0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan4 halaman

ESSAI

Dokumen ini membahas eskalasi risiko lembaga keuangan non-bank dibandingkan perbankan, terutama dalam konteks perkembangan teknologi keuangan (FinTech). Meskipun FinTech menawarkan kemudahan dan aksesibilitas, risiko seperti kurangnya perlindungan konsumen, ketergantungan pada teknologi, dan potensi penipuan menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang ketat dan kepastian hukum untuk melindungi nasabah dari kerugian yang mungkin terjadi.

Diunggah oleh

novanarif1402
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan4 halaman

ESSAI

Dokumen ini membahas eskalasi risiko lembaga keuangan non-bank dibandingkan perbankan, terutama dalam konteks perkembangan teknologi keuangan (FinTech). Meskipun FinTech menawarkan kemudahan dan aksesibilitas, risiko seperti kurangnya perlindungan konsumen, ketergantungan pada teknologi, dan potensi penipuan menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang ketat dan kepastian hukum untuk melindungi nasabah dari kerugian yang mungkin terjadi.

Diunggah oleh

novanarif1402
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ESKALASI RISIKO TERHADAP LEMBAGA KEUANGAN NON-BANK

DIBANDING PERBANKAN
Ahmad Dendy1 , Elsa Maulina2 , Najwa Amelia3 , Herliana Dewi4 , Sella Nur5 , Novan
Arif6
Politeknik Negeri Jember
E-mail: i41240750@[Link], i41240890@[Link],
i41241121@[Link], i41241251@[Link],
i41241300@[Link], i41240981@[Link]

Abstrak
Pesatnya perkembangan financial technology (FinTech) di era digital banyak kolaborasi
inovasi yang modern pada saat ini. FinTech pada saat ini meluas dan merabah bidang
keuangan dan perekonomian terutama aktivitas yang berkaitan dengan perbankan. FinTech
ini memiliki risiko bahwa tidak semua perusahaan Fintech dapat memberikan pelayanan
maksimal bagi nasabah yang menggunakan. Besar kemungkinan yang terjadi seperti
kurangnya perlindungan dan jika terjadi transaksi tanpa otoritas atau kehilangan dana pada
dompet digital maka kepada siapa nasabah menuntut pengembalian dana karena tidak
terdeteksi yang disebabkan karena tidak adanya kantor resmi sehingga dapat memunculkan
kerugian bagi nasabah. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya kepastian hukum dan
pihak yang bertanggung jawab.
Abstract
The rapid development of financial technology (FinTech) in the digital era has led to
numerous modern and innovative collaborations. Currently, FinTech has expanded
extensively into the financial and economic sectors, particularly in activities related to
banking. However, FinTech also carries certain risks, as not all FinTech companies are able to
provide optimal services to their customers. Potential issues include inadequate consumer
protection and problems arising from unauthorized transactions or the loss of funds in digital
wallets. In such cases, customers may face difficulties in claiming refunds due to the lack of
clear accountability, especially when the company does not have an official physical office.
This situation can result in financial losses for customers. Therefore, legal certainty and
clearly defined responsible parties are necessary to protect consumers.
Dahulu, wajah ekonomi di negara-negara berkembang seperti Nigeria sangat bergantung pada
kehadiran fisik dan interaksi tatap muka. Masyarakat harus menempuh perjalanan jauh dan
menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean yang melelahkan hanya untuk melakukan
transaksi perbankan dasar. Sistem tradisional ini menciptakan tekanan yang intensif bagi
nasabah dan membatasi akses keuangan hanya bagi mereka yang mampu menjangkau gedung
bank. Namun, pasca krisis keuangan global tahun 2008, munculnya teknologi keuangan atau
Fintech menjadi titik balik luar biasa yang mengubah wajah perbankan menjadi lebih
inklusif.
Saat ini, Fintech telah mendemokratisasi layanan keuangan dengan memindahkan loket bank
ke dalam genggaman ponsel pintar. Kehadiran inovasi seperti ATM, terminal Point-of-Sale
(POS), internet banking, hingga Mobile Money telah memungkinkan masyarakat, bahkan
mereka yang sebelumnya tidak terjamah bank (unbanked), untuk berbelanja dan bertransaksi
dari kenyamanan rumah. Meskipun tantangan seperti masalah jaringan, risiko penipuan, dan
resistensi di pasar tradisional serta transportasi umum masih membayangi, kehadiran
masyarakat tanpa uang tunai (cashless society) di Nigeria telah memberikan dorongan besar
bagi efisiensi ekonomi dan kenyamanan hidup masyarakatnya.
Teknologi keuangan (financial technology atau FinTech) telah mengalami perkembangan
yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan munculnya berbagai solusi
inovatif seperti Google Pay. Layanan ini merupakan sistem pembayaran peer-to-peer yang
memungkinkan pengguna untuk mengirim dan menerima uang secara gratis melalui telepon
pintar maupun computer (Al Kasasbeh et al., 2023). Mekanisme kerja fintech pada dasarnya
memanfaatkan integrasi teknologi digital untuk menyederhanakan, mempercepat, dan
meningkatkan efisiensi layanan keuangan. Dalam praktiknya FinTech telah mengubah sistem
pembayaran masyarakat dan membantu perusahaan-perusahaan Di Indonesia, FinTech telah
merambah ke berbagai sektor, termasuk asuransi (Nugroho & Kurniawan, 2024). Inovasi
dalam pembayaran digital mendorong munculnya berbagai aspek mekanisme dalam
mengintegrasi sistem pembayaran elektronik. Namun, integrasi ini juga membawa
keterlibatan terhadap kompleksitas sistem transaksi, khususnya terkait pengelolaan risiko
operasional, keamanan data, dan perlindungan konsumen. Dalam konteks lembaga nonbank,
perkembangan tersebut menuntut pengawasan dan tata kelola yang memadai agar potensi
risiko yang timbul tidak berdampak negatif terhadap stabilitas sistem keuangan. Dampak
fintech melampaui pemberian layanan, mempengaruhi stabilitas keuangan global, inklusi, dan
ekonomi (Al Kasasbeh et al., 2023). Di dunia industri asuransi, teknologi keuangan atau
FinTech telah mengubah total bagaimana perusahaan asuransi menjalankan bisnisnya, mulai
dari cara menilai risiko, menetapkan premi, hingga menangani klaim. Selain itu, dampak
aturan-aturan juga menjadi hal krusial yang perlu diperhatikan dalam proses perubahan besar
di sektor asuransi yang dipicu oleh FinTech (Nugroho & Kurniawan, 2024). Bank Indonesia
yang bertugas sebagai lembaga pengatur moneter di tanah air telah mengambil langkah maju
untuk memastikan keamanan dan kelancaran sistem pembayaran dengan cara mengatur serta
mengawasi perkembangan FinTech.
Jenis-Jenis FinTech (Sella)
Layanan Fintech di Indonesia mencakup berbagai model seperti Crowdfunding atau
penggalangan dana yang sedang populer, serta Microfinancing yang menyediakan layanan
keuangan bagi masyarakat menengah ke bawah yang tidak memiliki akses perbankan agar
bisa memperoleh modal usaha, seperti yang dilakukan oleh startup Amartha yang
menghubungkan pengusaha mikro pedesaan dengan pemodal secara daring. Selain itu,
terdapat model Peer-to-Peer (P2P) Lending Service yang memudahkan masyarakat
meminjam uang tanpa proses berbelit seperti di bank konvensional, dengan contoh
perusahaan seperti AwanTunai yang menyediakan fasilitas cicilan digital, serta platform
Market Provisioning atau Aggregator seperti Cekaja, Cermati, dan KreditGogo yang
berfungsi mengumpulkan informasi pasar agar konsumen dapat membandingkan harga, fitur,
dan manfaat produk keuangan.
Jenis Fintech lainnya adalah Digital Payment System yang melayani pembayaran berbagai
tagihan seperti pulsa, kartu kredit, atau listrik, salah satunya adalah Payfazz yang membantu
masyarakat tanpa akses bank untuk melakukan transaksi bulanan. Dalam kategori Payment,
Clearing, dan Settlement, terdapat layanan dompet elektronik atau uang digital baik dari
perbankan maupun lembaga non-bank seperti Doku, Sakuku BCA, T-cash, Go-pay, dan Ovo.
Terdapat pula layanan Manajemen Risiko dan Investasi yang menyediakan perangkat lunak
robo advisor untuk perencanaan keuangan dan platform perdagangan daring, serta layanan
Lending and Capital Raising seperti Modalku, Investree, Akseleran, dan UangTeman yang
mempertemukan investor dengan pencari pinjaman dalam satu platform.
Meskipun menawarkan kemudahan, layanan Fintech ini memiliki risiko tertentu
dibandingkan bank konvensional, di mana biaya bunga pinjaman yang ditawarkan Fintech
cenderung lebih tinggi daripada bunga keuangan tradisional. Selain itu, karena sangat
bergantung pada teknologi dan internet, Fintech memiliki risiko keamanan data dan transaksi
yang lebih besar serta potensi penipuan yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional.

Kekurangan FinTech (Elin)


Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Financial Technology (Fintech) membawa
angin segar bagi Masyarakat, tetapi jika kita bisa memberi pertanyaan bahwa bagian
permasalahannya jauh lebih kompleks dan berisiko dibanding bank konvensional. Salah satu
produk yang dikeluarkan adalah produk penggalangan dana yang memungut bunga dalam
jumlah besar. Hal yang menentukan adalah jumlah produk penggalangan dana yang tidak
memiliki izin jelas dan tidak tercatat pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga bisa
dikatakan melanggar hukum. Banyak pemberitaan yang menyebutkan bahwa sejumlah pihak
mengalami kerugian akibat penyelewengan dana nasabah yang dilakukan oleh sejumlah
Perusahaan fintech yang tidak memberikan kerugian tersebut justru menyebabkan kerugian
kehilangan dana yang sudah diinvestasikan tersebut.
Dari sisi operasional, fintech sebagai lembaga non-bank juga punya kelemahan mendasar.
Perusahaan fintech sebenarnya memberikan kemudahan investasi bagi masyarakat di mana
saja dan kapan saja. Akan tetapi, sejumlah Perusahaan fintech justru memiliki usaha dengan
tingkat yang tinggi, tidak memiliki risiko arah, dan bahkan ilegal. Bahkan, ada banyak
perusahaan fintech yang belum memiliki kantor fisik, dan kurangnya pengalaman dalam
menjalankan prosedur terkait sistem keamanan. Hal ini jelas bikin posisi nasabah jadi lemah
kalau sewaktu-waktu ada masalah teknis atau sengketa keuangan. Oleh karena itu, pihak
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berusaha berperan dalam melindungi para masyarakat dan
mengimbau untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan berbagai kemudahan yang
ditawarkan oleh sejumlah perusahaan fintech. OJK menghimbau masyarakat agar jangan
mudah tergiur dan langsung percaya terhadap tawaran dari perusahaan fintech yang belum
jelas legalitasnya
Masalah lainnya adalah ketergantungan yang terlalu tinggi dengan internet. Karena fintech
berbasis digital, jika ada gangguan jaringan, transaksi keuangan bisa langsung cacat, dan hal
ini tentu akan berimbas buruk pada perekonomian. Selain itu, kemudahan aksesnya malah
jadi bumerang buat perilaku manajemen keuangan masyarakat. Banyak orang jadi hobi
menumpuk aplikasi fintech di HP, yang bukannya bikin rapi malah rawan meningkatkan stres
seseorang ketika harus dikejar oleh ketakutan pembayaran tagihan di sejumlah aplikasi. Jadi,
dibalik kepraktisannya, fintech punya tumpukan masalah serius mulai dari risiko investasi
bodong, keamanan sistem yang belum matang, sampai tekanan mental buat penggunanya.

Resiko Finance Technology (elsa)


lembaga keuangan non- perbankan secara struktural menghadapi risiko yang lebih besar
dibandingkan perbankan. Ketergantungan tinggi pada teknologi digital, minimnya kesiapan
keamanan siber, serta pengawasan regulasi yang relatif longgar menjadikan lembaga non-
bank lebih rentan terhadap gangguan operasional. Sebaliknya, sektor perbankan telah
memiliki kerangka manajemen risiko yang mapan, sistem digital yang lebih aman, serta
pengawasan regulator yang ketat, sehingga mampu mengendalikan dan memitigasi risiko
secara lebih efektif. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa lembaga keuangan non-
perbankan berada pada tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan perbankan di era digital.
Terdapat beberapa tantangan dan ancaman dalam pengelolaan risiko bagi lembaga keuangan
di era digital ini, salah satunya adalah kemajuan teknologi. Kemajuan yang mendukung
lembaga keuangan seperti perbankan syariah ini juga menimbulkan tantangan akibat
perubahan perilaku nasabah. Tantangan signifikan lain yang dihadapi perbankan saat ini
adalah munculnya perusahaan fintech (Ma, 2024). Secara umum, lembaga keuangan dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu bank dan nonbank. Perbedaan utama antara kedua
kategori ini terletak pada cara penghimpunan dana (Mata, 2023). Bank dapat menghimpun
dana dari masyarakat secara langsung maupun tidak langsung, sedangkan lembaga keuangan
nonbank hanya dapat menghimpun dana secara tidak langsung. Terkait penyaluran dana,
tidak ada pembedaan yang tegas; bank dapat mengalokasikan dana untuk keperluan modal
kerja atau investasi. Hal ini tidak berarti bahwa lembaga keuangan nonbank dilarang
menyediakan dana untuk keperluan modal kerja atau konsumsi (Wiwoho, 2014). Selain itu,
terdapat phone banking, SMS banking, dan mobile banking (Al-Waaeli, 2021). Dalam
konteks ini, perbankan dapat bekerja sama dengan operator jaringan seluler untuk
mengintegrasikan kartu SIM dan teknologi GSM dengan program khusus untuk operasional
perbankan, sehingga transaksi menjadi jauh lebih mudah, praktis, dan aman bagi setiap orang.

Anda mungkin juga menyukai