MANAJEMEN PEMERINTAHAN
DI
S
U
S
U
N
OLEH :
SHEILA VANIA
SAFIRA
MUNJIATUL ANAMI
JULIA HUMAIRA
PEMBIMBING : RICKY MULIAWAN HANSYAR, M.A.P
YAYASAN PEMBANGUNAN KAMPUS JABAL GHAFUR
ILMU ADMINISTRASI NEGARA
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“MANAJEMEN PEMERINTAHAN” dengan sebaik-baiknya. Adapun tujuan
penulisan ini untuk menuntaskan tugas mata pelajaran.
Penulis menyadari, dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan
kekurangan. Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan
pengalaman yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran. Demi perbaikan dan kesempurnaan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua
Sigli, 01 Mei 2021
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3
A. Pengertian Pemerintah Daerah ...................................................... 3
B. Konsep POSD (Planning,Organizing,Staffing,Directing)........... 3
C. Penyelenggara Pemerintahan Daerah ............................................ 4
D. Hak-Hak dan Kewajiban Pemerintahan Daerah ............................ 5
E. Urusan Pemerintahan Daerah ........................................................ 7
F. Sistem Manajemen Pemda ............................................................. 8
G. Penerapan POSD (Planning,Organizing,Staffing,Directing) ......... 9
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 22
A. Kesimpulan ................................................................................... 22
B. Saran .............................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 24
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bicara tentang Pemerintahan Daerah berati kita bicara mengenai
Desentralisasi. Sebagai negara yang Demokratis, Indonesia termasuk kepada
negara yang telah menjalankan sistem ini. Desentralisasi merupakan solusi yang
baik dalam menjalankan pemerintahan yang demokratis. Desentralisasi yang
memberikan peranan yang lebih bermakna terhadap otonomi daerah yaitu kepada
pemerintah daerah sekarang ini merupakan penekanan perubahan paradigma dalam
tata kepemerintahan yang baik. Oleh karena itu desentralisasi kewenangan
pemerintah tersebut mutlak perlu dilakukan agar terwujudnya harmonisasi
hubungan antara pemerintah daerah dan pusat.
Kelembagaan organisasi pemerintah baik di pusat maupun di daerah saat ini
menurut saya belum dianalisis secara serius mengenai efektifitas & ketetapan
eksistensinya. Pemda ditenggarai jarang mau melakukan rasionalisasi antara
pegawai yang dibutuhkan dengan jumlah organisasi perangkat yang ada.
Pengaturan pemerintahan pusat masih dirasakan begitu besar sehingga dapat
mengurangi upaya pelaksanaan desentralisasi yang demokratis. Begitu juga halnya
dengan proses recruitment pejabat di daerah masih banyak diwarnai oleh aspirasi
politik praktis dari pimpinan politik yang menjadi kepala daerah, demikian pula
promosi jabatan & PNS di pemerintah daerah (PEMDA). Oleh karena itu
pendidikan politik kepada rakyat tidak hanya menjadi tugas pokok pemerintah akan
tetapi juga tugas pokok parpol2 tempat rakyat menjadi konstituennya, agar rakyat
dapat belajar untuk lebih sportif dalam menanggapi kehidupan berpolitik.
1
Untuk itu diharapkan agar pemda untuk dapat benar-benar menerapkan
fungsi-fungsi manajemen dengan baik agar semua dapat berjalan dengan baik dan
untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
B. Rumusan masalah
”Bagaimana pemda menerapkan fungsi-fungsi manajemen dalam proses
pemerintahan?”
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana
pemerintah daerah menerapkan fungsi manajemen dalam proses pemerintahan.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemerintah Daerah
Definisi Pemerintahan Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat (2) adalah sebagai berikut
:“Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Melihat definisi pemerintahan daerah seperti yang telah dikemukakan
di atas, maka yang dimaksud pemerintahan daerah adalah
penyelenggaraan urusan-urusan yang menjadi urusan daerah (provinsi atau
kabupaten) oleh pemerintah daerah dan DPRD.
B. Konsep POSD (Planning, Organizing, Staffing, Directing)
a. Planning
perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi
untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena
tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan
pengontrolan tak akan dapat berjalan.
3
b. Organizing
Pengorganisasian adalah suatu proses pembagian kerja atau pengaturan kerja
bersama dari para anggota suatu organisasi. Dalam suatu pengorganisasian pada
prinsipnya berguna untuk menunjukkan cara-cara tentang upaya pemberdayaan
sumber daya manusia agar dapar bekerja sama dalam suatu sistem kerja sama
dengan harapan dapat mencapai tujuan organisasi.
c. Staffing
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia
pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai
dengan usaha agar setiap tenaga petugas memberi daya guna maksimal kepada
organisasi.
d. Directing
Directing / commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha
memberi bimbingan, saran, perintah-perintah, agar tugas dapat dilaksanakan
dengan baik dan benar-benar setuju yang telah ditetapkan semula. Directing /
commanding bukan saja agar pegawai melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu
kegiatan, tetapi dapat pula berfungsi mengkoordinasi kegiatan berbagai unsur
organisasi agar efektif tertuju kepada realisasi tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
C. Penyelenggara Pemerintahan Daerah
Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD
(Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah
diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang
Pemerintahan Daerah). Dalam menyelenggarakan pemerintahan, Pemerintah
4
menggunakan asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekosentrasi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 20 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah). Sementara itu,
dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah
menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 19 ayat (3) Undang-
Undang No 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah).
Dengan demikian penyelenggara pemerintah daerah terdiri dari
pemerintahan daerah dan DPRD. Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau
Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah lembaga perwakilan
rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pemerintah
daerah harus mampu mengelola daerahnya sendiri dengan baik dengan penuh
tanggung jawab dan jauh dari praktik-praktik korupsi.
D. Hak-hak dan Kewajiban Pemerintahan Daerah
Dalam menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan, terutama dalam
penyelenggaraan otonomi daerah dibekali dengan hak dan kewajiban tertentu. Hak-
hak daerah tersebut menurut Pasal 21 Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 Tentang Pemerintahan Daerah:
1. Mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahannya
2. Memilih pemimpin daerah
5
3. Mengelola aparatur daerah
4. Mengelola kekayan daerah
5. Memungut pajak daerah dan retribusi daerah
6. Mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
lainnya yang berada di daerah
7. Mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah dan
8. Mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Disamping hak-hak tersebut di atas, daerah juga diberi beberapa kewajiban, yaitu :
1. Melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional,
serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
2. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat
3. Mengembangkan kehidupan demokrasi
4. Mewujudkan keadilan dan pemerataan
5. Meningkatkan pelayanan dasar pendidikan
6. Menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan
7. Menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak
8. Mengembangkan sistem jaminan sosial
9. Menyusun perencanaan dan tata ruang daerah
10. Mengembangkan sumber daya produktif di daerah
11. Melestarikan lingkungan hidup
12. Mengelola administrasi kependudukan
13. Melestarikan nilai sosial budaya
14. Membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan
kewenangannya
6
15. Kewajiban lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
Hak dan kewajiban daerah tersebut diwujudkan dalam bentuk rencana kerja
pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan, belanja, dan
pembiayaan daerah, yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah.
Sesuai dengan asas-asas yang telah dikemukakan di atas, pengelolaan keuangan
dilakukan secara efisien, efisien, transparan, bertanggungjawab, tertib, adil, patuh,
dan taat pada peraturan perundang-undangan.
Dengan demikian pemerintah daerah harus memenuhi kewajiban-kewajiban yang
telah diatur dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana
telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang
Pemerintahan Daerah agar penyelenggaraan otonomi daerah dapat dilaksanakan
dengan baik.
E. Urusan-urusan Pemerintahan Daerah
Melalui sistem pemerintahan daerah, pemerintahan daerah diberi wewenang untuk
mengatur dan mengurus urusan-urusan yang diserahkan kepadanya. Dalam
Pasal 13 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan
Daerah, urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi
yang merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi :
1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan
2. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang
3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
4. Penyediaan sarana dan prasarana umum
7
5. Penanganan bidang kesehatan
6. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial
7. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota
8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota
9. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas
kabupaten/kota
10. Pengendalian lingkungan hidup
11. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota
12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil
13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan
14. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota
15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh
kabupaten/kota
16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan
Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan
pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi
unggulan daerah yang bersangkutan.
F. Sistem manajemen pemda
Sistem Manajemen Pemda dijalankan berdasar 3 azas:
[Link]
[Link]
[Link].
8
Ketiga asas tersebut sebenarnya bertujuan unutk memperjelas hubungan
kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, juga tata hubungan antara
lembaga eksekutif daerah dan lembaga perwakilan daerah. Kekuatan sistem
desentralisasi dan otonomi daerah didukung oleh 3 pilar utamanya yakni;
1. Kemampuan daerah untuk mengatur apa2 yang diwujudkan dalam peraturan
daerah bersama wakil rakyat daerah.
2. Didukung oleh kemampuan daerah menggali sumber pendapatan/keuangan
daerah yang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan dan pemerintahan
di daerah.
3. Didukung juga oleh sistem manajemen pengelolaan SDM/ kepegawaian daerah
yang profesional dan berkualitas.
Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah oleh
pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau kepada
instansi vertikal di bawahnya (Pasal 1 ayat (8) UU No.32/2004). Dalam hal ini
tampak jelas ada upaya resentralisasi yang amat kental. Juga dalam hal banyaknya
pembatalan perda2 oleh pusat. Sedangkan untuk membuat Perda tersebut daerah
telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit.
G. Penerapan POSD (Planning, Organizing, Staffing, Directing) Pemerintah
Daerah
· Planning
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi,
membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas
kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari
9
semuafungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain—
pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, rencana dapat berupa rencana informal atau
rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan
merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi/lembaga. Sedangkan rencana
formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi/lembaga
dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota
korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu.
Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan
kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.
Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan empat tujuan perencanaan.
Pengorganisasian (Organizing)
Prinsip Pengorganisasian Pemda
Pengorganisasian adalah suatu proses pembagian kerja atau pengaturan kerja
bersama dari para anggota suatu organisasi. Dalam pengorganisasian pemerintahan
pada prinsipnya berguna untuk menunjukkan cara-cara tentang upaya
pemberdayaan sumber daya manusia (pegawai) agar dapar bekerja sama dalam
suatu sistem kerja sama dengan harapan dapat mencapai tujuan pemerintah daerah
yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien,
maka pengorganisasian dapat dimaknai sebagai berikut:
a. Cara manajemen merancang struktur formal untuk menggunakan yang
paling efektif sumberdaya-sumberdaya keuangan, fisik, bahan baku, dan pegawai.
b. Pengelompokan kegiatan-kegiatan yang diikuti dengan penugasan seseorang
pimpinan yang diberi wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompok.
10
c. Hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas-tugas, dan
para
pegawai.
d. Cara pimpinan dalam membagi tugas-tugas lebih lanjut yang harus
dilaksanakan
pada masing-masing unit kerja dengan cara mendelegasikan wewenangnya.
Dari petunjuk di atas, secara umum dapat dipahami bahwa fungsi pengorganisasian
dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan proses pembagian kerja atau
pengelompokan tugas-tugas diantara anggota-anggota pemerintah daerah.
Maksudnya adalah agar tujuan pemerintah secara menyeluruh dapat dicapai secara
efisien mungkin, yaitu memudahkan dalam upaya mencapai tujuan
dengan konsekuensi pemilihan terhadap pemikiran yang lazim tentang
kemampuan memperbesar hasil kerja dengan modal biaya yang serendah-
rendahnya. Menurut [Link], pengorganisasian mencakup beberapa aspek
penting yang menyangkut struktur organisasi, yaitu:
- Departementalisasi, yaitu pengelompokan kegiatan sehingga pekerjaan
yang serupa dan saling berkaitan dapat dilakukan bersama.
- Pembagian kerja, yaitu pemecahan tugas sehingga setiap individu
hanya bertanggung jawab dan melakukan sejumlah kegiatan-kegiatan tertentu
saja.
- Koordinasi, yaitu proses untuk memadukan kegiatan-kegiatan dan sasaran unit-
unit organisasi yang terpisah guna mencapai tujuan bersama secara efisien.
- Rentangan manajemen, berupa banyaknya jumlah bawahan yang
dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang atasan. Dengan adanya
11
pengorganisasian, berarti menunjukkan adanya pengelompokan tugas atau
pekerjaan yang terdiri atas:
- Pengelompokan atas dasar fungsi, yaitu penyesuaian pekerjaan dengan
fungsi tugasnya, misalnya pekerjaan umum (PU) fungsi tugasnya pembuatan
jalan, irigasi, tata bangunan, dan lain-lain tugas yang termasuk dalam
lingkup pekerjaan umum.
- Pengelompokan atas dasar proses, yaitu proses pengelompokan
pekerjaan menjadi kesatuan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi,
misalnya pencarian tambang minyak melalui proses pencarian sumber, proses
pengolahan minyak mentah, dan pemasaran minyak.
- Pengelompokan atas dasar langganan, yaitu pengelompokan dengan
nama organisasi yang menggambarkan langganan, seperti Persatuan pekerja
wanita dan lain-lain.
- Pengelompokan atas dasar produk, yaitu organisasi yang disusun berdasarkan
produk, seperti Industri kerajinan dengan produk tikar, sulaman tapis, dan lain-
lain.
- Pengelompokan atas dasar daerah ( area, teritorial), yaitu organisasi
yang disusun berdasarkan kedaerahan, misalnya Kopertis dearah bagian barat.
Berdasarkan perincian ciri pengorganisasian di atas, maka dapat disipulkan
bahwa prinsip pengorganisasian dalam manajemen meliputi eksistensi tujuan, skala
hierarkis, kesatuan perintah, pelimpahan wewenang, bertanggungjawaban,
pembagian kerja, rentang pengawasan, fungsional, pengelompokan tugas,
keseimbangan/kesesuaian, fleksibelitas, dan kepemimpinan.
12
Pengertian Pengorganisasian
Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam-macam pengertain , istilah tersebut
dapat digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut ini :
a. Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling
efektif sumber daya keuangan , fisik , bahan baku , dan tenaga kerja organisasi.
b. Hubungan-hubungan antara fungsi , jabatan , tugas dan para karyawan.
c. Cara dalam mana para manager lebih lanjut tugas-tugas yang harus
dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelagasikan wewenang yang
diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.
Tujuan Pengorganisasian
Tujuan pengorganisasian adalah agar dalam pembagian tugas dapat
dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Dengan pembagian tugas diharapkan
setiap anggota organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara khusus
(spesialisasi) dalam menangani tugas-tugas yang dibebankan. Apabila
pengorganisasian itu dilakukan secara serampangan, tidak sesuai dengan bidang
keahlian seseorang, maka tidak mustahil dapat menimbulkan kegagalan dalam
penyelenggaraan pekerjaan itu. Ada beberapa tujuan pengorganisasian, yaitu:
a. Membantu koordinasi, yaitu memberi tugas pekerjaan kepada unit kerja
secara koordinatif agar tujuan organisasi dapat melaksanakan dengan mudah dan
efektif. Koordinasai dibutuhkan tatkala harus membagi unitkerja yang terpisah
dan tidak sejenis, tetapi berada dalam satu organisasi.
b. Memperlancar pengawasan, yaitu dapat membantu pengawasan
dengan menempatkan seorang anggota manajer yang berkompetensi dalam
setiap unit organisasi. Dengan demikian sebuah unit dapat ditempatkan di dalam
organisasi secara keseluruhan sedemikian rupa agar dapat mencapai sasaran
13
kerjanya walaupun dengan lokasi yang tidak sama. Unit-unit operasional yang
identik dapat disatukan dengan sistem pengawasan yang identik pula secara
terpadu.
c. Maksimalisasi manfaat spesialisasi, yaitu dengan konsentrasi kegiatan,
maka dapat membantu seorang menjadi lebih ahli dalam pekerjaan-pekerjaan
tertentu. Spesialisasi pekerjaan dengan dasar keahlian dapat menghasilkan
produk yang berkualitas tinggi, sehingga kemanfaatan produk dapat
memberikan kepuasan dan memperoleh kepercayaan masyarakat pengguna.
d. Penghematan biaya, artinya dengan pengorganisasian, maka akan
tumbuh pertimbangan yang berkaitan dengan efisiensi. Dengan demikian
pelaku organisasi akan selalu berhati-hati dalam setiap akan menambah unit
kerja baru yang notabene menyangkut penambahan tenaga kerja yang relatif
banyak membutuhkan biaya tambahan berupa gaji/upah. Penambahan unit
kerja sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan nilai sumbangan pekerja baru
dengan tujuan untuk menekan upah buruh yang berlebihan.
e. Meningkatkan kerukunan hubungan antar manusia, dengan
pengorganisasian, maka masing-masing pekerja antar unit kerja dapat bekerja
saling melengkapi, mengurangi kejenuhan, menumbuhkan rasa saling
membutuhkan, mengurangi pendekatan materialistis. Untuk ini pihak manajer
harus mampu mengadakan pendekatan sosial dengan penanaman rasa solidaritas
dan berusaha menampung serta menyelesaikan berbagai perbedaan yang bersifat
individual.
Syarat-syarat Pengorganisasian
Dalam pengaturan pembagian kerja yang baik, tentu memerlukan seorang manajer
yang cukup berkemampuan dan berpengalaman di bidangnya. Fungsinya adalah
14
agar jika pada suatu waktu ditemui hambatan, maka seorang manajer yang
bertanggungjawab dalam pengaturan pembagian tugas tidak mengalami kesulitan
dalam mencari jalan keluar. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya dalam rangka
meningkatkan produktivitas dan kepuasan para anggota organisasi. Semakin
banyak pengetahuan dan pemahaman terhadap implikasi pribadi dan sosial tentang
pengorganisasian, maka akan semakin besar pula terciptanya team work yang baik,
sehingga upaya pencapaian tujuan
organisasi benar-benar dapat memberikan kepuasan anggota organisasi
secara menyeluruh dan merata. Ada beberapa syarat utama pengorganisasian,
yaitu:
a. Adanya sekelompok orang yang bekerja bersama
b. Adanya tujuan-tujuan berganda yang hendak dicapai
c. Adanya pekerjaan yang akan dikerjakan
d. Adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan
e. Adanya wewenang dan tanggungjawab
f. Adanya pendelegasian wewenang
g. Adanya hubungan (relationship) antara satu sama lain anggota
h. Adanya penempatan orang-orang yang akan melakukan pekerjaan
i. Adanya tatatertib yang harus ditaati
Fungsi Pengorganisasian / Organizing
Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya
manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan
rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan.
· Staffing
15
Fungsi staffing dalam penyelenggaraan pemerintah daerah adalah sebagai suatu
proses prosedur langkah demi langkah yang berkesinambungan untuk menjaga agar
pemerintah daerah selalu memperoleh orang-orang yang tepat dalam posisi yang
tepat pada waktu yang tepat.
Pemilihan dan Penempatan
Jika telah ditentukan kualifikasi untuk masing kedudukan pekerjaan maka
selanjutnya adalah diadakan pemilihan (seleksi) melalui tahapan-tahapan seleksi
mulai test tertulis, kesehatan, test psikologi, wawancara dan surat-surat pernyataan
mengenai kesanggupan kerja dan lokasi penempatan kerja.
Induksi dan Orientasi
Induksi dan orientasi mamberi kepada pegawai baru tentang : Informasi umum
tentang pekerjaan sehari-hari, tinjauan tentang sejarah, lingkungan kantor, visi dan
misi organisasi serta pengembangan kemasa depan. Informasi mengenai kebijakan-
kebijakan organisasi, aturan kerja dan hal-hal mengenai gaji dan tunjangan.
Pemindahan
Pemindahan terdiri dari promosi, mutasi dan demosi. Promosi, adalah memberikan
tanggung jawab dan wewenang yang lebih besar kepada pegawai, dengan kata lain
promosi adalah kenaikan pangkat/jabatan yang lebih tinggi, merupakan salah satu
usaha untuk memajukan/mengembangkan pegawai. Dengan promosi dapat
memberikan pegawai hal-hal sebagai berikut :Mendorong motivasi pegawai,
menaikan semangat/gairah kerja pegawai, menaikan moral dan efisiensi pegawai,
mewujudkan orang yang tepat pada jabatan yang tepat. Mutasi, adalah
memindahkan pegawai dari jabatan yang satu ke jabatan yang lain dalam satu
tingkatan secara horizontal. Tujan mutasi adalah : Untuk mewujudkan penempatan
pegawai pada posisi yang tepat, untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan
16
pada jabatan semula, untuk menjamin kepercayaan bahwa mereka tidak akan
diberhentikan karena kurang cakap pada jabatan semula, menciptakan lingkungan
baru yang mungking akan meningkatkan prestasi kerjanya, demosi adalah suatu
tindakan memberikan kekuasaan dan tanggung jawab yang lebih kecil, dengan kata
lain penurunan pangkat/jabatan karena dinilai kurang cakap dan kurang berprestasi
pada jabatan tersebut.
Penilaian prestasi
Penilaian prestasi adalah salah satu hal yang penting dalan pengorganisasian,
namun dalam pelaksanaannya sangat sulit untuk melihat hasil yang memadai.
Penilaian prestasi dapat dibedakan dalam 2 macam, yaitu formal dan informal.
Penilaian formal dilakukan setiap satu tahun sekali, dengan maksud : Pegawai
mengetahui secara formal nilai prestasi yang diperoleh, mengetahui bawahan yang
memerlukan latihan tambahan merupakan bahan untuk identifikasi untuk promosi
pegawai. Penilaian informal dilakukan dari hari kehari dengan mengatakan kepada
pegawai tentang baik/buruknya pekerjaan yang dilakukan. Cara ini cepat
mendorong prestasi pegawai yang diinginkan dan untuk melakukan perbaikan-
perbaikan atas kesalahan sebelumnya.
· Directing
Directing dalam Pemerintah Daerah
Directing / commanding dalam penyelenggaraan pemerintah daerah berhubungan
dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah, agar tugas dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar-benar setuju yang telah ditetapkan semula.
Directing / commanding bukan saja agar pegawai melaksanakan atau tidak
melaksanakan suatu kegiatan, tetapi dapat pula berfungsi mengkoordinasi kegiatan
17
berbagai unsur lembaga agar efektif tertuju kepada realisasi tujuan yang ditetapkan
sebelumnya. Pengarahan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua
anggota pemerintah berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan
dan usaha-usaha pemerintah, dalam hal ini adalah tujuan-tujuan yang ingin dicapai
oleh lembaga pemerintah. Termasuk pengertian dari pengarahan dalam hal ini juga
bisa mengarah kepada fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi
bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam
melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik
dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula. Directing
bertujuan agar tugas-tugas dapat terselesaikan dengan baik. Para ahli banyak
berpendapat kalau suatu pengarahan merupakan fungsi terpenting dalam
manajemen. Karena merupakan fungsi terpenting maka hendaknya pengarahan ini
benar-benar dilakukan dengan baik oleh seorang pemimpin.
a) Motivasi secara impalist, yakni pimpinan organisasi berada di tengah-tengah para
bawahannya dengan demikian dapat memberikan bimbingan, instruksi, nasehat
dan koreksi jika diperlukan.
B) Adanya upaya untuk mensingkronasasikan tujuan organisasi dengan tujuan
pribadi dari para anggota organisasi.
C) Secara eksplisit terlihat bahwa para pelaksana perasional organisasi dalam
memberikan jasa-jasanya memerlukan beberapa perangsang atau insentif.
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang menstimulir tindakan-tindakan
agar betul-betul dilaksanakan. Oleh karena tindakan-tindakan itu dilakukan oleh
orang, maka pengarahan meliputi pemberian perintah-perintah dan motivasi pada
18
personalia yang melaksanakan perintah-perintah tersebut. Pengarahan (leading)
adalah untuk membuat atau mendapatkan para karyawan untuk melakukan apa
yang diinginkan, dan harus mereka lakukan. Dikenal sebagai leading,
directing,motivating atau actuating. Pengarahan memiliki beberapa karakteristik:
1. Pervasive Function, yaitu pengarahan diterima pada berbagai level organisasi.
Setiap manajer menyediakan petunjuk dan inspirasi kepada bawahannya.
2. Continous Activity, pengarahan merupakan aktivitas berkelanjutan disepanjang
masa organisasi
3. Human factor, fungsi pengarahan berhubungan dengan bawahan dan oleh karena
itu berhubungan dengan human factor. Human factor adalah perilaku manusia
yang kompleks dan tidak bisa diprediksi.
4. Creative Activity, fungsi pengarahan yang membantu dalam mengubah rencana
ke dalam tindakan. Tanpa fungsi ini, seseorang dapat menjadi inaktif dan sumber
fisik menjadi tak berarti.
5. Executive Function, Fungsi pengarahan dilaksanakan oleh semua manajer dan
eksekutif pada semua level sepanjang bekerja pada sebuah perusahaan, bawahan
menerima instruksi hanya dari atasannya.
6. Delegated Function, pengarahan seharusnya adalah suatu fungsi yang
berhadapan dengan manusia. Atasan harus dapat mengetahui bahwa perilaku
manusia merupakan suatu hal tidak dapat diprediksi dan alami sehingga atasan
seharusnya dapat mengkondisikan perilaku seseorang ke arah tujuan yang
diharapkan.
19
Cara-cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa :
- Orientasi merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu
supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
- Perintah merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang yang berada di
bawahnya untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada
keadaan tertentu.
- Pendelegasian wewenang ini pimpinan melimpahkan sebagian dari wewenang
yang dimilikinya kepada bawahannya.
a. Model Tradisional
Tidak lepas dari teori manajemen ilmiah yang dikemukakan oleh Frederic Winslow
taylor. Model ini mengisyaratkan bagaimana manajer menentukan pekerjaan-
pekerjaan yang harus dilakukan dengan system pengupahan intensif untuk memacu
para pekerjaan agar memberikan produktivitas yang tinggi.
b. Model Hubungan Manusiawi
Elton Mayo dan para peneliti hubungan manusiawi lainnya menentukan bahwa
kontrak-kontrak soisal karyawan pada pekerjaannya adalah penting, kebosanan dan
tugas yang rutin merupakan pengurang dari motivasi. Untuk itu para karyawan
perlu dimotivasi melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan social dan membuat
mereka berguna dan penting dalam organisasi.
c. Model Sumber Daya Manusia
McGregor Maslow. Argyris dan Lkert mengkritik model hubungan manusaiwi
bahwa seorang bawahan tidak hanya dimotivasi dengan memberikan uang atau
keinginan untuk mencapai kepuasan, tapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan
20
memperoleh pekerjaan yang berarti dalam arti lebih menyukai pemenuhan
kepuasan dari suatu prestasi kerja yang baik, diberi tanggung jawab yang lebih
besar untuk pembuatan keputusan dan pelaksanaan tugas.
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan
lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya. Pengarahan pada
dasarnya akan berkaitan dengan faktor individu dalam kelompok, motivasi dan
kepemimpinan, kelompok kerja dan, komunikasi dalam organisasi.
21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
- Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi
untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja
organisasi.
- Pengorganisasian adalah suatu proses pembagian kerja atau pengaturan kerja
bersama dari para anggota suatu organisasi.
- Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia
pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya
sampai dengan usaha agar setiap tenaga petugas memberi daya guna maksimal
kepada organisasi.
- Directing / commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan
usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah, agar tugas dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar-benar setuju yang telah ditetapkan semula.
- Definisi Pemerintahan Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat (2) adalah sebagai
berikut :
- “Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara
22
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
B. Saran
Dari analisis yang telah silakukan, saran kami untuk pemerintah daerah adalah agar
meningkatkan kualitas fungsi menejemen dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Baik planning, organizing, saffing dan directing untuk dapat meningkatkan kualitas
pelayanan publik.
23
DAFTAR PUSTAKA
1. Beratha, I Nyoman. (1982). Masyarakat dan Pembangunan Desa. Jakarta
: LP3ES.
2. Hasibuan, S.P Malayu.(1995). Manajemen Dasar, Pengertian dan
Masalah. Jakarta : [Link] Gunung Agung.
3. Kodoatie, J. Robert. (2002). Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Otonomi
[Link] : Penerbit Andi.
4. Kusnaka, Adimihardja. (2002). Metode Penelitian Sosial. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.
5. Koentjaraninggrat. (1986). metode-metode penelitian masyarakat. Jakarta
: Gramedia.
6. Khairudin, SS. (2000). Pembangunan Masyarakat Tinjauan aspek:
sosiologi, ekonomi dan perencanaan. Yogyakarta : Penerbit Liberti
Yogyakarta.
7. Maskun, Sumitro. (1993). Pembangunan Masyarakat Desa (Asas,
Kebijaksanaa, dan Manajemen). Yogyakarta : PT. Media Widya Mandala.
8. Manila, I. GK. (1996). Praktek manajemen Pemerintahan dalam Negri.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
24