BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
DM (Diabetes Mellitus) merupakan penyakit yang tidak menular
tetapi penyakit kronis yang berupa kumpulan gejala akibat meningkatnya
jumlah kadar gula dalam darah (hiperglikemi) yang disebabkan karena
kelainan sekresi pada insulin kerja insulin bahkan keduanya. Penyakit
DM sering terjadi pada lansia karena gaya hidup yang kurang baik dan
pola makan yang tidak teratur pada lanjut usia yang dapat menimbulkan
berbagai masalah kesehatan (WHO, 2012).
DM pada lansia adalah penyakit yang sering terjadi pada lanjut
usia yang disebabkan karena lansia tidak dapat memproduksi insulin
dalam jumlah yang cukup atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin
secara efektif (Nugroho, 2012). Pada organ tubuh lansia akan terjadi
kelebihan glukosa di dalam darah serta akan dirasakan setelah terjadi
komplikasi lanjut, setelah itu akan terjadi pada semua organ tubuh dan
menimbulkan berbagai macam keluhan maupun gejala yang sangat
bervariasi (Gibney, 2009).
Kemunculan DM (Diabetes Mellitus) pada lansia yaitu karena
kebiasaan-kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan
yang tidak seimbang di karenakan padatnya aktivitas manusia
menjadikan mereka melilih untuk lebih cepat dan semua serba instan
dan modern, bahkan pola makanan yang mengandung banyak
karbohidrat dan makanam sumber glukosa secara berlebihan, ditambah
lagi kurang aktivitas fisik (Susanto, 2016).
1
2
Diabetes melitus berada diperingkat ke-7 sebagai 10 penyakit
penyebab kematian di dunia; 90%-95% kasus merupakan DM tipe II.
Internasional Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa
Indonesia berada di peringkat ke-6. Muchlis menyebut angka penderita
diabetes mellitus di Kota Blitar cukup tinggi, dari 91.606 jiwa penduduk,
80.936 diantaranya telah melakukan pemeriksaan dan sebanyak 3.747
jiwa terdiagnosa diabetes mellitus (Muchlis, 2020).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di
Posyandu Lansia Ari Murti 3 pada 21 juli 2023 didapatkan data terdapat
30 lansia menderita penyakit DM tipe II, dengan 5 lansia (17%)
mengatakan tidak mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit DM
Tipe II, 8 lansia (26%) mengatakan sering makan/minum yang manis
hampir setiap hari, 3 lansia (10%) mengatakan kebiasaannya merokok
tidak bisa dihentikan, 5 lansia (17%) mengatakan tidak pernah cek gula
darah, 2 lansia (7%) mengatakan dirinya sering begadang dan stress,
serta 7 lansia (23%) mengatakan bahwa dirinya selalu gagal untuk
melaksanakan gaya hidup yang sehat.
Tingginya angka kejadian DM Tipe II pada lansia saat ini dapat
dipengaruhi oleh gaya hidup yang tidak sehat yang meliputi pola makan
seperti kurangnya pengetahuan lansia pada sikap dan tindakan
terhadap pola makan pada faktor resiko DM Tipe II. Diabetes Mellitus
(DM) merupakan salah satu jenis penyakit degeneratif tidak menular
yang menjadi masalah serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia
maupun di dunia. Pola makan yang tidak teratur yng terjadi pada lansia
saat ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penyakit
degeneratif, salah satunya penyakit Diabetes Mellitus (DM).
Pengetahuan yang kurang tentang gaya hidup yang baik pada lansia
dapat memicu peningkatan penyakit tidak menular, salah satunya adalah
diabetes mellitus (Bustan, 2015). Gaya hidup sangat berpengaruh
terhadap kondisi fisik maupun psikis seseorang, perubahan gaya hidup
dan rendahnya perilaku hidup sehat dapat menimbulkan berbagai masalah
kesehatan, kebiasaan-kebiasaan tidak sehat berpengaruh terhadap
kemunculan diabetes melitus seperti pola makan yang tidak seimbang
dengan kadar kolesterol yang tinggi, rokok, alkohol, asupan gula yang
berlebihan, minimnya olah raga dan porsi istirahat sampai stres dapat
berpengaruh terhadap diabetes mellitus (Suyono, 2016).
DM pada lansia umumnya bersifat asimptomatik, kalaupun ada
gejala, seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi,
perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan
fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh,
dan inkontinensia urin). Terjadinya DM ketika pankreas tidak mampu
mengeluarkan kadar insulin dengan baik. Apabila zat gukosa tidak terjaga
maka akan berakibat pada kerusakan saraf dan arteri kecil di jantung,
mata dan ginjal (Fatimah, 2015).
Terdapat beberapa penatalaksanaan pada lansia penderita DM yaitu
dengan menerapkan gaya hidup yang sehat dalam kegiatan sehari-hari
seperti mengatur pola makan dengan benar, kontrol pola bukan hanya
pada tipe makanan tertentu tetapi juga jatah makanan (Fatimah, 2015).
3
4
Selain itu bisa juga dengan berolahraga secara teratur. Para ahli
kesehatan merekomendasikan minimal 30 menit kegiatan per hari.
Selanjutnya istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh supaya
konsentrasi hormon bisa terjaga (Rumahorboo, 2014).
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti akan melakukan
penelitian dengan judul “Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita Diabetes
Melitus Tipe II di Posyandu Lansia Ari Murti 3”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik
menjadi rumusan penelitian sebagai berikut : Bagaimana gambaran gaya
hidup lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II di Posyandu Lansia Ari
Murti 3?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gaya
hidup lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II di Posyandu Lansia Ari
Murti 3.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam
pengembangan kajian tentang gambaran gaya hidup lansia penderita
Diabetes Mellitus tipe II.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan
referensi dan pengembangan penelitian gambaran gaya hidup
lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II.
2. Bagi peneliti yang akan datang
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar peneliti selanjutnya untuk
mengembangkan penelitian lebih dalam mengenai gambaran gaya
hidup lansia pada pasien DiabetesMmellitus tipe II.
3. Bagi penderita diabetes mellitus tipe II
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang
perilaku sehat yang baik dan benar bagi penderita diabetes
mellitus tipe II sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari agar frekuensi komplikasi Diabetes Mellitus tipe II dapat
diminimalisir.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Diabetes Mellitus
2.1.1 Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia adalah suatu
kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi
batas normal. Hiperglikemia menjadi salah satu tanda khas penyakit
diabetes melitus, meskipun juga mungin didapatkan pada beberapa
keadaan lain (Perkeni, 2015).
Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan
defisiensi atau resistensi insulin relative atau absolut, dan ditandai dengan
gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Kondisi ini muncul
dalam dua bentuk, yaitu tipe I, ditandai dengan insufisiensi insulin absolut,
dan tipe II, ditandai dengan resistensi insulin desertai kelainan sekresi
insulin berbagai tingkat (Williams & Wilkins, 2011).
Penyakit diabetes mellitus dikenal juga dengan penyakit kencing
manis atau kencing gula. DM tergolong penyakit tidak menular yang
penderitanya tidak dapat secara otomatis mengendalikan tingkat gula
(glukosa) dalam darahnya. Pada tubuh yang sehat, kelenjar pankreas
melepas hormon insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke
otot-otot dan jaringan lain untuk memasok energi (Irianto, 2014).
6
7
2.1.2 Gejala Diabetes Mellitus
Berikut merupakan gejala diabetes melitus yang sering muncul adalah
sebagai berikut (Perkeni, 2011):
1. Poliuria (Banyak Kencing)
Poliuria adalah keadaan dimana volume air kemih dalam 24 jam
meningkat melebihi batas normal. Poliuria timbul sebagai gejala DM
dikarenakan kadar gula dalam tubuh relatif tinggi sehingga tubuh tidak
sanggup untuk mengurainya dan berusaha untuk mengeluarkannya
melalui urin. Gejala pengeluaran urin ini lebih sering terjadi pada
malam hari dan urin yang dikeluarkan mengandung glukosa.
2. Polidipsia (Banyak Minum)
Poidipsia adalah rasa haus berlebihan yang timbul karena kadar
glukosa terbawa oleh urin sehingga tubuh merespon untuk
meningkatkan asupan cairan.
3. Polifagia (Banyak Makan)
Pasien DM akan merasa cepat lapardan lemas, hal tersebut
disebabkan karena glukosa dalam tubuh semakin habis sedangkan
kadar glukosa dalam darah cukup tinggi.
4. Penyusutan Berat Badan
Penyusutan berat badan pada pasien DM disebabkan karena tubuh
terpaksamengambil dan membakar lemak sebagai cadangan energi.
2.1.3 Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan klasifikasi etiologis (Perkeni,
2015), yaitu:
8
1. Diabetes Mellitus tipe 1
DM yang terjadi karena kerusakan atau destruksi sel beta di pankreas.
kerusakan ini berakibat pada keadaan defisiensi insulin yang terjadi
secara absolut. Penyebab dari kerusakan sel beta antara lain autoimun
dan idiopatik.
2. Diabetes Mellitus tipe 2
Penyebab DM tipe 2 seperti yang diketahui adalah resistensi insulin.
Insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tidak dapat bekerja secara
optimal sehingga menyebabkan kadar gula darah tinggi di dalam tubuh.
Defisiensi insulin juga dapat terjadi secara relatif pada penderita DM tipe
2 dan sangat mungkin untuk menjadi defisiensi insulin absolut.
3. Diabetes Mellitus tipe lain
Penyebab DM tipe lain sangat bervariasi. DM tipe ini dapat disebabkan
oleh defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit
eksokrin pankreas, endokrinopati pankreas, obat, zat kimia, infeksi,
kelainan imunologi dan sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM.
4. Diabetes Mellitus tipe gestasional
Diabetes melitus tipe gestasional adalah penyakit gangguan metabolik
yang ditandai oleh kenaikan gula darah yang terjadi pada wanita hamil,
biasanya terjadi pada usia 24 minggu masa kehamilan, dan setelah
melahirkan kadar gula darah kembali normal.
5. Diagnosis Diabetes Mellitus
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada pasien diabetes. Keluhan
9
klasik DM ada seperti poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain pula berupa
lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada
pria, serta pruritus vulvae pada wanita (PERKENI, 2015). Diagnosis DM
dapat ditegakkan melalui tiga cara:
a. Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma
sewaktu >200 mg/dL atau
b. glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM.
c. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Apabila hasil pemeriksaan tidak
memenuhi kriteria normal atau DM, bergantung pada hasil yang
diperoleh, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok toleransi glukosa
terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT).
Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan
glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 –199 mg/dL.
2.1.4 Patofisiologis Diabetes Mellitus
Patofisiologis terjadinya diabetes mellitus tipe 2 secara genetik
adalah adanya resistensi insulin dan defek fungsi sel beta pankreas.
Secara klinis, resistensi insulin adalah adanya konsentrasi insulin yang
lebih tinggi dari normal yang dibutuhkan untuk mempertahankan
normoglikemia. Resitensi insulin merupakan kondisi umum bagi
orangorang dengan berat badan overweight atau obesitas. Insulin tidak
dapat bekerja secara optimal di sel otot, lemak, dan hati sehingga
memaksa pankreas mengkompensasi untuk memproduksi insulin lebih
10
banyak. Ketika produksi insulin oleh sel beta tidak adekuat guna
mengkompensasi peningkatan resistensi insulin, maka kadar glukosa
darah akan meningkat, pada saatnya akan terjadi hiperglikemia kronik
(Decroli, 2019).
Pada perjalanan penyakit diabetes mellitus tipe 2 terjadi penurunan
fungsi sel beta pankreas dan peningkatan insulin yang berlanjut sehingga
terjadi hiperglikemia kronik dan segala dampaknya. Hiperglikemia kronik ini
semakin merusak sel beta secara gradual di satu sisi dan memperburuk
resistensi insulin di sisi lain, sehingga penyakit diabetes mellitus tipe 2
semakin progresif. Hiperglikemia kronik juga mempengaruhi dan
berdampak memperburuk disfungsi sel beta pankreas.
Sebelum ditegakkannya diagnosis diabetes mellitus tipe 2 atau saat
dalam kondisi normal, sel beta pankreas dapat memproduksi insulin
secukupnya untuk mengkompensasi peningkatan resistensi insulin. Pada
saat diagnosis sudah ditegakkan, sel beta pankreas tidak dapat
memproduksi insulin yang adekuat karena fungsi normal sel beta pankreas
yang normal tinggal 50%. Pada tahap selanjutnya, sel beta pankreas
diganti dengan jaringan amiloid, akibatnya produksi insulin mengalami
penurunan sedemikian rupa, sehingga secara klinis diabetes mellitus tipe 2
ini sudah menyerupai diabetes tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara
absolut (Decroli, 2019).
Ada beberapa teori yang menerangkan bagaimana kerusakan sel
beta, diantaranya adalah teori glukotoksisitas, lipotoksisitas, dan
11
penumpukan amiloid. Efek hiperglikemia terhadap sel beta pankreas dapat
muncul dalam beberapa bentuk (Decroli, 2019), yaitu:
1. Desensitasi sel beta pankreas
Adalah gangguan sementara sel beta yang dirangsang oleh
hiperglikemia yang berulang. Keadaan ini akan kembali normal bila
glukosa darah dinormalkan.
2. Ausnya sel beta pankreas
Adalah kelainan sel beta yang masih reversibel dan terjadi lebih dini
dibandingkan glukotoksisitas
3. Kerusakan sel beta yang menetap
Adalah keadaan dimana kerusakan ini tidak bisa kembali atau irreversibel.
2.1.5 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Penatalaksanaa diabetes melitus ini bertujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Peningkatan kualitas hidup
pasien diabetes melitus perlu dilakukan pengendalian glukosa darah,
tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien
secara komprehensif. Dalam mengobati pasien diabetes mellitus tipe 2
tujuan yang akan dicapai yaitu meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan
penatalaksanaannya meliputi jangka pendek dan jangka panjang.
Tujuan pelaksanaan jangka pendek adalah menghilangkan keluhan
dan tanda diabetes mellitus, mempertahankan rasa nyaman, dan
mencapai target pengendalian glukosa darah. Tujuan pelaksanaan jangka
panjang adalah untuk mencegah dan menghambat progresivitas
komplikasi makro dan mikro, serta neuropati diabetikum, serta tujuan akhir
12
dari penatalaksanaan diabetes adalah menurunkan mordibitas dan
mortalitas (Decroli, 2019).
Menurut Perkeni (2015), langkah-langkah penatalaksanaan diabetes
mellitus yaitu:
1. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat perlu dilakukan sebagai
upaya dari pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting
dari pengelolaan diabetes mellitus secara holistik. Tim kesehatan harus
mendampingi pasien dalam perubahan perilaku tersebut, yang
berlangsung seumur hidup. Keberhasilan dalam mencapai perubahan
perilaku, membutuhkan edukasi, pengembangan ketrampilan, dan
motivasi yang berkenaan dengan:
a. Makan makanan sehat.
b. Kegiatan jasmani secara teratur.
c. Penggunaan obat diabetes secara umum, teratur, dan pada waktuwaktu
spesifik.
d. Melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan memanfaatkan
berbagai informasi yang ada.
2. Terapi Nutrisi Medis
Kunci keberhasilan langkah ini yaitu keterlibatan secara menyeluruh
dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta
pasien dan keluarga). Prinsip pengaturan makan pada pasien diabetes
mellitus hampir sama dengan anjuran makanan untuk masyarakat umum,
13
yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan
zat gizi masing-masing individu. Pasien diabetes perlu diberikan
penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan
jumlah kandungan kalori, terutama pada yang menggunakan obat yang
meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri. Perencanaan
makan pasien dengan diabetes mellitus meliputi;
a. Tujuan Diet
Tujuan diet adalah membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan
dan olahraga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik
dengan cara:
1. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal dengan
menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dengan obat penurun
glukosa oral dan aktivitas fisik.
2. Mencapai dan mempertahankan kadar lipda serum normal
3. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat
badan normal.
4. Menghindari dan menangani komplikasi akut pasien yang menggunakan
insulin.
5. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang
optimal.
b. Syarat diet
1. Energi cukup untuk mempertahankan dan mencapai berat badan normal.
Ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan metabolisme basal
sebesar 25-30 kkal/kgBB.
14
2. Kebutuhan protein 10-15% dari kebutuhan energi total
3. Kebutuhan lemak sedang 20-15% dari kebutuhan energi total
4. Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari perhitungan energi total sekitar 60-
70%
5. Penggunaan gula murni dalam makanan dan minuman tidak diperbolehkan
kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu.
6. Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas.
7. Asupan serat dianjurkan 25g/hari dengan mengutamakan serat larut air
yang ada pada buah dan sayur.
8. Apabila mengalami hipertensi, asupan natrium dibatasi. 9) Cukup vitamin
dan mineral
C. Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan
diabetes mellitus. Masalah utama pada diabetes mellitus tipe 2 adalah
kurangnya respon reseptor terhadap insulin. Kontraksi otot saat
berolahraga memiliki sifat seperti insulin (insulin effect). Permeabilitas
membran terhadap glukosa meningkat pada otot yang berkontraksi. Pada
saat melakukan latihan jasmani, resistensi insulin berkurang dan
sebaliknya sensitivitas insulin meningkat (Fahrudin 2011).
Prinsip latihan jasmani pasien diabetes sama saja dengan prinsip
jasmani secara umum, yaitu frekuensi, intensitas, durasi, dan jenis
aktivitas. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan
secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu dengan durasi 30-45 menit,
dengan total 150 menit perminggu. Latihan yang dianjurkan berupa latihan
jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (5070% denyut
15
jantung maksimal), seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan
berenang. Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi
angka 220 dengan usia pasien. Latihan disesuaikan dengan umur dan
status kebugaran jasmani. Intensitas latihan pada pasein yang relatif sehat
bisa ditingkatkan, sedangkan pada pasien diabetes dengan komplikasi,
intensitas latihan perlu dikurangi dan disesuaikan dengan masingmasing
individu (Perkeni, 2015).
d. Farmakologis
Perlu dilakukan penambahan obat oral atau insulin apabila terdapat
kegagalan dalam menerapkan pilar latihan jasmani. Terapi farmakologis ini
diberikan bersamaan dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya
hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.
Menurut Fahrudin (2011) obat-obat untuk pasien diabetes mellitus, yaitu:
a. Obat Hipoglikemik Oral (OHO) seperti sulfoniluria dan biguanida.
b. Insulin.
Beberapa hal harus diperhatikan saat memilih obat hipoglikemik oral,
seperti dosis yang dimulai dari dosis rendah, cara kerja, lama kerja, dan
efek samping. Indikasi pemberian obat hipoglikemik oral menurut
Soegondo dalam Fahrudin (2011) adalah sebagai berikut :
a. Diabetes sesudah umur 40 tahun.
b. Diabetes kurang dari 5 tahun.
c. Memerlukan insulin kurang dari 40 unit per hari.
d. Diabetes mellitus tipe 2 berat badan normal atau lebih.
16
2.2 Konsep Dasar Gaya Hidup
2.2.1 Pengertian Gaya Hidup Diabetes Mellitus
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan
dalam aktifitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan
keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya, serta
mencegah sakit lebih mudah dan murah dari pada mengobati seseorang
apabila jatuh sakit (Atikah Proverawati, 2016)
2.2.2 Macam-macam gaya hidup
1. Pola Konsumsi Makanan
a. makanan sehat dan seimbang
Makanan yang dimakan sehari-hari dinilai sehat untuk mencukupi
kebutuhan tubuh, apabila makanan tersebut terdiri dari bahan
makanan yang mempunyai tiga kegunaan yang sering disebut Tri
Guna Makanan, yaitu (Almatsier, 2013).
a) Mengandung zat tenaga. Bahan makanan sumber zat tenaga
adalah beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti,
mie, yang mengandung karbohidrat serta yang mengandung lemak
b) Mengandung zat pembangun. Bahan makanan sumber zat
pembangun yang berasal dari hewan mengandung protein hewani
adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahannya.
Sedangkan jenis bahan makanan yang berasal dari tumbuhtumbuhan
mengandung protein nabati adalah kacang tanah, kacang merah,
kacang hijau, kacang kedelai.
c) Mengandung zat pengatur berguna untuk mengatur semua
fungsi tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit
17
2. Menu sehat seimbang
Menu sehat seimbang adalah susunan makanan yang dimakan oleh
seseorang dalam jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi
kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh
dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan (Almatsier,
2013). Beberapa zat gizi seimbang antara lain (Almatsier, 2013) :
a) Karbohidrat
Sumber energi utama bagi manusia untuk melakukan aktivitas fisik
adalah karbohidrat yang akan disimpan dalam bentuk glikogen otot,
secara umum manusia membutuhkan konsumsi karbohidrat sebesar
275 gram/hari. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat
adalah nasi, mie, sagu, gandum, ubi, dan singkong. Pola makan
dengan asupan karbohidrat lebih dari 5565% dari total kebutuhan
energi sehari atau lebih dari 70% yang dikombinasikan dengan
pemberian asam lemak tidak jenuh rantai tunggal, merupakan pola
makan yang kurang baik terutama pada mereka yang berisiko
terkena diabetes melitus. Asupan protein yang lebih dari 10-15%
dari total kalori perhari juga salah satu pola yang tidak sehat untuk
mereka yang berisiko diabetes melitus.
b) Protein
Dalam proses kehidupan protein merupakan salah satu zat gizi
yang sangat penting yaitu sebagai zat pembangun, pertumbuhan,
pemeliharaan jaringan, menggantikan sel mati, pertahanan tubuh,
dan sumber utama energi. Secara umum manusia membutuhkan
18
konsumsi protein sebesar 150 gram/hari, dengan bahan makanan
yang mengandung protein adalah daging, ayam, telur, ikan, udang,
kerang, susu.
c) Lemak
Lemak terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen yang
merupakan sekelompok ikatan organik berfungsi mencadangkan
energi dalam bentuk jaringan lemak yang ditimbun ditempat
tertentu, melarutkan vitamin dan melindungi tubuh dari hawa dingin.
Manusia memerlukan lemak dalam melakukan aktivitas fisik setiap
hari sebesar 25 gram/hari. Lemak memiliki kandungan energi
sebesar 9 kilo kalori/gram dan berperan penting dalam membawa
vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, dan K,
walaupun demikian membatasi asupan lemak jenuh dan kolesterol
dapat memperbaiki profil lipid yang abnormal (Yunir, 2017).
d) Vitamin
Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sebesar 250
gram/hari yang terkandung didalam sayur dan buah-buahan.
Vitamin terdiri dari 2 jenis yaitu larut dalam lemak (A, D, E, K) dan
yang larut dalam air (C, B1, B2, Asam nicotinat, Pyridoxin, Biotin,
B5, Folancin, Cyanocobalamine).
e) Mineral
Mineral adalah zat yang diperlukan oleh tubuh sekitar 2 liter atau
8 gelas setiap hari untuk mengatur keseimbangan suhu tubuh.
19
3. Frekuensi makan
Frekuensi makan merupakan jumlah makan dalam sehari baik
kualitatif dan kuantitatif, yang diolah didalam tubuh melalui alat-alat
pencernaan. Asam lambung akan terus menghasilkan setiap waktu dalam
jumlah yang kecil, kadar glukosa dalam darah 4-6 jam sesudah makan
telah tercerna dan terpakai sehingga tubuh akan merasakan lapar dan
jumlah asam lambung akan terstimulasi. Jika 2-3 jam seseorang telat
makan maka asam lambung yang dihasilkan semakin banyak dan
meningkat sehingga dapat mengiritasi mukosa lambung dan menimbulkan
rasa nyeri disekitar epigastrium (Baliwati, 2015)
4. Aktivitas fisik atau Olahraga
Melakukan olahraga atau aktivitas fisik bisa membakar energi dan
menurunkan kadar gula dalam darah. Dengan demikian, olahraga bisa
membantu menurunkan jumlah insulin yang dibutuhkan tubuh,
menghasilkan insulin lebih mudah dalam mengontrol gula darah (Barbara
Taylor, 2017). Ada tiga macam aktivitas fisik yang dapat kita lakukan
untuk mempertahankan tubuh yaitu :
a) Aktivitas fisik ringan adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan menggerakkan tubuh, hanya memerlukan
sedikit tenaga dan biasanya tidak menyebabkan perubahan dalam
pernapasan atau ketahanan, contoh : Berkebun, berjalan kaki,
membersihkan rumah, mencuci baju.
b) Aktivitas fisik sedang adalah aktivitas yang menyebabkan
pengeluaran tenaga, menggerakan otot yang berirama atau
20
kelunturan (flexibility), contoh : bermain tenis meja, bermain bulu
tangkis, lari ringan, bersepeda, berenang, senam.
c) Aktivitas fisik berat adalah pergerakan tubuh yang
menyebabkan banyaknya pembakaran kalori yang diakibatkan
pernafasan jauh lebih cepat dari biasanya, contohnya : berlari,
mengangkat kayu/memikul beban, mencangkul, menimba air.
Ketepatan porsi intensitas aktivitas fisik dapat diukur pada saat
beraktivitas dengan menghitung detak nadi. Rumus denyut nadi
maksimum = 220 - usia (dalam tahun), harus mencapai 72% - 87% denyut
nadi dalam melakukan aktivitas fisik, bila kurang dari 70% dari denyut nadi
maksimum maka manfaatnya kurang maksimal dan jika melebih 85%
denyut nadi maka dapat menimbulkan kerugian pada tubuh.
Aktivitas fisik yang dilakukan minimum 25 menit, karena semakin
lama beraktivitas maka dapat memberikan efek yang lebih baik bagi tubuh.
Aktivitas fisik sedang yang disarankan minimaltiga kali seminggu. Namun,
perlu diketahui bahwa memaksakan diri dalam melakukan aktivitas dapat
membuat tubuh menjadi lelah sehingga tidak baik bagi kesehatan.
Olahraga merupakan gaya hidup sehat yang dapat menghambat
penurunan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit,
karena semakin lanjut usia daya tahan tubuh kita semakin menurun maka
dibiasakan sejak dini untuk berolahraga agar dimasa mendatang tubuh kita
menjadi sehat (Meylan, 2014)
5. Stres
21
Stres adalah suatu bentuk tanggapan seseorang baik fisik, maupun
mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan
mengganggu. Setiap aspek dari lingkungan dapat dirasakan sebagai stres,
tergantung dari persepsi orang tersebut terhadap lingkungannya, apakah
ia merasakan adanya stres atau tidak (Anoraga, 2015)
Faktor stres (cara mengelola stres) juga sangat berpengaruh pada
diabetes melitus karena dalam menghadapi stres tubuh merespon, dalam
hal ini kadar hormon meningkat seperti hormon katekolamin, kortisol yang
membuat banyak energi tersimpan, dimana glukosa dan lemak yang
tersedia untuk sel. Namun insulin tidak selalu membiarkan energi ekstra ke
dalam sel sehingga glukosa menumpuk dalam darah. Inilah yang
menyebabkan terjadinya diabetes (Mitra, 2015)
Stres kronis cenderung membuat seseorang mencari makan yang
manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan kadar serotonin otak yang
memiliki efek sedatife (meredahkan stres). Mengkonsumsi gula dan lemak
berbahaya bagi berisko diabetes karena kadar gula darah tergantung pada
kegiatan hormonal yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal, yaitu adrenalin
dan kortikosteroid. Adrenalin akan memacu kenaikan kebutuhan gula
darah, sedangkan kortikosteroid akan menurunkannya kembali, adrenalin
yang dipacu terus-menerus mengakibatkan kadar insulin menurun
sehingga pengaturan kadar gula darah ideal terganggu, akibatnya kadar
gula darah naik secara drastis (Anoraga, 2015)
6. Merokok
22
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam
kehidupan sehari-hari. Dari segi kesehatan, tidak ada satu titik yang menyetujui
atau melihat manfaat dikandungnya, merokok adalah salah satu kebiasaan atau
pola hidup tidak sehat. Bahkan jumlah perokok meningkat dari tahun ke tahun,
namun tidak mudah untuk menurunkan terlebih menghilangkannya, karena itu
gaya hidup ini dianggap faktor resiko dari berbagai macam penyakit (Sari, 2014)
Gaya hidup yang bisa menyebabkan seseorang menjadi Diabetes
Melitus adalah seringnya merokok dan terpaparnya asap rokok (perokok
pasif), merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasaan arteri
seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak, jantung, dan tungkai), sehingga
merokok mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah,
dan menyebabkan darah mudah menggumpal (Feigin, 2013)
Kepulan dari asap rokok yang terkandung yaitu 4000 racun kimia
berbahaya pada orang yang merokok dan seseorang yang terpapar asap
rokok dapat meningkatkan kadar gula darah disebabkan pengaruh zat
nikotin yang merangsang kelenjar adrenal (Prapti Utami, 2017).
Nikotin adalah suatu zat yang meracuni syaraf tubuh, meningkatkan
tekanan darah, penyempitan pembuluh darah tepi yang menyebabkan
ketagihan dan ketergantungan pada
pemkaiannya, kadar nikotin 4-6 mg yang diisap setiap harinya bisa membuat
seseorang ketagihan (Amalia, 2011)
Tar adalah kumpulan komponen bahan kimia bersifat karsinogen
yang meningkatkan kekentalan darah sehingga memaksa jantung untuk
memompa lebih cepat. Pada dasarnya rokok mengandung 8-20 mg
23
nikotin, yang masuk kedalam sirkulasi darah hanya 25% walaupun
jumlanya kecil tetapi hanya memiliki waktu 15 detik untuk sampai keotak
manusia (Amalia, 2011).
Merokok ternyata tidak hanya menimbulkan sejumlah bahaya medis
yang mematikan, namun rokok juga memiliki bahaya psikologi, misalnya
depresi dan skizofrenia. Kecanduan merokok juga merupakan bentuk
perilaku adiktif yang menjadi masalah kesehatan jiwa sehingga
dikelompokkan pada gangguan kecanduan (Albery & Mufano, 2011).
Menurut Bustan (2015), kategori perokok adalah sebagai berikut :
a. Perokok Pasif
Perokok pasif adalah asap rokok yang dihirup oleh seseorang yang
tidak merokok (Pasif smoker). Asap rokok yang terhirup oleh orang-
orang bukan perokok yang berada disekitar perokok biasanya
menimbulkan secone handsmoke.
b. Perokok Aktif
Perokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari isapan perokok
(mainstream), perokok aktif ini dapat digolongkan menjadi tiga
bagian:
1) Perokok ringan
Perokok ringan merupakan seseorang yang merokok kurang dari
sepuluh batang rokok perhari
2) Perokok sedang
Perokok sedang merupakan seseorang yang merokok 10-20 batang
rokok perhari
24
3) Perokok berat
Perokok berat merupakan seseorang yang merokok lebih dari 20
batang rokok perhari
2.2.2 Pengukuran Gaya Hidup
[Link] Pengertian Diabetes Score Questionnaire
Skor Diabetes adalah kuesioner berorientasi perilaku yang
dikembangkan khusus untuk penggunaan klinis. Ini adalah skala peringkat
kesehatan yang diturunkan secara teoritis yang menargetkan perilaku
spesifik kondisi untuk alasan yang bermakna secara pribadi seperti yang
didalilkan dalam teori manajemen diri. Dengan ringkas dan mudah
dipahami, instrumen ini memungkinkan penderita diabetes untuk melihat
seberapa baik mereka mengikuti panduan berbasis bukti untuk target gaya
hidup sehat. Kuesioner terdiri dari 10 item berorientasi pada perilaku yang
dirancang dengan hati-hati untuk memotivasi pasien agar menerapkan
gaya hidup yang lebih sehat. Setiap item dinilai oleh pasien sebagai 0, 5
atau 10 poin berdasarkan rubrik target gaya hidup. Peringkat item
dijumlahkan untuk menghasilkan skor total intuitif mulai dari nol hingga 100
poin.
Hal ini memungkinkan pasien dan dokter untuk mengukur kemajuan
dan mendiskusikan area untuk perbaikan dan perilaku target. Segala
bentuk penggunaan tembakau seperti merokok menyebabkan
pengurangan 20 poin. Kesederhanaan adalah kebajikan ketika
menganjurkan perubahan gaya hidup. Misalnya, telah ditunjukkan bahwa
rencana makan yang terstruktur cukup memadai dibandingkan dengan
25
rencana makan individual yang terperinci di antara pasien dengan diabetes
tipe 2 (MJ Hashim, 2020).
Skor Diabetes adalah alat yang valid dan andal untuk
memberdayakan gaya hidup dan modifikasi perilaku di antara pasien
dengan diabetes mellitus. Kuesioner singkat dan gratis ini berpotensi untuk
digunakan di klinik diabetes untuk membahas perubahan perilaku. Ini
dapat berfungsi sebagai intervensi lini pertama pada pasien diabetes
sambil mengurangi biaya perawatan diabetes (MJ Hashim, 2020).
Diabetes Score Questionnaire adalah kuesioner yang telah
digunakan oleh beberapa penelitian terdahulu yang juga meneliti tentang
gaya hidup lansia penderita diabetes mellitus tipe II . Pada jurnal yang
telah dikutip oleh Muhammad Jawad Hashim (2020) dijelaskan bahwa
DSQ adalah kuesioner yang telah melewati uji validitas dan uji reabilitas
dan merupakan kuesioner yang paten dengan 10 poin yang mencakup
gaya hidup lansia penderita diabetes mallitus tipe II dengan masing-
masing poinnya sesuai yang tertera dalam jurnal.
2.3 Konsep Dasar Lansia
2.3.1 Pengertian Lansia
Menua atau menjadi tua adalah suatu proses biologis yang tidak
dapat dihindari. Proses penuaan terjadi secara alamiah. Hal ini dapat
menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi. Lansia merupakan
suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Menua
merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya bisa dimulai dari suatu
waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua
26
merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang akan melewati tiga
tahap dalam kehidupannya yaitu masa anak, dewasa dan juga tua.
(Mawaddah,2020)
2.3.2 Ciri-Ciri Lansia
Menurut Oktora & Purnawan, (2018) adapun ciri dari lansia diantaranya :
1. Lansia merupakan periode kemunduran Kemunduran pada
lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis sehingga
motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia.
Misalnya lansiayang memiliki motivasi yang rendah dalam melakukan
kegiatan, maka akanmempercepat proses kemunduran fisik, akan tetapi
ada juga lansia yang memilikimotivasi yang tinggi, maka kemunduran fisik
pada lansia akan lebih lama terjadi.
2. Penyesuaian yang buruk pada lansia prilaku yang buruk terhadap
lansia membuat mereka cenderung mengembangkan konsep diri yang
buruk sehingga dapat memperlihatkan bentuk perilaku yang [Link]
dari perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia
menjadi buruk pula. Contoh: lansia yang tinggal bersama keluarga sering
tidak dilibatkan untuk pengambilan keputusan karena dianggap pola
pikirnya kuno, kondisi inilah yang menyebabkan lansia menarik diri dari
lingkungan, cepat tersinggung dan bahkan memiliki harga diri yang
rendah.
2.3.3 Karakteristik Lansia
Karakteristik lansia menurut ([Link], 2017) yaitu :
27
1. Seseorang dikatakan lansia ketika telah mencapai usia 60 tahun
keatas
2. Status pernikahan Berdasarkan Badan Pusat Statistik RI SUPAS
2015, penduduk lansia ditilik dari status perkawinannya sebagian besar
berstatus kawin (60 %) dan cerai mati (37 %). Adapun perinciannya yaitu
lansia perempuan yang berstatus cerai mati sekitar 56,04 % dari
keseluruhan yang cerai mati, dan lansia lakilaki yang 13 berstatus kawin
ada 82,84 %. Hal ini disebabkan usia harapan hidup perempuan lebih tinggi
dibandingkan dengan usia harapan hidup laki-laki, sehingga presentase
lansia perempuan yang berstatus cerai mati lebih banyak dan lansia lakilaki
yang bercerai umumnya kawin lagi
3. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat
sampai sakit, kebutuhan biopsikososial dan spiritual, kondisi adaptif hingga
kondisi maladaptive.
4. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi
2.3.4 Klasifikasi lansia
Menurut Lilik Marifatul (2011) terdapat beberapa versi dalam pembagian
kelompok lansia berdasarkan batasan umur, yaitu :
1. Menurut WHO, lansia dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-59 tahun
b. Lansia (edderly), yaitu kelompok usia 60-74 tahun
c. Lansia tua (old),yaitu kelompok usia 75-90 tahun
d. Lansia sangat tua (very old),yaitu kelompok usia lebih dari 90 tahun.
28
2.3.5 Perubahan Terjadi Pada Lansia
Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara
degeneratif yang biasanya akan berdampak pada perubahan- perubahan
pada jiwa atau diri manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga
kognitif, perasaan, sosial dan sexual (National & Pillars, 2020).
1. Perubahan fisik
Dimana banyak sistem tubuh kita yang mengalami perubahan
seiring umur kita seperti:
a. Sistem Indra Sistem pendengaran
Prebiakusis (gangguan pada pendengaran) oleh karena hilangnya
kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60
tahun.
b. Sistem Intergumen
Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis kering dan
berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan
berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea
dan glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit
dikenal dengan liver spot.
2. Perubahan Kognitif
29
Banyak lansia mengalami perubahan kognitif, tidak hanya lansia biasanya
anak- anak muda juga pernah mengalaminya seperti: Memory (Daya ingat,
Ingatan)
3. Perubahan Psikososial
Sebagian orang yang akan mengalami hal ini dikarenakan berbagai
masalah hidup ataupun yang kali ini dikarenakan umur seperti:
a. Kesepian Terjadi pada saat pasangan hidup atau
teman dekat meninggal terutama jika lansia mengalami
penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat,
gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran.
b. Gangguan cemas Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik,
gangguan cemas umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan
obsesif kompulsif, gangguangangguan tersebut merupakan kelanjutan dari
dewasa muda dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis,
depresi, efek samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu
obat.
c. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbilitas yang
signifikan. Ada beberapa dampak serius gangguan tidur pada lansia
misalnya mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan
memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak
semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian, angka sakit
jantung dan kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama tidurnya lebih
dari 9 jam atau kurang dari 6 jam per hari bila dibandingkan. dengan
seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per hari. Berdasarkan
30
dugaan etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat kelompok yaitu,
gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental lain,
gangguan tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang
diinduksi oleh zat.
31
2.4 Kerangka Konseptual
Lansia
Faktor Internal : Faktor Eksternal :
1. Riwayat keluarga DM 1. Obesitas
2. Hipertensi 2. Kebiasaan merokok
3. Jenis kelamin 3. Stress
4. Genetika 4. Kurang aktivitas fisik
5. Kelainan fungsi prosuksi 5. Diet tidak seimbang
DM
insulin dalam tubuh 6. Gaya hidup
(Diabetes
6. Umur Mellitus)
DM Tipe I DM Tipe II
Indikator :
Keterangan : 1. Pola aktivitas fisik
2. Pola makan
: Berpengaruh 3. Edukasi kesehatan
4. Pengobatan
: Berhubungan Hasil pengukuran gaya hidup :
80-100 : sangat baik
: Yang Diteliti 60-80 : baik
60-40 : cukup
20-40 : buruk
: Tidak Diteliti 0-20 : sangat buruk
Gambar 2.1 kerangka Konsep Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita
DM Tipe II di Posyandu Lansia Ari Murti 3
32
2.4.1 Deskripsi kerangka konsep
Penyakit DM (Diabetes Mellitus) adalah penyakit yang dengan
meningkatnya kadar gula dalam darah yang dapat terjadi pada usia muda
hingga lansia. DM memiliki 2 tipe, yaitu DM Tipe I dan DM Tipe II. Dm Tipe
I terjadi karena ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi cukup
insulin. Sedangkan DM Tipe II terjadi kelenjar pankreas tidak dapat
mencukupi kebutuhan insulin pada tubuh. Terdapat faktor internal dan
faktor eksternal terjadinya DM yang telah dijelaskan pada gambar 2.1
diatas. Indikator gaya hidup pada penelitian ini ada 4 yaitu pola aktivitas,
pola makan, edukasi kesehatan, dan pengobatan. Pada 4 indikator
tersebut masing-masing memiliki poin dengan jumlah skor dari yang paling
tinggi yaitu 10 poin dan paling rendah yaitu 0 poin, yang kemudian tiap-tiap
poin dijumlah agar mendapat poin akhir untuk menentukan skor gaya
hidup responden.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan suatu bentuk atau pola penelitian yang
digunakan sebagai panduan atau prosedur yang berguna untuk
mengembangkan strategi yang mengarah pada metode penelitian
(Sugiyono, 2018).Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian
deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan
informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu gejala yang ada
pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif tidak bertujuan untuk
menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “apa adanya”
tentang sesuatu variabel, gejala atau keadaan (Zellatifanny and
Mudjiyanto, 2018). Desain penelitian yang digunakan di dalam penelitian
ini adalah deskriptif yaitu Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita
Diabetes Mellitus Tipe II Posyandu Lansia Ari Murti 3.
3.2 Kerangka Kerja
Kerangka kerja adalah suatu struktural konseptual dasar yang
digunakan untuk memecahan atau menangani suatu malasah kompleks
(Yusuf, 2017). Kerangka kerja pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
28
29
Populasi :
Seluruh pasien lansia di Posyandu Lansia Ari Murti 3 rata-rata sebanyak 60 lansia
Sampel:
Seluruh pasien lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II di Posyandu Lansia
Ari Murti 3 sebanyak 40 lansia
Desain Penelitian :
Deskriptif
Sampling :
Consecutive sampling
Variabel Penelitian :
Gaya Hidup Lansia Penderita Diabetes Mellitus Tipe II
Instrumen :
Diabetes Score Questionnaire
Pengolahan Data Dan Analisa Data:
Editing, Coding, Scoring, Tabulating
Penarikan Kesimpulan
Penyajian Data
Penarikan Hasil
Gambar 3.1 Kerangka Kerja
3.3 Populasi, Sampel, dan Sampling
3.3.1 Populasi
Menurut Handayani (2020), populasi adalah totalitas dari setiap
elemen yang akan diteliti yang memiliki ciri sama, bisa berupa individu dari
suatu kelompok, peristiwa, atau sesuatu yang akan diteliti. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh peserta di Posyandu Lansia Ari 3 sebanyak
60 lansia.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah subyek yang akan diteliti dan dianggap mewakili
seluruhpopulasi. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode
consecutive sampling, dimana semua subyek yang datang dan memenuhi
kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek
yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael, 2014). Sampel dalam
penelitian ini adalah lansia penderita DM tipe II di Posyandu Lansia Ari
Murti 3. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :
1. Anggota di Posyandu Lansia Ari Murti 3,
2. Lansia umur 45 tahun keatas,
3. Penderita DM tipe II,
4. Bersedia menjadi responden dalam penelitian ini dengan
menandatangani lembar persetujuan responden.
3.3.3 Sampling
Menurut Handyaan (2020), teknik pengambilan sampel atau biasa
disebut sampling, pengertian sampling adalah prosesmemilih
sekumpulan item dari populasi yang dipelajari untuk digunakan sebagai
31
spesimen untuk memahami berbagai sifat atau karakteristik dari suatu
subjek yang digunakan sebagai contoh dari mana generalisasi dari
elemen populasi. Teknik sampling penelitian ini adalah consecutive
sampling. Menurut Sastroasmoro & Ismael (2014), consecutive sampling
adalah teknik penentuan sampling dimanasemua subyek yang datang dan
memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalampenelitian sampai jumlah
subyek yang diperlukan terpenuhi.
3.4 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional
3.4.1 Identifikasi Variabel
Variabel penelitian adalah karakter atau sifat atau nilai orang, subjek
atau aktivitas yang bervariasi ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari
kemudian ditarik kesimpulannya. Varabel ini meneliti gaya hidup pada
pasien lansia penderita Diabetes Mellitus Tipe II.
3.4.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi yang berdasarkan karakteristik
yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang
diamati itulah yang merupakan kunci definisi operasional(Nursalam, 2013).
Adapun definisi operasional pada penelitian ini yaitu :
Variabel Definisi Operasional Indikator Alat Ukur Skala data Skor
Gaya Hidup Perilaku atau cara hidup Gaya hidup pada penderita Ordinal Penilaian :
Lansia Kuisioner
penderita diabetes mellitus diabetes mellitus dengan a. 10 point
Penderita DM
yang diwujudkan dalam indikator : b. 5 point
Tipe II
bentuk aktivitas, minat, dan c. 0 point
1. Pola Aftivitas Fisik
pandangan individu dengan Kemudian hasil skor
2. Pola Makan
lingkungan. diinterpretasikan
3. Edukasi Kesehatan
4. Pengobatan senagai berikut :
80-100 : sangat baik
60-80 : baik
60-40 : cukup
20-40 : buruk
0-20 : sangat buruk
34
3.5 Pengumpulan Data dan Analisa Data
3.5.1 Proses Perijinan
Izin penelitian merupakan dokumen yang dikeluarkan oleh pihak
yang berwenang berdasarkan peraturan, yang merupakan bukti legalitas
bahwa seseorang peneliti diperbolehkan melakukan penelitian (KPPOD,
2018) . Proses perizinan penelitian merupakan proses seorang peneliti
untuk meminta legalitas melakukan penelitian pada suatu tempat pada
pihak yang berwenang di tempat tersebut. Adapun proses perizinan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian dimulai saat setelah mendapat persetujuan dari dosen
pembimbing 1 dan 2, dan Kepala Prorgam Studi Keperawatan ITSK
RS. Dr. Soepraoen Malang. Kemudian peneliti mengajukan surat
pengantar atau perijinanan dari ITSK RS. Dr. Soepraoen Malang ke
Kepala Kantor Kelurahan Kacuk untuk dimintakan surat rekomendasi
penelitian ke Kader Posyandu Lansia Ari Murti 3.
2. Datang ke Kepala Kantor Kelurahan Kacuk untuk menjelaskan latar
belakang penelitian, bentuk penelitian, tujuan serta prosedur
penelitian.
3. Setelah mendapatkan surat rekomendasi penelitian dari Kepala
Kantor Kelurahan Kacuk, datang ke Posyandu Lansia Ari Murti 3 untuk
menyerahkan surat rekomendasi penelitian dari Kepala Kantor
Kelurahan Kacuk.
35
4. Setelah diserahkan ke kader Posyandu Lansia Ari Murti 3, peneliti
menunggu informasi dan persetujuan terkait penelitian yang akan
dilakukan.
5. Setelah mendapat persetujuan dan informasi dari kader posyandu,
peneliti mulai mempersiapkan untuk kegiatan penelitian yang akan
dilaksanakan dengan kader posyandu setempat.
3.6 Proses Pengumpulan Data
3.6.1 Tahapan Pengumpulan Data
Pengumpullan data adalah proses pendekatan kepaa subjek dan
proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan alam penelitian
(Nursalam, 2003). Tahap pengumpulan data dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Setelah peneliti memperoleh izin penelitian, maka peneliti bekerja
sama dengan kader posyandu untuk meminta izin penelitian di
Posyandu Lansia Ari Murti 3 untuk menjadi tempat penelitian.
2. Kemudian peneliti meminta melakukan pendekatan kepada
responden untuk menjelaskan maksud dan tujuan penelitian dan jika
responden bersedia diteliti, peneliti meminta untuk menandatangi
lembar persetujuan menjadi responden.
3. peneliti memberikan kuesioner tentang gaya hidup penderita DM,
kemudian peneliti melakukan observasi gula darah acak responden
dengan melihat hasil catatan rekam medik pasien
4. Setelah responden selesai peneliti melakukan koreksi data ulang
dan jika terdapat kuesioner yang belum diisi maka peneliti meminta
36
responden untuk mengisinya kembali. Pelaksanaan editing dilakukan
secara lansung sehingga jika terdapat kekurangan peneliti dapat
meminta responden melengkapi kekurangan tersebut secara
langsung.
5. Setelah semua data terkumpul peneliti melakukan proses
pengolahan data.
3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen adalah berbagai alat ukur yang digunakan secara
sistematis untuk pengumpulan data seperti tes, kuesioner, dan pedoman
wawancara (Raihan, 2017). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah lembar Diabetes Score Quisionnare. Diabetes Score Questionnaire
adalah kuesioner satu halaman berisi 10 item untuk mendiskusikan
perubahan gaya hidup yang bertujuan untuk mengevaluasi kuesioner Skor
Diabetes untuk validitas dan penerimaannya di antara individu dengan
diabetes tipe 2.
3.7 Pengelolahan Data dan Analisa Data
3.7.1 Pengelolahan Data
Pengolahan data merupakan segala berbagai pengolahan terhadap
data atau kombinasi-kombinasi dari berbagai macam pengolahan terhadap
data untuk membuat data itu berguna sesuai dengan hasil yang diinginkan
dapat segera dipakai. Menurut Masturoh & Anggita T (2018), pengolahan
data adalah bagian dari penelitian setelah pengumpulan data. Pada tahap
ini data mentah atau data yang telah dikumpukan dan diolah atau
dianalisis sehingga menjadi informasi sebagai berikut :
37
1. Editing
Editing atau penyuntingan data merupakan tahapan dimana data
yang sudah dikumpulkan dari hasil pengisian kuesioner disunting
kelengkapan jawabannya. Jika pada tahapan penyuntingan ternyata
ditemukan ketidaklengkapan dalam pengisian jawaban, maka harus
melakukan pengumpulan data ulang.
2. Coding
Coding adalah membuat lembaran kode yang terdiri dari tabel dibuat
sesuai dengan data yang diambil dari alat ukur yang digunakan.
Pemberian kode dalam penelitian ini misalnya :
a. Usia
1. 46-55 th kode 1
2. 56-65 th kode 2
3. >66 th kode 3
b. Jenis kelamin
1. Laki-laki kode 1
2. Perempuan kode 2
c. Lama menderita DM
1. <1th kode 1
2. >1th kode 1
d. Riwayat keluarga DM
1. Ada kode 1
2. Tidak ada kode 2
e. Tekanan darah
38
1. <120/80 mmHg kode 1
2. 120/80mmHg kode 2
3. >120/80 mmHg kode 3
f. IMT
1. Underweight kode 1
2. Normal kode 2
3. Overweight kode 3
4. Obesitas kode 4
g. Kebiasaan merokok
1. Ya kode 1
2. Tidak kode 2
h. Nilai kadar gula darah
1. <126mg/dl kode 1
2. 126mg/dl kode 2
3. >126mg/dl kode 3
i. Pendidikan
1. SD kode 1
2. SMP1 kode 2
[Link] kode 3
j. Pekerjaan
1. Bekerja kode 1
2. Tidak bekerja kode 2
k. Penggunaan insulin
39
1. Menggunakan kode 1
2. Tidak menggunakan kode 2
l. Skor Gaya hidup
1. Gaya hidup sangat baik kode 1
2. Gaya hidup baik kode 2
3. Gaya hidup cukup kode 3
4. Gaya hidup buruk kode 4
5. Gaya hidup sangat buruk kode 5
3. Scoring
Scoring yaitu setelah data terkumpul dari seluruh responden, peneliti
memeriksa dan menyesuaikan data dengan data semula seperti apa yang
diinginkan. Scoring pada penelitian ini telah ditentukan dan ditetapkan
sesuai poin-poin pada tiap pertanyaan yang ada pada sumber peneliti
terdahulu yaitu sebagai berikut :
a. 10 point
b. 5 piont
c. 0 point
Kemudian setelah hasil tiap pertanyaan dijumlahkan akan diinterpretasikan
dengan pembagian skor sebagai berikut (M.J. Hashim, 2020)
80-100 : sangat baik
60-80 : baik
60-40 : cukup
40
20-40 : buruk
0-20 : sangat buruk
4. Tabulating
Data – data dari hasil penelitian yang diperoleh digolongkan kategori
jawabannya berdasarkan variabel dan sub-sub variabel yang diteliti
kemudian dimasukkan ke dalam tabel. Pengertian tabulasi dalam
pengolahan data disini adalah usaha penyajian data dengan bentuk
[Link] data yang berbentuk tabel ini dapat berbentuk tabel
distribusi frekwensi maupun dapat berbentuk tabel silang.
3.7.2 Analisis Data
Analisa data diartikan sebagai upaya mengolah data menjadi
informasi, sehingga karakteristik atau sifat-sifat data dapat dengan mudah
dipahami dan dimanfaatkan untuk menjawab rumusan masalah
(Kurniawan dan Puspitaningtyas, 2016). Pada penelitian ini telah
ditentukan dan ditetapkan sesuai poin-poin pada tiap pertanyaan yang ada
pada sumber peneliti terdahulu yaitu sebagai berikut :
a. 10 point
b. 5 piont
c. 0 point
Kemudian setelah hasil tiap pertanyaan dijumlahkan akan
diinterpretasikan dengan pembagian skor (M.J. Hashim, 2020) :
80-100 : sangat baik
60-80 : baik
41
60-40 : cukup
20-40 : buruk
0-20 : sangat buruk
Hasil perhitungan frekuensi dan presentase kemudian diinterpretasikan
menurut Arikunto (2014) :
1. seluruh : 100%
2. hamper seluruh : 76%-99%
3. sebagian besar : 51%-75%
4. setengahnya : 50%
5. hamper setengahnya : 26%-49%
6. sebagian kecil : 1%-25%
7. tidak satupun : 0%
3.8 Waktu dan Tempat Penelitian
3.8.1 Waktu Penelitian
Waktu penelitian merupakan waktu kapan penelitian akan dilaksanakan.
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada Agustus 2023.
3.8.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Posyandu Lansia Ari Murti 3.
3.9 Etika Penelitian
Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika
Serikat melahirkan The Belmont Report (Naional, 2017)
merekomendasikan tiga prinsip etik umum penelitian kesehatan yang
mengikutsertakan manusia sebagai subjek penelitian. ketiga prinsip etik
dasar tersebut adalah sebagai berikut:
42
1. Prinsip menghormati harkat martabat manusia (respect for persons)
Prinsip ini merupakan bentuk menghormati terhadap harkat martabat
manusia sebagai pribadi (personal) yang memiliki kebebasan
berkehendak atau memiliki dan sekaligus bertanggung jawab secara
pribadi terhadap keputusannya sendiri.
2. Prinsip berbuat baik dan tidak merugikan
Prinsip etik berbuat baik menyangkut kewajiban membantu orang lain
dilakukan dengan mengupayakan manfaat maksimal dengan kerugian
minimal.
3. Prinsip keadilan (justice)
Prinsip etik keadilan mengacu pada kewajiban etik untuk
memperlakukan setiap orang (sebagai pribadi otonom) sama
dengan moral yang benar dan layak dalam memperole haknya.
3.9.1 Kerahasiaan (confidentiality)
Peneliti menjaga kerahasiaan beberapa kelompok data yang
diperlukan dalam hasil penelitian. Peneliti menjaga kerahasiaan identitas
responden dengan menuliskan data responden dengan menggunakan
kode dan menutupi wajah responden
3.9.2 Menghormati Subjek (Respect For Person)
Peneliti tidak memaksa atau mengancam responden agar bersedia
menjadi peserta penelitian.
3.9.3 Manfaat (Beneficence)
Dalam hal ini peneliti melakukan pemeriksaan kesehatan yaitu
pengukuran TTV dan pengecekan GD kepada para responden dan
43
memberikan pendidikan kesehatan mengenaigaya hidup sehat terkait
penyakit DM.