LP DM
LP DM
OLEH :
Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi baik ketika pancreas
tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan
insulin yang dihasilkan secara efektif. Insulin adalah hormone yang mengatur
gula darah atau glukosa dalam tubuh. Diabetes melitus merupakan sindrom
metabolic yang ditandai dengan hiperglikemia kronis akibat salah satu dari
beberapa kondisi yang menyebabkan sekresi dan/atau tindakan insulin rusak.
Diabetes melitus tipe II disebabkan oleh kegagalan relative sel dan resistensi
insulin yang dimana resistensi insulin merupakan turunnya kemampuan insulin
untuk merangsang pengambilan glokusa jaringan perifer untuk menghambat
produksi glukosa oleh hati. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya
hiperglikemia kronik dan dalam jangka panjang dapat terjadi komplikasi yang
serius. Secara keseluruhan gangguan ini dapat bersifat merusak dan memburuk
secara progresif dengan berjalannya waktu. Adapaun faktor risiko yang
menyebabkan terjadinya penyakit diabetes melitus tipe II adalah sebagai
berikut:
a. Usia diatas 45 tahun yang dimaan adanya perubahan anatomi, fisiologi
dan biokimia. Perubhana tersebut dimulai dari tingkat sel kemudian
berlanjut pada tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang
dapat mempengaruhi homeostasis.
b. Obesitas atau kegemukan yaitu berat badan lebih dari 20% dari berat
badan ideal atau BMI (Body Mass Index). Obesitas menyebabkan
beberapa respon sel beta pancreas terhadap peningkatan glukosa darah
berkurang, selain itu reseptor insulin pada sel diseluruh tubuh termasuk
di otot berkurang keaktifannya.
c. Riwayat keluarga dengan diabetes melitus tipe II atau faktor genetic.
d. Lingkungan seperti virus yang dapat memicu terjadinya autoimun dan
menghancirkan sel – sel pancreas, obat – obatan dan zat kimia.
e. Riwayat adanya gangguan toleransi glukosa (IGT/Impaired Glucose
Tolerance) atau gangguan Glukosapuasa (IFG/Impaired Fasting
Glucose)
f. Riwayat gestasional DM atau riwayat melahirkan bayi diatas 4 Kg
g. Polystic ovarium syndrome yang diakibatkan resistensi dari insulin.
h. Kebiasaan diet dan kurangnya olahraga atau kurang beraktivitas fisik.
3. Pohon Masalah
Reaksi Autoimun Genetik, Gaya hidup, Obesitas, Usia
DM Tipe II
DM Tipe I
Resistensi Insulin
Kerusakan Sel Beta Pankreas
Defisiensi Insulin
a. Pemeriksaan Darah
Bertujuan untuk melihat kadar glukosa dalam darah, Adapun batas
normal glukosa dalam darah yakni:
Jenis Pemeriksaan Rentang Normal
Glukosa darah sewaktu 70 – 140 mg/dl
Glukosa darah puasa 70 – 100 mg/dl
Glukosa darah 2 jam setelah < 140 mg/dl
makan
Selain pemeriksaan kadar gula darah juga ada pemeriksaan Hemoglobin
Adult 1C (HbA1c) yang dapat digunakan sebagai acuan untuk
monitoring penyakit diabetes melitus juga dapat memberikan informasi
lebih jelas terkait dengan keadaan yang sebenarnya pada pasien diabetes
melitus. Pemeriksaan HbA1c merupakan pemeriksaan yang
mencerminkan kadar glukosa darah rata – rata selama kurun waktu 2 –
3 bulan atau 120 hari sebelum dilakukannya pemeriksaan. Peningkatan
kadar HbA1c >8% sudah mengindikasikan diabetes melitus yang tidak
terkendali dan pada pasien yang berisiko tinggi dapat mengalami
komplikasi jangka panjang yang dapat berakibat fatal. Namun
pemeriksaan ini juga memiliki keterbatasan salah satunya adalah
harganya lebih mahal dibanding pemeriksaan glukosa darah. Kriteria
dari kadar HbA1c adalah:
Hasil Kadar HbA1c
Baik 4 – 5,9%
Sedang 6 – 8%
Buruk >8%
b. Pemeriksaan Fungsi Tiroid
Peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat meningkatkan glukosa darah
dan kebutuhan akan insulin.
c. Pemeriksaan urin
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya glukosa
dalam urine. Pemeriksaan ini dilakukan dengan acra benedict (reduksi),
hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urin seperti hijau (+),
kuning (++), merah (+++), serta merah bata (++++).
d. Pemeriksaan Kultur Pus
Pemeriksaan ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis kuman pada
luka agar dapat memberikan antibiotic sesuai jenis kuman tersebut.
7. Penatalaksanaan
a. Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan diabetes. Pada pasien hipoglikemia dapat diberikan
karbohidrat sederhana dan pasien hiperglikemia dapat diberikan
karbohidrat kompleks. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes
diarahkan untuk mencapai:
a) Memberikan semua unsur makanan esensial seperti vitamin dan
mineral.
b) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
c) Memenuhi kebutuhan energi
d) Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara
– cara yang aman dan praktis
e) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
b. Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya
dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko
kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan
meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki
pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki
dengan berolahraga. Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance
training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian
menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate). Semua
efek ini sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat
badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.
Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan
kadar HDL kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta
trigliserida. Semua manfaat ini sangat penting bagi penyandang diabetes
mengingat adanya peningkatan risiko untuk terkena penyakit
kardiovaskuler pada diabetes. Pasien dengan diabetes melitus akan
mengalami kaki dan tangan kebas, kesemutan sehingga pasien tidak
akan merasakan seperti pasien ditendang tidak merasa sehingga pasien
dapat menggunakan sepatu khusus DM yang dimana berfungsi
melindungi kaki untuk mencegah luka, infeksi maupun kelainan bentuk
kaki. Dengan menggunakan sepatu khusus DM yang sesuai dengan
ukuran dan nyaman untuk dipakai. Selain itu pasien dengan diabetes
melitus dapat melakukan senam kaki diabetes dengan menggunakan
koran merupakan sebuah Latihan yang dilakukan bagi penderita DM
untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran
darah bagian kaki. Adapun cara untuk melakukan senam kaki diabetes
adalah sebagai berikut:
a) Letakkan kaki di lantai lalu gerakkan jari – jari keatas dan kebawah
b) Angkat telapak kaki keatas dan bertumpu pada tumit, lakukan
gerakan memutar ke luar dengan gerakan pada pergelangan kaki dan
lakukan bergantian
c) Angkat kaki sejajar, gerakkan kaki ke depan dan ke belakang
d) Angkat kaki sejajar, gerakkan kaki kedepan
e) Luruskan salah satu kaki, putar pada pergelangan kaki seperti
menulis angka 0 – 10 lakukan bergantian kiri dan kanan
f) Lanjutkan dengan merobek kertas koran menjadi 2 bagian dengan
kaki. Robek salah satu bagian kertas koran menjadi bagian – bagian
kecil dan dipindahkan keatas koran yang masih utuh
g) Letakkan selembar koran dilantai, bentuk koran tersebut seperti bola
dengan kedua kaki, kemudian ratakan kembali kertas tersebut.
h) Bentuklah kertas koran menjadi bola dengan kaki
c. Terapi
Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka
panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat
hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Disamping itu,
sebagian pasien diabetes tipe II yang biasanya mengendalikan kadar
glukosa darah dengan diet atau dengan obat oral kadang membutuhkan
insulin secara temporer selama mengalami sakit, infeksi, kehamilan,
pembedahan atau beberapa kejadian stress lainnya. Penyuntikan insulin
sering dilakukan dua kali per hari (atau bahkan lebih sering lagi) untuk
mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada
malam hari. Karena dosis insulin yang diperlukan masing-masing
pasien ditentukan oleh kadar glukosa darah yang akurat sangat penting.
d. Pendidikan Kesehatan
Diabetes mellitus merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku
penanganan mandiri yang khusus seumur hidup. Pasien bukan hanya
belajar keterampilan untuk merawat diri sendiri guna menghindari
penurunan atau kenaikan kadar glukosa darah yang mendadak, tetapi
juga harus memiliki perilaku preventif dalam gaya hidup untuk
menghindari komplikasi jangka panjang yang dapat ditimbulkan dari
penyakit diabetes mellitus.
8. Komplikasi
1) Komplikasi Akut
a. Hipoglikemia, yaitu kadar gula dalam darah berada dibawah nilai
normal < 50 mg/dl
b. Hiperglikemia, yaitu suatu keadaan kadar gula dalam darah
meningkat secara tiba – tiba dan dapat berkembang menjadi
metabolisme yang berbahaya. Ketoasidosis diabetic (KAD) adalah
suatu keadaan dimana terjadi akibat defisiensi insulin yang bersifat
absolut dan terjadinya peningkatan kadar hornon yang berlawanan
dengan insulin. Akibat dari kadar gula yang tidak terkontrol
mengakibatkan terjadinya pemecahan simpanan lemak yang
menghasilkan hiperglikemia dan mobilisasi asam lemak serah
dengan ketoasidosis. Kemudian produksi glukosa oleh hati juga
naik, penggunaan glukosa diperifer turun, mobilisasi lemak naik dan
ketogenesis (pembentukan keton) terangsang untuk dibentuk. Tanda
gejala dari KAD adalah haus, lemah, hipotensi, mual muntah dan
nafas berbau. Keton.
2) Komplikasi Kronis
a. Komplikasi makro vaskuler, yang biasanya terjadi pada pasien DM
adalah pembekuan darah di sebagian otak, jantung koroner, stroke,
dan gagal jangung kongestif.
b. Komplikasi mikro vaskuler, yang biasanya terjadi pada pasien DM
adalah nefropati, diabetik retinopati (kebutaan), neuropati, dan
amputasi
c. Komplikasi Neuropati
Komplikasi neuropati perifer dan otonom menimbulkan
permasalahan di kaki, yaitu berupa ulkus kaki [Link]
ulkus diabetik diawali dengan adanya hiperglikemia pada pasien
diabetes. Hiperglikemia ini menyebabkan terjadinya neuropati dan
kelainan pada pembuluh darah. Neuropati baik sensorik, motorik
maupun autonomik akan menimbulkan berbagai perubahan pada
kulit dan otot. Kondisi ini selanjutnya menyebabkan perubahan
tekanan pada telapak kaki yang akan mempermudah terjadinya
ulkus. Ulkus di kaki dapat sangat dalam dan mengalami infeksi
sehingga masa penyembuhannya lama dan dapat mengakibatkan
amputasi pada tungkai.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien, meliputi nama, tempat tanggal lahir, usia, status
perkawinan, pekerjaan, agama, jenis kelamin, Pendidikan terakhir, asal
suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, nomor rekam medis dan
sumber informasi.
b. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Pada pasien DM tipe dengan hipoglikemia dapat muncul gejala
seperti penglihatan kabur, lemas, rasa haus, banyak kencing,
dehidrasi, suhu meningkat, sakit kepala, pasien dalam keadaan
apatis sampai koma, untuk kondisi hiperglikemia dapat muncul
gejala seperti gemetar, sempoyongan, berkeringat, jantung
berdebar-debar, cemas, takikardi, palpitasi, menggigil, kepala terasa
ringan, pucat, lapar, mual, sakit kepala, kelelahan, mengantuk,
lemah, pandangan kabur, mimpi buruk, sulit konsentrasi, sulit
bicara, kebingungan, penurunan kesadaran, kejang.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi lama pasien menderita diabetes melitus, pernah dirawat
inap berapa kali, pengobatan apa yang dianjurkan.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah terdapat anggota keluarga yang menderita diabetes melitus
atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya
defisiensi insulin seperti hipertensi dan jantung. Seperti apakah
orang tua pasien memiliki riwayat diabetes?, apakah saudara pasien
memiliki riwayat diabetes?
c. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional
a) Pola Persepsi Kesehatan – Penanganan Kesehatan
Pada pasien penderita diabetes melitus perlu dilakukan pengkajian
mengenai gambaran pribadi terhadap kesehatannya, apakah terdapat
persepsi yang negatif terhadap dirinya sehingga terdapat
kecenderungan untuk tidak mengikuti anjuran dari petugas
kesehatan, kemudian bagaimana pasien mengelola kesehatannya
seperti seberapa sering melakukan kunjungan ke penyedia layanan
kesehatan dan kepatuhan terapi di rumah, serta bagaimana persepsi
pasien terhadap diet seperti berapa pentingkah pengaturan pola
makan bagi pasien
b) Pola Nutrisi – Metabolik
Akibat produksi insulin yang tidak adekuat pada penderita diabetes
melitus tipe 2, maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan nutrisi
dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Untuk
itu perlu dilakukan pengkajian meliputi :
1) Bagaimana diet yang dijalankan penderita? Apakah mengikuti
anjuran?
2) Bagaimana pola makan yang dijalankan? Apakah mengikuti
prinsip diet 3J yaitu jadwal makan, jenis makanan, dan jumlah
makanan yang direkomendasikan?
3) Apakah terdapat gangguan pencernaan yang mempengaruhi
kepatuhan terhadap diet?
c) Pola Eliminasi
Pada penderita diabetes biasanya mengeluh sering kencing atau
poliuria dan terjadinya glukosuria untuk itu perlu dilakukan
pengkajian pada pola ekskresi untuk mengetahui apakah terdapat
masalah dalam proses eksresi termasuk dalam hal eliminasi alvi.
d) Pola Aktivitas - Latihan
Akibat kondisi tubuh penderita diabetes yang rentan mengalami
kondisi hiperglikemia ataupun hipoglikemia, maka perlu dilakukan
pengkajian lebih lanjut apakah terdapat masalah dalam melakukan
aktivitas seperti mudah lelah dalam beraktivitas, perlunya bantuan
dalam beraktivitas dan lain sebagainya.
e) Pola Istirahat – Tidur
Adanya poliuri dan situasi rumah sakit yang ramai dapat
mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola
tidur dan waktu tidur penderita mengalami perubahan. Untuk itu
perlu dilakukan pengkajian terhadap lama waktu tidur, suasana
lingkungan, kebiasaan tidur, kesulitan tidur, serta penggunaan obat
tidur.
f) Pola Kognitif – Perseptual
Pada penderita diabetes melitus perlu dilakukan pengkajian
mengenai bagaimana pola pendengaran, penglihatan, pengecapan,
perabaan, penghidu, kemampuan berbahasa, ingatan dan
kemampuan membuat keputusan
g) Pola Persepsi - Konsep diri
Adanya perubahan status kesehatan akan menyebabkan penderita
diabetes melitus mengalami gangguan pada gambaran diri. Lama
penyakit yang diderita, ketidakadekuatan pemahaman, lama
program perawatan dan pengobatan, biaya program perawatan dan
pengobatan yang menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan
kurangnya motivasi sehingga berdampak pada kepatuhan dalam
mengikuti anjuran yang diberikan petugas kesehatan.
h) Pola Peran – Hubungan
Apakah terdapat indikasi menarik diri dari pergaulan, Pasien tinggal
dengan siapa, hubungan dengan keluarga dan sosialnya apakah
terdapat perubahan, tanggapan keluarga terhadap penyakit yang
diderita pasien , apakah keluarga mendukung sepenuhnya terhadap
pengobatan dan perawatan pasien terutama dalam hal ketlatenan
dalam mengingatkan, menyuruh, dan merawat pasien.
i) Pola Seksualitas - Reproduksi
Pada penderita diabetes melitus pelunya dilakukan pengkajian
apakah terdapat masalah dalam seksualitas dan reproduksi
sehubungan dengan penyakitnya.
j) Pola Toleransi Stress – Koping
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang
dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya. Pemikiran
terhadap lamanya waktu perawatan dan pengobatan, banyaknya
biaya biaya yang dikeluarkan, terlalu banyak pantangan yang
dijalankan, perasaan tidak berdaya, serta respons pasien terhadap
stressor apakah mengakibatkan banyak makan atau malas makan
sehingga dapat menyebabkan reaksi psikologis yang negatif seperti
menjadi mudah marah, mudah tersinggung, dan terjadinya
kecemasan.
k) Pola Nilai Kepercayaan
Adakah nilai kepercayaan yang bertentangan dengan program
pengobatan yang dianjurkan terutama dalam hal diet yang
dijalankan.
d. Pemeriksaan Fisik
a) Status kesehatan umum : meliputi keadaan penderita yang sering
muncul adalah kelemahan fisik.
b) Tingkat kesadaran : normal, letargi, stupor, koma (tergantung kadar
gula yang dimiliki dan kondisi fisiologis untuk melakukan
kompensasi kelebihan kadar gula dalam darah)
c) Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah (TD) : biasanya mengalami hipertensi dan juga
ada yang mengalami hipotensi.
2) Nadi (N) : biasanya pasien DM mengalami takikardi saat
beristirahat maupun beraktivitas.
3) Pernapasan (RR) : biasanya pasien mengalami takipnea
4) Suhu (S) : biasanya suhu tubuh pasien mengalami peeningkatan
jika terindikasi adanya infeksi.
5) Berat badan : pasien DM biasanya akan mengalami penuruan BB
secara signifikan pada pasien yang tidak mendapatkan terapi dan
terjadi peningkatan BB jika pengobatan pasien rutin serta pola
makan yang terkontrol.
d) Kepala dan leher
1) Wajah : kaji simetris dan ekspresi wajah, antara lain paralisis
wajah (pada pasien dengan komplikasi stroke).
2) Mata : kaji lapang pandang pasien , biasanya pasien mengalami
retinopati atau katarak, penglihatan kabur, dan penglihatan
ganda (diplopia).
3) Telinga : pengkajian adakah gangguan pendengaran, apakah
telinga kadang-kadang berdenging, dan tes ketajaman
pendengaran dengan garputala atau bisikan.
4) Hidung : tidak ada pembesaran polip dan tidak ada sumbatan,
serta peningkatan pernapasan cuping hidung (PCH).
5) Mulut :
(a) Bibir : sianosis (apabila mengalami asidosis atau
penurunanperfusi jaringan pada stadium lanjut).
(b) Mukosa : kering, jika dalam kondisi dehidrasi akibat diuresis
osmosis.
(c) Pemeriksaan gusi mudah bengkak dan berdarah, gigi mudah
goyah.
(d) Leher : pada inspeksi jarak tampak distensi vena jugularis,
pembesaran kelenjar limfe dapat muncul apabila ada infeksi
sistemik
f) Abdomen
a) Inspeksi : amati bentuk abdomen simetris atau asimetris.
b) Auskultasi : dengarkan apakah bising usus meningkat.
c) Perkusi : dengarkan thympany atau hiperthympany.
d) Palpasi : rasakan adanya massa atau adanya nyeri tekan.
g) Integumen
a) Kulit : biasanya kulit kering atau bersisik
b) Warna : tampak warna kehitaman disekitar luka karena adanya
gangren, daerah yang sering terpapar yaitu ekstremitas bagian
bawah.
c) Turgor : menurun karena adanya dehidrasi
d) Kuku : sianosis, kuku biasanya berwarna pucat
e) Rambut : sering terjadi kerontokan karena nutrisi yang kurang.
h) Sirkulasi
(a) Gejala : adanya riwayat hipertensi, klaudikasi, kebas, dan
kesemutan pada ektremitas, ulkus pada kaki dan penyembuhan
lama.
(b) Tanda : adanya takikardia, perubahan tekanan darah postural,
hipertensi, disritmia.
i) Genetalia : adanya perubahan pada proses berkemih, atau poliuria,
nokturia, rasanyeri seperti terbakarpada bagian organ genetalia,
kesulitan berkemih (infeksi).
j) Neurosensori : terjadi pusing, pening, sakit kepala, kesemutan,
kebas pada otot. Tanda : disorientasi; mengantuk, letargi,
stupor/koma (tahap lanjut)
2. Diagnosis Keperawatan
a. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) berhubungan dengan
hipoglikemia: disfungsi pancreas, resistensi insulin, Hiperglikemia:
penggunaan insulin atau obat glikemik oral, hyperinsulinemia (misal
insulinoma), endokrinopati (misal kerusakan adrenal atau pituitary),
disfungsi hati, disfungsi ginjal kronis, efek agen farmakologis, tindakan
pembedahan neoplasma, gangguan metabolic bawaan (misal gangguan
penyimpanan lisosomal, galaktosemia, gangguan penyimpanan
glikogen) dibuktikan dengan hipoglikemia: mengantuk, pusing,
gangguan koordinasi, kadar glukosa dalam darah/urin rendah, palpitasi,
mengeluh lapar, gemetar, kesadaran menurun, perilaku aneh, sulit
bicara, berkeringat, Hiperglikemia: lelah atau lesu, kadar glukosa dalam
darah/urin tinggi, mulut kering, haus meningkat, jumlah urin meningkat.
b. Bersihan jalan napas tidak efektif (D.0001) berhubungan dengan
spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas, disfungsi neuromuscular,
benda asing dalam jalan napas, adanya jalan napas buatan, sekresi yang
tertahan, hyperplasia dinding jalan napas, proses infeksi, respon alergi,
efek agen farmakologis (mis. Anastesi), merokok aktif, merokok pasif,
terpajan polutan dibuktikan dengan batuk tidak efektif, tidak mampu
batuk, sputum berlebih, mengi, wheezing dan/atau ronchi kering,
meconium di jalan napas (pada neonatus).
c. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan penurunan
aliran arteri dan/atau vena, kurang informasi tentang faktor pemberat
(mis. trauma, imobilitas) dibuktikan dengan pengisian kapiler >3 detik,
nadi perifer menurun atau tidak teraba, akral teraba dingin, warna kulit
pucat, turgor kulit menurun, nyeri ekstremitas, edema dan penyembuhan
luka lambat
d. Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan
mengabsorbsi nutrient, peningkatan kebutuhan metabolisme dibuktikan
dengan berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal,
kram/nyeri abdomen.
e. Hipovolemi (D.0023) berhubungan dengan kegagalan mekanisme
regulasi dibuktikan dengan frekuensi nadi meningkat, nadi teraba
lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit
menurun, membrane mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, merasa lemah, mengeluh haus, berat badan turun tiba – tiba.
f. Risiko Infeksi (D.0142) dibuktikan dengan penyakit kronis,
ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder: penurunan hemoglobin,
ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer: gangguan integritas kulit.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Edukasi
9. Anjurkan
minum obat
pengontrol
tekanan darah
secara teratur
10. Anjurkan
melakukan
perawatan kulit
yang tepat (mis.
melembapkan
kulit kering pada
kaki)
11. Informasikan
tanda dan gejala
darurat yang
harus dilaporkan
(mis. rasa sakit
yang tidak
hilang saat
istirahat, luka
tidak sembuh,
hilangnya rasa)
1. Identifikasi 1. Untuk
kemungkinan mengidentifikasi
penyabab BB kemungkinan
kurang penyabab BB
2. Monitor kurang
adanya mual
2. Untuk memonitor
dan muntah
adanya mual dan
3. Monitor
muntah
jumlah kalori
3. Untuk memonitor
yang
jumlah kalori
dikonsumsi
yang dikonsumsi
sehari-hari
sehari-hari
4. Monitor berat
4. Untuk memonitor
badan albumin,
berat badan
imfosit dan
albumin, imfosit
elektrolit serum
dan elektrolit
serum
Terapeutik
Terapeutik
1. Berikan
1. Untuk
perawatan
memberikan
mulut sebelum
perawatan mulut
pemberian
sebelum
makan, jika
pemberian
perlu
makan, ika perlu
2. Sediakan
makanan yang 2. Untuk
tepat sesuai menyediakan
kondisi pasien makanan yang
(mis, makanan tepat sesuai
dengan tekstur kondisi pasien
halus, makanan (mis, makanan
yang diblender, dengan tekstur
makanan cair halus, makanan
yang diberikan yang diblender,
melalui NGT makanan cair
atau yang diberikan
gastrostomi, melalui NGT atau
total sesuai gastrostomi,total,
indikasi) parenteral
3. Hidangkan nutrizton sesuai
makanan indikasi)
secara menarik 3. Untuk
4. Berikan menghidangkan
suplerman, jika makanan secara
perlu menarik
5. Berikan pujian 4. Untuk memberikan
pada suplerman, jika
pasien/keluarga perlu
untuk 5. Untuk memberikan
peningkatan pujian pada
yang dicapai pasien/keluarga
untuk peningkatan
Edukasi yang dicapai
1. Jelaskan jenis Edukasi
makanan yang 1. Menjelaskan jenis
bergizi tinggi, makanan yang
namun tetap bergizi tinggi,
terjangkau namun tetap
2. Jelaskan terjangkau
peningkatan 2. Menjelaskan
asupan kalori peningkatan asupan
yang dibutuhkan kalori yang
dibutuhkan
5. Hipovolemi Setelah dilakukan Intervensi Utama Intervensi Utama
(D.0023) tindakan Manajemen Manajemen
berhubungan keperawatan Hipovolemia Hipovolemia
dengan selama 3x24 jam (I.03116) (I.03116)
kegagalan diharapkan Status Observasi : Observasi :
mekanisme Cairan (L.03028) 1. Periksa tanda dan 1. Memeriksa tanda
regulasi, meningkat dengan gejala dan gejala
kekurangan kriteria hasil : hypovolemia hypovolemia (mis.
intake cairan 1. Kekuatan nadi (mis. frekuensi frekuensi nadi
dibuktikan meningkat nadi meningkat, meningkat, nadi
dengan 2. Output urine nadi teraba teraba lemah,
frekuensi nadi meningkat, lemah, tekanan tekanan darah
meningkat, nadi membrane darah menurun, menurun, tekanan
teraba lemah, mukosa lembap tekanan nadi nadi menyempit,
tekanan darah meningkat menyempit, turgor kulit
menurun, 3. Pengisian vena turgor kulit menurun, membrane
tekanan nadi meningkat menurun, mukosa kering,
menyempit, 4. Ortopnea membrane volume utin
turgor kulit menurun mukosa kering, menurun,
menurun, 5. Dispnea volume utin hematokrit
membrane menurun menurun, meningkat, haus,
mukosa kering, 6. Paroxysmal hematokrit lemah)
volume urin nocturnal meningkat, haus, 2. Memonitor intake
menurun, dyspnea (PND) lemah) dan output cairan
hematokrit menurun 2. Monitor intake
meningkat, 7. Edema anasarka dan output cairan
merasa lemah, menurun Terapeutik : Terapeutik :
mengeluh haus, 8. Edema perifer 3. Hitung 3. Mengetahui cairan
berat badan menurun kebutuhan cairan yang dibutuhkan
turun tiba – tiba. oleh pasien
9. Berat badan 4. Berikan asupan 4. Memberikan asupan
menurun cairan oral cairan oral
10. Distensi vena Edukasi :
jugularis Edukasi : 5. Menganjurkan
menurun 5. Anjurkan memperbanyak
11. Suara napas memperbanyak asupan cairan oral
tambahan asupan cairan oral Kolaborasi :
menurun Kolaborasi : 6. Untuk memenuhi
12. Kongesti paru 6. Kolaborasi kebutuhan cairan
menurun pemberian cairan pasien
13. Perasaan lemah IV isotonis (mis. 7. Untuk memenuhi
menurun NaCl, RL) kebutuhan cairan
14. Rasa haus 7. Kolaborasi pasien dan
menurun pemberian cairan meningkatkan kadar
15. Konsentrasi IV hipotonis (mis. gula dan
urine menurun glukosa 2,5%, menghindari
16. Frekuensi nadi NaCl 0,4%) hipoglikemia
membaik 8. Kolaborasi 8. Untuk mencegah
17. Tekanan darah pemberian produk anemia
membaik darah
18. Tekanan nadi Manajemen Syok
membaik Hipovolemik (I.02050)
19. Turgor kulit Observasi :
membaik Manajemen Syok 1. Mengetahui status
20. Jugular Venous Hipovolemik kardiopulmonal
Pressure (JVP) (I.02050) yang meliputi
membaik Observasi : frekuensi dan
21. Haemoglobin 1. Monitor status kekuatan nadi,
membaik kardiopulmonal frekuensi napas,
22. Hematokrit (frekuensi dan tekanan darah
membaik kekuatan nadi,
23. Cental Venous frekuensi napas, 2. Memonitor status
Pressure TD) oksigenasi
membaik 2. Monitor status (oksimetri nadi,
24. Refluks oksigenasi AGD)
hepatojugular (oksimetri nadi, 3. Mengetahui cairan
membaik AGD) masuk dan keluar
25. Berat badan 3. Monitor status pasien sehingga
membaik cairan (masukan mengetahui IWL
26. Hepatomegaly dan haluaran, pasien
membaik turgor kulit, 4. Untuk memeriksa
27. Oliguria CRT) tingkat kesadaran
membaik 4. Periksa tingkat pasien dan
28. Oliguria kesadaran dan memastikan pasien
membaik respon pupil tidak mengalami
29. Intake cairan 5. Periksa seluruh penurunan
membaik permukaan tubuh kesadaran
30. Status mental terhadap adanya 5. Untuk mengetahui
membaik DOTS ada tidaknya
Suhu tubuh (deformity/ deformitas, luka
membaik deformitas, terbuka, nyeri tekan
openwound/ luka dan bengkak jika
terbuka, ada maka dapat
tenderness/ nyeri segera diberi
tekan, swelling/ tatalaksana
bengkak) Terapeutik :
6. Mengambil sampel
Terapeutik : darah untuk
6. Ambil sampel pemeriksaan darah
darah untuk lengkap dan
pemeriksaan elektrolit
Kolaborasi :
darah lengkap 7. Untuk memenuhi
dan elektrolit kebutuhan cairan
Kolaborasi : pasien
7. Kolaborasi 8. Mencegah
pemberian infus terjadinya anemia
cairan kristaloid
1-2L pada
dewasa
8. Kolaborasi
pemberian
tranfusi darah,
jika perlu
NURDIN, H., Abidin, M. Z., Ners, M. K., Wahyudi, T., Warijan, S. P., & Kep, A.
(2021). ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DIABETES
MILITES TIPE 2 DENGAN FOKUS STUDI DEFISIT
PENGETAHUAN (DIIT, OBAT, OLAHRAGA) DI RSUD Dr
SOETIJONO BLORA. [Link]
[Link]/[Link]?p=show_detail&id=31691