PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM SCM
Supply chain management (SCM) merupakan integrasi proses-proses bisnis kunci dari pengguna akhir sampai ke pemasok awal yang menyediakan produk, jasa, dan informasi yang memberikan nilai tambah untuk pelanggan dan pihak-pihak terkait lainnya. Untuk mengimplementasikan SCM, teknologi informasi diperlukan sebagai salah satu prasyarat. Dalam kajian ini diidentifikasikan peranan teknologi informasi dalam penerapan SCM. Identifikasi dan analisis dilakukan pada masingmasing proses bisnis kunci SCM, yang meliputi: manajemen hubungan pelanggan, manajemen pelayanan pelanggan, manajemen permintaan, pemenuhan pesanan, manajemen aliran manufaktur, manajemen hubungan pemasok, pengembangan dan komersialisasi produk, dan manajemen pengembalian (return management). Hasil kajian menunjukkan bagaimana teknologi informasi memegang peranan penting dalam masing-masing proses bisnis SCM. Teknologi informasi diperlukan dalam perbaikan kinerja rantai pasok terutama untuk mengurangi ketidakpastian. Selain itu, dari hasil analisis dapat disimpulkan sejumlah kendala dalam penerapan teknologi informasi dalam implementasi SCM tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka objek penelitian ini akan digunakan untuk tugas matakuliah SCM dengan judul Teknik Informasi dalam Supply Chain Management. 1. Pengertian Supply Chain Mangement Sejak tahun 1980-an, telah dikembangkan istilah manajemen rantai pasok (supply chain management, SCM). Istilah ini banyak digunakan, walaupun dengan beberapa kerancuan pengertian. Beberapa pihak memberikan definisi/pengertian manajemen rantai pasok sebagai berikut: a. Lambert (1998) menyatakan bahwa SCM merupakan integrasi atas proses-proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok awal yang menyediakan produk, jasa, dan informasi yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. b. Menurut Simchi-Levi (2002), SCM adalah suatu kumpulan pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan pada kuantitas, lokasi, dan waktu yang benar, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan. c. Menurut Handfield (1999), SCM merupakan integrasi atas kegiatan-kegiatan dalam suatu rantai pasok dengan hubungan
I-1
I-2
yang diperbaiki, untuk mencapai suatu keunggulan bersaing yang berkelanjutan. d. Chopra & Meindl (2001) berpendapat bahwa SCM mencakup manajemen atas aliran-aliran di antara tingkatan dalam suatu rantai pasok untuk memaksimumkan keuntungan total. Menurut Lambert et. al dalam Croxton (2001), prosesproses bisnis dalam SCM terdiri atas delapan bagian yang meliputi: manajemen hubungan pelanggan, manajemen pelayanan pelanggan, manajemen permintaan, pemenuhan pesanan, manajemen aliran manufaktur, manajemen hubungan pemasok, pengembangan dan komersialisasi produk, dan manajemen pengembalian (return management).
Gambar 1. SCM sebagai Integrasi dan Pengaturan Proses BisniS
Chopra & Meindl (2001) menyatakan bahwa dalam SCM terdapat empat penggerak (driver), yaitu persediaan, transportasi, fasilitas, dan informasi. Dari keempat penggerak tersebut, informasi merupakan penggerak utama. Informasi sangat mempengaruhi ketiga penggerak lainnya. Konsep manajemen supply chain tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi (TI). Bahkan kalau dilihat dari sejarahnya, justru kemajuan TI inilah yang melahirkan prinsip-prinsip dasar supply chain. Alasannya adalah karena pengintegrasian berbagai proses dan entitas bisnis di dalam manajamen supply chain adalah melakukan penggunaan bersama-sama terhadap informasi yang dimiliki dan dihasilkan oleh berbagai pihak. 2. Pengertian Teknologi Informasi
I-3
Teknologi Informasi adalah istilah umum yang menjelaskan teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel).
3. Teknologi Informasi dalam Rantai Pasok Chopra dan Meindl (2001) menyatakan adanya beberapa penggerak (drivers) dalam rantai pasok, yaitu persediaan, transportasi, fasilitas, dan informasi. Secara potensial, informasi merupakan penggerak terbesar terhadap kinerja rantai pasok, karena secara langsung mempengaruhi penggerak lainnya. Informasi terdiri atas data dan analisis mengenai persediaan, transportasi, fasilitas, dan pelanggan pada suatu rantai pasok. Informasi membuka peluang untuk membuat rantai pasok lebih responsif dan efisien. Menurut Bowersox et al. (2002), teknologi informasi (TI) merupakan suatu media yang dapat menfasilitasi perencanaan dan operasi logistik dan rantai pasok. EDI, Internet, XML, dan teknologi satelit menghubungkan komunikasi antara perusahaan dan fasilitasnya. Frekuensi radio menghubungkan komunikasi jarak pendek antara fasilitas-fasilitas, seperti gudang. Image, bar coding, dan teknologi scanning menghubungkan komunikasi antara sistem informasi rantai pasok dan lingkungan fisiknya. Teknologi EDI, XML, internet, dan image processing memiliki pengaruh signifikan dalam peningkatan kinerja antar matarantai yang terdapat pada rantai pasok. Penggunaan teknologi bar coding dan scanning serta satelit memiliki pengaruh dominan dalam peningkatan kinerja internal suatu matarantai tertentu pada rantai pasok. Peran teknologi informasi dalam SCM adalah mengurangi selisih biaya transaksi antar supply chain patner dan biaya dalam mendapatkan aliran informasi. Dengan kata lain, teknologi informasi lebih mempunyai peran dalam mendukung kolaborasi dan koordinasi supply chain melalui pemanfaatan bersama informasi. Teknologi informasi juga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Dalam hal inilah, dibutuhkan kekuatan analitis dari
I-4
komputer untuk menyediakan bantuan untuk mengambil keputusan. Teknologi Informasi mempunyai peranan penting dalam mendukung kinerja perusahaan yaitu akan menciptakan strategi yang bermanfaat dengan memungkinkan perencanaan strategi secara terpusat dengan operasi terpusat. Teknologi informasi mempunyai dampak yang sangat besar dalam SCM. Namun secara umum, peranan TI di dalam manajemen supply chain dapat dilihat dari dua perspektif besar, yaitu perspektif teknis dan perspektif manajerial [Indrajit dan Djokopranoto].
a. Perspektif Teknis Dilihat dari sisi teknis, ada dua fungsi dari teknologi informasi yang harus dipenuhi, yaitu Fungsi penciptaan dan Fungsi penyebaran terhadap entitas fakta, data, informasi, knowledge.
b. Perspektif Manajerial Dilihat dari sisi bisnis manajerial, terutama dalam kaitannya dengan manajemen supply chain, ada dua peranan yang diharapkan oleh perusahaan dari implementasi efektif sebuah TI, yaitu : Mengurangi resiko (minimize risks) Pada umumnya resiko berasal dari adanya ketidakpastian dalam berbagai hal dan aspek-aspek eksternal lain yang berada diluar perusahaan. Kehadiran TI selain harus mampu membantu perusahaan mengurangi resiko bisnis yang ada, perlu pula menjadi sarana untuk membantu manajemen dalam mengelola resiko (managing risks) yang dihadapi sehari-hari. Mengurangi biaya (minimize costs) Tawaran lain yang ditawarkan TI adalah perbaikan efisiensi dan optimalisasi proses-proses bisnis di perusahaan. Ada empat cara yang ditawarkan TI untuk mengurangi biaya-biaya yang seringkali dikeluarkan untuk kegiatan operasional sehari-hari, yaitu : Eliminasi proses, Simplifikasi proses, Integrasi proses dan Otomatisasi proses.
KESIMPULAN
I-5
Dari paparan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Teknologi informasi sangat diperlukan dalam SCM karena ruang lingkup SCM yang luas, baik karena luasnya proses bisnis yang diintegrasikan maupun karena keterkaitan antar perusahaan-perusahaan yang membentuk rantai pasok. Teknologi informasi diperlukan untuk memperbaiki kinerja rantai pasok terutama dengan mengurangi ketidakpastian. Kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi informasi untuk SCM, antara lain, adalah masalah penyiapan infrastruktur dan standardisasi informasi.