Pembuka
Dengan ini menyatakan bahwa :
Dibuatnya karya tulis ini karena penulis ingin mengabadikan
setiap momen yang pernah terlewatkan daan di lalui oleh
penulis dan pasangan, yang kini sudah tak lagi bersama.
Teruntuk pria yang menjadi tokoh utama dari karya tulis
pertama ku ini, terimakasih telah hadir dan sempat mewarnai
hariku, meskipun bagimu pasti aku bukan pasangan yang
baik, tetapi aku harap kamu tak akan pernah menyesali setiap
pertemuan kita ya. Karena begitupun denganku. Aku tak
pernah menyesali setiap pertemuan pertemuan yang ada.
Mungkin di lain waktu apa bila semesta merestui dan kamu
pun menginginkannya, kita bisa menjadi sepasang kekasih
yang lebih bisa saling memahami dan berkomunikasi dengan
baik. Karena aku sadar, komunikasi ku memang sangat
buruk dan sepertinya aku harus belajar untuk berkomunikasi
dan mindful therapy untuk bisa memahami diriku sendiri.
Dan untuk ke empat sahabatku, terimakasih sudah mau
membersamai langkahku dan mengajarkan ku arti dari
sebuah pertemanan. tak mudah untuk menjalin sebuah
hubungan bahkan hanya hubungan pertemanan.
Juga untuk orang tua, adik serta guru yang sudah ikut andil
dalam kisah indah ini. Terima kasih, dan maaf karena belum
bisa membanggakan kalian.
The Beginning!
Angin bergelebur, menampar pipiku lembut. Pagi ini
cuacanya sedang bagus, matahari yang tidak menyengat, dan
udara yang sedikit dingin tetapi tidak mendung. Kaki ku
berdiri di depan besi persegi panjang yang menjulang
lumayan tinggi, di sini sepi, hanya ada beberapa orang yang
berlalu lalang menggunakan kuda besinya, juga ̶ ibu warung
yang baru akan menjemput rezeki.
"Kayaknya kita kepagian, deh." Keluhku pada saudari ku.
Dia melirikku sekilas, lalu kembali menatap pada benda
pipih yang ia genggam. kaki ku berayun, mengikuti irama
yang terdengar dalam benakku, mataku memejam,
menikmati sejuknya angin pagi, kala itu.
Tak lama, ada seorang siswi yang tak ku ketahui namanya,
tetapi aku bisa mengetahui bahwa ia juga murid baru, sama
sepertiku. gadis itu cantik, kulitnya putih, hidungnya
mancung, serta wajahnya yang sangat sempurna. aku kagum,
tetapi aku tak jua merasa insecure, karena bagiku, aku cantik
dengan cara ku.
Saat itu, aku langsung menjadikannya sebgai model
kecantikkan dalam standar wanita cantik di sekolah baru ku
itu.
gadis itu sangat ramah dan humoris, di balik tatapan
tajamnya, ada kelembutan yang tersampaikan saat bibirnya
melengkung lembut.
aku sempat ingin berkenalan, tetapi urung karena tak lama
muncul beberapa siswi yang sama seperti kami, tetapi
berasal dari tempat dan lingkungan yang berbeda.
Para siswa dan siswi baru mulai berdatangan, meramaikan
lingkungan sekolah, aku masih duduk diam di depan tempat
yang terdapat pintu kaca, di dalamnya tersusun banyak piala
yang di raih oleh siswa dan siswi berprestasi.
Suara pengeras suara mulai terdengar, menyerukan perintah
bahwa kami siswa dan siswi baru di perintahkan untuk
berbaris di lapangan. Saat itu kami mulai berjalan santai
tetapi, saat penginstruksi mengatakan harus sampai dalam
waktu 10 detik, kami berlarian, tak tentu arah, melempar tas
ransel dimana saja tempat yang aman untuk meletakkan tas
kami.
Dengan nafas kami yang masih terengah-engah, kami
berusaha berdiri tegak, kami tak peduli dimana kami
seharusnya bergabung, seperti saat ini saja, seharusnya aku
bergabung dengan kelompokku, tetapi aku malah nyasar di
kelompok lain.
But, it's okay, karena pada akhirnya nanti aku akan tetap
bergabung dengan mereka. Hari itu aku masih merasa malu
malu, dan sangat nervous. Aku takut aku akan di interogasi
atau pada saat games ice breaking aku kalah dan harus ke
depan.
Tangan ku mulai berkeringat dingin, badanku lemas dan otak
ku mulai tak fokus, sebisa mungkin aku mengenyahkan rasa
malu dan takutku. Perlahan aku mengisap udara segar yang
ada, lalu menahannya beberapa detik dan menghembuskan
CO2 dari dalam tubuhku dengan perlahan.
"Baik, Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh!"
buka seorang gadis berkerudung putih, dia adalah kakak
kelasku, paras nya ayu, juga tutur kata dan nada bicaranya
yang lembut nan anggun, menambah kesan cantik pada
dirinya.
Aku terkesima akan kecantikkannya, dan sepertinya beliau
bukan hanya sekedar Kakak kelas yang ingin ikut
meramaikan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan
Sekolah. Karena ia memakai jas, dengan pin yang tertancap
di bagian dada sebelah kiri.
Lalu datanglah segerombol siswi dan siswa yang
mengenakan jas yang sama, mereka semua memiliki paras
dan aura yang sangat positif. Membuat ku bisa mengalihkan
ketakutan dan rasa malu ku. Perlahan aku tenang, dan mulai
bisa menikmati acara dengan tenang.
"Nah teman-teman! Selamat datang di lingkungan SMKN 1
Radjawali, selamat bergabung menjadi anggota baru dan
juga menjadi bagian dari kami." sambutan itu di katakan
oleh salah satu siswa yang berdiri di hadapan kami.
Ia memiliki paras yang menurutku lumayan tampan.
Kulitnya memang tidak seputih salju, tapi ia memiliki tinggi
yang ideal, badan yang tidak terlalu gendut dan tidak kurus
juga. Rambutnya yang terlihat rapi, terlihat seperti rambut
yang selalu di rawat dari setiap helainya.
Wanginya tercium oleh indra penciumanku, wanginya
seperti sabunku di rumah, manis namun menenangkan. Wah,
sepertinya aku butuh mengalihkan atensi ku.
Oke, yang selanjutnya, ada siswi yang menurutku dia tak
terlalu cantik, tetapi aura dominan, bijaksana dan tak lupa
senyumnya yang manis, dengan gigi gingsulnya itu
menambah daya tariknya. Tingginya semampai, tubuhnya
ideal dengan bentuk rahang yang sedikit tegas. Kalau yang
ini, dia memiliki atau memakai parfum yang ku tebak dalam
komposisi nya terdapat campuran Rose, lavender and
geranium. Wanginya itu bikin tenang tapi terkesan feminin.
Dan terakhir, salah satu Kakak kelas yang menarik
perhatianku, ialah siswa yang duduk di bagian sound system,
ia tidak tinggi, tetapi jika bersanding denganku pasti dia akan
terlihat lebih tinggi. Dia tidak tampan, tetapi dia memiliki
aura memikat yang entah mengapa mampu memikat banyak
orang, menurutku dia seperti bapak – bapak, memiliki kumis
yang lumayan terlihat, senyum nya juga tidak terlalu manis,
tapi saat ia tertawa dan tersenyum, dunia seakan menjadi
penuh keceriaan.
Saat itu aku sering sekali mencuri curi pandang ke arahnya,
aku merasa bahwa dunia ku penuh kebahagiaan saat aku bisa
melihat senyum itu, tetapi sayang, ia jarang sekali
memperlihatkan senyuman memikat itu. Yang ku lihat setiap
ia tak sengaja memergoki ku adalah raut kaget dan bingung
miliknya. Aku juga sama terkejutnya, aku masih bisa
mengingat dengan jelas bagaimana lucunya ia ketika ia
kebingungan dengan tingkah ku.
Dan sejak saat itu, aku mulai menjadi salah satu pengganggu
dalam hidupnya.
Tentang Dia!
Di hari yang berbeda, aku kembali memulai hari, hari
itu, aku menjalani berbagai rangkaian kegiatan. Dari
mulai apel pagi, senam bersama, hingga rangkaian
kegiatan lainnya.
Di saat matahari tengah terik – teriknya, kami di suruh
mengikuti rangkaian permainan dalam rangka seru –
seruan yang di ikuti oleh seluruh siswa dan siswi baru,
serta guru pun ikut andil.
Aku duduk di sebuah tangga yang aku sendiri tak tahu
menuju ke mana, lalu saat masih sibuk membuka
permainan mulai dari menjelaskan bagaimana
peraturannya, aku melihat ke sekeliling, memindai,
apakah ada seseorang yang mungkin aku kenali di
sana, lalu tanpa sadar tatapan ku terpaku, menatap
paras seorang siswa yang ku ketahui bahwa ia bukan
salah satu dari pendamping setiap kelompok yang ada,
dan itu berarti ia seumuran dengan ku.
Aku terpesona oleh tatapan matanya, ia menatap
semua orang dengan tatapan yang aku tak bisa
langsung memberikan label pada tatapan itu, namun,
aku tahu bahwa tatapan itu berasal dari orang yang
pada dasarnya tak pernah langsung menjudge
seseorang.
Hidung nya bangir, kalau menurutku hidung miliknya
itu seperti paruh burung, tajam dan sedikit
melengkung, serta alis yang lumayan tebal. Dari
struktur wajah memang dia termasuk dalam jajaran
pria pemilik paras yang tampan.
Ia memiliki tinggi badan yang sama seperti kakak
kelas itu, bedanya, wajahnya lucu, sekilas mirip seperti
anak kecil.
Terlalu larut dengan paras itu, aku tak sadar bahwa ia
memergoki ku, saat sadar aku langsung membuang
wajahku malu. Setelah itu mendadak rasa ingin tahu
ku meningkat, aku pun memberanikan diri bertanya
pada teman sekelompokku tentang dia.
Tetapi ya, seperti pria tampan pada umumnya, ternyata
dia sudah memiliki kekasih hati. Yang ku ketahui ia
memiliki paras yang cantik, bisa mengimbangi paras
tampannya. Saat itu aku hanya ber-oh ria saja.
Lalu aku sedikit mencuri pandang pada nya, aku
melihat dia sedang bercanda ria dengan gadis yang tak
ku ketahui namanya. Cantik. Mereka cocok.
Lalu tiba-tiba tanganku di tarik, aku seketika berdiri
dengan tangan yang sudah di genggam erat oleh
temanku. Aku menahannya, “Kita mau kemana?”
tanyaku. Lalu ia menoleh ke arahku dan mendekat, “
Aku mau ke toilet, mau’kan nemenin aku?” bisiknya
pelan di dekat cuping telinga sebelah kananku.
Aku tersenyum, kemudian mengangguk, “Boleh.”
Lalu kami berjalan melewati arena perlombaan untuk
mencari toilet, tetapi karena aku tak ingin pusing, aku
memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu
panitia yang sedang berjaga di sana.
“Kak maaf, mau tanya, toilet di mana ya?” tanya ku
dengan nada suara yang ku yakini hanya terdengar
oleh ku dan dia.
Ia tampak terkejut sebentar, lalu dengan suara yang ku
tangkap bernada ceria itu ia mulai mengarahkan, “Oh
iya, toilet itu ada 2, yang di situ dekat ruang guru sama
yang di bawah dekat masjid,” jarinya menunjuk ke
arah ruangan yang jaraknya tak jauh dari tempat kami
berdiri, hanya perlu berjalan lurus beberapa langkah. “
Nah, kalau masjid, itu kan ada jalan ke bawah ya, lurus
terus ada belokan ke kanan, lurus terus nah di situ ada
toilet khusus cewek dan sebelah kanannya khusus
cowok.” Terangnya, aku mendengarkan dengan
seksama.
Lalu untuk beberapa saat aku mencerna hingga
akhirnya aku mengerti, kami pun pergi beranjak dari
sana. “Terima kasih ya teh,” ia membalas “ Iya sama
sama.”
How it Started!
Hari itu hari Senin. Senin yang datang tanpa janji apa pun,
tanpa tanda-tanda akan menjadi hari yang berarti. Aku
berangkat ke sekolah seperti biasa, mengenakan seragam
yang sama, membawa tas yang sama, dan menjalani rutinitas
yang perlahan mulai akrab, meski aku sendiri masih dalam
proses menyesuaikan diri. Ada rasa canggung yang belum
sepenuhnya hilang, seperti perasaan menjadi orang baru di
tempat yang sebenarnya sudah kujalani setiap hari. Aku
belajar seperti biasa, duduk di bangku, mencatat seperlunya,
mendengarkan guru berbicara di depan kelas, sambil sesekali
melamun tanpa tujuan jelas.
Aku tahu aku masih menyesuaikan diri. Dengan suasana
sekolah, dengan ritmenya yang cepat, dengan orang-orang
yang tampak sudah menemukan tempatnya masing-masing.
Sementara aku masih mencari posisi yang nyaman untuk
berdiri. Tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak sepenuhnya
menghilang. Hari itu terasa biasa saja, sampai sebuah
informasi kecil menyelip di antara jam pelajaran dan obrolan
ringan.
Seseorang memberi tahu tentang perekrutan anggota
ekstrakurikuler baru. Informasi itu seharusnya sederhana,
tapi justru membuatku bingung. Ada banyak pilihan, dan aku
tidak tahu mana yang benar-benar kuinginkan. Aku bukan
tipe orang yang yakin dengan satu keputusan. Aku sering
merasa takut salah memilih, takut menyesal karena tidak
mencoba, dan takut merasa tertinggal. Akhirnya, dengan
pikiran yang campur aduk dan keputusan yang lebih
didorong rasa bingung daripada keyakinan, aku
mendaftarkan diri ke hampir semua ekstrakurikuler yang
ada. Semua, kecuali IRM dan Pramuka. Aku sendiri tidak
tahu alasan pastinya. Mungkin hanya karena rasanya aku
tidak cocok, atau mungkin karena aku ingin menyisakan
sedikit ruang untuk diriku sendiri.
Tanpa aku sadari, hari Senin itu juga bertepatan dengan hari
pertama perkenalan calon anggota Paskibra yang baru.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, kami semua diminta
untuk berkumpul. Jujur saja, tubuhku sudah lelah. Kepalaku
penuh oleh pelajaran seharian, tapi rasa penasaran
membuatku tetap tinggal. Kami diarahkan ke sebuah kelas,
dan ternyata tempat kumpulnya adalah kelasku sendiri.
Ruangan yang biasanya terasa biasa saja mendadak penuh
oleh wajah-wajah baru, suara obrolan yang bercampur, dan
suasana yang terasa asing sekaligus ramai.
Karena ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti kegiatan
seperti ini, aku benar-benar tidak tahu aturan yang berlaku.
Aku tidak tahu bahwa posisi duduk harus dipisahkan antara
laki-laki dan perempuan. Jadi aku duduk saja di kursi kosong
yang ada, tepat di samping Raya, temanku. Duduk di dekat
orang yang kukenal membuatku merasa lebih tenang. Raya
tersenyum padaku, dan kami sempat mengobrol ringan,
membahas betapa panjangnya hari itu dan betapa capeknya
pelajaran yang baru saja kami lewati.
Namun, rasa aman itu tidak bertahan lama. Ada arahan dari
kakak tingkat agar kami menyesuaikan posisi duduk. Dengan
sedikit bingung dan kikuk, aku berdiri dan mencari tempat
duduk lain. Aku melangkah tanpa benar-benar
memperhatikan, hanya ingin cepat duduk dan tidak terlihat
canggung. Sampai akhirnya aku menempati sebuah kursi
kosong. Baru setelah aku duduk, aku menyadari siapa yang
ada tepat di sampingku.
Seorang lelaki berhidung bangir.
Saat itu juga, ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
Fokusku mendadak buyar. Tanganku terasa dingin, dan
keringat dingin muncul tanpa alasan yang jelas. Padahal
ruangan tidak terasa panas. Aku mencoba bersikap biasa
saja, menatap ke depan, mendengarkan arahan. Tapi
jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, dan aku tidak
mengerti kenapa. Aku bahkan belum tahu siapa dia, belum
tahu namanya, belum tahu apa pun tentangnya.
Ketika sesi perkenalan dimulai dan kami diminta untuk
berjabat tangan dengan orang di sebelah, aku merasa
semakin gugup. Saat giliranku tiba dan tanganku bertemu
dengan tangannya, rasanya seperti seluruh fokusku
menghilang. Wajahku terasa panas, dan degup jantungku
terasa menggila. Aku takut reaksiku terlihat jelas oleh orang
lain. Aku takut terlihat berlebihan, padahal tidak ada apa-apa
yang seharusnya membuatku seperti ini.
Aku masih ingat senyumnya. Senyum yang sederhana, tidak
dibuat-buat, tapi entah kenapa menetap lama di ingatanku.
Kami saling memperkenalkan diri. Namanya, kelasku,
sedikit tentang dirinya. Percakapan itu singkat, penuh jeda,
dan terasa canggung. Tapi aku bisa merasakan satu
kesamaan yang jelas: kami sama-sama pemalu. Cara
bicaranya pelan, caraku menjawab pun tidak jauh berbeda.
Tidak ada usaha untuk tampil menonjol, tidak ada kesan sok
percaya diri. Hanya dua orang yang sama-sama kikuk,
mencoba bertahan di momen perkenalan.
Hari itu berakhir tanpa kejadian besar. Tidak ada pengakuan,
tidak ada cerita dramatis. Tapi entah kenapa, aku pulang
dengan perasaan yang terasa berbeda. Ada sesuatu yang
tertinggal di pikiranku, perasaan kecil yang belum bisa
kuberi nama. Padahal, saat itu aku tahu betul: dia punya
pacar. Dan di sisi lain, aku sendiri sedang punya crush yang
sedang kuperjuangkan, seseorang yang selama ini mengisi
pikiranku lebih dulu. Seharusnya perasaan itu tidak muncul.
Seharusnya aku tidak perlu memikirkan apa pun tentang
lelaki berhidung bangir itu.
Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Untuk pertama kalinya, dia mengirimiku pesan. Alasannya
sederhana: dia membutuhkan catatanku. Pesan itu singkat
dan sopan. Aku membaca pesan itu beberapa kali sebelum
membalas. Ada rasa gugup yang tidak bisa kusembunyikan,
meski aku tahu ini hanya tentang catatan. Akhirnya aku
mengirimkannya. Sederhana, tanpa embel-embel apa pun.
Sejak saat itu, setiap ada kumpulan atau latihan, kami sering
duduk berdua. Tidak selalu berbicara banyak. Kadang hanya
duduk dalam diam, mendengarkan arahan, atau
memperhatikan sekitar. Tapi ada rasa nyaman yang sulit
dijelaskan. Meski begitu, aku terus mengingatkan diriku
sendiri: dia punya pacar. Dan aku pun punya crush lain yang
sedang aku kejar cintanya. Aku tidak ingin melangkah
terlalu jauh, tidak ingin memberi ruang bagi perasaan yang
seharusnya tidak tumbuh.
Seiring waktu, penyakit malasku mulai muncul. Aku mulai
sering berpindah tempat duduk, tidak selalu konsisten. Di
saat yang sama, dia juga mengganti tempat duduknya dan
bersama partner latihan yang lain. Jadi, tanpa ada percakapan
khusus atau penjelasan apa pun, kami tidak lagi duduk
berdampingan. Semua terjadi begitu saja, perlahan, tanpa
konflik.
Aku tidak bisa munafik. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa
kehilangan kecil yang tidak berani kuakui. Aku tahu aku
takut jatuh cinta. Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena
situasinya tidak memungkinkan. Dia sudah memiliki
kekasih, dan aku sendiri sedang berusaha mengejar hati
orang lain. Aku tidak ingin menjadi orang yang salah di
cerita siapa pun.
Meski begitu, setiap kali kami bertemu, kami tetap saling
menyapa. Sapaan sederhana, senyum kecil, tidak lebih dari
itu. Hubungan kami tetap baik, wajar, seperti dua teman
yang kebetulan saling mengenal. Apalagi jika ada Raya.
Entah kenapa, Raya justru punya ide untuk mencomblangiku
dengannya. Ia sering menggoda, seolah melihat sesuatu yang
bahkan aku sendiri tidak berani akui.
Akhirnya aku memberitahunya bahwa dia sudah memiliki
kekasih. Mendengar itu, Raya langsung mengurungkan
niatnya, meski ia sempat menyayangkan keadaan tersebut.
Aku hanya tersenyum kecil. Aku juga menyayangkannya,
tapi aku tahu, tidak semua rasa harus diperjuangkan. Ada
perasaan yang cukup disadari, cukup disimpan, tanpa harus
diwujudkan.
Hari-hari terus berjalan, dan semuanya kembali terasa
normal. Crush yang sedang kuperjuangkan tetap menjadi
fokusku, dan lelaki berhidung bangir itu perlahan kembali
menjadi bagian kecil dari keseharian yang tidak lagi terlalu
mengusik. Tapi hari Senin itu tetap tinggal di ingatanku.
Hari ketika aku hanya berniat belajar seperti biasa, tapi justru
menemukan getar kecil yang datang tanpa rencana.
Hari Senin itu mengajarkanku bahwa perasaan tidak selalu
datang untuk dimiliki. Kadang ia hanya mampir, memberi
rasa, lalu pergi. Dan meskipun tidak berakhir menjadi
apa-apa, ia tetap layak dikenang sebagai bagian dari
perjalanan kecil dalam hidupku.
Awal Mula Cerita Kita.
Hingga akhirnya, di akhir tahun itu, aku mengambil sebuah
keputusan yang sebenarnya sudah lama kupikirkan: aku
keluar dari ekstrakurikuler tersebut. Tidak ada drama besar,
tidak ada konflik yang meledak-ledak. Alasannya sederhana,
tapi terasa berat—aku capek. Capek secara fisik, capek
secara mental, dan capek karena rasanya aku tidak lagi
menemukan alasan untuk bertahan. Rutinitas latihan yang
dulu terasa menyenangkan perlahan berubah menjadi beban.
Aku mulai datang dengan perasaan terpaksa, menghitung
waktu, menunggu semuanya selesai. Dan aku sadar,
mungkin ini saatnya berhenti.
Keputusan itu kuambil dengan perasaan campur aduk. Ada
lega karena akhirnya berani memilih diri sendiri, tapi juga
ada rasa kosong. Ekstrakurikuler itu bukan hanya soal
kegiatan, tapi juga tentang kebiasaan, orang-orang, dan
potongan kecil dari hari-hariku yang selama ini terisi.
Setelah resmi keluar, hari-hariku terasa lebih lengang. Tidak
ada lagi jadwal latihan, tidak ada lagi kumpulan setelah
sekolah. Waktu berjalan lebih pelan, dan di sela-sela
kesunyian itu, aku mulai lebih sering tenggelam dalam
pikiranku sendiri.
Malam-malam di akhir tahun terasa panjang. Ada hari-hari
di mana aku hanya rebahan sambil menatap layar ponsel,
membuka aplikasi satu per satu tanpa tujuan jelas. Hingga
suatu malam, saat aku membuka WhatsApp, sesuatu yang
tidak kusangka muncul di layar. Aku melihat snap miliknya.
Sebuah foto makanan. Sederhana. Tidak istimewa. Tapi
entah kenapa, aku berhenti di situ lebih lama dari
seharusnya.
Aku menatap foto itu sambil berpikir. Tidak ada niat khusus.
Tidak ada rencana apa pun. Hanya dorongan iseng yang
tiba-tiba muncul. Aku membalas snap itu. Balasan yang
ringan, bercanda, tidak serius. Aku bahkan tidak berharap
dia akan membalasnya lagi. Tapi ternyata, dia membalas.
Dan dari satu balasan itu, percakapan kecil pun dimulai.
Awalnya chat kami biasa saja. Tidak intens. Tidak ada topik
berat. Hanya obrolan ringan yang mengalir pelan. Tentang
makanan itu, tentang hari yang melelahkan, tentang hal-hal
kecil yang biasanya tidak terlalu berarti. Lalu, seperti
kebanyakan obrolan yang tidak direncanakan, chat itu
sempat terhenti. Ada hari-hari di mana kami tidak saling
mengirim pesan. Tidak ada rasa canggung, tidak ada juga
rasa kehilangan. Semua berjalan apa adanya.
Sampai akhirnya, di akhir bulan Desember, tanpa aba-aba
yang jelas, chat kami mulai intens. Pesan-pesan datang lebih
sering. Percakapan tidak lagi berhenti di sapaan singkat.
Kami mulai membahas keseharian masing-masing. Tentang
bagaimana harinya berjalan, hal-hal sepele yang terjadi,
cerita-cerita kecil yang biasanya hanya lewat begitu saja.
Anehnya, aku merasa nyaman. Tidak ada rasa tertekan untuk
membalas cepat, tidak ada tuntutan untuk selalu menarik.
Semua terasa ringan.
Kami juga mulai membahas film. Awalnya hanya
rekomendasi. Film apa yang bagus, film apa yang baru
ditonton. Sampai suatu hari, aku bilang kalau aku sedang
menonton sebuah film. Dan tanpa banyak kata, dia ikut
menonton film itu juga. Bukan bersama secara langsung,
bukan duduk berdampingan di satu ruangan. Tapi ada
perasaan aneh saat tahu kami menonton film yang sama di
waktu yang hampir bersamaan. Seolah ada benang tipis yang
menghubungkan kami, meski jarak memisahkan.
Film Megan menjadi salah satu yang kami tonton. Kami
saling mengirim komentar tentang adegan-adegannya,
tentang bagian yang menurut kami menarik atau aneh. Dari
situ, film demi film menyusul. Kadang aku yang lebih dulu
menonton, kadang dia. Tapi entah bagaimana, dia selalu mau
mengimbangiku. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah
terlihat bosan. Dan itu membuatku tersenyum sendiri lebih
sering dari yang kusadari.
Dia sangat asik. Cara bicaranya santai, responsnya jujur, dan
dia tidak pernah membuatku merasa harus menjadi orang
lain. Aku bisa bercerita tanpa takut dinilai berlebihan. Aku
bisa bercanda tanpa takut dianggap aneh. Di tengah
obrolan-obrolan itu, aku mulai menyadari satu hal yang
pelan-pelan tumbuh: aku menunggu pesannya. Aku
tersenyum setiap melihat namanya muncul di layar. Tapi aku
tidak berani menyebutnya apa-apa.
Aku tidak ingin terburu-buru memberi nama pada perasaan
itu. Aku takut mengulang kesalahan lama. Takut berharap
terlalu jauh. Jadi aku memilih menikmati setiap percakapan
tanpa ekspektasi. Kami hanya dua orang yang kebetulan
saling menemukan kenyamanan di waktu yang sama.
Hari-hari berlalu, dan tanpa kusadari, Desember hampir
berakhir. Tahun berganti, membawa suasana baru yang
terasa berbeda. Di antara obrolan-obrolan kecil, tawa lewat
chat, dan kebiasaan menonton film bersama dari jarak jauh,
ada perasaan hangat yang menetap. Tidak meledak-ledak.
Tidak dramatis. Tapi konsisten.
Hingga akhirnya, pada tanggal 9 Januari 2025, sesuatu yang
tidak pernah kurencanakan terjadi. Hari itu sebenarnya biasa
saja. Tidak ada tanda khusus. Tidak ada rencana untuk
membicarakan hubungan, tidak ada pembicaraan serius
tentang perasaan. Bahkan, saat itu dia tidak secara langsung
mengajakku berpacaran.
Justru aku yang memulainya dengan iseng.
Aku sedang ingin menggodanya. Hanya bercanda, hanya
ingin melihat reaksinya. Aku tidak menyangka bahwa
godaan kecil itu akan berubah arah. Percakapan yang
awalnya santai perlahan menjadi lebih jujur. Kata-kata yang
tadinya bercanda mulai mengandung makna. Dan tanpa ada
pernyataan resmi yang dramatis, tanpa kalimat “mau jadi
pacarku?”, kami menyadari satu hal yang sama: kami ingin
bersama.
Saat itu aku sempat terdiam. Mencerna semuanya. Rasanya
campur aduk. Ada kaget, ada senang, ada tidak percaya. Aku
tidak menyangka bahwa hubungan ini akan dimulai dengan
cara sesederhana itu. Tanpa rencana matang. Tanpa
ekspektasi tinggi. Hanya dua orang yang sama-sama merasa
nyaman dan memilih untuk tidak pergi.
Dan begitulah, pada tanggal 9 Januari 2025, kami resmi
berpacaran. Tidak ada perayaan besar. Tidak ada
pengumuman ke mana-mana. Tapi ada perasaan hangat yang
sulit dijelaskan. Perasaan diterima. Perasaan dipilih.
Aku sering memikirkan bagaimana semua ini bermula. Dari
rasa capek yang membuatku keluar dari ekskul. Dari malam
sepi yang membuatku iseng membalas snap WhatsApp. Dari
obrolan ringan yang sempat terputus, lalu berlanjut lebih
dalam. Dari film-film yang ditonton bersama tanpa pernah
benar-benar bersama secara fisik. Semua terasa seperti
rangkaian kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut
kebetulan biasa.
Kadang aku tersenyum sendiri, mengingat betapa tidak
terduganya perjalanan ini. Aku tidak sedang mencari cinta
saat itu. Aku tidak sedang berharap jatuh cinta. Tapi
perasaan itu datang pelan-pelan, tanpa memaksa, tanpa
menyakiti. Datang lewat cara yang paling sederhana: obrolan
kecil, perhatian kecil, dan kehadiran yang konsisten.
Akhir tahun yang awalnya terasa melelahkan ternyata
menutup ceritanya dengan awal yang manis. Dan aku belajar
satu hal penting: tidak semua yang datang dalam hidup harus
direncanakan. Kadang, hal-hal terbaik justru datang saat kita
sudah lelah dan berhenti mencari.
Dan sejak hari itu, tanggal 9 Januari 2025, aku tahu—kisah
ini bukan lagi sekadar kenangan iseng di chat, tapi awal dari
cerita baru yang ingin kujaga.