BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Kehamilan
1. Pengertian kehamilan
Ibu hamil adalah seorang wanita yang mengandung dimulai dari
fertilisasi sampai lahirnya janin. Bila dihitung, usia kehamilan normal
dari fertilisasi sampai dengan lahirnya bayi kurang lebih 40 minggu
atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional
(Prawirohardjo, 2018).
Menurut Kuswanti (2018) merupakan masa dimana wanita
membawa embrio atau fetus didalam tubuhnya. Masa kehamilan
dimulai dari ovulasi sampai partus yaitu kira-kira 280 hari (40
minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).
Kehamilan adalah masa seorang perempuan telah terhenti dari
haid untuk beberapa waktu hingga proses kelahiran usai. Hal tersebut
umumnya terjadi selama kurang lebih sembilan bulan, atau 40
minggu, atau 280 hari. Sedangkan kehamilan normal akan akan
berlangsung selama 38 sampai 40 minggu. Proses kehamilan dibagi
atas tiga fase, yaitu:
a. Trimester pertama (0-3 bulan atau 0-12 minggu);
b. Trimester kedua (4-6 bulan atau 12-28 minggu);
c. Trimester ketiga (7-9 bulan atau 28-40 minggu). (Istiani &
Rusilanti, 2018).
9
10
2. Tanda dan Gejala Kehamilan
Tanda dan gejala dari kehamilan menurut Kusmiyati (2013) antara
lain:
a. Tanda tidak pasti kehamilan
1) Amenorea (tidak haid)
Bila seorang perempuan dalam masa mampu hamil,
apabila sudah menikah mengeluh terlambat haid, maka
terpikir bahwa perempuan tersebut hamil, meskipun
keadaan stres, obat-obatan, penyakit kronis dan faktor lain
dapat pula mengakibatkan terlambat haid.
2) Mual dan muntah
Mual dan muntah adalah gejala umum, mulai dari
rasa tidak enak sampai muntah yang berkepanjangan.
Dalam kedokteran sering dikenal morning sickness karena
munculnya sering di pagi hari. Mual dan muntah
diperberat oleh makanan yang baunya tajam dan juga oleh
emosi penderita yang tidak stabil. Untuk mengatasinya
penderita perlu diberi makan makanan yang ringan, mudah
dicerna dan jangan lupa menerangkan bahwa keadaan ini
masih dalam batas normal wanita hamil. Bila berlebihan
dapat pula diberikan obat-obat anti muntah untuk wanita
hamil.
11
3) Mastodinia
Mastodinia adalah rasa kencang dan sakit pada
payudara/mamae disebabkan payudara mengalami
pembesaran. Vaskularisasi bertambah, asinus dan duktus
berpoliferasi disebabkan karena pengaruh esterogen dan
progesteron.
4) Quickening
Quickening adalah persepsi atau perasaan gerakan
janin pertama, biasanya disadari oleh wanita pada
kehamilan dalam usia 18-20 minggu.
5) Keluhan kencing
Frekuensi berkemih bertambah dan sering berkemih
di malam hari, disebabkan karena desakan uterus yang
mengalami pembesaran dan tarikan oleh uterus ke kranial.
6) Konstipasi
Hal ini terjadi karena efek relaksasi progesteron atau
dapat juga terjadi karena perubahan pola makan.
7) Perubahan berat badan
Pada kehamilan di usia 2-3 bulan sering terjadi
penurunan berat badan, karena nafsu maka menurun dan
mengalami muntah-muntah. Pada bulan berikutnya berat
badan akan selalu meningkat sampai stabil menjelang
aterm.
12
8) Perubahan temperatur basal
Kenaikan suhu tubuh basal lebih dari tiga minggu
biasanya merupakan tanda telah terjadinya proses
kehamilan.
9) Perubahan warna kulit
Perubahan ini antara lain chloasma gravidarum
yakni warna kulit yang kehitam-hitaman pada dahi,
punggung hidung, dan kulit di daerah tulang pipi, terutama
pada perempuan dengan warna kulit tua. Biasanya muncul
setelah kehamilan 16 minggu. Pada daerah aerola dan
puting payudara, warna kulit menjadi lebih hitam.
Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh stimulasi
hormon MSH (Melanocyte Stimulating Hormone). Pada
kulit daerah abdomen dan payudara dapat pula mengalami
perubahan yang disebut striae gravidarum yaitu perubahan
warna seperti jaringan parut. Diduga ini terjadi karena
pengaruh adrenokortikosteroid. Kadang-kadang timbul
pula teleangiektasis karena pengaruh hormon esterogen
yang tinggi.
10) Perubahan payudara
Akibat efek stimulasi hormon prolaktin dan HPL,
payudara mensekresi kolostrum, biasanya setelah
kehamilan lebih dari enam belas minggu.
13
11) Perubahan pada uterus
Uterus terjadi perubahan pada ukuran, bentuk, dan
konsistensi. Uterus berubah menjadi lunak dan bentuknya
globular. Teraba balotement, dimana tanda ini muncul
pada usia kehamilan minggu ke16-20, setelah rongga
rahim mengalami obliterasi dan cairan amnion cukup
banyak. Balotemen adalah tanda adanya benda terapung
atau melayang dalam cairan. Sebagai diagnosis banding
adalah asites yang disertai dengan kista ovarium, mioma
uteri dan lain sebagainya.
12) Tanda Piskacek‟s
Terjadi pertumbuhan yang asimetris pada bagian
uterus yang dekat dengan daerah implantasi plasenta.
13) Tanda hegar
Munculnya tanda ini berupa perlunakan pada daerah
istmus uteri, sehingga daerah tersebut pada penekanan
mempunyai kesan lebih tipis dan uterus mudah
difleksikan. Dapat diketahui melalui pemeriksaan secara
bimanual. Tanda ini mulai terlihat pada usia kehamilan
minggu keenam, dan menjadi nyata pada minggu ketujuh
sampai kedelapan.
14
14) Tanda goodell‟s
Diketahui melalui pemeriksaan secara bimanual.
Daerah serviks terasa lebih lunak. Menggunakan
kontrasepsi oral juga dapat memberikan dampak ini.
15) Tanda Chadwick
Dinding vagina mengalami kongesti dan terjadi
warna kebiru- biaruan.
16) Tanda Mc Donald
Pada fundus uteri dan serviks bisa dengan mudah
difleksikan satu sama lain dan tergantung lunak atau
tidaknya jaringan isthmus.
17) Terjadi pembesaran abdomen
Pembesaran perut menjadi lebih nyata setelah usia
kehamilan minggu ke-16, karena pada saat itu uterus telah
keluar dari rongga pelvis dan menjadi organ rongga perut.
18) Kontraksi uterus
Tanda ini muncul belakangan dan pasien mengeluh
perutnya terasa kencang, tetapi tidak disertai dengan rasa
sakit.
19) Pemeriksaan tes biologis kehamilan
Pada pemeriksaan tes biologis kehamilan hasilnya
positif, dimana kemungkinan positif palsu.
15
b. Tanda pasti kehamilan
Indikator pasti hamil adalah penemuan-penemuan
keberadaan janin yang terjadi secara jelas dan hal ini tidak dapat
dijelaskan dengan kondisi kesehatan yang lainnya. Menurut
Kusmiyati (2010), tanda pasti kehamilan antara lain:
1) Denyut jantung janin (DJJ)
Dapat didengar dengan stetoskop laenec pada usia
kehamilan minggu 17-18. Pada orang gemuk terasa lebih
lambat. Dengan stetoskop ultrasonik (doppler), DJJ dapat
didengarkan lebih awal lagi, sekitar usia kehamilan
minggu ke-12. Melakukan auskultasi pada janin bisa juga
mengidentifikasi adanya bunyi-bunyi yang lain, seperti:
bising tali pusat, bising uterus dan nadi ibu.
2) Letak outline janin
Letak olutline janin biasanya menjadi jelas setelah
usia kehamilan minggu ke-22. Gerakan janin dapat
dirasakan dengan jelas setelah usia kehamilan minggu 24.
3) Vagina dan Vulva
Hormon kehamilan mempersiapkan vagina supaya
distensi selama persalinan dengan memproduksi mukosa
vagina yang tebal, jaringan ikat longgar, hipertrofi otot
polos, dan pemanjangan vagina. Peningkatan vaskularisasi
menimbulkan warna ungu kebiruan pada mukosa vagina
16
dan serviks. Perubahan warna yang disebut tanda
Chadwick, suatu tanda kemungkinan kehamilan, dapat
muncul pada minggu keenam, tetapi dengan mudah
terlihat pada minggu kedelapan kehamilan.
4) Servik uteri
Konsistensi serviks menjadi lunak dan kelenjar-
kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan
mengeluarkan sekresi lebih banyak.
5) Uterus
Pertumbuhan uterus yang fenomenal pada trimester
pertama berlanjut sebagai respon terhadap stimulus kadar
hormon esterogen dan progresteron yang tinggi.
Pembesaran terjadi akibat peningkatan vaskularisasi dan
dilatasi pembuluh darah, hiperplasia (produksi serabut otot
dan jaringan fibroelastis baru), dan perkembangan
desidua.
6) Ovarium
Selama hamil kadar esterogen dan progesteron yang
meningkat menekan sekresi follicle-stimulating hormone
(FSH) dan luteinizing hormone (LH). Maturasi folikel dan
pelepasan ovum tidak terjadi. Siklus menstruasi berhenti
(sering merupakan tanda kemungkinan kehamilan).
Walaupun mayoritas wanita mengalami amenore (tidak
17
haid), namun sedikitnya 20% wanita mengalami
pendarahan kecil tanpa rasa sakit dan sebab yang jelas di
awal gestasi.
7) Payudara/mamae
Rasa penuh, peningkatan sensitivitas, rasa geli, dan
rasa berat di payudara mulai timbul sejak minggu keenam
gestasi. Perubahan payudara ini adalah tanda
kemungkinan kehamilan. Sensitivitas payudara bervariasi
dari rasa geli ringan sampai nyeri yang tajam. Puting susu
dan aerola menjadi lebih berpigmen, terbentuk warna
merah muda sekunder pada aerola, dan puting susu
menjadi lebih erektil.
8) Sistem endokrin
Progesteron menyebabkan lemak disimpan dalam
jaringan subkutan di abdomen, punggung, dan paha atas.
Lemak berfungsi sebagai cadangan energi baik pada masa
hamil maupun menyusui. Beberapa hormon yang lain
mempengaruhi nutrisi. Aldosteron mempertahankan
natrium. Tiroksin mengatur metabolisme. Hormon
paratiroid mengontrol metabolisme kalsium dan
magnesium. Human placental lactogen (Hpl) berperan
sebagai hormon pertumbuhan. Human chorionic
18
gonadotropin (hCG) menginduksi mual dan muntah pada
beberapa wanita selama awal kehamilan.
9) Sistem perkemihan
Urinary frequency merupakan akibat peningkatan
sensitivitas kandung kemih dan pada tahap selanjutnya
merupakan akibat kompresi pada kandung kemih. Pada
trimester kedua kandung kemih tertarik keatas dan keluar
dari panggul sejati kearah abdomen. Uretra memanjang
sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah
atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukkan oleh
hiperemia kandung kemih dan uretra. Peningkatan
vaskularisasi ini membuat mukosa kandung kemih
menjadi mudah luka dan berdarah. Tonus kandung kemih
dapat menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung
kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama,
pembesaran uterus menekan kandung kemih,
menimbulkan rasa ingin berkemih walaupun kandung
kemih hanya berisi sedikit urine.
10) Sistem pencernaan
Fungsi saluran cerna selama masa hamil
menunjukkan gambaran yang sangat menarik. Nafsu
makan meningkat. Sekresi usus berkurang. Fungsi hati
berubah dan absorpsi nutrien meningkat. Usus besar
19
bergeser kearah lateral atas dan posterior. Aktivitas
peristaltik (motilitas) menurun. Akibatnya, bising usus
menghilang, konstipasi, mual, serta muntah umum terjadi.
Aliran darah ke panggul dan tekanan vena meningkat,
menyebabkan hemoroid terbentuk pada akhir kehamilan.
11) Volume darah
Derajat ekspansi volume darah sangat bervariasi.
Volume darah meningkat sekitar 1500 ml. Peningkatan
terdiri atas 1000 ml plasma ditambah 450 ml sel darah
merah. Peningkatan volume mulai terjadi pada sekitar
minggu ke- 10 sampai ke-12, mecapai puncak sekitar 30%
sampai 50% diatas volume tidak hamil pada minggu ke-20
sampai ke-26, dan menurun setelah minggu ketiga.
Peningkatan volume merupakan mekanisme protektif.
Keadaan ini sangat penting untuk sistem vaskular yang
mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus, hidrasi
jaringan janin dan ibu yang adekuat saat ibu berdiri atau
telentang, dan cadangan cairan untuk mengganti darah
yang hilang selama selama proses melahirkan dan
puerperium.
12) Musculoskeletal
Akibat peningkatan kadar hormon estrogen dan
progesterone, terjadi relaksasi dari jaringan ikat, kartilago
20
dan ligamen juga meningkatkan jumlah cairan sinovial.
Bersamaan dua keadaan tersebut meningkatkan
fleksibilitas dan mobilitas persendiaan. Keseimbangan
kadar kalsium selama kehamilan biasanya normal apabila
asupan nutrisi khususnya produk susu [Link]
ringan dan peningkatan mobilitas sendi panggul normal
selama masa hamil. Hal ini merupakan akibat elastisitas
dan perlunakan berlebihan jaringan kolagen dan jaringan
ikat dan merupakan akibat peningkatan hormon seks
steroid yang bersirkulasi. Adaptasi ini memungkinkan
pembesaran dimensi panggul. Derajat relaksasi bervariasi,
namun pemisahan simfisis pubis dan ketidak stabilan
sendi sakroiliaka yang besar menimbulkan nyeri dan
kesulitan berjalan.
13) Kulit
Perubahan keseimbangan hormon dan peregangan,
mekanis menyebabkan timbulnya beberapa perubahan
dalam sistem integumen selama masa kehamilan.
Perubahan yang umum terjadi adalah peningkatan
ketebalan kulit dan lemak subdermal, hiperpigmentasi,
pertumbuhan rambut dan kuku, percepatan aktifitas
kelenjar keringat dan kelenjar sebasea, peningkatan
sirkulasi dan aktifitas vasomotor. Jaringan elastis kulit
21
mudah pecah, menyebabkan strie gravidarum atau tanda
regangan dan respon alergi kulit meningkat.
14) Metabolisme
Laju metabolisme basal (basal metabolism rate
(BMR)) biasanya meningkat pada bulan keempat gestasi.
BMR meningkat 15% sampai 20% pada akhir kehamilan
(aterm). BMR kembali ke nilai sebelum hamil pada hari
kelima atau keenam pascapartum. Peningkatan BMR ini
mencerminkan peningkatan kebutuhan oksigen di unit
janin-plasenta-uterus serta peningkatan konsumsi oksigen
akibat peningkatan kerja jantung ibu.
15) Sistem pernafasan
Adaptasi ventilasi dan struktural selama masa hamil
bertujuan menyediakan kebutuhan ibu dan janin.
Kebutuhan oksigen ibu meningkat sebagai respon terhadap
percepatan laju metabolik dan peningkatan kebutuhan
oksigen jaringan uterus dan payudara. Janin membutuhkan
oksigen dan suatu cara untuk membuang karbondioksida.
Wanita hamil bernafas lebih dalam tetapi frekuensi
nafasnya hanya sedikit meningkat, peningkatan volume
tidal pernafasan yang berhubungan dengan frekuensi nafas
normal menyebabkan peningkatan volume nafas permenit
sekitar 26 %.
22
16) Sistem persyarafan
Hanya sedikit diketahui tentang perubahan fungsi
sistem neurologi selama masa kehamilan, selain
perubahan-perubahan neurohormonal, hipotalamik-
hipofisis. Perubahan fisiologik spesifik akibat kehamilan
dapat terjadi timbulnya gejala neurologis dan
neuromuscular.
17) Peningkatan berat badan
Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10-12
kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dari satu
kg, trimester II sekitar tiga kg, dan trimester III sekitar
enam kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus
bertujuan memantau pertumbuhan janin (Waryono, 2010).
18) Perubahan Psikologis di Masa Kehamilan
Perubahan psikologis wanita hamil menurut Kusmiyati
(2010) adalah sebagai berikut:
a) Trimester I
Trimester pertama sering dikatakan sebagai masa
penentuan. Penentuan untuk membuktikan bahwa
wanita dalam keadaan hamil. Pada saat inilah tugas
psikologis pertama sebagai calon ibu untuk dapat
menerima kenyataan akan kehamilannya. Selain itu
akibat dari dampak terjadinya peningkatan hormon
23
esterogen dan progesteron pada tubuh ibu hamil
akan mempengaruhi perubahan pada fisik sehingga
banyak ibu hamil yang merasakan kekecewaan,
penolakan, kecemasan dan kesedihan. Ibu hamil
akan merenungkan keadaan dirinya. Dari munculnya
kebingungan tentang kehamilannya dengan
pengalaman buruk yang pernah dialaminya sebelum
kehamilan, efek kehamilan yang akan terjadi pada
hidupnya (terutama jika wanita karir), tanggung
jawab baru atau tambahan yang akan dipikul,
kecemasannya tentang kemampuan dirinya untuk
menjadi seorang ibu, keuangan dan rumah,
penerimaan kehamilannya oleh orang lain. Saat itu,
beberapa ketidaknyamanan trimester pertama berupa
mual, lelah, perubahan selera, emosional, mungkin
mencerminkan konflik dan depresi yang dialami dan
dapat terjadi pada saat ia teringat tentang
kehamilannya.
b) Trimester II
Trimester kedua sering disebut dengan periode
pancaran kesehatan, saat ibu merasa sehat. Ini
disebabkan selama trimester ini umumnya wanita
sudah merasa baik dan terbebas dari
24
ketidaknyamanan kehamilan. Tubuh ibu sudah
terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi dan
rasa tidak nyaman karena hamil sudah berkurang.
Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum
dirasakan sebagai beban. Ibu sudah menerima
kehamilannya dan sudah mulai dapat menggunakan
energi dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada
trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan
bayinya, dan ibu mulai merasakan kehadiran
bayinya sebagai seseorang diluar dari dirinya
sendiri. Banyak ibu yang merasa terlepas dari rasa
kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang
dirasakannya pada trimester pertama dan merasakan
meningkatnya libido.
c) Trimester III
Trimester ketiga sering disebut sebagai periode
penantian. Pada periode ini wanita menanti
kehadiran bayinya sebagai bagian dari dirinya, ibu
hamil menjadi tidak sabar untuk segera melihat
bayinya. Ada perasaan tidak menyenangkan ketika
bayinya tidak lahir tepat pada waktunya, fakta yang
menempatkan wanita tersebut gelisah dan hanya bisa
melihat dan menunggu tanda-tandanya.
25
B. Kekurangan Energi Kronik (KEK)
1. Defisini KEK
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah salah satu keadaan
malnutrisi. Ibu KEK menderita kekurangan makanan yang
berlangsung menahun (kronik) yang mengakibatkan timbulnya
gangguan kesehatan pada ibu secara relatif atau absolut satu atau lebih
zat gizi (Sipahutar, dkk., 2018).
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah salah satu keadaan
malnutrisi atau keadaan patologis akibat kekurangan secara relatif atau
absolut satu atau lebih zat gizi (Supariasa, 2018).
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah kekurangan energi
yang memiliki dampak buruk terhadap kesehatan ibu dan
pertumbuhan perkembangan janin. Ibu hamil dikategorikan KEK jika
Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm (Muliarini, 2019).
2. Tanda-tanda klinis KEK
Menurut Supariasa (2018), tanda-tanda klinis KEK adalah
sebagai berikut :
a. Berat badan < 40 kg.
b. Tanpa kurus
c. Turgor kulit kering
d. Konjungtiva pucat
e. Tensi kurang dari 100 MmHg
f. LILA kurang dari 23,5 cm
26
g. Tinggi badan < 145 cm
h. Ibu menderita anemia dengan Hb < 11 gr%
i. Nafsu makan kurang
j. Badan lemas
k. Bibir tampak pucat
l. Nafas pendek
m. Denyut jantung meningkat
n. Susah buang air besar
o. Nafsu makan berkurang
p. Kadang-kadang pusing dan
Mudah mengantuk (Supariasa, 2018).
3. Pengukuran Antropometri Lingkar Lengan Atas (LILA)
a. Pengertian LILA
Lingkar Lengan Atas (LILA) adalah pengukuran
antropometri yang dapat menggambarkan keadaan status gizi
ibu hamil dan untuk mengetahui risiko KEK atau gizi kurang.
Kategori KEK adalah LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian
merah pita LILA (Supariasa, 2018).
b. Tujuan pengukuran LILA
1) Mengetahui risiko KEK Wanita Usia Subur (WUS), baik
ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang
mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah.
27
2) Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar
lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan
KEK.
3) Mengembangkan gagasan baru dikalangan masyarakat
dengan tujuan meningkatakan kesejahteraan ibu dan anak.
4) Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran
WUS yang menderita KEK.
5) Meningkatkan peran dalam upaya perbaikan gizi WUS
yang menderita KEK (Supariasa, 2018).
c. Ambang batas
Ambang batas atau cut off point ukuran LILA WUS
dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran
LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA,
artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK (Supariasa,
2018).
d. Cara mengukur LILA
Pengukuran LILA dilakukan melalui urutan-urutan yang
telah ditetapkan, pengukuran dilakukan dengan pita LILA dan
ditandai dengan sentimeter. Terdapat 7 urutan pengukuran LILA
yaitu:
1) Tetapkan posisi bahu dan siku, yang diukur adalah
pertengahan lengan atas sebelah kiri dan lengan dalam
keadaan tidak tertutup kain/pakaian.
28
2) Letakkan pita antara bahu dan siku.
3) Tentukan titik tengah lengan, beri tanda.
4) Lingkarkan pita LILA pada tengah lengan.
5) Pita jangan terlalu kekat atau longgar.
6) Cara pembacaan sesuai dengan skala yang benar.
7) Catat hasil pengukuran LILA (Supariasa, 2018).
4. Diagnosis
Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) adalah salah satu cara
untuk mengetahui KEK pada WUS. Pengukuran LILA tidak dapat
digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka
pendek. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian
merah pita LILA artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK, dan
diperkirakan akan melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). BBLR
mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan
gangguan perkembangan anak. LILA tang rendah dapat
menggambarkan IMT yang rendah pula. Ibu yang menderita KEK
sebelum hamil biasanya berada pada status gizi yang kurang, sehingga
pertambahan berat badan selama hamil harus lebih besar. Semakin
rendah IMT prahamil maka makin rendah berat bayi yang dikandung
dan makin tinggi resiko BBLR.
Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau
perubahan status gizi dalam jangka pendek. Pengukuran LILA
digunakan karena pengukurannya sangat mudah dan dapat dilakukan
29
oleh siapa saja. Pengukuran LILA dilakukan melalui urut-urutan yang
telah ditetapkan. Ada tuju urutan pengukuran LILA, yaitu:
a. Tetapkan bahu dan siku
b. Letakan pita antara bahu dan siku
c. Tentukan titik tengah lengan lingkarkan pita LILA pada tengah
lengan
d. Pita jangan terlalu ketat
e. Pita jangan terlalu longgar
f. Cara pembacaan skala harus benar
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah
pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku
lengan kiri (kecuali yang kidal diukur lengan kanan). Lengan
harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam
keadaan tidak tegang dan kencang. Alat pengukur dalam
keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat
sehingga permukaannya sudah tidak rata.
Hasil pengukura LILA ada dua kemungkina yaitu kurang
dari 23,5 cm dan lebih dari 23,5 cm. Apabila hasil pengukuran
<23,5 cm berarti resiko KEK dan dianjurkan atau tindakan yang
perlu dilakukan adalah dengan makan cukup, dengan pedoman
umum gizi seimbang, hidup sehat, tunda kehamilan, bila hamil
segera dirujuk sedini mungkin. Apabila hasil pengukuran >23,5
cm maka anjuran yang diberikan adalah pertahanan kondisi
30
kesehatan, hidup sehat, bila hamil periksa kehamilan kepada
petugas kesehatan.
5. Faktor-faktor penyebab KEK
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu hasil tahu dari manusia atas
penggabungan atau kerja sama antara suatu subjek yang
mengetahui dan objek yang diketahui. Segenap apa yang
diketahui tentang sesuatu objek tertentu (Suriasumantri dalam
Nurroh, 2017). Menurut Notoatmodjo dalam Yuliana (2017),
pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimiliki (mata,
hidung, telinga, dan sebagainya).
Klasifikasi tingkat pengetahuan menurut Nursalam (2019)
pengetahuan seseorang dapat diinterpretasikan dengan skala
yang bersifat kualitatif, yaitu:
1) Baik : >50%
2) Kurang : <50%
Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari
pengalaman yang berasal dari berbagai sumber misalnya media
masa, media elektronik, buku petunjuk kesehatan, media poster,
kerabat dekat dan sebagainya. Ibu hamil yang memiliki
pengetahuan kurang baik berisiko mengalami defisiensi zat besi
sehingga tingkat pengetahuan yang kurang tentang defisiensi zat
31
besi akan berpengaruh pada ibu hamil dalam perilaku kesehatan
dan berakibat pada kurangnya konsumsi makanan yang
mengandung zat besi dikarenakan ketidaktahuannya dan dapat
berakibat KEK (Wati, 2019).
Pengetahuan merupakan faktor penyebab yang sangat
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan konsumsi
makanan. Seseorang yang memiliki pengetahuan baik tentang
suatu hal maka akan cenderung mengambil keputusan yang
tepat berkaitan dengan masalah tersebut. Dengan pengetahuan
KEK tersebut diharapkan tercipta pola kebiasaan makan yang
baik dan sehat, sehingga dapat mengetahui kandungan gizi,
sanitasi, dan pengetahuan yang terkait dengan pola makan
lainnya (Handayani dalam Yuli, 2018).
Pengetahuan kurang ibu hamil terhadap KEK akan
menimbulkan gejala KEK dan diukur pada Lingkar Lengan Atas
(LILA) kurang dari 23,5 cm (Supariasa, 2018).
Pengetahuan ibu terhadap KEK sangat berdampak pada
ibu hamil dan dapat menyebabkan resiko komplikasi pada ibu
antara lain : anemia, perdarahan dan terkena penyakit infeksi.
Ibu hamil yang memiliki pengetahuan KEK yang baik akan
mampu memilih jenis makanan yang tepat untuk dirinya dan
janinnya baik dari segi kuantitas dan kualitas. Selain
pengetahuan KEK, pengetahuan kesehatan kehamilan juga perlu
32
bagi ibu hamil. Dengan demikian, pengetahuan KEK dan
kesehatan merupakan salah satu faktor protektif dalam
mempertahankan kualitas kehamilan. Pengetahuan memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan (Handayani
dalam Yuli, 2018).
Pengetahuan yang dimiliki seorang ibu akan
mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dan juga akan
berpengaruh pada perilakunya. Ibu dengan pengetahuan KEK
yang baik, kemungkinan akan memberikan energi yang cukup
bagi ibu. Banyak faktor yang mempengaruhi, antara lain
kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan
tentang KEK (Banudi, 2018).
Pengetahuan ibu sangat berpengaruh atas gizi bayi yang
dikandungnya dan juga pola konsumsi makanan terutama
makanan yang mengandung zat besi, karena apabila kekurangan
zat besi pada masa kehamilan dalam waktu yang relatif lama
akan menyebabkan terjadinya KEK (Ariyani, 2019).
b. Umur ibu
Umur ibu yang ideal dalam kehamilan yaitu pada
kelompok umur 20-35 tahun dan pada umur tersebut kurang
beresiko komplikasi kehamilan serta memiliki reproduksi yang
sehat. Hal ini terkait dengan kondisi biologis dan psikologis dari
ibu hamil. Sebaliknya pada kelompok umur < 20 tahun beresiko
33
anemia sebab pada kelompok umur tersebut perkembangan
biologis yaitu reproduksi belum optimal. Selain itu, kehamilan
pada kelompok usia diatas 35 tahun merupakan kehamilan yang
beresiko tinggi. Wanita hamil dengan umur diatas 35 tahun juga
akan rentan anemia. Hal ini menyebabkan daya tahan tubuh
mulai menurun dan mudah terkena berbagai infeksi selama masa
kehamilan (Fatkhiyah, 2018).
Umur ibu yang berisiko melahirkan bayi kecil adalah
kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Ibu hamil yang
berusia kurang dari 20 tahun dikatakan memiliki risiko KEK
yang lebih tinggi. Usia ibu hamil yang terlalu muda, tidak hanya
meningkatkan risiko KEK namun juga berpengaruh pada banyak
masalah kesehatan ibu lainnya (Stephanie dan Kartikasari,
2019).
Pembagian kategori usia menurut badan kesehatan dunia
atau WHO (2018) dibagi menjadi :
1) Berusia 0-17 tahun adalah masa anak-anak dibawah umur
2) Berusia 18-65 tahun memasuki masa pemuda
3) Berusia 66-79 tahun adalah masa setengah baya
4) Berusia 80-99 tahun merupakan orang tua
5) Berusia 100 tahun keatas adalah orang tua berusia panjang
Kategori usia berdasarkan kehamilan dan persalinan yang
tepat sebagai berikut :
34
1) < 20 tahun atau > 35 tahun beresiko tinggi
2) 20-35 tahun umur ideal atau tidak beresiko
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan
Kartikasari (2019) menyebutkan bahwa sebagian besar
responden yang berada pada kategori umur 20-35 tahun tidak
mengalami KEK, dari 37 orang hanya 6 orang (16,2%) yang
mengalami KEK. Ibu dengan kategori umur >35 tahun, dari 7
orang terdapat 1 orang (10%) yang mengalami KEK.
Kesimpulan dari penelitian di atas yaitu umur ibu dapat
mempengaruhi status gizi ibu pada saat hamil.
c. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan
perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pendidikan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan
berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. Dengan pendidikan tinggi
maka seseorang akan cenderung mendapatkan informasi baik
dari orang lain maupun media. Sebaliknya, tingkat pendidikan
yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenalkan. Pendidikan
seseorang merupakan salah satu faktor yang penting dalam
kesehatan ibu dan anak khususnya pada ibu hamil karena
35
dengan pendidikan yang baik, maka seseorang dapat menerima
segala informasi dari luar terutama tentang cara menjaga
kehamilan dan bagaimana menjaga kesehatannya. Pendidikan
formal dari ibu sering kali mempunyai asosiasi positif dengan
pengembangan pola-pola konsumsi makanan dalam keluarga.
Semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin baik pengetahuan
gizi dan semakin diperhitungkan jenis serta jumlah makanan
yang dipilih untuk dikonsumsi (Musni, dkk, 2017).
Menurut Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2017)
klasifikasi pendidikan meliputi :
1) Pendidikan dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk
memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup
dalam masyarakat berupa pengembangan sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Disamping itu juga
berfungsi mempersiapkan peserta didik yang memenuhi
persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.
2) Pendidikan menengah
Pendidikan menengah yang lamanya tiga tahun
sesudah pendidikan dasar, diselenggarakan di SLTA
(Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau satuan pendidikan
yang sederajat.
36
3) Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan
menengah, yang diselenggarakan untuk menyiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan adademik dan profesional yang dapat
menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Pendidikan yang baik akan mempermudah untuk
mengadopsi pengetahuan tentang kesehatannya. Rendahnya
tingkat pendidikan ibu hamil dapat menyebabkan keterbatasan
dalam upaya menangani KEK (Nurhidayati, 2018).
Pendidikan ibu mempengaruhi KEK pada ibu hamil
karena tingginya tingkat pendidikan akan ikut menentukan atau
mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima suatu
pengetahuan, semakin tinggi pendidikan maka seseorang akan
lebih mudah menerima informasi tentang KEK. Pendidikan
selain merupakan modal utama dan menunjang perekonomian
keluarga juga berperan dalam penyusunan makanan untuk
rumah tangga. Tingkat pendidikan formal mempunyai peran
yang cukup besar dalam menetukan sikap dan perilaku ibu
terhadap kegiatan pemilihan makanan (Ismail, 2018).
Tingkat pendidikan yang rendah mempengaruhi
penerimaan informasi, sehingga pengetahuan akan terbatas.
37
Pada masyarakat dengan pengetahuan rendah akan lebih kuat
mempertahankan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan
makanan, sehingga sulit untuk menerima pembaharuan pada
KEK (Surasih, 2018).
Rendahnya pendidikan seorang ibu dapat mempengaruhi
terjadinya risiko KEK, hal ini disebabkan karena faktor
pendidikan dapat menentukan mudah tidaknya seseorang untuk
menyerap dan memahami pengetahuan KEK yang diperoleh.
Latar belakang pendidikan ibu adalah suatu faktor penting yang
akan berpengaruh terhadap status kesehatan dan KEK pada ibu
hamil (Stephanie dan Kartikasari, 2019).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan
Kartikasari (2019) menyebutkan bahwa ibu hamil yang memiliki
pendidikan SD ke bawah memiliki risiko KEK yang lebih tinggi
dibandingkan ibu yang memiliki latar belakang pendidikan SMP
ke atas. Kesimpulan dari penelitian di atas yaitu pendidikan
dapat mempengaruhi terjadinya risiko KEK pada ibu.
d. Pekerjaan
Faktor lain yang berhubungan dengan kejadian KEK yaitu
pekerjaan ibu hamil, tuntutan pekerjaan membuat ibu memiliki
beban kerja yang berat sehingga waktu sehari-hari yang
seharusnya ibu gunakan untuk menyiapkan hal-hal terkait
kehamilannya menjadi tersita karena pekerjaannya, terlebih jika
38
pekerjaan ibu termasuk dalam kategori beban kerja yang berat
sampai timbul kelelahan. Hal tersebut berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan asupan gizi pada ibu hamil. Berdasarkan
hasil penelitian yang sudah dilakukan didapatkan bahwa ibu
hamil yang bekerja mempunyai waktu lebih sedikit dalam
menyiapkan makanan yang berpengaruh pada jumlah makanan
yang dikonsumsi sehingga mempengaruhi status gizi ibu hamil.
Pekerjaan seseorang berkaitan erat dengan status ekonomi.
Baik status ekonomi maupun sosial sangat mempengaruhi
seorang wanita dalam memilih makanannya (Banudi, 2018).
Ekonomi sesorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan
yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seorang dengan ekonomi
tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gizi
yang dibutuhkan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan
membuat gizi ibu semakin terpantau (Kristiyanasari, 2018).
Pekerjaan dapat berpengaruh terhadap status ekonomi. Ibu
yang bekerja memiliki penghasilan sendiri sehingga lebih
mudah untuk memenuhi kebutuhan gizinya, karena tidak
bergantung dari pendapatan suami. Status gizi adalah ukuran
keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk ibu hamil. Status
gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan
oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrisi. Gizi
secara langsung dipengaruhi oleh asupan makanan dan penyakit,
39
khususnya penyakit infeksi. Salah satu faktor lain adalah
keterbatasan ekonomi yang berarti tidak mampu membeli bahan
makanan yang berkualitas baik, sehingga mengganggu
pemenuhan gizi.
e. Status ekonomi
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan
seseorang adalah tingkat keadaan ekonomi, dalam hal ini adalah
daya beli keluarga. Keluarga yang memiliki pendapatan kurang,
berpengaruh terhadap daya beli keluarga tersebut. Kemampuan
keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung
pada besar kecilnya pandapatan keluarga, harga bahan makanan
itu sendiri, serta tingkat pengelolaan sumber daya lahan dan
pekarangan (Stephanie dan Kartikasari, 2019).
Karakteristik ekonomi keluarga merupakan hal yang
sangat penting, di negara-negara berkembang orang miskin
hampir membelanjakan semua pendapatannya untuk makan,
sedangkan jika memiliki uang yang lebih berarti susunan atau
komposisi makanan lebih baik. Tingkatan pendapatan
menentukan makanan apa yang dibeli, semakin tinggi
pendapatan semakin bertambah pula presentasi
pembelanjaannya (Nursanti dkk, 2018).
Tingkat ekonomi terlebih jika yang bersangkutan hidup di
bawah garis kemiskinan (keluarga prasejahtera), berguna untuk
40
pemastian apakah ibu berkemampuan membeli dan memilih
makanan yang bernilai gizi tinggi. Tingkat sosial ekonomi
meliputi pendidikan, pendapatan, dan pekerjaan yang
merupakan penyebab secara tidak langsung dari masalah gizi
(Arisman, 2018).
Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan
makanan yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seseorang
dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka
kemungkinan besar sekali gizi yang dibutuhan tercukupi
ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu hamil
semakin terpantau (Kristyanasari, W. 2018).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Stephanie dan
Kartikasari (2019) menyebutkan bahwa sebagian besar
responden yang berpendapatan di atas UMR tidak mengalami
KEK, hanya terdapat 2 orang responden (6,9%) yang
berpendapatan di atas UMR mengalami KEK. Responden yang
berpendapatan di bawah UMR terdapat 5 orang (10,6%) yang
mengalami KEK. Kesimpulan dari penelitian di atas yaitu status
ekonomi dapat mempengaruhi risiko KEK pada ibu hamil.
6. Dampak KEK
Menurut Lubis (2017 dalam Ginarti 2018) bahwa dampak yang
dapat ditimbulkan dari ibu dengan KEK, antara lain:
41
a. Dampak pada ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan
komplikasi pada ibu, antara lain: anemia, perdarahan, berat
badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit
infeksi. Sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu.
b. Dampak pada persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalina dapat
mengakibakan persalinan sulit dan lama, persalinan prematur
atau sebelum waktunya, perdarahan post partum, serta
persalinan dengan tindakan operasi caesar cenderung
meningkat.
c. Dampak pada janin
Kurang gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses
pertumbuhan janin dan dapt menimbulkan keguguran, abortus,
bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan dan lahir
dengan BBLR.
7. Pencegahan/Penanganan
Menurut Chinue (2017 dalam Ginarti 2018), ada beberapa cara
untuk mencegah terjadinya KEK, antara lain :
a. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi, yaitu :
1) Makan-makanan yang banyak mengandung zat besi dari
bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur)
42
dan bahan makanan nabati (sayur berwarna hijau tua,
kacang-kacangan, dan tempe).
2) Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak
mengandung vitamin C (seperti daun katuk, daun
singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat
bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi
dalam usus.
3) Menambah pemasukan zat besi dalam tubuh dengan
minumum tablet penambah darah.
b. Guna mencegah terjadinya resiko KEK pada ibu hamil sebelum
kehamilan (WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik,
misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm.
Kekurangan Energi Kronik (KEK) dapat ditangani melalui
berbagai langkah, antara lain :
a. Menganjurkan kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang
berpedoman umum gizi seimbang.
b. Hidup sehat.
c. Tunda kehamilan.
d. Memberikan penyuluhan mengenai gizi seimbang yang
diperlukan oleh ibu hamil (Supariasa, 2018).
43
C. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah rangkuman dari penjabaran teori yang sudah
diuraikan sebelumnya dalam bentuk naratif, untuk memberikan batasan
tentang teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan
(Hidayat, A.A. 2018). Adapun kerangka teori sebagai berikut :
KEK
Faktor-faktor
penyebab KEK
1. Pengetahuan
2. Umur ibu
3. Pendidikan
4. Pekerjaan
5. Status ekonomi
Keterangan : Yang di telitiv
Yang tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka teori sumber : Wati (2019), Ariyani (2019), Fatkhiyah
(2018), Stephanie dan Kartikasari (2019), Musni, dkk (2017),
Nurhidayati (2018), Banudi (2018), Kristiyanasari (2018), Putri, dkk
(2019), Aminin, dkk (2018).
44
D. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan Justifikasi ilmiah terhadap topik yang
dipilih sesuai dengan identifikasi masalah. Kerangka konsep harus didukung
landasan teori yang kuat serta di tunjang oleh informasi yang bersumber
pada berbagai laporan ilmiah, hasil penelitian ,jurnal penelitian, dan lain –
lain (Hidayat, 2018). Adapun kerangka konsepnya sebagai berikut :
Independen Dependen
Pengetahuan KEK
Gambar 2.2 : Kerangka Konsep
45
E. Hipotesis penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau
dalil sementara yang kebenaranya akan di buktikan dalam penelitian
(Notoatmojo, 2018). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Ada hubungan pengetahuan terhadap Kekurangan Energi Kronik
(KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Jatibaru Kota Bima Tahun 2021,
hasil analisis statistik diperoleh nilai p (0,000) < (0,05).