0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan8 halaman

Cara Memasang Resistor dengan Benar

Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang percobaan mengukur resistansi resistor dan rangkaian resistor menggunakan multimeter sebagai alat ohm meter. Tujuan percobaan adalah untuk memahami pengukuran resistansi dan mengenal kode warna pada resistor serta mengukur resistansi resistor tunggal dan rangkaian resistor secara seri dan paralel.
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan8 halaman

Cara Memasang Resistor dengan Benar

Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang percobaan mengukur resistansi resistor dan rangkaian resistor menggunakan multimeter sebagai alat ohm meter. Tujuan percobaan adalah untuk memahami pengukuran resistansi dan mengenal kode warna pada resistor serta mengukur resistansi resistor tunggal dan rangkaian resistor secara seri dan paralel.
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I PERCOBAAN I OHM METER 1.1. 1. at ukur 2. 3. 4.

Tujuan Mengenal dan mengetahui penggunaan multimeter dalam fungsinya sebagai al ohm meter. Memahami pengukuran hambatan (ohmmeter). Memahami kode gelang warna resistor. Mengetahui resistansi dari resistor.

1.2. Dasar Teori 1.2.1. Multimeter Multimeter adalah suatu alat ukur listrik yang sering dikenal sebagai VOM (Volt/ Ohm meter) yang dapat mengukur tegangan (voltmeter), hambatan (ohm-meter), maupu n arus (ampere-meter). Ada dua kategori multimeter yang biasanya digunakan dalam pengukuran yaitu, multimeter digital atau DMM (digital multi-meter) (untuk yang baru dan lebih akurat hasil pengukurannya), dan multimeter analog. Masing-masin g kategori dapat mengukur listrik AC, maupun listrik DC. 1.2.2. Ohm-meter Ohm-meter adalah suatu alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap h ambatan listrik. Hambatan listrik yaitu daya untuk menahan mengalirnya arus list rik dalam suatu konduktor. Besarnya satuan hambatan yang diukur oleh alat ini da pat dinyatakan dalam satuan ohm. Alat ohm-meter ini menggunakan galvanometer, su atu alat untuk mengukur besarnya arus listrik yang lewat pada suatu hambatan lis trik (R), yang kemudian akan dikalibrasikan ke satuan ohm.

Besarnya hambatan listrik (R) ini ditentukan mengikuti rumusan: (1.1) V menyatakan voltase dan I menyatakan besarnya arus listrik yang mengalir. 1.2.3. Hukum Ohm Untuk menghasilkan suatu arus listrik dalam suatu rangkaian tentunya akan diperl ukan suatu beda potensial. George Simon Ohm (1787 1854) yang pertama kali secara eksperimen menunjukkan bahwa arus listrik dalam suatu kawat logam (I) sebanding dengan beda potensial atau tegangan (V) yang diberikan pada kedua ujungnya. I sebanding V Secara tepat, berapa besar arus yang akan mengalir dalam kawat tidak hanya akan bergantung pada tegangannya, akan tetapi juga akan bergantung pada hambatan yang diberikan oleh kawat terhadap aliran elektron. Mengambil suatu analogi dengan a liran air, dinding pipa, pinggir sungai dan batu di tengahnya memberikan hambata n terhadap aliran air. Hal yang serupa juga akan terjadi pada hambatan yang dibe rikan, elektron akan diperlambat oleh interaksi dengan atom dalam kawat. Hambata n yang lebih tinggi akan mengurangi arus listrik untuk suatu tegangan tertentu. Sehingga hambatan dapat didefinisikan sebagai suatu besaran yang berbanding terb alik dengan arus. Di dalam suatu perhitungan, simbol R digunakan sebagai hambatan dari kawat atau komponen elektronik lainnya, V adalah beda potensial yang melewati komponen dan I adalah arus yang mengalir melalui komponen tersebut. Ketiga besaran diatas mem iliki hubungan yang dapat ditulis dengan : V = I.R (1.2) Persamaan (2) diatas dikenal sebagai Hukum Ohm. Banyak Fisikawan mengatakan bahwa persamaan (2) bukanlah suatu hukum melainkan h anya definisi untuk suatu hambatan. Jika kita menyatakan Hukum Ohm, maka kita cu kup dengan mengatakan bahwa arus yang melalui konduktor logam sebanding dengan t egangan yang diberikan. Oleh karenanya, hambatan (R) dari suatu bahan atau komponen adalah konstan, tidak tergantung pa

da tegangannya. Tetapi persamaan (2) tidak berlaku umum untuk bahan dan komponen lain seperti dioda, tabung vakum, transistor, dan lain-lain. Karenanya Hukum Oh m bukanlah hukum fundamental, tetapi merupakan deskripsi dari suatu kelompok mat erial tertentu (konduktor logam). 1.2.4. Resistor Resistor atau yang biasa disebut (dalam bahasa Belanda) werstand, tahanan atau p enghambat, adalah suatu komponen elektronika yang memberikan hambatan terhadap p erpindahan elektron (muatan negatif). Resistor disingkat dengan huruf "R" (huruf R besar). Satuan dari resistor adalah Ohm, yang menemukan adalah George Ohm (17 87-1854), seorang ahli fisika bangsa Jerman. Tahanan bagian dalam ini dinamai ko nduktansi. Satuan konduktansi ditulis dengan kebalikan dari Ohm yaitu mho. Kemampuan resistor untuk menghambat suatu arus atau tegangan disebut juga resist ensi atau hambatan listrik. Besarnya resistensi atau hambatan ini diekspresikan dalam satuan Ohm. Suatu resistor dikatakan memiliki hambatan 1 Ohm apabila resis tor tersebut dapat menjembatani beda tegangan sebesar 1 Volt dan arus listrik ya ng timbul akibat tegangan tersebut adalah sebesar 1 ampere, atau sama dengan seb anyak 6.241506 1018 elektron per detik mengalir menghadap arah yang berlawanan d ari arus Ada beberapa jenis resistor diantaranya: 1. Resistor Biasa (tetap nilainya) Resistor Biasa adalah sebuah resistor penghambat gerak arus yang nilainy a tidak dapat berubah, jadi selalu tetap (konstan). Resistor ini biasanya dibuat dari bahan nikelin atau karbon. 2. Resistor Berubah (variable) Resistor Berubah adalah sebuah resistor yang nilainya dapat berubah-ubah dengan jalan menggeser atau memutar toggle pada alat tersebut. Sehingga nilai dari resi stor ini dapat kita tetapkan sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan jenis ini kita bagi menjadi dua, Potensiometer, rheostat dan Trimpot (Trimmer Potensiometer) y ang biasanya menempel pada papan rangkaian (Printed Circuit Board, PCB). 3. Resistor NTC dan PTS Resistor NTC (Negative Temperature Coefficient), ialah resistor yang nilainya ak an bertambah kecil bila terkena suhu panas. Sedangkan resistor PTS (Positife Tem perature Coefficient), ialah resistor yang nilainya akan bertambah besar bila te mperaturnya menjadi dingin. 4. LDR (Light Dependent Resistor) LDR adalah jenis resistor yang berubah hambatannya karena pengaruh cahaya. Pada Resistor biasanya memiliki 4 gelang warna, gelang pertama dan kedua menunju kkan angka, gelang ketiga adalah faktor kelipatan, sedangkan gelang ke empat ada lah menunjukkan toleransi hambatannya. Berikut Gelang warna dimulai dari warna H itam, Coklat, Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Ungu (violet), Abu-abu dan Put ih. Sedangkan untuk gelang toleransi hambatan adalah: coklat 1%, merah 2%, hijau 0,5%, biru 0,25%, ungu 0,1%, emas 5%, perak 10% dan tak berwarna 20%. Tabel 1.1 Gelang warna resistor Warna Gelang ke-1 Gelang ke-2 Gelang ke-3 perkalian (x) Gelang k e-4 nilai toleransi Hitam 0 100 1% Coklat 1 1 101 Merah 2 2 102 2% Orange 3 3 103 Kuning 4 4 104 Hijau 5 5 105 0,5% Biru 6 6 106 0,25% Ungu 7 7 107 0,1% Abu Abu 8 8 108 Putih 9 9 109 Emas 10-1 5% Perak 10-2 10% Tak berwarna 20% Resistansi Resistor Kemampuan resistor dalam menghambat arus listrik sangat beragam disesuai

kan dengan nilai resistansi resistor tersebut. Rangkaian resistor secara Seri Resistor ini dapat mengakibatkan nilai resistansi total semakin besar. Di bawah ini contoh resistor yang dirangkai secara seri.

Gambar 1.1 Rangkaian resistor secara seri Pada rangkaian resistor seri berlaku rumus: Rtotal = R1 + R2 + R3 (1.3) Rangkaian resistor secara Paralel Resistor ini dapat mengakibatkan nilai resistansi total semakin kecil. Di bawah ini contoh resistor yang dirangkai secara paralel.

Gambar 1.2 Rangkaian resistor secara paralel Pada rangkaian resistor seri berlaku rumus: 1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3

(1.4)

1.3. 1. 2. 3. 4.

Alat dan Bahan Resistor gelang (3 buah) Multimeter Digital Modul Penuntun Praktikum Instrumentasi Kelautan Alat tulis

1.4. Gambar Rangkaian 1.4.2. Rangkaian seri

Gambar 1.3 Rangkaian Seri 1.4.3. Rangkaian paralel

Gambar 1.4 Rangkaian Paralel

1.5. Langkah Percobaan 1. Mengukur masing-masing nilai resistor 1 (R1), resistor 2 (R2), dan resistor 3 (R3) dengan ohm-meter sebanyak 3 kali pengukuran. 2. Menghitung masing-masing nilai resistor 1 (R1), resistor 2 (R2), dan res istor 3 (R3) secara manual dengan tabel gelang warna resistor. 3. Mencatat hasil pengukuran dan perhitungan kedalam tabel data percobaa n. 4. Menghitung nilai tahanan rata-rata dan menghitung kasalahan dari pengukuran. 5. Melakukan perbandingan dan kemudian menganalisa perhitungan pengukur an dengan perhitungan gelang resistor.

1.6. Data Percobaan 1.6.1. Data pengamatan Tabel 1.2 Pengamatan Tahanan Resistor 1 secara manual Resistor 1 (R1) coklat merah Merah Emas tahanan toleransi 1 2 102 5% 1200 5% 0,06 k (+) 1,2 k + 0,06 k = 1,26 k (-) 1,2 k 0,06 k = 1,14 k Tabel 1.3 Pengamatan Tahanan Resistor 2 secara manual Resistor 2 (R2) kuning ungu orange Emas tahanan toleransi 4 7 103 5% 47000 5% 2,35 k (+) 47 k + 2,35 k = 49,35 k (-) 47 k 2,35 k = 44,65 k Tabel 1.4 Pengamatan Tahanan Resistor 3 secara manual Resistor 3 (R3) kuning ungu Merah emas tahanan toleransi 4 7 102 5% 4700 5% 0,235 k (+) 4,7 k + 0,235 k = 4,935 k (-) 4,7 k 0,235 k = 4,465 k

1.6.2. Data pengukuran Tabel 1.5 Pengukuran Tahanan Resistor Pengukuran I II III 1 1,19 k 1,19 k 1,19 2 46,4 k 46,4 k 46,4 3 4,72 k 4,72 k 4,72

Resistor dengan Ohm-Meter Rata-rata k 1,19 k k 46,4 k k 4,72 k

Tabel 1.6 Pengukuran tahanan resistor yang dirangkai seri (dengan Ohm-Meter) Resistor Pengukuran Rata-rata I II III I dan II 48,4 k 48,4 k 48,4 k 48,4 k Tabel 1.7 Pengukuran tahanan resistor yang dirangkai paralel (dengan Ohm-Meter) Resistor Pengukuran Rata-rata I II III I dan II 1,16 k 1,16 k 1,16 k 1,16 k

1.7. Analisa Pembahasan 1.7.1. Pengolahan data Berdasarkan pengamatan gelang warna resistor dan pengukuran tahanan resistor kit a dapat menghitung prosentase kesalahan (error). Rumus menghitung error: Dengan: A = Rpembacaan B = Rpengukuran Nilai error pada resistor 1 (R1) A : (+) 1,26 k B : 1,19 k

A B

Nilai error pada resistor 1 (R1) : (-) 1,14 k : 1,19 k

Dengan cara yang sama kita menghitung error pada resistor 2 (R2) dan resistor 3 (R3). Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 1.8 Prosentase kesalahan pengukuran tahanan resistor Resistor Rpembacaan Rpengukuran Error R2 (+) 49,35 k 46,4 k 6,16 % (-) 44,65 k 3,84 % R3 (+) 4,935 k 4,72 k 4,45 % (-) 4,465 k 5,55 % Kemudian kita menghitung prosentase kesalahan dari pengukuran rangkaian seri den gan perhitungan rangkaian seri. Dengan: A = Rperhitungan B = Rpengukuran Rperhitungan : 46,4 k Nilai error pada rangkaian seri :

Lalu kita juga menghitung prosentase kesalahan dari pengukuran rangkaian paralel dengan perhitungan rangkaian paralel. Dengan: A = Rperhitungan B = Rpengukuran Rperhitungan :

Nilai error pada rangkaian paralel :

1.7.2. Analisa Terdapat perbedaan atau selisih antara pengamatan manual (dengan gelang warna re sistor) dan pengamatan dengan alat. Tabel 1.9 Perbandingan hasil pembacaan secara manual dengan pengukuran tahanan Resistor Rpembacaan Rpengukuran Error R1 (+) 1,26 k 1,19 k 6,22 % (-) 1,14 k 4,29 % R2 (+) 49,35 k 46,4 k 6,16 % (-) 44,65 k 3,84 % R3 (+) 4,935 k 4,72 k 4,45 % (-) 4,465 k 5,55 % Adapun analisanya adalah sebagai berikut : Pada pengamatan resistor pertama (R1) secara manual didapatkan hasil yang menunj ukkan tahanan atau resistansi dari resistor itu bernilai 1200 5% dengan tolerans i 0,06 k, maka tahanan atau resistansi dari resistor tersebut berdasarkan pembaca an gelang warnanya akan bernilai (+) 1,2 k + 0,06 k = 1,26 k; (-) 1,2 k 0,06 k = 1,1 4 k. Sedangkan pada pengukuran dengan menggunakan alat diperoleh tahanan atau res istansi dari rata-rata 3 kali pengukuran bernilai 1,19 k. Nilai tahanan atau resi stansi dari kedua pengamatan tersebut terlihat berbeda, namun sebenarnya nilai t ersebut dapat bernilai sama apabila tidak ada kesalahan dalam kedua pengamatan t ersebut. Biasanya kesalahan terjadi pada tingkat keakuratan alat yang digunakan dalam pengamatan, sehingga persentase kesalahan alat dari resistor 1 ini akan be rnilai (+) 6,22 %; (-) 4,29 %. Pada pengamatan resistor kedua (R2) secara manual didapatkan hasil yang menunjuk kan tahanan atau resistansi dari resistor itu bernilai 47000 5% dengan toleransi 2,35 k, maka tahanan atau resistansi dari resistor tersebut berdasarkan pembacaa n gelang warnanya akan bernilai (+) 47 k + 2,35 k = 49,35 k; (-) 47 k 2,35 k = 44,65 k. Sedangkan pada pengukuran dengan menggunakan alat diperoleh tahanan atau resis tansi dari rata-rata 3 kali pengukuran bernilai 46,4 k. Nilai tahanan atau resist ansi dari kedua pengamatan tersebut terlihat berbeda, namun sebenarnya nilai ter sebut dapat bernilai sama apabila tidak ada kesalahan dalam kedua pengamatan ter sebut. Biasanya kesalahan terjadi pada tingkat keakuratan alat yang digunakan da lam pengamatan, sehingga persentase kesalahan alat dari resistor 2 ini akan bern ilai (+) 6,16 %; (-) 3,84 %. Pada pengamatan resistor ketiga (R3) secara manual didapatkan hasil yang menunju kkan tahanan atau resistansi dari resistor itu bernilai 4700 5% dengan toleransi 0,235 k, maka tahanan atau resistansi dari resistor tersebut berdasarkan pembaca an gelang warnanya akan bernilai (+) 4,7 k + 0,235 k = 4,935 k; (-) 4,7 k 0,235 k = 4 ,465 k. Sedangkan pada pengukuran dengan menggunakan alat diperoleh tahanan atau resistansi dari rata-rata 3 kali pengukuran bernilai 4,72 k. Nilai tahanan atau r esistansi dari kedua pengamatan tersebut terlihat berbeda, namun sebenarnya nila i tersebut dapat bernilai sama apabila tidak ada kesalahan dalam kedua pengamata n tersebut. Biasanya kesalahan terjadi pada tingkat keakuratan alat yang digunak an dalam pengamatan, sehingga persentase kesalahan alat dari resistor 3 ini akan bernilai (+) 4,45 %; (-) 5,55 %. Selain itu terdapat pula perbedaan antara perhitungan manual rangkaian seri dan rangkaian paralel dengan pengukuran rangkaian seri dan paralel menggunakan Ohm-m eter. Tabel 1.10 Perbandingan hasil perhitungan dengan pengukuran rangakaian seri dan paralel Rangkaian Rperhitungan Rpengukuran Error seri 48,4 k 1,68 %

Parallel 1,16 k 0 % Adapun analisanya adalah sebagai berikut : Pada rangkaian seri, digunakan resistor 1 (R1) dan resistor 2 (R2). Dengan mengg unakan rumus bahwa R1+R2 didapatkan resistansi resistor sebesar 47,59 k dan pada hasil pengukuran menggunakan Ohm-meter didapatkan nilai resistansi sebesar 48,4 k. Berarti dapat disimpulkan bahwa nilai resistansi antara perhitungan dan penguk uran adalah hampir sama dengan nilai error 1,68 %. Pada rangkaian paralel, digunakan resistor 1 (R1) dan resistor 2 (R2). Dengan me nggunakan rumus bahwa 1/R1+1/R2 didapatkan resistansi resistor sebesar 1,16 k dan pada hasil pengukuran menggunakan Ohm-meter didapatkan nilai resistansi sebesar 1,16 k. Berarti dapat disimpulkan bahwa nilai resistansi antara perhitungan dan pengukuran adalah sama atau tidak terjadi error.

1.8. Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Nilai resistor 1 (R1) dengan warna coklatmerahmerahemas bernilai (+) 1,26 k; (-) 1,14 k (perhitungan) dan bernilai 1,19 k (pengukuran). 2. Nilai resistor 2 (R2) dengan warna kuningunguorangeemas bernilai (+) 49,35 k; (-) 44,65 k (perhitungan) dan bernilai 46,4 k (pengukuran). 3. Nilai resistor 3 (R3) dengan warna merahmerahmerahemas bernilai (+) 4,935 k; (-) 4,465 k (perhitungan) dan bernilai 4,72 k (pengukuran). 4. Prosentase error antara perhitungan dan pengukuran tahanan R1 yaitu sebe sar (+) 6,22 %; (-) 4,29 %. 5. Prosentase error antara perhitungan dan pengukuran tahanan R2 yaitu sebe sar (+) 6,16 %; (-) 3,84 %. 6. Prosentase error antara perhitungan dan pengukuran tahanan R3 yaitu sebe sar (+) 4,55 %; (-) 5,55 %. 7. Prosentase error antara perhitungan dan pengukuran rangkaian seri yaitu sebesar 1,68 %. 8. Prosentase error antara perhitungan dan pengukuran rangkaian paralel yai tu sebesar 0 %.

Anda mungkin juga menyukai