0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Problem Based Learning

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan yang adaptif terhadap perubahan budaya dan perkembangan potensi siswa melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). PBL menekankan pemecahan masalah nyata sebagai konteks belajar, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berkolaborasi dalam kelompok. Meskipun memiliki kelebihan dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa, PBL juga memiliki kelemahan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Diunggah oleh

alfatihramudhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Problem Based Learning

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan yang adaptif terhadap perubahan budaya dan perkembangan potensi siswa melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). PBL menekankan pemecahan masalah nyata sebagai konteks belajar, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berkolaborasi dalam kelompok. Meskipun memiliki kelebihan dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa, PBL juga memiliki kelemahan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Diunggah oleh

alfatihramudhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk


perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat
perkembangan. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan
pendidikan adalah hal yang seharusnya terjadi, sejalan dengan
perubahan budaya kehidupan manusia. Perubahan dalam arti
perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus
dilakukan sebagai upaya untuk mengantisipasi kepentingan
dimasa yang akan datang.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan
dimasa yang akan datang adalah pendidikan yang mampu
mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mampu
menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan yang
dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani
maupun potensi kompetensi peserta didik sehingga seluruh
ranah dalam pendidikan yaitu, kognitif, afektif dan psikomotorik
dapat dikembangkan secara bersamaan sesuai dengan tujuan
pendidikan.
Secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai `siasat',
`teknik', atau `cara'. Sedang secara umum strategi ialah suatu
garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan Fathurrohman (2007). Adapun strategi belajar
mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa
sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.
Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih
luas daripada suatu strategi, metode, atau prosedur. Istilah
model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model
pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Contohnya pada model
pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil
siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah

1
disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan
model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan
bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah
dan berpikir kritis.
Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan
berdasarkan tujuan pembelajarannya, pola urutannya dan sifat
lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian
berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model
pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari
keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik
yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Strategi
pembelajaran yang dikembangkan oleh guru harus mengacu
kepada deskripsi pembelajaran dan komponen lainnya. Ada tiga
hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar dikelas
yaitu apa yang akan diajarkan, yaitu materi pelajaran yang
hendak disampaikan. Selanjutnya, bagaimana cara
mengajarkannya, yaitu berhubungan dengan strategi yang
dikembangkan dalam pembelajaran, dan bagaimana cara
mengetahui materi yang diajarkan dapat dipahami oleh peserta
didik.
Ada beberapa model yang direkomendasikan dalam
kurikulum 2013 selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Beberapa model tersebut diantaranya Discovery Learning,
Problem Based Learning dan Project Based Learning. Model-
model ini lebih mengedapkan pada keaktifan siswa dalam
mendapatkan informasi baru sesuai dengan tuntutan
pembelajaran. Model pembelajaran Problem Based Learning
adalah salah satu diantara ketiga model yang direkomendasikan
dalam kurikulum 2013 yang diterapkan dalam pembelajaran
untuk mengarahkan siswa mendapatkan informasi berdasarkan
permasalahan yang dihadapi.

2
BAB II
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

A. Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based


Learning
Model Pembelajaran Problem Based Learning adalah suatu
model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk
memcahkan masalah melalui tahap – tahap metode ilmiah
sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus
memiliki ketrampilan untuk memcahkan masalah tersebut
( Kamdi, 2007:77). Model Pembelajaran Problem Based
Learning sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks
bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan
ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
pengetahuan dan konsep yang esensial dari mata pelajaran
Model pembelajaran Problem Based Learning memiliki
karakteristik sebagai berikut (Suparmin, 2007) : (1) belajar

3
dimulai dengan satu masalah, (2) memastikan bahwa
masalah tersebit berhubungan dengan dunia nyata siswa, (3)
Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar
disiplin ilmu, (4) Memberikan tanggung jawab yang besar
kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara
langsung proses belajar mereka sendiri . (5) Menggunakan
kelompok kecil, (6) menuntut siswa untuk
mendemonstrasikan yang telah mereka pelajari dalam
bentuk produk atau kinerja. Berdasarkan uraian di atas,
tampak jelas bahwa pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning dimulai dari
adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh
siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam
pengetahuannya dan apa yang mereka perlu ketahui untuk
memecahkan masalah yang dianggap menarik untuk
dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam
belajar.
Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat
diselesaikan siswa melalui kelompok kerja sehingga dapat
member pengalaman-pengalaman yang beragam pada
siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok,
disamping pengalaman belajar yang berhubungan dengan
pemecahan masalah seperti membuat hipotesa, merancang
percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data,
menginterpretasi data, berdiskusi dan membuat laporan.
Keaadan tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran
Problem Based Learning memberikan pengalaman belajar
kepada siswa. Dengan kata lain penerapan model
pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan
pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari
sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam
kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.

4
Model Pembelajaran Problem Based Learning merupakan
model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja
teoritik konstruktivisme. Dalam model Pembelajaran Problem
Based Learning fokus pembelajaran ada pada masalah tetapi
metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh
sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang
relevan dengan maslah tetapi juga memperoleh pengalaman
belajar yang berhubungan dengan ketrampilan menerapkan
metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan
menumbuhkan pola berpikir kritis.
Bila pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah
apalagi kalau masalah tersebut bersifat kontekstual, maka
dapat terjadi ketidakseimbangan kognitif pada diri siswa.
Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga
memunculkan bermacam-macam pertanyaan di sekitar
masalah seperti “Apa yang dimaksud dengan?”, “Bagaimana
mengetahuinya” dan seterusnya.
Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam
diri siswa maka motivasi intrinsik siswa akan tumbuh. Pada
kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator
untuk mengarahkan siswa tentang “konsep apa yang
diperlukan untuk memecahkan masalah”, “Apa yang harus
dilakukan” atau “ Bagaimana melakukannya” dan
seterusnya. odel Pembelajaran Problem Based Learning akan
melahirkan pengalaman belajar. Pengalaman belajar ini
sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana
berkembangnya pola piker dan pola kerja sesorang
bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya.
Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah akan
membuat mereka menerapkan pengetahuan yang
dimilikinya atau berusaha mengetahui pengethuan yang
diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks

5
aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat
diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi dimana
konsep tersebut diterapkan. Selain itu melalui Model
Pembelajaran Problem Based Learning siswa dapat
mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilannya secara
berkesinambungan dan mengaplikasikannya dalam konteks
yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai
dengan aplikasi suatu konsep atau teori yang mereka
tenukan selama pembelajaran berlangsung. Model
Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa
dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja
kelompok.

Model Pembelajaran Problem Based Learning bertujuan


untuk:
a. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir
dan keterampilan pemecahan masalah
b. Belajar peranan orang dewasa yang autentik
c. Menjadi pembelajar yang mandiri
Pada Model Pembelajaran Problem Based Learning
terdapat lima tahap utama yang dimulai dengan tahap
memperkenalkan siswa dengan suatu masalah dan diakhiri
dengan tahap penyajian dan analisis hasil kerja siswa.
Kelima langkah dari Model Pembelajaran Problem Based
Learning dapat dijabarkan ke dalam sintak Model
Pembelajaran Problem Based Learning.

B. Kelebihan dan Kelamahan Model Pembelajaran


Problem Based Learning

6
Setiap model pembelajaran biasanya memiliki kelebihan dan kelemahan.
Berikut ini merupakan keunggulan penerapan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL), yaitu sebagai berikut (Sanjaya, 2006:220):
1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran sehingga pembelajaran lebih bermakna.
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta
memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer
pengetahuan siswa untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang
dilakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong
untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses
belajarnya.
6. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa
setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu
yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru
atau dari buku saja.
7. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
8. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk
berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan siswa untuk
menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam dunia nyata.
10. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus
menerus belajar, sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Adapun kelemahan-kelemanan dari penggunaan model pembelajaran
Problem Based Learning adalah sebagai berikut (Sanjaya, 2006:221):
1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau siswa berasumsi bahwa
masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan merasa enggan
untuk mencoba.

7
2. Keberhasilan model pembelajaran melalui Problem Based Learning
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa siswa berusaha memecahkan masalah yang
dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang ingin dipelajari

C. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran


Problem Based Learning
1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem
Based Learning
Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based
Learning dapat dijabarkan seperti Tabel Berikut

Ste Indikator Kegiatan Guru


p
1 Orientasi Siswa menjelaskan tujuan
Kepada Masalah pembelajaran, menjelaskan
logistik yang diperlukan,
memotivasi siswa agar terlibat
aktif dan kreatif dalam
aktivitaspemecahan masalah
yang dipilihnya
2 Mengorganisasik membantu siswa
an siswa untuk mendefinisikan dan
belajar mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan
3 Membiming mendorong siswa untuk
penyelidikan mengumpulkan informasi yang
individual sesuai dan melaksanakan
maupun eksperimen untuk penjelasan
kelompok dan pernecahan Masalah
4 Mengembangkan membantu siswa dalam
dan menyajikan merencanakan dan karya yang
hasil karya sesuai seperti laporan, video,
dan model dan membantu
mereka untuk berbagi tugas
dengan temannya
5 Menganalisis dan Membantu siswa untuk
mengevaluasi melakukan refleksi terhadap
proses penyelidikan mereka dan
pemecahan proses-proses yang digunakan
masalah

8
2. Pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based
Learning
a. Tugas -Tugas Perencanaan
Model Pembelajaran Problem Based Learning adalah
model yang mengedepankan pada keaktifan siswa
mencari informasi berkaitan dengan permasalahan
yang dihadapinya. Model pembelajaran ini adalah
model yang interkatif sehingga membutuhkan
perencanaan yang matang seperti halnya model-model
pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.
Adapun beberapa perencanaan yang harus
dipertimbangkan dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning diantaranya adalah :

1) Penetapan tujuan
Model pembelajaran berbasis masalah dirancang
untuk mencapai tujuan-tujuan seperti keterampilan
menyelidiki, memahami peran orang dewasa dan
membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri.
Dalam pelaksanaannya Model Pembelajaran
Problem Based Learning bisa saja diarahkan untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut.
2) Merancang situasi masalah
Beberapa guru dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning lebih suka memberi kesempatan
dan keleluasaan kepada siswa untuk memilih
masalah yang akan diselidiki karena cara ini dapat
meningkatkan motivasi siswa. Situasi masalah yang
baik seharusnya otentik, kontekstual, mengandung
teka-teki, dan tidak didefinisikan secara ketat,

9
memungkinkan kerjasama, bermakna bagi siswa
dan konsisten dengan tujuan kurikulum.
3) Organisasi sumber daya dan rencana logistik
Dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning
siswa dimungkinkan berkerja dengan beragam
material dan peralatan dan dalam pelaksanaannya
bisa dilakukan dalam kelas, di perpustakaan atau di
laboratorium, bahkan dapat pula dilakukan di luar
sekolah. Oleh karena itu tugas
mengorganisasikan sumber daya dan
merencanakan kebutuhan untuk penyelidikan siswa,
haruslah menjadi tugas perencanaan yang utama
bagi guru yang menerapkan pembelajaran
berdasarkan pemecahan masalah.
b. Tugas Interaktif/ Kegiatan Selama Pembelajaran
1) Orientasi Siswa pada Masalah
Siswa perlu memahami bahwa tujuan Model
Pembelajaran Problem Based Learning adalah tidak
untuk memperoleh informasi baru dalam jumlah
besar, tetapi untuk melakukan penyelidikan
terhadap masalah-masalah penting dan untuk
menjadi pembelajar yang mandiri. Cara yang baik
dalam menyajikan masalah untuk suatu materi
pelajaran dalam pembelajaran berbasis masalah
adalah dengan menggunakan kejadian yang
mencengangkan dan menimbulkan misteri
sehingga membangkitkan minat dan keinginan
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
2) Mengorganisasikan Siswa untuk Belajar
Pada Model Pembelajaran Problem Based Learning
dibutuhkan pengembangan keterampilan
kerjasama diantara siswa dan saling membantu

10
untuk menyelidiki masalah secara bersama.
Berkenaan dengan hal tersebut siswa memerlukan
bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan
dan tugas-tugas pelaporan. Bagaimana
mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
belajar kooperatif berlaku juga dalam
mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
pembelajaran berdasarkan masalah.
3) Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok
a) Guru membantu siswa dalam pengumpulan
informasi dari berbagai sumber, siswa diberi
pertanyaan yang membuat mereka berpikir
tentang suatu masalah dan jenis informasi yang
diperlukan untuk memecahkan masalah
tersebut. Siswa diajarkan untuk menjadi
penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan
metode yang sesuai untuk masalah yang
dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa
dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.
b) Guru mendorong pertukaran ide gagasan
secara bebas dan penerimaan sepenuhnya
gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang
sangat penting dalam tahap penyelidikan
dalam rangka pembelajaran berdasarkan
masalah. Selama penyelidikan guru
memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa
tanpa mengganggu aktifitas siswa.
c) Puncak proyek-proyek pembelajaran
berdasarkan pemecahan masalah adalah
penciptaan dan peragaan seperti laporan,
poster dan model-model fisik
4) Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah

11
Tugas guru pada tahap akhir pembelajaran
berdasarkan pemecahan masalah adalah membantu
siswa menganalisis dan mengevaluasi proses
berpikir mereka sendiri dan keterampilan
penyelidikan yang mereka gunakan.
c. Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Manajemen
Hal penting yang harus diketahui guru, yaitu guru perlu
memiliki seperangkat aturan yang jelas agar
pembelajaran dapat berlangsung tertib tanpa
gangguan. Aturan ini juga diperlukan untuk menangani
perilaku siswa yang menyimpang secara cepat dan
tepat. Disamping memiliki aturan yang jelas guru juga
perlu memiliki panduan mengenai bagaimana
mengelola kerja kelompok.
Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru
dalam pengelolaan pembelajaran yang menggunakan
Model Pembelajaran Problem Based Learning adalah
bagaimana menangani siswa baik individual maupun
kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal
maupun yang terlambat. Dengan kata lain kecepatan
penyelesaian tugas tiap individu maupun kelompok
berbeda-beda. Pada Model Pembelajaran Problem Based
Learning siswa dimungkin untuk mengerjakan tugas
ganda dan waktu penyelesaian tugas-tugas tersebut
dapat berbeda-beda. Hal tersebut mengakibatkan
diperlukannya pengelolaan dan pemantauan kerja siswa
secara lebih baik.
d. Asesmen dan Evaluasi
Seperti halnya dalarn model pembelajaran
kooperatif, Model Pembelajaran Problem Based Learning
fokus mengarahkan kegiatan pembelajaran tidak pada
perolehan pengetahuan deklaratif, penilaiannya tidak

12
cukup dilakukan hanya dengan tes tertulis atau tes
kertas dan pensil (paper and pencil test). Teknik
penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan Model
Pembelajaran Problem Based Learning adalah menilai
pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil
penyelidikan mereka melalui asesmen kinerja dan
peragaan hasil.
3. Penilaian Pembelajaran Berbasis Masalah
Penilaian dilakukan dengan memandukan tiga aspek
penilaian yang mencakup pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude) dan ketrampilan (skill). Penilaian pengetahuan
(knowledge) mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang
dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah
semester (UTS), kuis, PR, dokumen dan laporan.
Penilaian ketrampilan dapat diukur dari penguasaan alat
bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan
penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan
soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi,
kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam
pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut
ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Penilaian pembelajaran dengan (knowledge) dilakukan
dengan authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan
dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis
pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk
melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam
kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dengan
Model Problem Based Learning dilakukan dengan cara
Penilaian diri (self-assessment) dan peer-assessment.
Penilaian diri (Self-assessment) dilakukan oleh pebelajar itu
sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya

13
dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh pebelajar
itu sendiri dalam belajar sesuai dengan standar yang sudah
ditetapkan.
Peer-assessment yaitu penilaian yang dilakukan dimana
pembelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap
upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah
dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam
kelompoknya.

BAB III
PENUTUP

Model Pembelajaran Problem Based Learning merupakan model


pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik
konstruktivisme. Dalam model Pembelajaran Problem Based
Learning fokus pembelajaran ada pada masalah tetapi metode
ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu,
siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan
maslah tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang
berhubungan dengan ketrampilan menerapkan metode ilmiah
dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir
kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi
internal untuk belajar dan dapat mengembangkan hubungan
interpersonal dalam bekerja kelompok.

14
REFERENSI

1. Fathurrohman, M. 2007. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa


University Press.
2. Kamdi, 2007. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University
Press.
3. Sanjaya, W. 2006. Model-model Pembelajaran Interaktif. Jakarta: STIA
LAN Press
4. Suparmin, A. 2007. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Jakarta: STIA
LAN

15

Anda mungkin juga menyukai