BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Kualitas
Menurut (Napitupulu et al., 2021) Kualitas dicirikan sebagai keseluruhan atribut
suatu barang yang membantu kapasitasnya untuk memenuhi kebutuhan yang ditentukan
atau ditetapkan. Sementara itu, menurut (Kotler dan Keller, 2010: 49) dalam (Nainggolan
& Heryenzus, 2018) Kualitas dicirikan sebagai atribut umum yang mencakup keseluruhan
sifat dan kekhasan suatu produk yang berpengaruh pada kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan yang ditetapkan, baik tersirat maupun dalam bentuk nyata.
Sebagaimana dikemukakan oleh (Arianti et al., 2020) Kualitas merupakan keadaan
produk yang berhubungan dengan barang maupun jasa berupa kinerja, keandalan,
keistimewaan, keawetan, dan keindahan yang memenuhi bahkan melebihi harapan
seseorang. Secara umum kualitas merupakan salah satu cara bagi perusahaan untuk
menguasai pasar. Sedangkan bagi masyarakat kualitas adalah alat ukur sekaligus cara
seseorang dalam mencapai kepuasan.
Berdasarkan pernyataan yang dilontarkan oleh para ahli,dapat disimpulkan bahwa
kualitas produk mengacu pada karakteristik dan atribut produk yang menentukan sejauh
mana produk tersebut memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen,serta memiliki
kapasitas untuk menjalankan perannya dengan baik. Kualitas dapat mencakup faktor
seperti performa, daya tahan,kenyamanan,kesederhanaan,desain, fitur, keamanan,dan
kepuasan konsumen. Produk berkualitas baik cenderung memberikan nilai yang lebih
tinggi kepada konsumen dan dapat membangun citra positif bagi merek atau bisnis.
Pengendalian kualitas penting untuk dilakukan oleh perusahaan agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan maupun standar yang
telah ditetapkan oleh badan lokal atau internasional yang mengelola tentang standarisasi
mutu/kualitas, dan tentunya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
[Link] kualitas yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan
dampak terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam pengendalian kualitas antara lain operator, bahan baku dan mesin.
Pengendalian kualitas statistik merupakan teknik statistika yang diperlukan untuk
menjamin dan meningkatkan kualitas produk.(Ratnadi and Suprianto, 2016)
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengendalian kualitas yang dilakukan
perusahaan :
1. Kemampuan proses. Batas-batas yang ingin dicapai haruslah disesuaikan dengan
kemampuan proses yang ada. Tidak ada gunanya mengendalikan suatu proses
dalam batas-batas yang melebihi kemampuan atau kesanggupan proses yang ada.
2. Spesifikasi yang berlaku, hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku,
bila ditinjau dari segi kemampuan proses dan keinginan atau kebutuhan konsumen
yang ingin dicapai dari hasil produksi tersebut. Dapat dipastikan dahulu apakah
spesifikasi tersebut dapat berlaku.(Rottie, 2019)
2.1.2. Pengendalian Kualitas Statistik
Statistik merupakan teknik pengambilan keputusan pada suatu analisa informasi
yang terkandung dalam suatu sampel dari populasi. Metode statistik memegang peranan
penting dalam jaminan kualitas. Metode statistik memberikan cara-cara pokok dalam
pengambilan sampel produk, pengujian serta evaluasi dan informasi didalam data yang
digunakan untuk mengendalikan dan meningkatkan proses pembuatan.
Pengendalian kualitas merupakan aktivitas teknik dan manajemen dimana
mengukur karakteristik kualitas dari produk ataujasa, kemudian membandingkan hasil
pengukuran itu dengan spesifikasi produk yang diinginkan serta mengambil tindakan
peningkatan yang tepat apabila ditemukan perbedaan kinerja aktual dan standar.(Almeida
et al., 2016)
Penggunaan bahan/material yang bagus, penggunaan mesin-mesin/peralatan
produksi yang memadai, tenaga kerja yang terampil, danproses produksi yang tepat,
Merupakan beberapa cara yang bisa dilakukan dalam pengendalian kualitas. Pengendalian
kualitas secara statistik (Statistical Quality Control) dapat digunakan untuk menemukan
kesalahan produksi yang mengakibatkan produk tidak baik, sehingga dapat diambil
tindakan lebih lanjut untuk mengatasinya.
8
Menurut Heizer dan Render, Statistical Process Control (SPC) merupakan sebuah
proses yang dilakukan dengan tujuan untuk melakukan pengukuran, mengawasi standar,
serta mengambil tindakan perbaikan ketika proses produksi suatu produk atau jasa sedang
berjalan. Heizer dan Render juga menyebutkan bahwa pada Statistical Process Control
(SPC) memiliki 7 alat bantu utama yang disebut Seven Tools terdiri dari checksheet,
histogram, diagram pencar, diagram pareto, stratifikasi, diagram sebab-akibat, dan peta
kendali.(Syaifi, 2021)
Alat ukur pengendali kualitas antara lain :
1. Lembar Pemeriksaan (Check Sheet) Lembar pemeriksa atau Cheek Sheet ialah
metode penganalisis dan pengumpulan data yang disediakan kedalam model tabel
yang berisikan jumlah total jenis penyimpangan beserta dengan jumlah yang
diproduksi dalam jumlah total jumlah produksi.
Adapun fungsi dari digunakannya lembar pemeriksa atau (Cheek Sheet)
sebagai alat ialah:
a. Membedakan antara fakta dan opini.
b. Data dapat tersusun langsung secara otomatis untuk memudahkan
pengumpulannya.
c. Beberapa jenis masalah dapat diorganisir datanya terhadap masalah dan jenis-
jenisnya.
d. Memperlihatkan letak masalah muncul dimana, sehingga mempermudah data
dapat terkumpul.(Syaifi, 2021)
Gambar 2. 1. Lembar Pemeriksaan ( Check Sheet )
Sumber : Heizer dan Render, 2017
9
2. Diagram Tebar (Scatter Diagram)
Scatter Diagram atau diagram tebar atau korelasi merupakan diagram yang dapat
memperlihatkan hubungan dua variabel, walaupun mungkin hubungannya tidak kuat,
tetapi tetap dapat melihat hubungan antara faktor yang memengaruhi proses dan kualitas.
Scatter Diagram prinsipnya merupakan alat interpretasi data untuk menguji kekuatan
hubungan dua variabel, dan melihat jenis hubungannya apakah positif, negatif, ataupun
tidak relevan. Variabel yang ditampilkan dalam scatter diagram merupakan dapat menjadi
faktor-faktor yang memengaruhi dan dipertimbangkan.(Syaifi, 2021)
Gambar 2. [Link] Tebar (Scatter Diagram)
Sumber : Heizer dan Render, 2017
3. Diagram Sebab-akibat (Cause and Effect Diagram)
Diagram Sebab-akibat (Cause and Effect Diagram) ataupun biasa disebutfishbone chart
merupakan diagram yang dapat memperlihatkan berbagai faktor yang berdampak
terhadap kualitas dan permasalahannya. Diagram ini disebut fishbone karena diagramnya
ditunjukkan dalam panah-panah berbentuk tulang ikan, yang mana dapat memperlihatkan
faktor-faktor secara lebih terperinci dan berpengaruh. (Syaifi, 2021)
10
Gambar 2. 3. Diagram Sebab-akibat (Cause and Effect Diagram)
Sumber : Heizer dan Render, 2017
4. Diagram Pareto (Pareto Analysis)
Diagram pareto digunakan pertama kali oleh Joseph Juran dan pertama kali diperkenalkan
oleh Alfredo Pareto. Diagram pareto ialah grafil bariss dan grafik balok merupakan
perbadaan tiap-tiap jenis data terhadap keseluruhan. Dengan menggunakan Diagram
pareto, bisa dilihat kecacatan yang paling menonjol sehingga bisa diketahui penyelesaian
permasalahan. Dan kegunaan Diagram pareto ialah agar mudah menyeleksi permasalahan
utama atau mengidentifikasi untuk pengembangan mutu dari yang paling besar ke yang
paling kecil.(Syaifi, 2021)
Gambar 2. 4. Diagram Pareto (Pareto Analysis)
Sumber : Heizer dan Render, 2017
5. Diagram Proses/Diagram Alir (Process Flow Chart)
11
Secara grafis diagram alir memperlihatkan suatu sistem atau proses yang saling
berhubungan dengan memakai garis dan kotak. Bagan ini cangat mudah, tapi merupakan
metode untuk menjelaskan langkah-langkah sebuah proses atau yang sangat baik untuk
mencoba memahami suatu metode.(Syaifi, 2021)
Gambar 2. 5. Diagram Proses/Diagram Alir (Process Flow Chart)
Sumber : Heizer dan Render, 2017
6. Histogram
Histogram ialah sebuah metode yang dapat memudahkan untuk menetapkan variasi
didalam proses. Histogram hadir dalam bentuk diagram batang yang dapat
mempertunjukkan hasil tabulasi dari data- data yang ditentukan berdasarkan ukuran.
Tabulasi data semacam ini biasanya disebut distribusi frekuensi. Histogram
memperlihatkan karakteristik data yang terbagi dalam beberapa kategori. Histogram
Dapat berbentuk “normal” atau bisa seperti lonceng yang memperlihatkan bahwa rata-
rata berisi banyak data. Bentuk Histogram yang miring atau asimetris memperlihatkan
jumlah data yang berbeda, tetapi sebagian besar data berbeda pada batas bawah atau
atas.(Syaifi, 2021)
Gambar 2. 6. Histogram
Sumber : Heizer dan Render, 2017
7. Peta Kendali (control Chart)
12
Peta Kendali atau Control Chart merupakan alat grafis yang digunakan untuk menentukan
evaluasi terhadap sebuah kegiatan termasuk ke dalam kendali mutu secara statistik atau
tidak, sehingga dapat menjadi acuan untuk peningkatan kualitas. Peta Kendali ini akan
membantu kita memantau perubahan data dari masa ke masa, walaupun tidak dapat
menunjukkan penyebab dari penyimpangan yang muncul di Peta Kendali. Adapun
manfaat dari diagram kendali yaitu :
a. Informasi mengenai proses produksi yang masih sesuai prosedur— atau
terkendali—ataupun tidak dapat didapatkan dari diagram ini.
b. Mengamati terus proses produksi untuk menjaga stabilitas.
c. Menetapkan kemampuan proses (capability process).
d. Mengevaluasi kinerja implementasi dan menerapkan kebijakan proses produksi.
e. Membantu menentukan standar kualitas produk yang diterima sebelum masuk
pasar.(Syaifi, 2021)
Gambar 2. 7. Statistical Process Control atau Peta Kendali (Control Chart)
Sumber : Heizer dan Render, 2017
Manfaat Statistical Process Control ;
Manfaat dengan melakukan pengendalian kualitas secara statistik adalah :
1. Pengawasan (control), di mana penyelidikan yang diperlukan untuk dapat menetapkan
statistical control mengharuskan bahwa syarat-syarat kualitas pada situasi itu dan
kemampuan prosesnya telah dipelajari hingga mendetail. Hal ini akan menghilangkan
beberapa titik kesulitan tertentu, baik dalam spesifikasi maupun dalam proses.
13
2. Pengerjaan kembali barang-barang yang telah scrap- rework. Dengan dijalankan
pengontrolan, maka dapat dicegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam proses.
Sebelum terjadi hal-hal yang serius dan akan diperoleh kesesuaian yang lebih baik antara
kemampuan proses (process capability) dengan spesifikasi, sehingga banyaknya barang-
barang yang diapkir (scrap) dapat dikurangi sekali. Dalam perusahaan pabrik sekarang ini,
biaya-biaya bahan sering kali mencapai 3 sampai 4 kali biaya buruh, sehingga dengan
perbaikan yang telah dilakukan dalam hal pemanfaatan bahan dapat memberikan
penghematan yang menguntungkan.
3. Biaya-biaya pemeriksaan, karena Statistical Quality Control dilakukan dengan jalan
mengambil sampel- sampel dan mempergunakan sampling techniques, maka hanya
sebagian saja dari hasil produksi yang perlu untuk diperiksa. Akibatnya maka hal ini akan
dapat menurunkan biaya-biaya pemeriksaaan. (Rottie, 2019)
2.2. Penelitian Terdahulu
Penlitian terdahulu yang berhubungan dengan keputusan pembelian relatif banyak
dilakukan. Namun demikian penelitian tersebut memiliki variasi yang berbeda seperti
penggunaan variabel independen, lokasi penelitian, jumlah responden yang berbeda dan
lain sebagainya. Beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan keputusan
pembelian dapat disajikan di bawah ini.
Devani, Vera, Wahyuni, Fitri 2017 melakukan penelitian tentang Pengendalian
Kualitas Kertas Dengan Menggunakan Statistical Process Control di Paper Machine 3
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa kecacatan produk kertas serta menganalisa
faktor-faktor yang menyebabkan kecacatan dengan menggunakan statistical process
control. Statistik process control merupakan metode pengambilan keputusan untuk
memonitoring, mengendalikan, menganalisa, mengelola serta memperbaiki produk dan
proses dengan menggunakan metoda statistik. Berdasarkan diagram Pareto, kecacatan
produk yang banyak terjadi terdapat pada kecacatan wavy dengan persentase 81,7%.
Faktor penyebab utama kecacatan adalah faktor manusia, karena operator yang baru
memahami mesin dan kurangnya pelatihan sehingga terjadi kesalahan dalam pengimputan
data dan menyebabkan terjadi kecacatan pada produk. (Devani, 2017)
14
Harini Fajar Ningrum 2016 melakukan penelitian tentang Analisis Pengendalian Kualitas
Produk Menggunakan Metode Statistical Process Control (SPC) Pada PT Difa Kreasi Dari
penelitian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan jumlah produksi karton siku selama bulan
April 2016 adalah sebesar 76.151 pcs dengan jumlah cacat sebanyak 4.402 pcs atau sebesar
1.77%, dengan jenis kerusakan yang paling dominan adalah salah ukuran sebesar 46.1%,
bentuk tidak sempurna sebesar 30.3%, dan potongan kasar sebesar 23.6%. Berdasarkan hasil
peta kendali p (p-chart) dapat dilihat masih adanya kecacatan produk yang berada diluar batas
kendali, titik tersebut berfluktuasi dan tidak beraturan. (Harini, 2016)
Suarni Norawati & Zulher 2019 melakukan penelitian tentang Analisis
Pengendalian Mutu Produk Roti Manis Dengan Metode Statistical Process Control (Spc)
Pada Kampar Bakery Bangkinang Peta kendali kendali jenis kerusakan produk roti manis
pada Kampar Bakery jenis kerusakan produk roti manis pada Kampar Bakery Bangkinang
dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan Berdasarkan analisa data dengan analisa data
dengan menggunakan peta kendali dapat diketahui bahwa garis pusat (CL) tingkat
kerusakan menggunakan peta kendali dapat diketahui bahwa garis pusat (CL) tingkat
kerusakan produk roti manis pada Kampar Bakery berada pada titik 0,06962857, dengan
garis roti manis pada Kampar Bakery berada pada titik 0,06962857, dengan garis batas
kendali atas (UCL) berada pada titik 0,07846834, sedangkan garis batas kendali batas
kendali atas (UCL) berada pada titik 0,07846834, sedangkan garis batas kendali bawah
(LCL) berada pada titik 0,0607881. Hasil bawah (LCL) berada pada titik 0,0607881. Hasil
ini menunjukkan bahwa tingkat ini menunjukkan bahwa tingkat kerusakan produk roti
manis pada Kampar Bakery masih terkendali karena tidak ada manis pada Kampar Bakery
masih terkendali karena tidak adadata yang keluar dari batas kendali yang telah
ditentukan. (Surani, 2019)
Tabel 2. 1. Penelitian Terdahulu
PENELITI JUDUL VARIABEL ANALISIS HASIL
Devani, Pengendalian Kualitas Statistical Berdasarkan diagram Pareto,
Vera, Kualitas Produk Process
kecacatan produk yang banyak
Wahyuni, Kertas Control
Fitri 2017 Dengan terjadi terdapat pada kecacatan
Menggunakan
wavy dengan persentase 81,7%.
Statistical
Process Faktor penyebab utama kecacatan
Control di
15
Paper adalah faktor manusia, karena
Machine 3
operator yang baru memahami
mesin dan kurangnya pelatihan
sehingga terjadi kesalahan dalam
pengimputan data dan
menyebabkan terjadi kecacatan
pada produk.
Harini Analisis Kualitas Statistical Berdasarkan hasil peta kendali p
Fajar Pengendalian Produk Process
(p-chart) dapat dilihat masih
Ningrum Kualitas Control
2016 Produk adanya kecacatan produk yang
Menggunakan
berada diluar batas kendali, titik
Metode
Statistical tersebut berfluktuasi dan tidak
Process
beraturan.
Control (SPC)
Pada PT Difa
Kreasi
Suarni Analisis Pengendalian Statistical Hasil ini menunjukkan bahwa
Norawati Pengendalian Mutu Process
tingkat ini menunjukkan bahwa
& Zulher Mutu Produk Control
2019 Roti Manis tingkat kerusakan produk roti
Dengan
manis pada Kampar Bakery masih
Metode
Statistical terkendali karena tidak ada manis
Process
pada Kampar Bakery masih
Control (Spc)
Pada Kampar terkendali karena tidak adadata
Bakery
yang keluar dari batas kendali
Bangkinang
yang telah ditentukan.
Sumber ; Kampus Terikat
2.3. Kerangka Konseptual
Kerangka berpikir merupakan perlengkapan peneliti untuk menganalisa perencanaan dan
beragumentasi kecenderungan asumsi ke mana akan dilabuhkan, penelitian kuantitatif
kecenderungan akhirnya adalah diterima atau ditolak hipotesis penelitian tersebut, sedangkan
penelitian yang berebentuk pernyataan atau narasi-narasi peneliti bertolak dari data dan
memanfaatkan teori yang digunakan sebagai bahan penjelasan dan berakhir dengan pembaharuan
suatu pernyataan atau hipotesa.(Syahputri, Fallenia and Syafitri, 2023). Di bawah ini adalah
gambaran kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini.
16
Gambar 2. 8. Kerangka Konseptual Penelitian
CV. Sahara Intan Mahkota
Manajemen Oprasional
Input :
1. Studi Pendahuluan untuk melihat fenomena yang terjadi
2. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
3. Melakukan Studi Lapangan untuk mengumpulkan data dan mengenal informasi
melalui
wawncara
4. Melakukan Studi Kepudstakaan untuk mengumpulkan materi-materi yang
mendukung Penelitian
5. Menggali informasi kebijakan pengendalian yang dilakukan di proses produksi
Process :
1. Mengumpulkan data produksi dan produk Not Good (rusak )
2. Membuat Histogram
[Link] peta kendali
4. Membuat Diagram Pareto
[Link] sebab akibat terjadi produk cacat dangan menggunakan
diagram sebab akibat
[Link] usulan/Rekomendasi perbaikan kualitas
Rekomendasi berdasarkan perhitungan Metode Statistical Process Control
17
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di CV. Sahara Intan Mahkota pada Bulan Februari
2024 sampai dengan April 2024, sesuai dengan jadwal penelitian yang tertera pada tabel
di bawah ini.
Gambar 3. 1. Tabel Tempat dan Waktu Penelitian
3.2. Jenis Penelitian
Metode penelitian merupakan penjabaran langkah-langkah untuk memecahkan
masalah penelitian, berdasarkan latar belakang dan tujuan yang dicapai melalui
penggunaan teori untuk mendukung pemecahan masalah penelitian. Dalam penelitian
kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah),
sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi
berperanserta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan
dokumentasi. Catherine Marshall, Gretchen B. Rossman, menyatakan bahwa "the
fundamental methods relied on by qualitative researchers for gathering formation are,
participation in the setting, direct observation, in-depth mlerviewing, document review"
(Sugiyono, 2021)
Berdasarkan langkah-langkah dan data yang telah dikumpulkan, maka dalam
penelitian ini digunakan Metode deskriptif, yaitu metode yang menjelaskan serta
menguraikan secara sistematis mengenai variabel yang diteliti melalui proses analisis
yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data untuk kemudian dianalisa sehingga
memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai objek yang diteliti, selanjutnya akan
ditarik kesimpulan serta dilakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan. Sehingga
penelitian ini digunakan untuk mengkaji secara mendalam tentang pengendalian kualitas
produk Batako pada CV. Sahara Intan Mahkota. Dan diharapkan penelitian ini dapat
mengatasi permasalahan yang sedang ada
3.3. Subyek Penelitian
Studi Lapangan pada penelitian ini dilakukan di Desa Telajung, Kec. Cikarang
Barat, Kab. Bekasi – Jawa Barat
3.4. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi ( Pengamatan )
Nasution (1988) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia
kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan
bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil
(proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda ruang angkasa) dapat di observasi
dengan jelas. (Sugiyono, 2021)
2. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data lain, guna melakukakn studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang akan diteliti, dan juga untuk
mengetahui hal-hal mendalam dari responden dalam jumlah kecil. (Sugiyono, 2021)
3.5. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, pengolahan data dengan menggunakan alat bantu yang
terdapat di Statistical Processing Control (SPC) . Menurut Heizer dan Render, Statistical
Process Control (SPC) merupakan sebuah proses yang dilakukan dengan tujuan untuk
melakukan pengukuran, mengawasi standar, serta mengambil tindakan perbaikan ketika
proses produksi suatu produk atau jasa sedang berjalan. Heizer dan Render juga
menyebutkan bahwa pada Statistical Process Control (SPC) memiliki 7 alat bantu utama
19
yang disebut Seven Tools terdiri dari checksheet, histogram, diagram pencar, diagram
pareto, stratifikasi, diagram sebab-akibat, dan peta kendali.(Syaifi, 2021)
Alat ukur pengendali kualitas antara lain :
3.5.1. Lembar Pemeriksaan (Check Sheet)
Lembar pemeriksa atau Cheek Sheet ialah metode penganalisis dan pengumpulan
data yang disediakan kedalam model tabel yang berisikan jumlah total jenis
penyimpangan beserta dengan jumlah yang diproduksi dalam jumlah total jumlah
produksi.
3.5.2. Histogram
Histogram ialah sebuah metode yang dapat memudahkan untuk menetapkan
variasi didalam proses. Histogram hadir dalam bentuk diagram batang yang dapat
mempertunjukkan hasil tabulasi dari data- data yang ditentukan berdasarkan ukuran.
Tabulasi data semacam ini biasanya disebut distribusi frekuensi. Histogram
memperlihatkan karakteristik data yang terbagi dalam beberapa kategori.
3.5.3. Peta Kendali (control Chart)
Peta Kendali atau Control Chart merupakan alat grafis yang digunakan untuk
menentukan evaluasi terhadap sebuah kegiatan termasuk ke dalam kendali mutu secara
statistik atau tidak, sehingga dapat menjadi acuan untuk peningkatan kualitas. Penggunaan
peta kendali p ini adalah dikarenakan pengendalian kualitas yang dilakukan bersifat
atribut. Serta data yang diperoleh yang dijadikan sampel pengamatan tidak tetap dan
produk yang mengalami kerusakan tersebut dapat diperbaiki lagi sehingga harus ditolak
(reject).
a. Menghitung persentase kerusakan
p = Xi
n
Keterangan :
p = proporsi cacat rata- rata
Xi= Jumlah Total yang rusak
n = Jumlah total yang diperiksa
20
b. Menghitung batas kendali atas atau Upper Control Limit ( UCL )
Central Line adalah garis tengah yang berada diantara batas kendali atas (UCL) dan
batas kendali bawah (LCL). Garis pusat ini merupakan garis yang mewakili rata-rata
tingkat kerusakan dalam suatu proses produksi. Untuk menghitung garis Upper Central
Line ( UCL ) digunakan rumus :
Sumber : Menurut Nasution (2014:112)
Keterangan :
p = proporsi cacat rata- rata
b = konstan pengali dengan nilai 1,2,3
sp = standar deviasi proporsi rata-rata sampel
Menghitung batas kendali bawah atau Lower Control Limit ( LCL ) Batas kendali atas dan
batas kendali bawah merupkan indicator ukuran secara statistic sebuah proses bisa
dikatakan menyimpang atau tidak. Batas kendali atas (UCL).
Dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Sumber : Menurut Nasution (2014:112)
Keterangan :
p = Proporsi Cacat Rata-rata
b = konstan pengali
21
3.5.4. Menemukan prioritas perbaikan (menggunakan) Diagram pareto
Dari data informasi mengenai jenis kerusakan produk yang terjadi kemudian dibuat
diagram pareto untuk mengidentifikasi, mengurutkan dan bekerja menyisihkan kerusakana secara
permanen. Dengan diagram ini, maka dapat diketahui cacat yang paling dominan.
3.5.5. Mencari Faktor penyebab yang paling dominan dengan diagram sebab –
akibat
Setelah diketahui masalah utama yang paling dominan dengan menggunakan
histogram, maka lakukan analisa faktor kerusakan produk dengan menggunakan fishbone
diagram, sehingga dapat menganalisis faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab
kerusakan produk. Pada fishbone diagram dikelompokkan kedalam 5 unsur yaitu pekerja, bahan
baku, mesin, metode dan lingkungan. Dari 3 jenis cacat. Dari hasil analisis menggunakan fishbone
diagram , penyebab faktor cacat yang paling dominan yaitu faktor pekerja, metode, lingkungan,
bahan baku dan mesin.
Terdapat Metode kerja tabel diagram Fishbone :
Gambar 3. 2. Fishbond
3.5.6. Membuat Rekomendasi/Usulan perbaikan
Kualitas Disusun sebuah rekomendasi atau usulan tindakan untuk melakukan
perbaikan kualitas produk yang dilakukan dalam mengurangi cacat produk. Dalam proses
menggunakan diagram sebab akibat dengan Metode 5W-1H :
1. Apa (what) adalah apa yang menjadi target utama dengan menetapkan penyebab yang
paling utama yang dapat diperbaiki.
22
2. Mengapa (Why) adalah mengapa rencana tindakan itu diperlukan dengan mencari
alasan dan membandingkan antara produk yang bagus dengan produk cacat/rusak.
3. Dimana (Where) adalah dimana rencana itu akan dilaksanakan.
4. Bilamana (When) adalah bilamana aktivitas rencana tindakana itu akan terbaik untuk
dilaksanakan.
5. Siapa (Who) adalah siapa yang akan mengerjakan aktivitas rencana tindakan itu,
dengan mengidentifikasi struktur organisasi untuk menentukan jabatan atau posisi
yang bertanggung jawab untuk melaksanakan langkah perbaikan.
6. Bagaimana (How) adalah bagaimana langkah-langkah dalam penerapan tindakan
peningkatan itu.
23