0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan81 halaman

Last Romeo

Dokumen ini adalah narasi tentang kehidupan seorang siswa pertukaran bernama Bae Suzy yang baru masuk ke sekolah terkenal di Seoul. Ia berinteraksi dengan teman-teman barunya, termasuk Lee Ji Eun dan Kang Min Hyuk, serta mengalami berbagai situasi yang melibatkan siswa lain seperti Kim Myung Soo dan Kim Soo Hyun. Cerita ini menggambarkan tantangan dan pengalaman Suzy dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya sambil menghadapi beban tugas dan pekerjaan sambilan.

Diunggah oleh

kinakina.anggita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan81 halaman

Last Romeo

Dokumen ini adalah narasi tentang kehidupan seorang siswa pertukaran bernama Bae Suzy yang baru masuk ke sekolah terkenal di Seoul. Ia berinteraksi dengan teman-teman barunya, termasuk Lee Ji Eun dan Kang Min Hyuk, serta mengalami berbagai situasi yang melibatkan siswa lain seperti Kim Myung Soo dan Kim Soo Hyun. Cerita ini menggambarkan tantangan dan pengalaman Suzy dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya sambil menghadapi beban tugas dan pekerjaan sambilan.

Diunggah oleh

kinakina.anggita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Last Romeo

Cast : Kim Myung Soo ( L Infinite )

Bae Suzy

Kim Soo Hyun

Kim So Hyun

Jung Krystal

Kang Min Hyuk

Nam Woo Hyun ( Infinite )

Lee Ho Won ( Hoya Infinite )

Lee Ji Eun ( IU )

Jang Woo Young


Author POV

Seorang yeoja berjalan memasuki sebuah pekarangan sekolah.


Matanya menatap ke sekeliling sekolah itu. Sebuah SMA yang terkenal di
Seoul dan ini merupakan sebuah kesempatan emas baginya.

“ Ini sebuah awal yang cukup baik. Aku harus bisa melaluinya.
Hwaiting !” Ujarnya dan dengan langkah mantap ia berjalan menuju ruang
guru sekolah tersebut.

Ia menyusuri setiap lorong dan melihat banyak siswa dan siswi yang
lalu – lalang di sekitarnya. Ia sudah memakai seragam sekolah tersebut. Ia
adalah siswa pertukaran antar sekolah. Maka dari itu semuanya sudah
dipersiapkan sejak awal. Ia hanya menunduk tanpa berani melihat
mereka.

“ Mengapa aku jadi gugup seperti ini ?” gumanya pelan.


Sesampainya di ruang guru, seorang guru wanita menanyakan beberapa
pertanyaan padanya.

“ Ireum ?”Tanya guru itu.

“ Bae Suzy.”

“ Kau tinggal bersama siapa ?”

“ Aku tinggal sendiri. Orang tuaku tinggal di kampung dan mereka


tidak dapat ikut.”

“ Kau termasuk siswa yang beruntung karena kau ditukar dengan


siswa dari sekolah [Link] begitu kau dapat pergi ke kelasmu. Kau tanya
Kang seonsaengnim. Dia adalah wali kelasmu.”

“ Ah, Ne. Gamsahamnida.” Yeoja yang ternyata bernama Suzy itu


mengikuti seorang guru yang tadi ditunjuk oleh guru wanita yang
sebelumnya. Sesampainya di kelas, sang guru mengumumkan bahwa
terdapat siswa baru di kelas itu. Suzy pun dipersilahkan untuk
memperkenalkan diri.
“ Annyeonghaseyo. Joneun Bae Suzy imnida. Mannaseo
bangapsemnida.”Ujarnya.

“ Geurae, kau bisa duduk di bangku kosong di sebelah Lee Ji Eun.”

“ Ne.” Suzy berjalan menuju bangku yang dimaksud.

“ Annyeong. Nan Lee Ji Eun. Kau bisa memanggilku Ji Eun.”

“ Ah, ne. Nan Bae Suzy. Kau bisa memanggilku Suzy.”

“ Geurae. Jigeum, uri chinguya.” Ji Eun tersenyum pada Suzy yang


duduk disebelahnya. Suzy pun balas tersenyum.

Other Place

Seorang namja tengah terkantuk – kantuk di dalam sebuah kelas.


Guru di depan yang sedang menjelaskan beberapa rumus matematika
pun tidak ia hiraukan. Hingga tiba – tiba..

“ Bbbuuukkk !!!”

“ Aaaa…” Namja yang tadinya terkantuk – kantuk itu tersentak


karena sebuah pengapus papan melayang dan mengenai kepalanya.

“ Kim Myung Soo. Untuk kesekian kalinya saya mendapati kamu


tidur di kelas. Sekarang keluar.”

“ Geunde seonsaengnim…”

“Naga !” Namja yang bernama Kim Myung Soo itu segera keluar
dari kelas. Di luar pun ia hanya duduk sembari mendengarkan lagu dari
headphone hitam yang selalu bergelayut di lehernya. Tiba – tiba sebuah
pesan masuk.

From : Soo Hyun Hyung

Myung Soo-ah, kau jemput So Hyun setelah pulang sekolah.


Hyungmu ini ada urusan di kampus. Jadi aku tidak dapat menjemput So
Hyun hari ini. Hanya sekali ini saja. Ah, kau tidak ketahuan tidur di kelas
lagi, kan ? Firasatku mengatakan kau tertidur di kelas lagi. Jika benar, aku
tidak akan mau datang ke sekolah lagi untukmu.

“ Hah, ia selalu tahu apa yang terjadi. Apa ia peramal ?”

To : Soo Hyun Hyung

Arraseo. Geunde hyung neo arra, uri So Hyun-i ternyata sudah


mempunyai seorang namchin. Waktu ini aku melihatnya sedang duduk
berdua dengan seorang namja di café.

Tanpa disangka..

“ Mwoya ige ? Kenapa hyung menelfon di saat seperti ini ? Aish..” Ia


akhirnya mengangkat panggilan dari hyungnya.

“ Oh, hyung, waeyo ? Aku sedang di kelas. Bisakah..”

“ Sejak kapan di kelasmu mengangkat panggilan telefon pada saat


jam pelajaran diizinkan ?” Myung Soo seketika menjauhkan
handphonenya dari telinga. Ia menatap handphone di tangannya dengan
heran. Ia mendekatkan telefon itu kembali ke telinganya.

“ Kau ketahuan tidur di kelas lagi, kan ?”

“ Hyung selalu tahu apa yang terjadi padaku.”

“ Kau ini. Hilangkan kebiasaan ke clubmu itu kalau kau tidak mau
berakhir dengan nilai merah lagi.” Tut… telefon dimatikan.

“ Itu sama saja membuatku kehilangan kesempatan melirik yeoja –


yeoja cantik.” Ujarnya lalu melanjutkan kegiatan mendengarkan lagu
yang sempat tertunda.

Other Place

Seorang namja berkemeja putih sedang membolak – balik beberapa


halaman buku di sebuah kantin. Disampingnya terdapat sebuah kamera
DSLR yang tergelatak dan seperti menunggu untuk digunakan.
“ Aish… anak ini. Apa ia tidak perduli akan masa depannya.”Ia
berhenti membolak balik halaman buku dan menggerutu kesal. Ia
mengecek handphonenya yang berada di sebelah buku yang ia baca.

“ Yaa!! Mohaneungeoya ?” Jang Woo Young, sahabat namja itu


mengagetkannya.

“ Yaa.. neo jinjja. Wae ?”

“ Aniya. Tapi kenapa kau terlihat kesal? Adikmu membuat masalah


lagi ?”

“ Kau seperti tidak tahu saja siapa yang sering membuatku geram
seperti ini.”

“ Yaa Kim Soo Hyun, memang seperti itu kelakuan anak SMA. Kau
ini seperti tidak pernah merasakannya.” Woo Young tertawa dan duduk di
sebelah namja yang tadi dipanggilnya Soo Hyun.

“ Neo arra ? Ia benar – benar tidak mirip denganku ataupun So


Hyun.”

“ Mungkin ia mirip ayahmu ?” seketika Soo Hyun terdiam dan


menatap kosong ke depan.

“ Jangan pernah sebut kata itu lagi.”Ujar Soo Hyun datar.

“ Aaa.. mianhe. Aku tidak bermaksud…”

“ Sudahlah. Aku akan pergi ke kelas.”Soo Hyun pun bangkit dan


menuju ke kelasnya. Di perjalanan ia memikirkan kata – kata Woo Young
tadi. Iya, adik keduanya memang benar – benar mirip dengan ayahnya.
Namun bagaimana pun, ia tetaplah adiknya. Sejelek apapun sifat yang ia
miliki, bagi Soo Hyun sekali adik tetaplah adik.

Suzy POV

Hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Bagaimana tidak, masuk ke


sekolah ternama di Seoul itu sebuah keajaiban. Dan di sinilah aku. Berada
di sebuah kelas dengan fasilitas lengkap, seragam mewah dan duduk
bersama seorang yeoja cantik nan imut bernama Lee Ji Eun. Ia gadis yang
baik. Entah teman – temanku yang lain.

Bel istirahat berbunyi. Aku merapikan buku – bukuku dan menatap


sekeliling.

“ Suzy-ah, kajja !” Ji Eun menyeret tanganku.

“ Eodi ?” tanyaku heran.

“ Ke kantin.”

“ Apa tidak boleh aku diam di kelas saja ?”

“ Jika kau mau di hukum silahkan. Di sekolah ini, pada jam istirahat
dilarang diam di kelas kecuali memang diizinkan. Kajja !” ia menyeretku
keluar.

“ Yaa .. Jung Krystal, kau membawa apa ?” Ji Eun memanggil


seseorang. Aku menoleh ke arah orang tersebut. Seorang yeoja yang
sangat cantik dengan rambut panjang sepinggang dan dihiasi pita merah
pada bagian kiri kepalanya. Ia membawa sebuah kotak yang mungkin
dapat ditebak bahwa isinya adalah makan siang.

“ Aku ingin memberikan suamiku makan siang. Ia pasti lapar.”Yeoja


itu pun berlalu dan menuju kelas sebelah.

“ Suami ?” tanyaku.

“ Dia memang seperti itu. Ada seorang namja dari kelas sebelah
yang ia sukai. Maka dari itu ia memanggilnya suaminya.”Aku tertawa.

“ Bagimu lucu ?”

“ Eoh.”Aku mengangguk.

“ Apa yang kalian tertawakan ?” Seorang namja muncul di


belakangku.
“ Igo. Krystal melakukan hal konyol di depan siswa baru ini.”Jawab Ji
Eun pada namja itu.

“ Apa yang ia lakukan kali ini ?” namja itu kembali bertanya.

“ Dia membawakan makan siang. Aa, Suzy-ah. Ini adalah ketua


kelas kita.”

“ Min Hyuk. Kang Min Hyuk.” Ia menyapaku dengan seulas senyum


yang ramah.

“ Suzy. Bae Suzy.”

“ Kalau kau membutuhkan sesuatu tentang kelas, kau beritahu saja


aku. Aku akan membantumu.”

“ Geurae. Gomawo.”

“ Gwaenchana. Kalian tidak pergi ke kantin ?”

“ Rasanya akan lebih menyenangkan kalau kau ikut juga.” Ji eun


menarik Min Hyuk untuk ikut pergi ke kantin bersama kami berdua.

Myung Soo POV

Aku memakan makan siangku dengan tenang hingga tiba – tiba…

“Yeobo, aku membawakanmu makan siang. Kenapa kau malah


makan duluan ? Seharusnya kau menungguku.”

“ Yaa.. Jung Krystal. Izinkan kami makan dengan tenang. Auh..


jinjja.” Woo Hyun sahabatku memarahi Krystal yang selalu mengikutiku
kemana – mana. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan makanku. Ia
duduk di sebelahku dan Woo Hyun berhadapan dengan Krystal.

“ Yaa.. aku tidak mengganggumu. Aku hanya mencari suamiku.”

“ Bbbrrruuussshhhh …..” Woo Hyun menyemburkan makanannya


kearah Krystal. Aku tertawa dan tak mencoba membersihkan seragam
Krystal yang penuh nasi.
“ Yyyaaaa !!!!! Neo..”

“ Mian.” Woo Hyun segera mengangkat nampan makan siangnya


dan pergi menjauh. Aku pun melakukan hal yang sama dan menyusul
Woo Hyun. Aku memang suka pada gadis cantik. Aku suka pergi ke club
dan melihat banyak gadis, namun entah mengapa aku sama sekali tidak
tertarik pada Krystal. Mungkin karena terlalu sering melihatnya. Jadi aku
sangat bosan melihatnya saat mengekoriku kemana pun.

“ Yaa ?! Apa tadi kau sengaja ?” tanyaku pada Woo Hyun setelah
kami mendapatkan tempat duduk.

“ Entahlah. Itu antara sengaja dan tidak.” Woo Hyun memasukkan


sesendok nasi ke dalam mulutnya.

“ Itu keren.”Ujarku. Seseorang menghampiriku. Aku menoleh dan


ternyata seorang namja membawa sebuah buku dan diserahkan
kepadaku.

“ Kau sudah mengerjakan semuanya ?” tanyaku pada namja itu. Ia


hanya mengangguk lalu pergi.

“ Kau menyuruhnya membuatkanmu tugas lagi ?” Aku tersenyum.

“ Pantas kau dimarahi terus oleh hyungmu.”Aku tak memperdulikan


perkataan Woo Hyun. Aku membuka lembar demi lembar buku tugasku
yang semula kosong, kini penuh dengan coretan jawaban tugas. Dan…

“ Bbbrrruuukk…..” Aku menganga. Semangkuk sup kepiting tumpah


di atas buku tugasku dan semua coretan tadi luntur.

“ Eottokhae ?” sebuah suara gelisah terdengar di sebelahku. Aku


menoleh dan melihat seorang yeoja yang tampak asing dengan wajah
ketakutan. Ia melirikku dan seketika menunduk.

“ Neo…”

“ Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku tidak sengaja.”Yeoja itu buru –


buru meminta maaf padaku.
“ Boleh saja tidak sengaja. Tapi apa yang akan kau lakukan pada
tugasku ?” ujarku sinis.

“ Aa…aaakuu, aku akan membuatkannya untukmu.”Ujar yeoja itu


gugup.

“ Jeongmal ?”

“ Eoh.”

“ Geurae. Tugasku akan di kumpul besok pagi jam 7 di meja Yoon


seonsaengnim. Dan sekalian ganti bukuku.”Nafsu makanku hilang
seketika. Aku pun melangkah pergi meninggalkan yeoja itu.

“ Yaa.. Myung Soo-ah. Eodiga ?” Woo Hyun menyusulku dengan


setengah berlari. Aku hanya diam dan memasukkan kedua tanganku ke
dalam saku celana.

Sesampainya di kelas, aku menyadari sesuatu yang janggal.

“ Yaa ! Yaa ! Yaa !”

“ Wae ?” Woo Hyun memakan snack di tangannya yang entah dari


mana ia mendapatkan makanan itu.

“ Siapa yeoja tadi ?”

“ Molla.”

“ Aku rasa aku tidak pernah melihatnya.”

“ Memangnya kau dapat menghafal semua wajah yeoja di sekolah


ini ?”

“ Aku memang tidak hafal. Tapi yeoja tadi terasa asing bagiku.”

“ Itu hanya perasaanmu saja.” Aku diam. Aku masih berfikir siapa
yeoja itu sebenarnya.

Author POV
Suzy membersihkan seragamnnya yang kotor akibat cipratan sup
kepiting di kamar mandi.

“ Ahh.. jinjja. Eottokhae ?” ia menatap sebuah buku tulis yang


berada di pinggiran washtafel. Ia tertunduk lesu.

“ Apa aku benar – benar harus menyalin semuanya ?” Ia berjalan


keluar. Buku tadi dipegangnya sembarangan.

“ Suzy-ah, gwaenchana ?” Ji Eun menghampirinya dengan wajah


khawatir. Suzy tetap diam dan berjalan gontai menuju kelasnya.

“ Aku harus bekerja nanti. Belum lagi tugasku sendiri. Kapan aku
bisa menyelesaikan ini semua ?” Suzy seakan mau menangis saat
bercerita pada Ji Eun di kelas.

“ Kau bekerja ?” Ji Eun sedikit terkejut.

“ Eoh. Aku kasihan pada orang tuaku. Mereka memang


memberikanku uang, tapi kebutuhanku disini cukup banyak. Aku tidak
mungkin meminta uang lagi pada orang tuaku. Mereka pasti memerlukan
uang juga di sana.” Suzy mulai meneteskan airmata.

“ Suzy-ah…” Ji Eun merasa menyesal.

“ Aku akan membantumu membuat PR.”Lanjut Ji Eun.

“ Jeongmal ?”

“ Hm !” Ji Eun mengangguk mantap.

“ Gomawo.” Suzy menghapus air matanya perlahan.

“ Dimana kau bekerja ?”

“ Apple Café. Kau tahu ?”

“ Arra.”
“ Dari pulang sekolah hingga jam 8 malam aku bekerja di sana.
Sepulang dari sana hingga jam 12 malam, aku punya tempat kerja yang
berbeda.”

“ Mwo ?” Ji Eun heran dan Suzy hanya tersenyum

###

Myung Soo menatap papan serius. Ini pertama kalinya ia menatap


papan tanpa menoleh sedikit pun. Saat bel pulang berbunyi…

“ Tumben kau belajar. Kau pasti mengerti apa yang seonsaengnim


jelaskan, kan ?” Woo Hyun bertanya padanya saat menuju tempat parkir.

“ Ya ! Aku pinjam catatanmu nanti, eoh ?”

“ Kau tadi mengerti atau tidak ?”

“ Aku bahkan tidak tahu materi hari ini.”Seketika Woo Hyun terdiam
dan mulai mengumpat sendiri.

“ Aaaiiiissshhh… kenapa harus aku yang menjemputnya ?” Myung


Soo mengacak – ngacak rambutnya sendiri.

“ Oh ya, bagaimana bisa kau berbeda sekolah dengan


yeodongsaengmu ? Padahal umur kalian hanya berbeda 2 tahun. Kau dan
hyungmu 1 sekolah dulu. Mengapa sekarang tidak ?”

“ Kau harus tahu sifat perempuan. Tentu saja karena dia mengikuti
teman – temannya.”

“ Apa perempuan selalu begitu ?”

“ Kau sama sekali tidak mengerti perempuan. Kanda.” Myung Soo


berlari menuju motornya. Sesampainya ia di motor, ia melihat yeoja yang
telah membuat PR-nya hancur berantakan.

“ Siapa yeoja itu ?” Myung Soo berguman dan melesat


meninggalkan sekolah.
###

Suzy termenung di dalam bus. Ia menatap keluar jendela namun tak


tahu pasti apa yang ia lihat.

“ Suzy-ah ?” Ji Eun memanggil Suzy dan membuatnya terlonjak


seketika.

“ Kenapa kau sebegitu kagetnya ?” Ji Eun heran melihat reaksi Suzy.

“ Eoh ? Aniya.” Suzy tersenyum. Ia kembali menatap keluar jendela.


Tiba – tiba ia membulatkan matanya. Seorang namja dengan sepeda
motor warna hitam berada tepat di sebelah bus yang ditumpanginya saat
lampu merah.

“ Eoh ? Namja itu..” Ji Eun sontak menoleh saat Suzy mengatakan


sesuatu.

“ Nugu ?” Ji Eun mengikuti arah pandangan Suzy dan melihat namja


yang di lihat Suzy pula.

“ Itu namja yang bukunya kau tumpahi sup kepiting di sekolah tadi.”
Seketika Suzy berpaling.

“ Bagaimana kalau dia melihatku ?”

“ Rasanya tidak mungkin kecuali kau memanggilnya duluan.”

“ Eoh ?”

“ Akan aku panggilkan jika kau mau. Kim Myung…”

“ Yaa !” Suzy membekap mulut Ji Eun agar tidak melanjutkan kata –


katanya. Lampu hijau menyala dan namja tadi pun pergi.

“ Kenapa kau memanggilnya ? Bagaimana jika dia memarahiku ?”

“ Kim Myung Soo memang seperti itu. Dingin, sinis, kejam, tetapi di
dalamnya, ia namja yang baik.” Ji Eun menjelaskan tentang namja tadi
pada Suzy.
“ Eottokhae arrasseo ?”

“ Dia sahabatku. Aku sudah bersamanya sejak TK. Rumah kami pun
dekat dan hanya berjarak 2 rumah antara rumahku dan [Link]
saja sekarang kami berbeda kelas. Ia di kelas sebelah. 3-3.” Suzy terdiam.
Ia menatap keluar jendela lagi. Kim Myung Soo. Namja itu membuat
hidupnya cukup rumit sekarang. Bahkan ini baru permulaan. Belum
kehidupannya selanjutnya setelah kejadian yang membuatnya harus
bersangkutan dengan namja dingin itu.

Myung Soo POV

Aku menunggu yeodongsaengku di depan sebuah sekolah yang


cukup elit.

“ Kenapa lama sekali ?” aku bergumam dan memasang


headphoneku. Aku melirik ke arah gerbang dan siswa – siswa mulai
bermunculan. Yeodongsaengku keluar dengan beberapa temannya. Aku
melepas headphoneku dan aku mendengar obrolan mereka tentang…

“So Hyun-ah, apa kakakmu akan menjemputmu ?”

“ Geureom. Oppaku pasti menjemputku.”

“ Ah, Soo Hyun Oppa jinjja daebak.” Hyungku selalu menjadi impian
setiap wanita. Wajah tampan, ramah, baik, cerdas dan bijaksana. Semua
dimiliki oleh hyungku. Dan seingatku, mereka tidak pernah melihatku.
Mereka hanya melihat hyungku karena aku tak pernah menjemput So
Hyun ataupun muncul di depan mereka saat di rumah. Di rumah pun tidak
ada foto keluarga. Dan sebuah ide jahilku muncul. Aku memajukan
sepeda motorku sampai di hadapan So Hyun dan teman – temannya.

“So Hyun-ah, kajja.”Ujarku. “ Bogoshipo. Hari ini aku pulang cepat.


Jadi aku menjemputmu.”Sambungku. Aku menutupi seragam SMA-ku
dengan jaket. Jadi mereka tidak akan tahu aku sekolah dimana.

“ Nugusaeyo ?” ujar salah seorang teman So Hyun.


“ Aku pacar So Hyun.”Ujarku jahil. Aku melirik So Hyun yang saat itu
menganga dengan ekspresi heran.

“ Chagiya, kajja.”Ujarku lagi. Aku menarik tangan So Hyun tak dapat


berbuat apa – apa naik ke motorku.

“ Aa, aku akan ke bank untuk membayar cicilan motorku dulu. Lalu
ke tempatku bekerja. Kau harus menungguku.”Aku semakin menjadi.

“ Apa kau siswa ?” salah satu teman So Hyun bertanya lagi.

“ Aku siswa. Tapi aku bekerja untuk membeli apa yang So Hyun
mau. Ia sangat ingin melihatku menggunakan motor seperti ini. Jadi aku
meminjam uang di bank dan membeli motor ini. So Hyun sangat gembira
melihatnya.”Aku sudah benar – benar kelewatan.“ Kami duluan.”Lanjutku
dan perlahan menjauh. Samar – samar aku mendengar mereka mengkritik
pedas adiku.

“ Pacar So Hyun seperti itu ?”“ Ia memang agak tampan, tapi siswa
yang bekerja ?”“ Ia sama sekali bukan style kita sekarang.”“ Apa ia sudah
gila mencari pacar yang miskin ?” Dan masih banyak yang dikatakan
mereka.

“ Oppa ! Kenapa oppa melakukan hal itu ?”So Hyun memarahiku


saat tiba di rumah.

“ Wae ? Andoe ?”

“ Andoe ! Aku pasti di jauhi oleh mereka besok.”

“ Sudah berapa kali oppa katakan padamu, jangan berteman


dengan mereka. Apa hanya mereka temanmu ?”

“ Mereka populer.”

“ Lalu apa ?”

“ Aku benci oppa.”So Hyun masuk dan meninggalkanku di teras.


Aku hanya tersenyum dan mengikutinya.
Aku meletakan tasku di atas meja dan merebahkan diri di kasur
yang empuk. Aku membayangkan hal apa yang akan terjadi nanti malam
di club. Yeoja – yeoja cantik, music yang berdentum keras, aroma
minuman beralkohol dan orang – orang yang menari di atas lantai dansa.
Tiba – tiba wajah seorang yeoja yang tengah khawatir muncul dan
membuatku terperanjat.

“ Kenapa tiba – tiba yeoja itu muncul ?” aku heran dan pergi ke
kamar mandi.

Suzy POV

Aku membersihkan meja – meja di café tempatku bekerja. Aku


melirik Ji Eun yang tengah membantu membuatkan tugasku. Aku
menghampirinya dengan segelas Mocha Latte yang ia pesan tadi.

“ Kau tidak apa – apa aku tinggal bekerja ?” tanyaku.

“ Gwaenchana. Lagipula aku suka materi ini. Dan yang aku pikirkan
adalah PR Myung Soo yang hancur.” Ujarnya. Aku terdiam. Selama
bekerja tadi, aku menyalin PR namja yang bernama Kim Myung Soo saat
sedang tidak ada pelanggan. Walau sebernarnya aku lebih banyak
melayani pelanggan daripada menyalin PR yang sudah kubuat berantakan
itu.

“ Bukumu tidak apa – apa kan jika aku bawa pulang ?”

“ Gokjeongma. Kau bawa saja dulu.”

“ Aku merasa menjadi anak bodoh karena menyalin tugas orang


lain.”

“ Kau tak perlu berfikiran seperti itu. Kau tahu ? Kim Myung Soo
bahkan tidak pernah membuat tugasnya sendiri.”

“ Lalu bagaimana ia bisa lulus ?”

“ Ia hanya belajar jika ada ujian. Dan sebenarnya, otaknya sangat


pintar. Hanya saja ia malas untuk melakukan hal – hal semacam ini. Dan
yang tahu kebiasaannya ini hanya aku dan satu namja lagi yang sekarang
sekelas dengannya. Nam Woo Hyun. Aku bersama mereka berdua sejak
kecil.” Aku mengangguk.

“ Aku melayani pelanggan dulu. Nanti aku balik lagi.”Ujarku.

“ Geurae.” Ji Eun melanjutkan kegiatannya.

Dalam perjalanan pulang, aku termenung hingga di tabrak


seseorang yang bisa dibilang hampir mabuk. Orang itu jatuh dipelukanku.

“ Eoh ?” Aku terkejut. Aku melihat wajah orang itu. Seketika aku
terkejut sekali lagi. Namja ini…

“ Kim Myung Soo ?” Seketika aku menyebut nama namja yang kini
berada di pelukanku.

“Hmm…ngng…“ Ia bergumam. Setelah beberapa menit berlalu aku


menyadari bahwa aku tak tahu apa yang harus dilakukan untuk
mengatasi hal ini. Membawanya pulang, aku tak tahu rumahnya.
Menelpon seseorang melalui handphonenya, aku tidak berani meraba
tubuhnya untuk mencari handphonenya.

“Eottokhae ?” Akhirnya aku memapahnya berjalan menjauh dari


tempat itu. Setidaknya itu adalah hal yang harus aku lakukan di saat
seperti ini.

Author POV

Suzy perlahan merebahkan tubuh Myung Soo di kasur. Ia terpaksa


membawanya ke rumah. Tiba – tiba tangan Myung Soo menarik leher
Suzy dan membuat bibir mereka saling bersentuhan. Mata Suzy mendelik
seketika dan Myung Soo pun membuka matanya perlahan. Namja itu
hanya mengerjap – ngerjapkan matanya dan menutupnya kembali. Ia
mempererat pegangannya pada leher Suzy dan melumat bibir Suzy
perlahan. Suzy yang masih shock tak dapat berbuat apa – apa. Dan pada
menit kesekian kejadian itu, Suzy melepaskan diri dari Myung Soo. Ia
memegang bibirnya dan berlari ke kamar mandi.

Ia terdiam di depan cermin dengan keringat yang bercucuran.

“ Apa yang barusan terjadi ?” ujarnya. Ia keluar dan menatap Myung


Soo ragu. Takut – takut Myung Soo melakukan hal – hal yang aneh lagi. Ia
menelan ludah dan mencoba mencari handphone Myung Soo. Awalnya ia
tidak berani melakukan hal itu. Namun jika ia tidak melakukannya,
mungkin suatu hal besar akan terjadi. Saat ia menemukannya, tepat
seseorang menelfon. Suzy mengangakat panggilan tersebut.

“ Myung Soo-ah, neo eodinya ?” suara seorang namja yang cukup


dewasa terdengar dari seberang.

“ Apakah anda ayahnya Myung Soo ?” tanya Suzy perlahan.

“ Kau siapa ?” balas orang di seberang telefon.

“ Saya teman Myung Soo. Tadi saya menemukannya tergelatak di


jalan. Sekarang ia berada di rumah saya.”

“ Ah, saya kakak Myung Soo. Dimana rumahmu ?” Suzy


memberitahukan alamat rumahnya dan telefon ditutup. Suzy melirik
Myung Soo sekali lagi. Ia melihat namja itu tidur dengan nyenyak dan ia
pun mengumpat sendiri.

“ Pyeontae namja, napeun namja.”Ujarnya. Saat itu pintu rumahnya


diketuk. Ia segera berlari dan membuka pintu. Ia melihat seorang namja
dengan wajah ramah, penampilan rapidan tampan.

“ Saya kakak Myung Soo. Ia dimana ?” ujar namja [Link]


berwibawa [Link] dalam hati.

“ Ia di dalam.” Suzy mengajak namja itu masuk.

“ Gamshamhamnida. Lain kali jika kau melihatnya lagi, segera


telefon saya.”Namja itu menuliskan anam dan nomer telefonnya pada
selembar kertas parkir di saku jaketnya lalu tersenyum. Saat namja itu
pergi, Suzy tersenyum menatap kertas tadi di tangannya.

“ Kim Soo Hyun.”Ujarnya dan meletakkan kertas itu di atas meja.

Paginya, Myung Soo mengerjap – ngerjapkan matanya saat gorden


kamarnya dibuka dan membuat cahaya matahari menyinari matanya.

“ Yaa ! Sampai kapan kau akan tidur ?” Soo Hyun membangunkan


namdongsaengnya. Myung Soo hanya menggeliat dan tidur kembali.

“ Cepat bangun !” Soo Hyun menarik selimut Myung Soo dan


mebuatnya terpaksa bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

“ Auh.. kepalaku sakit sekali.”Ujarnya di depan cermin. Ia


membasuh wajahnya dan mencoba mengingat kejadian kemarin. Ia ingat
bahwa Lee Ho Won menantangnya minum bir di sebuah club dan itu
mebuatnya mabuk. Setelah itu ia tidak ingat lagi.

“ Lee Ho Won benar – benar membuatku geram.”Ia pun melajutkan


mandinya.

Di tempat lain, Suzy menyisir rambutnya yang panjang,


mengikatnya ke atas dan mengambil tasnya. Ia melihat kertas Kim Soo
Hyun untuk kesekian kalinya. Bahkan ia lupa akan kejadian semalam
antara ia dan Kim Myung Soo.

“ Namja yang tampan.”Ujarnya dan tersenyum. Ia melangkah keluar


dan berangkat sebelum ia terlambat. Dan ada hal yang terlupakan dan
masih tergelatak di atas meja belajarnya.

###

Myung Soo berdiri di depan kelasnya. Ia menunggu PR- nya datang


dan saat ia melihat Suzy, ia menghampirinya seketika.

“ Mana PR-ku ?” ujarnya. Suzy terdiam dan tiba – tiba berteriak


heboh.
“ MWO ? Kenapa kau tidak membawanya ?” Myung Soo kesal dan
mendelik kearah Suzy.

“ Mianhe. Aku benar – benar lupa.” Suzy memohon pada Myung


Soo.

“ Apa kau ingin melihatku di hukum mengelilingi lapangan ? Eoh ?”


Myung Soo membentak Suzy dan membuat semua orang menoleh.

“ Keuge anira..” bel masuk berbunyi. Myung Soo menatap Suzy


geram dan ia melangkah masuk memasuki kelasnya. Suzy hanya bisa
terdiam dan memandang punggung Myung Soo.

Di kelas pun Suzy hanya terdiam dan benar kata Myung Soo. Dari
tempat duduknya yang tepat menghadap jendela yang tertuju pada
lapangan, ia melihat Myung Soo berlari mengelilingi lapangan sendiri.
Rasa bersalah Suzy semakin besar dan ia sama sekali tak dapat
berkonsentrasi pada materi hari itu.

Ji Eun yang menyadari kegelisahan Suzy dan melihat ke sekitar. Ia


pun berhenti saat melihat Myung Soo tengah berlari mengelilingi
lapangan. Keheranan timbul di pikirannya. Dan pada jam istirahat, Ji Eun
mencari Myung Soo di kelas sebelah.

“ Yaa ! Kenapa kau lari di lapangan tadi ?” tanya Ji Eun.

“ Kau tanya saja pada teman di belakangmu itu.”Jawab Myung Soo


sinis sembari menunjuk Suzy dengan dagunya. Suzy yang saat itu merasa
bersalah hanya dapat menunduk.

“ Chingu ?” Ji Eun menoleh ke belakang dan mendapati Suzy


menunduk bersalah.

“ Wae ?” tanya Ji Eun.

“ Aku meninggalkan PR-nya di atas meja belajarku.”Ujar Suzy pelan


namun dapat terdengar oleh Myung Soo.
“Yeobo…” suara manja Krystal terdengar hingga membuat semua
anak menoleh padanya. Ia membawa bimbimbap dan berlari menghampiri
Myung Soo.

“ Eoh ? Bukankah kau siswa pindahan itu, kan ?” ujar Krystal saat
melihat Suzy.

“ Pindahan ?” tanya Myung Soo.

“ Hm. Ia teman kelasku.” Myung Soo menatap Suzy dari atas hingga
bawah.

“ Pantas.”Ujarnya dan pergi. Krystal pun hanya mengikutinya.

“ Mianhe.”Ujar Suzy.

“ Untuk apa kau minta maaf ? Aku malah bersyukur kau


melakukannya.”

“ Mwo ?”

“ Ini pertama kalinya ia di hukum karena tidak membawa PR.”

“ Itu buruk namanya.”

“ Kau belum mengenal Myung Soo dengan baik. Dari dulu ia tak
pernah membuat tugas. Ia pantang membuat hal seperti itu. Dan rasanya
aku pernah mengatakannya padamu.”

“ Jinjja gwaenchana ?”

“ Eoh. [Link] bisa di bilang pelajaran berharga untuknya.


Karena tidak selamanya ia bisa bergantung pada orang lain.” Suzy masih
tetap merasa bersalah. Ia menatap kelas Myung Soo

“ Senyumlah ! Kau akan lebih cantik jika tersenyum.”Ujar Ji Eun lalu


menyeret Suzy ke kantin.

Myung Soo POV


Lagu Destiny dari Infinite berdentum di headphoneku. Aku berjalan
ke kantin, dan seperti biasa Krystal mengekorikusedari tadi. Woo Hyun
baru saja kembali dari ruang guru.

“ Apa kau yakin semua tugas sudah terkumpul ?” tanya Woo Hyun
saat menghampiriku.

“ Wae ?”

“ Seperti biasa, Choi sonsaengnim menanyakannya lagi. Kau tahu


kan bahwa kita tak pernah menghitung jumlah tugas.”Aku berjalan
menuju stand makanan. Melihat sederetan menu makanan yang
membuatku tak bersemangat. Tentu saja karena tugasku yang belum aku
kumpul pada jam pertama tadi. Woo Hyun mendahuluiku dan Krystal
menunggu di sebuah meja dan ia melambai padaku saat aku menoleh
padanya.

Aku hendak duduk saat seorang yeoja masuk ke kantin dan


membuat darahku seakan naik ke kepala. Yeoja yang telah mebuatku
harus berlari keliling lapangan sebanyak 50 kali. Bayangkanlah ! 50 kali !
Dengan panjang lintasan 500m satu kali putaran.

“Yeobo, aaa…” ujar Krystal. Secara reflex aku menepis tangannya


dan membuat sendok yang sudah berada di depan mataku jatuh dan
berbunyi nyaring. Semua orang menoleh kearahku. Tiba – tiba seorang
namja menghampiriku.

“ Myung Soo-ah..” ujar Krystal padaku.

“ Gwaenchana ?” tanya namja itu pada Krystal. Aku hanya melirik


mereka malas.

“ Yaa ! Jika tidak mau makan, bukan seperti ini caranya.”Ujar namja
itu padaku.

“ Wae ? Kenapa kau yang tersinggung ? Memangnya kau siapa ?”


tanyaku dan berdiri dari tempatku dudukku. Namja itu hanya diam. Ji Eun
dan yeoja menyebalkan itu menghampiri kami.
“ Min Hyuk-ah, apa yang terjadi ?” Ji Eun menatap Krystal yang diam
menatap sendok di lantai. Namja yang di panggilMin Hyuk menunjukku
dengan dagunya. Aku menatap yeoja menyebalkan di hadapanku dan
tanpa sengaja mata kami bertemu. Aku hanya menatapnya dingin dan ia
segera menunduk.

“ Aku kehilangan nafsu makan jika seperti ini.”Aku berlalu


meninggalkan mereka semua. Woo Hyun yang baru saja kembali dari
toilet menatapku bingung.

“ Yaa ! Eodiga ?” Woo Hyun bertanya padaku lalu menatap


sekerumuman orang – orang yang menatapku. Aku hanya berlalu tanpa
memperdulikan mereka semua. Aku benar – benar muak hari ini.

Author POV

“ Ji Eun-ah, Myung Soo kenapa ?” tanya Woo Hyun.

“ Molla. Saat aku tiba di sini, sudah seperti ini keadaannya.” Woo
Hyun menatap ke bawah dan mendapati sendok dengan nasi di
sekitarnya. Woo Hyun pun berlalu dan menyusul Myung Soo. Suzy yang
berada di sana menatap pintu kantin dengan perasaan antara kesal dan
bersalah. Ia memikirkan 2 hal yang terjadi pada Myung Soo hari [Link]
membuatnya merasa bersalah karena tidak membawa PR Myung Soo.
Dan yang membuatnya kesal karena Myung Soo telah membuat seorang
yeoja menangis hanya karena hal sepele seperti ini.

“ Dia itu seperti anak kecil saja.”Gumam Suzy lalu membantu Ji Eun
meredakan tangisan Krystal.

Di atas atap gedung sekolah, Myung Soo duduk di pinggiran


[Link] berdentum mengalunkan lagu Before The Dawn
dari Infinite. Ia menatap hampa gedung – gedung di depannya. Woo Hyun
yang baru saja tiba menatap punggung Myung Soo sahabatnya. Ia tahu
bahwa Myung Soo kesepian. Woo Hyun mendekat dan menepuk bahu
Myung Soo pelan.
“ Kau kenapa ?” tanya Woo Hyun yang ikut duduk.

“ Aniya. Hanya saja aku rasa hari ini adalah hari tersialku.
Aaiiisshhh.. kenapa yeoja itu harus ada di sini ?”

“ Keunde, aku pikir gadis itu cukup cantik.”

“ Mwo ? Kau bilang ia cantik ? Ia seperti itik buruk rupa.”

“ Yaa ! Hati – hati pada perkataanmu. Siapa tahu ia Juliet yang


sedang menyamar.”

“ Juliet ? Aku bertaruh ia bukan Juliet.”

“ Apa yang berani kau pertaruhkan.”

“ Jika yeoja itu bisa menjadi seorang Juliet setelah berpura – pura
menjadi itik buruk rupa, maka aku akan menjadi Romeo yang sedang
mencari Juliet dan saat ia menjadi Juliet, aku adalah Romeo yang telah
menemukan Julietnya.”

“ Yaa ! Jinjjaya ?”

“ Jinjja.”

“ Jeongmal ?”

“ Jeongmal.”

“ Jinjja, jinjja ??”

“ Yaa ! Geumanhae.”

“ Geurae. Tapi kau harus siap – siap jika perkataanku benar.”

“ Call. Aku bersumpah ia tak akan pernah menjadi Juliet.” Myung


soo tersenyum sinis.

###

Myung Soo menyusuri jalan di sekitar perumahannya. Cuaca malam


itu sangat dingin sehingga mengharuskannya memakai sweater tebal dan
sarung tangan serta syal di lehernya. Handphonenya bordering nyaring
saat ia berada di depan sebuah mini market.

“ Yeobseyo ?”

“ Eodiga ?” tanya suara di seberang.

“ Jalan – jalan. Wae ?”

“ Aniya. Aku sedang bosan di rumah. Jadi aku pergi ke rumahmu


dan sekarang tengah berdiri di depan sebuah rumah bergaya elegan
dengan pagar putih.”

“ Yaa ! Neo..”

“ Cepat kembali dan kalau bisa belilah beberapa camilan, baru


pulang.” Tut..

“ Aaiisshh… Yaa !! Memangnya aku pembantumu.” Myung Soo


mengomel pada handphonennya. Ia lalu berjalan memasuki mini market
tanpa berpikir apakah ia menuruti kata si penelfon atau tidak.

Saat Myung Soo tengah mengambil beberapa keripik kentang, ia


menabrak seseorang yang sedang membawa beberapa barang.

“ Joesonghamnida.”Ucap mereka bersamaan. Namun seketika..

“Neo ??” Myung Soo menunjuk gadis di depannya dengan


telunjuknya.

“ Yaa ! Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya gadis itu.

“ Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan di


sini ?”

“ Apa itu penting ?”

“ Tentu saja. Apa yang kau lakukan di sini ?”

“ Lalu kau ? Kenapa kau bisa ada di sini ?”


“ Rumahku di sekitar si.. tunggu, kenapa kau malah balik bertanya
padaku ? Kau jawab dulu pertanyaanku.”

“ Sirheo. Memangnya kau siapa ?”

“ Naega ? Aku adalah orang yang telah kau buat keliling lapangan
sebanyak 50 kali karena tidak membawa PR.” Seketika gadis itu terdiam.

“ Wae ? Kenapa kau diam ?”

“ Mian..he.” ujarnya.

“ Hanya itu ?”

“ Geureom eottokhae ? Naega molla.”

“ Neo ireum ?”

“ Suzy. Bae Suzy.”

“ Geurae. Mulai sekarang kau adalah pembantuku.”

“ Mwo ?”

“ Sirheo ? Baiklah. Aku akan melaporkan pada guru di sekolah


bahwa kau telah membuat PR ku hancur dan mungkin akan
memberitahukan bahwa kau perpacaran dengan salah satu guru di
sekolah. Maka dari itu kau bisa pindah ke sekolahku.”

“ Yaa ! Aku tidak melakukannya.” Myung Soo hanya mengangkat


bahunya dan berjalan menuju meja kasir.

“ Arraseo. Aku akan melakukannya.” Ujar Suzy kemudian.

“ Geurae ? Keputusan yang tepat.”

“ Apa tugasku ?”

“ Kau hanya pembantu untuk membuatkan PR-ku. Jadi jika tidak ada
PR, jangan muncul di hadapanku.”

“ Ne.” ujar Suzy kesal.


“ Aa.. kemarikan handphonemu.” Myung Soo meraba kantong
celana dan jaket Suzy.

“ Yaa ! Mohaneungeoya ?” Setelah Myung Soo mendapatkan


handphone Suzy, ia mengetik beberapa angka dan handphonenya
berbunyi.

“ Aku tidak perlu mencarimu karena kau yang harus mencariku. Jadi
jika aku menelfon atau mengirim pesan padamu, kau harus segera
menemuiku.” Myung Soo pun berjalan keluar setelah mebayar
belanjaannya.

“ Aaiisshh.. napeun namja. Kim Myung Soo, neo jinjja napeuneom.”


gumam Suzy sembari meletakkan beberapa keripik ikan belut di raknya.
Ia menggerutu kesal selama bekerja.

“ Kenapa ia bisa muncul di sini ? Setahuku, di kompleks ini banyak


super market.”Ia berujar pada dirinya sendiri.

“ Membuatkan PR ? Hah.. Apa dia pikir aku mesin tugas yang bisa ia
perintah dengan remote control ? Apa ia tidak punya otak untuk berfikir ?
Apa tangannya sudah patah sehingga ia tidak bisa menulis sendiri ?” ia
terus menggurutu hingga waktu jam pulang.

Myung Soo berjalan memasuki rumahnya. Di dalam ia melihat


yeodongsaengnya duduk bersama seorang namja yang sangat – sangat ia
kenal dan yang telah menyuruhnya membeli beberapa camilan tadi.

“ Yaa ! Apa aku pembantumu ?” Myung Soo bertanya kesal pada


namja itu.

“ Oppa, kau tidak boleh seperti itu. Kalian kan sahabat. Iya kan Woo
Hyun Oppa ?” ujar So Hyun dan tersenyum kepada Woo Hyun yang duduk
di sebelahnya.

“ Hah.. kau lebih membela dia daripada oppamu sendiri ?” Myung


Soo hanya memanyunkan bibirnya dan duduk di sebelah Woo Hyun. So
Hyun pergi ke kamarnya beberapa saat setelah menerima pesan dari
salah satu temannya.

“ Dasar anak itu. Sudah kukatakan jangan berteman dengan


mereka.”Ujar Myung Soo.

“ Myung Soo-ah..” panggil Woo Hyun.

“ Wae ?”

“Hyungku… sakit lagi.”

“ Mwo ? Bagaimana bisa ?”

“ Kankernya yang dulu ternyata masih dan sekarang menyebar di


organ tubuh yang lain.”Wajah Woo Hyun terlihat muram.

“ Jigeum eottokhae ?” sambungnya lagi. Myung Soo menepuk


punggung Woo Hyun. Ia tidak tahu harus berbuat apa pada sahabatnya
yang sudah menemaninya sejak taman kanak – kanak ini.

“ Kau hanya bisa berdoa. Aku harap hyungmu cepat sembuh.


Sekarang hyungmu dimana ?”

“ Ia di rumah sakit. Terlalu mengerikan melihat hyungku dengan


berbagai selang dan alat – alat medis di tubuhnya.” Woo Hyun
meneteskan air matanya. Baginya, hyungnya adalah segala – galanya.
Lebih penting daripada yeoja chingunya jika ia punya.

“ Gwaenchana. Ia pasti akan sembuh. Pasti.”Mereka berdua


termenung di depan televisi yang menyala.

###

Suzy berjalan menyusuri gang rumahnya. Hari ini cuaca sangat


dingin dan akan memasuki musim dingin.

“ Ouh… aku akan benar – benar beku jika tidak segera


mendapatkan bus.”Ujarnya. Ia mengusap – ngusapkan kedua telapak
tangannya sembari menunggu bus. Seorang namja berdiri tepat di
sebelah Suzy seperti mencoba untuk berbicara dengannya. Suzy menoleh
kearah namja itu dan..

“ Eoh.. Anyeonghaseyo.”Sapa Suzy pada namja itu.

“ Eoh..Anyeong. Kau akan berangkat sekolah ?”

“ Ne. Waenirisaeyo ?”

“ Aniyo. Kau sedang menunggu bus ?”

“ Ne.”

“ Aku juga. Hm.. neo ireum ?”

“ Bae Suzy imnida.”

“ Aa.. Na ireum, arra ?”

“ Kim Soo Hyun-ssi ?”

“ Aa..kau benar. Geunde, eottokhae neo arra ?”

“ Anda memberikan kertas dengan nama dan nomer telefon pada


saya saat menjemput Myung Soo.”

“ Aa.. aku lupa. Hm.. apa bisa kau tidak menggunakan bahasa
formal padaku ?”

“ Ne ?”

“ Baiklah. Kita mulai dengan perkenalan yang baik. Na Kim Soo


Hyun. Parang University, jurusan fotografi. Neo ?”

“ Aa.. Cheoneun..”

“ Jangan gunakan bahasa formal.”

“ Na Bae Suzy. Kirin High School, kelas 3-2.”Mereka berdua


tersenyum dan memasuki bus bersama.

###
“ Kenapa kau tersenyum terus ?” tanya Ji Eun pada Suzy saat
mereka tengah mengambil buku untuk pelajaran selanjutnya.

“ Aniya.” Suzy masih tetap tersenyum.

“ Eii.. gojimal. Lalu kenapa kau tersenyum ?”

“ Ji Eun-ah, aku bertemu seorang cheonsa tadi pagi.”

“ Cheonsa ? Suzy-ah, apa kau sakit ?”

“ Ani. Tapi aku benar – benar melihat seorang cheonsa. Ia sangat –


sangat tampan.” Suzy mengelus kedua pipinya. Tiba – tiba handphonenya
berbunyi.

“ Yeobseyo ?”

“ Cepat ke lantai teratas gedung sekolah. Bawa alat tulismu.” Tut.


Suzy menganga saat menerima panggilan telefon tersebut.

“ Nugu ?” tanya Ji Eun. Suzy hanya mengangkat kedua bahunya.

Ia berjalan menuju tangga dan terdiam sesaat. Ia berjalan naik


perlahan sembari memikirkan sesuatu.

“ Eodiga ?” teriak Ji Eun.

“ Kau tunggu saja di kelas. Aku akan segera kembali.”

Sesampainya di atas, seorang namja memarahinya dengan


berbagai kata – kata yang cukup menyindir.

“ Yaa ! Apa kau bekicot ? Aku menyuruhmu untuk datang cepat. Apa
kau pikir kau putri ?” Myung Soo mengomel pada Suzy yang baru saja
tiba. Suzy menatap wajah Myung Soo kesal.

“ Wae ?” tanya Suzy ketus.

“ Kerjakan PR-ku.”

“ Mwo ?”
“ Kau harus ingat perkataanmu kemarin. Aa.. mungkin kau ingin ku
laporkan bahwa..”

“ Arraseo. Mana PR-mu ?” Myung Soo tersenyum sinis dan


menyerahkan bukunya. “ Bawa besok. Jangan kau lupakan. Jangan
ada yang salah. Jangan kau taruh di sembarang tempat. Jangan..”

“ Napeun.”Gumam Suzy pelan namun terdengar oleh Myung Soo.

“ Mworagu ?”

“ Aniya.”Jawab Suzy datar.

“ Jika kau tidak membawa PR ini besok, aku akan membuatmu


merasakan bagaimana rasanya berlari di lapangan sepertiku.” Myung Soo
berjalan menjauh setelah mengatakan hal itu.

“ Dia menyuruhku ke sini hanya untuk mengatakan itu ? Hah..” Suzy


menghentakan sebelah kakinya kesal. Suzy berjalan menuruni tangga dan
membawa buku Myung Soo di tangannya.

“ Kim Myung Soo, Neo jinjja napeun namja.”Gumamnya dan menuju


kelas.

Myung Soo POV

Aku memasuki kelas dengan wajah datar. Aku melirik Lee Ho Won
yang berada di sudut ruang kelas lalu duduk di bangkuku.

“ Kau darimana ?” tanya Woo Hyun.

“ Menyuruh orang untuk membuatkan PR-ku.”

“ Kau masih melakukannya ?” Aku terlalu malas untuk menjawab


pertanyaan Woo Hyun.

“ Wah.. lama aku tidak melihatmu di club. Apa kau sudah


menyerah ?” Ho Won menghampiriku.

“ Aku tidak ingin mencari masalah denganmu.”


“ Wae ? Kau merasa tidak bisa menyaingiku ?”

“ Geumanhae. Selagi aku masih bisa bersabar padamu.”

“ Aa.. adik kecil kita sedang merengek.” Seketika aku bangkit dan
menarik kerah baju Ho Won.

“ Aku benar – benar tidak ingin mencari masalah denganmu hari ini.
Sekali lagi kau mencari masalah denganku, kau akan habis.” Aku berjalan
keluar kelas dengan wajah merah padam.

“ Yaa ! Kelas akan segera di mulai.”Teriak Woo Hyun. Aku tetap


berjalan menyusuri koridor sekolah menuju tempat yang paling nyaman
bagiku. Atap gedung sekolah. Tempat dimana aku dapat merasakan
hatiku sendiri.

“ Lebih baik aku tidak usah menghadiri kelas hari ini daripada aku
kehilangan moodku.”Aku berujar pada diriku sendiri. Aku menatap gedung
– gedung di hadapanku. Tempat ini adalah salah satu tempat favoritku.
Tempat yang paling jarang dikunjungi oleh siswa lain dan tempat paling
tenang di sekolah ini. Aku selalu pergi ke sini saat sedang kehilangan
mood. Dan inilah yang ku lakukan saat ini.

###

Aku mengendarai sepedaku dengan kecepatan pelan hari ini.


Pikiranku melayang entah kemana. Saat aku berada di depan sebuah toko
roti, aku melihat seorang yeoja yang cukup familiar bagiku. Ia berjalan
sendirian dan tampak tengah termenung.

“ Yaa ! Jogiyo ! Bae Suzy !” panggilku. Yeoja itu, Bae Suzy, seperti
mencoba mencari sumber suara tadi di antara orang – orang yang berlalu
– lalang. Aku memperhatikannya. Dan entah apa ini, ada yang berdesir di
hatiku.

“ Yaa ! Kim Myung Soo. Sadarlah.”Aku bergumam untuk diriku


sendiri. Suzy masih mencoba mencari siapa yang memanggilnya tadi.
Rambut panjangnya terurai dan bergerak mengikuti arah kepalanya. Dan
tanpa sadar, senyumku mengembang begitu saja.

“ Aniya, ini hanya rasa kasihan.”Akhirnya aku turun dari sepeda dan
menghampirinya.

“ Mohaneungeoya ?” tanyaku.

“ Eoh, wae neo yeogiso ?” tanyanya.

“ Jawab dulu pertanyaanku baru bertanya. Apa sudah kau


selesaikan PR-ku ?”

“ Yaa ! Kau baru memberikannya tadi di sekolah. Dan sekarang kau


menagihnya ? Apa itu masuk akal ?”

“ Wae ? Kau bisa saja mengerjakannya saat di sekolah.”

“ Ibayo, neo nuguseyo ? Seenaknya memerintahku seperti ini.


Apa…”

“ Aaa… kau sudah ingin pindah sekolah lagi ? Geurae, akan ku


bantu. Mari kita lihat. Ketemu. Mungkin kepala sekolah bisa
menyelesaikannya.”Saat aku hendak menempelkannya di telingaku, Suzy
memegang pergelanganku erat.

“ Andoeyo. Jebalyo. Aku akan melakukannya.”Ia melepaskan


genggaman tangannya dan segera pergi.

“ Mwoya ige ?” aku berfikir apa yang baru saja terjadi.

Suzy POV

Aku mengelap meja – meja di café dengan pikiran kosong. Entah


apa yang saat ini merasuki jiwaku. Aku merasa hari ini benar – benar sia –
sia.

“ Jogiyo !” sapa seseorang. Aku menoleh.


“ Kim Soo Hyun-ssi..” aku terkejut. Kenapa namja ini bisa ada di
sini ?

“ Ei.. sudah ku katakan jangan memanggilku seperti itu. Kau cukup


memanggilku Soo Hyun. Atau mungkin jika merasa tidak enak, kau bisa
memanggilku Soo Hyun Oppa.” Senyumnya sangat menawan. Tutur
katanya juga sangat lembut.

“ Ne, arraseoyo. Geunde, kenapa Oppa bisa ada di sini ?”

“ Aku tadi baru saja pulang kuliah. Di cuaca dingin seperti ini,
sepertinya meminum kopi cukup enak. Dan aku tidak sengaja
melihatmu.”

“ Aa.. Ne. Oppa ingin pesan apa ?”

“ Cappucino.”

“ Tunggu sebentar.” Aku pergi menuju tempat pembuatan kopi. Aku


menatapnya terus. Dia benar – benar tampan. Sembari membuatkan kopi,
aku terus menatap wajah tampannya.

“ Oppa, ini.”

“ Gomawo. Aku akan pergi sekarang. Ada hal yang harus aku
kerjakan.”

“ Ne. Hati – hati.”

“ Suzy-ah,”

“ Ne ?”

“ Bisakah aku meminta nomor telefonmu ?”

“Tentu saja.”Aku memberikan nomor telefonku dan Soo Hyun Oppa


pun pergi.

“ Aku rasa, ia adalah seorang malaikat yang membawa


kebahagiaan.”Ujarku. Karena saat ia datang, semua hal yang
menggangguku serasa menguap dan menghilang. Aku menoleh ke arah
pintu beberapa saat setelah Soo Hyun Oppa pergi. Hujan turun dengan
cukup deras.

“ Wah.. Bi neunde.” Aku menatap hujan yang turun. Tiba – tiba


wajah Kim Myung Soo terbayang di kepalaku.

“ Mwoya ? Kenapa dia muncul begitu saja ?” Aku mengusap –


ngusap mataku. Akhirnya aku melanjutkan pekerjaanku tanpa mencoba
membahas masalah tadi dengan diriku sendiri.

###

Aku mengendarai sepeda motor skuter untuk mengirimkan pesanan


ayam. Aku memang memiliki cukup banyak pekerjaan paruh waktu.
Bahkan untuk pukul 10 malam aku masih bekerja.

Aku berdiri di depan sebuah rumah bergaya elegan berpagar putih.


Aku melihat secarik kertas bertuliskan alamat rumah ini. Aku memencet
bel. Tidak ada yang keluar. Aku memencet bel sekali lagi. Sebuah suara
terdengar dari intercom yang terdapat di tembok samping pagar.

“ Nugusaeyo ?” seorang yeoja bertanya padaku.

“ Aku mengantarkan ayam yang telah dipesan.”

“ Oppa ! Apa kau memesan ayam ?” yeoja itu seperti memanggil


seseorang.

“ Eoh. Apa sudah datang ?”

“ Sudah di depan rumah.”

“ Kau ambilkan sana.”

“ Sirheo. Oppa yang memesannya, kenapa aku yang mengambil ?”

“ Dasar kau ini.”Lalu terdengar suara derap langkah menjauh.


“ Oppaku akan segera keluar.”Setelah itu aku hanya menunggu.
Saat pintu di buka, mataku seakan mau keluar dan mulutku menganga
lebar.

“ Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya namja yang membukakanku


pintu. Aku tetap diam.

“ Jangan – jangan, kau menguntitiku ?” mendengar pertanyaan


namja itu aku mulai tersadar dan menutup mulutku.

“ Aku bukan penguntit. Kau yang memesan ini kan ?” ujarku dan
mengangkat sekotak ayam di depan wajahnya. Ia mengambilnya dan
berjalan masuk.

“ Yaa !!” ia tetap berjalan masuk.

“ Yaa !!”

“ Kim Myung Soo !!!” akhirnya aku berteriak kencang. Ia menoleh


dan datang kearahku.

“ Wae ?”

“ Apa kau tidak akan membayarku ?”

“ Igo ?” ia mengangkat kotak ayam ditangannya. Aku mengangguk.


Setelah itu ia berjalan masuk lagi.

“ Yaa !!!”

“ Aku tidak membawa dompet.”

“ Jadi kau menyuruhku menunggu di sini ?”

“ Itu terserah padamu.” Aku tidak menyangka pada perkataannya.

“ Aku akan menunggu di sini.”Aku pun menyandar pada tembok dan


Myung Soo memasuki rumahnya.

Aouthor POV
Suzy menyandar pada pagar dengan mata hampir tertutup.
Badanya mulai merosot ke bawah. Matanya benar – benar tertutup saat
Myung Soo muncul dan berjongkok di sebelahnya.

“ Cih.. Aku tinggal sebentar dia sudah tertidur di sini.” Myung Soo
mendorong bahu Suzy dan membuatnya terkesiap. Wajah Myung Soo
mungkin hanya bercarak 3 senti dari wajahnya. Mata Suzy membulat
seketika.

Mwoya ? Apa yang ia lakukan di depan wajahku ? Yaa !! Pikyeo !!!


Neo mohaneungeoya ?? Pekik Suzy dalam hati.

Waegeurae ? Kenapa dadaku berdebar ? Matanya.. ada apa dengan


matanya ? Caranya berkedip… Ahhh…Aku akan gila. Suzy kembali
berbicara dalam hati.

“ Mo..ha…neung…geo..ya ?” tanya Suzy terbata.

“ Kau tidak ingin aku membayar ayammu ? Ya sudah.” Myung Soo


bangkit dan hendak berjalan masuk.

“ Tunggu. Mana uangnya ?” Myung Soo berbalik dan menyerahkan


uangnya pada Suzy. Ia pun berjalan masuk meninggalkan Suzy
termenung dengan uang ditangannya.

“ Yaa !!”

“ Apa lagi ?”

“ Apa kau tidak tahu cara berterima kasih ?”

“ Apa aku harus berterima kasih atas tugas wajibmu mengantar


ayam pada

pelanggan yang memesan ?”

“ Tentu saja. Setiap pelangggan pasti melakukannya.”


“ Aku rasa itu tidak perlu.”

“ Mwo ?”

“ Jadi silahkan pergi.” Myung Soo menutup pagarnya dan membuat


Suzy memanyunkan bibirnya.

“ Dasar. Sifatnya benar – benar menyebalkan.” Suzy pun pergi


meninggalkan rumah itu.

###

Suzy baru saja memasukkan buku – bukunya ke dalam loker. Ji Eun


menunggu di sebelahnya dengan lollipop di tangannya. Myung Soo lewat
di hadapan mereka dengan ekspresi datar.

“ Ji Eun-ah,” panggil Suzy.

“ Wae ?”

“ Aniya.”

“ Wae ? Jika kau sudah memanggilku kau harus mengatakan


sesuatu.”

“ Jinjja aniya.” Suzy menatap punggung Myung Soo yang berada di


depannya. Mereka berjalan tepat di belakang Myung Soo. Ji Eun mengikuti
arah pandangan Suzy.

“ Kenapa kau menatap…hhhmmpphhh.” Suzy membekap mulut Ji


Eun. Myung Soo pun menoleh ke belakang dengan wajah sinis.

“ Kenapa kau menatapku ?” tanya Suzy.

“Shikkeureo.”Dan Myung Soo berlalu.

“Neo waegeurae ? Kenapa kau membekap mulutku ?” Suzy tetap


diam.

“ Suzy-ah.. Yaa !! YYAAA!!! BAE SUZY !!!” Ji Eun berteriak.


“ Ji Eun-ah, kau tunggu di sini. Aku ke toilet sebentar.” Suzy tak
menghiraukan teriakan Ji Eun tadi dan pergi meninggalkannya.

“ Ada apa dengannya ?” Ji Eun mengangkat bahu dan pergi.

Suzy mengikuti Myung Soo menuju atap sekolah. Tiba - tiba ia


berhenti dan bergumam sendiri.

“ Kenapa aku mengikutinya ?” Suzy pun berjalan berbalik menuju


kelas. Di kelas pun ia hanya termenung. Di ambang pintu berdiri seorang
namja tengah mencari seseorang. Krystal seketika berlari menghampiri
namja itu.

“ Sedang apa kau di sini ?” tanyanya. Namja itu tetap mencari


seseorang dan menemukannya.

“ Lee Ji Eun,” panggil namja itu. Ia menyuruh Ji Eun mendekat


dengan jarinya.

“ Wae ?” Namja tadi berbisik dan Ji Eun pun hanya tersenyum.


Namja tadi pergi dan Krystal hanya diam di ambang pintu.

“ Suzy-ah,” bisik Ji Eun. Suzy menoleh dan menatap Ji Eun heran.

“ Ambil buku Myung Soo dan berpura – pura ke toilet.”Bisik Ji Eun.


Suzy hanya terdiam.

“ Palli.” Suzy berdiri dengan buku Myung Soo di tangannya. Ia


berjalan keluar dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak.

“ Eodiga ?” tanya Krystal saat Suzy melawati pintu.

“ Aku ingin ke toilet.” Dan berjalan keluar.

###

Myung Soo berdiri di dekat toilet wanita. Ia menatap lantai tanpa


tujuan. Suzy pun menghampirinya dengan sebuah buku di tangannya.
“ Kau benar – benar lambat.”Ujar Myung Soo dan langsung
mengambil buku di tangan Suzy.

“ Kau seharusnya berterima kasih.”

“ Untuk apa ? Kelambatanmu ?”

“ Aku sudah membuatkan PR-mu.”

“ Geureom ?” Myung Soo berjalan menjauh.

“ Yaa !! Eodiga ??”

“ Tentu saja ke kelas.”

“ Setidaknya kau ucapakan terima kasih sebelum pergi.” Myung Soo


berbalik dan menghampiri Suzy.

“ Coba kau contohkan.”

“ Ya, ya.. kau benar – benar tidak tahu cara berterima kasih sampai
menyuruhku mencontohkannya. Apa susahnya hanya mengatakan,
‘Terima kasih’.”

“ Sama – sama.”Balas Myung Soo lalu pergi.

“ Yaa !!! Kim Myung Soo… !!! Yaa !!!!” Suzy berteriak percuma.
Myung Soo sudah pergi dengan buku PR-nya setelah berbelok dan
menaiki tangga.

“ Lihat saja kau. Suatu hari nanti, akan kubuat kau berterima kasih
padaku. Ingat itu… !!! Tapi, apa dia masih bisa mendengar teriakanku ?”
Suzy hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali ke kelas.

Sementara itu Myung Soo memasuki kelas dengan ekspresi datar.


Ho Wom seperti biasa berada di sudut kelas dan kini dengan sebuah bola
bisbol di tangannya.
“ Wah.. pangeran kita sudah datang.” Ho Won memulai aksinya.
Myung Soo tetap diam di tempat duduk dan hanya memainkan
handphonenya.

“ Yaa !! Geumanhae.” Ujar Woo Hyun yang duduk di sebelah Myung


Soo.

“ Kau ingin ikut campur ?”

“ Aku ketua kelas di sini. Jadi setidaknya hormati


keberadaanku.”Ujar Woo Hyun sembari berdiri.

“ Kau tidak usah ikut campur. Sekalipun kau ketua kelas, kau tidak
penting dalam hidupku. Geureom pikyeo.” Ho Won mendorong bahu
kanan Woo Hyun. Myung Soo akhirnya kehilangan kesabarannya.

“ Jika kau berani menyentuh sahabatku, kau akan habis hari


ini.”Ujar Myung Soo dan menatap Ho Won tajam.

“ Ayo kalau berani. Buktikan padaku.”

“ Aku tidak ingin bermasalah denganmu lagi. Jadi duduklah tanpa


mengganggu kami.” Saat Myung Soo mencoba untuk duduk, Ho Won
menendang kursi Myung Soo dan membuatnya terbentur ke meja. Jidat
Myung Soo pun memerah.

“ Sudah kukatakan jangan menguji kesabaranku.” Myung Soo


berhadap – hadapan dengan Ho Won.

“ Geurae ?” Ho Won meninju pipi kiri Myung Soo membuat bibir


Myung Soo robek dan perkelahian terjadi.

“ Myung Soo-ah, geumanhae..” pekik Woo Hyun saat mereka mulai


beradu fisik. Wajah Myung Soo sudah mulai babak belur. Bibirnya robek
dan terdapat beberapa lebam di wajahnya. Ho Won pun memiliki kondisi
yang sama. Woo Hyun akhirnya geram dan berlari ke ruang guru karena
di kelas tak seorang pun berniat memisahkan mereka.

1 jam kemudian…
“ Gomawo, Woo Hyun-ah. Jika kau tidak menjelaskannya tadi di
ruang BP, mungkin aku masih terjebak di sana.”Ujar Myung Soo.

“ Gwaenchana. Kau bahkan babak belur karena membelaku.”

“ Yaa !! Neo naneun chinguya. Bahkan aku sudah menghabiskan


separuh hidupku denganmu. Bagaimana mungkin aku tidak membelamu.
Lagi pula memang Ho Won yang salah.” Myung Soo mengelus jidatnya.

“ Yaa !! Kau balik duluan. Aku akan pergi ke UKS.”Sambung Myung


Soo.

“ Eoh.”

###

Myung Soo menatap bingung beberapa jenis obat di depannya.

“ Aku harus menggunakan yang mana ?” ujarnya dan mengangkat


mereka satu persatu.

“ Apa yang ini ?” ia mengambil sebuah salep tanpa nama.

“ Ya, setidaknya aku coba. Jika tidak, wajah tampanku takkan


menarik lagi.” Ia membuka tutupnya dan hendak mengoleskannya pada
bibirnya hingga…

“ Yaa !!! Mohaneungeoya ??” Suzy menghampiri Myung Soo yang


menatapnya heran dengan salep di tangan.

“ Neo waeirae ?” tanya Suzy saat melihat wajah Myung Soo.

“ Bukan urusanmu.”Ujar Myung Soo dan melanjutkan kegiatannya


yang tertunda. Seketika Suzy menarik salep di tangan Myung Soo.

“ Yaa !!” Myung Soo balik meneriaki Suzy.

“ Jika kau ingin mengobati lukamu bukan ini yang harus kau
gunakan. Apa kau tidak bisa membaca ?”
“ Mwo ?” Suzy menunjuk kotak obat tadi dengan dagunya. Myung
Soo mengikuti arah dagu Suzy dan menemukan sebuah tulisan, “ Obat
Kulit”. Seketika Myung Soo diam dan hanya mengerjap – ngerjapkan
matanya.

“ Babo.”Ujar Suzy. Ia menuju rak obat – obatan dan mengambil


kapas, obat merah, air dan beberapa plester luka.

“ Ini yang kau butuhkan.” Suzy duduk di hadapan Myung Soo. Ia


membasahi beberapa kapas dan hendak membersihkan luka Myung Soo.

“ Mohaneungeoya ?” Myung Soo menepis tangan Suzy.

“ Diam saja.” Suzy melanjutkan kegiatannya. Myung Soo mulai


meringis karena perih. Suzy melakukannya dengan sangat hati – hati. Ia
mengoleskan obat merah yang membuat Myung Soo semakin meringis
dan membuat Myung Soo menatap wajahnya lama.

“ Selesai.” Suzy berdiri setelah menempelkan plester pada wajah


Myung Soo. Myung Soo hanya mengelus lukanya yang sekarang sudah
tidak terlalu sakit.

“ Apa yang kau lakukan di UKS ?” tanya Myung Soo.

“ Na ? Aku hendak mencari…yakau tahu, keperluan wanita.” Myung


Soo mengernyitkan dahinya.

“ Obat pereda nyeri.” Suzy mengatakannya pelan namun terdengar


oleh Myung Soo.

“ Kau sedang…”

“ Naega aniya. Salah satu temanku di kelas.” Myung Soo hanya


menganggukkan kepalanya. Tiba – tiba Suzy berlari ke arah Myung Soo
dan menatapnya.

“ Kenapa kau menatapku ?” ujar Myung Soo dengan nada datar.

“ Apa kau tidak mengucapkan terima kasih ?”


“ Padamu ?”

“ Lalu siapa lagi ?”

“ Ak…”

“ Jangan mengatakan, ‘Aku rasa tidak perlu’. Karena kali ini, tidak
ada alasan untuk kau mengatakan hal itu.” Myung Soo terdiam.

“ Palli !”

“ Apa harus sekarang ?”

“ Lalu kapan ? Setelah aku mati ?”

“ Ide yang bagus.”

“ Cepat katakan.”

“ Sirheo. Lagi pula kau siapa ? Kata terima kasihku itu mahal.”

“ Kau pikir…” belum selesai Suzy bicara, Myung Soo sudah berjalan
keluar meninggalkannya di ruang UKS sendirian.

“ Yaa !! Aku sedang bicara padamu. Hanya katakan gomawo, apa


susahnya ? Yaa !!” Suzy menatap pintu kesal. Setelah menemukan benda
yang ia cari, ia pun kembali ke kelas.

###

Suzy mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas. Ia keluar


berbarengan dengan Myung Soo yang berada di kelas sebelah. Beberapa
saat mereka saling pandang seakan memiliki pertanyaan masing –
masing.

“ Apa aku begitu tampan sehingga kau menatapku seperti itu ?”


ujar Myung Soo.

“ Eoh ?” Suzy tetap menatap Myung Soo dengan pandangan aneh.

“ Berhenti menatapku. Apa kau tidak akan pulang ?”


“ Kau aneh.”

“ Mwo ?”

“ Entahlah. Aku merasa kau aneh.”Lalu Suzy berjalan pergi.

“ Aneh ? Apa yang aneh dariku ?” Myung Soo menatap tubuhnya


dari atas ke bawah.

“ Aku masih normal. Apa yang salah denganku ? Matanya saja yang
gila.” Myung Soo berjalan pulang.

Myung Soo POV

Aku memasang helm dan hendak menaiki motorku. Aku melihat


seorang yeoja berjalan keluar pagar dengan senyum yang…. Ah lupakan.

“ Anyeong, nanti ku hubungi.”Ujar yeoja itu yang suaranya


terdengar olehku.

“ Geurae. Anyeong, Suzy-ah.”Dan yeoja yang lainnya pergi. Ia


berjalan keluar dan dicegat oleh beberapa namja bertubuh kekar. Hal
pertama yang ada dipikiranku bahwa yeoja bernama Suzy itu cewek
murahan. Namun…

“Mohaneungeoyo ?” teriak Suzy. Hari itu sekolah sudah sepi dan


sepertinya hanya tersisa kami berdua.

“ Haksaeng, tenanglah. Aku hanya akan menjemputmu.

“ Nugusaeyo ?”

“ Apa kau lupa ? Aku pamanmu.”Aku sedikit merasa tenang.


Tunggu, berarti tadi aku khawatir. Aku menatap kejadian tadi. Tapi Suzy
sudah tidak di sana. namja itupun sudah menghilang.

“ Mwoya ? Kenapa aku menjadi takut begini ? Ah sudahlah.”Aku pun


meninggalkan sekolah. Namun saat aku tiba di depan rumah, perasaanku
semakin ketakutan.
“ Apa aku telfon saja.”Aku menelfon Suzy. Lama tak diangkat.

“ Apa dia sedang bermain – main denganku.”Aku menelfonnya


sekali lagi. Diangkat.

“ Yaa , neo..”

“ Aaaaaaa……” Suzy berteriak di telefon. Seketika jantungku


berpacu dengan cepat

“ Suzy-ah….”

“ Lepaskan. Aaaaa…… lepaskan aku.”

“ Gokjengma. Kami akan membuatmu bahagia.”Lalu terdengar tawa


menggema.

“ Suzy-ah…Suzy-ah…” aku mencoba memanggilnya namun yang


terdengar hanya teriakannya. Aku semakin panik.

“ Mwoya ige ?” sepertinya seseorang mengetahui panggilan ini.

“ Dimana Suzy ?” ujarku.

“ Siapa kau ?” tanya seseorang yang mengangkat telfon Suzy.


Tanpa berfikir panjang aku menjawab..

“ Aku namchinnya. Dimana pacarku sekarang ?”

“ Kau menginginkan pacarmu ?”

“ Palli. Sebelum kesabaranku habis dan menelfon polisi.”

“ Aku akan kembalikan yeochinmu ini. Tapi setelah kami bersenang


– senang.” Aku mulai geram. Aku mencoba melacak handphone Suzy
dengan handphoneku.

“ Gudang.”Ujarku pelan dan melesat ke sana.

Motorku berpacu dengan kecepatan di luar batas. Jantungku


seakan mau keluar dari dalam tubuhku. Yang aku pikirkan hanya
bagaimana keadaan Suzy sekarang. Setibanya di sana aku mendengar
suara teriakan Suzy. Aku segera berlari dan menemukan ia tergeletak di
lantai dengan 3 orang namja termasuk namja yang menjemputnya tadi.
Mereka baru saja hendak merobek baju Suzy. Seketika aku berlari dan
menendang mereka bertiga. Aku menghajar mereka satu persatu hingga
mereka tepar semua. Aku menghampiri Suzy yang duduk di lantai dengan
tatapan kosong.

“ Suzy-ah, gwaenchana ?” ujarku. Badannya gemetar dengan


pakaiannya compang – camping. Tanpa berfikir lagi aku memeluk
tubuhnya dan dia menangis.

“ Gwaenchana. Jigeum gwenchana. Uljima, eoh ?” aku menghapus


air matanya. Ia menatapku dan menangis lagi.

“ Yaa.. kau yeoja yang kuat.”Aku memapahnya keluar menuju


motorku.

“ Myung Soo-ah..” panggilnya pelan.

“ Eoh ?”

“ Gomawo. Jinjja gomawo.”Aku menatapnya ia terlihat sangat


rapuh.

“ Ia tidak melakukan apa – apa padamu, kan ?” ia menggeleng.

“ Syukurlah.”Aku menyelimuti tubuhnya dengan jas sekolahku.

“ Naiklah.”Ujarku. Ia tetap diam.

“ Palli. Aku sedang tak ingin bertengkar denganmu.”Ia pun naik


dankami pergi meninggalkan tempat itu.

###

Aku mengajaknya ke rumahku karena aku tidak tahu rumahnya. Jam


segini rumahku sepi karena Soo Hyun hyung masih di kampus dan So
Hyun pasti pergi dengan teman – temannya. Aku memapahnya berjalan
masuk.

“ Kau mandi dulu. Aku akan keluar sebentar membelikanmu baju.”


Aku pun pergi. Saat aku kembali aku mendengar ia menangis di kamar
mandi.

“ Kenapa aku jadi begini ?” rasa benci dan kesalku padanya


seketika lenyap dan tak berbekas. Khawatir, takut dan aku ingin
menjaganya.

“ Suzy-ah, gwaenchana ?” aku memanggilnya. Ia pun keluar dengan


hanya mengenakan handuk. Aku segera berpaling dan meletakkan baju
yang kubeli tadi di atas tempat tidur.

“ Pakailah. Aku keluar.”

Beberapa saat kemudian aku terdiam menatapnya. Suzy terlihat


sangat cantik dan anggun dengan baju terusan berwarna putih selutut
dengan renda pada bagian bawahnya.

“ Myung Soo-ah,”

“ Wae ?”

“….”

“ Sudahlah. Tak usah kau ingat lagi.” Aku mendudukkannya di sofa.


Tubuhnya masih saja gemetar. Matanya masih mengeluarkan air mata
yang entah mengapa membuatku ingin menghajar bajingan – bajingan
tadi sampai mati. Tanpa ku sadari tanganku terkepal dan Suzy
memegangnya.

“ Gomawo, Myung Soo-ah. Gomawo. Na…” aku menutup mulutnya


dengan telunjukku. Ia menatapku dan mata kami saling beradu. Dan ada
sesuatu yang berdesir semakin besar di dadaku.

Suzy POV
Aku tak dapat membayangkan kejadian yang menimpaku tadi.
Badanku masih terus bergetar dan mataku terus mengeluarkan airmata.
Jika saja Myung Soo tidak datang tadi, mungkin aku sudah tidak
berbentuk lagi. Dan sekarang, mata kami saling beradu dan jantungku
berdegup cepat.

“ Suzy-ah.. neo…”

“ Aku haus.”Ujarku.

“ Eoh ?”

“ Aku haus.” Ia pun berjalan ke dapur.

“Tapiapa yang mau dikatakannya tadi ?” ia kembali dengan segelas


air.

“ Dimana rumahmu ?”

“ Rumahku ?”

“ Hm.. lebih baik aku mengantarmu pulang. Daripada kau jalan


sendiri.” Aku diam. Benar kata Myung Soo. Daripada aku jalan sendiri. Aku
meminum airku dan memberitahunnya rumahku.

Kami berjalan keluar dan menuju motor Myung Soo. Aku melihat
rumahnya. Besar dan megah.

“ Cepat naik.”Selama perjalanan aku hanya termenung dan tanpa


sadar, tanganku melingkari pinggangnya.

“ Jika ada sesuatu, kau telfon saja aku.”Ujarnya saat sampai di


depan rumahku.

“ Myung Soo-ah, sekali lagi gomawo.”

“ Eoh.”Ia tersenyum. Senyum yang belum pernah aku lihat dari


sosok seorang Kim Myung Soo.
“ Kanda.”Ia pun pergi. Aku segera masuk dan terduduk di atas
tempat tidur. Baju yang aku kenakan sangat cantik. Myung Soo
membelikannya untukku. Aku terus temenung dan tidak bekerja hari itu.

###

Aku menyisir rambutku perlahan. Aku menatap bayanganku di


cermin. Tanpa sadar air mataku mulai jatuh. Kejadian kemarin…namja
kemarin.. dan Myung Soo. Aku melihat ke arah dress putih di tempat
cucian baju. Dress. Tok…tok…tok…

“ Nuguseyo ?” teriakku.

“ Suzy-ah, ini aku.”Suara itu..

“ Soo Hyun Oppa ?”

“ Eoh.. Palli..” aku membuka pintu. Ia tersenyum ke arahku.

“ Waegeurae ? Ada apa pada matamu ?” perasaanku kembali kacau


dan aku menangis.

“ Wae ? Uljima.” Soo Hyun Oppa memelukku dan aku hanya bisa
menangis.

“ Uljima. Oppa akan mengantarkanmu.”Aku hanya mengangguk.


Setelah mengambil tas dan memakai sepatu, kami melesat ke sekolah.

Selama di perjalanan aku menatap Soo Hyun Oppa yang sedang


menyetir.

“ Apa kau sudah merasa baik ?” tanyanya.

“ Ne. Gomawoyo.”

“ Berhentilah bicara formal padaku.”

“ Sirheoyo ?”

“ Hm.. Aku ingin akrab denganmu. Tapi dengan sikapmu itu,


sepertinya akan sangat susah.”
“ Mianheyo.”

“ Yaa !! Sudah ku katakan…”

“ Arraseo.”Ia tersenyum.

“ Oppa, jeongmal gomawo. Oppa selalu bisa membuatku


tersenyum.”

“ Bukan apa – apa. Hanya saja kau terlihat sangat cantik saat
tersenyum.” Aku yakin wajahku sudah semerah tomat saat Soo Hyun
Oppa mengatakannya.

“ Oppa hajima.”

“ Wae ? Jinjjaya.”

“ Aku malu.” Soo Hyun Oppa hanya tersenyum. Perasaanku lebih


baik dan mobil terus melesat di tengah jalanan kota Seoul.

###

Aku berjalan keluar kelas berbarengan dengan Ji Eun dan Min Hyuk.

“ Yaa ! Kemarin aku melihatmu dibonceng Myung Soo dan keluar


dari rumahnya. Apa yang kau lakukan dengannya ?” tanya Ji Eun tiba –
tiba saat berada di ambang pintu kelas.

“ Eoh ?” aku terkejut. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian


sebenarnya pada Ji Eun. Bahkan di sebelahnya Min Hyuk berdiri
keheranan karena pertanyaan Ji Eun.

“ Dia membantuku membuat PR.”Sebuah suara menjawab


pertanyaan Ji Eun. Ia hanya manggut – manggut dan kami berdua
melakukan hal yang sama. Namun di detik berikutnya kami sadar dan
menoleh berbarengan. Myung Soo berdiri dengan kedua tangan di dalam
saku celana.

“ Myung Soo-ah, sejak kapan kau berdiri di situ ?” Ji Eun melihat


Myung Soo lekat.
“ Bangeum. Yaa ! Bae Suzy, apa kau akan tetap diam di sana ?”
Kenapa dia bilang begitu ? Memangnya aku harus pergi kemana ?

“ Babo.”Ujarnya lalu menyeretku menjauh.

“ Yaa ! Kim Myung Soo ! Mau kau bawa kemana Suzy ?” aku
mendengar Ji Eun meneriaki kami berdua.

Author POV

Myung Soo menggenggam pergelangan tangan Suzy dan


menyeretnya naik ke atap gedung sekolah.

“ Apa harus kau menarikku seperti itu ?” ujar Suzy setelah Myung
Soo melepas genggamannya.

“ Neo gwencanha ?”

“ Eoh ? Oh.. gwencanha.”

“ Neo… anida.”

“ Wae ?”

“ Amugeotdo.”

“ Kau merahasiakan sesuatu ?”

“ Ani.”

“ Gojimal.”

“ Jinjjaya. Gojimal aniya.”

“ Eeeeiiii….” Suzy menyeringai. Ia menatap Myung Soo yang


mencoba menyembunyikan sesuatu.

“ Terserah kau saja. Aku tak berbohong padamu.” Myung Soo


berjalan menuruni tangga.

“ Kau menyeretku hanya untuk itu ?” Myung Soo berhenti setelah


menuruni beberapa anak tangga. Ia diam dan berbalik tiba – tiba.
“ Apa penting bagimu ?”

“ Eoh ?” Myung Soo mendekati Suzy hingga terbentur dengan pagar


pembatas.

“ Kau benar – benar yeoja yang menyebalkan. Kau menggangguku.


Neomu shikkeureo.”Ujarnya lalu berlalu.

“ Mwo ? Shikkeureo ?” Suzy berlari menyusul Myung Soo.

“ Yaa !! Kau bilang aku berisik ?” tanya Suzy sekali lagi.

“ Ini buktinya. Kau tak bisa diam.” Myung Soo berlalu. Suzy diam
menatap punggung Myung Soo yang menjauh.

“ Gomawo, Myung Soo-ah.”Ujar Suzy setelah Myung Soo


menghilang. Ia tersenyum dan memikirkan hal yang dilakukan Myung Soo
tadi padanya. Ia berjalan menuju kelas.

Saat di ambang pintu kelas, seorang namja berwajah cukup sinis


berdiri dengan tangan di lipat ke depan.

“ Aku lihat akhir – akhir ini Myung Soo sepertinya dekat


denganmu.”Ujar namja itu pada Suzy.

“ Nugu ?”

“ Ho Won. Lee Ho Won. Aku temannya Myung Soo. Apa


hubunganmu dengan Myung Soo ?”

“ Aku tak punya hubungan apa – apa dengannya.”

“ Jinjja ? Aku tak percaya.”

“ Lagi pula untuk apa kau penasaran ?”

“ Andoe ? Bukan urusanmu juga untuk bertanya.”

“ Jadi aku tak perlu memberitahumu.”Ujar Suzy lalu hendak


memasuki kelasnya yang sepi.
“ Kau tahu kan peraturan sekolah jika saat jam istirahat dilarang
memasuki kelas ?”

“ Arra. Tapi aku harus mengambil bekalku di kelas.” Tangan Ho Won


terus menghalangi tubuh Suzy.

“ Aku tak ingin berurusan denganmu.”

“ Wae ? Aku cukup tampan.” Ho Won tersenyum sinis. Tiba – tiba


dari arah belakang…

“ Bbbbuuukkkk…..” Ho Won tersungkur ke depan. Suzy menghindar


dan terkejut mendapati Myung Soo yang tengah berdiri dengan ekspresi
datar.

“ Kau benar – benar ingin mempunyai masalah denganku.”

“ Wah..baru saja kami membicarakanmu. Apa yang kau…” Bbbukk..

“ Tutup mulutmu. Aku muak dengamu hari ini.”

“ Myung Soo-ah..”

“ Memangnya siapa gadis ini sehingga kau semarah ini, hah ? Kau
siswa baru kan ? Apa urusanmu dengan Myung Soo ? Chingu ? Sepupu ?
Tetangga ? Atau…”

“ Nan yeoja chingu.” Bbbuukk… Myung Soo menghajar Ho Won


hingga bibirnya robek. Mereka berdua yang mendengar kata – kata Myung
Soo tadi hanya bisa diam.

“ Jigeum pikyeo.” Ho Won menatap Myung Soo geram lalu pergi.

“ Yaa ! Kenapa kau mengatakan bahwa… aku .. yeoja chingumu ?”

“ Jika tidak, dia tak akan pergi sebelum tahu apa hubunganmu
denganku.”
“ Memangnya dia siapa ? Dan apa perlu kau mengatakan bahwa
aku yeoja chingumu ? Apa tidak bisa mengatakan hal yang lain padanya ?

“ Kau terlalu banyak bertanya. Pertanyaanmu sama sekali tidak


penting.”

“ Tapi setidaknya aku perlu tahu.”

“ Dan aku tak akan memberi tahumu.” Myung Soo memasuki


kelasnya yang tepat saat itu bel berbunyi. Suzy diam menatap Myung Soo
dari ambang pintu kelasnya.

###

Myung Soo merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pulang sekolah


tadi ia membuntuti Suzy sampai di rumahnya. Takutnya kejadian kemarin
terjadi lagi. Itu yang ada di pikiran Myung Soo. Ia bangkit dan
mengangganti seragamnya.

“ Nan yeoja chingu.”Kata – kata ituterus terngiang di kepalanya. Ia


menjambak rambutnya sendiri dan mondar – mandir di dalam kamar.

“ Eotteokhaji ? Hah… apa yang harus aku lakukan ?” ia menendang


kursi belajarnya dan segera meringis.

“ Yaa ! Mohaneungeoya ?” Soo Hyun berdiri di ambang pintu kamar


Myung Soo.

“ Hyung ! Apa kau pernah jatuh cinta ?”

“ Mwo ?” seketika Soo Hyun tertawa mendengar pertanyaan


adiknya itu.

“ Kau sedang jatuh cinta ?”

“ Ani.. hmm.. aa molla. Begini, coba hyung bayangkan. Ada seorang


gadis yang awalnya sangat hyung benci dan kalian jadi dekat serta selalu
mengkhawatirkannya karena suatu hal. Lalu saat gadis itu diganggu oleh
namja lain yang menanyakan hubungan kalian, apa yang akan hyung
katakan untuk melindungi gadis itu ?”

“ Emm.. dia sepupuku, dia tetanggaku atau mungkin dia anak rekan
kerja orangtuaku. Itu lebih baik.”

“ Tapi jika kita mengatakan hal itu, bukankah mereka akan mencari
berita yang lebih kompleks tentang gadis itu ?”

“ Aku rasa itu sudah cukup.”

“ Tapi..”

“ Lalu jika kau yang mengalaminya, apa yang akan kau katakan ?”

“ Eoh ?” seketika wajah Myung Soo memerah.

“ Jangan – jangan kau yang mengalaminya dan mengatakan hal


yang aneh ?”

“ Aaa..[Link].. Coba pikirkan. Apa yang harus aku katakan jika itu
terjadi ?”

“ Nan yeoja chingu ?” Wajah Myung Soo semakin memerah dan


mungkin semerah tomat matang. Atau mungkin paprika merah.

“ Jinjjaro ?” Soo Hyun menatap adiknya yang tak dapat berkutik.


Myung Soo diam dengan wajah merah padam.

“ Katakan. Siapa dia ?” Myung Soo menatap hyungnya heran.

“ Geu yeoja. Nugu ? Yeppeo ?”

“ Hyung ! Tidak ada kejadian seperti itu yang aku alami.”

“ Eeeiiii… gojimal.”

“ Hyung !”

“ Kau sedang jatuh cinta, kan ?!”

“ Aniya. Hyung geumanhae jebal.”


“ Katakan dulu. Baru aku akan berhenti.”

“ Hyung jeongmal…”

“ Nongdamiya. Na kanda.” Soo Hyun keluar kamar. Myung Soo


terduduk di lantai dengan mata kebingungan.

“ Aaaarrrrgggghhhh…” ia berguling – guling tak jelas dan So Hyun


yang lewat hanya geleng – geleng kepala.

“ So Hyun-ah, oppamu mana ?” tanya Woo Hyun yang baru tiba.

“ Di kamarnya, dalam keadaan gila dan sepertinya di masuki


sesuatu. Lebih baik oppa jangan menemuinya.” So Hyun tersenyum dan
memasuki kamarnya. Woo Hyun berjalan dan menatap heran Myung Soo
berguling – guling tak jelas.

“ Wah… ternyata aku punya teman gila.”Ujar Woo Hyun dan


melangkah masuk.

“ Yaa ! Kenapa kau bisa di sini ?” Myung Soo berdiri seketika dan
merapikan bajunya yang kusut.

“ Inilah kau. Di sekolah berbeda. Di rumah juga berbeda. Apa


sebenarnya golongan darahmu AB ?”

“ Golongan darahku O. Dan setidaknya kau tahu penyebab semua


ini.” Woo Hyun hanya manggut – manggut. Myung Soo duduk di pinggiran
tempat tidur. Pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu dan melupakan
kejadian yang membuatnya berguling tak jelas.

Prang.. Piring dan gelas kaca mulai berjatuhan. Seorang yeoja


dengan gelas di tangannya tengah menangis dan seorang namja dengan
nafas tersengal – sengal menatap yeoja itu kesal.

“ Lalu apa maumu ? Rumah tangga kita hancur karena siapa ?” ujar
yeoja itu galak.

“ Kau mau menuduhku ?”


“ Lalu siapa lagi. Apa tidak cukup kau memilikiku sehingga kau
melakukan semua ini ?”

Plak.. Tamparan keras mengenai pipi kanan yeoja itu. 2 orang anak
laki – laki meringkuk di balik tembok. Sang kakak yang berumur 8 tahun
memeluk adiknya yang baru berumur 5 tahun. Mereka berdua menangis
dalam diam.

“ Myung Soo-ah, uljima. Semua akan baik – baik saja.”

“ Hyung, aku takut.”

“ Gokjeongma. Hyung akan melindungimu.” Sang adik mendekap


hyungnya erat. Sang hyung mencoba mengintip apa yang terjadi pada
orang tuanya.

“ Neo..” namja itu hendak menampar yeoja di hadapannya.

“ Aku ingin cerai.”Seketika tangan namja itu berhenti.

“ Mwo ?”

“ Aku ingin cerai. Aku akan membawa Soo Hyun dan So Hyun
denganku.”

“ Lalu kau menyerahkan Myung Soo padaku ?”

“ Eoh.”

“ Dwaeggeoteun.”

“ Karena kita mempunyai 2 anak laki – laki, maka aku akan


membagi mereka. Aku bawa Soo Hyun dan kau bawa Myung Soo.”

Plak.. tamparan sekali lagi melayang ke pipi kiri yeoja itu. Sang adik
terdiam mendengar perkataan ibunya tadi. Sang hyung bangkit dan
menghampiri ibunya.

“ Eomma, jangan pisahkan kami berdua. Aku ingin tetap bersama


Myung Soo. Dia adikku. Eomma jebal.”
“ Hyung…” sang adik bergumam melihat hyungnya. Air matanya
semakin deras dan semua terasa gelap baginya.

“ Kau bawa saja mereka bertiga. Aku tidak butuh anak kecil
meyusahkan seperti mereka.”Namja itu pun pergi meninggalkan yeoja itu
menangis.

Saat yeoja itu menoleh ia menyadari keberadaan sang adik yang


menangis dengan tangan terkepal.

“ My…ung… S..ooo..-ah…” yeoja itu tergagap dan menghampiri


sang adik. Yeoja itu yakin bahwa anak keduanya mendengar apa
yang ia ucapkan tadi.

“ Myung Soo-ah, eomma…” saat yeoja itu hendak memeluknya,


sang adik menepis tangan ibunya dan berlari menjauh.

“ Yaa !” Woo Hyun menggoyang – goyang pundak Myung Soo dan


membuatnya tersadar.

“ Gwenchanha ?” Woo Hyun kembali menyadarkan Myung Soo yang


mulai menangis.

“ Apha..” ujar Myung Soo. Ia menepuk dadanya. Woo Hyun hanya


diam dan mengelus punggung Myung Soo.

Suzy POV

Aku meletakkan tasku dan melongok keluar jendela.

“ Aku rasa ada seseorang yang mengikutiku.”Aku mencoba mencari


orang itu namun tidak ada siapa – siapa.

“Atau hanya perasaanku saja ?” aku mengganti pakaianku dan


bersiap pergi kerja. Saat aku keluar rumah, aku melihat sebuah sepeda
motor menjauh. Si pengendara dengan jaket hitam membawa tas seperti
sedang terburu – buru.

“ Mwoya ?” aku hanya mengangkat bahu dan pergi.


Di tempat kerja aku hanya termenung hingga..

“ Apa sebegitu sukanya kau termenung ?” Aku menoleh dan melihat


Soo Hyun Oppa tersenyum dengan sebuah kamera di tangannya.

“ Oppa !”

“ Mian, mian. Hanya saja, kau sekali termenung seperti itu.” Soo
Hyun Oppa duduk di meja terdekat dan mengutak – ngatik kameranya.

“ Oppa ingin pesan apa ?”

“ Americano.”

“ Jamkkanman.” Aku segera membuatkan apa yang Soo Hyun Oppa


pesan. Wajahnya tampak bersinar ditimpa sinar matahari. Setelah selesai
aku mengantarkannya ke meja Soo Hyun Oppa. Ia tampak sibuk
mengutak – ngatik kamera hitamnya.

“ Sekarang aku yang bertanya pada Oppa. Apa sebegitu sukdanya


Oppa pada kamera itu ?”

“ Eoh ? Igo ?” ia mengangkat kameranya dan menatapku. Aku


mengangguk.

“ Fotografi itu dunia keduaku.”

“ Oppa masih kuliah ?”

“ Geurom. Kau pikir aku ini ahjeossi ?”

“ Aku pikir Oppa sudah bekerja.”

“ Aku baru semester 2. Jurusan fotografi.”

“ Apa itu keren ?”

“ Bagimu mungkin tidak. Tapi bagiku, itu luar biasa.”Ia tersenyum


dan kembali fokus pada kameranya.
“ Oh ya, kau mau menjadi modelku tidak ? Aku ada tugas untuk
memotret layaknya fotografer yang sering memotret model itu. Kau mau
menjadi modelku, kan ?”

“ Hmm.. bagaimana ya ?”

“ Aku hanya memintamu menjadi model. Aku tak akan melakukan


hal – hal aneh.”

“ Keugae anira…”

“ Jika kau mau, kau bisa menghubungiku kapan saja.” Soo Hyun
Oppa berdiri dan melangkah pergi.

“ Na kanda.”Ujarnya sebelum melewati pintu.

“ Model ?” ujarku. Aku mematut diriku di depan kaca caffe yang


memantulkan bayanganku.

“ Apa aku bisa ?”

###

Aku berjalan sendirian menuju rumah. Aku menghitung setiap


langkah dan sembari bergumam tentang menjadi model atau tidak.

“ Sampai mana tadi ? Ah sudahlah, aku ulang saja. Il, i, sam…”


Bbbuuukkk..

“ Aauuuwww.”Kepalaku membentur seseorang karena menunduk.


Aku mendongak dan wajah datar Myung Soo berada di hadapanku.

“ Aaa… kkamjjakiya !” ujarku dan mengelus dadaku.

“ Apa kau gila ?”

“ Heh ?”

“ Berjalan sendirian, menghitung langkahmu sendiri dan


menabrakku.”
“ Apa itu termasuk kelakuan gila ?”

“ Bagiku, iya.”

“ Aku sudah sering melakukannya.”

“ Berarti kau telah mengalami gila kronis.”

“ Apa tidak ada kata yang lebih manusiawi yang bisa kau katakan
padaku ?”

“ Kau tidak bekerja ?”

“ Hari ini hari sabtu. Sabtu dan minggu aku tidak bekerja di
supermarket. Kenapa kau menanyakan itu ? Dan kenapa kau bisa berada
di sini ?”

“ Setiap orang punya hak untuk berada di suatu tempat yang


mereka inginkan.”

“ Tapi, jika seseorang berada di suatu tempat, ia pasti memiliki


tujuan tertentu.”

“ Aku hanya sedang bosan. Puas ?”

“ Ani. Aku belum puas dengan jawabanmu. Seharusnya….” Cuupp…


Aku terdiam. Myung Soo mengecup bibirku cepat.

“ Kau terlalu bawel.”Aku masih diam. Tunggu.. bukankah dulu


Myung Soo juga pernah menciumku saat ia sedang mabuk ? Dan sekarang
ia menciumku lagi ?

“ Yaa !!!” aku berteriak.

“ Neo…neo…. Mohaneunggeoya ???”

“ Wae ? Aku hanya mencoba membuatmu diam.”

“ Mwo ? Kau pikir itu cara yang benar ?”

“ Aku selalu melakukannya saat ada yeoja bawel di depanku.”


“ Kau melakukannya pada setiap yeoja bawel ?” Myung Soo
mengangguk.

“ Dan sekarang kau melakukannya padaku ?” mataku mendelik. Ia


hanya mengangguk.

“ Neo jugeullae ?”

“ Shikkeureo. Apa kau ingin kucium lagi ?” Aku membekap mulutku


cepat.

“ Pyeontae.”Ujarku dengn mulut yang kubekap dengan tanganku


sendiri.

“ Mwo ? Pyeontae ?”

“ Eoh.”

“ Naega wae ?”

“ Kau telah menciumku 2 kali.”Tanpa sadar aku menghitung


kejadian itu juga.

“Mworae ? Aku menciummu 2 kali ?”

“ Hm..”

“Naega eonje ?”

“ Pertama, saat kau mabuk dan berada di rumahku. Dan yang


kedua tadi.” Ah..lupakan. Toh, sudah terlanjur aku ucapkan. Myung Soo
diam dan mencoba berfikir.

“ Kapan aku mabuk ?”

“ Sudahlah. Walau kuberitahu, kau tak akan ingat. Pikyeo.” Aku


mendorong tubuhnya menjauh dan melewatinya.

“ Yaa !! Kapan aku melakukannya ?”


“ Kau tak akan ingat.”Aku berteriak karena jarak antara aku dan
Myung Soo sekarang sudah cukup jauh.

Myung Soo POV

Aku menatap punggung Suzy yang menjauh. 2 kali ? Jadi yang tadi
itu bukan ciuman pertamaku dengannya ? Aku terus menatapnya hingga
ia menghilang di tikungan depan. Aku pun hanya berjalan gontai menuju
sepeda motorku yang kuparkir di sebelah supermarket tempat Suzy
bekerja.

“ Ada apa denganku ? Apa yang dikatakan hyung benar ?


Arrggghhh.. molla..molla.” Aku hanya bergumam. Motorku sama sekali tak
menyala dan aku hanya duduk dan menatap kearah jalan tadi.

“ Apa aku ke rumahnya saja ? Tapi apa yang aku lakukan ?” Aku
membayangkan wajah manis Suzy yang sedang tersenyum.

“ Wah.. neomu yeppeo.”Aku bergumam sendiri dan tersenyum tak


jelas.

“ Mwoya ? Aku membayangkannya ? Yaa, Kim Myung Soo..


jeongsincharyeo. Kenapa kau membayangkannya ?” aku menepuk pipiku
keras. Namun pikiranku masih melayang –layang entah kemana.

“ Arrggghhh…. “

###

Aku baru saja turun dari sepeda motor dan melihat Suzy berjalan
memasuki sekolah dengan…. Hyungku ? Mwoya ? Ige mwoji ? Aku terus
menatap mereka berdua. Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan terlihat
seperti,… sepasang kekasih. Hyung membelai rambut Suzy lalu mengacak
– ngacaknya. Suzy pun tersenyum dan menepuk bahu hyung pelan. APA
YANG MEREKA LAKUKAN !!!!!!!!???????? Ini pertama kalinya aku cemburu
pada seorang gadis yang dekat dengan namja lain. Darahku serasa
mendidih.
“ Apa yang kau lihat ?” Woo Hyun tiba – tiba berada di belakangku.

“ Amugeotdo. Kajja.”Aku menarik lengan Woo Hyun untuk menjauh.


Mataku rasanya panas dan ingin benar – benar berpaling dari mereka.

“ Ada apa denganmu ?”

“ Aku bilang tidak ada. Kau terlalu banyak bertanya.”Aku bahkan


membentak Woo Hyun saat kami sampai di kelas.

“ Yeobo !!” Krystal datang ke kelasku lagi. Ia membawa sebuah


kotak berwarna merah jambu dengan pita biru.

“ Aku membawakanmu coklat.”Ia menyerahkannya padaku. Aku


terus menatap kearah pintu.

“ Yaa, Jung Krystal. Geumanhae. Apa kau tahu ? Myung Soo sudah
mempunyai seorang yeoja chingu.” Ho Won yang berada di dekat jendela
mulai mengatakan hal – hal yang tak perlu.

“ Geureom Akulah yeoja chingunya.” Krystal memelintir rambutnya


manja.

“ Aku rasa bukan. Aaa.. itu dia. Myung Soo yeoja chingu.” Krystal
menoleh dan melihat Suzy memasuki kelasnya.

“ Nongdamhajima. Myung Soo-ah, dangsineun…” aku pun


melangkah keluar menuju kamar mandi. Woo Hyun hanya mengikutiku
tanpa banyak bicara. Aku mendengar derap langkah Krystal yang pergi
begitu saja.

“ Yaa !! Apa yang dikatakan Ho Won benar ?”

“ Molla. Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya.” Aku malas


berkomentar. Melihat kemesraan Suzy dan hyungku tadi membuatku
penasaran tentang hubungan mereka.
Apa mereka pacaran ? Tapi hyung selalu memberitahuku siapa
pacarnya. Aaaarrrgggghhhhh…. Naega michyeosseo jinjja. Yaa !! Bae
Suzy, neo nuguya ?

###

Aku menatap pemandangan gedung di depanku. Setelah menelefon


Suzy tadi, aku segera menuju ke sini dan bersandar di pinggiran gedung.

“ Ada apa ?” suara Suzy di belakang terdengar santai.

“ Aku ada PR.”Aku berjalan kearahnya dan menyerahkan bukuku.

“ Ini saja, kan ?”

“ Ani. Banyak yang ingin aku tanyakan padamu.”

“ Mwoji ?”

“ Apa kau sudah….”

“ Sudah….”Aku seakan ragu untuk bertanya. Lidahku terasa kaku.

“ Sudah apa ?”

“ Apa kau sudah…….pubertas ?”

“ Heh ?”

“ Apa kau sudah pubertas ?”

“ Kau pikir umurku berapa ? Michinnom. Kau menanyakan sesuatu


yang tidak penting sama sekali.” Suzy berjalan menjauh. Seketika aku
menarik tangannya. Bbbuuukkk… Jarak wajahku dan Suzy mungkin hanya
5 cm. Bahkan mungkin kurang. Matanya yang bersinar dan rambutnya
yang terjuntai ke bawah dengan posisi menindihku membuatku benar –
benar luluh. Kakiku yang kurang seimbang membuat kami jatuh
berbarengan. Tunggu.. aku rasa aku pernah mengalami ini. Tapi dengan
siapa ? Aku menatap Suzy lama. Dan…..aku mendelik saat mengingat hal
itu.
“ Suzy-ah..” panggilku pelan.

“ Eoh ?” Suzy pun menjawabnya pelan.

“ Apa aku pernah menciummu dengan posisi seperti ini ?” tiba – tiba
Suzy bangkit dan berlari menjauh. Ia turun mendahuluiku dan
membiarkanku dengan keadaan termenung. Apa jangan – jangan
ciumanku yang pertama terjadi… SAAT ITU ???? Aku memukul kepalaku
mencoba mengingatnya. Iya. Samar – samar aku mengingatnya. Aku
menarik tengkuk Suzy dan menci…..Aaarrrrggghhhhh. Bagimana bisa aku
lupa ? Dan kenapa kau harus ingat sekarang Kim Myung Soo ?????
Babo !!!!!!!!!!!!!!!!!

Author POV

Suzy berjalan cepat menuruni tangga. Jantungnya berdetak cepat


dan keringat membasahi dahinya. Tangannya gemetar sembari membawa
buku PR Myung Soo.

“ Ada apa denganmu ?” tanya Ji Eun saat Suzy memasuki kelas.

“ Perebut.” Krystal menabrak bahu kiri Suzy saat ia mencoba lewat.

“ Aauuww…” Suzy meringis kecil.

“ Apa maksudmu ?” sambungnya.

“ Kau pikirkan saja sendiri.”Seisi kelas menatapnya sinis.

“ Neo… seorang yeoja murahan.”Bisik Krystal.

“ Ji Eun-ah, ada apa ini ?”

“ Apa kau berkencan dengan Myung Soo ?”

“ Mwo ?”

“ Krystal tadi pagi menangis dan berpura – pura sakit. Jadi dia
hampir setengah hari berada di UKS.”
“ Lalu apa hubungannya denganku ?” Ji Eun menarik lengan Suzy
dan mengajaknya keluar kelas.

“ Maka dari itu aku bertanya padamu. Apa kau mengencani Myung
Soo ?”

“ Ani. Tapi apa maksudnya ?”

“ Kau masih murid baru di sini. Jadi aku cukup ragu untuk
mempercayaimu. Selain itu, aku juga sempat melihatmu bersamanya.”

“ Ji Eun-ah, aku benar – benar tidak mengerti.” Ji Eun hanya berlalu.


Suzy diam lalu memasuki kelasnya. Semua bersikap dingin.

Apa maksud Krystal tadi ? Sehingga membuat seisi kelas


menatapku seperti ini. Dan..Ji Eun juga melakukan hal yang sama.

Suzy hanya bisa termenung. Merasakan bebannya yang mulai


bertambah.

Apa hidup di Seoul harus sesusah ini ? Ia benar – benar lelah dan tak
dapat memikirkan hal yang lain.

###

Myung Soo baru saja keluar dari sekolah. Ia melihat Suzy dengan
telur di sekujur tubuhnya. Myung Soo menghampirinya dengan wajah
heran.

“ Ada apa denganmu ?” Myung Soo bertanya santai yang dibalas


dengan tatapan sinis Suzy.

“ Kenapa menatapku seperti itu ?”

“ Ige… neo ttaemuniya.”

“ Mwo ?”

“ Neo ttemuniya !!!”

“ Naega wae ?”
“ Pikirkan sendiri. Mulai sekarang, aku bukan pembuat PR-mu lagi
dan jauhi aku.” Suzy melangkah pergi. Myung Soo menatap punggung
Suzy yang terlihat ramping.

“ Naega ttaemune ? Memangnya apa yang terjadi ?” Myung soo


menjalankan motornya. Sesampainya di rumah, Myung Soo merebahkan
tubuhnya tanpa mengganti baju.

“ Oppa, Woo Hyun Oppa mencarimu.” So Hyun melongok ke dalam


kamar Myung Soo. Dan sepertinya Myung Soo tertidur.

“ Oppa ?” So Hyun memastikan.

“ Hm ?”

“ Aku pikir Oppa tidur. Woo Hyun Oppa…”

“ Suruh saja dia masuk. Aku sedang malas bangun.”

“ Cih.. Oppa jinjja..” So Hyun pergi dan Woo Hyun yang datang.

“ Apa kau sedang tidak waras ?”

“ Sepertinya.”

“ Tadi aku lihat Suzy pergi bersama Hyungmu. Apa mereka saling
kenal ?”

“ Molla. Aku bahkan masih mencari jawabannya.” Myung Soo


membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Ia terlihat sangat frustasi
untuk ukuran seorang remaja.

“ Hari ini aku mendengar sebuah kabar yang harus aku pastikan
langsung denganmu.”

“ Apa ?”

“ Kau berpacaran dengan Suzy ?” seketika Myung Soo mengangkat


wajahnya dan membelalak menghadap Woo Hyun.

“ Dimana kau mendengarnya ?”


“ Hampir 1 sekolah tahu berita itu. Aku tidak tahu bermula dimana,
tapi semua orang sedang membicarakannya. Apa itu benar ?”

“ Ani. Aku tidak pacaran dengannya.”

“ Tapi aku pernah melihat kalian bertemu di atap sekolah.”

“ Itu karena aku menyuruhnya untuk datang.”

“ Berarti kalian sedang kencan ?”

“ Aku bilang tidak. Aku hanya…”

“ Hanya…”

“ Hanya…. Karena aku menyuruhnya membuatkanku PR.”

“ Benar hanya itu ?”

“ Eoh.”

“ Jeongmal ?”

“ Apa sekarang kau meragukan sahabatmu ?”

“ Aku tidak meragukanmu. Hanya saja, aku pernah melihatmu


membuntuti Suzy.”

“ Heh ?”

“ Aku sedang lewat daerah sana untuk mencari pembantuku dan


menyerahkan gajinya. Tidak sengaja aku melihat Suzy dan kau berada di
belakangnya. Jika kau tidak membuntutinya, lalu apa yang kau lakukan ?”

“ Naega…”

“ Cepat jawab. Apa yang kau lakukan…”

“ Aku mengkhawatirkannya.”

“ Mwo ?”

“ Sudah kubilang, aku khawatir.”


“ Kenapa kau mengkhawatirkannya ?”

“ Yang ini tak akan aku ceritakan.”

“ Jadi kau masih mau aku menganggapmu berkencan dengannya ?”

“ Aku tidak berkencan dengannya !!!” Myung Soo kesal dan


membenamkan kembali wajahnya.

Di sisi lain, Suzy sedang membersihkan seluruh tubuhnya yang


berlumuran telur. Ia benar – benar merasa kesal dengan sikap teman –
temannya tadi. Terutama sikap Krystal yang seperti itu.

“ Suzy-ah, apa kau sudah selesai ?” Suara Soo Hyun terdengar


memanggilnya dari luar.

“ Aku sudah bersiap – siap.” Suzy membalasnya. Ia memutuskan


untuk menjadi model Soo Hyun dan sekarang ia sedang bersiap – siap
untuk berangkat.

“ Wuah… kau terlihat seperti peri.” Soo Hyun memuji Suzy dengan
tatapan berbinar.

“ Oppa… Aku tidak secantik itu.” Suzy tersenyum terpaksa.


Pikirannya tetap memaksanya membayangkan kejadian tadi siang. Saat
satu persatu telur itu melayang mengenai tubuhnya. Cacian pun terlontar
satu persatu dari mulut orang – orang itu.

Gadis perebut. Kau pikir kau cantik hah ? Kau itu hanya sampah
yang terselip di antara bunga – bunga, sebentar lagi kau akan disingkirkan
karena mengganggu pemandangan. Sadar diri, Myung Soo itu memiliki
derajat yang tinggi. Kau jauh dari kata pantas untuknnya. Semua itu
terngiang di telinga Suzy begitu lama. Di perjalanan pun ia hanya
termenung dan memegang tasnya erat.

“ Suzy-ah, ada apa dengan ekspresimu ?”

“ Eh ?”
“ Aku bertanya, ada apa dengan ekspresimu ?”

“ Tidak ada. Aku hanya sedang banyak pikiran.”

“ Kau tidak sakit, kan ?” Suzy menggeleng.

“ Lalu ada apa dengan ekspresimu ?”

“ Aku hanya memikirkan tugas sekolah yang belum aku selesaikan.”

“ Kenapa kau tidak bilang ?”

“ Ye ?”

“ Kalau kau mengatakannya, aku tidak akan menyuruhmu ikut


denganku hari ini.”

“ Aniyo. Aku…”

“ Aku tidak suka pada orang yang suka menunda pekerjaannya.


Lebih baik kau pulang saja.”

“ Keunde…”

“ Sudahlah. Kita bisa memulainya lain waktu.” Soo Hyun memutar


balik mobilnya menuju rumah Suzy. Di perjalanan ia hanya diam menatap
keluar jendela.

###

Suzy membuka lokernya malas. Matanya mendelik saat satu


persatu sampah mulai berjatuhan dari dalam lokernya. Bahkan pintu
bagian dalam lokernya penuh dengan berbagai umpatan – umpatan kasar.
Suzy hanya menghela napas dan membersihkannya.

“ Begitulah nasib gadis yang tak tahu diri.”Kata – kata yang sangat
menusuk melewatinya. Suzy hanya diam. Ia tetap fokus membersihkan
loker. Ji Eun yang baru saja tiba terlihat ragu untuk menatap Suzy. Ia
membuka lokernya perlahan dan menutupnya kembali. Ji Eun tiba – tiba
berjongkok di bawah Suzy dan memunguti sampah – sampah tadi.
“ Ji Eun-ah…” Suzy bergumam.

“ Sekali sahabat, tetap sahabat, kan ?” Ji Eun mendongak dan


tersenyum tulus kepada Suzy.

“ Gomawo, Ji Eun-ah. Jeongmal gomawo.” Suzy tersenyum dan


mengelap lokernya. Dari arah tangga Myung Soo mulai tampak dengan
wajah datarnya. Ia melirik ke arah Suzy dan Ji Eun yang membersihkan
loker dan ditatap oleh yang lainnya. Myung Soo mendekat dan menatap
mereka berdua. Belum sempat ia bicara, Krystal sudah bergelayut di
lengannya manja.

“ Yeobo.. kau sedang melihat mereka ? Biarkan saja. Itu akibat dari
kelakuannya. Yakan gadis perebut ?!” ujar Krystal sinis.

“Apa kau bilang ? Gadis perebut ?”

“ Tentu saja. Ya, kan Suzy-ah ??”

“ Suzy ?” Myung Soo mengulang nama tadi dan menatap heran


Suzy yang masih membersihkan lokernya.

“ Geurom… Dia merebutmu dariku.”

“ Merebutku darimu ?” Myung Soo semakin heran hingga bel masuk


berbunyi. Suzy melewatinya tanpa sedikitpun menatapnya. Myung Soo
memasuki kelasnya dengan heran. Ia menghampiri Woo Hyun dan
berbisik.

“ Yaa !! Tadi apa yang terjadi ?” Myung Soo bertanya pelan.

“ Soal pertanyaanku kemarin.” Woo Hyun menjawab enteng dan


mengeluarkan bukunya.

“ Ayolah. Aku benar – benar tidak mengerti.”

“ Sekarang aku bertanya padamu. Apa kau menyukainya ?”

“ Nugu ?”
“ Suzy.”

“ Mwo ?”

“ Aku serius. Apa kau menyukainya ?”

“Apa hubungannya jawabanku sekarang dengan kejadian tadi ?”

“ Jika kau tidak menyukainya, berarti memang benar Suzy seorang


gadis perebut. Tapi jika kau menyukainya, berarti ini semua salah
paham.”

“ Gadis perebut ?”

“ Yaa ! Apa kau tidak ingat apa yang dikatakan Ho Won kemarin
pada Krystal ?”

“ Memangnya dia bilang apa ?”

“ Bahwa Suzy adalah pacarmu dan agar Krystal lebih baik


menjauhimu. Apa kau tidak ingat ?” Myung Soo terdiam dan mendelik.

“ Sepertinya Krystal menganggapnya serius.”Lanjut Woo Hyun.

“ Michinom.” Myung Soo memasang wajah kesal.

“ Jadi menurutku kejadian tadi ada sangkut pautnya dengan Krystal.


Kau tahu sendiri Krystal tipe gadis pengadu dan suka memprovokasi
orang lain.”

“ Wah… daebak. Jadi ini semua salahku ?”

“ Bukan sepenuhnya salahmu kalau kau menyukai Suzy.” Myung


Soo menoleh.

“ Sebenarnya Suzy tidak menyukaiku.”

“ Heh ?? Maksudmu ?”

“ Dilihat dari tingkahnya, dia lebih menyukai hyungku. Kau juga


pernah melihat mereka pergi berdua.”
“ Jadi..”

“ Aku yang menyukainya.”

“ MWO ???” Woo Hyun berteriak kencang dan membuat seisi kelas
menoleh padanya.

“ Michingeo aniya ?” tanya Woo Hyun sekali lagi dengan nada pelan.

“ Wae ?”

“ Bukankah kau sangat membenci pada saat….Jamkkan, apa ini


tentang benci yang berubah jadi cinta ?”

“ Yaa !!!” Woo Hyun tersenyum dan membuat ekspresi wajah


seakan ia mengerti apa yang terjadi.

Saat jam istirahat, Myung Soo segera menarik Suzy menjauh saat
keadaannya aman.

“ Apa kau hanya akan seperti ini ?”

“ Naega mwol ?”

“Apa kau hanya bisa diam terhadap kelakuan mereka ?”

“ Geurom naega eottokhae ? Aku sudah dianggap sebagai gadis


pemaksa yang merebut sorang laki – laki dari pacarnya.”

“ Kau tidak pernah melakukannya.”

“ Tapi kau yang membuatnya seakan – akan aku memang


melakukannya. Semua orang menganggap bahwa aku menyukaimu dan
aku memaksamu untuk…”

“ Menyukaimu ?” Suzy hanya menunduk.

“ Lalu apa yang akan terjadi jika aku juga menyukaimu ?” lanjut
Myung Soo.

“ Mwo ?”
“ Na… neol johahae.”

“ Nongdamhajima.” Suzy hendak berjalan menjauh. Namun tangan


Myung Soo sudah terlebih dahulu menahannya. Myung Soo menarik Suzy
dan memegang pinggangnya erat.

“ Nongdam aniya.”

“ Michinom.”

“ Geurae. Na michinom. Ige.. neo ttaemuniya.” Myung Soo mecium


bibir Suzy lembut. Suzy hanya mampu mendelik dan tubuhnya tidak dapat
lepas akibat pelukan erat Myung Soo. Entah mengapa jantung Suzy mulai
berdebar, tubuhnya mulai melemas dan pikirannya melayang. Perlahan ia
mulai menutup mata dan melingkarkan tangannya di leher Myung Soo. Ia
mulai merasakan kehangatan Myung Soo yang tidak pernah terpancar
dari wajahnya. Perlahan dan perlahan, rasa itu mulai tumbuh subur di hati
mereka berdua.

Suzy POV

Aku menggigit bibir bawahku pelan. Aku memperhatikan papan tulis


namun pikiranku tidak tertuju ke sana.

“ Tidak biasanya kau termenung di kelas.” Ujar Ji Eun saat pulang


sekolah.

“ Eoh ?”

“ Kau tadi termenung di kelas, kan ?” Aku diam dan menggigit bibir
bawahku. Saat itu Myung Soo melewatiku sembari tertawa dengan Woo
Hyun.

Kenapa hari ini dia terlihat sangat tampan ? Apa mataku sudah
rusak ?

“ Suzy-ah ? Suzy-ah !!” Aku menoleh dan menatap heran Ji Eun


yang malah menatapku heran pula.
“ Apa kau sedang tidak waras ?” Ji Eun kini menatapku kesal dan
pergi.

“ Yaa !! Lee Ji Eun. Memangnya aku kenapa ??” Aku mengejarnya


dan kini giliranku yang melewati Myung Soo. Ia sepertinya
memperhatikanku. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Hingga ia hanya
melewatiku begitu saja.

“ Mwoya ?” Ujarku kesal. Aku melangkah cepat menuju halte bus. Ji


Eun menyusul dengan langkah tergesa – gesa.

“ Neo waegeurae ?” Ji Eun menatapku heran. Aku memasang


ekspresi sebiasa mungkin. Namun aku rasa akan terlihat aneh dengan
ekspresi wajah antara kesal dan biasa saja.

“ Aku duluan.”Ujarku dan memasuki bus.

“ Yaa !! Lalu bagaimana denganku ?”

“ Kau pulang saja dengan bus yang lain. Aku akan pergi ke tempat
lain.” Aku meninggalkannya dengan sedikit kesal. Aku yakin Ji Eun tengah
menggerutu kesal di halte sendirian. Aku menatap kesal keluar jendela.

“ Apa maksudnya ini ? Apa aku hanya mainan ? Ia men..” aku


terdiam. “ Lalu ia mengacuhkanku begitu saja ?? Cham… ige mwoya ???”
aku menggerutu kesal.

Ting… Aku mengecek handphoneku. Sebuah pesan masuk. Dengan


enggan aku membacanya perlahan.

From : Napeun Namja

Neo… jigeum hwanasseo ?

“ Mwoya ??” aku bergumam sendiri dan membalasnya.

To : Napeun Namja

Wae ? Apa urusanmu ?


“ Aku rasa kau sedang marah.”

“ Omo...Yaa !!” Myung Soo berada di bangku belakang dan


kepalanya melongok ke arahku. Senyum jahilnya entah mengapa
membuatku luluh dan tersenyum ke arahnya.

“ Hwanasseo ?”

“ Untuk apa ?”

“ Entahlah. Aku rasa kau marah padaku. Apa aku salah ?” Aku
memutar bola mataku seolah – olah aku sedang berfikir.

“ Apa karena aku tidak menggubrismu tadi ?” Myung Soo bertanya


lagi. Aku menghadap ke depan dan menyilangkan kedua tanganku ke
dada.

“ Untuk apa aku marah untuk hal sekecil itu ?”

“ Kau menerimaku, kan ?”

“ Apa maksudmu ?”

“ Tidak biasanya kau semanja ini padaku.”Aku terdiam.

“ Aku benar, kan ?” Bus berhenti tepat setelah Myung Soo


mengatakan pertanyaan tadi. Aku segera turun dan melambai dari luar
jendela. Myung Soo berteriak dari dalam bus dan terus meminta agar
sopir bus menghentikannya busnya.

“ Yaa !! Yaa !!! Ahjeossi jebalyo… Ahh… Suzy-ah…” aku


memeletkan lidahku dan membiarkannya pergi. Lebih baik aku menemui
Soo Hyun Oppa. Aku berjanji untuk menjadi modelnya.

Author POV

Suzy berjalan beriringan dengan Soo Hyun melewati lorong menuju


tempat pemotretan di sebuah studio foto. Suzy tak menyadari seorang
yeoja menatapnya heran beberapa meter darinya.
“ Oppa, apa yang harus aku lakukan ?” Suzy terlihat bingung.

“ Kau ganti baju dulu. Pilihlah yang kau suka. Di sana ruangannya.”
Soo Hyun menunjuk sebuah ruangan terpisah di pojok dekat jendela.

“ Ne..” Suzy berjalan cepat karena saking gugupnya.

“ Oppa, kau dekat dengannya ?” sebuah suara yang cukup


mengagetkan membuat Soo Hyun sedikit tersentak.

“ Oh… Jung Krystal. Kau ada pemotretan hari ini ?”

“ Hm.. aku baru saja menyelesaikannya.”

“ Wah… kau adalah anak muda berbakat. Beruntung sekali Cha Hak
Yeon mendapatkanmu.”Ujar Soo Hyun sembari menyebutkan nama salah
satu teman seangkatannya.

“ Tapi yeoja itu… Oppa dekat dengannya ?”

“ Yeoja ?? Aaa… Suzy ?? Aku cukup dekat dengannya. Dan


bukannya kalian satu sekolah ?”

“ Aku jarang melihatnya.”Ujar Krystal berbohong.

“ Geure ?”

“ Kalau begitu aku duluan.”Ujar Krystal dan berlalu dengan senyum


sinisnya.

“ Geure. Hati – hati.”

“ Ne.” Seakan sebuah ide brillian muncul di kepalanya, Krystal


tersenyum picik dan segera keluar.

###

Myung Soo memasang wajah cemberutnya saat memasuki rumah.


So Hyun yang baru saja dari dapur menatap heran Oppanya.
“ Oppa, kau dicampakkan ?” tanya So Hyun. Myung Soo melirik
adiknya yang tersenyum licik.

“ Aku benar, kan ?” Myung Soo mengacak – ngacak rambut So Hyun


dan memasuki kamarnya.

“ Aaaaiiissshhh… aku baru saja merapikan rambutku.” So Hyun pun


memasuki kamarnya dengan wajah masam. Myung Soo berbaring frustasi
di atas tempat tidurnya.

“ Bagaimana mungkin dia meninggalkanku di dalam bus seperti tadi


? Apa aku harus meleponnya sekarang ? Atau dia sedang bekerja ?
Aaarrggghhh… apa yang harus aku lakukan ??? Yaa ! Kim Myung Soo, apa
kau sudah gila ?? Kenapa kau melakukan semua ini ???!!!” Myung Soo
menendang – nendangkan kakinya keatas dan tangannya mengacak –
ngacak rambutnya sendiri. Tiba – tiba sebuah pesan masuk dan
membuatnya segera terlonjak.

“ Aku harap ini darimu.”Ujar Myung Soo penuh harap. Namun saat
ia membukanya, sangat jauh berbeda dengan apa yang diharapkannya.

“ Apa maksudnya ini ?? Yaa !! Apa kau gila ?? Aku sedang


menunggu pesan penting dan kenapa kau muncul ?” Myung Soo
memarahi pesan dari operator yang ia terima tadi. Beberapa menit
kemudian sebuah pesan masuk. Myung Soo kembali bangkit dan
mengecek handphonenya. Dan sekali lagi, sebuah pesan spam yang ia
terima.

“ Aaaarrrrggghhhh……. !!!!!” Ia berguling – guling di lantai dengan


seragam SMA-nya. Beberapa saat ia melakukannya hingga handphonenya
berbunyi lagi.

“ Aku tak akan memeriksanya.” Myung Soo menatap handphonenya


yang berada di atas tempat tidur dengan tajam. Hampir 5 kali handphone
terus bergetar menandakan pesan masuk.
“ Aku tak akan memeriksanya. Tidak akan. Ingat itu.”Ia menunjuk
handphonenya sendiri dengan tatapan sinis. Hingga sebuah panggilan
masuk. Ia segera berlari dan mengangkat panggilan tadi.

“ Oh, Suzy-ah. Wae ?” Myung tersenyum simpul saat mengangkat


panggilan tersebut.

“ Kenapa kau tidak membalas pesanku ?” Suara Suzy terdengar dari


seberang telefon.

“Heh ?” Myung Soo hanya menjawab dengan kata seadanya. Ia


menjauhkan handphonenya dan mengecek pesan tadi. Seketika ia merasa
kesal pada dirinya sendiri karena tidak memeriksa pesan tadi.

“ Suzy-ah, keuge…”

“ Keuge mwol ??”

“ Mianhe, aku baru saja…”

“ Baru saja apa ??”

“ Suzy-ah, dengarkan…”

“ Dwaesseo.”

“ Mwoya ?? Neo waegeure ?” Myung Soo benar – benar heran


dengan sikap Suzy hari itu. Setelah kejadian di atap tadi, Suzy bersikap
lebih kasar padanya.

“ Hah.. aku terlihat seperti gadis bodoh dengan


mengkhawatirkannya.” Suzy berujar pelan yang tetap dapat di dengar
oleh Myung Soo.

“Kau bilang apa ?”

“ Amugeotdo.”

“ Aku serius. Kau bilang apa tadi ?”


“ Aku bilang tidak ada !” Tut.. telefon dimatikan. Myung Soo
mengerjap – ngerjapkan matanya lalu terdiam mematung.

“ Barusan Suzy mengkhawatirkanku ? Jinjja ?” Myung Soo tiba – tiba


meloncat dari tempatnya dan berlali keluar kamar. Ia memeluk So Hyun
yang tengah lewat sembari membawa beberapa buku.

“ Oppa, aphaseo ?” tanya So Hyun sedikit menyindir.

“ Eoh.. neomu neomu aphaseo.” Myung Soo kemabli ke kamarnya.

Anda mungkin juga menyukai