0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan3 halaman

Pengenalan Absolute Rotary Encoder

Absolute encoder menggunakan piringan yang terdiri dari cincin konsentris dengan pola transparan dan gelap untuk menghasilkan kode biner yang mewakili posisi poros. Kode ini dibaca oleh pasangan LED dan fototransistor sesuai dengan jumlah cincin. Semakin banyak cincin, semakin banyak posisi yang dapat diwakili.

Diunggah oleh

Fariz Dwi Kurniawan
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan3 halaman

Pengenalan Absolute Rotary Encoder

Absolute encoder menggunakan piringan yang terdiri dari cincin konsentris dengan pola transparan dan gelap untuk menghasilkan kode biner yang mewakili posisi poros. Kode ini dibaca oleh pasangan LED dan fototransistor sesuai dengan jumlah cincin. Semakin banyak cincin, semakin banyak posisi yang dapat diwakili.

Diunggah oleh

Fariz Dwi Kurniawan
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ABSOLUTE ROTARY ENCODER

Absolute encoder menggunakan piringan dan sinyal optik yang diatur sedemikian
sehingga dapat menghasilkan kode digital untuk menyatakan sejumlah posisi tertentu dari poros
yang dihubungkan padanya. Piringan yang digunakan untuk absolut encoder tersusun dari
segmen-segmen cincin konsentris yang dimulai dari bagian tengah piringan ke arah tepi luar
piringan yang jumlah segmennya selalu dua kali jumlah segmen cincin sebelumnya. Cincin
pertama di bagian paling dalam memiliki satu segmen transparan dan satu segmen gelap, cincin
kedua memiliki dua segmen transparan dan dua segmen gelap, dan seterusnya hingga cincin
terluar. Sebagai contoh apabila absolut encoder memiliki 16 cincin konsentris maka cincin
terluarnya akan memiliki 32767 segmen. Gambar 1 menunjukkan pola cincin pada piringan
absolut encoder yang memiliki 16 cincin.

Gambar 1. Contoh susunan pola 16 cincin konsentris pada absolut encoder

Karena setiap cincin pada piringan absolute encoder memiliki jumlah segmen kelipatan
dua dari cincin sebelumnya, maka susunan ini akan membentuk suatu sistem biner. Untuk
menghasilkan sistem biner pada susunan cincin maka diperlukan pasangan LED dan photo-
transistor sebanyak jumlah cincin yang ada pada absolut encoder tersebut.
Gambar 2. Contoh piringan dengan 10 cincin dan 10 LED – photo-transistor untuk membentuk
sistem biner 10 bit.

Sistem biner yang untuk menginterpretasi posisi yang diberikan oleh absolute encoder
dapat menggunakan kode gray atau kode biner biasa, tergantung dari pola cincin yang
digunakan. Untuk lebih jelas, kita lihat contoh absolut encoder yang hanya tersusun dari 4 buah
cincin untuk membentuk kode 4 bit. Apabila encoder ini dihubungkan pada poros, maka photo-
transistor akan mengeluarkan sinyal persegi sesuai dengan susunan cincin yang digunakan.
Gambar 3 dan 4 menunjukkan contoh perbedaan diagram keluaran untuk absolute encoder tipe
gray code dan tipe binary code.

Gambar 3. Contoh diagram keluaran absolut encoder 4-bit tipe gray code

Dengan absolute encoder 4-bit ini maka kita akan mendapatkan 16 informasi posisi yang
berbeda yang masing-masing dinyatakan dengan kode biner atau kode gray tertentu. Tabel 1
menyatakan posisi dan output biner yang bersesuaian untuk absolut encoder 4-bit. Dengan
membaca output biner yang dihasilkan maka posisi dari poros yang kita ukur dapat kita ketahui
untuk diteruskan ke rangkaian pengendali. Semakin banyak bit yang kita pakai maka posisi yang
dapat kita peroleh akan semakin banyak.

Gambar 4. Contoh diagram keluaran absolut encoder 4-bit tipe binary code

Tabel 1. Output biner dan posisi yang bersesuaian pada absolute encoder 4-bit

Anda mungkin juga menyukai