0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan45 halaman

LP DM

LP DIABETES MELITUS

Diunggah oleh

Rsbm Kemoterapi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan45 halaman

LP DM

LP DIABETES MELITUS

Diunggah oleh

Rsbm Kemoterapi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

DIABETES MELITUS TYPE II

OLEH :

Ni Kadek Indraswari Astiti


P07120325123
PROFESI NERS C

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES DENPASAR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2025/2026
A. Konsep Dasar Diabetes Melitus Type II
1. Pengertian Diabetes Melitus Type II

Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi baik ketika pancreas
tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan
insulin yang dihasilkan secara efektif. Insulin adalah hormone yang mengatur
gula darah atau glukosa dalam tubuh. Diabetes melitus merupakan sindrom
metabolic yang ditandai dengan hiperglikemia kronis akibat salah satu dari
beberapa kondisi yang menyebabkan sekresi dan/atau tindakan insulin rusak.

Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan


kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme
dalam tubuh yang dimana gangguan metabolisme itu disebabkan oleh
kurangnya produksi insulin yang diperlukan oleh tubuh. Diabetes melitus type
II (DMT II) adalah suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik
hiperglikemia, terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua
– duanya. Diabetes militus type II ini tidak tergantung insulin atau yang disebut
sebagai Non – Insulin Dependent Diabetes Mellitus berbeda dengan diabetes
melitus type I yang tergantung terhadap insulin atau Insulin Dependent
Diabetes Mellitus.

2. Penyebab Diabetes Melitus Type II

Diabetes melitus tipe II disebabkan oleh kegagalan relative sel dan resistensi
insulin yang dimana resistensi insulin merupakan turunnya kemampuan insulin
untuk merangsang pengambilan glokusa jaringan perifer untuk menghambat
produksi glukosa oleh hati. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya
hiperglikemia kronik dan dalam jangka panjang dapat terjadi komplikasi yang
serius. Secara keseluruhan gangguan ini dapat bersifat merusak dan memburuk
secara progresif dengan berjalannya waktu. Adapaun faktor risiko yang
menyebabkan terjadinya penyakit diabetes melitus tipe II adalah sebagai
berikut:
a. Usia diatas 45 tahun yang dimaan adanya perubahan anatomi, fisiologi
dan biokimia. Perubhana tersebut dimulai dari tingkat sel kemudian
berlanjut pada tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang
dapat mempengaruhi homeostasis.
b. Obesitas atau kegemukan yaitu berat badan lebih dari 20% dari berat
badan ideal atau BMI (Body Mass Index). Obesitas menyebabkan
beberapa respon sel beta pancreas terhadap peningkatan glukosa darah
berkurang, selain itu reseptor insulin pada sel diseluruh tubuh termasuk
di otot berkurang keaktifannya.
c. Riwayat keluarga dengan diabetes melitus tipe II atau faktor genetic.
d. Lingkungan seperti virus yang dapat memicu terjadinya autoimun dan
menghancirkan sel – sel pancreas, obat – obatan dan zat kimia.
e. Riwayat adanya gangguan toleransi glukosa (IGT/Impaired Glucose
Tolerance) atau gangguan Glukosapuasa (IFG/Impaired Fasting
Glucose)
f. Riwayat gestasional DM atau riwayat melahirkan bayi diatas 4 Kg
g. Polystic ovarium syndrome yang diakibatkan resistensi dari insulin.
h. Kebiasaan diet dan kurangnya olahraga atau kurang beraktivitas fisik.
3. Pohon Masalah
Reaksi Autoimun Genetik, Gaya hidup, Obesitas, Usia

DM Tipe II
DM Tipe I

Resistensi Insulin
Kerusakan Sel Beta Pankreas

Defisiensi Insulin

Menurunnya efektivitas insulin Glukagen meningkat Insulin berkurang


dalam menstimulasi
pengambilan glukosa oleh Glukosa tidak dapat
Gluconeogenesis
jaringan dan sel diubah menjadi glikogen
Metabolisme protein dan
Glukosa beredar di dalam lemak terganggu Kadar gula meningkat
darah

Berat Badan turun Ketidakstabilan kadar glukosa


Menurunnya kadar darah: Hiperglikemia
glukosa darah
Defisit Nutrisi
Tanda gejala: mengantuk,
pusing, polivagia, gemetar, Penebalan membrane Glukosuria
kesadaran menurun dasar vaskuler
Diuresis Osmotik
Ketidakstabilan kadar
glukosa darah: Hipoglikemia Disfungsi endotel Disfungsi makrovaskuler
mikrovaskuler Produksi urin
Peningkatan
Ateroskerosis produksi meningkat
Mikroangiopati keton
Oklusi Poliuri
Asidosis
Neuropati Retinopati Nefropati
Makroangiopati
Nokturia
Katarak GFR
Neuropati Neuropati Neuropati CAD/ Penyakit Penyempitan Gangguan
otonom Pola
sensori Motorik GGK PJK pembuluh pembuluh
darah kapiler darah otak Tidur Dehidrasi
Keringat Kesemutan MCI
Kelemahan & atrofi otot
meningkat (Myocardial Stroke
Ulkus
Hilang rasa Kekakuan gerak sendi Infraction) Dispnea
Kulit kering Hipovolemi
Risiko Gangren
Trauma Kolap sendi Infeksi
Infeksi Bersihan Polidipsia dan
Jalan polivagia
Ulkus → Deformitas sendi Gangguan Perfusi Napas (tanda gejala
Nyeri
Gangren Gangguan Integritas Perifer Tidak hiperglikemia)
Mobilitas Fisik Kulit/ Tidak Efektif
Nyeri Akut Efektif
Koping tidak efektif jaringan
4. Klasifikasi
a. Diabetes Melitus Tipe I
Diabetes melitus tipe I terjadi karena pancreas tidak dapat memproduksi
insulin karena sel – sel penghasil insulin di pancreas telah dihancurkan.
Pada kebanyakan pasien hal ini disebabkan oleh respon autoimun yang
mana sistem kekebalan secara keliru menyerang sel – sel yang
mensekresi insulin, akan tetapi penyebab reaksi ini belum diketahui
secara pasti. DM tipe I ini terjadi karena obstruksi sel beta pankreas dan
menyebabkan defisiensi insulin. Diabetes melitus tipe I ini disebut juga
sebagai Insulin Dependen Diabetes Mellitus yakni bergantung pada
insulin.
b. Diabetes Melitus Tipe II
Diabetes Melitus Tipe II ini disebut juga sebagai Non – Insulin
Dependen Diabetes Mellitus yakni tidak bergantung pada insulin.
Diabetes melitus tipe II ini masih bisa memproduksi insulin, tetapi
kualitas insulinnya buruk yakni tidak dapat berfungsi dengan baik
sebagai kunci untuk memasukkan gula ke dalam sel. Akibatnya gula
darah menjadi meningkat, pasien biasanya tidak perlu tambahan
suntikan insulin dalam pengobatannya, tetapi memerlukan obat untuk
memperbaiki fungsi insulin, menurunkan glukosa darah dan
memperbaiki pengelolaan gula di hati. Normalnya insulin terikat oleh
reseptor khusus pada permukaan sel dan mulai terjadi rangkaian reaksi
termasuk metabolisme glukosa. Pada diabetes melitus tipe II reaksi
dalam sel kurang efektif karena kurangnya insulin yang berperan dalam
menstimulasi glukosa masuk ke jaringan dan pengaturan pelepasan
glukosa di hati.
c. Diabetes Melitus Gestasional
Merupakan diabetes yang terjadi pada masa kehamilan, dapat di
diagnose dengan tes toleran glukosa terjadi kira – kira pada minggu ke
– 24 kehamilan.
5. Gejala Klinis

Terdapat beberapa gejala klinis yang dapat menimbulkan penyakit Diabetes


Melitus Tipe II yakni:

a. Pengeluran Urin (Poliuria)


Poliuria adalah keadaan dimana volume air kemih dalam 24 jam
meningkat melebihi batas normal. Polyuria timbul sebagai gejala DM
dikarenakan kadar gula dalam tubuh relative tinggi sehingga tubuh tidak
sanggup untuk menguranginya dan berusaha untuk mengeluarkan urin.
Gejala penegluaran urin ini lebih sering terjadi pada malam hari dan urin
yang dikeluarkan mengandung glukosa.
b. Timbul Rasa Haus (Polidipsia)
Poidipsia adalah rasa haus berlebihan yang timbul karena kadar glukosa
terbawa oleh urin sehingga tubuh merespon untuk meningkatkan asupan
cairan.
c. Timbul Rasa Lapar (Polifagia)
Pasien DM akan merasa cepat lapar dan lemas, hal tersebut disebabkan
karena glukosa dalam tubuh semakin habis sedangkan kadar glukosa
dalam darah cukup tinggi.
d. Peyusutan Berat Badan
Penyusutan berat badan pada pasien DM disebabkan karena tubuh
terpaksa mengambil dan membakar lemak sebagai cadangan energi.
e. Kelelahan dan Kelemahan
Rasa lelah dan kelemahan otot diakibatkan karena berkurangnya
pemasukan glukosa ke dalam sel-sel tubuh sehingga energi yang
dibentuk menjadi kurang.
f. Perubahan Penglihatan
Gangguan penglihatan pada diabetes melitus disebabkan adanya
kerusakan pada pembuluh darah mata yang dapat menyebabkan
gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata atau biasa
disebut dengan retinopati diabetikum.
g. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120mg/dl
h. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200mg/dl
6. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium.


Adapaun pemeriksaan laboratorium yang dilakukan yakni sebagai berikut:

a. Pemeriksaan Darah
Bertujuan untuk melihat kadar glukosa dalam darah, Adapun batas
normal glukosa dalam darah yakni:
Jenis Pemeriksaan Rentang Normal
Glukosa darah sewaktu 70 – 140 mg/dl
Glukosa darah puasa 70 – 100 mg/dl
Glukosa darah 2 jam setelah < 140 mg/dl
makan
Selain pemeriksaan kadar gula darah juga ada pemeriksaan Hemoglobin
Adult 1C (HbA1c) yang dapat digunakan sebagai acuan untuk
monitoring penyakit diabetes melitus juga dapat memberikan informasi
lebih jelas terkait dengan keadaan yang sebenarnya pada pasien diabetes
melitus. Pemeriksaan HbA1c merupakan pemeriksaan yang
mencerminkan kadar glukosa darah rata – rata selama kurun waktu 2 –
3 bulan atau 120 hari sebelum dilakukannya pemeriksaan. Peningkatan
kadar HbA1c >8% sudah mengindikasikan diabetes melitus yang tidak
terkendali dan pada pasien yang berisiko tinggi dapat mengalami
komplikasi jangka panjang yang dapat berakibat fatal. Namun
pemeriksaan ini juga memiliki keterbatasan salah satunya adalah
harganya lebih mahal dibanding pemeriksaan glukosa darah. Kriteria
dari kadar HbA1c adalah:
Hasil Kadar HbA1c
Baik 4 – 5,9%
Sedang 6 – 8%
Buruk >8%
b. Pemeriksaan Fungsi Tiroid
Peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat meningkatkan glukosa darah
dan kebutuhan akan insulin.
c. Pemeriksaan urin
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya glukosa
dalam urine. Pemeriksaan ini dilakukan dengan acra benedict (reduksi),
hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urin seperti hijau (+),
kuning (++), merah (+++), serta merah bata (++++).
d. Pemeriksaan Kultur Pus
Pemeriksaan ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis kuman pada
luka agar dapat memberikan antibiotic sesuai jenis kuman tersebut.
7. Penatalaksanaan
a. Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan diabetes. Pada pasien hipoglikemia dapat diberikan
karbohidrat sederhana dan pasien hiperglikemia dapat diberikan
karbohidrat kompleks. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes
diarahkan untuk mencapai:
a) Memberikan semua unsur makanan esensial seperti vitamin dan
mineral.
b) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
c) Memenuhi kebutuhan energi
d) Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara
– cara yang aman dan praktis
e) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
b. Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya
dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko
kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan
meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki
pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki
dengan berolahraga. Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance
training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian
menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate). Semua
efek ini sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat
badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.
Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan
kadar HDL kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta
trigliserida. Semua manfaat ini sangat penting bagi penyandang diabetes
mengingat adanya peningkatan risiko untuk terkena penyakit
kardiovaskuler pada diabetes. Pasien dengan diabetes melitus akan
mengalami kaki dan tangan kebas, kesemutan sehingga pasien tidak
akan merasakan seperti pasien ditendang tidak merasa sehingga pasien
dapat menggunakan sepatu khusus DM yang dimana berfungsi
melindungi kaki untuk mencegah luka, infeksi maupun kelainan bentuk
kaki. Dengan menggunakan sepatu khusus DM yang sesuai dengan
ukuran dan nyaman untuk dipakai. Selain itu pasien dengan diabetes
melitus dapat melakukan senam kaki diabetes dengan menggunakan
koran merupakan sebuah Latihan yang dilakukan bagi penderita DM
untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran
darah bagian kaki. Adapun cara untuk melakukan senam kaki diabetes
adalah sebagai berikut:
a) Letakkan kaki di lantai lalu gerakkan jari – jari keatas dan kebawah
b) Angkat telapak kaki keatas dan bertumpu pada tumit, lakukan
gerakan memutar ke luar dengan gerakan pada pergelangan kaki dan
lakukan bergantian
c) Angkat kaki sejajar, gerakkan kaki ke depan dan ke belakang
d) Angkat kaki sejajar, gerakkan kaki kedepan
e) Luruskan salah satu kaki, putar pada pergelangan kaki seperti
menulis angka 0 – 10 lakukan bergantian kiri dan kanan
f) Lanjutkan dengan merobek kertas koran menjadi 2 bagian dengan
kaki. Robek salah satu bagian kertas koran menjadi bagian – bagian
kecil dan dipindahkan keatas koran yang masih utuh
g) Letakkan selembar koran dilantai, bentuk koran tersebut seperti bola
dengan kedua kaki, kemudian ratakan kembali kertas tersebut.
h) Bentuklah kertas koran menjadi bola dengan kaki
c. Terapi
Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka
panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat
hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Disamping itu,
sebagian pasien diabetes tipe II yang biasanya mengendalikan kadar
glukosa darah dengan diet atau dengan obat oral kadang membutuhkan
insulin secara temporer selama mengalami sakit, infeksi, kehamilan,
pembedahan atau beberapa kejadian stress lainnya. Penyuntikan insulin
sering dilakukan dua kali per hari (atau bahkan lebih sering lagi) untuk
mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada
malam hari. Karena dosis insulin yang diperlukan masing-masing
pasien ditentukan oleh kadar glukosa darah yang akurat sangat penting.
d. Pendidikan Kesehatan
Diabetes mellitus merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku
penanganan mandiri yang khusus seumur hidup. Pasien bukan hanya
belajar keterampilan untuk merawat diri sendiri guna menghindari
penurunan atau kenaikan kadar glukosa darah yang mendadak, tetapi
juga harus memiliki perilaku preventif dalam gaya hidup untuk
menghindari komplikasi jangka panjang yang dapat ditimbulkan dari
penyakit diabetes mellitus.
8. Komplikasi
1) Komplikasi Akut
a. Hipoglikemia, yaitu kadar gula dalam darah berada dibawah nilai
normal < 50 mg/dl
b. Hiperglikemia, yaitu suatu keadaan kadar gula dalam darah
meningkat secara tiba – tiba dan dapat berkembang menjadi
metabolisme yang berbahaya. Ketoasidosis diabetic (KAD) adalah
suatu keadaan dimana terjadi akibat defisiensi insulin yang bersifat
absolut dan terjadinya peningkatan kadar hornon yang berlawanan
dengan insulin. Akibat dari kadar gula yang tidak terkontrol
mengakibatkan terjadinya pemecahan simpanan lemak yang
menghasilkan hiperglikemia dan mobilisasi asam lemak serah
dengan ketoasidosis. Kemudian produksi glukosa oleh hati juga
naik, penggunaan glukosa diperifer turun, mobilisasi lemak naik dan
ketogenesis (pembentukan keton) terangsang untuk dibentuk. Tanda
gejala dari KAD adalah haus, lemah, hipotensi, mual muntah dan
nafas berbau. Keton.
2) Komplikasi Kronis
a. Komplikasi makro vaskuler, yang biasanya terjadi pada pasien DM
adalah pembekuan darah di sebagian otak, jantung koroner, stroke,
dan gagal jangung kongestif.
b. Komplikasi mikro vaskuler, yang biasanya terjadi pada pasien DM
adalah nefropati, diabetik retinopati (kebutaan), neuropati, dan
amputasi
c. Komplikasi Neuropati
Komplikasi neuropati perifer dan otonom menimbulkan
permasalahan di kaki, yaitu berupa ulkus kaki [Link]
ulkus diabetik diawali dengan adanya hiperglikemia pada pasien
diabetes. Hiperglikemia ini menyebabkan terjadinya neuropati dan
kelainan pada pembuluh darah. Neuropati baik sensorik, motorik
maupun autonomik akan menimbulkan berbagai perubahan pada
kulit dan otot. Kondisi ini selanjutnya menyebabkan perubahan
tekanan pada telapak kaki yang akan mempermudah terjadinya
ulkus. Ulkus di kaki dapat sangat dalam dan mengalami infeksi
sehingga masa penyembuhannya lama dan dapat mengakibatkan
amputasi pada tungkai.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien, meliputi nama, tempat tanggal lahir, usia, status
perkawinan, pekerjaan, agama, jenis kelamin, Pendidikan terakhir, asal
suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, nomor rekam medis dan
sumber informasi.
b. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Pada pasien DM tipe dengan hipoglikemia dapat muncul gejala
seperti penglihatan kabur, lemas, rasa haus, banyak kencing,
dehidrasi, suhu meningkat, sakit kepala, pasien dalam keadaan
apatis sampai koma, untuk kondisi hiperglikemia dapat muncul
gejala seperti gemetar, sempoyongan, berkeringat, jantung
berdebar-debar, cemas, takikardi, palpitasi, menggigil, kepala terasa
ringan, pucat, lapar, mual, sakit kepala, kelelahan, mengantuk,
lemah, pandangan kabur, mimpi buruk, sulit konsentrasi, sulit
bicara, kebingungan, penurunan kesadaran, kejang.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi lama pasien menderita diabetes melitus, pernah dirawat
inap berapa kali, pengobatan apa yang dianjurkan.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah terdapat anggota keluarga yang menderita diabetes melitus
atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya
defisiensi insulin seperti hipertensi dan jantung. Seperti apakah
orang tua pasien memiliki riwayat diabetes?, apakah saudara pasien
memiliki riwayat diabetes?
c. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional
a) Pola Persepsi Kesehatan – Penanganan Kesehatan
Pada pasien penderita diabetes melitus perlu dilakukan pengkajian
mengenai gambaran pribadi terhadap kesehatannya, apakah terdapat
persepsi yang negatif terhadap dirinya sehingga terdapat
kecenderungan untuk tidak mengikuti anjuran dari petugas
kesehatan, kemudian bagaimana pasien mengelola kesehatannya
seperti seberapa sering melakukan kunjungan ke penyedia layanan
kesehatan dan kepatuhan terapi di rumah, serta bagaimana persepsi
pasien terhadap diet seperti berapa pentingkah pengaturan pola
makan bagi pasien
b) Pola Nutrisi – Metabolik
Akibat produksi insulin yang tidak adekuat pada penderita diabetes
melitus tipe 2, maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan nutrisi
dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Untuk
itu perlu dilakukan pengkajian meliputi :
1) Bagaimana diet yang dijalankan penderita? Apakah mengikuti
anjuran?
2) Bagaimana pola makan yang dijalankan? Apakah mengikuti
prinsip diet 3J yaitu jadwal makan, jenis makanan, dan jumlah
makanan yang direkomendasikan?
3) Apakah terdapat gangguan pencernaan yang mempengaruhi
kepatuhan terhadap diet?

Sedangkan data objektif pada pengkajian terkait nutrisi meliputi


rasio tinggi badan, berat badan, pemeriksaan mata, integumen,
gastrointestinal, serta hasil laboratorium lainnya.

c) Pola Eliminasi
Pada penderita diabetes biasanya mengeluh sering kencing atau
poliuria dan terjadinya glukosuria untuk itu perlu dilakukan
pengkajian pada pola ekskresi untuk mengetahui apakah terdapat
masalah dalam proses eksresi termasuk dalam hal eliminasi alvi.
d) Pola Aktivitas - Latihan
Akibat kondisi tubuh penderita diabetes yang rentan mengalami
kondisi hiperglikemia ataupun hipoglikemia, maka perlu dilakukan
pengkajian lebih lanjut apakah terdapat masalah dalam melakukan
aktivitas seperti mudah lelah dalam beraktivitas, perlunya bantuan
dalam beraktivitas dan lain sebagainya.
e) Pola Istirahat – Tidur
Adanya poliuri dan situasi rumah sakit yang ramai dapat
mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola
tidur dan waktu tidur penderita mengalami perubahan. Untuk itu
perlu dilakukan pengkajian terhadap lama waktu tidur, suasana
lingkungan, kebiasaan tidur, kesulitan tidur, serta penggunaan obat
tidur.
f) Pola Kognitif – Perseptual
Pada penderita diabetes melitus perlu dilakukan pengkajian
mengenai bagaimana pola pendengaran, penglihatan, pengecapan,
perabaan, penghidu, kemampuan berbahasa, ingatan dan
kemampuan membuat keputusan
g) Pola Persepsi - Konsep diri
Adanya perubahan status kesehatan akan menyebabkan penderita
diabetes melitus mengalami gangguan pada gambaran diri. Lama
penyakit yang diderita, ketidakadekuatan pemahaman, lama
program perawatan dan pengobatan, biaya program perawatan dan
pengobatan yang menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan
kurangnya motivasi sehingga berdampak pada kepatuhan dalam
mengikuti anjuran yang diberikan petugas kesehatan.
h) Pola Peran – Hubungan
Apakah terdapat indikasi menarik diri dari pergaulan, Pasien tinggal
dengan siapa, hubungan dengan keluarga dan sosialnya apakah
terdapat perubahan, tanggapan keluarga terhadap penyakit yang
diderita pasien , apakah keluarga mendukung sepenuhnya terhadap
pengobatan dan perawatan pasien terutama dalam hal ketlatenan
dalam mengingatkan, menyuruh, dan merawat pasien.
i) Pola Seksualitas - Reproduksi
Pada penderita diabetes melitus pelunya dilakukan pengkajian
apakah terdapat masalah dalam seksualitas dan reproduksi
sehubungan dengan penyakitnya.
j) Pola Toleransi Stress – Koping
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang
dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya. Pemikiran
terhadap lamanya waktu perawatan dan pengobatan, banyaknya
biaya biaya yang dikeluarkan, terlalu banyak pantangan yang
dijalankan, perasaan tidak berdaya, serta respons pasien terhadap
stressor apakah mengakibatkan banyak makan atau malas makan
sehingga dapat menyebabkan reaksi psikologis yang negatif seperti
menjadi mudah marah, mudah tersinggung, dan terjadinya
kecemasan.
k) Pola Nilai Kepercayaan
Adakah nilai kepercayaan yang bertentangan dengan program
pengobatan yang dianjurkan terutama dalam hal diet yang
dijalankan.
d. Pemeriksaan Fisik
a) Status kesehatan umum : meliputi keadaan penderita yang sering
muncul adalah kelemahan fisik.
b) Tingkat kesadaran : normal, letargi, stupor, koma (tergantung kadar
gula yang dimiliki dan kondisi fisiologis untuk melakukan
kompensasi kelebihan kadar gula dalam darah)
c) Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah (TD) : biasanya mengalami hipertensi dan juga
ada yang mengalami hipotensi.
2) Nadi (N) : biasanya pasien DM mengalami takikardi saat
beristirahat maupun beraktivitas.
3) Pernapasan (RR) : biasanya pasien mengalami takipnea
4) Suhu (S) : biasanya suhu tubuh pasien mengalami peeningkatan
jika terindikasi adanya infeksi.
5) Berat badan : pasien DM biasanya akan mengalami penuruan BB
secara signifikan pada pasien yang tidak mendapatkan terapi dan
terjadi peningkatan BB jika pengobatan pasien rutin serta pola
makan yang terkontrol.
d) Kepala dan leher
1) Wajah : kaji simetris dan ekspresi wajah, antara lain paralisis
wajah (pada pasien dengan komplikasi stroke).
2) Mata : kaji lapang pandang pasien , biasanya pasien mengalami
retinopati atau katarak, penglihatan kabur, dan penglihatan
ganda (diplopia).
3) Telinga : pengkajian adakah gangguan pendengaran, apakah
telinga kadang-kadang berdenging, dan tes ketajaman
pendengaran dengan garputala atau bisikan.
4) Hidung : tidak ada pembesaran polip dan tidak ada sumbatan,
serta peningkatan pernapasan cuping hidung (PCH).
5) Mulut :
(a) Bibir : sianosis (apabila mengalami asidosis atau
penurunanperfusi jaringan pada stadium lanjut).
(b) Mukosa : kering, jika dalam kondisi dehidrasi akibat diuresis
osmosis.
(c) Pemeriksaan gusi mudah bengkak dan berdarah, gigi mudah
goyah.
(d) Leher : pada inspeksi jarak tampak distensi vena jugularis,
pembesaran kelenjar limfe dapat muncul apabila ada infeksi
sistemik

e) Thorax dan paru-paru


a) Inspeksi : bentuk dada simetris atau asimetris, irama pernapasan,
nyeri dada, kaji kedalaman dan juga suara nafas atau adanya
kelainan suara nafas, tambahan atau adanya penggunaan otot
bantu pernapasan.
b) Palpasi : lihat adnya nyeri tekan atau adanya massa.
c) Perkusi : rasakan suara paru sonor atau hipersonor.
d) Auskultasi : dengarkan suara paru vesikuler atau
bronkovesikuler.

Gejala : merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tanpa


sputum purulent (tergantung adanya infeksi atau tidak) Tanda :
frekuensi pernapasan meningkat dan batuk

f) Abdomen
a) Inspeksi : amati bentuk abdomen simetris atau asimetris.
b) Auskultasi : dengarkan apakah bising usus meningkat.
c) Perkusi : dengarkan thympany atau hiperthympany.
d) Palpasi : rasakan adanya massa atau adanya nyeri tekan.
g) Integumen
a) Kulit : biasanya kulit kering atau bersisik
b) Warna : tampak warna kehitaman disekitar luka karena adanya
gangren, daerah yang sering terpapar yaitu ekstremitas bagian
bawah.
c) Turgor : menurun karena adanya dehidrasi
d) Kuku : sianosis, kuku biasanya berwarna pucat
e) Rambut : sering terjadi kerontokan karena nutrisi yang kurang.
h) Sirkulasi
(a) Gejala : adanya riwayat hipertensi, klaudikasi, kebas, dan
kesemutan pada ektremitas, ulkus pada kaki dan penyembuhan
lama.
(b) Tanda : adanya takikardia, perubahan tekanan darah postural,
hipertensi, disritmia.
i) Genetalia : adanya perubahan pada proses berkemih, atau poliuria,
nokturia, rasanyeri seperti terbakarpada bagian organ genetalia,
kesulitan berkemih (infeksi).
j) Neurosensori : terjadi pusing, pening, sakit kepala, kesemutan,
kebas pada otot. Tanda : disorientasi; mengantuk, letargi,
stupor/koma (tahap lanjut)
2. Diagnosis Keperawatan
a. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) berhubungan dengan
hipoglikemia: disfungsi pancreas, resistensi insulin, Hiperglikemia:
penggunaan insulin atau obat glikemik oral, hyperinsulinemia (misal
insulinoma), endokrinopati (misal kerusakan adrenal atau pituitary),
disfungsi hati, disfungsi ginjal kronis, efek agen farmakologis, tindakan
pembedahan neoplasma, gangguan metabolic bawaan (misal gangguan
penyimpanan lisosomal, galaktosemia, gangguan penyimpanan
glikogen) dibuktikan dengan hipoglikemia: mengantuk, pusing,
gangguan koordinasi, kadar glukosa dalam darah/urin rendah, palpitasi,
mengeluh lapar, gemetar, kesadaran menurun, perilaku aneh, sulit
bicara, berkeringat, Hiperglikemia: lelah atau lesu, kadar glukosa dalam
darah/urin tinggi, mulut kering, haus meningkat, jumlah urin meningkat.
b. Bersihan jalan napas tidak efektif (D.0001) berhubungan dengan
spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas, disfungsi neuromuscular,
benda asing dalam jalan napas, adanya jalan napas buatan, sekresi yang
tertahan, hyperplasia dinding jalan napas, proses infeksi, respon alergi,
efek agen farmakologis (mis. Anastesi), merokok aktif, merokok pasif,
terpajan polutan dibuktikan dengan batuk tidak efektif, tidak mampu
batuk, sputum berlebih, mengi, wheezing dan/atau ronchi kering,
meconium di jalan napas (pada neonatus).
c. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan penurunan
aliran arteri dan/atau vena, kurang informasi tentang faktor pemberat
(mis. trauma, imobilitas) dibuktikan dengan pengisian kapiler >3 detik,
nadi perifer menurun atau tidak teraba, akral teraba dingin, warna kulit
pucat, turgor kulit menurun, nyeri ekstremitas, edema dan penyembuhan
luka lambat
d. Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan
mengabsorbsi nutrient, peningkatan kebutuhan metabolisme dibuktikan
dengan berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal,
kram/nyeri abdomen.
e. Hipovolemi (D.0023) berhubungan dengan kegagalan mekanisme
regulasi dibuktikan dengan frekuensi nadi meningkat, nadi teraba
lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit
menurun, membrane mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, merasa lemah, mengeluh haus, berat badan turun tiba – tiba.
f. Risiko Infeksi (D.0142) dibuktikan dengan penyakit kronis,
ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder: penurunan hemoglobin,
ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer: gangguan integritas kulit.
3. Rencana Asuhan Keperawatan

No. Tgl/ Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional paraf


jam Keperawatan Kriteria Hasil Keperawatan
(SDKI) (SLKI)
1. Ketidakstabilan Setelah dilakukan Manajemen Manajemen
Kadar Glukosa intervensi Hiperglikemia Hiperglikemia
Darah (D.0027) keperawatan (I.03115) (I.03115)
berhubungan selama 3x24 jam Observasi Observasi
dengan makan Kestabilan 1. Identifikasi 1. Untuk mengetahui
hipoglikemia: Kadar Glukosa kemungkinan penyebab
disfungsi Darah (L.03022) penyebab hiperglikemia
pancreas, Meningkat dengan hiperglikemia 2. Untuk mengetahui
resistensi kriteria hasil: 2. Identifikasi keadaan abnormal
insulin, situasi yang
gangguan - Koordinasi menyebabkan yang terjadi di
toleransi glukosa meningkat kebutuhan insulin dalam tubuh
darah, gangguan - Tingkat meningkat (misal 3. Untuk memantau
glukosa darah, kesadaran penyakit kadar glukosa darah
Hiperglikemia: meningkat kambuhan) 4. Untuk memantau
penggunaan - Mengantuk 3. Monitor kadar derajat
insulin atau obat menurun glukosa darah, hiperglikemia
glikemik oral, - Lelah/lesu jika perlu 5. Untuk memantau
hyperinsulinemi menurun 4. Monitor tanda intake dan output
a (misal - Rasa lapar dan gejala cairan
insulinoma), menurun hiperglikemia 6. Untuk membantu
endokrinopati - Gemetar (misal polyuria, memantau keadaan
(misal kerusakan menurun polydipsia, pasien
adrenal atau - Berkeringat polivagia,
pituitary), menurun kelemahan,
disfungsi hati, - Mulut kering malaise,
disfungsi ginjal menurun pandangan kabur,
kronis, efek agen - Rasa haus sakit kepala)
farmakologis, menurun 5. Monitor intake
tindakan - Kadar glukosa dan output cairan
pembedahan dalam darah 6. Monitor keton
neoplasma, membaik urine, kadar
gangguan - Kadar glukosa Analisa gas
metabolic dalam urine darah, elektrolit,
bawaan (misal membaik tekanan ortostatik
gangguan - Jumlah urine dan frekuensi
penyimpanan membaik nadi
lisosomal, Palpitasi membaik Terapeutik
galaktosemia, 7. Berikan asupan Terapeutik
gangguan cairan oral
penyimpanan
glikogen) 8. Konsultasikan 7. Agar kebutuhan
dibuktikan dengan medis cairan pasien
dengan jika tanda dan terpenuhi
hipoglikemia: gejala 8. Agar dapat
mengantuk, hiperglikemia mengantisipasi
pusing, tetap atau keparahan yang
gangguan memburuk diakibatkan oleh
koordinasi, Edukasi hiperglikemia
kadar glukosa 9. Anjurkan
dalam darah/urin menghindari Edukasi
rendah, olahraga saat 9. Untuk mencegah
palpitasi, kadar glukosa kondisi pasien
mengeluh lapar, darah lebih dari semakin memburuk
gemetar, 250 mg/dL 10. Untuk mengetahui
kesadaran 10. Anjurkan kadar glukosa darah
menurun, monitor kadar dalam tubuh
perilaku aneh, glukosa darah 11. Membantu agar
sulit bicara, secara mandiri pasien patuh pada
berkeringat, 11. Anjurkan diet dan olahraga
Hiperglikemia: kepatuhan 12. Menginformasikan
lelah atau lesu, terhadap diet dan cara pengelolaan
kadar glukosa olahraga diabetes
dalam darah/urin 12. Ajarkan
tinggi, mulut pengelolaan
kering, haus diabetes (misal
meningkat, penggunaan
jumlah urin insulin, obat oral,
meningkat. monitor asupan
cairan,
penggantian
karbohidrat dan
bantuan
professional
kesehatan)
Kolaborasi
13. Kolaborasi
pemberian Kolaborasi
insulin, jika perlu 13. Untuk mengatur
14. Kolaborasi kadar glukosa dalam
pemberian cairan tubuh
IV, jika perlu 14. Menambah intake
Manajemen cairan dalam tubuh
Hipoglikemia pasien
(I.03115) Manajemen
Observasi Hipoglikemia
1. Identifikasi tanda (I.03115)
dan gejala Observasi
hipoglikemia 1. Untuk mengetahui
2. Identifikasi tanda gejala dari
kemungkinan hipoglikemia
penyebab 2. Untuk mengetahui
hipoglikemia penyebab dari
Terapeutik hipoglikemia
3. Berikan
karbohidrat Terapeutik
sederhana, jika 3. Untuk
perlu meningkatkan kadar
4. Berikan gula pasien
glucagon, jika 4. Untuk mengatasi
perlu kadar gula yang
5. Berikan sangat rendah pada
karbohidrat penderita diabetes
kompleks dan yang menggunakan
protein sesuai insulin
diet 5. Untuk
6. Pertahankan meningkatkan kadar
akses IV, jika gula pasien
perlu 6. Agar pasien tidak
Edukasi mengalami
7. Anjurkan kekurangan cairan
membawa Edukasi
karbohidrat 7. Agar kadar gula
sederhana setiap pasien dapat
saat meningkat
8. Anjurkan 8. Agar mengetahui
monitor kadar kadar gula darah
glukosa darah pasien meningkat,
9. Jelaskan interaksi menurun atau tetap
antara diet, 9. Agar pasien
insulin/agen oral, mengetahui bahwa
dan olahraga interaksi antara diet,
10. Ajarkan insulin/agen oral
pengelolaan dan olahraga dapat
hipoglikemia membantu
(misal tanda dan mengontrol gula
gejala, faktor darah
risiko dan 10. Agar pasien
pengobatan mengetahui tanda
hipoglikemia) gejala dari
11. Ajarkan hipoglikemia
perawatan 11. Agar pasien
mandiri untuk mengetahui
mecegah tindakan mandiri
hipoglikemia yang dapat
(misal dilakukan apabila
mengurangi mengalami
insulin/agen oral hipoglikemia
dan/atau
meningkatkan
asupan makanan
untuk
berolahraga)
Kolaborasi
12. Kolaborasi
pemberian
dekstrose, jika
perlu Kolaborasi
13. Kolaborasi 12. Untuk
pemberian meningkatkan kadar
glucagon, jika gula darah
perlu 13. Untuk mengatasi
kadar gula yang
sangat rendah pada
penderita diabetes
yang menggunakan
insulin
2. Bersihan jalan Setelah dilakukan Manajemen Manajemen Ventilasi
napas tidak intervensi Ventilasi Mekanik Mekanik (I.01013)
efektif (D.0001) keperawatan (I.01013) Observasi
berhubungan selama 3 x 24 jam Observasi 1) Untuk mengetahui
dengan spasme maka bersihan 1) Periksa indikasi untuk apa di berikan
jalan napas, jalan nafas ventilator ventilator mekanik
hipersekresi (L.01001) mekanik (mis. 2) Untuk mengetahui
jalan napas, apakah status
disfungsi meningkat dengan Kelelahan otot oksigenasi
neuromuscular, Kriteria Hasil: bantu napas) meningkat atau
benda asing 1. Pasien dapat 2) Monitor efek menurun
dalam jalan mengeluarkan ventilator 3) Untuk mengetahui
napas, adanya secret. terhadap status adanya gejala
jalan napas 2. Mengi atau oksigenasi peningkatan
buatan, sekresi wheezing 3) Monitor gejala pernapasan
yang tertahan, hilang atau peningkatan 4) Untuk mengetahui
hyperplasia menurun. pernapasan kondisi pasien yang
dinding jalan 3. Frekuensi dan 4) Monitor kondisi meningkatkan
napas, proses pola nafas yang konsumsi oksigen
infeksi, respon teratur 12- meningkatkan 5) Untuk mengetahui
alergi, efek agen 20x/menit. konsumsi adakah gangguan
farmakologis Tidak ada dipsnea. oksigen (mis. mukosa setelah
(mis. Anastesi), Demam, kejang, terpasang ventilator
merokok aktif, nyeri) Terapeutik
merokok pasif, 5) Monitor 6) Untuk mencegah
terpajan polutan gangguan terjadinya aspirasi
dibuktikan mukosa oral, 7) Untuk mencegah
dengan batuk nasal, trakea dan terjadinya decubitus
tidak efektif, laring 8) Agar membran
tidak mampu mukosa tetap
batuk, sputum lembab dan bersih
berlebih, mengi, 9) Untuk membantu
wheezing pengeluaran sputum
dan/atau ronchi Terapeutik 10) Untuk menghindari
kering, 6) Atur posisi terjadinya
meconium di kepala 45 – 60o hipersekresi jalan
jalan napas untuk mencegah napas
(pada neonatus). aspirasi 11) Untuk menjaga ke
sterilant alat.
7) Reposisi pasien 12) Untuk jaga – jaga
setiap 2 jam, jika pasien mengalami
perlu gagal napas
8) Lakukan 13) Untuk mengetahui
perawatan mulut perkembangan
secara rutin pasien
termasuk sikat
gigi setiap 12 jam
9) Lakukan
fisioterapi dada,
jika perlu
10) Lakukan Kolaborasi
penghisapan 14) Agar pasien
lender sesuai mendapat oksigen
kebutuhan sesuai dengan
11) Ganti sirkuit kebutuhan dan
ventilator setiap kondisinya
24 jam atau 15) Agar pasien dapat
sesuai protocol beristirahat dan
12) Siapkan bag untuk
valve mask di mengistirahatkan
samping tempat otak
tidur untuk 16) Untuk menghindari
antisipasi terjadinya
malfungsi mesin hipoventilasi
13) Dokumentasikan alveolus
respon terhadap
ventilator
Kolaborasi
14) Kolaborasi Fisioterapi Dada
pemilihan mode (I.01004)
ventilator (mis. Observasi
Kontrol volume, 1. Mengetahui
kontrol tekanan indikasi
atau gabungan) dilakukannya
15) Kolaborasi fisioterapi dada
pemberian agen 2. Mengetahui
pelumpuh otot, kontraindikasi saat
sedative, akan melakukan
analgesic, sesuai fisioterapi dada
kebutuhan 3. Mengetahui status
16) Kolaborasi pernafasan pasien
penggunaan PS 4. Mengetahui
atau PEEP untuk sekmen paru yang
meminimalkan mengandung
hipoventilasi sekresi berlebih
alveolus. 5. Mengetahui jumlah
dan karakter
Fisioterapi Dada sputum
(I.01004) 6. Mengetahui
Observasi : perasaan pasien
1. Identifikasi baik setelah
indikasi maupun sebelum
dilakukan prosedur dilakukan
fisioterapi dada (
ms. Hipersekresi
sputum, sputum
kental, dan
tertahan, tirah
baring lama )
2. Identifikasi
kontraindikasi
fisioterapi dada (
ms. Eksaserbasi
ppok akut, Terapeutik
pneumonia tanpa 7. Agar pasien merasa
produksi sputum nyaman
berlebih, kanker 8. Untuk
paru-paru ) mengajarkan
3. Monitor status kepada pasien cara
pernafasan ( ms. mengeluarkan
Kecepatan irama secret
suara nafas dan 9. Membantu
kedalaman nafas mengeluarkan
) sputum
4. Periksa sekmen 10. Agar asupan nutrisi
paru yang pasien terpenuhi
mengandung 11. Agar tidak terjadi
sekresi berlebih trauma atau
5. Monitor jumlah kerusakan pada
dan karakter organ
sputum 12. Agar sputum dapat
6. Monitor toleransi keluar
selama dan Edukasi
setelah prosedur 13. Agar pasien bisa
Terapeutik : batuk secara
7. Gunakan bantal mandiri
untuk membantu Agar pasien bisa lebih
pengaturan posisi rileks
8. Lakukan perkusi
dengan posisi
telapak tangan
ditangkupkan
selama 3-5 menit
9. Lakukan vibrasi
dengan posisi
telapak tangan
rata bersamaan
ekspirasi melalui
mulut
10. Lakukan
fisioterapi dada
setidaknya 2 jam
setelah makan
11. Hindari perkusi
pada tulang
belakang, ginjal,
payudara wanita,
insisi, dan tulang
rusuk yang patah
12. Lakukan
penghisapan
lendir untuk
mengeluarkan
secret, jika perlu
Edukasi :
13. Anjurkan batuk
setelah prosedur
selesai
Ajarkan inspirasi
perlahan dan dalam
melalui hidung
selama proses
fisioterapi
3. Perfusi Perifer Setelah dilakukan Perawatan
Tidak Efektif intervensi Sirkulasi (I.02079)
(D.0009) keperawatan selam
berhubungan 3x24 jam, maka Observasi
dengan Perfusi Perifer 1. Periksa sirkulasi 1. Untuk mengetahui
penurunan (L.05042) perifer (mis. sirkulasi perifer
aliran arteri meningkat dengan nadi perifer, pasien
dan/atau vena, kriteria hasil: edema, 2. Untuk mengetahui
kurang 1) Kekuatan nadi pengisian faktor risiko
informasi perifer kapiler, warna, gangguan sirkulasi
tentang faktor meningkat suhu, ankle- 3. Untuk mengetahui
pemberat (mis. 2) Penyembuhan brachial index). panas, kemerahan,
trauma, luka meningkat 2. Identifikasi nyeri atau bengkak
imobilitas) 3) Warna kulit faktor risiko pada ekstremitas
dibuktikan pucat menurun gangguan pasien
dengan 4) Nyeri sirkulasi (mis. 4. Untuk mencegah
pengisian ekstremitas diabetes, kekurangan/
kapiler >3 menurun perokok, orang perubahan sirkulasi
detik, nadi 5) Kelemahan otot tua, hipertensi, perifer
perifer menurun dan kadar 5. Agar sirkulasi
menurun atau 6) Pengisian kolesterol perifer tidak
tidak teraba, kapiler tinggi) terganggu
akral teraba membaik 3. Monitor panas, 6. Agar sirkulasi
dingin, warna 7) Akral membaik kemerahan, perifer tidak
kulit pucat, 8) Turgor kulit nyeri, atau terganggu sehingga
turgor kulit membaik bengkak pada penyembuhan luka
menurun, nyeri 9) Tekanan darah ekstremitas pada area yang
ekstremitas, sistolik cidera tidak
edema dan membaik Terapeutik terhambat
penyembuhan 10) Tekanan darah 4. Hindari
luka lambat. diastolik pemasangan 7. Untuk mencegah
membaik infus atau munculnya infeksi
pengambilan akibat invasi bakteri
darah di area 8. Untuk melancarkan
keterbatasan sirkulasi darah
perfusi.
5. Hindari 9. Agar tekanan darah
pengukuran pasien tetap stabil
tekanan darah (normal)
pada ekstremitas 10. Untuk mencegah
dengan terjadinya
keterbatasan perburukan pada
perfusi. luka
6. Hindari 11. Agar pasien dapat
penekanan dan segera melaporkan
pemasangan apabila terdapat
tourniquet pada tanda dan gejal
area yang cedera darurat.
7. Lakukan
pencegahan
infeksi
8. Lakukan hidrasi

Edukasi
9. Anjurkan
minum obat
pengontrol
tekanan darah
secara teratur
10. Anjurkan
melakukan
perawatan kulit
yang tepat (mis.
melembapkan
kulit kering pada
kaki)
11. Informasikan
tanda dan gejala
darurat yang
harus dilaporkan
(mis. rasa sakit
yang tidak
hilang saat
istirahat, luka
tidak sembuh,
hilangnya rasa)

4. Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Intervensi Utama Intervensi Utama


(D.0019) tindakan Manajemen Manajemen Nutrisi
berhubungan keperawatan Nutrisi (I.03119) (I.03119)
dengan 3x24 jam Observasi : Observasi :
ketidakmampua diharapkan 1. Identifikasi 1. Untuk
n mengabsorbsi Status Nutrisi status nutrisi mengidentifikasi
nutrient, (L.03030) status nutrisi
2. .Identifikasi
peningkatan membaik dengan
alergi dan 2. .Untuk
kebutuhan kriteria hasil:
intoleransi mengidentifikasi
metabolisme - Porsi
makanan alergi dan
dibuktikan makanan
3. Identifikasi intoleransi
dengan berat yang
makanan yang makanan
badan menurun dihabiskan
minimal 10% di meningkat disukai 3. Untuk
bawah rentang - Kekuatan otot 4. Identifikasi mengidentifikasi
ideal, kram/nyeri pengunyah kebutuhan makanan yang
abdomen. meningkat kalori dan jenis disukai
- Kekuatan otot nutrient 4. Untuk
menelan 5. Identifikasi mengidentifikasi
meningkat perlunya kebutuhan kalori
- Serum penggunaan dan jenis nutrient
albumin selang 5. Untuk
meningkat nasogastric mengidentifikasi
- Verbalisasi 6. Monitor asupan perlunya
keinginan makanan penggunaan
untuk selang nasogastric
7. Monitor berat
meningkatka 6. Untuk memonitor
badan
n nutrisi asupan makanan
8. Monitor hasil
meningkat
7. Untuk memonitor
pemeriksaan
- Pengetahuan
berat badan
laboratorium
tentang
8. Untuk memonitor
pilihan
hasil pemeriksaan
makanan
laboratorium
yang sehat
Terapeutik Terapeutik
meningkat
- Pengetahuan 9. Lakukan oral 9. Untuk melakukan
tentang hygiene oral hygiene
pilihan sebelum sebelum makan,
minuman makan, jika jika perlu
yang sehat perlu 10. Untuk
meningkat 10. Fasilitasi memfasilitasi
- Pengetahuan menentukan menentukan
tentang pedoman diet pedoman diet (mis.
standar (mis. piramida piramida makanan)
asupan nutrisi makanan) 11. Untuk
yang tepat 11. Sajikan menyajikan
meningkat makanan makanan secara
- Penyiapan secara menarik menarik dan suhu
dan dan suhu yang yang sesuai
Penyimpanan sesuai 12. Untuk
makanan 12. Berikan memberikan
yang aman makanan tinggi makanan tinggi
- Penyiapan serat untuk serat untuk
dan mencegah mencegah
penyimpanan konstipasi konstipasi
minuman 13. Berikan 13. Untuk
yang aman makanan tinggi memberikan
- Sikap kalori dan makanan tinggi
terhadap tinggi protein kalori dan tinggi
makanan/min 14. Berikan protein
uman sesuai suplemen 14. Untuk
dengan makanan, jika memberikan
tujuan perlu suplemen
kesehatan 15. .Hentikan makanan, jika
meningkat pemberian perlu
- Perasaan makanan 15. .Untuk
cepatkenyang melalui selang menghentikan
menurun nasogatrik jika pemberian
- Nyeri asupan oral makanan melalui
abdomen dapat selang nasogatrik
menurun ditoleransi jika asupan oral
- Sariawan dapat ditoleransi
menurun Edukasi Edukasi
- Rambut
16. Anjurkan 16. Untuk
rontok
menurun posisi duduk, menganjurkan
- Diare jika mampu posisi duduk, jika
menurun
17. Ajarkan diet mampu
- Berat badan
yang 17. Untuk
membaik
diprogramkan mengajarkan diet
- Indeks Massa
yang
Tubuh(IMT)
diprogramkan
membaik
Kolaborasi : Kolaborasi :
- Frekuensi
18. Kolaborasi 18. Untuk
makan
pemberian mengolaborasi
membaik
medikasi pemberian
- Nafsu makan
sebelum makan medikasi sebelum
membaik
([Link] makan ([Link]
- Bising usus
membaik nyeri, nyeri, antlemetik),
- Tebal lipatan antlemetik), jika jika perlu
kulit trisep perlu 19. Untuk
membaik 19. Kolaborasi mengolaborasi
- Membran dengan ahli gizi dengan ahli gizi
mukosa untuk untuk menentukan
membaik menentukan jumlah kaloridan
jumlah jenis nutrient yang
kaloridan jenis dibutuhkan, jika
nutrient yang perlu
dibutuhkan, jika
perlu
Promosi Berat Promosi Berat
Badan (I.03136) Badan (I.03136)
Tindakan Tindakan
Observasi Observasi

1. Identifikasi 1. Untuk
kemungkinan mengidentifikasi
penyabab BB kemungkinan
kurang penyabab BB
2. Monitor kurang
adanya mual
2. Untuk memonitor
dan muntah
adanya mual dan
3. Monitor
muntah
jumlah kalori
3. Untuk memonitor
yang
jumlah kalori
dikonsumsi
yang dikonsumsi
sehari-hari
sehari-hari
4. Monitor berat
4. Untuk memonitor
badan albumin,
berat badan
imfosit dan
albumin, imfosit
elektrolit serum
dan elektrolit
serum
Terapeutik
Terapeutik
1. Berikan
1. Untuk
perawatan
memberikan
mulut sebelum
perawatan mulut
pemberian
sebelum
makan, jika
pemberian
perlu
makan, ika perlu
2. Sediakan
makanan yang 2. Untuk
tepat sesuai menyediakan
kondisi pasien makanan yang
(mis, makanan tepat sesuai
dengan tekstur kondisi pasien
halus, makanan (mis, makanan
yang diblender, dengan tekstur
makanan cair halus, makanan
yang diberikan yang diblender,
melalui NGT makanan cair
atau yang diberikan
gastrostomi, melalui NGT atau
total sesuai gastrostomi,total,
indikasi) parenteral
3. Hidangkan nutrizton sesuai
makanan indikasi)
secara menarik 3. Untuk
4. Berikan menghidangkan
suplerman, jika makanan secara
perlu menarik
5. Berikan pujian 4. Untuk memberikan
pada suplerman, jika
pasien/keluarga perlu
untuk 5. Untuk memberikan
peningkatan pujian pada
yang dicapai pasien/keluarga
untuk peningkatan
Edukasi yang dicapai
1. Jelaskan jenis Edukasi
makanan yang 1. Menjelaskan jenis
bergizi tinggi, makanan yang
namun tetap bergizi tinggi,
terjangkau namun tetap
2. Jelaskan terjangkau
peningkatan 2. Menjelaskan
asupan kalori peningkatan asupan
yang dibutuhkan kalori yang
dibutuhkan
5. Hipovolemi Setelah dilakukan Intervensi Utama Intervensi Utama
(D.0023) tindakan Manajemen Manajemen
berhubungan keperawatan Hipovolemia Hipovolemia
dengan selama 3x24 jam (I.03116) (I.03116)
kegagalan diharapkan Status Observasi : Observasi :
mekanisme Cairan (L.03028) 1. Periksa tanda dan 1. Memeriksa tanda
regulasi, meningkat dengan gejala dan gejala
kekurangan kriteria hasil : hypovolemia hypovolemia (mis.
intake cairan 1. Kekuatan nadi (mis. frekuensi frekuensi nadi
dibuktikan meningkat nadi meningkat, meningkat, nadi
dengan 2. Output urine nadi teraba teraba lemah,
frekuensi nadi meningkat, lemah, tekanan tekanan darah
meningkat, nadi membrane darah menurun, menurun, tekanan
teraba lemah, mukosa lembap tekanan nadi nadi menyempit,
tekanan darah meningkat menyempit, turgor kulit
menurun, 3. Pengisian vena turgor kulit menurun, membrane
tekanan nadi meningkat menurun, mukosa kering,
menyempit, 4. Ortopnea membrane volume utin
turgor kulit menurun mukosa kering, menurun,
menurun, 5. Dispnea volume utin hematokrit
membrane menurun menurun, meningkat, haus,
mukosa kering, 6. Paroxysmal hematokrit lemah)
volume urin nocturnal meningkat, haus, 2. Memonitor intake
menurun, dyspnea (PND) lemah) dan output cairan
hematokrit menurun 2. Monitor intake
meningkat, 7. Edema anasarka dan output cairan
merasa lemah, menurun Terapeutik : Terapeutik :
mengeluh haus, 8. Edema perifer 3. Hitung 3. Mengetahui cairan
berat badan menurun kebutuhan cairan yang dibutuhkan
turun tiba – tiba. oleh pasien
9. Berat badan 4. Berikan asupan 4. Memberikan asupan
menurun cairan oral cairan oral
10. Distensi vena Edukasi :
jugularis Edukasi : 5. Menganjurkan
menurun 5. Anjurkan memperbanyak
11. Suara napas memperbanyak asupan cairan oral
tambahan asupan cairan oral Kolaborasi :
menurun Kolaborasi : 6. Untuk memenuhi
12. Kongesti paru 6. Kolaborasi kebutuhan cairan
menurun pemberian cairan pasien
13. Perasaan lemah IV isotonis (mis. 7. Untuk memenuhi
menurun NaCl, RL) kebutuhan cairan
14. Rasa haus 7. Kolaborasi pasien dan
menurun pemberian cairan meningkatkan kadar
15. Konsentrasi IV hipotonis (mis. gula dan
urine menurun glukosa 2,5%, menghindari
16. Frekuensi nadi NaCl 0,4%) hipoglikemia
membaik 8. Kolaborasi 8. Untuk mencegah
17. Tekanan darah pemberian produk anemia
membaik darah
18. Tekanan nadi Manajemen Syok
membaik Hipovolemik (I.02050)
19. Turgor kulit Observasi :
membaik Manajemen Syok 1. Mengetahui status
20. Jugular Venous Hipovolemik kardiopulmonal
Pressure (JVP) (I.02050) yang meliputi
membaik Observasi : frekuensi dan
21. Haemoglobin 1. Monitor status kekuatan nadi,
membaik kardiopulmonal frekuensi napas,
22. Hematokrit (frekuensi dan tekanan darah
membaik kekuatan nadi,
23. Cental Venous frekuensi napas, 2. Memonitor status
Pressure TD) oksigenasi
membaik 2. Monitor status (oksimetri nadi,
24. Refluks oksigenasi AGD)
hepatojugular (oksimetri nadi, 3. Mengetahui cairan
membaik AGD) masuk dan keluar
25. Berat badan 3. Monitor status pasien sehingga
membaik cairan (masukan mengetahui IWL
26. Hepatomegaly dan haluaran, pasien
membaik turgor kulit, 4. Untuk memeriksa
27. Oliguria CRT) tingkat kesadaran
membaik 4. Periksa tingkat pasien dan
28. Oliguria kesadaran dan memastikan pasien
membaik respon pupil tidak mengalami
29. Intake cairan 5. Periksa seluruh penurunan
membaik permukaan tubuh kesadaran
30. Status mental terhadap adanya 5. Untuk mengetahui
membaik DOTS ada tidaknya
Suhu tubuh (deformity/ deformitas, luka
membaik deformitas, terbuka, nyeri tekan
openwound/ luka dan bengkak jika
terbuka, ada maka dapat
tenderness/ nyeri segera diberi
tekan, swelling/ tatalaksana
bengkak) Terapeutik :
6. Mengambil sampel
Terapeutik : darah untuk
6. Ambil sampel pemeriksaan darah
darah untuk lengkap dan
pemeriksaan elektrolit
Kolaborasi :
darah lengkap 7. Untuk memenuhi
dan elektrolit kebutuhan cairan
Kolaborasi : pasien
7. Kolaborasi 8. Mencegah
pemberian infus terjadinya anemia
cairan kristaloid
1-2L pada
dewasa
8. Kolaborasi
pemberian
tranfusi darah,
jika perlu

6. Risiko Infeksi Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi Pencegahan Infeksi (I.


(D.0142) intervensi (I. 14539) 14539)
dibuktikan keperawatan Observasi Observasi
dengan penyakit selama ..x.. jam, 1. Monitor tanda 1. Untuk mengetahui
kronis, maka Tingkat dan gejala infeksi tanda dan gejala
ketidakadekuata Infeksi (L. 14137) infeksi
n pertahanan Menurun, dengan Terapeutik Terapeutik
tubuh sekunder: kriteria hasil: 2. Berikan 2. Untuk menjaga
penurunan 1. Kebersihan perawatan kulit kebersihan
hemoglobin, badan pada area perineum
ketidakadekuata meningkat perineum 3. Agar tidak terjadi
n pertahanan 2. Demam 3. Cuci tangan penyebaran
tubuh primer: menurun sebelum dan virus/bakteri
gangguan 3. Kemerahan sesudah kontak 4. Untuk menghindari
integritas kulit. menurun dengan pasien terjadinya penularan
4. Nyeri menurun dan lingkungan penyakit melalui
5. Bengkak pasien kontak langsung
menurun
4. Pertahankan Edukasi
teknik aseptik 5. Agar pasien
pada pasien mengetahui tanda
berisiko tinggi dan gejala infeksi
Edukasi 6. Agar pasien
5. Jelaskan tanda mengetahui dan
dan gejala infeksi dapat
6. Ajarkan teknik mempraktekan
mencuci tangan dalam kehidupan
dengan benar sehari-hari
7. Ajarkan cara bagaimana cara
memeriksa cuci tangan yang
kondisi luka benar
8. Anjurkan 7. Agar pasien dapat
meningkatkan memonitor kondisi
asupan nutrisi luka secara mandiri
8. Asupan nutrisi yang
cukup dan baik
dapat meningkatkan
kekebalan tubuh
sehingga terlindung
dari infeksi
Kolaborasi
Kolaborasi Untuk membentuk
Kolaborasi kekebalan tubuh
pemberian imunisasi sehingga terlindung dari
berbagai macam
penyakit/ infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Kartikasari, P. D. (2019). ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DEWASA


DIABETES MELLITUS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
GANGGUAN CITRA TUBUH Di Ruang Mawar RSUD Dr. Harjono
Ponorogo (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Ponorogo) [Link]
Maria, I. (2021). Asuhan keperawatan diabetes mellitus dan asuhan keperawatan
[Link]://[Link]/books/edition/Asuhan
_Keperawatan_Diabetes_Mellitus_Dan/u_MeEAAAQBAJ?hl=id&
gbpv=1
Ningsih [Link] Militus. Institute Ilmu Kesehatan Dan Teknologi
[Link]://[Link]/document/55173
3292/LAPORAN-PENDAHULUAN-dm-1

NURDIN, H., Abidin, M. Z., Ners, M. K., Wahyudi, T., Warijan, S. P., & Kep, A.
(2021). ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DIABETES
MILITES TIPE 2 DENGAN FOKUS STUDI DEFISIT
PENGETAHUAN (DIIT, OBAT, OLAHRAGA) DI RSUD Dr
SOETIJONO BLORA. [Link]
[Link]/[Link]?p=show_detail&id=31691

Osiana Putri, N. P. W., Kusumayanti, G. A. D., & Cintari, L. (2020). TINJAUAN


KASUS GAMBARAN TINGKAT KONSUMSI SERAT DAN KADAR
GLUKOSA DARAH KASUS DM TIPE 2 POLI PENYAKIT DALAM
DI RSUD WANGAYA DENPASAR (Doctoral dissertation, Jurusan
Gizi).[Link]
[Link]/4281/3/BAB%20II%20TINJAUAN%20PUSTAKA
%[Link]
Purwanto, Hadi. 2016. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta Selatan: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia
Sartika, F., & Hestiani, N. (2019). Kadar HbA1c pada Pasien Wanita Penderita
Diabetes Mellitus Tipe 2 di Rsud Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya:
HbA1c Levels in Patients Female with Type 2 Diabetes Mellitus in
RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Borneo Journal Of
Medical Laboratory Technology, 2(1), 97-100.
[Link]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi
11. Jakarta Selatan: DPP PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi
1 Cetakan II. Jakarta Selatan: DPP PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1
Cetakan II. Jakarta Selatan: DPP PPNI
Wahyuni, K. I., & Farm, S. (2020). Diabetes Mellitus. Jakad Media
[Link]://[Link]/books/edition/DIABETES_M
ELLITUS/3moPEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=diabetes+melit
us&printsec=frontcover

Anda mungkin juga menyukai