1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
IPA merupakan salah satu mata pelajaran utama dalam kurikulum
pendidikan di Indonesia, mulai jenjang sekolah dasar sampai dengan sekolah
menengah. Dalam kurikulum Sekolah Dasar, IPA merupakan cara mencari
tahu tentang alam sekitar secara sistematis untuk menguasai fakta-fakta,
konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah.
Jadi, IPA merupakan ilmu yang sistematis yang berhubungan dengan gejala-
gejala alam, kebendaan dan didasarkan pengamatan dan eksperimen.
Pembelajaran IPA di SD, dapat dilakukan dengan penyelidikan sederhana dan
bukan hafalan terhadap kumpulan konsep IPA. Oleh karena itu, pembelajaran
IPA di SD, tidak hanya untuk dapat memahami kumpulan fakta-fakta, tetapi
juga mengajarkan cara berfikir dan bekerja ilmiah agar siswa dapat
memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Pembelajaran IPA juga
diharapkan dapat mengembangkan wawasan dan keterampilan siswa dalam
memahami teknologi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang diperoleh
tidak hanya produk saja tetapi juga mencakup pengetahuan seperti
keterampilan dalam hal melaksanakan penyelidikan ilmiah. Pembelajaran
IPA adalah pembelajaran dimana siswa tidak hanya dituntut untuk lebih
banyak mempelajari konsep-konsep dan prinsip IPA secara verbalistis,
hafalan, pengenalan rumus-rumus, dan pengenalan istilah melalui serangkaian
latihan verbal, namun hendaknya dalam pembelajaran IPA, guru lebih banyak
memberikan pengalaman kepada siswa untuk memotivasi siswa agar dapat
menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan pembelajaran IPA sangat berpengaruh pada kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran. Seorang guru dalam mengajar selain
menguasai bahan juga dituntut dapat mengajar dengan menggunakan metode,
model, dan media pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan.
2
Kesalahan dalam pemilihan metode, model, dan media pembelajaran akan
mengakibatkan tidak maksimalnya pemahaman siswa yang berimbas pada
tidak maksimalnya pencapaian materi dan tujuan. Metode pembelajaran yang
tepat sangat menentukan terhadap efektivitas belajar-mengajar di dalam kelas.
Berbagai metode dapat dipilih oleh guru untuk melangsungkan proses belajar-
mengajar bersama para siswa dengan lebih efisien dan mengena. Pemilihan
dan penerapan metode yang kurang tepat akan berdampak pada hasil belajar
siswa sehingga akan menimbulkan masalah pada proses belajar selanjutnya.
Semakin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar, maka
semakin efektif pula pencapaian tujuan pembelajaran.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan di kelas adalah
metode eksperimen, karena dengan metode eksperimen siswa dapat lebih
aktif dalam proses pembelajaran, serta dapat tercapainya pembelajaran yang
diharapkan, sehingga hasil belajar siswa memuaskan. Metode eksperimen
merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam
pembelajaran IPA. Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan
kepada siswa, baik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu
proses atau percobaan. Penggunaan metode ini bertujuan agar siswa mampu
mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan yang
dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Dengan melakukan
eksperimen siswa dilatih untuk berfikir kritis dan dapat membuktikan
kebenaran dari teori yang sedang dipelajari secara nyata, sehingga dengan
demikian siswa akan mencapai hasil belajar yang maksimal.
Selain ditentukan oleh kemampuan guru, keberhasilan dalam proses
belajar mengajar juga ditentukan oleh semangat siswa untuk belajar secara
maksimal, bahan belajar dan upaya penyediaannya, alat bantu belajar dan
penyediaannya, suasana belajar dan upaya pengembangannya dan
memperhatikan kondisi subjek yang belajar dan upaya penyiapan dan
pemenuhannya. Jika ketentuan tersebut tidak diterapkan dalam proses belajar
mengajar, maka hasil belajar siswa bisa dikatakan rendah.
3
Berdasarkan fakta dan kondisi di Kelas IV SDN Brebeg 01 Kecamatan
Jeruklegi Kabupaten Cilacap rendahnya hasil belajar terlihat dalam muatan
pelajaran IPA Tema 2 Sub Tema 3 Materi Energi Alternatif. Kurangnya
metode atau strategi, media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar
mengajar, sehingga siswa merasa bosan dan menimbulkan penurunan hasil
belajar. Cara penyampaian materi kurang menarik bagi siswa, sehingga
kondisi yang terjadi dalam proses belajar mengajar kurang kondusif.
Perhatian guru terhadap siswa kurang, sehingga siswa merasa tidak
diperhatikan. Guru hanya berpedoman pada buku LKS yang ada dan tidak
menggunakan sumber-sumber yang lain.
Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA materi energi alternatif
sebagian besar siswa mendapat nilai yang kurang memuaskan. Hal ini dapat
dilihat pada ulangan harian siswa kelas IV dari 34 siswa hanya 13 siswa yang
mencapai KKM (KKM IPA di SDN Brebeg 01 75), berarti hanya 38 % siswa
yang memenuhi kriteria ketuntasan belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa
siswa mengalami kesulitan dalam pelajaran tematik tema 2 subtema 3 tentang
Materi Energi Alternatif.
Dalam pembelajaran secara kelompokpun siswa masih cenderung
individualis, sehingga kerja sama antar teman sulit terjalin. Hal ini merupakan
suatu masalah yang penulis anggap perlu segera diatasi. Berdasarkan
permasalahan yang diperoleh dari hasil observasi di SDN Brebeg 01, maka
diperlukan adanya suatu tindakan yang dilakukan untuk menjawab semua
permasalahan yang timbul pada pembelajaran IPA di kelas IV yaitu dengan
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Salah satunya adalah dengan
menerapkan pendekatan dan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan
kondisi siswa dan materi ajar.
Berdasarkan masalah tersebut diatas, maka perlu diupayakan
“Peningkatan Kerja Sama dan Prestasi Belajar IPA Kelas IV Pada Tema 2
Subtema 3 Materi Energi Alternatif Melalui Penerapan Metode Eksperimen”
4
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas pada Kelas IV Tema 2
Selalu Berhemat Energi Materi Energi Alternatif maka dapat diidentifikasi
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran sehingga tidak terjadi
pembelajaran yang menyenangkan
2. Cara penyampaian materi kurang menarik bagi siswa, sehingga kondisi
yang terjadi dalam proses belajar mengajar kurang kondusif.
3. Dalam proses pembelajaran, guru belum menyampaikan materi dengan
menggunakan metode yang menarik, menantang, menyenangkan, dan
kurang melibatkan keaktifan siswa, sehingga pembelajaran terlihat
membosankan.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan sejumlah masalah yang ada tersebut, peneliti memfokuskan pada
masalah mengenai “Upaya Peningkatan Sikap Kerja Sama dan Prestasi
Belajar IPA Materi Energi Alternatif pada Siswa Kelas IV Melalui Penerapan
Metode Eksperimen di SDN Brebeg 01”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan sikap kerja
sama siswa kelas IV materi Energi Alternatif pada Siswa Kelas IV di
SDN Brebeg 01?
2. Apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan prestasi
belajar IPA materi Energi Alternatif pada Siswa Kelas IV di SDN Brebeg
01?
5
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan sikap kerja sama dan
prestasi belajar IPA Kelas IV Pada Tema 2 Subtema 3 Materi Energi
Alternatif Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Eksperimen.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan di SDN Brebeg 01 Kecamatan Jeruklegi
Kabupaten Cilacap memiliki beberapa manfaat. Adapun manfaatnya baik
secara teoritis maupun praktis sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut :
a. Sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
dalam pembelajaran IPA melalui metode eksperimen.
b. Sebagai pijakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang
menggunakan metode eksperimen.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Dengan adanya penelitian tindakan kelas, siswa yang mengalami
kesulitan belajar dapat diminimalkan, sehingga selanjutnya prestasi
belajar siswa akan meningkat.
b. Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran IPA
di sekolah dasar dan meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola
kegiatan pembelajaran.
c. Bagi Sekolah
Dapat memberikan masukan bagi kepala sekolah dalam usaha
perbaikan dan proses pembelajaran para guru untuk merencanakan dan
mengambil kebijakan mengenai model pembelajaran yang tepat
sehingga mutu pendidikan dapat meningkat.
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Sikap Kerja Sama
a. Pengertian Sikap Kerja Sama
Kerjasama merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia,
karena dengan kerjasama manusia dapat melangsungkan kehidupannya.
Kerjasama juga menuntut interaksi antara beberapa pihak. Menurut Soerjono
Soekanto (2006: 66) kerjasama merupakan suatu usaha bersama antara orang
perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Pendapat tersebut
sudah jelas mengatakan bahwa kerjasama merupakan bentuk hubungan antara
beberapa pihak yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama.
Kerjasama dalam konteks pembelajaran yang melibatkan siswa,
Miftahul Huda (2011: 24-25) menjelaskan lebih rinci yaitu, ketika siswa
bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas kelompok, mereka
memberikan dorongan, anjuran, dan informasi pada teman sekelompoknya
yang membutuhkan bantuan. Hal ini berarti dalam kerjasama, siswa yang
lebih paham akan memiliki kesadaran untuk menjelaskan kepada teman yang
belum paham.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa kerjasama siswa dapat diartikan sebagai sebuah interaksi atau
hubungan antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang
dinamis yaitu, hubungan yang saling menghargai, saling peduli, saling
membantu, dan saling memberikan dorongan sehingga tujuan pembelajaran
tercapai. Tujuan pembelajaran tersebut meliputi perubahan tingkah laku,
penambahan pemahaman, dan penyerapan ilmu pengetahuan.
7
b. Cara Meningkatkan Kerjasama Siswa
Untuk meningkatkan kerjasama siswa perlu diajarkan ketrampilan
sosial. Hal ini dikarenakan dengan ketrampilan sosial nilai-nilai dalam
kerjasama akan terinternalisasi dalam diri siswa dengan cara pembiasaan.
Ketrampilan sosial yang harus dimiliki siswa untuk meningkatkan
kemampuan kerjasama siswa diungkapkan oleh Johnson & Johnson dalam
Miftahul Huda (2011:55). Menurut Johnson & Johnson untuk mengoordinasi
setiap usaha demi mencapai tujuan kelompok, siswa harus: 1) Saling mengerti
dan percaya satu sama lain. 2) Berkomunikasi dengan jelas dan tidak ambigu.
3) Saling menerima dan mendukung satu sama lain. 4) Mendamaikan setiap
perdebatan yang sekiranya melahirkan konflik.
c. Indikator Kerjasama
Nurul Zuriah (2011: 14) mengemukakan bahwa dalam kerjasama siswa
termasuk belajar bersama, diperlukan penyesuaian emosional antara siswa
satu dengan yang lain. Sedangkan Syaiful Bahri Djamarah (2000: 7)
berpendapat bahwa dalam suatu kerjasama, siswa akan menyadari
kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, saling membantu dengan ikhlas
dan tanpa ada rasa minder, serta persaingan yang positif untuk mencapai
prestasi belajar yang optimal. Radno Harsanto (2007: 44) memiliki
pandangan bahwa kerjasama siswa dapat terlihat dari belajar bersama dalam
kelompok. Belajar bersama dalam kelompok akan memberikan beberapa
manfaat. Manfaat tersebut mengindikasikan adanya prinsip kerjasama.
Manfaat dari adanya belajar bersama dalam kelompok antara lain:
1) Belajar bersama dalam kelompok akan menanamkan pemahaman untuk
saling membantu.
2) Belajar bersama akan membentuk kekompakan dan keakraban.
3) Belajar bersama akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan
menyelesaikan konflik.
4) Belajar bersama akan meningkatkan kemampuan akademik dan sikap
positif terhadap sekolah.
8
5) Belajar bersama akan mengurangi aspek negatif kompetisi.
Isjoni (2010: 65) berpendapat bahwa dalam pembelajaran yang
menekankan pada prinsip kerjasama siswa harus memiliki
ketrampilanketrampilan khusus. Ketrampilan khusus ini disebut dengan
ketrampilan kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk
memperlancar hubungan kerja dan tugas (kerjasama siswa dalam kelompok).
Ketrampilan-ketrampilan kooperatif tersebut dikemukakan oleh Lungdren
dalam Isjoni (2010: 65-66) sebagai berikut:
1) Menyamakan pendapat dalam suatu kelompok sehingga mencapai suatu
kesepakatan bersama yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja.
2) Menghargai kontribusi setiap anggota dalam suatu kelompok, sehingga
tidak ada anggota yang merasa tidak dianggap.
3) Mengambil giliran dan berbagi tugas.
Hal ini berarti setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan
bersedia mengemban tugas atau tanggung jawab tertentu dalam
kelompok.
4) Berada dalam kelompok selama kegiatan kelompok berlangsung.
5) Mengerjakan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya agar tugas
dapat diselesaikan tepat waktu.
6) Mendorong siswa lain untuk berpartisipasi terhadap tugas.
7) Meminta orang lain untuk untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap
tugas
8) Menyelesaikan tugas tepat waktu.
9) Menghormati perbedaan individu.
Berdasarkan beberapa pendapat yang menjelaskan mengenai ciriciri
atau indikator kerjasama siswa, maka dapat disimpulkan bahwa indikator
kerjasama siswa antara lain:
1) Saling membantu sesama anggota dalam kelompok (mau menjelaskan
kepada anggota kelompok yang belum jelas).
2) Setiap anggota ikut memecahkan masalah dalam kelompok sehingga
mencapai kesepakatan.
9
3) Menghargai kontribusi setiap anggota kelompok.
4) Setiap anggota kelompok mengambil giliran dan berbagi tugas.
5) Berada dalam kelompok kerja saat kegiatan berlangsung.
6) Meneruskan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya.
7) Mendorong siswa lain untuk berpartisipasi dalam tugas kelompok.
8) Menyelesaikan tugas tepat waktu.
2. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengertian prestasi adalah
hasil yang telah dicapai (dari yang telah diakukan, dikerjakan, dan
sebagainya) (1991: 787). Sedangkan menurut Saiful Bahri Djamarah (1994:
20-21) dalam bukunya Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, bahwa prestasi
adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang
menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dalam buku
yang sama Nasrun Harahap, berpendapat bahwa prestasi adalah penilaian
pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan siswa berkenaan dengan
penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada siswa. Dari pengertian di
atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan
seseorang atau kelompok yang telah dikerjakan, diciptakan dan
menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan bekerja.
Belajar adalah suatu aktivitas untuk menghasilkan perubahan pada diri
individu. Bahwa perubahan yang diharapkan itu berupa kemampuan-
kemampuan baru dalam memberikan respons terhadap stimulus yang
diterima. (Masyuri, 1990: 52). Perumusan belajar dari E.R. Hilgart :
“Learning is the process by which an activity originates or is changed
through training procedures”. Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan
yang mungkin membuahkan atau menghasilkan pola kelakuan yang mungkin
membuahkan atau menghasilkan pola kelakuan tertentu (yang belum dimiliki
sebelumnya) tetapi mungkin pula merubah pola kelakuan (yang telah dimiliki
sebelumnya). Pola kelakuan atau tingkah laku dari seseorang dipengaruhi
10
oleh apa yang dimiliki orang tersebut (sifat-sifatnya, pengalamannya,
pengetahuan, keterampilan-keterampilannya, sikapnya, keadaan jasmaninya
dan sebagainya) tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan. Hasil belajar
dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, di antaranya adalah dorongan dari
dalam diri (motif), bahan yang dipelajari, alat-alat, banyaknya waktu yang
digunakan, cara belajar, dan sebagainya.
Berdasarkan beberapa batasan diatas, prestasi belajar dapat diartikan
sebagai kecakapan nyata yang dapat diukur yang berupa pengetahuan, sikap
dan keterampilan sebagai interaksi aktif antara subyek belajar dengan obyek
belajar selama berlangsungnya proses belajar mengajar untuk mencapai hasil
belajar.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan
menjadi 2 bagian, yaitu faktor dalam (internal) dan faktor luar
(eksternal) yang dijabarkan menurut Mulyasa (2014: 190-193) sebagai
berikut:
1) Faktor Internal
a) Jasmani
Jasmani merupakan hal-hal yang berhubungan dengan panca indera.
Psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam diri seseorang.
b) Intelegensi
Intelegensi merupakan dasar potensial bagi pencapaian hasil belajar
yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar.
Semakin tinggi intelegensi atau kecerdasan yang dimiliki oleh
seseorang, maka semakin tinggi pula hasil belajar yang dapat
diperoleh.
c) Minat
Minat merupakan keinginan yang besar terhadap sesuatu dalam hal
tertentu. Keinginan yang besar tersebut dapat mempengaruhi
pencapaian hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu.
d) Sikap
11
Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk merespon
terhadap suatu hal, orang atau benda. Respon dapat berupa
kecenderungan mereaksi baik secara positif maupun negatif.
2) Faktor Eksternal
a) Faktor Sosial
Faktor sosial menyangkut hubungan antar manusia yang terjadi
dalam berbagai situasi sosial, seperti keluarga, sekolah, teman,
dan masyarakat pada umumnya. Faktor ini berhubungan langsung
dengan orang terdekat yang dapat berpengaruh pada hasil belajar
atau prestasi belajar seseorang.
b) Faktor Non Sosial
Faktor non-sosial merupakan faktor yang terdiri dari lingkungan
alam dan fisik, seperti keadaan rumah, ruang belajar, fasilitas
belajar, buku-buku sumber, dan sebagainya. Faktor ini
berhubungan langsung dengan lingkungan atau situasi sekitar
yang dapat berpengaruh pada hasil belajar atau prestasi belajar
seseorang.
c. Indikator Prestasi Belajar
Indikator prestasi belajar siswa adalah rata-rata nilai tes dan presentase
jumlah peserta didik yang mencapai KKM. Rata-rata nilai tes
merupakan skor yang diperoleh peserta didik saat mengerjakan tes pada
soal evaluasi dan dengan skor KKM IPA sebesar 70. KKM menjadi
acuan bagi pencapaian peserta didik dalam mencapai penguasaan atau
pemahaman materi yang disampaikan. Rata-rata nilai tes peserta didik
akan menunjukkan peningkatan atau penurunan pemahaman peserta
didik terhadap materi yang diajarkan pada setiap siklus. Dari nilai tes
dapat diketahui bahwa peserta didik mampu mencapai KKM yang telah
disepakati sekolah atau tidak.
12
3. Tinjauan tentang Pembelajaran IPA
a) Hakikat IPA
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan hasil kegiatan manusia berupa
pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi secara logis
sistematis tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui
serangkaian proses ilmiah seperti: pengamatan, penyelidikan,
penyusunan hipotesis (dugaan sementara) yang diikuti pengujian
gagasan-gagasan (Sapriati, dkk, 2009: 5.11).
Sedangkan tujuan Pendidikan IPA menurut Sapriati, dkk (2009: 2.3)
adalah agar siswa menguasai pengetahuan, fakta, konsep, prinsip,
proses penemuan, serta memiliki sikap ilmiah, yang akan bermanfaat
bagi siswa dalam mempelajari diri dan alam sekitar.
b) Ruang Lingkup Pembelajaran IPA
Di dalam proses pembelajaran, IPA tentunya memiliki ruang lingkup
atau batasan tentang apa yang dipelajari di dalam pembelajaran IPA.
Dilihat dari ruang lingkupnya pembelajaran IPA meliputi paling tidak 2
aspek yaitu kerja ilmiah atau proses dan pemahaman konsep (Maslichah
Asy’ari, 2006: 23-24). Lingkup kerja yang dimaksud adalah
memfasilitasi keberlangsungan proses ilmiah yang meliputi
penyelidikan atau penelitian, berkomunikasi ilmiah, pengembangan dan
pemecahan masalah, sikap dan nilai ilmiah. Sedangkan lingkup
pemahaman proses tertuang dalam materi
IPA yang ada di Sekolah Dasar, yaitu:
a. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yang meliputi manusia,
hewan, tumbuhan, dan interaksinya dengan lingkungan serta
kesehatan.
b. Benda atau materi, sifat-sifat dan kegunaannya yang meliputi
benda padat, gas dan cair.
c. Energi dan perubahannya yang meliputi gaya, bunyi, panas,
magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.
13
d. Bumi dan alam semesta, meliputi tanah, bumi, tata surya, dan
benda- benda langit lainnya.
e. Sains, teknologi, dan masyarakat (salingtemas), yang merupakan
penerapan konsep dan saling keterkaitannya dengan lingkungan,
teknologi, dan masyarakat.
4. Tinjauan tentang Pembelajaran Kooperatif
a) Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut Cooper dan Heinich (Nur Asma, 2006: 11) menjelaskan
bahwa pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang
melibatkan kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan siswa
bekerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan dan tugas-tugas akademik
bersama, sambil bekerja sama belajar keterampilan-keterampilan
kolaboratif dan sosial. Pengertian lain tentang pembelajaran kooperatif
merupakan salah satu model pembelajaran yang terstruktur dan
sistematis, di mana kelompok-kelompok kecil bekerja sama untuk
mencapai tujuan- tujuan bersama (Nur Asma, 2006: 11).
Sementara Slavin (Etin Solihatin dan Raharjo, 2009: 4)
mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model
pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-
kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai
6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Senada
dengan pendapat diatas, pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran dengan kelompok, melakukan evaluasi dan memberikan
penghargaan pada kelompok untuk menghargai hasil pekerjaan siswa.
b) Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Wina Sanjaya (2006: 246) menyebutkan empat prinsip pembelajaran
kooperatif, diantara lain:
1) Prinsip Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu
penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan
14
setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh
setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok
akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan
demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling
ketergantungan.
Ketergantungan yang dimaksud yaitu ketergantungan positif,
artinya tugas kelompok tidak mungkin bisa diselesaikan manakala
ada anggota yang tak menyelesaikan tugasnya, dan semua ini
memerlukan kerjasama yang baik dari masing-masing anggota
kelompok. Anggota kelompok yang mempunyai kemampuan lebih,
diharapkan mau dan mampu membantu temannya untuk
menyelesaikan tugasnya.
2) Tanggung jawab perseorangan (Individual Accountability)
Keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya,
maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab
sesuai dengan tugasnya. Setiap anggota harus memberikan yang
terbaik untuk keberhasilan [Link] mencapai hal
tersebut, guru perlu memberikan penilaian terhadap individu dan
juga kelompok. Penilaian individu bisa berbeda, akan tetapi
penilaian kelompok harus sama.
3) Interaksi Tatap Muka (Face to Face Promotion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan
yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka
saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi
tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada
setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap
perbedaan, memanfaatkan kelebihan anggota masing-masing.
4) Partisipasi dan Komunikasi (Participation Communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat
penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan masyarakat kelak.
15
Oleh karena itu, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan
berkomunikasi, sampai akhirnya setiap siswa memiliki kemampuan
untuk menjadi komunikator yang baik.
4. Pembelajaran Kooperative Metode Eksperimen
1. Pengertian Metode eksperimen
Eksperimen merupakan metode mengajar yang sangat efektif,
karena dapat membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha
sendiri berdasarkan fakta yang benar. Metode eksperimen adalah metode
pengajaran dan pembelajaran dimana guru dan murid bersama-sama
mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui.
Metode eksperimen adalah metode pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa baik secara individu maupun kelompok untuk
dilatih melakukan suatu proses atau percobaan tentang sesuatu hal.
Metode eksperimen merupakan cara penyajian pelajaran, di mana
siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri
sesuatu yang dipelajari. Metode eksperimen juga berarti salah satu cara
mengajar, dimana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal,
mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian
hasil pengamatan itu disampaikan di kelas dan dievaluasi oleh guru. Jadi,
metode eksperimen adalah metode yang memberikan kesempatan kepada
siswa baik individu maupun kelompok untuk melakukan suatu percobaan
yang hasil percobaannya disampaikan di kelas.
Dengan melakukan eksperimen, siswa akan menjadi lebih yakin
atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat
memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar
akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Dengan adanya metode ini
siswa diharapkan sepenuhnya terlibat merencanakan eksperimen,
melakukan eksperimen, menemukan fakta,mengumpulkan data,
mengendalikan variabel, dan memecahkan masalah yang dihadapinya
secara nyata. Siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai
16
jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapi serta melatih siswa dalam
cara berpikir yang ilmiah. Dalam metode eksperimen, guru juga dapat
mengembangkan keterlibatan fisik, mental, serta emosional siswa. Hal ini,
diharapkan dapat menumbuhkan pembelajaran yang inovatif dan kreatif,
dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Tanpa menggunakan
metode eksperimen dalam pembelajaran IPA akan membuat para siswa
tidak memiliki pengalaman meneliti dan bersinggungan langsung dengan
alam sekitar sebagai objek kajian utama IPA. Sehingga siswa tidak
mengenal berbagai keunikan dan luasnya alam yang harus mereka kuasai.
Eksperimen atau percobaan yang dilakukan tidak selalu harus
dilaksanakan di dalam laboratorium, tetapi juga dapat dilakukan di luar
kelas (Alam sekitar). Dengan begitu, metode eksperimen dapat membantu
guru dalam menghubungkan mata pelajaran dengan dunia nyata, terutama
dalam konsep IPA. Apabila percobaan dapat dilakukan di luar kelas maka
guru sangat mudahuntuk mendapatkan sumber belajar lain yang dapat
memberikan pengalaman nyata bagi siswa. Dengan demikian, jelas bahwa
proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada keterampilan proses,
pengalaman langsung, dan percobaan. Sehingga, siswa dapat menemukan
fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teoriteori, dan sikap ilmiah siswa
itu sendiri yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap kualitas
proses belajar dan hasil belajar. Untuk itu perlu dikembangkan suatu
metode pembelajaran IPA yang melibatkan siswa secara aktif dalam
kegiatan pembelajaran untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-
idenya.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa metode
eksperimen adalah cara mengajar guru dengan memberikan kesempatan
kepada siswa baik individu atau kelompok untuk mencari sendiri
kebenaran teori yang sedang dipelajari. Sehingga, hal tersebut dapat
memberikan pengalaman langsung untuk siswa melakukan suatu
percobaan, mendiskusikan, dan mengambil kesimpulan untuk dipaparkan
didepan kelas.
17
2. Tujuan Metode Eksperimen
Penggunaan metode ini memiliki tujuan agar siswa mampu mencari
dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang
dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Serta siswa terlatih
dalam cara berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dengan eksperimen
siswa menemukan bukti kebenaran dari teori yang sedang dipelajarinya.
Dengan demikian, dari penggunaan metode ini diharapkan siswa dapat:
a. Mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-
persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan persoalan sendiri.
b. Terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah (Scientific Thinking).
c. Menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang
dipelajarinya.
Selain itu, tujuan metode eksperimen antara lain:
a. Siswa mampu mengumpulkan fakta-fakta, informasi atau data-data
yang diperoleh.
b. Melatih siswa dalam merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan
melaporkan percobaan.
c. Melatih siswa dalam menggunakan logika berpikir induktif guna
menarik kesimpulan fakta, informasi atau data yang terkumpul
melalui percobaan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, tujuan metode
eksperimen adalah untuk memperoleh atau mengumpulkan informasi yang
sebanyakbanyaknya dari persoalan yang dihadapi. Hal ini agar siswa dapat
membuktikan sendiri materi yang sedang dipelajarinya sesuai teori yang
telah ada dan terlatihnya siswa dalam berpikir ilmiah.
3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen
Berbagai kelebihan metode eksperimen antara lain sebagai berikut:
a. Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau
kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya
menerima informasi dari guru atau buku.
18
b. Siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi
eskplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
c. Dengan metode ini, akan terbina manusia yang dapat menghadirkan
terobosan-terobosan baru dari penemuan.
d. Siswa memperoleh pengalaman dan keterampilan dalam melakukan
eksperimen.
e. Siswa terlibat aktif dalam mengumpulkan fakta dan informasi yang
diperlukan saat percobaan.
f. Siswa dapat menggunakan serta melaksanakan prosedur metode
ilmiah dan berpikir ilmiah.
g. Siswa bisa memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat
objektif, realitas, dan menghilangkan verbalisme.
h. Siswa bisa memperoleh ilmu pengetahuan sekaligus menemukan
pengalaman praktis serta keterampilan dalam menggunakan alat
percobaan
i. Dengan eksperimen siswa membuktikan sendiri kebenaran suatu teori,
sehingga akan merubah sikapnya yang percaya terhadap hal-hal yang
tidak logis.
Kelebihan lain dari metode eksperimen, yaitu siswa lebih aktif
berpikir dan berbuat, karena hal itulah yang sangat diharapkan dalam
dunia pendidikan modern. Siswa lebih aktif belajar sendiri dengan
bimbingan guru. Hal ini sesuai dengan Kurikulum sekarang yang
menekankan pada aktifitas siswa. Hasil-hasil percobaan yang dilakukan
sangat berharga yaitu dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat
manusia. Sehingga, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi agar menghasilkan suatu produk yang dapat dinikmati oleh
masyarakat secara umum.
Selain kelebihan, metode eksperimen juga memiliki beberapa
kekurangan, di antaranya sebagai berikut:
a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap siswa
berkesempatan mengadakan eksperimen.
19
b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, siswa harus
menanti untuk melanjutkan pelajaran.
c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan
teknologi.
Adapun kekurangan metode eskperimen antara lain adalah:
a. Metode eksperimen lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan
teknologi.
b. Memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak mudah
diperoleh dan mahal.
c. Menuntut ketelitian, keuletan, dan ketabahan.
d. Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan
karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada diluar
jangkauan kemampuan atau pengendalian.
Kekurangan lainnya dari metode eksperimen diantaranya:
a. Kesalahan dan kegagalan siswa yang tidak terdeteksi oleh guru dalam
bereksperimen berakibat siswa keliru dalam mengambil kesimpulan.
b. Sering kali mengalami kesulitan dalam melaksanakan eksperimen,
karena guru dan siswa kurang berpengalaman dalam melakukan
eksperimen.
Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun,
kekurangan yang terdapat dalam metode ini akan berdampak pada sulitnya
pendidik (guru) dalam mengfasilitasi siswa. Sehingga, untuk
meningkatkan proses pembelajaran yang efektif guru dituntut untuk
menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi saat pembelajaran
berlangsung khususnya dalam penggunaan metode eksperimen.
4. Langkah-langkah Penerapan Metode Eksperimen
Dalam menggunakan metode eksperimen, agar memperoleh hasil
yang diharapkan, terdapat tiga langkah yang harus diperhatikan, yaitu:
20
a. Persiapan Eksperimen
1) Menentukan tujuan eksperimen.
2) Mempersiapkan berbagai alat atau bahan yang diperoleh.
3) Mempersiapkan tempat eksperimen.
4) Mempertimbangkan jumlah siswa dengan alat atau bahan yang
ada.
5) Mempertimbangkan apakah dilaksanakan sekaligus atau secara
bergiliran.
6) Mempertimbangkan siswa dengan ketersediaan alat yang ada dan
daya tampung tempat pelaksanaan eksperimen.
7) Memperhatikan tata tertib, petunjuk penggunaan alat, dan
sebagainya.
Dalam persiapan menggunakan metode eksperimen guru harus
memperhatikan masalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil
atau menghindari resiko yang merugikan dan berbahaya. Guru juga
memberikan penjelasan mengenai sesuatu yang harus diperhatikan dan
tahap-tahap yang harus dilakukan oleh siswa, yang termasuk dilarang atau
membayahakan.
b. Pelaksanaan eksperimen
1) Siswa memulai percobaan. Saat siswa melakukan percobaan, guru
mendekatinya untuk mengamati proses percobaan serta
memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan
yang dihadapi siswa, sehingga eksperimen tersebut dapat
diselesaikan dan berhasil.
2) Selama eksperimen berlangsung, guru hendaknya memperhatikan
situasi secara [Link], jika terjadi hal-hal yang
menghambat, maka bisa segera diselesaikan.
c. Tindak lanjut eksperimen
1) Siswa mengumpulkan laporan eksperimen untuk diperiksa guru.
21
2) Mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama
eksperimen, serta memeriksa dan menyimpan kembali segala
bahan sekaligus peralatan yang digunakan.
Apabila eksperimen selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu
diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya
dengan pelaksanaan eksperimen serta proses pencapaian tujuan
pembelajaran. Selain langkah-langkah diatas, pembelajaran dengan
menggunakan metode eksperimen dapat juga dilakukan dengan, sebagai
berikut:
a. Percobaan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan percobaan
yang didemontrasikan guru atau dengan mengamati fenomena alam.
Demontrasi ini menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari.
b. Pengamatan, merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan
percobaan. Siswa diharapkan untuk mengamati dan mencatat
peristiwa tersebut.
c. Verifikasi, yaitu kegiatan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan
awal yang telah dirumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok.
d. Siswa diharapkan merumuskan hasil percobaan dan membuat
kesimpulan, selanjutnya melaporkan hasilnya.
e. Aplikasi konsep, setelah siswa merumuskan dan menemukan konsep,
hasilnya diaplikasikan dalam kehidupannya. Kegiatan ini merupakan
pemantapan konsep yang telah dipelajari.
f. Evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah selesai satu konsep.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen dapat
membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat
diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan,
maupun aplikasi dalam kehidupannya.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa langkah-
langkah penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA
merupakan langkah yang sangat baik untuk diterapkan. Karena metode ini
22
dapat mempermudah guru dalam mengajar dan juga dapat memberikan
pemahaman materi pembelajaran dari hasil eksperimen diri siswa sendiri.
5. Pengertian Sumber Energi Alternatif
Sumber energi adalah segala sesuatu yang menghasilkan energi.
Sumber energi alternatif adalah sumber energi pilihan dari beberapa
kemungkinan penghasil energi pengganti. Sumber energi alternatif dicari dan
diusahakan untuk menjaga agar sumber energi yang sudah ada agar tidak
cepat habis. Sumber energi alternatif antara lain air, angin, matahari, panas
bumi dan bahan bakar bio.
1. Energi Matahari
Matahari merupakan sumber energi terbesar bagi bumi yang berupa
energi panas dan energi cahaya. Energi panas matahari dapat digunakan
secara langsung, misalnya untuk mengeringkan pakaian. Energi cahaya
matahari menerangi bumi pada siang hari. Selain itu, cahaya matahari
dimanfaatkan tumbuhan hijau untuk melakukan fotosintesis. Energi
cahaya matahari juga digunakan untuk memanaskan air atau
menghasilkan listrik. Energi listrik inilah yang selanjutnya
dimanfaatkan oleh kita semua untuk diubah menjadi energi lain sesuai
dengan kebutuhan melalui benda-benda elektronik yang kita butuhkan.
Sebagai contoh:
a. Perubahan energi listrik menjadi energi cahaya pada lampu, energi
listrik menjadi energi panas pada setrika
b. Energi listrik menjadi energi gerak pada kipas angin
c. Energi listrik menjadi energi kimia pada saat kita mengisi aki dan
pada pesawat televisi energi listrik dapat diubah menjadi energi
bunyi dan energi cahaya dan sebagainya.
Pemakaian energi listrik di rumah-rumah dihitung berdasarkan
banyaknya daya yang dipakai dalam selang waktu tertentu, yang pada
umumnya dihitung tiap bulan melalui rekening listrik yang dikeluarkan
PLN. Benda-benda elektronik memiliki kegunaan untuk mempermudah
23
kehidupan manusia. Benda-benda elektronik dapat menjalankan
fungsinya jika dialiri arus listrik. Arus listrik merupakan salah satu
bentuk energi karena menyebabkan benda-benda elektronik
bekerja/berfungsi. Arus listrik bermanfaat
dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mempermudah kehidupan manusia.
2. Energi Angin
Angin merupakan salah satu sumber energi yang sangat penting. Sejak
zaman dahulu, angin telah banyak digunakan untuk menggerakan
perahu layar. Selain itu, angin digunakan untuk menghasilkan listrik
dengan memakai kincir angin yang disambung memakai generator yang
bisa menghasilkan listrik (turbin angin).
3. Energi Air
Air merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat
bermanfaat. Air dapat menghasilkan energi dalam bentuk arus air,
gelombang dan air panas. Arus air biasa dihasilkan oleh air terjun atau
sungai. Tenaga yang dihasilkan air ini biasa digunakan untuk memutar
turbin dari suatu generator listrik.
4. Energi Panas Bumi
Energi panas bumi (energi geotermal) merupakan energi yang berasal
dari panas yang disimpan di bawah permukaan bumi. Pusat bumi
terbentuk dari lapisan batuan yang sangat panas. Hal itu menunjukkan
bahwa bumi merupakan sumber energi panas yang sangat besar.
5. Bahan Bakar Bio
Bahan bakar bio merupakan bahan bakar yang berasal dari makhluk
hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Bahan bakar bio yang berasal
dari tumbuhan di antaranya tumbuhan berbiji yang mengandung
minyak, seperti bunga matahari, jarak, kelapa sawit, kacang tanah, dan
kedelai. Bahan bakar tersebut dikenal sebagai biodiesel. Biodiesel dapat
digunakan untuk menggantikan solar. Singkong, ubi, jagung, dan sagu
dapat diubah menjadi bioetanol. Bioetanol dapat menggantikan bensin
ataupun premium. Bahan bakar bio juga dapat berasal dari kotoran
24
ternak. Bahan bakar tersebut dikenal sebagai biogas. Kotoran ternak
yang ada dimasukkan ke dalam ruangan bawah tanah (lubang). Selain
itu, bahan bakar ini dapat juga dimanfaatkan untuk bahan bakar
kendaraan bermotor.
6. Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA
Metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa
melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta
menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan
ke kelas dan dievaluasi oleh guru. Dengan kegiatan-kegiatan percobaan
pembelajaran IPA akan mendapat pengalaman langsung melaui pengalaman,
diskusi, dan penyelidikan sederhana. Pembelajaran yang demikian akan dapat
menumbuhkan sikap ilmiah siswa sehingga mampu berpikir kritis melalui
pembelajaran IPA. Adapun tahap yang akan dilaksanakan dalam penerapan
metode eksperimen pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar
siswa yaitu:
1. Percobaan awal, pembelajaran diawali dengan meminta siswa untuk
mengamati fenomena alam. Guru melakukan percobaan dan menjelaskan
materi yang akan dipelajari. Siswa mengamati percobaan yang
didemonstrasikan guru.
2. Verifikasi, kegiatan siswa untuk membuktikan hasil yang telah
didemonstrasikan sebelumnya. Guru terlebih dahulu membagikan siswa
ke dalam beberapa kelompok secara heterogen.
3. Pengamatan, merupakan kegiatan dimana siswa diharapkan untuk
mengamati, menuliskan hasil percobaan dan membuat kesimpulan,
selanjutnya dapat dilaporkan hasilnya di depan kelas.
4. Evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah pembelajaran berlangsung.
Guru dapat memberikan penugasan atau latihan berupa post test.
5. Aplikasi konsep, setelah siswa merumuskan dan menentukan konsep,
hasilnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini agar
dapat memantapkan materi yang telah dipelajari
25
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Iin Nurhalizha (2017) dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar IPA
dengan Menggunakan Metode Eksperimen pada Siswa Kelas V MIN 4 Aceh
Besar” Permasalahan tersebut diperoleh dari hasil observasi dan pengamatan
penulis di lapangan, dimana proses pembelajaran terlihat bahwa (1) Masih
terdapat penggunaan metode mengajar ceramah di kelas, (2) Siswa kurang aktif
dalam proses pembelajaran, (3) Kurangnya penggunaan alat peraga yang kongkrit
dalam pembelajaran. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam
pembelajaran IPA adalah metode eksperimen, karena dengan metode eksperimen
siswa dapat membuktikan sendiri kebenaran dari teori yang sedang dipelajari
secara nyata, siswa lebih aktif untuk mencari dan menemukan sendiri berbagai
jawaban atau persoalan yang dihadapinya dengan melakukan percobaan sehingga
dengan demikian siswa akan mencapai hasil belajar yang maksimal. Penelitian ini
menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subjek siswa kelas Va MIN
4 Aceh Besar tahun ajaran 2017/2018 yang terdiri dari 15 siswa. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi (guru dan siswa) dan soal
tes hasil belajar dengan menggunakan analisis rumus persentase. Berdasarkan
hasil analisis data penelitian didapatkan bahwa (1) Aktivitas guru pada siklus I
sebesar 73% berada pada (kategori baik), dan meningkat pada siklus II sebesar
82% (kategori baik sekali), (2) Aktivitas siswa pada siklus I sebesar 70% berada
pada (kategori baik), dan meningkat pada siklus II sebesar 83% (kategori baik
sekali), (3) Hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 73% (kategori baik), dan
meningkat pada siklus II sebesar 87% (kategori baik sekali). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode eksperimen pada pelajaran IPA
untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MIN 4 Aceh Besar sudah
tercapai.
C. Kerangka Berpikir
Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan dengan cara melakukan sejumlah
tindakan yang terangkum dalam siklus I dan siklus II untuk merubah kondisi awal
26
yang berupa sikap kerja sama dan prestasi belajar IPA yang rendah menjadi lebih
meningkat. Dengan penerapan metode eksperimen diharapkan akan mampu
meningkatkan sikap kerja sama dan prestasi belajar IPA tentang energi alternatif
dari kondisi awal ke akhir siklus I dan berlanjut sampai pada kondisi akhir siklus
II.
Alur cerita dari kondisi awal, tindakan yang dilakukan oleh guru dalam siklus I
dan siklus II, sampai dengan bagaimana dugaan sikap kerja sama dan prestasi
belajar yang dicapai siswa pada kondisi akhir, dapat dilihat dalam gambaran yang
ada di halaman berikut ini:
Siswa cenderung individualis
KONDISI dalam kelompok, prestasi
AWAL belajar siswa rendah
Dalam Siklus I
pembelajaran,
guru Dalam
TINDAKAN menggunakan pembelajaran siswa
metode melaksanakan
eksperimen metode eksperimen
Siklus II
Dalam pembelajaran
Hasil belajar IPA
siswa melaksanakan
siswa meningkat
metode eksperimen
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian
27
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berfikir diatas, maka dalam penelitian
tindakan kelas ini diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut :
1. Penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA Tema 2 Sub Tema 3
Energi Alternatif diduga dapat meningkatkan sikap kerja sama peserta didik
kelas IV SDN Brebeg 01.
2. Penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA Tema 2 Sub Tema 3
Energi Alternatif diduga dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik
kelas IV SDN Brebeg 01.
28
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom
Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas
untuk mengetahui akibat tindakan yang dilakukan terhadap subyek penelitian
di kelas tersebut.
Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipilih, yaitu
penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini menggunakan model
penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, 2002:83),
yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya.
Adapun rancangan siklus penelitian memiliki empat tahapan kegiatan pada
setiap siklusnya yaitu, (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan
(4) refleksi. Alur pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat digambarkan
seperti pada gambar berikut:
Gambar 3.1 Alur PTK Model Kemmis & McTaggart (Afandi, 2013)
29
Langkah – langkah penelitian tindakan kelas dalam tiap siklus, sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini penyusun rencana yang dilakukan penulis adalah sebagai
berikut:
a. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk setiap siklus.
b. Menyusun bahan ajar
c. Mempersiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
d. Membuat instrumen pengamatan aktivitas guru dan ativitas siswa.
e. Menyusun alat evaluasi
2. Pelaksanaan (Acting)
Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi atau penerapan dari
rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas (Arikunto, 2009: 18).
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah dengan melaksanakan
perencanaan yang telah dibuat, yakni dengan melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan metode eksperimen dengan mengorganisasikan faktor-
faktor yang mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan. Pelaksanaan
tindakan penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, dimana masing-masing
siklus terdiri dari 2 pertemuan yaitu siklus pertama dilaksanakan
pembelajaran dengan metode eksperimen, siklus kedua dilaksanakan untuk
memperbaiki segala sesuatu yang masih kurang dalam pelaksanaan siklus 1
yang diperoleh dari hasil refleksi setelah siklus 1.
3. Pengamat (Observation)
Observasi merupakan upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang
terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat
bantu. Selanjutnya, observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak
digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya
suatu kegiatan yang diamati. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil
dan proses belajar misalnya tingkah laku peserta didik pada waktu belajar,
tingkah laku guru pada waktu [Link] menurut Arikunto
30
observasi adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat
(Arikunto, 2009:19).
Kegiatan observasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru pengamat
untuk mengamati aktivitas peserta didik ketika mengikuti pembelajaran
membaca pemahaman dengan menerapkan metode eksperimen. Adapun hal
yang diamati adalah mengenai:
a. proses pembelajaran dengan menerapkan metode eksperimen
b. perubahan yang terjadi setelah diberikan tindakan yang berupa penerapan
metode eksperimen
c. keadaan dan kendala dalam melaksanakan pembelajaran dengan
menerapkan metode eksperimen
d. Observasi juga dilakukan terhadap guru yang menerapkan metode
eksperimen, yaitu dengan bantuan dari tim kolaborator untuk menilai
kinerja guru peneliti.
4. Refleksi (Reflecting)
Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah
dilakukan (Arikunto, 2009:19). Setelah mengkaji hasil belajar peserta didik
dan hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru,
serta melihat ketercapaian indikator kinerja maka peneliti melakukan
perbaikan pada siklus dua agar pelaksanaannya lebih [Link] juga
melihat apakah indikator kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya telah
tercapai. Bila belum tercapai maka peneliti melanjutkan siklus berikut sampai
mencapai indikator penelitian.
B. Ruang Lingkup Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Brebeg 01 Kecamatan Jeruklegi,
Tahun Pelajaran 2021/2022. Jumlah peserta didik 30 siswa yang terdiri
dari 16 siswa putra dan 14 siswa putri. Adapun alasan pemilihan tempat
31
dikarenakan pada SDN Brebeg 01 hasil belajar IPA khususnya pada siswa
kelas IV masih tergolong rendah.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dimulai bulan Agustus sampai dengan bulan November
2021. Penelitian dilakukan pada waktu tersebut dengan alasan bertepatan
dengan jadwal kegiatan pembelajaran mata pelajaran IPA pada materi
Sumber Energi Alternatif.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Ada dua teknik yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data
yaitu teknik tes dan nontes.
a. Teknik Tes
Pengumpulan data dengan teknik tes untuk mengungkapkan
keberhasilan prestasi belajar siswa. Arikunto (2013:67) berpendapat
bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk
mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan
aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes diberikan kepada siswa
bertujuan untuk mengukur prestasi belajar selama proses belajar
mengajar. Tes yang digunakan tes formatif yang berupa tes pilihan
ganda.
b. Teknik Non Tes
Teknik non tes merupakan prosedur untuk mengumpulkan data
untuk memahami pribadi siswa. Teknik ini menggunakan
pengamatan secara observasi, angket, dan wawancara.
1) Lembar Observasi
Menurut Sudjana (2008:85) dalam kegiatan observasi, pengamat
terlebih dahulu harus menetapkan aspek-aspek tingkah laku apa
yang hendak diobservasi lalu membuat pedoman dalam
32
pengisian observasi. Pendapat lain menyatakan bahwa observasi
atau disebut juga pengamatan adalah kegiatan untuk memotret
seberapa jauh efek tindakan yang telah mencapai sasaran
(Arikunto, 2009: 127). Metode observasi dalam penelitian ini
berisi catatan yang menggambarkan bagaimana aktivitas peserta
didik dan ketrampilan guru dalam mengelola pembelajaran IPA
Tema 2 Selalu Berhemat Energi Sub Tema 3 Materi Energi
Alternatif dengan menggunakan metode eksperimen.
2) Kuesioner (angket)
Kuesioner adalah jenis alat pengumpul data yang digunakan
untuk mengumpulkan informasi yang tidak mudah diakses
dengan cara lain, yang hasilnya berupa data deskriptif
(Poerwanti dkk., 2008: 3.26). Dalam penelitian ini angket
digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang respon
peserta didik mengenai pembelajaran dengan metode
eksperimen.
3) Wawancara
Lembar wawancara digunakan untuk mengetahui pendapat
siswa terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Lembar
wawancara ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
dengan respon siswa terhadap penggunaan metode eksperimen
2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini yaitu:
a. Soal tes tertulis
Soal tes tertulis yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas
adalah tes bentuk pilihan data. Data hasil tes ini dijadikan sebagai alat
ukur kemampuan siswa dan untuk pengolahan data penelitian serta
33
penentuan nilai individual. Data dari hasil tes ini akan digunakan
sebagai patokan untuk melakukan releksi dan merancang pelaksanaan
tindakan pembelajaran selanjutnya.
b. Lembar observasi aktivitas guru
Observasi aktivitas guru adalah untuk mengamati aktivitas guru yang
mengajar menggunakan metode eksperimen. Alat yang digunakan
untuk mengamati aktivitas guru adalah lembar observasi aktivitas
guru. Aktivitas yang diamati adalah cara guru mempersiapkan siswa
sebelum memulai pembelajaran, cara guru mengkondisikan siswa,
cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, cara guru
dalam mengorganisasikan kelas dan cara guru menutup pembelajaran
dan lain-lain.
c. Lembar observasi aktivitas siswa
Lembar observasi aktivitas siswa digunakan untuk mengetahui
kriteria aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
dengan metode eksperimen. Alat yang digunakan untuk mengamati
dalam observasi ini dengan menggunakan lembar observasi aktivitas
siswa. Aktivitas yang diamati adalah keaktifan siswa dalam
pembelajaran, siswa memperhatikan guru saat menjelaskan materi,
keaktifan siswa dalam berdiskusi dengan teman, berani maju ke
depan kelas untuk mengungkapkan pendapatnya dan lain-lain.
d. Lembar observasi sikap kerja sama siswa
Observasi ini digunakan untuk mengukur sikap kerja sama siswa
yang dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Observasi
dilakukan peneliti dengan cara melakukan pengamatan. Hal ini yang
diamati berupa kegiatan siswa selama proses percobaan berlangsung.
e. Lembar angket
Lembar angket digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai
sikap dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran dan hasilnya
berupa data deskriptif. Lembar ini digunakan untuk mendapatkan
informasi mengenai peningkatan sikap kerja sama siswa.
34
D. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian tindakan kelas bertujuan untuk
memperoleh data kepastian apakah terjadi perbaikan atau peningkatan
sebagaimana yang diharapkan. Adapun rincian cara analisis data dari teknik
tes dan non tes adalah sebagai berikut:
1. Tes
Tes untuk mengukur prestasi belajar siswa pada materi pecahan
dilakukan pada setiap pertemuan ditiap siklusnya. Data yang diperoleh
dari tes prestasi belajar dianalisis dengan melihat ketuntasan belajarnya.
Suatu kelas disebut telah tuntas belajar apabila di kelas tersebut telah
terdapat 85% yang mencapai daya serap 65% (Usman, 2010: 64).
Untuk menghitung ketuntasan belajar siswa menggunakan rumus:
T
Keterangan:
KB = x 100%
Tt
KB = Ketuntasan Belajar
T = Jumlah skor yang diperoleh siswa
Tt = Jumlah skor total
(Trianto, 2011: 241)
Untuk mendapatkan nilai rata-rata kelas dari hasil evaluasi pada
setiap pertemuan digunakan rumus :
∑X
M=
N
Keterangan :
M = Mean (nilai rata-rata)
∑X = Jumlah nilai total yang diperoleh dari hasil penjumlahan nilai
setiap individu (siswa)
N = Banyaknya individu (siswa)
(Djamarah, 2010: 306)
Adapun kategori tingkat predikat hasil evaluasi siswa dalam
penelitian ini yaitu :
35
81 - 100% = Baik Sekali
61 - 80% = Baik
41 - 60% = Cukup
21 – 40% = Kurang
≤ 21% = Kurang Sekali
(Arikunto, 2010: 35)
2. Observasi aktivitas guru
Penskoran untuk skala penilaian dan kriteria penilaian yang
digunakan dengan lembar observasi terhadap aktivitas guru pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Sangat baik
Untuk menganalisa data yang diperoleh dari lembar observasi
aktifitas guru, menggunakan persentase dengan rumus:
R
NP = X 100%
SM
Keterangan:
NP = Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R = Skor mentah yang diperoleh
SM = Skor maksimum
100 = Bilangan tetap
(Purwanto, 2010: 102)
Adapun kategori tingkat predikat hasil observasi aktivitas guru
dalam penelitian ini yaitu:
81 - 100% = Baik Sekali
36
61 - 80% = Baik
41 - 60% = Cukup
21 – 40% = Kurang
≤ 21% = Kurang Sekali
(Arikunto, 2010: 35)
3. Observasi aktivitas siswa
Penskoran untuk skala penilaian dan kriteria penilaian yang
digunakan dengan lembar observasi terhadap aktivitas siswa pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Sangat baik
Untuk menganalisa data yang diperoleh dari lembar observasi
aktifitas siswa, digunakan rumus:
R
NP = X 100%
SM
Keterangan:
NP = Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R = Skor mentah yang diperoleh
SM = Skor maksimum
100 = Bilangan tetap
(Purwanto, 2010: 102)
Kriteria penilaian tingkat predikat hasil observasi aktivitas siswa
dalam penelitian ini yaitu:
81 - 100% = Baik Sekali
61 - 80% = Baik
41 - 60% = Cukup
37
21 – 40% = Kurang
≤ 21% = Kurang Sekali
(Arikunto, 2010: 35)
4. Angket Kerja Sama
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap
objek tertentu. Angket skala sikap yang diberikan kepada siswa disusun
dengan menggunakan skala sikap model Likert. Dalam skala likert
pernyataan-pernyataan yang diajukan baik pernyatan positif maupun
negatif dinilai dengan pilihan jawaban sangat setuju, setuju, tidak
berpendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor yang diberikan pada
pilihan tersebut tergantung pada penilai, asalkan penggunaannya
konsisten (Sudjana, 2010: 80). Angket diberikan kepada siswa pada akhir
pertemuan di tiap siklus. Pedoman pemberian skor angket pada penelitian
ini yaitu:
a. Pemberian skor untuk pernyataan positif adalah:
Selalu (SL) =4
Sering (SR) =3
Jarang (JR) =2
Tidak Pernah (TP) =1
b. Pemberian skor untuk pernyatan negatif adalah:
Selalu (SL) =1
Sering (SR) =2
Jarang (JR) =3
Tidak Pernah (TP) =4
Setelah diperoleh jumlah respon siswa, maka dihitung nilai kerja
sama siswa untuk mengidentifikasi perkembangan sikap kerja sama yang
dimiliki siswa dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
R
NP = X 100%
SM
38
Keterangan:
NP = Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R = Skor mentah yang diperoleh
SM = Skor maksimum
100 = Bilangan tetap
(Purwanto, 2010: 102)
Adapun kategori tingkat predikat hasil angket kerja sama siswa
dalam penelitian ini yaitu:
81 - 100% = Baik Sekali
61 - 80% = Baik
41 - 60% = Cukup
21 – 40% = Kurang
≤ 21% = Kurang Sekali
(Arikunto, 2010: 35)
Untuk mendapatkan nilai rata-rata persentase klasikal dari hasil
kerja sama siswa digunakan rumus berikut:
∑X
M=
Keterangan N:
M = Mean (nilai rata-rata)
∑X = Jumlah nilai total yang diperoleh dari hasil penjumlahan nilai
setiap individu (siswa)
N = Banyaknya individu (siswa)
(Djamarah, 2010: 306)
4. Data hasil wawancara dianalisis dengan cara mengelompokkan hasil
wawancara dengan siswa, kemudian disusun dalam bentuk rangkuman
hasil wawancara.
E. Indikator Keberhasilan
39
Kriteria yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur tingkat
keberhasilan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Adanya peningkatan sikap kerja sama siswa pada tema “Selalu Berhemat
Energi” sekurang-kurangnya 85% siswa yang lulus mencapai KKM yang
telah ditentukan.
2. Adanya peningkatan prestasi belajar IPA pada tema “Selalu Berhemat
Energi” sekurang-kurangnya 85% dengan kriteria baik pada skor
keseluruhan siswa.
F. Jadwal Penelitian
Berikut jadwal pelaksanaan penelitian yang akan dilaksanakan:
No Kegiatan Waktu
Agustus September Oktober Nopemb
er
2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
1 Action plan
2 Penyusunan proposal
3 Seminar proposal
4 Persiapan
5 Siklus I
6 Siklus II
7 Pengolahan data
8 Penyusunan laporan
9 Laporan
DAFTAR PUSTAKA
40
Affandi, M. (2013). Teori dan Praktek Penelitian Tindakan Kelas. Semarang:
Sultan Agung Press.
Anggari, Angi St. dkk. (2017). Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas IV
Tema 2 Selalu Berhemat Energi (Buku Guru).Jakarta:Pusat Kurikulum
dan Perbukuan, Balitbang, [Link]. 120-126
Anggari, Angi St. dkk.(2017).Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas IV
Tema 2 Selalu Berhemat Energi (Buku Siswa).Jakarta:Pusat Kurikulum
dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud . Hlm. 114-117
Anitah W, Sri dkk. 2009. Materi Pokok Model Pembelajaran SD. Jakarta:
Universitas Terbuka
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.
Asy’ari, Maslichah. 2006. Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakta
dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Universitas
Sanatha Dharma
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Psikologi Belajar. Rineka Cipta. Jakarta
Faizi, Mastur, 2013, Ragam Metode Mengajar Eksakta Pada Murid, Cet.1,
Banguntapan Jogjakarta: DIVA Press (Anggota IKAPI)
Harsanto, Radno, 2007. Pengelolaan Kelas Yang Dinamis, Yogyakarta: Kanisius
Huda, Miftahul. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Isjoni. (2010). Pembelajaran Kooperatif. Meningkatkan Kecerdasan antar
Peserta Didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Kunandar, 2008, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: Rajawali Pers.
41
Mulyasa. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nurul zuriah. (2011). Pendidikan Moral dan Budi Pekerti. Jakarta: Bumi aksara.
Samatowo, Usman, 2011, Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar, Cet. 2, Jakarta:
Indeks.
Sudjana, Nana. (2008). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grapindo
Persada