0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan14 halaman

Program Inklusi BK

Dokumen ini adalah Program Kerja Sekolah Inklusi SMP Darul Ulum untuk tahun 2025, yang bertujuan untuk menyediakan pendidikan inklusif bagi semua siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus. Program ini mencakup berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi kepada orang tua hingga pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) untuk mendukung siswa inklusi. Diharapkan program ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua siswa.

Diunggah oleh

sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan14 halaman

Program Inklusi BK

Dokumen ini adalah Program Kerja Sekolah Inklusi SMP Darul Ulum untuk tahun 2025, yang bertujuan untuk menyediakan pendidikan inklusif bagi semua siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus. Program ini mencakup berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi kepada orang tua hingga pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) untuk mendukung siswa inklusi. Diharapkan program ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua siswa.

Diunggah oleh

sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM KERJA SEKOLAH INKLUSI

SMP DARUL ULUM


TAHUN 2025

YAYASAN DARUL ULUM ALANWARIYAH


TERAKREDITASI “B”

Jl. H. Suhaemi Parung Tengah No. 09 Rt. 02/03 No. 09 Kel. Duren Mekar
Kec. Bojongsari Kota Depok 16518
Telp. (0251)8613298
LEMBAR PENGESAHAN

PROGRAM KERJA SEKOLAH INKLUSI

SMP DARUL ULUM

TAHUN PELAJARAN 2025

Kepala Sekolah Waka Kurikulum

Hj. Baidillah Zalillah, S. Ag M. Fadillah, S. Si


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, kami ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat atas
segala rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehinga kami dapat menyusun Program Kerja Sekolah
Inklusi Tahun 2025 SMP Darul Ulum. Program kerja ini kami susun sebagai bentuk komitmen
kami dalam melaksanakan Sekolah Ramah Anak. Penyusunan program kerja ini dijadikan sebagai
pedoman dalam pelaksanaan Sekolah Ramah Anak yang tertib dan teratur serta bertujuan
menjadikan SMP Darul Ulum dapat lebih baik dalam melaksanakan Sekolah Inklusi.

Untuk mewujudkan semua itu kami mengharapkan dukungan dari semua pihak baik dari
kepala sekolah, dewan guru, karyawan, komite sekolah, orang tua, peserta didik, dan semua
stakeholder yang ada di SMP Darul Ulum. Kami menyadari program kerja ini masih banyak
kelemahan dan kekuangan. Hal ini dikarenakan kemampuan kami yang masih minim. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna perbaiakn di masa
mendatang.

Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu
dalam mensukseskan jalannya program kerja ini.

Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia, pada umumnya ada
beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi, diantaranya adalah pendidikan inklusi
merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan
meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk ber-
partisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisaa terkait dengan masalah
kurang mampu mendengar, melihat dengan jelas, kemiskinan, cacat fisik, dan lain-lain.
Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan
kesempatan kepada semua anak belajar bersama-sama di sekolah umumm dengan
memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual, sehingga potensi anak dapat
berkembang secara optimal. Semangat pendidikan inklusif adalah memberi akses yang
seluas-luasnya kepada semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk
memperoleh pendidikan yang bermutu dan memberikan layanan pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhannya.
Meski sampai saat ini sekolah inklusi masih terus melakukan perbaikan di berbagai
aspek, namun dilihat dari sisi idealnya sekolah dengan dan tanpa berkebutuhan khusus.
Lingkungan yang tercipta sangat mendukung terhadap anak inklusi, mereka dapat belajar
dan berinteraksi dengan spontan terhadap teman-teman sebayanya terutama dari aspek
sosial dan emosional. Sedangkan bagi anak-anak yang regular meberi peluang kepada
mereka untuk belajar berempati, bersikap membantu dan memiliki kepedulian terhadap
sesama siswa.
Sekolah inklusi regular yang mengkoordinasikan dan mengintegrasikan siswa
regular, anak inklusi dalam program yang sama untuk menyampaikan pendidikan anak-
anak inklusi sangatlah penting. Karena pendidikan inklusi mulai merealisasi perubahan
keyakinan siswa bahwa inklusi memiliki rasa tenang, percaya diri, merasa dihargai,
dilindungi, disayangi, bahagia dan merasa bertanggung jawab. Sekolah yang
melaksanakan pendidikan inklusi berkeyakinan bahwa hidup dan belajar bersama adalah
cara hidup (way of life) yang terbaik, yang menguntungkan setiap individu siswa. Dengan
demikian sekolah atau pendidik menjadi lingkungan belajar yang ramah anak.
Maka dari itu perlu dibuat panduan baku tentang layanan siswa inklusi yang akan
dijadikan dasar dalam melayani siswa inklusi. Panduan butu tersebut tertuang dalam
standar operasional prosedur (SOP) sekolah inklusi SMP Darul Ulum
B. Dasar Hukum
Ada pertimbangan hukum yang menjadi dasar standar operasional prosedur (SOP)
sekolah inklusi SMP Darul Ulum, sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Lembaran Negara Repubik Indonesia Tahun 2023 Nomor 78, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4301)
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4496)
3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105)
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sarana dan
Prasarana
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan
Inklusi bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan
dan/atau Bakat Istimewa
8. Undang-undang Nomor 4 tentang Anak Berkebuthan Khusus Tahun 1997

C. Tujuan Kegiatan
Program kegiatan pendidikan inklusi ini disusun dengan tujuan sebagai berikut
yaitu:
1. Menjadi acuan dalam implementasi penyelenggaraan pendidikan inklusi
2. Menjadi acuan semua pihak dalam pemerataan pendidikan ABK, khususnya dalam
rangka penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar
3. Menjadi acuan masyarakat dalam memahami komsep dan implementasi
penyelenggaraan pendidikan inklusi yang sesuai dengan filosofi dan nilai-nilai positif
yang tercangkup dalam pendidikan inklusif
4. Menjadi rambu-rambu dan acuan bagi sekolah-sekolah yang akan menyelenggarakan
pendidikan inkluis agar tidak menyimpang dari kriteria yang ditetapkan sehingga
dapat dipertanggungjawabkan kepada setiap pemangku kepentingan
5. Menjadi bahan rujukan bagi pihak-pihak terkait dalam melakukan monitoring dan
evaluasi, serta terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif
6. Menjadi acuan dalam pelaksanaan program penjamin mutu dalam penyelenggaraan
inklusif

D. Manfaat Kegiatan
Manfaat yang diperoleh dari pendidikan inklusi yaitu:
1. Bagi siswa yaitu dapat menumbuhkan rasa toleransi terhadap sesama, mendorong
pemahaman bahwa perbedaan itu wajar dan cara menghargai perbedaan tersebut,
mengurangi sikap diskriminatif terhadap golongan tertentu., melatih individu untuk
berpikiran terbuka (open minded), mengajarkan untuk menghormati orang lain
meskipun mereka memiliki kekurangan atau perbedaan.
2. Bagi anak berkebutuhan khusus, anak dapat mengikuti pelajaran dengan Susana
kooperatif, bisa mengembangkan sikap toleransi karena berteman dengan teman yang
kondisinya sehat , interaksi sosial antara teman-teman sebayanya jadi lebih mudah,
merasa lebih percaya diri karena diterima dan terlibat dengan berbagai kegiatan di
kelas, hasil akademik mungkin akan lebih baik.
3. Bagi Guru : Mengembangkan keterampilan dalam mengajar peserta didik dengan latar
belakang yang beragam.,mengatasi tantangan dalam membimbing dan melayani
peserta didik secara efektif, menunjukkan sikap positif terhadap peserta didik, orang
tua, dan masyarakat dalam segala situasi, menggali dan mengembangkan gagasan
melalui komunikasi proaktif, kreatif, dan kritis dengan peserta didik.
4. Bagi Orang Tua : Memastikan bahwa anak dan semua peserta didik menerima
pendidikan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing, Orang tua dapat
berkoordinasi langsung dengan guru, wali kelas dan guru BK tentang perkembangan
anaknya

E. Sasaran Kegiatan
Sasaran Program ini adalah seluruh warga sekolah khususnya siswa yang
berkebutuhan khusus yang berada di lingkungan SMP Darul Ulum. Kegiatan pelaksanaan
program Inklusi diadakan setiap saat sesuai jadwal yang telah ditentukan meliputi 3
Tahapan yaitu :
1. sosialisasi kepada orang tua siswa , dilakukan dengan cara memberikan informasi
kepada orang tua tentang pelaksanaan program inklusi di SMP Darul Ulum
2. Pendataan , dilaksanakan selama proses PPDB melalui jalur Afirmasi terdiri dari Anak
Kurang mampu dan anak yang berkebutuhan khusus.
3. Pelaksanaan kegiatan yang sifatnya insidental.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sekolah Inklusi SMP Darul Ulum


Anak berkebutuhan Khusus sebenarnya dapat berinteraksi dengan baik , hanya saja
mereka termasuk dalam golongan slow. Slow learner adalah seorang anak yang
memiliki potensi kecerdasan yang terbatas, akibatnya proses belajarnya berjalan
lambat . Namun, mereka perlu diberikan perhatian lebih dan kesabaran lebih dalam proses
belajar. Meskipun begitu ABK tetap bisa berinteraksi dengan baik terhadap teman-
teman yang lain. Murid normal berupaya menghapuskan adanya perbedaan, menolong
dan menghormati ABK ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung dan selalu
menerima respon balik dari ABK yang membuat komunikasi antara murid normal
dengan ABK dalam proses pembelajaran terjalin dengan baik, tidak hanya di dalam
kelas namun juga di luar kelas dan di luar lingkungan sekolah. Oleh karena itu, dapat
dinyatakan bahwa terdapat kualitas hubungan persahabatan yang baik antara anak
berkebutuhan khusus dan teman sebayanya.
Peran dari teman sebaya akan mempengaruhi kenyamanan dan keamanan anak
dengan kebutuhan khusus saat menempuh pendidikan. Teman sebayanya dalam hal ini
dapat memberikan dukungan sosial berupa penerimaan terhadap anak berkebutuhan
khusus bahkan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.
Selain itu dukungan sosial yang baik dari teman sebaya juga akan mengurangi stres sosial
yang dialami anak berkebutuhan [Link] sebaya pada hal ini juga berperan dalam
kegiatan pembelajaran. Teman sebaya ini dapat membantu anak berkebutuhan khusus di
kelas selama pembelajaran, bahkan guru dapat membentuk kelompok-kelompok kecil
untuk berdiskusi bersama.
Proses Pendidikan Inklusi di SMP Purnama Depok tentu mempunyai Standar
Operasional Prosedur (SOP) , Penerapan pelaksanaan SOP dengan aktivitas sebagai
berikut :
1. Pendataan awal siswa inklusi melalui sosialisasi melalui Panitia PPDB
2. Hasil dari data awal direkap oleh guru BK
3. Penyaringan siswa inklusi melalui Tes Diagnostik
4. Setelah pembagian kelas baru , wali dan guru pelajaran mendata siswa inklusi
5. Guru BK menerima pengajuan siswa inklusi dari wali dan guru mata pelajaran
6. Guru BK mengajukan surat permohonan untuk menghadirkan GPK dan orang tua
siswa kepada Kepala Sekolah
7. Guru BK memaparkan siswa inklusi perkelas
8. Pelaksanaan bimbingan inklusi
9. Laporan kegiatan SOP Inklusi
B. Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP)
Untuk lebih jelasnya alur dari pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP)
sekolah inklusi di SMP Purnama dapat dilihat pada bagan di bawahi ini:
Pelaksanaan
Aktivitas Guru Wak Kep Ket
Siswa Guru Wali Persyaratan Waktu
BK asek sek .
Pendataan awal siswa Kunjungan ke 2 minggu
inklusi melalui panitia SMP Darul Ulum
PPDB
Hasil dari data awal Rekapan awal 1 minggu
direkap oleh guru BK sosialisasi
Penyaringan siswa Data dari wakasek 1 minggu
inklusi melalui tes kurikulum
diagnostik
Setelah pembagian Pendataan wali 2 minggu
kelas baru, wali dan dan guru mata
guru pelajaran mendata Pelajaran
siswa inklusi
Guru BK menerima Guru BK, Wali, 1 minggu
pengajuan siswa inklusi dan Guru mata
dari wali dan guru mata Pelajaran
Pelajaran
Guru BK melaksanakan Wawancara tes 2 minggu
wawancara tes tuna tuna grahita
grahita terhadap siswa
inklusi
Guru BK mengajukan Surat ke GPK dan 4 minggu
surat permohonan untuk orang tua siswa
menghadirkan GPK dan
orang tua siswa kepada
kepala sekolah
Guru BK memaparkan Rapat dewan guru 1 minggu
siswa inklusi perkelas
Pelaksanaan bimbingan Guru BK ke Berkelan
inklusi Kepala sekolah jutan
Laporan kegiatan SOP Guru BK ke Tengah
inklusi Kepala sekolah semester
dan akhir
semester
C. Tugas
Berkaitan dengan pencapaian tujuan yang ada, tentunya dalam penyelenggaraan
sekolah inklusi dibutuhkan tenaga pendidik sebagai upaya pelaksanaan pembelajaran,
karna tugas guru bukanlah mendiagnosa kondisi anak namun menyediakan pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik berdasarkan asesmen pembelajaran. Apabila
hasil identifikasi menunjukan bahwa peserta didik terlihat memiliki kebutuhan khusus,
maka dapat memberi rujukan untuk dilakukan asesmen formal lanjutan kepada tenaga ahli.
Sebagai sekolah yang melaksanakan pendidikan Inklusi, tentunya ada fasilitator yang
biasa dikenal dengan Guru Pembimbing Khusus (GPK). Namun Keberadaan GPK di SMP
Darul Ulum belum ada, untuk itu sebagai sekolah inklusi, sangat dibutuhkan kolaborasi
dan dukungan dengan berbagai pihak sesuai dengan kebutuhan ABK , agar kegiatan
pembelajaran berjalan dengan baik , dalam pelaksanaan kegiatan ini SMP Darul Ulum
berkolaborasi dengan berbagai pihak yaitu :
1. Teman Sebaya : dapat mendukung perkembangan sosio emosional peserta didik dan
dapat membangun interaktif ABK .
2. OSIS : peran osis sebagai organisasi peserta didik intra sekolah dapat melibatkan
partisipasi aktif peran ABK
3. Guru : dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan terdapat fasilitator lain yang
keberadaannya untuk memberikan layanan bagi peserta didik. Yaitu Bimbingan dan
Konseling, Bimbingan konseling hadir sebagai pemberi layanan bantuan yang
diberikan kepada siswa baik penanganan secara preventif maupun kuratif. Guru BK
ada bukan sebagai polisi sebagaimana banyak label yang diberikan. Guru BK hadir
untuk memberi bantuan kepada siswa baik dalam menemukan, memaksimalkan
potensi yang dimiliki, hingga penanganan terkait permasalahan yang dialami sehingga
mengganggu proses pembelajaran setiap harinya.
4. Orang Tua : sebagai pendamping serta penguatan psikologi siswa ABK
5. Tim Pencegahan Penanganan Kekerasaan (TPPK ) SMP Darul Ulum
6. Bekerjasama dengan Puskesmas Baktijaya dalam kegiatan :
a. Skrining Kesehatan jiwa setiap Tahun ajaran Baru
b. Sosialisasi tentang anti bullying
c. Sosialisasi Kesehatan jiwa
d. Penjaringan siswa
e. Penyuluhan DBD ( Demam berdarah dengue )
f. Pemeriksaan PTM ( Pencegahan penyakit tidak menular ) dan hemoglobin pada
remaja putri
g. Rujukan dan Konseling
7. Dinas Kesehatan Kota Depok membentuk komunitas ´Teman Baik ´dari siswa untuk
siswa dengan tujuan menghindari adanya kasus bullying dan kekerasan .
8. Dinas Pendidikan Kota Depok mengadakan monev atau kunjungan kepada siswa
inklusi .
9. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Berencana sosialisasi tentang Sekolah Ramah Anak
10. Kepolisian tentang Kenakalan Remaja
11. Dinas Sosial Kota Depok
12. Unit Layanan Disabilitas ( ULD )
Plus-minus menyekolahkan anak berkebutuhan khusus di sekolah Reguler juga
harus dipahami oleh orang tua dan guru, agar tercipta dinamika kelas yang positif. Dengan
memiliki siswa yang lebih beragam, maka keterampilan guru-guru dalam mengelola siswa
akan bertambah, sehingga sekolah akan punya nilai tambah, dan layak direkomendasikan.
Hal ini tentu merupakan keuntungan tersendiri bagi pihak sekolah. Warga sekolah juga
diharapkan tumbuh empatinya, sehingga tercipta kondisi sekolah yang nyaman dan
kondusif.
Guru merupakan pendamping penting di sekolah namun guru harus mengetahui
bahwa pendidikan yang utama didapatkan oleh anak berasal dari lingkungan keluarganya
yaitu dirumah, sehingga perlu adanya kolaborasi dan kerjasama antara pihak sekolah
(guru) dan orangtua untuk menciptakan pembelajaran yang diharapkan dalam mengatasi
anak yang berkebutuhan khusus, tujuannya agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan
sehingga sama-sama mampu mengetahui perkembangan potensi yang dimiliki oleh anak
yang berkebutuhan khusus. Guru dan orang tua harus ada hubungan yang teratur, dan
terjalin hubungan kerjasama dan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru baik.
Di sisi lain, siswa berkebutuhan khusus juga mendapatkan kemudahan pada sisi
psikologisnya. Secara psikis, bersekolah di sekolah reguler bisa menumbuhkan rasa
percaya diri anak, karena ia merasa diterima di tengah masyarakat. Sedikit banyak, hal ini
akan memotivasi anak untuk meningkatkan life skills-nya agar bisa memangkas jarak
dengan teman-temannya yang lain. Namun perlu diperhatikan juga, bahwa siswa inklusi
di sekolah umum rentan mengalami perundungan dari teman-temannya, karena mereka
menganggap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sebagai sasaran empuk untuk diusili,
dicela, atau dijadikan bahan ejekan. Terlebih jika ABK tidak berdaya untuk melawan atau
membalas.
Adapun kelebihan dari sekolah inklusif adalah:
1. Memaksimalkan dan Mengoptimalisasikan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus
Sekolah inklusi akan mengedepankan prinsip personalisasi dan kompetensi sehingga
kurikulum dan moda belajar disesuaikan dengan kebutuhan belajar anak.
2. Mengasah dan Mengoptimalkan Pengembangan Diri Anak-Anak Berkebutuhan
Khusus di Bidang Non-Akademis
Di sekolah inklusi, anak-anak berkebutuhan khusus akan memperoleh program dan
pendampingan pengembangan diri (non-akademis) seperti membangun kemandirian,
pengenalan diri sendiri, serta meregulasi emosi.
3. Merasakan Proses Pendidikan dan Interaksi yang Nyaman dan Aman
Dalam mengembangkan proses pengembangan diri anak berkebutuhan khusus secara
utuh, sekolah inklusi akan mempersiapkan dan menciptakan lingkungan yang aman
dan nyaman bagi anak-anak berkebutuhan khusus menikmati proses belajar dan
berinteraksinya bersama dengan murid-murid lainnya.
Hasil dari praktik baik ini adalah adanya Sistem dan Tanggung Jawab terhadap
pendidikan inklusi . Prinsip sistem pendidikan inklusif ada di dalam sistem sekolah umum,
di mana pelaksanaan pendidikan, pengelolaan kelas dapat menjamin peningkatan
pendidikan dan akses untuk semua peserta didik. Sementara itu, tanggung jawab
pendidikan inklusif, yaitu guru wali kelas, guru bidang studi, serta guru pembimbing
khusus yang memiliki tanggung jawab penuh pada kelangsungan proses belajar peserta
didik berkebutuhan khusus. Untuk itulah SMP Purnama Depok sebagai sekolah inklusif
perlu membuat SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam melaksanakan dan
mengetahui perkembangan peserta didik.

D. Tantangan
Sekolah inklusi juga memiliki sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar dapat
menyediakan pendidikan yang memadai bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Tak
terkecuali dengan SMP Darul Ulum Selain itu, masih ada kendala dalam penyelenggaraan
pendidikan inklusif di sekolah, seperti :
1. Belum tersedia Guru pendamping yang memiliki pelatihan khusus dalam
mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus ( GPK )
2. Kurangnya pemahaman dari sebagian guru dan staf sekolah mengenai strategi
3. Pengajaran dan pembimbingan yang efektif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
4. Potensi penolakan dari orang tua atau siswa reguler untuk berinteraksi dengan siswa
berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah.
5. Risiko bullying atau perundungan dari siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan
khusus juga menjadi masalah yang perlu diatasi.
6. Fasilitas pendukung pembelajaran seperti Kursi roda , dan WC khusus yang sesuai
untuk anak-anak berkebutuhan khusus seringkali tidak memadai, sehingga
menyulitkan proses belajar mereka
Meskipun demikian, sekolah inklusi tetap menjadi pilihan yang baik bagi anak-
anak dengan kebutuhan khusus agar mereka dapat belajar, tumbuh, dan berkembang
dengan baik. Penting juga bagi orangtua untuk tetap mendampingi anak-anak dalam proses
belajar di rumah sebagai dukungan tambahan.
Solusi yang dilakukan di SMP Darul Ulum untuk menyelesaikan tantangan yang
dihadapi dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan inklusi adalah bekerjasama
dengan guru, orang tua serta dengan peserta didik selaku teman sebaya dari ABK . dengan
tidak tersedianya GPK sebagai guru pendamping khusus, maka guru BK sebagai
pengganti untuk memberi layanan bantuan yang diberikan kepada siswa baik penanganan
secara preventif maupun kuratif. Guru mata pelajaran memberikan pelajaran yang sama
kepada semua siswa, terkecuali dengan siswa yang masih terlambat dalam mengikuti
pelajaran akan diberikan perhatian khusus dengan sabar dan tanggung jawab. Sedangkan
wali kelas selalu menjalin kerjasama dengan orang tua siswa untuk melaporkan
perkembangan ABK. Sejauh ini penolakan dari siswa maupun dari orang tua terhadap
sekolah inklusi di SMP Darul Ulum tidak ditemukan bahkan siswa sangat toleran,
berempati dan merangkul untuk menumbuhkan rasa percaya diri dari siswa ABK. Untuk
menghindari terjadinya bullying dan tindak kekerasan sekolah membentuk TIM PPK dari
guru, Duta Siaga dari Siswa serta kolaborasi dengan seluruh stakeholder sekolah demi
terciptanya sekolah yang nyaman bagi seluruh siswa.
Tujuan dari pendidikan inklusi untuk penuntasan program wajib belajar pendidikan
dasar, menjadi rambu-rambu dan acuan bagi sekolah sebagai penyelenggara pendidikan
inklusi agar tidak menyimpang dari kriteria yang ditetapkan sehingga dapat dipertanggung
jawabkan kepada setiap pemangku kepentingan, menjadi bahan rujukan bagi pihak-pihak
terkait dalam melakukan monitoring dan evaluasi, serta terhadap penyelenggaraan
pendidikan inklusif. Dalam pelaksanaannya berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti
dinas terkait, orang tua , guru serta siswa selaku teman sebaya dari anak berkebutuhan
khusus sehingga tercipta kondisi sekolah yang nyaman dan kondusif.
Tantangan yang dihadapi sebagai sekolah inklusi adalah kurangnya sarana dan
prasarana, belum adanya Guru Pembimbing Khusus, namun kegiatan tersebut dapat
diatasi dengan penggunaan dana BOS untuk pemenuhan sarana prasarana dan mendapat
kan bantuan dari Dinas Sosial Kota Depokr serta untuk GPK telah digantikan oleh guru
BK dalam memberi layanan bantuan yang diberikan kepada siswa baik penanganan secara
preventif maupun kuratif. Dari hasil praktek baik ini diharapkan bermanfaat untuk
mewujudkan sekolah inklusi yang berkarakter tanpa diskriminasi. Saran yang dapat
diberikan dalam pelaksanaan program pendidikan inklusif di SMP Purnama Depok adalah
sebagai berikut:
1. Guru dan kepala sekolah perlu mengikuti kegiatan diklat dalam penanganan ABK,
pelatihan khusus dan sejenisnya. Saling berbagi pengalaman dengan guru lain baik
dalam perencanaan pembelajaran, penanganan ABK, dan evaluasi.
2. Sekolah perlu melibatkan dan bekerja sama dengan orang tua ABK dalam hal
penyampaian evaluasi, perkembangan atau pencapaian prestasi ABK baik di kelas
maupun di luar kelas. Dengan demikian, orang tua bisa berkontribusi terhadap
perkembangan ABK. Sekolah mengusulkan untuk memperoleh bantuan dana dan
sarpras khusus bagi ABK.
3. Dinas perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara seksama dan berkelanjutan
terhadap pelaksanaan program inklusi. Program yang sudah direncanakan apakah
sudah sesuai tujuan. Selanjutnya dinas pendidikan dapat membuat kebijakan
perbaikan atau keputusan lebih lanjut.
4. Bagi pemerintah, sebaiknya lebih memperhatikan tentang terselenggaranya program
pendidikan inklusi sekolah dengan cara lebih sering mengadakan pelatihan, evaluasi,
dan monitoring yang ditujukan untuk guru yang mengajar di kelas inklusi agar
semakin meningkatkan kualitas sumber daya pengajar dan kualitas pendidikan inklusi
di Indonesia.
BAB III

PENUTUP

Anak adalah amanat yang dititipkan oleh Allah SWT kepada kita sebagai orang
tuanya, baik ketika berada di rumah maupun di sekolah. Karena merupakan amanat maka
hak-haknya harus terpenuhi dengan baik sehingga diharapkan akan lahir generasi penerus
bangsa yang berbudi pekerti luhur dengan dilandasi iman dan taqwa. Karena setiap anak
memiliki latar belakang yang beragam, maka bukan hanya diperlukan perencanaan yang
terstruktur rapi dan dukungan dana yang memadai akan tetapi diperlukan pula komitmen
dan kolaborasi yang sinergis antar berbagai unsur, serta adanya kesediaan untuk
menanggung setiap resiko yang muncul.

Program kerja ini tidak akan berarti apa-apa dan tidak akan berdampak apapun
apabila tidak ada kesediaan untuk bekerjasama dalam tim, bahu membahu, berat sama
dipikul ringan saman dijinjing yang disetai dengan keikhlasan agar apapun yang ditanam
akan berbuah manis untuk kemajuan dan perkembangan peserta didik yang merupakan
anak yang diamanatkan. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemudahakan dan
kelancaran dalam setiap langkah kita menuju kebaikan, Aamiin.

Anda mungkin juga menyukai