0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang bencana, khususnya banjir, termasuk pengertian, jenis, penyebab, dampak, dan manajemen penanggulangannya. Bencana didefinisikan sebagai peristiwa yang mengancam kehidupan masyarakat, dan banjir dapat disebabkan oleh curah hujan tinggi serta faktor manusia. Kesiapsiagaan bencana juga dijelaskan sebagai serangkaian kegiatan untuk mengantisipasi dan merespons bencana secara efektif.

Diunggah oleh

lestarihusin5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang bencana, khususnya banjir, termasuk pengertian, jenis, penyebab, dampak, dan manajemen penanggulangannya. Bencana didefinisikan sebagai peristiwa yang mengancam kehidupan masyarakat, dan banjir dapat disebabkan oleh curah hujan tinggi serta faktor manusia. Kesiapsiagaan bencana juga dijelaskan sebagai serangkaian kegiatan untuk mengantisipasi dan merespons bencana secara efektif.

Diunggah oleh

lestarihusin5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka Tentang Bencana


1. Pengertian Bencana
Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 bencana adalah peristiwa
atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor
nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Sedangkan menurut WHO (2002), bencana (disaster) adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, atau
memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang
memerlukan respons dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena.
Bencana alam merupakan konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami, baik
peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor, dan aktivitas
manusia. Ketidakberdayaan manusia akibat kurang baiknya manajemen
kesiapsiagaan dan keadaan darurat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan
dan struktural, bahkan sampai kematian.
2. Jenis - jenis Bencana
Menurut UU No 24 Tahun 2007, terdapat 3 jenis bencana yaitu bencana
alam, bencana nonalam, dan bencana sosial :
a. Bencana alam
Bencana alam merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dihindarkan,
pada dasarnya bencana alam diakibatkan oleh peristiwa yang terjadi di alam
tanpa adanya campur tangan manusia. Pada dasarnya bencana alam dapat terjadi
dikarenakan adanya perubahan yang terjadi di alam, baik secara perlahan
maupun secara ekstrim. Tetapi tidak hanya dari faktor alam saja, melainkan
dapat juga diakibatkan oleh campur tangan dari manusia, sebagai contoh
penebangan hutan secara liar dapat mengakibatkan banjir dan tanah longsor
(Ammelia, 2022). Adapun beberapa para ahli yang mengungkapkan
pendapatnya tentang pengertian dari bencana alam, bencana alam merupakan
serangkaian peristiwa alam yang menimbulkan korban jiwa maupun harta benda
(Cobur
b. Bencana non-alam
Bencana nonalam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal
modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c. Bencana sosial
Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
3. Penyebab Bencana
Menurut (Nurjannah, 2011) dalam bukunya tentang manajemen bencana,
penyebab terjadinya bencana ada 3 (tiga) faktor yaitu :
a. Faktor alam (natural disaster) karena fenomena alam dan tanpa ada campur
tangan manusia.
b. Faktor non-alam (nonnatural disaster) yaitu bukan karena fenomena alam
dan juga bukan akibat perbuatan manusia.
c. Faktor sosial/manusia (man-made disaster) yang murni akibat perbuatan
manusia, misalnya konflik horizontal, konflik vertikal, dan terorisme.
Secara umum faktor penyebab terjadinya bencana adalah karena
adanya interaksi antara ancaman (hazard) dan kerentanan (vulnerability).
Ancaman bencana menurut Undang - Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah
suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.n, 2006 dalam
Ammelia, 2022).
4. Dampak Bencana
Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah
atau menghindari bencana dan daya tahan manusia. Pemahaman ini berhubungan
dengan pernyataan "Bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan
ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan
menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa
bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga
ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa
keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk
bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual
(Khambali, 2017).
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) (2022), dampak
bencana alam sangat penting dan bisa terjadi secara positif maupun negatif
terhadap kehidupan manusia dan lingkungan. Beberapa dampak yang mungkin
terjadi meliputi:
a. Dampak negatif
Bencana alam dapat mengakibatkan kerusakan infrastruktur, yang
mengganggu aktivitas sosial, korban jiwa, kerusakan ekosistem, dan hilangnya
tempat tinggal. Selain itu, dampak bencana juga bisa mempengaruhi
kehidupan manusia melalui gangguan mental, terhambatnya aktivitas,
kerugian, kesulian air, dan lainnya
b. Dampak positif
Gempa bumi, salah satu jenis bencana alam, bisa menyebabkan naiknya
mineral dan batu mulia ke permukaan, yang memudahkan penemuan sumber
daya alam.
5. Manajemen Penanggulangan Bencana
Manajemen penanggulangan bencana adalah segala kegiatan yang
dilaksanakan dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap
darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana. Manajemen penanggulangan
bencana dilakukan pada tahapan sebelum bencana, saat terjadinya bencana dan
setelah bencana (Kementerian PUPR, 2017).
Penyelenggaraan penanggulangan bencana menurut Undang- Undang
No.24 Tahun 2007 meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan
rehabilitasi. Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana, yaitu:
a. Cepat dan tepat;
b. Prioritas;
c. Koordinasi dan keterpaduan;
d. Berdaya guna dan berhasil guna;
e. Transparansi dan akuntabilitas;
f. Kemitraan;
g. Pemberdayaan
h. Nondiskriminasi
i. Nonproletisi
Manajemen bencana adalah suatu proses yang dinamis, berlanjut dan
Siklus penanggulangan bencana terdiri dari tiga fase, yaitu fase prabencana, fase
saat terjadi bencana, dan fase pasca bencana :
a. Fase Pra Bencana
Fase prabencana mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi,peringatan
dini dan kesiapsiagaan. Fase prabencana merupakan pengurangan risiko
bencana dengan tujuan mengurangi timbulnya suatu ancaman dan
mengurangi dampak buruk dari suatu ancaman bencana.
b. Fase saat terjadi bencana
Fase ini kegiatan yang dilakukan adalah tanggap darurat bencana di
mana sasarannya adalah “save more lifes”. Kegiatan tanggap darurat
bencana berupa pencarian atau search and rescue (SAR), bantuan darurat
dan pengungsian.
c. Fase Pasca Bencana
Fase pasca bencana mencakup kegiatan pemulihan kondisi
(rehabilitasi), pembangunan kembali (rekonstruksi) tata kehidupan dan
penghidupan masyarakat menjadi lebih baik (build back better).

B. Tinjauan Pustaka tentang Banjir


1. Pengertian Banjir
Menurut Khambali dalam bukunya (Manajemen Penanggulangan
Bencana), banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dan tidak
diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga merendam
wilayah - wilayah yang tidak dikehendaki. Banjir bisa juga terjadi karena
jebolnya sistem aliran air yang ada sehingga daerah yang rendah terkena dampak
kiriman banjir. Sedangkan menurut (BNPB, 2021)
Banjir adalah peristiwa dimana air menggenangi suatu wilayah
disebabkan oleh curah hujan yang turun terus menerus sehingga meluapnya air
sungai, drainase, laut atau danau karena jumlah air yang melebihi daya tampung.
selain curah hujan yang tinggi, banjir juga terjadi karena ulah manusia.
2. Penyebab Banjir
Menurut (Abubakar, 2020), banjir yang terjadi juga dapat disebabkan
oleh tingginya curah hujan, pendangkalan sungai, alih fungsi lahan, perubahan
pola. Inilah yang menyebabkan sering terjadinya banjir dan berdampak pada
masyarakat. Menurut Khambali dalam bukunya manajemen penanggulangan
bencana penyebab terjadinya banjir yaitu :
a. Penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi
b. Pendangkalan sungai
c. Pembuangan sampah yang sembarangan, baik kealiran sungai maupun ke
gorong - gorong
d. Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat
e. Pembuatan tanggul yang kurang baik
f. Air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan.
3. Jenis - jenis Banjir
Menurut Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI (2016), ada 5 jenis banjir yaitu:
a. Banjir Bandang
Banjir bandang merupakan banjir yang sangat berbahaya, sering kali
menimbulkan korban jiwa saat banjir bandang. Banjir bandang ini
mengangkut air dan juga lumpur. Banjir ini katagori banjir yang sangat
berbahaya karena bisa mengangkut apa saja. Banjir ini cukup memberikan
dampak kerusakan cukup parah. Banjir bandang biasanya terjadi akibat
gundulnya hutan dan rentan terjadi di daerah pegunungan. Saat banjir
bandang, biasnya banjir ini akan membawa pohon pohon dan bebatuan
berukuran besar sehingga bisa merusak pemukiman warga dan dapat
menimbulkan korban jiwa.
b. Banjir Air
Banjir air adalah jenis banjir yang sangat umum terjadi, biasanya
banjir ini terjadi akibat meluapnya air sungau, danau atau selokan. Karena
intensitas banyak sehingga air tidak tertampung dan meluap itulah banjir air.
Banjir air sangat sering terjadi saat hujan deras dalam kurun waktu yang
lama, sehingga air tidak tertampung dan meluap.
c. Banjir Lumpur
Banjir lumpur memiliki kemiripan dengan banjir bandang, namun
banjir lumpur ini keluar dari dalam bumi yang akan mengenangi daratan.
Lumpur ini mengandung bahan gas yang sangat berbahaya.
d. Banjir Rob (Banjir Laut Air Pasang)
Banjir rob biasanya terjadi akibat air laut yang pasang. Biasanya
banjir ini akan menerjang kawasan pemukiman di wilayah pesisir pantai. Di
jakarta biasanya banjir rob akan melanda kota muara baru jakarta. Air laut
yang pasang, akan menahan laju air sungai yang sudah banyak sehingga
akan menjebol tanggul dan meluap mengenangi daratan.
e. Banjir Cileunang
Banjir cileunang hampir mirip dengan banjir air, namun banjir
cileunang ini terjadi akibat derasnya hujan sehingga debit air pun menjadi
banyak dan tidak terbendung. Jika intensitas hujan deras biasanya air akan
meluap dan itu di sebut dengan banjir cileunang.
4. Dampak Banjir
Bencana banjir menimbulkan berbagai dampak aspek kehidupan
masyarakat, dan banyak kerugian yang disebabkan oleh bencana banjir. Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 dampak bencana banjir
terdiri atas dampak sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan yaitu:
a. Dampak sosial yang diakibat oleh banjir ialah terjadinya kematian,
menurunnya kesehatan, trauma mental, menurunnya perekonomian,
terganggunya pendidikan, kurangnya makanan dan kurangnya air bersih.
b. Dampak ekonomi yang diakibatkan oleh banjir ialah menurunnya pendapatan,
kehilangan materi, transportasi terhambat, terganggunya aktivitas ekonomi
seperti masyarakat tidak dapat bekerja.
c. Dampak fisik yang diakibatkan oleh banjir ialah kerusakan pada sarana umum
dan kantor pelayanan publik.
d. Dampak lingkungan yang diakibatkan oleh banjir ialah air menjadi tercemar,
rusaknya tumbuhan yang ada dirumah masyarakat dan di sekitar sungai akibat
banjir.
5. Upaya Penanggulangan Banjir
Mengacu pada perundangan tahun 2007 nomor 24 tentang penanggulangan
bencana menekankan bahwa pemerintah menjadi penanggung jawab
penyelenggaraan penanganan bencana yang meliputi :
a. Merancang peraturan untuk bencana,
b. Melindungi masyarakat yang terdampak bencana
c. Memberikan jaminan hak pada masyarakat terdampak bencana
d. Pemulihan dari tempat terdampak bencana
e. Alokasi anggaran untuk perencanaan daerah rawan bencana
f. Alokasi dana siap pakai pada saat penanggulangan bencana
g. Pemeliharaan aset terkait informasi bencana yang otentik dan kredibel

C. Tinjauan Pustaka tentang Kesiapsiagaan


1. Definisi Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan menurut undang-undang No. 24 tahun 2007 adalah
serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui
pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Tujuan khusus
dari upaya kesiapsiagaan bencana adalah menjamin bahwa sistem, prosedur, dan
sumber daya yang tepat siap di tempatnya masing- masing untuk memberikan
bantuan yang efektif dan segera bagi korban bencana sehingga dapat
mempermudah langkah-langkah rehabilitasi dan rekonstruksi layanan.
Menurut (UNISDR, 2009) kesiapsiagaan adalah pengetahuan dan kapasitas
yang dikembangkan oleh pemerintah, lembaga - lembaga profesional dalam bidang
respons dan pemulihan, serta masyarakat dan perorangan dalam mengantisipasi
merespons, dan pulih secara efektif dari dampak - dampak peristiwa atau kondisi
ancaman bahaya yang mungkin ada, akan segera ada, atau saat ini ada.
2. Parameter Mengukur Kesiapsiagaan
Kajian tingkat kesiapsiagaan masyarakat/rumah tangga mengacu pada
framework yang dikembangkan LIPI bekerja sama dengan UNESCO/ISDR pada
tahun 2006. Ada empat parameter yang digunakan dalam mengkaji tingkat
kesiasiagaan masyarakat/rumah tangga dalam kesiapsiagaan untuk mengantisipasi
bencana yaitu 1) pengetahuan dan sikap tentang risiko bencana; 2) rencana tanggap
darurat; 3) sistem peringatan bencana; dan 4) mobilisasi sumber daya.
a. Parameter pertama adalah pengetahuan dan sikap tentang kesiapsiagaan
mengantisipasi bencana. Pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi
kunci untuk kesiapsiagaan. Pengetahuan seseorang tentang kebencanaan
sangat penting adanya bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan
bencana. Pengetahuan tentang risiko bencana yang dimiliki oleh masyarakat
akan memengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap dan siaga dalam
mengantisipasi bencana.
b. Rencana tanggap darurat terkait dengan evakuasi, pertolongan dan
penyelamatan agar korban bencana dapat diminimalkan. Berbagai tindakan
tanggap darurat sangat penting untuk meminimalkan jatuhnya korban,
terutama pada saat terjadi bencana dari hari pertama sampai hari ketiga
sebelum bantuan datang.
c. Parameter peringatan bencana yang meliputi tanda peringatan dan distribusi
informasi akan terjadinya bencana tidak kalah pentingnya dengan parameter
lainnya. Adanya peringatan dini dapat mengurangi korban jiwa, harta benda,
dan kerusakan lingkungan. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan latihan
dan simulasi apa yang harus dilakukan apabila mendengar peringatan, ke
mana dan bagaimana harus menyelamatkan diri dalam waktu tertentu sesuai
dengan lokasi di mana masyarakat sedang berada saat terjadi bencana.
d. Parameter mobilisasi sumber daya baik sumber daya manusia (SDM),
pendanaan, dan prasarana-sarana penting untuk keadaan darurat merupakan
potensi yang dapat mendukung kesiapsiagaan. Namun sebaliknya, mobilisasi
sumber daya juga dapat menjadi kendala apabila mobilisasi tidak dapat
berjalan dengan baik.
3. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesiapsiagaan
Menurut Philips (2016), ada beberapa faktor yang berhubungan dengan
kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana yaitu :
a. Tingkat pendidikan formal
Tingkat pendidikan yang dimiliki masyarakat dapat mempengaruhi
tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana. Masyarakat dengan tingkat
pendidikan tinggi akan lebih siap siaga dalam menghadapi bencana
dibandingkan dengan masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah.
Pendidikan yang dimiliki masyarakat mengenai bencana sangat penting untuk
mengurangi resiko bencana dan menimalisir terjadinya kerugian dan jatuhnya
korban akibat bencana yang terjadi.
b. Pengalaman bencana sebelumnya
Pengalaman yang didapat dari bencana sebelumnya memungkinkan
seseorang untuk dapat mempersiapkan diri menghadapi bencana selanjutnya
dan cenderung akan meningkatkan level kesiapsiagaan untuk beberapa alasan,
pertama menyaksikan atau mengalami bencana maka masyarakat akan
mengembangkan kesadaran terhadap bahaya yang meningkat dan persepsi
terhadap risiko, kedua berdasarkan pengalaman sebelumnya akan
meningkatkan pemahaman secara realistis tentang apa yang akan terjadi dan
mengambil pengukuran proaktif untuk mencegah dan meminimalisir potensi
masalah terhadap bencana di masa yang akan datang.
c. Persepsi terhadap resiko
Pengelolaan emergensi dapat mempengaruhi persepsi risiko dan
mempromosikan kesiapsiagaan yang lebih tinggi dikomunitas masyarakat
melalui komunikasi risiko yang efektif. Komunikasi dalam risiko
dimaksudkan untuk mendidik masyarakat dan organisasi tentang bahaya yang
mereka hadapi, menginformasikan mereka tentang risiko dan kemungkinan
bahwa bahaya akan menghasilkan bencana, dan mempengaruhi mereka untuk
mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi diri mereka sendiri dan bisa
menghadapi tantangan yang diakibatkan oleh bencana.
d. Tingkat kesadaran
Kesadaran bisa diartikan sebagai kondisi dimana seorang individu
memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun stimulus eksternal,
kesadaran juga mencakup dalam persepsi dan pemikiran yang secara samar-
samar disadari oleh individu sehingga akhirnya perhatiannya terpusat.
Kesadaran yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia
dapat menempatkan diri sesuai dengan yang diyakininya. Penguatan
kesadaran akan bahaya dan resiko terhadap suatu bencana merupakan langkah
penting bagi masyarakat untuk dapat meminimalisir dampak negatif yang
ditimbulkan dari kejadian bencana tersebut. Tingkat kesadaran yang baik akan
menentukan hasil dari rencana yang telah dibuat dalam menghadapi bencana
alam dan pengurangan risiko dampak dari bencana khususnya bencana banjir.
e. Pelatihan Kebencanaan
Pelatihan sangat diperlukan dalam hal meningkatkan kesiapsiagaan
bencana yang tujuannya untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan
akibat dari bencana tersebut. Pelatihan kebencanaan juga bertujuan untuk
membuat masyarakat paham dan sadar tentang resiko bencana yang dihadapi
serta mampu untuk mengelola ancaman yang ditimbulkan dari kejadian
bencana dan dapat menanamkan sifat tangguh dari ancaman bahaya bencana
dengan mempersiapkan kemampuan perseorangan serta dapat bangkit dari
keterpurukan akibat bencana.

D. Tinjauan Pustaka tentang Pengetahuan


1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu hasil yang didapatkan seseorang dari rasa
ingin tahu dari proses sensoris khususnya pancaindra. Deteksi terjadi melalui
indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan sentuhan.
Pengetahuan mempunyai peran penting untuk terbentuknya sikap atau perilaku
seseorang (Ningtyas, 2015).
2. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a. Lingkungan
Suatu proses dimana belajar yang mempengaruhi lingkungan jika
lingkungan mendukung dalam proses belajar maka hasil belajar akan semakin
baik.
b. Sosial, Budaya dan Ekonomi
Budaya sosial yang baik terjado peningkatan pemahaman individu
melalui cara yang konsisten dengan pengetahuan yang dipelajari, jika fasilitas
memadai maka pproses belajar orang akan berjalan lancar.
c. Informasi
Dimana suatu pengetahuan individu lebih baik jika mendapatkan lebih
banyak informasi dalam suatu pelajaran. Inormasi dapat dikumpulkan dalam
suatu pembelajaran formala dan informal.
d. Usia
Seiring dengan bertambahnya usia akan mempengaruhi tingkat
pemehaman seseorang, dikarenakan adanya suatu peningkatan keadaan mental
dan daya tangkap tersebut.
e. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses dimana terjadinya perubahan sikap dan
perilaku individu atau kelompok, dalam suatu proses pendewasaan melalui
pendidikan dan pelatihan (Hilmi, 2020)

3. Tingkat-tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan mempunyai enam tingkatan antara lain:
4. Tahu (know)
Tahu diartikan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesiik dari keseluruhan bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterimah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang
tahu tentang apa yang dipelajari sebagai bentuk ialah, menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasi, dan menyatakan.
a. Memahami (coprehension)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebt
secara benar. Orang yang sudah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan.
b. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan dalam mengunakan materi
yang telah dipelajari pada kondisi yang sebenarnya. Aplikasi ini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang nyata.
d. Analisis (analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masalah di dalam satu struktu
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan analisi ini
dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan,
membedakan, dan memisahkan.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemmpuan dalam meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi-
formulasiyang ada.

f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan suatu kemampuan dalam melakukan
justufikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Penilaian-
penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Ariningtyas, 2019).
4. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran dapat dilakukan dengan cara mewawancara untuk
menanyakan tentang isi suatu materi yang diukur dari subjek penelitian atau
responden. Dalam mengukur pengetahuan dapat di perhatikan rumusan kalimat
pertanyaan sesuai tahapan pengetahuan (Notoatmodjo, 2010). Menurut (Arikunto,
2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dengan skala yang bersifat
kuantitatif, antara lain:
a. Baik, bila subjek menjawab benar 76% - 100% seluruh pertanyaan.
b. Cukup, bila subjek menjawab benar 56% - 75% seluruh pertanyaan.
c. Kurang, bila subjek menjawab benar ≤ 55% seluruh pertanyaan.
5. Instrumen pengetahuan
Instrumen pengetahuan yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan
yang di ambil dari Iwan. Uji validitas, instrumen dikatakan valid apabila jika
korelasi lebih besar dan kriteria standar minimal uji validitas yaitu 0,35. Hasil uji
valid penelitian ini dikumpulkan dan diolah menggunakan microsoft excel, dari
hasil pengelolaan yang telah dilakukan menggunakan rumus dengan didapatkan
hasil uji valid kuesioner pengetahuan adalah 10 pertanyaan. Dan pada uji
rehabilitas hasil pengelolaan data menggunakan rumus uji reliable didapatkan
nilai reliable yaitu 0,65.

E. Tinjauan Teoritas Sikap Kesiapsiagaan


1. Definisi sikap kesiapsiagaan
Menurut International Federation Of Red Cross and Crescent socleties
(2017) dalam Sandjaya (2020), sikap kesiapsiagaan adalah suatu tindakan dalam
mempersiapkan diri untuk mengurangi atau menghindari dampak bencana.
Menurut Undang-undang No. 24 Tahun 2007, kesiapsiagaan terdiri dalam
beberapa antara lain:
a. Penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedaruratan bencana.
b. Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dii.
c. Penyediaan dan penyiapan barang pasokan dan pemenuhan kebutuhan dasar.
d. Pengorganisasian penyuluhan,pelatihan, dan gladi tentang mekanisme tanggap
darurat.
e. Penyiapan lokasi evakuasi
f. Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap
darurat bencana.
g. Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan
pemulihan prasarana dan sarana.
Kesiapsiagaan adalah dasar dari sikap antisipasi terhadap suatu peristiwa
yang akan terjadi melalui pelatihan dan sosialisasi terhadap bencana, khususnya di
daerah rawan bencana, dan harus diterapkan secara berkala, sering dan dalam skala
besar.
2. Konsep sikap kesiapsiagaan
Menurut Ningtyas (2015), sikap kesiapsiagaan dilakukan masyarakat dalam
beberapa bentuk kegiatan antara lain:
a. Persiapan penaggulangan dalam darurat bencana
Penanggulangan dalam keadaan darurat merupakan upaya atau tindakan
dilakukan untuk mengatasi keadaan yang menimbulkan kerugian, agar dalam
situasi yang tidak diinginkan dapat segera di [Link] penangulangan
darurat bencana yaitu, tim kerja penanganan situasi kedaruratan, peralatan
tanggap darurat, kesiapsiagaan, pelatihan, komunikasi tim tanggap darurat,
penentuan nomor telepon internal dan eksternal untuk keadaan darurat, peta
evakuasi, dan titik pertemuan di luar lokasi.
b. Dengan pencatatan data dalam inormasi kebencanaan yang akurat
Inormasi yang tepat dan akurat dari adanya data pendukung yang
terstruktur dan mudah di pahami. Informasi dalam penggulangan bencana
dimulai dengan pengumpulan data, analisis hingga informasi yang dilakukan
secara cepat,tepat dan benar dalam penggulangan bencana. Data yang dapat
diperoleh dalam berbagai sumber merupakan landasan dalam memberikan
informasi ke pihak yang membutuhkan.
c. Pengorganisasian dalam sistem peringatan dini
Sistem peringatan dini merupakan tindakan untuk memberikan informasi
kepada masyarakat dalam keadaan kritis, dengan penyampaian informasi
tersebut dalam bentuk sirene agar mudah di pahami oleh masyarakat.
d. Pengorganisasian dalam mekanisme yang tanggap darurat
Tanggap darurat merupakan unit kerja yang dibentuk secara khusus
dalam penggulangan keadaan atau peristiwa darurat di tempat kerja (Ningtyas,
2015)
3. Faktor yang berhubungan dengan kesiapsiagaan
Menurut (Rofifah, 2019), ada beberapa faktor yang berhubunga dengan
kesiapsiagaan terhadap bencana antara lain:
a. Pendidikan
Kelompok masyarakat dengan pendidikan lebih tinggi memiliki tingkat
kesiapsiagaan bencana yang lebih baik.
b. Pendapatan
Kelompok berpenghasilan tinggi lebih siap menghadapi bencana alam
daripada kelompok berpenghasilan rendah.
c. Usia
Penelitian menunjukkan bahwa usia mempengaruhi kerentanan terhadap
bencana.
d. Pengalaman
Kelompok masyarakat yang pernah mengalami bencana cenderung lebih
siap dalam merespon bencana, karena kelompok ini akan mencari informasi
bencana dan bersiap menghadapi bencana di masa mendatang.
e. Ras
Ras cenderung lebih rentan karena tidak siap menghadapi bencana.
4. Parameter kesiapsiagaan terhadap bencana
Adapun parameter kesiapsiagaan terhadap bencana sebagai berikut, yaitu:
a. Kebijakan sekolah/madrasah
Ksebijakan sekolah/madrasah adalah keputusan yang dibuat secara ormal
oleh sekolah tentang hal-hal yang memerlukan bantuan dalam
penyelenggaraan sekolah yang aman secara khusus dan terpadu dari bencana.
b. Perencanaan kesiapsiagaan
Rencana persiapan kesiapsiagaan bertujuan untuk mengintegrasikan dan
mempertimbangkan sistem penanggulangan bencana di daerah dan
menyesuaikannya dengan kondisi wilayah sehingga tindakan dapat di ambil
dengan cepat dan efektif jika terjadi bencana.
c. Mobilisasi sumber daya
Sekolah/madrasah perlu mempersiapkan sumber daya manusia, sarana,
prasarana, dan pengelolaan keuangan untuk menjamin kesiapan
sekolahnya/madrasah sebagai pelaku kepentingan sekolah akan mendasari
adanya mobilisasi pada sumber daya manusia.
5. Instrumen sikap kesiapsiagaan
Instrumen sikap kesiapsiagaan yang digunakan adalah kuesioner sikap
kesiapsiagaan yang di ambil dari Iwan. Uji validitas, instrumen ini dikatakan valid
apabila r hitung lebih besar dari r tabel (0,3061). Hasil uji instrumen sikap
kesiapsiagaan sebanyak 17 pertanyaan. Dan uji rehabilitas hasil pengelolaan data
menggunakan rumus uji reliable Alpha Cronbach dengan hasil yang didapatkan nilai
reliabel 0,70.
F. Kerangka Teori
Bencana merupakan suatu gangguan serius terhadap berfungsinya suatu
komunitas atau masyarakat yang mengakibatkan kerugian dan dampak yang meluas
terhadap manusia, materi, ekonomi dan lingkungan yang melampaui kemampuan
komunitas atau masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasinya dengan sumber
daya mereka sendiri (UNISDR, 2004).
Menurut BNPB (2017) bencana merupakan peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik faktor
alam atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis.
Bencana banjir merupakan fenomena alam yang terjadi karena dipicu oleh
proses alamiah dan aktivitas manusia yang tidak terkendali dalam mengeksploitasi
alam (Prajayanti, 2023). Menurut Khambali dalam bukunya (Manajemen
Penanggulangan Bencana), banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dan
tidak diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga merendam
wilayah - wilayah yang tidak dikehendaki. Banjir bisa juga terjadi karena jebolnya
sistem aliran air yang ada sehingga daerah yang rendah terkena dampak kiriman banjir
Manajemen penanggulangan bencana adalah segala kegiatan yang
dilaksanakan dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap
darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana. Manajemen penanggulangan
bencana dilakukan pada tahapan sebelum bencana, saat terjadinya bencana dan setelah
bencana (Kementerian PUPR, 2017).
Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam hal
untuk mengantisipasi suatu bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah
yang tepat guna dan berdaya guna. Upaya kesiapsiagaan terhadap bencana banjir tidak
hanya dilakukan oleh pemerintah, masyarakat juga perlu melakukan kesiapsiagaan
guna mengurangi kerugian akibat bencana banjir. Kesiapsiagaan dari masyarakat akan
meminimalkan dampak negatif yang muncul dari suatu bencana yang terjadi
(Nababan, 2022). Ada beberapa parameter dari kesiapsiagaan yaitu:
1. Pengetahuan dan sikap terhadap resiko bencana
2. Kebijakan dan panduan
3. Rencana untuk keadaan darurat bencana
4. Sistem peringatan dini bencana
5. Mobilisasi sumber daya (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).

G. Keaslian Penelitian
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapsiagaan Bencana Banjir Di
Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Pura Karawang (Sri Mulyati & Robby
Rohmansyach, 2021)
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan Cross
Sectional dan menggunakan analisa chi-square dengan jumlah populasi 12.664
orang dan sampel yang digunakan sebanyak 100 orang Dari hasil uji statistik
didapatkan p value 0,028 < 0,05 Nilai OR 1,163 berarti bahwa pengetahuan dan
sikap baik akan memiliki resiko 1,163 kali memiliki kesiapsiagaan banjir dengan
kriteria baik. Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dan sikap dengan kesiapsiagaan. Dapat disimpulkan dari
penelitian ini bahwa kelompok Berdasarkan hasil penelitian dengan jumlah
responden 100 orang, menunjukan bahwa responden kesiapsiagaan bencana
banjir baik sebanyak 59 (59.0 %).
2. Faktor–Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesiapsiagaan Banjir Pada
Masyarakat Di Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu (Fernalia,
Pawiliyah & Teti Karlina, 2023)
Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan metode
obsevasional analitik yaitu studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh masyarakat di RT 07 Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu,
yang berjumlah 80 KK. Teknik sampling yang digunakan yaitu teknik total
sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 80 responden, sebanyak 13 orang
(16,3%) berpengetahuan cukup sedangkan 67 orang (83,8%) lainnya
berpengetahuan baik. Dari 80 responden, didapatkan sikap responden (100%)
diketahui responden sikapnya Favourable. Dari 80 responden, sebanyak 22 orang
(27,5%) berjenis kelamin perempuan sedangkan 58 orang (72,5%) lainnya laki-
laki. Dari 80 responden, sebanyak 4 orang (5%) memiliki kesiasiagaan yang
kurang, 35 orang (43,8%) kesiapsiagaan yang cukup, dan 41 orang (51,2%)
kesiapsiagaan yang baik. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan
responden dengan kesiapsiagaan bencana banjir di RT 07 Kecamatan Sungai
Serut Kota Bengkulu. Tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap
responden dengan kesiapsiagaan bencana banjir di RT 07 Kecamatan Sungai
Serut Kota Bengkulu.
3. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Kesiapsiagaan dalam Menghadapi
Bencana Banjir dan Longsor pada Remaja Usia 15-18 tahun di SMA Al-
Hasan Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember (Iman Firmansyah,
Hanny Rasni & Rondhianto, 2014)
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah 183 siswa SMA
Al-Hasan dengan 125 siswa sebagai sampel. Teknik sampel yang digunakan yaitu
simple random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi pearson product
moment dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan ada
hubungan pengetahuan dengan perilaku kesiapsiagaan dalam menghadapa
bencana banjir dan longsor pada remaja usia 15-18 tahun di SMA Al-Hasan
Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember. (P value = 0,000, α = 0,05).
Pengetahuan dan perilaku kesiapsiagaan memiliki arah hubungan yang positif
(r=0,531), artinya semakin tinggi pengetahuan maka perilaku kesiapsiagaannya
juga akan meningkat. Perawat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan
masyarakat melalui promosi kesehatan seperti pendidikan kesehatan dan simulasi
bencana.

H. Kerangka Teori

Bencana Alam

Bencana Bencana Non alam Bencana Banjir

Bencana Sosial

Manajemen Bencana

Pra bencana
Saat bencana Pasca bencana
Mitigasi
Rehabilitasi
Penanggulangan bencana
Peringatan dini

Kesiapsiagaan Rekonstruksi

Anda mungkin juga menyukai