MAKALAH
KEPAKARAN KLINIS (EDIDANCE BASE MEDICINE)
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata kuliah
Dibuat Oleh :
Annisa Hermayanti
Rosmawati
Nia Masruroh
Susi Fatmawati
Eli Rosita
Maryam
Tri Yuliani
PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN POLITEKNIK
BHAKTI ASIH PURWAKARTA
TAHUN 2025
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT,
Yang Maha Agung, Maha Menuntun, dan Maha Memberi Petunjuk. Kepada- Nyalah
Kami Memuji, meminta, pertolongan dan memohon ampun.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada manusia yang adil, bijak,
penuh rahmat, dan tak pernah hilang kepercayaannya kepada Allah SWT, Rasulullah
Muhammad SAW. Beliaulah Rasul kita, teladan kita, penuntun kita, dan pemberi
syafaat bagi kita di Hari Kiamat kelak. Juga kepada keluarga, para sahabat dan umatnya
yang senantiasa mengikuti petunjuknya, semoga Allah melapangkan jalan hidup
mereka. Amin.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Apabila terdapat kesalahan, mohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran yang
konstruktif dari berbagai pihak yang nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai
patokan bagi langkah penulis selanjutnya. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat dan mendapatkan kebaikan pada berbagai pihak.
Garut, 25 Juli 2025
Kelompok 3
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT,
Yang Maha Agung, Maha Menuntun, dan Maha Memberi Petunjuk. Kepada-
Nyalah Kami Memuji, meminta, pertolongan dan memohon ampun.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada manusia yang adil, bijak,
penuh rahmat, dan tak pernah hilang kepercayaannya kepada Allah SWT,
Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah Rasul kita, teladan kita, penuntun kita,
dan pemberi syafaat bagi kita di Hari Kiamat kelak. Juga kepada keluarga, para
sahabat dan umatnya yang senantiasa mengikuti petunjuknya, semoga Allah
melapangkan jalan hidup mereka. Amin.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Apabila terdapat kesalahan, mohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran
yang konstruktif dari berbagai pihak yang nantinya diharapkan dapat digunakan
sebagai patokan bagi langkah penulis selanjutnya. Akhir kata, penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat dan mendapatkan kebaikan pada berbagai
pihak.
Cilacap, 26 November 2020
Penyusun,
2
DABTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................... 2
DABTAR ISI ............................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 4
1.1 Latar Belakang............................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................5
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 5
1.4 Manfaat ........................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 2
2.1 Definisi EBM (Evidence Based Medicine) .............................................. 6
2.2 Ketrampilan dan Keahlian Klinik Dari Dokter (Clinical Expertise) .... 6
2.3 Langkah — Langkah Evidence Based Medicine Yang Dilakukan
Oleh Pakar Klinis............................................................................................7
2.4 Langkah I . Memformulasikan Pertanyaan Ilmiah .................................. 8
2.4.1 Jenis - Jenis Pertanyaan Klinik ......................................................... 8
2.5 Langkah II. Penelusuran Informasi Ilmiah Untuk Mencari
“evidence”....................................................................................................... 8
2.6 Langkah III. Penelaahan Terhadap Bukti Ilmiah (evidence)
Yang Ada........................................................................................................ 9
2.7 Langkah IV. Penerapan Hasil Penelaahan ke Dalam Praktek .............. 9
2.8 Langkah V. Follow-Up dan Evaluasi ........................................................ 10
BAB III PENUTUP ...................................................................................................12
3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 12
3.2 Saran ................................................................................................................ 12
DABTAR PUSTAKA
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan dunia kesehatan begitu pesat dan bukti ilmiah yang tersedia
begitu banyak. Dan bukti riset yang dipublikasikan pun sangat banyak
jumlahnya. Hampir dua juta artikel kedokteran diterbitkan setiap tahun. Padahal,
“not all evidences are created equal”. Tidak semua artikel hasil riset memberikan
bukti-bukti dengan kualitas dan validitas (kebenaran) yang sama
Suatu intervensi diagnostik maupun terapetik yang efektif dalam
memberikan perbaikan klinis kepada pasien bisa pada saat yang sama
mengandung risiko kerugian dan biaya bagi pasien. Selain itu tidak semua bukti
dibutuhkan untuk pasien dalam praktik klinis Pengobatan yang sekarang
dikatakan paling baik belum tentu beberapa tahun ke depan masih juga paling
baik. Sedangkan tidak semua ilmu pengetahuan baru yang jumlahnya bisa ratusan
itu kita butuhkan. Karenanya diperlukan EBM yang menggunakan pendekatan
pencarian sumber ilmiah sesuai kebutuhan akan informasi bagi individual dokter
yang dipicu dari masalah yang dihadapi pasiennya disesuaikan dengan
pengalaman dan kemampuan klinis dokter tersebut.
Pada EBM dokter juga diajari tentang menilai apakah jurnal tersebut dapat
dipercaya dan digunakan. Karena itu para ikntjr iad tjdaha njsjgatad
prkbjsikdal lainnya perlu mengasah keterampilan untuk memilah dan memilih
bukti-bukti terbaik yang bisa memberikan informasi yang relevan dan terpercaya,
dengan cara yang efektif, produktif, dan efisien (cepat).
Oleh karena itu, kita sebagai calon tenaga kesehatan dibidang farmasi
harus bersikap kritis dan professional dalam mengkaji artikel kesehatan,jurnal
kesehatan serta riset ilmiah dan memilih bukti-bukti. bukti-bukti yang dicari
dalam EBM bukan bukti-bukti yang berorientasi penyakit (Disease-Oriented
Evidence, DOE), melainkan bukti yang berorientasi pasien (Patient-Oriented
Evidence that Matters, POEM) (Shaugnessy dan Slawson, 1997).
4
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari EBM ?
2. Bagaimana ketrampilan dan keahlian klinik dari dokter (Clinical
Expertise) ?
3. Bagaiman langkah — Langkah Evidence Based Medicine yang
dilakukan oleh pakar klinis ?
1.3 Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui tentang EBM (Evidence Based
Medicine).
2. Untuk mengetahui ketrampilan dan keahlian klinik dari dokter
(Clinical Expertise).
3. Untuk mengetahui langkah — Langkah Evidence Based Medicine yang
dilakukan oleh pakar klinis.
1.4 Manfaat
Setelah membaca makalah ini di harapkan pembaca dapat mengethaui
lebih dalam mengenai EBM (Evidence Based Medicine) yang di dalamnya
terdapat keterampilan dan keahlian klinik dari dokter (Clinical Expertise)
mengenai langkah-langkah dalam EBM yang dilakukan oleh pakar klinis.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi EBM (Evidence Based Medicine)
EBM merupakan suatu pendekatan medis yang didasarkan pada bukti-
bukti ilmiah terkini untuk keperluan pelayanan kesehatan penderita (Seckett et
al,1996). EBM adalah suatu proses yang digunakan secara sistematik untuk
menemukan,menelaah/mereview, dan memanfaatkan hasil-hasil studi sebagai
dasar dari pengambilan keputusan klinik.
EBM adalah penggunaan teliti, tegas dan bijaksana berbasis bukti saat
membuat keputusan tentang perawatan individu pasien. Praktek EBM berarti
mengintegrasikan individu dengan keahlian klinis terbaik eksternal yang tersedia
bukti dari penelitian sistematis (DL Sackett). EBM ini digunakan Sebagai
Paradigma baru ilmu kedokteran , Dasar praktek kedokteran harus berdasar bukti
ilmiah yg terkini dan dipercaya (baik klinis maupun statistik) karena EBM sendiri
adalah suatu teknik yang digunakan untuk pengambilan keputusan dalam
mengelola pasien dengan mengintegrasikan tiga faktor salah satunya adalah
clinical expertise .
EBM merupakan praktik kedokteran klinis yang memadukan bukti terbaik
yang ada, keterampilan klinis, dan nilai-nilai pasien. EBM bertujuan membantu
klinisi agar pelayanan medis memberikan hasil klinis yang optimal kepada pasien.
Penggunaan bukti ilmiah dari riset terbaik memungkinkan pengambilan
keputusan klinis yang lebih efektif, bisa diandalkan, aman, dan cost-effective.
2.2 Ketrampilan dan Keahlian Klinik Dari Dokter (Clinical Expertise)
Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu keterampilan klinik (clinical
skills) yang memadai. Di sini termasuk keterampilan untuk secara cepat
mengidentifikasi kondisi pasien dan menentukan diagnosis secara cepat dan tepat,
termasuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang menyertai serta
memperkirakan kemungkinan manfaat dan resiko (risk and benefit) dari bentuk
intervensi yang akan diberikan. Keterampilan klinik ini hendaknya juga disertai
2
dengan pengenalan secara baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta
harapan- harapan yang tersirat dari pasien.
2.3 Langkah — Langkah Evidence Based Medicine Yang Dilakukan Oleh
Pakar Klinis
Evidence based medicine dapat dipraktekkan pada berbagai situasi,
khususnya jika timbul keraguan dalam hal diagnosis, terapi, dan penatalaksanaan
pasien. Adapun langkah-langkah dalam EBM adalah:
1. Memformulasikan pertanyaan ilmiah yang berkaitan dengan masalah
penyakit yang diderita oleh pasien.
2. Penelusuran informasi ilmiah (evidence) yang berkaitan dengan masalah
yang dihadapi.
3. Penelaahan terhadap bukti-bukti ilmiah yang ada.
4. Menerapkan hasil penelaahan bukti-bukti ilmiah ke dalam praktek
pengambilan keputusan.
5. Melakukan evaluasi terhadap efikasi dan efektivitas intervensi.
2.4 Langkah I . Memformulasikan Pertanyaan Ilmiah
Setiap saat seorang dokter menghadapi pasien tentu akan muncul
pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang menyangkut beberapa hal, seperti diagnosis
penyakit, jenis terapi yang paling tepat, faktor- faktor resiko, prognosis, hingga
upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang dijumpai pada
pasien.
Dalam situasi tersebut diperlukan kemampuan untuk mensintesis dan
menelaah beberapa permasalahan yang ada. Sebagai contoh, dalam skenario 1
disajikan suatu kasus dan bentuk kajiannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang mengawali EBM selain dapat berkaitan
dengan diagnosis, prognosis, terapi, dapat juga berkaitan dengan resiko efek
iatrogenik, kualitas pelayanan (quality of care), hingga ke ekonomi kesehatan
(health economics). Idealnya setiap issue yang muncul hendaknya bersifat
spesifik, berkaitan dengan kondisi pasien saat masuk, bentuk intervensi terapi
yang mungkin, dan luaran (outcome) klinik yang dapat diharapkan.
8
2.4.1 Jenis - Jenis Pertanyaan Klinik
Secara umum terdapat 2 jenis pertanyaan klinik yang biasa
diajukan oleh seorang praktisi medik atau klinisi pada saat menghadapi
pasien.
Pertama, yang disebut dengan “background question” merupakan
pertanyaan-pertanyaan umum yang berkaitan dengan penyakit.
Contoh:
Kedua, “foreground question” merupakan pertanyaan-pertanyaan
spesifik yang berkaitan dengan upaya penatalaksanaan.
Contoh:
2.5 Langkah II. Penelusuran Informasi Ilmiah Untuk Mencari “evidence”
Setelah formulasi permasalahan disusun, langkah selanjutnya adalah
mencari dan mencoba menemukan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk ini diperlukan keterampilan penelusuran
informasi ilmiah (searching skill) serta kemudahan akses ke sumber-sumber
7
informasi. Penelusuran kepustakaan dapat dilakukan secara manual di
perpustakaan- perpustakaan Fakultas Kedokteran atau rumahsakit-rumahsakit
pendidikan dengan mencari judul-judul artikel yang berkaitan dengan
permasalahan yang ada dalam jurnal-jurnal.
Pada saat ini terdapat lebih dari 25.000 jurnal biomedik di seluruh dunia
yang dapat di-akses secara manual melalui bentuk cetakan (reprint). Dengan
berkembangnya teknologi informasi, maka penelusuran kepustakaan dapat
dilakukan melalui internet dari perpustakaan, kantor-kantor, warnet-warnet
(warung internet), bahkan di rumah, dengan syarat memiliki komputer dan
seperangkat modem, serta saluran telepon untuk mengakses internet.
2.2 Langkah III. Penelaahan Terhadap Bukti Ilmiah (evidence) Yang Ada
Dalam tahap ini seorang klinisi atau praktisi dituntut untuk dapat
melakukan penilaian (appraisal) terhadap hasil-hasil studi yang ada. Tujuan utama
dari penelaahan kritis ini adalah untuk melihat apakah bukti-bukti yang disajikan
valid dan bermanfaat secara klinis untuk membantu proses pengambilan
keputusan. Hal ini penting, mengingat dalam kenyataannya tidak semua studi
yang dipublikasikan melalui majalah (jurnal-jurnal) internasional memenuhi
kriteria metodologi yang valid dan reliabel.
Untuk mampu melakukan penilaian secara ilmiah, seorang klinisi atau
praktisi harus memahami metode yang disebut dengan “critical appraisal” atau
“penilaian kritis” yang dikembangkan oleh para ahli dari Amerika Utara dan
Inggris. Critical appraisal ini dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan kunci
untuk menjaring apakah artikel-artikel yang kita peroleh memenuhi kriteria
sebagai artikel yang dapat digunakan untuk acuan.
2.8 Langkah IR. Penerapan Hasil Penelaahan ke Dalam Praktek
Dengan mengidentifikasi bukti-bukti ilmiah yang ada tersebut, seorang
klinisi dapat langsung menerapkannya pada pasien secara langsung atau melalui
diskusi-diskusi untuk menyusun suatu pedoman terapi. Berdasarkan informasi
yang ada, maka dapat saja pada Skenario 1 diputuskan untuk segera memulai
terapi dengan warfarin. Ini tentu saja didasarkan pada pertimbangan resiko dan
<
manfaat (risk-benefit assessment) yang diperoleh melalui penelusuran bukti-bukti
ilmiah yang ada.
Dalam Tabel Levels of evidence dipresentasikan derajat evidence, yaitu
kategorisasi untuk menempatkan evidence berdasarkan kekuatannya.
Evidence level 1a, misalnya, merupakan evidence yang diperoleh dari
meta-analisis terhadap berbagai uji klinik acak dengan kontrol (randomized
controlled trials). Evidence level 1a ini dianggap sebagai bukti ilmiah dengan
derajat paling tinggi yang layak untuk dipercaya.
Sumber : sign (scottish intercollegiate guideline network)
2.7 Langkah R. Bollow-Up dan Evaluasi
10
Tahap ini harus dilakukan untuk mengetahui apakah current best evidence
yang digunakan untuk pengambilan keputusan terapi bermanfaat secara optimal
bagi pasien, dan memberikan resiko yang minimal. Termasuk dalam tahap ini
adalah mengidentifikasi evidence yang lebih baru yang mungkin bisa berbeda
dengan apa yang telah diputuskan sebelumnya. Tahap ini juga untuk menjamin
agar intervensi yang akhirnya diputuskan betul-betul memberi manfaat yang lebih
besar dari resikonya (“do more good than harm”). Rekomendasi mengenai
keputusan terapi yang paling baik dibuat berdasarkan pengalaman klinik dari
kelompok ahli yang menyusun pedoman pengobatan.
11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
EBM merupakan suatu pendekatan medis yang didasarkan pada bukti-
bukti ilmiah terkini untuk keperluan pelayanan kesehatan penderita (Seckett et
al,1996).
EBM merupakan praktik kedokteran klinis yang memadukan bukti terbaik
yang ada, keterampilan klinis, dan nilai-nilai pasien. EBM bertujuan membantu
klinisi agar pelayanan medis memberikan hasil klinis yang optimal kepada pasien.
Penggunaan bukti ilmiah dari riset terbaik memungkinkan pengambilan
keputusan klinis yang lebih efektif, bisa diandalkan, aman, dan cost-effective.
Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu keterampilan klinik (clinical
skills) yang memadai. Di sini termasuk keterampilan untuk secara cepat
mengidentifikasi kondisi pasien dan menentukan diagnosis secara cepat dan tepat,
termasuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang menyertai serta
memperkirakan kemungkinan manfaat dan resiko (risk and benefit) dari bentuk
intervensi yang akan diberikan.
Langkah-langkah dalam EBM adalah:
1. Memformulasikan pertanyaan ilmiah yang berkaitan dengan masalah
penyakit yang diderita oleh pasien.
2. Penelusuran informasi ilmiah (evidence) yang berkaitan dengan masalah
yang dihadapi.
3. Penelaahan terhadap bukti-bukti ilmiah yang ada.
12
4. Menerapkan hasil penelaahan bukti-bukti ilmiah ke dalam praktek
pengambilan keputusan.
5. Melakukan evaluasi terhadap efikasi dan efektivitas intervensi.
3.2 Saran
Saya sebagai penulis, menyadari bahwa makalah ini banyak sekali
kesalahan dan sangat jauh dari kesempurnaan. Tentunya, penulis akan terus
memperbaiki makalah dengan mengacu pada sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan nantinya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran tentang pembahasan makalah diatas.
13
DABTAR PUSTAKA
[Link]
extension=docx&ft=1602430036<=1602433646&user_id=485607632&uahk=K
476ZtL_In-IbUQzgZzgJmHxmUg
Diakses pada hari Senin,26 November 2020 pukul 21.03
[Link]
Diakses pada hari Senin,26 November 2020 pukul 21.48
[Link]
Diakses pada hari Senin,26 November 2020 pukul 21.56
14