0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan37 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk pengertian, tanda dan gejala kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada tubuh wanita selama masa kehamilan. Kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu dan dibagi menjadi tiga trimester, dengan berbagai tanda yang dapat menunjukkan kehamilan, baik yang tidak pasti maupun yang pasti. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem tubuh wanita selama kehamilan.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan37 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk pengertian, tanda dan gejala kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada tubuh wanita selama masa kehamilan. Kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu dan dibagi menjadi tiga trimester, dengan berbagai tanda yang dapat menunjukkan kehamilan, baik yang tidak pasti maupun yang pasti. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem tubuh wanita selama kehamilan.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kehamilan

1. Pengertian kehamilan

Ibu hamil adalah seorang wanita yang mengandung dimulai dari

fertilisasi sampai lahirnya janin. Bila dihitung, usia kehamilan normal

dari fertilisasi sampai dengan lahirnya bayi kurang lebih 40 minggu

atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional

(Prawirohardjo, 2018).

Menurut Kuswanti (2018) merupakan masa dimana wanita

membawa embrio atau fetus didalam tubuhnya. Masa kehamilan

dimulai dari ovulasi sampai partus yaitu kira-kira 280 hari (40

minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).

Kehamilan adalah masa seorang perempuan telah terhenti dari

haid untuk beberapa waktu hingga proses kelahiran usai. Hal tersebut

umumnya terjadi selama kurang lebih sembilan bulan, atau 40

minggu, atau 280 hari. Sedangkan kehamilan normal akan akan

berlangsung selama 38 sampai 40 minggu. Proses kehamilan dibagi

atas tiga fase, yaitu:

a. Trimester pertama (0-3 bulan atau 0-12 minggu);

b. Trimester kedua (4-6 bulan atau 12-28 minggu);

c. Trimester ketiga (7-9 bulan atau 28-40 minggu). (Istiani &

Rusilanti, 2018).

9
10

2. Tanda dan Gejala Kehamilan

Tanda dan gejala dari kehamilan menurut Kusmiyati (2013) antara

lain:

a. Tanda tidak pasti kehamilan

1) Amenorea (tidak haid)

Bila seorang perempuan dalam masa mampu hamil,

apabila sudah menikah mengeluh terlambat haid, maka

terpikir bahwa perempuan tersebut hamil, meskipun

keadaan stres, obat-obatan, penyakit kronis dan faktor lain

dapat pula mengakibatkan terlambat haid.

2) Mual dan muntah

Mual dan muntah adalah gejala umum, mulai dari

rasa tidak enak sampai muntah yang berkepanjangan.

Dalam kedokteran sering dikenal morning sickness karena

munculnya sering di pagi hari. Mual dan muntah

diperberat oleh makanan yang baunya tajam dan juga oleh

emosi penderita yang tidak stabil. Untuk mengatasinya

penderita perlu diberi makan makanan yang ringan, mudah

dicerna dan jangan lupa menerangkan bahwa keadaan ini

masih dalam batas normal wanita hamil. Bila berlebihan

dapat pula diberikan obat-obat anti muntah untuk wanita

hamil.
11

3) Mastodinia

Mastodinia adalah rasa kencang dan sakit pada

payudara/mamae disebabkan payudara mengalami

pembesaran. Vaskularisasi bertambah, asinus dan duktus

berpoliferasi disebabkan karena pengaruh esterogen dan

progesteron.

4) Quickening

Quickening adalah persepsi atau perasaan gerakan

janin pertama, biasanya disadari oleh wanita pada

kehamilan dalam usia 18-20 minggu.

5) Keluhan kencing

Frekuensi berkemih bertambah dan sering berkemih

di malam hari, disebabkan karena desakan uterus yang

mengalami pembesaran dan tarikan oleh uterus ke kranial.

6) Konstipasi

Hal ini terjadi karena efek relaksasi progesteron atau

dapat juga terjadi karena perubahan pola makan.

7) Perubahan berat badan

Pada kehamilan di usia 2-3 bulan sering terjadi

penurunan berat badan, karena nafsu maka menurun dan

mengalami muntah-muntah. Pada bulan berikutnya berat

badan akan selalu meningkat sampai stabil menjelang

aterm.
12

8) Perubahan temperatur basal

Kenaikan suhu tubuh basal lebih dari tiga minggu

biasanya merupakan tanda telah terjadinya proses

kehamilan.

9) Perubahan warna kulit

Perubahan ini antara lain chloasma gravidarum

yakni warna kulit yang kehitam-hitaman pada dahi,

punggung hidung, dan kulit di daerah tulang pipi, terutama

pada perempuan dengan warna kulit tua. Biasanya muncul

setelah kehamilan 16 minggu. Pada daerah aerola dan

puting payudara, warna kulit menjadi lebih hitam.

Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh stimulasi

hormon MSH (Melanocyte Stimulating Hormone). Pada

kulit daerah abdomen dan payudara dapat pula mengalami

perubahan yang disebut striae gravidarum yaitu perubahan

warna seperti jaringan parut. Diduga ini terjadi karena

pengaruh adrenokortikosteroid. Kadang-kadang timbul

pula teleangiektasis karena pengaruh hormon esterogen

yang tinggi.

10) Perubahan payudara

Akibat efek stimulasi hormon prolaktin dan HPL,

payudara mensekresi kolostrum, biasanya setelah

kehamilan lebih dari enam belas minggu.


13

11) Perubahan pada uterus

Uterus terjadi perubahan pada ukuran, bentuk, dan

konsistensi. Uterus berubah menjadi lunak dan bentuknya

globular. Teraba balotement, dimana tanda ini muncul

pada usia kehamilan minggu ke16-20, setelah rongga

rahim mengalami obliterasi dan cairan amnion cukup

banyak. Balotemen adalah tanda adanya benda terapung

atau melayang dalam cairan. Sebagai diagnosis banding

adalah asites yang disertai dengan kista ovarium, mioma

uteri dan lain sebagainya.

12) Tanda Piskacek‟s

Terjadi pertumbuhan yang asimetris pada bagian

uterus yang dekat dengan daerah implantasi plasenta.

13) Tanda hegar

Munculnya tanda ini berupa perlunakan pada daerah

istmus uteri, sehingga daerah tersebut pada penekanan

mempunyai kesan lebih tipis dan uterus mudah

difleksikan. Dapat diketahui melalui pemeriksaan secara

bimanual. Tanda ini mulai terlihat pada usia kehamilan

minggu keenam, dan menjadi nyata pada minggu ketujuh

sampai kedelapan.
14

14) Tanda goodell‟s

Diketahui melalui pemeriksaan secara bimanual.

Daerah serviks terasa lebih lunak. Menggunakan

kontrasepsi oral juga dapat memberikan dampak ini.

15) Tanda Chadwick

Dinding vagina mengalami kongesti dan terjadi

warna kebiru- biaruan.

16) Tanda Mc Donald

Pada fundus uteri dan serviks bisa dengan mudah

difleksikan satu sama lain dan tergantung lunak atau

tidaknya jaringan isthmus.

17) Terjadi pembesaran abdomen

Pembesaran perut menjadi lebih nyata setelah usia

kehamilan minggu ke-16, karena pada saat itu uterus telah

keluar dari rongga pelvis dan menjadi organ rongga perut.

18) Kontraksi uterus

Tanda ini muncul belakangan dan pasien mengeluh

perutnya terasa kencang, tetapi tidak disertai dengan rasa

sakit.

19) Pemeriksaan tes biologis kehamilan

Pada pemeriksaan tes biologis kehamilan hasilnya

positif, dimana kemungkinan positif palsu.


15

b. Tanda pasti kehamilan

Indikator pasti hamil adalah penemuan-penemuan

keberadaan janin yang terjadi secara jelas dan hal ini tidak dapat

dijelaskan dengan kondisi kesehatan yang lainnya. Menurut

Kusmiyati (2010), tanda pasti kehamilan antara lain:

1) Denyut jantung janin (DJJ)

Dapat didengar dengan stetoskop laenec pada usia

kehamilan minggu 17-18. Pada orang gemuk terasa lebih

lambat. Dengan stetoskop ultrasonik (doppler), DJJ dapat

didengarkan lebih awal lagi, sekitar usia kehamilan

minggu ke-12. Melakukan auskultasi pada janin bisa juga

mengidentifikasi adanya bunyi-bunyi yang lain, seperti:

bising tali pusat, bising uterus dan nadi ibu.

2) Letak outline janin

Letak olutline janin biasanya menjadi jelas setelah

usia kehamilan minggu ke-22. Gerakan janin dapat

dirasakan dengan jelas setelah usia kehamilan minggu 24.

3) Vagina dan Vulva

Hormon kehamilan mempersiapkan vagina supaya

distensi selama persalinan dengan memproduksi mukosa

vagina yang tebal, jaringan ikat longgar, hipertrofi otot

polos, dan pemanjangan vagina. Peningkatan vaskularisasi

menimbulkan warna ungu kebiruan pada mukosa vagina


16

dan serviks. Perubahan warna yang disebut tanda

Chadwick, suatu tanda kemungkinan kehamilan, dapat

muncul pada minggu keenam, tetapi dengan mudah

terlihat pada minggu kedelapan kehamilan.

4) Servik uteri

Konsistensi serviks menjadi lunak dan kelenjar-

kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan

mengeluarkan sekresi lebih banyak.

5) Uterus

Pertumbuhan uterus yang fenomenal pada trimester

pertama berlanjut sebagai respon terhadap stimulus kadar

hormon esterogen dan progresteron yang tinggi.

Pembesaran terjadi akibat peningkatan vaskularisasi dan

dilatasi pembuluh darah, hiperplasia (produksi serabut otot

dan jaringan fibroelastis baru), dan perkembangan

desidua.

6) Ovarium

Selama hamil kadar esterogen dan progesteron yang

meningkat menekan sekresi follicle-stimulating hormone

(FSH) dan luteinizing hormone (LH). Maturasi folikel dan

pelepasan ovum tidak terjadi. Siklus menstruasi berhenti

(sering merupakan tanda kemungkinan kehamilan).

Walaupun mayoritas wanita mengalami amenore (tidak


17

haid), namun sedikitnya 20% wanita mengalami

pendarahan kecil tanpa rasa sakit dan sebab yang jelas di

awal gestasi.

7) Payudara/mamae

Rasa penuh, peningkatan sensitivitas, rasa geli, dan

rasa berat di payudara mulai timbul sejak minggu keenam

gestasi. Perubahan payudara ini adalah tanda

kemungkinan kehamilan. Sensitivitas payudara bervariasi

dari rasa geli ringan sampai nyeri yang tajam. Puting susu

dan aerola menjadi lebih berpigmen, terbentuk warna

merah muda sekunder pada aerola, dan puting susu

menjadi lebih erektil.

8) Sistem endokrin

Progesteron menyebabkan lemak disimpan dalam

jaringan subkutan di abdomen, punggung, dan paha atas.

Lemak berfungsi sebagai cadangan energi baik pada masa

hamil maupun menyusui. Beberapa hormon yang lain

mempengaruhi nutrisi. Aldosteron mempertahankan

natrium. Tiroksin mengatur metabolisme. Hormon

paratiroid mengontrol metabolisme kalsium dan

magnesium. Human placental lactogen (Hpl) berperan

sebagai hormon pertumbuhan. Human chorionic


18

gonadotropin (hCG) menginduksi mual dan muntah pada

beberapa wanita selama awal kehamilan.

9) Sistem perkemihan

Urinary frequency merupakan akibat peningkatan

sensitivitas kandung kemih dan pada tahap selanjutnya

merupakan akibat kompresi pada kandung kemih. Pada

trimester kedua kandung kemih tertarik keatas dan keluar

dari panggul sejati kearah abdomen. Uretra memanjang

sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah

atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukkan oleh

hiperemia kandung kemih dan uretra. Peningkatan

vaskularisasi ini membuat mukosa kandung kemih

menjadi mudah luka dan berdarah. Tonus kandung kemih

dapat menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung

kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama,

pembesaran uterus menekan kandung kemih,

menimbulkan rasa ingin berkemih walaupun kandung

kemih hanya berisi sedikit urine.

10) Sistem pencernaan

Fungsi saluran cerna selama masa hamil

menunjukkan gambaran yang sangat menarik. Nafsu

makan meningkat. Sekresi usus berkurang. Fungsi hati

berubah dan absorpsi nutrien meningkat. Usus besar


19

bergeser kearah lateral atas dan posterior. Aktivitas

peristaltik (motilitas) menurun. Akibatnya, bising usus

menghilang, konstipasi, mual, serta muntah umum terjadi.

Aliran darah ke panggul dan tekanan vena meningkat,

menyebabkan hemoroid terbentuk pada akhir kehamilan.

11) Volume darah

Derajat ekspansi volume darah sangat bervariasi.

Volume darah meningkat sekitar 1500 ml. Peningkatan

terdiri atas 1000 ml plasma ditambah 450 ml sel darah

merah. Peningkatan volume mulai terjadi pada sekitar

minggu ke- 10 sampai ke-12, mecapai puncak sekitar 30%

sampai 50% diatas volume tidak hamil pada minggu ke-20

sampai ke-26, dan menurun setelah minggu ketiga.

Peningkatan volume merupakan mekanisme protektif.

Keadaan ini sangat penting untuk sistem vaskular yang

mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus, hidrasi

jaringan janin dan ibu yang adekuat saat ibu berdiri atau

telentang, dan cadangan cairan untuk mengganti darah

yang hilang selama selama proses melahirkan dan

puerperium.

12) Musculoskeletal

Akibat peningkatan kadar hormon estrogen dan

progesterone, terjadi relaksasi dari jaringan ikat, kartilago


20

dan ligamen juga meningkatkan jumlah cairan sinovial.

Bersamaan dua keadaan tersebut meningkatkan

fleksibilitas dan mobilitas persendiaan. Keseimbangan

kadar kalsium selama kehamilan biasanya normal apabila

asupan nutrisi khususnya produk susu [Link]

ringan dan peningkatan mobilitas sendi panggul normal

selama masa hamil. Hal ini merupakan akibat elastisitas

dan perlunakan berlebihan jaringan kolagen dan jaringan

ikat dan merupakan akibat peningkatan hormon seks

steroid yang bersirkulasi. Adaptasi ini memungkinkan

pembesaran dimensi panggul. Derajat relaksasi bervariasi,

namun pemisahan simfisis pubis dan ketidak stabilan

sendi sakroiliaka yang besar menimbulkan nyeri dan

kesulitan berjalan.

13) Kulit

Perubahan keseimbangan hormon dan peregangan,

mekanis menyebabkan timbulnya beberapa perubahan

dalam sistem integumen selama masa kehamilan.

Perubahan yang umum terjadi adalah peningkatan

ketebalan kulit dan lemak subdermal, hiperpigmentasi,

pertumbuhan rambut dan kuku, percepatan aktifitas

kelenjar keringat dan kelenjar sebasea, peningkatan

sirkulasi dan aktifitas vasomotor. Jaringan elastis kulit


21

mudah pecah, menyebabkan strie gravidarum atau tanda

regangan dan respon alergi kulit meningkat.

14) Metabolisme

Laju metabolisme basal (basal metabolism rate

(BMR)) biasanya meningkat pada bulan keempat gestasi.

BMR meningkat 15% sampai 20% pada akhir kehamilan

(aterm). BMR kembali ke nilai sebelum hamil pada hari

kelima atau keenam pascapartum. Peningkatan BMR ini

mencerminkan peningkatan kebutuhan oksigen di unit

janin-plasenta-uterus serta peningkatan konsumsi oksigen

akibat peningkatan kerja jantung ibu.

15) Sistem pernafasan

Adaptasi ventilasi dan struktural selama masa hamil

bertujuan menyediakan kebutuhan ibu dan janin.

Kebutuhan oksigen ibu meningkat sebagai respon terhadap

percepatan laju metabolik dan peningkatan kebutuhan

oksigen jaringan uterus dan payudara. Janin membutuhkan

oksigen dan suatu cara untuk membuang karbondioksida.

Wanita hamil bernafas lebih dalam tetapi frekuensi

nafasnya hanya sedikit meningkat, peningkatan volume

tidal pernafasan yang berhubungan dengan frekuensi nafas

normal menyebabkan peningkatan volume nafas permenit

sekitar 26 %.
22

16) Sistem persyarafan

Hanya sedikit diketahui tentang perubahan fungsi

sistem neurologi selama masa kehamilan, selain

perubahan-perubahan neurohormonal, hipotalamik-

hipofisis. Perubahan fisiologik spesifik akibat kehamilan

dapat terjadi timbulnya gejala neurologis dan

neuromuscular.

17) Peningkatan berat badan

Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10-12

kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dari satu

kg, trimester II sekitar tiga kg, dan trimester III sekitar

enam kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus

bertujuan memantau pertumbuhan janin (Waryono, 2010).

18) Perubahan Psikologis di Masa Kehamilan

Perubahan psikologis wanita hamil menurut Kusmiyati

(2010) adalah sebagai berikut:

a) Trimester I

Trimester pertama sering dikatakan sebagai masa

penentuan. Penentuan untuk membuktikan bahwa

wanita dalam keadaan hamil. Pada saat inilah tugas

psikologis pertama sebagai calon ibu untuk dapat

menerima kenyataan akan kehamilannya. Selain itu

akibat dari dampak terjadinya peningkatan hormon


23

esterogen dan progesteron pada tubuh ibu hamil

akan mempengaruhi perubahan pada fisik sehingga

banyak ibu hamil yang merasakan kekecewaan,

penolakan, kecemasan dan kesedihan. Ibu hamil

akan merenungkan keadaan dirinya. Dari munculnya

kebingungan tentang kehamilannya dengan

pengalaman buruk yang pernah dialaminya sebelum

kehamilan, efek kehamilan yang akan terjadi pada

hidupnya (terutama jika wanita karir), tanggung

jawab baru atau tambahan yang akan dipikul,

kecemasannya tentang kemampuan dirinya untuk

menjadi seorang ibu, keuangan dan rumah,

penerimaan kehamilannya oleh orang lain. Saat itu,

beberapa ketidaknyamanan trimester pertama berupa

mual, lelah, perubahan selera, emosional, mungkin

mencerminkan konflik dan depresi yang dialami dan

dapat terjadi pada saat ia teringat tentang

kehamilannya.

b) Trimester II

Trimester kedua sering disebut dengan periode

pancaran kesehatan, saat ibu merasa sehat. Ini

disebabkan selama trimester ini umumnya wanita

sudah merasa baik dan terbebas dari


24

ketidaknyamanan kehamilan. Tubuh ibu sudah

terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi dan

rasa tidak nyaman karena hamil sudah berkurang.

Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum

dirasakan sebagai beban. Ibu sudah menerima

kehamilannya dan sudah mulai dapat menggunakan

energi dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada

trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan

bayinya, dan ibu mulai merasakan kehadiran

bayinya sebagai seseorang diluar dari dirinya

sendiri. Banyak ibu yang merasa terlepas dari rasa

kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang

dirasakannya pada trimester pertama dan merasakan

meningkatnya libido.

c) Trimester III

Trimester ketiga sering disebut sebagai periode

penantian. Pada periode ini wanita menanti

kehadiran bayinya sebagai bagian dari dirinya, ibu

hamil menjadi tidak sabar untuk segera melihat

bayinya. Ada perasaan tidak menyenangkan ketika

bayinya tidak lahir tepat pada waktunya, fakta yang

menempatkan wanita tersebut gelisah dan hanya bisa

melihat dan menunggu tanda-tandanya.


25

B. Kekurangan Energi Kronik (KEK)

1. Defisini KEK

Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah salah satu keadaan

malnutrisi. Ibu KEK menderita kekurangan makanan yang

berlangsung menahun (kronik) yang mengakibatkan timbulnya

gangguan kesehatan pada ibu secara relatif atau absolut satu atau lebih

zat gizi (Sipahutar, dkk., 2018).

Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah salah satu keadaan

malnutrisi atau keadaan patologis akibat kekurangan secara relatif atau

absolut satu atau lebih zat gizi (Supariasa, 2018).

Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah kekurangan energi

yang memiliki dampak buruk terhadap kesehatan ibu dan

pertumbuhan perkembangan janin. Ibu hamil dikategorikan KEK jika

Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm (Muliarini, 2019).

2. Tanda-tanda klinis KEK

Menurut Supariasa (2018), tanda-tanda klinis KEK adalah

sebagai berikut :

a. Berat badan < 40 kg.

b. Tanpa kurus

c. Turgor kulit kering

d. Konjungtiva pucat

e. Tensi kurang dari 100 MmHg

f. LILA kurang dari 23,5 cm


26

g. Tinggi badan < 145 cm

h. Ibu menderita anemia dengan Hb < 11 gr%

i. Nafsu makan kurang

j. Badan lemas

k. Bibir tampak pucat

l. Nafas pendek

m. Denyut jantung meningkat

n. Susah buang air besar

o. Nafsu makan berkurang

p. Kadang-kadang pusing dan

Mudah mengantuk (Supariasa, 2018).

3. Pengukuran Antropometri Lingkar Lengan Atas (LILA)

a. Pengertian LILA

Lingkar Lengan Atas (LILA) adalah pengukuran

antropometri yang dapat menggambarkan keadaan status gizi

ibu hamil dan untuk mengetahui risiko KEK atau gizi kurang.

Kategori KEK adalah LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian

merah pita LILA (Supariasa, 2018).

b. Tujuan pengukuran LILA

1) Mengetahui risiko KEK Wanita Usia Subur (WUS), baik

ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang

mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah.


27

2) Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar

lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan

KEK.

3) Mengembangkan gagasan baru dikalangan masyarakat

dengan tujuan meningkatakan kesejahteraan ibu dan anak.

4) Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran

WUS yang menderita KEK.

5) Meningkatkan peran dalam upaya perbaikan gizi WUS

yang menderita KEK (Supariasa, 2018).

c. Ambang batas

Ambang batas atau cut off point ukuran LILA WUS

dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran

LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA,

artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK (Supariasa,

2018).

d. Cara mengukur LILA

Pengukuran LILA dilakukan melalui urutan-urutan yang

telah ditetapkan, pengukuran dilakukan dengan pita LILA dan

ditandai dengan sentimeter. Terdapat 7 urutan pengukuran LILA

yaitu:

1) Tetapkan posisi bahu dan siku, yang diukur adalah

pertengahan lengan atas sebelah kiri dan lengan dalam

keadaan tidak tertutup kain/pakaian.


28

2) Letakkan pita antara bahu dan siku.

3) Tentukan titik tengah lengan, beri tanda.

4) Lingkarkan pita LILA pada tengah lengan.

5) Pita jangan terlalu kekat atau longgar.

6) Cara pembacaan sesuai dengan skala yang benar.

7) Catat hasil pengukuran LILA (Supariasa, 2018).

4. Diagnosis

Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) adalah salah satu cara

untuk mengetahui KEK pada WUS. Pengukuran LILA tidak dapat

digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka

pendek. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian

merah pita LILA artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK, dan

diperkirakan akan melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). BBLR

mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan

gangguan perkembangan anak. LILA tang rendah dapat

menggambarkan IMT yang rendah pula. Ibu yang menderita KEK

sebelum hamil biasanya berada pada status gizi yang kurang, sehingga

pertambahan berat badan selama hamil harus lebih besar. Semakin

rendah IMT prahamil maka makin rendah berat bayi yang dikandung

dan makin tinggi resiko BBLR.

Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau

perubahan status gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LILA

digunakan karena pengukurannya sangat mudah dan dapat dilakukan


29

oleh siapa saja. Pengukuran LILA dilakukan melalui urut-urutan yang

telah ditetapkan. Ada tuju urutan pengukuran LILA, yaitu:

a. Tetapkan bahu dan siku

b. Letakan pita antara bahu dan siku

c. Tentukan titik tengah lengan lingkarkan pita LILA pada tengah

lengan

d. Pita jangan terlalu ketat

e. Pita jangan terlalu longgar

f. Cara pembacaan skala harus benar

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah

pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku

lengan kiri (kecuali yang kidal diukur lengan kanan). Lengan

harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam

keadaan tidak tegang dan kencang. Alat pengukur dalam

keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat

sehingga permukaannya sudah tidak rata.

Hasil pengukura LILA ada dua kemungkina yaitu kurang

dari 23,5 cm dan lebih dari 23,5 cm. Apabila hasil pengukuran

<23,5 cm berarti resiko KEK dan dianjurkan atau tindakan yang

perlu dilakukan adalah dengan makan cukup, dengan pedoman

umum gizi seimbang, hidup sehat, tunda kehamilan, bila hamil

segera dirujuk sedini mungkin. Apabila hasil pengukuran >23,5

cm maka anjuran yang diberikan adalah pertahanan kondisi


30

kesehatan, hidup sehat, bila hamil periksa kehamilan kepada

petugas kesehatan.

5. Faktor-faktor penyebab KEK

a. Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu hasil tahu dari manusia atas

penggabungan atau kerja sama antara suatu subjek yang

mengetahui dan objek yang diketahui. Segenap apa yang

diketahui tentang sesuatu objek tertentu (Suriasumantri dalam

Nurroh, 2017). Menurut Notoatmodjo dalam Yuliana (2017),

pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimiliki (mata,

hidung, telinga, dan sebagainya).

Klasifikasi tingkat pengetahuan menurut Nursalam (2019)

pengetahuan seseorang dapat diinterpretasikan dengan skala

yang bersifat kualitatif, yaitu:

1) Baik : >50%

2) Kurang : <50%

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari

pengalaman yang berasal dari berbagai sumber misalnya media

masa, media elektronik, buku petunjuk kesehatan, media poster,

kerabat dekat dan sebagainya. Ibu hamil yang memiliki

pengetahuan kurang baik berisiko mengalami defisiensi zat besi

sehingga tingkat pengetahuan yang kurang tentang defisiensi zat


31

besi akan berpengaruh pada ibu hamil dalam perilaku kesehatan

dan berakibat pada kurangnya konsumsi makanan yang

mengandung zat besi dikarenakan ketidaktahuannya dan dapat

berakibat KEK (Wati, 2019).

Pengetahuan merupakan faktor penyebab yang sangat

berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan konsumsi

makanan. Seseorang yang memiliki pengetahuan baik tentang

suatu hal maka akan cenderung mengambil keputusan yang

tepat berkaitan dengan masalah tersebut. Dengan pengetahuan

KEK tersebut diharapkan tercipta pola kebiasaan makan yang

baik dan sehat, sehingga dapat mengetahui kandungan gizi,

sanitasi, dan pengetahuan yang terkait dengan pola makan

lainnya (Handayani dalam Yuli, 2018).

Pengetahuan kurang ibu hamil terhadap KEK akan

menimbulkan gejala KEK dan diukur pada Lingkar Lengan Atas

(LILA) kurang dari 23,5 cm (Supariasa, 2018).

Pengetahuan ibu terhadap KEK sangat berdampak pada

ibu hamil dan dapat menyebabkan resiko komplikasi pada ibu

antara lain : anemia, perdarahan dan terkena penyakit infeksi.

Ibu hamil yang memiliki pengetahuan KEK yang baik akan

mampu memilih jenis makanan yang tepat untuk dirinya dan

janinnya baik dari segi kuantitas dan kualitas. Selain

pengetahuan KEK, pengetahuan kesehatan kehamilan juga perlu


32

bagi ibu hamil. Dengan demikian, pengetahuan KEK dan

kesehatan merupakan salah satu faktor protektif dalam

mempertahankan kualitas kehamilan. Pengetahuan memiliki

pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan (Handayani

dalam Yuli, 2018).

Pengetahuan yang dimiliki seorang ibu akan

mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dan juga akan

berpengaruh pada perilakunya. Ibu dengan pengetahuan KEK

yang baik, kemungkinan akan memberikan energi yang cukup

bagi ibu. Banyak faktor yang mempengaruhi, antara lain

kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan

tentang KEK (Banudi, 2018).

Pengetahuan ibu sangat berpengaruh atas gizi bayi yang

dikandungnya dan juga pola konsumsi makanan terutama

makanan yang mengandung zat besi, karena apabila kekurangan

zat besi pada masa kehamilan dalam waktu yang relatif lama

akan menyebabkan terjadinya KEK (Ariyani, 2019).

b. Umur ibu

Umur ibu yang ideal dalam kehamilan yaitu pada

kelompok umur 20-35 tahun dan pada umur tersebut kurang

beresiko komplikasi kehamilan serta memiliki reproduksi yang

sehat. Hal ini terkait dengan kondisi biologis dan psikologis dari

ibu hamil. Sebaliknya pada kelompok umur < 20 tahun beresiko


33

anemia sebab pada kelompok umur tersebut perkembangan

biologis yaitu reproduksi belum optimal. Selain itu, kehamilan

pada kelompok usia diatas 35 tahun merupakan kehamilan yang

beresiko tinggi. Wanita hamil dengan umur diatas 35 tahun juga

akan rentan anemia. Hal ini menyebabkan daya tahan tubuh

mulai menurun dan mudah terkena berbagai infeksi selama masa

kehamilan (Fatkhiyah, 2018).

Umur ibu yang berisiko melahirkan bayi kecil adalah

kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Ibu hamil yang

berusia kurang dari 20 tahun dikatakan memiliki risiko KEK

yang lebih tinggi. Usia ibu hamil yang terlalu muda, tidak hanya

meningkatkan risiko KEK namun juga berpengaruh pada banyak

masalah kesehatan ibu lainnya (Stephanie dan Kartikasari,

2019).

Pembagian kategori usia menurut badan kesehatan dunia

atau WHO (2018) dibagi menjadi :

1) Berusia 0-17 tahun adalah masa anak-anak dibawah umur

2) Berusia 18-65 tahun memasuki masa pemuda

3) Berusia 66-79 tahun adalah masa setengah baya

4) Berusia 80-99 tahun merupakan orang tua

5) Berusia 100 tahun keatas adalah orang tua berusia panjang

Kategori usia berdasarkan kehamilan dan persalinan yang

tepat sebagai berikut :


34

1) < 20 tahun atau > 35 tahun beresiko tinggi

2) 20-35 tahun umur ideal atau tidak beresiko

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan

Kartikasari (2019) menyebutkan bahwa sebagian besar

responden yang berada pada kategori umur 20-35 tahun tidak

mengalami KEK, dari 37 orang hanya 6 orang (16,2%) yang

mengalami KEK. Ibu dengan kategori umur >35 tahun, dari 7

orang terdapat 1 orang (10%) yang mengalami KEK.

Kesimpulan dari penelitian di atas yaitu umur ibu dapat

mempengaruhi status gizi ibu pada saat hamil.

c. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan

perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha

mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pendidikan.

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan

berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan

menengah, dan pendidikan tinggi. Dengan pendidikan tinggi

maka seseorang akan cenderung mendapatkan informasi baik

dari orang lain maupun media. Sebaliknya, tingkat pendidikan

yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap

seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenalkan. Pendidikan

seseorang merupakan salah satu faktor yang penting dalam

kesehatan ibu dan anak khususnya pada ibu hamil karena


35

dengan pendidikan yang baik, maka seseorang dapat menerima

segala informasi dari luar terutama tentang cara menjaga

kehamilan dan bagaimana menjaga kesehatannya. Pendidikan

formal dari ibu sering kali mempunyai asosiasi positif dengan

pengembangan pola-pola konsumsi makanan dalam keluarga.

Semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin baik pengetahuan

gizi dan semakin diperhitungkan jenis serta jumlah makanan

yang dipilih untuk dikonsumsi (Musni, dkk, 2017).

Menurut Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2017)

klasifikasi pendidikan meliputi :

1) Pendidikan dasar

Pendidikan dasar diselenggarakan untuk

memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup

dalam masyarakat berupa pengembangan sikap,

pengetahuan dan keterampilan. Disamping itu juga

berfungsi mempersiapkan peserta didik yang memenuhi

persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.

2) Pendidikan menengah

Pendidikan menengah yang lamanya tiga tahun

sesudah pendidikan dasar, diselenggarakan di SLTA

(Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau satuan pendidikan

yang sederajat.
36

3) Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan

menengah, yang diselenggarakan untuk menyiapkan

peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki

kemampuan adademik dan profesional yang dapat

menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu

pengetahuan, teknologi dan kesenian.

Pendidikan yang baik akan mempermudah untuk

mengadopsi pengetahuan tentang kesehatannya. Rendahnya

tingkat pendidikan ibu hamil dapat menyebabkan keterbatasan

dalam upaya menangani KEK (Nurhidayati, 2018).

Pendidikan ibu mempengaruhi KEK pada ibu hamil

karena tingginya tingkat pendidikan akan ikut menentukan atau

mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima suatu

pengetahuan, semakin tinggi pendidikan maka seseorang akan

lebih mudah menerima informasi tentang KEK. Pendidikan

selain merupakan modal utama dan menunjang perekonomian

keluarga juga berperan dalam penyusunan makanan untuk

rumah tangga. Tingkat pendidikan formal mempunyai peran

yang cukup besar dalam menetukan sikap dan perilaku ibu

terhadap kegiatan pemilihan makanan (Ismail, 2018).

Tingkat pendidikan yang rendah mempengaruhi

penerimaan informasi, sehingga pengetahuan akan terbatas.


37

Pada masyarakat dengan pengetahuan rendah akan lebih kuat

mempertahankan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan

makanan, sehingga sulit untuk menerima pembaharuan pada

KEK (Surasih, 2018).

Rendahnya pendidikan seorang ibu dapat mempengaruhi

terjadinya risiko KEK, hal ini disebabkan karena faktor

pendidikan dapat menentukan mudah tidaknya seseorang untuk

menyerap dan memahami pengetahuan KEK yang diperoleh.

Latar belakang pendidikan ibu adalah suatu faktor penting yang

akan berpengaruh terhadap status kesehatan dan KEK pada ibu

hamil (Stephanie dan Kartikasari, 2019).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan

Kartikasari (2019) menyebutkan bahwa ibu hamil yang memiliki

pendidikan SD ke bawah memiliki risiko KEK yang lebih tinggi

dibandingkan ibu yang memiliki latar belakang pendidikan SMP

ke atas. Kesimpulan dari penelitian di atas yaitu pendidikan

dapat mempengaruhi terjadinya risiko KEK pada ibu.

d. Pekerjaan

Faktor lain yang berhubungan dengan kejadian KEK yaitu

pekerjaan ibu hamil, tuntutan pekerjaan membuat ibu memiliki

beban kerja yang berat sehingga waktu sehari-hari yang

seharusnya ibu gunakan untuk menyiapkan hal-hal terkait

kehamilannya menjadi tersita karena pekerjaannya, terlebih jika


38

pekerjaan ibu termasuk dalam kategori beban kerja yang berat

sampai timbul kelelahan. Hal tersebut berkaitan dengan

pemenuhan kebutuhan asupan gizi pada ibu hamil. Berdasarkan

hasil penelitian yang sudah dilakukan didapatkan bahwa ibu

hamil yang bekerja mempunyai waktu lebih sedikit dalam

menyiapkan makanan yang berpengaruh pada jumlah makanan

yang dikonsumsi sehingga mempengaruhi status gizi ibu hamil.

Pekerjaan seseorang berkaitan erat dengan status ekonomi.

Baik status ekonomi maupun sosial sangat mempengaruhi

seorang wanita dalam memilih makanannya (Banudi, 2018).

Ekonomi sesorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan

yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seorang dengan ekonomi

tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gizi

yang dibutuhkan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan

membuat gizi ibu semakin terpantau (Kristiyanasari, 2018).

Pekerjaan dapat berpengaruh terhadap status ekonomi. Ibu

yang bekerja memiliki penghasilan sendiri sehingga lebih

mudah untuk memenuhi kebutuhan gizinya, karena tidak

bergantung dari pendapatan suami. Status gizi adalah ukuran

keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk ibu hamil. Status

gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan

oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrisi. Gizi

secara langsung dipengaruhi oleh asupan makanan dan penyakit,


39

khususnya penyakit infeksi. Salah satu faktor lain adalah

keterbatasan ekonomi yang berarti tidak mampu membeli bahan

makanan yang berkualitas baik, sehingga mengganggu

pemenuhan gizi.

e. Status ekonomi

Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan

seseorang adalah tingkat keadaan ekonomi, dalam hal ini adalah

daya beli keluarga. Keluarga yang memiliki pendapatan kurang,

berpengaruh terhadap daya beli keluarga tersebut. Kemampuan

keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung

pada besar kecilnya pandapatan keluarga, harga bahan makanan

itu sendiri, serta tingkat pengelolaan sumber daya lahan dan

pekarangan (Stephanie dan Kartikasari, 2019).

Karakteristik ekonomi keluarga merupakan hal yang

sangat penting, di negara-negara berkembang orang miskin

hampir membelanjakan semua pendapatannya untuk makan,

sedangkan jika memiliki uang yang lebih berarti susunan atau

komposisi makanan lebih baik. Tingkatan pendapatan

menentukan makanan apa yang dibeli, semakin tinggi

pendapatan semakin bertambah pula presentasi

pembelanjaannya (Nursanti dkk, 2018).

Tingkat ekonomi terlebih jika yang bersangkutan hidup di

bawah garis kemiskinan (keluarga prasejahtera), berguna untuk


40

pemastian apakah ibu berkemampuan membeli dan memilih

makanan yang bernilai gizi tinggi. Tingkat sosial ekonomi

meliputi pendidikan, pendapatan, dan pekerjaan yang

merupakan penyebab secara tidak langsung dari masalah gizi

(Arisman, 2018).

Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan

makanan yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seseorang

dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka

kemungkinan besar sekali gizi yang dibutuhan tercukupi

ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu hamil

semakin terpantau (Kristyanasari, W. 2018).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan

Kartikasari (2019) menyebutkan bahwa sebagian besar

responden yang berpendapatan di atas UMR tidak mengalami

KEK, hanya terdapat 2 orang responden (6,9%) yang

berpendapatan di atas UMR mengalami KEK. Responden yang

berpendapatan di bawah UMR terdapat 5 orang (10,6%) yang

mengalami KEK. Kesimpulan dari penelitian di atas yaitu status

ekonomi dapat mempengaruhi risiko KEK pada ibu hamil.

6. Dampak KEK

Menurut Lubis (2017 dalam Ginarti 2018) bahwa dampak yang

dapat ditimbulkan dari ibu dengan KEK, antara lain:


41

a. Dampak pada ibu

Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan

komplikasi pada ibu, antara lain: anemia, perdarahan, berat

badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit

infeksi. Sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu.

b. Dampak pada persalinan

Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalina dapat

mengakibakan persalinan sulit dan lama, persalinan prematur

atau sebelum waktunya, perdarahan post partum, serta

persalinan dengan tindakan operasi caesar cenderung

meningkat.

c. Dampak pada janin

Kurang gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses

pertumbuhan janin dan dapt menimbulkan keguguran, abortus,

bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan dan lahir

dengan BBLR.

7. Pencegahan/Penanganan

Menurut Chinue (2017 dalam Ginarti 2018), ada beberapa cara

untuk mencegah terjadinya KEK, antara lain :

a. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi, yaitu :

1) Makan-makanan yang banyak mengandung zat besi dari

bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur)


42

dan bahan makanan nabati (sayur berwarna hijau tua,

kacang-kacangan, dan tempe).

2) Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak

mengandung vitamin C (seperti daun katuk, daun

singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat

bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi

dalam usus.

3) Menambah pemasukan zat besi dalam tubuh dengan

minumum tablet penambah darah.

b. Guna mencegah terjadinya resiko KEK pada ibu hamil sebelum

kehamilan (WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik,

misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm.

Kekurangan Energi Kronik (KEK) dapat ditangani melalui

berbagai langkah, antara lain :

a. Menganjurkan kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang

berpedoman umum gizi seimbang.

b. Hidup sehat.

c. Tunda kehamilan.

d. Memberikan penyuluhan mengenai gizi seimbang yang

diperlukan oleh ibu hamil (Supariasa, 2018).


43

C. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah rangkuman dari penjabaran teori yang sudah

diuraikan sebelumnya dalam bentuk naratif, untuk memberikan batasan

tentang teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan

(Hidayat, A.A. 2018). Adapun kerangka teori sebagai berikut :

KEK

Faktor-faktor
penyebab KEK
1. Pengetahuan
2. Umur ibu
3. Pendidikan
4. Pekerjaan
5. Status ekonomi

Keterangan : Yang di telitiv

Yang tidak diteliti

Gambar 2.1 Kerangka teori sumber : Wati (2019), Ariyani (2019), Fatkhiyah

(2018), Stephanie dan Kartikasari (2019), Musni, dkk (2017),

Nurhidayati (2018), Banudi (2018), Kristiyanasari (2018), Putri, dkk

(2019), Aminin, dkk (2018).


44

D. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan Justifikasi ilmiah terhadap topik yang

dipilih sesuai dengan identifikasi masalah. Kerangka konsep harus didukung

landasan teori yang kuat serta di tunjang oleh informasi yang bersumber

pada berbagai laporan ilmiah, hasil penelitian ,jurnal penelitian, dan lain –

lain (Hidayat, 2018). Adapun kerangka konsepnya sebagai berikut :

Independen Dependen

Pengetahuan KEK

Gambar 2.2 : Kerangka Konsep


45

E. Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau

dalil sementara yang kebenaranya akan di buktikan dalam penelitian

(Notoatmojo, 2018). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Ada hubungan pengetahuan terhadap Kekurangan Energi Kronik

(KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Jatibaru Kota Bima Tahun 2021,

hasil analisis statistik diperoleh nilai p (0,000) < (0,05).

Anda mungkin juga menyukai