0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan20 halaman

Hubungan dan Operasi Himpunan

Dokumen tersebut membahas berbagai hubungan dan operasi pada himpunan, termasuk subset, sama, lepas, berpotongan, ekuivalen, irisan, gabungan, komplemen, selisih, jumlah, dan perkalian kartesius.

Diunggah oleh

IkaTetoe
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan20 halaman

Hubungan dan Operasi Himpunan

Dokumen tersebut membahas berbagai hubungan dan operasi pada himpunan, termasuk subset, sama, lepas, berpotongan, ekuivalen, irisan, gabungan, komplemen, selisih, jumlah, dan perkalian kartesius.

Diunggah oleh

IkaTetoe
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

C.

Hubungan Dua Himpunan


Tiap dua himpunan mempunyai hubungan, diantaranya : 1. Himpunan yang satu merupakan himpunan bagian dari yang lain. 2. Dua himpunan sama. 3. Dua himpunan saling asing (saling lepas 4. Dua gimpunan berpotongan, atau 5. Dua himpunan ekuivalen

Himpunan bagian (Subset)


Perhatiakn contoh berikut ini. Misalkan A = {1,5} dan B = {1,2,3,4,5}. Perhatikan bahwa 1 dan 5 masing-masing merupakan anggota dari himpunan A dan juga merupakan anggota dari himpunan B. Hal seperti ini dikatakan bahwa himpunan A merupakan himpunan bagian dari himpunan B. Definisi : himpunan A adalah himpunan bagian dari himpunan B (ditulis A B) , jika setiap anggota A merupakan anggota B. Atau dapat ditulis sebagai : A B jhj ( x) (x A x B)

Contoh Himpunan Bagian (subset) Apabila A = {x l x bilangan asli} dan P = ( 2,3,5,7,..), yaitu himpunan semua bilangan prima, maka P A. Dan jika B = {x l x bilangan bulat}, maka A C B dan P C B

Suatu Himpunan dapat digambarkan dalam suatu diagram yang biasa disebut diagram Venn-Euler atau ada yang hanya menyebut diagram venn saja.

Dua Himpunan Sama


Dua himpunan A dan B dikatakan sama (ditulis A = B) jika setiap anggota A merupakan anggota B, dan setiap anggota B merupakan anggota A pula. Atau dapat ditulis : A = B jhj ( x, xA x B )dan ( x, x B x A) atau ditulis lebih singkat menjadi A = B jhj A C B & B C A

Contoh Dua Himpunan Sama


1. 2.

Jika A = {1,2,3,4} dan B = { 4,2,1,3}, maka A = B Jika M = {x l x huruf pembentuk kata matematika } dan N = {k,e,t,a,m,i}, maka M = N

Dua Himpunan Lepas (Saling Asing)

Definisi : dua himpunan yang tidak kosong A dan B dikatakan saling asing/lepas (ditulis A//B) dan dibaca A lepas dengan B jika dua himpunan itu tidak mempunyai anggota persekutuan, atau setiap anggota A bukan anggota B dan setiap anggota B bukan anggota A

Contoh Dua Himpunan Lepas


Jika A =

{1,2,3,4,5} dan B = {7,8,9,10}, maka A//B Jika P = {k,e,t,a,m} dan T = {p,u,r,i,n,g} maka P//T

Himpunan Berpotongan
Dua himpunan A dan B dikatakan berpotongan (ditulis AC B) jika dan hanya jika ada anggota A yang menjadi anggota B

Dua Himpunan Ekuivalen


Dua himpunan berhingga A dan B dengan n(A) = n(B), yaitu banyaknya anggota A sama dengan banyaknya anggota B, maka dikatakan bahwa himpunan A ekuivalen dengan himpunan B (ditulis (A~B) . Misalnya A= (1,3,5,7,9) dan B= (a,b,c,d,e) adalah dua himpunan yang ekuivalen, yaitu A~B. Apabila himpunan M sama dengan himpunan N, maka M~N , tetapi tidak sebaliknya.

Operasi-Operasi pada Himpunan


1. 2. 3. 4. 5. 6.

Irisan () Gabungan (u) Selisih (-) Komplemen (......, atau... ) Jumlah (+), dan Perkalian Kartesius (x)

Irisan( )
Irisan semua anggota himpunan A yang sekalikus sebagai anggota B. AB= {x l x A & x B} Contoh : Jika A= {1,2,3,4,5,6} dan B= {1,3,5,7,9} maka AB = {1,3,5}

Gabungan
Gabungan dari himpunan A dan himpunan B (ditulis A u B dan dibaca A gabungan B) adalah himpunan dari semua anggota himpunan A atau himpunan B. A atau dapat ditulis sebagai berikut. AuB = {xlxA v x B}

Jika A = {1,2,3,4,5,6} dan B = {2,4,6,8,10} , maka AuB = {1,2,3,4,5,6,7,8,10}


Operasi gabungan pada himpunan-himpunan juga bersifat asosiatif yang ditunjukkan sebagai berikut : (AuB)uC= {xlx(AuB)vxC} = {xl(xAvxC) = {x l x A v (xB v x C)} sifat asosiatif disjungsi = {x l x A v x (BuC)} = A u (B u C) (A u B) u C = A u (B u C) sifat asosiatif gabungan himpunan

Komplemen Satu Himpunan


Misalkan S adalah suatu himpunan semesta, maka komplemen dari Himpunan A (ditulis A dibaca A komplemen) adalah himpunan dari semua anggot himpunan semesta S yang bukan merupakan anggota A. A= {x l x S & x A} Contoh : misalkan S = {1,2,3,4,5,...,10} sebagai himpunan semesta . Jika A = {1,2,3,4,5} maka A = {6,7,8,9,10}. Dari definisi komplemen suatu himpunan tersebut, apabila A sembarang himpunan dalam suatu himpunan semesta S, maka

Selisih Dua Himpunan dan dibaca Himpunan A dikurangi himpunan B (ditulis A-B
A kurang B) adalah himpunan dari anggota-anggota himpunan A yang bukan merupakan anggota B, atau dapat ditulis sebagai berikut. A-B={x l x A & x B}. Contoh : misalkan A = {1,2,3,4,5,6} dan B = {4,5,6,7,8}, maka A-B = {1,2,3} dan B-A= {7,8}

Jumlah Dua Himpunan


Jumlah dua himpunan A dan B (ditulis A + B) adalah himpunan anggota A dan B tetapi bukan anggota persekutuan A dan B. Contoh : Jika M = {h,i,n,d,u} dan n= {b,u,d,h,a}, maka M+N= {i,,b,a,n}

Perkalian kartesisus
Perkalian kartesius dari himpunan A dan himpunan B (ditulis A x B dibaca A kali B) adalah salah satu himpunan pasangan terurut yang komponen pertamanya elemen A dan komponen keduanya elemen B. Secara simbolik ditulis AxB = {(a,b) l a A & b B}

Aplikasi Himpunan Diagram Venn

dan

Diagram Venn sangat berguna khususnya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang melibatkan obyekobyek dari himpunan-himpunan yang bersekutu (overlapping sets)

Secara intuitif, kita dapat memisalkan n(A) = a, n (B) =b, n (AB)=x. Daerah A u B adalah daerah I,II dan III). Maka banyak obyek di daerah A u B
= n (AuB) = (a-x)+x+(b-x) = a-x+x+b-x =a+b-x atau n (AuB) =n(A) + n(B) n (AB). Berdasarkan pengertian di atas, kita memperoleh rumus : n(AuB)=n(A)+n(B)-n(AB) n(ABC)= n(A) + n(B) + n(C) n(AB)-n(AC)-n(BC)n(ABC)

Anda mungkin juga menyukai