0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan12 halaman

Penopang Samping dalam Konstruksi

Bab 14 membahas penopang samping (lateral bracing) pada struktur. Penopang dapat berupa menerus atau setempat dengan interval. Bab ini fokus pada penopang setempat yang tidak menerus. Penopang bertujuan mencegah tekuk pada elemen struktur seperti kolom akibat beban. Persamaan dikembangkan untuk menentukan kekakuan dan kekuatan penopang yang dibutuhkan agar kolom tetap tegak lurus. Contoh soal menunjuk

Diunggah oleh

Willy Wungo
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan12 halaman

Penopang Samping dalam Konstruksi

Bab 14 membahas penopang samping (lateral bracing) pada struktur. Penopang dapat berupa menerus atau setempat dengan interval. Bab ini fokus pada penopang setempat yang tidak menerus. Penopang bertujuan mencegah tekuk pada elemen struktur seperti kolom akibat beban. Persamaan dikembangkan untuk menentukan kekakuan dan kekuatan penopang yang dibutuhkan agar kolom tetap tegak lurus. Contoh soal menunjuk

Diunggah oleh

Willy Wungo
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 14

PENOPANG SAMPING
(LATERAL BRACING)

P enopang samping dapat berupa penopang yang menerus atau setempat dengan
interval tertentu. Untuk kolom yang terikat dengan dinding bata, maka kolom akan
tertahan sepanjang elemennya. Untuk balok, penopang yang menerus disumbangkan oleh
pelat lantai. Jika penopang menerus ini cukup kuat dan kaku, terbungkus dengan baik
terhadap kolom, sehingga sayap yang tertekan ditunjang secara baik, maka tidak perlu
melakukan pemeriksaan terhadap tekuk dalam arah topangan. Tetapi apabila penopang
menerus ini tidak cukup kaku, misalkan terhadap lapisan kayu, lapisan penutup tipis dari
metal, maka balok harus diperiksa terhadap penopangnya yang dianggap tidak rigid.
Oleh karena itu adalah sangat berguna mendapatkan teori praktis yang mengupas
hubungan interaksi antara elemen utama dengan penopangnya. Dalam bab ini fokus
utamanya adalah membahas penopang (bracing) yang tidak menunjang elemen struktur
secara menerus.
Sebuah kolom yang secara ideal lurus, langsing, penampangnya prismatis dengan

panjang adalah 2L. Beban kritisnya adalah Pcr =  EI/(2L)


2 2
seperti yang diperlihatkan
oleh Gambar 14.1.a. Sebuah perletakan ditempatkan di tengah-tengah kolom, dengan
harapan titik tersebut tidak terjadi lendutan (defleksi), beban kritis akan bertambah empat
kali (Gambar 14.1.b). Berikutnya dengan cara yang sama tetapi perletakannya adalah
perletakan yang tidak kaku, yakni perletakan yang menyerupai pegas (Gambar 14.1.c),
perletakan ini yang dianggap sebagai penopang (bracing).
Konstanta pegas dari penopang adalah :
k= (14.1)

Perubahan bentuk dari pegas ini baik tertekan maupun tertarik, memendek atau
memanjang adalah sebesar :

d =

Dimana Ls adalah panjang dan As adalah luasnya. Sehingga konstanta pegas dapat ditulis

k= = (14.2)

Pc r Pc r P Pc r Pc r Pc r
F F
2 2

F
d
F = k.d
2L
F = k.d d

F F
2 2

Pc r Pc r P Pc r Pc r Pc r

(a) (b) (c) (d) (e) (f)

Gambar 14.1. Tekuk pada kolom yang ditunjang sokongan

Apabila pegas ini cukup kaku, maka penopang mampu untuk mencegah terjadinya tekuk,
dan kolom akan tetap lurus. Jika pegas tidak terlalu kaku (Gambar 14.1.d), pada beban
tertentu kolom akan melengkung setengah gelombang. Lendutan d dan reaksinya adalah
F = kd, akan bertambah terus, hingga kolom menekuk (buckle), hingga beban ktitis
tercapai, dan kolom akan melengkung menjadi dua lengkungan seperti terlihat dalam
Gambar 14.1.e dengan titik putar di tengah bentangan kolom. Pegas memerlukan
kekakuan tertentu sehingga defleksi ke samping mampu mencapai bentuk seperti dalam
Gambar 14.1.f.
Besarnya momen yang terjadi di tengah bentang kolom adalah :

= (14.3)

Untuk F = kid.d, dimana kid adalah konstanta pegas yang dibutuhkan untuk penopang
penuh (full bracing) agar kolom tetap lurus dan beban bekerja secara aksial, sehingga

= (14.4)

Jika bahan dari penopang adalah sama dengan bahan dari kolom yang disokong, dan
dapat tertekan maupun tertarik selama terjadinya tekuk, maka dari Persamaan 14.2 dan
Persamaan 14.4 didapatkan,

= =

atau

As = 2 (14.5)

dimana Ac adalah luas penampang kolom, untuk kolom dari baja yang menekuk secara
elastis, (L/r) berkisar antara 100 atau lebih. Dengan anggapan bahwa (L/r )= 100 dan
(Ls/L) = 1/10, Persamaan 14.5 menjadi :

As = 0,0002Ac
Secara umum,

= (14.6)

Dimana a adalah faktor banyaknya bentang yang bervariasi antara 1 hingga 4.


Disamping kekakuan, penopang harus pula memiliki kekuatan (strength) yang memadai.
Kekuatan yang dibutuhkan oleh penopang ideal adalah :

F = kid.d (14.7)
Sebelum tekuk terjadi, d adalah sama dengan nol. Sehingga gaya penopang (brace-force)
tidak bekerja pada sistem ideal sebelum tekuk terjadi.
Karena elemen tekan pada struktur tidaklah lurus sempurna, dan tidak selalu dibebani
secara sempurna, seperti yang diasumsikan di dalam perhitungan. Bengkokan awal selalu
ada, dengan kata lain d tidaklah sama dengan nol, meskipun beban aksial tekan P belum
bekerja. Untuk keperluan tersebut, tinjaulah sebuah kolom seperti pada Gambar 14.2
dengan menganggap bahwa ledutan awal ada.
(k.d)L = P(d + do) (14.8)

Untuk P = Pcr, maka

kperlu = (1 + ) (14.9)

Karena kideal = Persamaan 14.8 menjadi :

kperlu = (1 + ) (14.10)

Pc r
F
2

dO d F
dO

F
2

Pc r

Gambar 14.2. Kolom dengan lengkungan awal


Sehingga syarat kekuatan menjadi :
Fperlu = kperlu d = (1 + ) (14.11)

AISC menetapkan lengkungan awal adalah L/500. Maka,


syarat perencanaan menjadi :

Untuk Kekakuan,

kperlu = 2 (14.12)

Untuk Kekuatan,

Fu = (2 )

Fu = (0,004 ) (14.13)

Persamaan tersebut di atas adalah berdasarkan kekuatan batas, untuk perencanaan yang
berdasarkan beban kerja, persamaan berubah menjadi :
Untuk Kekakuan, dengan Faktor Keamanan = 2

kperlu = 4 (14.14)

dengan kid = P/L

Untuk Kekuatan,

F = = (0,004L) (14.15)

dengan kid = P/L


Dengan sebegitu banyaknya rumus-rumus, persyaratan-persyaratan di dalam
pembahasan di atas maka untuk tujuan praktis perencanaan, berikut akan disusun
ringkasannya :
 Pastikan bahwa posisi dari penopang telah ditetapkan
Kemudian dari elemen utama yang ditunjang hitung beban kritis Pcr =  EI/L
2 2

 Tentukan a dari jumlah bentang yang bebas penopang (dalam jarak yang sama)

 Hitung kid = Pcr/L

 Tentukan luas penopang Ab sehingga kekakuannya menjadi kid. Untuk kekakuan


aksial :
k = 2 kid

Abperlu = 2 ( )( ) (14.A-1)

Karena pada umumnya elemen yang ditopang dan penopang menggunakan jenis material

yang sama maka Ec = Eb dan anggap bahwa panjang keduanya sama Lc = Lb


Maka Persamaan 14.A-1 dapat disederhanakan lagi menjadi :

Abperlu = 2 (14.A-2)

 Periksa apakah penopang dapat memikul beban

Fu = (0,004L)

Fu perlu = (0,004L) = 0,004 (14.A-3)

Fu yang sesungguhnya yaitu sebesar [Link] harus lebih besar atau sama dengan Fuperlu.

Contoh 14.1
Sebuah kolom dari W.8x24 setinggi 26 ft, dengan kedua ujungnya sendi. Di tengah
kolom terdapat penopang untuk mencegah tekuk terhadap sumbu lemahnya.
Gaya aksial tekan yang bekerja adalah 94,5 kips. Tentukan dimensi penopang jika
panjang penopang adalah 10 ft. Mutu baja A36.

Penyelesaian :

x x

Y
13'
1-1
1 1

x x

13' 10'

Data profil :
W8x24
A Ix rx Sx Iy ry
2 4 3 4
(in ) (in ) (in) (in ) (in ) (in)
7.06 82.5 3.42 24.3 18.2 1.61

ST.3x6,25
1.81 1.27 0.83 0.55 0.93 0.71

Kolom :

L/rx = (26)(12)/(3,42) = 91,3

L/ry = (13)(12)/(1,61) = 97,0 > 91,3 (menentukan)

Cc = 126,1 (Lampiran 3)

Fcr = 25,4 ksi


Pcr = Fcr.A = (25,4)(7,06) = 179,5 kips

FS = + + = 1,90

Fa = Fcr /FS = 25,4/1.90 = 13,4 ksi

Pa = (13,4)(7,06) = 94,5 kips


Penopang :
Coba dengan ST.3x6,25 :

= = = 2,30 kips/in.

k = 2 kid = 2(2,30) = 4,60 kips/in

l/ry = (10)(12)/(0,71) = 169 < 200 (ok untuk elemen sekunder)

 2EI y  2(29000)(0,93)
F cr = 2
=
2
= 18,5 kips
L (120)
AE (1,81)(29000)
k perlu = = = 437 kips/in > k id
l 120 ok
Anggap do = (1/500)(13)(12) = 0,312 in.

k id
F perlu = k perlu . d = do  1+ 1 - k id / k perlu
)
(0,312)(2,30)
= = 0,73 kips < F cr ok
0.99
Pakai ST.3x6,25
LAMPIRAN

Lampiran 3. Nilai Cc
Fy Fy

(ksi) [MPa] Cc (ksi) [MPa] Cc


33 2.280 131,7 46 3.179 111,6
35 2.419 127,9 50 3.455 107,0
36 2.488 126,1 55 3.801 102,0
39 2.695 121,2 60 4.146 97,7
40 2.764 119,6 65 4.492 93,8
42 2.902 116,7 90 6.219 79,8
45 3.110 112,8 100 6.910 75,7
DAFTAR PUSTAKA
1. American Institute of Steel Construction, Manual of Steel Construction, Ninth
Edition, 1989
2. American Institute of Steel Construction, Manual of Steel Construction, Volume II
Connections ASD/LRFD, Ninth Edition,1989
3. American Institute of Steel Construction, Manual of Steel Construction, Eighth
Edition, 1980
4. McGuire, William, Steel Structures, Prentice-Hall
5. Salmon, Charles G dan Johnson, John Edwin, Steel StructureDesign & Behavior,
2nd Edition, Harper & Row.
6. Bowles, Joseph E, Structural Steel Design, McGraw Hill, Inc.
7. Bresler, Boris dan Lin, TY dan Scalzi, John D, Design of Steel Structures, McGraw
Hill, Inc.
8. McCormac, Jack C, Structural Steel Design 3rd Edition, Harper & Row.
9. Crawley, Stanley W dan Dillon, Robert M, Steel Buildings : Analysis and Design,
2nd Edition, John Wiley & Sons, Inc.
10. Gaylord, Charles N dan Gaylord, Edwin Henry, Design of Steel Structures,
McGraw Hill, Inc.
11. Departemen Pekerjaan Umum, Ditjen Cipta Karya Direktorat Penyelidikan
Masalah Bangunan, Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, 1983.
12. HG, Tulus, Bahan Kuliah Konstruksi Baja II, Institut Sains dan Teknologi Nasional,
Jakarta, 1983.
13. Burhan, Hannis, Bahan Kuliah Konstruksi Baja III, Institut Sains dan Teknologi
Nasional, Jakarta.
14. Wungo, Willy C, Diktat Perencanaan Struktur Baja I, II dan III, Institut Sains dan
Teknologi Nasional, Jakarta, 1988.
15. Wungo, Willy C, Diktat Perencanaan Struktur Jembatan, Institut Sains dan
Teknologi Nasional, Jakarta, 1994.
TENTANG PENULIS
Willy C. Wungo, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat. Sejak SD hingga lulus SMA
pada tahun 1979 belajar di sekolah Bruderan yaitu SD Bruder, SMP Bruder dan SMA
Santo Paulus Pontianak, yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Katholik yang
dikelola oleh para biarawan Ordo Maria Tak Bernoda (MTB).
Pernah menjabat sebagai Ketua PPSK (Perhimpunan Pelajar Sekolah Katholik),
Pemimpin Redaksi Majalah Sekolah Varia Santo Paulus dan aktif dalam seni teater serta
banyak menulis puisi.
Setelah lulus SMA, hijrah ke Jakarta melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teknik
Nasional (sekarang Institut Sains dan Teknologi Nasional) Jurusan Teknik Sipil. Lulus
sebagai Bachelor of Engineer (BE) tahun 1983, dan tahun 1985 lulus Sarjana Teknik
Sipil. Mengajar Konstruksi Baja sejak tahun 1983 sebagai asisten dosen. Kemudian
sebagai Dosen (Lektor Muda) pada tahun 1988. Memulai karir sebagai Perencana
Struktur sejak tahun 1987 di PT International Design Consultant yang pada saat itu
mengadakan joint operation dengan Ove Arup & Partners International, di antaranya
dalam proyek Perencanaan Struktur Blok M Plaza, Shangrila Hotel Surabaya, Hong-
Kong University of Science & Technology, Hong-Kong. Sepanjang karirnya mengajar
konstruksi baja, dan produktif menulis Diktat Kuliah. Tetap konsisten menekuni bidang
Struktur hingga saat ini sebagai Konsultan Perencanaan Struktur. Sebagai Structural
Advisor untuk PT Khalista Arta Buana dan PT Tribangun Pilar Persada. President
Director PT Trimitra Bhirarayudha, Konsultan Perencana. Anggota Himpunan Ahli
Konstruksi Indonesia sejak tahun 1988 dan memiliki Surat Ijin Pelaku Teknis Bangunan
(SIPTB) Struktur Kelas A serta Sertifikasi Keahlian sebagai Engineer Profesional Madya
Struktural HAKI.

Anda mungkin juga menyukai