Acara 4-5
Mata Pelajaran : Metode Work Sampling
Judul Praktikum : Pengukuran Work Sampling
Tempat : Laboratorium Manajemen Agroindustri
Alokasi Waktu : 1x2x170 menit
A. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)
Pada akhir semester mahasiswa akan mampu menjelaskan konsep rekayasa sistem kerja
sebagai perangkat analisis strategis pada satu organisasi baik yang berorientasi profit maupun
non profit sehingga mampu melakukan analisis lingkungan baik eksternal maupun internal, di
samping itu juga mampu melakukan rekayasa alat dan ruang kerja.
B. Indikator Penilaian
1. Mahasiswa mampu menentukan kelonggaran pada sebuah pekerjaan untuk
pengukuran waktu baku
2. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran kerja dan memberikan perbaikan dalam
Upaya meningkatkan efektifitas, efisiensi dan produktifitas kerja
C. Dasar Teori
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghsilkan
barang dan atau jasa untuk memnuhi kebutuhan sendiri atau Masyarakat. Tenaga kerja pada
suatu industry dibagi menjadi 2 klasifikasi, yaitu tenaga kerja langsung (bagian produksi) dan
tenaga kerja tak langsung. Tenaga kerja tak langsung yaitu tenaga kerja kreatif, tenaga kerja
beban tetap, dan tenaga kerja beban berubah.
Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaikan secara efisien apabila waktu
penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Untuk menghitung waktu baku (standart time)
penyelesaian pekerjaan guna memilih alternatif metode kerja yang terbaik, maka perlu
diterapkan prinsip‐prinsip dan teknik‐teknik pengukuran kerja (work measurement atau
time study). Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan dengan usaha‐usaha untuk
menetapkan waktu baku yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan.
Secara singkat pengukuran kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara
kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Waktu baku ini
merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja yang memiliki tingkat kemampuan
rata‐rata untuk menyelesaikan pekerjaan. Pada garis besarnya teknik‐teknik pengukuran
waktu kerja ini dapat dibagi atau dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu:
1. Pengukuran waktu kerja secara langsung
Pengukuran kerja ini dilaksanakan secara langsung yaitu di tempat dimana pekerjaan
yang diukur dijalankan. Dua cara yang termasuk didalamnya adalah cara pengukuran kerja
dengan menggunakan jam henti (stopwatch time study) dan sampling kerja (work sampling).
2. Pengukuran waktu kerja secara tidak langsung
Pengukuran ini dilakukan dengan cara melakukan penghitungan waktu kerja tanpa si
pengamat harus ditempat pekerjaan yang diukur. Aktivitas yang dilakukan hanya melakukan
perhitungan waktu kerja dengan membaca tabel‐tabel waktu yang tersedia asalkan
mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen‐elemen pekerjaan atau elemen‐elemen
gerakan.
I. Work Sampling
Teknik pengukuran waktu dengan sampling kerja diperkenalkan dan digunakan oleh
L.H.C. Tippet pada tahun 1940 pada industri tekstil di Inggris. Selanjutnya metode ini
digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai kerja mesin atau operatornya. Sampling
pekerjaan mempunyai tiga kegunaan utama diantaranya activity and delay sampling,
performance sampling dan work measurement. Pada activity and delay, sampling kerja
bertujuan mengukur aktivitas dan penundaan yang terjadi pada pekerja ataupun mesin. Pada
performance sampling, sampling kerja bertujuan mengukur waktu bekerja dan tidak bekerja
seorang pekerja pada suatu pekerjaan tertentu dan kemudian mengeluarkan suatu indeks
performansi pekerja selama waktu kerjanya. Sedangkan pada work measurement, sampling
kerja bertujuan untuk memperoleh waktu standar/baku suatu pekerjaan.
II. Penentuan Jumlah Sampel yang Diamati
Banyaknya pengamatan yang harus dilakukan dalam kegiatan sampling kerja
dipengaruhi oleh dua factor, yaitu Tingkat kepercayaan ( Confidence level) dan Tingkat
ketelitian (Degree of accuracy). Sehingga perhitungan jumlah sampel yang dibutuhkan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
k 2 . p. (1 − p)
N′ =
S2
Dengan =
N’ : pengamatan yang harus dilakukan
p : probabilitas dari elemen working
k : nilai z pada tabel distribusi normal
s2 : tingkat error
III. Waktu Pengamatan
Waktu kunjungan untuk melakukan pengamatan ditentukan berdasarkan bilangan acak
(ramdom), hal ini bertujuan agar kejadian memiliki kesempatan yang sama untuk diamati.
Disamping itu untuk menjamin sampel yang diambil benar‐benar dipilih secara acak. Untuk
menentukan, biasanya satu hari kerja dibagi kedalam satuan‐satuan waktu yang besarnya
ditetukan oleh pengukur. Biasanya panjang satu satuan waktu tidak terlampau panjang (lama).
Berdasarkan satu satuan waktu inilah saat‐saat kunjungan ditentukan. Misalnya satu satuan
waktu panjangnya 5 menit, jadi satu hari kerja (8 jam) mempunyai 96 satuan waktu ((8x60)/5).
Ini berarti jumlah kunjungan per hari tidak lebih dari 96 kali. Jika dalam satu hari akan
dilakukan 36 kali kunjungan, maka dengan bantuan tabel bilangan acak ditentukan saat‐saat
kunjungan tersebut. Waktu kunjungan tidak boleh pada saat‐saat tertentu yang kita ketahui
dalam keadaan tidak bekerja, misalnya jam‐jam istirahat atau hari libur, dimana tidak ada
kegiatan secara resmi.
Berikut adalah cara random data yang dilakukan dengan software Ms. Excel dengan
langkah‐langkah sebagai berikut :
1. KOLOM A.
Rumus = jumlah detik pengamatan x rand()
Misal : pengamatan dilakukan selama 2 jam dengan 1 kali pengamatan 120 detik, maka
satuan waktu yang dibutuhkan 7200 detik/ 120 detik = 60 satuan waktu kolom A =
7200*rand().
Kemudian didrag ke bawah hingga data satuan waktu.
2. KOLOM B.
Kolom A dicopy ‐> paste special ‐> value ke kolom B (dengan tujuan agar nilai random
tidak berubah).
3. KOLOM C.
Kolom B dikonversi sesuai dengan jam dimulainya pengamatan.
waktu mulai pengama tan angka random kolom B
Rumus = +
24 jam jumlah det ik per hari
8 3680
Misal : pengamatan dilakukan mulai pukul 08.00 maka kolom C = 24 + 86400 = 0,3759
Perlu diingat bahwa untuk waktu pengamatan diambil berbeda tiap harinya dengan
tujuan untuk memaksimalkan randomisasi serta agar performance dari operator dapat
terlihat sesuai dengan keadaan yg sebenarnya / tidak dibuat‐buat.
4. KOLOM D.
Kolom C dicopy → paste special → value lalu format cell diganti menjadi time.
Kemudian data disort dari A ke Z (note : jika muncul sort warning, pilih salah satu).
KOLOM D dicopy ke obsheet Work Sheet.
IV. Penyesuaian (Performance Rating)
Dalam penghitungan waktu standar, pengukur perlu melakukan suatu penilaian
terhadap kecepatan operator saat melakukan aktivitas pekerjaannya yang disebut
dengan pemberian rating atau faktor penyesuaian. Penyesuaian adalah suatu proses
yang pada saat melakukan pengukuran, pengamat membandingkan performansi
(kecepatan) kerja operator terhadap konsep kecepatan kerja normal yang dimilikinya.
Untuk penentuan faktor penyesuaian terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan,
salah satunya Westinghouse.
V. Waktu Siklus
Waktu siklus adalah waktu antara penyelesaian dua pertemuan berturut‐turut dengan
asumsi konstan untuk semua pertemuan. Dapat juga dikatakan sebagai hasil pengamatan
secara langsung yang tertera dalam stopwatch. Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan
elemen‐elemen kerja pada umumnya sedikit berbeda dari siklus ke siklus kerja sekalipun
operator bekerja pada kecepatan normal. Waktu ini merupakan waktu dasar pekerja
menyelesaikan pekerjaannya dalam kondisi yang ia terima di lapangan dan dalam situasi yang
wajar. Artinya, pekerja tersebut tidak sedang dalam kondisi termotivasi (sehingga waktunya
dipercepat) atau dalam kondisi terdemotivasi (sehingga waktunya melambat). Adapun rumus
yang dapat digunakan untuk menghitung waktu siklus adalah sebagai berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑥 %𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
𝑊𝑠𝑘 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑘𝑎𝑛
Dengan Total waktu bekerja (dalam menit), %waktu kerja (produktivitas pegawai) dengan
rumus:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 − 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑛𝑜𝑛 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑓
𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛
VI. Waktu Normal
Waktu normal adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja
dengan mempertimbangkan faktor penyesuaian atau biasa disebut performance rating.
Waktu normal untuk suatu elemen operasi kerja adalah semata‐mata menunjukan bahwa
seorang operator yang berkualifikasi baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada
kecepatan kerja yang normal. Walaupun demikian pada prakteknya kita akan melihat bahwa
tidaklah bisa diharapkan operator tersebut akan mampu bekerja terus‐menerus sepanjang
hari tanpa adanya interupsi sama sekali. Disini pada kenyataannya operator akan sering
menghentikan kerja dan membutuhkan waktu khusus untuk keperluan seperti kebutuhan
pribadi, istirahat melepas lelah, dan alasan lain yang berada diluar kontrolnya. Rating faktor
ini umumnya dinyatakan dalam persentase (%) atau angka desimal, dimana performance kerja
normal akan sama dengan 100% atau 1,00. Adapun proses transformasi dari waktu siklus ke
waktu normal adalah menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑊𝑛 = 𝑊sk × 𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔
Dengan Wsk= waktu siklus
VII. Kelonggaran (Allowance)
Kelonggaran pada dasarnya adalah suatu faktor koreksi yang harus diberikan karena
dalam melakukan pekerjaannya pekerja dapat terganggu oleh hal‐hal yang bersifat alamiah.
Kelonggaran bukanlah bagian dari performance rating dan pengaplikasiannya harus
dipisahkan. Kelonggaran diberikan untuk tiga hal sebagai berikut:
a. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi (personal allowance), meliputi minum untuk
menghilangkan rasa haus, ke toilet, mengobrol dengan teman, dll.
b. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa Lelah (fatigue allowance)
c. Kelonggaran untuk hambatan yang tidak terhindarkan (delay allowance), meliputi
menerima petunjuk dari pengawas (supervisor), melakukan penyesuaian mesin,
mengasah peralatan potong, dll. Perhitungan kelonggaran ini dilakukan dengan suatu
teknik sampling tersendiri karena besarnya hambatan untuk kejadian ini sangat
bervariasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Berikut adalah gambar Tabel Allowance
FAKTOR CONTOH PEKERJAAN KELONGGARAN (%)
A. TENAGA YANG DIKELUARKAN
Ekivalen beban
PRIA WANITA
1. Dapat diabaikan Bekerja dimeja, duduk Tanpa Beban 0,0 - 6,0 0,0 - 6,0
2. Sangat ringan Bekerja dimeja, berdiri 0,0 - 2,25 kg 6,0 - 7,5 6,0 - 7,5
3. Ringan Menyekop, ringan 2,25 - 9,00 7,5 - 12,0 7,5 - 16,0
4. Sedang Mencangkul 9,00 - 18,00 12,0 - 19,0 16,0 - 30,0
5. Berat Mengayun palu yang berat 19,0 - 27,0 19,0 - 30,0
6. Sangat berat Memanggul beban 27,0 - 50,0 30,0 - 50,0
7. Luar biasa berat Memanggul karung berat Diatas 50 kg
B. SIKAP KERJA
1. duduk Bekerja duduk, ringan 0,0 - 1,0
2. Berdiri diatas dua kaki Badan tegak, ditumpu dua kaki 1,0 - 2,5
3. Berdiri diatas satu kaki Satu kaki mengerjakan alat kontrol 2,5 - 4,0
4. Berbaring Pada bagian sisi, belakang, atau depan badan 2,5 - 4,0
5. Membungkuk badan dibungkukkan bertumpu pada dua kaki 4,0 - 10,0
C. GERAKAN KERJA
1. Normal Ayunan bebas dari bahu 0
2. Agak terbatas Ayunan terbatas dari palu 0- 5
3. Sulit Membawa beban berat dengan satu tangan 0- 5
4. Pada anggota badan terbatas Bekerja dengan tangan diatas keapal 5 - 10
5. Seluruh anggota badan terbatas bekerja dilorong pertambangan yang sempit 10 - 15
D. KELELAHAN MATA PENCAHAYAAN
BAIK BURUK
1. pandangan yang terputus-putus membawa alat ukur 0,0 - 6,0 0,0 - 6,0
2. pandangan yang hampir terus-menerus
Pekerjaan-pekerjaan yang teliti 6,0 - 7,5 6,0 - 7,5
3. Pandangan terus-menerus dengan fokus
memeriksa
berubah-ubah
cacat kain 7,5 - 12,0 7,5 - 16
4. Pandangan terus-menerus dengan fokus
pemeriksaan
tetap yang teliti 19 - 30 16 - 30
E. KEADAAN TEMPERATUR KERJA TEMPERATUR (DERAJAT CELCIUS) KELEMBABAN, NORMAL, BERLEBIHAN
1. Beku dibawah 0 diatas 10 diatas 12
2. rendah 0 - 13 10 - 5 12 - 5
3. sedang 13 - 22 5- 0 8- 0
4. Normal 22 - 28 0- 5 0- 8
5. Tinggi 28 - 38 5 - 40 8 - 100
6. Sangat tinggi diatas 38 diatas 40 diatas 100
F. KEADAAN ATMOSFER
1. Baik Ruang yang berventilasi baik, udara segar 0
2. cukup Ventilasi kurang baik, ada bau-bauan 0-5
Adanya debu beracun atau tidak beracun tapi
3. Kurang baik 5-10
banyak
Adanya bau-bauan berbahaya harus
4. Buruk 10-20
menggunakan alat bantu nafas
VIII. Waktu Baku/Waktu Standar
Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh pekerja dengan kondisi
normal untuk menyelesaikan pekerjaannya yang dikerjakan dalam system kerja baik. Waktu
baku dibentuk secara tidak langsung, perlu adanya penambahan seperti kelonggaran dan
penyesuaian dengan memperhatikan situasi dan kondisi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Hal itu dilakukan karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Waktu baku dapat dijadikan sebagai alat untuk
membuat rencana penjadwalan kerja yang menyatakan berapa lama kegiatan harus
berlangsung, berapa output yang akan dihasilkan, serta berapa jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Waktu baku didapatkan dari hasil
penghitungan sebagai berikut:
100
𝑊𝑠 = 𝑊𝑛 𝑥
100 − 𝐴𝑙𝑙𝑜𝑤𝑎𝑛𝑐𝑒
Berikut beberapa hal mengenai pentingnya waktu baku:
a. Digunakan untuk menghilangkan pemborosan sekaligus meningkatkan
produktivitas kerja
b. Digunakan sebagai dasar penentuan upah dan jumlah buruh atau pekerja.
c. Digunakan sebagai dasar penentuan lot (jumlah) bahan/ material yang dibeli.
d. Digunakan sebagai dasar penjadwalan produksi.
e. Digunakan sebagai parameter mengenai baik buruknya kualitas operasi maupun
pelayanan (dalam jasa).
XI. Uji Keseragaman Data
Uji keseragaman data dilakukan untuk mengetahui data yang didapat seragam atau
tidak. Keseragaman data ditunjukkan dengan tidak adanya data yang out of control. Tingkat
keyakinan yang dipakai untuk pengujian ini adalah 95% dan tingkat ketelitian adalah 5%. Hal
ini dapat dikatakan bahwa keyakinan peneliti terhadap hasil pengukuran 95% dan tingkat
ketelitian dari hasil pengukuran sebesar 5%. Persamaan untuk uji keseragaman data adala
sebagai berikut:
𝑝̅ (1−𝑃̅)
Batas Kontrol Atas (BKA) = 𝑝̅ + 2√ 𝑛̅
𝑝̅ (1−𝑃̅ )
Batas Kontrol Bawah (BKB) = 𝑝̅ − 2√ 𝑛̅
Dengan: 𝑝̅ = Produktivitas rata‐rata operator (desimal)
𝑛̅ = Jumlah pengamatan yang dilakukan
D. Alat dan Bahan
Adapaun alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. BKPM
2. Form Pengamatan Sampling Kerja
3. Pensil/Pena
4. Tabel Random Number
E. Prosedur Kerja
1. Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari 4 orang
2. Setiap kelompok melakukan identifikasi pada salah satu pekerja di umkm
agroindustry (jika aktivitas lebih dari satu, dicatat seluruh kegiatannya)
3. Bagi tugas diantara anggota kelompok sesuai dengan waktu luang yang dimiliki
masing‐masing anggota. Setiap anggota kelompok harus pernah sebagai
pengamat/pengukur kegiatan kerja
4. Setiap mahasiswa bertugas sebagai i. observasi uraian pekerjaan sekaligus
menentukan factor penyesuaian dan kelonggaran, ii. Mendokumentasikan kegiatan
5. Tentukan waktu kunjungan/pengamatan berdasarkan table random number dengan
1 kali pengamatan 2 menit selama 2 jam dalam 3 hari berturut‐turut. Untuk waktu
awal pengamatan, setiap hari berbeda.
6. Konsultasikan hasilnya dengan dosen dan teknisi
7. Membuat Laporan kelompok
F. Hasil dan Pembahasan
Waktu Random Observasi Kegiatan Produktif Kegiatan Tidak
Produktif
Persentase Produktif:
Persentase Non Produktif:
Lakukan kegiatan pra sampling terlebih dahulu di hari pertama. Kemudian cek apakah
jumlah data pengamatan sudah terpenuhi atau tidak
Kesimpulan