Akan tetapi, sebelum Mo XuanYu meraih kesuksesan di bidang
kultivasi dan mewarisi posisi ayahnya, dia sudah diusir pulang.
Terlebih lagi dia diusir dengan cara yang memalukan.
Mo XuanYu homoseksual. Dia bahkan berani melecehkan murid
lain di sekte itu. Skandal itu terungkap ke publik dan, karena
prestasinya di bidang kultivasi hanya sedikit, tidak ada alasan lain untuk
membiarkannya tetap tinggal di klan tersebut.
Seperti menambahkan minyak ke dalam api, begitu Mo XuanYu
kembali, dia sering berkelakuan gila, seolah-olah tak punya jiwa.
Ceritanya nyaris terlalu rumit untuk dituliskan dalam kata-kata.
Kedua alis Wei WuXian berkedut.
Bukan hanya orang gila, tetapi juga orang gila yang homo*.Itulah sebabnya ada banyak
bedak dan celak di wajahnya hingga
membuatnya terlihat seperti hantu gantung, dan juga kenapa tidak ada
yang kaget melihat pola darah yang besar di tanah. Bahkan kalau Mo
XuanYu mengecat seisi ruangan ini dengan darah, tidak akan ada yang
terkejut dan terperangah. Kepalanya kan memang tidak waras!
Setelah diusir pulang, Mo XuanYu dikecam terus-menerus.
Situasinya tidak bisa diselamatkan, bahkan Nyonya Kedua Mo begitu
terpukul sampai meninggal karena trauma.
Saat ini, kakek Mo XuanYu telah meninggal. Nyonya Besar Mo
yang memimpin keluarga, tapi sejak kecil dia tidak pernah menyukai
saudari ataupun keponakannya itu. Dia punya anak lelaki semata
wayang yang tadi menggeledah dan menghancurkan tempat ini. Saat
Mo XuanYu dijemput ayahnya, Nyonya Besar begitu iri sehingga ingin
menjalin hubungan dengan sekte kultivasi lain. Dia berharap ada utusan
yang datang menjemput Mo ZiYuan untuk belajar berkultivasi juga.
Tentu saja dia ditolak. Lebih tepatnya diabaikan.
Hal ini tentu tidak sama dengan menjual kubis. Tidak ada tawar
menawar, apalagi berharap beli satu gratis satu.
Keluarga ini anehnya percaya saja kalau Mo ZiYuan punya bakat
dan potensi. Mereka percaya kalau seandainya dulu Mo ZiYuan yang
dijemput, pemuda itulah yang akan mendapat pengakuan dari sekte itu,
tidak seperti sepupunya yang mengecewakan. Walaupun saat Mo
XuanYu pergi, Mo ZiYuan masihlah muda, dia tetap saja ngotot. Setiap dua atau tiga hari, dia
akan mencari Mo XuanYu dan
mempermalukannya, mengutuknya karena telah merampas jalannya
berkultivasi. Pada saat bersamaan, dia semakin tertarik pada benda
benda seperti jimat, ramuan, dan alat sihir, serta menganggap semua itu
miliknya dan melakukan apa pun sesukanya.
Meskipun Mo XuanYu dianggap orang gila, dia paham kalau
dirinya direndahkan orang-orang. Dia menerima itu, tetapi kelakuan
Mo ZiYuan semakin menjadi-jadi sampai rumahnya hampir kosong.
Kesabarannya habis dan dia pun mengadu ke paman dan bibinya,
memancing keributan dengan Mo ZiYuan sejak pagi tadi.
Tulisan di kertas itu kecil dan padat hingga menyakitkan mata Wei
WuXian. Dia membatin, "Seberapa kacau hidup orang ini?"
Wajar saja Mo XuanYu sampai rela menggunakan teknik terlarang
untuk mengorbankan tubuhnya dan meminta arwah jahat untuk
membalaskan dendamnya.
Rasa sakit di matanya mengalir ke kepala. Seharusnya si pemanggil
merapalkan permintaannya saat melakukan teknik terlarang ini. Wei
WuXian sebagai arwah jahat yang dipanggil akan bisa mendengar
permintaannya dengan terinci.
Namun sepertinya Mo XuanYu menyalin kutipan teknik ini dari
suatu tempat dan melewati bagian itu. Meskipun Wei WuXian menduga
Mo XuanYu ingin membalas dendam pada keluarga Mo, tapi lewat cara apa? Sampai
seberapa jauh? Mengambil kembali barang-barang
miliknya? Atau memukuli mereka?
Atau... menghabisi semua anggota keluarga ini?
Sepertinya menghabisi keluarga ini adalah alasan yang paling
masuk akal. Apalagi setiap orang di dunia kultivasi tahu benar kata-kata
apa yang sering mendeskripsikan dirinya—tidak tahu diuntung, sinting,
lupa keluarga, dikutuk Dewa, dan banyak lainnya. Apa ada orang yang
lebih 'jahat' dari dirinya? Kalau Mo XuanYu berani memanggil jiwanya,
itu berarti permintaannya tidaklah main-main.
Wei WuXian berkata tak berdaya, "Kau memilih orang yang
salah..."