0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan135 halaman

Plomp

Skripsi ini membahas pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi Marzano untuk materi program linier. Penelitian menggunakan metode Plomp dan melibatkan empat fase pengembangan, dengan hasil instrumen yang valid dan reliabel setelah diuji coba di SMAN 7 Semarang. Tujuan utama penelitian adalah meningkatkan kualitas pendidikan matematika di Indonesia melalui inovasi dalam pembuatan soal-soal aljabar.

Diunggah oleh

Wezy Rinita Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan135 halaman

Plomp

Skripsi ini membahas pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi Marzano untuk materi program linier. Penelitian menggunakan metode Plomp dan melibatkan empat fase pengembangan, dengan hasil instrumen yang valid dan reliabel setelah diuji coba di SMAN 7 Semarang. Tujuan utama penelitian adalah meningkatkan kualitas pendidikan matematika di Indonesia melalui inovasi dalam pembuatan soal-soal aljabar.

Diunggah oleh

Wezy Rinita Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR

BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO

MATERI PROGRAM LINIER

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Pendidikan Matematika

Oleh
Mawar Idah Shonia
34201700015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2021
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR


BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh
Mawar Idah Shonia
34201700015

Menyetujui untuk diajukan pada ujian sidang skripsi


Pembimbing I Pembimbing II

Mochamad Abdul Basir, [Link]. Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D.


NIK. 211312009 NIK. 211312003

Mengetahui,
Ketua Program Studi,

Mochamad Abdul Basir, [Link].


NIK. 211312009

ii
LEMBAR PENGESAHAN

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR


BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER

Disusun dan Dipersiapkan Oleh


Mawar Idah Shonia
34201700015
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 13 Desember 2021
Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima sebagai persyaratan untuk
mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

SUSUNAN DEWAN PENGUJI


Ketua Penguji : Nila Ubaidah, [Link]. ( )
NIK. 211313017
Penguji 1 : Dr. Hevy Risqi Maharani, [Link]. ( )
NIK. 211313016
Penguji 2 : Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D. ( )
NIK. 211312003
Penguji 3 : Mochamad Abdul Basir, [Link]. ( )
NIK. 211312009

Semarang, 13 Desember 2021


Universitas Islam Sultan Agung
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dekan,

[Link], [Link]., [Link]


NIK. 211312011

iii
PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Mawar Idah Shonia


NIM : 34201700015
Program Studi : Pendidikan Matematika
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Menyusun skripsi dengan judul :


Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem
Kognitif Marzano pada Program Linier SMA

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini adalah hasil karya tulis saya
sendiri dan bukan dibuatkan orang lain atau jiplakan atau modifikasi karya orang
lain.
Bila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi termasuk
pencabutan gelar kesarjanaan yang sudah saya peroleh.

Semarang, 13 Desember 2021


Yang membuat pernyataan,

Mawar Idah Shonia


NIM 34201700015

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“Menghafal adalah cara yang susah payah untuk mengumpulkan informasi.


Tetapi dalam proses itu, sesungguhnya kita tidak dilatih menggunakan informasi
itu untuk memecahkan masalah.” (Goenawan Mohamad)

“Hidup yang baik adalah ketika diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu
pengetahuan.” (Bertrand Russel)

Tidak harus bisa bernyanyi untuk menjadi seorang penyanyi, jadilah seperti
aljabar yang selalu mempelajari simbol-simbol untuk mencapai suatu titik
maksimum diri sendiri tanpa meniru orang lain untuk terlihat keren.
Sesungguhnya kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan tetapi kebahagiaanlah
kunci dari kesuksesan. (Penulis)

PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung.

v
SARI

Mawar Idah Shonia. 2021. Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar


Berdasarkan Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano Materi Program Linier,
Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Islam Sultan Agung. Pembimbing I: Mochamad Abdul
Basir, [Link].,[Link]., Pembimbing II : Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D.

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yang menduduki posisi 10


terbawah dalam PISA menjadi salah satu latar belakang peneliti membuat
pengembangan ini. Selain itu, kurangnya inovasi guru matematika untuk
menunjukan kreativiatas membuat soal-soal matematika khususnya pada penalaran
aljabar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengembangan
instrumen tes dengan hasil pengembangan yang valid dan reliabel.
Jenis penelitian ini berupa pengembangan menggunakan metode Plomp.
Penelitian pengembangan Plomp terdiri dari lima fase yaitu investigasi awal,
desain, realisasi/konstruksi, tes revisi dan evaluasi, dan implementasi. Akan tetapi,
peneliti hanya melakukan empat fase saja karena kondisi pandemi covid-19 yang
memuncak untuk dilakukan pertemuan skala besar. Instrumen tes yang
dikembangkan akan dilakukan uji validasi oleh ahli, uji validitas soal dan uji
reliabilitas. Subjek uji coba terbatas dilakukan di SMAN 7 Semarang dengan
jumlah 9 siswa kelas XI.
Hasil penelitian pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan
sistem kognitif pada taksonomi Marzano materi program linier telah melalui proses
pengembangan dengan empat fase yaitu investigasi awal, desain,
realisasi/konstruksi dan tes evaluasi revisi. Melalui keempat proses tersebut
instrumen tes yang dikembangkan peneliti berupa satu soal uraian dengan tiga sub
soal memenuhi kriteria valid dan reliabel untuk digunakan ke skala besar.

Kata Kunci : Pengembangan, Instrumen Tes, Penalaran Aljabar, Sistem Kognitif


Marzano, Program Linier

vi
ABSTRACT

Mawar Idah Shonia. 2021. Development of Algebraic Reasoning Test Instrumens


Based on Marzano's Cognitive System in the Linear Program of High School
Students, Thesis. Mathematics Education Study Program. Faculty of Teacher
Training and Education, Universitas Islam Sultan Agung. Supervisor I: Mochamad
Abdul Basir, [Link]., [Link]., Supervisor II: Dyana Wijayanti, [Link]., Ph.D.

The low quality of education in Indonesia, which occupies the bottom 10


positions in PISA, is one of the reasons why researchers made this development. In
addition, the lack of innovation of mathematics teachers to show creativity in
making math problems, especially in algebraic reasoning. The purpose of this study
was to determine the process of developing a test instrument with valid and reliable
development results.

This type of research is a development using the Plomp method. The Plomp
development research consists of five phases, namely initial investigation, design,
realization/construction, revision and evaluation tests, and implementation.
However, the researchers only carried out four phases due to the peaking Covid-
19 pandemic conditions for large-scale meetings to be held. The test instrument
developed will be validated by experts, test the validity of the questions and test
reliability. The subject of a limited trial was conducted at SMAN 7 Semarang with
a total of 9 students in class XI.

The results of the research on developing an algebraic reasoning test


instrument based on the cognitive system on Marzano's taxonomy of linear
programming material has gone through a development process with four phases,
namely initial investigation, design, realization/construction and revision
evaluation test. Through these four processes, the test instrument developed by the
researcher was in the form of a description question with three sub-questions that
met the valid and reliable criteria for use on a large scale.

Keywords: Development, Test Instruments, Algebraic Reasoning, Marzano


Cognitive System, Linear Program

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya,
sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengembangan
Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano pada
Program Linier Siswa SMA”.
Sholawat dan salam tidak lupa kita lantunkan kepada teladan seluruh umat
Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang membawa umatnya dari zaman
kebodohan sampai zaman yang penuh dengan ilmu saat ini.
Selama penelitian dan penulisan skripsi ini banyak sekali hambatan yang
penulis alami, namun berkat bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai
pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih tak
terhingga dari peneliti kepada seluruh pihak yang telah membantu selesainya
penelitian ini:
1. Drs. Bedjo Santoso, MT., Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Sultan
Agung Semarang.
2. Dr. Turahmat, [Link] selaku Dekan FKIP Universitas Islam Sultan
Agung Semarang.
3. Mochamad Abdul Basir, [Link] selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Matematika FKIP Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
4. Mochamad Abdul Basir, [Link] dan Dyana Wijayanti, Ph.D selaku dosen
pembimbing I dan dosen pembimbing II yang telah bersedia
memberikan pengarahan, waktu dan pikirannya untuk membimbing
saya selama proses penulisan skripsi.
5. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Matematika yang telah
memberikan ilmu serta dukungannya kepada penulis selama menempuh
pendidikan di FKIP Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
6. Seluruh staf jurusan pendidikan matematika yang telah membantu
kelancaran penulis dalam pelaksanaan penelitian.
7. Soleh Amin, [Link]., [Link] selaku Kepala Sekolah SMAN 7 Semarang
yang telah berkenan memberikan izin untuk melaksanakan penelitian.
8. Phaksi Nirwana,[Link].,Gr selaku guru matematika SMAN 7 Semarang
viii
yang telah membantu selama proses penelitian.
9. Kedua orang tua penulis, Bapak Abu Sujak dan Ibu Mukini yang telah
mendoakan, mendukung serta memberikan nasehat untuk penulis dalam
menyelesaiakan studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas
Islam Sultan Agung Semarang.
10. Seluruh teman-teman seperjuangan jurusan pendidikan matematika
angkatan 2017 yang bersedia memberikan masukan kepada penulis,
tetap jaga silaturahmi dan kebahagiaan selalu menyertai kita semua.
11. Semua pihak yang telah membantu dan mendoakan penulis sehingga
terselesainya skripsi ini.
Tulisan (Skripsi) yang sederhana ini dan pastinya masih ada
kekurangan dalam penulisan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi
pembaca dan memotivasi bagi seluruh pendidik untuk mengembangkan
kreativitasnya untuk meningkatkan mutu belajar siswa.

Semarang, 13 Desember 2021

Penulis

ix
DAFTAR ISI

JUDUL…………………………………………………………………………….i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ................................................................................ iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...........................................................................v

SARI....................................................................................................................... vi

ABSTRACT .......................................................................................................... vii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii

DAFTAR ISI ............................................................................................................x

DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................................xv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 7

1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 8

1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 8

1.5 Batasan Masalah ....................................................................................... 9

1.6 Spesifikasi Produk .................................................................................... 9

x
BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................10

2.1 Pengembangan Plomp ............................................................................ 10

2.2 Kemampuan Penalaran Aljabar .............................................................. 13

2.3 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano .................................................... 17

2.4 Hubungan Penalaran Aljabar dengan Taksonomi Marzano ................... 27

2.5 Program Linier ....................................................................................... 29

2.6 Penelitian yang Relevan ......................................................................... 30

2.7 Instrumen Tes ......................................................................................... 31

2.8 Kerangka Berpikir .................................................................................. 34

BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................36

3.1 Jenis dan Desain Penelitian .................................................................... 36

3.2 Daerah dan Subjek Penelitian................................................................. 36

3.3 Rancangan Penelitian ............................................................................. 37

3.4 Metode Pengumpulan Data .................................................................... 44

3.5 Analisis Data .......................................................................................... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................49

4.1 Hasil Penelitian....................................................................................... 49

4.2 Pembahasan ............................................................................................ 64

BAB V PENUTUP................................................................................................77

5.1 Simpulan ................................................................................................. 77

xi
5.2 Saran ....................................................................................................... 77

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................79

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano ................................................... 22

Tabel 2.2 Penarikan Kembali Pengetahuan .......................................................... 24

Tabel 2.3 Proses Kognitif Pemahaman ................................................................. 25

Tabel 2.4 Proses Kognitif Analisis........................................................................ 26

Tabel 2.5 Proses Kognitif Pemanfaatan Pengetahuan........................................... 27

Tabel 2.6 Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Program Linier ................... 29

Tabel 2.7 Penelitian yang Relevan ........................................................................ 30

Tabel 3.1 Karakteristik Soal Penalaran Aljabar Sistem Kognitif Analisis .......... 38

Tabel 3.2 Nama-nama Validator dari Para Ahli.................................................... 40

Tabel 3.3 Lembar Validasi oleh Para Ahli ............................................................ 40

Tabel 3.4 Interpretasi Validasi Soal oleh Para Ahli .............................................. 46

Tabel 3.5 Interpretasi Validitas oleh Siswa .......................................................... 46

Tabel 3.6 Interpretasi Reliabilitas ......................................................................... 48

Tabel 4.1 Kisi- kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar ........... 53

Tabel 4.2 Kunci Jawaban ...................................................................................... 54

Tabel 4.3 Pedoman Penilaian dengan Metode Rubrik Holistik ............................ 57

Tabel 4.4 Hasil Validasi Instrumen Tes oleh Para Ahli ........................................ 59

Tabel 4.5 Hasil Uji Validasi Soal oleh Para Ahli ................................................. 61

Tabel 4.6 Uraian Revisi Instrumen Tes ................................................................ 61

Tabel 4.7 Hasil Perolehan Uji Validitas oleh Para Siswa ..................................... 62

Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas oleh Para Siswa .................................................. 63

Tabel 4.9 Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano .......................................... 75

xiii
Tabel 4.10 Kesimpulan Indikator Penalaran Aljabar…………………………….75

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Umum Pengembangan Plomp ............................................... 11

Gambar 2.2 Model perilaku pada Taksonomi Marzano........................................ 21

Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................. 35

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian Pengembangan Plomp ................................... 43

Gambar 4.1 Kemampuan Pencarian Pola oleh Subjek A1 .................................... 71

Gambar 4.2 Hasil Jawaban oleh Subjek A8 .......................................................... 72

Gambar 4.3 Hasil Jawaban terhadap Pengenalan Pola ........................................ 73

Gambar 4.4 Hasil Pekerjaan oleh Subjek A1 pada Fase Generalisasi .................. 74

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kisi – kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar ....... 84

Lampiran 2. Lembar Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem ....... 86

Lampiran 3. Kunci Jawaban Instrumen Tes Penalaran Aljabar ............................ 87

Lampiran 4. Pedoman Penilaian ........................................................................... 93

Lampiran 5. Lembar Validasi Soal oleh Validator 1 ............................................ 94

Lampiran 6. Lembar Validasi Soal oleh Validator 2 ............................................ 96

Lampiran 7. Lembar Validasi Soal oleh Validator 3 ............................................ 98

Lampiran 8. Hasil Jawaban Siswa ...................................................................... 100

Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian Bersama Guru Matematika...................... 105

Lampiran 10. Bukti Penelitian Melalui WA Grup .............................................. 106

Lampiran 11. Surat Balasan dari SMAN 7 Semarang ........................................ 107

Lampiran 12. Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ..... 108

Lampiran 13. Hasil Penilain Siswa ..................................................................... 109

Lampiran 14. Hasil Uji Validitas oleh Siswa ...................................................... 110

Lampiran 15. Hasil Uji Reliabilitas .................................................................... 111

Lampiran 16. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 1 ................................. 112

Lampiran 17. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 2 ................................. 117

Lampiran 18. Soal Pemecahan Aljabar Materi Program Linier .......................... 119

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dalam dunia

pendidikan saat ini sangat pesat di berbagai bidang, terutama bidang

informasi. Semua informasi tentang perkembangan pendidikan dapat kita

ketahui dengan cepat melalui media informasi. Dengan begitu, siswa dituntut

untuk aktif mengikuti perkembangan zaman sekarang ini. Sejalan dengan

kurikulum pendidikan Indonesia yaitu kurikulum 2013, dimana proses

pembelajaran melibatkan keaktifan siswa dalam berbagai bidang ilmu

pengetahuan. Matematika merupakan salah satu ilmu penting untuk

mengukur kemajuan suatu bangsa. Untuk melihat kualitas pendidikan di

dunia dapat dilihat melalui pengukuran Programme for International Student

Assessment (PISA) dengan tiga aspek pengukuran yaitu matematika, sains,

dan literasi. Pada tahun 2018, Indonesia menduduki posisi 10 besar terbawah

dari 79 negara di dunia dengan perolehan nilai matematika 379 poin.

Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan

Dasar dan Menengah tertuang deskripsi kompetensi keterampilan diantaranya

adalah siswa harus mampu menunjukan keterampilan menalar, mengolah dan

menyaji secara komunikatif dalam ranah konkret dan abstrak. Sesuai dengan

tujuan tersebut, terdapat lima standar kemampuan yang harus dimiliki siswa

yaitu kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penalaran, kemampuan

komunikasi, kemampuan koneksi, dan kemampuan representasi (NCTM

1
2

2000). Penalaran menjadi salah satu dari sekian banyaknya kemampuan yang

harus dimiliki dan dikuasai oleh siswa ketika mempelajari matematika

(Nuraini et al., 2016). Dalam ilmu matematika, penalaran bersifat deduktif ,

khusus ke umum melalui sebuah simbol-simbol aksiomatis.

Kemampuan penalaran menjadi suatu pola berpikir yang

menyandarkan diri masuk dalam teori perkembangan kognitif (Surajiyo,

2008). Menurut Istinaro & Setianingsih (2019) dalam penelitiannya

menyatakan bahwa aljabar adalah ilmu yang digunakan untuk menganalisis

hubungan antar kuantitas dan menyelesaikan persamaan melalui angka dan

simbol-simbol. Hyman (2006) mencatat bahwa aljabar dipandang sebagai

dasar untuk semua aspek matematika dan sains. Aljabar juga merupakan pintu

masuk dalam belajar matematika lebih lanjut (Kriegler, 2008). Hal tersebut

dibuktikan ketika Sekolah Menengah Atas dikenalkan kembali dengan

konsep aljabar yang lebih kompleks pada kelas XI.

Penalaran aljabar merupakan suatu proses dimana siswa melakukan

kegiatan menemukan pola dari suatu permasalahan matematika atau

kontekstual, membuat relasi antar kuantitas dan menyusun generalisasinya

melalui representasi dan manipulasi simbolik secara formal (Ratu & Halim,

2016). Kemampuan penalaran aljabar harus dimiliki setiap siswa untuk

mengungkapkan pemikiran permasalahan matematika secara khusus melalui

simbol-simbol. Kaput (2008) mengungkapkan bahwa kemampuan penalaran

aljabar merupakan proses menggeneralisasi ide matematika dari suatu hal

yang khusus melalui pemberian argumen dan dinyatakan secara formal,


3

seperti aljabar dimana siswa dipertemukan dengan pola dan simbol.

Kemampuan penalaran aljabar menjadi aspek penting yang harus dimiliki

siswa agar dapat mengungkapkan pemikiran secara khusus melalui simbol.

Selain itu, kemampuan penalaran aljabar menjadi hal yang harus dimiliki

siswa dalam mempelajari materi tentang aljabar. Rudin & Budiarto (2019)

berpendapat bahwa proses penalaran aljabar dapat mendorong siswa untuk

memahami materi aljabar tanpa menggunakan rumus secara spesifik maupun

prosedural. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan siswa

dalam menemukan pola dalam pembelajaran matematika disebut penalaran

aljabar.

Herbert dan Brown (2000) menyatakan tiga indikator penalaran aljabar

yaitu pattern seeking (pencarian pola), pattern recognition (pengenalan pola),

dan generalization (generalisasi pola). Menurut Twohill (2013)

mengemukakan tingkatan pelevelan penalaran aljabar menjadi lima level

perkembangan yaitu level 0 (pre-formal pattern), level 1 (informal pattern),

level 2 (formal pattern), level 3 (generalization), level 4 (abstract

generalization). Menurut Godino et al (2015) level penalaran aljabar menjadi

dua level tingkatan yaitu Primary Education (level 0 sampai 3) untuk

pendidikan dasar dan Secondary Education (level 4 sampai 6) untuk

pendidikan menengah. Berdasarkan beberapa indikator penalaran aljabar

maupun tingkatan pelevelan, peneliti menggunakan indikator penalaran

aljabar menurut Herbert dan Brown yang terdiri dari 3 indikator antara lain,

(1) pencarian pola, (2) pengenalan pola, (3) generalisasi.


4

Sistem kognitif sangat diperlukan untuk membantu siswa untuk

membuat generalisasi, berkomunikasi ataupun menggunakan konsep

matematika secara runtut untuk meningkatkan penalaran aljabar siswa. Hal

tersebut selaras dengan pendapat. Windsor (2009) bahwa “Algebraic thinking

promotes a particular way of interpreting the world, it employes and develops

a …. numeric answer or objective fact”. Untuk mempermudah proses

pemahaman kemampuan penalaran aljabar, peneliti mengkolaborasikan

dengan sistem kognitif taksonomi Marzano. Pada tingkatan kognitif

taksonomi Marzano berbeda dengan taksonomi Bloom. Perbedaan tersebut

terletak pada ranah kognitif, taksonomi Bloom hanya sebatas penilaian

terhadap kognitif individual siswa. Namun berbeda dengan Marzano,

taksonomi ini terdiri dari sistem kognitif, sistem metakognitif dan domain

pengetahuan. Taksonomi Marzano pada setiap sistemnya saling berhubungan

sama lain. Penelitian yang dilakukan Basir menyatakan bahwa Taksonomi

Marzano bergerak dari cara yang sederhana ke proses yang lebih komplit baik

informasi ataupun prosedur-prosedurnya (Basir, 2017). Faragher & Huijser

(2014) menjelaskan bahwa Taksonomi Marzano dapat digunakan untuk

menyelidiki urutan kemampuan penalaran dengan menganalisis tulisan siswa.

Penelitian yang dilakukan peneliti mengacu pada sistem kognitif Marzano

yang terdiri dari 4 komponen antara lain, penarikan kembali pengetahuan,

pemahaman, analisis, dan penggunaan pengetahuan.

Bentuk tes uraian atau essay dapat mengetahui berbagai kemampuan

siswa khususnya penalaran. Soal uraian membuat peneliti untuk


5

mempermudah analisa terhadap kemampuan yang diinginkan. Soal

matematika yang berbentuk uraian tersebut membuat siswa menuliskan

beberapa informasi yang harus dituliskan. Salah satu materi yang dengan

jenis soal latihan ataupun evaluasi berbentuk tes uraian dan di dalamnya

terdapat proses menganalisis simbol dan pola-pola yaitu Program Linier.

Materi tersebut terdapat penggunaan simbol-simbol atau pola-pola tertentu

seperti pemisalan 𝑥, 𝑦, 𝑧. Kurikulum 2013, memposisikan program linier

sebagai mata pelajaran matematika wajib yang akan diperoleh siswa jenjang

SMA kelas XI pada semester ganjil. Model pengerjaan soal evaluasi ataupun

latihan, siswa biasanya mudah memecahkan permasalahan soal tersebut

apabila dihadapkan dengan soal bersifat praktis. Sehingga, ketika bertemu

dengan sesuatu hal yang belum terbiasa dilakukan, siswa akan mengalami

beberapa kendala. Seperti soal yang bersifat kontekstual atau soal cerita yang

terdiri dari lebih dari tiga kalimat. Sesuai pada soal-soal latihan maupun

evaluasi pada materi program linier yang tertuang pada buku ajar yang

digunakan pendidik, pastinya bentuk soal tersebut berupa soal kontekstual.

Berdasarkan hal tersebut, aljabar menjadi sangat penting dalam

memecahkan suatu masalah matematika. Tetapi siswa masih mengalami

kesulitan dalam penyelesaian soal aljabar tersebut. Maka, dibutuhkan

kemampuan penalaran yang baik agar dapat menyelesaikan masalah yang

berkaitan dengan aljabar. Pada umumnya soal yang dibuat oleh guru kurang

memperhatikan tingkatan kemampuan penalaran aljabar. Tes kemampuan

ataupun tes evaluasi yang diberikan guru pada saat pembelajaran hanya
6

mengacu pada soal-soal yang sudah tercantum dalam buku paket atapun buku

sekolah elektronik dan soal tersebut bersifat prosedural dan sistematis. Sesuai

dengan pendapat Pamungkas & Afriansyah (2017) bahwa pembelajaran

matematika lebih banyak menggunakan kegiatan hafalan, siswa lebih terbiasa

mengerjakan soal-soal yang sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru.

Hal tersebut, tidak sebanding dengan tuntutan zaman bahwa seorang guru

juga harus berinovasi untuk menyusun instrumen tes sendiri khususnya

instrumen tes penalaran aljabar.

Proses pengembangan yang dilakukan peneliti adalah pengembangan

plomp dengan lima fase (investigasi awal, desain, konstruksi, evaluasi, dan

implementasi) (Plomp,1997). Pengembangan model Plomp dinilai luwes dan

fleksibel dalam mengembangkan suatu instrumen tes dikarenakan pada setiap

langkah kegiatan penelitian menyesuaikan karakteristik peneliti.

Pengembangan Plomp umumnya digunakan peneliti untuk mengembangkan

instrumen tes maupun evaluasi. Sejalan dengan penelitian Basir (2017)

tentang pengembangan instrumen tes dengan menggunakan model plomp.

Dan juga penelitian tesis yang dilakukan Irawati tentang pengembangan tes

kemampuan penalaran proporsional menggunakan model pengembangan

plomp yang sudah dimodifikasi oleh Hobri (Irawati, 2016). Hal tersebut

menjadi daya tarik peneliti untuk menggunakan pengembangan model

Plomp.

Penelitian ini memilih subjek yaitu siswa SMAN 7 Semarang pada

kelas XI. Kelas XI dipilih karena telah mendapatkan materi program linier
7

pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021. Hasil belajar siswa terhadap

materi program linier masuk dalam kriteria baik. Hal itu, dijawab oleh

penelitian sebelumnya bahwa 6 siswa SMAN 7 Semarang dapat mengerjakan

soal penalaran aljabar materi program linier yang dikembangkan berdasarkan

taksonomi marzano (Shonia, 2021). Siswa terbukti dapat menyelesaikan soal

yang diberikan dan hasil jawabannya menunjukan adanya kemampuan

pemecahan masalah soal terhadap materi aljabar. Penelitian ini berbeda

konsep dengan peneliti terdahulu, kali ini pengembangan instrumen tes

penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano yang didalamnya

terdiri dari satu soal uraian dengan komponen analysis. Berdasarkan uraian

tersebut, pendidik berperan penting dalam mengembangkan kreativitas,

inovasi pikiran, dan mutu pembelajaran terkhusus pada materi program linier

dengan mengembangkan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem

kognitif Marzano yang valid dan reliabel. Suatu instrumen tes dikatakan baik

apabila memenuhi dua hal yaitu, validitas (ketepatan) dan reliabilitas

(konsistensi/ketetapan) (Sudjana, 2009). Adanya instrumen tes tersebut dapat

dijadikan alat atau media pengukuran ataupun penilaian guru terhadap siswa.

Latar belakang tersebut mendorong peneliti untuk mengembangkan

instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi

Marzano materi program linier.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merumuskan beberapa

pertanyaan pada penelitian ini antara lain:


8

1. Bagaimana proses pengembangan instrumen tes penalaran aljabar

siswa SMA berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi Marzano

materi program linier?

2. Bagaimana hasil pengembangan instrumen tes penalaran aljabar siswa

SMA berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano pada materi

program linier yang valid dan reliabel?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini antara lain :

1. Untuk mengetahui proses pengembangan instrumen tes penalaran

aljabar siswa SMA berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano

pada materi program linier.

2. Untuk mengetahui hasil pengembangan instrumen tes penalaran aljabar

siswa SMA berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano pada

materi program linier yang valid dan reliabel.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat penelitian ini antara lain:

1. Bagi peneliti, sebagai bekal untuk mendalami dunia pendidikan serta

mengembangkan pengetahuan yang telah didapat dan menambah

pengalaman untuk menjadi pendidik di masa mendatang.

2. Bagi siswa, sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran

aljabar siswa terhadap materi matematika.

3. Bagi guru, sebagai instrumen untuk mengukur ataupun mengetahui

kemampuan penalaran aljabar siswa pada materi program linier.


9

4. Bagi sekolah, pengembangan instrumen tes ini dapat dijadikan

alternatif evaluasi pembelajaran matematika.

1.5 Batasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya pembahasan pada penelitian ini maka

diperlukannya batasan masalah. Adapun batasan masalah sebagai berikut:

1. Pengembangan instrumen tes penalaran aljabar dengan indikator

penalaran aljabar menurut Herbert & Brown (2000) yang terdiri dari

tiga fase yaitu fase pencarian pola, fase pengenalan pola, dan fase

generalisasi.

2. Penelitian ini berupa soal uraian sebanyak satu butir yang mengacu

pada tingkatan sistem kognitif taksonomi Marzano analisis (analysis).

3. Materi matematika pada penelitian ini adalah program linier yang

disesuaikan dengan Kurikulum 2013 revisi pada kelas XI semester

gasal.

4. Uji coba penelitian ini dilakukan pada siswa SMAN 7 Semarang secara

daring melalui WA Grup.

1.6 Spesifikasi Produk

Spesifikasi produk yang dikembangkan peneliti adalah instrumen tes

penalaran aljabar mengacu pada indikator aljabar Herbert dan Brown berupa

satu soal uraian mengenai program linier dengan mengambil satu kompetensi

dasar yang soalnya mengacu pada sistem kognitif taksonomi Marzano tingkat

analisis.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengembangan Plomp

Sugiyono (2011) berpendapat bahwa metode penelitian dan

pengembangan merupakan metode penelitian yang digunakan untuk

menghasilkan suatu produk tertentu. Selain itu, penelitian dan pengembangan

adalah suatu proses atau langkah untuk mengembangkan suatu produk baru,

atau menyempurnakan produk sebelumnya, dan dapat dipertanggung

jawabkan (Sujadi, 2003). Berdasarkan pendapat Sujadi, pengembangan yang

dilakukan peneliti termasuk kategori penelitian pengembangan dengan

menyempurnakan produk sebelumnya. Produk sebelumnya merupakan

instrumen tes yang hanya terdiri dari 3 butir soal dan belum mengacu ke

proses kognitif Marzano secara khusus. Desain penelitian yang biasanya

digunakan mahasiswa S1, S2 ataupun S3 ketika penelitian mengembangkan

suatu produk adalah pengembangan Plomp (Rochmad, 2012).

Plomp (1997) mengemukakan bahwa “we characterized educational

design in short as method within which one is working in systematic way

towards the solving of a make problem”. Kategori desain pendidikan sebagai

metode dimana seseorang bekerja sistematis menuju penyelesaian masalah.

Model Plomp dinilai lebih fleksibel dibandingkan model pengembangan

lainnya dikarenakan setiap tahapannya memuat kegiatan pengembangan yang

dapat disesuaikan dengan karakteristik dari peneliti. Tidak hanya fleksibel,

Rochmad (2012) dalam penelitiannya, mengemukakan bahwa model Plomp

10
11

dipandang lebih luwes dibandingkan model Four-D karena setiap langkah

penelitian dapat menyesuaikan pemikiran peneliti. Model umum untuk

menyelesaikan masalah pendidikan yang dikemukakan oleh Plomp (1997)

diberi nama Model Plomp, terlihat pada gambar 2.1 berikut:

I
m Investigasi Awal
p
l
e Desain
m
e
n Realisasi/Konstruksi
t
a
s Tes, Evaluasi, dan Revisi
i

Implementasi

Gambar 0.1 Model Umum Pengembangan Plomp

Berdasarkan gambar 2.1, menjelaskan bahwa penelitian pengembangan

model Plomp diuraikan menjadi lima fase antara lain: (a) Fase investigasi

awal, (b) Fase desain, (c) Fase realisasi/konstruksi, (d) Fase tes, evaluasi dan

revisi, (e) Fase Implementasi. Berikut penjelasan dari masing-masing fase:

a. Fase Investigasi Awal

Pada fase investigasi awal terdapat unsur penting yaitu pertemuan,

analisis informasi, definisi masalah, dan perencanaan kelanjutan penelitian.

Selaras dengan Plomp dan van de Wolde (1992), “in this investigation

important elements are the gathering and analysis of information, the

definition of the problem and the planning of the possible continuation of the
12

project.” Proses terpenting pada fase ini terletak pada pendefinisian masalah,

diperlukan investigasi agar tidak adanya kesenjangan antara apa yang terjadi

dan keadaan yang diinginkan.

b. Fase Desain

Fase desain dimulai setelah melakukan definisi masalah pada fase

sebelumnya. Fase ini bertujuan untuk mendesain pengembangan yang

dikemukakan untuk memecahkan masalah. Plomp (1997) berpendapat bahwa

fase desain memiliki karakteristik yaitu membandingkan dan mengevaluasi

dari berbagai sumber, kemudian menghasilkan desain terbaik sebagai solusi

pemecahan masalah.

c. Fase Realisasi/Konstruksi

Setelah rancangan desain pengembangan dibuat, fase realisasi

merupakan kegiatan merealisasikan produk kepada ahli untuk dinilai. Plomp

(1997) mengemukakan pendapat bahwa “in fact, the design is a written out

or worked out plan which forms the departure point for the phase in which

the solution is being realized or made. This is often entail construction or

production activities such us curriculum development or the production of

audio-visual material.” Fase ini diakhiri dengan kegiatan konstruksi atau

produksi.

d. Fase Tes, Evaluasi dan Revisi

Setelah produk yang dikembangkan direalisasikan maka Langkah

selanjutnya adalah harus diuji coba dan dievaluasi bersama. Evaluasi menjadi

kegiatan penting karena menjadi penentuan suatu masalah telah terpecahkan


13

atau belum. Proses tes dilakukan uji coba pada kelompok berskala kecil.

Dengan begitu, proses peninjauan pada fase sebelumnya perlu dilakukan

hingga pemecahan masalah tercapai. Peninjauan kembali fase-fase

sebelumnya biasa disebut siklus balik. Siklus balik dapat dilakukan berulang

kali sampai masalah terpecahkan.

e. Fase Implementasi

Setelah semua fase dilakukan, didapatkan suatu produk pengembangan

yang valid dan reliabel, maka produk dapat diimplementasikan pada situasi

berskala besar dan wilayah yang lebih luas. Implementasi bisa dilakukan oleh

peneliti selanjutnya kepada testee di berbagai wilayah.

2.2 Kemampuan Penalaran Aljabar

Depdiknas (2008), penalaran adalah salah satu cara atau kemampuan

berpikir logis dalam mengembangkan pikiran dari fakta dan prinsip.

Penalaran merupakan aktivitas berpikir untuk menghasilkan pernyataan baru

berdasarkan beberapa pernyataan yang diketahui, ataupun dianggap benar,

biasanya disebut dengan aktivitas berpikir untuk menarik sebuah kesimpulan

(Hadi, 2016). Sejalan dengan pendapat Agustin (2016) bahwa penalaran

adalah sebuah kegiatan berpikir secara khusus, dimana terjadi penarikan

kesimpulan dari pernyataan sebelumnya ataupun premis yang diketahui.

Penalaran secara umum dibagi menjadi dua macam yaitu penalaran induktif

dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah proses bernalar untuk

mendapatkan suatu keputusan, prinsip ataupun sikap berdasarkan

pengamatan dari hal khusus. Sedangkan, penalaran deduktif adalah proses


14

penalaran berdasarkan prinsip, hukum, atau teori secara umum untuk ditarik

kesimpulan pada suatu hal yang khusus (Sumarto, 2006).

Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak. Aljabar merupakan

cara berpikir, proses keterampilan, dan kumpulan konsep yang siswa hadapi

untuk melakukan pemodelan matematika, melakukan generalisasi, dan

menganalisis situasi matematika (NCTM, 2008). Aljabar menjadi ilmu logika

yang dinyatakan dengan simbol-simbol dan memungkinkan mendeskripsikan

serta menganalisis hubungan kuantitas (Dobrynina dan Tsankova, 2005).

Menurut peneliti, aljabar merupakan salah satu dari beberapa ilmu

matematika yang membawa siswa untuk menyelesaikan permasalahan

matematika yang berhubungan dengan simbol dengan cara melakukan

pemodelan, ataupun analisis situasi.

Penalaran menjadi suatu kemampuan yang penting bagi siswa untuk

mempelajari materi aljabar. Sependapat dengan Rudin & Budiarto (2019)

bahwa kemampuan matematika penting dikuasai dalam mempelajari dan

memahami aljabar adalah penalaran aljabar. Blanton & Kaput (2011)

mengemukakan algebraic reasoning is a process in which students generalize

mathematical ideas from a set of particular instance, establish those

generalization through the discourse of argumentation and express them in

increasingly formal and age-appropriate ways. Diartikan bahwa penalaran

aljabar merupakan suatu proses dimana siswa menggeneralisasi ide-ide

matematika dari sekumpulan contoh kasus, membuat generalisasi melalui

argumentasi dan mengekspresikannya secara formal bergantung pada level


15

usia. Kemampuan penalaran aljabar merupakan salah satu gerbang

pendidikan (Cai & Knuth, 2005). Menurut Sadikin & Herutomo (2018) pada

penelitiannya mengemukakan bahwa kemampuan penalaran aljabar

membantu siswa dalam mempelajari materi tentang aljabar. Aljabar

merupakan salah satu cabang matematika yang diperlukan dalam

pembelajaran matematika. Begitu pentingnya penalaran sehingga tertuang

pada Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang standar isi berbunyi

keterampilan yang dicapai siswa yaitu keterampilan menalar, mengolah, dan

menyaji secara: efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif,

komunikatif, dan solutif (Kemendikbud, 2016). Tujuan pembelajaran pada

Kurikulum 2013 juga menjelaskan pentingnya penalaran sehingga siswa

diharapkan memiliki kemampuan untuk menggunakan penalaran pada pola

dan sifat serta melakukan manipulasi matematika secara generalisasi

(Kemendikbud, 2016). Penalaran aljabar merupakan proses berpikir dengan

menggunakan berbagai macam representasi untuk menyelesaikan situasi

kuantitatif dengan cara relasional menggunakan simbol.

Kristen Herbert dan Rebecca Brown (2000) menjelaskan kerangka

berpikir aljabar dalam pemecahan suatu masalah atau situasi sebagai berikut:

“algebraic thinking is using mathematical symbols and tools to analyze

different situations by: (1) extracting information from a situation, (2)

representing that information mathematically in words, diagrams, tables,

graphs, and equations, and (3) interpreting and applying mathematical

findings such as solving for unknown, testing conjectures, and identifying


16

functional relationships to the same situations and the new related situation.”

Dapat disimpulkan bahwa indikator penalaran aljabar menurut Herbert dibagi

menjadi 3 fase, yaitu fase pencarian pola, fase pengenalan pola, dan fase

generalisasi. Menurut Karp & Walle (2013) berpikir aljabar atau bernalar

secara aljabar melibatkan pembentukan generalisasi pengalaman dengan

angka dan perhitungan, memformalkan ide-ide dengan penggunaan sistem,

serta mengeksplorasi pola dan fungsi. Lew (2004) menyatakan bahwa aljabar

adalah salah satu topik matematika yang erat dengan penggunaan simbol dan

bilangan-bilangan untuk menyatakan persamaan, menganalisa relasi

fungsional, dan menentukan struktur sistem representasi.

Penalaran aljabar merupakan salah satu jenis penalaran yang digunakan

dalam menyelesaikan masalah aljabar (Windsor, 2010). Sehingga

penyelesaian dari masalah aljabar dapat mengembangkan cara bernalar

aljabar siswa. Sejalan dengan (Ontario Ministry of Education, 2013),

“Algebraic reasoning is important because it pushes student understanding

of mathematics beyond the result of specific calculations and the procedural

application formula”. (Andriani, 2015) menyatakan bahwa penalaran aljabar

membuat siswa melakukan kegiatan untuk menemukan pola khusus dari

permasalahan kontekstual dalam matematika, kemudian membuat hubungan

dan menyusun generalisasi melalui simbol-simbol. Berdasarkan pendapat

tersebut, penalaran aljabar mendorong pemahaman siswa terhadap

matematika dengan perhitungan dan rumus aplikasi secara runtut. Ake

(2013), level penalaran aljabar dibagi menjadi empat level dengan tiga
17

kriteria yaitu, (a) bentuk umum diperoleh dari hasil proses generalisasi, (b)

adanya Langkah untuk melakukan generalisasi, (c) transformasi bentuk

umum terhadap variabel diperoleh dari proses generalisasi. Godino et al

(2015), membagi tingkatan penalaran aljabar dibagi menjadi dua level yaitu

Primary Education (level 0 sampai 3) untuk pendidikan dasar dan Secondary

Education (level 4 sampai 6) untuk pendidikan menengah.

Berdasarkan beberapa penjelasan indikator penalaran aljabar tersebut,

peneliti mengembangkan instrumen tes yang mengacu terhadap Herbert &

Brown (2000) mengenai indikator penalaran aljabar yang terdiri dari tiga fase

yaitu fase pencarian pola, fase pengenalan pola dan fase generalisasi. Pada

fase pencarian pola, siswa dapat memodelkan permasalahan yang disajikan

untuk mencari sebuah pola. Fase pengenalan pola, siswa mencoba kasus

tambahan dari permasalahan yang berbeda dimana pemecahan kasus

tambahan berfungsi sebagai cara untuk memperbaiki pemahaman mereka

tentang pola. Sementara, fase generalisasi merupakan fase dimana siswa

mengembangkan persamaan umum untuk mencari permasalahan lain dengan

membuat aturan umum dari pola yang sudah diketahui dengan menggunakan

simbol, kata-kata, diagram ataupun persamaan yang berhubungan dengan

permasalahan pada soal.

2.3 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano

Taksonomi merupakan kaidah dan prinsip yang meliputi

pengklasifikasian objek. Taksonomi sangat penting untuk mengklasifikasikan

tujuan pembelajaran. Hartanto (2006), mengatakan tujuan pembelajaran


18

secara khusus penting dalam proses pembelajaran. Sekarang ini, terdapat

berbagai macam taksonomi dalam tujuan pembelajaran salah satunya yaitu

taksonomi Marzano. Sebelum adanya taksonomi Marzano, adapun taksonomi

Bloom yang sudah meluas di dunia pendidikan. Taksonomi Bloom

dikemukakan oleh Benjamin Samuel Bloom pada tahun 1956.

Sejarah taksonomi Bloom berawal dari serangkaian diskusi antara

Bloom dengan rekan-rekannya dalam suatu Konferensi Asosiasi Psikologi

Amerika (KAPA). Pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan

Krathwohl mengenalkan kerangka konsep berpikir yang dinamakan

Taxonomy Bloom dalam suatu buku “Taxonomy of Educational Objective,

The Classification of Educational Goals, Handbook 1: Cognitive Domains”

(Utari, 2016). Taksonomi Bloom terdiri 3 domain, yaitu (1) kognitif, yang

menghasilkan domain penguasaan pengetahuan; (2) afektif, yang

menghasilkan domain sikap dan (3) psikomotorik, yang menghasilkan

keterampilan fisik (Bloom, 1956). Dalam bukunya, Bloom membagi domain

kognitif menjadi enam level yaitu knowledge (pengetahuan), comprehension

(pemahaman), application (penerapan), analysis (analisis), synthesis

(sintesis), dan evaluation (evaluasi). Taksonomi Bloom merupakan struktur

hierarki yang mengidentifikasi keterampilan mulai dari tingkat rendah hingga

tinggi. Hamdani menuliskan pada penelitiannya bahwa Taksonomi Bloom

menjadi satu-satunya taksonomi yang digunakan karena dipandang lebih

unggul dibandingkan taksonomi yang lainnya. Dibalik keunggulannya

terdapat kelemahan yang dipertegas oleh Sugrue bahwa tingkatan dalam


19

struktur hierarki pada taksonomi Bloom tidak didukung oleh penelitian

tentang pembelajaran apapun (Ontario Ministry of Education, 2013). Bloom

lebih fokus pada ranah pembelajaran behaviorisme yang mengacu pada hasil

belajar yang telah ditetapkan oleh pendidik tanpa memperhatikan

pembelajaran social. Sedangkan, teori belajar lainnya seperti konstruktivisme

menekankan pembelajaran social. Selaras dengan pendapat Booker bahwa

taksonomi Bloom tidak mendukung teori belajar social karena sangat

berfokus pada pengembangan individu belajar (Ontario Ministry of

Education, 2013).

Pada tahun 1994, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi

aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan

kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut dipublikasikan pada tahun 2001

dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini, Anderson

merumuskan dua dimensi. Anderson berpendapat bahwa pembelajaran

dijalankan dalam dua dimensi yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi

pengetahuan (Wilson, 2016). Namun, hanya ranah kognitif saja yang direvisi,

yaitu: (1) perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk

setiap level taksonomi, (2) perubahan terjadi pada semua level, namun masih

sama urutan tingkatan level. Berdasarkan taksonomi Bloom versi Krathwohl

pada ranah kognitif terdiri enam level atau yang biasa kita kenal dengan

istilah C1 sampai dengan C6: remembering (mengingat), understanding

(memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis, mengurai),

evaluating (menilai), creating (mencipta) (Utari, 2016). Dimensi baru pada


20

taksonomi Anderson yaitu domain pengetahuan dengan empat kategori:

factual, konseptual, prosedural dan metakognitif.

Dalam revisi tersebut, terlihat bahwa Anderson masih terikat dengan

taksonomi Bloom dengan beberapa kekurangan yaitu Anderson masih

menggunakan tingkat kesukaran untuk mengetahui perbedaan tingkatan

antara level kognitif dari taksonomi. Wulandari (2014), mengungkapkan

bahwa aktivitas evaluasi diasumsikan lebih sulit daripada aktivitas yang

melibatkan sintesis yang diasumsikan lebih sulit daripada aktivitas yang

melibatkan analisis. Selain itu, kekurangan yang signifikan adalah Anderson

memasukan metakognisi sebagai bagian dari domain pengetahuan, padahal

proses metakognisi terjadi diluar ranah domain pengetahuan sebagaimana

proses ini mendahului pengolahan berbagai jenis. Robert Marzano (2001),

menstruktur dan mengonsep kembali hirarki Bloom.

Pada tahun 2007, Robert J. Marzano adalah seorang peneliti pendidikan

terkemuka dari Colorado, Amerika Serikat. Marzano telah mengembangkan

taksonomi baru yang ditulis dalam bukunya “The New Taxonomy of

Educational Objectives” atau bisa kita kenal dengan taksonomi Marzano

(Ardiani, 2013). Marzano bersama rekannya John Kendall, mengemukakan

suatu taksonomi baru yang berhubungan dengan teori pemikiran manusia

(human thought). Taksonomi ini dikembangkan untuk menjawab

keterbatasan-keterbatasan dari taksonomi Bloom dan revisinya yang telah

digunakan secara meluas di dunia pendidikan. Marzano membawa taksonomi

Bloom dalam abad ke-21 dengan model dan konsep baru yang
21

menggabungkan ranah kognitif dan penelitian terbaru bagaimana kita belajar

(Educational, 2013).

Taksonomi Bloom mengembangkan dasar pemikiran atau proses

akademik. Sedangkan, taksonomi Marzano menggabungkan dasar-dasar

Bloom dari tingkat berpikir pada proses kognitif dan metakognitif,

sebagaimana konsep-konsep tersebut berhubungan dengan manfaat, motivasi

serta emosi sebagai pendukung. Taksonomi Marzano terdiri dari tiga sistem

dan domain pengetahuan. Ketiga sistem yaitu sistem diri (Self System), sistem

metakognitif (metacognitive system), sistem kognitif (cognitive system), dan

domain pengetahuan. Taksonomi dua dimensi oleh Marzano tampak lebih

radikal (ekstrim) dalam pendekatannya daripada revisi taksonomi Bloom oleh

Anderson. Proses mental pada taksonomi Marzano melakukan control lebih

besar atas operasi proses lainnya. Adapun model perilaku pada taksonomi

Marzano dilihat pada gambar 2.2 sebagai berikut (Wulandari, 2014):

Melibatkan sistem diri Tugas Baru

Melanjutkan perilaku saat


Ya ini
Tidak
Sistem metakognitif
menetapkan tujuan dan
strategi

Sistem kognitif
memproses informasi
yang relevan

Pengetahuan
Gambar 2.0 Model Perilaku
Gambar pada Taksonomi
2.2 Model Marzano
perilaku pada Taksonomi Marzano
22

Dari gambar 2.2 dijelaskan jika siswa berhadapan pada suatu pilihan

dengan tugas yang baru, sistem diri memutuskan apakah melanjutkan

kebiasaan yang dijalankan saat ini atau masuk dalam aktivitas baru, sistem

metakognitif mengatur berbagai tujuan dan menjaga tingkat pencapaian

tujuan-tujuan tersebut, sistem kognitif memproses seluruh informasi yang

dibutuhkan, dan domain pengetahuan menyediakan isinya. Untuk lebih

memahami model dari taksonomi Marzano, Teach Program Assessing

memberikan contoh hubungan interaksi ketiga sistem (sistem diri,

metakognitif, dan kognitif) dan domain pengetahuan dari segi siswa dalam

suatu kelas pembelajaran matematika:

Mawar, seorang anak kelas 2 sedang berpikir tentang makanan yang akan
dibeli nantinya Ketika jam istirahat, sewaktu gurunya memulai pelajaran
matematika. Sistem diri Mawar memutuskan untuk berhenti berpikir
tentang pesta tersebut dan mulai terlibat dalam pelajaran, sementara
sistem metakognisi-nya menyuruhnya untuk memperhatikan dan
mengajukan pertanyaan sehingga dia dapat mengerjakan tugas, dan
sistem kognitifnya menyediakannya beragam pemikiran strategis yang
dibutuhkan untuk mengingat pelajaran yang diberikan guru. Pengetahuan
matematika tentang berbagai konsep dan prosedur membuatnya dapat
menyelesaikan soal-soal dengan baik. Dengan demikian, setiap
komponen pada taksonomi Marzano sangat berkontribusi pada
keberhasilan Mawar dalam mempelajari matematika dan berbagai
pelajarannya lainnya.
Adapun tiga sistem (diri, kognitif, metakognitif) dan satu domain

pengetahuan pada Taksonomi Marzano yang dijelaskan pada tabel 2.1

berikut:

Tabel 2.1 Sistem Kognitif Taksonomi Marzano


Domain
Sistem Diri Sistem Metakognitif Sistem Kognitif
Pengetahuan
Keyakinan Penentuan berbagai Penarikan kembali Informasi
tentang tujuan belajar pengetahuan
pentingnya
pengetahuan
23

Keyakinan Pemantauan dari Pemahaman Prosedural Mental


tentang eksekusi pengetahuan
keefektivan
Emosi yang Pemantauan Analisis Prosedur Fisik
berhubungan kejelasan
dengan
pengetahuan
Pemantauan Pemanfaatan
ketepatan pengetahuan

Berdasarkan ketiga sistem dan domain pada tabel 2.1, peneliti

melakukan pengembangan instrumen penalaran aljabar ini mengacu pada

sistem kognitif yang terdiri dari satu komponen proses kognitif yaitu analisis

(analysis). Di dalam proses kognitif analisis terdapat lima level yaitu

mencocokan (matching), mengklasifikasikan (classifying), menganalisis

kesalahan (analyzing errors), menggeneralisasi (generalizing), dan

menentukan/memprediksi (specifying). Siswa mencocokan persamaan dan

perbedaan dari contoh yang dikerjakan. Proses mengklasifikasikan

melibatkan identifikasi karakteristik pendefinisian, mengidentifikasi

superordinate (batas atas) dan subordinate (batas bawah). Menganalisis

kesalahan melibatkan akurasi, kewajaran dan logika pengetahuan. Siswa

terlibat proses generalisasi atau kesimpulan dari pengetahuan yang sudah

diketahui atau membangun proses yang baru. Riddle dan Star (2020)

menunjukan bahwa generalisasi biasanya melibatkan pemeriksaan berbagai

kasus tertentu untuk mengidentifikasi kesamaan proses yang baru. Terakhir,

menentukan atau memprediksi generalisasi yang diketahui serupa dengan

situasi lainnya dan menarik kesimpulan tentang situasi baru.

Berikut penjelasan mengenai proses kognitif Marzano dari penarikan

kembali pengetahuan sampai pemanfaatan pengetahuan.


24

a. Sistem Kognitif

Taksonomi Marzano membagi sistem kognitif menjadi empat sistem

yaitu penarikan kembali pengetahuan, pemahaman, analisis, dan pemanfaatan

atau penggunaan pengetahuan. Dalam proses kognitif ini, setiap prosesnya

saling berkesinambungan dengan proses sebelumnya, misal pemahaman

membutuhkan penarikan kembali pengetahuan begitupun juga dengan

analisis membutuhkan pemahaman dan seterusnya (Wulandari, 2014).

Berikut adalah penjelasan dari setiap proses yang ada pada sistem kognitif

Taksonomi Marzano:

1. Penarikan Kembali Pengetahuan (Knowledge Retrieval)

Wulandari (2014), dalam penelitiannya membagi proses kognitif

menjadi tiga proses penalaran yaitu penarikan kembali (recalling),

pengenalan (recognizing), dan pelaksanaan (executing). Ketiga proses

tersebut telah disajikan dalam bentuk tabel 2.2 sebagai berikut:

Tabel 2.2 Penarikan Kembali Pengetahuan


Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Penarikan Kembali (DK) - Mengingat
- Memproduksi kembali informasi - Memberi contoh
yang diperlukan - Menyebutkan
- Mendaftar
- Melabeli
Pengenalan (DK atau PK) - Mengenali
- Mengidentifikasi dengan cermat - Memilih daftar
pernyataan yang berkenan - Mengidentifikasi dari daftar
dengan DK atau PK - Menentukan apakah pernyataan
berikut benar
Pelaksanaan (PK) - Menggunakan
- Melakukan suatu proses mental - Mendemonstrasi
atau prosedur fisik - Menunjukan
- Membuat
- Melengkapi
2. Pemahaman (Comprehension)

Comprehension adalah proses mengorganisir atau menata pengetahuan


25

yang sudah ada, mensintesis keterwakilan (kemampuan mengumpulkan

komponen yang sama untuk membentuk pola pemikiran yang baru) (Fortuna,

2018). Proses pemahaman terdapat dua proses kognitif yaitu penyimbolan

dan pengintegrasian (Pribadi, 2016). Pada proses ini, siswa diharuskan

melakukan identifikasi yang penting untuk diingat dan menempatkan

informasi ke dalam berbagai kategori yang sesuai, sehingga dibutuhkan

identifikasi yang paling penting diantara beberapa konsep dan penghilangan

semua hal yang tidak signifikan. Wulandari (2014) menyajikan proses

kognitif pemahaman pada tabel 2.3 berikut ini:

Tabel 2.3 Proses Kognitif Pemahaman


Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Penyimbolan - Melambangkan
- Menggambarkan aspek-aspek - Melukiskan
kritis pengetahuan dalam - Mempresentasikan
bentuk bergambar atau simbol. - Mengilustrasikan
- Menggambar
- Membuat grafik
- Membuat diagram
- Menggunakan model
- Menunjukan
Pengintergrasian - Mendeskripsikan bagaimana atau
- Mengidentifikasi elemen- mengapa
elemen pengetahuan yang - Mendeskripsikan bagian dari kunci
kritis atau penting - Mendeskripsikan akibat
- Mendeskripsikan hubungan antara
- Menjelaskan cara

2. Analisis (Analysis)

Analysis merupakan proses mencapai dan menguji kecocokan

pengetahuan baik persamaan maupun perbandingan, analisis hubungan ke

atas dan ke bawah, pengklasifikasian, analisis kesalahan, generalisasi,

spesifikasi atau untuk konsekuensi logis atau juga prinsip yang dapat

dijadikan kesimpulan. Pada level ini, Marzano membagi menjadi lima proses
26

sistem kognitif yaitu membandingkan, mengklasifikasikan, spesifikasi atau

penalaran deduktif, generalisasi atau penalaran induktif, dan analisis

kesalahan (Wulandari, 2014). Analisis merupakan tahapan yang prosesnya

lebih sulit satu tingkat dari proses pemahaman. Siswa perlu menggunakan

pengetahuan ataupun wawasan yang telah dipelajari untuk menemukan

sesuatu hal yang baru. Sejalan dengan penelitian dari Pribadi, bahwa para

pelajar dapat menggunakan apa yang mereka pelajari untuk menghasilkan

berbagai wawasan baru dan menenmukan berbagai cara menggunakan apa

yang telah mereka pelajari dalam berbagai situasi baru (Pribadi, 2016). Proses

kognitif analisis telah disajikan melalui tabel 2.4 berikut ini (Wulandari,

2014):

Tabel 2.4 Proses Kognitif Analisis


Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Membandingkan - Mengkategorikan
- Mengidentifikasi kesamaan - Membandingkan
dan perbedaan - Membedakan
- Mengontraskan
- Membuat kiasan
- Menyortir
Mengklasifikasikan - Mengklasifikasikan
- Mengidentifikasi kategori - Mengatur
superordinate dan subordinate - Mengidentifikasi
yang berasal dari info - Mengidentifikasi tipe-tipe yang
berbeda
- Mengidentifikasi kategori yang lebih
luas
Penalaran Deduktif - Memprediksi
- Membuat dan - Memutuskan
mempertahankan prediksi - Menarik kesimpulan
tentang apa yang terjadi - Menentukan
- Mempertahankan
Penalaran Induktif - Membuat suatu aturan
- Menyimpulkan suatu ,generalisasi,atau prinsip
generalisasi baru dari - Membentuk kesimpulan
pengetahuan yang telah
diketahui
Analisis Kesalahan - Mengidentifikasi masalah, persoalan,
- Mengidentifikasi kesalahan kesalahpahaman
yang logis atau factual dalam - Mengkritik
27

pengetahuan - Mendiagnosis
- Menilai
- Mengedit
- Merevisi

3. Pemanfaatan Pengetahuan (Knowledge Utilization)

Komponen terakhir dari sistem kognitif pada taksonomi Marzano yaitu

pemanfaatan atau penggunaan pengetahuan. Pada tahap ini terdapat empat

proses kognitif pemanfaatan pengetahuan yaitu penyelidikan, percobaan,

pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan. Proses kognitif tersebut

disajikan dalam tabel 2.5 berikut (Wulandari, 2014):

Tabel 2.5 Proses Kognitif Pemanfaatan Pengetahuan


Proses Penalaran Isyarat, Istilah, Ungkapan
Penyelidikan atau Investigasi - Menginvestigasi
- Menghasilkan suatu hipotesis - Meneliti (bagaiamana, mengapa,
dan menggunakan pernyataan apa) hal ini terjadi
tegas dan pendapat dari orang
lain untuk menguji hipotesis
tersebut
Percobaan - Menghasilkan dan menguji
- Menghasilkan dan menguji - Menguji ide bahwa apa yang akan
suatu hipotesis dengan terjadi jika
melakukan eksperimen dan - Bagaimana anda mengujinya
mengumpulkan data - Bagaimana anda menentukan jika
- Bagaimana hal ini dapat dijelaskan
- Berdasarkan penjelasan ini, apa
yang dapat dipresiksi
Pemecahan masalah - Menyelesaikan
- Memenuhi tujuan yang disertai - Bagaiamana anda akan mengatasi
hambatan - Menyesuaikan
Membuat keputusan - Mengambil keputusan
- Menyimpulkan suatu - Memilih yang terbaik diantara
generalisasi baru dari alternatif berikut
pengetahuan yang telah - Manakah di antara berikut yang
diketahui akan menjadi terbaik
- Apa cara terbaik
- Mana yang paling cocok

2.4 Hubungan Penalaran Aljabar dengan Taksonomi Marzano

Untuk memahami mengenai materi aljabar, perlunya kemampuan

penalaran terhadap generalisasi pola pada aljabar itu sendiri. Andriani (2015)
28

menyatakan bahwa penalaran aljabar membuat siswa melakukan kegiatan

untuk menemukan pola khusus dari permasalahan kontekstual dalam

matematika, kemudian membuat hubungan dan menyusun generalisasi

melalui simbol-simbol. Langkah utama untuk meningkatkan pengetahuan

matematika pada siswa dapat dilakukan dengan proses generalisasi. Hal

tersebut selaras dengan Radford, bahwa generalisasi menjadi salah satu jalan

utama untuk memperkenalkan siswa terhadap aljabar (Radford, 2010).

Indikator penalaran aljabar menurut Herbert & Brown (2000) memiliki tiga

fase diantaranya fase generalisasi. Menurut Hashemi et al (2013), salah satu

cara melatih siswa untuk meningkatkan sistem kognitif matematika dengan

melakukan kontribusi pola khususnya pada aljabar.

Cara mengidentifikasi proses generalisasi pola pada siswa dapat

menggunakan taksonomi Marzano yang dikembangkan oleh Marzano (2016).

Penelitian terdahulu menyatakan bahwa untuk mendeskripsikan kerangka

berpikir aljabar pada siswa menggunakan taksonomi Marzano (Wulandari,

2014). Dinarti dan Qomariyah (2019) juga mendeskripsikan kemampuan

generalisasi pola pada siswa berdasarkan taksonomi Marzano. Di dalam

taksonomi Marzano terdiri dari tiga sistem dan domain pengetahuan. Ketiga

sistem yaitu sistem diri (Self System), sistem metakognitif (metacognitive

system), sistem kognitif (cognitive system), dan domain pengetahuan. Sistem

kognitif terdapat 4 proses kognitif yang saling berkesinambungan antara lain,

penarikan kembali pengetahuan (knowledge retrieval), pemahaman

(Comprehension), analisis (Analysis), pemanfaatan pengetahuan (Knowledge


29

utilization). Pada sistem kognitif Marzano terdapat proses kognitif yang

selaras untuk meningkatkan kemampuan penalaran aljabar dengan proses

generalisasi pola pada aljabar.

2.5 Program Linier

Modul digital dari PPPK menuliskan bahwa program linier merupakan

bagian dari Operation Research yang mempelajari masalah optimum. Prinsip

pada program linier diterapkan dalam masalah nyata diantaranya dalam

bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, perdagangan, transportasi, industry,

social, dan lain-lain. Di dalam Kurikulum 2013 Revisi, program linier

diberikan pada kelas XI Semester Ganjil setelah bab Induksi Matematika.

Kompetensi Dasar untuk bab program linier mengacu pada Kompetensi

Dasar (KD) yang telah ditetapkan. Selanjutnya, guru mampu merumuskan

indikator pencapaian kompetensi dari Kompetensi Dasar (KD) yang telah

ada. Buku matematika guru kelas XI SMA/MA/SMK/MAK telah tertulis

indikator pencapaian kompetensi untuk materi program linier. Berdasarkan

indikator penalaran aljabar dan sistem kognitif Marzano, peneliti mengambil

empat Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dari sekian banyaknya

indikator. Indikator tersebut dipilih karena mengacu pada pelevelan yang

dikembangkan peneliti. Berikut Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator

Pencapaian Kompetensi (IPK) sebagai acuan pembuatan instrumen tes

penalaran aljabar, dijelaskan pada tabel 2.6 berikut ini:

Tabel 2.6 Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Program Linier


No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
Menjelaskan pertidaksamaan Menjelaskan nilai optimum suatu
1. 3.2 3.2.1
linier dua variabel dan masalah program linier dua
30

penyelesaiannya dengan variabel.


menggunakan masalah
kontekstual.
Membentuk model matematika
4.2.1
suatu masalah program linier dua
variabel.
Menyelesaiakan masalah
kontekstual yang berkaitan Menginterpretasikan penyelesaian
2. 4.2 4.2.2
dengan program linier dua yang ditemukan
variabel. secara kontekstual.

Menyajikan grafik pertidaksamaan


4.2.3
linier dua variabel.

2.6 Penelitian yang Relevan

Penelitian sebelumnya diperlukan sebagai studi pustaka pada penelitian

pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif

Marzano. Penelitian terdahulu yang menjadi titik acuan adalah teori tentang

penalaran secara umum maupun penalaran aljabar, pengembangan instrumen

tes yang berhubungan dengan penalaran aljabar, serta komponen sistem

kognitif Marzano. Berikut beberapa penelitian yang relevan terhadap

penelitian pengembangan yang dilakukan peneliti ditulis pada tabel 2.7

berikut:

Tabel 2.7 Penelitian yang Relevan


No Nama Penulis Judul Hasil Penelitian
1 Ulifah Istinaro dan Profil Penalaran Aljabar Peneliti menunjukan bahwa
Rini Setianingsih Siswa SMA yang Memiliki siswa SMAN 7 Surabaya
(2019) Kecerdasan Linguistik dan memenuhi indikator penalaran
Logis-Matematis dalam aljabar yaitu pencarian pola,
Memecahkan Masalah pengenalan pola, dan
Matematika generalisasi pola.
2 Kartika Penalaran Aljabar Siswa Peneliti menunjukan siswa
Purwaningtyas dan SMP dalam Menyelesaikan pada mencari pola diawali
Abdul Haris Soal Pola Bilangan dengan mengidentifikasi unsur
Rosyidi (2020) penyusun pola bilangan
kemudian siswa menemukan
hubungan tiap unsur pada pola
bilangan.
3 Ratu dan Halim Penalaran Aljabar melalui Penelitian ini menghasilkan
(2016) Pengamatan Pola untuk tingkatan penalaran aljabar
Siswa Kelas VII siswa melalui pengamatan pola
31

dalam kemampuan penalaran


yang dibedakan menjadi 2
yaitu pengamatan secara logis
dan tidak logis.
4 Mawar Idah Shonia Pengembangan Instrumen Hasil penelitian ini berupa
(2021) Tes Penalaran Aljabar instrumen tes terdiri dari 3 soal
Berbasis Taksonomi uraian mengenai penelaran
Marzano aljabar menurut Herbert dan
Brown. Indikator penalaran
tersbeut terdiri dari 3 fase
yaitu, fase pengenalan pola,
fase pencarian pola, dan fase
generalisasi.

5 Wandyah Ariesta Pengembangan Instrumen Hasil penelitian ini berupa 12


Dewi Fortuna Penilaian Hasil Belajar soal uraian mengacu pada
(2018) Matematika Mengacu pada setiap sistem kognitif
Taksonomi Marzano taksonomi Marzano.

6 Dinarti dan Kemampuan Generalisasi Penelitian ini menghasilkan


Qomariyah (2019) Pola Siswa Berdasarkan tiga subjek dimana masing-
Taksonomi Marzano masing subjek memiliki
kemampuan yang berbeda
dalam menyelesaiakan
masalah generalisasi,
kemudian mengklasifikasikan
setiap subjek ke dalam tiga
sistem taksonomi Marzano
(sistem diri, sistem kognitif
dan sistem metakognitif)

7 Cupma, dkk (2020) Pengembangan Instrumen Hasil penelitian ini berupa 5


Evaluasi Berbasis soal uraian instrumen tes untuk
Taksonomi Marzano untuk mengukur kemampuan
Menentukan Profil penalaran siswa berdasarkan
Kemampuan Penalaran indikator taksonomi Marzano.
pada Materi Gerak Lurus
2.7 Instrumen Tes

Instrumen merupakan alat bantu yang dipilih oleh peneliti dalam

mengumpulkan data agar penelitian tersebut sistematis dan mudah. Dunia

penelitian, instrumen diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data

mengenai variabel penelitian untuk keperluan penelitian, sedangkan dalam

dunia pendidikan instrumen untuk mengukur kemampuan siswa. Tes

merupakan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban atau sejumlah

pernyataan yang harus diberi respon atau tanggapan dengan memberikan


32

tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap

aspek tertentu dari yang menerima tes (Widoyoko, 2014). Suatu alat atau

instrumen yang digunakan untuk mengukur sesuatu disebut tes (Abdullah,

2012). Sementara, menurut Arikunto (2010), tes merupakan suatu pertanyaan

yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi,

kemampuan ataupun bakat yang dimiliki siswa baik individu maupun

kelompok.

Tes adalah cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu

ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan yang

berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan

yang harus dijawab atau perintah yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga

data yang diperoleh dari hasil pengukuran dapat dihasilkan nilai yang

melambangkan prestasi atau tingkah laku testee (Sudijono, 2009). Menurut

Arifin (2011) pengertian tes dirumuskan menjadi 4 hal yaitu (1) tes

merupakan teknik atau cara yang disusun secara urut dan digunakan untuk

hal pengukuran, (2) tes terdiri dari pertanyaan ataupun pernyataan yang harus

dijawab oleh siswa, (3) tes dimanfaatkan untuk mengukur aspek perilaku

siswa, (4) perlu adanya pemberian skor di setiap hasil tes. Sementara, menurut

Purwanto (2011), bahwa tes adalah instrumen atau alat ukur untuk

pengumpulan data dimana memberikan respon atas pertanyaan dalam

instrumen. Siswa didorong untuk menunjukkan pencapaian terbaiknya

dengan memberikan kesimpulan atau kemampuan yang dimiliki.

Berdasarkan pengertian tes dari beberapa ahli tersebut, peneliti


33

menyimpulkan bahwa tes yaitu alat untuk mengukur data berupa pertanyaan

atau perintah yang dapat memberikan respon dari testee untuk mengukur

kemampuan dan prestasi yang dimiliki oleh testee. Sebagai alat ukur, tes

dibedakan menjadi beberapa macam sesuai segi penggolongannya. Penelitian

pengembangan instrumen tes ini terdapat dua jenis tes yaitu tes kemampuan

untuk mengetahui penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano dan

tes tertulis didasarkan pada bentuk pengajuan tes secara tertulis. Tes

kemampuan (aptitude test) merupakan tes yang dilaksanakan untuk

mengungkapkan kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh

testee (Sudijono, 2009). Tes tertulis merupakan jenis tes dimana pengajuan

pertanyaannya berupa soal secara tertulis dan cara menjawabnya dilakukan

secara tertulis. Selain jenis tes, adapun ciri-ciri tes yang baik harus memenuhi

dua kriteria yaitu validitas dan relibialitas. Berikut penejelasan dari validitas

dan reliabilitas:

a. Ciri-ciri tes yang baik

Tes yang baik harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki

validitas, dan reliabilitas, (Arikunto, 2011).

1. Validitas

Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dengan tepat, benar,

shahih, atau secara absah telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur

atau mengungkapkan hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik

setelah peserta didik menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu

tertentu (Sudijono, 2009).


34

2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur

yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur

itu dilakukan secara berulang (Sugiyono, 2015). Suatu tes dikatakan

reliabilitas apabila memiliki skor keajegan yang relatif tidak berubah-ubah

pada kondisi yang berbeda-beda. Reliabilitas tes merupakan seberapa besar

derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur (Sukadji, 2000).

2.8 Kerangka Berpikir

Pentingnya kemampuan penalaran yang harus dimiliki siswa dalam

berbagai hal khususnya pada permasalahan matematika seperti aljabar. Pada

kondisi tersebut siswa mampu menguasai materi aljabar dengan

meningkatkan kemampuan penalaran aljabar. Dalam meningkatkan

kemampuan penalaran aljabar, guru juga dapat memfasilitasi siswa alat

maupun media seperti instrumen tes yang mengacu kemampuan yang dituju.

Perlunya pengetahuan yang mendalam dalam meningkatkan penalaran

aljabar, maka peneliti berkolaborasi dengan sistem kognitif taksonomi

Marzano untuk mendefinisikan isi, isyarat, maupun kandungan dari soal yang

dikembangkan. Belum adanya penelitian secara khusus mengenai

pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif

taksonomi Marzano, membuat peneliti ingin berinovasi mengembangkan

instrumen tes tersebut. Peneliti berharap dengan adanya pengembangan

instrumen tes ini dapat memfasilitasi para guru maupun siswa dalam

meningkatkan kemampuan penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif.


35

Instrumen tes ini dibuat mengacu pada materi program linier yang

didalamnya terdapat konsep aljabar. Berikut skema kerangka berpikir seperti

gambar 2.3 berikut:

Pentingnya kemampuan penalaran Pengembangan instrumen


aljabar berdasarkan sistem kognitif tes penalaran aljabar untuk
taksonomi Marzano pada pembelajaran siswa SMA
matematika

kendala

Berdasarkan analisis soal, belum adanya soal


yang khusus tentang penalaran aljabar
berdasarkan sistem kognitif taksonomi
Marzano

Rendahnya kemampuan penalaran siswa


ditunjukan dalam peringkat PISA
upaya

Pengembangan instrumen tes penalaran


aljabar berbasis taksonomi Marzano
bentuk

Soal uraian

harapan

Siswa dapat meningkatkan kemampuan


penalaran aljabar

Gambar 2.3 Kerangka Berpikir


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Pengembangan

merupakan metode penelitian yang meibatkan pengumpulan dan analisis data

melalui metode kuantitatif (Basir, 2017). Metode kuantitatif bertujuan untuk

menentukan kevalidan dan reliabilitas pengembangan instrumen tes

penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano dalam penyelesaian

soal bab program linier. Terdapat dua hal penekanan di dalam penelitian

pengembangan, yaitu pengembangan prototype atau draft dan proses saat

instrumen diuji cobakan (Zulkardi, 2008). Penelitian pengembangan ini

menggunakan model Plomp (1997) dengan 5 fase pengembangan antara lain:

(1) investigasi awal, (2) desain, (3) realisasi/konstruksi, (4) tes, evaluasi dan

revisi, dan (5) implementasi.

3.2 Daerah dan Subjek Penelitian

Penelitian pengembangan ini dilakukan di SMAN 7 Semarang dengan

subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIPA. Subjek diambil secara acak

terdiri dari 5-10 siswa, proses pengerjaan instrumen terdapat pada fase ke-4

yaitu tahapan tes, evauasi dan revisi. Objek penelitian ini adalah siswa kelas

XI MIPA yang nantinya akan mengerjakan instrumen tes yang

dikembangankan oleh peneliti. Penelitian ini dilaksanakan secara daring

dengan melalui WA Grup yang dikoordinasikan oleh guru matematika.

36
37

3.3 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian menggunakan pengembangan model Plomp

(Plomp, 1997). Dari beberapa model pengembangan, dalam penelitian ini

menggunakan model Plomp dikarenakan model ini mengkhususkan pada

pengembangan tes sedangkan model pengembangan yang lain merupakan

pengembangan perangkat pembelajaran (Irawati, 2016). Selain itu, model

Plomp dinilai luwes untuk proses penelitian pengembangan. Prosedur

pengembangan terdapat 5 fase antara lain:

a. Investigasi Awal (Preliminary Investigation)

Fase ini dilakukan investigasi permasalahan penalaran aljabar pada

siswa kelas XI MIPA SMAN 7 Semarang. Kemudian, peneliti melakukan

analisis materi aljabar pada bab program linier untuk dikembangkan menjadi

instrumen tes. Selanjutnya, menginvestigasi hubungan antara penalaran

aljabar dengan sistem kognitif Marzano. Setelah semua ruang lingkup sudah

sesuai, peneliti kemudian masuk dalam fase kedua.

b. Desain (Design)

Fase ini peneliti melakukan perancangan desain instrumen tes

penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano. Perancangan dimulai

dengan penyusunan kisi-kisi soal serta karakteristik soal terhadap indikator

penalaran aljabar. Terdapat satu butir soal yang mengacu sistem kognitif

analisis taksonomi Marzano dengan indikator penalaran aljabar pada fase

pencarian pola, pengenalan pola dan generalisasi. Setelah itu, peneliti

melakukan penulisan soal uraian, kemudian penyusunan kunci jawaban serta


38

cara penilaian. Cara penilaian menggunakan metode rubrik holistik dengan

panjang intyerval skala 1 – 5. Berikut proses pengembangan instrumen tes

secara rinci:

1) Menyusun Tes

Tahap ini proses penyusunan butir-butir soal yang dikembangkan

sesuai dengan kriteria pelevelan indikator penalaran aljabar

berdasarkan sistem kognitif Marzano. Indikator penalaran aljabar

menurut Herbert & Brown terdapat tiga fase yaitu, fase pencarian pola,

fase pengenalan pola dan fase generalisasi. Materi yang akan

dikembangkan adalah materi program linier dengan mengambil satu

Kompetensi Dasar. Untuk proses kognitif, peneliti mengacu sistem

kognitif Marzano yaitu analisis. Terdapat empat proses kognitif analisis

yaitu classifying, generalizing. Dalam menyusun tes, adapun beberapa

hal yang dicantumkan dalam instrumen tes ,yaitu tujuan tes, kisi-kisi

dan karakteristik soal, jumlah soal, kunci jawaban soal dan cara

penilaian. Adapun penjelasan karakteristik soal uraian pada tabel 3.1

dan lebih jelasnya pada lampiran 1, sebagai berikut:

Tabel 0.1 Karakteristik Soal Penalaran Aljabar berdasarkan Sistem Kognitif Analisis

Indikator Indikator Soal Sistem Kognitif Marzano Nomor


Penalaran Soal
Aljabar
- Fase Diberikan soal Analysis
Pencarian cerita tentang
Pola permasalahan Classifying Siswa
- Fase seorang mengidentifikasi
1
Pengenalan pedagang, siswa kategori fungsi
Pola dapat kendala dan
- Fase menentukan fungsi objektif
Generalisasi biaya sewa serta batasannya
39

minimum di titik Generalizing Siswa dapat


A,D atau E menyimpulkan
dengan fungsi suatu
objektif berpola generalisasi baru
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + yang telah
𝑏𝑦, 𝑎 ≠ 𝑏. diketahui
2) Pemilihan media tes

Media yang digunakan dalam pengembangan ini adalah media

non elektronik berupa paket soal tes tertulis pada lembar kertas HVS

untuk lembar validasi ahli kepada dosen pembimbing satu, dosen

pembimbing dua dan guru matematika. Media untuk siswa berupa

softfile PDF mengingat proses pembelajaran masih daring.

3) Desain awal

Tahap ini adalah penulisan instrumen tes berupa satu butir soal

uraian matematika materi program linier dengan tujuan mengetahui,

melatih kemampuan penalaran aljabar siswa berdasarkan sistem

kognitif analisis Marzano. Hasil rancangan desain awal tahap ini

dinamakan Draft 1 (Irawati, 2016). Setelah desain awal sudah

terselesaikan, maka peneliti melakukan fase selanjutnya yaitu realisasi

atau konstruksi.

c. Realisasi atau Konstruksi

Fase ini terdiri dari proses penilaian validasi yang dilakukan oleh tiga

ahli terhadap rancangan desain awal pengembangan instrumen tes. Satu butir

soal uraian sebagai draft 1 masuk proses validasi. Terdapat 3 validator yaitu

dua orang dosen dan satu guru matematika. Berikut nama-nama validator

pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif

Marzano disajikan dalam tabel 3.2 berikut ini:


40

Tabel 0.2 Nama-nama Validator dari Para Ahli


No Validator Jabatan
1 Mohamad Abdul Basir,[Link]. Dosen Pembimbing 1
2 Dyana Wijayanti,[Link]. Dosen Pembimbing 2
3 Phaksi Nirwana, [Link]., Gr. Guru Matematika

Kriteria penilaian validasi menggunakan lembar validasi yag dibuat

oleh peneliti dengan indikator penilaian yang didasarkan pada kriteria materi,

konstruk, dan bahasa. Berikut lembar validasi yang digunakan sebagai

instrumen penilaian pada tabel 3.3:

Tabel 3.3 Lembar Validasi oleh Para Ahli

Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar materi
1.
program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran
2.
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem
3.
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat
4.
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada
1.
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan mudah
1.
dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan
3.
benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan
4.
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
Keterangan: 1 = tidak baik, 2 = kurang baik, 3 = ragu-ragu, 4 = baik, 5 = sangat baik.
Instrumen tes dikatakan valid, berdasarkan interval tingkat kevalidan

dengan interpretasi sedang, tinggi dan sangat tinggi. Memiliki koefisien

validitas lebih dari 0,40 (𝛼 > 0,40). Apabila belum memenuhi kriteria, maka

dilakukan revisi hingga memenuhi kriteria. Instrumen yang valid akan lanjut
41

pada fase selanjutnya yaitu tes,evaluasi dan revisi.

d. Tes, Evaluasi dan Revisi

Fase ini, soal yang telah divalidasi dan dinyatakan valid akan diuji

cobakan terhadap 5-10 orang siswa SMAN 7 Semarang kelas XI. Proses uji

coba dilakukan secara daring melalui WA Grup, mengingat keadaan masih

pandemi. Setelah proses uji coba , hasil jawaban siswa akan masuk proses uji

validitas soal terhadap skor yang diperoleh. Uji reliabilitas soal dilakukan

pada fase ini untuk mengetahui konsistensi soal. Dari beberapa uji yang telah

dilalui peneliti, apabila belum memenuhi kriteri acuan yang sudah ditentukan.

Maka, peneliti melakukan revisi dan didapat draf 2. Sebaliknya, jika hasil

beberapa uji menunjukan kriteria acuan cukup, tinggi ataupun baik. Maka,

instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano pada

materi program linier dapat dilanjutkan pada fase selanjutnya yaitu

Implementasi.

e. Implementasi

Fase selanjutnya, penggunaan ataupun implementasi berskala besar

dapat dilakukan. Sesuai peneliti Irawati, fase implementasi yaitu kegiatan

menerapkan instrumen tes yang digunakan dalam skala yang lebih luas

(Irawati, 2016). Fase ini bertujuan menguji efektivitas penggunaan instrumen

tes dalam mengukur penalaran aljabar berbasis taksonomi Marzano.

Berdasarkan ke-5 Fase pengembangan, peneliti hanya melakukan empat fase

yaitu investigasi awal, desain, realisasi atau konstruksi dan tes evaluasi dan

revisi. Pada fase implementasi tidak dilakukan oleh peneliti mengingat


42

kondisi wabah pandemi yang terjadi di daerah peneliti. Rancangan penelitian

diuraiakan gambar 3.1 berikut :


43

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian Pengembangan Plomp


44

3.4 Metode Pengumpulan Data

Sugiyono (2015), berpendapat bahwa metode pengumpulan data dibagi

empat cara yaitu observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan angket.

Metode pengumpulan yang digunakan peneliti adalah angket dan instrumen

tes. Metode pengumpulan data pada penelitian pengembangan ini sebagai

berikut:

a. Angket

Angket adalah salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

responden untuk dijawab. Angket digunakan untuk mendapat data dari

validator agar instrumen valid dan reliabel. Angket berbentuk lembar validasi

untuk menilai aspek materi, aspek konstruk, dan aspek bahasa dari instrumen

tes yang dibuat oleh peneliti. Lembar validasi digunakan untuk menentukan

kualitas validasi isi ataupun validasi konstruk dari instrumen tes yang

dikembangkan dengan meminta penilaian dan juga saran dari para ahli yang

terdiri dari 2 dosen pembimbing dan 1 guru matematika. Tabel lembar

validasi ahli dapat dilihat di tabel 3.3.

b. Instrumen Tes

Instrumen tes yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah soal

uraian pada materi program linier kelas XI Kurikulum 2013 yang mengacu

pada indikator penalaran aljabar Herbert & Brown berdasarkan sistem

kognitif analisis pada taksonomi Marzano. Instrumen tes ini disusun

sebanyak satu butir soal uraian dengan tiga subsoal. Tujuannya untuk
45

mengetahui tingkat kemampuan penalaran aljabar siswa berdasarkan sistem

kognitif analisis pada taksonomi Marzano materi program linier. Kemudian

instrumen tes tersebut akan diujikan dan dianalisis untuk menentukan

validitas, dan reliabilitas. Instrumen tes ini akan diuji coba di SMAN 7

Semarang pada kelas XI.

3.5 Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini antara lain; (a) uji validasi perangkat

tes atau soal dengan subjek penguji yaitu para ahli, (b) uji validitas soal yang

mengacu subjek pada siswa, (c) uji reliabilitas soal terhadap jawaban siswa.

Berikut penjelasan analisis data pada penelitian pengembangan ini:

a. Uji Validasi Soal oleh Ahli

Validasi terhadap instrumen tes digunakan untuk memvalidasi soal

yang dikembangkan peneliti. Soal yang dikembangkan dapat digunakan

ketika berinterpretasi sedang, tinggi dan sangat tinggi. Perhitungan validitas

menggunakan rumus sebagai berikut:

𝑁 ∑ 𝑋𝑌𝑍 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌) (∑ 𝑍)
𝛼=
√(𝑁 ∑ 𝑋 2 − (𝑋̅)2 )(𝑁 ∑ 𝑌 2 − (𝑌̅)2 )(𝑁 ∑ 𝑍 2 − (𝑍̅)2 )

Keterangan : 𝛼 = koefisien validitas

N = banyaknya indikator pada lembar validasi

X = perolehan skor dari validator 1

Y = perolehan skor dari validator 2

Z = perolehan skor dari validator 3

Kriteria acuan untuk validitas ini dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut:
46

Tabel 3.4 Interpretasi Validasi Soal oleh Para Ahli


Besarnya 𝜶 Interpretasi
0,80 ≤ |𝛼| < 1,00 Sangat Tinggi
0,60 ≤ |𝛼| < 0,80 Tinggi
0,40 ≤ |𝛼| < 0,60 Sedang
0,20 ≤ |𝛼| < 0,40 Rendah
|𝛼| < 0,20 Sangat Rendah
(Purwanto, 1992)
b. Uji Validitas

Sebuah instrumen tes dikatakan valid apabila telah mencapai tingkatan

ukur cukup, tinggi dan sangat tinggi yang ditentukan, maka dari itu instrumen

tes pada penelitian pengembangan ini divalidasi dengan menggunakan rumus

korelasi product moment sebagai berikut:

𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
𝑟𝑥𝑦 =
√(𝑁 ∑ 𝑋 2 − (𝑁 ∑ 𝑋)2 ) − (𝑁 ∑ 𝑌 2 − (𝑁 ∑ 𝑌)2 )

Keterangan : ∑ 𝑋 = jumlah skor seluruh siswa pada soal tersebut

∑ 𝑌 = jumlah skor total seluruh siswa testee

N = jumlah seluruh siswa

X = skor tiap siswa pada soal tersebut

Y = skor total tiap siswa

𝑟𝑥𝑦 = validitas

Kriteria acuan untuk validitas dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini

(Arikunto, 2012):

Tabel 3.5 Interpretasi Validitas oleh Siswa


Rentang Keterangan
0,80 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 1,00 Sangat Tinggi
0,60 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,80 Tinggi
0,40 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,60 Cukup
0,20 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,40 Rendah
47

0,00 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,20 Sangat Rendah


𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,00 Tidak Valid
Tiap butir soal pada instrumen akan digunakan apabila memenuhi

syarat dalam kategori sangat tinggi, tinggi, atau cukup. Namun, apabila butir

soal masuk dalam kategori rendah, sangat rendah, atau tidak valid maka butir

soal tersebut tidak digunakan atau mengalami tahap revisi.

c. Uji Reliabilitas

Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas tinggi apabila instrumen

tersebut memberikan hasil pengukuran secara konsisten. Hasil pengukuran

tersebut relatif serupa walaupun pengukurannya dilakukan dengan orang

yang berbeda dan di tempat yang berbeda (Irawati, 2016). Uji reliabilitas

digunakan rumus Kuder-Richardson 21, sebagai berikut:

𝑛 𝑀(𝑛 − 𝑀)
𝑟11 = ( )(1 − )
𝑛−1 𝑛𝑆𝑖 2

Keterangan : 𝑟11 = reliabilitas seluruh siswa

n = banyaknya soal

M = rata-rata skor soal

𝑆𝑖 2 = varians total

Perhitungan varians total atau biasa kita sebut dengan standar deviasi

kuadrat dengan menggunakan rumus:

(∑ 𝑋)2
∑ 𝑋2 −
𝑆𝑖 2 = 𝑁
𝑁

Keterangan : 𝑆𝑖 2 = varians total

N = banyaknya subjek pengikut tes

X = skor butir soal


48

Kriteria acuan interpretasi koefisien reliabilitas terdapat pada tabel 3.6

antara lain :

Tabel 0.6 Interpretasi Reliabilitas


Rentang Keterangan
0,80 < 𝑟11 ≤ 1,00 Sangat Tinggi
0,60 < 𝑟11 ≤ 0,80 Tinggi
0,40 < 𝑟11 ≤ 0,60 Cukup (Sedang)
0,20 < 𝑟11 ≤ 0,40 Rendah
−1,00 < 𝑟11 ≤ 0,20 Tidak Reliabel

Instrumen tes dikatakan reliabel apabila memenuhi syarat kategori

sangat tinggi, tinggi, atau cukup. Namun, apabila butir soal masuk dalam

kategori rendah, sangat rendah, atau tidak reliabel maka butir soal tersebut

tidak digunakan atau mengalami tahap revisi.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Bab ini menguraikan proses pengembangan, hasil pengembangan, dan

hasil analisis data pengembangan instrumen tes untuk mengukur kemampuan

penalaran aljabar siswa SMA pada materi program linier berdasarkan sistem

kognitif Marzano. Berikut prosedur pengembangan instrumen tes penalaran

aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano yang dikembangkan dan hasil

analisis data yang diperoleh.

a. Proses Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar

Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano

Pengembangan instrumen berupa tes uraian penalaran aljabar dalam

menyelesaikan soal program linier berdasarkan sistem kognitif Marzano.

Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan model Plomp dengan

empat fase. Fase-fase tersebut adalah fase investigasi awal, fase desain, fase

realisasi atau konstruksi, dan fase tes, evaluasi dan revisi. Berikut penjelasan

lebih detail pada masing-masing fase:

1) Fase Investigasi Awal (Preliminary Investigation)

Fase ini dimulai dengan mengumpulkan beberapa referensi yang

relevan dengan penelitian pengembangan, instrumen tes, penalaran aljabar,

sistem kognitif Marzano, dan program linier. Setelah mendapatkan referensi

kemudian langkah selanjutnya yaitu melakukan proses perizinan penelitian di

SMAN 7 Semarang dan Dinas Pendidikan Jawa Tengah.

49
50

Proses perizinan dimulai dari perizinan ke Dinas Pendidikan dan

Kebudayaan Jawa Tengah terlebih dahulu. Dinas Pendidikan dan

Kebudayaan Jawa Tengah mengeluarkan surat izin penelitian selang waktu

14 hari setelah surat masuk. Kemudian, melakukan tes swab antigen sebagai

syarat penelitian di SMAN 7 Semarang. Pertemuan awal bertemu dengan

wakil kepala sekolah bidang Kurikulum. Setelah persetujuan penelitian

diberikan kepada peneliti. Proses yang dilakukan selanjutnya adalah bertemu

guru matematika untuk melakukan analisis materi dan analisis siswa.

Analisis materi dilakukan oleh peneliti untuk memilih dan menyelaraskan

kompetensi dasar maupun indikator pencapaian kompetensi yang relevan

dengan penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif taksonomi Marzano.

Kompetensi dasar yang dipilih peneliti adalah menyelesaikan masalah

konstekstual yang berkaitan dengan program linier dua variabel. Sedangkan,

indikator pencapaian kompetensi yang dipilih adalah merancang dan

mengajukan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari berupa masalah

program linier. Kemudian, analisis siswa adalah proses menelaah

karakteristik siswa dalam memahami dan menyelesaikan masalah program

linier. Siswa ketika diberikan soal berupa uraian singkat dapat menjawab

dengan benar tanpa melalui proses kognitif ataupun penalaran, karena

jawabannya hanya satu interpretasi. Namun, ketika siswa diberikan masalah

program linier lainnya seperti soal cerita yang harus mengubah kalimat

menjadi persamaan matematika. Siswa belum terbiasa dengan proses jawaban

yang panjang dan sistematis. Hal itu juga selaras dengan ungkapan dari guru
51

matematika ketika peneliti bertemu di sekolah. Dengan begitu, peneliti

melakukan pra penelitian atau investigasi sebelum penelitian kepada subjek

penelitian.

Pra penelitian dilakukan untuk mengetahui proses penyelesaian

masalah program linier siswa. Peneliti memberikan empat butir soal uraian

pemecahan aljabar materi program linier. Soal tersebut diberikan kepada 9

siswa kelas XI yang menjadi subjek penelitian. Setelah melihat dan

menganlisis proses penyeelsaian masalah siswa. Ditemukan beberapa siswa

menjawab dengan proses penyelesaian baik dimulai pemodelan matematika,

mendeskripsikan fungsi kendala maupun fungsi objektif, lalu mencari titik

potong untuk membuat grafik, kemudian menentukan titik pojok untuk

disubstitusikan ke fungsi objektif, serta proses penarikan kesimpulan. Dengan

hasil pra penelitian tersebut. Peneliti menarik kesimpulan bahwa siswa dapat

menyelesaiakan pemecahan masalah aljabar. Bagaimana dengan masalah

penalaran aljabar pada materi program linier yang akan diujikan kepada

subjek penelitian. Akankah subjek dapat menyelesaikan masalah penalaran

aljabar dengan sistem kognitif taksonomi Marzano yang dimiliki.

Selain itu, belum ada inovasi tentang soal uraian masalah penalaran

aljabar yang dibuat maupun dikembangkan oleh guru matematika setempat.

Sehingga, perlunya pengembangan soal uraian materi program linier yang

dikembangkan peneliti untuk menunjang proses evaluasi terhadap siswa.

Sistem kognitif pada taksonomi Marzano terdiri dari empat sistem yaitu

penarikan kemabali pengetahuan, pemahaman, analisis dan pemanfaatan


52

pengetahuan. Peneliti memilih sistem kognitif pada level analisis yaitu

classifying, dan generalizing. Kognitif analisis dipilih sesuai referensi yang

diperoleh peneliti yang selaras dengan indikator penalaran aljabar Herbert

Brown. Setelah melakukan semua analisis dan proses perizinan, langkah

selanjutnya adalah fase desain.

2) Fase Desain

Fase investigasi awal menghasilkan analisis masalah yang menjadi

acuan peneliti mengembangkan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan

sistem kognitif Marzano pada proses analysis. Fase desain bertujuan untuk

merancang sebuah instrumen tes berbentuk soal uraian sebanayak satu butir

soal berdasarkan sistem kognitif Marzano (analisis). Proses awal pembuatan

instrumen tes diawali dengan penyusunan kisi-kisi dan karakteristik soal pada

tabel 4.1, kunci jawaban pada tabel 4.2, pedoman penilaian berdasarkan

metode rubrik holistic pada tabel 4.3.

Peneliti merancang satu butir soal instrumen tes berbentuk uraian. Kisi-

kisi dan karakteristik soal dirancang sesuai kompetensi dasar program linier

yaitu menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan program

linier dua variabel. Dan indikator pencapaian kompetensi program linier yaitu

merancang dan mengajukan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari

berupa masalah program linier. Kunci jawaban dirancang peneliti sesuai

proses dari indikator penalaran aljabar yang terdiri dari tiga proses yaitu,

pencarian pola, pengenalan pola dan generalisasi. Agar siswa menyelesaiakan

proses soal uraian perlunya sistem kognitif Marzano pada level analisis
53

(classifying dan generalizing) untuk memproses informasi yang dibutuhkan

siswa. Selain itu, peneliti merancang pedoman penilaian untuk

mempermudah peneliti, guru, ataupun peneliti lainnya dalam memberikan

nilai.

Pedoman yang digunakan peneliti adalah metode rubrik holistic. Rubrik

holistic digunakan peneliti untuk menilai jawaban siswa berdasarkan

keseluruhan kriteria indikator penalaran aljabar yang diberikan skala

penilaian 1 – 5 di setiap indikator. Berikut kisi-kisi dan karakteristik, lebih

jelasnya dapat dilihat pada lampiran 1, kunci jawaban pada lampiran 3 dan

pedoman penilaian instrumen tes yang dikembangkan peneliti pada lampiran

4, sebagai berikut:

Tabel 4.1 Kisi- kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem
Kognitif Analisis Marzano
Indikator Penalaran Sistem Kognitif Nomor
Soal
Aljabar Marzano Soal
- Fase Pencarian Pola: Seorang pedagang
Analysis
Masalah program ingin mengirim
linier pada soal barang dagangannya Classifying Dengan sistem
membuat siswa yang terdiri atas 1200 kognitif classifying
melakukan pencarian kursi lipat dan 1200 yang dimiliki siswa,
pola. meja lipat. Untuk dapat membawa
- Fase Pengenalan keperluan pengiriman siswa ke fase
Pola: Masalah barang, seorang pencarian pola
program linier pada pedagang akan Generalizing Dengan sistem
soal mengenalkan menyewa truk dan kognitif generalizing
siswa terhadap pola colt. Truk dapat Siswa dapat
dari fungsi objektif memuat 30 kursi dan menyimpulkan suatu
1
nilai minimum 60 meja. Sedangkan generalisasi baru
dengan batasan yang colt dapat memuat 40 pada fase generalisasi
sudah ditentukan. kursi dan 30 meja. yang telah diketahui
- Fase Generalisasi : Agar biaya sewa
masalah program minimum, berapa
linier pada soal jumlah truk dan colt
menghasilkan pola yang harus disewa.
baru yang kemudian Jika dikehendaki nilai
mendapatkan minimum berada pada
generalisasi baru titik A, D dan E pada
dengan prediksi yang gambar dengan
konsisten dan benar. menentukan fungsi
54

objektif 𝑓(𝑥, 𝑦) =
𝑎𝑥 +
𝑏𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎, 𝑏 ∈
𝑁 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠
𝑏 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 3 ≤
𝑎 ≤ 5 ,1 ≤ 𝑏 ≤ 5
adalah….

Tabel 4.2 Kunci Jawaban


Uraian Kunci Jawaban
Langkah 1 : Berdasarkan informasi yang diberikan pada soal, kita dapat membuat tabel sebagai
Pemodelan berikut :
Matematika Truk Colt Kapasit
Siswa dapat (x) (y) as
mengidentifikasi Kursi 30 40 1200
pertidaksamaan lipat
matematika yang Meja 60 30 1200
merupakan fungsi lipat
kendala dan fungsi
objektif. Dari tabel diatas, kita dapat menyusun sistem pertidaksamaan linier dimana x
banyaknya Truk dan y banyaknya Colt.
30𝑥 + 40𝑦 ≥ 1200
{60𝑥 + 30𝑦 ≥ 1200} merupakan fungsi kendala
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Disederhanakan menjadi :
3𝑥 + 4𝑦 ≥ 120
2𝑥 + 𝑦 ≥ 40
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Fungsi objektif :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎, 𝑏 ∈ 𝑁
𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛
3 ≤ 𝑎 ≤ 5 ,1 ≤ 𝑏 ≤ 5
Langkah 2 : Grafik Langkah selanjutnya kita menentukan daerah penyelesaian:
Penyelesaian

Terdapat tiga titik pojok yaitu titik A (40,0) , D (0,40) dan E (8,24). Titik E
merupakan titik potong kedua garis dan koordinatnya dicari menggunakan metode
eliminasi dan substitusi sebagai berikut :
3𝑥 + 4𝑦 = 120 × 1 3𝑥 + 4𝑦 = 120 … (1)
| |
2𝑥 + 𝑦 = 40 × 4 8𝑥 + 4𝑦 = 160 … (2)
3𝑥 + 4𝑦 = 120
8𝑥 + 4𝑦 = 160

55

−5𝑥 = −40
𝑥 =8
Kemudian nilai 𝑥 disubstitusikan ke pers (1) untuk mendapatkan nilai 𝑦 :
3𝑥 + 4𝑦 = 120
3.8 + 4𝑦 = 120
24 + 4𝑦 = 120
4𝑦 = 120 − 24
𝑦 = 96 ∶ 4
𝑦 = 24
∴ 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑝𝑜𝑡𝑜𝑛𝑔 𝐸 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ (8,24)
Langkah 3 : Setelah memperoleh titik pojok kita substitusikan ke fungsi objektif seperti tabel
Mencari Pola untuk dibawah ini:
Nilai (a,b)
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎
D (0,40) 40𝑏
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏

Karena 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 belum diketahui, maka langkah selanjutnya mencari nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏
yang sesuai dengan permasalahan di soal :
Syarat :
𝑎, 𝑏 ∈ 𝑁 , 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏
3≤𝑎≤5
1≤𝑏≤5
Proses Pencarian Pola :
Dengan syarat di atas dapat kita tentukan nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 dengan metode tabel
sebagai berikut :
𝑎⁄ 1 2 3 4 5
𝑏
1 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5)
2 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5)
3 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5)
4 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5)
5 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5)

Yang berwarna merah tidak memenuhi karena tidak memenuhi dalam persyaratan
pada soal, terdapat 25 pola, yang memenuhi syarat hanya 12 pola bentuk (𝑎, 𝑏).
Kemudian kita substitusikan ke fungsi objektif untuk menentukan nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5)
D (0,40) 40𝑏 40 40 40 40 40
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 40 80 120 160 200
A (40,0) 40𝑎 32 52 80 104 128

𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5)
D (0,40) 40𝑏 80 80 80 80 80
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 40 80 120 160 200
A (40,0) 40𝑎 40 64 88 112 136
56

𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A
40𝑎 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5)
(40,0)
D
40𝑏 120 120 120 120 120
(0,40)
E 8𝑎
40 80 120 160 200
(8,24) + 24𝑏
A
40𝑎 48 72 96 120 144
(40,0)

𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A
40𝑎 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5)
(40,0)
D 160 160 160 160
40𝑏 160
(0,40)
E 8𝑎
40 80 120 160 200
(8,24) + 24𝑏
A
40𝑎 56 80 104 128 152
(40,0)

𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A
40𝑎 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5)
(40,0)
D
40𝑏 200 200 200 200 200
(0,40)
E 8𝑎
40 80 120 160 200
(8,24) + 24𝑏
A
40𝑎 64 88 112 136 160
(40,0)

Langkah 4 : Terlihat :
Pengenalan Pola Proses Pengenalan Pola :
Siswa dapat Pada pola (3,2) menunjukan di titik E bernilai 72
menemukan pola Pada pola (4,3) menunjukan di titik E bernilai 104
fungsi objektif Pada pola (5,4) menunjukan di titik E bernilai 136
untuk diterapkan Dari ketiga pola di atas menunjukan nilai minimum pada masing fungsi objektif
pada permasalahan Untuk (3,2) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦
nilai minimum Untuk (4,3) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦
sesuai batas yang Untuk (5,4) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦
ditentukan. Terlihat dari pola ketiga fungsi objektif diatas maka dapat dibuat pola :
𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚,
𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 2
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 72 merupakan nilai
minimum. Jadi, agar sewa ongkos minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt
berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 104 merupakan nilai
minimum. Jadi, agar sewa ongkos minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt
berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 136 merupakan nilai
minimum. Jadi, agar sewa ongkos minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt
berjumlah 24.
Langkah 5 : Proses Generalisasi :
57

Generalisasi Dengan fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚


Siswa dapat Jika n = 6
menyimpulkan Maka , 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝟔𝒙 + 𝟓𝒚
generalisasi baru Dengan
yang telah Terbukti nilai minimum berada di titik E (8,24) dengan nilai 168
diketahui. Jadi, 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚 menjadi pola dimana n sebagai 𝑎 dan
(n − 1) sebagai b, sehingga 𝑎 > 𝑏.
Ketika pola fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚, dengan n > 2, maka dapat
dilihat bahwa
Nilai minimum terletak pada titik potong kedua garis yaitu E(8,24)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan bentuk fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 +


(𝒏 − 𝟏)𝒚 , ongkos sewa minimum terletak di titik E(8,24) yang merupakan titik
potong kedua fungsi kendala dimana seorang pedagang dapat menyewa 8 truk dan
24 colt agar ongkos sewa bernilai minimum.

Tabel 4.3 Pedoman Penilaian dengan Metode Rubrik Holistik


Aspek yang Skor
dinilai 1 2 3 4 5
Siswa dapat
menuliskan
Siswa dapat Siswa dapat
penyelesaian
Siswa hanya menuliskan menuliskan
pencarian pola
Tidak dapat menuliskan penyelesaian penyelesaian
dengan benar
Kemampuan menyelesaiakan penyelesaian pencarian pola pencarian pola
tanpa menulis
Pencarian proses pencarian pola dengan benar dengan benar dan
informasi yang
Pola pencarian pola tetapi masih ada tanpa menulis sistematis serta
diketahui dan
kesalahan informasi yang menuliskan informasi
hanya menulis
diketahui yang ada
jawaban yang
sesuai saja
Siswa dapat
Siswa dapat Siswa dapat
mengaitkan
Siswa hanya mengaitkan mengaitkan ketepatan
Tidak dapat ketepatan
Ketepatan mengaitkan ketepatan pengenalan pola yang
menyesuaiakan pengenalan pola
Pengenalan permasalahan pengenalan sesuai dan
pengenalan yang sesuai dan
Pola tetapi belum pola yang menerapkannya
pola penerapannya
sesuai sesuai tanpa fungsi lain secara
ke fungsi lain
menerapkannya tepat
belum sesuai
Siswa dapat
Siswa dapat menulis proses Siswa dapat
Siswa hanya dapat
Tidak dapat menulis proses generalisasi menuliskan proses
menulis proses
Penguasaan menyimpulkan generalisasi dengan benar generalisasi dengan
generalisasi tanpa
Generalisasi proses dengan benar dan sudah logis benar dan dapat
menyimpulkannya
generalisasi tetapi belum tetapi belum bisa mempertahankan
secara logis
logis mempertahankan prediksi secara logis
prediksi tersebut
58

3) Fase Realisasi atau Konstruksi

Setelah merancang desain semua instrumen pada fase sebelumnya.

Selanjutnya peneliti memasuki fase realisasi dan konstruksi, tujuan dari tahap

ini untuk menghasilkan draft 1 yang merupakan desain awal atau rancangan

awal. Hasil draft 1 kemudian diteliti kembali apakah sudah sesuai dengan tiga

karakteristik aspek instrumen yaitu: materi, konstruk dan bahasa yang dibuat

peneliti dapat dilihat pada tabel 3.3 bab 3, sehingga siap untuk diuji kevalidan

oleh para ahli.

4) Fase Tes, Evaluasi atau Revisi

Setelah melakukan fase realisasi dan konstruksi, peneliti masuk ke fase

tes, evaluasi dan revisi. Fase ini dilakukan dua proses kegiatan, yaitu (a)

validasi instrumen tes oleh para ahli dan (b) uji coba terbatas draft yang sudah

divalidasi oleh para ahli.

a. Validasi Instrumen Tes oleh Ahli

Sebelum digunakan secara luas, instrumen terlebih dahulu divalidasi

oleh para ahli, untuk mengetahui layak atau tidak layak instrumen tes

penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif Marzano. Kegiatan validasi

dilakukan dengan memberikan lembar validasi soal, karakteristik dan kisi-

kisi soal, lembar soal, kunci jawaban, dan pedoman penilaian kepada

validator. Validator terdiri dari dua dosen pendidikan matematika Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung Semarang

dan satu guru matematika SMAN 7 Semarang.

Dalam fase validasi, para validator memberikan penilaian terhadap 10


59

aspek yang mengacu pada instrumen tes yang telah dirancang (draft 1).

Lembar validasi dapat dilihat di lampiran 5 oleh validator satu, lampiran 6

oleh validator dua dan lampiran 7 oleh validator tiga. Validator memberikan

beberapa saran dan kesimpulan apakah instrumen dapat digunakan, instrumen

dapat digunakan dengan revisi atau instrumen tidak dapat digunakan.

Penilaian validator dapat dilihat di tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4 Hasil Validasi Instrumen Tes oleh Para Ahli

Rata – rata validasi Jumlah


Aspek yang rata – Rata-rata
dinilai rata keseluruhan
V1 V2 V3 validasi
Aspek Materi 4,75 4,5 5 14,25 4,75
Aspek
4 4 5 13 4,3
Konstruk
Aspek Bahasa 4,25 4,75 5 14 4,6

Berdasarkan tabel 4.4 diatas, terlihat rata-rata validasi semua validator

pada aspek materi menunjukan nilai 4,75 artinya soal uraian yang akan diuji

cobakan kepada subjek penelitian memiliki kriteria baik dalam hal materi.

Pada aspek konstruk terlihat rata-rata seluruh validator 4,3 artinya soal uraian

yang dikembangkan berkriteria baik dalah hal konstruksi kalimat tanya dan

kunci jawaban. Aspek bahasa memiliki hasil rata-rata seluruh validator 4,6

artinya kriteria bahasa yang digunakan dalam soal uraian menggunakan

bahasa yang baik tanpa menggunakan bahasa daerah setempat.

b. Uji Coba Terbatas oleh Siswa

Soal yang telah direvisi diuji cobakan terhadap siswa kelas XI SMAN

7 Semarang yang terdiri dari 9 siswa. Karena kegiatan uji coba secara daring

melalui WA Grup, soal diberikan melalui grup dengan softfile PDF. Waktu
60

pengerjaan soal 120 menit, setelah selesai mengerjakan siswa mengisi

presensi di google form yang telah dibuat peneliti. Jawaban siswa

dikumpulkan dengan bentuk PDF untuk memudahkan peneliti dalam menilai.

Siswa uji coba dipilih secara acak. Pelaksanaan uji coba tes dilakukan

pada hari Jum’at, 24 September 2021 pukul 14.00 sampai 16.00 melalui WA

Grup yang dibuatkan guru matematika. Namun, yang mengikuti pelaksanaan

uji coba tersebut adalah 6 siswa. Untuk siswa yang belum mengikuti uji coba

tes pada hari tersebut dialihkan di hari Sabtu, 25 September 2021 pada pukul

08.00 sampai 10.00. Data jawaban siswa dari uji coba terbatas kemudian

dianalisis untuk mengetahui tingkat kemampuan penalaran aljabar

berdasarakan sistem kognitif pada Taksonomi Marzano level Analisis. Hasil

jawaban siswa dinilai sesuai pedoman penilain yang telah dibuat kemudian

dianalisis isi soal ,uji validitas soal dan uji reliabilitas soal.

b. Hasil Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan

Sistem Kognitif Marzano

1) Analisis dan Uji Validasi Isi Soal oleh Para Ahli

Uji validasi isi soal menggunakan rumus 𝛼. Hasil penilaian aspek oleh

ahli kemudian diuji validasi untuk menentukan kriteria kevalidan dan kualitas

instrumen yang dikembangkan peneliti. para ahli yang terlibat yaitu dua

dosen pendidiknmatematika dan satu guru matematika SMAN 7 Semarang.

Hasil uji validasi soal dilihat pada tabel 4.5 berikut:


61

Tabel 4.5 Hasil Uji Validasi Soal oleh Para Ahli


Jumlah aspek Jumlah
Nilai
penilaian Validator skor Nilai 𝜶 Kriteria
|𝜶|
penilaian
10 V1 44
Sangat
10 V2 45 -0,90 0,9
Tinggi
10 V3 50
Rata – rata
46,33
skor penilaian

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan rata-rata skor 46,33 dari sepuluh

aspek penilain yang artinya instrumen masuk dalam kategori baik sesuai skala

penilaian pada lembar validasi. Selanjutnya, hasil nilai |𝛼| adalah 0,9 artinya

soal bernilai valid dengan kriteria sangat tinggi dan draft 1 perlu revisi. Revisi

ini dilakukan berdasarkan saran dan kritik dari validator. Berikut adalah saran

dari validator pada tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6 Uraian Revisi Instrumen Tes


No Draft yang direvisi Sebelum revisi Sesudah Revisi
1. Kisi-kisi tes direvisi oleh Terdapat empat Terdapat satu komponen
- Validator 1 komponen sistem sistem kognitif yaitu
- Validator 2 kognitif Marzano analisis dengan dua level
(penarikan (classifying, generalizing)
kembali
pengetahuan,
pemahaman,
analisis dan
pemanfaatan
kembai)
Direvisi oleh Validator 2 Letak judul kolom Letak kolom berubah
dari kiri ke kanan menjadi
- Indikator - Kompetensi
penalaran aljabar dasar
- Sistem - IPK
kognitif Marzano - Indikator
- Indikator penalaran aljabar
soal - Indikator soal
- Nomor - Sistem kognitif
soal Marzano
- Nomor soal
Direvisi oleh Validator 3 Salah penulisan variabel
variable
2 Soal direvisi oleh Di soal tidak ada Menjadi ada grafik
- Validator 1 grafik dengan titik-titik
- Validator 3 pojoknya
Direvisi oleh Validator 2 2 x 45 menit 2 x 60 menit
62

3 Kunci jawaban direvisi oleh Belum adanya Terdapat kesimpulan


- Validator 1 penarikan
- Validator 2 kesimpulan di
akhir
4 Pedoman penilaian direvisi Berupa nilai paten Berupa metode rubrik
oleh Validator 1 holistik

2) Uji Validitas Soal

Hasil uji validitas soal jawaban siswa dan skor yang diperoleh siswa

dijelaskan pada tabel 4.7 berikut :

Tabel 4.7 Hasil Perolehan Uji Validitas oleh Para Siswa

Hasil Skor (X)


Kode Jumlah skor
No Pencarian pola Pengenalan pola Generalisasi
siswa (Y)
(a) (b) (c)
1 A1 3 3 2 8
2 A2 2 2 2 6
3 A3 3 2 1 6
4 A4 2 2 1 5
5 A5 2 2 1 5
6 A6 3 2 2 7
7 A7 3 2 2 7
8 A8 2 2 1 5
9 A9 3 2 1 6
Jumlah
23 19 13
skor ∑ 𝑿
Jumlah seluruh skor ∑ 𝒀 55
𝑟𝑥𝑦 0,78 0,67 0,80
Rata-rata 𝒓𝒙𝒚 0,75
Kriteria Tinggi
kevalidan

Berdasarkan validitas product moment pada tabel 4.7 dihasilkan nilai

rata-rata validitas 0,75 masuk dalam rentang 0,60 < 𝑟𝑥𝑦 ≤ 0,80 dengan

kriteria tinggi. Jadi, pengembangan instrumen tes penalaran aljabar

berdasarkan sistem kognitif Marzano pada materi program linier dapat

disimpulkan memiliki interpretasi kevalidan yang tinggi untuk

diimplementasikan ke skala besar. Artinya soal uraian yang dikembangkan

menunjukan ketepatan terhadap indikator penalaran aljabar yang tinggi


63

sehingga bisa diujikan secara skala besar.

3) Uji Reliabilitas

Hasil uji reliabilitas soal terhadap jawaban siswa dan skor yang

diperoleh siswa dijelaskan pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas oleh Para Siswa

Hasil Skor
Nama Jumlah
No Pencarian Pengenalan pola Generalisasi
siswa skor (Y)
pola (X) (X) (X)
1 A1 3 3 2 8
2 A2 2 2 2 6
3 A3 3 2 1 6
4 A4 2 2 1 5
5 A5 2 2 1 5
6 A6 3 2 2 7
7 A7 3 2 2 7
8 A8 2 2 1 5
9 A9 3 2 1 6
Rata-rata 6,1
2,6 2,1 1,4
skor
𝑺𝒊𝟐 0,99
𝒓𝟏𝟏 0,60
Kriteria Cukup
reliabel

Berdasarkan perhitungan uji reliabilitas menurut rumus Kuder

Richardson 21 dihasilkan varians total 0,99 tertulis pada tabel 4.7. Uji

reliabilitas diperoleh nilai 0,60 masuk rentang 0,40 < 𝑟11 ≤ 0,60. Artinya,

instrumen tes yang dikembangkan memiliki kriteria cukup reliabel. Jadi,

pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif

Taksonomi Marzano level analisis pada materi program linier memiliki

kriteria reliabel (ketetapan) yang cukup untuk digunakan ke skala besar.

Dengan begitu, soal uraian yang dikembangkan telah memenuhi syarat

menjadi instrumen tes yang reliabel atau konsistensi yang cukup.


64

4.2 Pembahasan

a. Proses Pengembangan Instrumen Tes Penalaran Aljabar berdasarkan

Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano Materi Program Linier

Proses pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan

sistem kognitif pada Taksonomi Marzano materi program linier SMA telah

melalui serangkaian fase pengembangan Plomp mulai dari fase investigasi

awal, desain, realisasi/konstruksi sampai fase tes, evaluasi dan revisi sehingga

menghasilkan sebuah produk. Sejalan dengan pendapat Sugiyono

berpendapat bahwa metode penelitian dan pengembangan merupakan metode

penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu

(Sugiyono, 2011). Produk tersebut adalah instrumen tes penalaran aljabar

siswa berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi Marzano komponen

analisis (classifying dan generalizing) materi program linier. Tes yang akan

diujicobakan kepada subjek masuk dalam kategori tes kemampuan. Sudijono

(2009) berpendapat bahwa tes kemampuan merupakan tes yang dilakukan

peneliti untuk mengungkapkan suatu kemampuan dasar atau kemampuan

lainnya yang dimiliki siswa. Instrumen tes yang dikembangkan peneliti telah

memenuhi ciri-ciri tes yang baik yaitu memenuhi uji validitas dan uji

reliabilitas. Hal tersebut sesuai pendapat Arikunto bahwa tes yang baik harus

memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, dan reliabilitas,

(Arikunto, 2011). Berikut penjelasan pembahasan pada setiap fase

pengembangan:

1) Fase Investigasi Awal


65

Pada fase investigasi awal ditemukan bahwa siswa yang menjadi subjek

penelitian 9 siswa kelas XI MIPA SMAN 7 Semarang belum pernah

menyelesaiakan soal uraian tentang penalaran aljabar. Hal tersebut dibuktikan

sendiri oleh peneliti bahwa guru matematika pada sekolah tersebut belum

pernah membuat soal seperti yang dikembangkan peneliti. Guru matematika

condong memberikan soal pemecahan aljabar saja. Dari keadaan tersbeut,

peneliti telah melakukan pra penelitian dengan memberikan soal pemecahan

aljabar dengan tujuan mengetahui sampai mana proses penyelesaian program

linier yang telah diketahui siswa. Setelah selesai proses pengerjaan soal

pemecahan aljabar yang diberikan peneliti, soal tersebut dapat dilihat di

lampiran 18. Berdasarkan hasil pengerjaan oleh ke-9 siswa, terdapat lima

siswa yang mengerjakan dengan benar dengan langkah-langkah penyelesaian

sesuai yang diajarkan oleh guru matematikanya dari proses pemodelan, grafik

sampai kesimpulan. Keempat siswa yang lainnya mengerjakan dengan

langkah-langkah yang sesuai tetapi jawaban tidak benar karena ada beberapa

salah perhitungan. Adapun kendala yang dihadapi peneliti pada fase

investigasi awal adalah proses analisis materi yang dipilih harus seirama

dengan ketiga indikator penalaran aljabar. Selain itu, proses perizinan juga

merupakan kendala, dimana harus melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Jawa Tengah serta peneliti akan diberikan surat izin penelitian dengan

melampirkan bukti swab antigen negatif Covid-19. Proses penantian surat

izin adalah 14 hari, hal itu juga memperlambat peneliti untuk bisa segera

menyelesaiakan skripsi.
66

2) Fase Desain

Setelah mendapatkan informasi pada fase sebelumnya. Peneliti

langsung merangkai instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem

kognitif pada taksonomi Marzano materi program linier. Peneliti hanya

mengembangkan satu butir soal uraian yang didalamnya terdapat tiga induk

pertanyaan dapat dilihat di lampiran 2. Mengapa hanya satu butir soal?

Karena di dalam satu butir soal yang dikembangkan sudah ada tiga induk

pertanyaan masing-masing pada indikator penalaran aljabar (pencarian pola,

pengenalan pola dan generalisasi). Dengan begitu, satu soal uraian dengan

tiga induk pertanyaan sudah sesuai yang diinginkan peneliti. Sesuai

komponen sistem kognitif pada taksonomi Marzano, peneliti mengacu pada

sistem kognitif analysis yang di dalamnya ada classifying dan generalizing.

Classifying atau mengklasifikasikan dipilih sesuai dengan hasil jawaban

instrumen tes penalaran aljabar dapat dilihat pada lampiran 3 bahwa terdapat

proses klasifikasi fungsi objektif untuk mencari nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 yang sesuai

interval yang ditentukan. Struktur kognitif generalizing dipilih sesuai dengan

fase pada indikator penalaran aljabar yaitu terdapat fase generalisasi yaitu

menyimpulkan suatu generalisasi baru dari pengetahuan yang telah diketahui

sebelumnya. Serangkaian desain awal atau draft 1 yang berisi instrumen tes,

kunci jawaban dan kisi-kisi karakteristik instrumen telah selesai

dikembangkan, kemudian membuat pedoman penilain berdasarkan rubrik

holistik. Rubrik holistic merupakan cara menilai secara keseluruhan semua

jawaban dengan mengacu beberapa kriteria. Draft awal dilanjutkan ke fase


67

berikutnya.

3) Fase Realisasi/Konstruksi

Draft awal dicek kembali oleh peneliti, sudahkah sesuai dengan aspek

penilaian (aspek materi, aspek konstruk dan aspek bahasa). Ketiga aspek

tersebut tertuang di lembar validasi yang dibuat oleh peneliti untuk diberikan

kepada validator sebagai proses penilaian validator terhadap draft awal yang

dikembangkan. Setelah semua draft awal sesuai dengan ketiga aspek maka

proses selanjutnya yang penelitia lalui adalah realisasi. Draft awal

direalisasikan kepada tiga validator yaitu dosen pembimbing 1, dosen

pembimbing 2 dan guru matematika kelas XI SMAN 7 Semarang. Realisasi

pertama dilakukan peneliti kepada validator pertama yaitu dosen pembimbing

1 secara online kemudian menyusul dosen pembimbing 2 secara offline di

ruang LPPM dan yang terakhir guru matematika secara offline di ruang guru.

Hasil lembar validasi kemudian dianalisis oleh peneliti pada fase selanjutnya.

4) Fase Tes, Evaluasi dan Revisi

Langkah awal yang dilakukan pada fase ini yaitu analisis uji validasi

hasil penilaian yang dilakukan oleh para validator terhadap lembar validasi

ahli pada fase sebelumnya. Hasil uji validasi oleh ahli menyatakan nilai

|𝛼| adalah 0,90. Sesuai interpretasi pada tabel 3.4 nilai 0,90 masuk pada

rentang 0,80 ≤ |𝛼| < 1,00. Jadi, dapat disimpulkan bahwa draft awal yang

dikembangkan peneliti masuk interpretasi sangat tinggi ketepatannya

sehingga instrumen tersebut secara benar telah mengukur kemampuan

penalaran aljabar subjek berdasarkan sistem kognitif (Classifying dan


68

Generalizing) pada taksonomi Marzano. Hal tersebut sesuai dengan pendapat

Sudijono bahwa sebuah instrumen dikatakan valid apabila instrumen tes

tersebut dengan tepat, benar atau secara absah telah dapat mengukur apa yang

seharusnya diukur (Sudijono, 2009). Sedangkan, untuk penilaian pada lembar

validasi dituliskan pada tabel 4.4. berdasarkan tabel 4.4 bahwa validator 1

memberikan penilaian dengan rata-rata 4,75 dari 4 aspek penilaian materi,

nilai rata-rata 4 dari 2 aspek penilaian konstruk, 4,25 dari 4 aspek penilaian

bahasa. Dari ketiga aspek tersebut dijumlahkan akan menghasilkan rata-rata

4,4. Nilai 4,4 ditinjau dari skala penilaian lembar validasi masuk pada

kategori baik. Validator 2 memberikan penilaian dengan rata-rata 4,5 dari 4

aspek penilaian materi, nilai rata-rata 4 dari 2 aspek penilaian konstruk, 4,75

dari 4 aspek penilaian bahasa. Dari ketiga aspek tersebut dijumlahkan akan

menghasilkan rata-rata 4,5. Nilai 4,5 ditinjau dari skala penilaian lembar

validasi masuk pada kategori baik. Terakhir, penilaian validasi ahli oleh

validator 3 memberikan penilaian dengan rata-rata 5 dari 4 aspek penilaian

materi, nilai rata-rata 5 dari 2 aspek penilaian konstruk, 5 dari 4 aspek

penilaian bahasa. Dari ketiga aspek tersebut dijumlahkan akan menghasilkan

rata-rata 5. Nilai 5 ditinjau dari skala penilaian lembar validasi masuk pada

kategori sangat baik.

Langkah kedua, setelah draft awal valid dan masuk ke skala baik.

Selanjutnya yaitu instrumen tes diujicoba secara terbatas oleh siswa

berjumlah 9 siswa kelas XI SMAN 7 Semarang. Proses ujicoba terbatas

dibantu oleh guru matematika dalam pembuatan grup WA. Selama proses
69

ujicoba terbatas terdapat beberapa kendala antara lain: (a) ada beberapa siswa

yang tidak bisa melakukan penelitian pada hari yang sudah ditentukan. Jadi

peneliti membuat jadwal kedua untuk siswa susulan, (2) keterbatasan

komunikasi antara peneliti dan siswa yang hanya melalui WA Grup, terdapat

siswa yang menanyakan mengenai urutan-urutan proses pengisian jawaban

melalui personal chat, (3) keterlambatan pengumpulan melalui google form

juga dilakukan oleh beberapa siswa.

Langkah ketiga, setelah proses ujicoba terbatas oleh 9 siswa.

Kemudian, hasil jawaban dari ke-9 siswa tersebut dinilai oleh siswa

berdasarkan pedoman. Hasil penilaian instrumen tes dapat dilihat secara jelas

di lampiran 13. Peneliti melangsungkan uji valilditas terhadap hasil

pengerjaan siswa. Peneliti menggunakan bantuan Excel dalam proses

perhitungan uji validitas 𝑟𝑥𝑦 . Media Microsoft excel dipilih oleh peneliti

karena dianggap lebih mudah dan fleksibel tanpa harus mempelajari lagi

formulanya dibandingkan dengan aplikasi hitung lainnya. Perolehan pada uji

validitas dijelaskan pada tabel 4.7. Nilai 𝑟𝑥𝑦 pada sub a yaitu 0,78, pada sub

b yaitu 0,67 dan pada sub c yaitu 0,80. Dari ketiga nilai 𝑟𝑥𝑦 dihitung rata-rata

yaitu 0,75. Jadi, dapat disimpulkan bahwa instrumen tes mendapat rata-rata

nilai 𝑟𝑥𝑦 0,75 sehingga masuk dalam interpretasi kevalidan atau ketepatan

yang tinggi untuk direalisasikan atau diimplementasikan ke siswa dengan

skala besar.

Langkah keempat yaitu peneliti melakukan proses perhitungan uji

reliabilitas dengan bantuan excel. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel
70

4.8. Proses perhitungan melalui excel dapat dilihat di lampiran 15 secara jelas.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada lampiran 15 dimana n adalah jumlah

soal yang terdiri dari 3 sub soal menghasilkan nilai 𝑟11 0,60. Nilai tersebut

masuk dalam interval 0,40 < 𝑟11 ≤ 0,60. Jadi, dapat disimpulkan bahwa

instrumen tes yang dikembangkan peneliti menghasilkan nilai ketetapan 0,60

dengan kriteria cukup tetap atau cukup konsisten untuk direalisasikan atau

diimplementasikan ke siswa dengan skala besar.

Sesuai dengan gambar 3.1 pada rancangan penelitian pengembangan,

setelah proses analisis data dan menghasilkan nilai valid serta reliabel sesuai

harapan peneliti maka draft awal (draft 1) telah selesai melewati proses

pengembangan dengan baik dan hasil penelitian pengembangan ini adalah

draft awal yaitu instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif

analysis (classifying dan generalizing) pada taksonomi Marzano materi

program linier pada Kompetensi Dasar 4.2 dan Indikator Pencapaian

Kompetensi 4.2.1 yang dapat dilihat pada lampiran 1.

Berdasarkan pemabahasan tersebut, peneliti menganalisis dan juga

mendeskripsiskan hasil jawaban siswa pada instrumen penalaran aljabar

terhadap proses kognitif analisis pada tingkatan classifying dan generalizing.

Sistem kognitif analisis membuat siswa menggunakan pengetahuan atau

informasi agar menemukan generalisasi baru. Hal tersebut sejalan dengan

Pribadi bahwa siswa dapat menggunakan wawasan yang mereka pelajari

untuk menghasilkan wawasan baru dan menemukan berbagai cara dalam

berbagai situasi baru (Pribadi, 2016). Berikut penjelasan pada subjek yang
71

dipilih peneliti untuk diuraikan jawabannya pada setiap indikator penalaran

aljabar:

a. Subjek A1 pada Subsoal a Kemampuan Pencarian Pola dengan

Menggunakan Proses Kognitif Classifying

Dari ke-9 subjek penelitian terdapat 5 siswa yang mendapatkan skor 3

pada sub soal a (kemampuan pencarian pola), artinya siswa tersebut dapat

menuliskan penyelesaian pencarian pola dengan benar tetapi tidak

menyimpulkan pola sesuai batasan yang ditentukan. Berikut penjelasan

pengerjaan pada kemampuan pencarian pola pada gambar 4.1:

Gambar 4.1 Kemampuan Pencarian Pola oleh Subjek A1


Beradasarkan hasil jawaban siswa A1 pada gambar 4.1, dibalik jawaban

tersebut terdapat interaksi secara virtual melalui grup WA pada saat uji coba.

Beberapa siswa menanyakan proses pencarian fungsi objektif. Peneliti

memberikan arahan kognitif penyelesaiannya dengan mengklasifikasikan

menggunakan metode tabel. Siswa yang mendapatkan skor 3 disimpulkan

bahwa kemampuan penalaran aljabar siswa pada fase pencarian pola berhasil

masuk dalam kategori level analisis classifying, dimana siswa dalam

menyelesaikan soal program linier yang diberikan peneliti sudah bisa


72

membedakan ataupun mendefinisikan fungsi kendala dan fungsi objektif

serta mampu mencari pola pada fungsi objektif. Subjek A1 telah mencapai

penggunaan kognitif untuk mencari sebuah pola fungsi objektif. Dari situasi

tersebut, subjek A1 mengambil informasi dari kondisi yang diketahui pada

soal untuk disajikan dalam tabel. Sesuai dengan pendapat Herbert & Brown

bahwa “algebraic thinking is using mathematical symbols and tools to

analyze different situations is extracting information from a situation”

(Herbert & Brown, 2000). Artinya, penalaran aljabar berkaitan erat dengan

penggunaan simbol untuk mengekstrak suatu informasi.

b. Subjek A8 pada Subsoal a Kemampuan Pencarian Pola dengan

Menggunakan Proses Kognitif Classifying

Subjek penelitian yang lain mendapatkan skor 2, dimana hanya

menuliskan proses pencarian pola tetapi masih ada kesalahan perhitungan.

Berikut hasil pekerjaan dengan skor 2 pada gambar 4.2:

Gambar 4.2 Hasil Jawaban oleh Subjek A8


Berdasarkan hasil jawaban subjek penelitian yang mendapatkan skor 2

terlihat tidak adanya persamaan fungsi objektif, siswa tersebut langsung

menjawab tetapi ada kesalahan dimana tidak ada pola (3,3) pada

penyelesaian.
73

c. Subjek A8 pada Subsoal b Ketepatan Pengenalan Pola dengan

Menggunakan Proses Kognitif Classifying

Subjek A8 mewakili siswa dengan fase pengenalan pola yang

mendapatkan skor 2. Artinya siswa sudah bisa mengaitkan ketepatan pola

yang sesuai dengan mengidentifikasi fungsi objektif pada pola yang sesuai

batasan tetapi belum bisa menerapkan pola tersebut ke proses membuat aturan

baru. Berikut hasil pekerjaan siswa pada fase pengenalan pola pada gambar

4.3:

Gambar 4.3 Hasil Jawaban terhadap Pengenalan Pola Subjek A8


Berdasarkan hasil pekerjaan salah satu subjek penelitian, siswa sudah

dapat mengenalkan pola baru sesuai variabel (a,b). Tetapi siswa belum bisa

menerapkan ataupun menyimpulkan hasil persamaan masuk dalam titik A, D,

atau E.

d. Subjek A6 pada Subsoal c Penguasaan Generalisasi dengan

Menggunakan Proses Kognitif Generalizing

Kemudian, untuk penguasaan generalisasi dari 9 subjek hanya tiga yang

mendapat skor 2 diantaranya subjek A6, artinya subjek bisa menulis proses

generalisasi walaupun prediksi pola fungsi objektif yang disimpulkan belum

logis. Berikut hasil pekerjaan siswa pada gambar 4.4:


74

Gambar 4.4 Hasil Pekerjaan oleh Subjek A1 pada Fase Generalisasi


Banyak hambatan yang dilalui siswa dalam proses generalisasi, mulai

dari mempertanyakan maksud generalisasi kepada peneliti, lalu melakukan

personal chat kepada peneliti untuk dijelaskan secara detail. Dari beberapa

proses generalisasi, dapat disimpulkan terdapat tiga siswa (subjek A1, A6 dan

A7) memiliki penguasaan generalisasi yang cukup pada masalah penalaran

aljabar program linier dimana dapat dilihat di lampiran 13 bahwa jumlah

perolehan nilai mereka dengan angka 8,7 dan 7, sehingga siswa tersebut telah

sampai pada level analisis generalizing dengan skor 2. Artinya ketiga subjek

masih kategori cukup walau hanya dapat menuliskan generalisasi baru tanpa

menyimpulkan secara logis. Suatu proses generalisasi dikatakan baik apabila

siswa sampai membentuk kesimpulan dan pengetahuan yang baru sehingga

membuat kesimpulan aturan prinsip baru. Sejalan dengan Wulandari (2014),

yang juga menuliskan dalam tesisnya bahwa proses generalisasi adalah

kegiatan menyimpulkan generalisasi baru secara logis dari pengetahuan yang

telah diketahui. Sedangkan keenam siswa lainnya (subjek A2,A3,A4,A5,A8

dan A9) mendapatkan skor satu artinya siswa tidak dapat melakukan proses

generalisasi baru dengan benar dan tidak dapat menyimpulkannya secara

logis.
75

Marzano (2000) membuat taksonomi baru salah satunya sistem kognitif

analisis yang terdiri dari lima tingkatan yaitu mencocokan,

mengklasifikasikan, menganalisis kesalahan, menggeneralisasi, dan

memprdiksi. Berikut penjelasan mengenai keseluruhan sistem kognitif

analisis pada taksonomi Marzano pada tabel 4.9:

Tabel 4.9 Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano


No Sistem Kognitif Tingkatan Keterangan
Marzano
1 Analisis (Analysis) Mencocokkan Mencocokan melibatkan identifikasi
(Matching) perbedaan dan persamaan informasi
yang diperoleh.
Mengklasifikasikan Mengklasifikasikan membutuhkan
(Classifying) pengorganisasian pengetahuan ke
dalam kategori yang bermakna.
Pengklasifikasian melibatkan
identifikasi definisi, superordinate
(kategori atas) dan subordinat
(kategori bawah).
Menganalisis kesalahan Menganalisis kesalahan melibatkan
(Analyzing Errors) akurasi, kewajaran dan logika
pengetahuan.
Menggeneralisasi Generalisasi merupakan proses
(Generalizing) membangun suatu yang baru atau
menyimpulkan dari pengetahuan yang
sudah diketahui. Generalisasi
melibatkan pemeriksaan dalam
berbagai kasus untuk mengidentifikasi
kesamaan yang penting.
Menentukan/memprediksi Menentukan atau memprediksi adalah
(Specifying/Predicting) menarik kesimpulan tentang situasi
atau informasi baru.

Berdasarkan tabel 4.9, bahwa tingkatan analisis yang digunakan

peneliti hanya mengacu pada Classifying dan Generalizing. Sesuai

keterangan pada tabel 4.9 dan proses hasil penyelesaian siswa disimpulkan

bahwa soal uraian masalah program linier yang dikembangkan peneliti

memiliki ciri khas yang terletak pada ke-3 indikator penalaran aljabar

(pencarian pola, pengenalan pola dan generalisasi). Fase pencarian pola dan
76

pengenalan pola menggunakan kognitif analisis Classifying dan fase

generalisasi menggunakan analisis Generalizing. Dari ke-9 siswa kelas XI

MIPA SMAN 7 Semarang yang menjadi subjek penelitian terdapat tiga siswa

yang mampu menyelesaiakan seluruh fase penalaran aljabar dengan cukup

baik. Berikut kesimpulan indikator penalaran aljabar berdasarakan sistem

kognitif analisis Classifying dan Generalizing terhadap jawaban siswa yang

dijelaskan pada tabel 4.10:

Tabel 4.10 Kesimpulan Indikator Penalaran Aljabar Siswa berdasarkan Sistem Kognitif
Analisis
Indikator Kode Siswa Sistem
Penalaran Kognitif
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9
Aljabar Analisis
Pencarian
3 2 3 2 2 3 3 2 3
Pola
Classifying
Pengenalan
3 2 2 2 2 2 2 2 2
Pola
Generalisasi 2 2 1 1 1 2 2 1 1 Generalizing
Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Baik Cukup Cukup
BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pengembangan

instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan sistem kognitif pada taksonomi

Marzano materi program linier disimpulkan sebagai berikut:

1. Proses pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berdasarkan

sistem kognitif Marzano mengacu pada materi program linier telah

melalui proses pengembangan dari model Plomp yang telah peneliti

modifikasi hanya menjadi empat fase yaitu fase investigasi awal, fase

desain, fase realisasi/konstruksi, dan fase tes, evaluasi dan revisi.

2. Hasil pengembangan instrumen tes penalaran aljabar berupa satu butir

soal uraian dengan tiga sub soal materi program linier berdasarkan

sistem kognitif taksonomi Marzano pada level analisis (classifying dan

generalizing) yang valid dan reliabel.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil pengembangan yang diperoleh dari penelitian ini,

terdapat beberapa saran sebagai berikut:

1. Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penalaran

aljabar dan juga melatih sistem kognitif level analisis pada materi

program linier.

2. Bagi guru matematika, sebagai alternatif untuk mengembangkan ide-

ide, kreativitas, atau inovasi baru pada pembuatan soal untuk mealtih

77
78

kemampuan penalaran aljabar siswa SMA sehingga membantu guru

dapat mengingat materi-materi secara luas.

3. Bagi peneliti lain, diharapkan ada implementasi berskala besar yang

dilakukan agar kevalidan dan tingkat reliabel dapat diketahui secara

luas. Dan juga sebagai motivasi bagi para peneliti lain untuk

mengembangkan instrumen tes penalaran aljabar yang memuat semua

komponen sistem kognitif Marzano


79

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, R. D. (2016). Kemampuan Penalaran Matematika Mahasiswa Melalui


Pendekatan Problem Solving. Jurnal Pedagogia, 5(2), 179–188.
[Link]

Aké, Lilia; Godino, Juan D; Gonzato, Marguerita; Wlihelmi, M. (2013). Proto-


algebraic levels of mathematical thinking. Conference of the International
Group for the Psychology of Mathematics Education - PME, August 2016, 1–
8.

Andriani, P. (2015). Penalaran Aljabar Dalam Pembelajaran Matematika. Beta :


Jurnal Tadris Matematika, 8(1), 1–13.

Arikunto, S. (2011). Penilaian & Penelitian Bidang Bimbingan dan Konseling. In


Yogyakarta: Aditya Media.

Arikunto, S. (2012). Prosedur Penelitian (Edisi 2). Jakarta: Bumi Aksara.

Basir, M. A. (2017). Pengembangan Instrumen Tes Kemampuan Penalaran


Matematis Berdasarkan Sistem Kognitif pada Taksonomi Marzano (Issue
31401405447, pp. 1–37).

Blanton, M. L., & Kaput, J. J. (2011). Functional Thinking as a Route Into Algebra
in the Elementary Grades. [Link]

Cai, J., & Knuth, E. J. (2005). Introduction: The development of students’ algebraic
thinking in earlier grades from curricular, instructional and learning
perspectives. In ZDM - International Journal on Mathematics Education.
[Link]

Depdiknas. (2008). DEPDIKNAS. In Panduan Pengembangan Bahan Ajar.

Dinarti, S., & Qomariyah, O. N. (2019). Kemampuan Generalisasi Pola Siswa


Berdasarkan Taksonomi Marzano (pp. 177–197).
[Link]
80

Faragher, L., & Huijser, H. (2014). Exploring evidence of higher order thinking
skills in the writing of first year undergraduates. The International Journal of
the First Year in Higher Education, 5(2).
[Link]

Fortuna, W. A. . (2018). Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar


Matematika Berbasis Taksonomi Marzano. UIN Sunan Ampel.

Godino, J. D., Neto, T., Wilhelmi, M., Aké, L. P., Etchegaray, S., & Lasa, A.
(2015). Levels of algebraic reasoning in primary and secondary education.
CERME 9:Congress of European Research in Mathematics Education -
CERME,[Link]://[Link]/CERME9/public/[Link]

Hadi, W. (2016). Meningkatkan Kemampuan Penalaran Siswa SMP Melalui


Pembelajaran Discovery dengan Pendekatan Saintifik ( Studi Kuasi
Eksperimen di Salah Satu SMP Jakarta Barat ). Jurnal Pendidikan
Matematika, I(1), 93–108.

Hashemi, N., Salleh, M., Kashefi, H., & Rahimi, K. (2013). Generalization in the
Learning of Mathematics. International Seminar on Quality and Affordable
Education (ISQAE 2013).

Irawati, T. N. (2016). Pengembangan Paket Tes Kemampuan Penalaran


Proposional Siswa SMP. Universitas Jember.

Istinaro, U., & Setianingsih, R. (2019). Profil Penalaran Aljabar Siswa SMA yang
Memiliki Kecerdasan Linguistik dan Logis-Matematis dalam Memecahkan
Masalah Matematika. MATHEdunesa.
[Link]

Kaput, J. J., Carraher, D. W., & Blanton, M. L. (2008). ALGEBRA in the Early
Grades.

Karp, J. A. V. D. W. K. S., & Bay-Williams, J. M. (2013). Elementary and Middle


School Mathematics Teaching Developmentally. In Journal of Chemical
Information and Modeling.
81

Kemendikbud. (2016). Permendikbud Tahun 2016 No. 021 tentang Standar Isi
Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lew, H. (2004). Developing Algebraic Thinking in Early Grades : Case Study of


Korean Elementary School Mathematics 1. 8(1), 88–106.

Marzano, R. J. (2000). Designing a new taxonomy of educational objectives.


Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

National Council Of Teachers Of Mathematics. (2000). Principles and Standards


for School Mathematics. School Science and Mathematics.

Nuraini, L., Sujadi, I., & Subanti, S. (2016). Penalaran Aljabar Siswa Kelas VII
SMP Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati Dalam Pemecahan Masalah
Matematika Tahun Pelajaran2014/2015. Jurnal Elektronik Pembelajaran
Matematika, 4(6), 674–683. [Link]

Ontario Ministry of Education. (2013). Paying attention to Fractions Support


Document for Paying Attention to Mathematics Education.
[Link]
A[Link]
://[Link]/eng/literacynumeracy/[Link]

Pamungkas, Y., & Afriansyah, E. A. (2017). Aptitude Treatment Interaction


Terhadap Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan
Raden Fatah, 122–130.

Plomp, Tj. 1997. Educational Design: Introduction. From Tjeerd Plomp (eds).
Educational & Training System Design: Introduction. Design of Education
and Training (in Dutch). Utrecht (the Netherlands): Lemma. Netherland.
Faculty of Educational Science and Technology, University of Twente.

Pribadi, D. P. (2016). Integrasi Marâtib Qirâ’ah Al-Qur’an Dengan Taksonomi


Marzano Sebagai Dasar Perumusan Tujuan Pembelajaran Dan Penerapannya
Dalam Pembelajaran Matematika. UIN Sunan Ampel.

Radford, L. (2010). Elementary forms of algebraic thinking in young students.


82

Proceedings of the 34th Conference of the International Group for the


Psychology of Mathematics Education.

Ratu, M. D. C., & Halim, F. A. (2016). Penalaran Aljabar melalui Pengamatan Pola
untuk Siswa Kelas VII. Prosiding Seminar Nasional Matematika IX 2015,
585–590.

Rittle, J. B., & Star, J. (2020). The power of comparison in leaning and instruction:
Learning outcomes supported by different types of comparisons. Journal of
Instructional Pedagogies, 24(June).

Rochmad. (2012). Desain Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran


Matematika. Kreano: Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, 3(1), 59–72.
[Link]

Rudin, M. A., & Budiarto, M. T. (2019). Penalaran Aljabar Siswa Dalam


Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari Kecemasan Matematika.
MATHEdunesa, 8(2).

Sadikin, & Herutomo, R. A. (2018). Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif


Tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Penalaran Aljabar Siswa SMA. 1(1), 124–
132. [Link]

Sudijono, Anas. (2009). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian dan Pengembangan Pendekatan Kualitatif,


Kuantitatif, dan R&D. Metode Penelitian Dan Pengembangan Pendekatan
Kualitatif, Kuantitatif, Dan R&D.

Sumarto. (2006). Konsep Dasar Berpikir : Pengantar Ke Arah Berpikir Ilmiah (pp.
1–20). Fakultas Ekonomi, Universitas Pembenagunan Nasional Veteran.

Surajiyo. (2008). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Bumi Aksara.

Twohill, A. (2013). Algebraic reasoning in primary school: developing a


framework of growth points. 33(June), 55–60.
83

Utari, R. (2016). Taksonomi Bloom Apa dan Bagaimana Menggunakannya?


Freshwater Biology. [Link]

Wilson, L. O. (2016). Anderson and Krathwohl – Bloom’s taxonomy revised. The


Second Principle.

Windsor, W. (2010). Algebraic Thinking : A Problem Solving Approach.


Proceedings of the 33rd Annual Conference of the Mathematics Education
Research Group of Australasia, 33, 665–672. [Link]
[Link]/bitstream/handle/10072/36557/67823_1.pdf?seque
nce=1&isAllowed=y.

Wulandari, Y. O. (2014). Proses Berpikir Aljabar Siswa Berdasarkan Taksonomi


Marzano. Tesis. Universitas Negeri Malang.
84

Lampiran 1. Kisi – kisi dan Karakteristik Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano
KISI – KISI DAN KARAKTERISTIK
INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF MARZANO PADA PROGRAM
LINIER SISWA SMA

Jenjang Pendidikan : SMA Jumlah Soal : 1 butir


Mata Pelajaran : Matematika
Jenis Soal : Uraian
Kelas/Semester : XI/Ganjil
Materi : Program Linier Alokasi Waktu : 2 x 60 menit

Indiakator
Kompetensi Indikator Nomor
Pencapaian Indikator Soal Sistem Kognitif Marzano
Dasar Penalaran Aljabar Soal
Kompetensi
4.2 Menyelesaikan 4.2.1 Merancang Diberikan soal cerita
masalah dan mengajukan tentang permasalahan
kontekstual yang masalah nyata seorang pedagang,
berkaitan dengan dalam kehidupan - Fase Pencarian siswa dapat
program linier dua sehari-hari berupa Pola menentukan biaya
variabel. masalah program - Fase sewa minimum di Analysis
linier. Pengenalan titik A,D atau E 1
Pola dengan fungsi
- Fase objektif berpola
Generalisasi 𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 +
𝑏𝑦, 𝑎 ≠ 𝑏.
85

Classifying Siswa
mengidentifikasi
kategori fungsi
kendala dan
fungsi objektif
serta batasannya
Generalizing Siswa dapat
menyimpulkan
suatu
generalisasi
baru yang telah
diketahui
86

Lampiran 2. Lembar Instrumen Tes Penalaran Aljabar Berdasarkan Sistem Kognitif Marzano
LEMBAR INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR BERDASARKAN
SISTEM KOGNITIF MARZANO PADA PROGRAM LINIER SISWA SMA

Bentuk Soal : Uraian


Jumlah Soal :1
Materi : Program Linier
Kelas/Semester : XI/Ganjil
Waktu : 120 menit

1. Seorang pedagang ingin mengirim barang dagangannya yang terdiri atas


1200 kursi lipat dan 1200 meja lipat. Untuk keperluan pengiriman barang,
seorang pedagang akan menyewa truk dan colt. Truk dapat memuat 30 kursi
dan 60 meja. Sedangkan colt dapat memuat 40 kursi dan 30 meja. Jika
dikehendaki nilai minimum berada pada titik A, D dan E pada gambar
dengan menentukan fungsi objektif 𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎, 𝑏 ∈
𝑁 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 3 ≤ 𝑎 ≤ 5 , 1 ≤ 𝑏 ≤ 5. Berapa jumlah
truk dan colt yang harus disewa agar biaya sewa minimum melalui tiga
proses berikut:
a. Tentukan langkah-langkah proses pencarian pola fungsi objektif
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦?
b. Jelaskan langkah-langkah proses pengenalan pola setelah mengetahui
pola 𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦?
c. Tulislah penarikan kesimpulan, kemudian tentukan proses generalisasi?
87

Lampiran 3. Kunci Jawaban Instrumen Tes Penalaran Aljabar


KUNCI JAWABAN
INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF (ANALISIS) MARZANO
PADA MATERI PROGRAM LINIER
No Kunci Jawaban
1 Jawaban :
Berdasarkan informasi yang diberikan pada soal, kita dapat membuat tabel sebagai berikut :
Truk (x) Colt (y) Kapasitas
Kursi lipat 30 40 1200
Meja lipat 60 30 1200

Dari tabel diatas, kita dapat menyusun sistem pertidaksamaan linier dimana x banyaknya Truk dan y banyaknya Colt.
30𝑥 + 40𝑦 ≥ 1200
{60𝑥 + 30𝑦 ≥ 1200} merupakan fungsi kendala
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Disederhanakan menjadi :
3𝑥 + 4𝑦 ≥ 120
2𝑥 + 𝑦 ≥ 40
𝑥 ≥ 0, 𝑦 ≥ 0
Langkah selanjutnya kita menentukan daerah penyelesaian :
88

Terdapat tiga titik pojok yaitu titik A (40,0) , D (0,40) dan E (8,24). Titik E merupakan titik potong kedua garis dan
koordinatnya dicari menggunakan metode eliminasi dan substitusi sebagai berikut :
3𝑥 + 4𝑦 = 120 × 1 3𝑥 + 4𝑦 = 120 … (1)
| |
2𝑥 + 𝑦 = 40 × 4 8𝑥 + 4𝑦 = 160 … (2)

3𝑥 + 4𝑦 = 120
8𝑥 + 4𝑦 = 160

−5𝑥 = −40
𝑥 =8
Kemudian nilai 𝑥 disubstitusikan ke pers (1) untuk mendapatkan nilai 𝑦 :
3𝑥 + 4𝑦 = 120
3.8 + 4𝑦 = 120
24 + 4𝑦 = 120
89

4𝑦 = 120 − 24
𝑦 = 96 ∶ 4
𝑦 = 24
∴ 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑝𝑜𝑡𝑜𝑛𝑔 𝐸 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ (8,24)
Setelah memperoleh titik pojok kita substitusikan ke fungsi objektif seperti tabel dibawah ini:

𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
A (40,0) 40𝑎
D (0,40) 40𝑏
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏

Karena 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 belum diketahui, maka langkah selanjutnya mencari nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 yang sesuai dengan permasalahan di
soal :
Syarat :
𝑎, 𝑏 ∈ 𝑁 , 𝑑𝑎𝑛 𝑎 ≠ 𝑏
3≤𝑎≤5
1≤𝑏≤5
Proses Pencarian Pola :
Dengan syarat di atas dapat kita tentukan nilai 𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 dengan metode tabel sebagai berikut :
𝑎 1 2 3 4 5
𝑏
1 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5)
2 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5)
3 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5)
90

4 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5)


5 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5)

Yang berwarna merah tidak memenuhi karena tidak memenuhi dalam persyaratan pada soal, terdapat 25 pola, yang
memenuhi syarat hanya 12 pola bentuk (𝑎, 𝑏). Kemudian kita substitusikan ke fungsi objektif untuk menentukan nilai
𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑏 :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦
(1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5) (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5) (3,1) (3,2)
A (40,0) 40𝑎 40 40 40 40 40 80 80 80 80 80 120 120
D (0,40) 40𝑏 40 80 120 160 200 40 80 120 160 200 40 80
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 32 52 80 104 128 40 64 88 112 136 48 72

(3,3) (3,4) (3,5) (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5) (5,1) (5,2) (5,3) (5,4)
A (40,0) 40𝑎 120 120 120 160 160 160 160 160 200 200 200 200
D (0,40) 40𝑏 120 160 200 40 80 120 160 200 40 80 120 160
E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 96 120 144 56 80 104 128 152 64 88 112 136

(5,5)
A (40,0) 40𝑎 200
D (0,40) 40𝑏 200
91

E (8,24) 8𝑎 + 24𝑏 160


Terlihat :
Proses Pengenalan Pola :
Pada pola (3,2) menunjukan di titik E bernilai 72
Pada pola (4,3) menunjukan di titik E bernilai 104
Pada pola (5,4) menunjukan di titik E bernilai 136
Dari ketiga pola di atas menunjukan nilai minimum pada masing fungsi objektif
Untuk (3,2) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦
Untuk (4,3) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦
Untuk (5,4) maka 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦
Terlihat dari pola ketiga fungsi objektif diatas maka dapat dibuat pola :
𝑓(𝑥, 𝑦) = 𝑛𝑥 + (𝑛 − 1)𝑦, 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 2
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 3𝑥 + 2𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 72 merupakan nilai minimum. Jadi, agar sewa ongkos
minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 4𝑥 + 3𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 104 merupakan nilai minimum. Jadi, agar sewa ongkos
minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt berjumlah 24.
Ketika 𝑓(𝑥, 𝑦) = 5𝑥 + 4𝑦 dengan koordinat (8,24) bernilai 136 merupakan nilai minimum. Jadi, agar sewa ongkos
minimum maka jumlah truk adalah 8 dan colt berjumlah 24.
Proses Generalisasi :
Dengan fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚
Jika n = 6
Maka , 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝟔𝒙 + 𝟓𝒚
Dengan
Terbukti nilai minimum berada di titik E (8,24) dengan nilai 168
Jadi, 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚 menjadi pola dimana n sebagai 𝑎 dan
(n − 1) sebagai b, sehingga 𝑎 > 𝑏.
Ketika pola fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚, dengan n > 2, maka dapat dilihat bahwa
92

Nilai minimum terletak pada titik potong kedua garis yaitu E(8,24)
Kesimpulan :
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan bentuk fungsi objektif 𝒇(𝒙, 𝒚) = 𝒏𝒙 + (𝒏 − 𝟏)𝒚 , ongkos sewa minimum
terletak di titik E(8,24) yang merupakan titik potong kedua fungsi kendala dimana seorang pedagang dapat menyewa 8
truk dan 24 colt agar ongkos sewa bernilai minimum.
93

Lampiran 4. Pedoman Penilaian


LEMBAR PENILAIAN INSTRUMEN PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF MARZANO PADA MATERI
PROGRAM LINIER SMA

Skor
Aspek yang
dinilai
1 2 3 4 5
Siswa dapat
Siswa dapat
Siswa dapat menuliskan
menuliskan
Siswa menuliskan penyelesaian
Tidak penyelesaian
hanya penyelesaia pencarian pola
dapat pencarian
menuliskan n pencarian dengan benar
menyelesa pola dengan
Kemampuan penyelesaia pola dengan tanpa menulis
iakan benar dan
Pencarian n pencarian benar tanpa informasi yang
proses sistematis
Pola pola tetapi menulis diketahui dan
pencarian serta
masih ada informasi hanya menulis
pola menuliskan
kesalahan yang jawaban yang
informasi
diketahui sesuai saja
yang ada
Siswa dapat Siswa dapat
Siswa dapat
Siswa mengaitkan mengaitkan
Tidak mengaitkan
hanya ketepatan ketepatan
dapat ketepatan
Ketepatan mengaitkan pengenalan pengenalan
menyesuai pengenalan
Pengenalan permasalaha pola yang pola yang
akan pola yang
Pola n tetapi sesuai dan sesuai dan
pengenala sesuai tanpa
belum penerapannya menerapkann
n pola menerapkan
sesuai ke fungsi lain ya fungsi lain
nya
belum sesuai secara tepat
Siswa dapat
Siswa Siswa dapat
menulis proses
Tidak hanya dapat Siswa dapat menuliskan
generalisasi
dapat menulis menulis proses
dengan benar
menyimpu proses proses generalisasi
Penguasaan dan sudah
lkan generalisasi generalisasi dengan benar
Generalisasi logis tetapi
proses tanpa dengan dan dapat
belum bisa
generalisa menyimpul benar tetapi mempertahan
mempertahank
si kannya belum logis kan prediksi
an prediksi
secara logis secara logis
tersebut
94

Lampiran 5. Lembar Validasi Soal oleh Validator 1

LEMBAR VALIDASI SOAL


A. Petunjuk :
Berilah tanda (✓) pada kolom penilaian yang sesuai dengan penilaian
Bapak/Ibu terhadap instrumen tes penalaran aljabar berupa soal uraian
(terlampir) dengan skala penilaian sebagai berikut :
1 : Tidak Baik
2 : Kurang Baik
3 : Ragu-ragu
4 : Baik
5 : Sangat Baik

Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar
1. ✓
materi program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran
2. ✓
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem
3. ✓
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat
4. ✓
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada
1. ✓
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian ✓
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan
1. ✓
mudah dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat ✓
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
3. ✓
dan benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan
4. ✓
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
95

B. Saran atau Simpulan Validator


Mohon untuk kriteria cukup baik diganti dengan ragu-ragu.
C. Kesimpulan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan dengan revisi ✓
Instrumen tes penalaran aljabar tidak dapat digunakan

Semarang, 19 September 2021


Validator 1

Mochamad Abdul Basir, [Link].


NIK. 211312009
96

Lampiran 6. Lembar Validasi Soal oleh Validator 2


LEMBAR VALIDASI SOAL
A. Petunjuk :
Berilah tanda (✓) pada kolom penilaian yang sesuai dengan penilaian
Bapak/Ibu terhadap instrumen tes penalaran aljabar berupa soal uraian
(terlampir) dengan skala penilaian sebagai berikut :
1 : Tidak Baik
2 : Kurang Baik
3 : Ragu-ragu
4 : Baik
5 : Sangat Baik

Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar
1. ✓
materi program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran
2. ✓
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem
3. ✓
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat
4. ✓
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada
1. ✓
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian ✓
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan
1. ✓
mudah dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat ✓
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
3. ✓
dan benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan
4. ✓
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
97

B. Saran atau Simpulan Validator


Mohon untuk diuji cobakan ke satu siswa.
C. Kesimpulan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan dengan revisi ✓
Instrumen tes penalaran aljabar tidak dapat digunakan

Semarang, 19 September 2021


Validator 2

Dyana Wijayanti,[Link].,Ph.D
NIK. 211312003
98

Lampiran 7. Lembar Validasi Soal oleh Validator 3


LEMBAR VALIDASI SOAL
A. Petunjuk :
Berilah tanda (✓) pada kolom penilaian yang sesuai dengan penilaian
Bapak/Ibu terhadap instrumen tes penalaran aljabar berupa soal uraian
(terlampir) dengan skala penilaian sebagai berikut :
1 : Tidak Baik
2 : Kurang Baik
3 : Ragu-ragu
4 : Baik
5 : Sangat Baik

Skor
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
A. Materi
Kesesuaian soal dengan kompetensi dasar
1. ✓
materi program linier
Kesesuaian soal terhadap indikator penalaran ✓
2.
aljabar
Kesesuaian soal tes dengan karakteristik sistem ✓
3.
kognitif taksonomi Marzano
Setiap soal mengacu pada jawaban yang tepat ✓
4.
sesuai prosedur penyelesaian program linier
B. Konstruk
Menggunakan kata tanya yang mengacu pada ✓
1.
jawaban uraian
2. Terdapat pedoman penilaian ✓
C. Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan komunikatif dan ✓
1.
mudah dimengerti
2. Tidak menggunakan bahasa daerah setempat ✓
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik ✓
3.
dan benar
Kalimat pada butir soal tidak menggunakan ✓
4.
ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda
99

B. Saran atau Simpulan Validator


Tambahkan pedoman penilaian yang sesuai analisis jawaban.
C. Kesimpulan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan
Instrumen tes penalaran aljabar dapat digunakan dengan revisi ✓
Instrumen tes penalaran aljabar tidak dapat digunakan

Semarang, 19 September 2021


Validator 3

Phaksi Nirwana, [Link]., Gr.


NIP. -
100

Lampiran 8. Hasil Jawaban Siswa


KUTIPAN HASIL JAWABAN SISWA DI SMAN 7 SEMARANG
TERHADAP INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF MARZANO
1. Pemodelan Matematika dan Penggambaran Grafik
101
102

2. Kemampuan Mencari Pola


103

3. Kemampuan Pengenalan Pola

4. Kemampuan Generalisasi dan Penarikan Kesimpulan


104
105

Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian Bersama Guru Matematika


FOTO BERSAMA DENGAN GURU MATEMATIKA SMAN 7
SEMARANG SAAT PROSES VALIDASI OLEH AHLI
106

Lampiran 10. Bukti Penelitian Melalui WA Grup


PROSES UJI COBA KE SISWA KELAS XI MIPA MELALUI WA GRUP
DI SMAN 7 SEMARANG
107

Lampiran 11. Surat Balasan dari SMAN 7 Semarang


SURAT KETERANGAN TELAH MELAKUKAN PENELITIAN
DI SMAN 7 SEMARANG
108

Lampiran 12. Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
SURAT IZIN PENELITIAN DI SMAN 7 SEMARANG
OLEH DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAN JAWA TENGAH
109

Lampiran 13. Hasil Penilain Siswa


HASIL PENILAIAN INSTRUMEN TES PENALARAN ALJABAR
BERDASARKAN SISTEM KOGNITIF PADA TAKSONOMI MARZANO
MATERI PROGRAM LINIER
Kode S1 (X) Jumlah
Nama Siswa
Siswa FP FPP FG (Y)
Allya Maulida A1 3 3 2 8
Amelinda Nola
A2 2 2 2 6
Devina Putri
Joselin Maharani A3 3 2 1 6
Muhammad Zikra
A4 2 2 1 5
Erlangga
Nabila Almadina
A5 2 2 1 5
Mayya Ramadhani
Nabila Masya Aurelia A6 3 2 2 7
Najwa Reinandya
A7 3 2 2 7
Putri
Nayla Nur Fathiyya A8 2 2 1 5
Zaimatul Habibah A9 3 2 1 6
110

Lampiran 14. Hasil Uji Validitas oleh Siswa


HASIL UJI VALIDITAS TERHADAP PENYELESAIAN SISWA
S1 (X)
Kode Siswa JML (Y)
FP FPP FG
A1 3 3 2 8
A2 2 2 2 6
A3 3 2 1 6
A4 2 2 1 5
A5 2 2 1 5
A6 3 2 2 7
A7 3 2 2 7
A8 2 2 1 5
A9 3 2 1 6
∑X 23 19 13
∑Y 55
∑X² 61 41 21
∑Y² 345
(∑X)² 529 361 169
(∑Y)² 3025
∑XY 144 118 83
N 9 9 9
N∑XY 1296 1062 747
N∑X² 549 369 189
N∑Y² 3105
∑X ∑Y 1265 1045 715
N∑XY-∑X ∑Y 31 17 32
N∑X²-(∑X)² 20 8 20
N∑Y²-(∑Y)² 80
rxy 0,78 0,67 0,80
Rata-rata rxy 0,75
Kriteria Tinggi Tinggi Tinggi
111

Lampiran 15. Hasil Uji Reliabilitas


HASIL UJI RELIABILITAS TERHADAP PENYELESAIAN SISWA

∑XY X1 X2 X3

A1 24 24 16
A2 12 12 12
A3 18 12 6
A4 10 10 5
A5 10 10 5
A6 21 14 14
A7 21 14 14
A8 10 10 5
A9 18 12 6
144 118 83

Reliabel
Varian 0,25 0,10 0,25
∑Varian 0,59
Varian
0,99
Total
N 3
R11 0,60
Kriteria Tinggi
112

Lampiran 16. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 1


KEGIATAN BIMBINGAN SKRIPSI
DOSEN PEMBIMBING 1
Nama Pembimbing 1 : Mochammad Abdul Basir,[Link]
Tanggal BAB Uraian Paraf Pembimbing
24 Januari 2021 SOP - Melengkapi
Judul identitas dan nama
Dosen Pembimbing
31 Januari 2021 Judul - ACC Judul
- Lanjut membuat
proposal
07 April 2021 Bab 1-3 - Cover cek panduan
- Latar belakang
berisi kondisi subjek
penelitian, Penalaran
aljabar, taksonomi
Marzano, program
linier dan
pengembangan
Plomp
- Rumusan masalah :
penulisan berbasis
diubah menjadi
berdasarkan.
- Tujuan penelitian
ditambahkan kata
“valid dan reliabel”
- 20 butir tes menjadi
4 butir saja sesuai
kognitif Marzano.
- Spesifikasi produk
dihapus
- Tambahkan teori
tentang penalaran
aljabar
- Pengertian validitas
dan reliabilitas
diletakan di bab 3
bukan bab 2.
- Spasi pada tabel 1
- Kerangka berpikir
dijelaskan
113

28 Juni 2021 Bab 1-3 - Seminar Proposal


- Subbab tidak perlu
ditulis
- Menunjukan nilai
PISA Indonesia
- Bukan indicator
tetapi tingkatan
penalaran aljabar
menurut Towhill
- Bagaimana hasil
belajar program
linier di sma negeri
7?
- Judul didalam latar
belakang tidak perlu
ditulis kapital semua
- Tambahkan
referensi, satu sub
bab lazimnya
minimal 2 halaman
pada sub bab
pembelajaran
matematika
- Lebih baik diuraikan
model
pengembangan
Plomp di tinjauan
Pustaka
- Fokus pembahasan
sesuai dengan
metode pengambilan
data pada sub bab
instrumen tes
- Gunakan referensi
ilmiah lainnya
mengenai pengertian
instrumen
- Perlu disetting ulang
tabel 2.4
- Saran untuk
indikator penalaran
aljabar diubah
menurut Herbert
brown saja
- Tambahan pada
penulisan saran,
114

untuk peneliti
selanjutnya
diharapkan
menganalisis
menurut pelevelan
Godino.
30 Juli 2021 Bab 1-3 - ACC Proposal

12 Agustus Lembar - Indikator Penalaran


2021 Instrume aljabar tidak muncul
n dalam instrumen tes.
- Apa yang dimaksud
dengan generalisasi?
- Bagaimana letak
perbedaan antara tes
pemecahan masalah
dengan tes penalaran
aljabar?
- Proses penalaran apa
yang muncul dalam
instrumen tes?
- Lebih baik gunakan
kalimat aktif bukan
kalimat perintah
- Cek kembali
jawabannya!
Dengan informasi
yang ada penjahit
juga dapat mebuat 2
gamis dan 1 rok, dst
- Tidak realistic,
jumlah perumahan
harusnya bilngan
bulat
07 September Instrume - Instrumen yang
2021 n Tes dikembangkan
peneliti belum
sesuai indikator
penalaran aljabar
- Belum ada proses
generalisasi ide
matematika
- Membuat contoh
soal yang lain
115

13 September Instrume - soal belum


2021 n Tes memenuhi, ambil
sistem kognitif
Marzano level
analisis
- satu soal analisis
dengan uraian
panjang
10 Agustus Lembar - Penulisan cukup
2021 Validasi diubah menjadi
ragu-ragu
- Terdapat tiga pilihan
pada kesimpulan
26 Oktober Bab 4-5 - Perubahan judul
2021 sebelumnya
“Pengembangan
Instrumen Tes
Penalaran Aljabar
Berdasarkan Sistem
Kognitif Marzano
pada Program Linier
Siswa SMA”
berubah menjadi
“Pengembangan
Instrumen Tes
Penalaran Aljabar
Berdasarkan Sistem
Kognitif Pada
Taksonomi Marzano
Materi Program
Linier”
- Cek Panduan untuk
penulisan cover
skripsi
- Tulisan “Waka”
ditulis
kepanjangannya
- Diharapkan tidak
ada kolom sisa
- Apakah satu soal
pengembangan
memuat semua
sistem kognitif
Marzano?
- Tabel 4.2 bisa
disajikan Portrait
116

- Pada pembahasan,
tambahkan
keterkaitan antara
indikator penalaran
aljabar dengan
tahapan kognitif
pada taksonomi
Marzano.
- Kesimpulan
disesuaikan dengan
banyaknya rumusan
masalah pada baba
1.
- Lembar persetujuan
pembimbing cek
panduan .
08 November Bab 1-5 - Lembar pengesahan
2021 dihapus disertakan
setelah siding
- Motto dikaitkan
dengan tema
penelitian dalam
kehidupan
- Pada abstrak spasi 1
dan maksimal satu
halaman
- Cek spelling
“classifiying”
03 Desember Sari - Tambahkan abstrak
2021 dalam Bahasa
Inggris
117

Lampiran 17. Kegiatan Bimbingan Dosen Pembimbing 2


KEGIATAN BIMBINGAN SKRIPSI
DOSEN PEMBIMBING 2
118
119

Lampiran 18. Soal Pemecahan Aljabar Materi Program Linier


LEMBAR SOAL PEMECAHAN ALJABAR MATERI PROGRAM LINIER
SISWA SMA

Bentuk Soal : Uraian


Jumlah Soal :4
Materi : Program Linier
Kelas/Semester : XI/Ganjil
Waktu : 120 menit

1. Seorang pedagang sembako membeli dua kebutuhan pokok sehari-hari


di pasar yaitu beras dan gula pasir. Pedagang tersebut membawa mobil
pick up untuk mengangkut barang dengan maksimal kapasitas 2100 kg.
Harga beli beras Rp 10.000,00/kg dan harga beli gula pasir Rp
12.500,00/kg. Jika pedagang sembako tersebut memiliki modal Rp
1.500.000,00 untuk membeli barang dagangannya. Buatlah model
matematika dari permasalahan tersebut!

2. Pak Ali ingin membuat kue ulang tahun dengan 2 macam kue dengan
perpaduan dua macam varian rasa yaitu selai cokelat dan selai
strawberry. Kue I memerlukan 10 gr selai cokelat dan 15 gr selai
strawberry. Sedangkan, kue II memerlukan 20 gr selai cokelat dan 5 gr
selai strawberry. Persediaan selai cokelat sebanyak 200 gr dan selai
strawberry sebanyak 120 gr. Pak Ali menjual kue I seharga Rp
150.000,00 dan kue II seharga Rp 85.000,00. Buatlah model matematika
dari masalah di atas , kemudian gambarlah grafik model matematikanya!

3. Bu Munawaroh adalah seorang penjahit khusus pakaian perempuan.


Beliau membutuhkan 3 meter kain katun dan 2 meter kain wolfis untuk
membuat satu buah gamis. Selain itu, bu Munawaroh juga membuat satu
buah rok hanya membutuhkan 2 meter kain katun dan 1 meter kain
wolfis. Jika bu Munawaroh mempunyai stok 15 meter kain katun dan 10
meter kain wolfis. Berapakah banyak gamis dan rok yang dapat dibuat
oleh Bu Munawaroh!

4. Sebuah pekarangan tanah akan dibangun perumahan dengan Tipe 27


dan Tipe 36. Luas pekarangan tersebut adalah 20.000 𝑚2 . Rumah tipe
27 memerlukan tanah seluas 75 𝑚2 dan rumah tipe 36 memerlukan
tanah seluas 120 𝑚2 . Jumlah rumah yang akan dibangun paling banyak
250 unit. Jika keuntungan rumah tipe 27 adalah Rp 5.000.000,00/unit
dan tipe 36 adalah Rp 8.000.000,00/unit, maka keuntungan maksimum
yang akan diperoleh adalah!

Anda mungkin juga menyukai