0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan4 halaman

Outline Khotbah

Khotbah ini mengajak jemaat untuk terus menabur kebaikan kepada sesama selama masih ada kesempatan, berdasarkan Galatia 6:1-10. Paulus menekankan pentingnya saling membangun, menopang, dan berbagi dalam komunitas Kristen sebagai wujud kasih kepada sesama. Pesan utama adalah untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain dan mendukung pekerjaan Tuhan dengan tindakan nyata.

Diunggah oleh

migellaunan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan4 halaman

Outline Khotbah

Khotbah ini mengajak jemaat untuk terus menabur kebaikan kepada sesama selama masih ada kesempatan, berdasarkan Galatia 6:1-10. Paulus menekankan pentingnya saling membangun, menopang, dan berbagi dalam komunitas Kristen sebagai wujud kasih kepada sesama. Pesan utama adalah untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain dan mendukung pekerjaan Tuhan dengan tindakan nyata.

Diunggah oleh

migellaunan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Migel E.

Leuanan

NIM : 712022023

Kelas : Homelitika_A Outline Khotbah

Tema
Terus Menabur Kebaikan
Selama Masih Ada Kesempatan
Galatia 6:1-10
Tujuan : “Jemaat dapat memahami bahwa menaburkan kebaikanlah kepada sesama

selagi masih ada kesempatan, karena itu merupakan kehendak dari Tuhan.”

Pendahuluan :

Ada sebuah lagu yang sangat populer berjudul “hidup ini adalah kesempatan” yang
di ciptakan oleh Pdt. Wilhemus Latumahina. Pendeta ini sangat mencintai panggilannya dan
selalu menguatkan umat dengan lagu-lagunya. Ia meninggal pada 12 Mei 2020, pada usia 62
tahun. Latar belakang lagu ini, berawal saat anaknya yang sulung dipanggil oleh Tuhan
tahun 2004 yang mengalami kecelakaan lalulintas. Setelah peristiwa itu terjadi, dia
mengungkapkan kalimat-kalimat berikut yang berangkat dari refleksinya: “waktu itu saya
duduk dalam satu keheningan dan merenungkan akan hidup, tidak selamanya kita muda,
tidak selamanya kita kuat, tidak selamanya kita jaya, tidak selamanya kita hidup.” Pada
kesimpulannya, hidup yang kita hidupi sekarang hanyalah anugerah Tuhan. Bagaimana kita
menggunakan kesempatan ini untuk menabur kebaikan kepada orang lain. Karena akan ada
waktu di mana tidak ada lagi kesempatan. Hari ini, kita akan membahas tentang cara hidup
yang terus “Menabur Kebaikan Selama Masih Ada Kesempatan”. Akan ada waktu di mana
tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik, bahkan menerima kebaikan.

Isi

Firman yang mendasari perenungan kita saat ini terambil dari Galatia 6:1-10, dengan
tema “Menabur Kebaikan Selama Masih Ada Kesempatan”. Untuk melihat lebih jauh, kita
akan memulainya dengan mengenali latar belakang teks tersebut. Pasal 6 tidak terlepas dari
pasal 5, Paulus menjelaskan tentang kemerdekaan Kristen. Karena pada masa itu, orang-
orang Yahudi yang telah percaya kepada Kristus masih memegang tradisi sunat, yang
diyakini sebagai bentuk ketahiran dan adalah keselamatan. Kis 15:1. Jadi mereka yang
berlatar belakang Yahudi mengajarkan agar orang non-Yahudi yang percaya kepada Kristus
wajib menyunatkan diri mereka sebagai tanda persatuan dengan Kristus.

Tetapi ini dibantahkan oleh Paulus dengan mengatakan kalau orang yang percaya
kepada Kristus dan hidup di dalam-Nya, sudah di memerdekakan dan dibebaskan dari dosa,
termasuk pada ikatan mengenai sunat yang merupakan tradisi. Paulus menjelaskan tentang
kebebasan dalam Kristus. Tetapi kebebasan seperti apakah itu? Apakah karena sudah selamat
dan bebas sehingga kita bebas melakukan apa saja? Termasuk dosa? (hidup karu-karuan),
tidak! Kebebasan yang dimaksudkan adalah tidak lagi terikat oleh dosa dan oleh aturan-
aturan keagamaan yang tidak ada hubungannya dengan keselamatan. Orang yang hidup di
dalam Kristus tidak membutuhkan semuanya itu, bukan berarti tidak berguna, melainkan,
yang berguna itu tidak wajib. Tetapi dalam kebebasan itu, Paulus menasihatkan mereka
tentang bagaimana mencerminkan kehidupan yang sudah dibebaskan dan dimerdekakan oleh
Kristus kepada mereka.

Kita akan melihat bagaimana Paulus mengajarkan mereka dalam kehidupan bersama
agar tidak menjadi batu sandungan kebebasan tersebut dengan terus menaburkan kebaikan
kepada sesama. Ada tiga poin yang menjadi refleksi kita saat ini:

1. Menabur kebaikan dengan cara memperhatikan satu-sama lain (saling


membangun)

Bagian ayat pertama menjelaskan mengenai, “jika seseorang didapati melakukan satu
kesalahan, maka engkau yang Rohani harus memimpin dia”. kata rohani yang dipakai dalam
bahasa Yunani adalah “Pneumatikoi” yang berarti penuh roh/menerima karunia. Dan kata
memimpin yang dipakai adalah “katartizete” yang berarti memulihkan/menuntunseperti
seorang ahli bedah yang sedang menyambung bagian tubuh yang patah supaya bagian
tubuh tersebut kembali seperti kepada kondisi semula. Sehingga kalimat kamu yang
rohani harus memimpin dimaknai sebagai dia yang sudah dipanggil ke dalam kebenaran
harus menuntun atau memperbaiki orang yang bersalah itu ke jalan yang benar. Seperti
apakah tindakan memperbaiki itu?

Pertama, membantu mereka untuk menyadarkan mereka tentang risiko dari dosa,
sehingga mereka dituntun untuk mengakui dosa mereka. Kedua, menuntun mereka ke jalan
yang benar dengan pengenalan yang benar akan Tuhan dan menerima pengampunan Tuhan.
Ketiga, terus mendampingi mereka untuk pembaharuan mereka. Tidak meninggalkan mereka,
tetapi bisa melibatkan mereka dalam pelayanan Tuhan.
Ini mengindikasikan untuk mereka saling membangun dalam kebaikan sebagai orang yang
sudah dibebaskan. Tetapi harus dengan rendah hati dan dengan tidak sombong, lihat ayat 1-3.

2. Saling melengkapi (menopang)

Dalam teks ayat kedua, pada kalimat bertolong-tolonglah menanggung beban mu, itu
mendedikasikan agar jemaat tidak hidup hanya hidup sendiri-sendiri, melainkan menanggung
beban satu sama lain. Lalu “beban” apa yang dimaksud ? dalam ayat ini kata beban yang
dimaksud merujuk kepada penderitaan, penganiayaan. baik secara fisik maupun secara
mental. Pada bagian kedua ini, Paulus menasihati mereka agar jangan menutup mata
dengan orang yang mengalami kesusahan, kesakitan dan kesulitan. Paulus mau agar
mereka pun harus ada aksi nyata dalam melakukan kebaikan terhadap orang yang lebih
membutuhkan. Ada banyak contoh: misalnya mereka yang tidak mendapatkan makan,
mereka yang mengalami bencana alam dll. Kurang lebih, Paulus mau menasihatkan agar
kebebasanmu dalam Kristus jangan membuat dirimu tidak peduli dengan orang yang sedang
mengalami penderitaan, dan kesulitan-kesulitan.

3. Saling berbagi untuk pekerjaan Tuhan

Khusus pada ayat ini Paulus memberikan sebuah nasihat kepada mereka yang
diajarkan firman oleh pengajar. Secara sederhana Paulus mau menasihatkan mereka yang
sudah diajarkan bisa membagi segala sesuatu. Apa yang dimaksud dengan “membagi
segala sesuatu”? apakah semua harta yang kita miliki? Atau seperti apa? Jikalau kita
memberikan semua harta kita, pastilah kita akan melarat karena jatuh miskin. Namun, ini
bukan pengertian seperti itu, melainkan Ini merupakan bentuk dukungan kepada orang yang
mengajarkan firman Tuhan. Yakni para guru, penatua dll yang mengajarkan firman.

Jadi, yang dimaksud dengan “membagi segala sesuatu”, berupa materi. Saya sepakat
dengan hal ini karena dalam menunjang pelayanan pun dibutuhkan dukungan secara
material. Misalnya ada seorang anak SD yang sangat pintar, lupa membawa Pensil di saat
ujian. Dia meminjam di teman-teman tetapi tidak ada yang memberikannya. Tetapi ada
anak yang menyadari dan memberikan kepadanya sebuah pensil sehingga dia bisa
mengerjakan ujian. Ini merupakan contoh berbagi dalam hal materi, bagaimana itu bisa
menunjang proses selanjutnya.
Relevansinya

Apa yang hendak diambil menjadi pelajaran bagi kita semua? Melihat dari beberapa
nasihat Paulus kepada Jemaat di Galatia, semuanya tentang sesama manusia. Paulus
menasihati mereka secara eksplisit tentang bagaimana hidup dalam hukum Kristus, yaitu
“kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” semua ini tentang sesama manusia. Bagaimana
seseorang yang hidup dalam kasih Kristus harus terus menabur kebaikan dengan cara tidak
menghina, mencaci-maki melainkan menuntun dan memimpin ke jalan yang benar.
Bagaimana orang yang dipanggil Tuhan tidak menutup mata dengan orang yang mengalami
penderitaan, melainkan turut memikul atau menolong mereka yang dalam penderitaan. Serta
hidup orang yang percaya harus saling memberi dukungan, masukan demi menunjang
pekerjaan Tuhan yang diberikan bagi para pelayan Tuhan.

Penutup

saya mau mengajak kepada jemaat yang sudah mendengar tentang firman Tuhan ini
agar kita mau terus menaburkan kebaikan kepada sesama selama masih ada kesempatan,
taburilah kebaikan dengan sesama, sebagai pemenuhan hukum Kristus. Akan ada masa di
mana tidak ada lagi kesempatan bagi kita, sehingga selagi masih ada waktu, nasihatilah,
tegurlah, menolonglah dan saling membangunlah sehingga kita tetap dipersatukan dan terus
bertumbuh dalam iman kepada Yesus Kristus. Amin, Tuhan Yesus memberkati!

Anda mungkin juga menyukai