
Pemantauan Pemanfaatan
ketepatan pengetahuan
Berdasarkan ketiga sistem dan domain pada tabel 2.1, peneliti
melakukan pengembangan instrumen penalaran aljabar ini mengacu pada
sistem kognitif yang terdiri dari satu komponen proses kognitif yaitu analisis
(analysis). Di dalam proses kognitif analisis terdapat lima level yaitu
mencocokan (matching), mengklasifikasikan (classifying), menganalisis
kesalahan (analyzing errors), menggeneralisasi (generalizing), dan
menentukan/memprediksi (specifying). Siswa mencocokan persamaan dan
perbedaan dari contoh yang dikerjakan. Proses mengklasifikasikan
melibatkan identifikasi karakteristik pendefinisian, mengidentifikasi
superordinate (batas atas) dan subordinate (batas bawah). Menganalisis
kesalahan melibatkan akurasi, kewajaran dan logika pengetahuan. Siswa
terlibat proses generalisasi atau kesimpulan dari pengetahuan yang sudah
diketahui atau membangun proses yang baru. Riddle dan Star (2020)
menunjukan bahwa generalisasi biasanya melibatkan pemeriksaan berbagai
kasus tertentu untuk mengidentifikasi kesamaan proses yang baru. Terakhir,
menentukan atau memprediksi generalisasi yang diketahui serupa dengan
situasi lainnya dan menarik kesimpulan tentang situasi baru.
Berikut penjelasan mengenai proses kognitif Marzano dari penarikan
kembali pengetahuan sampai pemanfaatan pengetahuan.
24
a. Sistem Kognitif
Taksonomi Marzano membagi sistem kognitif menjadi empat sistem
yaitu penarikan kembali pengetahuan, pemahaman, analisis, dan pemanfaatan
atau penggunaan pengetahuan. Dalam proses kognitif ini, setiap prosesnya
saling berkesinambungan dengan proses sebelumnya, misal pemahaman
membutuhkan penarikan kembali pengetahuan begitupun juga dengan
analisis membutuhkan pemahaman dan seterusnya (Wulandari, 2014).
Berikut adalah penjelasan dari setiap proses yang ada pada sistem kognitif
Taksonomi Marzano:
1. Penarikan Kembali Pengetahuan (Knowledge Retrieval)
Wulandari (2014), dalam penelitiannya membagi proses kognitif
menjadi tiga proses penalaran yaitu penarikan kembali (recalling),
pengenalan (recognizing), dan pelaksanaan (executing). Ketiga proses
tersebut telah disajikan dalam bentuk tabel 2.2 sebagai berikut:
Tabel 2.2 Penarikan Kembali Pengetahuan
Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Penarikan Kembali (DK) - Mengingat
- Memproduksi kembali informasi - Memberi contoh
yang diperlukan - Menyebutkan
- Mendaftar
- Melabeli
Pengenalan (DK atau PK) - Mengenali
- Mengidentifikasi dengan cermat - Memilih daftar
pernyataan yang berkenan - Mengidentifikasi dari daftar
dengan DK atau PK - Menentukan apakah pernyataan
berikut benar
Pelaksanaan (PK) - Menggunakan
- Melakukan suatu proses mental - Mendemonstrasi
atau prosedur fisik - Menunjukan
- Membuat
- Melengkapi
2. Pemahaman (Comprehension)
Comprehension adalah proses mengorganisir atau menata pengetahuan
25
yang sudah ada, mensintesis keterwakilan (kemampuan mengumpulkan
komponen yang sama untuk membentuk pola pemikiran yang baru) (Fortuna,
2018). Proses pemahaman terdapat dua proses kognitif yaitu penyimbolan
dan pengintegrasian (Pribadi, 2016). Pada proses ini, siswa diharuskan
melakukan identifikasi yang penting untuk diingat dan menempatkan
informasi ke dalam berbagai kategori yang sesuai, sehingga dibutuhkan
identifikasi yang paling penting diantara beberapa konsep dan penghilangan
semua hal yang tidak signifikan. Wulandari (2014) menyajikan proses
kognitif pemahaman pada tabel 2.3 berikut ini:
Tabel 2.3 Proses Kognitif Pemahaman
Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Penyimbolan - Melambangkan
- Menggambarkan aspek-aspek - Melukiskan
kritis pengetahuan dalam - Mempresentasikan
bentuk bergambar atau simbol. - Mengilustrasikan
- Menggambar
- Membuat grafik
- Membuat diagram
- Menggunakan model
- Menunjukan
Pengintergrasian - Mendeskripsikan bagaimana atau
- Mengidentifikasi elemen- mengapa
elemen pengetahuan yang - Mendeskripsikan bagian dari kunci
kritis atau penting - Mendeskripsikan akibat
- Mendeskripsikan hubungan antara
- Menjelaskan cara
2. Analisis (Analysis)
Analysis merupakan proses mencapai dan menguji kecocokan
pengetahuan baik persamaan maupun perbandingan, analisis hubungan ke
atas dan ke bawah, pengklasifikasian, analisis kesalahan, generalisasi,
spesifikasi atau untuk konsekuensi logis atau juga prinsip yang dapat
dijadikan kesimpulan. Pada level ini, Marzano membagi menjadi lima proses
26
sistem kognitif yaitu membandingkan, mengklasifikasikan, spesifikasi atau
penalaran deduktif, generalisasi atau penalaran induktif, dan analisis
kesalahan (Wulandari, 2014). Analisis merupakan tahapan yang prosesnya
lebih sulit satu tingkat dari proses pemahaman. Siswa perlu menggunakan
pengetahuan ataupun wawasan yang telah dipelajari untuk menemukan
sesuatu hal yang baru. Sejalan dengan penelitian dari Pribadi, bahwa para
pelajar dapat menggunakan apa yang mereka pelajari untuk menghasilkan
berbagai wawasan baru dan menenmukan berbagai cara menggunakan apa
yang telah mereka pelajari dalam berbagai situasi baru (Pribadi, 2016). Proses
kognitif analisis telah disajikan melalui tabel 2.4 berikut ini (Wulandari,
2014):
Tabel 2.4 Proses Kognitif Analisis
Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Membandingkan - Mengkategorikan
- Mengidentifikasi kesamaan - Membandingkan
dan perbedaan - Membedakan
- Mengontraskan
- Membuat kiasan
- Menyortir
Mengklasifikasikan - Mengklasifikasikan
- Mengidentifikasi kategori - Mengatur
superordinate dan subordinate - Mengidentifikasi
yang berasal dari info - Mengidentifikasi tipe-tipe yang
berbeda
- Mengidentifikasi kategori yang lebih
luas
Penalaran Deduktif - Memprediksi
- Membuat dan - Memutuskan
mempertahankan prediksi - Menarik kesimpulan
tentang apa yang terjadi - Menentukan
- Mempertahankan
Penalaran Induktif - Membuat suatu aturan
- Menyimpulkan suatu ,generalisasi,atau prinsip
generalisasi baru dari - Membentuk kesimpulan
pengetahuan yang telah
diketahui
Analisis Kesalahan - Mengidentifikasi masalah, persoalan,
- Mengidentifikasi kesalahan kesalahpahaman
yang logis atau factual dalam - Mengkritik
27
pengetahuan - Mendiagnosis
- Menilai
- Mengedit
- Merevisi
3. Pemanfaatan Pengetahuan (Knowledge Utilization)
Komponen terakhir dari sistem kognitif pada taksonomi Marzano yaitu
pemanfaatan atau penggunaan pengetahuan. Pada tahap ini terdapat empat
proses kognitif pemanfaatan pengetahuan yaitu penyelidikan, percobaan,
pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan. Proses kognitif tersebut
disajikan dalam tabel 2.5 berikut (Wulandari, 2014):
Tabel 2.5 Proses Kognitif Pemanfaatan Pengetahuan
Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Penyelidikan atau Investigasi - Menginvestigasi
- Menghasilkan suatu hipotesis - Meneliti (bagaiamana, mengapa,
dan menggunakan pernyataan apa) hal ini terjadi
tegas dan pendapat dari orang
lain untuk menguji hipotesis
tersebut
Percobaan - Menghasilkan dan menguji
- Menghasilkan dan menguji - Menguji ide bahwa apa yang akan
suatu hipotesis dengan terjadi jika
melakukan eksperimen dan - Bagaimana anda mengujinya
mengumpulkan data - Bagaimana anda menentukan jika
- Bagaimana hal ini dapat dijelaskan
- Berdasarkan penjelasan ini, apa
yang dapat dipresiksi
Pemecahan masalah - Menyelesaikan
- Memenuhi tujuan yang disertai - Bagaiamana anda akan mengatasi
hambatan - Menyesuaikan
Membuat keputusan - Mengambil keputusan
- Menyimpulkan suatu - Memilih yang terbaik diantara
generalisasi baru dari alternatif berikut
pengetahuan yang telah - Manakah di antara berikut yang
diketahui akan menjadi terbaik
- Apa cara terbaik
- Mana yang paling cocok
2.4 Hubungan Penalaran Aljabar dengan Taksonomi Marzano
Untuk memahami mengenai materi aljabar, perlunya kemampuan
penalaran terhadap generalisasi pola pada aljabar itu sendiri. Andriani (2015)
28
menyatakan bahwa penalaran aljabar membuat siswa melakukan kegiatan
untuk menemukan pola khusus dari permasalahan kontekstual dalam
matematika, kemudian membuat hubungan dan menyusun generalisasi
melalui simbol-simbol. Langkah utama untuk meningkatkan pengetahuan
matematika pada siswa dapat dilakukan dengan proses generalisasi. Hal
tersebut selaras dengan Radford, bahwa generalisasi menjadi salah satu jalan
utama untuk memperkenalkan siswa terhadap aljabar (Radford, 2010).
Indikator penalaran aljabar menurut Herbert & Brown (2000) memiliki tiga
fase diantaranya fase generalisasi. Menurut Hashemi et al (2013), salah satu
cara melatih siswa untuk meningkatkan sistem kognitif matematika dengan
melakukan kontribusi pola khususnya pada aljabar.
Cara mengidentifikasi proses generalisasi pola pada siswa dapat
menggunakan taksonomi Marzano yang dikembangkan oleh Marzano (2016).
Penelitian terdahulu menyatakan bahwa untuk mendeskripsikan kerangka
berpikir aljabar pada siswa menggunakan taksonomi Marzano (Wulandari,
2014). Dinarti dan Qomariyah (2019) juga mendeskripsikan kemampuan
generalisasi pola pada siswa berdasarkan taksonomi Marzano. Di dalam
taksonomi Marzano terdiri dari tiga sistem dan domain pengetahuan. Ketiga
sistem yaitu sistem diri (Self System), sistem metakognitif (metacognitive
system), sistem kognitif (cognitive system), dan domain pengetahuan. Sistem
kognitif terdapat 4 proses kognitif yang saling berkesinambungan antara lain,
penarikan kembali pengetahuan (knowledge retrieval), pemahaman
(Comprehension), analisis (Analysis), pemanfaatan pengetahuan (Knowledge
29
utilization). Pada sistem kognitif Marzano terdapat proses kognitif yang
selaras untuk meningkatkan kemampuan penalaran aljabar dengan proses
generalisasi pola pada aljabar.
2.5 Program Linier
Modul digital dari PPPK menuliskan bahwa program linier merupakan
bagian dari Operation Research yang mempelajari masalah optimum. Prinsip
pada program linier diterapkan dalam masalah nyata diantaranya dalam
bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, perdagangan, transportasi, industry,
social, dan lain-lain. Di dalam Kurikulum 2013 Revisi, program linier
diberikan pada kelas XI Semester Ganjil setelah bab Induksi Matematika.
Kompetensi Dasar untuk bab program linier mengacu pada Kompetensi
Dasar (KD) yang telah ditetapkan. Selanjutnya, guru mampu merumuskan
indikator pencapaian kompetensi dari Kompetensi Dasar (KD) yang telah
ada. Buku matematika guru kelas XI SMA/MA/SMK/MAK telah tertulis
indikator pencapaian kompetensi untuk materi program linier. Berdasarkan
indikator penalaran aljabar dan sistem kognitif Marzano, peneliti mengambil
empat Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dari sekian banyaknya
indikator. Indikator tersebut dipilih karena mengacu pada pelevelan yang
dikembangkan peneliti. Berikut Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
Pencapaian Kompetensi (IPK) sebagai acuan pembuatan instrumen tes
penalaran aljabar, dijelaskan pada tabel 2.6 berikut ini:
Tabel 2.6 Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Program Linier
No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
Menjelaskan pertidaksamaan Menjelaskan nilai optimum suatu
1. 3.2 3.2.1
linier dua variabel dan masalah program linier dua
30
penyelesaiannya dengan variabel.
menggunakan masalah
kontekstual.
Membentuk model matematika
4.2.1
suatu masalah program linier dua
variabel.
Menyelesaiakan masalah
kontekstual yang berkaitan Menginterpretasikan penyelesaian
2. 4.2 4.2.2
dengan program linier dua yang ditemukan
variabel. secara kontekstual.
Menyajikan grafik pertidaksamaan
4.2.3
linier dua variabel.
2.6 Penelitian yang Relevan
Penelitian sebelumnya diperlukan sebagai studi pustaka pada penelitian
pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif
Marzano. Penelitian terdahulu yang menjadi titik acuan adalah teori tentang
penalaran secara umum maupun penalaran aljabar, pengembangan instrumen
tes yang berhubungan dengan penalaran aljabar, serta komponen sistem
kognitif Marzano. Berikut beberapa penelitian yang relevan terhadap
penelitian pengembangan yang dilakukan peneliti ditulis pada tabel 2.7
berikut:
Tabel 2.7 Penelitian yang Relevan
No Nama Penulis Judul Hasil Penelitian
1 Ulifah Istinaro dan Profil Penalaran Aljabar Peneliti menunjukan bahwa
Rini Setianingsih Siswa SMA yang Memiliki siswa SMAN 7 Surabaya
(2019) Kecerdasan Linguistik dan memenuhi indikator penalaran
Logis-Matematis dalam aljabar yaitu pencarian pola,
Memecahkan Masalah pengenalan pola, dan
Matematika generalisasi pola.
2 Kartika Penalaran Aljabar Siswa Peneliti menunjukan siswa
Purwaningtyas dan SMP dalam Menyelesaikan pada mencari pola diawali
Abdul Haris Soal Pola Bilangan dengan mengidentifikasi unsur
Rosyidi (2020) penyusun pola bilangan
kemudian siswa menemukan
hubungan tiap unsur pada pola
bilangan.
3 Ratu dan Halim Penalaran Aljabar melalui Penelitian ini menghasilkan
(2016) Pengamatan Pola untuk tingkatan penalaran aljabar
Siswa Kelas VII siswa melalui pengamatan pola
31
dalam kemampuan penalaran
yang dibedakan menjadi 2
yaitu pengamatan secara logis
dan tidak logis.
4 Mawar Idah Shonia Pengembangan Instrumen Hasil penelitian ini berupa
(2021) Tes Penalaran Aljabar instrumen tes terdiri dari 3 soal
Berbasis Taksonomi uraian mengenai penelaran
Marzano aljabar menurut Herbert dan
Brown. Indikator penalaran
tersbeut terdiri dari 3 fase
yaitu, fase pengenalan pola,
fase pencarian pola, dan fase
generalisasi.
5 Wandyah Ariesta Pengembangan Instrumen Hasil penelitian ini berupa 12
Dewi Fortuna Penilaian Hasil Belajar soal uraian mengacu pada
(2018) Matematika Mengacu pada setiap sistem kognitif
Taksonomi Marzano taksonomi Marzano.
6 Dinarti dan Kemampuan Generalisasi Penelitian ini menghasilkan
Qomariyah (2019) Pola Siswa Berdasarkan tiga subjek dimana masing-
Taksonomi Marzano masing subjek memiliki
kemampuan yang berbeda
dalam menyelesaiakan
masalah generalisasi,
kemudian mengklasifikasikan
setiap subjek ke dalam tiga
sistem taksonomi Marzano
(sistem diri, sistem kognitif
dan sistem metakognitif)
7 Cupma, dkk (2020) Pengembangan Instrumen Hasil penelitian ini berupa 5
Evaluasi Berbasis soal uraian instrumen tes untuk
Taksonomi Marzano untuk mengukur kemampuan
Menentukan Profil penalaran siswa berdasarkan
Kemampuan Penalaran indikator taksonomi Marzano.
pada Materi Gerak Lurus
2.7 Instrumen Tes
Instrumen merupakan alat bantu yang dipilih oleh peneliti dalam
mengumpulkan data agar penelitian tersebut sistematis dan mudah. Dunia
penelitian, instrumen diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data
mengenai variabel penelitian untuk keperluan penelitian, sedangkan dalam
dunia pendidikan instrumen untuk mengukur kemampuan siswa. Tes
merupakan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban atau sejumlah
pernyataan yang harus diberi respon atau tanggapan dengan memberikan
32
tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap
aspek tertentu dari yang menerima tes (Widoyoko, 2014). Suatu alat atau
instrumen yang digunakan untuk mengukur sesuatu disebut tes (Abdullah,
2012). Sementara, menurut Arikunto (2010), tes merupakan suatu pertanyaan
yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi,
kemampuan ataupun bakat yang dimiliki siswa baik individu maupun
kelompok.
Tes adalah cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu
ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan yang
berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan
yang harus dijawab atau perintah yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga
data yang diperoleh dari hasil pengukuran dapat dihasilkan nilai yang
melambangkan prestasi atau tingkah laku testee (Sudijono, 2009). Menurut
Arifin (2011) pengertian tes dirumuskan menjadi 4 hal yaitu (1) tes
merupakan teknik atau cara yang disusun secara urut dan digunakan untuk
hal pengukuran, (2) tes terdiri dari pertanyaan ataupun pernyataan yang harus
dijawab oleh siswa, (3) tes dimanfaatkan untuk mengukur aspek perilaku
siswa, (4) perlu adanya pemberian skor di setiap hasil tes. Sementara, menurut
Purwanto (2011), bahwa tes adalah instrumen atau alat ukur untuk
pengumpulan data dimana memberikan respon atas pertanyaan dalam
instrumen. Siswa didorong untuk menunjukkan pencapaian terbaiknya
dengan memberikan kesimpulan atau kemampuan yang dimiliki.
Berdasarkan pengertian tes dari beberapa ahli tersebut, peneliti
33
menyimpulkan bahwa tes yaitu alat untuk mengukur data berupa pertanyaan
atau perintah yang dapat memberikan respon dari testee untuk mengukur
kemampuan dan prestasi yang dimiliki oleh testee. Sebagai alat ukur, tes
dibedakan menjadi beberapa macam sesuai segi penggolongannya. Penelitian
pengembangan instrumen tes ini terdapat dua jenis tes yaitu tes kemampuan
untuk mengetahui penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano dan
tes tertulis didasarkan pada bentuk pengajuan tes secara tertulis. Tes
kemampuan (aptitude test) merupakan tes yang dilaksanakan untuk
mengungkapkan kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh
testee (Sudijono, 2009). Tes tertulis merupakan jenis tes dimana pengajuan
pertanyaannya berupa soal secara tertulis dan cara menjawabnya dilakukan
secara tertulis. Selain jenis tes, adapun ciri-ciri tes yang baik harus memenuhi
dua kriteria yaitu validitas dan relibialitas. Berikut penejelasan dari validitas
dan reliabilitas:
a. Ciri-ciri tes yang baik
Tes yang baik harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki
validitas, dan reliabilitas, (Arikunto, 2011).
1. Validitas
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dengan tepat, benar,
shahih, atau secara absah telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur
atau mengungkapkan hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik
setelah peserta didik menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu
tertentu (Sudijono, 2009).
34
2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur
yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur
itu dilakukan secara berulang (Sugiyono, 2015). Suatu tes dikatakan
reliabilitas apabila memiliki skor keajegan yang relatif tidak berubah-ubah
pada kondisi yang berbeda-beda. Reliabilitas tes merupakan seberapa besar
derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur (Sukadji, 2000).
2.8 Kerangka Berpikir
Pentingnya kemampuan penalaran yang harus dimiliki siswa dalam
berbagai hal khususnya pada permasalahan matematika seperti aljabar. Pada
kondisi tersebut siswa mampu menguasai materi aljabar dengan
meningkatkan kemampuan penalaran aljabar. Dalam meningkatkan
kemampuan penalaran aljabar, guru juga dapat memfasilitasi siswa alat
maupun media seperti instrumen tes yang mengacu kemampuan yang dituju.
Perlunya pengetahuan yang mendalam dalam meningkatkan penalaran
aljabar, maka peneliti berkolaborasi dengan sistem kognitif taksonomi
Marzano untuk mendefinisikan isi, isyarat, maupun kandungan dari soal yang
dikembangkan. Belum adanya penelitian secara khusus mengenai
pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif
taksonomi Marzano, membuat peneliti ingin berinovasi mengembangkan
instrumen tes tersebut. Peneliti berharap dengan adanya pengembangan
instrumen tes ini dapat memfasilitasi para guru maupun siswa dalam
meningkatkan kemampuan penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif.
35
Instrumen tes ini dibuat mengacu pada materi program linier yang
didalamnya terdapat konsep aljabar. Berikut skema kerangka berpikir seperti
gambar 2.3 berikut:
Pentingnya kemampuan penalaran Pengembangan instrumen
aljabar berdasarkan sistem kognitif tes penalaran aljabar untuk
taksonomi Marzano pada pembelajaran siswa SMA
matematika
kendala
Berdasarkan analisis soal, belum adanya soal
yang khusus tentang penalaran aljabar
berdasarkan sistem kognitif taksonomi
Marzano
Rendahnya kemampuan penalaran siswa
ditunjukan dalam peringkat PISA
upaya
Pengembangan instrumen tes penalaran
aljabar berbasis taksonomi Marzano
bentuk
Soal uraian
harapan
Siswa dapat meningkatkan kemampuan
penalaran aljabar
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Pengembangan
merupakan metode penelitian yang meibatkan pengumpulan dan analisis data
melalui metode kuantitatif (Basir, 2017). Metode kuantitatif bertujuan untuk
menentukan kevalidan dan reliabilitas pengembangan instrumen tes
penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano dalam penyelesaian
soal bab program linier. Terdapat dua hal penekanan di dalam penelitian
pengembangan, yaitu pengembangan prototype atau draft dan proses saat
instrumen diuji cobakan (Zulkardi, 2008). Penelitian pengembangan ini
menggunakan model Plomp (1997) dengan 5 fase pengembangan antara lain:
(1) investigasi awal, (2) desain, (3) realisasi/konstruksi, (4) tes, evaluasi dan
revisi, dan (5) implementasi.
3.2 Daerah dan Subjek Penelitian
Penelitian pengembangan ini dilakukan di SMAN 7 Semarang dengan
subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIPA. Subjek diambil secara acak
terdiri dari 5-10 siswa, proses pengerjaan instrumen terdapat pada fase ke-4
yaitu tahapan tes, evauasi dan revisi. Objek penelitian ini adalah siswa kelas
XI MIPA yang nantinya akan mengerjakan instrumen tes yang
dikembangankan oleh peneliti. Penelitian ini dilaksanakan secara daring
dengan melalui WA Grup yang dikoordinasikan oleh guru matematika.
36
37
3.3 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian menggunakan pengembangan model Plomp
(Plomp, 1997). Dari beberapa model pengembangan, dalam penelitian ini
menggunakan model Plomp dikarenakan model ini mengkhususkan pada
pengembangan tes sedangkan model pengembangan yang lain merupakan
pengembangan perangkat pembelajaran (Irawati, 2016). Selain itu, model
Plomp dinilai luwes untuk proses penelitian pengembangan. Prosedur
pengembangan terdapat 5 fase antara lain:
a. Investigasi Awal (Preliminary Investigation)
Fase ini dilakukan investigasi permasalahan penalaran aljabar pada
siswa kelas XI MIPA SMAN 7 Semarang. Kemudian, peneliti melakukan
analisis materi aljabar pada bab program linier untuk dikembangkan menjadi
instrumen tes. Selanjutnya, menginvestigasi hubungan antara penalaran
aljabar dengan sistem kognitif Marzano. Setelah semua ruang lingkup sudah
sesuai, peneliti kemudian masuk dalam fase kedua.
b. Desain (Design)
Fase ini peneliti melakukan perancangan desain instrumen tes
penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano. Perancangan dimulai
dengan penyusunan kisi-kisi soal serta karakteristik soal terhadap indikator
penalaran aljabar. Terdapat satu butir soal yang mengacu sistem kognitif
analisis taksonomi Marzano dengan indikator penalaran aljabar pada fase
pencarian pola, pengenalan pola dan generalisasi. Setelah itu, peneliti
melakukan penulisan soal uraian, kemudian penyusunan kunci jawaban serta
38
cara penilaian. Cara penilaian menggunakan metode rubrik holistik dengan
panjang intyerval skala 1 – 5. Berikut proses pengembangan instrumen tes
secara rinci:
1) Menyusun Tes
Tahap ini proses penyusunan butir-butir soal yang dikembangkan
sesuai dengan kriteria pelevelan indikator penalaran aljabar
berdasarkan sistem kognitif Marzano. Indikator penalaran aljabar
menurut Herbert & Brown terdapat tiga fase yaitu, fase pencarian pola,
fase pengenalan pola dan fase generalisasi. Materi yang akan
dikembangkan adalah materi program linier dengan mengambil satu
Kompetensi Dasar. Untuk proses kognitif, peneliti mengacu sistem
kognitif Marzano yaitu analisis. Terdapat empat proses kognitif analisis
yaitu classifying, generalizing. Dalam menyusun tes, adapun beberapa
hal yang dicantumkan dalam instrumen tes ,yaitu tujuan tes, kisi-kisi
dan karakteristik soal, jumlah soal, kunci jawaban soal dan cara
penilaian. Adapun penjelasan karakteristik soal uraian pada tabel 3.1
dan lebih jelasnya pada lampiran 1, sebagai berikut:
Tabel 0.1 Karakteristik Soal Penalaran Aljabar berdasarkan Sistem Kognitif Analisis
Indikator Indikator Soal Sistem Kognitif Marzano Nomor
Penalaran Soal
Aljabar
- Fase Diberikan soal Analysis
Pencarian cerita tentang
Pola permasalahan Classifying Siswa
- Fase seorang mengidentifikasi
1
Pengenalan pedagang, siswa kategori fungsi
Pola dapat kendala dan
- Fase menentukan fungsi objektif
Generalisasi biaya sewa serta batasannya
39
minimum di titik Generalizing Siswa dapat
A,D atau E menyimpulkan
dengan fungsi suatu
objektif berpola generalisasi baru
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + yang telah
𝑏𝑦, 𝑎 ≠ 𝑏. diketahui
2) Pemilihan media tes
Media yang digunakan dalam pengembangan ini adalah media
non elektronik berupa paket soal tes tertulis pada lembar kertas HVS
untuk lembar validasi ahli kepada dosen pembimbing satu, dosen
pembimbing dua dan guru matematika. Media untuk siswa berupa
softfile PDF mengingat proses pembelajaran masih daring.
3) Desain awal
Tahap ini adalah penulisan instrumen tes berupa satu butir soal
uraian matematika materi program linier dengan tujuan mengetahui,
melatih kemampuan penalaran aljabar siswa berdasarkan sistem
kognitif analisis Marzano. Hasil rancangan desain awal tahap ini
dinamakan Draft 1 (Irawati, 2016). Setelah desain awal sudah
terselesaikan, maka peneliti melakukan fase selanjutnya yaitu realisasi
atau konstruksi.
c. Realisasi atau Konstruksi
Fase ini terdiri dari proses penilaian validasi yang dilakukan oleh tiga
ahli terhadap rancangan desain awal pengembangan instrumen tes. Satu butir
soal uraian sebagai draft 1 masuk proses validasi. Terdapat 3 validator yaitu
dua orang dosen dan satu guru matematika. Berikut nama-nama validator
pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif
Marzano disajikan dalam tabel 3.2 berikut ini:
40
Tabel 0.2 Nama-nama Validator dari Para Ahli
No Validator Jabatan
1 Mohamad Abdul Basir,[Link]. Dosen Pembimbing 1
2 Dyana Wijayanti,[Link]. Dosen Pembimbing 2
3 Phaksi Nirwana, [Link]., Gr. Guru Matematika
Kriteria penilaian validasi menggunakan lembar validasi yag dibuat
oleh peneliti dengan indikator penilaian yang didasarkan pada kriteria materi,
konstruk, dan bahasa. Berikut lembar validasi yang digunakan sebagai
instrumen penilaian pada tabel 3.3:
Tabel 3.3 Lembar Validasi oleh Para Ahli
Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar materi
1.
program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran
2.
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem
3.
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat
4.
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada
1.
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan mudah
1.
dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan
3.
benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan
4.
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
Keterangan: 1 = tidak baik, 2 = kurang baik, 3 = ragu-ragu, 4 = baik, 5 = sangat baik.
Instrumen tes dikatakan valid, berdasarkan interval tingkat kevalidan
dengan interpretasi sedang, tinggi dan sangat tinggi. Memiliki koefisien
validitas lebih dari 0,40 (𝛼 > 0,40). Apabila belum memenuhi kriteria, maka
dilakukan revisi hingga memenuhi kriteria. Instrumen yang valid akan lanjut
41
pada fase selanjutnya yaitu tes,evaluasi dan revisi.
d. Tes, Evaluasi dan Revisi
Fase ini, soal yang telah divalidasi dan dinyatakan valid akan diuji
cobakan terhadap 5-10 orang siswa SMAN 7 Semarang kelas XI. Proses uji
coba dilakukan secara daring melalui WA Grup, mengingat keadaan masih
pandemi. Setelah proses uji coba , hasil jawaban siswa akan masuk proses uji
validitas soal terhadap skor yang diperoleh. Uji reliabilitas soal dilakukan
pada fase ini untuk mengetahui konsistensi soal. Dari beberapa uji yang telah
dilalui peneliti, apabila belum memenuhi kriteri acuan yang sudah ditentukan.
Maka, peneliti melakukan revisi dan didapat draf 2. Sebaliknya, jika hasil
beberapa uji menunjukan kriteria acuan cukup, tinggi ataupun baik. Maka,
instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano pada
materi program linier dapat dilanjutkan pada fase selanjutnya yaitu
Implementasi.
e. Implementasi
Fase selanjutnya, penggunaan ataupun implementasi berskala besar
dapat dilakukan. Sesuai peneliti Irawati, fase implementasi yaitu kegiatan
menerapkan instrumen tes yang digunakan dalam skala yang lebih luas
(Irawati, 2016). Fase ini bertujuan menguji efektivitas penggunaan instrumen
tes dalam mengukur penalaran aljabar berbasis taksonomi Marzano.
Berdasarkan ke-5 Fase pengembangan, peneliti hanya melakukan empat fase
yaitu investigasi awal, desain, realisasi atau konstruksi dan tes evaluasi dan
revisi. Pada fase implementasi tidak dilakukan oleh peneliti mengingat
42
kondisi wabah pandemi yang terjadi di daerah peneliti. Rancangan penelitian
diuraiakan gambar 3.1 berikut :
43
Gambar 3.1 Rancangan Penelitian Pengembangan Plomp
44
3.4 Metode Pengumpulan Data
Sugiyono (2015), berpendapat bahwa metode pengumpulan data dibagi
empat cara yaitu observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan angket.
Metode pengumpulan yang digunakan peneliti adalah angket dan instrumen
tes. Metode pengumpulan data pada penelitian pengembangan ini sebagai
berikut:
a. Angket
Angket adalah salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawab. Angket digunakan untuk mendapat data dari
validator agar instrumen valid dan reliabel. Angket berbentuk lembar validasi
untuk menilai aspek materi, aspek konstruk, dan aspek bahasa dari instrumen
tes yang dibuat oleh peneliti. Lembar validasi digunakan untuk menentukan
kualitas validasi isi ataupun validasi konstruk dari instrumen tes yang
dikembangkan dengan meminta penilaian dan juga saran dari para ahli yang
terdiri dari 2 dosen pembimbing dan 1 guru matematika. Tabel lembar
validasi ahli dapat dilihat di tabel 3.3.
b. Instrumen Tes
Instrumen tes yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah soal
uraian pada materi program linier kelas XI Kurikulum 2013 yang mengacu
pada indikator penalaran aljabar Herbert & Brown berdasarkan sistem
kognitif analisis pada taksonomi Marzano. Instrumen tes ini disusun
sebanyak satu butir soal uraian dengan tiga subsoal. Tujuannya untuk
45
mengetahui tingkat kemampuan penalaran aljabar siswa berdasarkan sistem
kognitif analisis pada taksonomi Marzano materi program linier. Kemudian
instrumen tes tersebut akan diujikan dan dianalisis untuk menentukan
validitas, dan reliabilitas. Instrumen tes ini akan diuji coba di SMAN 7
Semarang pada kelas XI.
3.5 Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini antara lain; (a) uji validasi perangkat
tes atau soal dengan subjek penguji yaitu para ahli, (b) uji validitas soal yang
mengacu subjek pada siswa, (c) uji reliabilitas soal terhadap jawaban siswa.
Berikut penjelasan analisis data pada penelitian pengembangan ini:
a. Uji Validasi Soal oleh Ahli
Validasi terhadap instrumen tes digunakan untuk memvalidasi soal
yang dikembangkan peneliti. Soal yang dikembangkan dapat digunakan
ketika berinterpretasi sedang, tinggi dan sangat tinggi. Perhitungan validitas
menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑁 ∑ 𝑋𝑌𝑍 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌) (∑ 𝑍)
𝛼=
√(𝑁 ∑ 𝑋 2 − (𝑋̅)2 )(𝑁 ∑ 𝑌 2 − (𝑌̅)2 )(𝑁 ∑ 𝑍 2 − (𝑍̅)2 )
Keterangan : 𝛼 = koefisien validitas
N = banyaknya indikator pada lembar validasi
X = perolehan skor dari validator 1
Y = perolehan skor dari validator 2
Z = perolehan skor dari validator 3
Kriteria acuan untuk validitas ini dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut:
46
Tabel 3.4 Interpretasi Validasi Soal oleh Para Ahli
Besarnya 𝜶 Interpretasi
0,80 ≤ |𝛼| < 1,00 Sangat Tinggi
0,60 ≤ |𝛼| < 0,80 Tinggi
0,40 ≤ |𝛼| < 0,60 Sedang
0,20 ≤ |𝛼| < 0,40 Rendah
|𝛼| < 0,20 Sangat Rendah
(Purwanto, 1992)
b. Uji Validitas
Sebuah instrumen tes dikatakan valid apabila telah mencapai tingkatan
ukur cukup, tinggi dan sangat tinggi yang ditentukan, maka dari itu instrumen
tes pada penelitian pengembangan ini divalidasi dengan menggunakan rumus
korelasi product moment sebagai berikut:
𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
𝑟𝑥𝑦 =
√(𝑁 ∑ 𝑋 2 − (𝑁 ∑ 𝑋)2 ) − (𝑁 ∑ 𝑌 2 − (𝑁 ∑ 𝑌)2 )
Keterangan : ∑ 𝑋 = jumlah skor seluruh siswa pada soal tersebut
∑ 𝑌 = jumlah skor total seluruh siswa testee
N = jumlah seluruh siswa
X = skor tiap siswa pada soal tersebut
Y = skor total tiap siswa
𝑟𝑥𝑦 = validitas
Kriteria acuan untuk validitas dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini
(Arikunto, 2012):
Tabel 3.5 Interpretasi Validitas oleh Siswa
Rentang Keterangan
0,80 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 1,00 Sangat Tinggi
0,60 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,80 Tinggi
0,40 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,60 Cukup
0,20 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,40 Rendah
47
0,00 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,20 Sangat Rendah
𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,00 Tidak Valid
Tiap butir soal pada instrumen akan digunakan apabila memenuhi
syarat dalam kategori sangat tinggi, tinggi, atau cukup. Namun, apabila butir
soal masuk dalam kategori rendah, sangat rendah, atau tidak valid maka butir
soal tersebut tidak digunakan atau mengalami tahap revisi.
c. Uji Reliabilitas
Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas tinggi apabila instrumen
tersebut memberikan hasil pengukuran secara konsisten. Hasil pengukuran
tersebut relatif serupa walaupun pengukurannya dilakukan dengan orang
yang berbeda dan di tempat yang berbeda (Irawati, 2016). Uji reliabilitas
digunakan rumus Kuder-Richardson 21, sebagai berikut:
𝑛 𝑀(𝑛 − 𝑀)
𝑟11 = ( )(1 − )
𝑛−1 𝑛𝑆𝑖 2
Keterangan : 𝑟11 = reliabilitas seluruh siswa
n = banyaknya soal
M = rata-rata skor soal
𝑆𝑖 2 = varians total
Perhitungan varians total atau biasa kita sebut dengan standar deviasi
kuadrat dengan menggunakan rumus:
(∑ 𝑋)2
∑ 𝑋2 −
𝑆𝑖 2 = 𝑁
𝑁
Keterangan : 𝑆𝑖 2 = varians total
N = banyaknya subjek pengikut tes
X = skor butir soal
48
Kriteria acuan interpretasi koefisien reliabilitas terdapat pada tabel 3.6
antara lain :
Tabel 0.6 Interpretasi Reliabilitas
Rentang Keterangan
0,80 < 𝑟11 ≤ 1,00 Sangat Tinggi
0,60 < 𝑟11 ≤ 0,80 Tinggi
0,40 < 𝑟11 ≤ 0,60 Cukup (Sedang)
0,20 < 𝑟11 ≤ 0,40 Rendah
−1,00 < 𝑟11 ≤ 0,20 Tidak Reliabel
Instrumen tes dikatakan reliabel apabila memenuhi syarat kategori
sangat tinggi, tinggi, atau cukup. Namun, apabila butir soal masuk dalam
kategori rendah, sangat rendah, atau tidak reliabel maka butir soal tersebut
tidak digunakan atau mengalami tahap revisi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Bab ini menguraikan proses pengembangan, hasil pengembangan, dan
hasil analisis data pengembangan instrumen tes untuk mengukur kemampuan
penalaran aljabar siswa SMA pada materi program linier berdasarkan sistem
kognitif Marzano. Berikut prosedur pengembangan instrumen tes penalaran
aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano yang dikembangkan dan hasil
analisis data yang diperoleh.
a. Proses Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar
Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano
Pengembangan instrumen berupa tes uraian penalaran aljabar dalam
menyelesaikan soal program linier berdasarkan sistem kognitif Marzano.
Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan model Plomp dengan
empat fase. Fase-fase tersebut adalah fase investigasi awal, fase desain, fase
realisasi atau konstruksi, dan fase tes, evaluasi dan revisi. Berikut penjelasan
lebih detail pada masing-masing fase:
1) Fase Investigasi Awal (Preliminary Investigation)
Fase ini dimulai dengan mengumpulkan beberapa referensi yang
relevan dengan penelitian pengembangan, instrumen tes, penalaran aljabar,
sistem kognitif Marzano, dan program linier. Setelah mendapatkan referensi
kemudian langkah selanjutnya yaitu melakukan proses perizinan penelitian di
SMAN 7 Semarang dan Dinas Pendidikan Jawa Tengah.
49
50
Proses perizinan dimulai dari perizinan ke Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Jawa Tengah terlebih dahulu. Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Jawa Tengah mengeluarkan surat izin penelitian selang waktu
14 hari setelah surat masuk. Kemudian, melakukan tes swab antigen sebagai
syarat penelitian di SMAN 7 Semarang. Pertemuan awal bertemu dengan
wakil kepala sekolah bidang Kurikulum. Setelah persetujuan penelitian
diberikan kepada peneliti. Proses yang dilakukan selanjutnya adalah bertemu
guru matematika untuk melakukan analisis materi dan analisis siswa.
Analisis materi dilakukan oleh peneliti untuk memilih dan menyelaraskan
kompetensi dasar maupun indikator pencapaian kompetensi yang relevan
dengan penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano.
Kompetensi dasar yang dipilih peneliti adalah menyelesaikan masalah
konstekstual yang berkaitan dengan program linier dua variabel. Sedangkan,
indikator pencapaian kompetensi yang dipilih adalah merancang dan
mengajukan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari berupa masalah
program linier. Kemudian, analisis siswa adalah proses menelaah
karakteristik siswa dalam memahami dan menyelesaikan masalah program
linier. Siswa ketika diberikan soal berupa uraian singkat dapat menjawab
dengan benar tanpa melalui proses kognitif ataupun penalaran, karena
jawabannya hanya satu interpretasi. Namun, ketika siswa diberikan masalah
program linier lainnya seperti soal cerita yang harus mengubah kalimat
menjadi persamaan matematika. Siswa belum terbiasa dengan proses jawaban
yang panjang dan sistematis. Hal itu juga selaras dengan ungkapan dari guru
51
matematika ketika peneliti bertemu di sekolah. Dengan begitu, peneliti
melakukan pra penelitian atau investigasi sebelum penelitian kepada subjek
penelitian.
Pra penelitian dilakukan untuk mengetahui proses penyelesaian
masalah program linier siswa. Peneliti memberikan empat butir soal uraian
pemecahan aljabar materi program linier. Soal tersebut diberikan kepada 9
siswa kelas XI yang menjadi subjek penelitian. Setelah melihat dan
menganlisis proses penyeelsaian masalah siswa. Ditemukan beberapa siswa
menjawab dengan proses penyelesaian baik dimulai pemodelan matematika,
mendeskripsikan fungsi kendala maupun fungsi objektif, lalu mencari titik
potong untuk membuat grafik, kemudian menentukan titik pojok untuk
disubstitusikan ke fungsi objektif, serta proses penarikan kesimpulan. Dengan
hasil pra penelitian tersebut. Peneliti menarik kesimpulan bahwa siswa dapat
menyelesaiakan pemecahan masalah aljabar. Bagaimana dengan masalah
penalaran aljabar pada materi program linier yang akan diujikan kepada
subjek penelitian. Akankah subjek dapat menyelesaikan masalah penalaran
aljabar dengan sistem kognitif taksonomi Marzano yang dimiliki.
Selain itu, belum ada inovasi tentang soal uraian masalah penalaran
aljabar yang dibuat maupun dikembangkan oleh guru matematika setempat.
Sehingga, perlunya pengembangan soal uraian materi program linier yang
dikembangkan peneliti untuk menunjang proses evaluasi terhadap siswa.
Sistem kognitif pada taksonomi Marzano terdiri dari empat sistem yaitu
penarikan kemabali pengetahuan, pemahaman, analisis dan pemanfaatan
52
pengetahuan. Peneliti memilih sistem kognitif pada level analisis yaitu
classifying, dan generalizing. Kognitif analisis dipilih sesuai referensi yang
diperoleh peneliti yang selaras dengan indikator penalaran aljabar Herbert
Brown. Setelah melakukan semua analisis dan proses perizinan, langkah
selanjutnya adalah fase desain.
2) Fase Desain
Fase investigasi awal menghasilkan analisis masalah yang menjadi
acuan peneliti mengembangkan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan
sistem kognitif Marzano pada proses analysis. Fase desain bertujuan untuk
merancang sebuah instrumen tes berbentuk soal uraian sebanayak satu butir
soal berdasarkan sistem kognitif Marzano (analisis). Proses awal pembuatan
instrumen tes diawali dengan penyusunan kisi-kisi dan karakteristik soal pada
tabel 4.1, kunci jawaban pada tabel 4.2, pedoman penilaian berdasarkan
metode rubrik holistic pada tabel 4.3.
Peneliti merancang satu butir soal instrumen tes berbentuk uraian. Kisi-
kisi dan karakteristik soal dirancang sesuai kompetensi dasar program linier
yaitu menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan program
linier dua variabel. Dan indikator pencapaian kompetensi program linier yaitu
merancang dan mengajukan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari
berupa masalah program linier. Kunci jawaban dirancang peneliti sesuai
proses dari indikator penalaran aljabar yang terdiri dari tiga proses yaitu,
pencarian pola, pengenalan pola dan generalisasi. Agar siswa menyelesaiakan
proses soal uraian perlunya sistem kognitif Marzano pada level analisis
53
(classifying dan generalizing) untuk memproses informasi yang dibutuhkan
siswa. Selain itu, peneliti merancang pedoman penilaian untuk
mempermudah peneliti, guru, ataupun peneliti lainnya dalam memberikan
nilai.
Pedoman yang digunakan peneliti adalah metode rubrik holistic. Rubrik
holistic digunakan peneliti untuk menilai jawaban siswa berdasarkan
keseluruhan kriteria indikator penalaran aljabar yang diberikan skala
penilaian 1 – 5 di setiap indikator. Berikut kisi-kisi dan karakteristik, lebih
jelasnya dapat dilihat pada lampiran 1, kunci jawaban pada lampiran 3 dan
pedoman penilaian instrumen tes yang dikembangkan peneliti pada lampiran
4, sebagai berikut:
Tabel 4.1 Kisi- kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem
Kognitif Analisis Marzano
Indikator Penalaran Sistem Kognitif Nomor
Soal
Aljabar Marzano Soal
- Fase Pencarian Pola: Seorang pedagang
Analysis
Masalah program ingin mengirim
linier pada soal barang dagangannya Classifying Dengan sistem
membuat siswa yang terdiri atas 1200 kognitif classifying
melakukan pencarian kursi lipat dan 1200 yang dimiliki siswa,
pola. meja lipat. Untuk dapat membawa
- Fase Pengenalan keperluan pengiriman siswa ke fase
Pola: Masalah barang, seorang pencarian pola
program linier pada pedagang akan Generalizing Dengan sistem
soal mengenalkan menyewa truk dan kognitif generalizing
siswa terhadap pola colt. Truk dapat Siswa dapat
dari fungsi objektif memuat 30 kursi dan menyimpulkan suatu
1
nilai minimum 60 meja. Sedangkan generalisasi baru
dengan batasan yang colt dapat memuat 40 pada fase generalisasi
sudah ditentukan. kursi dan 30 meja. yang telah diketahui
- Fase Generalisasi : Agar biaya sewa
masalah program minimum, berapa
linier pada soal jumlah truk dan colt
menghasilkan pola yang harus disewa.
baru yang kemudian Jika dikehendaki nilai
mendapatkan minimum berada pada
generalisasi baru titik A, D dan E pada
dengan prediksi yang gambar dengan
konsisten dan benar. menentukan fungsi
54
objektif 𝑓(𝑥, 𝑦) =
𝑎𝑥 +
𝑏𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎, 𝑏 ∈
𝑁 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠
𝑏 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 3 ≤
𝑎 ≤ 5 ,1 ≤ 𝑏 ≤ 5
adalah….
Tabel 4.2 Kunci Jawaban
Uraian Kunci Jawaban
Langkah 1 : Berdasarkan informasi yang diberikan pada soal, kita dapat membuat tabel sebagai
Pemodelan berikut :
Matematika Truk Colt Kapasit
Siswa dapat (x) (y) as
mengidentifikasi Kursi 30 40 1200
pertidaksamaan lipat
matematika yang Meja 60 30 1200
merupakan fungsi lipat
kendala dan fungsi
objektif. Dari tabel diatas, kita dapat menyusun sistem pertidaksamaan linier dimana x
banyaknya Truk dan y banyaknya Colt.
30𝑥 + 40𝑦 ≥ 1200
{60𝑥 + 30𝑦 ≥ 1200} merupakan fungsi kendala
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Disederhanakan menjadi :
3𝑥 + 4𝑦 ≥ 120
2𝑥 + 𝑦 ≥ 40
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Fungsi objektif :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎, 𝑏 ∈ 𝑁
𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛
3 ≤ 𝑎 ≤ 5 ,1 ≤ 𝑏 ≤ 5
Langkah 2 : Grafik Langkah selanjutnya kita menentukan daerah penyelesaian:
Penyelesaian
Terdapat tiga titik pojok yaitu titik A (40,0) , D (0,40) dan E (8,24). Titik E
merupakan titik potong kedua garis dan koordinatnya dicari menggunakan metode
eliminasi dan substitusi sebagai berikut :
3𝑥 + 4𝑦 = 120 × 1 3𝑥 + 4𝑦 = 120 … (1)
| |
2𝑥 + 𝑦 = 40 × 4 8𝑥 + 4𝑦 = 160 … (2)
3𝑥 + 4𝑦 = 120
8𝑥 + 4𝑦 = 160
−
55
−5𝑥 = −40
𝑥 =8
Kemudian nilai 𝑥 disubstitusikan ke pers (1) untuk mendapatkan nilai 𝑦 :
3𝑥 + 4𝑦 = 120
3.8 + 4𝑦 = 120
24 + 4𝑦 = 120
4𝑦 = 120 − 24
𝑦 = 96 ∶ 4
𝑦 = 24
∴ 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑝𝑜𝑡𝑜𝑛𝑔 𝐸 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ (8,24)
Langkah 3 : Setelah memperoleh titik pojok kita substitusikan ke fungsi objektif seperti tabel
Mencari Pola untuk dibawah ini:
Nilai (a,b)
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎
D (0,40) 40𝑏
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏
Karena 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 belum diketahui, maka langkah selanjutnya mencari nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏
yang sesuai dengan permasalahan di soal :
Syarat :
𝑎, 𝑏 ∈ 𝑁 , 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏
3≤𝑎≤5
1≤𝑏≤5
Proses Pencarian Pola :
Dengan syarat di atas dapat kita tentukan nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 dengan metode tabel
sebagai berikut :
𝑎⁄ 1 2 3 4 5
𝑏
1 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5)
2 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5)
3 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5)
4 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5)
5 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5)
Yang berwarna merah tidak memenuhi karena tidak memenuhi dalam persyaratan
pada soal, terdapat 25 pola, yang memenuhi syarat hanya 12 pola bentuk (𝑎, 𝑏).
Kemudian kita substitusikan ke fungsi objektif untuk menentukan nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5)
D (0,40) 40𝑏 40 40 40 40 40
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 40 80 120 160 200
A (40,0) 40𝑎 32 52 80 104 128
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5)
D (0,40) 40𝑏 80 80 80 80 80
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 40 80 120 160 200
A (40,0) 40𝑎 40 64 88 112 136
56
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A
40𝑎 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5)
(40,0)
D
40𝑏 120 120 120 120 120
(0,40)
E 8𝑎
40 80 120 160 200
(8,24) + 24𝑏
A
40𝑎 48 72 96 120 144
(40,0)
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A
40𝑎 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5)
(40,0)
D 160 160 160 160
40𝑏 160
(0,40)
E 8𝑎
40 80 120 160 200
(8,24) + 24𝑏
A
40𝑎 56 80 104 128 152
(40,0)
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A
40𝑎 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5)
(40,0)
D
40𝑏 200 200 200 200 200
(0,40)
E 8𝑎
40 80 120 160 200
(8,24) + 24𝑏
A
40𝑎 64 88 112 136 160
(40,0)
Langkah 4 : Terlihat :
Pengenalan Pola Proses Pengenalan Pola :
Siswa dapat Pada pola (3,2) menunjukan di titik E bernilai 72
menemukan pola Pada pola (4,3) menunjukan di titik E bernilai 104
fungsi objektif Pada pola (5,4) menunjukan di titik E bernilai 136
untuk diterapkan Dari ketiga pola di atas menunjukan nilai minimum pada masing fungsi objektif
pada permasalahan Untuk (3,2) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦
nilai minimum Untuk (4,3) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦
sesuai batas yang Untuk (5,4) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦
ditentukan. Terlihat dari pola ketiga fungsi objektif diatas maka dapat dibuat pola :
𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚,
𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 2
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 72 merupakan nilai
minimum. Jadi, agar sewa ongkos minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt
berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 104 merupakan nilai
minimum. Jadi, agar sewa ongkos minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt
berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 136 merupakan nilai
minimum. Jadi, agar sewa ongkos minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt
berjumlah 24.
Langkah 5 : Proses Generalisasi :
57
Generalisasi Dengan fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚
Siswa dapat Jika n = 6
menyimpulkan Maka , 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝟔𝒙 + 𝟓𝒚
generalisasi baru Dengan
yang telah Terbukti nilai minimum berada di titik E (8,24) dengan nilai 168
diketahui. Jadi, 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚 menjadi pola dimana n sebagai 𝑎 dan
(n − 1) sebagai b, sehingga 𝑎 > 𝑏.
Ketika pola fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚, dengan n > 2, maka dapat
dilihat bahwa
Nilai minimum terletak pada titik potong kedua garis yaitu E(8,24)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan bentuk fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 +
(𝒏 − 𝟏)𝒚 , ongkos sewa minimum terletak di titik E(8,24) yang merupakan titik
potong kedua fungsi kendala dimana seorang pedagang dapat menyewa 8 truk dan
24 colt agar ongkos sewa bernilai minimum.
Tabel 4.3 Pedoman Penilaian dengan Metode Rubrik Holistik
Aspek yang Skor
dinilai 1 2 3 4 5
Siswa dapat
menuliskan
Siswa dapat Siswa dapat
penyelesaian
Siswa hanya menuliskan menuliskan
pencarian pola
Tidak dapat menuliskan penyelesaian penyelesaian
dengan benar
Kemampuan menyelesaiakan penyelesaian pencarian pola pencarian pola
tanpa menulis
Pencarian proses pencarian pola dengan benar dengan benar dan
informasi yang
Pola pencarian pola tetapi masih ada tanpa menulis sistematis serta
diketahui dan
kesalahan informasi yang menuliskan informasi
hanya menulis
diketahui yang ada
jawaban yang
sesuai saja
Siswa dapat
Siswa dapat Siswa dapat
mengaitkan
Siswa hanya mengaitkan mengaitkan ketepatan
Tidak dapat ketepatan
Ketepatan mengaitkan ketepatan pengenalan pola yang
menyesuaiakan pengenalan pola
Pengenalan permasalahan pengenalan sesuai dan
pengenalan yang sesuai dan
Pola tetapi belum pola yang menerapkannya
pola penerapannya
sesuai sesuai tanpa fungsi lain secara
ke fungsi lain
menerapkannya tepat
belum sesuai
Siswa dapat
Siswa dapat menulis proses Siswa dapat
Siswa hanya dapat
Tidak dapat menulis proses generalisasi menuliskan proses
menulis proses
Penguasaan menyimpulkan generalisasi dengan benar generalisasi dengan
generalisasi tanpa
Generalisasi proses dengan benar dan sudah logis benar dan dapat
menyimpulkannya
generalisasi tetapi belum tetapi belum bisa mempertahankan
secara logis
logis mempertahankan prediksi secara logis
prediksi tersebut
58
3) Fase Realisasi atau Konstruksi
Setelah merancang desain semua instrumen pada fase sebelumnya.
Selanjutnya peneliti memasuki fase realisasi dan konstruksi, tujuan dari tahap
ini untuk menghasilkan draft 1 yang merupakan desain awal atau rancangan
awal. Hasil draft 1 kemudian diteliti kembali apakah sudah sesuai dengan tiga
karakteristik aspek instrumen yaitu: materi, konstruk dan bahasa yang dibuat
peneliti dapat dilihat pada tabel 3.3 bab 3, sehingga siap untuk diuji kevalidan
oleh para ahli.
4) Fase Tes, Evaluasi atau Revisi
Setelah melakukan fase realisasi dan konstruksi, peneliti masuk ke fase
tes, evaluasi dan revisi. Fase ini dilakukan dua proses kegiatan, yaitu (a)
validasi instrumen tes oleh para ahli dan (b) uji coba terbatas draft yang sudah
divalidasi oleh para ahli.
a. Validasi Instrumen Tes oleh Ahli
Sebelum digunakan secara luas, instrumen terlebih dahulu divalidasi
oleh para ahli, untuk mengetahui layak atau tidak layak instrumen tes
penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano. Kegiatan validasi
dilakukan dengan memberikan lembar validasi soal, karakteristik dan kisi-
kisi soal, lembar soal, kunci jawaban, dan pedoman penilaian kepada
validator. Validator terdiri dari dua dosen pendidikan matematika Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung Semarang
dan satu guru matematika SMAN 7 Semarang.
Dalam fase validasi, para validator memberikan penilaian terhadap 10
59
aspek yang mengacu pada instrumen tes yang telah dirancang (draft 1).
Lembar validasi dapat dilihat di lampiran 5 oleh validator satu, lampiran 6
oleh validator dua dan lampiran 7 oleh validator tiga. Validator memberikan
beberapa saran dan kesimpulan apakah instrumen dapat digunakan, instrumen
dapat digunakan dengan revisi atau instrumen tidak dapat digunakan.
Penilaian validator dapat dilihat di tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4 Hasil Validasi Instrumen Tes oleh Para Ahli
Rata – rata validasi Jumlah
Aspek yang rata – Rata-rata
dinilai rata keseluruhan
V1 V2 V3 validasi
Aspek Materi 4,75 4,5 5 14,25 4,75
Aspek
4 4 5 13 4,3
Konstruk
Aspek Bahasa 4,25 4,75 5 14 4,6
Berdasarkan tabel 4.4 diatas, terlihat rata-rata validasi semua validator
pada aspek materi menunjukan nilai 4,75 artinya soal uraian yang akan diuji
cobakan kepada subjek penelitian memiliki kriteria baik dalam hal materi.
Pada aspek konstruk terlihat rata-rata seluruh validator 4,3 artinya soal uraian
yang dikembangkan berkriteria baik dalah hal konstruksi kalimat tanya dan
kunci jawaban. Aspek bahasa memiliki hasil rata-rata seluruh validator 4,6
artinya kriteria bahasa yang digunakan dalam soal uraian menggunakan
bahasa yang baik tanpa menggunakan bahasa daerah setempat.
b. Uji Coba Terbatas oleh Siswa
Soal yang telah direvisi diuji cobakan terhadap siswa kelas XI SMAN
7 Semarang yang terdiri dari 9 siswa. Karena kegiatan uji coba secara daring
melalui WA Grup, soal diberikan melalui grup dengan softfile PDF. Waktu
60
pengerjaan soal 120 menit, setelah selesai mengerjakan siswa mengisi
presensi di google form yang telah dibuat peneliti. Jawaban siswa
dikumpulkan dengan bentuk PDF untuk memudahkan peneliti dalam menilai.
Siswa uji coba dipilih secara acak. Pelaksanaan uji coba tes dilakukan
pada hari Jum’at, 24 September 2021 pukul 14.00 sampai 16.00 melalui WA
Grup yang dibuatkan guru matematika. Namun, yang mengikuti pelaksanaan
uji coba tersebut adalah 6 siswa. Untuk siswa yang belum mengikuti uji coba
tes pada hari tersebut dialihkan di hari Sabtu, 25 September 2021 pada pukul
08.00 sampai 10.00. Data jawaban siswa dari uji coba terbatas kemudian
dianalisis untuk mengetahui tingkat kemampuan penalaran aljabar
berdasarakan sistem kognitif pada Taksonomi Marzano level Analisis. Hasil
jawaban siswa dinilai sesuai pedoman penilain yang telah dibuat kemudian
dianalisis isi soal ,uji validitas soal dan uji reliabilitas soal.
b. Hasil Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan
Sistem Kognitif Marzano
1) Analisis dan Uji Validasi Isi Soal oleh Para Ahli
Uji validasi isi soal menggunakan rumus 𝛼. Hasil penilaian aspek oleh
ahli kemudian diuji validasi untuk menentukan kriteria kevalidan dan kualitas
instrumen yang dikembangkan peneliti. para ahli yang terlibat yaitu dua
dosen pendidiknmatematika dan satu guru matematika SMAN 7 Semarang.
Hasil uji validasi soal dilihat pada tabel 4.5 berikut:
61
Tabel 4.5 Hasil Uji Validasi Soal oleh Para Ahli
Jumlah aspek Jumlah
Nilai
penilaian Validator skor Nilai 𝜶 Kriteria
|𝜶|
penilaian
10 V1 44
Sangat
10 V2 45 -0,90 0,9
Tinggi
10 V3 50
Rata – rata
46,33
skor penilaian
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan rata-rata skor 46,33 dari sepuluh
aspek penilain yang artinya instrumen masuk dalam kategori baik sesuai skala
penilaian pada lembar validasi. Selanjutnya, hasil nilai |𝛼| adalah 0,9 artinya
soal bernilai valid dengan kriteria sangat tinggi dan draft 1 perlu revisi. Revisi
ini dilakukan berdasarkan saran dan kritik dari validator. Berikut adalah saran
dari validator pada tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Uraian Revisi Instrumen Tes
No Draft yang direvisi Sebelum revisi Sesudah Revisi
1. Kisi-kisi tes direvisi oleh Terdapat empat Terdapat satu komponen
- Validator 1 komponen sistem sistem kognitif yaitu
- Validator 2 kognitif Marzano analisis dengan dua level
(penarikan (classifying, generalizing)
kembali
pengetahuan,
pemahaman,
analisis dan
pemanfaatan
kembai)
Direvisi oleh Validator 2 Letak judul kolom Letak kolom berubah
dari kiri ke kanan menjadi
- Indikator - Kompetensi
penalaran aljabar dasar
- Sistem - IPK
kognitif Marzano - Indikator
- Indikator penalaran aljabar
soal - Indikator soal
- Nomor - Sistem kognitif
soal Marzano
- Nomor soal
Direvisi oleh Validator 3 Salah penulisan variabel
variable
2 Soal direvisi oleh Di soal tidak ada Menjadi ada grafik
- Validator 1 grafik dengan titik-titik
- Validator 3 pojoknya
Direvisi oleh Validator 2 2 x 45 menit 2 x 60 menit
62
3 Kunci jawaban direvisi oleh Belum adanya Terdapat kesimpulan
- Validator 1 penarikan
- Validator 2 kesimpulan di
akhir
4 Pedoman penilaian direvisi Berupa nilai paten Berupa metode rubrik
oleh Validator 1 holistik
2) Uji Validitas Soal
Hasil uji validitas soal jawaban siswa dan skor yang diperoleh siswa
dijelaskan pada tabel 4.7 berikut :
Tabel 4.7 Hasil Perolehan Uji Validitas oleh Para Siswa
Hasil Skor (X)
Kode Jumlah skor
No Pencarian pola Pengenalan pola Generalisasi
siswa (Y)
(a) (b) (c)
1 A1 3 3 2 8
2 A2 2 2 2 6
3 A3 3 2 1 6
4 A4 2 2 1 5
5 A5 2 2 1 5
6 A6 3 2 2 7
7 A7 3 2 2 7
8 A8 2 2 1 5
9 A9 3 2 1 6
Jumlah
23 19 13
skor ∑ 𝑿
Jumlah seluruh skor ∑ 𝒀 55
𝑟𝑥𝑦 0,78 0,67 0,80
Rata-rata 𝒓𝒙𝒚 0,75
Kriteria Tinggi
kevalidan
Berdasarkan validitas product moment pada tabel 4.7 dihasilkan nilai
rata-rata validitas 0,75 masuk dalam rentang 0,60 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,80 dengan
kriteria tinggi. Jadi, pengembangan instrumen tes penalaran aljabar
berdasarkan sistem kognitif Marzano pada materi program linier dapat
disimpulkan memiliki interpretasi kevalidan yang tinggi untuk
diimplementasikan ke skala besar. Artinya soal uraian yang dikembangkan
menunjukan ketepatan terhadap indikator penalaran aljabar yang tinggi
63
sehingga bisa diujikan secara skala besar.
3) Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas soal terhadap jawaban siswa dan skor yang
diperoleh siswa dijelaskan pada tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas oleh Para Siswa
Hasil Skor
Nama Jumlah
No Pencarian Pengenalan pola Generalisasi
siswa skor (Y)
pola (X) (X) (X)
1 A1 3 3 2 8
2 A2 2 2 2 6
3 A3 3 2 1 6
4 A4 2 2 1 5
5 A5 2 2 1 5
6 A6 3 2 2 7
7 A7 3 2 2 7
8 A8 2 2 1 5
9 A9 3 2 1 6
Rata-rata 6,1
2,6 2,1 1,4
skor
𝑺𝒊𝟐 0,99
𝒓𝟏𝟏 0,60
Kriteria Cukup
reliabel
Berdasarkan perhitungan uji reliabilitas menurut rumus Kuder
Richardson 21 dihasilkan varians total 0,99 tertulis pada tabel 4.7. Uji
reliabilitas diperoleh nilai 0,60 masuk rentang 0,40 < 𝑟11 ≤ 0,60. Artinya,
instrumen tes yang dikembangkan memiliki kriteria cukup reliabel. Jadi,
pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif
Taksonomi Marzano level analisis pada materi program linier memiliki
kriteria reliabel (ketetapan) yang cukup untuk digunakan ke skala besar.
Dengan begitu, soal uraian yang dikembangkan telah memenuhi syarat
menjadi instrumen tes yang reliabel atau konsistensi yang cukup.
64
4.2 Pembahasan
a. Proses Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar berdasarkan
Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano Materi Program Linier
Proses pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan
sistem kognitif pada Taksonomi Marzano materi program linier SMA telah
melalui serangkaian fase pengembangan Plomp mulai dari fase investigasi
awal, desain, realisasi/konstruksi sampai fase tes, evaluasi dan revisi sehingga
menghasilkan sebuah produk. Sejalan dengan pendapat Sugiyono
berpendapat bahwa metode penelitian dan pengembangan merupakan metode
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu
(Sugiyono, 2011). Produk tersebut adalah instrumen tes penalaran aljabar
siswa berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi Marzano komponen
analisis (classifying dan generalizing) materi program linier. Tes yang akan
diujicobakan kepada subjek masuk dalam kategori tes kemampuan. Sudijono
(2009) berpendapat bahwa tes kemampuan merupakan tes yang dilakukan
peneliti untuk mengungkapkan suatu kemampuan dasar atau kemampuan
lainnya yang dimiliki siswa. Instrumen tes yang dikembangkan peneliti telah
memenuhi ciri-ciri tes yang baik yaitu memenuhi uji validitas dan uji
reliabilitas. Hal tersebut sesuai pendapat Arikunto bahwa tes yang baik harus
memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, dan reliabilitas,
(Arikunto, 2011). Berikut penjelasan pembahasan pada setiap fase
pengembangan:
1) Fase Investigasi Awal
65
Pada fase investigasi awal ditemukan bahwa siswa yang menjadi subjek
penelitian 9 siswa kelas XI MIPA SMAN 7 Semarang belum pernah
menyelesaiakan soal uraian tentang penalaran aljabar. Hal tersebut dibuktikan
sendiri oleh peneliti bahwa guru matematika pada sekolah tersebut belum
pernah membuat soal seperti yang dikembangkan peneliti. Guru matematika
condong memberikan soal pemecahan aljabar saja. Dari keadaan tersbeut,
peneliti telah melakukan pra penelitian dengan memberikan soal pemecahan
aljabar dengan tujuan mengetahui sampai mana proses penyelesaian program
linier yang telah diketahui siswa. Setelah selesai proses pengerjaan soal
pemecahan aljabar yang diberikan peneliti, soal tersebut dapat dilihat di
lampiran 18. Berdasarkan hasil pengerjaan oleh ke-9 siswa, terdapat lima
siswa yang mengerjakan dengan benar dengan langkah-langkah penyelesaian
sesuai yang diajarkan oleh guru matematikanya dari proses pemodelan, grafik
sampai kesimpulan. Keempat siswa yang lainnya mengerjakan dengan
langkah-langkah yang sesuai tetapi jawaban tidak benar karena ada beberapa
salah perhitungan. Adapun kendala yang dihadapi peneliti pada fase
investigasi awal adalah proses analisis materi yang dipilih harus seirama
dengan ketiga indikator penalaran aljabar. Selain itu, proses perizinan juga
merupakan kendala, dimana harus melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Jawa Tengah serta peneliti akan diberikan surat izin penelitian dengan
melampirkan bukti swab antigen negatif Covid-19. Proses penantian surat
izin adalah 14 hari, hal itu juga memperlambat peneliti untuk bisa segera
menyelesaiakan skripsi.
66
2) Fase Desain
Setelah mendapatkan informasi pada fase sebelumnya. Peneliti
langsung merangkai instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem
kognitif pada taksonomi Marzano materi program linier. Peneliti hanya
mengembangkan satu butir soal uraian yang didalamnya terdapat tiga induk
pertanyaan dapat dilihat di lampiran 2. Mengapa hanya satu butir soal?
Karena di dalam satu butir soal yang dikembangkan sudah ada tiga induk
pertanyaan masing-masing pada indikator penalaran aljabar (pencarian pola,
pengenalan pola dan generalisasi). Dengan begitu, satu soal uraian dengan
tiga induk pertanyaan sudah sesuai yang diinginkan peneliti. Sesuai
komponen sistem kognitif pada taksonomi Marzano, peneliti mengacu pada
sistem kognitif analysis yang di dalamnya ada classifying dan generalizing.
Classifying atau mengklasifikasikan dipilih sesuai dengan hasil jawaban
instrumen tes penalaran aljabar dapat dilihat pada lampiran 3 bahwa terdapat
proses klasifikasi fungsi objektif untuk mencari nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 yang sesuai
interval yang ditentukan. Struktur kognitif generalizing dipilih sesuai dengan
fase pada indikator penalaran aljabar yaitu terdapat fase generalisasi yaitu
menyimpulkan suatu generalisasi baru dari pengetahuan yang telah diketahui
sebelumnya. Serangkaian desain awal atau draft 1 yang berisi instrumen tes,
kunci jawaban dan kisi-kisi karakteristik instrumen telah selesai
dikembangkan, kemudian membuat pedoman penilain berdasarkan rubrik
holistik. Rubrik holistic merupakan cara menilai secara keseluruhan semua
jawaban dengan mengacu beberapa kriteria. Draft awal dilanjutkan ke fase
67
berikutnya.
3) Fase Realisasi/Konstruksi
Draft awal dicek kembali oleh peneliti, sudahkah sesuai dengan aspek
penilaian (aspek materi, aspek konstruk dan aspek bahasa). Ketiga aspek
tersebut tertuang di lembar validasi yang dibuat oleh peneliti untuk diberikan
kepada validator sebagai proses penilaian validator terhadap draft awal yang
dikembangkan. Setelah semua draft awal sesuai dengan ketiga aspek maka
proses selanjutnya yang penelitia lalui adalah realisasi. Draft awal
direalisasikan kepada tiga validator yaitu dosen pembimbing 1, dosen
pembimbing 2 dan guru matematika kelas XI SMAN 7 Semarang. Realisasi
pertama dilakukan peneliti kepada validator pertama yaitu dosen pembimbing
1 secara online kemudian menyusul dosen pembimbing 2 secara offline di
ruang LPPM dan yang terakhir guru matematika secara offline di ruang guru.
Hasil lembar validasi kemudian dianalisis oleh peneliti pada fase selanjutnya.
4) Fase Tes, Evaluasi dan Revisi
Langkah awal yang dilakukan pada fase ini yaitu analisis uji validasi
hasil penilaian yang dilakukan oleh para validator terhadap lembar validasi
ahli pada fase sebelumnya. Hasil uji validasi oleh ahli menyatakan nilai
|𝛼| adalah 0,90. Sesuai interpretasi pada tabel 3.4 nilai 0,90 masuk pada
rentang 0,80 ≤ |𝛼| < 1,00. Jadi, dapat disimpulkan bahwa draft awal yang
dikembangkan peneliti masuk interpretasi sangat tinggi ketepatannya
sehingga instrumen tersebut secara benar telah mengukur kemampuan
penalaran aljabar subjek berdasarkan sistem kognitif (Classifying dan
68
Generalizing) pada taksonomi Marzano. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Sudijono bahwa sebuah instrumen dikatakan valid apabila instrumen tes
tersebut dengan tepat, benar atau secara absah telah dapat mengukur apa yang
seharusnya diukur (Sudijono, 2009). Sedangkan, untuk penilaian pada lembar
validasi dituliskan pada tabel 4.4. berdasarkan tabel 4.4 bahwa validator 1
memberikan penilaian dengan rata-rata 4,75 dari 4 aspek penilaian materi,
nilai rata-rata 4 dari 2 aspek penilaian konstruk, 4,25 dari 4 aspek penilaian
bahasa. Dari ketiga aspek tersebut dijumlahkan akan menghasilkan rata-rata
4,4. Nilai 4,4 ditinjau dari skala penilaian lembar validasi masuk pada
kategori baik. Validator 2 memberikan penilaian dengan rata-rata 4,5 dari 4
aspek penilaian materi, nilai rata-rata 4 dari 2 aspek penilaian konstruk, 4,75
dari 4 aspek penilaian bahasa. Dari ketiga aspek tersebut dijumlahkan akan
menghasilkan rata-rata 4,5. Nilai 4,5 ditinjau dari skala penilaian lembar
validasi masuk pada kategori baik. Terakhir, penilaian validasi ahli oleh
validator 3 memberikan penilaian dengan rata-rata 5 dari 4 aspek penilaian
materi, nilai rata-rata 5 dari 2 aspek penilaian konstruk, 5 dari 4 aspek
penilaian bahasa. Dari ketiga aspek tersebut dijumlahkan akan menghasilkan
rata-rata 5. Nilai 5 ditinjau dari skala penilaian lembar validasi masuk pada
kategori sangat baik.
Langkah kedua, setelah draft awal valid dan masuk ke skala baik.
Selanjutnya yaitu instrumen tes diujicoba secara terbatas oleh siswa
berjumlah 9 siswa kelas XI SMAN 7 Semarang. Proses ujicoba terbatas
dibantu oleh guru matematika dalam pembuatan grup WA. Selama proses
69
ujicoba terbatas terdapat beberapa kendala antara lain: (a) ada beberapa siswa
yang tidak bisa melakukan penelitian pada hari yang sudah ditentukan. Jadi
peneliti membuat jadwal kedua untuk siswa susulan, (2) keterbatasan
komunikasi antara peneliti dan siswa yang hanya melalui WA Grup, terdapat
siswa yang menanyakan mengenai urutan-urutan proses pengisian jawaban
melalui personal chat, (3) keterlambatan pengumpulan melalui google form
juga dilakukan oleh beberapa siswa.
Langkah ketiga, setelah proses ujicoba terbatas oleh 9 siswa.
Kemudian, hasil jawaban dari ke-9 siswa tersebut dinilai oleh siswa
berdasarkan pedoman. Hasil penilaian instrumen tes dapat dilihat secara jelas
di lampiran 13. Peneliti melangsungkan uji valilditas terhadap hasil
pengerjaan siswa. Peneliti menggunakan bantuan Excel dalam proses
perhitungan uji validitas 𝑟𝑥𝑦 . Media Microsoft excel dipilih oleh peneliti
karena dianggap lebih mudah dan fleksibel tanpa harus mempelajari lagi
formulanya dibandingkan dengan aplikasi hitung lainnya. Perolehan pada uji
validitas dijelaskan pada tabel 4.7. Nilai 𝑟𝑥𝑦 pada sub a yaitu 0,78, pada sub
b yaitu 0,67 dan pada sub c yaitu 0,80. Dari ketiga nilai 𝑟𝑥𝑦 dihitung rata-rata
yaitu 0,75. Jadi, dapat disimpulkan bahwa instrumen tes mendapat rata-rata
nilai 𝑟𝑥𝑦 0,75 sehingga masuk dalam interpretasi kevalidan atau ketepatan
yang tinggi untuk direalisasikan atau diimplementasikan ke siswa dengan
skala besar.
Langkah keempat yaitu peneliti melakukan proses perhitungan uji
reliabilitas dengan bantuan excel. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel
70
4.8. Proses perhitungan melalui excel dapat dilihat di lampiran 15 secara jelas.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada lampiran 15 dimana n adalah jumlah
soal yang terdiri dari 3 sub soal menghasilkan nilai 𝑟11 0,60. Nilai tersebut
masuk dalam interval 0,40 < 𝑟11 ≤ 0,60. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
instrumen tes yang dikembangkan peneliti menghasilkan nilai ketetapan 0,60
dengan kriteria cukup tetap atau cukup konsisten untuk direalisasikan atau
diimplementasikan ke siswa dengan skala besar.
Sesuai dengan gambar 3.1 pada rancangan penelitian pengembangan,
setelah proses analisis data dan menghasilkan nilai valid serta reliabel sesuai
harapan peneliti maka draft awal (draft 1) telah selesai melewati proses
pengembangan dengan baik dan hasil penelitian pengembangan ini adalah
draft awal yaitu instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif
analysis (classifying dan generalizing) pada taksonomi Marzano materi
program linier pada Kompetensi Dasar 4.2 dan Indikator Pencapaian
Kompetensi 4.2.1 yang dapat dilihat pada lampiran 1.
Berdasarkan pemabahasan tersebut, peneliti menganalisis dan juga
mendeskripsiskan hasil jawaban siswa pada instrumen penalaran aljabar
terhadap proses kognitif analisis pada tingkatan classifying dan generalizing.
Sistem kognitif analisis membuat siswa menggunakan pengetahuan atau
informasi agar menemukan generalisasi baru. Hal tersebut sejalan dengan
Pribadi bahwa siswa dapat menggunakan wawasan yang mereka pelajari
untuk menghasilkan wawasan baru dan menemukan berbagai cara dalam
berbagai situasi baru (Pribadi, 2016). Berikut penjelasan pada subjek yang
71
dipilih peneliti untuk diuraikan jawabannya pada setiap indikator penalaran
aljabar:
a. Subjek A1 pada Subsoal a Kemampuan Pencarian Pola dengan
Menggunakan Proses Kognitif Classifying
Dari ke-9 subjek penelitian terdapat 5 siswa yang mendapatkan skor 3
pada sub soal a (kemampuan pencarian pola), artinya siswa tersebut dapat
menuliskan penyelesaian pencarian pola dengan benar tetapi tidak
menyimpulkan pola sesuai batasan yang ditentukan. Berikut penjelasan
pengerjaan pada kemampuan pencarian pola pada gambar 4.1:
Gambar 4.1 Kemampuan Pencarian Pola oleh Subjek A1
Beradasarkan hasil jawaban siswa A1 pada gambar 4.1, dibalik jawaban
tersebut terdapat interaksi secara virtual melalui grup WA pada saat uji coba.
Beberapa siswa menanyakan proses pencarian fungsi objektif. Peneliti
memberikan arahan kognitif penyelesaiannya dengan mengklasifikasikan
menggunakan metode tabel. Siswa yang mendapatkan skor 3 disimpulkan
bahwa kemampuan penalaran aljabar siswa pada fase pencarian pola berhasil
masuk dalam kategori level analisis classifying, dimana siswa dalam
menyelesaikan soal program linier yang diberikan peneliti sudah bisa
72
membedakan ataupun mendefinisikan fungsi kendala dan fungsi objektif
serta mampu mencari pola pada fungsi objektif. Subjek A1 telah mencapai
penggunaan kognitif untuk mencari sebuah pola fungsi objektif. Dari situasi
tersebut, subjek A1 mengambil informasi dari kondisi yang diketahui pada
soal untuk disajikan dalam tabel. Sesuai dengan pendapat Herbert & Brown
bahwa “algebraic thinking is using mathematical symbols and tools to
analyze different situations is extracting information from a situation”
(Herbert & Brown, 2000). Artinya, penalaran aljabar berkaitan erat dengan
penggunaan simbol untuk mengekstrak suatu informasi.
b. Subjek A8 pada Subsoal a Kemampuan Pencarian Pola dengan
Menggunakan Proses Kognitif Classifying
Subjek penelitian yang lain mendapatkan skor 2, dimana hanya
menuliskan proses pencarian pola tetapi masih ada kesalahan perhitungan.
Berikut hasil pekerjaan dengan skor 2 pada gambar 4.2:
Gambar 4.2 Hasil Jawaban oleh Subjek A8
Berdasarkan hasil jawaban subjek penelitian yang mendapatkan skor 2
terlihat tidak adanya persamaan fungsi objektif, siswa tersebut langsung
menjawab tetapi ada kesalahan dimana tidak ada pola (3,3) pada
penyelesaian.
73
c. Subjek A8 pada Subsoal b Ketepatan Pengenalan Pola dengan
Menggunakan Proses Kognitif Classifying
Subjek A8 mewakili siswa dengan fase pengenalan pola yang
mendapatkan skor 2. Artinya siswa sudah bisa mengaitkan ketepatan pola
yang sesuai dengan mengidentifikasi fungsi objektif pada pola yang sesuai
batasan tetapi belum bisa menerapkan pola tersebut ke proses membuat aturan
baru. Berikut hasil pekerjaan siswa pada fase pengenalan pola pada gambar
4.3:
Gambar 4.3 Hasil Jawaban terhadap Pengenalan Pola Subjek A8
Berdasarkan hasil pekerjaan salah satu subjek penelitian, siswa sudah
dapat mengenalkan pola baru sesuai variabel (a,b). Tetapi siswa belum bisa
menerapkan ataupun menyimpulkan hasil persamaan masuk dalam titik A, D,
atau E.
d. Subjek A6 pada Subsoal c Penguasaan Generalisasi dengan
Menggunakan Proses Kognitif Generalizing
Kemudian, untuk penguasaan generalisasi dari 9 subjek hanya tiga yang
mendapat skor 2 diantaranya subjek A6, artinya subjek bisa menulis proses
generalisasi walaupun prediksi pola fungsi objektif yang disimpulkan belum
logis. Berikut hasil pekerjaan siswa pada gambar 4.4:
74
Gambar 4.4 Hasil Pekerjaan oleh Subjek A1 pada Fase Generalisasi
Banyak hambatan yang dilalui siswa dalam proses generalisasi, mulai
dari mempertanyakan maksud generalisasi kepada peneliti, lalu melakukan
personal chat kepada peneliti untuk dijelaskan secara detail. Dari beberapa
proses generalisasi, dapat disimpulkan terdapat tiga siswa (subjek A1, A6 dan
A7) memiliki penguasaan generalisasi yang cukup pada masalah penalaran
aljabar program linier dimana dapat dilihat di lampiran 13 bahwa jumlah
perolehan nilai mereka dengan angka 8,7 dan 7, sehingga siswa tersebut telah
sampai pada level analisis generalizing dengan skor 2. Artinya ketiga subjek
masih kategori cukup walau hanya dapat menuliskan generalisasi baru tanpa
menyimpulkan secara logis. Suatu proses generalisasi dikatakan baik apabila
siswa sampai membentuk kesimpulan dan pengetahuan yang baru sehingga
membuat kesimpulan aturan prinsip baru. Sejalan dengan Wulandari (2014),
yang juga menuliskan dalam tesisnya bahwa proses generalisasi adalah
kegiatan menyimpulkan generalisasi baru secara logis dari pengetahuan yang
telah diketahui. Sedangkan keenam siswa lainnya (subjek A2,A3,A4,A5,A8
dan A9) mendapatkan skor satu artinya siswa tidak dapat melakukan proses
generalisasi baru dengan benar dan tidak dapat menyimpulkannya secara
logis.
75
Marzano (2000) membuat taksonomi baru salah satunya sistem kognitif
analisis yang terdiri dari lima tingkatan yaitu mencocokan,
mengklasifikasikan, menganalisis kesalahan, menggeneralisasi, dan
memprdiksi. Berikut penjelasan mengenai keseluruhan sistem kognitif
analisis pada taksonomi Marzano pada tabel 4.9:
Tabel 4.9 Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano
No Sistem Kognitif Tingkatan Keterangan
Marzano
1 Analisis (Analysis) Mencocokkan Mencocokan melibatkan identifikasi
(Matching) perbedaan dan persamaan informasi
yang diperoleh.
Mengklasifikasikan Mengklasifikasikan membutuhkan
(Classifying) pengorganisasian pengetahuan ke
dalam kategori yang bermakna.
Pengklasifikasian melibatkan
identifikasi definisi, superordinate
(kategori atas) dan subordinat
(kategori bawah).
Menganalisis kesalahan Menganalisis kesalahan melibatkan
(Analyzing Errors) akurasi, kewajaran dan logika
pengetahuan.
Menggeneralisasi Generalisasi merupakan proses
(Generalizing) membangun suatu yang baru atau
menyimpulkan dari pengetahuan yang
sudah diketahui. Generalisasi
melibatkan pemeriksaan dalam
berbagai kasus untuk mengidentifikasi
kesamaan yang penting.
Menentukan/memprediksi Menentukan atau memprediksi adalah
(Specifying/Predicting) menarik kesimpulan tentang situasi
atau informasi baru.
Berdasarkan tabel 4.9, bahwa tingkatan analisis yang digunakan
peneliti hanya mengacu pada Classifying dan Generalizing. Sesuai
keterangan pada tabel 4.9 dan proses hasil penyelesaian siswa disimpulkan
bahwa soal uraian masalah program linier yang dikembangkan peneliti
memiliki ciri khas yang terletak pada ke-3 indikator penalaran aljabar
(pencarian pola, pengenalan pola dan generalisasi). Fase pencarian pola dan
76
pengenalan pola menggunakan kognitif analisis Classifying dan fase
generalisasi menggunakan analisis Generalizing. Dari ke-9 siswa kelas XI
MIPA SMAN 7 Semarang yang menjadi subjek penelitian terdapat tiga siswa
yang mampu menyelesaiakan seluruh fase penalaran aljabar dengan cukup
baik. Berikut kesimpulan indikator penalaran aljabar berdasarakan sistem
kognitif analisis Classifying dan Generalizing terhadap jawaban siswa yang
dijelaskan pada tabel 4.10:
Tabel 4.10 Kesimpulan Indikator Penalaran Aljabar Siswa berdasarkan Sistem Kognitif
Analisis
Indikator Kode Siswa Sistem
Penalaran Kognitif
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9
Aljabar Analisis
Pencarian
3 2 3 2 2 3 3 2 3
Pola
Classifying
Pengenalan
3 2 2 2 2 2 2 2 2
Pola
Generalisasi 2 2 1 1 1 2 2 1 1 Generalizing
Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Baik Cukup Cukup
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pengembangan
instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi
Marzano materi program linier disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan
sistem kognitif Marzano mengacu pada materi program linier telah
melalui proses pengembangan dari model Plomp yang telah peneliti
modifikasi hanya menjadi empat fase yaitu fase investigasi awal, fase
desain, fase realisasi/konstruksi, dan fase tes, evaluasi dan revisi.
2. Hasil pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berupa satu butir
soal uraian dengan tiga sub soal materi program linier berdasarkan
sistem kognitif taksonomi Marzano pada level analisis (classifying dan
generalizing) yang valid dan reliabel.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil pengembangan yang diperoleh dari penelitian ini,
terdapat beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penalaran
aljabar dan juga melatih sistem kognitif level analisis pada materi
program linier.
2. Bagi guru matematika, sebagai alternatif untuk mengembangkan ide-
ide, kreativitas, atau inovasi baru pada pembuatan soal untuk mealtih
77
78
kemampuan penalaran aljabar siswa SMA sehingga membantu guru
dapat mengingat materi-materi secara luas.
3. Bagi peneliti lain, diharapkan ada implementasi berskala besar yang
dilakukan agar kevalidan dan tingkat reliabel dapat diketahui secara
luas. Dan juga sebagai motivasi bagi para peneliti lain untuk
mengembangkan instrumen tes penalaran aljabar yang memuat semua
komponen sistem kognitif Marzano
79
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, R. D. (2016). Kemampuan Penalaran Matematika Mahasiswa Melalui
Pendekatan Problem Solving. Jurnal Pedagogia, 5(2), 179–188.
[Link]
Aké, Lilia; Godino, Juan D; Gonzato, Marguerita; Wlihelmi, M. (2013). Proto-
algebraic levels of mathematical thinking. Conference of the International
Group for the Psychology of Mathematics Education - PME, August 2016, 1–
8.
Andriani, P. (2015). Penalaran Aljabar Dalam Pembelajaran Matematika. Beta :
Jurnal Tadris Matematika, 8(1), 1–13.
Arikunto, S. (2011). Penilaian & Penelitian Bidang Bimbingan dan Konseling. In
Yogyakarta: Aditya Media.
Arikunto, S. (2012). Prosedur Penelitian (Edisi 2). Jakarta: Bumi Aksara.
Basir, M. A. (2017). Pengembangan Instrumen Tes Kemampuan Penalaran
Matematis Berdasarkan Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano (Issue
31401405447, pp. 1–37).
Blanton, M. L., & Kaput, J. J. (2011). Functional Thinking as a Route Into Algebra
in the Elementary Grades. [Link]
Cai, J., & Knuth, E. J. (2005). Introduction: The development of students’ algebraic
thinking in earlier grades from curricular, instructional and learning
perspectives. In ZDM - International Journal on Mathematics Education.
[Link]
Depdiknas. (2008). DEPDIKNAS. In Panduan Pengembangan Bahan Ajar.
Dinarti, S., & Qomariyah, O. N. (2019). Kemampuan Generalisasi Pola Siswa
Berdasarkan Taksonomi Marzano (pp. 177–197).
[Link]
80
Faragher, L., & Huijser, H. (2014). Exploring evidence of higher order thinking
skills in the writing of first year undergraduates. The International Journal of
the First Year in Higher Education, 5(2).
[Link]
Fortuna, W. A. . (2018). Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar
Matematika Berbasis Taksonomi Marzano. UIN Sunan Ampel.
Godino, J. D., Neto, T., Wilhelmi, M., Aké, L. P., Etchegaray, S., & Lasa, A.
(2015). Levels of algebraic reasoning in primary and secondary education.
CERME 9:Congress of European Research in Mathematics Education -
CERME,[Link]://[Link]/CERME9/public/[Link]
Hadi, W. (2016). Meningkatkan Kemampuan Penalaran Siswa SMP Melalui
Pembelajaran Discovery dengan Pendekatan Saintifik ( Studi Kuasi
Eksperimen di Salah Satu SMP Jakarta Barat ). Jurnal Pendidikan
Matematika, I(1), 93–108.
Hashemi, N., Salleh, M., Kashefi, H., & Rahimi, K. (2013). Generalization in the
Learning of Mathematics. International Seminar on Quality and Affordable
Education (ISQAE 2013).
Irawati, T. N. (2016). Pengembangan Paket Tes Kemampuan Penalaran
Proposional Siswa SMP. Universitas Jember.
Istinaro, U., & Setianingsih, R. (2019). Profil Penalaran Aljabar Siswa SMA yang
Memiliki Kecerdasan Linguistik dan Logis-Matematis dalam Memecahkan
Masalah Matematika. MATHEdunesa.
[Link]
Kaput, J. J., Carraher, D. W., & Blanton, M. L. (2008). ALGEBRA in the Early
Grades.
Karp, J. A. V. D. W. K. S., & Bay-Williams, J. M. (2013). Elementary and Middle
School Mathematics Teaching Developmentally. In Journal of Chemical
Information and Modeling.
81
Kemendikbud. (2016). Permendikbud Tahun 2016 No. 021 tentang Standar Isi
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lew, H. (2004). Developing Algebraic Thinking in Early Grades : Case Study of
Korean Elementary School Mathematics 1. 8(1), 88–106.
Marzano, R. J. (2000). Designing a new taxonomy of educational objectives.
Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
National Council Of Teachers Of Mathematics. (2000). Principles and Standards
for School Mathematics. School Science and Mathematics.
Nuraini, L., Sujadi, I., & Subanti, S. (2016). Penalaran Aljabar Siswa Kelas VII
SMP Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati Dalam Pemecahan Masalah
Matematika Tahun Pelajaran2014/2015. Jurnal Elektronik Pembelajaran
Matematika, 4(6), 674–683. [Link]
Ontario Ministry of Education. (2013). Paying attention to Fractions Support
Document for Paying Attention to Mathematics Education.
[Link]
A[Link]
://[Link]/eng/literacynumeracy/[Link]
Pamungkas, Y., & Afriansyah, E. A. (2017). Aptitude Treatment Interaction
Terhadap Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan
Raden Fatah, 122–130.
Plomp, Tj. 1997. Educational Design: Introduction. From Tjeerd Plomp (eds).
Educational & Training System Design: Introduction. Design of Education
and Training (in Dutch). Utrecht (the Netherlands): Lemma. Netherland.
Faculty of Educational Science and Technology, University of Twente.
Pribadi, D. P. (2016). Integrasi Marâtib Qirâ’ah Al-Qur’an Dengan Taksonomi
Marzano Sebagai Dasar Perumusan Tujuan Pembelajaran Dan Penerapannya
Dalam Pembelajaran Matematika. UIN Sunan Ampel.
Radford, L. (2010). Elementary forms of algebraic thinking in young students.
82
Proceedings of the 34th Conference of the International Group for the
Psychology of Mathematics Education.
Ratu, M. D. C., & Halim, F. A. (2016). Penalaran Aljabar melalui Pengamatan Pola
untuk Siswa Kelas VII. Prosiding Seminar Nasional Matematika IX 2015,
585–590.
Rittle, J. B., & Star, J. (2020). The power of comparison in leaning and instruction:
Learning outcomes supported by different types of comparisons. Journal of
Instructional Pedagogies, 24(June).
Rochmad. (2012). Desain Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Matematika. Kreano: Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, 3(1), 59–72.
[Link]
Rudin, M. A., & Budiarto, M. T. (2019). Penalaran Aljabar Siswa Dalam
Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari Kecemasan Matematika.
MATHEdunesa, 8(2).
Sadikin, & Herutomo, R. A. (2018). Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Penalaran Aljabar Siswa SMA. 1(1), 124–
132. [Link]
Sudijono, Anas. (2009). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian dan Pengembangan Pendekatan Kualitatif,
Kuantitatif, dan R&D. Metode Penelitian Dan Pengembangan Pendekatan
Kualitatif, Kuantitatif, Dan R&D.
Sumarto. (2006). Konsep Dasar Berpikir : Pengantar Ke Arah Berpikir Ilmiah (pp.
1–20). Fakultas Ekonomi, Universitas Pembenagunan Nasional Veteran.
Surajiyo. (2008). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Bumi Aksara.
Twohill, A. (2013). Algebraic reasoning in primary school: developing a
framework of growth points. 33(June), 55–60.
83
Utari, R. (2016). Taksonomi Bloom Apa dan Bagaimana Menggunakannya?
Freshwater Biology. [Link]
Wilson, L. O. (2016). Anderson and Krathwohl – Bloom’s taxonomy revised. The
Second Principle.
Windsor, W. (2010). Algebraic Thinking : A Problem Solving Approach.
Proceedings of the 33rd Annual Conference of the Mathematics Education
Research Group of Australasia, 33, 665–672. [Link]
[Link]/bitstream/handle/10072/36557/67823_1.pdf?seque
nce=1&isAllowed=y.
Wulandari, Y. O. (2014). Proses Berpikir Aljabar Siswa Berdasarkan Taksonomi
Marzano. Tesis. Universitas Negeri Malang.
84
Lampiran 1. Kisi – kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano
KISI – KISI DAN KARAKTERISTIK
INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF MARZANO PADA PROGRAM
LINIER SISWA SMA
Jenjang Pendidikan : SMA Jumlah Soal : 1 butir
Mata Pelajaran : Matematika
Jenis Soal : Uraian
Kelas/Semester : XI/Ganjil
Materi : Program Linier Alokasi Waktu : 2 x 60 menit
Indiakator
Kompetensi Indikator Nomor
Pencapaian Indikator Soal Sistem Kognitif Marzano
Dasar Penalaran Aljabar Soal
Kompetensi
4.2 Menyelesaikan 4.2.1 Merancang Diberikan soal cerita
masalah dan mengajukan tentang permasalahan
kontekstual yang masalah nyata seorang pedagang,
berkaitan dengan dalam kehidupan - Fase Pencarian siswa dapat
program linier dua sehari-hari berupa Pola menentukan biaya
variabel. masalah program - Fase sewa minimum di Analysis
linier. Pengenalan titik A,D atau E 1
Pola dengan fungsi
- Fase objektif berpola
Generalisasi 𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 +
𝑏𝑦, 𝑎 ≠ 𝑏.
85
Classifying Siswa
mengidentifikasi
kategori fungsi
kendala dan
fungsi objektif
serta batasannya
Generalizing Siswa dapat
menyimpulkan
suatu
generalisasi
baru yang telah
diketahui
86
Lampiran 2. Lembar Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano
LEMBAR INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR BERDASARKAN
SISTEM KOGNITIF MARZANO PADA PROGRAM LINIER SISWA SMA
Bentuk Soal : Uraian
Jumlah Soal :1
Materi : Program Linier
Kelas/Semester : XI/Ganjil
Waktu : 120 menit
1. Seorang pedagang ingin mengirim barang dagangannya yang terdiri atas
1200 kursi lipat dan 1200 meja lipat. Untuk keperluan pengiriman barang,
seorang pedagang akan menyewa truk dan colt. Truk dapat memuat 30 kursi
dan 60 meja. Sedangkan colt dapat memuat 40 kursi dan 30 meja. Jika
dikehendaki nilai minimum berada pada titik A, D dan E pada gambar
dengan menentukan fungsi objektif 𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎, 𝑏 ∈
𝑁 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 3 ≤ 𝑎 ≤ 5 , 1 ≤ 𝑏 ≤ 5. Berapa jumlah
truk dan colt yang harus disewa agar biaya sewa minimum melalui tiga
proses berikut:
a. Tentukan langkah-langkah proses pencarian pola fungsi objektif
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦?
b. Jelaskan langkah-langkah proses pengenalan pola setelah mengetahui
pola 𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦?
c. Tulislah penarikan kesimpulan, kemudian tentukan proses generalisasi?
87
Lampiran 3. Kunci Jawaban Instrumen Tes Penalaran Aljabar
KUNCI JAWABAN
INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF (ANALISIS) MARZANO
PADA MATERI PROGRAM LINIER
No Kunci Jawaban
1 Jawaban :
Berdasarkan informasi yang diberikan pada soal, kita dapat membuat tabel sebagai berikut :
Truk (x) Colt (y) Kapasitas
Kursi lipat 30 40 1200
Meja lipat 60 30 1200
Dari tabel diatas, kita dapat menyusun sistem pertidaksamaan linier dimana x banyaknya Truk dan y banyaknya Colt.
30𝑥 + 40𝑦 ≥ 1200
{60𝑥 + 30𝑦 ≥ 1200} merupakan fungsi kendala
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Disederhanakan menjadi :
3𝑥 + 4𝑦 ≥ 120
2𝑥 + 𝑦 ≥ 40
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Langkah selanjutnya kita menentukan daerah penyelesaian :
88
Terdapat tiga titik pojok yaitu titik A (40,0) , D (0,40) dan E (8,24). Titik E merupakan titik potong kedua garis dan
koordinatnya dicari menggunakan metode eliminasi dan substitusi sebagai berikut :
3𝑥 + 4𝑦 = 120 × 1 3𝑥 + 4𝑦 = 120 … (1)
| |
2𝑥 + 𝑦 = 40 × 4 8𝑥 + 4𝑦 = 160 … (2)
3𝑥 + 4𝑦 = 120
8𝑥 + 4𝑦 = 160
−
−5𝑥 = −40
𝑥 =8
Kemudian nilai 𝑥 disubstitusikan ke pers (1) untuk mendapatkan nilai 𝑦 :
3𝑥 + 4𝑦 = 120
3.8 + 4𝑦 = 120
24 + 4𝑦 = 120
89
4𝑦 = 120 − 24
𝑦 = 96 ∶ 4
𝑦 = 24
∴ 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑝𝑜𝑡𝑜𝑛𝑔 𝐸 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ (8,24)
Setelah memperoleh titik pojok kita substitusikan ke fungsi objektif seperti tabel dibawah ini:
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎
D (0,40) 40𝑏
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏
Karena 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 belum diketahui, maka langkah selanjutnya mencari nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 yang sesuai dengan permasalahan di
soal :
Syarat :
𝑎, 𝑏 ∈ 𝑁 , 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏
3≤𝑎≤5
1≤𝑏≤5
Proses Pencarian Pola :
Dengan syarat di atas dapat kita tentukan nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 dengan metode tabel sebagai berikut :
𝑎 1 2 3 4 5
𝑏
1 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5)
2 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5)
3 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5)
90
4 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5)
5 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5)
Yang berwarna merah tidak memenuhi karena tidak memenuhi dalam persyaratan pada soal, terdapat 25 pola, yang
memenuhi syarat hanya 12 pola bentuk (𝑎, 𝑏). Kemudian kita substitusikan ke fungsi objektif untuk menentukan nilai
𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
(1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5) (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5) (3,1) (3,2)
A (40,0) 40𝑎 40 40 40 40 40 80 80 80 80 80 120 120
D (0,40) 40𝑏 40 80 120 160 200 40 80 120 160 200 40 80
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 32 52 80 104 128 40 64 88 112 136 48 72
(3,3) (3,4) (3,5) (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5) (5,1) (5,2) (5,3) (5,4)
A (40,0) 40𝑎 120 120 120 160 160 160 160 160 200 200 200 200
D (0,40) 40𝑏 120 160 200 40 80 120 160 200 40 80 120 160
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 96 120 144 56 80 104 128 152 64 88 112 136
(5,5)
A (40,0) 40𝑎 200
D (0,40) 40𝑏 200
91
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 160
Terlihat :
Proses Pengenalan Pola :
Pada pola (3,2) menunjukan di titik E bernilai 72
Pada pola (4,3) menunjukan di titik E bernilai 104
Pada pola (5,4) menunjukan di titik E bernilai 136
Dari ketiga pola di atas menunjukan nilai minimum pada masing fungsi objektif
Untuk (3,2) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦
Untuk (4,3) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦
Untuk (5,4) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦
Terlihat dari pola ketiga fungsi objektif diatas maka dapat dibuat pola :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑛𝑥 + (𝑛 − 1)𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 2
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 72 merupakan nilai minimum. Jadi, agar sewa ongkos
minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 104 merupakan nilai minimum. Jadi, agar sewa ongkos
minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 136 merupakan nilai minimum. Jadi, agar sewa ongkos
minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt berjumlah 24.
Proses Generalisasi :
Dengan fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚
Jika n = 6
Maka , 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝟔𝒙 + 𝟓𝒚
Dengan
Terbukti nilai minimum berada di titik E (8,24) dengan nilai 168
Jadi, 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚 menjadi pola dimana n sebagai 𝑎 dan
(n − 1) sebagai b, sehingga 𝑎 > 𝑏.
Ketika pola fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚, dengan n > 2, maka dapat dilihat bahwa
92
Nilai minimum terletak pada titik potong kedua garis yaitu E(8,24)
Kesimpulan :
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan bentuk fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚 , ongkos sewa minimum
terletak di titik E(8,24) yang merupakan titik potong kedua fungsi kendala dimana seorang pedagang dapat menyewa 8
truk dan 24 colt agar ongkos sewa bernilai minimum.
93
Lampiran 4. Pedoman Penilaian
LEMBAR PENILAIAN INSTRUMEN PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF MARZANO PADA MATERI
PROGRAM LINIER SMA
Skor
Aspek yang
dinilai
1 2 3 4 5
Siswa dapat
Siswa dapat
Siswa dapat menuliskan
menuliskan
Siswa menuliskan penyelesaian
Tidak penyelesaian
hanya penyelesaia pencarian pola
dapat pencarian
menuliskan n pencarian dengan benar
menyelesa pola dengan
Kemampuan penyelesaia pola dengan tanpa menulis
iakan benar dan
Pencarian n pencarian benar tanpa informasi yang
proses sistematis
Pola pola tetapi menulis diketahui dan
pencarian serta
masih ada informasi hanya menulis
pola menuliskan
kesalahan yang jawaban yang
informasi
diketahui sesuai saja
yang ada
Siswa dapat Siswa dapat
Siswa dapat
Siswa mengaitkan mengaitkan
Tidak mengaitkan
hanya ketepatan ketepatan
dapat ketepatan
Ketepatan mengaitkan pengenalan pengenalan
menyesuai pengenalan
Pengenalan permasalaha pola yang pola yang
akan pola yang
Pola n tetapi sesuai dan sesuai dan
pengenala sesuai tanpa
belum penerapannya menerapkann
n pola menerapkan
sesuai ke fungsi lain ya fungsi lain
nya
belum sesuai secara tepat
Siswa dapat
Siswa Siswa dapat
menulis proses
Tidak hanya dapat Siswa dapat menuliskan
generalisasi
dapat menulis menulis proses
dengan benar
menyimpu proses proses generalisasi
Penguasaan dan sudah
lkan generalisasi generalisasi dengan benar
Generalisasi logis tetapi
proses tanpa dengan dan dapat
belum bisa
generalisa menyimpul benar tetapi mempertahan
mempertahank
si kannya belum logis kan prediksi
an prediksi
secara logis secara logis
tersebut
94
Lampiran 5. Lembar Validasi Soal oleh Validator 1
LEMBAR VALIDASI SOAL
A. Petunjuk :
Berilah tanda (✓) pada kolom penilaian yang sesuai dengan penilaian
Bapak/Ibu terhadap instrumen tes penalaran aljabar berupa soal uraian
(terlampir) dengan skala penilaian sebagai berikut :
1 : Tidak Baik
2 : Kurang Baik
3 : Ragu-ragu
4 : Baik
5 : Sangat Baik
Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar
1. ✓
materi program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran
2. ✓
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem
3. ✓
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat
4. ✓
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada
1. ✓
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian ✓
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan
1. ✓
mudah dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat ✓
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
3. ✓
dan benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan
4. ✓
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
95
B. Saran atau Simpulan Validator
Mohon untuk kriteria cukup baik diganti dengan ragu-ragu.
C. Kesimpulan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan dengan revisi ✓
Instrumen tes penalaran aljabar tidak dapat digunakan
Semarang, 19 September 2021
Validator 1
Mochamad Abdul Basir, [Link].
NIK. 211312009
96
Lampiran 6. Lembar Validasi Soal oleh Validator 2
LEMBAR VALIDASI SOAL
A. Petunjuk :
Berilah tanda (✓) pada kolom penilaian yang sesuai dengan penilaian
Bapak/Ibu terhadap instrumen tes penalaran aljabar berupa soal uraian
(terlampir) dengan skala penilaian sebagai berikut :
1 : Tidak Baik
2 : Kurang Baik
3 : Ragu-ragu
4 : Baik
5 : Sangat Baik
Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar
1. ✓
materi program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran
2. ✓
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem
3. ✓
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat
4. ✓
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada
1. ✓
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian ✓
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan
1. ✓
mudah dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat ✓
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
3. ✓
dan benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan
4. ✓
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
97
B. Saran atau Simpulan Validator
Mohon untuk diuji cobakan ke satu siswa.
C. Kesimpulan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan dengan revisi ✓
Instrumen tes penalaran aljabar tidak dapat digunakan
Semarang, 19 September 2021
Validator 2
Dyana Wijayanti,[Link].,Ph.D
NIK. 211312003
98
Lampiran 7. Lembar Validasi Soal oleh Validator 3
LEMBAR VALIDASI SOAL
A. Petunjuk :
Berilah tanda (✓) pada kolom penilaian yang sesuai dengan penilaian
Bapak/Ibu terhadap instrumen tes penalaran aljabar berupa soal uraian
(terlampir) dengan skala penilaian sebagai berikut :
1 : Tidak Baik
2 : Kurang Baik
3 : Ragu-ragu
4 : Baik
5 : Sangat Baik
Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar
1. ✓
materi program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran ✓
2.
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem ✓
3.
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat ✓
4.
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada ✓
1.
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian ✓
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan ✓
1.
mudah dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat ✓
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik ✓
3.
dan benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan ✓
4.
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
99
B. Saran atau Simpulan Validator
Tambahkan pedoman penilaian yang sesuai analisis jawaban.
C. Kesimpulan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan dengan revisi ✓
Instrumen tes penalaran aljabar tidak dapat digunakan
Semarang, 19 September 2021
Validator 3
Phaksi Nirwana, [Link]., Gr.
NIP. -
100
Lampiran 8. Hasil Jawaban Siswa
KUTIPAN HASIL JAWABAN SISWA DI SMAN 7 SEMARANG
TERHADAP INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF MARZANO
1. Pemodelan Matematika dan Penggambaran Grafik
101
102
2. Kemampuan Mencari Pola
103
3. Kemampuan Pengenalan Pola
4. Kemampuan Generalisasi dan Penarikan Kesimpulan
104
105
Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian Bersama Guru Matematika
FOTO BERSAMA DENGAN GURU MATEMATIKA SMAN 7
SEMARANG SAAT PROSES VALIDASI OLEH AHLI
106
Lampiran 10. Bukti Penelitian Melalui WA Grup
PROSES UJI COBA KE SISWA KELAS XI MIPA MELALUI WA GRUP
DI SMAN 7 SEMARANG
107
Lampiran 11. Surat Balasan dari SMAN 7 Semarang
SURAT KETERANGAN TELAH MELAKUKAN PENELITIAN
DI SMAN 7 SEMARANG
108
Lampiran 12. Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
SURAT IZIN PENELITIAN DI SMAN 7 SEMARANG
OLEH DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAN JAWA TENGAH
109
Lampiran 13. Hasil Penilain Siswa
HASIL PENILAIAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER
Kode S1 (X) Jumlah
Nama Siswa
Siswa FP FPP FG (Y)
Allya Maulida A1 3 3 2 8
Amelinda Nola
A2 2 2 2 6
Devina Putri
Joselin Maharani A3 3 2 1 6
Muhammad Zikra
A4 2 2 1 5
Erlangga
Nabila Almadina
A5 2 2 1 5
Mayya Ramadhani
Nabila Masya Aurelia A6 3 2 2 7
Najwa Reinandya
A7 3 2 2 7
Putri
Nayla Nur Fathiyya A8 2 2 1 5
Zaimatul Habibah A9 3 2 1 6
110
Lampiran 14. Hasil Uji Validitas oleh Siswa
HASIL UJI VALIDITAS TERHADAP PENYELESAIAN SISWA
S1 (X)
Kode Siswa JML (Y)
FP FPP FG
A1 3 3 2 8
A2 2 2 2 6
A3 3 2 1 6
A4 2 2 1 5
A5 2 2 1 5
A6 3 2 2 7
A7 3 2 2 7
A8 2 2 1 5
A9 3 2 1 6
∑X 23 19 13
∑Y 55
∑X² 61 41 21
∑Y² 345
(∑X)² 529 361 169
(∑Y)² 3025
∑XY 144 118 83
N 9 9 9
N∑XY 1296 1062 747
N∑X² 549 369 189
N∑Y² 3105
∑X ∑Y 1265 1045 715
N∑XY-∑X ∑Y 31 17 32
N∑X²-(∑X)² 20 8 20
N∑Y²-(∑Y)² 80
rxy 0,78 0,67 0,80
Rata-rata rxy 0,75
Kriteria Tinggi Tinggi Tinggi
111
Lampiran 15. Hasil Uji Reliabilitas
HASIL UJI RELIABILITAS TERHADAP PENYELESAIAN SISWA
∑XY X1 X2 X3
A1 24 24 16
A2 12 12 12
A3 18 12 6
A4 10 10 5
A5 10 10 5
A6 21 14 14
A7 21 14 14
A8 10 10 5
A9 18 12 6
144 118 83
Reliabel
Varian 0,25 0,10 0,25
∑Varian 0,59
Varian
0,99
Total
N 3
R11 0,60
Kriteria Tinggi
112
Lampiran 16. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 1
KEGIATAN BIMBINGAN SKRIPSI
DOSEN PEMBIMBING 1
Nama Pembimbing 1 : Mochammad Abdul Basir,[Link]
Tanggal BAB Uraian Paraf Pembimbing
24 Januari 2021 SOP - Melengkapi
Judul identitas dan nama
Dosen Pembimbing
31 Januari 2021 Judul - ACC Judul
- Lanjut membuat
proposal
07 April 2021 Bab 1-3 - Cover cek panduan
- Latar belakang
berisi kondisi subjek
penelitian, Penalaran
aljabar, taksonomi
Marzano, program
linier dan
pengembangan
Plomp
- Rumusan masalah :
penulisan berbasis
diubah menjadi
berdasarkan.
- Tujuan penelitian
ditambahkan kata
“valid dan reliabel”
- 20 butir tes menjadi
4 butir saja sesuai
kognitif Marzano.
- Spesifikasi produk
dihapus
- Tambahkan teori
tentang penalaran
aljabar
- Pengertian validitas
dan reliabilitas
diletakan di bab 3
bukan bab 2.
- Spasi pada tabel 1
- Kerangka berpikir
dijelaskan
113
28 Juni 2021 Bab 1-3 - Seminar Proposal
- Subbab tidak perlu
ditulis
- Menunjukan nilai
PISA Indonesia
- Bukan indicator
tetapi tingkatan
penalaran aljabar
menurut Towhill
- Bagaimana hasil
belajar program
linier di sma negeri
7?
- Judul didalam latar
belakang tidak perlu
ditulis kapital semua
- Tambahkan
referensi, satu sub
bab lazimnya
minimal 2 halaman
pada sub bab
pembelajaran
matematika
- Lebih baik diuraikan
model
pengembangan
Plomp di tinjauan
Pustaka
- Fokus pembahasan
sesuai dengan
metode pengambilan
data pada sub bab
instrumen tes
- Gunakan referensi
ilmiah lainnya
mengenai pengertian
instrumen
- Perlu disetting ulang
tabel 2.4
- Saran untuk
indikator penalaran
aljabar diubah
menurut Herbert
brown saja
- Tambahan pada
penulisan saran,
114
untuk peneliti
selanjutnya
diharapkan
menganalisis
menurut pelevelan
Godino.
30 Juli 2021 Bab 1-3 - ACC Proposal
12 Agustus Lembar - Indikator Penalaran
2021 Instrume aljabar tidak muncul
n dalam instrumen tes.
- Apa yang dimaksud
dengan generalisasi?
- Bagaimana letak
perbedaan antara tes
pemecahan masalah
dengan tes penalaran
aljabar?
- Proses penalaran apa
yang muncul dalam
instrumen tes?
- Lebih baik gunakan
kalimat aktif bukan
kalimat perintah
- Cek kembali
jawabannya!
Dengan informasi
yang ada penjahit
juga dapat mebuat 2
gamis dan 1 rok, dst
- Tidak realistic,
jumlah perumahan
harusnya bilngan
bulat
07 September Instrume - Instrumen yang
2021 n Tes dikembangkan
peneliti belum
sesuai indikator
penalaran aljabar
- Belum ada proses
generalisasi ide
matematika
- Membuat contoh
soal yang lain
115
13 September Instrume - soal belum
2021 n Tes memenuhi, ambil
sistem kognitif
Marzano level
analisis
- satu soal analisis
dengan uraian
panjang
10 Agustus Lembar - Penulisan cukup
2021 Validasi diubah menjadi
ragu-ragu
- Terdapat tiga pilihan
pada kesimpulan
26 Oktober Bab 4-5 - Perubahan judul
2021 sebelumnya
“Pengembangan
Instrumen Tes
Penalaran Aljabar
Berdasarkan Sistem
Kognitif Marzano
pada Program Linier
Siswa SMA”
berubah menjadi
“Pengembangan
Instrumen Tes
Penalaran Aljabar
Berdasarkan Sistem
Kognitif Pada
Taksonomi Marzano
Materi Program
Linier”
- Cek Panduan untuk
penulisan cover
skripsi
- Tulisan “Waka”
ditulis
kepanjangannya
- Diharapkan tidak
ada kolom sisa
- Apakah satu soal
pengembangan
memuat semua
sistem kognitif
Marzano?
- Tabel 4.2 bisa
disajikan Portrait
116
- Pada pembahasan,
tambahkan
keterkaitan antara
indikator penalaran
aljabar dengan
tahapan kognitif
pada taksonomi
Marzano.
- Kesimpulan
disesuaikan dengan
banyaknya rumusan
masalah pada baba
1.
- Lembar persetujuan
pembimbing cek
panduan .
08 November Bab 1-5 - Lembar pengesahan
2021 dihapus disertakan
setelah siding
- Motto dikaitkan
dengan tema
penelitian dalam
kehidupan
- Pada abstrak spasi 1
dan maksimal satu
halaman
- Cek spelling
“classifiying”
03 Desember Sari - Tambahkan abstrak
2021 dalam Bahasa
Inggris
117
Lampiran 17. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 2
KEGIATAN BIMBINGAN SKRIPSI
DOSEN PEMBIMBING 2
118
119
Lampiran 18. Soal Pemecahan Aljabar Materi Program Linier
LEMBAR SOAL PEMECAHAN ALJABAR MATERI PROGRAM LINIER
SISWA SMA
Bentuk Soal : Uraian
Jumlah Soal :4
Materi : Program Linier
Kelas/Semester : XI/Ganjil
Waktu : 120 menit
1. Seorang pedagang sembako membeli dua kebutuhan pokok sehari-hari
di pasar yaitu beras dan gula pasir. Pedagang tersebut membawa mobil
pick up untuk mengangkut barang dengan maksimal kapasitas 2100 kg.
Harga beli beras Rp 10.000,00/kg dan harga beli gula pasir Rp
12.500,00/kg. Jika pedagang sembako tersebut memiliki modal Rp
1.500.000,00 untuk membeli barang dagangannya. Buatlah model
matematika dari permasalahan tersebut!
2. Pak Ali ingin membuat kue ulang tahun dengan 2 macam kue dengan
perpaduan dua macam varian rasa yaitu selai cokelat dan selai
strawberry. Kue I memerlukan 10 gr selai cokelat dan 15 gr selai
strawberry. Sedangkan, kue II memerlukan 20 gr selai cokelat dan 5 gr
selai strawberry. Persediaan selai cokelat sebanyak 200 gr dan selai
strawberry sebanyak 120 gr. Pak Ali menjual kue I seharga Rp
150.000,00 dan kue II seharga Rp 85.000,00. Buatlah model matematika
dari masalah di atas , kemudian gambarlah grafik model matematikanya!
3. Bu Munawaroh adalah seorang penjahit khusus pakaian perempuan.
Beliau membutuhkan 3 meter kain katun dan 2 meter kain wolfis untuk
membuat satu buah gamis. Selain itu, bu Munawaroh juga membuat satu
buah rok hanya membutuhkan 2 meter kain katun dan 1 meter kain
wolfis. Jika bu Munawaroh mempunyai stok 15 meter kain katun dan 10
meter kain wolfis. Berapakah banyak gamis dan rok yang dapat dibuat
oleh Bu Munawaroh!
4. Sebuah pekarangan tanah akan dibangun perumahan dengan Tipe 27
dan Tipe 36. Luas pekarangan tersebut adalah 20.000 𝑚2 . Rumah tipe
27 memerlukan tanah seluas 75 𝑚2 dan rumah tipe 36 memerlukan
tanah seluas 120 𝑚2 . Jumlah rumah yang akan dibangun paling banyak
250 unit. Jika keuntungan rumah tipe 27 adalah Rp 5.000.000,00/unit
dan tipe 36 adalah Rp 8.000.000,00/unit, maka keuntungan maksimum
yang akan diperoleh adalah!