0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
220 tayangan13 halaman

Prosedur Resusitasi Jantung Paru

Laporan praktikum KD 5 mengenai Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang meliputi tahapan Airway, Breathing, dan Circulation beserta prosedur dan teknik pelaksanaannya pada orang dewasa, anak-anak, dan bayi."

Diunggah oleh

rief_cuakep
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
220 tayangan13 halaman

Prosedur Resusitasi Jantung Paru

Laporan praktikum KD 5 mengenai Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang meliputi tahapan Airway, Breathing, dan Circulation beserta prosedur dan teknik pelaksanaannya pada orang dewasa, anak-anak, dan bayi."

Diunggah oleh

rief_cuakep
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KD 5 KELAS B

Very Unggul Permatasari ( 0906511284 )

RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP )

1. Pendahuluan Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan prosedur kedaruratan yang berupa pernapasan buatan dan masase jantung eksternal yang manual. ABC pada pelaksanaan resusitasi jantung paru adalah upaya untuk membentuk jalan napas ( airway) yang lancar, memulai pernapasan (breathing), dan mempertahankan sirkulasi ( circulation ). Jika jalan napas yang lancar tidak terbentuk, maka perawat harus mengkaji kembali apakah posisi kepala benar, dan mengkaji adanya obstruksi jalan napas. Tidak ada gunanya jika melakukan kompresi jantung, tapi jalan napas tidak lancar.

AIRWAY. Menilai jalan nafas dan pernafasan : Bila penderita sadar dapat berbicara kalimat panjang airway baik digunakan, breathing baik bila penderita tidak sadar bisa menjadi lebih sulit. Lakukan penilaian Airway-Breathing dengan cara : Lihat-DengarRaba. Obstruksi jalan nafas merupakan pembunuh tercepat, lebih cepat dibandingkan gangguan breathing dan circulation. Selain itu perbaikan breathing tidak mungkin dilakukan bila tidak ada Airway yang baik. a. Obstruksi total Pada obstruksi total mungkin penderita ditemukan masih sadar atau dalam keadaan tidak sadar. Pada obstruksi total yang akut, biasanya disebabkan tertelannya benda asing yang lalu menyangkut dan menyumbat di pangkal laring, bila obstruksi total timbul perlahan (insidious) maka akan berawal dari obstruksi parsial menjadi total. - Bila penderita masih sadar
Page 1 of 13

Penderita akan memegang leher, dalam keadaan sangat gelisah. Kebiruan (sianosis) mungkin ditemukan, dan mungkin ada kesan masih bernafas (walaupun tidak ada udara keluar-masuk/ventilasi). Dalam keadaan ini harus dilakukan perasat Heimlich (abdominal thrust). Kontra-indikasi Heimlich manouvre atau kehamilan tua dan bayi. b. Obstruksi parsial Disebabkan beberapa hal, biasanya penderita masih dapat bernafas sehingga timbul beraneka ragam suara, tergantung penyebabnya (semuanya saat menarik nafas, inspirasi) - Cairan (darah, sekret, aspirasi lambung dsb), bunyi kumur-kumur. - Lidah yang jatuh kebelakang-mengorok - Penyempitan di laring atau trakhea-stridor Pengelolaan Jalan nafas a. Penghisapan (suction) bila ada cairan b. Menjaga jalan nafas secara manual Bila penderita tidak sadar maka lidah dapat dihindarkan jatuh kebelakang dengan memakai : = Angkat kepala-dagu (Head tilt-chin manouvre), prosedur ini tidak boleh dipakai bila ada kemungkinan patah tulang leher. = Angkat rahang (jaw thrust) BREATHING. Bila Airway sudah baik, belum tentu pernafasan akan baik sehingga perlu selalu dilakukan pemeriksaan apakah pernafasan penderita sudah adekuat atau belum.

1. Pemeriksaan Fisik penderita. a. Pernafasan Normal, kecepatan bernafas manusia adalah : Dewasa : 12-20 kali/menit (20) Anak-anak : 15-30 kali/menit (30)

Page 2 of 13

Pada orang dewasa abnormal bila pernfasan >30 atau <10 kali/menit b. Sesak Nafas (dyspnea) Bila penderita sadar, dapat berbicara tetapi tidak dapat berbicara kalimat panjang : Airway baik, Breathing terganggu, penderita terlihat sesak. Sesak nafas dapat terlihat atau mungkin juga tidak. Bila terlihat maka akan ditemukan: - Penderita mengeluh sesak - Bernafas cepat (tachypnea) - Pemakaian otot pernafasan tambahan - Penderita terlihat ada kebiruan 2. Pemberian Oksigen a. Kanul hidung (nasal canule) b. Masker oksigen (face mask) 3. Pernafasan Buatan (artificial ventilation) Bila diperlukan, pernafasan buatan dapat diberikan dengan cara: a. Mouth to mouth ventilation ( mulut ke mulut ) Dengan cara ini akan dicapai konsentrasi oksigen hanya 18% (konsentrasi udara paru saat ekspirasi). Frekuensi Ventilasi Buatan Dewasa 10-20 x/menit Anak 20 x/menit Bayi 20 x/menit b. Mouth to mask ventilation c. Bantuan Pernafasan memakai kantung (Bag-Valve-Mask, Bagging, ambu bag, self-inflating bag, resuscitator manual) CIRCULATION. Bantuan sirkulasi diberikan bagi penderita yang mengalami henti jantung dengan tanda-tanda sebagai berikut : 1. Tidak sadar
Page 3 of 13

Terjadi 15-20 detik setelah henti jantung 2. Tidak terabanya denyut nadi arteri besar Arteri karotis atau femoral adalah yang paling mudah diraba 3. Penampilan seperti orang mati ( death-life appearance ) Warna kulit pasien bisa sangat biru ( asfiksia ), sangat abu-abu ( henti jantung primer ) atau sangat pucat (hipovolemia dan hipotermia). Tanda lain yang mungkin ada diantaranya : apnea dan dilatasi pupil.

2. Tujuan Untuk mengalirkan darah yang mengandung oksigen ke otak dalam upaya mencegah kerusakan jaringan yang permanen. 3. Kompetensi dasar lain yang harus dimiliki untuk melakukan tindakan tersebut Kompetensi dalam melakukan RJP, seperti: nafas buatan, kompresi jantung. Pengetahuan dan pemahaman pasien yang membutuhkan RJP. Kompetensi sistem pernafasan dan sirkulasi normal dan posisi yang menunjang dalam bernafas. 4. Indikasi, Kontra indikasi, komplikasi Indikasi Kontra Indikasi DNAR ( Do Not Attempt Resuscitation ) Tanda kematian biologis : rigor mortis, dekapitasi Sebelumnya dengan fungsi vital yang sudah sangat jelak dengan terapi maksimal Bila menolong korban akan membahayakan penolong : pada orang henti nafas dan henti jantung.

Komplikasi a. Napas buatan : Inflasi gaster, regurgitasi, mengurangi volume paru

Page 4 of 13

Bila terjadi inflasi gaster, maka : Perbaiki jalan napas dan hindari volume tidal yang terlalu besar dan napas yang cepat b. kompresi jantung luar : - fraktur iga dan sternum - pneumotoraks - hemotoraks - kontusio paru - laserasi hati dan limpa - emboli lemak 5. Alat dan bahan yang digunakan Papan punggung (back board ) Masker wajah Kantung ambubag Alat isap

6. Anatomi daerah yang akan menjadi target tindakan

Page 5 of 13

7. Aspek keamanan dan keselamatan (safety) yang harus diperhatikan Jaga jalan napas tetap terbuka Berikan ventilasi buatan menggunakan alat bantu pernafasan Berikan sirkulasi buatan melalui kompresi jantung eksternal

8. Protokol atau prosedur dari tindakan Kaji ketidakadaan respon, observasi adanya pernafasan spontan. Palpasi nadi karotis, tanyakan. Apakah anda baik-baik saja? Minta bantuan rumah sakit kode rumah sakit, komunitas, hubungi nomor telepon kedaruratan. Untuk anak atau bayi, lakukan RPJ selama 1 menit penuh sebelum menelepon. Tempatkan korban pada posisi telentang pada permukaan datar dan keras atau menggunakan papan punggung. Berlutut pada sisi korban. Buka jalan napas korban Persiapkan pernafasan buatan Berikan pernafasan buatan Observasi naik turunnya dinding dada setiap kali klien bernafas. Apabila paru-paru tidak mengembang, atur kembali posisi kepala dan leher dan periksa adanya obstruksi jalan nafas yang terlihat, misalnya adanya vomitus.

Page 6 of 13

Isap setiap sekresi jalan nafas. Apabila tidak tersedia alat isap, tolehkan kepala klien ke salah satu sisi Kaji adanya nadi karotis, pemeriksaan nadi harus dilakukan selama 5 sampai 10 detik Apabila nadi korban tidak teraba, mulailah melakukan kompresi jantung eksternal Orang Dewasa POSISI TANGAN a) Tangan penyelamat terletak dibawah batas rangka iga korban. b) Jari jari diletakkan ke arah atas rangka iga untuk menandai tempat pertemuan iga dengan strernum bagian bawah di tengah dada bagian bawah. c) Letakkan tumit telapak tangan pada separuh bagian bawah sternum dan letakkan tangan lain pada bagian atas yang berada diatas sternum sehingga ke dua tangan menjadi paralel. d) Jari jari dapat diekstensikan / saling menempel, tetapi tidak boleh mnyentuh dada.

Page 7 of 13

Tegangkan siku, pertahankan lengan lurus dan bahu tepat diatas kedua tangan diatas sternum korban a) Lakukan kompresi dada 3,8 sampai 5 cm. b) Lakukan kompresi dada 80 sampai 100 kali permenit. Lakukan 15 kompresi eksternal dengan menghafal satu, dua, tiga, empat, lima... dst sampai 15. c) Kompresi harus menjadi 50 % siklus lepas kompresi Ventilasi paru paru dengan 2kali napas lambat dari penyelamat Kaji kembali korban setelah 4kali siklus kompresi lengkap. ( 15 kali kompresi, 2 kali ventilasi pada setiap siklus) Bayi ( 1- 12 bulan) Posisi Tangan: a) Bayangkan garis imaginer antara puting susu diatas tulang sternum. b) Letakkan jari petunjuk tangan terjauh dari kepala bayi tersebut tepat dibawah garis inframamae tempat jari tersebut berinteraksi dengan strernum. Lakukan kompresi dengan menggunakan 2/3 jari yaitu 1,3 sampai 2,5 cm minimal 100 kali permenit. Pada akhir setiap kompresi ke 5, beritirahatlah sejenak untuk melakukan ventilasi. Kaji kembali korban setelah 10 siklus ( 5 kompresi, 1 ventilasi paa setiap siklus) Anak ( 1 7 tahun ) Posisi tangan: a) Tangan terletak pada batas bawah rangka iga korban disamping langsung penyelamat dengan jari telunjuk dan jari tengah.

Page 8 of 13

b) Ikuti batas rangka iga dengan jari tengah sampai titik tempat pertemuan iga denga sternum c) Letakkan jari telunjuk di sebelah jari tengah . d) Letakkan tumit tangan di depan titik tempat jari telunjuk berada dengan aksis panjang tumit sejajar dengan sternum. e) Tangan lain dari penyelamat mempertahankan posisi kepala anak. Kompresi strenum dengan 1tangan 2,5 sampai 3,8 cm dengan kecepatan 100 kali permenit. Pada akhir setiap kompresi ke 5, berikan jeda sejenak untuk ventilasi ( 1- 1,5 detik) Kaji kembali korban setelah 10 siklus ( 5 kompresi, 1 ventilasi paa setiap siklus)

Page 9 of 13

Prosedur

: Adapun langkah langkah yang harus diambil sebelum memulai RJP ( American Heart Association ) adalah :

a. Tentukan tingkat kesadaran (respon penderita) : Dilakukan dengan menggoyang penderita, bila penderita menjawab, maka ABC dalam keadaan baik. b. Panggil bantuan bila petugas sendiri, maka jangan mulai RJP sebelum memanggil bantuan, c. Posisi Penderita Penderita harus dalam keadaan terlentang, bila dalam keadaan telungkup penderita di balikkan. Pada penderita trauma, pembalikan dilakukan dengan log roll. d. Periksa pernafasan Periksa dengan inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pemeriksan ini paling lama 3-5 detik. Bila penderita bernafas penderita tidak memerlukan RJP e. Berikan pernafasan buatan 2 kali. Bila pernafasan buatan pertama tidak berhasil, maka posisi kepala diperbaiki atau mulut lebih dibuka. Bila pernafasan buatan kedua tidak berhasil (karena resistensi/tahanan yang kuat), maka airway harus dibersihkan dari obstruksi ( heimlich manouvre, finger sweep) f. Periksa pulsasi arteri karotis (5-10 detik) Bila ada pulsasi, dan penderita bernafas, dapat berhenti. Bila ada

Page 10 of 13

pulsasi dan penderita tidak bernafas diteruskan nafas buatan. Bila tidak ada pulsasi dilakukan RJP Teknik Resusitasi jantung paru (Cardiopulmonary Resusitation) RJP dapat dilakukan oleh 1 atau 2 orang. a. Posisi penderita Penderita dalam keadaan terlentang pada dasar yang keras (lantai, backboard,short spine board). Jangan menunda RJP untuk mencari alas keras, bila perlu penderita dipindah ke lantai. Bila penderita terjepit dalam kecelakaan, prinsip ekstrikasi dapat diabaikan ( kecuali proteksi servikal ) dengan segera menariknya keluar. b. Posisi petugas Posisi petugas berada setinggi bahu penderita bila akan melakukan RJP 1 orang. Bila penderita dilantai, petugas berlutut seinggi bahu, disisi kanan penderita. Posisi paling ideal sebenarnya adalah dengan menunggangi penderita, namun sering tidak dapat diterima oleh keluarga penderita. c. Tempat kompresi Tepatnya 2 inci diatas prosesus xifoideus pada tengah sternum, atau bawah sternum, diantara dua putting susu. Jari-jari kedua tangan dapat dirangkum, namun tidak boleh menyinggung dada penderita. Pada bayi tekanan dilakukan dengan 2 atau 3 jari, pada garis yang menghubungkan kedua putting susu. d. Kompresi Dilakukan dengan meluruskan siku, beban pada bahu, bukan pada siku. Kompresi dilakukan sedalam 3-5 cm. cara lain untuk memeriksa pulsasi a, karotis yang seharusnya ada pada setiap kompresi.

Page 11 of 13

e. Perbandingan Kompresi-Ventilasi Pada dewasa (2 dan 1 petugas) 15 : 2 anak, maupun bayi, perbandingan kompresi-ventilasi adalah 5:1, ini akan menghasilkan kurang lebih 12 kali ventilasi setiap menitnya, pada dewasa dalam satu menit dilakukan 4 siklus. Jika sirkulasi tetap tidak ada, maka kompresi jantung luar dan bantuan napas dilanjutkan. Jika sirkulasi ada dan napas masih tidak ada, berikan napas buatan 10-12x/menit. Jika sirkulasi dan napas sudah ada, maka berikan posisi sisi mantap dan tetap jaga kepatenan jalan napas. f. Memeriksa pulsasi dan pernafasan Pada RJP 1 orang, pemeriksaan dilakukan setiap 4 siklus (setiap 1 menit). Pada RJP 2 orang, petugas yang melakukan ventilasi dapat sekaligus pemeriksaan pulsasi karotis, setiap beberapa menit dapat dihentikan RJP untuk memeriksa apakah denyut jantung sudah kembali.

9. Hal yang perlu diperhatikan Tanda-tanda keberhasilan tehnik RJP : Nadi karotis mulai berdenyut, pernafasan mulai spontan, kulit yang tadinya berwarna keabu-abuan mulai menjadi merah. Bila denyut karotis sudah timbul teratur, maka kompresi dapat di hentikan tetapi pernafasan buatan tetap diteruskan sampai timbul nafas spontan. Menghentikan RJP Bila RJP dilakukan dengan efektif, kematian biologis akan tertunda.

Page 12 of 13

RJP harus dihentikan tergantung pada : - lamanya kematian klinis - prognosis penderita (ditinjau dari penyebab henti jantung) - penyebab henti jantung (pada henti jantung karena minimal listrik 1 jam) sebaiknya keputusan menghentikan RJP diserahkan kepada dokter. RJB harus dihentikan bila : Ventilasi dan sirkulasi spontan telah kembali Ada yang lebih bertanggung jawab Penolong lelah

10. Hal hal penting yang harus dicatat setelah tindakan Data umum klien ( nama, umur, jenis kelamin) Respon klien terhadap tindakan Berapa kali dilakukan kompresi dan ventilasi

REFERENSI Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Fundamentals of Nursing: Concept, Process, and Practice. Edisi ke-4. Volume 2. [Link] Asih. Jakarta : EGC Panitia Pelatihan NUFA. ( 2009 ). Pelatihan NUFA. Depok : FIK UI

Page 13 of 13

Anda mungkin juga menyukai