6 RK3K
6 RK3K
1
[Link] No.4 Bandung 40262,Telp/Fax + 62 (22) 730-5239,7302067
E-mail :nadi_putra_pratama@[Link]
[Link] PRATAMA
(KSO) [Link] KIDUL
Jl..Leat No.4 Bandung 40262,Telp/Fax : + 62 (22) 730-5239,730-
2067 E-mail : nadi_putra_prtama@[Link]
BAB. 1 PENDAHULUAN
Kuasa KSO atas nama [Link] Pratama KSO [Link] Kidul, Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) dalam melaksanakan kegiatan pekerjaan di Supervisi Rehabilitasi D.I Kelingi
Tugumulyo [Link] Rawas Tahap II Paket 1 dan Paket 2 pada pekerjaan Supervisi Rehabilitasi
D.I Kelingi Tugomulyo Tahap II Paket 1 dan Paket 2 Tahun Anggaran 2022.
1.1 Umum
Dalam rangka mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan kontruksi, maka penyelenggara
pekerjaan konstruksi wajib memenuhi syarat-syarat tentang keamanan, keselamatan, dan
kesehatan kerja pada tempat kegiatan Supervisi Rehabilitasi D.I Kelingi Tugumulyo [Link]
Rawas Tahap II Paket 1 dan Paket [Link] dan Kesehatan Kerja Konstruksi (K3
Konstruksi) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan
tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada
pekerjaan konstruksi.
Tujuan SMK3 konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dapat diterapkan secara konsisten untuk:
Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman dan efisien, untuk mendorong produktifitas
7. Pengguna Jasa adalah pemilik atau pemberi pekerjaan yang menggunakan layanan Jasa
Konstruksi.
9. Sub penyedia Jasa adalah pemberi layanan Jasa Konstruksi kepada Penyedia Jasa.
10. Kontrak Kerja Konstruksi yang selanjutnya disebut Kontrak adalah keseluruhan
dokumen kontrak yang mengatur hubungan hukum antara Pengguna Jasa dan Penyedia
Jasa dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
11. Keselamatan Konstruksi adalah segala kegiatan keteknikan untuk mendukung Pekerjaan
Konstruksi dalam mewujudkan pemenuhan Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan,
dan Keberlanjutan yang menjamin keselamatan keteknikan konstruksi, keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja, keselamatan publik dan keselamatan lingkungan.
12. Rancangan Konseptual SMKK adalah dokumen telaah tentang Keselamatan Konstruksi
yang disusun pada tahap pengkajian, perencanaan dan/atau perancangan.
13. Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Penentuan Pengendalian Risiko, dan Peluang yang
selanjutnya disebut IBPRP adalah proses mengidentifikasi bahaya, menilai dan
mengendalikan risiko, serta menilai peluang.
14. Rencana Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat RKK adalah dokumen telaah
tentang Keselamatan Konstruksi yang memuat elemen SMKK yang merupakan satu
kesatuan dengan dokumen Kontrak.
15. Analisis Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat AKK adalah metode
dalam mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya berdasarkan rangkaian pekerjaan
dalam metode pelaksanaan kerja (work method statement).
16. Risiko Keselamatan Konstruksi adalah risiko Konstruksi yang memenuhi 1 (satu) atau
lebih kriteria berupa besaran risiko pekerjaan, nilai kontrak, jumlah tenaga kerja, jenis alat
berat yang dipergunakan dan tingkatan penerapan teknologi yang digunakan.
18. Program Mutu adalah dokumen rencana penerapan Keselamatan Konstruksi yang memuat
perencanaan kegiatan penjaminan dan pengendalian mutu yang disusun oleh Penyedia
Jasa Konsultansi Konstruksi dan merupakan satu kesatuan dalam Kontrak.
19. Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi yang selanjutnya disingkat RMPK adalah
dokumen telaah tentang Keselamatan Konstruksi yang memuat uraian metode pekerjaan,
rencana inspeksi dan pengujian, serta pengendalian Subpenyedia Jasa dan pemasok, dan
[Link] Pratama KSO [Link] Kidul Page | 1.3
[Link] No.4 Bandung 40262,Telp/Fax + 62 (22) 730-5239,7302067
E-mail :nadi_putra_pratama@[Link]
[Link] PRATAMA
(KSO) [Link] KIDUL
Jl..Leat No.4 Bandung 40262,Telp/Fax : + 62 (22) 730-5239,730-
2067 E-mail : nadi_putra_prtama@[Link]
20. Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya
disingkat RKPPL adalah dokumen telaah tentang Keselamatan Konstruksi yang memuat
rona lingkungan, pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang merupakan pelaporan
pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
21. Rencana Manajemen Lalu Lintas Pekerjaan yang selanjutnya disingkat RMLLP adalah
dokumen telaah tentang Keselamatan Konstruksi yang memuat analisis, kegiatan dan
koordinasi manajemen lalu lintas.
22. Masa Pemeliharaan adalah kurun waktu dalam Kontrak untuk melakukan pemeliharaan
sejak tanggal serah terima pertama pekerjaan sampai dengan tanggal serah terima akhir
pekerjaan.
23. Unit Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat UKK adalah unit pada
Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan SMKK
dalam Pekerjaan Konstruksi.
24. Pengadaan Langsung Jasa Konsultansi adalah metode pemilihan untuk mendapatkan
Penyedia Jasa konsultansi yang bernilai paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
25. Harga Perkiraan Sendiri yang selanjutnya disingkat HPS adalah perkiraan harga
barang/jasa yang ditetapkan oleh pejabat pembuat komitmen yang telah memperhitungkan
biaya tidak langsung, keuntungan, pajak pertambahan nilai.
26. Biaya Penerapan SMKK adalah biaya yang diperlukan untuk menerapkan SMKK dalam
penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
27. Kecelakaan Konstruksi adalah suatu kejadian akibat kelalaian pada tahap Pekerjaan
Konstruksi karena tidak terpenuhinya Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan
Keberlanjutan, yang mengakibatkan kehilangan harta benda, waktu kerja, kematian, cacat
tetap dan/atau kerusakan lingkungan.
28. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi adalah tenaga ahli yang mempunyai
kompetensi khusus di bidang keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi dalam
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi SMKK yang dibuktikan dengan Sertifikat
Kompetensi Kerja Konstruksi.
[Link] Pratama KSO [Link] Kidul Page | 1.4
[Link] No.4 Bandung 40262,Telp/Fax + 62 (22) 730-5239,7302067
E-mail :nadi_putra_pratama@[Link]
[Link] PRATAMA
(KSO) [Link] KIDUL
Jl..Leat No.4 Bandung 40262,Telp/Fax : + 62 (22) 730-5239,730-
2067 E-mail : nadi_putra_prtama@[Link]
29. Ahli Keselamatan Konstruksi adalah tenaga ahli yang mempunyai kompetensi khusus di
bidang Keselamatan Konstruksi dalam merencanakan, melaksanakan dan mengawasi
penerapan SMKK yang dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi.
30. Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi yang selanjutnya disebut
Petugas K3 Konstruksi adalah petugas yang memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja
Konstruksi yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi atau instansi yang berwenang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
31. Petugas Keselamatan Konstruksi adalah orang yang memiliki kompetensi khusus di
bidang Keselamatan
32. Konstruksi dalam melaksanakan dan mengawasi penerapan SMKK yang dibuktikan dengan
Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi.
33. Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi adalah tanda bukti pengakuan kompetensi
tenaga kerja konstruksi.
34. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan
umum dan perumahan rakyat.
a. Kebijakan K3
Kebijakan yang ditetapkan harus mememenuhi ketentuan:
Mencakup komitmen untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta
peningkatan berkelanjutan SMK3
Mencakup komitmen untuk mematuhi peraturan perundangundangan dan persyaratan lain
yang terkait dengan K3
b. Sebagai kerangka untuk menyusun sasaran K3
Kebijakan harus dijelaskan dan disebarluaskan kepada seluruh pekerja, tamu dan semua pihak
yang terlibat dalam kegiatan Supervisi Rehabilitasi D.I Kelingi Tugumulyo [Link] Rawas
Tahap II Paket 1 dan Paket 2 Kebijakan K3 harus ditinjau ulang secara berkala untuk
menjamin bahwa kebijakan tersebut masih sesuai dengan perubahan yang [Link]
K3 dibentuk dengan Penanggungjawab K3 membawahi bidang-bidang yang terintegrasi
dengan struktur organisasi Perusahaan.
c. Perencanaan K3
Penyusunan Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala Prioritas, Pengendalian Risiko K3 dan
Penanggung Jawab terhadap kegiatan-kegiatan konstruksi yang [Link]
[Link] Pratama KSO [Link] Kidul Page | 1.5
[Link] No.4 Bandung 40262,Telp/Fax + 62 (22) 730-5239,7302067
E-mail :nadi_putra_pratama@[Link]
[Link] PRATAMA
(KSO) [Link] KIDUL
Jl..Leat No.4 Bandung 40262,Telp/Fax : + 62 (22) 730-5239,730-
2067 E-mail : nadi_putra_prtama@[Link]
d. Pengendalian Operasional
Pengendalian operasional berupa prosedur kerja/ petunjuk kerja, yang harus mencakup
seluruh upaya pengendalian, antara lain:
Menunjuk Penanggung Jawab Kegiatan SMK3 yang dituangkan dalam Struktur Organisasi
K3 beserta Uraian Tugas
Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan
Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja
Program-program detail pelatihan sesuai pengendalian risiko
Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan
Penyesuaian kebutuhan tingkat pengendalian risiko K3
e. Pemeriksaan dan Evaluasi Kinerja K3
Kegiatan pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 dilakukan mengacu pada kegiatan yang
dilaksanakan pada Pengendalian Operasional.
f. Tinjauan Ulang Kinerja K3.
Hasil pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 selanjutnya diklasifikasikan dengan kategori sesuai
dan tidak sesuai tolok ukur Sasaran dan Program K3. Hal-hal yang tidak sesuai, termasuk
bilamana terjadi kecelakaan kerja dilakukan peninjauan ulang untuk diambil tindakan
perbaikan.
Komunikasi Kebijakan K3
Kebijakan K3 harus dijelaskan dan disebarluaskan kepada seluruh pekerja konstruksi,
pengawas dan tamu dalam kegiatan konstruksi. Penyebarluasan kebijakan K3 Konstruksi dapat
melalui media antara laian papan pengumuman, spanduk, brosul, verbal dalam apel atau
induksi, serta media lainnya.
Tinjauan Kebijakan K3
Peninjauan kebijakan dilakukan secara berkala untuk menjamin bahwa kebijakan K3 masih
sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam kegiatan Konstruksi yang dilakukan dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Persyaratan Perencanaan K3
Dalam perencanaan K3 haruslah memenuhi terhadap Kebijakan yang ditetapkan, yang memuat
Tujuan, Sasaran dan Indikator kinerja, Penerapan K3 dengan mempertimbangkan penelaahan
awal sebagai bagian dalam meng-identifikasi potensi sumber bahaya, penilaian dan
pengendalian risiko atas permasalahan K3 yang ada dalam perusahaan atau di proyek atau
tempat kegiatan Kerja konstruksi [Link] mengidentifikasi potensi bahaya yang ada
serta tantangan yang dihadapi akan sangat mempengaruhi dalam menentukan kondisi
perencanaan K3 perusahaan/proyek. Untuk hal tersebut haruslah ditentukan oleh Isu Pokok
dalam Perusahaan/proyek dalam identifikasi bahaya :
Frekewensi dan tingkat keparahan Kecelakaan Kerja
Kecelakaan Lalu Lintas
Kebakaran dan Peledakan
Keselamatan Produk (Product Safety)
Keselamatan Konsultan
Emisi dan Pencemaran Udara
Limbah Industri
Indikator Kinerja
Dalam menetapkan tujuan dan sasaran kebijakan Keselamatan dan kesehatan kerja
perusahaan harus menggunakan indikator kinerja yang dapat diukur sebagai dasar penilaian
kinerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang sekaligus merupakan informasi mengenai
keberhasilan pencapaian Sistim Manejemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Keselamatan kerja adalah tanggung jawab moril baik karyawan maupun pimpinan
perusahaan
Setiap personil/ pegawai harus diberikan pelatihan mengenai K3 yang sesuai dengan
lingkup dan tugasnya
Pembekalan dan penyuluhan kesehatan dan keselamatan kerja terhadap semua
karyawan
Dapat melakukan identifikasi bahaya/ resiko dalam melaksanakan setiap pekerjaan
Mampu Melaksanakan prosedur penanggulangan jika terjadi kecelakaan.
Setiap personil/ pegawai disediakan alat pelindung diri untuk kegiatan lapangan dan
kegiatan kantor
Kompetensi
Mengadakan rapat pengarahan secara berkala, dan menekankan pentingnya memenuhi
persyaratan pelanggan, K3, undang-undang dan peraturan yang berlaku
Mengkomunikasikan kebijakan kepada semua orang yang bekerja dibawah kendali.
Kompetensi
Menetapkan dan mengesahkan kebijakan mutu dan K3
Menetapkan dan mengesahkan sasaran mutu dan K3 (SMK3) perusahaan hingga
sasaran mutu dan K3 unit-unit kerja yang mendukungnya.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No. Per.03/MEN/1978 tentang
Penunjukan dan Wewenang serta Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dan Ahli Keselamatan Kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Per.03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan
Pemeriksaan Kecelakaan
Keppres Nomor 12 Tahun 2020 tanggal 13 April 2020 tentang Penetapan Bencana Non
Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID19) sebagai Bencana Nasional yang
dapat dikategorikan keadaan kahar.
Nomor Kontrak :
Tanggal :
(XXX)
Dalam pelaksanaan Kerja (Kontrak) Nomor xxxxxxxxxx Tanggal xxxxxx antara [Link] Pratama
KSO [Link] Kidul dengan Pejabat Pembuat Komitmen,Satuan Kerja, Balai Besar Wilayah Sungai
Sumatarera VIII , dengan nama paket pekerjaan Supervisi Rehabilitasi D.I Kelingi Tugomulyo Tahap
II Paket 1 dan Paket [Link] melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja demi terciptanya
zero accident, dengan memastikan bahwa seluruh pelaksanaan pekerajaan :
(XXX)
1. Penyelenggara Infrastruktur
2. Penyelenggara Proyek
Penjamin Keselamatan konstruksi pada Unit Organisasi merupakan unsur pendukung pada
struktur penyelenggara proyek dan tidak terlibat secara langsung dalam pengambilan keputusan
terkait pelaksanaan pekerjaankonstruksi, yang memiliki fungsi:
a. Perumusan kebijakan
b. Pembinaan teknis
c. Pengawasan pelaksanaan kebijakan
Penjamin keselamatan Konstruksi memiliki tugas sebagai berikut:
a. Menyusun standar dan pedoman teknis yang berlaku pada masing-masingunit organisasi
Penyelenggara Proyek merupakan pengguna jasa dan penyedia jasa yang melakukan penjaminan
dan/atau pengendalian keselamatan konstruksi, yaitu unit organisasi atau orang yang terlibat
secara langsung dalam pengambilan keputusan terkait pelaksanaan konstruksi, yang memiliki
fungsi:
UNIT ORGANISASI
PENYELENGGARA UNIT PEMBINA JASA
INFRASTRUKTUR KONSTRUKSI
UNIT KERJA
PELAKSANA PEMILIHAN
UNIT KERJA PELAKSANA UNIT KERJA PELAKSANA BARANG DAN JASA
KEGIATAN KEGIATAN
PENGENDALI PENGENDALI
PENGAWAS PENGAWAS
PEYEDIA PEYEDIA
Garis Instruksi
PEKERJAAN
PEKERJAAN
KONSTRUKSI Garis Koordinasi & Pembinaan
KONSTRUKSI
Dalam lingkup Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pihak- pihak yang terlibat dalam
rangka pelaksanaan pekerjaan konstruksi, terdiri dari:
1. Penyelenggara Infrastruktur meliputi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal
Bina Marga, Direktorat Jenderal Cipta Karya, DirektoratJenderal Penyediaan Perumahan, PA dan
KPA. Dalam perumusan kebijakan keselamatan konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
[Link] Pratama KSO [Link] Kidul Page | 2.2
[Link] No.4 Bandung 40262,Telp/Fax + 62 (22) 730-5239,7302067
E-mail :nadi_putra_pratama@[Link]
[Link] PRATAMA
(KSO) [Link] KIDUL
Jl..Leat No.4 Bandung 40262,Telp/Fax : + 62 (22) 730-5239,730-
2067 E-mail : nadi_putra_prtama@[Link]
Struktur Organisasi dan pembagian para pihak yang terlibat dalam penjaminanmutu dan pengendalian
mutu pekerjaan konstruksi dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Konstruksi
c. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi secara acak terhadap penerapan Keselamatan
Konstruksi pada Pekerjaan Konstruksi, apabila ditemukan hal- hal yang sangat berbahaya,
maka dapat memberi peringatan atau meminta Penanggung jawab kegiatan untuk
memberhentikan pekerjaan sementara sampai dengan adanya tindakan perbaikan.
d. Melaporkan hasil pemantauan dan evaluasi kinerja Keselamatan Konstruksi kepada
Menteri
e. Melakukan tugas pembinaan penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi di instansi terkait
f. Memberikan rekomendasi perbaikan untuk peningkatan kinerja Keselamatan Konstruksi
kepada Menteri dan Unit Organisasi penyelenggara Teknis/Unit Organisasi Eselon I.
2. Pimpinan Unit Organisasi Penyelenggara Infrastruktur
Unit Organisasi Penyelenggara Infrastruktur adalah unit organisasi teknis yang
menyelenggarakan urusan di bidang pengelolaan sumber daya air, penyelenggaraan jalan,
penyelenggaraan sistem penyediaan air minum,pengelolaan air limbah domestik, pengelolaan
drainase lingkungan, pengelolaan persampahan, penataan bangunan gedung, dan
penyelenggaraan perumahan.
Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang Pimpinan Tinggi Madya pada Unit Organisasi
Penyelenggara Infrastruktur meliputi:
Bertanggung jawab dalam penerapan SMKK untuk Pekerjaan Konstruksi di Unit Organisasi
penyelenggara infrastruktur/Unit organisasi Eselon I yang bersangkutan
Menetapkan norma, standar, prosedur dan kriteria sesuai kebutuhan penerapan SMKK di
unit organisasinya, mengacu pada ketentuan teknis yang berlaku
Melakukan koordinasi hasil penerapan SMKK di unit organisasinya dengan Direktorat
Jenderal Bina Konstruksi untuk selanjutnya diteruskan kepada Menteri
Apabila ditemukan hal-hal yang sangat berbahaya, maka dapat memberi peringatan atau
meminta PPK untuk memberhentikan pekerjaan sementara sampai dengan adanya
tindakan perbaikan.
Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang Pimpinan Tinggi Pratama pada Unit Organisasi
Penyelenggara Infrastruktur meliputi:
Bertanggung jawab dalam penerapan SMKK untuk Pekerjaan Konstruksi di Unit Kerja
Eselon II yang bersangkutan
Mengevaluasi penerapan SMKK dan melaporkannya kepada Unit Organisasi Eselon I
serta melakukan peningkatan berkelanjutan di Unit Organisasi penyelenggara
infrastruktur/Unit Kerja Eselon II yang bersangkutan
Apabila ditemukan hal-hal yang sangat berbahaya, maka dapat memberi peringatan atau
meminta PPK untuk memberhentikan pekerjaan sementara sampai dengan adanya
tindakan perbaikan.
3. Unit Kerja Pelaksana Pemilihan Barang dan Jasa
Unit Kerja Pelaksana Pemilihan Barang dan Jasa adalah unit kerja yang melakukan pemilihan
tender/seleksi penyedia jasa pekerjaan Jasa Konstruksi. Tugas, Tanggung Jawab dan
Wewenang UKPBJ meliputi:
a. Memeriksa kelengkapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan memastikan bahwa biaya
SMKK telah dialokasikan dalam daftar kuantitas dan harga sesuai kebutuhan
b. Apabila HPS belum mengalokasikan biaya SMKK, maka UKPBJ mengusulkan perubahan
kepada penanggung jawab kegiatan untuk dilengkapi
c. Menyusun dokumen pemilihan Penyedia Jasa sesuai kriteria yang di dalamnya memuat:
Manajemen Risiko Keselamatan Konstruksi
Kualifikasi personil manajerial/ tenaga ahli untuk keselamatan konstruksi
Format pakta komitmen Keselamatan Konstruksi
d. Memberikan penjelasan pada saat aanwijzing serta menuangkannya dalam berita acara
aanwijzing tentang risiko keselamatan konstruksi dari Pekerjaan Konstruksi yang akan
ditenderkan
e. RKK sebagai bagian dari dokumen usulan teknis; dan
f. Menilai pemenuhan RKK terkait dengan ketentuan dalam pelaksanaan Pengadaan Jasa
Konstruksi.
4. Unit Kerja Pelaksana Kegiatan
Unit Kerja Pelaksana Kegiatan adalah unit kerja yang mengendalikan beberapa pekerjaan
konstruksi dan melaksanakan kegiatan Jasa Konstruksi sesuai rencana kerja dan anggaran
yang telah ditetapkan.
Dalam lingkup Kementerian PUPR, pimpinan Unit Kerja Pelaksana Kegiatan adalah Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA)/Kepala Satuan Kerja/Atasan langsungKepala Satuan Kerja pada
Direktorat Jenderal teknis.
Pimpinan Unit Kerja Pelaksana Kegiatan, memiliki tugas, tanggung jawab dan wewenang
meliputi:
b. Menerima hasil pekerjaan dari Pejabat Pembuat Komitmen setelah Berita Acara Serah Terima
Akhir Pekerjaan diterbitkan
Tanggal
Penerbitan
Penyerahan
Penawaran
Penyerahan
Pengawasan terkait spesifikasi dan jumlah material dasar dan material olahan
sesuai dengan dokumen pengajuan material.
e. Keselamatan Konstruksi
dengan prosedur
6. Pemeriksaan hasil pekerjaan dilakukan pada setiap pekerjaan maupun sub pekerjaan.
Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi harus melakukanpemeriksaan pekerjaan baik fisik
maupun administrasi. Jika hasil pekerjaan sudah sesuai spesfikasi, maka Penyedia Jasa
Pekerjaan Konstruksi mengajukan permohonan pemeriksaan kepada penanggung jawab
kegiatan sesuai dengan prosedur
7. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan adanya penyesuaian atau perubahan di
lapangan, maka perubahan di lapangan dilaksanakan sesuai Prosedur
8. Pengendalian ketidak sesuaian hasil pekerjaan dilakukan oleh Penyedia Jasa Pekerjaan
Konstruksi dan Pengawas Pekerjaan. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan
ketidaksesuaian dengan spesifikasi, Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi dan Pengawas
Pekerjaan membuat laporan ketidaksesuaian sesuai Prosedur .
Unit Organisasi Penyelenggara Infrastruktur adalah unit organisasi teknis yang
menyelenggarakan urusan di bidang pengelolaan sumber daya air, penyelenggaraan jalan,
penyelenggaraan sistem penyediaan air minum,pengelolaan air limbah domestik, pengelolaan
drainase lingkungan, pengelolaan persampahan, penataan bangunan gedung, dan
penyelenggaraan perumahan.
Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang Pimpinan Tinggi Madya pada Unit Organisasi
Penyelenggara Infrastruktur meliputi:
Bertanggung jawab dalam penerapan SMKK untuk Pekerjaan Konstruksi di Unit Organisasi
penyelenggara infrastruktur/Unit organisasi Eselon I yang bersangkutan
Menetapkan norma, standar, prosedur dan kriteria sesuai kebutuhan penerapan SMKK di unit
organisasinya, mengacu pada ketentuan teknis yang berlaku
Melakukan koordinasi hasil penerapan SMKK di unit organisasinya dengan Direktorat
Jenderal Bina Konstruksi untuk selanjutnya diteruskan kepada Menteri
Apabila ditemukan hal-hal yang sangat berbahaya, maka dapat memberi peringatan atau
meminta PPK untuk memberhentikan pekerjaan sementara sampai dengan adanya tindakan
perbaikan.
Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang Pimpinan Tinggi Pratama pada Unit Organisasi
Penyelenggara Infrastruktur meliputi:
[Link] Pratama KSO [Link] Kidul Page | 2.3
[Link] No.4 Bandung 40262,Telp/Fax + 62 (22) 730-5239,7302067
E-mail :nadi_putra_pratama@[Link]
[Link] PRATAMA
(KSO) [Link] KIDUL
Jl..Leat No.4 Bandung 40262,Telp/Fax : + 62 (22) 730-5239,730-
2067 E-mail : nadi_putra_prtama@[Link]
Bertanggung jawab dalam penerapan SMKK untuk Pekerjaan Konstruksi di Unit Kerja Eselon
II yang bersangkutan
Mengevaluasi penerapan SMKK dan melaporkannya kepada Unit Organisasi Eselon I serta
melakukan peningkatan berkelanjutan di Unit Organisasi penyelenggara infrastruktur/Unit
Kerja Eselon II yang bersangkutan; dan
Apabila ditemukan hal-hal yang sangat berbahaya, maka dapat memberi peringatan atau
meminta PPK untuk memberhentikan pekerjaan sementara sampai dengan adanya tindakan
perbaikan.
Pimpinan perusahaan memiliki komitmen dan kepedulian terhadap Keselamatan Konstruksi yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari segala operasional dan usaha perusahaan yang
pelaksanaannya merupakan tanggung jawab semua jajaran perusahaan. Perusahaan bertekad
untuk melaksanakan kegiatan operasional dengan mengutamakan Keselamatan Konstruksi yang
aman serta nyaman bagi siapapun yang berada di tempat kerja, yang dilaksanakan secara
berkesinambungan.
Mulai
Pekerjaan Persiapan
Pengujian
` Resiko
Kecelakaan
Pengujian Pengujian
Resiko Resiko
Kecelakaan Kecelakaan
Insiden/ Kecelakaan
` P3K
1. Pertolongan Pertama 1. Dibawa RS/ di Visum
1. Ke RS Rawat Inap
2. Dibawa kePuskesmas/ RS Terdekat 2. Dibawa ke Keluarga Korban
2. Pengobatan Rutin
Rawat Jalan 3. Asuransi
Selesai
Pengadaan
Menggunakan Kendaraan yang
peralatan dan Kecelakaan lalu lintas di Jalan
3 berstandar Keselamatan, dilaksanakan
perlengkapan raya
pada siang hari.
kantor.
Penyelenggaraan
rapat mingguan, Penyertaan Askes/ JamKesMas,
6 Kecelakaan lalu-Lintas
rapat bulanan dan Pengaturan Jam Kerja
rapat-rapat khusus.
Penyusunan
laporan harian, Penyertaan Askes/ JamKesMas,
7 Kelelahan
laporan bulanan pengaturan jam kerja
dan laporan akhir
4.1 Umum
Penerapan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Proyek (K3) Secara Efektif dengan
Mengembangkan Kemampuan dan Mekanisme Pendukung yg diperlukan untuk mencapai
Kebijakan, Tujuan dan Sasaran Keselamatan dan Kesehatan [Link] dilihat pada gambar
4.1 : bahwa dalam penerapan dan operasional (implementation and operation) harus
memperhatikan masukan dari Perencanaan (planning), umpan balik & pengukuran kinerja
(feedback from measuring performance), dan audit. Sehingga menghasilkan keluaran/out put
pemeriksaan dan tindakan perbaikan (checking and corrective action) sebagai masukan untuk
tinjauan manajemen (management review).
Atas dasar perhitungan kekuatan dari metode kerja dan kebutuhan peralatan yang akan
digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan agar dipersiapkan. Contohnya : Penahan
dinding galian, Alat pemadam kebakaran, Jaring, Alat peringatan tanda bahaya dan lain
sebagainya.
Pembelian
Setiap pembelian barang dan jasa termasuk didalamnya prosedur pemeliharaan barang dan
jasa harus terintegrasi dalam strategi penanganan pencegahan risiko kecelakaan dan penyakit
akibat kerja.
4. Komunikasi didalam keselamatan & kesehatan kerja
Komunikasi dua arah yang efektif dan pelaporan rutin,merupakan sumber penting pelaksanaan
SMK3, semua kegiatan ini harus didokumentasikan, prosedur yang ada harus dapat menjamin
pemenuhan kebutuhan tersebut:
Prosedur Pemeriksaan
Prosedur pemeriksaan dapat berupa inspeksi dan audit yang bersifat internal, pemeriksaan
harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidang K3, khususnya K3
dibidang pekerjaan konstruksi.
Pemeriksaan yang bersifat inspeksi dapat dilaksanakan secara harian (daily), mingguan (weekly),
bulanan (monthly), yang harus dijalankan secara tetap dan kontinyu untuk mempertahankan hasil
yang telah [Link] yang bersifat audit tentunya dilaksanakan secara berkala tiap 2
(tiga) bulan sekali atau 6 (enam) bulan sekali, ketentuan ini berlaku mengikuti standar/ketentuan
audit yang diberlakukan pada umumnya oleh badan internal organisasi dan/atau badan
auditor.
Pemeriksaan dilaksanakan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidang kerjanya dan
mendapat pengesahan serta verifikasi oleh petugas yang mempunyai kompetensi K3 atau yang
diberi kewenangan akan hal ini dalam bidang [Link] pemeriksaan dapat dimulai dari
pengendalian kegiatan pengendalian material dan pergudangan termasuk didalamnya
penerimaan barang masuk, penyimpanan/penempatan, pengambilan/pengeluaran/ pemindahan,
Pemeriksaan yang bersifat inspeksi maupun audit keduanya mempunyai sifat yang sama yakni,
untuk memastikan bahwa peherapan pelaksanaan sistim manjemen K3 telah dijalankan
sesuai kaidah-kaidah/standar K3 Sedangkan audit lebih ditekankan pada :
Tindakan Perbaikan
Tindakan perbaikan lebih ditujukan dan bersifat perbaikan keadaan dan pencegahan situasi
terhadap bahaya yang akan timbul. Tindakan perbaikan yang dilaksanakan dilapangan secara
umum menjadi [Link] pimpinan unit kerjanya, dan perbaikan yang dilakukan
diantaranya :
kelompok kecil pekerja yang menangani pekerjaan sejenis, dipimpin langsung oleh
kepala grup kerja seperti gambar dibawah ini.
Siklus Mingguan K3
Siklus Mingguan K3 (Weekly safety work cycle) dilakukan periodik mingguan,
biasanya pada akhir minggu. Hal ini perlu dilakukan untuk tujuan :
Evaluasi oleh manajemen proyek terhadap grup-grup kerja
Penyampaian informasi-informasi dari manajemen proyek kepada grup-grup kerja
Adanya interaksi satu grup kerja dengan grup kerja lainnya, sehingga akan terjadi
tukar menukar peng alaman yang diperoleh suatu grup kerja selama satu minggu
berjaian, Secara mudah weekly safety work cycle diuraikan sebagaimana
tabel pada Lampiran 3.2
Siklus Bulanan K3
Siklus Bulanan K3 (Monthly safety work cycle) dilakukan periodik bulanan,
biasanya pada akhir bulan. Hal ini perlu dilakukan untuk tujuan :
Penyampaian informasi-informasi dari manajemen proyek kepada personil
kunci proyek,
Evaluasi oleh manajemen proyek terhadap pelaksanaan proyek selama
satu bulan,
Penentuan program-program kerja yang bersifat strategis.
Reservoir Penyakit, berikut ini protokol kesehatan yang perlu diterapkan apabila sudah
pulang berpergian antara lain :
Melakukan deteksi dini mandiri.
Apabila mengalami salah satu dari gejala COVID-19, yaitu demam lebih dari 38 derajat
Celcius, pilek, batuk, dan sesak napas segera periksakan diri ke rumah sakit rujukan
COVID-19 di daerah tempat tinggal.
Namun apabila tidak mengalami salah satu dari gejala COVID-19, maka harus tetap
melakukan karantina mandiri selama 14 hari.
Apabila pada masa karantina 14 hari mengalami salah satu gejala COVID-19, segera
periksakan diri ke rumah sakit rujukan COVID-19.
Jika selama 14 hari karantina tidak ada gejala COVID-19, maka masa karantina bisa
disudahi, dan dapat beraktivitas dengan tetap mengikuti protokol kesehatan pandemi
COVID-19.
Selama melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, ada beberapa hal yang perlu perhatikan, yaitu:
Pernah kontak dengan pasien positif COVID-19 (Berada 1 ruangan yang sama)
atau Pernah berkunjung ke daerah endemis COVID-19 (bersentuhan langsung
dengan masyarakat)
Ya Tidak
DISCARDED
(BUKAN COVID-19)
5.1 Umum
Semua hasil pelaksanaan K3 di lakukan peninjauan ulang untuk tujuan peningkatan manajemen
dan dicatat sebagai [Link] Manajemen (Management review) harus dilakukan
secara teratur dengan masukan dari pemeriksaan dan tindakan perbaikan (checking and
corrective action), internal dan eksternal factor yang hasilnya akan digunakan untuk
meninjau kebijakan (policy) seperti gambar 4.1 dibawah, dan untuk Peningkatan Penerapan
SMK3 secara Berkelanjutan (continual improvement), hal ini harus dapat dipastikan dilakukan
dan didokumentasikan serta mudah ditelusur bila diperlukan untuk kepentingan pengembangan
SMK3.
Adminitrasi Internal
Terdapat manfaat utama dari administrasi/dokumentasi sistim manajemen K3 , antara lain :
b. Bukti dari kesesuaian terhadap persyaratan-persyaratan, bahwa hal- hal yang direncanakan
telah secara aktual dilaksanakan,
baik, akan dapat digunakan sebagai landasan untuk design dan pengembangan inovasi
baru.
Sebelum melakukan aktifitas pekerjaan di lapangan, pihak proyek wajib melapor dan
mendaftar ke SUKU DINAS TENAGA KERJA setempat, karena SUKU DINAS TENAGA
KERJA adalah instansi pemerintah yang berwenang dan bertanggung jawab menangani
masalah K3. Sebagai bukti dari kegiatan ini adalah diserahkannya Surat Pendaftaran
proyek ke SUKU DINAS TENAGA KERJA setempat dan diterimanya surat
penerimaan/konfirmasi dari SUKU DINAS TENAGA KERJA setempat.
3. Astek
Sesuai dengan ketentuan pemerintah, suatu perusahaan atau proyek yang
mempekerjakan tenaga kerja lebih dari 10 orang wajib melindungi tenaga kerjanya
melalui suatu program asuransi tenaga kerja (ASTEK). Sebagai bukti dari
peiaksanaannya adalah diterimanya polis asuransi berikut kuitansi pembayaram
preminya.
Catatan ini sangat berguna bagi kontraktor yang dapat menunjukkan kronologis kejadian
terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja yang dilakukan di proyek yang di
kemungkinan dapat diajukan sebagai argumentasi dalam penyelesaian pengenaan denda.
3. Meningkatkan Reputasi
Pemilik proyek menjadi tertarik kepada Konsultan yang memiliki reputasi baik (Reputasi dari
pemilik juga ditunjukkan disini), dan pekerja juga mengingian bekerja dengan perusahaan
yang mengutamakan pada Keselamatan & Kesehatan Kerja.
4. Meningkatkan Produktivitas
Kecelakaan menghasilkan penurunan produktivitas lapangan, yang mana juga melemahkan
keuntungan perusahaan. Maka dari itu cegah terjadinya kecelakaan seminimal mungkin agar
produktivitas dan keuntungan meningkat.