0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan48 halaman

Bab 1,2,3 Rapi

Dokumen ini membahas tentang Diabetes Mellitus (DM) tipe II pada lansia, yang sering disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat dan pola makan yang buruk. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan gaya hidup lansia penderita DM tipe II di Posyandu Lansia Ari Murti 3, serta memberikan kontribusi dalam pengembangan pengetahuan dan perilaku sehat bagi penderita. DM merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikelola dengan baik.

Diunggah oleh

silvi ap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan48 halaman

Bab 1,2,3 Rapi

Dokumen ini membahas tentang Diabetes Mellitus (DM) tipe II pada lansia, yang sering disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat dan pola makan yang buruk. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan gaya hidup lansia penderita DM tipe II di Posyandu Lansia Ari Murti 3, serta memberikan kontribusi dalam pengembangan pengetahuan dan perilaku sehat bagi penderita. DM merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikelola dengan baik.

Diunggah oleh

silvi ap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

DM (Diabetes Mellitus) merupakan penyakit yang tidak menular

tetapi penyakit kronis yang berupa kumpulan gejala akibat meningkatnya

jumlah kadar gula dalam darah (hiperglikemi) yang disebabkan karena

kelainan sekresi pada insulin kerja insulin bahkan keduanya. Penyakit

DM sering terjadi pada lansia karena gaya hidup yang kurang baik dan

pola makan yang tidak teratur pada lanjut usia yang dapat menimbulkan

berbagai masalah kesehatan (WHO, 2012).

DM pada lansia adalah penyakit yang sering terjadi pada lanjut

usia yang disebabkan karena lansia tidak dapat memproduksi insulin

dalam jumlah yang cukup atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin

secara efektif (Nugroho, 2012). Pada organ tubuh lansia akan terjadi

kelebihan glukosa di dalam darah serta akan dirasakan setelah terjadi

komplikasi lanjut, setelah itu akan terjadi pada semua organ tubuh dan

menimbulkan berbagai macam keluhan maupun gejala yang sangat

bervariasi (Gibney, 2009).

Kemunculan DM (Diabetes Mellitus) pada lansia yaitu karena

kebiasaan-kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan

yang tidak seimbang di karenakan padatnya aktivitas manusia

menjadikan mereka melilih untuk lebih cepat dan semua serba instan

dan modern, bahkan pola makanan yang mengandung banyak

karbohidrat dan makanam sumber glukosa secara berlebihan, ditambah

lagi kurang aktivitas fisik (Susanto, 2016).

1
2

Diabetes melitus berada diperingkat ke-7 sebagai 10 penyakit

penyebab kematian di dunia; 90%-95% kasus merupakan DM tipe II.

Internasional Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa

Indonesia berada di peringkat ke-6. Muchlis menyebut angka penderita

diabetes mellitus di Kota Blitar cukup tinggi, dari 91.606 jiwa penduduk,

80.936 diantaranya telah melakukan pemeriksaan dan sebanyak 3.747

jiwa terdiagnosa diabetes mellitus (Muchlis, 2020).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di

Posyandu Lansia Ari Murti 3 pada 21 juli 2023 didapatkan data terdapat

30 lansia menderita penyakit DM tipe II, dengan 5 lansia (17%)

mengatakan tidak mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit DM

Tipe II, 8 lansia (26%) mengatakan sering makan/minum yang manis

hampir setiap hari, 3 lansia (10%) mengatakan kebiasaannya merokok

tidak bisa dihentikan, 5 lansia (17%) mengatakan tidak pernah cek gula

darah, 2 lansia (7%) mengatakan dirinya sering begadang dan stress,

serta 7 lansia (23%) mengatakan bahwa dirinya selalu gagal untuk

melaksanakan gaya hidup yang sehat.

Tingginya angka kejadian DM Tipe II pada lansia saat ini dapat

dipengaruhi oleh gaya hidup yang tidak sehat yang meliputi pola makan

seperti kurangnya pengetahuan lansia pada sikap dan tindakan

terhadap pola makan pada faktor resiko DM Tipe II. Diabetes Mellitus

(DM) merupakan salah satu jenis penyakit degeneratif tidak menular

yang menjadi masalah serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia

maupun di dunia. Pola makan yang tidak teratur yng terjadi pada lansia
saat ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penyakit

degeneratif, salah satunya penyakit Diabetes Mellitus (DM).

Pengetahuan yang kurang tentang gaya hidup yang baik pada lansia

dapat memicu peningkatan penyakit tidak menular, salah satunya adalah

diabetes mellitus (Bustan, 2015). Gaya hidup sangat berpengaruh

terhadap kondisi fisik maupun psikis seseorang, perubahan gaya hidup

dan rendahnya perilaku hidup sehat dapat menimbulkan berbagai masalah

kesehatan, kebiasaan-kebiasaan tidak sehat berpengaruh terhadap

kemunculan diabetes melitus seperti pola makan yang tidak seimbang

dengan kadar kolesterol yang tinggi, rokok, alkohol, asupan gula yang

berlebihan, minimnya olah raga dan porsi istirahat sampai stres dapat

berpengaruh terhadap diabetes mellitus (Suyono, 2016).

DM pada lansia umumnya bersifat asimptomatik, kalaupun ada

gejala, seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi,

perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan

fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh,

dan inkontinensia urin). Terjadinya DM ketika pankreas tidak mampu

mengeluarkan kadar insulin dengan baik. Apabila zat gukosa tidak terjaga

maka akan berakibat pada kerusakan saraf dan arteri kecil di jantung,

mata dan ginjal (Fatimah, 2015).

Terdapat beberapa penatalaksanaan pada lansia penderita DM yaitu

dengan menerapkan gaya hidup yang sehat dalam kegiatan sehari-hari

seperti mengatur pola makan dengan benar, kontrol pola bukan hanya

pada tipe makanan tertentu tetapi juga jatah makanan (Fatimah, 2015).

3
4

Selain itu bisa juga dengan berolahraga secara teratur. Para ahli

kesehatan merekomendasikan minimal 30 menit kegiatan per hari.

Selanjutnya istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh supaya

konsentrasi hormon bisa terjaga (Rumahorboo, 2014).

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti akan melakukan

penelitian dengan judul “Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita Diabetes

Melitus Tipe II di Posyandu Lansia Ari Murti 3”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik

menjadi rumusan penelitian sebagai berikut : Bagaimana gambaran gaya

hidup lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II di Posyandu Lansia Ari

Murti 3?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gaya

hidup lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II di Posyandu Lansia Ari

Murti 3.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam

pengembangan kajian tentang gambaran gaya hidup lansia penderita

Diabetes Mellitus tipe II.


1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Institusi Pendidikan


Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan

referensi dan pengembangan penelitian gambaran gaya hidup

lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II.

2. Bagi peneliti yang akan datang


Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar peneliti selanjutnya untuk

mengembangkan penelitian lebih dalam mengenai gambaran gaya

hidup lansia pada pasien DiabetesMmellitus tipe II.

3. Bagi penderita diabetes mellitus tipe II


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang

perilaku sehat yang baik dan benar bagi penderita diabetes

mellitus tipe II sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-

hari agar frekuensi komplikasi Diabetes Mellitus tipe II dapat

diminimalisir.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Diabetes Mellitus

2.1.1 Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik

dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi

insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia adalah suatu

kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi

batas normal. Hiperglikemia menjadi salah satu tanda khas penyakit

diabetes melitus, meskipun juga mungin didapatkan pada beberapa

keadaan lain (Perkeni, 2015).

Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan

defisiensi atau resistensi insulin relative atau absolut, dan ditandai dengan

gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Kondisi ini muncul

dalam dua bentuk, yaitu tipe I, ditandai dengan insufisiensi insulin absolut,

dan tipe II, ditandai dengan resistensi insulin desertai kelainan sekresi

insulin berbagai tingkat (Williams & Wilkins, 2011).

Penyakit diabetes mellitus dikenal juga dengan penyakit kencing

manis atau kencing gula. DM tergolong penyakit tidak menular yang

penderitanya tidak dapat secara otomatis mengendalikan tingkat gula

(glukosa) dalam darahnya. Pada tubuh yang sehat, kelenjar pankreas

melepas hormon insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke

otot-otot dan jaringan lain untuk memasok energi (Irianto, 2014).

6
7

2.1.2 Gejala Diabetes Mellitus

Berikut merupakan gejala diabetes melitus yang sering muncul adalah

sebagai berikut (Perkeni, 2011):

1. Poliuria (Banyak Kencing)


Poliuria adalah keadaan dimana volume air kemih dalam 24 jam

meningkat melebihi batas normal. Poliuria timbul sebagai gejala DM

dikarenakan kadar gula dalam tubuh relatif tinggi sehingga tubuh tidak

sanggup untuk mengurainya dan berusaha untuk mengeluarkannya

melalui urin. Gejala pengeluaran urin ini lebih sering terjadi pada

malam hari dan urin yang dikeluarkan mengandung glukosa.

2. Polidipsia (Banyak Minum)

Poidipsia adalah rasa haus berlebihan yang timbul karena kadar

glukosa terbawa oleh urin sehingga tubuh merespon untuk

meningkatkan asupan cairan.

3. Polifagia (Banyak Makan)


Pasien DM akan merasa cepat lapardan lemas, hal tersebut

disebabkan karena glukosa dalam tubuh semakin habis sedangkan

kadar glukosa dalam darah cukup tinggi.

4. Penyusutan Berat Badan


Penyusutan berat badan pada pasien DM disebabkan karena tubuh

terpaksamengambil dan membakar lemak sebagai cadangan energi.

2.1.3 Klasifikasi Diabetes Mellitus

Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan klasifikasi etiologis (Perkeni,

2015), yaitu:
8

1. Diabetes Mellitus tipe 1

DM yang terjadi karena kerusakan atau destruksi sel beta di pankreas.

kerusakan ini berakibat pada keadaan defisiensi insulin yang terjadi

secara absolut. Penyebab dari kerusakan sel beta antara lain autoimun

dan idiopatik.

2. Diabetes Mellitus tipe 2

Penyebab DM tipe 2 seperti yang diketahui adalah resistensi insulin.

Insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tidak dapat bekerja secara

optimal sehingga menyebabkan kadar gula darah tinggi di dalam tubuh.

Defisiensi insulin juga dapat terjadi secara relatif pada penderita DM tipe

2 dan sangat mungkin untuk menjadi defisiensi insulin absolut.

3. Diabetes Mellitus tipe lain

Penyebab DM tipe lain sangat bervariasi. DM tipe ini dapat disebabkan

oleh defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit

eksokrin pankreas, endokrinopati pankreas, obat, zat kimia, infeksi,

kelainan imunologi dan sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM.

4. Diabetes Mellitus tipe gestasional


Diabetes melitus tipe gestasional adalah penyakit gangguan metabolik

yang ditandai oleh kenaikan gula darah yang terjadi pada wanita hamil,

biasanya terjadi pada usia 24 minggu masa kehamilan, dan setelah

melahirkan kadar gula darah kembali normal.

5. Diagnosis Diabetes Mellitus

Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.

Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada pasien diabetes. Keluhan


9

klasik DM ada seperti poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat

badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain pula berupa

lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada

pria, serta pruritus vulvae pada wanita (PERKENI, 2015). Diagnosis DM

dapat ditegakkan melalui tiga cara:

a. Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma

sewaktu >200 mg/dL atau

b. glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL sudah cukup untuk

menegakkan diagnosis DM.

c. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Apabila hasil pemeriksaan tidak

memenuhi kriteria normal atau DM, bergantung pada hasil yang

diperoleh, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok toleransi glukosa

terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT).

Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan

glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 –199 mg/dL.

2.1.4 Patofisiologis Diabetes Mellitus

Patofisiologis terjadinya diabetes mellitus tipe 2 secara genetik

adalah adanya resistensi insulin dan defek fungsi sel beta pankreas.

Secara klinis, resistensi insulin adalah adanya konsentrasi insulin yang

lebih tinggi dari normal yang dibutuhkan untuk mempertahankan

normoglikemia. Resitensi insulin merupakan kondisi umum bagi

orangorang dengan berat badan overweight atau obesitas. Insulin tidak

dapat bekerja secara optimal di sel otot, lemak, dan hati sehingga

memaksa pankreas mengkompensasi untuk memproduksi insulin lebih


10

banyak. Ketika produksi insulin oleh sel beta tidak adekuat guna

mengkompensasi peningkatan resistensi insulin, maka kadar glukosa

darah akan meningkat, pada saatnya akan terjadi hiperglikemia kronik

(Decroli, 2019).

Pada perjalanan penyakit diabetes mellitus tipe 2 terjadi penurunan

fungsi sel beta pankreas dan peningkatan insulin yang berlanjut sehingga

terjadi hiperglikemia kronik dan segala dampaknya. Hiperglikemia kronik ini

semakin merusak sel beta secara gradual di satu sisi dan memperburuk

resistensi insulin di sisi lain, sehingga penyakit diabetes mellitus tipe 2

semakin progresif. Hiperglikemia kronik juga mempengaruhi dan

berdampak memperburuk disfungsi sel beta pankreas.

Sebelum ditegakkannya diagnosis diabetes mellitus tipe 2 atau saat

dalam kondisi normal, sel beta pankreas dapat memproduksi insulin

secukupnya untuk mengkompensasi peningkatan resistensi insulin. Pada

saat diagnosis sudah ditegakkan, sel beta pankreas tidak dapat

memproduksi insulin yang adekuat karena fungsi normal sel beta pankreas

yang normal tinggal 50%. Pada tahap selanjutnya, sel beta pankreas

diganti dengan jaringan amiloid, akibatnya produksi insulin mengalami

penurunan sedemikian rupa, sehingga secara klinis diabetes mellitus tipe 2

ini sudah menyerupai diabetes tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara

absolut (Decroli, 2019).

Ada beberapa teori yang menerangkan bagaimana kerusakan sel

beta, diantaranya adalah teori glukotoksisitas, lipotoksisitas, dan


11

penumpukan amiloid. Efek hiperglikemia terhadap sel beta pankreas dapat

muncul dalam beberapa bentuk (Decroli, 2019), yaitu:

1. Desensitasi sel beta pankreas


Adalah gangguan sementara sel beta yang dirangsang oleh

hiperglikemia yang berulang. Keadaan ini akan kembali normal bila

glukosa darah dinormalkan.

2. Ausnya sel beta pankreas


Adalah kelainan sel beta yang masih reversibel dan terjadi lebih dini

dibandingkan glukotoksisitas

3. Kerusakan sel beta yang menetap


Adalah keadaan dimana kerusakan ini tidak bisa kembali atau irreversibel.

2.1.5 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Penatalaksanaa diabetes melitus ini bertujuan

untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Peningkatan kualitas hidup

pasien diabetes melitus perlu dilakukan pengendalian glukosa darah,

tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien

secara komprehensif. Dalam mengobati pasien diabetes mellitus tipe 2

tujuan yang akan dicapai yaitu meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan

penatalaksanaannya meliputi jangka pendek dan jangka panjang.

Tujuan pelaksanaan jangka pendek adalah menghilangkan keluhan

dan tanda diabetes mellitus, mempertahankan rasa nyaman, dan

mencapai target pengendalian glukosa darah. Tujuan pelaksanaan jangka

panjang adalah untuk mencegah dan menghambat progresivitas

komplikasi makro dan mikro, serta neuropati diabetikum, serta tujuan akhir
12

dari penatalaksanaan diabetes adalah menurunkan mordibitas dan

mortalitas (Decroli, 2019).

Menurut Perkeni (2015), langkah-langkah penatalaksanaan diabetes

mellitus yaitu:

1. Edukasi

Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat perlu dilakukan sebagai

upaya dari pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting

dari pengelolaan diabetes mellitus secara holistik. Tim kesehatan harus

mendampingi pasien dalam perubahan perilaku tersebut, yang

berlangsung seumur hidup. Keberhasilan dalam mencapai perubahan

perilaku, membutuhkan edukasi, pengembangan ketrampilan, dan

motivasi yang berkenaan dengan:

a. Makan makanan sehat.

b. Kegiatan jasmani secara teratur.

c. Penggunaan obat diabetes secara umum, teratur, dan pada waktuwaktu

spesifik.

d. Melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan memanfaatkan

berbagai informasi yang ada.

2. Terapi Nutrisi Medis

Kunci keberhasilan langkah ini yaitu keterlibatan secara menyeluruh

dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta

pasien dan keluarga). Prinsip pengaturan makan pada pasien diabetes

mellitus hampir sama dengan anjuran makanan untuk masyarakat umum,


13

yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan

zat gizi masing-masing individu. Pasien diabetes perlu diberikan

penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan

jumlah kandungan kalori, terutama pada yang menggunakan obat yang

meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri. Perencanaan

makan pasien dengan diabetes mellitus meliputi;

a. Tujuan Diet

Tujuan diet adalah membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan

dan olahraga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik

dengan cara:

1. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal dengan

menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dengan obat penurun

glukosa oral dan aktivitas fisik.

2. Mencapai dan mempertahankan kadar lipda serum normal

3. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat

badan normal.

4. Menghindari dan menangani komplikasi akut pasien yang menggunakan

insulin.

5. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang

optimal.

b. Syarat diet

1. Energi cukup untuk mempertahankan dan mencapai berat badan normal.

Ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan metabolisme basal

sebesar 25-30 kkal/kgBB.


14

2. Kebutuhan protein 10-15% dari kebutuhan energi total

3. Kebutuhan lemak sedang 20-15% dari kebutuhan energi total

4. Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari perhitungan energi total sekitar 60-

70%

5. Penggunaan gula murni dalam makanan dan minuman tidak diperbolehkan

kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu.

6. Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas.

7. Asupan serat dianjurkan 25g/hari dengan mengutamakan serat larut air

yang ada pada buah dan sayur.

8. Apabila mengalami hipertensi, asupan natrium dibatasi. 9) Cukup vitamin

dan mineral

C. Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan

diabetes mellitus. Masalah utama pada diabetes mellitus tipe 2 adalah

kurangnya respon reseptor terhadap insulin. Kontraksi otot saat

berolahraga memiliki sifat seperti insulin (insulin effect). Permeabilitas

membran terhadap glukosa meningkat pada otot yang berkontraksi. Pada

saat melakukan latihan jasmani, resistensi insulin berkurang dan

sebaliknya sensitivitas insulin meningkat (Fahrudin 2011).

Prinsip latihan jasmani pasien diabetes sama saja dengan prinsip

jasmani secara umum, yaitu frekuensi, intensitas, durasi, dan jenis

aktivitas. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan

secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu dengan durasi 30-45 menit,

dengan total 150 menit perminggu. Latihan yang dianjurkan berupa latihan

jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (5070% denyut


15

jantung maksimal), seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan

berenang. Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi

angka 220 dengan usia pasien. Latihan disesuaikan dengan umur dan

status kebugaran jasmani. Intensitas latihan pada pasein yang relatif sehat

bisa ditingkatkan, sedangkan pada pasien diabetes dengan komplikasi,

intensitas latihan perlu dikurangi dan disesuaikan dengan masingmasing

individu (Perkeni, 2015).

d. Farmakologis

Perlu dilakukan penambahan obat oral atau insulin apabila terdapat

kegagalan dalam menerapkan pilar latihan jasmani. Terapi farmakologis ini

diberikan bersamaan dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya

hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

Menurut Fahrudin (2011) obat-obat untuk pasien diabetes mellitus, yaitu:

a. Obat Hipoglikemik Oral (OHO) seperti sulfoniluria dan biguanida.

b. Insulin.

Beberapa hal harus diperhatikan saat memilih obat hipoglikemik oral,

seperti dosis yang dimulai dari dosis rendah, cara kerja, lama kerja, dan

efek samping. Indikasi pemberian obat hipoglikemik oral menurut

Soegondo dalam Fahrudin (2011) adalah sebagai berikut :

a. Diabetes sesudah umur 40 tahun.

b. Diabetes kurang dari 5 tahun.

c. Memerlukan insulin kurang dari 40 unit per hari.

d. Diabetes mellitus tipe 2 berat badan normal atau lebih.


16

2.2 Konsep Dasar Gaya Hidup

2.2.1 Pengertian Gaya Hidup Diabetes Mellitus

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan

dalam aktifitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan

keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya, serta

mencegah sakit lebih mudah dan murah dari pada mengobati seseorang

apabila jatuh sakit (Atikah Proverawati, 2016)

2.2.2 Macam-macam gaya hidup

1. Pola Konsumsi Makanan

a. makanan sehat dan seimbang

Makanan yang dimakan sehari-hari dinilai sehat untuk mencukupi

kebutuhan tubuh, apabila makanan tersebut terdiri dari bahan

makanan yang mempunyai tiga kegunaan yang sering disebut Tri

Guna Makanan, yaitu (Almatsier, 2013).

a) Mengandung zat tenaga. Bahan makanan sumber zat tenaga

adalah beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti,

mie, yang mengandung karbohidrat serta yang mengandung lemak

b) Mengandung zat pembangun. Bahan makanan sumber zat

pembangun yang berasal dari hewan mengandung protein hewani

adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahannya.

Sedangkan jenis bahan makanan yang berasal dari tumbuhtumbuhan

mengandung protein nabati adalah kacang tanah, kacang merah,

kacang hijau, kacang kedelai.

c) Mengandung zat pengatur berguna untuk mengatur semua

fungsi tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit


17

2. Menu sehat seimbang

Menu sehat seimbang adalah susunan makanan yang dimakan oleh

seseorang dalam jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi

kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh

dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan (Almatsier,

2013). Beberapa zat gizi seimbang antara lain (Almatsier, 2013) :

a) Karbohidrat

Sumber energi utama bagi manusia untuk melakukan aktivitas fisik

adalah karbohidrat yang akan disimpan dalam bentuk glikogen otot,

secara umum manusia membutuhkan konsumsi karbohidrat sebesar

275 gram/hari. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat

adalah nasi, mie, sagu, gandum, ubi, dan singkong. Pola makan

dengan asupan karbohidrat lebih dari 5565% dari total kebutuhan

energi sehari atau lebih dari 70% yang dikombinasikan dengan

pemberian asam lemak tidak jenuh rantai tunggal, merupakan pola

makan yang kurang baik terutama pada mereka yang berisiko

terkena diabetes melitus. Asupan protein yang lebih dari 10-15%

dari total kalori perhari juga salah satu pola yang tidak sehat untuk

mereka yang berisiko diabetes melitus.

b) Protein

Dalam proses kehidupan protein merupakan salah satu zat gizi

yang sangat penting yaitu sebagai zat pembangun, pertumbuhan,

pemeliharaan jaringan, menggantikan sel mati, pertahanan tubuh,

dan sumber utama energi. Secara umum manusia membutuhkan


18

konsumsi protein sebesar 150 gram/hari, dengan bahan makanan

yang mengandung protein adalah daging, ayam, telur, ikan, udang,

kerang, susu.

c) Lemak

Lemak terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen yang

merupakan sekelompok ikatan organik berfungsi mencadangkan

energi dalam bentuk jaringan lemak yang ditimbun ditempat

tertentu, melarutkan vitamin dan melindungi tubuh dari hawa dingin.

Manusia memerlukan lemak dalam melakukan aktivitas fisik setiap

hari sebesar 25 gram/hari. Lemak memiliki kandungan energi

sebesar 9 kilo kalori/gram dan berperan penting dalam membawa

vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, dan K,

walaupun demikian membatasi asupan lemak jenuh dan kolesterol

dapat memperbaiki profil lipid yang abnormal (Yunir, 2017).

d) Vitamin

Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sebesar 250

gram/hari yang terkandung didalam sayur dan buah-buahan.

Vitamin terdiri dari 2 jenis yaitu larut dalam lemak (A, D, E, K) dan

yang larut dalam air (C, B1, B2, Asam nicotinat, Pyridoxin, Biotin,

B5, Folancin, Cyanocobalamine).

e) Mineral

Mineral adalah zat yang diperlukan oleh tubuh sekitar 2 liter atau

8 gelas setiap hari untuk mengatur keseimbangan suhu tubuh.


19

3. Frekuensi makan

Frekuensi makan merupakan jumlah makan dalam sehari baik

kualitatif dan kuantitatif, yang diolah didalam tubuh melalui alat-alat

pencernaan. Asam lambung akan terus menghasilkan setiap waktu dalam

jumlah yang kecil, kadar glukosa dalam darah 4-6 jam sesudah makan

telah tercerna dan terpakai sehingga tubuh akan merasakan lapar dan

jumlah asam lambung akan terstimulasi. Jika 2-3 jam seseorang telat

makan maka asam lambung yang dihasilkan semakin banyak dan

meningkat sehingga dapat mengiritasi mukosa lambung dan menimbulkan

rasa nyeri disekitar epigastrium (Baliwati, 2015)

4. Aktivitas fisik atau Olahraga

Melakukan olahraga atau aktivitas fisik bisa membakar energi dan

menurunkan kadar gula dalam darah. Dengan demikian, olahraga bisa

membantu menurunkan jumlah insulin yang dibutuhkan tubuh,

menghasilkan insulin lebih mudah dalam mengontrol gula darah (Barbara

Taylor, 2017). Ada tiga macam aktivitas fisik yang dapat kita lakukan

untuk mempertahankan tubuh yaitu :

a) Aktivitas fisik ringan adalah segala sesuatu yang

berhubungan dengan menggerakkan tubuh, hanya memerlukan

sedikit tenaga dan biasanya tidak menyebabkan perubahan dalam

pernapasan atau ketahanan, contoh : Berkebun, berjalan kaki,

membersihkan rumah, mencuci baju.

b) Aktivitas fisik sedang adalah aktivitas yang menyebabkan

pengeluaran tenaga, menggerakan otot yang berirama atau


20

kelunturan (flexibility), contoh : bermain tenis meja, bermain bulu

tangkis, lari ringan, bersepeda, berenang, senam.

c) Aktivitas fisik berat adalah pergerakan tubuh yang

menyebabkan banyaknya pembakaran kalori yang diakibatkan

pernafasan jauh lebih cepat dari biasanya, contohnya : berlari,

mengangkat kayu/memikul beban, mencangkul, menimba air.

Ketepatan porsi intensitas aktivitas fisik dapat diukur pada saat

beraktivitas dengan menghitung detak nadi. Rumus denyut nadi

maksimum = 220 - usia (dalam tahun), harus mencapai 72% - 87% denyut

nadi dalam melakukan aktivitas fisik, bila kurang dari 70% dari denyut nadi

maksimum maka manfaatnya kurang maksimal dan jika melebih 85%

denyut nadi maka dapat menimbulkan kerugian pada tubuh.

Aktivitas fisik yang dilakukan minimum 25 menit, karena semakin

lama beraktivitas maka dapat memberikan efek yang lebih baik bagi tubuh.

Aktivitas fisik sedang yang disarankan minimaltiga kali seminggu. Namun,

perlu diketahui bahwa memaksakan diri dalam melakukan aktivitas dapat

membuat tubuh menjadi lelah sehingga tidak baik bagi kesehatan.

Olahraga merupakan gaya hidup sehat yang dapat menghambat

penurunan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit,

karena semakin lanjut usia daya tahan tubuh kita semakin menurun maka

dibiasakan sejak dini untuk berolahraga agar dimasa mendatang tubuh kita

menjadi sehat (Meylan, 2014)

5. Stres
21

Stres adalah suatu bentuk tanggapan seseorang baik fisik, maupun

mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan

mengganggu. Setiap aspek dari lingkungan dapat dirasakan sebagai stres,

tergantung dari persepsi orang tersebut terhadap lingkungannya, apakah

ia merasakan adanya stres atau tidak (Anoraga, 2015)

Faktor stres (cara mengelola stres) juga sangat berpengaruh pada

diabetes melitus karena dalam menghadapi stres tubuh merespon, dalam

hal ini kadar hormon meningkat seperti hormon katekolamin, kortisol yang

membuat banyak energi tersimpan, dimana glukosa dan lemak yang

tersedia untuk sel. Namun insulin tidak selalu membiarkan energi ekstra ke

dalam sel sehingga glukosa menumpuk dalam darah. Inilah yang

menyebabkan terjadinya diabetes (Mitra, 2015)

Stres kronis cenderung membuat seseorang mencari makan yang

manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan kadar serotonin otak yang

memiliki efek sedatife (meredahkan stres). Mengkonsumsi gula dan lemak

berbahaya bagi berisko diabetes karena kadar gula darah tergantung pada

kegiatan hormonal yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal, yaitu adrenalin

dan kortikosteroid. Adrenalin akan memacu kenaikan kebutuhan gula

darah, sedangkan kortikosteroid akan menurunkannya kembali, adrenalin

yang dipacu terus-menerus mengakibatkan kadar insulin menurun

sehingga pengaturan kadar gula darah ideal terganggu, akibatnya kadar

gula darah naik secara drastis (Anoraga, 2015)

6. Merokok
22

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam

kehidupan sehari-hari. Dari segi kesehatan, tidak ada satu titik yang menyetujui

atau melihat manfaat dikandungnya, merokok adalah salah satu kebiasaan atau

pola hidup tidak sehat. Bahkan jumlah perokok meningkat dari tahun ke tahun,

namun tidak mudah untuk menurunkan terlebih menghilangkannya, karena itu

gaya hidup ini dianggap faktor resiko dari berbagai macam penyakit (Sari, 2014)

Gaya hidup yang bisa menyebabkan seseorang menjadi Diabetes

Melitus adalah seringnya merokok dan terpaparnya asap rokok (perokok

pasif), merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasaan arteri

seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak, jantung, dan tungkai), sehingga

merokok mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah,

dan menyebabkan darah mudah menggumpal (Feigin, 2013)

Kepulan dari asap rokok yang terkandung yaitu 4000 racun kimia

berbahaya pada orang yang merokok dan seseorang yang terpapar asap

rokok dapat meningkatkan kadar gula darah disebabkan pengaruh zat

nikotin yang merangsang kelenjar adrenal (Prapti Utami, 2017).

Nikotin adalah suatu zat yang meracuni syaraf tubuh, meningkatkan

tekanan darah, penyempitan pembuluh darah tepi yang menyebabkan

ketagihan dan ketergantungan pada

pemkaiannya, kadar nikotin 4-6 mg yang diisap setiap harinya bisa membuat

seseorang ketagihan (Amalia, 2011)

Tar adalah kumpulan komponen bahan kimia bersifat karsinogen

yang meningkatkan kekentalan darah sehingga memaksa jantung untuk

memompa lebih cepat. Pada dasarnya rokok mengandung 8-20 mg


23

nikotin, yang masuk kedalam sirkulasi darah hanya 25% walaupun

jumlanya kecil tetapi hanya memiliki waktu 15 detik untuk sampai keotak

manusia (Amalia, 2011).

Merokok ternyata tidak hanya menimbulkan sejumlah bahaya medis

yang mematikan, namun rokok juga memiliki bahaya psikologi, misalnya

depresi dan skizofrenia. Kecanduan merokok juga merupakan bentuk

perilaku adiktif yang menjadi masalah kesehatan jiwa sehingga

dikelompokkan pada gangguan kecanduan (Albery & Mufano, 2011).

Menurut Bustan (2015), kategori perokok adalah sebagai berikut :

a. Perokok Pasif

Perokok pasif adalah asap rokok yang dihirup oleh seseorang yang

tidak merokok (Pasif smoker). Asap rokok yang terhirup oleh orang-

orang bukan perokok yang berada disekitar perokok biasanya

menimbulkan secone handsmoke.

b. Perokok Aktif

Perokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari isapan perokok

(mainstream), perokok aktif ini dapat digolongkan menjadi tiga

bagian:

1) Perokok ringan

Perokok ringan merupakan seseorang yang merokok kurang dari

sepuluh batang rokok perhari

2) Perokok sedang

Perokok sedang merupakan seseorang yang merokok 10-20 batang

rokok perhari
24

3) Perokok berat

Perokok berat merupakan seseorang yang merokok lebih dari 20

batang rokok perhari

2.2.2 Pengukuran Gaya Hidup

[Link] Pengertian Diabetes Score Questionnaire

Skor Diabetes adalah kuesioner berorientasi perilaku yang

dikembangkan khusus untuk penggunaan klinis. Ini adalah skala peringkat

kesehatan yang diturunkan secara teoritis yang menargetkan perilaku

spesifik kondisi untuk alasan yang bermakna secara pribadi seperti yang

didalilkan dalam teori manajemen diri. Dengan ringkas dan mudah

dipahami, instrumen ini memungkinkan penderita diabetes untuk melihat

seberapa baik mereka mengikuti panduan berbasis bukti untuk target gaya

hidup sehat. Kuesioner terdiri dari 10 item berorientasi pada perilaku yang

dirancang dengan hati-hati untuk memotivasi pasien agar menerapkan

gaya hidup yang lebih sehat. Setiap item dinilai oleh pasien sebagai 0, 5

atau 10 poin berdasarkan rubrik target gaya hidup. Peringkat item

dijumlahkan untuk menghasilkan skor total intuitif mulai dari nol hingga 100

poin.

Hal ini memungkinkan pasien dan dokter untuk mengukur kemajuan

dan mendiskusikan area untuk perbaikan dan perilaku target. Segala

bentuk penggunaan tembakau seperti merokok menyebabkan

pengurangan 20 poin. Kesederhanaan adalah kebajikan ketika

menganjurkan perubahan gaya hidup. Misalnya, telah ditunjukkan bahwa

rencana makan yang terstruktur cukup memadai dibandingkan dengan


25

rencana makan individual yang terperinci di antara pasien dengan diabetes

tipe 2 (MJ Hashim, 2020).

Skor Diabetes adalah alat yang valid dan andal untuk

memberdayakan gaya hidup dan modifikasi perilaku di antara pasien

dengan diabetes mellitus. Kuesioner singkat dan gratis ini berpotensi untuk

digunakan di klinik diabetes untuk membahas perubahan perilaku. Ini

dapat berfungsi sebagai intervensi lini pertama pada pasien diabetes

sambil mengurangi biaya perawatan diabetes (MJ Hashim, 2020).

Diabetes Score Questionnaire adalah kuesioner yang telah

digunakan oleh beberapa penelitian terdahulu yang juga meneliti tentang

gaya hidup lansia penderita diabetes mellitus tipe II . Pada jurnal yang

telah dikutip oleh Muhammad Jawad Hashim (2020) dijelaskan bahwa

DSQ adalah kuesioner yang telah melewati uji validitas dan uji reabilitas

dan merupakan kuesioner yang paten dengan 10 poin yang mencakup

gaya hidup lansia penderita diabetes mallitus tipe II dengan masing-

masing poinnya sesuai yang tertera dalam jurnal.

2.3 Konsep Dasar Lansia

2.3.1 Pengertian Lansia

Menua atau menjadi tua adalah suatu proses biologis yang tidak

dapat dihindari. Proses penuaan terjadi secara alamiah. Hal ini dapat

menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi. Lansia merupakan

suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Menua

merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya bisa dimulai dari suatu

waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua


26

merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang akan melewati tiga

tahap dalam kehidupannya yaitu masa anak, dewasa dan juga tua.

(Mawaddah,2020)

2.3.2 Ciri-Ciri Lansia

Menurut Oktora & Purnawan, (2018) adapun ciri dari lansia diantaranya :

1. Lansia merupakan periode kemunduran Kemunduran pada

lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis sehingga

motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia.

Misalnya lansiayang memiliki motivasi yang rendah dalam melakukan

kegiatan, maka akanmempercepat proses kemunduran fisik, akan tetapi

ada juga lansia yang memilikimotivasi yang tinggi, maka kemunduran fisik

pada lansia akan lebih lama terjadi.

2. Penyesuaian yang buruk pada lansia prilaku yang buruk terhadap

lansia membuat mereka cenderung mengembangkan konsep diri yang

buruk sehingga dapat memperlihatkan bentuk perilaku yang [Link]

dari perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia

menjadi buruk pula. Contoh: lansia yang tinggal bersama keluarga sering

tidak dilibatkan untuk pengambilan keputusan karena dianggap pola

pikirnya kuno, kondisi inilah yang menyebabkan lansia menarik diri dari

lingkungan, cepat tersinggung dan bahkan memiliki harga diri yang

rendah.

2.3.3 Karakteristik Lansia

Karakteristik lansia menurut ([Link], 2017) yaitu :


27

1. Seseorang dikatakan lansia ketika telah mencapai usia 60 tahun

keatas

2. Status pernikahan Berdasarkan Badan Pusat Statistik RI SUPAS

2015, penduduk lansia ditilik dari status perkawinannya sebagian besar

berstatus kawin (60 %) dan cerai mati (37 %). Adapun perinciannya yaitu

lansia perempuan yang berstatus cerai mati sekitar 56,04 % dari

keseluruhan yang cerai mati, dan lansia lakilaki yang 13 berstatus kawin

ada 82,84 %. Hal ini disebabkan usia harapan hidup perempuan lebih tinggi

dibandingkan dengan usia harapan hidup laki-laki, sehingga presentase

lansia perempuan yang berstatus cerai mati lebih banyak dan lansia lakilaki

yang bercerai umumnya kawin lagi

3. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat

sampai sakit, kebutuhan biopsikososial dan spiritual, kondisi adaptif hingga

kondisi maladaptive.

4. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi

2.3.4 Klasifikasi lansia

Menurut Lilik Marifatul (2011) terdapat beberapa versi dalam pembagian

kelompok lansia berdasarkan batasan umur, yaitu :

1. Menurut WHO, lansia dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

a. Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-59 tahun

b. Lansia (edderly), yaitu kelompok usia 60-74 tahun

c. Lansia tua (old),yaitu kelompok usia 75-90 tahun

d. Lansia sangat tua (very old),yaitu kelompok usia lebih dari 90 tahun.
28

2.3.5 Perubahan Terjadi Pada Lansia

Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara

degeneratif yang biasanya akan berdampak pada perubahan- perubahan

pada jiwa atau diri manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga

kognitif, perasaan, sosial dan sexual (National & Pillars, 2020).

1. Perubahan fisik

Dimana banyak sistem tubuh kita yang mengalami perubahan

seiring umur kita seperti:

a. Sistem Indra Sistem pendengaran

Prebiakusis (gangguan pada pendengaran) oleh karena hilangnya

kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama

terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak

jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60

tahun.

b. Sistem Intergumen

Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis kering dan

berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan

berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea

dan glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit

dikenal dengan liver spot.

2. Perubahan Kognitif
29

Banyak lansia mengalami perubahan kognitif, tidak hanya lansia biasanya

anak- anak muda juga pernah mengalaminya seperti: Memory (Daya ingat,

Ingatan)

3. Perubahan Psikososial

Sebagian orang yang akan mengalami hal ini dikarenakan berbagai

masalah hidup ataupun yang kali ini dikarenakan umur seperti:

a. Kesepian Terjadi pada saat pasangan hidup atau

teman dekat meninggal terutama jika lansia mengalami

penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat,

gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran.

b. Gangguan cemas Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik,

gangguan cemas umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan

obsesif kompulsif, gangguangangguan tersebut merupakan kelanjutan dari

dewasa muda dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis,

depresi, efek samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu

obat.

c. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbilitas yang

signifikan. Ada beberapa dampak serius gangguan tidur pada lansia

misalnya mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan

memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak

semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian, angka sakit

jantung dan kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama tidurnya lebih

dari 9 jam atau kurang dari 6 jam per hari bila dibandingkan. dengan

seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per hari. Berdasarkan
30

dugaan etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat kelompok yaitu,

gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental lain,

gangguan tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang

diinduksi oleh zat.


31

2.4 Kerangka Konseptual

Lansia

Faktor Internal : Faktor Eksternal :


1. Riwayat keluarga DM 1. Obesitas
2. Hipertensi 2. Kebiasaan merokok
3. Jenis kelamin 3. Stress
4. Genetika 4. Kurang aktivitas fisik
5. Kelainan fungsi prosuksi 5. Diet tidak seimbang
DM
insulin dalam tubuh 6. Gaya hidup
(Diabetes
6. Umur Mellitus)

DM Tipe I DM Tipe II

Indikator :
Keterangan : 1. Pola aktivitas fisik
2. Pola makan
: Berpengaruh 3. Edukasi kesehatan
4. Pengobatan
: Berhubungan Hasil pengukuran gaya hidup :
80-100 : sangat baik
: Yang Diteliti 60-80 : baik
60-40 : cukup
20-40 : buruk
: Tidak Diteliti 0-20 : sangat buruk

Gambar 2.1 kerangka Konsep Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita

DM Tipe II di Posyandu Lansia Ari Murti 3


32

2.4.1 Deskripsi kerangka konsep

Penyakit DM (Diabetes Mellitus) adalah penyakit yang dengan

meningkatnya kadar gula dalam darah yang dapat terjadi pada usia muda

hingga lansia. DM memiliki 2 tipe, yaitu DM Tipe I dan DM Tipe II. Dm Tipe

I terjadi karena ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi cukup

insulin. Sedangkan DM Tipe II terjadi kelenjar pankreas tidak dapat

mencukupi kebutuhan insulin pada tubuh. Terdapat faktor internal dan

faktor eksternal terjadinya DM yang telah dijelaskan pada gambar 2.1

diatas. Indikator gaya hidup pada penelitian ini ada 4 yaitu pola aktivitas,

pola makan, edukasi kesehatan, dan pengobatan. Pada 4 indikator

tersebut masing-masing memiliki poin dengan jumlah skor dari yang paling

tinggi yaitu 10 poin dan paling rendah yaitu 0 poin, yang kemudian tiap-tiap

poin dijumlah agar mendapat poin akhir untuk menentukan skor gaya

hidup responden.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan suatu bentuk atau pola penelitian yang

digunakan sebagai panduan atau prosedur yang berguna untuk

mengembangkan strategi yang mengarah pada metode penelitian

(Sugiyono, 2018).Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian

deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan

informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu gejala yang ada

pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif tidak bertujuan untuk

menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “apa adanya”

tentang sesuatu variabel, gejala atau keadaan (Zellatifanny and

Mudjiyanto, 2018). Desain penelitian yang digunakan di dalam penelitian

ini adalah deskriptif yaitu Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita

Diabetes Mellitus Tipe II Posyandu Lansia Ari Murti 3.

3.2 Kerangka Kerja

Kerangka kerja adalah suatu struktural konseptual dasar yang

digunakan untuk memecahan atau menangani suatu malasah kompleks

(Yusuf, 2017). Kerangka kerja pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

28
29

Populasi :
Seluruh pasien lansia di Posyandu Lansia Ari Murti 3 rata-rata sebanyak 60 lansia

Sampel:
Seluruh pasien lansia penderita Diabetes Mellitus tipe II di Posyandu Lansia
Ari Murti 3 sebanyak 40 lansia

Desain Penelitian :
Deskriptif

Sampling :
Consecutive sampling

Variabel Penelitian :
Gaya Hidup Lansia Penderita Diabetes Mellitus Tipe II

Instrumen :
Diabetes Score Questionnaire

Pengolahan Data Dan Analisa Data:


Editing, Coding, Scoring, Tabulating

Penarikan Kesimpulan

Penyajian Data

Penarikan Hasil

Gambar 3.1 Kerangka Kerja


3.3 Populasi, Sampel, dan Sampling

3.3.1 Populasi

Menurut Handayani (2020), populasi adalah totalitas dari setiap

elemen yang akan diteliti yang memiliki ciri sama, bisa berupa individu dari

suatu kelompok, peristiwa, atau sesuatu yang akan diteliti. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh peserta di Posyandu Lansia Ari 3 sebanyak

60 lansia.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah subyek yang akan diteliti dan dianggap mewakili

seluruhpopulasi. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode

consecutive sampling, dimana semua subyek yang datang dan memenuhi

kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek

yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael, 2014). Sampel dalam

penelitian ini adalah lansia penderita DM tipe II di Posyandu Lansia Ari

Murti 3. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :

1. Anggota di Posyandu Lansia Ari Murti 3,

2. Lansia umur 45 tahun keatas,

3. Penderita DM tipe II,

4. Bersedia menjadi responden dalam penelitian ini dengan

menandatangani lembar persetujuan responden.

3.3.3 Sampling

Menurut Handyaan (2020), teknik pengambilan sampel atau biasa

disebut sampling, pengertian sampling adalah prosesmemilih

sekumpulan item dari populasi yang dipelajari untuk digunakan sebagai


31

spesimen untuk memahami berbagai sifat atau karakteristik dari suatu

subjek yang digunakan sebagai contoh dari mana generalisasi dari

elemen populasi. Teknik sampling penelitian ini adalah consecutive

sampling. Menurut Sastroasmoro & Ismael (2014), consecutive sampling

adalah teknik penentuan sampling dimanasemua subyek yang datang dan

memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalampenelitian sampai jumlah

subyek yang diperlukan terpenuhi.

3.4 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional

3.4.1 Identifikasi Variabel

Variabel penelitian adalah karakter atau sifat atau nilai orang, subjek

atau aktivitas yang bervariasi ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari

kemudian ditarik kesimpulannya. Varabel ini meneliti gaya hidup pada

pasien lansia penderita Diabetes Mellitus Tipe II.

3.4.2 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi yang berdasarkan karakteristik

yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang

diamati itulah yang merupakan kunci definisi operasional(Nursalam, 2013).

Adapun definisi operasional pada penelitian ini yaitu :


Variabel Definisi Operasional Indikator Alat Ukur Skala data Skor
Gaya Hidup Perilaku atau cara hidup Gaya hidup pada penderita Ordinal Penilaian :
Lansia Kuisioner
penderita diabetes mellitus diabetes mellitus dengan a. 10 point
Penderita DM
yang diwujudkan dalam indikator : b. 5 point
Tipe II
bentuk aktivitas, minat, dan c. 0 point
1. Pola Aftivitas Fisik
pandangan individu dengan Kemudian hasil skor
2. Pola Makan
lingkungan. diinterpretasikan
3. Edukasi Kesehatan
4. Pengobatan senagai berikut :

80-100 : sangat baik


60-80 : baik
60-40 : cukup
20-40 : buruk
0-20 : sangat buruk
34

3.5 Pengumpulan Data dan Analisa Data

3.5.1 Proses Perijinan

Izin penelitian merupakan dokumen yang dikeluarkan oleh pihak

yang berwenang berdasarkan peraturan, yang merupakan bukti legalitas

bahwa seseorang peneliti diperbolehkan melakukan penelitian (KPPOD,

2018) . Proses perizinan penelitian merupakan proses seorang peneliti

untuk meminta legalitas melakukan penelitian pada suatu tempat pada

pihak yang berwenang di tempat tersebut. Adapun proses perizinan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian dimulai saat setelah mendapat persetujuan dari dosen

pembimbing 1 dan 2, dan Kepala Prorgam Studi Keperawatan ITSK

RS. Dr. Soepraoen Malang. Kemudian peneliti mengajukan surat

pengantar atau perijinanan dari ITSK RS. Dr. Soepraoen Malang ke

Kepala Kantor Kelurahan Kacuk untuk dimintakan surat rekomendasi

penelitian ke Kader Posyandu Lansia Ari Murti 3.

2. Datang ke Kepala Kantor Kelurahan Kacuk untuk menjelaskan latar

belakang penelitian, bentuk penelitian, tujuan serta prosedur

penelitian.

3. Setelah mendapatkan surat rekomendasi penelitian dari Kepala

Kantor Kelurahan Kacuk, datang ke Posyandu Lansia Ari Murti 3 untuk

menyerahkan surat rekomendasi penelitian dari Kepala Kantor

Kelurahan Kacuk.
35

4. Setelah diserahkan ke kader Posyandu Lansia Ari Murti 3, peneliti

menunggu informasi dan persetujuan terkait penelitian yang akan

dilakukan.

5. Setelah mendapat persetujuan dan informasi dari kader posyandu,

peneliti mulai mempersiapkan untuk kegiatan penelitian yang akan

dilaksanakan dengan kader posyandu setempat.

3.6 Proses Pengumpulan Data

3.6.1 Tahapan Pengumpulan Data

Pengumpullan data adalah proses pendekatan kepaa subjek dan

proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan alam penelitian

(Nursalam, 2003). Tahap pengumpulan data dari penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Setelah peneliti memperoleh izin penelitian, maka peneliti bekerja

sama dengan kader posyandu untuk meminta izin penelitian di

Posyandu Lansia Ari Murti 3 untuk menjadi tempat penelitian.

2. Kemudian peneliti meminta melakukan pendekatan kepada

responden untuk menjelaskan maksud dan tujuan penelitian dan jika

responden bersedia diteliti, peneliti meminta untuk menandatangi

lembar persetujuan menjadi responden.

3. peneliti memberikan kuesioner tentang gaya hidup penderita DM,

kemudian peneliti melakukan observasi gula darah acak responden

dengan melihat hasil catatan rekam medik pasien

4. Setelah responden selesai peneliti melakukan koreksi data ulang

dan jika terdapat kuesioner yang belum diisi maka peneliti meminta
36

responden untuk mengisinya kembali. Pelaksanaan editing dilakukan

secara lansung sehingga jika terdapat kekurangan peneliti dapat

meminta responden melengkapi kekurangan tersebut secara

langsung.

5. Setelah semua data terkumpul peneliti melakukan proses

pengolahan data.

3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen adalah berbagai alat ukur yang digunakan secara

sistematis untuk pengumpulan data seperti tes, kuesioner, dan pedoman

wawancara (Raihan, 2017). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah lembar Diabetes Score Quisionnare. Diabetes Score Questionnaire

adalah kuesioner satu halaman berisi 10 item untuk mendiskusikan

perubahan gaya hidup yang bertujuan untuk mengevaluasi kuesioner Skor

Diabetes untuk validitas dan penerimaannya di antara individu dengan

diabetes tipe 2.

3.7 Pengelolahan Data dan Analisa Data

3.7.1 Pengelolahan Data

Pengolahan data merupakan segala berbagai pengolahan terhadap

data atau kombinasi-kombinasi dari berbagai macam pengolahan terhadap

data untuk membuat data itu berguna sesuai dengan hasil yang diinginkan

dapat segera dipakai. Menurut Masturoh & Anggita T (2018), pengolahan

data adalah bagian dari penelitian setelah pengumpulan data. Pada tahap

ini data mentah atau data yang telah dikumpukan dan diolah atau

dianalisis sehingga menjadi informasi sebagai berikut :


37

1. Editing

Editing atau penyuntingan data merupakan tahapan dimana data

yang sudah dikumpulkan dari hasil pengisian kuesioner disunting

kelengkapan jawabannya. Jika pada tahapan penyuntingan ternyata

ditemukan ketidaklengkapan dalam pengisian jawaban, maka harus

melakukan pengumpulan data ulang.

2. Coding

Coding adalah membuat lembaran kode yang terdiri dari tabel dibuat

sesuai dengan data yang diambil dari alat ukur yang digunakan.

Pemberian kode dalam penelitian ini misalnya :

a. Usia

1. 46-55 th kode 1

2. 56-65 th kode 2

3. >66 th kode 3

b. Jenis kelamin

1. Laki-laki kode 1

2. Perempuan kode 2

c. Lama menderita DM

1. <1th kode 1

2. >1th kode 1

d. Riwayat keluarga DM
1. Ada kode 1

2. Tidak ada kode 2

e. Tekanan darah
38

1. <120/80 mmHg kode 1

2. 120/80mmHg kode 2

3. >120/80 mmHg kode 3

f. IMT

1. Underweight kode 1

2. Normal kode 2

3. Overweight kode 3

4. Obesitas kode 4

g. Kebiasaan merokok

1. Ya kode 1

2. Tidak kode 2

h. Nilai kadar gula darah

1. <126mg/dl kode 1

2. 126mg/dl kode 2

3. >126mg/dl kode 3

i. Pendidikan

1. SD kode 1

2. SMP1 kode 2

[Link] kode 3

j. Pekerjaan

1. Bekerja kode 1

2. Tidak bekerja kode 2

k. Penggunaan insulin
39

1. Menggunakan kode 1

2. Tidak menggunakan kode 2

l. Skor Gaya hidup


1. Gaya hidup sangat baik kode 1

2. Gaya hidup baik kode 2

3. Gaya hidup cukup kode 3

4. Gaya hidup buruk kode 4

5. Gaya hidup sangat buruk kode 5

3. Scoring

Scoring yaitu setelah data terkumpul dari seluruh responden, peneliti

memeriksa dan menyesuaikan data dengan data semula seperti apa yang

diinginkan. Scoring pada penelitian ini telah ditentukan dan ditetapkan

sesuai poin-poin pada tiap pertanyaan yang ada pada sumber peneliti

terdahulu yaitu sebagai berikut :

a. 10 point

b. 5 piont

c. 0 point

Kemudian setelah hasil tiap pertanyaan dijumlahkan akan diinterpretasikan

dengan pembagian skor sebagai berikut (M.J. Hashim, 2020)

80-100 : sangat baik

60-80 : baik

60-40 : cukup
40

20-40 : buruk

0-20 : sangat buruk

4. Tabulating

Data – data dari hasil penelitian yang diperoleh digolongkan kategori

jawabannya berdasarkan variabel dan sub-sub variabel yang diteliti

kemudian dimasukkan ke dalam tabel. Pengertian tabulasi dalam

pengolahan data disini adalah usaha penyajian data dengan bentuk

[Link] data yang berbentuk tabel ini dapat berbentuk tabel

distribusi frekwensi maupun dapat berbentuk tabel silang.

3.7.2 Analisis Data

Analisa data diartikan sebagai upaya mengolah data menjadi

informasi, sehingga karakteristik atau sifat-sifat data dapat dengan mudah

dipahami dan dimanfaatkan untuk menjawab rumusan masalah

(Kurniawan dan Puspitaningtyas, 2016). Pada penelitian ini telah

ditentukan dan ditetapkan sesuai poin-poin pada tiap pertanyaan yang ada

pada sumber peneliti terdahulu yaitu sebagai berikut :

a. 10 point

b. 5 piont

c. 0 point

Kemudian setelah hasil tiap pertanyaan dijumlahkan akan

diinterpretasikan dengan pembagian skor (M.J. Hashim, 2020) :

80-100 : sangat baik

60-80 : baik
41

60-40 : cukup

20-40 : buruk

0-20 : sangat buruk

Hasil perhitungan frekuensi dan presentase kemudian diinterpretasikan

menurut Arikunto (2014) :

1. seluruh : 100%

2. hamper seluruh : 76%-99%

3. sebagian besar : 51%-75%

4. setengahnya : 50%

5. hamper setengahnya : 26%-49%

6. sebagian kecil : 1%-25%

7. tidak satupun : 0%

3.8 Waktu dan Tempat Penelitian

3.8.1 Waktu Penelitian

Waktu penelitian merupakan waktu kapan penelitian akan dilaksanakan.

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada Agustus 2023.

3.8.2 Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Posyandu Lansia Ari Murti 3.

3.9 Etika Penelitian

Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika

Serikat melahirkan The Belmont Report (Naional, 2017)

merekomendasikan tiga prinsip etik umum penelitian kesehatan yang

mengikutsertakan manusia sebagai subjek penelitian. ketiga prinsip etik

dasar tersebut adalah sebagai berikut:


42

1. Prinsip menghormati harkat martabat manusia (respect for persons)

Prinsip ini merupakan bentuk menghormati terhadap harkat martabat

manusia sebagai pribadi (personal) yang memiliki kebebasan

berkehendak atau memiliki dan sekaligus bertanggung jawab secara

pribadi terhadap keputusannya sendiri.

2. Prinsip berbuat baik dan tidak merugikan

Prinsip etik berbuat baik menyangkut kewajiban membantu orang lain

dilakukan dengan mengupayakan manfaat maksimal dengan kerugian

minimal.

3. Prinsip keadilan (justice)

Prinsip etik keadilan mengacu pada kewajiban etik untuk

memperlakukan setiap orang (sebagai pribadi otonom) sama

dengan moral yang benar dan layak dalam memperole haknya.

3.9.1 Kerahasiaan (confidentiality)

Peneliti menjaga kerahasiaan beberapa kelompok data yang

diperlukan dalam hasil penelitian. Peneliti menjaga kerahasiaan identitas

responden dengan menuliskan data responden dengan menggunakan

kode dan menutupi wajah responden

3.9.2 Menghormati Subjek (Respect For Person)

Peneliti tidak memaksa atau mengancam responden agar bersedia

menjadi peserta penelitian.

3.9.3 Manfaat (Beneficence)

Dalam hal ini peneliti melakukan pemeriksaan kesehatan yaitu

pengukuran TTV dan pengecekan GD kepada para responden dan


43

memberikan pendidikan kesehatan mengenaigaya hidup sehat terkait

penyakit DM.

Anda mungkin juga menyukai